Syifa ratna
📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan
Materi 33
Materi 33Kisah empat wanita shalihah yang hidup di zaman Nabi Musa - Ustadz Firanda Hafizhahullaahu1. Ibunda Nabi Musa AlaihissalamLatar Belakang: Nabi Musa lahir di masa ketika Firaun memerintahkan pembunuhan terhadap seluruh bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil karena adanya ramalan bahwa kekuasaannya akan dihancurkan oleh seorang anak dari kaum tersebut.Kisah & Perjuangan: Saat melahirkan Nabi Musa, ibunya diilhamkan oleh Allah untuk menyusui bayinya terlebih dahulu, lalu memasukkannya ke dalam sebuah peti (tabut) dan melepasnya ke Sungai Nil. Meskipun menghadapi rasa sedih yang luar biasa dan rasa takut karena bayinya dilepas ke sungai, Allah menguatkan hatinya dengan dua janji: mengembalikan bayinya dan menjadikannya seorang rasul.Hikmah: Melalui rencana Allah, peti tersebut ditemukan oleh istri Firaun. Bayi Musa tidak mau menyusui dari wanita lain, hingga akhirnya kakak perempuan Musa berhasil mengatur agar ibu kandungnya sendiri yang dipekerjakan untuk menyusui dan merawat Musa di istana Firaun secara aman. Kisah ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan keyakinan penuh terhadap janji Allah.2. Istri Nabi Musa Alaihissalam (Putri Nabi Syu'aib)Latar Belakang: Setelah tidak sengaja menyebabkan kematian seorang dari kelompok Firaun, Nabi Musa melarikan diri dari Mesir menuju negeri Madyan dalam keadaan lelah dan lapar tanpa bekal.Kisah & Perjuangan: Di Madyan, Musa menolong dua orang wanita yang kesulitan mengambil air di sumur karena harus menunggu para pengembala laki-laki selesai. Setelah mendengar cerita tersebut, ayah dari wanita tersebut (Nabi Syu'aib) mengundang Musa ke rumahnya. Salah satu putrinya menggunakan firasat yang kuat untuk menyarankan ayahnya agar mempekerjakan Musa karena dinilai memiliki sifat kuat dan amanah (dibuktikan saat Musa mengangkat tutup sumur yang berat sendirian dan menjaga adab saat berjalan di depan wanita).Hikmah: Nabi Musa akhirnya dinikahkan dengan salah satu putri Nabi Syu'aib setelah bekerja selama beberapa tahun. Kisah ini menyoroti keutamaan wanita shalihah yang memiliki rasa malu yang tinggi, serta pentingnya memilih pasangan yang berorientasi pada kebaikan akhirat.3. Istri Firaun (Asiyah binti Muzahim)Latar Belakang: Asiyah adalah permaisuri Firaun yang hidup dalam kemegahan istana, kemewahan dunia, dan bersuamikan seorang raja yang menganggap dirinya sebagai tuhan.Kisah & Perjuangan: Ketika bayi Musa ditemukan di Sungai Nil, Asiyah sangat menyayanginya dan membujuk Firaun agar tidak membunuh Musa, bahkan mengangkatnya sebagai anak. Kehadiran Musa menjadi jalan bagi Asiyah untuk menerima hidayah dan beriman kepada Allah secara sembunyi-sembunyi. Ketika keimanannya akhirnya diketahui oleh Firaun, ia diancam dan disiksa agar meninggalkan imannya serta ditawari istana yang lebih megah. Namun, Asiyah dengan tegas menolak dan memilih untuk mempertahankan imannya hingga gugur di tangan Firaun.Hikmah: Asiyah diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai teladan bagi orang beriman karena rela meninggalkan segala kemegahan dunia demi keteguhan akidah dan mengharapkan istana di sisi Allah di surga.4. Masyithah (Penyisir Rambut Putri Firaun)Latar Belakang: Masyithah adalah seorang wanita hamba sahaya yang bekerja sebagai tukang sisir rambut putri Firaun. Meskipun hidup di lingkungan istana kekufuran, ia dan anak-anaknya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah.Kisah & Perjuangan: Suatu hari, sisir yang digunakannya terjatuh dan ia tanpa sengaja mengucapkan "Bismillah" (Dengan nama Allah). Putri Firaun menegurnya karena menyebut nama Tuhan selain ayahnya (Firaun), namun Masyithah dengan tegas menyatakan bahwa Allah adalah Tuhannya sekaligus Tuhan Firaun. Hal ini dilaporkan kepada Firaun, yang kemudian murka dan menghukum Masyithah beserta anak-anaknya dengan cara memasukkan mereka satu per satu ke dalam sebuah bejana raksasa berisi minyak mendidih.Hikmah: Menjelang detik-detik akhir hidupnya, Masyithah sempat merasa goyah ketika melihat anak-anaknya dilemparkan satu persatu, namun anak bungsunya yang masih menyusui berbicara untuk menguatkan hatinya agar tabah menghadapi siksaan tersebut. Rasulullah SAW bahkan mencium aroma wangi dari makam Masyithah saat peristiwa Isra Mikraj. Kisah ini menunjukkan pengorbanan yang luar biasa dalam mempertahankan keimanan di jalan Allah.









