BAB 8: Talbis Iblis Terhadap Ahli IbadahIbnul Jauzi berkata:“Ketahuilah bahwasanya pintu terbesar yang digunakan iblis untuk masuk menggoda manusia adalah kebodohan.”Kebodohan adalah sebab mudahnya iblis menggoda manusia.Beliau berkata:فَهُوَ يَدْخُلُ مِنْهُ عَلَى الْجُهَّالِ بِأَمَانٍ“Dia masuk menggoda orang-orang bodoh dengan penuh keamanan.”Karena mereka bodoh, maka iblis mudah menggoda mereka.Adapun orang alim, beliau berkata:وَأَمَّا الْعَالِمُ فَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهِ إِلَّا مُسَارَقَةً“Adapun orang alim, maka iblis tidak bisa masuk kecuali dengan mencuri-curi kesempatan.”Kalau orang bodoh, iblis langsung masuk. Namun kalau orang alim, tidak semudah itu.Beliau mengatakan bahwa iblis telah menggoda banyak ahli ibadah karena sedikitnya ilmu mereka.لِجُمُوحِهِمْ إِلَى التَّعَبُّدِ وَلَمْ يُحَكِّمُوا الْعِلْمَ“Karena mayoritas mereka sibuk beribadah, namun tidak menjadikan ilmu sebagai hakim dalam ibadah mereka.”Oleh karenanya, Rabi’ bin Khutsaim berkata:تَفَقَّهْ ثُمَّ اعْتَزِلْ“Belajarlah fikih terlebih dahulu, kemudian menyendirilah.”Berilmu dulu, baru kemudian beribadah dan menyendiri. Adapun seseorang yang menyendiri untuk beribadah tanpa ilmu, maka itu berbahaya. Ia bisa terjerumus ke dalam banyak kesalahan karena iblis tidak akan membiarkan orang-orang yang bodoh beribadah kepada Allah dengan cara yang benar.A. Talbis Iblis dalam BersuciDiantaranya:1. Membuat seseorang berlama-lama di toilet.Ada yang setelah buang air kecil berdiri, berjalan, berdeham, mengangkat kaki lalu menurunkannya, dengan tujuan agar sisa air kencing keluar semua.Padahal ini hanya menimbulkan waswas.Beliau menjelaskan bahwa cukup seseorang membersihkan diri sebagaimana mestinya tanpa berlebihan.Menggunakan air secara berlebihan ketika membersihkan najis.Padahal jika najis sudah hilang, maka sudah cukup. Tidak perlu terus menambah air tanpa kebutuhan.Beliau juga menyebutkan bahwa jika seseorang buang air besar dan kotoran tidak melampaui tempat keluarnya, maka istijmar dengan batu sudah cukup apabila telah bersih.Ibnul Jauzi berkata:“Barang siapa merasa tidak cukup dengan apa yang telah dianggap cukup oleh syariat, maka dia telah menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”3. Membuat seseorang sibuk dengan niat.Ada orang yang ketika hendak berwudhu berkata “Aku berniat berwudhu untuk mengangkat hadas.” Kemudian dia ragu. Lalu dia berkata “Aku berniat berwudhu untuk membolehkan salat.” Kemudian dia ragu lagi.Karena para fuqaha berbeda pendapat tentang fungsi wudhu; ada yang mengatakan untuk mengangkat hadas dan ada yang mengatakan untuk membolehkan salat.Akhirnya dia mengulang-ulang niat.Kenapa setan bisa mempermainkan mereka seperti ini?Kata Ibnul Jauzi:Karena mereka bodoh terhadap syariat.Padahal niat tempatnya di hati, bukan di lisan. Maka bersusah payah melafalkan niat berulang-ulang adalah perkara yang tidak diperlukan.Khilaf masalah melafalkan niat oleh para ulama:melafalkan niat adalah bid’ah karena tidak pernah dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.mustahab (dianjurkan) untuk membantu menguatkan apa yang ada di hati.dianjurkan bagi orang yang mengalami waswas.Namun semua sepakat bahwa melafalkan niat bukan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan sesuatu yang wajib, rukun atau syarat sah salat.Karena itu, seseorang tidak boleh sampai terjerumus ke dalam waswas.Tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam melafalkan niat.Kalaupun ada ucapan saat ihram seperti:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً“Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu untuk umrah.”Maka itu adalah syiar ihram, bukan lafal niat.Karena itu, ketika seseorang menganggap melafalkan niat sebagai sesuatu yang harus ada, akhirnya ia terjerumus dalam waswas.Bahkan Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa kalaupun seseorang memilih pendapat yang membolehkan melafalkan niat, maka niat itu cukup diucapkan pelan untuk dirinya sendiri, bukan dengan suara keras.Karena tujuan melafalkan niat menurut sebagian fuqaha adalah menguatkan apa yang ada di hati, bukan memberitahu orang lain.Namun pendapat yang dipilih ustadz: melafalkan niat tidak disyariatkan, karena tidak ada hadis sahih, hadis dhaif, bahkan hadis palsu sekalipun yang menunjukkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melafalkan niat. Tidak pula diriwayatkan dari para sahabat. Akan tetapi tetap menghormati para ulama yang berbeda pendapat.4. Membuat seseorang ragu terhadap air yang akan digunakan untuk berwudhu.Ia melihat air lalu mulai berpikir:“Jangan-jangan air ini tidak suci.”“Jangan-jangan tadi kemasukan tikus.”“Jangan-jangan terkena sesuatu.”Akhirnya dia terus diliputi keraguan.Padahal kaidah fikih menyatakan bahwa hukum asal air adalah suci.Tidak boleh meninggalkan hukum asal hanya karena kemungkinan-kemungkinan yang tidak jelas.فَلَا يُتْرَكُ الْأَصْلُ بِالِاحْتِمَالِHukum asal tidak ditinggalkan hanya karena dugaan.5. Berlebihan Menggunakan AirMenurut Ibnul Jauzi, hal ini mengumpulkan empat perkara yang dibenci:Boros menggunakan air.Menyia-nyiakan umur.Melebihi batas syariat.Terjatuh pada perkara yang dilarang, yaitu membasuh lebih dari tiga kali.Umur adalah sesuatu yang sangat berharga.Karena itu beliau berulang kali mengingatkan agar tidak membuang waktu dalam perkara yang tidak diperintahkan.Ada orang yang masuk kamar mandi hingga setengah jam atau empat puluh menit.Padahal mandi atau wudhu cukup dilakukan sesuai kebutuhan.Ada pula yang berwudhu terlalu lama sehingga terlambat salat berjamaah, terlambat takbiratul ihram, bahkan terkadang kehilangan satu rakaat.Semua itu karena setan membisikkan:“Kalau tidak teliti, nanti salatmu tidak sah.”Padahal justru sikap berlebih-lebihan itulah yang menyelisihi syariat.Ibnul Jauzi berkata bahwa beliau pernah melihat orang-orang yang waswas dalam bersuci, namun tidak berhati-hati dalam makanan, minuman, atau menjaga lisannya dari ghibah. Seharusnya perhatian besar diberikan kepada perkara-perkara yang memang lebih penting.Dalam hadis Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Sa’ad radhiyallahu ‘anhu sedang berwudhu.Beliau bersabda:مَا هَذَا السَّرَفُ؟“Apa ini, berlebih-lebihan?”Sa’ad bertanya:“Apakah dalam wudhu juga ada berlebih-lebihan?”Nabi menjawab:نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ“Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.”Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِنَّ لِلْوُضُوءِ شَيْطَانًا يُقَالُ لَهُ الْوَلْهَانُ“Sesungguhnya untuk wudhu ada setan yang bernama Al-Walhan.”*Setan ini khusus menggoda manusia dalam masalah bersuci dan wudhu.Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar anaknya berdoa:“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu Surga Firdaus. Ya Allah, jika aku masuk surga, aku ingin istana putih di sebelah kanan, dan seterusnya.”Maka Abdullah bin Mughaffal berkata:“Mintalah surga kepada Allah dan berlindunglah dari neraka Jahannam.”Kemudian beliau berkata:“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa akan datang dari umat ini suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam berdoa dan berlebih-lebihan dalam bersuci.”Kemudian Ibnul Jauzi membawakan perkataan Abul Wafa’ Ibnu Aqil rahimahullah. Beliau berkata:“Perkara yang paling berharga bagi orang berakal adalah waktu.”Karena dengan waktu seseorang bisa beribadah, membaca Al-Qur'an, menulis, belajar, dan melakukan berbagai kebaikan. Salah satu perkara yang paling sedikit membutuhkan waktu adalah penggunaan air. Maksudnya, syariat tidak memerintahkan seseorang menghabiskan waktu lama hanya untuk bersuci.Terkait ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan:Bekas kencing seorang Arab Badui di masjid cukup disiram dengan satu ember air.Air mani yang menempel pada pakaian dibersihkan dengan cara yang mudah.Sandal yang terkena kotoran untuk masuk masjid cukup digesekkan ke tanah.Wanita yang pakaiannya panjang hingga menyentuh tanah akan dibersihkan dengan tanah yang dilalui setelahnya.Kalau seseorang buang air besar kemudian beristijmar dengan batu hingga bersih, maka itu sudah cukup. Walaupun mungkin masih ada bekas yang sangat sedikit, syariat memaafkannya.Syariat tidak menuntut kesempurnaan yang mustahil dicapai.Akhlak Nabi dalam BersuciIbnul Jauzi kemudian berkata bahwa tidak pernah dikenal dari akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sikap berlebihan dalam menggunakan air.Bukan berarti Islam mengajarkan hidup jorok, tetapi jangan sampai seseorang terjatuh ke dalam waswas yang berlebihan.B. Talbis Iblis dalam AzanBerlebihan dalam nadaImam Malik dan sejumlah ulama membenci seseorang yang mengumandangkan azan dengan terlalu banyak lagu dan lenggok.Karena hal itu bisa membuat azan keluar dari tujuan utamanya, yaitu mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Akhirnya azan lebih mirip nyanyian daripada syiar ibadah. Bukan berarti suara yang indah dilarang. Suara yang bagus tentu baik. Namun yang tercela adalah berlebihan hingga orang lebih menikmati nadanya daripada makna azannya.Menambah-nambahi azanSebagian orang mencampurkan azan dengan berbagai zikir, seruan, atau nasihat sebelum dan sesudahnya. Padahal pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, azan dikumandangkan sebagaimana adanya.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah masuk ke sebuah masjid. Kemudian beliau mendengar seseorang menyerukan tambahan-tambahan selain azan. Maka Ibnu Umar keluar dari masjid tersebut dan mengatakan bahwa itu adalah perkara yang diada-adakan.Karena panggilan menuju salat sudah cukup dengan azan.Membaca Al-Quran/dzikir dengan speaker di masjidIbnul Jauzi juga menyebutkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang yang naik ke menara pada malam hari lalu membaca Al-Qur'an dengan suara keras.Akibatnya orang-orang yang sedang tidur terganggu.Orang yang sedang salat juga terganggu.Orang yang sedang membaca Al-Qur'an pun terganggu.Beliau mengatakan bahwa ini termasuk kemungkaran.Sebab setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda pada waktu malam.Ada yang ingin tidur.Ada yang sedang sakit.Ada yang sedang salat malam.Ada yang sedang berdoa.Ada yang sedang membaca Al-Qur'an.Karena itu tidak boleh seseorang mengganggu kaum muslimin dengan suara keras meskipun yang dibaca adalah Al-Qur'an.Kaidah Imam Malik tentang Bid'ahKemudian dibawakan kaidah yang masyhur dari Imam Malik rahimahullah:مَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا“Apa yang pada zaman Nabi bukan termasuk agama, maka pada hari ini juga bukan agama.”Jika ada suatu amalan yang dianggap sebagai ibadah padahal tidak pernah dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka perlu ditinjau kembali.Karena jika hal itu benar-benar merupakan kebaikan, tentu mereka lebih dahulu melakukannya.Imam Malik rahimahullah berkata:مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ“Barang siapa membuat suatu bid’ah dalam Islam yang dia anggap baik, maka seakan-akan dia menuduh Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.”Karena Allah telah menyempurnakan agama ini.C. Talbis Iblis dalam SalatMembuat seseorang berlebihan dalam urusan pakaian yang dipakai untuk salat.mencuci pakaian berulang-ulang karena ragu padahal tidak ada bukti bahwa pakaian tersebut terkena najis.ketika disentuh seorang muslim lain langsung merasa perlu mencucinya kembali.ada sebagian kelompok yang berlebihan dalam masalah kesucian. Sampai-sampai anak yang bermain di luar rumah ketika pulang harus dimandikan terlebih dahulu karena dianggap telah terkena najis, setiap pulang dari luar rumah harus mencuci seluruh tubuhnya dan menganggap orang-orang di luar kelompok mereka tidak suci.ada orang yang mencuci pakaiannya di Sungai Tigris karena merasa mencuci di rumah tidak cukup.ada yg menjulurkan kain ke dalam sumur berulang-ulang agar dianggap benar-benar suci.Ini menyerupai sebagian perilaku yang berlebihan dalam masalah kesucian. Padahal para sahabat ketika menaklukkan Persia memakai pakaian-pakaian yang mereka dapatkan dari negeri tersebut untuk salat. Mereka juga menggunakan bejana-bejana milik orang Persia.ada pula orang yang hanya terkena satu tetes air yang diragukan, lalu mencuci seluruh pakaiannya. Padahal kalau memang bagian itu dianggap najis, cukup bagian yang terkena saja yang dicuci. Bukan seluruh pakaian.Meninggalkan Jamaah Karena Waswas Misalnya:karena turun hujan sedikit. Ia khawatir cipratan air hujan mungkin bercampur dengan najis yang ada di jalan. Akhirnya ia tidak pergi ke masjid.Ibnul Jauzi menegaskan bahwa beliau tidak melarang sikap wara’ dan menjaga kebersihan. Yang beliau larang adalah sikap berlebihan melebihi batas yang ditentukan syariat.Beliau berkata bahwa semua itu hanya:تَضْيِيعُ الزَّمَانِ“Menyia-nyiakan waktu.”Dan inilah yang beliau ingkari.Kesimpulan:Waswas dalam bersuci dan beribadah sering kali muncul karena kebodohan terhadap syariat. Orang yang memahami agama dengan benar akan mengetahui bahwa Islam dibangun di atas kemudahan, bukan kesulitan. Setan tidak selalu mengajak manusia kepada maksiat secara terang-terangan. Terkadang setan membuat seseorang melakukan sesuatu yang berlebihan dalam ibadah hingga akhirnya menyelisihi sunnah.Seseorang merasa sedang berbuat baik, padahal sebenarnya sedang terjatuh ke dalam talbis iblis.*ust tidak membahas semua bab