Materi ke 5TALBIS IBLIS TERHADAPAHLI ILMU (bagian ke-1)Bersama Ustadz DR.FIRANDA ANDIRJA M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِBab ke 8 tentang Dzikru Talbis Iblis 'alal 'Ubbad fil 'Ibadat (Penyebutan tentang talbis iblis, yaitu godaan iblis kepada ahli ibadah dalam ibadah-ibadah mereka, dalam ibadah-ibadah mereka).Thayib, Ibnul Jauzi berkata, "Ketahuilah bahwasanya pintu terbesar yang iblis masuk melalui pintu tersebut untuk menggoda manusia adalah kebodohan." Ya, kebodohan adalah sebab mudahnya iblis masuk dalam menggoda manusia, ya. Fahuwa yadkhulu minhu 'alal juhhal bi aman, maka dia masuk untuk menggoda orang-orang bodoh dengan mudah, dengan penuh keamanan. Tidak sulit untuk menggoda orang-orang bodoh karena mereka bodoh. Dengan kebodohan itulah iblis menggoda.Wa ammal 'alim fala yadkhulu 'alayhi illa musaraqatan, adapun kalau ingin menggoda orang alim tidak semudah itu, harus curi-curi sedikit-sedikit. Kalau orang bodoh langsung masuk, lempeng aja, iblis mudah untuk menggoda. Sungguh iblis telah menggoda banyak ahli ibadah karena sedikitnya ilmu mereka. Ya, li-anna jumhurahum yasytaghilu bit ta'abbud wa lam yuhakkimil 'ilma, karena mayoritas ahli ibadah mereka sibuk dengan beribadah sementara mereka tidak berilmu.Oleh karenanya, Rabi' bin Khutsaim berkata, "Tafaqqah tsumma' tazil" (Belajar fikih dulu, berilmulah dulu, baru kalau mau menyendiri silakan). Berilmu dulu baru kemudian silakan menyendiri. Adapun seorang menyendiri beribadah dengan tanpa ilmu, maka itu berbahaya. Bisa terjerumus dalam banyak kesalahan karena iblis tidak akan membiarkan orang-orang yang bodoh tersebut untuk beribadah kepada Allah dengan cara yang benar, iblis akan menggoda.Thayib, fa awwalu talbisihi 'alayhim (Talbis yang pertama atau godaan pertama, kerancuan pertama yang dibikin oleh iblis kepada ahli ibadah), itsaruhum ta'abbuda 'alal 'ilmi, yaitu mereka lebih suka atau mereka mendahulukan ibadah daripada menuntut ilmu. Wal 'ilmu afdhalu minan nawafil, padahal ilmu itu lebih afdal daripada amalan-amalan sunah. Ilmu itu lebih afdal daripada amalan-amalan sunah.Fa arahum annal maqshuda minal 'ilmil 'amal, maka iblis cara menggodanya begini: dia mengesankan kepada ahli ibadah tersebut dengan berkata, "Apa sih tujuan ilmu? Tujuan ilmu adalah beramal. Ya, kalau begitu ya sudah, tidak usah menuntut ilmu, langsung beramal aja, langsung aja ke tujuan. Ngapain menuntut ilmu, kan tujuan menuntut ilmu adalah beramal. Kalau begitu tidak usah menuntut ilmu, langsung aja ke tujuan."Apa kata Ibnul Jauzi? Wa ma fahimu minal 'amali illa 'amalal jawarih, sementara yang dipahami oleh ahli ibadah tersebut namanya amal tuh cuma amal jawarih, amal anggota tubuh, amal luar saja. Wa ma 'alimu annal 'amala 'amalul qalbi, mereka tidak tahu bahwasanya amal yang sesungguhnya yang terbaik adalah amalan apa? Hati.Wa 'amalul qalbi afdhalu min 'amalil jawarih, dan amalan hati lebih afdal daripada amal luar, amal zahir, ya. Dan amal hati bagaimana bisa kita memperolehnya kecuali dengan menuntut apa? Ilmu. Kita belajar akidah, akidah amal hati atau bukan? Amal hati. Iman tentang sifat-sifat Allah, tentang keimanan kepada malaikat, tentang keyakinan akan kemahakuasaan Allah, ini semua amalan hati. Dan itu semua diperoleh dengan apa? Belajar. Dan amalan hati lebih afdal daripada amalan jawarih.Ini dari satu sisi. Dari sisi yang lain, amalan jawarih, anggota luar, kalau didukung dengan amalan hati yang bagus maka pengaruhnya juga berbeda, pengaruhnya juga berbeda. Jadi iblis caranya begitu, dia bilang, "Ngapain kamu banyak menuntut ilmu, langsung aja beramal." Padahal beramal tanpa ilmu berbahaya. Bukankah orang-orang Nasrani sesat gara-gara beramal tanpa ilmu, ya? Sehingga Allah mengatakan, "Waladhdhallin" (Jangan Kau jadikan kami atau mengikuti jalan orang yang disesatkan). Yang disesatkan maksudnya orang Nasrani, yang semangat beribadah tanpa ilmu.Kemudian Ibnul Jauzi menyebutkan atsar-atsar dari para salaf tentang keutamaan ilmu. Qala Mutarrif bin Abdillah bin Asy-Syikhkhir: "Fadhlul 'ilmi khayrun min fadhlil 'ibadah" (Bahwasanya keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, ya). Karena sisinya, ini sisi yang baik yang disebut oleh Ibnul Jauzi, karena menuntut ilmu itu terkait dengan amalan apa? Amalan hati. Keyakinan, menghilangkan syubhat, kemantapan akidah, mengetahui banyak hal tentang akhirat, ini semua dengan belajar. Pengen belajar tafsir ayat-ayat Al-Qur'an, bagaimana tahunya? Harus belajar. Maksud ayat ini bagaimana, maksud ayat ini bagaimana, tidak bisa tahu kecuali dengan belajar. Membaca sirah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lebih cinta kepada Nabi, caranya bagaimana? Belajar.Oleh karena itu wajar jika Mutarrif bin Abdillah berkata, "Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah." Dan ini memotivasi kita untuk semangat menuntut ilmu. Semangat menuntut ilmu bukan dengan melalaikan ibadah, kita juga tetap beribadah. Tetapi ibadah yang dibangun di atas ilmu itu jauh lebih afdal daripada ibadah tanpa ilmu, yang rawan terjadi penyimpangan.Maka Mutarrif bin Abdillah berkata, "Fadhlul 'ilmi khayrun min fadhlil 'ibadah" (Keutamaan ilmu lebih utama, lebih baik daripada keutamaan ibadah). Wa qala Yusuf bin Asbat (Berkata Yusuf bin Asbat), "Babun minal 'ilmi tata'allamuhu afdhalu min sab'ina ghazwatan" (Satu bab ilmu yang kau pelajari lebih baik daripada 70 peperangan). Ini... ini perkataan dia, ya. Dia mengatakan demikian, Ibnul Jauzi menukil agar seorang tidak meremehkan tentang ilmu, ya. Satu bab tentang ilmu yang kau kuasai, lebih afdal daripada 70 jihad yang kau ikuti.Wa qala Al-Mu'afa ibni Imran: "Kitabatu haditsin wahidin ahabbu ilayya min shalati lailatin" (Menulis satu hadis aja lebih aku sukai daripada salat malam, salat semalam suntuk. Lebih aku sukai daripada salat semalam suntuk).Kemudian Ibnul Jauzi mengomentari, fa lamma marra 'alayhim hadzat talbis (Ketika godaan ini masuk kepada mereka, cara setan melakukan talbis yaitu merancukan pemikiran mereka), wa atsarut ta'abbuda bil jawarih 'alal 'ilmi tamakkanal iblisu minat talbisi 'alayhim fi fununit ta'abbud. Sehingga mereka akhirnya mendahulukan ibadah, ibadah zahir daripada menuntut ilmu, akhirnya iblis mudah untuk menggoda mereka dalam berbagai macam ibadah. Iblis mudah menggoda mereka dalam berbagai macam ibadah. Iblis masuk kepada mereka dalam pintu-pintu ibadah yang mereka kerjakan.Mulailah Ibnul Jauzi menyebutkan contoh-contoh godaan iblis terhadap orang-orang yang beribadah, melakukan kesalahan tapi mereka menyangka itu adalah perbuatan baik. Itu yang disebut dengan apa? Talbis. Membuat orang melakukan keburukan namun disangka melakukan apa? Kebaikan.Thayib, yang pertama tentang godaan iblis terkait dengan bersuci. As-sitobah wal hadats, tentang bersuci. Kata... kata Ibnul Jauzi, "Di antaranya setan memerintahkan mereka untuk berlama-lamaan di toilet." Berlama-lamaan di WC, ya. Dan ini hanya merusak hati. Seharusnya orang di toilet secukupnya, ya. Secukup-cukupnya, jangan lama-lama.Di antara mereka ada yang berdiri setelah buang hajat, kemudian berdiri kemudian berjalan, kemudian berdeham, yatanahnah (ehem, ehem, ehem), yarfa'u qadaman wa yahaththu ukhra (angkat kaki turun kaki). Untuk apa? Maksudnya supaya air kencing keluar semua, ya. Wa 'indahu annahu yastangqi bihadza, dia menyangka dengan cara begini bisa keluar semua air kencing. Wa kullama zada fi hadza nazalal baul, wa kullama zada fi hadza nazalal baul, padahal dia bikin begini turun lagi air kencing. Harusnya tidak perlu, ya. Harusnya tidak... tidak perlu, ya.Sudah tinggal kencing, kata beliau, innama yakfihi an yahtaliba ma fidz dzakari baina usbu'aihi tsumma yatba'uhul ma'. Cukup mungkin kalau dia ragu, dia tinggal mengerut sedikit, memijit sedikit kemaluannya, kemudian dia siram, selesai. Tidak usah jalan-jalan, loncat-loncat, ehem ehem, enggak perlu. Enggak perlu. Ini waswas, bikin apa? Waswas.Di antaranya waswas atau talbis iblis, man yuhassinu lahu isti'malal ma'il katsir, orang yang iblis indahkan pada dirinya lebih bagus menggunakan air yang banyak itu lebih bagus. Ya, padahal cukup kalau sudah najis sudah hilang, cukup paling maksimal menurut pendapat yang paling kencang dari antara pendapat-pendapat mazhab adalah 7 kali siraman. Itu yang paling kencang, yang paling... Sebenarnya satu kali sudah cukup. Tapi taruhlah kita memilih pendapat yang paling kencang itu 7 kali siraman. Tapi ini enggak, tambah lagi, tambah lagi, tambah lagi, tambah lagi, tambah lagi, airnya diguyur banyak. Ini semua tidak benar, ya.Fa inista'malal ahjara fima lam yata'addal makhraja ajza-ahu tsalasatu ahjarin idza anqa bihinna. Kalau dia buang BAB, buang air besar, kemudian kotoran tersebut keluar tanpa melampaui lubang dubur, maka cukup dengan menggunakan tiga batu. Kalau sudah bersih ya sudah, tidak usah sampai 21 batu. Bisa luka parah kalau begitu. Kalau tiga batu sudah bersih sudah cukup.Kemudian kata beliau, wa mal lam yaqna' bima qana'as syar'u bihi fahuwa mubtadi'un syar'an. "Siapa yang merasa tidak cukup padahal syariat sudah bilang cukup, maka dia adalah ahli bidah secara syariat, wala muttabi', dan dia tidak mengikuti sunah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam." Ini beliau contohkan tentang talbis iblis dalam masalah bersuci.Baik, kita lanjutkan. Yang kedua, talbis iblis dalam masalah wudu. Ini disebut satu-satu. Ini semua karena kebodohan, maka setan mudah masuk. Bersuci begini, menghilangkan najis, wudu begini godaan setan. Man yulabbisu 'alayhi minhum man yulabbis 'alayhi fin niyah, ada di antara mereka yang digoda oleh iblis tentang masalah niat. Fa tarahu yaqulu arfa'ul hadats tsumma yaqulu astabihus shalah, dia mengatakan, "Aku berniat untuk wudu untuk mengangkat hadas." Terkadang dia ragu, dia bilang, "Aku berniat wudu untuk membolehkan salat." Karena para fuqaha khilaf apa fungsi wudu, ada yang bilang untuk mengangkat hadas, ada yang mengatakan untuk membolehkan salat, sehingga dia bimbang ketika berniat apa yang harus dia ucapkan. "Aku mengangkat... aku berwudu untuk menghilangkan hadas," terkadang dia ulangi lagi. "Aku berwudu, nawaitul wudu'a untuk salat," bingung.Kemudian dia ulangi lagi, "Enggak enggak, aku berniat wudu untuk menghilangkan apa? Hadas." Ah, enggak boleh, niat untuk wudu menghilangkan hadas saja, harus sekaligus untuk salat. Ulangi lagi, "Aku niat wudu untuk apa? Salat." Bimbang sendiri.Wa sababu hadzat talbis, kenapa setan bisa menggodanya seperti ini? Al-jahlu bis syar'i, karena bodoh dengan syariat. Kata Ibnul Jauzi, li-annan niyata bil qalbi, karena niat tuh tempatnya di hati, la bil lafzhi, bukan di lafal. Fa takalluful lafzhi amrun la yuhtaju ilayhi, maka bersusah payah untuk mengucapkan nawaitu nawaitu karena untuk ini, untuk ini, perkara yang tidak diperlukan. Tsumma la ma'na li tikraril lafzhi, kemudian ngapain diulang-ulang? Ngapain diulang-ulang, tidak perlu. Tidak perlu, ya.Tapi tentunya, tentunya kita harus mengakui bahwasanya masalah niat ada khilaf di kalangan para... para ulama. Ada yang mengatakan niat dalam ibadah-ibadah itu bidah karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, ini pendapat sebagian ulama.Suara yang kencang sebelum adzan,dzikir2 yang tidak ada ajaran nya dari Rasulullah ﷺ adalah bentuk kemungkaran,karena mengganggu sekitar.Imam Malik berkata:“Apa yang di zaman Nabi bukan ibadah,maka di zaman sekarang juga bukan ibadah”Apabila di zaman Nabi bukan ibadah,tpi di zaman sekarang menjadi ibadah,maka terdapat 2 kemungkinan:1.Nabi dan para sahabatnya tidak tau hal tersebut2.Nabi tau tapi tidak dilakukan(menyembunyikan syariat)Imam Malik berkata:“Siapa yang menganggap bid’ah itu baik,maka dia telah menganggap Muhammad telah berkhianat pada risalah(ada sesuatu yg tdk disampaikan)”Talbis Iblis dalam sholat:Iblis menggoda mereka dengan baju yg mereka gunakan untuk sholat,maka ada di antara mereka yg mencuci baju yg sudah dicuci,kemudian dicuci lagi berulang2 karena perasaan was2 yg berlebihan,(seperti Islam Jamaah)~>semua ini karena dasar kebodohan dan ajaran pemimpin2 tersebutDiantara mereka ada yg mencuci bajunya tdk cukup hanya dirumah tapi harus di sungai,ada diantara mereka yang kainnya dijulurkan di sumur seperti perbuatan orang Yahudi,para sabahat tdk pernah melakukan demikian bahkan mereka sholat dgn baju Persia ketika mereka menaklukan Persia,baju2 yg ada kemudian diambil dan dipakai,dan mereka menggunakan bejana2 orang2 Persia,bahkan diantara orang yg was2 baru ada 1 air kena di tubuh menganggap itu najis,diantara mereka ada yg meninggalkan sholat berjamaah dikarenakan hujan yg tdk deras(khawatir ada cipratan air najis ketika berjalan)Ibnu Jauzi berkata:“bukannya aku melarang orang bersuci dari wara’,yg berlebihan itu aku tidak suka,hanya akan membuang2 waktu,dan inilah yg kita larang”