🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

PKKTI Halaqah 15

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.المعقد الثاني عشرSimpul yang ke-12 di antara 20 simpul yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu adalahانتخاب الصحبة الصالحة لهhendaklah kita memilih pertemanan yang baik untuk mendapatkan ilmu tadiاتِّخاذ الزَّميل ضرورةٌ لازمةٌ في نفوس الخلق،mengambil seorang teman itu sesuatu yang harus dalam diri-diri manusia, kita adalah manusia makhluk sosial tidak bisa kita hidup sendiri kita butuh temanفيحتاج طالب العلم إلى معاشرة غيره من الطُّاَّب؛Maka seorang penuntut ilmu itu sangat membutuhkan orang lain, dia butuh bersosial dan bermuamalah dengan orang lain, di antara sesama penuntut ilmu.Dia membutuhkan teman dalam menuntut ilmu tersebut karena sebagaimana telah berlalu bahwasanya ilmu ini adalah berat, dia adalah suatu yang sangat mulia suatu yang sangat berat dan kita tahu bahwasanya untuk mencari ilmu ini bukan dengan berleha-leha kita harus bersungguh-sungguh, kalau kita sendiri maka ini sesuatu yang bisa menyebabkan seseorang mudah futur ketika dia menuntut ilmu dan dia tidak memiliki teman dalam menuntut ilmu.Maka dia membutuhkan teman untuk menuntut ilmu, teman yang satu visi satu misi satu semangat yang dia juga berkeinginan untuk sampai kepada ilmu tadi sehingga ketika kita dalam keadaan lemah melihat teman tersebut dalam keadaan semangat kita pun ikut bersemangat, ketika kita dalam keadaan lemah dia menasehati kita menggandeng kita ayo terus kita melangkah supaya kita sampai kepada ilmu tadi, kita butuh dan memerlukan teman-teman yang seperti itu.Maka termasuk pengagungan kita terhadap ilmu jangan kita sembarangan dalam mencari teman, kita harus mencari teman-teman yang memang satu tujuan satu semangatلِتُعِينَه هٰذه المعاشرة علىٰ تحصيل العلم والاجتهاد في طلبهSupaya pertemanan ini menolong dia membantu dia untuk mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.Berarti sebaliknya kalau kita memilih sembarang teman kita mendekati teman-teman yang malas misalnya teman-teman yang tidak punya semangat untuk memahami tidak punya semangat untuk bertanya tidak punya semangat untuk menghafal maka ini berarti kurang pengagungan kita terhadap ilmu. Kalau kita memang benar-benar mengagungkan ilmu carilah teman-teman yang sama-sama mengagungkan ilmu sama-sama semangat dalam menuntut ilmuوالزَّمالة في العلم إن سَلِمت من الغوائل نافعةٌ في الوصول إلى المقصودDan pertemanan di dalam ilmu kalau selamat dari perkara-perkara yang merusaknya maka akan bermanfaat, jadi kalau kita benar dalam mencari teman bukan hanya sembarangan tapi kita pilih mana teman yang memang semangat dalam menuntut ilmu, kalau selamat pertemanan tersebut dari kerusakan itu akan bermanfaat bagi kita dalam menyampaikan kita kepada maksud yaitu yang akan membantu kita memudahkan kita untuk sampai kepada ilmu.Berarti sebaliknya teman yang tidak baik maka ini yang akan menghalangi kita dari ilmu ini akan memperlambat kita dari ilmu dan menjadikan kita tidak sampai kepada cita-cita kita untuk menjadi seorang ahlul ilmولا يَحسُنُ بقاصد العا إلَّ ٱنتخاب صحبةٍ صالحةٍ تُعينه؛ فإنَّ للخليل في خليله أثرًاMaka tidak sepantasnya bagi orang yang mengejar sesuatu yang tinggi cita-cita yang mulia, tidak pantas baginya kecuali mencari pertemanan-pertemanan yang shalehah yang akan membantu dia, karena kata beliau kekasih kepada kekasihnya itu memiliki pengaruh, atau seorang kekasih atau teman dekat orang yang sangat dia cintai maka ini memiliki pengaruh terhadap kekasihnya atau orang yang sangat dia cintai.روى أبو داود والتِّرمذيُّ عن أبي هريرة أنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: الرَّجل علىٰ دين خليله، فلينظرْ أحدكم من يُخالِلAbu Daud dan juga Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda Seseorang itu di atas agama khalilnya, khalil itu adalah bukan hanya sekedar teman tapi dia adalah teman yang sangat-sangat dekat teman yang sangat dia cintai.Maka qaidah (rumusnya) seseorang agama dia ketaatan dia kualitas agama dia itu sama dengan kualitas agama orang yang sangat dia cintai (khalilnya) karena tidak mungkin dia sangat mencintai orang tersebut kecuali ada memang persamaan yang banyak diantara dua orang tadi, karena ada persamaan yang banyak diantara dua orang tadi maka akhirnya dia mencintai dan sangat mencintai sehinggaالرَّجل علىٰ دين خليلهSeseorang itu berada diatas agama khalilnyaفلينظرْ أحدكم من يُخالِلMaka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat.Masing-masing dari kita melihat siapa teman dekat Ana, siapa orang yang paling Ana cintai yang Ana kadang menyampaikan kepadanya sesuatu yang menjadi rahasia Ana siapa dia itulah Antum, kalau orang tersebut adalah orang yang shaleh orang yang semangat maka itulah Antum tapi kalau orang tersebut adalah orang yang jauh dari agama jauh dari ketaatan kepada Allāh ﷻ maka itulah kurang lebih diri kitaفلينظرْ أحدكم من يُخالِلMaka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan khalil.Ini menunjukkan bahwasanya khalil (teman dekat) itu sangat berpengaruh kepada teman dekatnya, kalau kita memang ingin sampai kepada ilmu sampai kepada cita-cita kita yang tinggi untuk mendapatkan ilmu maka hendaklah kita mencari teman-teman yang shalehقال الرَّاغب الأصفهانيُّ: ليس إعداء الجليس لجليسه بمقاله وفعاله فقط، بل بالنَّظر إليهBerkata Ar-Raghib Al-Ashfahaniy tidaklah penularan teman duduk kepada teman duduknya hanya dengan ucapan dan perbuatan saja, seseorang duduk bersama orang lain bisa tertular karena sebab ucapan temannya atau bisa tertular dengan sebab perbuatan temannya, kata Ar-Raghib bukan hanya ucapan dan juga perbuatan sajaبل بالنَّظر إليهbahkan dengan hanya melihat saja itu bisa menular.Teman duduknya belum berbicara dan belum bergerak dia hanya melihat tapi dia adalah teman duduk yang baik misalnya, teman duduk yang shaleh dia belum berbicara belum bergerak apa-apa hanya sekedar dilihat itu sudah mempengaruhi kita, ini adalah orang yang shaleh Ana harus demikian dan demikian, sudah mempengaruhi kita padahal kita hanya sekedar melihat dia dan dia belum berbicara belum berbuat.Sebaliknya orang yang rusak dan dia menjadi teman duduk kita sekedar kita melihat dia juga kita akan bisa terpengaruh dengan orang tersebut padahal dia belum berbicara padahal dia belum berperilaku, hanya sekedar kita melihat orang yang rusak tadi maka ini bisa mempengaruhi.Kalau memang demikian keadaan teman duduk teman akrab maka disini perlu kita memperhatikan siapa teman akrab kita dalam menuntut ilmu, ingat sesuatu yang akan kita cari ini adalah suatu yang sangat mulia, benar-benar kita harus menyeleksi siapa teman yang bisa kita jadikan benar-benar seorang sahabat yang bersama-sama berjalan untuk mendapatkan ilmu.وإنَّما يُختار للصُّحبة من يُعاشِر للفضيلة لا للمنفعة ولا للذَّةDan sesungguhnya dipilih untuk menjadi seorang teman orang yang kita bergaul dengannya karena keutamaannya.Cara mencari teman yang baik adalah kita memilih diantara mereka seorang teman yang kita jadikan teman karena keutamaannya, misalnya keutamaannya dia semangat untuk menuntut ilmu dia memperhatikan ilmunya dia menghafal dia beradab dia terlihat orang yang mengagungkan ilmu berarti ini kita mengambil dia sebagai seorang teman karena keutamaan diaلا للمنفعة ولا للذَّةbukan karena manfaat, mengambil seseorang sebagai teman karena manfaatnya yaitu karena kita ingin mengambil manfaat dari dia karena dia adalah seorang yang kaya misalnya akhirnya kita menjadikan dia sebagai teman, ini berarti berteman karena kita ingin mengambil manfaat dari dia, ini jangan sampai demikianولا للذَّةdan jangan sampai kita mengambil teman karena kita merasa nikmat ketika dekat dengan orang tersebut, mungkin orangnya suka guyon misalnya kemudian kita akhirnya menjadikan dia sebagai teman. Seharusnya kita mencari teman karena keutamaan dia contohnya adalah dia adalah penuntut ilmu yang memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmuفإنَّ عقْد المعاشرة يُبرَم علىٰ هٰذه المطالب الثَّلاثة: الفضيلة، والمنفعة، واللَّذَّةKarena pertemanan itu biasanya berdasarkan tiga perkara ini, ada pertemanan karena fadhilah (keutamaan) teman tersebut, ada pertemanan karena manfa’ah yaitu karena teman tersebut kita bisa ambil manfaat dari dia karena dia punya uang misalnyaواللَّذَّةdan seseorang yang kita jadikan teman karena kita merasa nikmat ketika berteman dengan orang tersebut, yaitu karena dia suka menghibur misalnya.Maka yang bermanfaat adalah kalau kita mengambil seseorang menjadi teman karena keutamaan yang dia miliki, adapun pertemanan yang berdasarkan manfaat dan juga kelezatan atau kenikmatan maka ini terputus dengan sebab berhentinya manfaat yang kita ambil dan dengan sebab kita sudah tidak bisa merasakan kenikmatan bersama dia.Kemudian beliau mengatakanذكره شيخ شيوخنا محمدُ الخضرِ بنُ حسينٍ في رسائل الإصلاحDisebutkan oleh guru dari guru-guru kami Muhammad Al-Khadhir Ibn Husein dalam Rasā’il Al-Ishlah, ini maksudnya adalah tentang masalah bahwasanya pertemanan ini terkadang karena keutamaan terkadang karena manfaat terkadang karena kenikmatan, ini disebutkan oleh guru dari guru-guru beliauفانتخب صديق الفضيلة زميلً؛ فإنَّك تعْرَفُ بهMaka pilihlah seseorang menjadi teman bagimu karena keutamaan yang dia miliki maka engkau akan dikenal dengannya.Yaitu ketika kita memilih seorang teman yang mulia dia memiliki fadhilah memiliki keutamaan maka kita ini akan dikenal baik meskipun kita mungkin tidak sebaik orang tersebut tapi karena kita adalah teman orang yang memiliki keutamaan tadi maka kita akan dikenal sebagai orang yang baik, karena ini adalah temannya si fulan dan si fulan adalah seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh maka kita akan dikenal juga sebagai seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguhو قال ابنُ مانعْ في إرشاد الطلاب – وهو يوصي طالب العلمDan berkata Ibnu Mani’ rahimahullāh didalam kitab beliau Irsyaduth Thullab dan beliau dalam keadaan memberikan wasiat kepada penuntut ilmuويَحْذَر كلَّ الحذر من مخالطة السُّفهاءHendaklah seorang penuntut ilmu waspada dan benar-benar waspada dari berteman dengan para sufaha’ (orang-orang yang yang mereka tidak menjaga dirinya, melakukan kemaksiatan melakukan perkara-perkara yang tidak bermanfaat)وأهلِ المجون والوقاحةdan orang-orang yang rusakوسيِّئي السُّمعةdan orang-orang yang jelek atau dikenal jelek oleh manusia / masyarakatوالأغبياءdan orang-orang yang ghabi, kurang lebih maknanya adalah orang-orang yang tolol tidak bisa menjaga waktunya atau melakukan perkara-perkara yang sangat tidak bermanfaat melihat sesuatu yang tidak bermanfaat atau melakukan aktivitas-aktivitas yang sama sekali tidak ada manfaatnyaوالبلَداءini hampir sama maknanya dengan al-aghbiya’فإنَّ مخالطتهم سبَبُ الحرمانِ وشقاوةِ الإنسانkarena bercampur dengan mereka, kita tidak menjaga diri kita sebagai seorang penuntut ilmu tidak menjaga pergaulan kita dan kemudian kita menyamakan diri kita dengan mereka orang-orang yang memang tidak memperhatikan waktunya tidak memperhatikan kehormatan dirinya terjerumus dan bergelimang dengan kemaksiatan dikenal jelek oleh masyarakat, maka bercampur baur dengan mereka ini menjadi sebab kita tidak mendapatkan ilmu, karena kita menghinakan ilmu, dengan kita tidak menjaga pergaulan kita dengan orang lain ini berarti kita menghinakan ilmu yang kita bawaوشقاوةِ الإنسانdan ini menjadi kebinasaan dan kecelakaan tersendiri bagi seseorang.

💬 0 komentar📅 6 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 115 | Ahlus Sunnah Beriman dengan Rukun Iman yang Enam

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-115 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan:وَالإِيمَانُ: هُوَ الإِيمَانُ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِه، وَكُتُبِه، وَرُسُلِه، وَاليَوْمِ الآخِرِ، وَالقَدَرِ، خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، وَحُلْوِهِ وَمُرِّهِ، مِنَ اللهِ تَعَالَىٰ“Sesungguhnya keimanan adalah keimanan kepada Allāh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit, semuanya adalah dari Allāh Ta’ālā.”Di sini beliau kembali menjelaskan bahwasanya di antara aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, bahkan ini merupakan pokok aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah beriman kepada rukun iman yang enam. Dan masing-masing dari rukun iman yang enam ini, Alhamdulillāh, sudah disinggung oleh beliau, kecuali beriman kepada hari akhir, insya Allāh nanti ada waktunya.Beriman kepada Allāh sudah disebutkan berulang kali, seperti beriman dengan nama dan juga sifat-sifat Allāh, beriman dengan Rubūbiyyah Allāh, bahkan ini disebutkan di awal. Beriman dengan Ulūhiyyah Allāh juga telah disebutkan.Beriman kepada malaikat juga sudah disebutkan oleh beliau. Beriman kepada kitab-kitab, termasuk beriman kepada Al-Qur’ān, juga sudah dijelaskan. Beriman kepada para rasul juga sudah disinggung. Beriman kepada takdir juga telah disebutkan berulang kali oleh beliau pada halaman-halaman sebelumnya.Tinggal masalah beriman kepada hari akhir. Sebagian sudah disinggung, seperti masalah syafaat yang disebutkan oleh beliau, kemudian masalah Telaga Nabi ﷺ, ini juga sudah disebutkan sebagian perkara yang berkaitan dengan hari akhir, ada sebagian masalah-masalah yang berkaitan dengan hari akhir sudah disebutkan oleh beliau, seperti masalah Ru’yatullāh ini juga berkaitan dengan hari akhir.Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penulis raḥimahullāh terkadang tidak urut dalam penyebutan. Jadi, terkadang disebutkan secara khusus, kemudian dibahas kembali secara global atau secara umum.Sekarang beliau membahas tentang masalah beriman kepada rasul:وَأَنَحْنُ مُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ كُلِّهِ“Dan kami beriman dengan itu semuanya,” yaitu rukun iman yang enam kita beriman dengan semuanya.Ahlussunnah wal Jama’ah mereka beriman dengan seluruh rukun iman yang enam, dan tidak sah keimanan seseorang kalau sampai dia mengingkari salah satu di antara rukun iman yang enam tadi. Kita tidak membeda-bedakan, misalnya beriman kepada Allāh, kemudian mengingkari malaikat, atau beriman kepada Allāh tetapi mengingkari hari akhir.Karena jika seseorang sampai mengingkari salah satu di antara rukun iman yang enam, maka dia telah membatalkan keislamannya. Allāh ﷻ berfirman:إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا ۝ أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allāh dan rasul-rasul-Nya, serta bermaksud membeda-bedakan antara Allāh dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian (dari para rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain),’ serta bermaksud mengambil jalan (tengah) di antara itu (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.” (QS. An-Nisā: 150-151)Orang yang membeda-bedakan, beriman dengan sebagian dan kufur dengan sebagian maka merekalah orang-orang yang benar-benar kufur. Maka ahlussunnah tidak membeda-bedakan di antara rukun iman tersebut. Semua diimani.لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ“Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari para rasul.”لَا نُفَرِّقُ maksudnya adalah tidak membeda-bedakan, bagaimana penjelasannya?Tidak membedakan di sini berarti beriman dengan sebagian dan kufur dengan sebagian. Percaya dan beriman dengan sebagian rasul tetapi mengingkari sebagian yang lain, ini namanya tafrīq baina ar-rusul (membedakan di antara para rasul), dan ini tidak boleh. Karena mengingkari satu orang rasul sama saja dengan mengingkari seluruh rasul. Mengingkari satu orang rasul mengeluarkan seseorang dari agama Islam.Oleh karena itu, Allāh ﷻ berfirman:آمَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦۚ“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, begitu pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allāh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.'”— (QS. Al-Baqarah: 285)Kita tidak membeda-bedakan diantara para rasul. Semua, kalau itu memang adalah seorang rasul kita benarkan, kita beriman. Dan ini berbeda dengan misalnya ahlul kitab. Orang Yahudi percaya kepada Nabi Mūsa, tetapi mereka mengingkari Nabi ʿĪsā. Maka mereka kufur dengan sebab itu. Orang Nasrani percaya kepada Nabi Mūsa, beriman kepada Nabi ʿĪsā, tetapi tidak percaya kepada Nabi Muḥammad ﷺ. Maka mereka pun kufur karena tidak beriman kepada Nabi Muḥammad ﷺ, meskipun mereka beriman kepada seluruh nabi sebelumnya maka inimengeluarkan seseorang dari agama Islam.Rasūlullāh ﷺ bersabda:وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ“Demi Dzat yang jiwa Muḥammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar salah seorang dari umat ini, baik itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku bawa, kecuali dia termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim, no. 153)Meskipun sebelumnya dia beriman kepada Nabi Mūsa, Nabi Hārūn, dan Nabi ʿĪsā, tetapi jika tidak beriman kepada Nabi Muḥammad ﷺ, maka dia keluar dari agama Islam, tidak termasuk dalam agama Islam.Sehingga Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’ān, ketika menyebutkan umat-umat yang mendustakan rasul mereka, menganggap bahwa tindakan itu adalah mendustakan seluruh para rasul.كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍۢ ٱلْمُرْسَلِينَ“Kaum Lūṭh telah mendustakan para rasul.”— (QS. Asy-Syu‘arā’: 160)Padahal tidak diutus kepada kaum Luth kecuali Nabi Luth ʿalaihissalām.كَذَّبَتْ عَادٌ ٱلْمُرْسَلِينَ“Kaum ‘Ād telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 123)Padahal tidak diutus kepada mereka kecuali Nabi Hūd, tetapi Allāh ﷻ mengatakan mereka telah mendustakan para rasul. Karena mendustakan satu orang rasul sama saja mendustakan semuanya.Ahlussunnah tidak membeda-bedakan. Semuanya diimani oleh ahlussunnah. Beriman kepada Nabi ʿĪsā bukan berarti kita mengikuti syariat Nabi ʿĪsā. Kita beriman bahwasanya beliau adalah seorang rasul, dan kita beriman bahwasanya syariat yang beliau bawa adalah untuk Bani Isrāʾīl.وَإِذْ قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ يَـٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًۭا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۭا بِرَسُولٍۢ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ “Dan (ingatlah) ketika ‘Īsā putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Isrāʾīl! Sesungguhnya aku adalah utusan Allāh untuk kalian, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad.'”— (QS. As-Shaff: 6)Itu namanya beriman. Kita beriman kepada Nabi Mūsā, bahwa beliau adalah seorang rasul yang diutus kepada Bani Isrāʾīl. Syariat beliau adalah untuk Bani Isrāʾīl. Yang kita diperintahkan untuk beriman dan mengikuti syariat adalah Nabi Muḥammad ﷺ, sebagai rasul terakhir yang diutus untuk seluruh manusia.وَنُصَدِّقُهُمْ كُلَّهُمْ عَلَىٰ مَا جَآءُوا بِهِ“Dan kita membenarkan mereka semuanya sesuai dengan apa yang mereka bawa.”Membenarkan mereka semuanya. Kita benarkan bahwa mereka adalah rasul yang diutus, diwahyukan kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang pilihan. Kita benarkan mereka atas apa yang mereka bawa.Jadi, apa yang mereka bawa semuanya adalah haqq. Itu adalah wahyu dari Allāh. Taurat adalah benar, Injīl adalah benar, Ṣuḥuf Ibrāhīm, dan juga kitab-kitab lainnya yang kita tidak mengetahui satu per satu dari kitab-kitab tersebut. Kalau itu dibawa oleh seorang rasul yang diwahyukan kepada mereka, maka itu adalah haqq.Kita harus membenarkan seluruhnya, meskipun kita tidak mengetahui secara terperinci. Tapi kita yakin apa yang mereka bawa adalah haqq dan benar adanya

💬 0 komentar📅 6 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 15 - "Simpul 12– Mencari Teman Dekat yang Shaleh dalam Menuntut Ilmu"

Halaqah 15:"Simpul 12– Mencari Teman Dekat yang Shaleh dalam Menuntut Ilmu"📚 Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm✒️ Karya: Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi حفظه لله تعالى🎙Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىالمعقد الثاني عشرSimpul yang ke-12 di antara 20 simpul yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu adalahانتخاب الصحبة الصالحة لهhendaklah kita memilih pertemanan yang baik untuk mendapatkan ilmu tadiاتِّخاذ الزَّميل ضرورةٌ لازمةٌ في نفوس الخلق،mengambil seorang teman itu sesuatu yang harus dalam diri-diri manusia, kita adalah manusia makhluk sosial tidak bisa kita hidup sendiri kita butuh temanفيحتاج طالب العلم إلى معاشرة غيره من الطُّاَّب؛Maka seorang penuntut ilmu itu sangat membutuhkan orang lain, dia butuh bersosial dan bermuamalah dengan orang lain, di antara sesama penuntut ilmu.Dia membutuhkan teman dalam menuntut ilmu tersebut karena sebagaimana telah berlalu bahwasanya ilmu ini adalah berat, dia adalah suatu yang sangat mulia suatu yang sangat berat dan kita tahu bahwasanya untuk mencari ilmu ini bukan dengan berleha-leha kita harus bersungguh-sungguh, kalau kita sendiri maka ini sesuatu yang bisa menyebabkan seseorang mudah futur ketika dia menuntut ilmu dan dia tidak memiliki teman dalam menuntut ilmu.Maka dia membutuhkan teman untuk menuntut ilmu, teman yang satu visi satu misi satu semangat yang dia juga berkeinginan untuk sampai kepada ilmu tadi sehingga ketika kita dalam keadaan lemah melihat teman tersebut dalam keadaan semangat kita pun ikut bersemangat, ketika kita dalam keadaan lemah dia menasehati kita menggandeng kita ayo terus kita melangkah supaya kita sampai kepada ilmu tadi, kita butuh dan memerlukan teman-teman yang seperti itu.Maka termasuk pengagungan kita terhadap ilmu jangan kita sembarangan dalam mencari teman, kita harus mencari teman-teman yang memang satu tujuan satu semangatلِتُعِينَه هٰذه المعاشرة علىٰ تحصيل العلم والاجتهاد في طلبهSupaya pertemanan ini menolong dia membantu dia untuk mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.Berarti sebaliknya kalau kita memilih sembarang teman kita mendekati teman-teman yang malas misalnya teman-teman yang tidak punya semangat untuk memahami tidak punya semangat untuk bertanya tidak punya semangat untuk menghafal maka ini berarti kurang pengagungan kita terhadap ilmu. Kalau kita memang benar-benar mengagungkan ilmu carilah teman-teman yang sama-sama mengagungkan ilmu sama-sama semangat dalam menuntut ilmuوالزَّمالة في العلم إن سَلِمت من الغوائل نافعةٌ في الوصول إلى المقصودDan pertemanan di dalam ilmu kalau selamat dari perkara-perkara yang merusaknya maka akan bermanfaat, jadi kalau kita benar dalam mencari teman bukan hanya sembarangan tapi kita pilih mana teman yang memang semangat dalam menuntut ilmu, kalau selamat pertemanan tersebut dari kerusakan itu akan bermanfaat bagi kita dalam menyampaikan kita kepada maksud yaitu yang akan membantu kita memudahkan kita untuk sampai kepada ilmu.Berarti sebaliknya teman yang tidak baik maka ini yang akan menghalangi kita dari ilmu ini akan memperlambat kita dari ilmu dan menjadikan kita tidak sampai kepada cita-cita kita untuk menjadi seorang ahlul ilmولا يَحسُنُ بقاصد العا إلَّ ٱنتخاب صحبةٍ صالحةٍ تُعينه؛ فإنَّ للخليل في خليله أثرًاMaka tidak sepantasnya bagi orang yang mengejar sesuatu yang tinggi cita-cita yang mulia, tidak pantas baginya kecuali mencari pertemanan-pertemanan yang shalehah yang akan membantu dia, karena kata beliau kekasih kepada kekasihnya itu memiliki pengaruh, atau seorang kekasih atau teman dekat orang yang sangat dia cintai maka ini memiliki pengaruh terhadap kekasihnya atau orang yang sangat dia cintai.روى أبو داود والتِّرمذيُّ عن أبي هريرة أنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: الرَّجل علىٰ دين خليله، فلينظرْ أحدكم من يُخالِلAbu Daud dan juga Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda Seseorang itu di atas agama khalilnya, khalil itu adalah bukan hanya sekedar teman tapi dia adalah teman yang sangat-sangat dekat teman yang sangat dia cintai.Maka qaidah (rumusnya) seseorang agama dia ketaatan dia kualitas agama dia itu sama dengan kualitas agama orang yang sangat dia cintai (khalilnya) karena tidak mungkin dia sangat mencintai orang tersebut kecuali ada memang persamaan yang banyak diantara dua orang tadi, karena ada persamaan yang banyak diantara dua orang tadi maka akhirnya dia mencintai dan sangat mencintai sehinggaالرَّجل علىٰ دين خليلهSeseorang itu berada diatas agama khalilnyaفلينظرْ أحدكم من يُخالِلMaka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat.Masing-masing dari kita melihat siapa teman dekat Ana, siapa orang yang paling Ana cintai yang Ana kadang menyampaikan kepadanya sesuatu yang menjadi rahasia Ana siapa dia itulah Antum, kalau orang tersebut adalah orang yang shaleh orang yang semangat maka itulah Antum tapi kalau orang tersebut adalah orang yang jauh dari agama jauh dari ketaatan kepada Allāh ﷻ maka itulah kurang lebih diri kitaفلينظرْ أحدكم من يُخالِلMaka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan khalil.Ini menunjukkan bahwasanya khalil (teman dekat) itu sangat berpengaruh kepada teman dekatnya, kalau kita memang ingin sampai kepada ilmu sampai kepada cita-cita kita yang tinggi untuk mendapatkan ilmu maka hendaklah kita mencari teman-teman yang shalehقال الرَّاغب الأصفهانيُّ: ليس إعداء الجليس لجليسه بمقاله وفعاله فقط، بل بالنَّظر إليهBerkata Ar-Raghib Al-Ashfahaniy tidaklah penularan teman duduk kepada teman duduknya hanya dengan ucapan dan perbuatan saja, seseorang duduk bersama orang lain bisa tertular karena sebab ucapan temannya atau bisa tertular dengan sebab perbuatan temannya, kata Ar-Raghib bukan hanya ucapan dan juga perbuatan sajaبل بالنَّظر إليهbahkan dengan hanya melihat saja itu bisa menular.Teman duduknya belum berbicara dan belum bergerak dia hanya melihat tapi dia adalah teman duduk  yang baik misalnya, teman duduk yang shaleh dia belum berbicara belum bergerak apa-apa hanya sekedar dilihat itu sudah mempengaruhi kita, ini adalah orang yang shaleh Ana harus demikian dan demikian, sudah mempengaruhi kita padahal kita hanya sekedar melihat dia dan dia belum berbicara belum berbuat.Sebaliknya orang yang rusak dan dia menjadi teman duduk kita sekedar kita melihat dia juga kita akan bisa terpengaruh dengan orang tersebut padahal dia belum berbicara padahal dia belum berperilaku, hanya sekedar kita melihat orang yang rusak tadi maka ini bisa mempengaruhi.Kalau memang demikian keadaan teman duduk teman akrab maka disini perlu kita memperhatikan siapa teman akrab kita dalam menuntut ilmu, ingat sesuatu yang akan kita cari ini adalah suatu yang sangat mulia, benar-benar kita harus menyeleksi siapa teman yang bisa kita jadikan benar-benar seorang sahabat yang bersama-sama berjalan untuk mendapatkan ilmu.وإنَّما يُختار للصُّحبة من يُعاشِر للفضيلة لا للمنفعة ولا للذَّةDan sesungguhnya dipilih untuk menjadi seorang teman orang yang kita bergaul dengannya karena keutamaannya.Cara mencari teman yang baik adalah kita memilih diantara mereka seorang teman yang kita jadikan teman karena keutamaannya, misalnya keutamaannya dia semangat untuk menuntut ilmu dia memperhatikan ilmunya dia menghafal dia beradab dia terlihat orang yang mengagungkan ilmu berarti ini kita mengambil dia sebagai seorang teman karena keutamaan diaلا للمنفعة ولا للذَّةbukan karena manfaat, mengambil seseorang sebagai teman karena manfaatnya yaitu karena kita ingin mengambil manfaat dari dia karena dia adalah seorang yang kaya misalnya akhirnya kita menjadikan dia sebagai teman, ini berarti berteman karena kita ingin mengambil manfaat dari dia, ini jangan sampai demikianولا للذَّةdan jangan sampai kita mengambil teman karena kita merasa nikmat ketika dekat dengan orang tersebut,  mungkin orangnya suka guyon misalnya kemudian kita akhirnya menjadikan dia sebagai teman. Seharusnya kita mencari teman karena keutamaan dia contohnya adalah dia adalah penuntut ilmu yang memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmuفإنَّ عقْد المعاشرة يُبرَم علىٰ هٰذه المطالب الثَّلاثة: الفضيلة، والمنفعة، واللَّذَّةKarena pertemanan itu biasanya berdasarkan tiga perkara ini, ada pertemanan karena fadhilah (keutamaan) teman tersebut, ada pertemanan karena manfa’ah yaitu karena teman tersebut kita bisa ambil manfaat dari dia karena dia punya uang misalnyaواللَّذَّةdan seseorang yang kita jadikan teman karena kita merasa nikmat ketika berteman dengan orang tersebut, yaitu karena dia suka menghibur misalnya.Maka yang bermanfaat adalah kalau kita mengambil seseorang menjadi teman karena keutamaan yang dia miliki, adapun pertemanan yang berdasarkan manfaat dan juga kelezatan atau kenikmatan maka ini terputus dengan sebab berhentinya manfaat yang kita ambil dan dengan sebab kita sudah tidak bisa merasakan kenikmatan bersama dia.Kemudian beliau mengatakanذكره شيخ شيوخنا محمدُ الخضرِ بنُ حسينٍ في رسائل الإصلاحDisebutkan oleh guru dari guru-guru kami Muhammad Al-Khadhir Ibn Husein dalam Rasā’il Al-Ishlah, ini maksudnya adalah tentang masalah bahwasanya pertemanan ini terkadang karena keutamaan terkadang karena manfaat terkadang karena kenikmatan, ini disebutkan oleh guru dari guru-guru beliauفانتخب صديق الفضيلة زميلً؛ فإنَّك تعْرَفُ بهMaka pilihlah seseorang menjadi teman bagimu karena keutamaan yang dia miliki maka engkau akan dikenal dengannya.Yaitu ketika kita memilih seorang teman yang mulia dia memiliki fadhilah memiliki keutamaan maka kita ini akan dikenal baik meskipun kita mungkin tidak sebaik orang tersebut tapi karena kita adalah teman orang yang memiliki keutamaan tadi maka kita akan dikenal sebagai orang yang baik, karena ini adalah temannya si fulan dan si fulan adalah seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh maka kita akan dikenal juga sebagai seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguhو قال ابنُ مانعْ في إرشاد الطلاب – وهو يوصي طالب العلمDan berkata Ibnu Mani’ rahimahullāh didalam kitab beliau Irsyaduth Thullab dan beliau dalam keadaan memberikan wasiat kepada penuntut ilmuويَحْذَر كلَّ الحذر من مخالطة السُّفهاءHendaklah seorang penuntut ilmu waspada dan benar-benar waspada dari berteman dengan para sufaha’ (orang-orang yang yang mereka tidak menjaga dirinya, melakukan kemaksiatan melakukan perkara-perkara yang tidak bermanfaat)وأهلِ المجون والوقاحةdan orang-orang yang rusakوسيِّئي السُّمعةdan orang-orang yang jelek atau dikenal jelek oleh manusia / masyarakatوالأغبياءdan orang-orang yang ghabi, kurang lebih maknanya adalah orang-orang yang tolol tidak bisa menjaga waktunya atau melakukan perkara-perkara yang sangat tidak bermanfaat melihat sesuatu yang tidak bermanfaat atau melakukan aktivitas-aktivitas yang sama sekali tidak ada manfaatnyaوالبلَداءini hampir sama maknanya dengan al-aghbiya’فإنَّ مخالطتهم سبَبُ الحرمانِ وشقاوةِ الإنسانkarena bercampur dengan mereka, kita tidak menjaga diri kita sebagai seorang penuntut ilmu tidak menjaga pergaulan kita dan kemudian kita menyamakan diri kita dengan mereka orang-orang yang memang tidak memperhatikan waktunya tidak memperhatikan kehormatan dirinya terjerumus dan bergelimang dengan kemaksiatan dikenal jelek oleh masyarakat, maka bercampur baur dengan mereka ini menjadi sebab kita tidak mendapatkan ilmu, karena kita menghinakan ilmu, dengan kita tidak menjaga pergaulan kita dengan orang lain ini berarti kita menghinakan ilmu yang kita bawaوشقاوةِ الإنسانdan ini menjadi kebinasaan dan kecelakaan tersendiri bagi seseorang.

💬 0 komentar📅 6 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke lima belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah

Halaqah yang ke lima belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullahMuallif atau pengarang ingin menunjukkan kepada kita tentang ucapan beliau di awal bahwasanya tujuan orang-orang musyrikin menyembah berhala-berhala mereka adalah untuk meminta kedekatan kepada Allah dan juga meminta syafa’at.Dan ini bukan berarti bahwasanya muallif atau pengarang mengingkari apa yang dinamakan dengan syafa’at. Syafa’at di hari kiamat adalah haq. Dan kewajiban bagi seorang mukmin maupun mukminah, yang laki-laki maupun wanita untuk beriman dengan adanya syafa’at, berdasarkan dalil-dalil di dalam Al Qur’an maupun di dalam As Sunnah. Wajib bagi seorang muslim untuk beriman dengan adanya syafa’at di hari kiamat.Dan syafa’at di hari kiamat bermacam-macam. Ada diantara syafa’at tersebut yang merupakan kekhususan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah syafa’atul ‘udzma, syafa’at yang paling besar yang terjadi di padang Mahsyar. Dan diantara syafa’at yang khusus bagi Rasulullah shallallāhu’ alaihi wa sallam adalah syafa’at untuk masuk ke dalam surga (dibukanya pintu surga). Demikian pula syafa’at Beliau untuk paman Beliau yaitu Abu Thalib.Dan di sana ada syafa’at yang umum, dimiliki oleh Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, demikian pula dilakukan oleh yang lain, seperti para malaikat, para nabi, orang-orang yang beriman, seperti syafa’at bagi orang-orang yang berdosa diantara orang-orang yang beriman, yang mereka diadzab oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam neraka.Dan di sana ada syafa’at mengangkat derajat di dalam surga. Dan ini semua berdasarkan dalil-dalil yang shahih.Bukan berarti apa yang beliau ucapkan di sini, bahwasanya beliau mengingkari syafa’at-syafa’at tersebut, tidak. Beliau menjelaskan setelahnya, bahwasanya syafa’at yang ada di dalam Al Qur’an maupun Hadits, ini ada dua macam.Beliau mengatakan,وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِSyafa’at itu ada dua macam.شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّةٌ، وَشَفَاعَةٌ مُثْبَتَةٌSyafa’atun Manfiyyah dan Syafa’atun Mutsbatah.1. Syafa’atun Manfiyyahadalah syafa’at yang diingkari oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.2. Syafa’atun Mutsbatahadalah syafa’at yang ditetapkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.Di sana ada syafa’at yang diingkari oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla berdasarkan dalil-dalil di dalam Al Qur’an dan di sana ada syafa’at yang ditetapkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.Kemudian beliau mengatakan,فَالشَّفَاعَةُ الْمَنْفِيَّةُ: مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلا اللهُApa yang dimaksud dengan syafa’at yang diingkari oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla?Yang dimaksud dengan syafa’at yang diingkari oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah syafa’at yang diminta dari selain Allah.فِيمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلا اللهُDi dalam perkara yang tidak mungkin melakukannya kecuali Allah.Apabila syafa’at ini diminta dari selain Allah, maka inilah yang diingkari oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla di hari kiamat. Tidak akan bermanfaat yang seperti ini. Contohnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin Quraisy. Karena mereka meminta syafa’at bukan dari Allah, tetapi meminta syafa’at dari sesembahan-sesembahan selain Allah. Oleh karena itu mereka tadi mengatakan هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ mereka mengharap, takut, berdo’a kepada sesembahan-sesembahan tersebut, tujuannya supaya mereka memberikan syafa’at bagi mereka di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla pada hari kiamat. Apabila syafa’at diminta dari selain Allah, maka inilah yang diingkari oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.

💬 0 komentar📅 6 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke empat belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke empat belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullahKemudian beliau mengatakan,وَدَلِيلُ الشَّفَاعَةِ،Dan dalil tentang syafa’at (dalil bahwasanya mereka menyembah sesembahan-sesembahan tersebut tujuannya adalah untuk mencari syafa’at),قَوْلُهُ تَعَالَadalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ[Surat Yunus 18]وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِDan mereka (orang-orang Quraisy) menyembah kepada selain Allahمَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْsesuatu yang tidak memberikan mudhorot kepada mereka dan juga tidak memberikan manfaat.Seharusnya seseorang apabila ingin menyembah, menyembah sesuatu yang memberikan manfaat dan memberikan mudhorot, yaitu Allah Subhānahu wa Ta’āla. Di tangan-Nya lah manfaat dan juga mudhorot.Namun orang-orang musyrikin menyembah kepada selain Allah, sesuatu yang sama sekali tidak memberikan manfaat dan juga tidak bisa memberikan mudhorot.وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِKetika mereka ditanya kenapa mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah orang-orang yang akan memberikan syafa’at kepada kami di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla.’Ini adalah tujuan ke dua, mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Supaya sesembahan-sesembahan tersebut memberikan syafa’at kepada mereka di sisi Allah.Menunjukkan sekali lagi bahwasanya mereka mengenal Allah. Dan bahwa tujuan mereka adalah tujuan yang baik. Akan tetapi apakah cara yang dilakukan oleh mereka adalah cara yang diridhoi oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla?Dengarkanlah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla setelahnya,قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِKatakanlah (Wahai Muhammad) kepada mereka, apakah kalian wahai orang-orang musyrikin, mengabarkan kepada Allah sesuatu yang tidak Allah ketahui di langit maupun di bumi?Artinya apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrikin adalah sesuatu yang tidak berdasar. Seakan-akan mereka mengabarkan kepada Allah, sesuatu yang tidak Allah ketahui di langit maupun di bumi.Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak pernah mengabarkan yang demikian. Dari mana mereka tahu bahwasanya orang-orang shalih yang sudah meninggal tersebut yang mereka sembah memberikan syafa’at di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka.Kemudian Allah mengatakan,سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَMaha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.Di sini Allah mengatakan, عَمَّا يُشْرِكُونَ dari apa yang mereka sekutukan. Menunjukkan bahwasanya apa yang mereka lakukan adalah termasuk jenis kesyirikan.Perbuatan mereka menyembah kepada selain Allah, menyerahkan ibadah kepada selain Allah dengan tujuan supaya selain Allah tersebut memberikan syafa’at di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka, maka ini adalah termasuk bagian dari kesyirikan.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 114 | Mukmin Yang Termulia Ialah Yang Paling Taat dan Paling Mengikuti Al-Qur’an

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-114 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan raḥimahullāh:وَأَكْرَمُهُمْ أَطْوَعُهُمْ وَأَتْبَعُهُمْ لِلْقُرْآنِYang paling mulia di antara mereka adalah yang paling taat dan yang paling mengikuti Al-Qur’an:إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ(QS. Al-Ḥujurāt: 13)Yang paling mulia diantara mereka yaitu yang paling mulia di sisi Allāh adalah orang yang paling taat dan paling mengikuti Al-Qur’an. Semakin seseorang taat dan semakin seseorang mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur’an, maka dia semakin mulia di sisi Allāh. Termasuk mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur’an adalah mengikuti ḥadīṡ Nabi ﷺ. Karena di dalam Al-Qur’an, betapa banyak Allāh ﷻ memerintahkan kita untuk menaati Rasūlullāh ﷺ:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.Apa yang diberikan oleh Rasūl kepada kalian maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah. (QS. Al-Ḥasyr: 7)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ.Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allāh dan taatilah Rasūl. (QS. An-Nisā’: 59)مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.Barangsiapa yang menaati Rasūl, maka sungguh dia telah menaati Allāh. (QS. An-Nisā’: 80)Jangan kita pahami bahwa disini tidak disebutkan hadits. Mengikuti Al-Qur’an di antara konsekuensinya adalah mengikuti hadits, karena dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ banyak menyebutkan perintah untuk mengikuti Rasūlullāh ﷺ, dan ketaatan kepada beliau adalah bagian dari ketaatan kepada Allāh ﷻ:مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.Barangsiapa yang menaati aku, maka sungguh dia telah menaati Allāh. (Ḥadīṡ Riwayat Bukhārī dan Muslim)Al-Qur’an semuanya adalah petunjukإِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِي لِلَّتِي هِيَ أَقۡوَمُSesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus. (QS. Al-Isrā’: 9)شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ.Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.(QS. Al-Baqarah: 185)Semakin seseorang sempurna dalam mengikuti apa yang ada dalam Al-Qur’an, maka akan semakin baik kehidupannya, di dunia dia akan mendapatkan ḥayātun ṭayyibah (kehidupan yang baik), dan di akhirat dia akan dibalas oleh Allāh ﷻ dengan balasan yang lebih sempurna.Sehingga beliau mengatakan: أَطْوَعُهُمْ وَأَتْبَعُهُمْ لِلْقُرْآنِ.Hal ini menunjukkan pentingnya seorang Ahlussunnah memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Qur’anul Karīm, baik dalam membacanya, kita rutinkan untuk membaca Al-Qur’an karena ia adalah kalāmullāh; di dalamnya ada petunjuk bagi kita.Kemudian juga kita berusaha untuk memahaminya. Bagaimana kita bisa mengikuti Al-Qur’an dan mengamalkan Al-Qur’an kalau kita tidak memahami Al-Qur’an?. Sebagian kita semangat untuk mendengarkan ceramah, semangat untuk membaca buku ini dan buku itu, tapi buku dan juga Kitabullah yang merupakan Kalamullah kita kurang semangat untuk mempelajari. Padahal, di situlah petunjuk sebenarnya.Seandainya seseorang mentadaburi satu ayat dalam Al-Qur’an, bi’idznillah akan memberikan pengaruh pada diri seseorang. Dia baca, kemudian dia ulang-ulang, dia pahami, dia tadabburi. Sebagian karena sudah mendapatkan waswas dari syaiton, melihat bahwasanya petunjuk ini pada selain Al-Qur’an. Jadi, tenangnya ketika mendengarkan ceramah si fulan atau tenangnya ketika dia mendengarkan nasyid, dan dia tidak akan mendapatkan ketenangan kalau dia masih meyakini bahwasanya ketenangan ada di selain Al-Qur’an, petunjuk ada di selain Al-Qur’an.Ini sebenarnya adalah dorongan dari Mu’allif raḥimahullāh supaya kita memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Qur’an. Kalau memang kita bisa menghafal, maka tentunya ini adalah sebuah keutamaan bagi seseorang—dipilih hatinya, dipilih dadanya di antara sekian banyak dada manusia untuk menghafal Kalamullah, tentunya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.Ahlus-Sunnah mereka memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Qur’an. Mereka memiliki perhatian yang besar terhadap sunnah Nabi ﷺ. Bukan hanya sekadar dibaca, tapi mereka juga mempelajarinya, mengajarkan tafsirnya, mengajarkan kaidah-kaidah bagaimana cara menafsirkan Al-Qur’an.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI - Halaqah 113 - Dalil Keenam Riwayat Ibnu Wadhdhah (Bagian 1)

Halaqah 113Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Keenam Riwayat Ibnu Wadhdhah (Bagian 1)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaLanjutan pembahasan Dalil Kelima (atsar Abu Tsalabah Al-Khusyani radhiyallahu 'anhu dari Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam) mengenai penegasan pelipatan pahala amal di akhir zaman. Pelurusan pemahaman yang menyimpang dari sebagian kelompok yang salah kaprah. Dalil yang Disampaikan (Al-Qur'an & Hadist)Surat Al-Ma'idah Ayat 105​يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡ​Konteks Penjelasan:Diluruskan maknanya bahwa ayat ini mewajibkan amar ma'ruf nahi mungkar sebagai bagian dari hidayah dan penjagaan diri.Surat Al-Ma'idah Ayat 78–79 (Sebab Laknat Bani Israil):​لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ... كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ​Konteks Penjelasan: Peringatan akibat buruk meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar yang mendatangkan laknat.Surat Al-A'raf: 164 (Alasan Menasihati):قَالُواْ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ​Konteks Penjelasan: Prinsip para penyeru kebaikan untuk menggugurkan kewajiban di hadapan Allah ﷻ.Surat Al-Anfal Ayat 25:​وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً​Konteks Penjelasan: Peringatan akan datangnya azab/fitnah yang dapat merata menimpa orang zalim maupun yang diam tidak mencegahnya.Kaidah Amar Ma'ruf Nahi Mungkar (Hadis Umum):مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ... وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ​Konteks Penjelasan: Tingkatan pengubahan kemungkaran yang wajib dilakukan sesuai kemampuan (tangan, lisan, hati).Riwayat Ibnu Wadhdhah & Status Hadis:Ibnu Wadhdhah meriwayatkan makna hadits ini dari Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.​Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan dalam Silsilah Ash-Shahihah bahwa sebagian lafadz di awal riwayat tersebut dinilai dhaif, namun potongan lafadz mengenai hari-hari kesabaran (فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ) serta pelipatan pahala (ajru khamsina minkum) adalah hadits yang thabit (sahih), yang juga dikeluarkan oleh Ibnu Nashr dalam As-Sunnah.Makna Sebenarnya dari Ayat “Alaikum Anfusakum”:Ayat عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ tidak boleh diartikan secara egois (lepas tangan atau tidak peduli dengan orang lain).​Justru di antara bentuk perhatian seseorang terhadap dirinya sendiri (alaikum anfusakum) adalah dengan menjalankan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar.​Seseorang yang beramar ma'ruf nahi mungkar sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari azab Allah ﷻ, sebagaimana umat terdahulu yang diselamatkan adalah mereka yang melarang dari kemungkaran (yanhauna 'anil fasad).​Ketika umat Bani Israil meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar, mereka dilaknat (QS. Al-Ma'idah: 78–79).​Ketika diingatkan mengapa mereka tetap menasihati orang-orang yang ditakdirkan hancur, mereka menjawab: مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ ("Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) di hadapan Rabbmu" — QS. Al-A'raf: 164).Konsep Keselamatan Kolektif vs Azab:Amar ma'ruf nahi mungkar adalah bentuk perlindungan agar siksaan/fitnah umum tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja (lā tushibannalladzīna zhalamū minkum khāshshah — QS. Al-Anfal: 25).​Makna إِذَا اهْتَدَيْتُمْ (apabila kalian telah mendapat petunjuk) mencakup kesempurnaan petunjuk, yaitu dengan menjalankan ilmu dan berdakwah menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar. Apabila kewajiban ini sudah ditunaikan, kesesatan orang lain tidak akan memudaratkan diri kita.KesimpulanPemahaman yang benar terhadap ayat “Alaikum anfusakum” adalah perintah untuk tetap melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar, bukan sikap apatis atau egois membiarkan kerusakan di masyarakat.​Menjalankan amar ma'ruf nahi mungkar adalah bentuk perlindungan diri agar terhindar dari murka dan azab Allah ﷻ yang dapat menimpa suatu kaum secara umum.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 13: Simpul 10 – Melazimi Adab-Adab dalam Ilmu

Halaqah 13:Simpul 10 – Melazimi Adab-Adab dalam Ilmu📚 Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm✒️ Karya: Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi حفظه لله تعالى🎙Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىالمعقد العاشرSimpul yang ke 10, prinsip yang ke-10 yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu adalahملازمة آداب العلمyaitu kita melazimi adab-adab dalam ilmu, kita harus memperhatikan ketika kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus dapatkan ilmu tadi dengan menjaga adab-adabnya.Adab di sini adab bersama diri Antum sendiri sebagai seorang penuntut ilmu harus memiliki sifat ini dan sifat itu, kemudian juga adab terhadap guru Antum ini harus diperhatikan, adab terhadap teman Antum satu angkatan atau satu halaqah dengan Antum ini juga harus diperhatikan. Kalau kita memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu maka ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu itu sendiri.Tapi kalau kita katanya ingin menuntut ilmu tapi tidak memperhatikan adab-adabnya, memperlakukan gurunya sebagaimana dia memperlakukan temannya dia bergaul dengan teman-temannya yang satu halaqah satu guru seperti ketika dia bergaul dengan seorang bawahannya tidak ada penghormatan terhadap teman tidak ada penghormatan terhadap guru, maka orang yang demikian tidak akan mendapatkan ilmu agama.Orang yang demikian berarti dia tidak mengagungkan ilmu ketika dia tidak menggunakan adab-adab dalam menuntut ilmu maka berarti dia tidak mengagungkan ilmu dan orang yang demikian maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.قال ابن القيم في كتابه مدارج السَّالكينBerkata Ibnul Qayyim di dalam kitab beliau Madarijus Salikinأدبُ المرء عنوان سعادته وفلاحهAdab seseorang itu adalah ciri dari kebahagiaan dia dan kesuksesan dia.Ciri orang bahagia itu ketika kita lihat dia beradab dan orang yang beradab maka dia akan sukses, orang yang menjaga adabnya dalam menuntut ilmu maka dia akan sukses di dalam menuntut ilmu. Ini bukan ucapan orang biasa ini ucapan Ibnul Qayyim murid dari Syaikhul Islam, orang yang beradab maka itu menunjukkan kebahagiaan dia dan menunjukkan tentang kesuksesan dia itu akan membawa kepada kesuksesan dia.وقِلَّةُ أدبه عنوان شقاوته و بَوَارهDan tidak beradabnya seseorang atau sedikitnya adab seseorang itu adalah ciri kecelakaan dia dan kebinasaan dia, orang yang sedikit adabnya itu menunjukkan tentang kecelakaan apalagi orang yang tidak punya adab.فما ٱستُجْلِبَ خير الدُّنيا والآخرة بمثل الأدبMaka tidak didapatkan kebaikan dunia dan akhirat seperti adab, maksudnya adalah kebaikan dunia dan akhirat itu didapatkan dengan adab.Orang yang beradab ketika di dunia, dia sopan dia rajin biasanya ini lebih disenangi oleh orang, kita memberikan kepadanya itu tidak ragu-ragu orangnya dikenal baik orangnya dikenal beradab orangnya dikenal menghormati sama kita, kasih dan berikan kepada orang tersebut dan kita tidak akan ragu-ragu memberikan kepada orang tersebut, ini kebaikan dunia.Kebaikan akhirat termasuk di antara ilmu agama kalau seorang murid dia beradab kepada gurunya sopan kepada gurunya menjaga adab-adab sebagai seorang murid maka dengan mudahnya guru tadi akan memberi apa yang dia miliki.ولا ٱستُجْلِبَ حرمانهما بمثل قِلَّة الأدبDan tidak diharamkan dari kebaikan dunia dan akhirat dengan sebab seperti kurangnya adab, yaitu dengan sebab kekurangan adab seseorang akhirnya dia diharamkan dari kebaikan dunia dan juga kebaikan akhirat, karena dia tidak sopan karena dia tidak menjaga adab sehingga kebaikan dunia tidak dia dapatkan dan dalam masalah akhirat juga tidak dia dapatkan.والمرء لا يسمو بغير الأدبِوإن يكن ذا حَسَبٍ و نسبٍSeseorang itu tidak akan tinggi derajatnya tanpa adab (dia bisa tinggi derajatnya kalau dengan adab) meskipun dia adalah orang yang punya kedudukan dan dia punya nasab.Dia punya kedudukan tapi kalau dia tidak punya adab rendah di hadapan manusia, orang kaya tapi dia ucapannya tidak sopan dia pejabat tapi dia tidak sopan tidak menghormati orang lain maka dia menjadi rendah derajatnya di hadapan manusia.Meskipun dia punya nasab yang bagus, itu keluarga bapak Fulan bin Fulan tapi dia seperti itu, rendah di hadapan orang lain karena dia tidak memiliki adab. Tapi sebaliknya seorang anak orang yang miskin orang yang tidak punya kedudukan tapi dia dikenal sopan di hadapan manusia, tindak-tanduknya ucapannya terhadap yang lebih tua terhadap gurunya maka dia memiliki derajat yang tinggi, anak ini sopan anak ini beradab.وإنَّما يصلُح للعلم من تأدَّب بآدابه في نفسه ودرسه، ومع شيخه وقريبهSesungguhnya pantas untuk mendapatkan ilmu orang yang beradab dengan adab-adab ilmu baik adab dia terhadap dirinya sendiri, dia menjaga muruah dia menjaga kehormatan dia sebagai seorang penuntut ilmu jangan dia samakan dia dengan orang lain dia sebagai seorang penuntut ilmu yang dia bawa adalah ilmu yang dia pelajari adalah ilmu, harusnya berbeda antara sikap dia dengan orang lain, harus nampak pengaruh dari ilmu tersebut pada dirinya.Demikian pula adab dia ketika dars ketika di dalam halaqah ilmu dia harus nampakkan adab-adab ilmu konsentrasi terhadap ilmu menghadap kepada gurunya mencatat tidak menyibukkan diri dengan yang lainومع شيخهdan juga adab ketika bersama gurunyaوقريبهdan adab dia bersama teman-temannya.Yang berhak mendapatkan ilmu yang bisa mendapatkan ilmu adalah orang-orang yang mereka menjaga adab-adab tersebut.قال يوسف بن الحسينBerkata Yusuf Ibnul Husainبالأدب تفهم العمDengan adab kamu bisa memahami ilmu.Ini ucapan yang agung, dengan adab Antum bisa memahami ilmu kalau kita tidak beradab maka kita tidak bisa memahami ilmu berarti harusnya belajar adab dulu baru kita bisa mendapatkan ilmu, mempelajari adab-adab sebagai seorang penuntut ilmu barulah kita bisa mendapatkan ilmu sebagaimana nanti ada ucapan para Salaf yang menunjukkan tentang pentingnya mempelajari adab.لأنَّ المتأدِّب يرُىٰ أهاً للعلم فَيُبذلُ لهKarena orang yang beradab berarti dia dilihat orang yang pantas untuk mendapatkan ilmu tadi maka diberikan kepadanya.Ada seorang murid misalnya datang kepada gurunya dia mengatakan Syaikhuna semoga Allāh ﷻ menjagamu semoga Allāh ﷻ memberikan kebaikan kepadamu, tadi ada yang Ana permasalahkan ada satu yang Ana kurang paham tentang masalah ini, dia beradab dalam bertanya maka dengan senang hati guru tadi akan memberikan apa yang dia miliki.Tapi ketika datang yang kedua dia mengatakan Syaikh atau Ustadz tadi Antum bilang dalam majelis demikian demikian itu kan bertentangan dengan Firman Allāh ﷻ itu bertentangan dengan hadits, kan Imam Nawawi mengatakan demikian tapi Ustadz Fulan kemarin mengatakan demikian Ustadz, ini tidak beradab. Kalau terlihat murid tadi tidak beradab maka guru tadi dia tidak akan mau menjawab dan akan tidak rela untuk memberikan ilmunya kepada murid tadi, yang seperti ini tidak berhak untuk mendapatkan ilmu.Yang pertama karena dia beradab maka dia mendapatkan ilmu tapi yang kedua sama-sama bertanya tapi tanpa adab maka dia pun tidak akan mendapatkan ilmu, dia mau belajar sama siapa saja kalau demikian caranya maka dia tidak akan diberikan.وقليل الأدب يُعزُّ العلمُ أن يُضيَّعَ عندهOrang yang beradab maka dia akan pantas untuk mendapatkan ilmu tadi maka diberikan, tapi orang yang tidak beradab sayang diberikan kepada orang tadi karena dia tidak punya adab, seandainya itu diberikan kepadanya maka ini akan disia-siakan oleh orang tersebut makanyaبالأدب تفهم العمdengan adab engkau bisa memahami ilmu.ومن هنا كان السَّلف – رحمهم الله – يعتنون بتعلُّم الأدب، كما يعتنوون بتعلُّم العلمDari sinilah para Salaf dahulu mereka memperhatikan tentang masalah mempelajari adab sebagaimana mereka memperhatikan dalam masalah mempelajari ilmu, jadi sebagaimana mereka punya perhatian besar mempelajari ilmu demikian pula mereka punya perhatian besar dalam masalah mempelajari adab, belajar adab dulu baru mempelajari ilmuقال ابن سيرينَ كانوا يتعلَّمون الهدى كما يتعلَّمون العلمDahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka dahulu mempelajari ilmu.Jadi kadang dalam majelis ilmu dia melihat dulu bagaimana adab guru tersebut bagaimana adab murid-murid yang ada di sekitarnya kepada gurunya, kalau baca kitab itu seperti itu awalnya demikian dan demikian kalau mau bertanya kepada guru caranya seperti itu kalau mau meminta izin kepada guru caranya seperti itu, dia belajar dulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.بل إنَّ طائفةً منهم يُقدِّمون تعلُّمه علىٰ تعلُّم العلمBahkan sebagian mereka mendahulukan untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu.Karena seperti tadi kalau kita tidak belajar adab dulu langsung kita menuntut ilmu, bertanya tidak beradab mengoreksi kesalahan guru tidak beradab ketika dia murajaah dengan teman-temannya juga tidak beradab akhirnya hancur rusak semuanya, tapi kalau dia mempelajari adab terlebih dahulu maka dia bisa mendapatkan ilmu InsyaAllāh.قال مالك بن أنسٍ لفتًى من قريشٍBerkata Malik ibn Anas kepada seorang pemuda dari Quraisyيا ابن أخي، تعلَّمِ الأدب قبل أن تتعلَّمَ العلمWahai anak saudaraku hendaklah engkau mempelajari adab sebelum engkau mempelajari ilmu.و كانوا يُظهِرون حاجتهم إليهDan mereka dahulu (para Salaf) menampakkan kebutuhan mereka dan keperluan mereka terhadap adab. Mereka menampakkan bahwasanya mereka sangat membutuhkan dan sangat memerlukan adab ini.قال مَخْلَد بنُ الحسين لابنِ المبارك يومًاPada suatu hari Makhlad Ibn Husein berkata kepada Ibnul Mubarakنحن إلىٰ كثيرٍ من الأدب أحوج منَّا إلىٰ كثيرٍ من العلمpadahal ini sama-sama ulama Ibnul Mubarak dengan Makhlad Ibnu Husein, mereka menampakkan kebutuhan mereka terhadap ilmu.“Kita ini lebih butuh untuk mempelajari adab dari pada mempelajari banyak ilmu”Kita ini masih perlu banyak belajar tentang masalah adab, padahal ini para ulama mereka mengatakan demikian, karena dengan adab ini maka mereka bisa mendapatkan ilmu kalau tidak punya adab maka tidak mendapatkan ilmu.و كانوا يُوصون به، و يُرشدون إليهBahkan mereka dahulu mewasiatkan untuk mempelajari adab dan menunjukkan orang lain supaya mempelajari adab.قال مالكٌBerkata Malikكانت أُمِّي تعَمِّمُني، وتقول لي: ٱذهبْ إلىٰ ربعيةَ – تعني ابنَ أبي عبد الرَّحمن فقيهَ أهلِ المدينة في زمنه – فتعلَّم من أدبه قبل علمهImam Malik mengatakan dahulu ibunya mendandani beliau memakaikan imamah (sorban) pada beliau, dipakaikan Sorban supaya menghadiri majelis ilmu berarti dia masih kecil tapi sudah mulai belajar.Ketika ibunya sambil memakaikan sorban maka ibunya berkata kepada Imam Malik, pergi kamu ke majelisnya Rabi’ah, ini menunjukkan bagaimana seorang ibu karena anaknya mau berjuang mau menuntut ilmu agama demikian dia menghormati dan menyayangi anaknya, didandani rapi dan disuruh untuk pergi ke majelisnya Rabi’ah.Rabi’ah ini adalah Ibnu Abdirrahman seorang ahli fiqih di kota Madinah di zamannya, gurunya Imam Malik, kemudian kata ibunya tadi, belajarlah darinya adab sebelum ilmunya. Kamu pergi ke sana sebelum belajar ilmunya pelajari dulu tentang adab-adab beliau, bagaimana beliau mengajar bagaimana beliau bermuamalah dengan murid-muridnya bagaimana beliau duduk bersama yang lain bagaimana tawadhu’nya beliau dan seterusnya, sebelum kamu mencari ilmunya pelajari dulu adab beliau. Ini menunjukkan bagaimana dahulu ibunda para ulama mereka menekankan tentang masalah adab ini kepada anak-anaknya sebelum ilmu.فإنما حُرِم كثيرٌ من طلبة العصر العلمَ بتضييع الأدبSesungguhnya banyak di antara penuntut ilmu di zaman sekarang mereka tidak mendapatkan ilmu karena mereka menyia-nyiakan adab, menyia-nyiakan adab dalam bermajelis menyia-nyiakan adab bersama gurunya bersama dirinya.أشرفَ اللَّيث بن سعدٍ علىٰ أصحاب الحديثAl-Laits Ibn Sa’ad rahimahullāh beliau datang kepada orang-orang yang mereka adalah penuntut ilmu Hadits (murid-muridnya), orang-orang yang mereka datang dari tempat yang jauh untuk mencari ilmu hadits. Al-Laits Ibn Sa’ad termasuk ulama hadits, ketika beliau datang melihat merekaفرأىٰ منهم شيئًا كأنَّه كرههketika melihat mereka beliau melihat ada sesuatu yang beliau benci, ada sikap dan adab yang beliau benci tidak beradab ketika ada seorang gurunyaفقال: ما هٰذا؟Beliau mengatakan; Apa ini?أنتم إلىٰ يسيرٍ من الأدب، أحوج إلى كثيرٍ من العلمKalian ini lebih butuh kepada sedikit adab daripada banyak ilmu.Artinya sebelum kalian mempelajari ilmu dari para ulama hadits hendaklah kalian ini belajar sedikit tentang adab, bagaimana adab ketika bertemu guru bagaimana adab misalnya ketemu beliau di jalan apa yang harus dilakukan, ketika beliau datang apa yang harus dilakukan, apakah ketika bermajelis termasuk adab seseorang meninggalkan majelis sebelum gurunya, ini disampaikan oleh para ulama ada adabnya, jangan sampai gurunya masih ada disitu kita bubar duluan meninggalkan gurunya dalam keadaan sendiri, harusnya biarkan beliau pergi dulu baru setelah itu kita meninggalkan majelis.Syaikh Ushaimi pernah beliau marah-marah di majelis karena beliau belum pergi dari majelisnya sudah ada yang bubar duluan sudah meninggalkan majelis, akhirnya beliau berbicara panjang lebar menyampaikan tentang harusnya apa yang dilakukan, adab apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang penuntut ilmu.Makanya di sini Al-Laits Ibn Sa’ad beliau mengatakan Apa ini? kalian kepada sedikit adab itu lebih kalian butuhkan daripada banyak ilmu, sedikit adab maka kalian akan mendapatkan ilmu tapi kalau kalian tidak punya adab maka tidak akan mendapatkan ilmu.فماذا يقول اللَّيث لو رأىٰ حال كثيرٍ من طاَّب العلم في هٰذا العصر؟Lalu bagaimana seandainya Al-Laits Ibn Sa’ad Al-Misriy beliau melihat keadaan kebanyakan para penuntut ilmu di masa kita sekarang ini.Mungkin saat itu yang beliau lihat adalah sesuatu yang ringan tidak beradab tapi masih ringan dan sekarang lebih parah lagi, terkadang dalam majelis ilmu dia tersenyum sendirian ternyata di depannya ada HP di depannya ada komputer, sementara gurunya sedang mengajar dia senyum dan yang lebih parah lagi ada yang tertawa terbahak-bahak.Ini pemandangan yang sangat tidak mengenakkan dan tidak beradab, atau dia sibuk bicara dengan orang lain di dalam bermajelis ilmu ini juga suatu yang tidak beradab, lalu bagaimana seandainya Al-Laits Ibn Sa’ad melihat keadaan yang seperti itu.Semoga Allāh subhanahu wa ta’ala membimbing kita semuanya kepada jalan yang lurus.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke tiga belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke tiga belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,فَدَلِيلُ الْقُرْبَةِ؛Dalil yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin, mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut tujuannya adalah supaya mendekatkan diri mereka kepada Allah, قَوْلُهُ تَعَالَىadalah firman Allah Subhānahu wa Ta’ālaوَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ[Q.S Az Zumar: 3]Dan sesungguhnya orang-orang yang telah menjadikan selain Allah sebagai sesembahan-sesembahan (orang-orang kafir Quraisy, orang-orang musyrikin Quraisy), mereka mengatakan,مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى‘Tidaklah kami menyembah mereka (sesembahan-sesembahan tersebut) kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sebenar-benar pendekatan.’Ini yang mengabarkan kepada kita adalah Allah Subhānahu wa Ta’āla. Allah mengabarkan kepada kita tentang sebagian ucapan orang-orang musyrikin Quraisy.Apa ucapan mereka?Tidaklah kami menyembah mereka, memberikan sebagian ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, kecuali tujuannya baik.Apa tujuan mereka?Supaya orang-orang (makhluk-makhluk) tersebut mendekatkan diri kami kepada Allah.Ucapan mereka إِلَى اللَّهِ menunjukkan bahwasanya mereka mengenal Allah Subhānahu wa Ta’āla.Dan ini jelas menunjukkan kepada kita tentang tujuan orang-orang musyrikin tersebut beribadah kepada berhala-berhala tersebut yaitu untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah.Kemudian Allah mengatakan,إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَSesungguhnya Allah akan menghukumi mereka, mengadili diantara mereka, di dalam apa yang mereka perselisihkan.Pada hari kiamat, apakah benar ucapan orang-orang musyrikin tersebut.Apakah ucapan mereka,مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىApakah ini ucapan yang haq atau hanya sekedar persangkaan dari mereka.Maka nanti di hari kiamat, Allah Subhānahu wa Ta’āla akan menghukumi dan mengadili diantara mereka, siapa diantar mereka yang benar. Apakah orang-orang musyrikin tersebut ataukah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌSesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada setiap orang yang berdusta dan dia sangat kufur.Ini menunjukkan bahwasanya apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrikin tersebut:1. KedustaanKarena Allah mengatakan, sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang dusta.2. Kaffaar (yang sangat kufur)Kaffaar adalah sighoh mubaalaghoh dari kafir.Kaafir artinya orang yang kafir. Sedangkan kaffaar artinya orang yang sangat kafir.Menunjukkan bahwasanya apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin tersebut adalah perbuatan yang sangat kufur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Jadi ayat ini adalah dalil yang jelas, bahwasanya tujuan orang-orang musyrikin di dalam menyembah sesembahan-sesembahan mereka adalah diantaranya untuk mencari kedekatan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Bukan meyakini bahwasanya sesembahan-sesembahan tersebut yang memberikan rezeki kepada mereka, atau menciptakan mereka, atau mengatur alam semesta. Tidak. Dan sudah disebutkan dalil, mereka apabila ditanya siapa yang memberikan rezeki kepada mereka, mereka mengatakan “Allah”.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI - Halaqah 112 - Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 4)

Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 4)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaLanjutan pembahasan Dalil Kelima (atsar Abu Tsalabah Al-Khusyani radhiyallahu 'anhu dari Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam) mengenai penegasan pelipatan pahala amal di akhir zaman. Pelurusan pemahaman yang menyimpang dari sebagian kelompok yang salah kaprah. Dalil yang Disampaikan (Al-Qur'an & Hadist)Kaidah Pelipatan Pahala Dakwah (Hadits Umum):​مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا​Konteks Penjelasan:Siapa yang menyeru kepada petunjuk, ia mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Hal ini menunjukkan bahwa pahala pelipatan amal di akhir zaman justru turut mengangkat derajat para sahabat yang menjadi sumber penularan kebaikan tersebut.​Surat Al-Insyirah Ayat 6:إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗاTerjemahan: "Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan."​Konteks Penjelasan: Ayat penguat agar seorang mukmin bersabar menghadapi kepahitan dan beratnya ujian keasingan Islam di akhir zaman.Makna Pelipatan Pahala Setara 50 Orang Sahabat:Orang yang bersabar di hari-hari kesabaran (ayyāmus shabr) dalam mengamalkan sunnah dan syariat Islam di tengah masyarakat yang rusak dan penuh celaan, diberikan ganjaran pahala yang dilipatgandakan oleh Allah Subḥānahu wataʿālā hingga setara dengan pahala lima puluh orang sahabat.​Ini merupakan motivasi besar agar seorang mukmin tetap istiqamah, tahan uji terhadap cibiran, ancaman, atau pengucilan, serta meyakini bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan (inna ma'al 'usri yusra).Koreksi Terhadap Pemahaman yang Keliru:Sebagian pihak keliru memahami hadis ini dan menyimpulkan bahwa umat di akhir zaman lebih baik daripada para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam. Akibatnya, mereka meremehkan para sahabat, jarang mendoakan radhiyallahu 'anhum, dan enggan menyebut keutamaan para sahabat di majelis-majelis mereka (kecuali jika ada atsar sahabat yang dianggap mendukung bid'ah mereka).​Pemahaman tersebut jelas salah. Pelipatan pahala ini tidak lantas membuat orang di akhir zaman lebih mulia dari sahabat.Argumen Mengapa Umat Akhir Zaman Tidak Bisa Menyaingi Sahabat:Apabila seseorang di akhir zaman mengamalkan suatu amal saleh yang bersumber dari petunjuk seorang sahabat, lalu amal itu dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam hingga setara 50 orang sahabat, maka pahala pelipatan tersebut secara otomatis juga akan mengalir (sedekah jariyah / man dalla 'alal khair) kepada sahabat yang pertama kali mengajarkan atau meriwayatkan amal tersebut.​Ditambah lagi, amal tersebut tidak hanya diamalkan oleh satu orang saja di akhir zaman, melainkan banyak orang.​Oleh karena itu, tidak mungkin bagi siapapun di akhir zaman untuk menyaingi kedudukan dan totalitas pahala para sahabat radhiyallahu 'anhum.Kesimpulan ​Besarnya pahala bagi al-ghuraba' di akhir zaman (setara 50 sahabat) adalah bentuk karunia dan pelipatan pahala dari Allah Subḥānahu wataʿālā atas beratnya ujian kesabaran, bukan karena tingkat keimanan atau kemuliaan mereka melebihi para sahabat.​Wajib bagi Ahlus Sunnah untuk senantiasa menghormati, memuliakan, dan ridha kepada para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam (radhiyallahu 'anhum), serta mendudukkan mereka pada posisi mulia yang semestinya sebagai generasi terbaik umat ini.

💬 0 komentar📅 3 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 112 | Pembeda Di Antara Kaum Mukminin Ialah Ketaqwaan dan Penyelisihannya Terhadap Hawa Nafsu

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-112 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan, raḥimahullāh,وَالتَّفَاضُلُ بَيْنَهُمْ بِالتَّقْوَى، وَمُخَالِفَةِ الهَوَىDan yang membedakan di antara mereka, yaitu orang-orang beriman, adalah dengan ketakwaan, yaitu rasa takutnya kepada Allāh ﷻ. Jelas masalah ketakwaan ini ada perbedaan, makanya Allāh ﷻ berfirman:إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ(“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allāh adalah yang paling bertakwa.”)(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13)Ini menunjukkan bahwa ketakwaan pada diri orang-orang yang bertakwa bertingkat-tingkat satu dengan yang lain. Ada di antara mereka yang atqā (lebih bertakwa) daripada yang lain. Dan Nabi ﷺ juga mengabarkan bahwasanya beliau adalah orang yang paling bertakwa dan orang yang paling takut kepada Allāh ﷻ .Dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ berfirman:وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى(QS. Al-Lail [92]: 17)ketika berbicara tentang Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu ʿanhu, ‘Dan akan dijauhkan orang yang atqa tersebut dari Neraka’, menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling afdhal setelah para nabi dan juga para rasul. Sampai Allāh ﷻ menyebutkan atqā, yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu ʿanhu.Tidak diragukan lagi bahwa perbedaan di antara orang-orang beriman di antaranya adalah berdasarkan ketakwaan. Namun, membatasi perbedaan hanya pada ketakwaan, inilah yang perlu kita berikan catatan, karena ternyata dalam pondasi keimanan mereka pun bertingkat-tingkat. Sama-sama beriman dengan rukun iman yang enam, tetapi kualitas keimanan mereka berbeda. Pengetahuan mereka tentang rukun iman yang enam juga berbeda-beda satu dengan yang lain. Ini yang terkadang menjadi perbedaan antara orang yang beriman dengan orang beriman yang lain.وَمُخَالِفَةِ الهَوَىDan diantara yang membedakan adalah masalah menyelisihi hawa nafsu, ada diantara mereka yang bisa menahan hawa nafsunyaوَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut akan kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh Surga lah tempat tinggalnya.”(QS. An-Nāziʿāt [79]: 40-41)Dia bisa menahan hawa nafsunya. Setiap kali hawa nafsunya menyuruhnya untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allāh ﷻ, dia menahannya. Dia mengetahui bahwa hawa nafsu itu akan membawa kepada kesengsaraan di dunia dan juga di akhirat. Meskipun diawal dia merasakan kenikmatan atau kelezatan tapi dia tahu akhirnya adalah kejelekan. Maka, dia menahan hawa nafsunya dengan mengharapkan balasan dari Allāh ﷻ.فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى(“Sesungguhnya Surga ini adalah tempat kembali bagi orang-orang yang bisa menahan hawa nafsunya.”)Ada di antara mereka yang terkadang mampu menahan hawa nafsunya, dan terkadang tidak. Oleh karena itu, mereka bertingkat-tingkat, sebagaimana Allāh ﷻ mengabarkan bahwa hamba-hamba-Nya memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Sebagaimana firman Allāh ﷻ:ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ(QS. Fāṭir [35]: 32)Kemudian Kami wariskan Kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Ada di antara mereka yang mendzhalimi dirinya, berarti ada di antara hamba Allāh ﷻ yang mendzhalimi dirinya, mengikuti hawa nafsunya dengan melakukan dosa atau meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh Allāh ﷻAda diantara mereka yang muqtaṣid, yaitu mereka yang berada di pertengahan. Mereka melakukan kewajiban saja, yang sunnah dia tidak lakukan, dan dia meninggalkan yang haram saja, tetapi masih banyak melakukan perkara yang mubah.Adapun yang terakhir, yang paling tinggi adalah السَّابِقُونَ بِالْخَيْرَاتِ (orang-orang yang mereka bersegera dalam melakukan kebaikan). Mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban, mengerjakan amalan-amalan sunnah, meninggalkan perkara-perkara yang haram, bahkan perkara yang makruh pun mereka tinggalkan. Allāh ﷻ menyebutkan tentang tingkatan-tingkatan mereka.Jadi, tidak kita ragukan bahwasanya terjadi perbedaan di antara orang-orang yang beriman sesuai dengan kadar ketakwaan mereka dan juga mukhālafah mereka, bagaimana mereka menahan nafsu ini berbeda-beda satu dengan yang lain, tetapi bukan berarti mereka sama dalam masalah aṣlul īmān. Jadi, sama-sama memang mereka memiliki aṣlul īmān, tetapi aṣlul īmān yang mereka miliki ini berbeda-beda tingkatannya.Ada di antara mereka yang kuat dalam pondasi keimanan, ada yang sedang, dan ada yang lemah dalam pondasi keimanan. Dan mereka adalah orang-orang yang beriman, mereka adalah hamba-hamba Allāh ﷻ

💬 0 komentar📅 3 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

PKKTI Halaqah 12

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.المعقد التاسعSimpul yang kesembilanالصبر في العلم تحملا وأداءDi antara bentuk pengagungan terhadap ilmu adalah kita harus bersabar di dalam ilmu ini.Kalau antum menghormati ilmu dan mengagungkan ilmu maka kita harus bersabar di dalam ilmu tadi, baik dalamتحملا baik dalam mencarinya baik dalam menerimanya kita harus bersabar وأداء demikian pula ketika kita menyampaikan ilmu tadi kepada orang lain dua-duanya butuh kesabaran, mencari ilmu mendapatkan ilmu butuh kesabaran menyampaikan kepada orang lain juga butuh kesabaranإذ كلُّ جليلٍ من الأمور لا يدرك إلَّ بالصَّبرKarena segala sesuatu yang besar (berharga) itu tidak mungkin didapatkan kecuali dengan kesabaran, itu sudah qa’idah suatu yang berharga maka harus didapatkan dengan cara bersabar kalau sesuatu yang tidak berharga biasanya mudah untuk didapatkanوأعظم شيءٍ تتحمَّلُ به النَّفسُ طلبَ المعالي: تصبيرُها عليهDan perkara yang besar yang harus ditahan oleh sebuah jiwa yang ingin mendapatkan sesuatu yang berharga adalah menyabarkan jiwa tadi untuk mendapatkan sesuatu yang berharga tadi, dia harus menyabarkan jiwanya untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai dan berhargaولهٰذا كان الصَّبر والمصابرة مأمورًا بهما لتحصيل أصل الإيمان تارةً، ولتحصيل كماله تارةً أخرىٰ؛Oleh karena itu bersabar dan menyabarkan kita dalam bersabar, bersabar dan menyabarkan kita di dalam bersabar ini diperintahkan, untuk mendapatkan pondasi dari keimanan dan juga untuk mendapatkan kesempurnaan dari keimanan.Untuk mendapatkan pondasi dari keimanan maka kita diperintahkan untuk bersabar dan menyabarkan diri kita dalam bersabar demikian pula untuk mendapatkan kesempurnaannya juga kita diperintahkan untuk bersabar dan menyabarkan diri kita dalam bersabar.قال تعالىAllāh ﷻ mengatakanيَٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا﴾ آل عمران، الآية 200Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian bersabar dan Sabarkanlah diri kalian dalam bersabar.وقال تعالى: ﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِلْغَدَوٰةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ﴾ الكهف: الآية 28Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb nya di waktu pagi dan juga di waktu petang mereka menginginkan wajah Allāh ﷻ.Ayat yang pertama itu adalah untuk mendapatkan pondasi keimanan Allāh ﷻ mengatakan اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا dan ayat yang kedua itu berkaitan dengan kesempurnaan iman Allāh ﷻ mengatakan وَاصْبِرْ نَفْسَكَ.Berarti untuk mendapatkan kesempurnaan iman dan untuk mendapatkan pondasi keimanan perlu kesabaran, kaidahnya segala sesuatu yang berharga (bernilai) maka kita harus bersabar untuk mendapatkannya.Orang menganggap harta berharga bernilai maka dia bersabar, dia rela untuk bekerja panas dia rela untuk pergi sebelum subuh pulang setelah maghrib karena dia menganggap itu suatu yang berharga bagi dia maka dia bersabar untuk mendapatkan harta tadi.قال يحيىٰ بن أبي كثيرٍ في تفسير هٰذه الآيةBerkata Yahya Ibn Abi Katsir di dalam menafsirkan ayat iniهي مجالس الفقهyang dimaksud dengan ayat tadi (Al-Kahfi ayat ke-28) itu adalah majelis-majelis al-fiqh majelis-majelis ilmu perkumpulan-perkumpulan yang dibahas di dalamnya tentang ilmu agama. Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka di waktu pagi dan juga petang untuk mengharapkan wajah Allāh ﷻ.Ada yang menafsirkan yang dimaksud di sini adalah mereka orang-orang yang menghadiri majelis ilmu, kita disuruh bersabar bersama orang-orang tersebut sebagaimana mereka rela misalnya mengikuti daurah selama 2 jam selama 4 hari dan mereka bersabar, kita sabarkan diri kita bersama mereka untuk mengikuti dan untuk mempelajari ilmu agama ini.ولن يحُصِّل أحدٌ العلمَ إلَّ بالصَّبرDan tidak mungkin seseorang mendapatkan ilmu kecuali dengan sabar, لن kata beliau tidak akan mendapatkan, orang yang tidak sabar untuk duduk bermajelis ilmu untuk mendengar untuk mencatat untuk bertanya maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.Dia tidak akan mendapatkan ilmu kalau dia tidak bersabar, di manapun dia mau ganti Ustadz atau ganti majelis ilmu kalau sifat dia sama yaitu tidak bersabar maka di manapun dia tidak akan mendapatkan ilmu meskipun langsung berguru kepada Syaikh misalnyaقال يحيىٰ بن أبي كثيرٍ أيضًاBerkata Yahya Ibn Abi Katsirلا يستطاع العلم براحة الجسمTidak akan didapatkan ilmu dengan berleha-leha.Ilmu tidak didapatkan dengan leha-lehanya jasad kita, menunjukkan bahwasanya ilmu harus capek, mungkin Antum harus kurang tidurnya mungkin Antum harus berjalan dalam jarak yang cukup jauh Antum harus duduk mendengarkan harus konsentrasi Antum harus mencatat, demikian ilmu itu didapatkan bukan dengan berleha-leha. Orang yang ingin mendapatkan ilmu sementara dia tetap memilih dirinya untuk berleha-leha maka selamanya dia tidak akan mendapatkan ilmu tersebut.فبالصَّبر يخُرَج من معرَّة الجهل، وبه تُدرَك لذَّة العلمMaka dengan kesabaran seseorang akan keluar dari jurang kejahilan dan dengannya kita akan mendapatkan kelezatan ilmu.Di awal mungkin kita belum mendapatkan tapi ketika kita bersabar dan bersabar dan terus bersabar maka lama-kelamaan kita akan mendapatkan kelezatan ilmu, kelezatan dan kenikmatan belajar dan juga mengajar yang tidak dirasakan oleh orang lain.Mungkin kita melihat Syaikh kita kayaknya tidak capek beliau membaca tidak capek beliau mengajar padahal beliau sedang menikmati beliau sedang senang dalam mengajarkan ilmu tadi, sibuk dengan ilmu itu adalah sebuah kelezatan tersendiri sehingga sebagian mereka dalam keadaan sakit mereka membaca karena disitu hiburan mereka kesenangan mereka adalah ketika mereka menyibukkan diri dengan ilmu.Ini mereka dapatkan ketika seseorang bersabar, kalau orang sudah capek sedikit dia tidak bersabar mundur teratur maka dia tidak akan lepas dalam jurang kejahilan dan terus menerus dia di dalam kebodohan dia dan dia tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu.وصبر العلم نوعانKesabaran ilmu itu ada dua macamأحدهما: صبرٌ في تحمُّله وأخذهsabar di dalam mencari ilmu dan mendapatkannya, sabar dalam mencari ilmu membawa ilmu tadi harus sabar karena ilmu ini beratفالحفظ يحتاج إلىٰ صبرٍmaka menghafal ini butuh kesabaranوالفهم يحتاج إلىٰ صبرٍdan memahami juga butuh kesabaran, menghafalnya butuh kesabaran untuk memahami juga perlu kesabaran.Terkadang seseorang dalam menghafal dia butuh 20 kali untuk mengulang dalam memahami juga demikian terkadang berulangkali dia harus mengulangi, ini maksudnya apa diulangi lagi mungkin titik komanya belum pas baru dia bisa memahami ini butuh kesabaran, kalau orang tidak sabar dia sebentar saja dia lihat tidak paham langsung dia lompati ada yang tidak paham langsung dia lompati dan tidak berusaha untuk memahami perkara tadi, ini tidak sabar kalau tidak sabar tidak akan dapat ilmuوحضور مجالس العلم يحتاج إلىٰ صبرٍmenghadiri majelis ilmu ini juga perlu kesabaran, kadang duduk saja di rumah kita tidak sabar, duduk saja di rumah kita kita tidak keluar rumah di kamar itu pun berat, seseorang tidak sabar untuk menghadiri majelis ilmu.ورعاية حقِّ الشَّيخ تحتاج إلىٰ صبرٍDemikian pula menjaga hak seorang guru juga perlu kesabaran, karena kita belajar bukan sendiri kita belajar di hadapan guru kita yang beliau punya hak, kadang kita ingin minum di depan guru kita tapi kita tidak ingin melanggar adab maka kita tahan nanti minumnya kalau sudah di belakang Syaikh atau tidak di depan Syaikh, karena ingin menjaga adabnya bersama gurunya ini perlu kesabaran.Demikian pula ketika gurunya marah atau gurunya mengucapkan ucapan yang keras kepada dia kalau orang tidak sabar maka dia tidak akan betah di depan majelis tadi, dia biasanya enak-enakan di rumahnya disayang sama keluarganya ternyata di majelis ilmu dia disuruh duduk di bawah disuruh ambil ini disuruh ambil itu dibentak mungkin sama gurunya kalau orang yang tidak sabar maka dia tidak akan mendapatkan ilmu, ini untuk mencari ilmu perlu kesabaran.والنَّوع الثَّانيDan sabar yang kedua adalahصبرٌ في أدائه وبثِّه وتبليغه إلىٰ أهلهSabar di dalam menyampaikan / menyebarkan ilmu tadi dan menyampaikan kepada orang-orang yang memang berhak untuk diberikan ilmu.Ternyata ketika mendapatkan butuh kesabaran ketika menyampaikan ilmu kepada orang lain juga butuh kesabaran, kalau kita tidak sabar dalam menyampaikan ilmu maka kita akan segera meninggalkan majelis ilmu, seorang akan lebih tergiur dengan bisnis dengan dunia daripada dia harus duduk berlama-lama mengajari orang yang tidak tahu sehingga dia tahu, ini bertanya lagi menyampaikan permasalahan dan seterusnya kalau orang tidak sabar dalam menyampaikan ilmu maka dia akan segera meninggalkan ilmu dan juga majelis-majelis ilmuفالجلوس للمتعلمين يحتاج إلىٰ صبرٍMaka duduk bersama orang-orang yang belajar ini perlu kesabaran, karena mungkin seorang Syaikh atau seorang guru pun dia punya punya urusan yang lain kalau dia bukan orang yang bersabar dalam mengajarkan ilmu maka dia lebih memilih urusan-urusan tadiو إفهامُهم يحتاج إلى صبرٍmemahamkan perkara tadi kepada murid-muridnya ini juga perlu kesabaran, karena sebagian mereka diajarkan sekali atau diterangkan sekali belum jelas ada yang sampai berkali-kali dia diterangkan belum jelas maka ini perlu kesabaran mengajar ini perlu kesabaran.Antum bisa lihat masing-masing kita mungkin sekarang-sekarang ini mungkin mengajari adiknya mengajari anaknya yang terkadang dia tidak sabar dalam mengajari anak-anak karena sekali dia diterangkan dia tidak paham banyak di antara kita yang marah dan tidak sabar karena orang yang kita ajari dia tidak memahami apa yang kita sampaikan. Ini syahid bahwasanya orang yang mengajar sesuatu ini butuh kesabaran.واحتمالُ زلَّتهم يحتاج إلىٰ صبرٍDemikian pula menjaga dan menahan diri terhadap kesalahan-kesalahan mereka ini juga perlu kesabaran, sebagaimana tadi seorang murid harus sabar ketika dimarahi oleh gurunya atau dikata-katai oleh gurunya dia harus bersabar.Demikian pula seorang guru ketika dia menjadi guru kadang dia harus melihat sesuatu yang menyakitkan perasaan dia yang itu terjadi pada murid-muridnya maka ini juga perlu kesabaran, jangan sampai karena satu atau dua gerak-gerik dari muridnya yang menyakitkan hatinya kemudian akhirnya meninggalkan ilmu, dia harus bersabar dalam mengajarkan ilmu tadi.وفوق هذين النَّوعين من صبر العلم؛ الصَّبرُ علىٰ الصَّبر فيهما، والثَّبات عليهماDan di atas dua jenis kesabaran ini (dan dua-duanya adalah dua jenis kesabaran dalam ilmu) adalah bersabar di atas kesabaran, seperti yang tadi kita sebutkan menyabarkan kita di dalam bersabarالصَّبرُ علىٰ الصَّبرmenyabarkan kita di dalam bersabar baik dalam menuntut ilmu agama maupun dalam menyampaikan ilmu agamaوالثَّبات عليهماdan istiqamah di atas dua kesabaran tadi, istiqamah dan terus-menerus dan menyabarkan diri kita terus katakan kepada diri kita sabar kamu, sabar dalam menuntut ilmu agama dan katakan kepada diri kita kalau kita memang mengajar sabar kamu dalam mengajarkan ilmu ini kepada orang lain, itu namanya menyabarkan diri kita dalam kesabaran.لكلٍّ إلىٰ شَأْوِ العُلا وَثَبَاتُولٰكنْ عزيزٌ في الرِّجال ثباتُMasing-masing ingin sampai kepada puncaknya loncat, masing-masing ingin meloncat sampai kepada puncaknyaولٰكنْ عزيزٌ في الرِّجال ثباتُakan tetapi yang sangat jarang pada diri manusia adalah istiqamah.Masing-masing punya loncatan yaitu masing-masing ketika memulai sama-sama, apalagi di awal daurah atau di awal sebuah program biasanya ramai, itu orang yang akan mencapai puncaknya ketika melompat di awal sama-sama tapi yang sangat jarang adalah ثباتُ yaitu istiqamah dan tetap lurus dan istiqamah di dalam ilmu, ini yang jarang pada manusia kalau memulai ini banyak dan itu lebih mudah adapun istiqamah di atas ilmu maka ini perkara yang tidak mudah.Berarti kesimpulannya ma’qid yang kesembilan adalah kita harus bersabar dalam ilmu ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu, kalau kita memang mengagungkan ilmu maka kita harus bersabar dalam mencarinya sedikit demi sedikit dan kita bersabar dalam seluruh rintangan dan halangan yang kita hadapi ketika kita menuntut ilmu agama, jangan kita mudah mundur jangan kita mudah lemah.Ini bentuk pengagungan kita dan penghormatan kita terhadap ilmu, kalau kita bersabar maka InsyaAllāh kita akan sampai kepada maksud kita.

💬 0 komentar📅 3 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke dua belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke dua belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau berkata,الْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ:أَنَّهُم يَقُولُونَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ،Mereka, yaitu orang-orangmusyrikin, orang-orang musyrik di zaman Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, berkata, “Kami tidaklah menyembah sesembahan-sesembahan kami (seperti Latta, ‘Uzza, Manaah, Hubal, dan juga sesembahan-sesembahan yang lain), tidaklah kami berdo’a kepada mereka (sesembahan-sesembahan tersebut) dan kami menghadapkan peribadatan kami kepada mereka, kecuali dengan tujuan untuk mencari Al Qurbah dan Asy Syafa’ah.1. Al QurbahMereka ingin kedekatan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Bagaimana supaya mereka dekat dengan Allah?Orang-orang musyrikin, mereka juga mengenal Allah Subhānahu wa Ta’āla (di dalam kaidah pertama).Mereka juga meyakini Allah Subhānahu wa Ta’āla, akan tetapi sebatas Allah yang mencipta, memberikan rezeki, dan mengatur alam semesta.Dan di sini, beliau mengatakan bahwasanya orang-orang musyrikin, diantara ucapan mereka “Tidaklah kami berdo’a kepada patung-patung (sesembahan-sesembahan) tersebut kecuali untuk mencari kedekatan.Mereka merasa dirinya adalah orang yang jauh dari Allah karena terlalu banyak kemaksiatan (dosa) yang dilakukan.Oleh karena itu mereka ingin kedekatan kepada Allah, dengan cara memberikan sebagian ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, yang mereka adalah orang-orang yang shalih, supaya sesembahan-sesembahan tersebut mendekatkan diri mereka kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.2. Asy Syafa’ahMereka ingin mendapatkan syafa’at dari sesembahan-sesembahan tersebut, syafa’at di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla.Dan ucapan beliau rahimahullah di sini adalah ucapan yang berdasarkan dalil. Dan setelah ini beliau akan menyebutkan dalilnya.

💬 0 komentar📅 3 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI - Halaqah 111 - Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 3)

Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 3)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaKondisi kerusakan akhir zaman dan makna yang tepat dari ungkapan “Alaika bi nafsika” (perhatikan dirimu sendiri).Sifat-sifat kerusakan zaman, munculnya hari-hari kesabaran (ayyāmus shabr), serta perumpamaan memegang agama di masa tersebut seperti menggenggam bara api.Dalil yang Disampaikan (Al-Qur'an & Hadist)Potongan Surat Al-A'la Ayat 16:بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَاKonteks Penjelasan: Menggambarkan tabiat manusia di akhir zaman yang lebih mendahulukan kehidupan dunia dibandingkan akhirat.Hadis Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam (Atsar Abu Tsalabah mengenai Sifat Akhir Zaman):​حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا، وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ؛ فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ، وَدَعْ عَنْكَ العَوَامَّ... وَالصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِKonteks Penjelasan: Peringatan Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam tentang tanda-tanda kerusakan umat di masa depan, panduan bersikap, serta beratnya ujian istiqamah diibaratkan menggenggam bara api.Kaedah Hubungan Ridha Allah dan Manusia:Konteks Penjelasan: Peringatan bahwa siapa yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka dan manusia pun akan membencinya.Koreksi Terhadap Ayat Alaikum Anfusakum:Setelah penjelasan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar tetap wajib, Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam merinci kondisi-kondisi khusus di masa depan di mana seseorang diperintahkan untuk fokus pada diri sendiri (فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ / perhatikanlah dirimu) setelah ia berupaya maksimal menjalankan kewajiban dakwah.Kondisi-Kondisi Kerusakan di Akhir Zaman:​شُحًّا مُطَاعًا:Kebakhilan/kikir yang sangat parah dan ditaati/diikuti oleh manusia (enggan bersedekah/berinfaq). Catatan: Sifat kikir secara fitrah ada pada manusia, namun tidak tercela selama dilawan dan dipaksa berinfak; yang tercela adalah ketika kebakhilan itu diikuti dan dijadikan tabiat.وَهَوًى مُتَّبَعًا:Hawa nafsu yang mendominasi dan diikuti oleh banyak orang (menurutkan syahwat perut, kemaluan, pandangan, dll).وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً:Kehidupan dunia yang lebih didahulukan daripada akhirat.وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ:Setiap orang yang memiliki pendapat merasa takjub dan bangga dengan pendapatnya sendiri (bebas mengeluarkan opini dan merasa paling benar).Makna “Alaika Bi Nafsika wa Da' 'Ankal Awam”:Jika menjumpai kondisi kerusakan yang parah di mana nasihat tidak lagi didengar dan manusia dikuasai hawa nafsu, maka hendaklah seseorang menjaga agamanya, memperbaiki dirinya, serta meninggalkan orang-orang awam yang menolak kebenaran.Hari-Hari Kesabaran (Ayyāmus Shabr) & Perumpamaan Bara Api:Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam mengingatkan: فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ (Karena sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran yang membutuhkan kesabaran ekstra).​Kesabaran dalam berpegang teguh pada agama di masa tersebut diibaratkan seperti: مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِ (Seperti menggenggam bara api). Sangat berat, panas, dan pedih.​Jika bara api itu dilepaskan (demi mencari kenyamanan sesaat atau mencari ridha manusia dengan mengorbankan agama), maka ia telah melepaskan agamanya.​Bahaya Mencari Ridha Manusia dengan Kemurkaan Allah:​Barang siapa mencari ridha manusia dengan cara membuat Allah Subḥānahu wataʿālā murka, maka Allah Subḥānahu wataʿālā akan murka kepadanya, dan Allah Subḥānahu wataʿālā juga akan menjadikan manusia membenci orang tersebut (rugi di dunia dan akhirat).KesimpulanMenjaga diri dan agama (alaika bi nafsika) menjadi pilihan setelah seseorang berdakwah namun mendapati masyarakat telah dikuasai hawa nafsu, kebakhilan, dan pengagungan opini pribadi.​Istiqamah di atas sunnah di tengah zaman kerusakan menuntut kesabaran tingkat tinggi yang diibaratkan seperti menggenggam bara api; pahit dan berat di dunia, namun merupakan kunci keselamatan menuju ridha Allah ﷻ.

💬 0 komentar📅 2 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 111 | Penjelasan Terkait Ucapan Muallif Yang Menyatakan Bahwa Iman Itu Satu dan Pemiliknya Memiliki Asal Yang Satu

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-111 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan, raḥimahullāh,وَالإِيمَانُ وَاحِدٌ، وَأَهْلُهُ فِي أَصْلِهِ سَوَاءٌ“Iman itu adalah satu, dan ahlunya, yaitu orang-orang yang beriman, di dalam asal keimanan adalah sama.”Ucapan beliau ini adalah ucapan yang perlu ada catatan di sini. Karena, kalau kita kembali kepada dalil, ternyata iman itu bukan satu, tetapi bercabang. Nabi ﷺ bersabda:الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih.”Jadi, iman bukan satu, melainkan banyak cabangnya, dan cabangnya bukan tiga, lima, atau tujuh, tetapi ada tujuh puluh cabang lebih keimanan. Sehingga, kalau dikatakan “al-īmānu wāḥidun,” maka ini tidak benar yang demikian, ini bertentangan dengan dalil.Kemudian, wa ahluhu fī aṣlihi sawā’, dan orang-orang yang beriman di dalam asal keimanan adalah sama. Aṣlul īmān (pokok dari keimanan) adalah rukun iman yang enam, yaitu: beriman kepada Allāh ﷻ, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan juga takdir.Beliau mengatakan di sini bahwa orang-orang yang beriman di dalam asal keimanan, yakni uṣūlul īmān (beriman kepada rukun iman yang enam), sawā’un (mereka sama). Ini juga tidak bisa diterima. Yang demikian ini karena iman memiliki tingkatan-tingkatan. Ada iman yang kuat dan ada iman yang tipis. Bahkan di dalam aṣlul īmān, dalam masalah pokok keimanan, tidak bisa dikatakan bahwa mereka sama.Orang-orang yang beriman semuanya beriman kepada Allāh ﷻ, dan beriman kepada Allāh ﷻ ini termasuk pokok keimanan. Coba masing-masing dari kita merasakan: apakah berimannya kepada Allāh seorang sahabat Nabi ﷺ sama dengan berimannya kepada Allāh salah seorang di antara kita? Tentu berbeda. Padahal sama-sama beriman kepada Allāh. Bagaimana tawakal mereka, bagaimana rasa cinta mereka, bagaimana rasa keyakinan mereka kepada Allāh, dan bagaimana ketergantungan mereka kepada Allāh.Tentang masalah beriman dengan hari akhir, kita semuanya sama-sama beriman kepada hari akhir. Tapi ada di antara kita yang keimanannya kepada hari akhir sangat luar biasa, sehingga di mana-mana terngiang dan terbayang padanya kejadian-kejadian di hari kiamat. Sehingga dia sangat berhati-hati dalam kehidupannya, khawatir terhadap nasibnya kelak di hari kiamat. Tapi ada juga di antara kita yang beriman kepada hari akhir hanya secara global, dan dia tidak terlalu mendalam, sering lupa terhadap hisab dan balasan di hari kiamat.Sehingga, kita lihat kehidupannya berbeda dengan yang pertama: bermudah-mudahan dalam berbuat maksiat, bermudah-mudahan dalam mencari rezeki, dan bermalas-malasan dalam beramal shalih. Kalau ditanya, apakah engkau beriman dengan hari akhir? Jawabannya “Iya”, menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman, meskipun mereka sama-sama di dalam masalah aṣlul īmān (pokok keimanan), tetapi mereka berbeda-beda tingkatannya.Iman Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu ʿanhu tentu berbeda dengan iman salah seorang di antara kita. Selain dalam masalah pondasi keimanan, mereka berbeda, keimanan mereka juga berbeda dari sisi kuantitasnya. Jadi, kualitasnya berbeda, kuantitasnya juga membedakan.Sama-sama, misalnya, melakukan shalat Ashar empat rakaat. Dari sisi kuantitasnya sama, empat rakaat. Tapi yang satu khusyuk dalam melakukan shalat, yang satunya tidak khusyuk dalam melakukan shalat. Yang satu memiliki keimanan yang kuat, yang satu lemah keimanannya. Dari sisi kualitas, mereka berbeda.Dan terkadang dari sisi kuantitas juga berbeda. Misalnya, dalam melakukan shalat malam, yang satu melakukan shalat malam 11 rakaat, sedangkan yang satu hanya satu rakaat. Yang satu berinfak dengan seratus ribu, yang satunya berinfak dengan seribu. Sama-sama ikhlasnya, tapi yang satu lebih besar daripada yang kedua. Tentunya berbeda kualitas keimanan dan berbeda pahalanya.Ini menunjukkan bahwa perbedaan tingkatan keimanan bukan hanya pada amalnya, tetapi juga termasuk pada pondasi keimanan yang berbeda-beda.

💬 0 komentar📅 2 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

PKKTI Halaqah 11

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.المعقد الثامنSimpul yang ke delapan adalahلزوم التأني في طلبه، وترك العجلةSimpul yang kedelapan adalah hendaklah kita terus-menerus pelan-pelan di dalam menuntut ilmu. لزوم berarti melazimi, التأني artinya adalah pelan-pelan di dalam menuntut, artinya sedikit demi sedikit, ini termasuk pengagungan kita terhadap ilmu.Jadi jangan dikira mengagungkan ilmu kemudian Antum mempelajari ilmu dalam satu waktu dalam jumlah yang banyak, ingin misalnya dalam satu hari selesai menghafal kitabut Tauhid atau dalam satu hari ingin menghafal Tsalatsatul ushul, ini tergesa-gesa.Harusnya termasuk penghormatan dia terhadap ilmu kalau memang dia ingin mendapatkan dan ingin bertemu dengan ilmu tadi ingin meraih ilmu tadi maka dia harus mencarinya dengan sedikit demi sedikit, itu justru menunjukkan pengagungan kita terhadap ilmu, karena dengan sedikit demi sedikit kita akan sampai kepada ilmu tapi kalau kita menimba ilmu secara langsung dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang sebentar maka ini sebenarnya adalah menghinakan ilmu karena dia tidak akan mendapatkan ilmu.وترك العجلةdan meninggalkan tergesa-gesa, tergesa-gesa ini adalah dari setan dia tahu bahwasanya orang yang tergesa-gesa di dalam menuntut ilmu maka dia tidak akan mendapatkan, semuanya ingin dia baca dalam waktu satu hari, dia ingin segera menguasai ilmu Fiqh dalam dua hari, ini tergesa-gesaإنَّ تحصيل العلم لا يكون جملةً واحدةً؛menuntut ilmu itu bukan dengan satu waktu, satu waktu dengan jumlah yang banyak bukan dengan cara itu menuntut ilmuإذ القلب يضعف عن ذلكkarena hati kita ini adalah lemah dan tidak mampu untuk melakukan yang demikian.Hati sebagaimana kita tahu ini adalah tempat ilmu tersebut dan kalau kita langsung memasukkan ilmu ke dalam hati yang lemah ini dalam satu waktu maka dia tidak akan mampu, dia adalah lemah untuk melakukan yang demikian kalau dia lemah maka akan dia segera letakkan ilmu tadi dan tidak bisa dia bawa.و إنَّ للعلم فيه ثِقَاً كثِقَل الحَجَر في يد حاملهMaka sesungguhnya ilmu itu adalah memiliki berat sebagaimana beratnya sebuah batu di tangan orang yang membawanya.Orang yang membawa batu besar berat dia, kalau dia tidak mampu maka akan segera dia lemparkan batu tadi tidak akan lama-lama dia pegang karena dia tidak bisa atau tidak mampu untuk membawa batu tadi.Sebagaimana batu itu memiliki berat demikian pula ilmu itu adalah memiliki berat sehingga kalau hati kita tidak mampu untuk membawa ilmu tadi, karena dalam satu waktu kita masukkan ilmu tadi ke dalam hati kita maka dia akan segera meletakkan dan tidak mampu untuk membawanya.Ini yang menjadikan banyak orang yang awalnya dia semangat untuk menuntut ilmu akhirnya dia putus akhirnya dia futur karena dia tergesa-gesa melihat orang lain ternyata dia bisa bicara ternyata dia memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu kemudian dia menganggap bahwasanya ilmu itu bisa didapatkan dalam waktu 1 hari dalam waktu 2 hari, dia tergesa-gesa.Padahal dia bisa mendapatkan ilmu tadi selama puluhan tahun dia belajar, dari 1 jam tiap hari 2 jam setiap hari dan dia selama bertahun-tahun mendengarkan selama bertahun-tahun mengikuti akhirnya dia mendapatkan ilmu tadi, sebagian orang tergesa-gesa sehingga justru ini menjadi sebab dia tidak istiqomah di atas ilmu.قال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakanإِنَّ سَنلْقِي عَلَيْكَ قَوْلً ثَقِيْلً﴾ المزمل: 5Sesungguhnya Kami akan melemparkan kepadamu ucapan yang berat, maksudnya adalah Al-Qur’an, akan mewahyukan kepadamu ucapan yang beratأي القرآنyaitu Al-Qur’an, Allāh ﷻ mensifati Kalam-Nya ini adalah ucapan yang beratوإذا كان هٰذا وصف القرآن الميسرkalau ini adalah sifat dari Al-Qur’an yang sudah dimudahkan oleh Allāh ﷻكما قال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakanوَلَقَدْ يَسَّرْنَ ٱلْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ﴾ القمر: 17Dan sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan sebagai peringatan, berarti Allāh ﷻ mensifati Al-Qur’an dengan sesuatu yang sudah dimudahkan oleh Allāh ﷻ. Dia mudah tapi disifati oleh Allāh ﷻ dia adalah ucapan yang beratفما الظنُّ بغيره من العلوم؟kalau Qur’an saja yang disifati sesuatu yang dimudahkan oleh Allāh ﷻ, dikatakan oleh Allāh ﷻ itu adalah ucapan yang berat lalu bagaimana dengan ilmu-ilmu yang lainوقد وقع تنزيل القرآن رعايةً لهٰذا الأمر مُنَجَّمًا مفرَّقًاDan turunnya Al-Qur’an adalah dengan berangsur-angsur, مُنَجَّمًا bukan dalam satu waktu tapi dalam beberapa lama beberapa waktu, مفرَّقًا dan terpisah-pisah, turun satu ayat turun dua ayat turun satu Surah dan seterusnya, tidak diturunkan oleh Allāh Azza Wajalla dalam satu waktuرعايةً لهٰذا الأمرuntuk menjaga perkara ini, yaitu karena yang namanya ilmu itu didapatkan dengan pelan-pelan bukan didapatkan secara langsung dalam satu waktu, Allāh ﷻ ingin mengajarkan kepada kita bahwasanya ilmu itu didapatkan dengan sedikit demi sedikit.باعتبار الحوادث والنَّوازلTurun ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an sesuai dengan kejadian dan juga peristiwaقال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakanوَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةًDan orang-orang kafir mengatakan seandainya diturunkan Al-Qur’an kepadanya (kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam) dalam satu kali saja, itu ucapan orang-orang kafir, ini menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam waktu yang berbeda-beda secara bertahapكَذَلِكَ لِنثبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَDemikianlah supaya kami menguatkan dengan cara seperti itu hatimu, karena Al-Qur’an ini adalah sesuatu yang berat tapi ketika diturunkan satu ayat dipahami oleh Nabi ﷺ diamalkan, dua ayat dipahami oleh Nabi ﷺ dan diamalkan maka akan menegakkan hatinya.Demikian pula kalau ilmu kita pelajari sedikit demi sedikit maka kita InsyaAllāh akan istiqamah di dalam menuntutnya, kalau kita tergesa-gesa dan mengikuti hawa nafsu dan mengikuti syaithan maka tidak lama seseorang akan terputus dari menuntut ilmu agamaوَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيْلاً﴾ الفرقان: 32dan Kami mentartil Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya.وهٰذه الآية حجَّةٌ في لزوم التَّأنِّي في طلب العلمMaka ayat ini adalah dalil tentang keharusan untuk pelan-pelan di dalam menuntut ilmu, yaitu ayat yang berisi tentang turunnya Al-Qur’an secara bertahapوالتَّدرُّج فيهdan keharusan untuk bertingkat-tingkat di dalam menuntut ilmu, artinya sedikit demi sedikit dimulai dari yang paling penting, dari yang paling penting pun kita mempelajari sedikit demi sedikit.Tadi yang kita sampaikan ilmu tauhid itu adalah ilmu yang paling penting, dalam mempelajari ilmu tauhid juga kita mempelajarinya sedikit demi sedikit, sehari 1 jam sehari 2 jam kalau dikumpulkan kita akan selesai satu kitabوترك العَجَلةdan meninggalkan tergesa-gesaكما ذكره الخطيب البغداديُّ في الفقيه والمتفقه، والرَّاغب الأسفهانيُّ في مقدِّمة جامع التفسرSeperti disebutkan oleh Khatib Al-Baghdadiy di dalam kitab beliau Al-Faqih wal Mutafaqqih dan juga disebutkan oleh Ar-Raghib Al-Asfahaniy dalam Muqaddimah Jami’ At-Tafsir, menyebutkan bahwasanya ayat ini merupakan dalil keharusan kita untuk pelan-pelan di dalam menuntut ilmu agama.ومن شعر ابن النَّحَّاس الحلبيِّ قولُهُDi antara sya’ir Ibn Nahas Al-Halabiy rahimahullah adalah ucapan beliauاليومَ شيءٌ وغدًا مثلُهُمن نُخَب العلم الَّتي تُلْتَقطْHari ini adalah sesuatu, maksudnya hari ini kita mempelajari sesuatu yang sedikit saja, satu permasalahanوغدًا مثلُهُdan besok kita mempelajari satu permasalahan lagiمن نُخَب العلم الَّتي تُلْتَقطْيُحصِّل المرء بها حكمةًdari pilihan-pilihan ilmu tadi yang diambil sedikit demi sedikit, hari ini dia ambil satu besok ambil satu, maka seseorang akan mendapatkan hikmah maka dia akan mendapatkan ilmu.Para ulama mereka mendapatkan ilmu karena mereka sedikit demi sedikit mereka menuntut ilmu tadi, satu ayat dipelajari besok satu lagi besok satu lagi sehingga muncullah seperti Ibnu Taimiyah Ibnul Qayyim An-Nawawi Ibnu Hajar, mereka dulu belajarnya sedikit demi sedikit bukan langsung menjadi seorang ulama atau sehari dua hari mereka menghafal tapi dari sedikit demi sedikit dan mereka bersabar akhirnya mereka menjadi seorang yang berilmu.وإنَّما السَّبيل ٱجتماع النُّقَطْSesungguhnya yang namanya banjir, banjir hakikatnya adalah berkumpulnya titik-titik air, banjir air yang banyak itu adalah kumpulan dari titik-titik air, dia dikumpulkan atau mereka berkumpul akhirnya menjadi sebuah banjir, demikian pula ilmu yang dimiliki oleh para ulama mereka dapatkan sedikit demi sedikit dengan cara yang tadi sudah kita sebutkan.Jadi kita harus punya pokoknya dulu,kita mempelajari Matan dulu dan ini kita jadikan sebagai pokoknya pondasinya Matan dari ilmu tersebut, kemudian kita mempelajari lagi kemudian kita tempelkan lagi dan kita tempelkan sampai akhirnya terbentuk sebuah bangunan ilmu yang kokoh. Jadi masing-masing cabang ilmu tadi kita harus memiliki pondasinya memiliki Matan yang kita jadikan rujukan yang kita hafal dan kita pelajari maknanya.ومقتضىٰ لزومِ التَّأنِّي والتَّدرُّجِ: البداءةُ بالمتون القصار المصنَّفةِ في فنون العلمDiantara konsekuensi dari keharusan pelan-pelan dan juga bertahap adalah kita memulai dengan matan-matan yang pendek yang ditulis di dalam cabang-cabang ilmu tadi, kita memulai dengan mempelajari matan-matan tadiحفظًاdengan cara menghafalnyaواستشراحًاdan kita berusaha untuk mencari syarahnya, penjelasan dari dari Matan tadi, karena terkadang dia ucapannya sedikit dia memiliki makna yang dalam tapi kalau kita tidak belajar dari seorang guru kita tidak memahamiوالميلُ عن مطالعة المطوَّلات الَّتي لم يرتفعِ الطَّالب بعد إليهاDan hendaklah seseorang berpaling dari membaca buku-buku yang panjang buku-buku yang berjilid-jilid yang belum sampai seseorang kepada tingkatannya.Antum baru di awal maka termasuk pengagungan terhadap ilmu Antum mulai dari matan-matan yang pendek jangan Antum langsung belajar misalnya langsung buka Fathul Bari, memang di situ ada ilmunya tapi Antum belum sampai ke sana, banyak nanti habis waktunya Antum mempelajari mungkin 10 halaman Antum tidak paham semuanya habis waktunya, tapi kalau antum mempelajari dari yang ringkas Antum langsung paham dan bisa Antum amalkan dan nanti InsyaAllāh antum paham bisa membaca Fathul Bari.ومن تعرَّض للنَّظر في المطوَّلات فقد يجني علىٰ دينهBarang siapa yang memaksakan dirinya membaca buku-buku yang berjilid-jilid maka dia telah merusak agamanya, dia merusak ilmunya merusak agamanyaوتجاوزُ الاعتدال في العلم ربَّما أدَّىٰ إلىٰ تضييعهdan melanggar keseimbangan di dalam ilmu, harusnya Antum mempelajari yang ringkas-ringkas dulu tapi Antum memaksakan diri Antum untuk mempelajari buku-buku yang berjilid-jilid yang Antum belum sampai ke sana sebenarnya maka ini akan membawa kepada penyia-nyiaan terhadap ilmu tadi, karena Antum banyak perkara yang Antum tidak paham dan mungkin Antum salah paham sehingga justru malah sesat di dalam pemikiran kita karena kita tidak mendasari dengan mempelajari matan-matan yang singkat yang ringkas yang ditulis dalam cabang ilmu tadi.ومن بدائع الحِكَم قول عبد الكريم الرِّفاعيِّ – أحد شيوخ العلم بدمشقَ الشَّام في القرن الماضي -: طعام الكبار سمُّ الصِّغارDan di antara hikmah-hikmah yang luar biasa adalah ucapan Abdul Karim Ar-Rifa’i salah seorang ulama yang ada di Damaskus Syam di abad yang lalu, beliau mengatakanطعام الكبار سمُّ الصِّغارMakanan bagi orang yang sudah besar itu menjadi racun bagi anak yang masih kecil.Yang kita makan enak tapi kalau kita berikan kepada anak yang masih umur 1 bulan 2 bulan maka ini bisa meninggal dia karena dia belum waktunya untuk memakan makanan tadi, dia minum susu dari ibunya itu yang cocok dengan dia tapi kalau kita paksa dia memakan makanan kita meskipun menurut kita adalah enak maka ini akan menjadikan dia termudharati.Tentunya ini adalah permisalan yang sangat bagus sekali, ini permisalan bagi orang yang mempelajari ilmu membaca buku-buku yang berjilid-jilid yang panjang sementara dia belum mempelajari yang ringkas dari cabang ilmu tersebut, maka ini bukan pengagungan terhadap ilmu tapi justru ini adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.Orang yang ingin mengagungkan ilmu maka dia menempuh caranya, menempuh cara untuk mendapatkan ilmu tadi yaitu dengan cara bertahap, pelan-pelan.

💬 0 komentar📅 2 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sebelas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke sebelas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Apa yang memasukkan seseorang ke dalam agama Islam?Apa yang membedakan antara orang Islam dengan orang-orang musyrikin tersebut, apabila dalam masalah penciptaan, pengaturan rezeki, ternyata sama antara kita dengan mereka?Lalu apa yang membedakan antara diri kita dengan mereka?Apa yang diinginkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang musyrikin tersebut?Yang Beliau inginkan bukan hanya mereka mengakui bahwasanya Allah yang mencipta, memberikan rezeki, dan juga mengatur alam semesta. Tetapi yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya dari orang-orang musyrikin tersebut adalah supaya mereka mengesakan ibadah hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla. Inilah yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Allah dan Rasul-Nya menginginkan dari orang-orang musyrikin tersebut, selain mereka mengakui bahwasanya Allah yang mencipta, mengatur alam semesta, dan memberikan rezeki, diinginkan dari mereka supaya mereka mengesakan ibadah hanya untuk Allah.Sementara orang-orang musyrikin tidak mengesakan Allah di dalam ibadahnya.Inilah yang membedakan antara kita dengan mereka.Terkadang mereka melakukan ibadah untuk Allah, seperti ketika haji. Karena ibadah haji sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kemudian dilanjutkan Nabi Ismail, dan seterusnya. Dan orang-orang Quraisy, mereka adalah keturunan Nabi Ismail Ibnu Ibrahim.Ibadah haji masih mereka pegang sampai di zaman Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu setiap tahun mereka senantiasa melakukan ibadah haji, dan ini dilakukan untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla.Kita membaca di dalam kitab-kitab Sirah tentang perjanjian ‘Aqabah pertama maupun ke dua, bai’at antara Rasulullah shallallāhu’ alaihi wa sallam dengan kaum Anshor. Kapan terjadi? Ketika musim-musim haji. Ketika orang-orang Arab, orang-orang Quraisy, dan orang-orang Arab yang ada di sekitarnya, mereka melakukan ibadah haji menuju ke Mekkah. Di sanalah pertemuan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang Anshor.Terkadang mereka beribadah kepada Allah dan terkadang mereka beribadah kepada selain Allah.Sehingga ketika terjadi musibah diantara mereka misalnya, ada sebagian yang datang kepada jin. Atau ada diantara mereka ketika ingin berperang dan ingin menang, mereka menaruh senjata-senjata mereka digantungkan di sebuah pohon tertentu, dengan keyakinan bahwasanya itu akan membawakan barokah.Terkadang mereka beribadah kepada Allah semata dan terkadang mereka serahkan sebagian ibadah mereka kepada selain Allah.Inilah yang membedakan antara diri kita, orang Islam dengan orang-orang musyrikin tersebut.Kalau meyakini bahwa Allah yang mencipta satu-satunya, memberikan rezeki satu-satunya, mengatur alam semesta satu-satunya, seharusnya keyakinan ini menjadikan mereka hanya menyembah kepada Allah.Bagaimana kita menyembah sesuatu yang tidak mencipta?Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak memberikan rezeki, baik dari langit maupun dari bumi sedikitpun?Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak mengatur alam semesta?Bahkan mereka diciptakan, diberikan rezeki, diatur oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.Kenapa mereka tidak menyembah saja dzat yang telah menciptakan benda-benda (makhluk-makhluk) tersebut?Oleh karena itu Allah mengatakan,فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Lalu katakan kepada mereka, kenapa mereka tidak takut dan takwa kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla?”Inilah yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Dan ini ditolak dan diingkari oleh orang-orang Quraisy. Ketika mereka didakwahi لا إله إلا الله “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”, mereka semuanya memahami bahwasanya makna kalimat ini, berarti saya harus meninggalkan sesembahan selain Allah yang selama ini aku sembah dan hanya menyembah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Orang-orang Quraisy, orang-orang kafir Quraisy, orang-orang musyrikin, mereka semuanya memahami kalimat ini, karena mereka adalah orang-orang Arab dan sangat mengenal makna kalimatلا إله إلا الله.Ada diantara mereka yang menerima dan langsung masuk Islam, dan ada diantara mereka yang menolak dan tidak mau mengucapkan لا إله إلا الله. Bahkan mereka sombong.(إِنَّهُمۡ كَانُوۤا۟ إِذَا قِیلَ لَهُمۡ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ یَسۡتَكۡبِرُونَ ۝ وَیَقُولُونَ أَىِٕنَّا لَتَارِكُوۤا۟ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرࣲ مَّجۡنُونِۭ)[Surat As-Saaffat 35 – 36]“Sesungguhnya mereka, apabila dikatakan kepada mereka (diajak untuk mengucapkan) لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ mereka sombong (menolak kebenaran).”Tidak mau mengucapkan لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ karena mereka tahu tentang tuntutan dari kalimat ini.Kalau saya mengucapkan kalimat ini berarti saya harus masuk Islam. Sesembahan yang begitu banyak, aku tinggalkan dan hanya menyembah Allah yang satu.Tidak boleh lagi aku berdo’a kepada selain Allah.Tidak boleh lagi aku beristi’anah, beristighotsah kepada selain Allah.Oleh karena itu mereka sombong dan tidak mau mengucapkan kalimat ini.Dan mereka mengatakan,“Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-seembahan kami hanya karena seorang tukang syair yang gila.”Selain menolak, mereka juga menghina Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan bahwasanya Rasulullah adalah tukang syair, padahal Beliau adalah orang yang tidak mengetahui tentang syair.Dan mereka mengatakan bahwa Beliau adalah orang yang gila.Semua ini menunjukkan kesombongan mereka.Selain menolak dakwah Beliau, mereka juga berusaha untuk merendahkan Beliau supaya manusia tidak mengikuti dakwah Beliau.Di dalam ayat yang lain mereka mengatakan,اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ[Surat Sad 5]“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini hanya menjadi tuhan yang satu? Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.”Ini adalah kesombongan orang-orang Quraisy, orang-orang musyrikin Quraisy. Mereka tidak mau mengucapkan لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ karena inilah yang akan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.Inti dari kaidah yang sudah kita sampaikan ini, bahwasanya orang-orang musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sama dengan kita, mengakui bahwasanya Allah yang telah menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, dan mengatur alam semesta ini. Dan sesungguhnya ini tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam.Kemudian yang ke dua, apa sebenarnya yang memasukkan seseorang ke dalam agama Islam?Yaitu apabila seseorang hanya mengesakan Allah di dalam beribadah. Hanya menyerahkan ibadah kepada Allah.Adapun seseorang jika hanya meyakini Allah hanya mencipta, memberikan rezeki, mengatur alam semesta, maka ini belum membedakan antara dia dengan orang musyrikin.Kemudian yang ke tiga, hendaknya seseorang di dalam berdakwah kepada manusia, tidak cukup hanya mengenalkan kepada mereka bahwa Allah yang mencipta, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta. Karena ini tidak membedakan antara kita dengan yang lain.Karena sebagian ketika berdakwah dan mengajak orang kepada Islam, hanya mengingatkan tentang perkara-perkara ini.Padahal di sana ada sesuatu yang lebih penting dari itu. Atau yang setelahnya yang harus dia sampaikan, bukan hanya menyampaikan tentang Rububiyyah (keyakinan bahwa Allah yang mencipta, memberikan rezeki, dan mengatur alam semesta).Tapi juga harus disampaikan, bahwasanya keyakinan ini menuntut kita untuk hanya mengesakan Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam ibadah.

💬 0 komentar📅 2 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sepuluh “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah

Halaqah yang ke sepuluh “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,“Dan dalilnya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,”قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”[Q.S Yunus: 31]قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِKatakanlah (Wahai Muhammad) sebagai seorang Rasul. Tanyakan kepada mereka (kaummu, orang Quraisy), siapakah yang memberikan rezeki kepada mereka dari langit dan bumi (menurunkan hujan, rezeki dengan perdagangan, rezeki dari tanam-tanaman).أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَSiapakah yang telah memberikan kalian pendengaran dan penglihatan, sehingga kalian bisa mendengar dan melihat.وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِDan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati,وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّdan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (siapakah yang menghidupkan dan mematikan mereka).وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚDan tanyakanlah kepada mereka, siapakah yang telah mengatur alam semesta (menggerakkan matahari, membuat siang dan malam).فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚNiscaya mereka akan mengatakan, Allah.Ini adalah jawaban dari orang-orang Quraisy.Allah yang telah memberikan rezeki kepada kami.Allah yang telah menciptakan kami.Allah yang telah menghidupkan kami dan menghidupkan orang yang sudah mati, mengatur alam semesta ini.Ini adalah jawaban orang-orang Quraisy.Mereka tidak mengatakan yang menciptakan kami adalah Latta atau ‘Uzza (salah satu sesembahan mereka).Atau mengatakan yang memberikan rezeki kepada kami adalah Hubal.Mereka punya sesembahan yang banyak, akan tetapi tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwasanya yang menciptakan mereka adalah sesembahan-seembahan tersebut.Menunjukkan kepada kita kebenaran yang disampaikan oleh pengarang di sini.Beliau mengatakan, engkau mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwasanya Allah yang mencipta, memberikan rezeki, dan mengatur alam semesta.Apa yang beliau ucapkan memiliki dalil di dalam Al Qur’an dan bahkan hadits-hadits Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَMaka katakanlah (Wahai Muhammad), apakah kalian tidak bertakwa?Wahai kaumku, seandainya kalian mengakui ini semua, bahwa Allah yang menciptakan, memberikan rezeki, mengatur alam semesta, kenapa kalian tidak takut kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla?Kenapa kalian masih berbuat syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla?Menunjukkan bahwa keyakinan mereka ini tidak bisa menjaga mereka dari adzab Allah Subhānahu wa Ta’āla.Karena di sini Allah mengatakan, kenapa kalian tidak menjaga diri kalian dari adzab Allah.Ini adalah kaidah pertama yang beliau sampaikan yang sangat bermanfaat. Dengan kaidah ini kita bisa memahami banyak fakta (perkara).Karena sebagian kita meyakini bahwasanya orang-orang musyrikin yang ada di zaman Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak mengenal Allah sama sekali.Seakan-akan mereka meyakini yang mencipta adalah berhala mereka, patung-patung, pohon, atau jin yang mereka sembah.Tidak. Ternyata di dalam masalah penciptaan, pengaturan alam semesta, masalah rezeki, keyakinan mereka sama dengan keyakinan kita, yaitu Allah Subhānahu wa Ta’āla yang melakukan ini semua.Jadi ini, kata beliau,لم يُدْخِلُهُمْ ذَلِكَ فِي الإِسْلامِTidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam.Oleh karena itu, ketika kita melihat di zaman kita, ketika melihat orang musyrik, ternyata dia juga mengenal Allah, maka ini bukan sesuatu yang mengherankan. Mereka meyakini bahwa Allah yang menciptakan mereka.Dan ini bisa kita buktikan ketika kita melihat orang-orang di sekitar kita, yang dia tidak menisbahkan dirinya kepada agama Islam, ternyata ketika ditanya, siapa yang menciptakannya, maka dia akan menjawab, Allah. Atau terkadang dengan isyarat, bahwa yang menciptakannya adalah yang Di Atas, atau dengan kalimat yang lain yang intinya bahwa yang menciptakan dia adalah Allah. Padahal dalam kehidupan sehari-hari dia banyak mengagungkan selain Allah Subhānahu wa Ta’āla, bermuamalah dengan jin, menyembah kepada jin, meyakini selain Allah Subhānahu wa Ta’āla. Tapi ketika ditanya siapa yang mengatur alam semesta, yang memberi rezeki, ternyata mereka menjawab Allah Subhānahu wa Ta’āla. Dan ini tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam

💬 0 komentar📅 30 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI - Halaqah 110 - Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 2)

Halaqah 110Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaKondisi kerusakan akhir zaman dan makna yang tepat dari ungkapan “Alaika bi nafsika” (perhatikan dirimu sendiri).Sifat-sifat kerusakan zaman, munculnya hari-hari kesabaran (ayyāmus shabr), serta perumpamaan memegang agama di masa tersebut seperti menggenggam bara api.Dalil yang Disampaikan (Al-Qur'an & Hadist)Potongan Surat Al-A'la Ayat 16:بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَاKonteks Penjelasan: Menggambarkan tabiat manusia di akhir zaman yang lebih mendahulukan kehidupan dunia dibandingkan akhirat.Hadis Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam (Atsar Abu Tsalabah mengenai Sifat Akhir Zaman):​حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا، وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ؛ فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ، وَدَعْ عَنْكَ العَوَامَّ... وَالصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِKonteks Penjelasan: Peringatan Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam tentang tanda-tanda kerusakan umat di masa depan, panduan bersikap, serta beratnya ujian istiqamah diibaratkan menggenggam bara api.Kaedah Hubungan Ridha Allah dan Manusia:Konteks Penjelasan: Peringatan bahwa siapa yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka dan manusia pun akan membencinya.Koreksi Terhadap Ayat Alaikum Anfusakum:Setelah penjelasan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar tetap wajib, Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam merinci kondisi-kondisi khusus di masa depan di mana seseorang diperintahkan untuk fokus pada diri sendiri (فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ / perhatikanlah dirimu) setelah ia berupaya maksimal menjalankan kewajiban dakwah.Kondisi-Kondisi Kerusakan di Akhir Zaman:​شُحًّا مُطَاعًا:Kebakhilan/kikir yang sangat parah dan ditaati/diikuti oleh manusia (enggan bersedekah/berinfaq). Catatan: Sifat kikir secara fitrah ada pada manusia, namun tidak tercela selama dilawan dan dipaksa berinfak; yang tercela adalah ketika kebakhilan itu diikuti dan dijadikan tabiat.وَهَوًى مُتَّبَعًا:Hawa nafsu yang mendominasi dan diikuti oleh banyak orang (menurutkan syahwat perut, kemaluan, pandangan, dll).وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً:Kehidupan dunia yang lebih didahulukan daripada akhirat.وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ:Setiap orang yang memiliki pendapat merasa takjub dan bangga dengan pendapatnya sendiri (bebas mengeluarkan opini dan merasa paling benar).Makna “Alaika Bi Nafsika wa Da' 'Ankal Awam”:Jika menjumpai kondisi kerusakan yang parah di mana nasihat tidak lagi didengar dan manusia dikuasai hawa nafsu, maka hendaklah seseorang menjaga agamanya, memperbaiki dirinya, serta meninggalkan orang-orang awam yang menolak kebenaran.Hari-Hari Kesabaran (Ayyāmus Shabr) & Perumpamaan Bara Api:Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam mengingatkan: فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ (Karena sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran yang membutuhkan kesabaran ekstra).​Kesabaran dalam berpegang teguh pada agama di masa tersebut diibaratkan seperti: مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِ (Seperti menggenggam bara api). Sangat berat, panas, dan pedih.​Jika bara api itu dilepaskan (demi mencari kenyamanan sesaat atau mencari ridha manusia dengan mengorbankan agama), maka ia telah melepaskan agamanya.​Bahaya Mencari Ridha Manusia dengan Kemurkaan Allah:​Barang siapa mencari ridha manusia dengan cara membuat Allah Subḥānahu wataʿālā murka, maka Allah Subḥānahu wataʿālā akan murka kepadanya, dan Allah Subḥānahu wataʿālā juga akan menjadikan manusia membenci orang tersebut (rugi di dunia dan akhirat).KesimpulanMenjaga diri dan agama (alaika bi nafsika) menjadi pilihan setelah seseorang berdakwah namun mendapati masyarakat telah dikuasai hawa nafsu, kebakhilan, dan pengagungan opini pribadi.​Istiqamah di atas sunnah di tengah zaman kerusakan menuntut kesabaran tingkat tinggi yang diibaratkan seperti menggenggam bara api; pahit dan berat di dunia, namun merupakan kunci keselamatan menuju ridha Allah ﷻ.

💬 0 komentar📅 30 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI - Halaqah 109 Dalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 1)

Halaqah 109Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Kelima Atsar Abu Tsalabah (Bagian 1) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaAtsar Abu Tsalabah Al-Khusyani radhiyallahu 'anhu mengenai pemahaman yang benar terhadap ayat “Alaikum anfusakum” (QS. Al-Ma'idah: 105).Penjelasan bahwa ayat tersebut tidak boleh dipahami secara egois (hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga tanpa peduli orang lain), melainkan tetap wajib menjalankan amar ma'ruf nahi mungkar.Dalil yang Disampaikan (Al-Qur'an & Hadist)Surat Al-Ma'idah Ayat 105:يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡTerjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakan kamu apabila kamu telah mendapat petunjuk..."Konteks Penjelasan: Ayat yang sering disalahpahami sebagian orang sebagai dalil untuk bersikap egois/individualis dalam beragama, namun diluruskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam bahwa kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar tetap berlaku.Surat An-Nahl Ayat 44:وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡKonteks Penjelasan: Menunjukkan kedudukan Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam sebagai penjelas isi Al-Qur'an, sehingga rujukan utama memahami ayat Al-Qur'an adalah penjelasan dari Beliau Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam.Atsar Abu Tsalabah Al-Khusyani (Riwayat Penjelasan Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam):بَلِ ائْتَمِرُوا بِالمَعْرُوفِ، وَتَنَاهَوْا عَنِ المُنْكَرِKonteks Penjelasan: Koreksi tegas dari Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam bahwa seorang mukmin tetap memiliki kewajiban sosial-keagamaan untuk amar ma'ruf nahi mungkar, bukan membiarkan kerusakan di sekitarnya..Pertanyaan Abu Umayyah kepada Abu Tsalabah:Abu Umayyah Asy-Sya'bani bertanya kepada Abu Tsalabah Al-Khusyani mengenai makna firman Allah ﷻ dalam Surat Al-Ma'idah ayat 105 (Jagalah diri kalian; orang yang sesat tidak akan mendatangkan mudarat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk).Sebagian orang (bahkan sebagian salaf pada masa lalu) keliru memahami ayat ini secara egois, mengira bahwa seseorang cukup menyelamatkan dirinya dan keluarganya sendiri tanpa perlu memperhatikan orang lain atau mengingkari kesesatan.Jawaban Abu Tsalabah Al-Khusyani:Abu Tsalabah menjawab, “Ketahuilah, demi Allah, sungguh engkau telah bertanya kepada orang yang khabir (berpengalaman/paham betul).” Ucapan ini bukan bentuk kesombongan, melainkan penerapan ayat:“Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah engkau nyatakan” serta menunjukkan adab bertanya kepada orang yang tepat agar tidak salah memahami ilmu.​Abu Tsalabah menegaskan bahwa ia mengetahui makna ayat tersebut secara mendalam karena ia bertanya langsung kepada Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam.Penjelasan Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam Terhadap Ayat Tersebut:Nabi ﷺ bersabda:: بَلِ ائْتَمِرُوا بِالمَعْرُوفِ، وَتَنَاهَوْا عَنِ المُنْكَرِ (Bahkan, hendaklah kalian saling beramar ma'ruf dan saling bernahi mungkar).​Penjelasan ini menunjukkan bahwa kewajiban berdakwah, menyeru kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran tidak gugur dengan turunnya ayat tersebut. Hal ini sejalan dengan sifat al-ghuraba' dan keumuman ayat tentang umat terbaik (kuntum khaira ummatin...), di mana mereka senantiasa bersabar memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia di tengah zaman keasingan Islam.Kesimpulan Pemahaman agama yang benar harus merujuk kepada penjelasan Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam melalui para ulama yang mumpuni (khabir), bukan sekadar mengandalkan pemahaman tekstual yang keliru (seperti salah memahami ayat Alaikum anfusakum).​Menjadi al-ghuraba' (orang yang asing karena istiqomah) tidak berarti menutup diri atau acuh tak acuh terhadap kondisi masyarakat, melainkan tetap aktif beramar ma'ruf nahi mungkar dan bersabar dalam memperbaiki kerusakan yang ada.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →