Kisah Empat Wanita di Zaman Nabi Musa AlaihissalamWanita-wanita shalihah yang hidup di zaman Nabi Musa yaitu: ibunya Nabi Musa, istrinya Nabi Musa, istri Fir'aun, dan Masyithah (penyisir rambut putri Fir'aun)Ibunda Nabi MusaDalam kisah Nabi Musa, namanya adalah Musa bin Imran namun sama sekali tidak pernah disebutkan kisah ayahnya. Seakan-akan keberhasilan Nabi Musa sebab utamanya adalah ibunya.Banyak orang-orang berhasil (shalih) yg disebutkan dibalik keberhasilan mereka adalah ibunya, diantaranya Nabi Musa.Nabi Musa lahir di zaman penuh dg kesulitan dibawah kekuasaan Firaun yg kejam. Nabi Musa memiliki kakak bernama Nabi Harun.Qs Al Qashash:Ayat 7: Allah SWT memberikan ilham kepada ibunda Musa untuk menyusuinya, dan jika merasa khawatir, untuk menghanyutkannya ke Sungai Nil dengan janji bahwa ia akan dikembalikan dan diangkat menjadi rasul.Ayat 8: Bayi Musa ditemukan oleh keluarga Fir’aun agar kelak menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.Ayat 9: Istri Fir'aun (Asiyah bintu Muzahim) membujuk Fir'aun agar tidak membunuh bayi tersebut, berharap ia bisa membawa manfaat atau diangkat sebagai anak.Ayat 10: Hati ibunda Musa menjadi kosong dan cemas, hampir saja ia membocorkan rahasia tentang bayinya jika Allah tidak meneguhkan hatinya.Ayat 11: Ibunda Musa menyuruh saudara perempuan Musa untuk mengikuti jalannya peti tersebut dari jauh.Ayat 12: Allah menghalangi Musa untuk menyusu kepada perempuan lain, lalu saudara perempuannya menawarkan keluarga yang sanggup mengasuhnya.Ayat 13: Allah mengembalikan Musa ke pangkuan ibunya agar hatinya tenteram, tidak berduka cita, dan mengetahui bahwa janji Allah itu benar.Diantara faedahnya:Kunci keberhasilan dari kisah ibunya Nabi Musa adalah kesabarannyaKalau kita sabar, maka Allah yg akan carikan solusi. Sabar & berusaha kemudian tawakkal kepada Allah, yakin jika kita serahkan segala urusan kita kepada Allah maka hasilnya akan baik.Istri Nabi MusaIbnu Mas'ud radhiallahu anhu berkata "orang yg paling kuat firasatnya ada 3 orang; 1. majikannya Nabi Yusuf yaitu suaminya Zulaikha, 2. istrinya Nabi Musa, 3. Abu Bakar, dan 4. Asiyah istri Fir'aun.Dikisahkan suatu ketika di kota Mesir terjadi perkelahian antara 2 orang, satu dari Bani Israil (suku Nabi Musa) dan Bani Qibti (suku Firaun). Nabi Musa diminta tolong & menolongnya. Beliau pukul orang dari bani Qibti tsb hingga akhirnya meninggal karena kekuatannya yg luar biasa. Firaun mendengar kabar tersebut & memerintahkan utk mencari Nabi Musa & Nabi Musa pun melarikan diri dari Mesir hingga ke Negeri Madyan.Kisah Istri Nabi Musa disebutkan dalam QS. Al QashashAyat 23: Nabi Musa tiba di sumber air negeri Madyan dan melihat banyak orang memberi minum ternak mereka. Di dekatnya, ada dua orang wanita yang sedang menahan ternaknya karena malu berebut dengan kaum laki-laki.Ayat 24: Nabi Musa menolong kedua wanita tersebut dengan membantu memberi minum ternak mereka, kemudian beliau berteduh di bawah pohon sambil berdoa memohon kebaikan dari Allah.Ayat 25: Salah satu dari kedua wanita itu datang kembali menemui Musa dengan berjalan penuh rasa malu. Ia menyampaikan undangan ayahnya (Nabi Syu'aib menurut sebagian besar ahli tafsir) yang ingin memberi upah atas kebaikan Musa.Ayat 26: Setelah tiba di rumah, salah seorang wanita tersebut mengusulkan kepada ayahnya: "Wahai ayahku! Ambillah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya."Ayat 27: Sang ayah kemudian menawarkan salah satu putrinya untuk dinikahi oleh Nabi Musa, dengan syarat maskawin berupa bekerja membantunya selama 8 tahun, atau 10 tahun jika Musa mau menyempurnakannya.Ayat 28: Nabi Musa menerima perjanjian tersebut dan sepakat untuk menuntaskan masa kerja yang telah ditentukan sebagai bentuk mahar pernikahan mereka.Diantara faedah kisah istri Nabi Musa:Sifat & rasa malu adalah sifat mulia bagi para wanita. Rasa malulah yg mempercantik seorang wanita.Istri Nabi Musa telah memiliki firasat yg baik sejak sebelum menikah dengan Nabi Musa. Nabi Musa orang yg kuat karena bisa mengangkat tutup sumur yg biasa diangkat oleh beberapa orang Nabi Musa mengangkatnya sendiri. Amanah karena ketika Nabi Musa mengantarkan ke rumahnya, Nabi Musa berjalan di depan untuk menjaga pandangannya dalam rangka bertakwa kepada Allah.Allah pilihkan Nabi Musa istri yg shalihah, yg pemalu (menjaga diri) & bertakwa kepada Allah untuk menemani Nabi Musa dalam perjalanan mendakwahi Firaun.Setelah 10 tahun, Nabi Musa rindu untuk kembali ke Mesir bertemu dengan keluarganya, kemudian mereka pun bersama menuju Mesir.Allah kisahkan dalam QS. Al Qashash:Ayat 29: Setelah Nabi Musa menyelesaikan masa kerjanya di Madyan, beliau berangkat melakukan perjalanan bersama keluarganya (istrinya). Di tengah jalan di malam yang dingin, beliau melihat api di lereng gunung (Thur). Musa meminta istrinya tinggal sebentar agar ia bisa mengambil obor atau mencari petunjuk arah.Ayat 30: Ketika Musa sampai ke tempat api itu, Allah menyerunya dari arah pinggir lembah yang sebelah kanan di tempat yang berkah, dari sebatang pohon: "Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam!"Ayat 31: Allah memerintahkan Musa untuk melemparkan tongkatnya. Saat tongkat itu berubah menjadi ular yang bergerak cepat, Musa lari ketakutan tanpa menoleh. Allah kemudian berfirman: "Wahai Musa! Menghadaplah dan jangan takut. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman."Ayat 32: Allah memberikan mukjizat kedua, yaitu memerintahkan Musa untuk memasukkan tangannya ke dalam leher bajunya, dan saat dikeluarkan, tangan itu menjadi putih bersinar tanpa cacat. Kedua mukjizat ini menjadi bekal Musa untuk menghadapi Fir'aun dan pembesarnya.Diantara faedahnya yaitu istri Nabi Musa adalah seorang istri yg taat pada suaminya. Meskipun Nabi Musa dari Mesir dan istrinya dari Madyan yg letaknya berjauhan tapi Allah takdirkan dua orang yg bertakwa berjodoh menjadi suami istri.3. Istri FiraunIstri Firaun bernama Asiyah Bintu Muzahim. Kisahnya disebutkan dalam Alquran Surat Al Qashash ayat 9."Dan istri Fir‘aun berkata, '(Anak ini) adalah penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,'padahal mereka tidak menyadari."Perkataan Asiyah ternyata benar bahwa kehadiran Nabi Musa membuat dia menjadi orang yg beriman.Kemudian ketika Firaun mengetahui bahwa istrinya telah beriman kepada Nabi Musa maka Firaun memberikan pilihan tetap mendapat segala fasilitas kemewahan istana tapi kafir kepada Allah atau tetap beriman tetapi dibunuh. Maka Asiyah pun memilih tetap beriman & akhirnya dibunuh.Dan dalam QS. At Tahrim"Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, 'Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.'"Kisah Asiyah menunjukkan ketabahan seorang wanita shalihah yg rela meninggalkan kemegahan dunia demi untuk beriman kepada Allah meskipun taruhannya meninggal dunia. Jika iman sudah masuk ke dalam hati yg paling dalam, dia akan kokoh.Masyithah (penyisir rambut putri Firaun)Masyithah bukan nama melainkan artinya penyisir. Ia adalah pekerja di istana Firaun tapi dia beriman kepada Allah.Kisah Masyithah dalam hadits:Pada malam saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perjalanan isra’ ditemani oleh Jibril, beliau mencium aroma yang wangi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Jibril , aroma wangi apa ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah aroma Masyithah, penyisir rambut keluarga Firaun beserta anak-anaknya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Bagaimana ceritanya?”Kemudian Jibril mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,Pada suatu hari, tatkala Masyithah sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisirnya jatuh dari tangannya. Dengan seketika dia berkata, “Bismillah (dengan nama Allah).”Sang Putri bertanya, “Ayahanda?”“Tidak,” jawabanya. “Tetapi Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”Putri berkata, “Saya akan laporkan kepada ayahanda.”Dia menyahut, “Silakan.”Fir’aun lantas memanggilnya seraya bertanya, “Wahai fulanah, apakah ada Tuhan selian diriku?”Jawabnya, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”Mendengar jawaban itu Fir’aun menjadi berang, lalu memerintahkan anak buahnya agar memanaskan patung sapi hingga meleleh, kemudian menyuruh agar tukang sisir itu beserta anak-anaknya dilemparkan ke dalamnya.Masyithah berkata, “Sebelum saya meninggal, saya memohon kepadamu satu permohonan.”“Apa permohonanmu?” tanya Fir’aun.Dia menjawab, “Saya mohon agar tuan nanti mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku dalam satu kafan, lalu tuan kuburkan kami.”Fir’aun berkata, “Itu adalah hal yang sangat mudah.”Akhirnya, anak-anaknya dilemparkan satu persatu di hadapannya hingga tiba giliran anak bayi yang masih disusuinya. Seakan-akan sang ibu terlambat disebabkan rasa iba terhadap bayinya. Seketika itu bayinya dapat berbicara, ‘Wahai Ibu, masuklah! Sesungguhnya siksaan di dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.”Pelajaran dari kisah masyithah: ia tetap tegar & rela dibunuh bahkan dengan anak-anaknya dalam rangka untuk membela agama Allah tetap diatas aqidah agama yg benar.Semoga Allah memberikan kita kemudahan, keselamatan, dan tidak membebani kita dengan ujian diluar kemampuan kita.