Talbis Iblis #2 (Penganut Aqidah & Agama yang Menyimpang)Pembahasan ini merujuk pada Bab Kelima dari kitab Talbis Iblis karya Ibnu al-Jauzi rahimahullah. Dijelaskan bagaimana iblis melancarkan syubhat dan kerancuan berpikir kepada penganut pemikiran dan agama yang keliru. Bab ini dimulai dengan membahas pengaruh filsafat Yunani, yang secara historis muncul sebelum Yahudi dan Nasrani, namun pemikirannya merasuk ke dalam agama-agama Samawi, termasuk memicu munculnya kelompok-kelompok bid'ah dalam Islam.1. Talbis Iblis terhadap Kaum Sofisme (Sufastha'iyyah / Sutho'iyyah)Kelompok pertama yang dibahas adalah Sutho'iyyah, sebuah aliran yang berasal dari sofisme Yunani kuno. Ciri utama mereka adalah mengingkari hakikat segala sesuatu dan terjebak dalam keraguan ekstrem. Aliran ini terbagi menjadi 3 mazhab utama:Al-Inadiyyah: Kelompok yang benar-benar menentang dan menolak adanya hakikat apa pun.Al-Indiyyah: Kelompok yang berpandangan bahwa tidak ada kebenaran objektif/absolut, melainkan semuanya bersifat relatif-subjektif tergantung siapa yang memandangnya (mirip dengan paham liberalisme/relativisme modern).Al-La Adriyyah (Agnostisisme): Kelompok "tidak tahu". Mereka ragu terhadap segala hal dan selalu menjawab "Saya tidak tahu apakah hakikat itu ada atau tidak”.Firqoh Al-Inadiyyah. Bantahan Ibnu al-Jauzi terhadap Sofisme:Ibnu al-Jauzi memfokuskan bantahan pada mazhab Al-Inadiyyah karena saking sesatnya aliran ini, banyak ulama yang sempat putus asa berdiskusi dengan mereka disebabkan tidak adanya patokan dasar yang disepakati. Bantahannya yaitu melalui diskusi dan metode cerita.Penerapan Logika Internal: Tanyakan kepada mereka, "Apakah keyakinan kalian yang mengingkari hakikat itu sendiri memiliki hakikat (benar-benar ada)?"Jika mereka menjawab ada, berarti mereka mengakui adanya suatu hakikat, maka batallah mazhab mereka.Jika mereka menjawab tidak ada, maka ucapan dan mazhab mereka juga batil serta tidak perlu dianggap karena tidak memiliki hakikat kebenaran.Hilangnya Pijakan Diskusi: Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa banyak ulama yang akhirnya "putus asa" atau enggan meladeni diskusi dengan kaum Sofisme. Alasan: Sebuah diskusi atau debat ilmiah hanya bisa berjalan jika kedua belah pihak memiliki satu patokan dasar yang sama-sama disepakati (pijakan awal). Karena kaum Sofisme menolak segala bentuk hakikat dan kebenaran objektif, maka tidak ada dasar yang bisa dijadikan pijakan untuk berdialog. Betapa repotnya berbicara dengan mereka, "Bagaimana engkau bisa berdiskusi dengan seseorang yang bahkan ragu apakah dia sedang berbicara denganmu atau tidak? Seseorang yang menganggap berbicara itu sama saja dengan diam, dan menganggap hal yang benar itu sama saja dengan hal yang salah."Analogi Orang Sakit: Meskipun banyak ulama yang enggan, seorang ulama bernama Abul Wafa Ibnu Aqil berpendapat bahwa kita tidak boleh membiarkan atau menyerah begitu saja pada mereka. Beliau memandang orang-orang Sofisme ini sebagai orang yang sedang sakit (terganggu logikanya), sehingga metode penyembuhannya adalah dengan dipaksa melihat realitas. Beliau memberikan sebuah perumpamaan (analogi) yang sangat masyhur: Kisah Anak Bermata Juling: Ada seorang ayah yang memiliki anak dengan kondisi mata juling. Ketika malam bulan purnama, si anak melihat ke langit dan berkata, "Ayah, lihat, rembulannya ada dua!"Bantahan Pertama: Sang ayah menjawab, "Anakku, rembulan itu cuma satu." Namun si anak tetap bersikeras bahwa rembulan itu ada dua berdasarkan apa yang dia lihat.Tindakan Sang Ayah: Sang ayah kemudian berkata, "Kalau begitu, coba tutup sebelah matamu." Ketika si anak menutup sebelah matanya, dia akhirnya melihat rembulan itu hanya ada satu.Argumen keras kepala si anak: Alih-alih sadar, si anak yang keras kepala (seperti kaum Sofis) malah membantah, "Rembulan jadi satu itu bukan karena aslinya satu, tapi karena mata saya yang satunya lagi sedang ditutup!"Bantahan Telak: Sang ayah membalas, "Kalau begitu, sekarang buka mata yang tadi ditutup, dan gantian tutup matamu yang sehat (biarkan mata julingmu yang melihat)." Ketika dilakukan, si anak tetap melihat rembulan itu ada dua. Sang ayah berkata, "Nah, itu membuktikan bahwa yang rusak dan salah itu bukan jumlah rembulannya, melainkan matamu yang sedang sakit!"Pendekatan Realitas (Kisah Onta yang Dicuri): Diriwayatkan dari Abul Qasim al-Balkhi, seorang sofis berdebat dengan ahli kalam lalu onta tunggangannya dicuri orang. Saat menyadari ontanya hilang, ia panik. Sang ulama membantahnya, "Mungkin kamu hanya menghayal naik onta?" Orang sofis itu menjawab, "Tidak, saya yakin dan tidak ragu tadi saya datang naik onta!" Di sini ia terpaksa mengakui adanya suatu hakikat yang absolut saat tertimpa realitas kehilangan.Terjebak dalam Khayalan/Horfat: Ustaz Firanda menjelaskan bahwa orang-orang yang mengklaim tidak ada hakikat absolut sebenarnya terjebak dalam delusi mereka sendiri. Mereka sering berkhayal dengan pertanyaan-pertanyaan di luar nalar, seperti: "Jangan-jangan kita sekarang ini sebenarnya sedang tidur dan bermimpi, lalu nanti suatu hari kita baru terbangun di alam nyata?"Realitas yang Mengalahkan Teori: Melalui kisah onta yang dicuri sebelumnya, terbukti bahwa ketika kaum Sofis dihadapkan pada realitas kehidupan sehari-hari (seperti kehilangan harta), teori mereka runtuh seketika karena mereka terpaksa mengakui sebuah hakikat objektif.Firqoh Al-Indiyyah / Mazhab Relativisme ModernKebenaran Subjektif (Al-Indiyyah): Mazhab kedua dari Sofisme, yaitu Al-Indiyyah (berasal dari kata "’Indi" yang berarti "menurut saya"). Mereka berpendapat bahwa kebenaran itu tidak ada yang objektif, semuanya tergantung dari sudut pandang individu.Contoh Madu: Kaum ini memberi contoh madu itu terasa manis bagi orang sehat, tetapi terasa pahit bagi orang yang sedang sakit/demam. Menurut mereka, kedua penilaian itu sama-sama benar secara subjektif.Kaitannya dengan Pemikiran Modern (Liberalisme): Akar pemikiran Al-Indiyyah inilah yang menjadi cikal bakal paham liberalisme/relativisme modern zaman sekarang, yang mengklaim bahwa semua agama atau semua pendapat itu sama-sama benar dan tidak ada kebenaran mutlak.Bantahan Telak: Jika mereka konsisten dengan ucapan "Semua pendapat itu benar secara subjektif", maka ketika pihak lain (umat Islam) mengatakan "Pendapat kalian itu salah secara mutlak", mereka harus menerima pernyataan itu sebagai sebuah kebenaran juga. Jika mereka menolaknya, maka runtuhlah teori relativisme mereka.Kaum Ateis / Penolak TuhanMazhab Segala Sesuatu Berubah: Mazhab yang menolak hakikat dengan dalih "alam ini selalu berubah tiap detiknya", seperti air sungai yang mengalir deras (air yang kita sentuh sedetik lalu sudah berbeda dengan air di detik ini). Namun, argumen ini tetap tidak bisa menafikan adanya hakikat objek tersebut.Pembagian Kaum Ateis: Dijelaskan bahwa iblis menipu kelompok ini dengan dua cara/pemikiran utama:Dahriyyah: Meyakini bahwa alam semesta ini terjadi dan ada dengan sendirinya tanpa ada permulaan maupun pencipta,.Thabi'iyyun: Meyakini alam diatur oleh hukum alam/tabiat, bukan oleh entitas Tuhan.2. Talbis Iblis terhadap Kaum Ateis (Penolak Adanya Tuhan)A. Kelompok DahriyyahMeyakini bahwa alam semesta ini ada begitu saja secara alami sejak sedia kala tanpa ada pencipta (Tuhan) yang menjadikannya.Bantahan dengan Hukum Dasar Sebab-Akibat: Secara ilmu dasar, sebuah akibat tidak mungkin muncul tanpa adanya sebab. Jika kita melihat sebuah bangunan yang kokoh, akal sehat pasti menyimpulkan ada yang membangunnya. Begitu pula langit yang kokoh, bumi, matahari, dan keteraturan jagat raya, mutahil ada dengan sendirinya.Logika Orang Arab Badui: "Kotoran onta menunjukkan adanya onta yang lewat, dan bekas telapak kaki menunjukkan ada orang yang berjalan. Maka langit yang memiliki rasi bintang dan bumi yang memiliki jalan-jalan, bukankah menunjukkan adanya Pencipta yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?".Perenungan terhadap Diri Sendiri: Struktur tubuh manusia (seperti susunan gigi geraham untuk menggerus, gigi depan untuk memotong, fungsi lidah, saraf, lambung, hingga anatomi jari tangan yang jika ditekuk menjadi rata) dirancang secara presisi dan profesional (sun'allah), mustahil terjadi karena kebetulan.B. Kelompok Thabi'iyyun (Naturalis)Mereka menolak peran Tuhan secara langsung dan mengklaim bahwa alam semesta diatur sepenuhnya oleh aturan alam atau reaksi materi (tabiat/natural).Bantahan terhadap Teori Tabiat/Hukum Alam: Sifat dasar materi (seperti air, api, udara, tanah) tidak bisa bereaksi dan mengatur dirinya sendiri kecuali jika dikumpulkan atau digabungkan oleh pihak eksternal. Ketika unsur-unsur tersebut bereaksi dan menghasilkan materi baru yang sifatnya bertolak belakang dengan sifat aslinya, itu membuktikan materi tersebut diatur (objek), bukan mengatur (subjek).Kritik terhadap Fisikawan Modern (seperti Stephen Hawking): Justru adanya hukum fisika yang sangat rapi, baku, dan konstan (seperti gaya gravitasi) merupakan bukti mutlak adanya Pencipta yang membuat aturan (sunnatullah) tersebut. Aturan yang rapi tidak mungkin lahir dari sebuah kebetulan yang amburadul.3. Bantahan terhadap Argumen "Tuhan Tidak Terlihat"Kaum ateis sering meragukan keberadaan Tuhan karena Dia tidak kasat mata. Jika diberikan analogi logika yang gamblang:Dalam tubuh setiap manusia, kita semua sepakat dan yakin bahwa kita memiliki jiwa (ruh) dan akal.Meskipun jiwa dan akal tersebut tidak pernah terlihat secara fisik, bentuk, maupun warnanya, dampaknya nyata (manusia bisa berpikir dan bergerak).Jika keberadaan akal dan jiwa yang makhluk saja bisa diyakini secara global tanpa harus melihat fisiknya, maka keberadaan Allah sebagai Pencipta jauh lebih nyata melalui tanda-tanda keteraturan alam semesta ini. (Dicontohkan pula dengan keberadaan arus listrik tegangan tinggi yang tidak terlihat namun dampaknya nyata dan mematikan).4. Talbis Iblis terhadap Kaum Tsanawiyyah (Dualisme / Majusi)Kelompok ini meyakini bahwa Tuhan itu ada dua: Tuhan pencipta kebaikan dan Tuhan pencipta keburukan. Di antaranya adalah agama Majusi (Zoroaster) yang menyembah tuhan cahaya/api (sebagai pencipta kebaikan) dan tuhan kegelapan (sebagai pencipta keburukan). Iblis menipu mereka karena menganggap api memberikan manfaat yang luar biasa, sehingga mereka terjerumus menyembahnya.Bantahan Logika terhadap Dualisme Tuhan:Analogi Kontradiksi Kehendak (Tamanu'): Andaikan ada 2 Tuhan yang setara, lalu Tuhan (1) ingin si A bergerak, sedangkan Tuhan (2) ingin si A diam pada waktu yang bersamaan. Maka muncul beberapa kemungkinan:Kemungkinan 1: Kehendak kedua Tuhan terkabul. Hasilnya si A bergerak sekaligus diam. Ini mustahil karena menggabungkan dua hal yang kontradiktif.Kemungkinan 2: Kehendak kedua Tuhan sama-sama gagal (si A tidak jadi bergerak dan tidak jadi diam). Ini juga mustahil dan membuktikan keduanya lemah, sehingga tidak pantas menjadi Tuhan.Kemungkinan 3: Hanya salah satu kehendak Tuhan yang terlaksana (misal si A akhirnya diam). Maka, Tuhan yang kehendaknya terlaksana itulah Tuhan yang asli dan perkasa, sedangkan yang gagal bukanlah Tuhan. Maka logika mengembalikan bahwa Tuhan tetaplah Esa (Satu).Kerancuan Definisi Cahaya dan Gelap: Doktrin mereka menyatakan kegelapan selalu menciptakan keburukan dan cahaya/api selalu menciptakan kebaikan. Kenyataannya, kegelapan sering kali bermanfaat (misal untuk beristirahat, atau tempat bersembunyi dari musuh). Sebaliknya, api sering kali membawa kehancuran dan musibah (seperti kebakaran besar). Maka, logika pembagian dua tuhan berdasarkan sifat materi ini patah secara realitas.