Materi ke 3 TALBIS IBLIS TERHADAP PARA FILSUF YUNANI DAN PENYEMBAH BERHALA BERSAMA USTADZ DR.Firanda Andirja M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Melanjutkan bahasan dari kitab Talbis Iblis Bab 5: Tentang orang-orang yang memiliki akidah-akidah yang menyimpang.Di sini Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala membuat subjudul dengan judul “Dzikru Talbisihi 'ala Al-Falasifah wa Tabi'ihim” :yaitu penyebutan tentang talbis iblis terhadap kaum falasifah, maksudnya ahli filsafat Yunani, wa tabi'ihim dan orang-orang yang mengikuti, para pengikut ahli filsafat Yunani tersebut.Kita sudah singgung sebelumnya tentang para filsuf.Di sini Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah kembali mengulang tentang pemikiran-pemikiran falasifah, bagaimana setan masuk dalam pemikiran mereka sehingga mereka ngelantur dalam berbicara tentang teologi, tentang ketuhanan.Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan bahwasanya falasifah ini, seperti Sokrates, kemudian Plato, kemudian Aristoteles, Plotinus, dan yang lain-lainnya, mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas. Orang yang sangat cerdas dan mereka menulis tentang hal-hal yang terkait dengan perkara-perkara hisiyyah yang nampak:biologi, atau kimia, atau fisika dengan otak mereka yang luar biasa cerdasnya.Kemudian pemikiran mereka tersebut dituangkan dalam buku-buku yang mereka tulis, kemudian bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, terutama di zaman Khalifah Al-Ma'mun, sehingga kaum muslimin terpesona, kagum melihat pemikiran orang-orang falasifah yang luar biasa. Artinya, hal-hal ini belum pernah dibicarakan oleh kaum muslimin,tentang hal-hal yang begitu detail tentang perkara dunia, tentang biologi, tentang kimia, tentang fisika. Ternyata, orang-orang Yunani sudah sampai pemikiran mereka tentang hal-hal tersebut.Tapi yang jadi masalah,ketika mereka kemudian berbicara tentang teologi, tentang ketuhanan. Sementara mereka berpangku kepada kecerdasan otak mereka dan mereka tidak menyambut sinar kenabian, nurun nubuwah. Mereka tidak berusaha melihat penjelasan para nabi, para anbiya, para rasul.Dan mereka ingin memikirkan tentang Tuhan secara istiklal, secara merdeka. Akhirnya mereka pun ngawur, karena otak ini di luar kemampuan untuk berbicara tentang Tuhan.Otak kita hanya bisa menangkap tentang Tuhan secara global, Tuhan itu ada, ini jelas otak kita bisa mengantarkan kepada hal tersebut. Akal kita bisa mengantarkan Tuhan itu ada, Tuhan itu Maha Kuasa, Tuhan itu Maha Dahsyat, dan yang lainnya. Tetapi secara detail tentang Tuhan bagaimana, proses penciptaan bagaimana, ini semua tidak bisa diduga-duga. Oleh karenanya, mereka terjebak dengan zunun mereka, kata Ibnul Jauzi. Orang-orang falasifah ini, mereka ketika berbicara tentang teologi, mereka tidak punya landasan. Apa yang mau dijadikan landasan untuk dianalogikan? Kalau bicara tentang perkara yang hisiyyah, perkara yang nampak, oke. Bicara tentang biologi, tentang fisika, tentang kimia, tentang medis. Tapi ketika bicara tentang sesuatu yang gaib, yang tidak bisa dianalogikakan dengan perkara yang nampak, maka ini sulit. Sehingga mereka akhirnya hanya berbicara dengan zon, dengan persangkaan-persangkaan. Persangkaan-persangkaan,Kata Ibnul Jauzi rahimahullahu taala:"Annahum infaradu bi'araihim wa'uqulihim, watakallamu bimuqtadha zhununihim min ghairi iltifatin ila al-anbiya."Ya, mereka bersendirian dalam otak mereka dan akal mereka, pendapat mereka, dan mereka berbicara hanya sekadar konsekuensi dari persangkaan-persangkaan mereka tanpa menengok kepada ajaran-ajaran para nabi. Akhirnya, timbullah berbagai macam pendapat di kalangan mereka.Yang menakjubkan, Ibnul Jauzi mengatakan ketika menjelaskan tentang falasifah, ketika mereka berbicara tentang perkara yang hisiyyah, yang nampak, maksudnya biologi, kimia, fisika, rata-rata mereka sepakat. Khilaf mereka tidak seberapa. Tapi ketika mereka sudah bicara tentang ketuhanan, karena tidak ada landasan, akhirnya mereka, mereka pun banyak khilaf,karena memang sesuatu tidak bisa jadi landasan untuk berpikir, akal ada keterbatasan. Maka saya sering sampaikan, kita tidak usah bicara tentang masalah Allah.Kita bicara tentang ruh. Ruh saja yang ada pada jasad kita, yang selalu hadir bersama kita, kita tidak bisa menerangkan ruh itu dari unsur apa, bagaimana bentuknya, gemuk atau kuruskah, panjang atau apakah, dari unsur mana, bagaimana dia beredar di dalam jasad, bagaimana, kita tidak tahu. Sehingga kalau ada 1.000 pakar biologi atau pakar fisika atau pakar kimia, kita suruh berbicara tentang ruh, akan ada 1.000 pendapat, atau mungkin 1.001 pendapat,karena tidak ada landasan untuk dijadikan pegangan untuk bisa berbicara tentang ruh, makanya Allah berfirman:"Yas'alunaka 'anir-ruh, qulir-ruhu min amri rabbi."Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah ruh adalah urusan Tuhanku."Wama utitum minal-'ilmi illa qalila."Kalian tidak diberikan ilmu kecuali cuma sedikit. Kalau ruh saja tidak bisa kita berbicara tentang ruh,apalagi tentang Allah SWT. Bicara tentang tidak usah, jin aja. Maksudnya jin, jin bagaimana jin bisa bertasyaqul, bisa menjelma. Siapa bisa jelaskan secara ilmiah? Kemampuan ilmu manusia terbatas. Bagaimana menjelma bisa, bagaimana bisa tiba-tiba berubah menjadi hewan, jadi wanita cantik, jadi apa. Bagaimana dia bisa masuk dalam tubuh manusia, bagaimana dia bisa menguasai akal manusia. Siapa yang bisa menjelaskan? Bagaimana dia bisa berbicara dengan seorang manusia. Siapa yang bisa menjelaskan secara ilmiah?Ada teman saya punya ponakan kemasukan jin tahu-tahu bisa nyanyi lagu tembang Jawa, padahal dia tidak tahu bahasa Jawa. Tapi bisa, siapa yang bisa menjelaskan? Ini gaib. Ada jin gaib. Apalagi kita bicara tentang Khalik, Sang Pencipta.Ketika kaum falasifah tidak punya landasan, mereka takallamu bimuqtadha zhununihim, kata Ibnul Jauzi. Mereka berbicara yang sekadar persangkaan-persangkaan, akhirnya mereka ngawur dan mereka berselisih dengan perselisihan yang sangat, sangat banyak.Tayib, kita sebutkan yang saya ringkaskan dari apa namanya, falasifah, akidah falasifah tentang Tuhan, tentang Pencipta.Ada beberapa mazhab di kalangan mereka,diantaranya ada yang mengatakan bahwasanya :dahriyah, yaitu ini dahriyah disebut dengan dahriyah. Falasifah dahriyah itu Tuhan tidak ada, Pencipta tidak ada. Sudah selesai, dia bilang Pencipta tidak ada. Alam terjadi apa namanya, begitu saja tanpa ada Pencipta, mudah.Yang lain berpendapat lebih, dan ini, ini pendapatnya Sokrates, kemudian Plato, Aristoteles, sebagaimana dinukil dari buku-buku mereka,bahwasanya mereka menetapkan alam ini tercipta dari illah, apa namanya, namanya dengan illah, dari illah, al-illah. Al-illah tammah yang mereka sebab utama,sebab pertama. Kausa prima kalau mungkin bahasa, bahasa kerennya. Yang mereka katakan bahwasanya kausa prima adalah sesuatu yang sangat simpel dan dia statis,disebutkan dalam buku-buku mereka.Sehingga mereka mengatakan kausa prima inilah yang seakan-akan berfungsi sebagai Tuhan, ya, seakan-akan berfungsi sebagai sebab penciptaan. Tetapi yang jadi masalah, mereka tidak menempatkan kausa prima ini sebagai as-shani', sebagai pencipta, sebenarnya mirip. Jadi akhirnya pendapatnya mirip. Yang satu mengatakan Tuhan tidak ada, ini mengatakan ada sebab, sebab utama. Tapi sebab utama tersebut kata mereka, dia datang bersamaan dengan alam semesta. Kausa prima tersebut azali bersama alam,jadi bukan, bukan kausa prima dulu baru alam semesta belakangan.Jadi mereka mengatakan alam dan kausa prima, illah tadi, sama-sama keberadaannya sama-sama, cuma ini sebab ini akibat, tetapi sebab dan akibat itu keberadaannya sama. Dan ini yang disebut dengan pemikiran tentang qidamul alam, bahwasanya alam semesta ini azali.Mereka tentu iblis masuk dalam pemikiran mereka, mereka mengatakan bahwasanya kausa prima adalah suatu sebab yang sangat sempurna. Kalau suatu sebab yang sangat sempurna, maka sebab tersebut akibatnya tidak akan terlambat, akibatnya akan bersamaan dengan sang sebab, sehingga munculnya bersamaan. Ya kita namanya kita berpikir sederhana, akibat pasti setelah sebab, ya kan? Saya, ini sebabnya, pena jatuh, akibat pena jatuh. Kenapa pena jatuh? Karena sebabnya ada saya lepas. Ya, tidak ada namanya sebab dan akibat bersamaan. Kalau sebab dan akibat bersamaan, kita tidak tahu mana sebab mana akibat, ya. Tapi mereka kemasukan logika iblis, mereka mengatakan kausa prima ini sangat sempurna. Sehingga sangat sempurna, akibat yang muncul dari dia tidak boleh terlambat, harus sama persis dengan sebab tersebut, sehingga melazimkan kata mereka, alam ini adalah azali bersama sebab tersebut. Jadi kata mereka kausa prima tersebut azali bersama alam, karena sebab tersebut sempurna sehingga akibatnya tidak boleh, tidak boleh terlambat, harus bersamaan.Ini apa namanya, logika, ya. Ini kan main logika, gitu. Lah kalau kita dalam Islam, tidak."Innama amruhu idza arada syai'an an yaqula lahu kun fayakun.""Kana Allahu walam yakun syai'un ghairuhu."Dulu Allah sendirian tidak ada selain Allah SWT. Kalau Allah ingin mencipta, Allah, Nabi, Allah mengatakan, Allah mengatakan:"Innama amruhu idza arada syai'an an yaqula lahu kun fayakun."Sesungguhnya Allah itu urusannya kalau ingin sesuatu, Allah hanya mengatakan "jadi", maka jadilah. Ada sebab, ada akibat. Akibat muncul belakangan setelah sebab, ya, langsung tanpa ada jeda, langsung, langsung tanpa ada jeda. Tapi mereka tidak. Kalau mereka orang falasifah, sebab dan akibat persis berbarengan, ya. Akhirnya, sebab yang mereka, yang mereka sebut dengan kausa prima sebagai sebab terjadinya alam semesta ini, yang fungsinya seperti Tuhan, membuat mereka menyatakan alam semesta azali bersama dengan sebab tersebut. Ini yang pertama.Yang kedua, mereka mengatakan munculnya akibat, dalam hal ini akibat maksudnya apa, alam semesta, alam, dari sebab adalah konsekuensi dari sebab,jadi mereka mengatakan sebab ini bukan berkehendak menciptakan akibat.Perhatikan sini, ini, ini terlalu tinggi tapi ya begitulah, ya. Mereka mengatakan, antum bisa baca dalam, dalam apa namanya, Talbis Iblis. Jadi mereka mengatakan akibat alam semesta ini bukan terjadi karena keinginan dari kausa prima, tetapi dia terjadi merupakan konsekuensi dari sempurnanya, sempurnanya kausa prima tersebut mengonsekuensikan adanya alam. Jadi alam adalah hasil dari konsekuensi adanya sebab yang sangat sempurna. Beda kalau, beda kalau kita orang Islam, Tuhan menciptakan, Tuhan ingin menciptakan, selesai. Tuhan dulu Maha Sempurna dan tidak ada sesuatu pun, kemudian Tuhan menciptakan. Kalau mereka tidak, jadi alam terjadi bukan karena kehendak kausa prima,tapi adalah konsekuensi dari kausa prima, ini dibedakan. Akibat dari sebab adalah konsekuensi dari sebab,bukan kehendak kausa prima.Asal muasal penyembahan terhadap berhala (kisah Nabi Nuh),dimana disitu ada orang2 shaleh yg Allah sebutkan,yg sennatiasa beribadah di suatu tempat,ketika mereka meninggal maka orang2 membangun patung dlm rangka untuk mengenang,awalnya bukn untuk disembah tpi untuk mengenang.Dengan melihat patung2 tersebut diharapkan masyarakat akan termotivasi utk beribadah kpd Allah,patung2 tersebut dinamakan berdasarkan nama nama orang2 shaleh tersebut,lama kelamaan dengan berjalannya waktu patung2 tersebut akhirnya disembah.Kata Ibnu Abbas :ketika generasi2 pembuat patung itu meninggal dunia,maka muncullah generasi2 berikutnya,ilmu sudah dilupakan,tdk ada lagi dakwah ttg Tauhid,akhirnya datang setan mengatakan “Sembahlah patung2 itu” supaya kalian mengingat Allah.Kemudian berkembanglah penyembahan terhadap berhala sampai ke jazirah Arab,Quraisy dibawa oleh Amr bin Luhay(seorang pemimpin dari bani Khuza’ah).Kemudian pada akhirnya masing2 kabilah menyembah berhala.Berhala2 tersebut mempunyai berbagai macam2 nama.Sampai ada berhala bernama Isaf dan Nailaf(2 berhala yang ketika hidup adalah 2 orang yg saling mencintai di negeri Yaman,mereka tdk bisa bertemuu dan berhubungan,akhirnya mereka berhaji,dan ketika mereka berhaji mereka saling merindukan,dan ketika melihat orang lalai,mereka akhirnya melihat Ka’bah dan berzina di dalam Ka’bah dan Allah murka dengan mengubah mereka menjadi patung),awalnya patung2 mereka dikeluarkan dari Ka’bah sebagai pelajaran,kemudian berjalannya waktu Iblis datang dan membisikan macam2 kepada masyarakat yg akhirnya membuat patung2 tsb disembah.Saking senengnya menyembah patung,maka kemana2 org2 tsb membawa patung,jika lupa mereka mencari 4 batu (batu yang bagus mereka jadikan Tuhan,sisanya dijadikan tungku untuk tempat masak)Ketika mereka tdk dapat patung,mereka mencari pasir kemudian mereka beri susu untuk membuat semacam adonan menyerupai gundukan,setelahnya mereka thawaf.Setan2 merasuki pikiran2 org2 tersebut dengan mengatakan berhala2 ini akan mendekatkan kalian kpd Allah,dan sampai sekarang ritual menyembah2 berhala juga masih banyak,berhala2 tsb dibuat menyerupai seseorang yg dianggap sholeh.Allah berkata : “Bagaimana mereka mempunyai berhala?apakah berhala2 tersebut mempunyai kaki untuk berjalan?sedangkan kalian mempunyai kaki untuk berjalan,kalian yang menyembah berhala mempunyai mata untuk melihat,kalian yg menyembah mempunyai tangan untuk mengukur,kalian mempunyai telinga untuk mendengar,sedangkan berhala TIDAK.Bagaiman kalian yg sempurna menyembah berhala yg tidak sempurna?”(hal2 tersebut adalah hal2 yg konyol)Allah juga berkata:Bagaimana kalian menyembah apa yang kalian pahat sendiri?harusnya logika nya adalah kita itu menyembah kpd yg menciptakan kita,bukan menyembah kepada apa yg kita ciptakan,namun demikian jika akal tidak berjalan dengan baik.Firman Allah di QS Ar Rum Perkataan syeikh sya’diin :Orang2 kafir itu ahli tentang perkara dunia,mereka tau secara detail,menemukan banyak penemuan2 di dunia(pesawat,kapal,tekhnologi)tetapi kalau sudah berbicara tentang aqidah mereka tidak jalan(banyak yg menyembah berhala,atheis,dll),mereka tau tentang keindahan dunia tapi lalai dengan akhirat,dan itu merupakan salah satu tipuan dari syaithon yg menjadikan orang2 tersebut menyembah berhala,karena mereka mengira dengan menyembah berhala tersebut akan mendekatkan diri mereka dengan Allah.