🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI7 jam lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 2 : PERBEDAN ANTARA NABI DAN RASUL

Halaqah 2 :PERBEDAN ANTARA NABI DAN RASULOleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.AØ  Dalil-Dalil Perbedaan antara Nabi & Rasul :Allah berfirman :وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan syaitan pun memasukkan godaan-godaan kedalam keinginannya tersebut” (QS. Al-Hajj : 52)Ayat diatas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.Ø  Pendapat LemahAda Ulama mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan.Pendapat yang lemah karena dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan wahyu.Sebagaimana dalam firman Allah:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-godaannya kedalam keinginannya tersebut” (QS. Al-Hajj : 52)Allah Mengatakan:“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi”ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk menyampaikan.Demikian pula didalam hadits Rasulullah ﷺ bersabdaعُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ“Ditampakan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan seorang Nabi dan tidak seorang pun yang bersama beliau” (HR. Al Bukhâri dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah.Ø  Perbedaan Utama (Pendapat yang Kuat)Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah & Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, perbedaan mendasar keduanya terletak pada syariat dan kondisi kaum yang dihadapi:1.     NabiOrang yang Allah berikan wahyu diperintahkan untuk menyampaikan syariat sebelumnya dan diutus kepada kaum yang sudah mengetahui syariat tersebutDalilnya : Allah berfirman :…إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا…“…Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat tersebut bagi orang-orang Yahudi…” (QS. Al-Ma’idah : 44)Para Nabi Bani Israil menyampaikan syariat menggunakan kitab Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa AS.2.     RasulOrang yang Allah beri Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru dan diutus kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah.Ø  Kesimpulan: Nabi menguatkan syariat yang sudah ada untuk kaum yang sudah beriman, sedangkan Rasul membawa syariat baru untuk kaum yang menentang.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 jam lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 2

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah Beriman Kepada Para RasulPerbedaan Antara Nabi Dan RasulDalil-dalil menunjukkan adanya perbedaan antara Nabi dan Rasul. Allah berfirmanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan syaitan pun memasukkan godaan-godaan kedalam keinginannya tersebut” (Al-Hajj : 52)Ayat diatas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.Ada ulama yang mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan namun ini adalah pendapat yang lemah karena ternyata dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan wahyu sebagaimana dalam Firman Allahوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-godaannya kedalam keinginannya tersebut” (Al-Hajj : 52)Allah Mengatakan“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi”ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk menyampaikan.Demikian pula didalam hadits Rasulullah ﷺ bersabdaعُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ“Ditampakan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan seorang Nabi dan tidak seorang pun yang bersama beliau” (HR Al Bukhâri dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah.Dari sekian banyak pendapat tentang perbedaan antara Nabi dengan Rasul pendapat yang lebih dekat insyaa Allah adalah pendapat yang mengatakanBahwa Nabi adalah Orang yang Allah berikan wahyu diperintahkan untuk menyampaikan syariat sebelumnya dan diutus kepada kaum yang sudah mengetahui syariat tersebut.Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad Al Amin As-Sinqity semoga Allah merahmati keduanya. Diantara dalilnya adalah firman Allah…إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا…“…Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat tersebut bagi orang-orang Yahudi…” (Al-Ma’idah : 44)Di dalam ayat ini Nabi-nabi Bani Israil mereka menyampaikan syariat Nabi Musa yang ada didalam Taurat, adapunPengertian Rasul secara syariat mereka adalah orang yang Allah beri Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru dan diutus kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 jam lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 52

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 52Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS. An-Nisa: 60Firman Allah Ta'ala:{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا}(QS. An-Nisa: 60)"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya."Penjelasan Ayatأَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَAllah mengatakan:"Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwasanya mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam."Yaitu Al-Qur'an.وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَDan beriman kepada apa yang diturunkan sebelum mu.Yakni: Taurat, Injil dan seterusnyaيُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka mengaku muslim.Mungkin sudah bersyahadat di hadapan Nabi  atau di hadapan para sahabat. Namun ketika terjadi masalah di antara mereka, mereka tidak mengembalikan keputusan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bahkan:يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Padahal mereka menyangka bahwa:Mereka beriman kepada Al-Qur'an.Mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.Tetapi ketika terjadi, permasalahan dan  persengketaan, mereka justru bertahakum kepada thaghut.Makna ThaghutDi antara makna thaghut adalah "Orang yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan". Sebagaimana telah dibahas ketika mempelajari Tsalatsatul Ushul. Termasuk thaghut adalah setiap orang yang: "Orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib". Contohnya dukun dan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.Sikap yang Seharusnya Dilakukan Seorang MuslimKalau memang dia muslim, maka wajib baginya untuk Islam secara kullihi. Bukan hanya dalam masalah ibadah dan dalam masalah aqidah. Namun ketika terjadi persengketaan dalam muamalah atau perkara lainnya, maka seorang muslim harus masuk ke dalam Islam seluruhnya. Yaitu menyerahkan keputusan perselisihan kepada Allah dan menyerahkan keputusan perselisihan kepada Rasul-Nya, bukan kepada thaghut.Ini menguatkan kewajiban masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, termasuk ketika terjadi perselisihan.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ"Dan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri thaghut tersebut."Mereka diperintahkan untuk; mengingkari thaghut, mengingkari dukun, mengingkari setiap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dan kita diperintahkan untuk beriman kepada Allah.Firman Allah Ta'ala (2){فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا}(QS. Al-Baqarah: 256)"Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus."Mengingkari Thaghut adalah Bagian dari IslamMereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut dan ini adalah bagian dari Islam.Definisi Islamالإسلام الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله"Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya."Itu adalah bagian dari Islam.ereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut. Karena mengingkari thaghut merupakan bagian dari Islam. Namun mereka masih bertahakum kepada thaghut. Berarti mereka belum masuk ke dalam Islam secara kullihi. Padahal wajib bagi mereka untuk masuk ke dalam Islam secara kullihi.وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا"Dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh."Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan keadaan orang-orang munafik. Di antara sifat mereka adalah kesenangan mereka dan kemauan mereka. Yaitu bertahakum bukan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena mereka memang tidak beriman. Tetapi tahakum mereka adalah kepada thaghut.Sisi Pendalilan AyatBagaimana ayat ini menunjukkan wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan? Jawabannya terdapat pada firman Allah:وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ"Dan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut."Karena mengingkari thaghut termasuk makna Islam. Ketika mereka berhukum kepada thaghut, berarti mereka telah meninggalkan salah satu konsekuensi keislaman mereka. Karena konsekuensi keislaman adalah Islam dalam seluruh perkara. Masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Termasuk di dalam masalah Tahakum (Berhukum). Seorang muslim harus yakin bahwa, apa yang diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah keputusan yang paling benar dan yang paling baik. Baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Itulah keyakinan seorang muslim.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 jam lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 02 | Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidul Islam Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Diantara pembatal keislaman, ada yang berupa keyakinan, seperti:• Meyakini bahwa ada illah (sesembahan) selain Allah• Meyakini bahwa hukum selain hukum Allah adalah lebih baik daripada hukum Allah• Meyakini bahwa shalat lima waktu tidak wajib• Meyakini kehalalan sesuatu yang jelas diharamkan di dalam agama Islam, seperti zina, homoseks, minuman keras, dan lain-lain.Ini adalah beberapa keyakinan yang bisa membatalkan keislaman seseorang.Orang-orang munafik meskipun mengucapkan kalimat – لا إله إلا الله – dan mengucapkan syahadat – محمداً رسول الله – akan tetapi mereka kafir karena tidak meyakini makna dua kalimat syahadat tersebut.Pembatal keislaman ada yang berupa perbuatan anggota badan, seperti:• Bersujud kepada selain Allah• Menyembah untuk selain Allah• Dan lain-lainMengetahui Nawaqidul Islam (pembatal-pembatal keislaman) merupakan perkara yang sangat penting, karena seseorang harus mengetahui kebaikan untuk diamalkan dan mengetahui kejelekan supaya bisa terhindar dari kejelekan tersebut.Orang yang hanya mengetahui kebaikan tetapi tidak mengetahui kejelekan, dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut, disadari atau tidak disadari.Apalagi kejelekan tersebut adalah kekufuran yang barangsiapa meninggal di atas kekufuran, maka kesengsaraan selamanya yang akan dia rasakan.Hudzaifah Ibnu Yaman, seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,كان أصحابُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَسأَلُونَه عن الخَيرِ، وكُنتُ أسأَلُه عن الشَّرِمَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي“Dahulu, para sahabat Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya kepada Beliau tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada Beliau tentang kejelekan, karena aku takut terjerumus ke dalam kejelekan tersebut.” [Muttafaqun’ Alaihi]Hal ini dilakukan oleh para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu. Mereka mengetahui kebenaran dan juga berusaha untuk mengetahui kesalahan. Mempelajari Al Haq dan juga mempelajari jenis-jenis kebathilan. Mengetahui kebenaran tersebut supaya bisa diamalkan dan mengetahui kebathilan (kesalahan) supaya bisa terhindar.Di dalam sebuah bait syair dikatakan,عَرَفْتُ الشّرَّ لا لِلشّرِّ لَكِنْ لِتَوَقّيهِفَمَن لا يعرِفُ الشّرَّمنَ الناسِ يقعْ فيهِ“Aku mengetahui kejelekan bukan untuk mengamalkan kejelekan tersebut, akan tetapi supaya terhindar dari kejelekan tersebut. Dan barangsiapa diantara manusia yang tidak mengetahui suatu kejelekan, maka dikhawatirkan dia akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut.”Salah satu penyebab utama seseorang terjatuh di dalam Nawaqidul Islam adalah karena tidak tahu, tidak belajar, dan tidak berusaha mempelajarinya.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,والجهل داء قاتل وشفاؤه أمران في التركيب متفقان نص من القرآن أو من سنة وطبيب ذاك العالم الرباني“Kebodohan adalah penyakit yang mematikan dan obatnya adalah dua hal yang digabung menjadi satu, yaitu nash dari Al Qur’an atau dari As Sunnah dan dokternya ada seorang ‘alim robbani.”Oleh karena itu para ulama di dalam kitab-kitab mereka (kitab akidah atau kitab fiqih) menyebutkan tentang bab Ar Riddah (kemurtadan). Yang dibahas adalah perkara-perkara yang bisa menjadikan seseorang murtad (keluar dari agama Islam).Para ulama membuat bab ini tujuannya adalah supaya kita tahu pembatal-pembatal keislaman dan supaya kita waspada, jangan sampai kita dan orang-orang yang kita cintai, serta kaum muslimin terjatuh ke dalam apa yang dinamakan dengan Nawaqidul Islam. Yang apabila dia meninggal dalam keadaan demikian, maka batal seluruh amalannya dan dia kekal di dalam neraka bersama orang-orang yang kafir.Allah mengatakan,وَمَن یَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَیَمُتۡ وَهُوَ كَافِرࣱ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ[Surat Al-Baqarah 217]“Dan barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, kemudian dia meninggal dunia dan dia dalam keadaan kafir, maka merekalah orang-orang yang batal amalannya di dunia maupun di akhirat, dan merekalah penduduk neraka, mereka kekal di dalamnya.”Tentunya di dalam memahami Nawaqidul Islam, seseorang harus kembali kepada Al Qur’an, hadits-hadits Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum dan melihat kembali ucapan-ucapan para ulama di dalam masalah Nawaqidul Islam. Karena menentukan sebuah ucapan, keyakinan, atau perbuatan, apakah dia mengeluarkan seseorang dari Islam atau tidak, ini adalah hukum syar’i, harus kembali kepada dalil.Tidak boleh seseorang menghukumi sebuah amalan atau sebuah ucapan atau sebuah keyakinan, bahwa ini adalah kekufuran, mengeluarkan pelakunya dari Islam, kecuali di sana ada dalil yang jelas di dalam Al Qur’an atau di dalam hadits. Jangan sampai seseorang berdusta atas nama Allah.Allah berkata,(وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَـٰذَا حَلَـٰلࣱ وَهَـٰذَا حَرَامࣱ لِّتَفۡتَرُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا یُفۡلِحُونَ)[Surat An-Nahl 116]“Janganlah kalian mengatakan dengan lisan-lisan kalian, ini adalah halal, ini adalah haram, untuk berdusta atas nama Allah. Orang-orang yang berdusta atas nama Allah, maka dia tidak akan beruntung.”Jangan sampai seseorang mengatakan, ini adalah kufur, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak mengatakan demikian. Atau sebaliknya, mengatakan ini tidak kufur padahal Allah dan Rasul-Nya menghukumi itu sebagai sebuah kekufuran.Di sana ada dua kelompok yang tersesat di dalam masalah ini.1. Kelompok yang berlebih-lebihan, hingga mengatakan bahwasanya ini adalah sesuatu yang kufur, padahal Allah tidak mengatakan itu adalah sebuah kekufuran. Seperti orang-orang Khawarij yang berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar, dia keluar dari Islam.2. Orang-orang yang berlebihan, sehingga mengatakan bahwa ini sesuatu yang tidak kufur, padahal Allah telah menjelaskan bahwa itu adalah kekufuran. Seperti orang-orang Murji’ah, yang mereka menganggap bahwasanya keimanan cukup dengan keyakinan di dalam hati. Seandainya seseorang mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan amalan yang kufur, yang penting hatinya mengenal dan meyakini Allah, maka dia tidak keluar dari agama Islam.Ahlussunnah wal Jama’ah bukan termasuk Khawarij dan juga bukan termasuk Murji’ah. Mereka berada di pertengahan. Mereka kembali kepada Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Apa yang dihukumi oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai bentuk kekufuran, maka mereka katakan ini adalah kufur. Dan apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya ini bukan kekufuran, maka mereka tidak mengatakan ini adalah kekufuran.Dan mereka di dalam masalah ini berpegang dengan kaidah-kaidah yang berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Dan Insya Allah akan kita bahas sebagian kaidah-kaidah tersebut di dalam pertemuan selanjutnya.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 jam lalu
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 2 - Mahzab Penulis Kitab

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah ini adalah seorang Hanbali, beliau tumbuh sebagai seorang Hanbali yaitu bermadzhab dengan madzhabnya imam Ahmad bin Hanbal, tapi apa yang dimaksud dengan Hanbali disini, apakah yang dimaksud beliau adalah orang yang fanatik sehingga tidak mengambil pendapat kecuali dari madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal, jawabannya tidak, dinamakan dengan Hanbali karena beliau mengawali menuntut ilmu fiqihnya dengan mazhab Hanbali dan inilah yang dimaksud oleh para ulama ketika mereka menambahkan atau menisbahkan diri mereka kepada Syafi’i, Hanafi, Maliki, bukan berarti mereka ta’asub dan fanatik terhadap madzhab tersebut. Awal mereka menuntut ilmu adalah dengan mempelajari kitab-kitab Hanbali atau Syafi’i atau yang lain, cuma setelahnya ketika mereka sudah sampai pada marhalah tertentu, sampai pada tingkatan tertentu di situ mereka tidak melihat lagi ini madzhab fulan atau madzhab fulan tapi mereka melihat dalil, kalau pendapat tersebut itulah yang sesuai dengan dalil itulah yang mereka ambil.Berkata adz-Dzahabi rahimahullāh “wa lahul āna ‘iddatussinīn lā yu’ti bimadzhabin mu’ayyan bal bima qāmaddalīlu alaihi ‘indah”, ini menceritakan tentang gurunya dan beliau yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah sekarang, ini Imam adz-Dzahabi berbicara tentang apa yang ada di masanya sudah beberapa tahun terakhir ini beliau tidak berfatwa dengan madzhab tertentu tapi dengan pendapat yang sesuai dengan dalil menurut beliau, jadi bukan berfatwa berdasarkan madzhab Hanbali atau madzhab Syafi’i tapi berfatwa menjawab sesuai dengan apa yang menurut beliau lebih dekat dengan dalil. Sungguh beliau telah menolong sunnah secara murni dan menolong tharīqah salafīyyah yaitu menyebarkan manhaj salaf dan berhujah untuk menolong sunnah ini dan menolong manhaj salaf ini dengan berbagai bukti, berbagai muqaddimah, dengan berbagai perkara yang bukti-bukti tersebut atau alasan-alasan tersebut mungkin sebelum beliau belum ada yang menyebutkan atau menampakkan.Ini menunjukkan tentang bagaimana manhaj Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, jadi memang beliau bertumbuh dan berkembang dan mungkin di sekitar beliau, lingkungan beliau rata-rata adalah bermazhab Hanbali cuma beliau bukan seorang yang ta’asub atau fanatik terhadap madzhab beliau, ta’asub dengan dalil. Adapun aqidah maka jelas aqidah beliau adalah aqidah para salafush sholeh dan ini kita lihat dari karangan-karangan beliau termasuk diantaranya adalah kitab yang insyaAllāh akan kita pelajari bersama yaitu Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, di situ kita akan melihat bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang Asma’ dan juga Sifat Allāh ﷻ, bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang sahaba dan InsyaAllāh nanti akan kita sebutkan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya yaitu tentang muqaddimah yang berkaitan dengan kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah.Karangan-karangan beliau, disebutkan oleh Adz-Dzahabi bahwasanya beliau pernah mencoba untuk mengumpulkan karangan-karangan gurunya Syaikhul Islām Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh, kemudian beliau menyebutkan mendapatkan seribu mushonnaf yaitu seribu karangan, tulisan dan ternyata setelah beliau mengumpulkan tulisan-tulisan Syaikhul Islām beliau setelah itu melihat karangan-karangan yang lain, menunjukkan begitu banyaknya tulisan-tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, beliau rahimahullāh termasuk orang yang banyak dibukakan oleh Allāh ﷻ pintu-pintu, pintu menulis, beliau orang yang kuat didalam menulis, pintu berdakwah, berjihad dengan tangannya dengan lisannya maka ini adalah Fadlullāh, keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki dan tidak semua dari kita dibukakan oleh Allāh ﷻ untuk banyak menulis.Cuma yang perlu kita ingat kan disini menulis ini adalah perkara yang penting karena kalau kita menulis dan memiliki kitab, memiliki buku maka itu akan insyaAllāh lebih lama meskipun kita sudah meninggal dunia, namanya buku masih bisa di baca dan dibacakan dipelajari oleh orang lain. Adapun seseorang hanya berbicara saja apalagi tidak ada di sana rekaman maka ketika dia meninggal dunia hilang begitu saja, maka penting seseorang di sini menulis. Dan yang perlu diketahui di sini hendaklah seseorang menulis apa yang memang dibutuhkan oleh manusia artinya bukan hanya sekedar menulis dan punya buku tapi dia menulis sesuatu yang memang dibutuhkan.Dan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak di dalam tulisan-tulisan termasuk di antaranya adalah aqidah wasithiyah ini, kenapa beliau menulis karena ada sebabnya dan nanti akan kita sebutkan sejarah bagaimana beliau menulis kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, permintaan dari seseorang yang dia tidak mau kecuali tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimmiyah padahal di sana banyak kitab-kitab aqidah sebelum masa Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Cuma orang yang tanya tadi tidak mau kecuali yang ditulis oleh Syaikhul Islam, akhirnya beliau pun mengabulkan permintaan tersebut.Dan tulisan-tulisan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dikenal dengan bagusnya dan ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh syaikhul Islam adalah ungkapan-ungkapan yang baik dan susunannya juga sangat rapi kemudian juga dikenal beliau ini dengan taksimatnya yaitu dalam pembagian-pembagian ini luar biasa sehingga banyak para ulama para thulabul ‘ilm yang mereka bisa mengambil faedah dan banyak mengambil faedah dari pembagian pembagiannya. Dengan adanya pembagian sebuah masalah ternyata dia terbagi menjadi beberapa bagian, seseorang lebih jelas dan lebih praktis lebih paham sehingga dia tidak menyamakan sesuatu yang beda dan tidak membedakan sesuatu yang sama.Dan ada yang mengatakan bahwasanya beliau bisa berbahasa Abriah, bahasa abriah ini adalah bahasa orang-orang Yahud dan juga bisa bahasa Latiniyyah ini dipahami dari sebagian ungkapan beliau yang di mana beliau menyatakan bahwasanya bahasa Abria ini dekat dengan bahasa Arab, ini sebagian memahami bahwasanya beliau berarti paham tentang lughah tentang bahasa Abriah.Tentang sifat beliau syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari sisi akhlak beliau adalah seorang ulama yang pemurah, karīm, dan itu semua kemurahan tadi bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh beliau tapi sepertinya adalah sesuatu yang memang bawaan dari sejak kecil dan beliau adalah seorang pemberani bukan seorang pengecut, dan beliau adalah seorang yang zuhud di dalam dunia, tidak tergantung hatinya dengan sedikit pun dari dunia bahkan disebutkan bahwasanya beliau banyak meninggalkan perkara yang mubah, banyak meninggalkan perkara yang sebenarnya boleh karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan, dan tentunya ini semua menunjukkan tentang buah dari ilmu yaitu zuhud terhadap dunia dan keinginan terhadap akhirat dan bagaimana beliau meninggalkan perkara yang mubah karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan oleh Allāh ﷻ.Beliau Rahimahullāh semasa hidupnya berjihad dijalan Allāh ﷻ baik dengan lisannya, yaitu dengan berdakwah dengan lisannya dan juga dengan tulisannya, banyak menulis bagaimana jumlah tulisan-tulisan beliau dan beliau memerangi tentara Tartar dan mendorong kaum muslimin untuk berjihad dan bahkan dalam peperangan-peperangan beliau senantiasa berada di shaf yang awwal. Ini menunjukkan bagaimana beliau sebagai seorang ulama bukan hanya sekedar bisa menulis, bisa memberikan pengarahan kepada manusia, tetapi beliau menjadi orang yang menjadi contoh bagi yang lain di dalam jihad fī sabīlillāh dan mendorong manusia untuk jihad memerangi orang-orang kuffar dan jihad yang dimaksud disini tentunya adalah jihad yang syar’i bukan jihad yang dipahami oleh sebagian orang-orang yang tersesat dari jalan Allāh ﷻ.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 jam lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

TINGGALNYA ORANG-ORANG BERIMAN & ORANG-ORANG MUNAFIK

Setelah orang-orang kafir (musyrik dan ahlul kitab) digiring ke neraka, yang tersisa hanyalah orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang shalih maupun yang banyak maksiat.Mereka tetap menunggu Rabb mereka karena di dunia mereka bertauhid dan tidak menyembah sesembahan orang-orang kafir, meskipun memiliki hubungan dan kebutuhan dengan mereka dalam urusan dunia. Allah datang kepada mereka dalam bentuk yang berbeda dari yang pertama kali mereka lihat sebagai ujian bagi keimanan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di Padang Mahsyar. Ketika Allah berkata, "Aku adalah Rabb kalian", mereka berhati-hati dan berlindung kepada Allah agar tidak terfitnah. Mereka menegaskan bahwa mereka tidak pernah menyekutukan Allah sedikit pun. Ini menunjukkan keutamaan tauhid. Allah kemudian memberikan tanda yang membuat mereka mengenali-Nya. Dalam hadits disebutkan bahwa Allah menyingkap betis-Nya, dan kaum mukminin pun mengenali Rabb mereka. Kewajiban seorang muslim adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam dalil tanpa menyerupakan, menolak, menakwilkan, atau mempertanyakan bagaimana hakikatnya. Setiap mukmin yang dahulu ikhlas beribadah kepada Allah akan diberi kemampuan untuk bersujud. Adapun orang-orang munafik yang dahulu sujud karena riya' atau demi kepentingan dunia tidak mampu bersujud. Punggung mereka menjadi kaku dan rata sehingga setiap hendak sujud mereka justru terjatuh. Mereka dahulu menipu Allah dan kaum mukminin dengan menampakkan keislaman, namun pada hari itu tipu daya mereka tidak bermanfaat. Setelah itu Allah menampakkan diri kepada orang-orang beriman dalam bentuk yang mereka kenali. Mereka pun berkata, "Engkau adalah Rabb kami."

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 jam lalu
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyah : pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah bag. 2

Halaqah 27 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Muqaddimah #2Didalam sebuah hadīts yang shahīh, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ“Para nabi itu ibarat saudara sebapak. Ibu mereka berbeda-beda, agama mereka adalah satu.”(Hadīts riwayat Bukhāri 3443 dan Muslim 2365)Para nabi mereka bersaudara, ibu mereka berbeda tapi bapak mereka sama. Dan ini bukan maksud nasab secara hakiki. Tetapi disini (maksudnya) ingin mendekatkan kepada kita pemahaman tentang bagaimana aqidah dan tata cara ibadah mereka.⇒ Ibu-ibu mereka berbeda, maksudnya adalah syari’at mereka berbeda.Sebagaimana firman Allāh Azza wa Jalla:لِكُلٍّۢ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةًۭ وَمِنْهَاجًۭا ۚ“Bagi masing-masing dari kalian, kami jadikan syari’at dan juga jalan”.(QS. Al-Maidāh: 48)Syari’at yang ada di zaman nabi Mūsā berbeda dengan syari’at di zaman nabi Hūd (misalnya).Syari’at yang ada dikaumnya nabi Shālih berbeda dengan syari’at yang ada dikaumnya nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam (misalnya).Yang berbeda diantara mereka adalah syari’atnya (tatacara beribadahnya) karena kebijaksanaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka Allāh bedakan.Mungkin sebuah syari’at pas bagi sebuah kaum dan tidak pas bagi kaum yang lain, sehingga bukan keadilan jika Allāh samakan satu dengan lain. Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha Bijaksana (sehingga Allāh bedakan syari’atnya).Terkadang sebuah syari’at disyari’atkan bagi sebuah kaum tetapi tidak disyari’atkan bagi kaum yang lain.Contoh (seperti):⑴ TayammumTayammum hanya disyari’atkan untuk umat Nabi muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam saja. Adapun umat-umat sebelumnya tidak disyari’atkan Tayammum.Didalam sebuah hadīts beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا“Dijadikan untukku tanah sebagai masjid (tempat shalāt) dan untuk bersuci.”(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 438)⇒ Jadi tanah yang kita pijak ini, bisa digunakan untuk sujud sekaligus bisa untuk bersuci (tayammum) artinya jika disana tidak ada air untuk berwudhu atau untuk mandi maka bisa digantikan dengan Tayammum.Syari’at Tayammum ini tidak ada bagi umat sebelumnya dan tidak boleh mereka melakukan sujud diatas tanah langsung tapi harus ada tempat ibadah didalam ruangan.Makanya beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan :فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّMaka siapa saja dikalangan umat-ku yang mendapatkan waktu shalāt (misalnya ketika dia safar dia mendapati waktu shalāt) maka dia tidak harus menunggu hingga mendapatkan tempat untuk shalāt (masjid atau mushala), seandainya dia berhenti lalu dia shalāt diatas gurun atau tanah (misalnya) maka ini tidak masalah.⇒ Jadi Tayammum hanya disyari’atkan bagi umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan tidak disyari’atkan bagi umat sebelumnya.⑵ Masalah Halal dan HaramMasalah Halal dan haram terkadang juga berbeda, terkadang Allāh haramkan bagi sebagian kaum dan dihalalkan bagi kaum yang lain.Contoh : GhanimahNabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :وَأُحِلَّتْ لِيَ الغَنَائِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِيDan dihalalkan untuk-ku ghanimah (maksudnya untuk beliau dan disyari’atkan untuk umat beliau). Seandainya berperang dan musuh kita (orang-orang kāfir) kalah maka halal bagi kita untuk mengambil rampasan perang (bukan sesuatu yang diharamkan) seperti senjata, emas yang tertinggal bahkan tawanan mereka bisa menjadi budak yang halal bagi kaum muslimin (tentunya dengan aturan yang ada didalamnya).Adapun diumat sebelumnya (umat nabi-nabi sebelumnya) jika terjadi peperangan antara mereka dengan kufar maka tidak halal bagi mereka untuk mengambil harta rampasan perang. Meskipun dihadapan mereka tumpukan emas,hewan dan yang lainnya maka tidak halal bagi mereka untuk mengambil rampasan perang tersebut.Kalau mereka mengambil maka haram hukumnya, ini berlaku bagi umat-umat sebelumnya.⇒ Ini adalah makna أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (ibu-ibu mereka berbeda) maksudnya syari’atnya berbeda.وَدِينُهُمْ وَاحِدٌAdapun agama mereka satu yaitu Islām, maksudnya adalah semuanya dari awal hingga akhir agamanya satu yaitu menyembah hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.⇒ Islām menyerahkan diri hanya kepada Allāh.Bedanya :√ Satunya disyari’atkan Tayammum.√ Satunya TIDAK disyari’atkan Tayammum.Tapi semuanya sama hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.√ Satunya dihalalkan ghanimah.√ Satunya TIDAK dihalalkan ghanimah.Semuanya sama, menyembah dan taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Maka hadīts yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhāri ini menunjukkan bahwa para nabi dan para rasūl agama mereka satu yaitu ISLĀM.⇒ Dan ini adalah makna Dīnul Islām secara umum.Kemudian disana ada makna agama Islām secara khusus yaitu Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan inilah yang dimaksud oleh beliau (pengarang) didalam ucapan beliau :معرفة دين الإسلام بالإدلةKita mengenal agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, karena kita mengaku sebagai pengikut beliau dan pemeluk agama Islām. Maka kewajiban kita adalah mengenal agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian kalau kita cermati (nanti) ternyata didalam agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam didalamnya juga ada istilah Islām.Jadi yang paling luas Islām adalah agama seluruh nabi dan rasūl, lebih khusus adalah agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Dan agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan;⑴ Islām (الإسلام)⑵ Imān (الإيمان)⑶ Ihsān (الإحسان)√ Islām mewakili amalan-amalan yang dhāhir.√ Imān mewakili amalan-amalan yang bathin.√ Ihsān adalah puncak didalam melakukan amalan yang dhāhir maupun yang bathin.Dīn (دِينَ) disini maksudnya adalah Dīnul Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ucapan beliau (rahimahullāh) :بالإدلة“Dengan dalīl-dalīlnya”Kita ingin mengenal agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan dalīl-dalīlnya. Karena demikianlah aqidah dibangun. Seseorang boleh meyakini kalau memang ada hujjah (dalīlnya).Dalam agama Islām diajarkan kepada kita untuk meyakini sesuatu berdasarkan hujjah. Jika ada dalīl silahkan diyakini.Jadi aqidah tidak dibangun diatas khurāfat, takhayul, persangkaan semata yang tidak ada dalīlnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin.Mereka (orang-orang musyrikin) meyakini dan mengatakan sesuatu hanya dzān saja, semua itu muncul dari lisan mereka (tanpa dalīl) hanya berdasarkan persangkaan semata.Seperti ketika mereka mengatakan:هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ“Mereka itu pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh” (QS.Yūnus 18).مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ“Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allāh dengan sedekat-dekatnya” (QS. Az-Zummar :3).Malāikat adalah بنت الله ?Darimana mereka ucapkan itu semua? Dzān saja ( إِلَّا ٱلظَّنَّ) mereka tidak menyangka kecuali hanya persangkaan semata. Dan demikian yang dilakukan oleh pengikut-pengikut mereka sampai saat ini.Mereka mengatakan sesuatu yang tidak jelas dalīlnya, hanya dzān dan juga takhārus, takhabut, tidak ada disana sesuatu yang berdasarkan dalīl yang shahīh.Maka beliau rahimahullāh mengajak kita untuk mengenal agama Islām dengan dalīl-dalīl.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 jam lalu
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 52

Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS An Nisa 60Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Berkata Al-Mushannif rahimahullah, beliau mendatangkan Firman Allāh ﷻوقوله تعالى : {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء : 60](Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.)Allāh mengatakan,Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwasanya mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, yaitu Al-Qur’an.وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَDan beriman dengan apa yang diturunkan sebelummu. Yakni Taurat, Injil dan seterusnya.يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka mengaku muslim, karena mungkin sudah bersyahadat di depan Nabi, atau depan para sahabat, tapi ketika terjadi masalah di antara mereka, bukan mengembalikan keputusan dari permasalahan tadi kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, bahkanيُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Padahal sudah menyangka bahwasanya mereka adalah katanya beriman kepada Al-Qur’an, katanya beriman dengan apa yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam. Tapi ketika terjadi permasalahan, persengketaan, justru malah bertahakum kepada thaghut.Dan di antara makna thaghut adalahمن حكم بغير ما أنزل اللهSudah berlalu ketika membahas tentang Tsalatsatul Ushul.Dan masuk di dalam thaghut adalah setiap orang yangمن ادّعى علم الغيبSetiap orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghoib.Ada di antara mereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Misalnya kepada dukun, atau bertahakum kepada orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.Harusnya apa? Kalau memang dia muslim, maka wajib untuk Islam kullihi, bukan hanya sekedar dalam masalah ibadah, dalam masalah aqidah, tapi ketika terjadi persengketaan dalam masalah muamalah ataupun yang lain, maka seorang muslim, dia harus masuk ke dalam Islam semuanya. Yaitu menyerahkan keputusan dari persengketaan tadi kepada Allah dan juga rasul-Nya, bukan kepada thaghut. Ini menguatkan tentang kewajiban masuk ke dalam Islam semuanya. Ya, termasuk di antaranya ketika ada perselisihan.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِDan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri thaghut tersebut.Mereka diperintahkan untuk mengingkari thaghut, mengingkari dukun, mengingkari setiap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, dan kita diperintahkan untuk beriman dengan Allah.{فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا} [البقرة : 256](Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.)Mereka sudah diperintahkan untuk mengingkari thaghut, dan ini adalah bagian dari Islam.الإسلام الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهلهItu bagian dari Islam.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِMereka sudah diperintahkan untuk mengingkari thaghut. Karena mengingkari thaghut adalah bagian dari Islam. Tapi kok masih bertahakum kepada thaghut. Berarti di sini belum masuk ke dalam Islam kullihi. Padahal wajib bagi mereka untuk masuk ke dalam Islam kullihi.وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًاDan syaitan ingin untuk menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.Dalam ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang munafik, yang di antara sifat mereka, kesenangan mereka, kemauan mereka, untuk bertahakum bukan kepada Allah dan rasul-Nya. Karena mereka memang tidak beriman. Tapi tahakumnya adalah kepada thaghut.Dari mana kita berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan?Tadi sudah disebutkan di dalam firman Allah Azza wa Jallaوَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِDan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut.Dan mengingkari thaghut, ini adalah termasuk makna Islam.Karena Islam adalahالاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهلهIni mengingkari thaghut.Ketika mereka berhukum dengan thaghut, berarti mereka telah meninggalkan satu di antara konsekuensi keislaman mereka. Karena konsekuensi keislaman, adalah Islam di seluruh perkara. Termasuk di antaranya adalah di dalam masalah tahakum, yaitu berhukum. Maka harus yakin bahwasanya apa yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya ini adalah keputusan yang paling benar, adalah keputusan yang paling baik, untuk dirinya dan orang lain. Itu keyakinan seorang muslim.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 jam lalu
P
Puji

📍 Kota Bekasi

Halaqah 2 Muqaddimah Kitab Ta’dzimul Ilmi

Halaqah yang ke dua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Masuklah sekarang beliau pada Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilmi. Tentunya dimulai dari muqaddimah yang ada di dalam Kitab Ta’dzhimul ‘Ilmi.Beliau mengatakan,بسم الله الرحمن الرحيمJadi kitab Ta’dzhimul ‘Ilm juga dimulai dengan basmalah.  الحمد لله، وأشهد ألَّ إله إلَّ الله، وأشهد أنَّ محمَّدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، وعلىٰ آله وصحبه عدد من تعلَّم وعلَّمSetelah membaca basmalah sebagaimana tadi beliau memuji Allah subhanahu wa taala dan bersyahadat dengan dua kalimat Syahadat dan mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.أمَّا بعدُAdapun setelahnya,فإنَّ حظَّ العبد من العلم موقوفٌ علىٰ حظِّ قلبه من تعظيمه وإجلالهIni muqaddimah yang bagus yang hendaklah kita memahaminya.Sesungguhnya, kata beliau, bagian seorang hamba terhadap ilmu (besar kecilnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki, banyak sedikitnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki) itu tergantung pada pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri.فمن ٱمتأ قلبه بتعظيم العلم وإجلالهMaka barangsiapa yang penuh hatinya ini dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin berisi hatinya dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin mengagungkan ilmu,صلُح أن يكون محلا لهMaka hati tersebut pantas untuk menjadi tempat bagi ilmu itu sendiri.وبقدر نقصان هيبة العلم في القلب؛ ينقص حظُّ العبد منهDan sesuai dengan semakin berkurang pengagungan seseorang terhadap ilmu, maka akan semakin berkurang juga ilmu yang bermanfaat yang ada pada orang tersebut.حتىَّٰ يكونَ من القلوب قلبٌ ليس فيه شيءٌ من العلمSehingga di sana ada hati-hati manusia yang tidak ada di dalamnya sedikit pun ilmu.Karena pengagungan dia terhadap ilmu di dalam hatinya itu kosong, karena tidak ada pengagungan, maka tidak ada sama sekali ilmu di dalam hatinya.Ini bisa kita rasakan pada diri kita sendiri dan kita bisa melihat orang yang ada di sekitar kita. Semakin dia mengagungkan ilmu, maka ilmu semakin betah untuk tinggal di dalam hatinya. Tapi semakin berkurang pengagungan dia terhadap ilmu, maka akan semakin berkurang juga ilmu yang ada pada dirinya.فمن عظَّم العلم لاحت أنواره عليه، ووفَدَت رُسل فنونه إليهMaka barangsiapa yang mengagungkan ilmu (ilmu yang bermanfaat), maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu tersebut pada dirinya.Barangsiapa yang mengagungkan ilmu maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu pada diri orang tersebut. Al jaza min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amalannya), dan kemudian akan berdatanganlah cabang-cabang dari ilmu tersebut kepadanya ketika dia mengagungkan ilmu tersebut di dalam hatinya. Maka akan dengan senang hati cabang-cabang dari ilmu itu mendatangi orang tersebut. Bukan hanya pokok-pokok dari ilmu tapi juga cabang-cabangnya akan mendatangi orang tersebut karena dia mengagungkan ilmu.ولم يكن لهمَّته غايةٌ إلا تلقِّيه، ولا لنفسه لذَّةٌ إلاَّ الفكرُ فيهKalau orang sudah mengagungkan ilmu, maka tidak ada keinginan yang puncak bagi dirinya kecuali ingin mendapatkan ilmu tersebut, keinginan dia yang paling besar adalah mendapatkan ilmu tersebut sebagaimana para ulama mereka mendapatkan ilmu tersebut. Dan tidak ada di dalam dirinya kelezatan kecuali ketika dia memikirkan ilmu tersebut.Kelezatan dia bukan pada tontonan, bukan apa yang dia dengar tapi kelezatan dia adalah ketika dia memikirkan ilmu tersebut. Dia merasakan kenikmatan tersebut tidak dirasakan oleh orang lain.وكأنَّ أبا محمَّدٍ الدَّارميَّ الحافظ رَحِمَهُ الله لَمَحَ هٰذا المعنىٰ فَخَتَمَ كتاب العلم من سننه المسمَّاة ب”المسند الجامع” ببابٍ في إعظام العلمSepertinya (kata Syaikh) Abu Muhammad Ad-Darimi Al-Hafidz beliau mengisyaratkan pada makna ini, yaitu makna bahwasanya orang yang mengagungkan ilmu maka dia akan mendapatkan ilmu. Kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.Di dalam kitab beliau Al-Musnad atau dikenal dengan Sunan Ad-Darimi maka beliau menutup kitabnya dengan sebuah bab yang isinya adalah tentang pengagungan ilmu dan ini beliau taruh di akhir. Sepertinya beliau ingin menunjukkan bahwasanya tidak mungkin mendapatkan ilmu kecuali orang yang mengagungkan ilmu. Kemudian beliau mengatakan,وأعونُ شيءٍ علىٰ الوصول إلىٰ إعظام العلم وإجلاله: معرفةُ معاقد تعظيمهDan perkara yang paling membantu kita, setelah kita mengetahui bahwasanya ternyata rumus untuk mendapatkan ilmu kita harus punya pengagungan terhadap ilmu, itu sudah menjadi rumus, kalau kita punya pengagungan kita akan mendapatkan ilmu kalau kita tidak mengagungkan ilmu, maka jangan berharap kita bisa mendapatkan ilmu tersebut.Kata Syaikh untuk mendapatkan di dalam hati kita pengagungan yang besar terhadap ilmu maka hal yang sangat membantu supaya kita sampai kepada sikap mengagungkan terhadap ilmu itu adalah kita harus mengenal simpul-simpul dari pengagungan terhadap ilmu. Karena dari mengenal itulah baru kita bisa mengamalkan, kalau kita tidak mengenal bagaimana kita bisa mengamalkan.وهي الأصول الجامعة، المحقِّقَةُ لِعَظَمَة العلم في القلبYang dimaksud dengan simpul tadi itu adalah pokok-pokok yang menyeluruh, prinsip-prinsip dasar yang menyeluruh, yang akan mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita.Syaikh ingin menyebutkan untuk kita supaya kita tahu, kemudian kita bisa mengamalkan, dan kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu tersebut di dalam diri kita.فمن أخذ بها كان معظِّمًا للعلم مجِلًّ لهMaka barangsiapa yang mengambil simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu tadi, dia ambil, dia pahami dan dia praktekkan, maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu.ومن ضيَّعها فلنفسه أضاعTapi barangsiapa yang menyia-nyiakan simpul-simpul tadi, mungkin dia belajar tapi dia tidak mengamalkan simpul-simpul tadi, dia dengarkan dan dia tinggalkan, berarti dia telah menyia-nyiakan simpul-simpul tadi.Dia tidak mengamalkan dia tidak mempraktikkan dalam kehidupan dia sehari-hari atau dalam kehidupan dia dalam menuntut ilmu, maka orang tersebut pada hakikatnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Karena ketika dia menyia-nyiakan simpul-simpul tadi akhirnya dia tidak mengagungkan ilmu. Kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka akhirnya dia tidak mendapatkan ilmu. Dan orang yang tidak mendapatkan ilmu, dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, meridhoi dirinya dalam keadaan bodoh. Ridha kalau dirinya dalam keadaan tidak tahu tentang agama Allah ﷻ. Maka dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, karena rata-rata musibah itu sebabnya adalah karena kebodohan. Sebaliknya, dengan ilmu, seseorang berarti dia dikehendaki kebaikan oleh Allah.مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِBarangsiapa yang Allah ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan dia paham tentang agamanya.Kalau kita membiarkan diri kita dalam keadaan bodoh berarti kita telah menyia-nyiakan diri kita sendiri. Kita dalam keadaan bodoh karena kita tidak mau mengagungkan ilmu sehingga ilmu pun tidak mau betah di dalam diri kita, kita pun dalam keadaan bodoh. Makanya kita belajar mempelajari simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu supaya kita mendapatkan ilmu.ولِهَواه أطاعDan dia telah mengikuti hawa nafsunya.Simpul-simpul yang akan beliau sebutkan itu kebanyakan atau semuanya bertentangan dengan hawa nafsu. Jadi kalau kita menyia-nyiakan simpul-simpul tadi berarti kita sebenarnya mengikuti hawa nafsu kita, karena apa yang beliau sebutkan berupa prinsip dan juga simpul dalam mengagungkan ilmu itu rata-rata bertentangan dengan hawa nafsu.فلا يلومنَّ – إن فتَر عنه – إلَّ نفسهMaka janganlah dia mencela kalau sampai dia terputus dari ilmu kecuali dirinya.Kalau terjadi musibah atau dia tidak mendapatkan ilmu, karena dia tidak mengikuti simpul-simpul tadi, tidak mempraktekkan simpul-simpul tadi. Seandainya dia suatu saat putus dari ilmu dan tidak istiqomah di atas ilmu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri. Nasihat sudah datang dari para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam sampainya mereka kepada ilmu.Kemudian beliau mendatangkan pemisalan.يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَDua tanganmu itulah yang mengikat dan mulutmu yang meniup.Ini adalah sebuah permisalan ketika ada seseorang yang dia ingin menyeberang sungai kemudian dia ingin menggunakan kirbah, sebuah tempat yang digunakan untuk menaruh air, zaman dulu terbuat dari kulit yang dihilangkan isinya, yaitu dihilangkan airnya kemudian ditiup dan diikat sehingga isinya adalah udara berfungsi seperti ban kalau di zaman kita.Ditiup kemudian diikat dengan tangannya kemudian dia pun menyeberangi sungai tersebut tapi dia mengikatnya tidak benar, mengikatnya tidak sungguh-sungguh. Akhirnya ketika dia menyeberang dia pun terseret tidak bisa mengambil faedah dari kirbah tadi, kemudian dikatakan,يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَKedua tanganmu yang mengikat dan mulutmu sendiri yang meniup.Bukan tanganku yang mengikat dan bukan mulutku yang meniup, tapi antum sendiri yang melakukan. Sehingga ini adalah permisalan bagi orang yang dia terkena bencana/musibah karena perbuatan dia sendiri.ومن لا يُكْرِمُ العلمَ لا يُكرِمُه العلمُDan barangsiapa yang tidak menghormati ilmu, tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan memuliakan dia.Balasan itu sesuai dengan amal. Kalau kita mengagungkan ilmu, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat derajat kita.يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚAllah ﷻ akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu, karena mereka mengagungkan ilmu sehingga Allah ﷻ pun mengangkat derajat mereka.إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَSesungguhnya Allah ﷻ mengangkat dengan Kitab ini (Al-Quran) beberapa kaum dan merendahkan kaum yang lain.Sehingga kembali kepada diri kita masing-masing. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang kita mengetahui tentang keutamaannya, dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam surga.مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِKalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang di situ kita termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ dan diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harus menempuh dan mempraktekkan prinsip-prinsip yang merupakan bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama ini.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 jam lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 52 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Secara Hakikat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ABeliau mengatakan rahimahullāh,وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة،و ليس بمخلوق ككلام البريةDan mereka (Ahlussunnah wal jama’ah), karena disini Al Imam Abu Ja’far Ath thohawiy kita tahu sedang menceritakan kepada kita aqidah Ahlu Sunnah wal jama’ah.Dan mereka meyakini (keyakinan lawan dari keragu²an) meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada keraguan didalamnya,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ..[QS Al-Hujurat 15]Mereka beriman kepada Allāh dan RasulNya, dan kemudian mereka tidak ada keraguan.Tidak ada keraguan didalam keyakinan tersebut.وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَDan mereka adalah orang² yang yakin dengan ayat² Kami,أنه كلام الله تعالى بالحقيقةMereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah KalamullahبالحقيقةSecara hakiki,Ini adalah penekanan karena mungkin ada diantara Ahlu bida’ yang mereka mengatakan kita meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi ini adalah majas, bukan itu yang dimaksud, itu adalah keyakinan Ahlu bida’, adapun kita meyakini bahwasanya itu adalah Kalamullah, Allāh yang pertama kali berbicara disampaikan kepada Malaikat Jibril disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, tapi yg pertama kali berbicara adalah Allāh subhanahu wa ta’ala, Allāh berbicara, Allāh memilih sifat Kalam hakiki, Allāh berbicara sebagaimana yang Allāh kabarkan banyak didalam Al-Qur’an, Allāh berbicara dana Allāh mewahyukan dan kalimat hakikoh bukan berarti menyerupakan Allāh dengan makhluk secara hakiki kemudian dibayangkan bahwasanya ucapan Allāh sama dengan makhluk (Tidak) hakikoh sesuai dengan keanggunganNya, Allāh berbicara secara hakiki tapi bicaranya Allāh tidak sama dengan bicaranya makhluk, makhluk memiliki hakikat dan Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki hakikat, makhluk ketika dia memiliki sifat dia memiliki hakikat, demikian Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat dan juga memiliki hakikat, masing² memiliki hakikat bukan berarti seseorang meyakini bahwasanya Allāh berbicara didalam Al-Qur’an bilhakikat/maksudnya sama dengan ucapan makhluk.Ini adalah bantahan bagi Jam’iyyah dan Mua’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi majas, disandarkan kepada Allāh secara majas, hakikatnya Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan ucapan (kata mereka) jadi mereka bukan Allāh berbicara tapi Allāh menciptakan ucapan disandarkan kepada Allāh/dikatakan kepada Allāh tapi itu adalah majas, hakikatnya bukan demikian, hakikatnya Allāh menciptakan ucapan diluar diriNya kemudian disandarkan itu kepada Allāh secara majas, dan kita tahu bahwasanya sesuatu yang disandarkan kepada Allāh ada dua jenis, terkadang disandarkan kepada Allāh berupa makna/berupa sifat, maka ini tentunya bukan makhluk seperti kalamullah ini adalah sifat Allāh, Al Kalam disini adalah sifat Allāh, disandarkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, ini adalah idhofatu Asyifa Illa Mursi , kemudian disana ada idhofatu A’yan, disandarkan makhluk kepada Al Kholiq, seperti misalnya laqotallah, laqoh (unta) disandarkan kepada Allāh ini adalah bukan laqoh sifat bagi Allāh (bukan) tapi ini adalah penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, atau baitullah ini juga penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, Abdullāh, Masjidullah maka ini penyandaran makhluk kepada Al Kholiq.Yang dimaksud dengan firman Allāhحَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِفَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ[QS Al Baqarah 75]Maka ini semua idhofatu Asyifa Illa Al Mau’su, penyandaran sifat kepada yang disifati.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 jam lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 52

Halaqah 52 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Secara HakikatKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة،و ليس بمخلوق ككلام البريةDan mereka (Ahlussunnah wal jama’ah), karena disini Al Imam Abu Ja’far Ath thohawiy kita tahu sedang menceritakan kepada kita aqidah Ahlu Sunnah wal jama’ah.Dan mereka meyakini (keyakinan lawan dari keragu²an) meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada keraguan didalamnya,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ..[QS Al-Hujurat 15]Mereka beriman kepada Allāh dan RasulNya, dan kemudian mereka tidak ada keraguan.Tidak ada keraguan didalam keyakinan tersebut.وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَDan mereka adalah orang² yang yakin dengan ayat² Kami,أنه كلام الله تعالى بالحقيقةMereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah KalamullahبالحقيقةSecara hakiki,Ini adalah penekanan karena mungkin ada diantara Ahlu bida’ yang mereka mengatakan kita meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi ini adalah majas, bukan itu yang dimaksud, itu adalah keyakinan Ahlu bida’, adapun kita meyakini bahwasanya itu adalah Kalamullah, Allāh yang pertama kali berbicara disampaikan kepada Malaikat Jibril disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, tapi yg pertama kali berbicara adalah Allāh subhanahu wa ta’ala, Allāh berbicara, Allāh memilih sifat Kalam hakiki, Allāh berbicara sebagaimana yang Allāh kabarkan banyak didalam Al-Qur’an, Allāh berbicara dana Allāh mewahyukan dan kalimat hakikoh bukan berarti menyerupakan Allāh dengan makhluk secara hakiki kemudian dibayangkan bahwasanya ucapan Allāh sama dengan makhluk (Tidak) hakikoh sesuai dengan keanggunganNya, Allāh berbicara secara hakiki tapi bicaranya Allāh tidak sama dengan bicaranya makhluk, makhluk memiliki hakikat dan Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki hakikat, makhluk ketika dia memiliki sifat dia memiliki hakikat, demikian Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat dan juga memiliki hakikat, masing² memiliki hakikat bukan berarti seseorang meyakini bahwasanya Allāh berbicara didalam Al-Qur’an bilhakikat/maksudnya sama dengan ucapan makhluk.Ini adalah bantahan bagi Jam’iyyah dan Mua’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi majas, disandarkan kepada Allāh secara majas, hakikatnya Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan ucapan (kata mereka) jadi mereka bukan Allāh berbicara tapi Allāh menciptakan ucapan disandarkan kepada Allāh/dikatakan kepada Allāh tapi itu adalah majas, hakikatnya bukan demikian, hakikatnya Allāh menciptakan ucapan diluar diriNya kemudian disandarkan itu kepada Allāh secara majas, dan kita tahu bahwasanya sesuatu yang disandarkan kepada Allāh ada dua jenis, terkadang disandarkan kepada Allāh berupa makna/berupa sifat, maka ini tentunya bukan makhluk seperti kalamullah ini adalah sifat Allāh, Al Kalam disini adalah sifat Allāh, disandarkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, ini adalah idhofatu Asyifa Illa Mursi , kemudian disana ada idhofatu A’yan, disandarkan makhluk kepada Al Kholiq, seperti misalnya laqotallah, laqoh (unta) disandarkan kepada Allāh ini adalah bukan laqoh sifat bagi Allāh (bukan) tapi ini adalah penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, atau baitullah ini juga penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, Abdullāh, Masjidullah maka ini penyandaran makhluk kepada Al Kholiq.Yang dimaksud dengan firman Allāhحَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِفَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ[QS Al Baqarah 75]Maka ini semua idhofatu Asyifa Illa Al Mau’su, penyandaran sifat kepada yang disifati.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 jam lalu
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 1 Al aqidah Al Wasithiyyah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Dan pada kesempatan kali ini yang akan kita sampaikan adalah tentang biografi dari Mu’allif yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.Dan ini adalah apa yang sudah kita biasakan selama ini sebelum kita membahas sebuah kitab terlebih dahulu kita mengenal siapa pengarang kitab ini, supaya kita juga mengetahui tentang kedudukan kitab ini. Dan di antara faedah yang lain juga ketika kita mempelajari biografi para ulama, apalagi mereka adalah ulama-ulama yang sudah dikenal ketakwaannya, ilmunya, dan telah diambil faedahnya oleh banyak kaum muslimin, maka tentunya di dalam pembacaan biografi mereka ini akan banyak pelajaran yang bisa kita ambil, yang dengannya seseorang akan semakin semangat didalam menuntut ilmu, semakin bersabar apabila mereka membaca tentang kesabaran para ulama didalam menuntut ilmu, dalam mengajarkan ilmu, didalam berdakwah.Maka beliau rahimahullāh, nama beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Al Khadr bin Muhammad bin Al Khadr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Harani. Ada yang mengatakan bahwasanya kenapa beliau dikenal dengan Ibnu Taimiyyah, siapakah Ibnu Taimiyyah, ada yang mengatakan bahwasanya laqab Taimiyyah bahwa kakek beliau yang kelima yaitu Muhammad Ibnu Khadr pernah beliau melakukan haji melalui sebuah daerah yang dinamakan dengan Taima’. Kemudian di sana beliau melihat seorang anak wanita dan ketika beliau pulang kembali mendapatkan bahwasanya istri beliau sudah melahirkan yaitu melahirkan seorang anak wanita. Kemudian beliau mengatakan “Ya Taimiyah! Ya Taimiyah!” menisbahkan anak tersebut kepada Taima’, dan Taima’ ini adalah sebuah daerah dekat Tabuk sehingga dilaqabi dengan Taimiyah.Kemudian beliau dilahirkan pada hari Senin, 10 bulan Rabi’ul Awal pada tahun 661 Hijriyah di Harran, dan Harran ini termasuk daerah Syam. Dan laqob beliau adalah Syaikhul Islām, Syaikhul Islām Taqiyuddin, sehingga terkadang dalam penyebutan beliau sebagian ulama mengatakan qāla Syaikhul Islām atau mengatakan qāla taqiyuddin dan semisalnya atau terkadang menyebutkan kunyah beliau yaitu Abul Abbas, lakoqnya Syaikhul Islām Taqiyuddin dan kunyahnya adalah Abul Abbas.Tentang makna Syaikhul Islām ada yang mengatakan bahwasanya dinamakan Syaikhul Islām, Syaikh itu artinya adalah orang yang sudah tua dan ada yang mengatakan seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah syaikhun fil islām qad syāba, dia adalah orang yang sudah memasuki waktu tua yaitu sebagai seorang yang sudah syaikh yaitu sudah tua dan beliau beda dengan yang lain yaitu beda dengan orang-orang yang sebaya dengan beliau yang biasanya mungkin yang namanya pemuda ini bergelimang dengan syahwatnya dengan nafsunya adapun beliau maka berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain sehingga dinamakan dengan Syaikhul Islām, ada yang mengatakan demikian.Dan ada yang mengatakan bahwasanya seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah tempat kembalinya manusia yaitu dalam bertanya, dalam bertanya tentang hukum-hukum Islam, mereka kembalinya kepada orang tersebut tentunya setelah Allāh ﷻ. Kembali kepada Allāh ﷻ kemudian menjadikan beliau-beliau ini yang dilaqobi oleh manusia oleh para ulama dengan Syaikhul Islām karena ketika ada sesuatu mereka kembali kepada para ulama tadi, bertanya kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai sandaran di dalam bertanya. Ini di antara sebab kenapa dinamakan seseorang sebagai Syaikhul Islām, dan Al-Imam as Syafi’I, Al-imam Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya sudah menggunakan istilah Syaikhul Islām ini sejak dahulu, ini bukan sesuatu yang baru yang ada di zaman Ibnu Tamiyah.Dan tentang keluarga beliau, ini adalah keluarga yang dikenal dengan keluarga ālu Taimiyyah, ālu artinya adalah keluarga, dan kakek dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yaitu Abdus Salam beliau adalah seorang ulama, beliau adalah Abul Barakat Majduddin, termasuk ulama Hanabilah yang dikenal dan diantara karangan-karangan beliau adalah المنتقى من أخبار مصطفى yang di Syarah dan dijelaskan oleh Asy-Syaukani di dalam kitab beliau Nail al-Authar syarh Muntaqa al-Akhbar, yaitu kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Bapak beliau yaitu Abdul Halim, beliau adalah Syihabuddin dan ini laqob beliau, namanya Abdul Halim dan kunyah beliau adalah Abul Mahasin dan beliau menjadi seorang ulama juga setelah bapaknya dan mengajarkan kepada kedua anaknya, kedua anaknya adalah Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abul Abbas kemudian saudara beliau yaitu Abu Muhammad. Saudara Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abu Muhammad ini, beliau juga seorang ulama yang mempelajari mazhab Hanbali dan dikenal dengan kepandaiannya juga di dalam ilmu agama.Jadi kalau kita melihat bapaknya, kakeknya, saudaranya, maka keluarga ini adalah keluarga yang berbarokah yaitu keluarga yang memperhatikan tentang masalah agama, masalah ilmu, dan ini yang seharusnya dilakukan oleh seseorang, bagaimana dia menjadikan keluarga dan mendidik keluarganya ini untuk cinta dengan ilmu agama semenjak mereka masih kecil. Dan tentunya ini semuanya bisa dilakukan kalau kita bisa menjadi qudwah, bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita.Apabila anak-anak kita melihat kita sibuk dengan mendengarkan ceramah, sibuk menulis, sibuk menyampaikan ilmu, maka ini memiliki pengaruh yang besar terhadap anak-anak kita. Tapi kalau kita dilihat oleh anak-anak kita sibuk dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat, menonton sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan bersama-sama dengan mereka maka ini mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan.Diantara guru-guru beliau disebutkan oleh murid beliau yaitu Ibnu Abdil Hadi, bahwasanya guru-guru Syaikhul Islām ini lebih dari 200, di antara guru beliau adalah Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Qudamah al-Maqdisi yang meninggal pada tahun 682 Hijriyah. Kemudian di antara guru beliau adalah Abdus Shomad Ibnu Asyakir ad-Dimasyqi 686 Hijriyah dan disana ada Syamsudin Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qawi al-Mardawi yang meninggal pada tahun 703 Hijriyah.Adapun murid-murid beliau maka telah berguru dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak ulama yang kita insyaAllāh mengenal mereka dan nama-nama mereka tidak asing di telinga kita, ternyata mereka ini adalah murid-murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh. Diantaranya adalah Ibnu Abdil Hadi meninggal tahun 744 Hijriyah, disana ada Adz-Dzahabi 748 hijriyah, di sana ada Ibnul Qoyyim yang meninggal 751 Hijriyah, di sana ada Ibnu Muflih yang mengarang الآداب الشرعية yang meninggal pada tahun 763 Hijriyah, dan di sana ada Ibnu Katsir yang memiliki tafsir Ibnu Katsir, ternyata beliau adalah juga murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah meninggal pada tahun 774 Hijriyah.Ini menunjukkan tentang keberkahan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah bagaimana beliau bisa dengan izin Allāh ﷻ, karunia dari Allāh ﷻ mencetak para ulama-ulama yang mereka mutkin, mumpuni di dalam ilmunya dan dikenal dengan ketakwaannya dan kesungguhannya dalam menyebarkan ilmu, tentunya kita khususnya para du’ad dan juga para thulabul ilm ingin memiliki murid-murid yang demikian, murid-murid yang berbarokah yang menyampaikan ilmu setelahnya, maka kita tiru apa yang dilakukan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Tentunya tidaklah keluar ulama-ulama seperti mereka ini kecuali ketika mereka memiliki qudwah yang baik, memiliki guru yang bisa ditiru dari sisi ilmunya, dari sisi ketakwaannya, dari sisi akhlaknya dan juga perlu seorang guru memperhatikan tentang keikhlasannya dalam mengajarkan ilmu kemudian juga memperhatikan kesungguhannya dalam mengajarkan ilmu.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnyaوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 jam lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 51 | Al-Qur’an Diucapkan Allāh Disampaikan Rasulullah dan Diimani oleh Mukmin

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,منه بدا بلا كيفية قولاً، وأنزله على رسوله وحياً،Yaitu Allāh subhanahu wa ta’ala setelah mengucapkan ucapan tadi kemudian didengar oleh Malaikat Jibril maka diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi kita Muhammad ﷺ,۞ إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ ۚ …[QS An Nisa 163]Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan Nabi² setelahnya,Dan Allāh mengatakan۞ …وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُن…[QS Al An’am 19]Dan telah diwahyukan kepadaku Al-Qur’an,Allāh ucapkan kemudian Allāh wahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan perantara Malaikat Jibril sebagaiالملك الموكل بالنفخMalaikat yang ditugaskan oleh Allāh ﷻ untuk menyampaikan wahyuوأنزله على رسوله وحياً، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،Diturunkan kepada Nabi ﷺ dengan amanah disampaikan oleh Malaikat Jibril dan disampaikan dengan amanah oleh Nabi Muhammad ﷺ kemudian oleh orang-orang yang beriman dibenarkan.، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،hu disini kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ yaitu orang² yang beriman mereka membenarkan Nabi ﷺ karena Allāh subhanahu wa ta’ala menyuruh mereka dan mengatakanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِWahai orang² yang beriman hendaklah kalian beriman kepada Allāh dan Rasulnya, percayalah kalian kepada Allāh dan juga RasulNya. Maka merekapun membenarkan tidaklah mereka dikatakan orang² beriman kecuali mereka membenarkan/mengimani/mempercayaiوصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،Dan orang² yang beriman mereka mengimani dengan apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ,۞ آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ..[QS Al Baqarah 285]Rasul beriman apa yang diturunkan kepada beliau yaitu Al-Qur’an, diturunkan kepada beliau dari Allāh dan juga Orang² yang beriman mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ.كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِMasing-masing dari mereka beriman kepada Allāh dan Malaikat²Nya, Kitab²Nya, beriman kepada Rasul² Allāh

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 jam lalu
D
Dwi Susanti

📍 Kabupaten Purbalingga

Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh

Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Beliau mengatakanوَأَوَّلُ مَن يَسْتَفْتِحُ بَابَ الْجَنَّةِ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلمDan yang pertama kali akan meminta dibuka pintu surga adalah Nabi Muḥammad ﷺ.Allāh ﷻ ingin menampakkan kemuliaan Nabi-Nya ﷺ di hadapan orang-orang yang beriman, dibersihkan hati orang-orang yang beriman dan digiring mereka menuju surga dengan terhormat dan dimuliakan kemudian Allāh ﷻ akan menampakan kedudukan Nabi kita Muhammad ﷺ di hadapan orang-orang yang beriman, dihadapan para Nabi dihadapan umat-umat terdahulu di hadapan umatnya sehingga mereka mengetahui kembali tentang kedudukan Rasulullāh ﷺ di hadapan manusia.Allāh ﷻ akan memberikan kehormatan kepada Beliau ﷺ memberikan syafa’at dan syafa’at ini adalah khusus bagi Beliau ﷺ yaitu syafa’at supaya dibuka pintu surga, ini salah satu diantara syafa’at yang khusus yang dimiliki oleh Rasulullāh ﷺ. Di dalam sebuah hadits Beliau ﷺ mengatakanوَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِDan aku adalah yang pertama kali akan mengetuk pintu surga, menunjukkan bahwasanya surga memiliki pintu yang harus kita imani dan pintunya sangat besar dan pintu tersebut akan diketuk oleh Rasulullāh ﷺ dan Beliaulah pertama kali mengetuk pintu surga, hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim.Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakanآتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُAku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat kemudian aku akan meminta untuk dibukakanفَيَقُولُ الْخَازِنُmaka berkata al-khāzim (penjaga surga dari kalangan malaikat)مَنْ أَنْتَSiapakah engkauفَأَقُولُmaka aku mengatakanمُحَمَّدٌAku adalah Muhammadفَيَقُولُmaka berkatalah penjaga tadiبِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَdenganmulah aku diperintah (aku diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk membukakan pintu surga ini untukmu) aku tidak akan membukakan untuk seorang pun sebelummu.Menunjukkan bahwasanya pintu surga tersebut terbuka dan Nabi ﷺ Beliaulah yang pertama kali meminta untuk dibukakan, dan ini adalah kehormatan yang luar biasa yang Allāh ﷻ berikan kepada Nabi-Nya ﷺ dan Allāh ﷻ memuliakan umat Beliau ﷺ dan mereka adalah umat yang pertama kali akan memasuki surga, sehingga di sini Syaikhul Islam mengatakanوَأَوَّلُ مَن يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنَ الأُمَمِ أُمَّتُهُDan yang pertama kali akan masuk ke dalam surga di antara umat-umat, diantara umat umat para Nabi dari yang pertama sampai Rasulullāh ﷺ dan mereka adalah Ahlul Jannah orang-orang yang beriman maka yang pertama kali akan masuk ke dalam surga di antara umat-umat tadi adalah umatnya Rasulullāh ﷺ, Allāh ﷻ muliakan Nabi ﷺ dan Allāh ﷻ muliakan umat Beliau ﷺ.Di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakanنَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِKita ini adalah orang-orang yang terakhir, karena kita adalah pengikut dari Nabi yang terakhir berarti kita ini umat yang terakhir, umat-umat yang lain itu ada sebelum kita, tapi kita ini adalah orang yang pertama di hari kiamat, selain pertama kali dihisab kita adalah yang pertama kali akan masuk kedalam surgaوَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَDan kita adalah yang akan pertama kali masuk ke dalam surga, hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim dan lafadzhnya adalah lafadzh Imam Muslim. Maka ini adalah keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada umat islam dimana mereka akan dimuliakan oleh Allāh ﷻ sehingga menjadi yang pertama masuk ke dalam surga padahal mereka adalah umat yang terakhir.Dan tentunya umat Rasulullāh ﷺ sendiri mereka bertingkat-tingkat, ada yang keimanannya tinggi dan ada diantara mereka yang lebih rendah daripada itu dan Allāh ﷻ Maha Adil, Allāh ﷻ tidak akan menyamakan tentunya diantara umat Rasulullāh ﷺ, Allāh ﷻ akan kedepankan siapa yang memang berhak di depan, sehingga disebutkan dalam hadits bahwasanya Nabi ﷺ mengatakanأوَّلُ زمرةٍ تَلِجُ الجنَّةَ صورَتُهم على صورةِ القمرِ ليلةَ البدرِRombongan yang pertama akan masuk ke dalam surga (diantara umat Nabi ﷺ) wajah mereka adalah seperti bulan di malam bulan purnama, dan di antara hadits yang menunjukkan demikian adalah sabda Nabi ﷺلَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً، أَوْ سَبْعُمِائَةِ أَلْفٍ مُتَمَاسِكُونَ. آخِذٌ بَعْضُهُمْ بَعْضاً. لاَ يَدْخُلُ أَوَّلُهُمْ حَتَّى يَدْخُلَ آخِرُهُمْ وَجُوهُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِAkan masuk surga diantara umatku 70.000 atau 700.000 (ini ada keraguan dari rawi) mereka saling memegang satu dengan yang lain (menunjukkan bagaimana ukhuwah kekompakan mereka) sampai masuklah yang pertama dan terakhir di dalam surga dan wajah-wajah mereka itu seperti cahaya bulan di malam bulan purnama.Ucapan Beliau ﷺ sampai masuk awal dan akhir mereka ke dalam surga maksudnya adalah mereka masuk dalam satu shaf secara serentak, 70.000 tadi dalam satu shaf secara serentak menunjukkan tentang besarnya pintu surga, kalau itu adalah pintu surga lalu bagaimana dengan surga itu sendiri, pintunya saja demikian besarnya lalu bagaimana dengan surga itu sendiri.Disebutkan dalam hadits bahwasanya orang-orang faqir Muhajirin itu akan lebih dahulu masuk surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya Muhajirin, orang-orang yang berhijrah ada yang kaya ada yang miskin, yang miskin diantara orang-orang Muhajirin itu lebih mendahului orang-orang kaya di antara mereka 40 tahun dan ini menunjukkan tentang bagaimana mereka terlebih dahulu karena mereka dihisabnya lebih sedikit tapi ini tidak menunjukkan bahwasanya setiap yang faqir di kalangan Muhajirin ini lebih afdhal daripada yang kaya di antara mereka.Allāh ﷻ lebihkan mereka lebih dahulu masuk surga tapi belum tentu lebih afdhal secara derajat daripada orang-orang kaya di kalangan Muhajirin, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq Utsman bin Affan Abdurrahman bin Auf rodhiyallohu’anhum mereka adalah orang-orang yang kaya di antara para sahabat Al-Muhajirin.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 1️⃣ Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidul Islam Bag-1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Insya Allah kita akan mempelajari bersama kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab.❣️Penulis kitab ini adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi yang lahir pada tahun 1115 H di Uyainah, sebuah daerah di Jazirah Arab.Beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat memperhatikan ilmu agama. Beliau memulai menghafal Al Qur’an sejak kecil, sehingga beliau pun menyelesaikan hafalannya sebelum berumur 10 tahun. Kemudian mulailah beliau menuntut berbagai cabang ilmu agama, seperti tafsir, fiqih, akidah, dan lain-lain.Diantara guru pertama beliau adalah Syeikh Abdul Wahab bin Sulaiman, bapak beliau sendiri. Kemudian setelah itu, beliau rahimahullah melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu, pergi ke kota Mekkah, Madinah, Baghdad, dan kota lainnya.Ketika beliau pergi ke kota Madinah, beliau mengambil ilmu dari Syeikh Muhammad Hayah bin Ibrahim As Sindi. Dan hampir beliau melakukan perjalanan ke Syam. Tetapi karena suatu sebab, beliau tidak bisa pergi ke sana.Beliau menghabiskan waktunya untuk mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya kepada orang lain.Selain kitab Nawaqidul Islam ini, beliau juga memiliki kitab-kitab yang lain yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin, diantaranya:• Kitabut Tauhid• Kasyfu Syubuhat• Al Ushulu Sittah• Al Ushulu Tsalatsah• Mukhtashar Zadil Ma’ad• Dan kitab-kitab yang lainSyeikh meninggal dunia pada tahun 1206 H di usia sekitar 91 tahun, setelah menghabiskan waktu dan hidupnya dengan mempelajari ilmu agama, mengajar, dan berdakwah.Kitab Nawaqidul Islam yang akan kita pelajari adalah kitab yang sangat ringkas, hanya terdiri dari beberapa halaman saja. Meskipun demikian, kitab ini mengandung perkara-perkara yang penting, yang seharusnya diketahui oleh seorang muslim.Nawaqid artinya adalah pembatal-pembatal. Jamak dari Naqidun yang artinya pembatal atau perusak.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِی نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَـٰثࣰا[Surat An-Nahl 92]“Janganlah kalian seperti seorang wanita yang merusak (mencerai beraikan) pintalannya, setelah dia kuat.”Kata نَقَضَتۡ artinya merusak atau mencerai beraikan.Lalu Allah mengatakan,ٱلَّذِینَ یَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِیثَـٰقِهِۦ[Surat Al-Baqarah 27]“Yaitu orang-orang yang merusak/membatalkan perjanjian mereka dengan Allah setelah mereka berjanji kepada Allah.”Ayat ini menceritakan tentang sifat orang yang merusak perjanjian mereka kepada Allah. Mereka berjanji kepada Allah dengan sebuah janji, kemudian membatalkannya dan merusaknya.Di dalam kitab fiqih ada istilah Nawaqidul Wudhu (perusak-perusak wudhu). Artinya amalan-amalan atau perkara-perkara yang membatalkan wudhu seseorang.Adapun Islam di sini, maka maksudnya adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang memiliki lima rukun.Dan Islam, secara bahasa adalah mashdar dari kata اَسلَمَ – يُسلِمُ (aslama – yuslimu) artinya di dalam Bahasa Arab adalah menyerahkan.Agama Islam dinamakan sebagai agama penyerahan, karena orang yang masuk dalam agama Islam berarti dia telah siap dan bersedia menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allah, siap untuk taat kepada Allah, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.Seorang Nasrani yang dahulunya dia menyembah Allah, Nabi Isa, dan Maryam, maka ketika dia masuk Islam, dia harus menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allah dan meninggalkan peribadatan kepada Nabi Isa dan Maryam.Seseorang ketika masuk ke dalam agama Islam dengan dua kalimat syahadat, maka dengannya dia dianggap sebagai seorang muslim, dijaga darahnya, kehormatannya, sebagaimana sabda Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam,‏ ‏ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ و أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى الله“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan dan bersyahadat laailaha illallaah dan bersyahadat Muhammad Rasulullah, kemudian mendirikan sholat, membayar zakat. Maka apabila mereka melakukan itu semua, sungguh mereka telah menjaga dariku darah mereka dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam. Dan hisab mereka adalah atasAllah.” (Muttafaqun ‘Alaih)Keislaman tersebut bisa batal apabila melakukan satu diantara Nawaqidul Islam. Dan pembatal-pembatal keislaman ada yang berupa ucapan, keyakinan di dalam hati, dan perbuatan anggota badan.Pembatal berupa ucapan, seperti orang yang mencela Allah dan Rasul-Nya, berdo’a kepada selain Allah, dan lain-lain, yang nanti akan datang penjelasannya, Insya Allah.Diantara dalil yang menunjukkan bahwa di sana ada ucapan yang bisa menjadikan seseorang kufur adalah firman Allah,وَلَقَدۡ قَالُوا۟ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ وَكَفَرُوا۟ بَعۡدَ إِسۡلَـٰمِهِمۡ[Surat At-Tawbah 74]“Dan sungguh mereka (yaitu orang-orang munafik) telah mengucapkan ucapan yang kufur. Dan mereka telah kufur setelah keislaman mereka.”Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
P
Puji

📍 Kota Bekasi

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 1

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Beliau adalah Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala, seorang ulama di kerajaan Saudi Arabia dan beliau adalah pengajar di Masjid Nabawi dan juga di Masjidil Haram.Dan karangan beliau yang akan kita bahas ini adalah termasuk tulisan yang sangat bermanfaat berkaitan dengan adab-adab seorang penuntut ilmu.Dan seorang yang ingin mendapatkan ilmu agama maka seharusnyalah dia mempelajari adab-adab di dalam menuntut ilmu. Ilmu bukan hanya didapatkan dengan semangat tapi harus disertai dengan adab-adab. Kalau dia tidak memperhatikan adab-adab ini, maka dikhawatirkan dia tidak bisa mendapatkan ilmu yang dia inginkan atau dengan susah payah dia mendapatkan ilmu tersebut.Dan kitab yang akan kita pelajari bersama, dia tidak terlalu panjang sehingga perlu pembahasan yang berbulan-bulan, demikian pula tidak terlalu pendek, namun sedang. Dan kita berharap semoga Allāh ﷻ memberkahi waktu kita, sehingga kita bisa menyelesaikan kitab ini dan tentunya kita berharap kita bisa mengambil manfaat dan bisa mengamalkan apa yang kita pelajari bersama ini.Beliau mengatakan, hafidzahullahu ta’ala,بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِMemulai kitabnya dengan basmalah karena mengikuti Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an, karena Allāh ﷻ memulai kitabnya dengan بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ dan juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullāh ﷺ karena Beliau ketika mengirim surat-surat yang isinya adalah dakwah, maka Beliau ﷺ memulai surat-surat tersebut dengan basmalah, dan kitab ini isinya adalah dakwah dan juga peringatan.Kemudian beliau mengatakan,الحمدُ لله الْمعظَّمِ بالتَّوحيد، وصلَّى الله وسلَّم على عبدِهِ ورسولِهِ محمَّدٍ الْمخصوصِ بأجلِّ المزيد، وعلى آله وصحبه أُولي الفضل والرَّأي السَّديدSetelah Basmalah maka beliau memuji Allāh ﷻ kemudian mengucapkan shalawat dan salam untuk Rasulullāh ﷺ dan tidak lupa beliau juga mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Beliau ﷺ para sahabat Beliau ﷺ radhiallāhu ta’ala ‘anhum jami’an.Kemudian beliau mengatakan,أمَّا بعدُAdapun setelah itu,فهذه من كتابي “تعظيمِ العلمِ” خُلاصةُ اللَّفظ، أُعِدَّت بالتقاطها لمقصَد الحفظ، فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّباب، وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍMaka ini adalah ringkasan atau inti lafadz dari kitabku yang bernama Ta’dzhimul ‘Ilm.Makanya judulnya adalah Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm. Khulashah artinya adalah inti. Kitab beliau ini adalah inti dari kitab beliau yang lain, yaitu Ta’dzhimul ‘Ilm. Berarti Ta’dzhimul ‘Ilm tentunya itu lebih luas karena ini adalah intinya.Beliau melakukan hal ini, yaitu menjadikan di sana kitab yang lain selain Ta’dzhimul ‘Ilm dan itu merupakan inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm. Beliau mengatakan maksud beliau adalah untuk dihafalkan. Maka ini diperlukan lafadz yang sedikit. Dan semakin dalam maknanya maka tentunya ini lebih bagus untuk dijadikan hafalan.فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّبابSehingga karena tujuannya adalah untuk dihafal maka diambillah dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm intinya. Jadi terkadang dirubah lafadznya.Ini perbedaan wallāhu a’lam antara ikhtishar dengan khulashah. Kalau ikhtishar ini dihilangkan seperti misalnya Mukhtashar Shahih Al-Bukhari maka dihilangkan sanadnya misalnya.Tapi kalau khulashah, maka ini mungkin saja di situ ada perubahan lafadz karena yang dimaksud dengan khulashah adalah naqawah, yaitu intinya.وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍKemudian dijadikan di sana contoh dari setiap bab.Beliau berusaha mendatangkan intinya kemudian mendatangkan pemisalannya.ليكونَ في نفوس الطَّلبة شمسَ النَّهار، ويتَرشَّحوا بعدَه إلى العمل والادِّكارDibuat tidak sepanjang Ta’dzhimul ‘Ilm tapi dijadikan di sana intinya saja kemudian dibuat di sana permisalan adalah supaya:Menjadi seperti matahari di siang hari bagi para penuntut ilmu.Maksudnya di sini adalah supaya menjadi lebih jelas perkaranya, sebagaimana terangnya matahari di siang hari, sehingga mudah dipahami oleh para penuntut ilmu agama.Kemudian bukan hanya dari sisi keilmuan dan kejelasan dan juga kepahaman, tapi supaya mereka mempersiapkan dirinya setelah itu, yaitu setelah memahami untuk mengamalkan dan juga mengingat-ingat atau mengambil pelajaran, dia bisa mengamalkan kalau dia bisa memahami.Dia bisa memahami kalau dibuat bukunya tadi, dicarikan intinya, dan dibuat permisalan. Karena terkadang kalau terlalu panjang kitabnya, mungkin sebagian penuntut ilmu malah tidak paham. Kalau tidak paham, bagaimana dia bisa mengamalkan dan bagaimana dia bisa mengambil pelajaran. Tapi ketika dibuat intinya, maka dia bisa memahami, kemudian setelah itu dia bisa mengamalkan, dan itu yang kita harapkan.Tujuan kita menuntut ilmu adalah untuk mengamalkan, bukan hanya sekedar dihafal.Maka tentunya ini adalah maksud yang sangat baik dan muafaq dari Syaikh, beliau menjadikan di sana inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm Kemudian beliau beri nama dengan Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm tujuannya adalah supaya bisa dipahami oleh kita semuanya dan dari situ bisa kita amalkan dan kita bisa mengambil pelajaran.Kemudian beliau berdo’a,فأسألُ اللهَ لي ولهم لزومَ معاقدِ التَّعظيم، والفوزَ بجوامعِ فضلِهِ العظيمMaka aku meminta kepada Allāh ﷻ untukku dan untuk mereka (para penuntut ilmu).Beliau mendoakan untuk beliau sendiri karena asalnya memang kita mendo’akan untuk diri kita sendiri, kemudian tidak lupa beliau mendo’akan untuk para penuntut ilmu, mendo’akan dengan kebaikan, yaitu supaya mereka melazimi dan berpegang teguh dengan simpul-simpul (prinsip-prinsip) pengagungan terhadap ilmu, bukan hanya sekedar memahami kitab beliau tapi juga berpegang teguh dan istiqamah di atas simpul pengagungan tadi, kemudian dan juga keberuntungan mendapatkan karunia yang besar dari Allāh ﷻ.Dan yang pertama tadi yang kita baca adalah mukadimah dari kitab Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 1 : Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman dengan Para Rasul

Halaqah 1 : Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman dengan Para RasulOleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APokok-pokok keimanan yang harus diimami oleh seorang hamba Adalah beriman kepada para rasul Allah·       Pengertian RasulullahDefinisi: Rasulun (tunggal) atau Rusulun(jamak) berarti utusan. Rasulullah berarti para utusan Allah.Mereka adalah manusia-manusia yang Allah pilih menjadi utusanNya kepada manusia dengan membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia.Allah berfirman : لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ“Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata…” (QS. Al-Hadid : 25).Berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma', kaum muslimin wajib hukumnya berimankepada seluruh Rasul Allah dan kekufuran kepada para rasul adalah kekufuran kepada Allah. Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin banyak manfaatnya, adapun dari Al-Quran maka Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan Kitab yang telah diturunkan kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya dan Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh” (QS. An-Nisa : 136).Adapun dari Assunah maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda Ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang apa itu Iman?الإيمان أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ“Beriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya dan hari Akhir dan engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang buruk”Beliau (Malaikat Jibril) mengatakan صَدَقْتَ (engkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.Dan para Ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada rasul-rasul Allah ‘azza wajalla.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah I

Halaqah 01Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para RasulDiantara pokok-pokok keimanan yang harus di imani oleh seorang hamba adalah beriman kepada para Rasul AllahRasuulun adalah bentuk tunggal dari rusulun, rasuulun artinya utusan, rusulun artinya utusan-utusan, Rasulullah artinya para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia yang Allah pilih menjadi utusanNya kepada manusia dengan membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. 🌷Allah berfirman :…لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ…“…Sunngguh Kami telah mengutus rasul rasul Kami dengan bukti bukti yang nyata…” (Al-Hadid 25)Al-Quran, Assunnah dan Ijma’ kaum muslimin menunjukkan tentang wajibnya beriman dengan kepada para Rasul Allah dan kekufuran kepada rasul-rasul Allah adalah kekufuran kepada Allah.Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin banyak manfaatnya, adapun dari Al-Quran maka Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan Kitab yang telah diturunkan kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya dan Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh” (An-Nisa : 136)Adapun dari Assunnah maka Nabi ﷺ bersabda ketika ditanya Malaikat Jibril tentang apa itu Iman?الإيمان أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِBeriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya dan hari Akhir dan engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang burukBeliau (Malaikat Jibril) mengatakan صَدَقْتَ (engkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.Dan para Ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada rasul rasul Allah ‘azza wajalla.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 51 | Bab 07

Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS Al Baqarah 208Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-51 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Berkata Al-Mushonnif rahimahullah :باب وجوب الدخول في الإسلام كله وترك ما سواهBab tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam semuanya, dan meninggalkan apa-apa selain agama Islam.Di dalam bab ini, beliau rahimahullah Ta’ala ingin menjelaskan kepada kita, bahwasanya di antara makna Islam yang sudah beliau sebutkan sebelumnya ketika membahas tentang tafsirul Islam, kemudian beliau menyebutkan bahwasanya di antara konsekuensi dari keislaman kita, di antaranya adalah bernama dengan nama-nama Islam, berfanatik dengan fanatik terhadap Islam, dan kita harus pegang sumber yang digunakan di dalam agama Islam dan mencukupkan diri dengan sumber yang ada di dalam agama Islam, maka beliau ingin menjelaskan di dalam bab ini, bahwasanya yang dimaksud dengan Islam yang memiliki keutamaan dan hukumnya adalah wajib, adalah menyerahkan diri secara keseluruhan.Di sini penekanan kullihi, masuk ke dalam Islam semuanya. Artinya bukanlah yang dimaksud dengan Islam hanya Islam sebagian saja. Sebagian perkara dia menyerahkan diri, tapi dalam sebagian yang lain dia masih membangkang, membantah kepada Allah, bukan itu yang dimaksud.Islam yang dimaksud adalah Islam secara kaffah, semuanya. Bukan dengan Islam di dalam sebagian amal, tapi tidak Islam dalam sebagian yang lain. Dan ini hukumnya adalah wajib, bukan sebuah anjuran saja, dianjurkan bagi Antum untuk melaksanakan Islam secara keseluruhan, kalau Antum bisa, ya alhamdulillah, kalau tidak ya tidak mengapa. Tidak demikian.Tapi di sini hukumnya sampai wajib untuk masuk ke dalam agama Islam semuanya. Masuklah Antum ke dalam Islam secara keseluruhan, jangan milih-milih. Dalam hal akidah Islam, tapi kalau dalam masalah manhaj, masalah muamalatul hukkam sudah melenceng, memilih cara orang-orang khawarij, misalnya.Di dalam masalah ibadah, Islam, sesuai dengan Al Qur’an dan hadits, tapi masalah imamah mengikuti caranya orang-orang khawarij.Di dalam masalah ibadah sesuai dengan Islam, tapi untuk masalah Tazkiyatun nufus misalnya, dia mengambil caranya orang-orang sufi. Bukan ini yang dimaksud.Maksud ke dalam Islam kullihi, dalam seluruh perkara. Dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, Tazkiyatun nufus, akhlak, tahakum, jangan kita memecah-belah agama yang sudah menjadi satu kesatuan.Wajib hukumnya bagi kita semua masuk ke dalam agama Islam secara kullihi, keseluruhan.Perbedaan antara bab ini dan bab yang sebelumnya, bab yang kedua, adalah bab yang sebelumnya adalah tentangوجوب دخول في الإسلامAda yang mengatakan perbedaannya, kalau yang pertama yaitu وجوب دخول في الإسلام, adalah secara global. Secara global wajib bagi kita untuk masuk ke dalam agama Islam.Adapun di dalam bab ketujuh ini, maka disebutkan di sini, wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara terperinci, jadi dia masuknya kalau dia yang didepan kalau disiniوجوب الدخول في الإسلام كلهIni sudah masuk keperinciannya/sudah kedalam²nya (dia masukin) semuanya dilaksanakan, kamar aqidah, muamalah, akhlak semuanya dia masukin, ini perbedaan antara bab yang nomer 2 dengan bab yang 7 ini, jadi ini lebih terperinci lagi, bukan hanya pintu gerbangnya dia masuk tetapi pintu² yang lain yang ada didalam Islām dan ini hukum adalah wajib, dia melaksanakan Islām didalam seluruh perkara tadi.وترك ما سواهDan kewajiban untuk meninggalkan yang selain itu.Beliau mengatakanوقول الله تعالى:Dalil yang pertama dari al-Quran tentang wajibnya masuk kedalam Islām kullihi (seluruh apa yang ada didalam Islām)وقول الله تعالى : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً)(البقرة: من الآية 208)Dan firman Allah yaitu wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.Ini adalah apa yang beliau maksud dengan kalimat kullihi. Kaffah, di dalam seluruh apa yang ada di dalam Islam ini. Dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, imamah, dan seterusnya, maka masuklah ke dalam Islam, di dalam seluruh masalah tadi, seluruh bidang tadi, ke dalam Islam itu, Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam. Jangan kita memilah memilih dan memecah-belah, memisah-misah agama yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam, ke dalam penyerahan diri kepada Allah secara kaffah, secara keseluruhan. Ayat ini sangat jelas. Udkhulu, karena di sini adalah perintah, sedangkan asal dari perintah adalah wajib.Makanya beliau mengatakan wajibnya masuk ke dalam Islam, bukan hanya sekedar sesuatu yang Sunnah.Dan ucapan Allah kaffah, ini menunjukkan apa yang beliau sebutkan di dalam judulnya, kullihi, seluruh Islam.Dan kewajiban kita masuk ke dalam Islam semuanya, ini konsekuensinya adalah meninggalkan selain yang bukan merupakan Islam. Kalau dalam seluruh perkara kita diwajibkan untuk masuk semuanya, wajib untuk menggunakan Islam sebagai dasarnya, maka ini otomatis konsekuensinya kita harus meninggalkan segala sesuatu yang bukan termasuk di dalam agama agama Islam. Ini sudah konsekuensinya, kalau memang kita harus masuk di dalam Islam seluruhnya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 51 - Bab 7 (Pembahasan Bab Utama dan Dalil Pertama (Al-Baqarah:208))

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 51Bab 7/Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS. Al-Baqarah: 208Penjelasan Umum BabKita harus pegang sumber yang digunakan di dalam agama Islam dan mencukupkan diri dengan sumber yang ada di dalam agama Islam. Islam yang memiliki keutamaan dan hukumnya adalah wajib, adalah menyerahkan diri secara keseluruhan.Kullihi (masuk ke dalam Islam semuanya). Maksud ke dalam Islam kullihi, dalam seluruh perkara. Dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, Tazkiyatun nufus (penyucian jiwa), akhlak, tahakum (berhukum). Islam yang diwajibkan Allah bukan Islam sebagian, tetapi Islam secara menyeluruh (kaffah). Seorang muslim wajib tunduk kepada syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak boleh mengambil Islam pada satu sisi lalu mengambil pemikiran atau jalan selain Islam pada sisi yang lain.Telah dibahas sebelumnya dalam bab 2 ( وجوب دخول في الإسلام : Wujūbul Islām) yaitu menjelaskan kewajiban menjadi seorang muslim yang wajib masuk Islam secara keseluruhan (global). Sedangkan pada bab 7 lebih terperinci lagi, yaitu:Kewajiban masuk ke dalam Islam secara terperinci.Aqidah, muamalah, akhlak, dan seluruh perkara Islam harus dilaksanakan.Menjalankan seluruh perkara yang ada di dalam Islam.Hukumnya wajib.Wajib meninggalkan selain Islam.Pembahasan Dalil Pertama (QS. Al-Baqarah, ayat 208)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah” (QS Al-Baqarah: 208)Dalil pertama tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara kullihi. Kata kaffah menunjukkan seluruh apa yang ada di dalam Islam. Dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, imamah, dan seluruh bidang kehidupan, harus masuk ke dalam Islam yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.Tidak boleh memilah-milah dan memecah-belah agama yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Masuk ke dalam agama Islam dan menyerahkan diri kepada Allah secara keseluruhan.Kata ادخلوا (udkhulu) adalah perintah. Karena di sini adalah perintah, sedangkan asal dari perintah adalah wajib. Kata كافة (kaffah) menunjukkan seluruh Islam (kullihi).Konsekuensi masuk ke dalam Islam seluruhnya adalah meninggalkan segala sesuatu yang bukan termasuk Islam. Wajib menjadikan Islam sebagai dasar dalam seluruh perkara dan meninggalkan selainnya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →