📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka2 hari lalu
F

Firdha Ayu

📍 Kota Makassar

mandiri dalam mengelola waktu dan menjalankan rutinitas harian yang produktif

mengingatkan anak akan tugas harian adalah bagian dari pengasuhan namun tentu kita akan merasa kesal jika sampai usia besar anak-anak masih belum dapat memimpin dirinya untuk melakukan aktivitas yang telah menjadi rutinitas selama bertahun-tahun latihlah kepemimpinan anak dalam melaksanakan kegiatan harian sedari kecil saat usia kecil keteraturan dalam menjalankan rutinitas harian masih dikendalikan oleh perintah orang tua namun anak akan belajar tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan dalam keseharian. ini adalah masa yang membangun kebiasaan hidup mereka maka buatlah kebiasaan hidup yang produktif sehingga antara kebutuhan dan jasmani dan rohani seimbang dalam mencapai target dunia dan akhirat setelah anak mulai mengerti waktu berikan jangka waktu tertentu untuk melakukan beberapa tugas dan biarkan mereka mengatur urutan pekerjaan dalam durasi waktu yang kita berikan ini akan melatih inisiatif mereka untuk melakukan kegiatan dalam jangka waktu tertentu

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka2 hari lalu
I

Ida Ummu hafsho

📍 Kota Palu

Membangun landasan

Membangun Landasan### 1\. Kesan pertama tentang dunia sangat berartiPengalaman pertama seseorang dapat memengaruhi cara ia memandang dunia. Begitu pula bayi, jika sejak awal ia merasakan kasih sayang, keamanan, dan kenyamanan, ia akan lebih mudah memandang dunia sebagai tempat yang aman.Anak yang merasa dihargai, dicintai, dan memiliki tempat berlindung akan lebih mudah menghadapi kesulitan dan pulih dari pengalaman buruk.### 2\. Bayi membutuhkan respons dan perhatianBayi terlahir dengan kebutuhan untuk menjalin ikatan dengan orang lain. Setelah lahir, ia berkomunikasi melalui tangisan, gerakan, dan isyarat tubuh.Ketika orang tua memahami isyarat tersebut dan memberikan respons yang sesuai, bayi belajar bahwa:* Dunia adalah tempat yang aman.* Kebutuhannya penting.* Ada orang yang bisa diandalkan.* Ia tidak sendirian menghadapi kesulitan.Sebaliknya, pengalaman sering tidak dipahami atau tidak mendapatkan respons dapat memengaruhi cara bayi memandang dunia dan membangun hubungan.### ❤️ Inti penting dari kedua halaman:Bagi bayi, dunia pertamanya adalah orang-orang yang merawatnya.Cara kita merespons tangisan, kebutuhan, dan perasaan bayi ikut membentuk rasa aman, kepercayaan, serta landasan hubungan emosionalnya di masa depan.Bayi tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi membutuhkan orang tua yang berusaha memahami, hadir, dan merespons kebutuhannya.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
F

Febbi NK

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

#34 Kisah Teladan Ummu Ad-Darda'

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda' - Ust. Dr. Firanda Andirja -🌸Siapa Ummu Darda? Ada Dua Orang!🌸Abu Darda Radhiyallahu Anhu memiliki dua istri yang sama-sama disebut Ummu Darda:1. Ummu Darda Al-Kubra (Senior): Namanya Khairah bintu Abi Hadrad Al-Aslami. Dia Sahabiah (bertemu Nabi, beriman, wafat dalam iman), alim & meriwayatkan hadis dari Nabi. Wafat sekitar 30 H, 2 tahun sebelum Abu Darda (32 H).2. Ummu Darda As-Sughra (Junior): Namanya Hujaymah bintu Huyay Al-Washabiyah Al-Himyariyah. Bukan sahabiah, tapi Tabi'iyah (bertemu sahabat). Wafat 81 H (ada yang bilang 90 H), hidup ∼50 tahun setelah Abu Darda wafat. Asalnya dari Yaman (Himyar), tinggal di Damaskus.Catatan: Nama anak Abu Darda yang bernama Darda bukan dari kedua istri ini, dari istri lain yang tidak diketahui kabarnya.Abu Darda sendiri: Nama Uwaimir bin Amir Al-Khazraji, ahli Quran, penghafal Quran bersama Muadz, Zaid dll. Dipanggil ke Damaskus untuk ajarkan Quran, lalu jadi Qadhi/Hakim di Syam, wafat 32 H di masa Utsman.1. Ummu Darda Al-Kubra - Kisah Salman & Keseimbangan IbadahNabi persaudarakan (mu'akhah) Salman Al-Farisi (Persia) dengan Abu Darda (Anshar Khazraj) agar saling perhatian, seperti Sa'ad bin Rabi' dengan Abdurrahman bin Auf. Sistem persaudaraan ini metode Nabi pasca Hijrah. Suatu hari Salman kunjungi rumah Abu Darda, dapati Ummu Darda mutabadzilah - pakaian tidak rapi / semrawut.Adab Sahabiat: Biasanya istri berhias rapi di rumah untuk suami. Nabi melarang pulang safar malam-malam nyelonong, hendaknya siang agar istri bisa bersiap: sisir rambut, dll. Zaman sekarang terbalik: di rumah seadanya, keluar rumah berhias.Salman heran, tanya kenapa. Ummu Darda tidak curhat membongkar aib suami, tidak nangis, hanya beri isyarat: "Inna akhaka Abu Darda la hajata lahu fid dunya - Saudaramu Abu Darda tidak butuh dunia." Maksudnya: ngapain berhias kalau suami tidak menyentuhku. Dia jaga kehormatan suami. Salman paham ada masalah, tapi tidak langsung vonis, dia cross-check dengan menginap. Abu Darda hidangkan makanan, Salman suruh Abu Darda ikut makan padahal puasa sunnah: "Saya tidak makan sampai kau makan." Dalil puasa sunnah boleh dibatalkan untuk menyenangkan tamu. Abu Darda mau qiyamul lail dari awal malam, Salman suruh tidur dulu, 2x disuruh tidur, baru bangun di sepertiga malam terakhir lalu shalat bersama.Abu Darda siang puasa terus, malam shalat terus, kapan sentuh istri? Benar Ummu Darda terbengkalai. Tidak langsung tembak masalah istri, tidak bilang "istrimu laporan". Dia urut: "Jiwamu punya hak, Rabbmu punya hak, tamumu punya hak, istrimu punya hak. Fa'thi kulla dzi haqqin haqqah - Berikan masing-masing haknya." Dimulai dari diri, Allah, tamu, baru istri di akhir, agar tidak ribut. Abu Darda lapor ke Nabi, Nabi jawab: "Shadaqa Salman - Salman telah benar." Maka perkataan Salman jadi seperti sabda Nabi.Pelajaran: Ibadah ada porsinya, jangan berlebih di satu porsi lalu korbankan porsi lain. 2. Ummu Darda As-Sughra - Yatim yang Dididik Suami, Setia Sampai AkhiratBiografi pujian ulama: Ibnu Qaisarani: Faqihah, Alimah, Abidah, Malihah, Jamilah, Wasi'atal ilm, Wafiratal aql - ahli fiqih, alim, ahli ibadah, menyenangkan, cantik jelita, ilmu luas, akal cerdas, meriwayatkan banyak hadis dari Abu Darda. Az-Dzahabi: Dia belajar dari suaminya, terkenal ilmu, amal, zuhud. Muridnya banyak: Jubair bin Nufair, Abu Qilabah, Salim bin Abi Al-Ja'd, Raja bin Haiwah, Makhul, Zaid bin Aslam dll. Asal mula: Dia anak yatim dipelihara Abu Darda & Ummu Darda Al-Kubra sejak kecil. Sering masuk dalam mantel Abu Darda, shalat di shaf laki-laki, duduk di halaqah Quran karena masih kecil. Ketika mulai besar, Abu Darda suruh: "Ilhaqi bi shufufin nisa - Gabunglah dengan shaf wanita." Setelah dewasa dinikahi Abu Darda. Cantik jelita, setelah Abu Darda wafat dilamar Muawiyah (Gubernur Syam di masa Utsman / Khalifah setelahnya). Muawiyah dari Quraisy Bani Umayyah, nasab tinggi, tidak ada kurangnya. Ummu Darda masih sangat muda, mungkin belasan/20-an. Tapi ditolak. Alasan tolak: Dia dengar hadis dari suaminya: "Innal mar'ata li akhiri azwajiha - Wanita di surga bersama suami terakhirnya. Wa la uridu li Abi Darda badilan - Saya tidak mau pengganti selain Abu Darda." Dia sangat cinta Abu Darda meski usia jauh berbeda. Lamaran akhirat: Saat Abu Darda mau wafat, Ummu Darda berkata: "Engkau melamarku dari keluargaku di dunia, sekarang saya melamarmu untuk akhirat, terimalah agar kita menikah sampai akhirat." Abu Darda jawab: "Kalau ingin tetap bersamaku, jangan menikah lagi setelah aku meninggal." Muawiyah nasihati: "Alaiki bish shiyam - Hendaknya kau berpuasa" karena masih muda tapi tidak mau menikah.Banding Ummu Salamah: Saat Abu Salamah wafat, dia baca doa musibah tapi tidak bisa ucap "ganti yang lebih baik" karena siapa lebih baik dari suamiku? Terpaksa ucap karena sunnah, ternyata Allah ganti dengan Nabi. Saat dilamar Nabi dia tolak dengan 3 alasan (tua, anak banyak, cemburu), Nabi bantah semua. Ini bukti cinta sahabiat ke suami, bukan karena kaya, tapi susah & sederhana. Banding Nailah istri Utsman: Cantik jelita, setelah Utsman wafat dilamar banyak lelaki, akhirnya dia patahkan giginya yang indah agar tidak ada yang lamar, karena tidak ingin cinta ke Utsman luntur, ingin bersama sampai akhirat.Catatan: Zaman sahabat hampir tidak ada janda nganggur, begitu masa iddah selesai langsung dilamar sebagai bentuk perhatian, itu hilang sekarang.3. Sifat & Kemuliaan Ummu Darda As-SughraSangat hormat suami: Dalam Shahih Muslim dia meriwayatkan: "Haddatsani Sayyidi - Telah menyampaikan kepadaku tuanku (Sayyidi)." Imam Nawawi: Ini dalil tauqir, menghormati suami sampai tidak bilang "suamiku" tapi "tuanku" seperti budak ke tuan. Hadisnya: Siapa doakan saudaranya tanpa diketahui, malaikat aminkan "wa laka bimitsl" - kau juga dapat sama.Pelajaran hormat suami: Istri sholehah membuat suami merasa jadi gubernur di rumah (_Ar-rijalu qawwamuna 'alan nisa_, Ibnu Abbas: suami seperti gubernur). Jika ibu hormat, anak lihat bapak dihormati, nasihat bapak didengar. Jika bapak tiap hari diomelin ibu, harga diri jatuh, anak anggap bapak macan ternyata kucing kurus. Taat suami karena taat Allah, bukan karena orang tua/orang lain. Nasihati suami salah tetap dengan hormat.Ahli ilmu: Punya majelis 6 bulan di Damaskus, 6 bulan di Baitul Maqdis, mengajar ilmu & Quran. Hadir di majelisnya termasuk Khalifah Abdul Malik bin Marwan, tabi'in Aun bin Abdillah dll.Ahli zikir: Banyak wanita datang untuk ibadah bersama, melihatnya ingat akhirat, semangat zikir, Quran, shalat malam. Muridnya: Kami duduk berzikir masing-masing di sisi beliau, kami khawatir buat bosan, dia jawab: "Saya cari ibadah paling menyenangkan hati & memuaskan dada, tidak ada seperti zikir Allah, bagaimana saya bosan?"Pelajaran zikir: Kurangi relasi tidak bermanfaat, kurangi sosmed. Penduduk Madinah usia 40 fokus ibadah tinggalkan dunia. Usia 40 sekarang malah tambah relasi. Quran tidak khatam berbulan-bulan padahal semua ada tapi tidak dibaca.Nasihat rezeki: Seseorang berdoa minta rezeki, Allah tidak turunkan hujan dinar/dirham. Rezeki lewat perantara lain: jual beli, hadiah. Jika dikasih hadiah terima, jangan tolak (sakiti hati pemberi), kalau tidak perlu kasihkan orang lain, kalau perlu pakai untuk isti'anah beribadah.Nasihat makan: Pernah makan bersama murid lupa puji Allah, dia tegur: "Wahai putra-putraku, jangan lupa campur makanan kalian dengan zikir. Makan sambil memuji Allah lebih baik daripada makan diam-diam." Ini sunnah: makan diiringi Alhamdulillah, Subhanallah.Nasihat hikmah: "Ta'allamul hikmah wa antum shigar, ta'maluna biha wa antum kibar - Pelajari hikmah saat masih kecil, amalkan saat besar." Ajari anak kata-kata hikmah sejak kecil, nanti saat hadapi cobaan dia ingat solusi dari orang tua.Hati bersih: Dikabari ada orang mencelanya, dia jawab: "Subhanallah, betapa sering saya dipuji dengan perkara yang tidak saya lakukan." Tidak marah, anggap celaan sebagai pujian yang tidak pantas. Akhlak mulia.Berani nasihati khalifah: Abdul Malik bin Marwan kirim hadiah perkakas (karpet, bantal) ke Ummu Darda di malam hari, pembantu telat, khalifah melaknat pembantu. Pagi hari Ummu Darda tegur: "Saya dengar semalam engkau melaknat pembantumu. Aku dengar suamiku berkata Nabi bersabda: La yakunul la'anun syufa'a wa la syuhada yaumal qiyamah - Tukang melaknat tidak akan jadi pemberi syafaat & saksi di hari kiamat." Dia nasihati tanpa ragu.Hadis lain yang diriwayatkan dari suaminya: - Tirmidzi: Man radda 'an 'irdhi akhihi... Siapa bela kehormatan saudaranya, Allah bela wajahnya dari neraka. - Abu Dawud: Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa 'alaihi tawakkaltu... pagi-petang 7x Allah cukupkan dari kegelisahan (ada masalah sanad).- Rumus rumah tangga Abu Darda: "Wahai Ummu Darda, jika kau marah saya yang menyenangkanmu, jika saya marah kau yang menyenangkan saya, jika sama-sama marah kita akan berpisah." Jika istri marah suami tenang, jangan sama-sama teriak.Penutup: Jadilah istri sholehah yang kalau dilihat ingatkan akhirat, kesibukannya zikir. Manfaatkan waktu agar bahagia saat bertemu Allah.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
E

Exa Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Tarbiyatul Abna - Syaikh Musthofa Al Adawi

Memperhatikan Waktu Bermain dan Mengajarkan Anak Menghargai WaktuJangan Membiarkan Anak Terlalu Larut dalam Permainan* Orang tua hendaknya tidak membiarkan anak terus-menerus bermain hingga melupakan kewajiban, khususnya salat.* Anak perlu dibiasakan berhenti bermain ketika waktu salat tiba dan segera melaksanakan salat berjamaah.* Allah memerintahkan orang beriman agar segera mengingat Allah ketika dipanggil untuk salat Jumat (QS. Al-Jumu’ah: 9).Waspadai Permainan yang Melalaikan* Permainan yang berlebihan dapat merusak akal, hati, dan menghilangkan rasa cinta kepada Allah.* Fanatisme berlebihan terhadap sepak bola dapat membuat seseorang melalaikan kewajiban agama.* Jangan sampai anak lebih mengagumi pemain sepak bola daripada mencintai dan mengagungkan Allah serta Rasul-Nya.* Kemenangan dan kekalahan dalam permainan tidak memberikan keuntungan hakiki bagi kehidupan akhirat.Hati-hati Terhadap WaktuKisah Hanzhalah Al-Asadi memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga kesadaran hati.* Hanzhalah merasa dirinya munafik karena ketika bersama Rasulullah ﷺ, ia sangat mengingat surga dan neraka. Namun, ketika pulang dan sibuk bersama keluarga serta pekerjaan, ingatan tersebut berkurang.* Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga merasakan hal yang sama.* Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa keadaan manusia memang dapat berubah. Ada waktu untuk beribadah dan mengingat Allah, ada pula waktu untuk bersama keluarga dan memenuhi kebutuhan hidup.Menjaga Keseimbangan dalam Kehidupan* Jangan sampai kesibukan bermain, pekerjaan, atau urusan dunia membuat kita melupakan akhirat.* Manfaatkan waktu dengan baik sesuai kebutuhan dan ketentuannya.* Biasakan anak memahami bahwa setiap kegiatan memiliki waktunya masing-masing.* Tetap menjaga hati agar senantiasa mengingat Allah dalam berbagai keadaan.Pelajaran Penting bagi Orang Tua:Mendidik anak bukan berarti melarang seluruh permainan, tetapi mengajarkan mereka agar tidak diperbudak oleh permainan.Ajarkan anak untuk:* Mendahulukan salat daripada bermain.* Tidak berlebihan dalam hiburan.* Menghargai dan memanfaatkan waktu.* Menyeimbangkan waktu bermain, belajar, beribadah, dan bersama keluarga.* Menjadikan kecintaan kepada Allah lebih besar daripada kecintaan terhadap kesenangan dunia.Inti nasihat: Jangan biarkan anak tumbuh menjadi pribadi yang pandai bermain, tetapi lalai terhadap kewajibannya kepada Allah.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Al kahf

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” QS. Al-Kahfi: 28Pada ayat ini para mufassir menyebutkan bahwasanya ada sekelompok orang-orang Quraisy (yaitu para pembesar-pembesar Quraisy) datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan menawarkan diri untuk beriman akan tetapi dengan persyaratan. Mereka berkata: “Wahai Muhammad, singkirkan dulu orang-orang miskin (karena pada saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersama orang-orang yang miskin) baru kami nanti beriman, dan jika kami (para pembesar-pembesar Quraisy) beriman maka pengikut kami banyak, namun dengan syarat hendaknya engkau menyingkirkan orang-orang yang beriman”[1]. Perkataan mereka tentu tawaran yang sangat menarik, terlebih lagi untuk kemaslahatan dakwah di kemudian hari, terlebih lagi bisa jadi semua Quraisy (yang merupakan kerabat Nabi shallallahu álaihi wasallam) akan mengikuti jika pembesar-pembesarnya beriman. Akan tetapi persyaratan mereka tentu persayaratan yang sangat buruk. Allah subhanahu wa ta'ala langsung memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar, Allah berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ“Dan bersabarlah kamu”Dan ini adalah perintah untuk bersabar, dan bersabar dalam bahasa Arab dari kata الحَبْسُ yaitu “menahan”, sehingga arti ayat adalah “Tahanlah dirimu!”[2], karena ini adalah godaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mungkin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menimbang maslahat, seandainya pembesar-pembesar ini masuk Islam dan orang-orang yang miskin disingkirkan terlebih dahulu, tentu lebih baik, karena bisa jadi dengan masuknya mereka kepada agama Islam maka dakwah ini bisa lebih cepat tersebar. Bisa jadi terbetik dalam hati Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hal-hal tersebut, namun entah apa yang dipikirkan oleh Nabi, tetapi ini adalah sesuatu yang menggoda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan ini adalah tawaran menarik.Terlebih lagi disebutkan bahwa orang-orang yang miskin yang duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hanya berjumlah 6 orang, sehingga hanya tinggal meminggirkan terlebih dahulu 6 orang tersebut, kemudian para pembesar tersebut akan masuk Islam sehingga nantinya banyak yang akan masuk Islam juga. Bisa jadi ada godaan yang seperti itu yang hinggap di benak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sempat berpikir seperti itu untuk menimbang maslahat dan mudarat, Allah subhanahu wa ta'ala langsung memberi wahyu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar tetap tegar dan tidak terpengaruh oleh perkataan orang-orang yang sombong tersebut, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan وَاصْبِرْ نَفْسَكَ “sabarkanlah dirimu”.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ“bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya”Dalam masalah firman-Nya “di pagi hari dan petang hari” ada 2 pendapat:Pertama: ada yang mengatakan maksudnya selalu[3], dan ini adalah sebuah ungkapan dari orang-orang Arab. Ketika mereka ingin mengatakan “selalu” terkadang menggunakan ungkapan pagi dan petang. Jadi maksud dari ayat ini adalah: Hendaknya engkau sabarkan dirimu bersama orang yang selalu ingat kepada Allah subhanahu wa ta'ala.Kedua: maksudnya sesuai dengan zahirnya yaitu benar-benar pagi dan petang[4]. Artinya 2 waktu ini adalah waktu spesial untuk mengingat Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagian ulama menyebutkan alasannya, yaitu di waktu pagi seseorang belum beraktivitas untuk bekerja maka waktunya penuh untuk berkonsentrasi mengingat Allah subhanahu wa ta'ala, begitu juga waktu petang ketika dia pulang dari kerja maka itu saatnya dia mengingat Allah subhanahu wa ta'ala. Bukan berarti waktu di siang hari (yaitu antara setelah terbit matahari hingga waktu petang) kita tidak mengingat Allah subhanahu wa ta'ala, kita tetap mengingat Allah subhanahu wa ta'ala pada waktu tersebut namun kondisinya berbeda dengan 2 waktu di atas. Maka ini isyarat bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala menyukai agar kita fokus dalam mengingat-Nya. Maka dua waktu ini disebutkan untuk menunjukkan keistimewaannya. Oleh karenanya disyariatkan juga untuk melakukan dzikir pagi petang. Penulis lebih condong kepada pendapat kedua bahwasanya yang dimaksud dengan pagi dan petang dalam ayat ini sesuai dengan zahirnya. Ini menunjukkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang mengkhususkan waktu di pagi hari untuk mengingat Allah subhanahu wa ta'ala dan di petang hari untuk mengingat Allah subhanahu wa ta'ala. Sejak subuh hingga terbit matahari mereka mengingat Allah subhanahu wa ta'ala dan sejak shalat asar hingga terbenam matahari mereka berkonsentrasi untuk mengingat Allah subhanahu wa ta'ala.Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan bahwa mereka ini adalah orang-orang yang ikhlas, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “mereka mengharapkan wajah Allah”. Ini adalah dalil bahwasanya seseorang hendaknya selektif dalam berteman dan berusaha mencari teman-teman yang ikhlas. Kita bisa menentukan baik-buruknya seseorang (untuk dijadikan teman) dengan melihat zahirnya dan dengan persangkaan yang kuat. Contohnya ketika berbicara orientasinya bukan dunia yang kuat. Ketika berbicara agama orientasinya bukan dunia . Intinya ketika berbicara apa saja orientasinya bukan dunia. Karena ada orang berbicara agama namun orientasinya adalah dunia, contoh ketika ada orang yang mengajak untuk mendirikan pondok atau boarding school dikarenakan untuk meraih keuntungan yang tinggi, misalnya dengan memasang tarif uang masuk sebesar 60 juta. Maka ini jelas orientasinya adalah dunia. Berbeda jika seseorang mengatakan bahwa dengan 60 juta tersebut akan digunakan sebagai subsidi silang untuk anak yatim maka orientasinya adalah akhirat. Seseorang bagaimanapun akan tampak tujuannya, baik dunia ataupun akhirat, maka jangan terperdaya dengan baju seseorang yang lusuh, kadang pakaiannya lusuh namun otaknya dipenuhi dengan dunia, dan ada orang penampilannya mewah namun pikirannya bukan hal-hal duniawi dan semua ini berdasarkan pengalaman penulis dengan menyaksikannya sendiri. Jadi bagaimana cara kita mengetahui orientasi seseorang dunia atau akhirat? Maka dengan cara sering bergaul dengan dirinya, kita akan tahu, oleh karenanya kita diperintahkan untuk selektif dalam memilih teman karena teman sangat mempengaruhi. Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar bersabar dalam bergaul dengan orang-orang yang ikhlas. Nabi adalah orang yang sangat ikhlas namun juga membutuhkan dengan teman-teman yang ikhlas dalam mendukung dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mungkin kita ikhlas akan tetapi kita juga membutuhkan teman-teman yang ikhlas, karena jika kita ikhlas namun teman-teman kita orientasinya adalah dunia maka lama kelamaan kita akan terbawa ke orientasi dunia juga. Kita katakan ada urusan dunia dan ada urusan akhirat, kita bekerja di dunia namun orientasi tetap akhirat. Dan jika kita salah dalam bergaul dan berteman dengan orang-orang yang selalu membicarakan dunia dan dunia, maka sejatinya kita sebentar lagi akan meninggalkan dunia, kematian jika datang sering tidak memberi pemberitahuan terlebih dahulu. Jika orientasi kita dunia maka kita akan merugi. Agar orientasi kita bukan dunia maka jangan salah dalam bergaul, karena teman itu sangat berpengaruh. Kita bukan dilarang untuk berbicara masalah dunia, akan tetapi jika kita berkumpul maka orientasi kita bukan dunia dan jika mencari dunia pun itu untuk akhirat. Penulis memiliki sebagian sahabat yang diberi kelebihan dunia namun pikiran mereka akhirat. Kita tidak bisa memastikan seseorang tersebut ikhlas atau tidak namun kita bisa merasakannya lewat pembicaraannya, sikapnya, tulisannya, dan statusnya. Untuk apa kita mengejar dunia namun pada akhirnya kita meninggalkan dunia tersebut, kita mengumpulkan dan mengumpulkan sesuatu yang akan kita tinggalkan.Firman Allah subhanahu wa ta'ala يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “mereka mengharapkan wajah Allah” ini adalah ungkapan dari keikhlasan yang mereka mencari wajah Allah subhanahu wa ta'ala[5], para ulama menafsirkan bahwa mereka ingin melihat wajah Allah subhanahu wa ta'ala di surga kelak. Dan ini dalil bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala memiliki wajah dan ini sifat dzatiyyah yang diyakini oleh Ahlus sunnah wal jama’ah bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala memiliki sifat wajah. Sangat banyak ayat maupun hadits yang menunjukkan Allah subhanahu wa ta'ala memiliki sifat wajah, di antaranya ayat ini dan juga firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” QS. Ar-Rahman: 27Dan friman-Nya,وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” QS. Al-Qoshosh: 88Intinya sifat wajah itu ada di Al-Quran dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka di antara makna يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “mereka mengharapkan untuk melihat wajah Allah” dan ini butuh dengan keikhlasan.Para ulama juga mengambil faedah dari ayat ini bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan untuk bersabar ketika bergaul dengan orang-orang yang miskin, oleh karenanya Asy-Syaikh As-Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan bahwa faedah dari ayat ini bahwasanya siapa bersabar untuk bergaul dengan orang-orang fakir dan orang-orang miskin maka dia akan mendapatkan faedah yang sangat banyak [6]. Jadi kita dalam bergaul bukan hanya dengan orang-orang kaya saja, namun hendaknya kita juga bergaul dengan orang-orang miskin, agar kita tahu bagaimana susahnya dia sehingga kita bersyukur. Dan ada banyak hal lainnya dari manfaat kita bergaul dengan orang yang lebih miskin daripada kita; kita bisa membantunya dan ini merupakan sarana untuk bersedekah, sebagaimana telah lalu yaitu kita tahu bagaimana susahnya kehidupannya sehingga kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Kita lihat bagaimana penderitaan seseorang dan kita menjadi tempat mencurahkan hatinya sehingga banyak pahala yang mungkin bisa kita dapatkan, yaitu kita menjadi orang yang bersyukur, bersabar, dan membantunya dengan bersedekah. Begitulah Asy-Syaikh As-Sa’dy mengatakan bahwa banyak faidah dari bergaul dengan orang-orang fakir. Itulah sebabnya Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar dengan orang-orang walaupun fakir tetapi mereka ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta'ala.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْdan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka;تَعْدُ maksudnya jangan kau lewati pandanganmu, akan tetapi dalam bahasa arab عَدَا يَعْدُو seharusnya dia yata’addaa binafsihi (membutuhkan objek dengan sendirinya) dan tidak butuh huruf pembantu seperti عَنْ atau بِ akan tetapi dalam ayat ini disebutkanوَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ menggunakan perantara عَنْ yang seharusnya cukup وَلَا تَعْدُهُمْ عَيْنَاكَ tanpa perlu tambahan عَنْ di sini, ini secara bahasa arab. Sehingga para Ahli Tafsir (seperti Thahir Ibnu Asyur dan yang lainnya) mereka mengatakan bahwasanya tatkala Allah subhanahu wa ta'ala menambah عَنْ di sini maka di dalamnya terdapat uslub at-tadhmin yaitu ada fi’il/kata kerja yang tersembunyi dalam kalimat ini, seakan-akan Allah subhanahu wa ta'ala berkata,وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ وَلَا تُعْرِضْ عَنْهُمْ“dan jangan kau kedua matamu melewati mereka dan jangan kau berpaling dari mereka.” [7]Artinya Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar bersama mereka dan jangan berpaling menuju kepada orang-orang kaya, akan tetapi berpalinglah dari orang-orang kaya dengan bersabar bersama orang-orang miskin.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini”Dunia memang indah. Bergaul dengan pembesar-pembesar Quraisy banyak menjanjikan, akan tetapi Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan bahwasanya dunia akan sirna.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.”Apa yang dimaksud dengan ذِكْرِنَا “mengingat kami”? Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud dari ذِكْرِنَا adalah Al-Quran, sebagian ulama lain ada yang mengatakan maksud dari ذِكْرِنَا adalah dzikir secara umum[8]. Yaitu mereka dibuat lalai sehingga tidak sibuk dengan Al-Quran dan tidak sibuk dengan mengingat Allah subhanahu wa ta'ala serta Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan hati mereka lalai.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَاتَّبَعَ هَوَاهُ“serta menuruti hawa nafsunya”Pada kalimat ini terdapat faedah yang perlu kita perhatikan, pada kalimat sebelumnya Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan,أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا“Kami lalaikan dari mengingati Kami.”Dan yang dimaksud Kami di sini adalah Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala yang membuat hatinya lalai. Ini dalil bahwasanya segala yang terjadi di alam semesta (yang baik maupun yang buruk) semuanya di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Sampai-sampai lalainya hati seseorang pun atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala.Ini termasuk permasalahan iman terhadap takdir, bahwasanya semua yang terjadi di alam semesta tidak ada yang keluar dari kehendak Allah subhanahu wa ta'ala, apakah itu perkara yang baik maupun perkara yang buruk. Contoh sederhananya di dunia ini ada Iblis yang buruk, dan yang menciptakannya adalah Allah subhanahu wa ta'ala, Iblis meminta dipanjangkan umurnya untuk menggoda manusia juga dikabulkan dan diizinkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Jadi semua yang terjadi berupa keburukan dan kemaksiatan semuanya di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Semuanya ada hikmah yang Allah subhanahu wa ta'ala kehendaki. Pada kalimat ini yaitu أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا “Kami lalaikan dari mengingati Kami” Allah subhanahu wa ta'ala menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala yang menakdirkan semuanya. Kemudian pada kalimat setelahnya Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan,وَاتَّبَعَ هَوَاهُ“serta menuruti hawa nafsunya”Ini adalah dalil bahwasanya perbuatan hamba disandarkan kepada dirinya sendiri. Maksudnya jangan sampai seseorang bermaksiat lalu dia mengatakan bahwa hal tersebut kehendak Allah subhanahu wa ta'ala yang telah ditakdirkan, maka hal ini tidak diperbolehkan. Jika seseorang berbuat maksiat maka maksiat tersebut disandarkan kepada dirinya sendiri meskipun semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Akan tetapi semua hal tersebut hamba yang melakukannya, yang menghendakinya, dan ada pilihan di hadapannya (antara melakukan atau meninggalkannya), dan semua yang dipilih maka tidak keluar dari kehendak Allah subhanahu wa ta'ala, karena semua yang terjadi berada di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Walaupun demikian, jangan sampai seseorang berbuat maksiat, lalu dia mengatakan bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala lah yang membuat dia berbuat maksiat, maka ini tidak boleh karena dialah yang berbuat. Oleh karenanya tatkala ada seseorang yang mencuri lalu ditangkap oleh Umar bin Al-Khotthob dan diperintahkan untuk dipotong tangannya, pencuri tersebut berkata:مَهْلاً يا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ، فَإِنَّمَا سَرِقْتُ بِقَدَرِ اللهِ.“Sebentar wahai Amirul mukminin! saya mencuri hanya dengan takdir Allah”.Maka ‘Umar pun menjawab:فَقَالَ: وَنَحْنُ إِنَّمَا نَقْطَعُ بِقَدَرِ اللهِ.“Dan kami pun memotong tangan juga dengan takdir Allah.” [9]Jangan sampai di akhirat seseorang mengatakan: Ya Allah, saya masuk neraka karena takdir-Mu, dan saya berbuat maksiat karena terpaksa”. Ini tidak benar. Karena sesungguhnya dia tidak terpaksa, dia bisa memilih antara melakukan atau meninggalkan. Dan semua yang terjadi atas kehendak kita, akan tetapi semua kehendak kita di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala.Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“dan perkara orang ini kacau”Maka wahai Muhammad jangan engkau ikuti orang yang seperti ini. Yaitu orang yang hanya memikirkan dunia, hatinya lalai, tidak ingat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, mungkin lisannya menyebut Allah subhanahu wa ta'ala namun hatinya lalai, dia hanya mengikuti hawa nafsunya, dan perkaranya kacau.فُرُطًا bisa diartikan التَّفْرِيط atau الْإِفْرَاط. التَّفْرِيط maksudnya perkaranya kurang dan tidak sempurna. Adapun الْإِفْرَاط maksudnya perkaranya berlebih-lebihan, dia sombong dan dia angkuh. Dan inilah yang dimaksud dengan فُرُطًا. [10]---Catatan kaki:[1] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/152[2] Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 15/304[3] Lihat: Tafsir Al-Alusy 8/249[4] Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 475[5] Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 475[6] Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 475[7] Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 15/305[8] Lihat: Tafsir Al-Alusy 8/249[9] Lihat: Syarhu Tsalatsatul Ushul hal: 115[10] Lihat: Tafsir Al-Qurthuby: 10/392

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda’ | Ustadz Dr. Firanda Andirja

1. Ummu Ad-Darda’ Al-Kubra (Senior)• Identitas: Bernama Khairah bintu Abi Hadrat Al-Aslami, wanita shalihah yang dikenal ilmunya dan meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam. Seorang sahabiyah yang bertemu dan beriman dengan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam.• Kisah Kunjungan Salman Al-Farisi:Abu Darda’ : orang yang terkenal sangat ahli ibadah, ahli quran, bahkan menjadi Hakim Qadi di Damaskus/Syiria. Dan wafat di masa pemerintahan Utsman bin 'Affan.- Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam mempersaudarakan Salman Al-Farisi (Persia) dengan Abu Darda’ (suku Khazraj) melalui sistem persaudaraan (Nizham at-Ta’akhi).Rasulullah di awal-awal Islam banyak mempersaudarakan, agar saling perhatian satu sama lain. Seperti mempersaudarakan salah satu Suku Anshar dan salah satu kaum Muhajirin.- Salman mengunjungi dan melihat Ummu Ad-Darda’ berpakaian semrawut (tidak rapi) atau tidak berhias. Ketika ditanya, ia menjaga kehormatan suaminya dengan berkata bijak bahwa suaminya tidak butuh dengan kesenangan duniawi.“Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan ...” (HR Bukhari)- Abu Darda’ terlalu fokus beribadah hingga berpuasa sunnah setiap hari dan shalat sepanjang malam.“... Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali ...” (HR Bukhari)- Salman menasihati Abu Darda’ dengan menginap untuk membimbingnya: meminta Abu Darda’ membatalkan puasa sunnah, menahan shalat hingga waktu sepertiga malam terakhir, lalu menyampaikan bahwa tubuh memiliki hak, Allah memiliki hak, tamu memiliki hak, dan istri memiliki hak, sehingga hak masing-masing harus dipenuhi.Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi dirimu (jiwamu) ada hak, bagi Rabbmu ada hak, bagi tamu ada hak dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut ...” (HR Bukhari)Faedah : Jika terdapat berita sampai kepada kita, sebelum memberi nasihat, diteliti dulu kebenarannya. Dan jika ingin memberi nasihat, jangan langsung ke intinya (Salman tidak jug-jug membahas hak istri Abu Darda’).- Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam membenarkan dan memuji nasihat Salman.“... Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar”.” (HR. Bukhari no. 1968)Faedah : Beribadah jangan mengikuti hawa nafsu. Karena masing-masing ada porsinya.• Wafat: Wafat di Damaskus beberapa waktu mendahului Abu Darda’ sekitar tahun 30 H.2. Ummu Ad-Darda’ Ash-Sughra (Junior)• Identitas: Juhaimah atau Hujaimah bintu Huyay Al-Washabiyah (berasal dari Yaman), seorang tabi'iyah yang ahli fiqih, alim, ahli ibadah, cantik jelita, ilmunya luas, akalnya cerdas, dan meriwayatkan banyak hadits dari suaminya. Faedah : Seorang suami shaleh adalah yang mengajari istrinya ilmu agama.Usianya panjang. Terkenal dengan ilmu dan amal dan zuhud.• Masa Kecil dan Pernikahan:- Dibesarkan sebagai anak yatim dalam asuhan Abu Darda’ dan diajarkan ilmu agama serta Al-Quran sejak kecil.- Saat masih kecil, pernah berada satu mantel bersama Abu Darda’. Dan sering shalat di shaff laki-laki saat diajak ke masjid oleh Abu Darda’.- Setelah dewasa, Abu Darda’ menikahinya. Saat Abu Darda’ hendak wafat, Ummu Ad-Darda’ berpesan ingin menjadi istrinya kembali di akhirat kelak dan berikrar tidak menikah lagi.• Menolak Lamaran Tokoh Besar:- Setelah Abu Darda’ wafat, ia dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan, tetapi menolaknya karena berpegang pada sabda Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bahwa seorang wanita di Surga kelak bersama suaminya yang terakhir.Dalilnya adalah perbuatan Ummu Dardaa’ yang menolak lamaran Mu’awiyah karena ingin menjadi suami Abu Dardaa’ di surga. Ia berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ (suaminya yang telah meninggal) berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا“Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir”. Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa’” [As-Shahihah no 128]• Penghormatan Kepada Suami:- Ketika meriwayatkan hadits, ia menyebut suaminya dengan panggilan penuh takzim, yaitu tuanku telah menyampaikan hadits kepadaku.• Kiprah Keilmuan dan Keteladanan:- Membuka majelis ilmu di Damaskus dan Baitul Maqdis yang dihadiri para pembesar tabi’in hingga khalifah Abdul Malik bin Marwan.- Sangat tekun berdzikir hingga menyatakan bahwa tidak ada ibadah yang paling menyejukkan hatinya selain mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.- Tegas menasehati khalifah Abdul Malik bin Marwan saat melaknat pembantunya, dengan mengingatkan hadits mengenai larangan gemar melaknat.• Wafat: Pada tahun 81+ H.HIKMAH DAN PELAJARAN RUMAH TANGGA• Keseimbangan Hak dan Kewajiban: Menjalankan ibadah sunnah tidak boleh sampai menelantarkan hak pasangan maupun kebutuhan keluarga.• Manajemen Konflik Suami Istri: Pesan bijak Abu Darda’ kepada istrinya agar ketika salah satu sedang marah, pihak lain hendaknya berusaha meredakan dan menenangkan suasana demi menjaga keutuhan rumah tangga.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 114 | Mukmin Yang Termulia Ialah Yang Paling Taat dan Paling Mengikuti Al-Qur’an

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-114 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan raḥimahullāh:وَأَكْرَمُهُمْ أَطْوَعُهُمْ وَأَتْبَعُهُمْ لِلْقُرْآنِYang paling mulia di antara mereka adalah yang paling taat dan yang paling mengikuti Al-Qur’an:إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ(QS. Al-Ḥujurāt: 13)Yang paling mulia diantara mereka yaitu yang paling mulia di sisi Allāh adalah orang yang paling taat dan paling mengikuti Al-Qur’an. Semakin seseorang taat dan semakin seseorang mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur’an, maka dia semakin mulia di sisi Allāh. Termasuk mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur’an adalah mengikuti ḥadīṡ Nabi ﷺ. Karena di dalam Al-Qur’an, betapa banyak Allāh ﷻ memerintahkan kita untuk menaati Rasūlullāh ﷺ:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.Apa yang diberikan oleh Rasūl kepada kalian maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah. (QS. Al-Ḥasyr: 7)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ.Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allāh dan taatilah Rasūl. (QS. An-Nisā’: 59)مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.Barangsiapa yang menaati Rasūl, maka sungguh dia telah menaati Allāh. (QS. An-Nisā’: 80)Jangan kita pahami bahwa disini tidak disebutkan hadits. Mengikuti Al-Qur’an di antara konsekuensinya adalah mengikuti hadits, karena dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ banyak menyebutkan perintah untuk mengikuti Rasūlullāh ﷺ, dan ketaatan kepada beliau adalah bagian dari ketaatan kepada Allāh ﷻ:مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.Barangsiapa yang menaati aku, maka sungguh dia telah menaati Allāh. (Ḥadīṡ Riwayat Bukhārī dan Muslim)Al-Qur’an semuanya adalah petunjukإِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِي لِلَّتِي هِيَ أَقۡوَمُSesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus. (QS. Al-Isrā’: 9)شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ.Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.(QS. Al-Baqarah: 185)Semakin seseorang sempurna dalam mengikuti apa yang ada dalam Al-Qur’an, maka akan semakin baik kehidupannya, di dunia dia akan mendapatkan ḥayātun ṭayyibah (kehidupan yang baik), dan di akhirat dia akan dibalas oleh Allāh ﷻ dengan balasan yang lebih sempurna.Sehingga beliau mengatakan: أَطْوَعُهُمْ وَأَتْبَعُهُمْ لِلْقُرْآنِ.Hal ini menunjukkan pentingnya seorang Ahlussunnah memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Qur’anul Karīm, baik dalam membacanya, kita rutinkan untuk membaca Al-Qur’an karena ia adalah kalāmullāh; di dalamnya ada petunjuk bagi kita.Kemudian juga kita berusaha untuk memahaminya. Bagaimana kita bisa mengikuti Al-Qur’an dan mengamalkan Al-Qur’an kalau kita tidak memahami Al-Qur’an?. Sebagian kita semangat untuk mendengarkan ceramah, semangat untuk membaca buku ini dan buku itu, tapi buku dan juga Kitabullah yang merupakan Kalamullah kita kurang semangat untuk mempelajari. Padahal, di situlah petunjuk sebenarnya.Seandainya seseorang mentadaburi satu ayat dalam Al-Qur’an, bi’idznillah akan memberikan pengaruh pada diri seseorang. Dia baca, kemudian dia ulang-ulang, dia pahami, dia tadabburi. Sebagian karena sudah mendapatkan waswas dari syaiton, melihat bahwasanya petunjuk ini pada selain Al-Qur’an. Jadi, tenangnya ketika mendengarkan ceramah si fulan atau tenangnya ketika dia mendengarkan nasyid, dan dia tidak akan mendapatkan ketenangan kalau dia masih meyakini bahwasanya ketenangan ada di selain Al-Qur’an, petunjuk ada di selain Al-Qur’an.Ini sebenarnya adalah dorongan dari Mu’allif raḥimahullāh supaya kita memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Qur’an. Kalau memang kita bisa menghafal, maka tentunya ini adalah sebuah keutamaan bagi seseorang—dipilih hatinya, dipilih dadanya di antara sekian banyak dada manusia untuk menghafal Kalamullah, tentunya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.Ahlus-Sunnah mereka memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Qur’an. Mereka memiliki perhatian yang besar terhadap sunnah Nabi ﷺ. Bukan hanya sekadar dibaca, tapi mereka juga mempelajarinya, mengajarkan tafsirnya, mengajarkan kaidah-kaidah bagaimana cara menafsirkan Al-Qur’an.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
S
SHILFI LATIFATHUL WANGSA

📍 Kabupaten Purwakarta

Ummu ad darda

Ummu darda, istri dari abu darda. Abu darda memiliki anak darda dari istri lain bukan istri senior dan junior. Abu darda memiliki 2 istri yang dikenal dengan sebutan ummu darda dua duanya, hanya saja yang pertama ummu darda al qubro yaitu ummu darda senior, yang kedua disebut ummu darda as sughro yaitu ummu darda yang junior. Dua duanya wanita shalihah. Ummu darda al qubro namanya adalah khayrah bintu abi hadrat al aslami. Seorang wanita shalihah yang dikenal juga dengan ilmunya dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah, dan dia adalah sohabiyah, yaitu bertemu dengan Nabi Muhammad dan beriman dengan Nabi Muhammad. Adapun yang junior maka dia bukan sohabiyah, dia tidak bertemu dengan Nabi Muhammad tapi dia seorang tabiiyah bertemu dengan sahabatnya. Ummu darda yang senior, menikah dengan abu darda dan abu darda adalah seorang yang terkenal sangat ahli ibadah, ahli qur'an, diantara sahabat yang hafal al quran adalah abu darda. Uwaimir bin amir. Kalau puasa sunnah boleh berbuka. Abu darda suka beribadah dan suka berpuasa. Salman al farisi menasihati abu darda. Salman telah di persaudarakan oleh Nabi shallallahu'alayhi wasallam dengan abu darda. Nasehat dari salman al farisi kepada abu darda. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).Beberapa faedah dari hadits di atas:1- Disyari’atkan mempersaudarakan sesama muslim karena Allah.2- Disunnahkan pula bertandang (berziarah) ke saudara muslim dan bermalam di sana.3- Bolehnya berbicara dengan wanita non mahram ketika ada hajat.4- Boleh bertanya perkara yang mengandung maslahat walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan orang yang bertanya.5- Sesama muslim hendaklah saling menasehati apalagi ketika melihat saudaranya keliru atau lalai dari ketaatan.6- Keutamaan shalat sunnah di akhir malam.7- Disunnahkan bagi istri untuk berhias diri bagi suaminya.8- Istri memiliki hak yang mesti dijalani suami yaitu hubungan interaksi yang baik, termasuk pula dalam hal hubungan intim, jatah istri pun mesti diberikan.9- Bolehnya melarang melakukan perkara sunnah jika sampai terjerumus dalam kekeliruan atau lalai melakukan hal yang wajib.10- Hadits ini menunjukkan larangan menyusah-nyusahkan (memberatkan) diri dalam ibadah.11- Bolehnya membatalkan puasa sunnah. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama) dan tidak ada kewajiban qodho’ jika puasa tersebut ditinggalkan.Abu darda shalat shubuh ke masjid dan cerita ke Nabi Muhammad dan Rasulullah membenarkan perkataan salman al farisi. Sejak saat itu abu darda memperbaiki sikapnya terhadap istrinya.Ummu darda junior namanya adalah hujaymah bintu huyay al wasshobiyah. Dia seorang yang ahli fiqih, wanita yang alim, wanita yang ahli ibadah, wanita yang menyenangkan, wanita yang cantik jelita, ilmu nya luas, akal nya cerdas dan meriwayatkan banyak hadits dari suaminya ialah abu darda. Ummu darda as sughro. Umurnya panjang, terkenal dengan ilmu dan amal, dan zuhud, perawi hadits. Ummu darda adalah anak yatim, dipelihara oleh abu darda. Dia tinggal sama abu darda dan ummu darda al qubro (senior). Duduk di shaf laki laki saat masih kecil. Belajar sejak kecil bersama abu darda. Setelah dewasa, dinikahi oleh abu darda. Abu darda meninggal sekitar tahun 32 hijriyah. Ummu darda waktu dinikahi umur nya masih muda, dia masih hidup setelah wafatnya abu darda, meninggal nya lama setelah wafatnya abu darda, dia wafat pada tahun 81 atau lebih hijriyah. Dia masih hidup sekita 50 tahun. Dia dilamar muawiyah. Abu darda hakimnya. Muawiyah dari quraisy. Lamaran ditolak oleh ummu darda. Ummu darda sangat cinta kepada abu darda. Cinta sejati. Ketika terkena musibah ini do'anya "Ya Allah berilah aku pahala atas musibah yang menimpa ku ini, berilah aku ganti yang lebih baik." Seperti cerita ummu salamah. Kebahagiaan bukan harus dibangun diatas kemewahan. Ummu darda begitu cintanya kepada abu darda.Sifat sifat ummu darda maka beliau dikenal dengan :1. Ahli ibadah2. Ahli ilmuTerkumpul kepada dirinya, dia sangat hormat sama suaminya. Diantara bentuk kehormatannya dalam shahih muslim beliau meriwayatkan dari ummu darda sesungguhnya tuanku telah menyampaikan hadits kepadaku, bahwasanya jika ada seorang mendo'akan saudaranya tanpa diketahui saudaranya, maka malaikat akan mengaminkan dengan berkata kau juga mendapatkan seperti yang kau do'akan buat saudaranya. Ini hadits dari abu darda. Sangat menghormati abu darda. Hormat sama suami. Ibu ibu hormati suami. Anak anak melihat bapak nya ini sosok yang dihormati oleh ibunya. Sehingga kalau bapak nasihat, anak anak dengar. Tapi kalau lihat bapaknya diomelin terus sama ibunya, jatuh harga diri bapaknya. Istri tidak hormat kepada suaminya. Istri yang shalihah istri yang membuat suaminya merasa dirinya menjadi gubernur dirumah. 3. Sering mengajarkan ilmu dan mengajarkan al qur'an4. Selalu berdzikir kepada AllahNasihat nasihat dari ummu darda : 1. Usman bin hayyan berkata aku mendengar ummu darda berkata sesungguhnya salah seorang dari kalian berdo'a Ya Allah berilah rezeki kepadaku, dan dia tahu Allah tidak akan turunkan hujan dinar maupun hujan dirham, tidak ada hujan emas dan hujan perak. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada seseorang melewati orang lain, entah jual beli, entah hadiah, siapa yang diberikan suatu pemberian entah hadiah entah apa maka terima, jangan tolak. Kalau kau tidak perlu, kasihkan kepada yang lain. Jangan malu malu untuk terima. Kalau ada yang kasih terima saja. Kalau kau tidak perlu kasihkan ke yang lain. Kalau kau perlu, gunakan untuk beribadah kepada Allah. 2. Usman bin hayyan berkata suatu hari kami makan bersama abu darda lalu kami lupa untuk memuji Allah ta'ala. Lalu ummu darda berkata wahai murid muridku, jangan kalian lupa untuk mencampurkan makanan kalian dengan dzikir kepada Allah subhanahu wata'ala. Makan sambil memuji Allah subhanahu wata'ala daripada makan sambil diam diam. 3. Pelajarilah hikmah hikmah ketika kalian masih kecil atau masih muda dan kalian akan mengamalkannya ketika sudah besar. Akhlak mulia ummu darda ketika ada yang cela dia, dia tidak masalah malah dianggap pujian. Hadits dari ummu darda dari abu darda siapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah akan membela wajahnya dari neraka jahannam. Kalau ada orang yang mencela saudara kita, kita bela dia, kamu ga boleh begitu, kamu ga benar, kalau perkataan kamu benar itu namanya ghibah, kalau mau nasihatin, nasihatin langsung. Kalau kita bela saudara kita, kita akan dibela oleh Allah dari neraka jahannam. Hadits dari ummu darda dari abu darda siapa yang dzikir di pagi hari dan di petang hari membaca hasbiyallahu laa illaaha illaa huwa 'alayhi tawakkaltu wa huwa rabbul 'arsyil adzim 7 kali maka Allah akan mencukupkan dia dari apa yang dia gelisahkan. Hadits dari ummu darda dari abu darda kalau kamu marah, saya akan menyenangkan engkau. Kalau saya marah, senangkan diriku. Jika kita sama sama marah, kita bakalan berpisah. Waktu harus kita manfaatkan agar kita bahagia ketika kita bertemu dengan Allah subhanahu wata'ala.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Menetapkan Ekspektasi yang Realistis untuk Orang Tua

Orang tua perlu menetapkan batasan sesuai kemampuan anak sekaligus kemampuan diri sendiri. Memahami batas toleransi diri penting agar tidak terus memendam kekesalan hingga akhirnya meluapkannya kepada anak.Beberapa hal yang perlu diperhatikan:Kenali batas kemampuan diri. Tentukan hal-hal yang masih bisa diterima dan ditoleransi agar tidak mudah frustrasi atau marah.Tetapkan batasan sejak awal. Jangan selalu menuruti keinginan anak jika sebenarnya tidak nyaman. Sampaikan batasan dengan jelas agar anak tidak bingung ketika suatu saat orang tua menolaknya.Buat ekspektasi yang realistis. Sesuaikan harapan dengan kemampuan dan kondisi anak saat ini, bukan berdasarkan apa yang bisa dilakukan anak lain.Mulai dari tujuan kecil. Pecah target menjadi langkah-langkah sederhana. Hargai setiap kemajuan, baik pencapaian anak maupun usaha orang tua.Sesuaikan ekspektasi seiring perkembangan anak. Kenali anak dengan baik dan terus evaluasi harapan agar sesuai dengan kondisi nyatanya.Intinya: Menetapkan ekspektasi realistis bukan berarti menurunkan harapan atau menyerah pada kemampuan anak, melainkan memahami kenyataan dan menyesuaikan target dengan kemampuan anak serta orang tua. Dengan begitu, proses pengasuhan menjadi lebih terarah dan tidak mudah menimbulkan frustrasi.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

KISAH TELADAN UMMU AD-DARDA

1. Mengenal Dua Sosok Ummu ad-DardaDalam sejarah Islam, terdapat dua perempuan yang dikenal dengan sebutan Ummu ad-Darda al-Kubra dan Ummu ad-Darda as-SughraA. Ummu ad-Darda al-KubraNama beliau adalah Khairah bintu Abi Hadrad al-Aslamiyah. Beliau termasuk sahabiyah dan merupakan istri Abu Darda radhiyallahu ‘anhu.Abu Darda dikenal sebagai sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki perhatian besar terhadap Al-Qur’an, ilmu, dan ibadah.Salah satu kisah yang menggambarkan kehidupan rumah tangga Abu Darda dan istrinya adalah kunjungan Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu ke rumah mereka.Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari nomor 1968.Ketika Salman datang, beliau melihat Ummu ad-Darda dalam keadaan sederhana. Salman kemudian bertanya tentang keadaannya.Ummu ad-Darda menjawab bahwa Abu Darda tidak lagi memiliki keinginan terhadap dunia.Ketika Abu Darda datang, Salman menyuguhkan makanan dan mengajaknya makan. Namun, Abu Darda mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa.Salman pun berkata bahwa ia tidak akan makan sampai Abu Darda ikut makan. Akhirnya Abu Darda berbuka dan makan bersama Salman.Ketika malam tiba, Abu Darda hendak mengerjakan salat malam. Salman memintanya untuk tidur terlebih dahulu. Ketika malam telah mencapai bagian akhirnya, Salman membangunkan Abu Darda dan keduanya melaksanakan salat malam.Salman kemudian menyampaikan nasihat:إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya.”Ketika kisah tersebut disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:صَدَقَ سَلْمَانُ“Salman telah berkata benar.”(HR. Bukhari no. 1968)B. Ummu ad-Darda as-SughraNama beliau adalah Hujaimah bintu Huyai al-Aushabiyah al-Himyariyah. Beliau termasuk generasi tabi’in.Beliau dikenal sebagai perempuan yang berilmu, ahli ibadah, memiliki pemahaman agama, dan mengajarkan ilmu kepada banyak orang.Ummu ad-Darda as-Sughra dikenal sebagai perempuan yang memiliki ilmu agama dan menjadi tempat belajar banyak orang.Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga Abu Darda. Setelah menjadi yatim, beliau berada dalam asuhan Abu Darda, kemudian dinikahi oleh beliau.Beliau dikenal mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama. Majelis ilmunya dihadiri oleh para penuntut ilmu, termasuk tokoh-tokoh dari kalangan tabi’in.Disebutkan dalam sejumlah riwayat sejarah bahwa beliau mengajar selama enam bulan di Damaskus dan enam bulan di Baitul Maqdis.Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam menyebarkan ilmu agama, dengan tetap menjaga adab dan ketentuan syariat.Ummu ad-Darda as-Sughra dalam Menghormati SuamiUmmu ad-Darda as-Sughra dikenal sebagai sosok istri yang menghormati suaminya.Dalam kehidupan rumah tangga, penghormatan kepada suami bukan sekadar ucapan, tetapi juga tampak dalam sikap, perhatian, dan penjagaan terhadap kehormatan keluarga.Diriwayatkan bahwa beliau pernah menyampaikan hadis dari suaminya dengan menyebut:“Tuanku telah menyampaikan hadis kepadaku.”Hal ini menunjukkan penghormatan beliau kepada suaminya.Nasihat dan teladan dari Ummu ad-DardaBeberapa nasihat dan teladan yang dapat dipetik dari kehidupan beliau:1. Membiasakan memuji Allah ketika makanTidak membiasakan diri makan dalam keadaan diam tanpa mengingat Allah. Mengucapkan pujian kepada Allah atas nikmat makanan yang diberikan.2. Menyambut pemberian dengan baikApabila mendapatkan hadiah, terimalah dengan baik. Jika tidak menyukainya atau tidak membutuhkannya, berikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.3. Memberikan nasihat kepada anak-anakBeliau memperhatikan pendidikan dan pembinaan akhlak anak-anak.4. Berani menasihati pemimpinBeliau tidak segan memberikan nasihat kepada khalifah ketika melihat kesalahan.Salah satu peristiwa yang disebutkan dalam materi kajian adalah ketika seorang khalifah mencela pelayannya. Ummu ad-Darda memberikan nasihat agar tidak menzalimi atau merendahkan orang lain.5. Menjaga zikir pagi dan petangDi antara zikir yang disebutkan dalam materi kajian sebagai zikir Ummu ad-Darda as-Sughra adalah:حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِLatin:Hasbiyallāhu lā ilāha illā huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arsyil-‘azhīm.Artinya:“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb pemilik ‘Arsy yang agung.”Dibaca sebanyak tujuh kali pada pagi dan petang sebagaimana disebutkan dalam riwayat Sunan Abi Dawud nomor 5081.Zikir ini mengandung makna tawakal dan penyerahan diri kepada Allah. Seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah tempat bergantung dan hanya kepada-Nya segala urusan diserahkan.6. Tidak mudah terpancing amarahKetika diberi tahu bahwa banyak orang mencela dirinya, beliau tidak terpancing emosi dan tidak membalas dengan kemarahan.Justru beliau memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak perlu membuat dirinya marah.Ini menunjukkan kemuliaan akhlak, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
N

Naella ulia

📍 -

Pesta Pernikahan

Pesta Pernikahan (Walimah)Pesta pernikahan dilaksanakan keesokan harinya. Walimah wajib dilaksanakan setelah melaksanakan malam pertama, berdasarkan sabda Nabi, tatkala Ali telah meminang Fathimah Radiallahu'anhuإِنَّهُ لَا بُدَّ لِلْعَرُوسِ مِنْ وَلِيمَةٍ قَالَ فَقَالَ سَعْدٌ عَلَيَّ كَبْشُ وَقَالَ فُلَانٌ عَلَيَّ كَذَا وَكَذَا مِنْ ذُرَةٍ"Harus diadakan pesta pernikahan." Sa'd mengatakan, "Aku me-nyumbang seekor domba." Si fulan mengatakan, "Aku menyumbang gandum demikian dan demikian."Dalam suatu riwayat dikatakan, "Segolongan kaum Anshar mengum-pulkan beberapa sha' gandum untuknya,"Shahih diriwayatkan Ahmad(5/359)Anas menuturkan, "Nabi mengadakan walimah saat menikah dengan Zainab, dan beliau mengenyangkan kaum Muslimin dengan roti dan daging. Lalu beliau pergi kepada Ummahat al-Mukminin (istri-istri-nya) lalu mengucapkan salam dan berdoa untuk mereka. Beliau meng-ucapkan salam kepada mereka dan mereka mendoakan untuk beliau. Beliau melakukan hal itu pada pagi hari setelah malam pertamanya. "Shahih diriwayatkan An-Nasa'i dalam al-Walimah (2/66)Anas menceritakan, “Nabi menikahi seorang wanita (dan te-lah menjalani malam pertamanya), maka beliau mengutusku untuk me-ngundang sejumlah orang untuk makan-makan "HR. BukhariWalimah disunnahkan selama tiga hari, berdasarkan hadits Anas. la berkata, "Nabi menikahi Shafiyyah, dan menjadikan pemerdekaan-nya sebagai maharnya, serta mengadakan walimah selama tiga hari, " Hadits HasanMengundang orang-orang shalih untuk menghadiri pesta pernikah-an, berdasarkan sabda Nabi dalam hadits yang berlaku umum:لا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيُّ"Janganlah berteman kecuali dengan orang Mukmin, dan jangan ma-kan makananmu kecuali orang yang bertakwa, "hadist diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmidzi dan AhmadMengadakan pesta pernikahan dengan menyembelih seekor kam-:“Ada-bing atau lebih, jika ada keleluasaan, berdasarkan sabda Nabi kanlah pesta pernikahan walaupun dengan seekor kambing" HR Al BukhariMahkota Pengantin Majdi bin Manshur bin Sayyid asy-Syuri

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
H
Heni Andini

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Kisah teladan ummu Ad-Darda

Kisah Teladan Ummu Ad-DardaUstaz Dr. Firanda Andirja, M.A.​Abu Darda radhiallahu 'anhu memiliki dua orang istri yang sama-sama mulia dan dikenal dengan sebutan Ummu Darda, yaitu:🎀 ​Ummu Darda Al-Kubra (Senior) 🎀 Seorang sahabiah (bertemu dan beriman kepada Nabi Muhammad 🎀 shallallahu 'alaihi wasallam) 🎀​Ummu Darda As-Sughra (Junior): Seorang tabi'ah (tidak bertemu Nabi, tetapi bertemu dengan para sahabat).​1. Ummu Darda Al-Kubra (Senior)​Nama asli beliau adalah Khairah binti Abi Hadrad Al-Aslami.​Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mempersaudarakan Salman Al-Farisi dan Abu Darda. Suatu hari, Salman mengunjungi rumah Abu Darda dan mendapati Ummu Darda berpakaian lusuh/tidak rapi.​Ketika Salman bertanya mengapa penampilannya tidak rapi, Ummu Darda menjawab secara bijak tanpa menjelekkan suaminya: "Saudaramu Abu Darda tidak butuh dengan dunia" , karena Abu Darda sibuk berpuasa di siang hari dan salat malam sepanjang malam.​Salman kemudian menunggu Abu Darda pulang, lalu bertamu dan menginap di sana untuk menyelidiki situasi tersebut.​Setelah melihat sendiri ibadah Abu Darda yang berlebihan hingga melalaikan hak keluarga, Salman memberikan nasihat bijak yang masyhur:​"Sesungguhnya Rabbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atas keluargamu, dan tamumu punya hak atasmu. Maka berikanlah hak kepada masing-masing yang berhak." ​Ketika dilaporkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau membenarkan perkataan Salman .​Ummu Darda Al-Kubra wafat pada sekitar tahun 32 Hijriah (ada juga yang menyebutkan 2 tahun sebelum Abu Darda wafat).​2. Ummu Darda As-Sughra (Junior)​Nama asli beliau adalah Hujaimah binti Huyai Al-Washabiyah (berasal dari Yaman, kemudian tinggal di Damaskus, Suriah).​Beliau adalah anak yatim yang dipelihara di rumah Abu Darda .Sejak kecil ia dididik langsung oleh Abu Darda, diajarkan Al-Qur'an, hingga akhirnya dinikahi setelah dewasa.​Dikenal sebagai wanita yang faqih (ahli fikih), alim, ahli ibadah, cerdas, cantik jelita, serta meriwayatkan banyak hadis dari suaminya.​Setelah Abu Darda meninggal dunia sekitar tahun 32 Hijriah, Ummu Darda As-Sughra hidup cukup lama (wafat sekitar tahun 81 Hijriah).​Karena dikenal sangat cantik, beliau sempat dilamar oleh Gubernur Syam (yang kemudian menjadi Khalifah) yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan.​Lamaran tersebut ditolak karena Ummu Darda ingin tetap setia kepada suaminya dan berpegang pada sabda Nabi: "Wanita itu di surga bersama suaminya yang terakhir." ​Ummu Darda sangat menghormati suaminya, bahkan ketika meriwayatkan hadis dari Abu Darda, beliau sering berkata: "Telah menyampaikan hadis kepadaku tuanku (sayyidi)...". sebagai bentuk takzim yang luar biasa kepada suami. Para ulama seperti Imam Nawawi memuji adab mulia ini.​Beliau aktif mengajarkan ilmu (di Damaskus dan Baitul Maqdis), dan majelisnya dihadiri oleh para ulama tabi'in hingga khalifah Abdul Malik bin Marwan ​Beliau sangat mencintai zikir kepada Allah, dan ketika murid-muridnya merasa sungkan karena berzikir terlalu lama, beliau berkata bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan dan menenteramkan hatinya selain berzikir mengingat Allah ​Pelajaran Penting dari Kisah Ini adalah :​Keseimbangan dalam Beribadah ➡️ Ibadah sunnah tidak boleh mengorbankan hak-hak keluarga, pasangan, maupun kesehatan diri sendiri.​Kesetiaan Istri Solehah ➡️ Potret kesetiaan para sahabiah dan tabi'ah yang sangat mencintai suami mereka karena Allah dan mengharapkan kebersamaan hingga di surga kelak.​Adab Istri kepada Suami ➡️ Menghormati suami adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, yang juga berdampak baik pada didikan dan psikologi anak-anak di rumah ​Memanfaatkan Waktu untuk Akhirat ➡️ Mengurangi kesibukan duniawi yang sia-sia dan memperbanyak zikir serta amal saleh sebagai persiapan menghadap Allah Subhanahu wa Ta'alaMateri 34

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Al-Muyassar | Surat Hud : 25-47

KISAH NABI NUH 'ALAIHISSALAM1. Nabi Nuh adalah Seorang Rasul Yang Menyeru Kaumnya Kepada Tauhid“Dan Kami telah mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya, dia berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian mengenai siksa Allah, dan pemberi penjelasan bagi kalian atas diutusnya aku untuk menjelaskan perintah Allah dan larangan-Nya’.” (25)“Aku memerintahkan kepada kalian agar tidak menyembah selain hanya kepada Allah. Sesungguhnya aku takut apabila kalian tidak mau menyembah hanya kepada-Nya dan mengesakan-Nya dalam ibadah, Allah akan menimpakan azab pada hari yang sangat menyedihkan.” (26)2. Penolakan Kaumnya“Maka berkatalah para pemimpin kafir dari kaumnya, “Engkau bukanlah malaikat, melainkan manusia biasa seperi kami. Maka bagaimana bisa engkau diberi wahyu sementara kami tidak? Kami tidak melihat pengikutmu kecuali orang-orang yang rendah dan hina, karena mereka mengikutimu begitu saja tanpa bisa berpikir dan tanpa bisa mempertanyakannya. Kami juga tidak melihat bahwa kalian memiliki lebih banyak rizki dan harta dari kami, ketika kalian telah memasuki agama kalian ini. Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah pembohong atas apa yang kamu dakwa’.” (27)3. Penjelasan Nuh Tentang Bukti Nyata Bahwasanya dia Adalah Seorang UtusanNuh berkata, "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku memiliki bukti yang nyata dari Rabb-ku mengenai risalah yang aku bawa, yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku diatas kebenaran dari sisi-Nya, dan datang rahmat dari Rabb-ku padaku, yaitu kenabian dan kerasulan (risalah), tapi disamarkan dari kalian karena kebodohan dan kesombongan kalian. Maka apakah harus kami paksakan agar kalian menerimanya, padahal kalian menentangnya? Kami tidak akan berbuat hal tersebut. Tetapi kami menyerahkan urusan kalian kepada Allah, sehingga Dia memutuskan apa yang Dia kehendaki dalam urusan kalian." (28)4. Nuh Tidak Meminta Imbalan Sedikitpun atas Seruannya dari KaumnyaNabi Nuh berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, aku tidak meminta upah sedikit pun dari kalian (yang harus kalian bayar ketika kalian beriman) atas seruanku agar kalian mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya dengan ikhlas. Akan tetapi, imbalan atas nasihatku kepada kalian ini hanyalah dari Allah. Dan aku tidak akan sekalipun mengusir orang yang beriman, sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabb mereka pada hari Kiamat kelak. Akan tetapi, aku melihat bahwa kalian adalah kaum yang tidak mengetahui, ketika kalian menyuruhku agar aku mengusir para wali Allah dan menjauhkan mereka dariku." (29)5. Tantangan KaumnyaMereka berkata, "Hai Nuh, engkau telah berbantah-bantahan dengan kami dan engkau memperpanjang bantahan itu. Maka datangkanlah azab yang kamu janjikan itu jika dakwah dan seruanmu itu memang benar." (30)6. Membuat Bahtera, dan Ejekan Kaumnya“Dan mulailah Nuh membuat perahu. Setiap kali para pembesar kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Maka Nuh berkata kepada mereka, "Jika kalian mengejek kami saat ini karena ketidaktahuan kalian akan kebenaran janji Allah, maka kami akan mengejek kalian besok ketika kalian ditenggelamkan, sebagaimana kalian mengejek kami hari ini." (38)7. Tibanya Azab Allah dan Ajakan Nabi Nuh Kepada KaumnyaHingga ketika telah datang perintah Kami untuk membinasakan mereka sebagaimana yang telah Kami janjikan kepada Nuh, memancarlah air dengan derasnya dari dapur (yaitu tempat pembuatan roti) sebagai tanda datangnya azab. Kami berkata kepada Nuh, "Bawalah ke dalam perahu itu sepasang jantan dan betina dari setiap jenis binatang dan bawa pula keluargamu, kecuali yang telah ditetapkan termasuk orang yang tidak beriman kepada Allah, seperti anak dan istrinya. Bawa pula bersamamu orang-orang yang beriman dari kaummu." Dan yang beriman bersama Nabi Nuh hanya sedikit sekali, meskipun dia (Nuh) tinggal bersama mereka dalam kurun waktu yang lama. (40)Nuh berkata kepada orang yang beriman bersamanya, "Naiklah kalian ke dalam perahu dengan menyebut nama Allah ketika berlayar di atas air, dan menyebut nama Allah di akhir perjalanan dan ketika berlabuhnya. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun terhadap dosa dari hamba-Nya yang bertaubat dan kembali kepada-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka, yaitu tidak menyiksa mereka sesudah mereka bertaubat." (41)8. Ajakan Nabi Nuh Kepada Anaknya, Penolakan Anaknya dan Datangnya Azab AllahDan perahu itu membawa mereka melewati ombak yang besar dan tinggi laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya (yang saat itu berada pada tempat yang terpisah dari orang-orang mukmin) dan ia berkata, "Hai anakku, naiklah bersama kami ke dalam perahu, janganlah engkau bersama orang-orang kafir, sehingga engkau akan tenggelam." (42)Anaknya menjawab, "Aku akan naik ke atas gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah ini, yang bisa mencegahku supaya tidak tenggelam." Nuh menjawab, "Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi keputusan dan ketentuan Allah pada hari ini, yaitu untuk menenggelamkan seluruh makhluk-Nya dan menghancurkan mereka kecuali orang-orang yang dirahmati Allah, maka berimanlah engkau dan naiklah ke dalam perahu bersama kami." Kemudian ombak yang tinggi memisahkan Nuh dan anaknya itu, dan ia termasuk orang yang ditenggelamkan dan dibinasakan. (43)9. Firman Allah kepada Bumi dan LangitAllah berfirman kepada bumi (setelah ditenggelamkan dan dibinasakannya kaum Nuh yang kafir): "Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit hentikanlah hujan." Maka surutlah air. Dan ketentuan Allah telah dijalankan, yaitu membinasakan kaum Nuh. Perahu itu pun berlabuh di atas gunung Judy. Dan dikatakan: "Binasalah orang-orang zalim yang melampaui batas-batas Allah dan yang tidak mau beriman kepada-Nya." (44)10. Do'anya Nabi Nuh Untuk Anaknya, Teguran Allah Kepada Nabi Nuh dan Taubatnya Nabi NuhDan Nuh berseru kepada Rabb-nya sambil berkata: "Ya Rabbi, sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku akan menyelamatkanku dan keluargaku dari ditenggelamkan dan dibinasakan, anakku juga termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah benar, tidak ada pelanggaran, dan Engkaulah Hakim yang seadil-adilnya." (45)Allah berfiman: "Hai Nuh, anakmu yang binasa itu bukanlah keluargamu yang telah Aku janjikan untuk diselamatkan, itu karena kekufurannya dan perbuatannya yang tidak baik. Dan Aku melarangmu bertanya meminta sesuatu yang tidak engkau ketahui hakikat sebenarnya. Sesungguhnya Aku memperingatkanmu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh dalam permintaanmu kepada-Ku mengenai hal itu." (46)Nuh berkata: "Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku bernaung dan berlindung kepada-Mu untuk memohon sesuatu yang tidak aku ketahui ilmunya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun atas dosaku dan tidak merahmatiku dengan rahmat-Mu, niscaya aku termasuk orang-orang yang lalai terhadap diri sendiri, bernasib sial, dan binasa." (47)

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Jangan Meremehkan Wahyu Allah

Jangan Meremehkan Wahyu AllahAl-Qur’an Bukan Dongeng, Melainkan Petunjuk Kehidupan.QS. Al-Furqān: 5Tafsir Al-Muyassar – QS. Al-Furqān: 5Orang-orang kafir berkata tentang Al-Qur’an bahwa kitab tersebut hanyalah dongeng orang-orang terdahulu yang tertulis dalam kitab-kitab mereka. Mereka menuduh bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah menyalin kisah-kisah tersebut dan ada orang lain yang membacakannya kepada beliau setiap pagi dan petang.Tuduhan tersebut merupakan bentuk pengingkaran dan penolakan terhadap kebenaran wahyu Allah.Padahal, Al-Qur’an bukanlah dongeng atau karangan manusia, melainkan wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya sebagai petunjuk dan peringatan bagi seluruh manusia.Pesan yang Dapat Diamalkan1. Yakinilah bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah.Jangan biarkan keraguan dan perkataan manusia melemahkan keyakinan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an.2. Jangan meremehkan ayat-ayat Allah.Setiap ayat memiliki petunjuk dan hikmah yang perlu dipelajari, direnungkan, serta diamalkan.3. Jangan mudah terpengaruh oleh tuduhan yang tidak berdasar.Belajarlah memeriksa kebenaran berdasarkan ilmu, bukan sekadar mengikuti perkataan orang lain.4. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.Bukan hanya dibaca atau dihafalkan, tetapi juga dipahami dan diterapkan dalam keseharian.5. Tumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dalam keluarga.Ajarkan anak-anak untuk mengenal, mencintai, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk sejak dini.Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang menghiasi lisan, tetapi petunjuk yang seharusnya menerangi kehidupan.Muhasabah Diri* Sudahkah aku benar-benar meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah dan petunjuk bagi kehidupanku?* Apakah aku lebih mudah terpengaruh oleh perkataan manusia daripada berusaha memahami kebenaran melalui Al-Qur’an?* Sudahkah aku meluangkan waktu untuk membaca, mempelajari, dan mentadabburi ayat-ayat Allah setiap hari?* Ketika menemukan ayat yang belum kupahami, apakah aku berusaha mencari penjelasan dari sumber ilmu yang terpercaya?* Sudahkah aku mengenalkan Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi juga sebagai pedoman hidup bagi anak-anak dan keluargaku?Dan yang terpenting…Apakah Al-Qur’an sudah benar-benar menjadi pedoman dalam mengambil keputusan, bersikap, dan menjalani kehidupan sehari-hari?KesimpulanQS. Al-Furqān ayat 5 mengingatkan kita tentang tuduhan orang-orang kafir yang menganggap Al-Qur’an hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.Tuduhan tersebut tidak mengubah sedikit pun kebenaran wahyu Allah. Al-Qur’an tetap merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ sebagai petunjuk dan peringatan bagi seluruh manusia.Sebagai seorang mukmin, kita hendaknya senantiasa menjaga keyakinan terhadap Al-Qur’an, mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, serta menjadikan ajarannya sebagai pedoman dalam kehidupan.Sebab, kemuliaan seorang mukmin bukan hanya terletak pada seberapa sering ia membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada kesungguhannya memahami dan mengamalkan petunjuk di dalamnya.“Jangan biarkan perkataan manusia menjauhkan hatimu dari Al-Qur’an. Sebab, kebenaran wahyu Allah tidak akan berubah hanya karena manusia mengingkarinya.”Semoga Allah menjadikan kita dan keluarga termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mencintai Al-Qur’an, memahami petunjuknya, dan istiqamah mengamalkannya. Aamiin Allaahumma Aamiin. 🤲🏻🤎

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Hai Nak | Reda Gaudiamo

Hai Nak,Bukannya aku nggak mau lihat kamu menikah, bukan. Tapi kamu harus tahu bahwa kawin/menikah itu perlu persiapan. Bukan soal pestanya mau dimana dan berapa hari dan kamu pakai baju desainer siapa dan didandanin oleh makeup artis yang mana.Ketika menikah sama dia, berarti kamu sudah siap dan sudah belajar banyak hal tentang berdua. Bukan cuman soal kebiasaan dan hal-hal asyik, tapi juga hal-hal ngeselin masing-masing. Bisa nggak kamu tahan sama kebiasaannya yang dikit-dikit ngupil, atau dia bisa terima kesukaan kamu yang malas mandi? Lalu meski cinta itu penting, sudah kebayang belum urusan biaya sehari-hari hidup bersama? Duitnya datang darimana? Tinggal dimana? Kalau ada anak, mau dikasih makan apa? Banyak sih belanjaannya.Itu harus dibahas dan disepakati. Jadi menikah nggak cuman butuh soal rasa suka dan kangen dan pelukan bertubi-tubi. Kamu dan dia perlu amunisi lain buat jalan bareng. Bersiaplah.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
H

Hikmahwati

📍 Kabupaten Kuningan

Materi 34-Kisah Teladan Ummu Ad-Darda'

Ummu Darda' merupakan Istri dari Abu Darda'. Abu Darda' memiliki dua istri yang keduanya dipanggil Ummu Darda'. Yang satu Ummu Darda' Al-kubra, kedua disebut dengan Ummu Darda' As-Sugra.Ummu Darda' Al-kubra bernama Khairah binti Abi Hadrat al aslami. Beliau adalah sohabiyah (bertemu dan beriman kepada Rasulullah). Diantara sahabat yang menghafal Qur'an adalah Abu Darda'. Beliau diangkat menjadi hakim di damaskus. Abu Darda' meninggal pada pemerintahan Utsman bin Affan. Ummu Darda' Al-kubra wafat 2 tahun sebelum Abu Darda'. HR Imam Bukhari tentang kedatangan Salman Al-Farisi ke rumah Abu Darda' : "Rasulullah SAW mempersaudarakan antara Salman Al-Farisi (dari persia) dan Abu Darda' (dari suku Al-Khajraj dari Anshar) . Hal ini adalah metode dari Rasulullah untuk saling perhatian satu sama lain. Pada Suatu hari Salman Al-Farisi mendatangi rumah Abu Darda'. Dia mendapati Ummu Darda' pakaiannya tidak rapi. Maka Salman bertanya "Kenapa engkau memakai pakaian yang tidak rapi ?". Ummu Darda' menjawab "Saudaramu, Abu Darda' tidak butuh dengan dunia". dari jawaban Ummu tersebut, Salman menjawab adanya masalah. Ketika Abu Darda' datang, dan menyajikan makanan untuk salman. Abu Darda' berkata bahwa makanan tersebut hanya untuk Salman (Abu Darda' tidak ikut makan). Tetapi Salman berkata bahwa dia tidak akan makan sebelum Abu Darda' juga ikut makan. Akhirnya mereka makan bersama. Ternyata Salman menginap di rumah Abu Darda'. Diawal malam, Abu Darda' bangun untuk shalat malam, tapi dicegah oleh salman. Lalu kembali Abu Darda' terbangun untuk melakukan shalat malam, lalu dicegah lagi untuk kedua kalinya oleh Salman. Lalu di 1/3 malam terakhir (menjelang pagi) Salman berkata "Sekarang saatnya untuk shalat malam". Akhirnya Salman dan Abu Darda' shalat malam. Akhirnya Salman mengetahui bahwa saudaranya ini sangat kuat beribadah (siang puasa, malam bangun lebih awal untuk beribadah pula). Setelah memastikan apa yang terjadi pada saudaranya (sangat taat beribadah dan jarang menyentuh istrinya) maka Salma menasehati Abu Darda' "Sesungguhnya badanmu, jiwamu punya hak, hendaknya engkau istarahat. jangan shalat malam lebih awal. Sesungguhnya Rabb-mu punya hak. Dan Tamumu juga punya hak untuk dijamu. Dan ingat istrimu juga punya hak, maka berikanlah masing-masing haknya". Dalam hal ini, Salman sangat bijaksana dalam menyikapi permasalahan yang dialami oleh Abu Darda' dan Ummu Darda'. Setelah kejadian itu, Abu Darda' menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah berkata "Telah benar Salman". Sejak saat itu Abu Darda' memperbaiki sikapnya terhadap istrinya.Ummu Darda' As-Sugra bernama hujaimah binti Khuyay al Washabiyah adalah thabiiyah (tidak bertemu dengan Rasulullah, bertemu dengan sahabat. Kemudian meninggal dalam kondisi islam). Beliau adalah wanita yang sangat sholeha. "Dia seorang yang Faqih (ahli Fiqih), wanita yang alim, ahli ibadah, wanita yang cantik jelita, ilmunya luas, akalnya cerdas dan meriwayatkan banyak hadist dari suaminya Abu Darda' " . Beliau banyak belajar ilmu dari suaminya. Terkenal dengan ilmu, amal, dan zuhud."Ummu Darda' As-sugra adalah anak yatim, dipelihara oleh Abu Darda' dan Ummu Darda' al-kubra. Saat masih kecil bahkan sesekali lasuk kedalam mantel yang sama dengan abu darda'. saat masih kecil, dia masuk ke dalam shaf laki-laki ketika shalat berjamaah. Dia duduk di halaqah-halaqah ahli Qur'an. Sampai ketika dia sudah besar, Abu Darda' berkata " sudah saatnya engkau belajar bersama sesama wanita". Ketika sudah dewasa akhirnya dinikahi oleh Abu Darda'. Menemani Abu Darda' sampai suaminya meninggal. Ummu Darda' meninggal sekitar 81 H. Masih hidup sekitar 50 tahun setelah suaminya meninggal. Setelah Abu Darda' meninggal, Ummu Darda' dilamar oleh Muawiyah (Statusnya sebagai gubernur/Khalifah). Muawiyah tersebut berasal dari Quraisy. Ternyata lamaran tersebut ditolak. Beliau menyampaikan bahwa ada hadist Rasulullah yang mengatakan "Wanita itu di surga bersama suaminya yang terakhir". Dan saya tidak mau mencari pengganti Abu Darda'. Akhirnya Muawiyah menasehati dengan berkata "Hendaknya engkau berpuasa".Sifat-sifat Ummu Darda' As-Sugra adalah : Ahli IbadahSangat hormat kepada suaminyaDalam Shahih Muslim beliau meriwayatkan Hadist dari ummu Darda' "Sesungguhnya tuanku telah menyampaikan hadist kepadaku. Jika ada seseorang mendoakan saudaranya tanpa diketahui saudara, maka malaikat akan mengaminkan sambil berkata "kau juga akan mendapatkan apa yang kau doakan untuk saudaramu". Dalam hadist tersebut, Ummu Darda' menyebut suaminya sebagai "Tuanku" sebagai bentuk penghormatan kepada suaminya.Sering mengajarkan ilmu dan Al-Qur'anSelalu berdzikir kepada AllahNasihat-nasihat dari Ummu Darda' :Utsman bin hayyan berkata " aku mendengar Ummu Darda' berkata : "sesungguhnya salah seorang dari kali an berdoa Ya Allah berilah rezeki kepadaku, dan dia tahu Allah tidak akan turunkan hujan dinar maupun dirham. sesungguhnya allah memberi rezeki kepada manusia dari arah lain. apabila ada yang memberimu hadiah, maka terima. apabila engkau tidak memerlukannya, maka beri hadiah tersebut kepada yang membutuhkan."Utsman bin hayyan berkata "Suatu hari kami makan makanan bersama Ummu Darda'. Suatu hari kami lupa untuk memuji Allah. Lalu ummu Darda' berkata "Wahai murid-muridku, jangan kalian lupa untuk mecampurkan makanan kalian dengan dzikir kepada Allah SWT. Makan sambil memuji Allah SWT. Daripada makan diam-diam".

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →