Materi ke 6TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG AHLI ILMU bagian ke 2Bersama Ustadz DR.FIRANDA ANDIRJA M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِLanjutan bahasan kita dari kitab Talbis Iblis, yaitu tipu daya, tipu muslihat iblis yang menjadikan ibadah kita terganggu.Berkata Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala:"Wa min dzalika talbiisuhum fii niyyatishalat."Ini sudah kita singgung. Kata beliau, di antaranya tipu daya muslihat iblis dalam masalah niat salat. Di antara mereka, yaitu orang yang salat, ada yang berkata, "Usholli sholata kadza" (Saya berniat salat ini), kemudian dia mengulangi lagi. Dia menyangka bahwasanya niatnya telah dia batalkan, sehingga dia ulangi lagi, "Usholli." Entar lagi, dia lagi, "Usholli" lagi.Dia menyangka niatnya telah dia batalkan, padahal niat itu tidak terbatalkan. Dia sudah niat, niat itu tidak batal, walaupun yang tidak pas, tapi niat dia sudah salat, sudah ada.Dia mengatakan, misal dia niat salat Zuhur, kemudian ketika dia ucapkan mungkin salah, "Usholli sholattaz Zuhri..." salah ngomong, "Aduh, kayaknya salah ini," padahal tidak salah. Dia hanya lafalnya yang apa? Keliru, tapi niatnya tidak terbatalkan. Harusnya, dia tidak perlu ragu-ragu karena salatnya sudah sah dengan niat yang benar.Wa minhum man yukabbir tsumma yanqudh. Di antara mereka ada yang bertakbir, "Allahu Akbar," kemudian batalin lagi. Ulangi lagi, "Allahu Akbar tsumma yukabbir," ulangi lagi takbir, kemudian yanqudh, kemudian batalin lagi. Dia ulang-ulang terus. Faidza raka'al imam, ketika imam "Allahu Akbar" rukuk, kabbaral muwaswas wa raka'a ma'ahu. Tiba-tiba dia takbir, langsung dia ikut apa? Rukuk, ya. Tadinya ragu-ragu, batal-batal, ketika imam rukuk, tiba-tiba dia bisa konsen, ya, karena takut ketinggalan apa? Rakaat.Fa ya laita syi'ri manil ladzi ahdharon niyyata hiina idzin? Kabarkanlah kepadaku, kok apa yang bisa bikin dia tiba-tiba niatnya hadir? Kok sebelumnya dia ragu, diulang-ulang, ketika imam sudah rukuk, tiba-tiba dia bisa hadirkan niat? Wa ma dzalika illa lianna ibliis arroda an yufawwatahul fadhilah. Itu semua digodaan iblis agar iblis ingin dia luputkan dari keutamaan, yaitu keutamaan takbiratul ihram, keutamaan apa namanya, di awal salat, dan yang lainnya.Wa fil muwaswasiin, dan di antara orang-orang yang terkena was-was, ada yang bersumpah dengan nama Allah, "La kabbartu ghairo hadzihil marroh." Demi Allah, aku tidak akan takbir cuma sekali ini aja. Dia karena sering ulang-ulang, dia bersumpah, "Ya Allah, saya mau takbir sekali aja," karena saking was-was, supaya dia tidak ulang-ulang.Wa fiihim man yahlif billahi bil khuruuji min maalihi. Ada yang bersumpah, "Kalau saya ulangi takbir, semua harta saya tinggalkan," supaya dia kokoh dalam apa? Takbir cuma sekali. Aw bith tholaq, ada yang bertakbir, "Kalau saya ulangi takbir, saya ceraikan istri saya." Subhanallah. Wa hadzihi kulluha talbiisatu ibliis, ini semua adalah talbis dari iblis. Kenapa susahkan diri?Wasy syari'atu samhatun sahlatun saliimatun min hadzihil afat, dan syariat kita mudah, ringan, selamat dari segala kekurangan-kekurangan ini. Wa ma jaro li Rasulillahi shallallahu 'alaihi wa sallam wa la li ashhabihi syai'un min hadza, dan tidak pernah terjadi pada Nabi, tidak pernah dilakukan oleh Nabi, tidak pernah dilakukan oleh para sahabat sama sekali dari hal-hal seperti ini.Wa qod balaghona 'an Abi Hazim annahu dakholal masjid, telah sampai kepada kami riwayat dari Abu Hazim rahimahullahu ta'ala, dia masuk masjid. Fa waswasa ilaihi ibliis annaka tusholli bi ghoiri wudhu', maka ketika dia masuk masjid, tiba-tiba iblis kasih was-was, bisikan, "Wahai Abu Hazim, sesungguhnya kau salat tanpa wudhu. Kau salat tanpa wudhu." Maka dia menjawab iblis, dia berkata, "Ma balagho nush'uka ila hadza." Sejak kapan kau nasihatmu sampai seperti ini, wahai iblis? Ini semua tipuan, tidak ada iblis mau kasih apa? Nasihat. Artinya dia menepis itu semua dengan mengatakan, sejak kapan iblis mau kasih nasihat sampai nasihat saya bahwasanya salat saya belum di atas apa? Wudhu.Maka, kasyfu hadzat talbiis an yuqollil muwaswas awil muwaswis, ya, dan untuk menghilangkan talbis ini, kerancuan ini dari orang yang terkena was-was, maka dikatakan kepadanya, kalau tujuanmu adalah menghadirkan niat, sehingga kau ulang-ulang "Allahu Akbar, Allahu Akbar, usholli fardhal zuhri, usholli fardhal..." Tujuan menghadirkan niat, fanniyyatu hadhiroh, niatmu sudah ada. Siapa yang mau kau ulang-ulangi buat apa? Niatmu sudah ada. Liannakum kumta litu'addiyal faridhah, karena kau tadi berdiri hendak menjalankan salat fardu. Wa hadzihi hiyan niyyah, keinginanmu untuk salat itulah sudah niat. Wa mahalluhal qalbu lal lafzhu, dan tempatnya adalah di hati, bukan di lafal, bukan di lafal.In kunta turiidu tash-hiihal lafzhi fal lafzhu laa yajib, tapi kalau maksudnya kau ulangi lagi, "Usholli fardhal... Allahu Akbar..." Kau ulang-ulangi untuk memperbaiki lafalmu, ingatlah melafalkan niat tidak wa... tidak wajib. Tsumma qod qultahu shohiihan, dan kau sudah benar ucapannya, kenapa diulangi lagi? Pertama, lafal melafalkan niat tidak wajib, yang kedua, kau sudah ucapkan benar, ngapain diulang lagi? Fa ma wajhul i'adah? Kenapa diulangi lagi? A fa taroka tadzhunnu wa qod qulta innaka ma qulta? Haadza marodh. Apakah kau menyangka bahwasanya engkau telah mengucapkan, bahwasanya kau tidak mengucapkan, apa yang sudah kau ucapkan kau anggap belum kau ucapkan? Ini hanyalah penyakit. Kau sudah ucapkan tapi kau merasa belum mengucapkan, berarti kau apa? Sa... sakit.Al-Imam Ibnul Jauzi berkata, sebagian guru kami telah meriwayatkan dari Ibnu Aqil sebuah hikayat yang menakjubkan. Ada seorang bertemu dengan dia, dengan ulama yang namanya Ibnu Aqil, kemudian orang ini bertanya, "Wahai Ibnu Aqil, sesungguhnya aku telah membasuh, ya, anggota wudhu misalnya, kemudian aku berkata, 'Aku belum basuh.' Jadi wudhu saya sudah basuh, tapi perasaan saya, saya sudah basuh tapi saya bilang saya belum apa? Basuh. Wa ukabbir wa aqulu ma kabbartu, aku sudah bertakbir, terus aku bilang saya belum bertakbir." Maka Ibnu Aqil berkata, "Da'is sholah, kalau begitu enggak usah salat. Kalau begitu kamu enggak usah apa? Salat. Fa innaha ma tajibu 'alaik, karena salat tidak wajib bagimu, enggak usah salat."Maka, qoolal qaumun li Ibni 'Aqil, maka sebagian orang bertanya kepada Ibnu Aqil, "Kaifa taqulu hadza? Bagaimana kau bilang salat tidak wajib bagi dia?" Maka Ibnu Aqil menjawab, Nabi berkata sallallahu 'alaihi wa sallam, "Rufi'al qolamu 'anil majnuun hatta yufiiq," bahwasanya orang gila diangkat pena darinya sampai dia sadar. Siapa yang bertakbir kemudian dia bilang saya belum bertakbir, maka dia tidak berakal. Ini orang gila, enggak wajib apa? Salat. Wal majnuun laa tajibu 'alaihis sholah, orang gila tidak wajib salat. Jadi, sudah takbir bilang belum, sudah basuh bilang apa? Belum. Sudah bilang ini, seperti ini, was-wasah, kasihan orang terkena penyakit seperti ini.Kemudian Ibnul Jauzi berkata, wa'lam annal waswasata fii niyyati sholah sababuha khobalan fil 'aql, ketahuilah bahwasanya was-wasah dalam niat salat adalah sebabnya adalah ada korslet di mana? Di akal, karena kebodohan terhadap syariat. Dan sebagaimana diketahui, jika ada seorang kemudian datang seorang alim masuk, lantas kemudian dia berdiri untuk menyambut orang alim tersebut, ya, menyambut menuju orang alim tersebut, ya, kemudian dia berkata, "Nawaitu an antashiba qoo'iman lidukhuuli hadzal 'alim li'ajli 'ilmihi," kemudian dia berkata, "Aku berniat berdiri untuk menyambut orang alim tersebut karena dia memiliki ilmu, muqbilan 'alaihi bi wajhii, dan aku berhadapan menghadap orang tersebut." Maka orang ini pasti dianggap sufiihan fii 'aqlihi, dianggap akalnya enggak, enggak beres. Ya udah, kamu ketemu orang tinggal berdiri aja, ngapain bilang, "Aku berniat untuk berdiri untuk menyambut..." Niatmu sudah dalam, dalam hati.Fa inna hadza qod tushowwiru fii dzihihnihi mundzu ro'al 'alima, karena sebenarnya niat itu sudah ada dalam hatinya ketika dia melihat orang alim tersebut, langsung terdetik dalam dirinya, sudah ada dalam hatinya untuk berdiri menyambut orang alim tersebut, maka tidak perlu dia ucapkan, "Aku berniat untuk berdiri menyambut orang alim tersebut." Maka demikian pula, jika seorang berdiri untuk salat, berdiri menuju salat untuk melaksanakan fardu salat, maka ini perkara yang sudah terdetik dalam, tergambarkan dalam jiwanya dalam satu saat. Saya pengin salat Zuhur, saya pengin salat Asar, sudah jelas. Laa yathuulu zamanuhu, laa yathuulu zamanuhu, untuk merenungkan hal ini, saya niat salat fardu pengin salat subuh, pengin salat zuhur, pengin salat asar, tidak butuh waktu yang lama, sekilas jret pengin salat, selesai. Langsung terbayangkan dalam benak kita salat Zuhur itu empat rakaat, menghadap kiblat, langsung dalam satu waktu sudah selesai.Antum kalau mau pergi ke masjid sini misalnya, pengin salat Magrib, sudah terdetik dalam hati enggak? Antum sudah tahu salat Magrib itu tiga rakaat enggak? Menghadap kiblat enggak? Bakalan jadi makmum enggak? Udah tahu. Enggak perlu antum bilang, "Saya berniat salat Magrib tiga rakaat menghadap kiblat jadi makmum imamnya siapa di masjid," enggak perlu. Karena begitu antum berangkat, antum sudah terdetik, langsung terkumpulkan dalam satu waktu, paham? Tidak perlu diuraikan, sudah terkumpul dalam satu detik, satu, bukan, enggak sampai satu detik. Sudah terdetik, terkumpul dalam satu, satu lahdzoh, satu saat.Innama yathuuluz zamanu nadzmi hadzihil alfazh, yang butuh waktu panjang itu kalau kita uraikan. "Aku berniat, usholli, fardhal zuhri," aku berniat salat Zuhur fardu, salat fardu Zuhur, "arba'a raka'atin," empat rakaat, "mustaqbilal qiblati," menghadap kiblat, "ada'an," ini bukan qadha tapi salat apa, ada', "makmuuman," saya bukan bagi imam tapi sebagai apa, makmum, "lillahi ta'ala." Panjang atau tidak? Panjang, untuk menguraikan ini memang butuh waktu. Tapi kalau dalam hati, langsung. Saya pengin salat Magrib sudah jelas, langsung terbentuk dalam satu waktu, salat Magrib ya tiga rakaat, ya menghadap kiblat, ya sebagai apa, makmum, salatnya bukan qadha, selesai.Wal alfaazhu laa talzam, jadi Ibnul Jauzi ingin mengingatkan, tidak perlu kau merangkai, ini memang butuh waktu. Kalau niat sebentar aja sudah ada. Adapun yang butuh waktu itu adalah merangkai niat yang kau sudah terkumpul, kau uraikan lagi dalam lafal-lafal. Dan lafal-lafal tidak lazim. Wal waswaas jahlun mahdhun, dan was-wasah itu adalah murni kebodohan, murni kebodohan.Wa innal muwaswis yukallifu nafsahu an yahdhuro fii qalbihi dzhuhriyyata wal ada'iyyata wal fardhiyyata fii haalatin waahidatin mufashsholatan bi alfaazhihi wa huwa yuthooli'uha wa dzalika muhaal. Adapun seorang, yang was-was itu kenapa dia jadi bimbang? Karena ketika itu dalam hatinya dia mau hadirkan itu secara terperinci dalam satu waktu. Dia ingin menghadirkan dalam dirinya, "Saya salat Zuhur, fardu, salatnya ada' bukan qadha, sebagai makmum." Dia mau hadirkan dalam satu waktu, itu susah. Maksudnya apa? Dia menghadirkan lafal tersebut dalam satu waktu, susah atau tidak? Susah. Tapi kalau menghadirkan tanpa menguraikan lafal, langsung satu waktu selesai. Yang susah kalau kita menguraikan lafal tersebut, meskipun kita ucapkan dalam lafal atau kita dalam hati, memang susah kalau kita menguraikan, susah. Tapi kalau pengin salat Magrib selesai, saya pengin salat Magrib otomatis Magribnya tiga rakaat. Empat rakaat atau tiga rakaat? Sudah otomatis, saya bilang, "Saya pengin salat Magrib," selesai, tiga rakaat, menghadap kiblat, jadi makmum, salatnya ada', otomatis, enggak perlu diuraikan.Jadi, ingin mengumpulkan yang terurai itu dalam satu waktu, ini perkara yang mustahil, meskipun dalam hati, susah, maka tidak perlu. Walau kallafo nafsahu dzaalika fil qiyaami lil 'aalimi lata'adzdzaro 'alaihi. Kalau dia pengin membebani dirinya untuk menghadirkan hal itu ketika menyambut seorang alim, susah, ya. "Saya berniat berdiri untuk bertemu dengan si alim, alim itu namanya ini, jalannya begini," ah, susah. Tapi kalau pengin berdiri, saat itu sudah bisa. Jadi, Ibnul Jauzi ingin menjelaskan niat itu mudah, tidak sesulit yang dibayangkan, ya.Kemudian beliau mengatakan, tsumma innahu yajuuzu taqdiimuha 'alat takbiri bi zamanin yasiir, dan boleh niat itu didahului sebelum takbir dengan waktu yang sebentar. Ma lam yafsakha, sebelum dia, selama dia tidak membatalkan niatnya. Karena sebagian orang begini, dalam fikih mereka mengatakan, niat adalah rukun salat, dan niat itu harus dihadirkan bersama kepada rukun pertama dalam salat. Seperti misalnya kalau saya, saya berwudhu, rukun pertama wudhu apa? Membasuh apa? Wajah. Membasuh wajah. Cuci tangan semua sunah. Rukun wudhu apa? Membasuh wajah, kemudian kedua tangan, kemudian kepala, kemudian apa? Kaki. Itu rukun wudhu, rukun wudhu. Menurut ulama fikih, atau sebagian ulama fikih, kalau kita mau niat, niat itu pas ketika membasuh rukun yang pertama. Jadi ketika basuh wajah, "Aku berniat wudhu..." harus dihadirkan berbarengan, jadi rukun tersebut, rukun tuTujuan sholat adalah supaya kita semangat,dan apabila kita ngantuk maka diupayakan tidur terlebih dahulu.Tidur memperbaiki kekuatan.Allah berkata:Sebaik2nya sholat adalah sholatnya Nabi DaudShalat shubuh lebih utama daripada sholat malam.Ibnu Jauzi berkata :Para ulama salaf melaksanakan sholat semalam suntuk itu bertahap,tidak langsung bisa seperti itu,sampai mampu.Dan mereka yakin bs sholat subuh secara berjamaah,yg membuat mereka kuat krna di siang hari mereka tidur,dan sedikit makan.Riwayat tentang Rasulullah ﷺ begadang semalam suntuk tdk tidur adalah tdk benarFitnah menceritakan amal sholeh di jaman org butuh validasi amal sholeh:”sungguh iblis telah memperdaya sekelompok orang yg ahli sholat malam,tpi di siang hari mereka ceritakan ttg sholat malam mereka,ceritanya tdk langsung,terkadang salah seorang berkata dengan halus:”si fulan adzan nya tepat waktu,agar orang tau klu si fulan tidak tidur”(Cara riya’ halus),maka cara orang yg seperti ini justru memperlihatkan catatan amal yg tersembunyi menjadi terlihat(pahalanya berbeda)Allah berkata:“Kalau kalian sedekah kemudian kalian perlihatkan ,dan kalian ikhlas maka hal tsb tidak jadi masalah,tapi kalau kalian sembunyikan maka hal tersebut lebih baik”Amal sholeh yg disembunyikan itu lebih baik.Siapa diantara kalian mempunyai kemampuan melakukan amal sholeh tersembunyi maka lakukanlah.Setan menjerumuskan kita untuk riya’ dengan berbagai macam caraSetan melakukan tipu daya kpd yg bersendirian sholat di masjid,maka dikenallah si fulan,maka org2 dtg utk mengikuti sholat di belakang mereka,ini salah satu racun yg dimasukkin iblis,karena hal inilah yg bikin si fulan senang beribadah krna byk org menyukainya.Zain bin tsabit,Rasulullah ﷺ bersabda:Sebaik baiknya orang sholat adalah di rumahnya,kecuali sholat fardhu(kalau bs sholat sunnah dirumah,sholatlah)Para salaf terdahulu sangat menyukai menyembunyikan amalan2 ibadahnya.Allah menciptakan manusia dgn jiwa yg suka mencela.Orang riya’ ketika akn menceritakan ttg amalan ibadahnya nya sesungguh nya tau dia sedang riya’Riya’ itu lezat,maka kalau sudah diberi sinyal maka berhentilah dari hal2 riya’.Setan menggoda sebagian org ahli ibadah,mereka menangis ketika orang mengelilingi merekaIbnu Jauzi berkata:Siapa yg mampu menyembunyikan tangisnya,tp kemudian dia tampakkan,maka khawatir dia terpapar akan keriya’ anAbu wail jika sholat sendiri maka terdengar tangisan isakannyaKarena dalam tangisannya ada riya’Setan bs menggoda dlm banyak hal,maka berhati2lahMaka tutuplah segala bentuk keriya’an