Day-7 TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI IBADAH, BAGIAN 3
Talbis iblis terkait sibuk dengan yang tidak utama sehingga meninggalkan yang utama. Al Imam Ibnu Jauzi berkata, bahwa syaithon telah menggoda banyak dari ahli ibadah, kalian melihat mereka sholat sunnah di malam dan siang hari tetapi mereka tidak terlalu perhatian dengan perkara batinnya. Padahal di dalam batin banyak sekali aib dan mereka juga tidak memperhatikan tentang apa yang mereka makan. Padahal memeperhatikan hal-hal tersebut memperbaiki penyakikt-penyakit batin, halalnya dari sumber yang mana itu lebih utamadaripada memperbanyak sholat-sholat sunnah. Maksudnya, jangan sampai terlalu sibuk dengan yang dzohir tapi lupa masalah batin. Sibuk sholat sunnah tapi tidak memperhatikan kehalalan makanan yang dimakannya.Talbis iblis terkait sibuk ibadah dalam membaca Al-Qur’an. Al Imam Ibnu Jauzi berkata, bahwa syaithon menggoda suatu kaum dengnan memperbanyak tilawah Al-Qur’an dengan hazan (cepat, terburu-buru) tanpa mentartil, fokus baca cepat berjuz-juz. Metode membaca seperti ini tidak terpuji. Diriwayatkan dari sebagian salaf, ada dia antara mereka yang baca Al-Qur’an khatam dalam sehari, bahkan ada yang mengkhatamkan dalam 1 rakaat seperti yang diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu dan Imam Abu Hanifah rahimahullah. Namun menurut Al Imam Ibnu Jauzi, hal ini merupakan perkara yang jarang bagi mereka, “Dan (mungkin) siapa diantara para salaf yang selalu mengkhatamkan Al-Qur’an? Mereka memang pernah melakukan mengkhatamkan Al-Qur’an sehari atau dalam 1 rakaat, jarang”. Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari atau dalam 1 rakaat diperbolehkan, tapi membaca dengan tartil dan pelan lebih disukai. Rasulullah shalallahhu alaihi wasalam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an khatam dalam 3 hari, maka ia tidak paham dan tidak faqih”. Ibnu Rajab Al Hambali menyebutkan dalam kitabnya yang tentang keutamaan beribadah di bulan Ramadhan, bahwasanya larangan Nabi shalallahu alaihi wasalam tentang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari 3 hari, berlaku diluar bulan Ramadhan. Adapun saat Ramadhan maka sebagian salaf mengkhatamkan sehari sekali. Diriwayatkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah, bahawa beliau mengkhatamkan sehari 2 kali disaat Ramadhan.Tujuan membaca Al-Qur’an adalah mentaburi/memahami maknanya. Karena dengan mentaburi bacaan Al-Qur’an akan meningkatkan iman. Kualitas membaca Al-Qur’an lebih diutamakan dari pada kuantitasnya. Solusi agar terhindar dari talbis iblis adalah ketika membaca Al-Qur’an diniatkan untuk tadabur.Ada beberapa niat yang dapat ditunaikan saat membaca Al-Qur’an, diantaranya:Niat Tilawah, dimana tiap huruf mendapatkan 10 pahala.Niat Tadabur, mendapatkan rahmat Allah, mendapatkan ampunan Allah.Niat Mengamalkan, menambah keimananFudhail bin I’yad pernah berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan, dan untuk dapat diamalkan adalah dengan mentadaburinya. Maka sebagian orang hanya membatasi mengamalkan Al-Qur’an hanya dengan membacanya saja. Sehingga saat sudah mengkhatamkan AL-Qur’an merasa sudah mengamalkan, padahal belum. Membaca Al-Qur’an adalah tahapan awal, tahapan selanjutnya adalah tadabur dan tahapan ketiga adalah mengamalkan.Al Imam Ibnu Jauzi mengatakan bahwa iblis telah membuat rancu para pembaca Al-Qur’an (Qori). Mereka membaca Al-Qur’an 1 juz atau 2 juz di menara masjid di malam hari dengan suara yang kencang. Maka qori tersebut telah mengumpulkan 2 kesalahan, yaitu:Mengganggu orang tidurMemaparkan diri terjerumus dalam riya’Diantaranya juga orang baca Al-Qur’an sesaat sebelum atau setelah adzan. Sehingga mengganggu orang yang hendak sholat sunnah.Jalankan sunnah dengan mengikuti Nabi shalallahu alaihi wasalam. Ibnu Mas’ud berkata, “Siapa yang ingin berteladan kepada sunnah, maka berteladanlah kepada orang yang sudah meninggal (para sahabat)”. Karena menyelisihi sunnah akan menumbalkan sunnah yang lainnya.Berkata Al Imam Ibnu Jauzi, bahwa diantara perkara yang menakjubkan yang beliau lihat, ada seorang yang menjadi imam sholat subuh di hari Jumat, setelah mengucap salam dalam sholatnya, orang itu di hadapan jama’ahnya membaca surat Al Muawidzatain (An-Naas, Al-Falaq). Kemudian orang itu membaca doa khatam Qur’an. Hal ini bukan metode yang diajarkan para salaf. Adapun para salaf terdahulu, mereka menyembunyikan ibadah mereka.Seorang tabi’in Rubi’ bin Husain, seluruh amalnya tersembunyi. Bahkan saat ada orang yang bertamu dirumahnya saat ia membaca Al-Qur’an, ia menutup Al-Qur’an itu dengan bajunya.Imam Ahmad bin Hambal rahimahulhah tidak diketahui kapan beliau khatam. Riya’ adalah senjata syaithon paling ampuh untuk menggugurkan amal.Talbis iblis terkait ahli ibadah yang puasa. Syaithon menggoda sebagian kaum untuk melaksanakan puasa secara terus-menerus. Puasa sunnah itu bertingkat-tingkat;Tingkatan pertama: puasa dzahar. Puasa setiap hari kecuali hari-hari yang dilarang puasa seperti hari I’d, hari tasyrik. Terjadi khilaf dari para ulama tentang puasa ini, yakni pendapat pertama: bahwasanya tidak dianjurkan puasa setiap hari. Ibnu Hazm menghukumi haram sedangkan mahdzab Hanafiyah yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah menghukumi makruh. Pendapat kedua: diperbolehkan puasa setiap hari. Mahdzab Syafi’i menghukumi mustahab sedangkan mahdzab Hambali dan Ibnu Jauzi menghukumi Jaiz. Tingkatan kedua: puasa Daud. Puasa sehari, berbuka sehari. Rasulullah bersabda, “tidak ada puasa yang lebihafdhol daripada ini!”Tingkatan ketiga: puasa sehari, berbuka 2 hari.Puasa dzahar memiliki peringkat pertama, namun yang lebih afdhol adalah puasa Daud.Meskipun puasa dzahar diperbolehkan, ada 2 kekurangan bagi orang yang melaksanakan puasa dzahar, yaitu:Puasa yang terus menerus ini dapat menyebabkan orang yang melakukannya menjadi lemah untuk mencari rizki, menghalangi untuk memenuhi kebutuhan biologis istrinya. Betapa banyak kewajiban yang terlalaikan gara-garamenjalankan sunnah yang salah.Menyebabkan seseorang yang berpuasa dzahar ini terluput dari keutamaan anjuran lebih afdholnya puasa Daud. Hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu, Rasulullah bertemu denganku, kemudian Rasulullah berkata, “Bukankah telah disampaikan kepadaku kabar bahwasanya engkau senantiasa sholat malam. bukankah engkau yang berkata aku akan sholat malam dan aku akan senantiasa puasa di siang hari”. Abdullah bin Amr bin Ash menjawab, “benar ya Rasulullah aku telah mengatakan demikian”. Maka Rasulullah menasehati Abdullah bin Amr bin Ash, “Jangan sholat semalam suntuk, tetapi sholat dan tidurlah! Dan janganlah puasa setiap hari, puasa dan berbukalah! Jika mau, puasalah 3 hari dalam sebulan (ayyamul bidh). Karena puasa 3 hari dalam sebulan, sama seperti kau puasa setiap hari setahun penuh.” Lalu Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Ya Rasulullah, saya mampu puasa lebih dari 3 hari”. Dan Rasulullah mengatakan, “puasalah sehari berbuka 2 hari!” Abdullah bin Amr bin Ash masih saja mengatakan, “saya lebih mampu puasa lebih dari itu, ya Rasulullah”. Rasulullah menjawab, “puasalah puasanya nabi Daud, itulah puasa yang terbaik”. Abdullah bin Amr bin Ash tetap mengatakan, “saya masih mampu puasa lebih dari itu”. Dan Rasullah menasehatkan, “tidak ada yang lebih baik daripada puasa nabi Daud”.Puasa berturut-turut tidak mengapa. Seperti puasa ayyamul bidh, puasa berturut-turut 3 hari. Puasa 9 hari berturut-turut di bulan Dzulhijjah. Jadi bukan puasa selama setahun penuh. Meski puasa dzahar diperbolehkan, tapi hadits nabi lebih diutamakan. Larangan puasa jika tidak mampu hingga mendzolimi diri. Karena puasa bukanlah alat untuk bunuh diri/menyakiti diri sendiri.Talbis Iblis terkait dengan samarnya riya’. Al Imam Ibnu Jauzi, bisa jadi seseorang yang terkenal karena puasa setiap hari dan tidak berbuka. Adapun jika dia berbuka, dia bersembunyi agar orang lain tidak tahu guna mempertahankan popularitasnya. Inilah riya’ yang tersembunyi. Jika orang tersebut ikhlas dalam ibadah, harusnya ia menunjukkan kepada orang lain saat dia berbuka lalu melanjutkan puasanya kembali. dan katakan sejujurnya bahwa sedang tidak puasa tidak perlu mencari alasan.Ada juga orang riya’ secara terang-terangan dengan menampakkan ibadahnya, syaithan merancukan pikirannya dengan mengatakan, “ceritakan saja ibadahmu!” Sebagian lagi menyuruh murid-muridnya untuk mempopulerkan gurunya dengan cara mempubilkasikan amalan ibadah gurunya.Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Sungguh seorang hamba melakukan amal ibadah dalam kesendiriannya, tidak ada yang tahu. Maka syaithon menggodanya hingga ia menceritakan amal ibadahnya. Maka pahalanya berpindah dari pahala karena amal tersembunyi turun derajat ke pahala amal yang terlihat. Dan amal yang tersembunyi pahalanya lebih besar daripada amal yang terlihat”.Para salaf, mereka adalah orang yang paling ikhlas menyembunyikan amal ibadahnya karena takut riya’. Mereka bersusah payah untuk menyembunyikan amal sholihnya dan berkebalikan dengan zaman sekarang.Al Imam Ibnu Jauzi juga berkata bahwa sebagian dari mereka juga ada yang puasa Senin-Kamis. Jika diajak untuk makan-makan, orang itu akan berkata, “ini hari apa? Hari Kamis, kan?” (riya’ tersembunyi). Jadi lebih baik, katakanlah, “maaf saya sedangn puasa!” Sebab saat mengatakan hari ini hari Kamis, seakan-akan hendak memberitakan bahwa kebiasaannya selalu puasa sunnah Senin-Kamis. Dan inilah riya’ tersembunyi.Diantara mereka ada yang puasa Senin-Kamis, tapi memandang orang-orang yang tidak puasa dengan nada menghina. Misal, “Katanya penghafal qur’an, koq tidak puasa?” Ingat, bahwa berpuasa bukan untuk menghina orang lain.Diantara mereka ada yang berpuasa tapi tidak peduli ifthornya makan apa. Entah makanan yang haram atau syubhat, mereka tidak peduli.Diantara mereka ada yang puasa tapi ghibah, tidak menundukkan pandangan.Waspadalah terhadap riya’ karena ibadah. Jangan pedulikan pujian dan cercaan manusia. Karena sesungguhnya pintu-pintu riya’ sangatlah banyak.Catatan pribadi kajian kitab Talbis Ibliskarya Al Imam Ibnu Jauzi Pemateri: Ust. Firanda Andirja, M.AChallenge: @komunitas.beekindPencatat: @umlinote.















