📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
P
Puji

📍 Kota Bekasi

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 1

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Beliau adalah Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala, seorang ulama di kerajaan Saudi Arabia dan beliau adalah pengajar di Masjid Nabawi dan juga di Masjidil Haram.Dan karangan beliau yang akan kita bahas ini adalah termasuk tulisan yang sangat bermanfaat berkaitan dengan adab-adab seorang penuntut ilmu.Dan seorang yang ingin mendapatkan ilmu agama maka seharusnyalah dia mempelajari adab-adab di dalam menuntut ilmu. Ilmu bukan hanya didapatkan dengan semangat tapi harus disertai dengan adab-adab. Kalau dia tidak memperhatikan adab-adab ini, maka dikhawatirkan dia tidak bisa mendapatkan ilmu yang dia inginkan atau dengan susah payah dia mendapatkan ilmu tersebut.Dan kitab yang akan kita pelajari bersama, dia tidak terlalu panjang sehingga perlu pembahasan yang berbulan-bulan, demikian pula tidak terlalu pendek, namun sedang. Dan kita berharap semoga Allāh ﷻ memberkahi waktu kita, sehingga kita bisa menyelesaikan kitab ini dan tentunya kita berharap kita bisa mengambil manfaat dan bisa mengamalkan apa yang kita pelajari bersama ini.Beliau mengatakan, hafidzahullahu ta’ala,بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِMemulai kitabnya dengan basmalah karena mengikuti Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an, karena Allāh ﷻ memulai kitabnya dengan بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ dan juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullāh ﷺ karena Beliau ketika mengirim surat-surat yang isinya adalah dakwah, maka Beliau ﷺ memulai surat-surat tersebut dengan basmalah, dan kitab ini isinya adalah dakwah dan juga peringatan.Kemudian beliau mengatakan,الحمدُ لله الْمعظَّمِ بالتَّوحيد، وصلَّى الله وسلَّم على عبدِهِ ورسولِهِ محمَّدٍ الْمخصوصِ بأجلِّ المزيد، وعلى آله وصحبه أُولي الفضل والرَّأي السَّديدSetelah Basmalah maka beliau memuji Allāh ﷻ kemudian mengucapkan shalawat dan salam untuk Rasulullāh ﷺ dan tidak lupa beliau juga mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Beliau ﷺ para sahabat Beliau ﷺ radhiallāhu ta’ala ‘anhum jami’an.Kemudian beliau mengatakan,أمَّا بعدُAdapun setelah itu,فهذه من كتابي “تعظيمِ العلمِ” خُلاصةُ اللَّفظ، أُعِدَّت بالتقاطها لمقصَد الحفظ، فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّباب، وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍMaka ini adalah ringkasan atau inti lafadz dari kitabku yang bernama Ta’dzhimul ‘Ilm.Makanya judulnya adalah Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm. Khulashah artinya adalah inti. Kitab beliau ini adalah inti dari kitab beliau yang lain, yaitu Ta’dzhimul ‘Ilm. Berarti Ta’dzhimul ‘Ilm tentunya itu lebih luas karena ini adalah intinya.Beliau melakukan hal ini, yaitu menjadikan di sana kitab yang lain selain Ta’dzhimul ‘Ilm dan itu merupakan inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm. Beliau mengatakan maksud beliau adalah untuk dihafalkan. Maka ini diperlukan lafadz yang sedikit. Dan semakin dalam maknanya maka tentunya ini lebih bagus untuk dijadikan hafalan.فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّبابSehingga karena tujuannya adalah untuk dihafal maka diambillah dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm intinya. Jadi terkadang dirubah lafadznya.Ini perbedaan wallāhu a’lam antara ikhtishar dengan khulashah. Kalau ikhtishar ini dihilangkan seperti misalnya Mukhtashar Shahih Al-Bukhari maka dihilangkan sanadnya misalnya.Tapi kalau khulashah, maka ini mungkin saja di situ ada perubahan lafadz karena yang dimaksud dengan khulashah adalah naqawah, yaitu intinya.وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍKemudian dijadikan di sana contoh dari setiap bab.Beliau berusaha mendatangkan intinya kemudian mendatangkan pemisalannya.ليكونَ في نفوس الطَّلبة شمسَ النَّهار، ويتَرشَّحوا بعدَه إلى العمل والادِّكارDibuat tidak sepanjang Ta’dzhimul ‘Ilm tapi dijadikan di sana intinya saja kemudian dibuat di sana permisalan adalah supaya:Menjadi seperti matahari di siang hari bagi para penuntut ilmu.Maksudnya di sini adalah supaya menjadi lebih jelas perkaranya, sebagaimana terangnya matahari di siang hari, sehingga mudah dipahami oleh para penuntut ilmu agama.Kemudian bukan hanya dari sisi keilmuan dan kejelasan dan juga kepahaman, tapi supaya mereka mempersiapkan dirinya setelah itu, yaitu setelah memahami untuk mengamalkan dan juga mengingat-ingat atau mengambil pelajaran, dia bisa mengamalkan kalau dia bisa memahami.Dia bisa memahami kalau dibuat bukunya tadi, dicarikan intinya, dan dibuat permisalan. Karena terkadang kalau terlalu panjang kitabnya, mungkin sebagian penuntut ilmu malah tidak paham. Kalau tidak paham, bagaimana dia bisa mengamalkan dan bagaimana dia bisa mengambil pelajaran. Tapi ketika dibuat intinya, maka dia bisa memahami, kemudian setelah itu dia bisa mengamalkan, dan itu yang kita harapkan.Tujuan kita menuntut ilmu adalah untuk mengamalkan, bukan hanya sekedar dihafal.Maka tentunya ini adalah maksud yang sangat baik dan muafaq dari Syaikh, beliau menjadikan di sana inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm Kemudian beliau beri nama dengan Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm tujuannya adalah supaya bisa dipahami oleh kita semuanya dan dari situ bisa kita amalkan dan kita bisa mengambil pelajaran.Kemudian beliau berdo’a,فأسألُ اللهَ لي ولهم لزومَ معاقدِ التَّعظيم، والفوزَ بجوامعِ فضلِهِ العظيمMaka aku meminta kepada Allāh ﷻ untukku dan untuk mereka (para penuntut ilmu).Beliau mendoakan untuk beliau sendiri karena asalnya memang kita mendo’akan untuk diri kita sendiri, kemudian tidak lupa beliau mendo’akan untuk para penuntut ilmu, mendo’akan dengan kebaikan, yaitu supaya mereka melazimi dan berpegang teguh dengan simpul-simpul (prinsip-prinsip) pengagungan terhadap ilmu, bukan hanya sekedar memahami kitab beliau tapi juga berpegang teguh dan istiqamah di atas simpul pengagungan tadi, kemudian dan juga keberuntungan mendapatkan karunia yang besar dari Allāh ﷻ.Dan yang pertama tadi yang kita baca adalah mukadimah dari kitab Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
E
Elsa Ulfah Hakim

📍 Luar Indonesia

Talbis Iblis 6: Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian 2

Talbis 6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu 2Ustadz Dr. Firanda AndirjaTalbis Iblis dalam niat sholat.Iblis menggoda seseorang untuk mengulang pelafalan niatnya karena menurutnya niatnya batal padahal jika sudah niat dari hatinya itu sudah cukup, sholatnya sah.Iblis menggoda seseorang dengan rasa was-was ketika takbiratul ihram sehingga ia mengulang takbirnya berkali-kali namun saat imam rukuk, ia tiba-tiba yakin takbir dan langsung ikut rukuk karena tidak ingin ketinggalan rakaat sholat. Hal ini dikarenakan godaan iblis yang menginginkan seseorang untuk tidak mendapatkan keutamaan takbiratul ihrom.Diantara orang yang terkena was-was sampai ada yang bersumpah hanya ingin takbir sekali saja karena rasa was-was yang berlebihannya itu.Ini semua adalah talbis iblis, karena sebenarnya syariat islam itu mudah dan selamat dari kekurangan-kekurangan. Hal-hal seperti ini juga tidak pernah dialami oleh Nabi dan sahabat-sahabat Nabi.Riwayat dari Abu Hazim rahimahullah ta’ala ketika ia masuk masjid lalu iblis menggodanya dengan membisikkan “wahai Hazim sesungguhnya engkau sholat tanpa wudhu”. Lalu Hazim berkata “sejak kapan nasihatmu sampai seperti ini wahai iblis”. Inilah cara Abu Hazim menepis bisikan dari iblis agar terhindar dari was-was.Cara menghilangkan talbis ini dari orang yang terkena was-was terhadap niat adalah:Jika mengulang takbiratul ihrom untuk menghadirkan niat maka dengan ia berdiri untuk menjalankan sholat fardhu itu sudah temasuk niat dan itu cukup karena niat itu letaknya di hati bukan di lafadz.Tetapi jika mengulang takbiratul ihrom untuk memperbaiki pelafalan bacaan niat maka cukup mengingat bahwa melafalkan niat itu tidak wajib.Ibnul Jauzi berkata ketahuilah bahwasannya was-was dalam niat sholat menandakan adanya masalah pada akalnya karena kebodohannya dalam syari’at.Seseorang yang was-was menjadi bimbang karena disebabkan keinginannya untuk memperinci niatnya melalui lafal dan hatinya dalam satu waktu.Ibnu Jauzi juga berkata bahwa niat itu boleh didahulukan sebelum takbir dengan waktu yang sebentar selama ia tidak membatalkan niatnya. Hal ini dikarenakan ada sebagian orang yang menggabungkan melafalkan dan meresapi  niat dengan rukun pertama pada sholat (takbirotul ihrom) secara bersamaan. Hal ini jelas akan menyulitkan dan akan mudah menimbulkan was-was. Hal ini juga tidak dicontohkan oleh nabi dan juga para sahabat.Abdullah bin Mas’ud berkata “Demi zat yang tidak ada sesembahan selainNya, aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas terhadap  orang yang berlebih-lebihan seperti Rasulullah. Aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling khawatir dengan orang yang berlebih-lebihan seperti Abu Bakar dan menurutku Umar bin Khattab adalah orang yang paling keras terhadap orang yang berlebih-lebihan dalam beragama”.Di antara talbis iblis ada seseorang yang sibuk dengan niatnya tapi kurang memperhatikan sholatnya. Seakan-akan sholat hanya untuk mengepaskan takbir dengan niatnya saja dan ini adalah talbis iblis. Cara untuk menghilangkannya adalah dengan memahami bahwasannya tujuan takbir adalah masuk dalam sholat. Jadi jangan hanya fokus terhadap niat dan takbirnya namun lalai dalam sholatnya.Di antara rasa was-was yaitu sibuk dengan yang sunnah kemudian melalaikan yang wajib. Contohnya ketika seseorang masbuk dalam sholatnya kemudian ia sudah sah dalam bertakbiratul ihrom dan mendapati imam sudah mendekati rukuk, namun ia tetap sibuk dengan bacaan iftitahnya padahal seharusnya ia langsung membaca Al Fatihah. Hal ini  dikhawatirkan jika ia sibuk dengan bacaan yang sunnah ia akan ketinggalan bacaan Al Fatihahnya. Karena bacaan iftitah dan ta’awudz adalah sunnah sedangkan membaca Al Fatihah adalah wajib bahkan sebagian ulama berkata bahwa makmum wajib membaca Al Fatihah.Ibnul jauzi berkata iblis telah memberikan tipu daya kepada suatu kaum sehingga ia meninggalkan banyak sunah-sunah Nabi karena perkara-perkara yang menimpanya. Contohnya di antara mereka ada yang sengaja memilih shaf belakang ketika sholat karena ia ingin lebih fokus dalam sholat karena jika di depan ia khawatir riya. Seharusnya tetap jalani sunnah dan lawan riya. Diantara mereka ada yang sholatnya tidak melipat tangannya di depan, hal itu dikarenakan mereka khawatir apabila melipat tangan di depan seakan-akan mereka akan terlihat khusyu padahal hatinya biasa saja. Hal ini menyelisihi sunnah dan hal ini disebabkan karena kurangnya ilmu meskipun sholeh.Dalam riwayat shahih Bukhari dan Muslim dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu,Rasulullah bersabda “Seandainya manusia mengetahui tentang keutamaan menjawab azan dan keutamaan di shaf pertama, kemudian mereka tidak bisa melakukannya kecuali dengan undian, maka tentu mereka akan ikut melakukan undian agar berada di shaf pertama”.Dan dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda “sebaik-baiknya Nabi adalah di shaf pertama dan yang paling buruk adalah yang paling akhir”.Adapun meletakkan tangan di atas tangan lainnya adalah sunnah. Ibnu Mas’ud pernah sholat dan ia meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanan, maka nabi pun melihat Ibnu Mas’ud tangannya terbalik maka Rasulullah memperbaiki posisi tangannya. Hal ini menunjukkan bahwa hukum meletakan tangan di atas tangan yang lain hukumnya sunnah.  Jadi jangan berpikir takut dikira khusyu maka tidak menjalankan sunnah, namun perbaikilah hati kita.“Jangan sampai meninggalkan syari’at hanya karena perkataan seseorang yang kau agungkan karena syari’at itu lebih agung dari perkataanya dan orang lain bisa saja salah dalam menafsirkan dan bisa jadi ia memiliki pendapat yang tidak sesuai syari’at karena hadits-hadits Nabi belum sampai kepadaNya”. Disini Ibnu Jauzi ingin menyampaikan bahwa yang harus dijadikan patokan adalah dalil dan yang dijadikan dalil adalah syari’at.Iblis menggoda sebagian orang yang sholat dalam masalah makhorijul huruf sehingga ia mengulang-ulang bacaannya. Maka itu sudah keluar dari aturan sholat. Hal ini juga menyebabkan seseorang melupakan makna dari bacaannya karena sibuk memperbaiki makhrojnya.Jika imam sudah mengucapkan salam namun kita belum selesai membaca tasyahud. Tidak mengapa imam salam lebih dulu dan kita tetap menyelesaikan bacaan tasyahud kita karena ini tidak ditanggung oleh imam.Diantara ahli ibadah yang bodoh adalah mereka begadang untuk sholat malam hingga semalam suntuk, mereka merasa senang melaksanakan sholat malam melebihi rasa senangnya dalam melaksanakan sholat fardhu. Kemudian mereka merasa lelah dan tertidur sehingga tertinggal sholat fajarnya. Hal ini keliru karena sibuk dengan ibadah sunnahnya namun lalai dengan ibadah wajibnya. Seseorang harus lebih bahagia ketika bisa sholat subuh berjama’ah dibandingkan sholat malam yang ia kerjakan.Rasulullah bersabda “sesungguhnya ikutilah petunjuk nabi yang tengah. Barang siapa yang berlebihan dalam agama maka ia akan terdominasi”.Rasulullah juga berkata jika salah seorang dari kalian mengantuk maka tidurlah sampai hilang rasa kantuknya karena jika seseorang sholat dalam kondisi ngantuk maka bisa jadi ia ingin beristighfar tapi dia malah mencaci maki dirinya.Rasulullah berkata sebaik-baiknya sholat adalah sholatnya Nabi Daud karena beliau tidur setengah malam lalu beliau sholat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam dan bangun sholat subuh dalam keadaan segar.Jika ada yang berkata “bukankah telah diriwayatkan kepada kita sekelompok dari golongan ulama salaf, mereka sholat semalam suntuk?”. Ibnu Jauzi berkata bahwa mereka itu bertahap sampai mampu dalam hal tersebut dan mereka yakin bisa melakukan sholat subuh secara berjama’ah. Hal yang membuat mereka kuat adalah karena mereka tidur disiang hari dan makan mereka sedikit sehingga mereka tetap mampu sholat semalam suntuk dan sholat subuh berjama’ah. Maka boleh mereka melakukan demikian. Kemudian juga tidak sampai kepada kami, bahwasannya Rasulullah pernah begadang semalam suntuk tidak tidur sama sekali. Sunnah Nabi lebih utama untuk diikuti daripada perbuatan para salaf tersebut.Fitnah dalam menceritakan amal sholeh, sungguh iblis telah menipu dan memperdaya sekelompok orang dari yang ahli sholat malam karena pada siang hari mereka menceritakan sholat malam tersebut tapi terkadang ceritanya tidak langsung dan dengan cara yang halus “Subhanallahu si fulan tadi malam azannya pas waktu” tujuannya agar pendengar tahu bahwa ia tidak tidur semalam. Hal ini bisa termasuk kepada riya.  Maka cara orang yang seperti ini adalah ia telah meninggalkan catatan amalnya dari amal tersembunyi menuju amal yang terlihat. Tentu pahalanya akan berbeda antara amalan tersembunyi dengan amalan yang terlihat/terceritakan.Kata Allah subhanahu wa ta’ala “jika kalian bersedekah kalian perlihatkan dan jika ikhlas tidak jadi masalah itu baik. Namun jika ia sembunyikan maka itu lebih baik”. Jadi amal sholeh yang disembunyikan itu lebih baik.Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam berkata “siapa yang mampu diantara kalian memiliki amal sholeh yang tersembunyi maka lakukanlah”.Walaupun kita selamat dari riya, setan akan menjerumuskan kita kedalam amalan yang terlihat sehingga pahala kita bisa berkurang. Karena pahalanya akan berbeda antara amalan tersembunyi dengan amalan yang terlihat. Tipu daya setan itu sangat halus. Maka berhati-hatilah.Iblis memberi tipu daya kepada sebagian orang yang bersendirian sholat di masjid untuk beribadah maka lalu ia dikenal sebagai orang yang rajin beribadah di masjid, maka orang-orang pun datang dan mengikutinya sholat menjadi makmum. Pada akhirnya orang ini terkenal. Ini adalah racun yang dimasukkan oleh iblis. Karena hal ini orang-orang menjadi senang kepadanya  dan mereka menjadi semangat dalam beribadah karena ia tahu perbuatannya menjadi viral dan akhirnya orang lain memujinya. Hal yang membuat ia semangat beribadah bukan karena ketulusannya dalam beribadah namun karena perbuatannya yang viral.Dari Zaid bin Tsabit, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda “sebaik-baiknya sholat (sunnah) seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat fardhu”.Allah menciptakan jiwa kita memiliki nafsu la wama yaitu jiwa yang suka mencela dan jiwa ini yang mengontrol dan memberi sinyal kepada kita. Jika kita melakukan maksiat maka jiwa kita akan menegur/menyadari bahwa itu salah. Maka jika hati sudah memberi sinyal maka berhenti dan jangan lanjutkan.Iblis menggoda sebagian ahli ibadah dengan menangis di depan umum. Kata Ibnu Jauzi mungkin ia tidak bisa menahan tangisannya dan ini ya sudah tidak mengapa. Namun siapa yang mampu menyembunyikan tangisnya tetapi ia malah menampakkan tangisnya maka ia terpapar oleh riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
L
Lisna Febriani

📍 Kota Tasikmalaya

Talbis Iblis 6

Talbis Iblis 6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bagian 2)Pokok Bahasan: Bab 8Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam Berbagai Macam Ibadah 6.Meninggalkan yang SunatIblis memperdayai sebagian orang, lalu mereka meninggalkan sekian banyak sunat karena berdasarkan pertimbangan mereka sendiri. Diantara mereka ada yang sengaja tidak ikut ke dalam shaf yang pertama, seraya berkata, "Karena aku ingin mencari ketenangan hati." Diantara mereka ada yang tidak meletakkan satu tangan di atas tangan yang satunya lagi, seraya berkata, "Aku tidak suka memperlihatkan kekhusyukan yang tidak ada di dalam hatiku."Telah diriwayatkan kepada kami 2 macam perbuatan ini dan para pemuka orang-orang shalih. Yang demikian ini terjadi karena minimnya ilmu. Telah disebutkan di dalam Ash-Shahihain, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,"Andaikan manusia itu tau pahala dalam adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara diundi, tentulah mereka mau diundi." (HR.Al-Bukharu & Muslim)"Sebaik-baik shaf kaum laki-laki adalah yang pertama, seburuk-buruk shaf nya adalah yang terakhir." (HR.Muslim)Sedangkan meletakkan tangan di atas tangan yang lain adalah sunat.Adakalanya Iblis melancarkan talbis dalam masalah tasydid, atau dalam makhraj huruf dhad saat membaca al-maghddhub (dalam surat Al-Fatihah). Iblis mendorong mereka untuk melebihi batasan & membuat mereka sibuk dalam pengucapan huruf, sehingga tidak memahami lagi apa yang dibaca.7.Terus menerus Shalat MalamTalbis Iblis dilancarkan terhadap para ahli ibadah, lalu mereka banyak mendirikan shalat malam.Diantara mereka ada yang berjaga sepanjang malam, lebih suka mendirikan shalat malam & shalat dhuha dalam porsi yang lebih banyaj daripada kesukaannya mendirikan shalat fardhu.Maka ketika mendekati waktu fajar, dia tertidur dan ketinggalan shalat fardhu, atau dia bangun namun ketinggalan mengerjakan shalat fardhu secara berjamaah. Atau esoknya dia menjadi malas & lemas untuk mencari penghidupan untuk keluarganya."Sesungguhnya dirimu mempunyai hak atas kamu. Maka bangunlah dan juga tidurlah." (HR.Abu Daud)"Jika salah seorang diantara kalian mengantuk, maka hendaklah dia tidur hingga hilang kantuknya. Sesungguhnya jika dia shalat dalam keadaan mengantuk, maka boleh jadi dia membaca dengan maksud untuk memohon ampunan, lalu dia pun membaca sambil mencaci maki dirinya." (HR.Al Bukhari & Muslim)Iblis memperdayai orang-orang yang biasa mendirikan shalat malam, lalu mereka membicarakannya pada siang hari. Boleh jadi salah seorang di antara mereka berkata, "Fulan mengumandangkan adzan pada jam sekian, agar orang-orang tahu dialah yang mengingatkan." Ada segolongan orang yang lebih suka menyendiri di dalam masjid untuk shalat dan beribadah, sehingga kebiasaan ini diketahui banyak orang, yang kemudian bergabung bersama dan shalat bersama pula. Lama kelamaan mereka jadi terkenal. Yang seperti ini termasuk tipu daya iblis, meskipun yang demikian mendorong mereka untuk tekun beribadah, karena ternyata tindakan mereka ini hanya untuk mencari pujian."Sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah di dalam rumahnya, kecuali shalat wajib." (HR.Al Bukhari & Muslim)Amir bin Abdi Qais tidak suka jika orang-orang melihatnya mendirikan shalat, karenanya ia tidak pernah mendirikan shalat sunat di masjid. Jika Ibnu Abi Laila sedang shalat sunat, lalu ada seseorang memasuki rumahnya, maka dia pun terlentang.Diantara para ahli ibadah ada pula yang suka menangis, sementara di sekitarnya banyak orang. Tangis ini terjadi begitu saja dan sulit untuk ditahan. Siapa yang mampu menyembunyikannya, namun dia tetap menampakkannya, maka dia termasuk orang yang riya'. Dari Ashim, dia berkata, "Abu Wa'li biasa shalat (sunat) di dalam rumahnya, dan tatkala shalat itu dia menangis sesenggukan. Andaikata ada seseorang melihatnya, maka dia tidak menangis," Sementara jika Ayyub As-Sakhtiyani tidak mampu menahan tangisnya, maka dia bangkit berdiri.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 1 : Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman dengan Para Rasul

Halaqah 1 : Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman dengan Para RasulOleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APokok-pokok keimanan yang harus diimami oleh seorang hamba Adalah beriman kepada para rasul Allah·       Pengertian RasulullahDefinisi: Rasulun (tunggal) atau Rusulun(jamak) berarti utusan. Rasulullah berarti para utusan Allah.Mereka adalah manusia-manusia yang Allah pilih menjadi utusanNya kepada manusia dengan membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia.Allah berfirman : لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ“Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata…” (QS. Al-Hadid : 25).Berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma', kaum muslimin wajib hukumnya berimankepada seluruh Rasul Allah dan kekufuran kepada para rasul adalah kekufuran kepada Allah. Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin banyak manfaatnya, adapun dari Al-Quran maka Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan Kitab yang telah diturunkan kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya dan Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh” (QS. An-Nisa : 136).Adapun dari Assunah maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda Ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang apa itu Iman?الإيمان أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ“Beriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya dan hari Akhir dan engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang buruk”Beliau (Malaikat Jibril) mengatakan صَدَقْتَ (engkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.Dan para Ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada rasul-rasul Allah ‘azza wajalla.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah I

Halaqah 01Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para RasulDiantara pokok-pokok keimanan yang harus di imani oleh seorang hamba adalah beriman kepada para Rasul AllahRasuulun adalah bentuk tunggal dari rusulun, rasuulun artinya utusan, rusulun artinya utusan-utusan, Rasulullah artinya para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia yang Allah pilih menjadi utusanNya kepada manusia dengan membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. 🌷Allah berfirman :…لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ…“…Sunngguh Kami telah mengutus rasul rasul Kami dengan bukti bukti yang nyata…” (Al-Hadid 25)Al-Quran, Assunnah dan Ijma’ kaum muslimin menunjukkan tentang wajibnya beriman dengan kepada para Rasul Allah dan kekufuran kepada rasul-rasul Allah adalah kekufuran kepada Allah.Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin banyak manfaatnya, adapun dari Al-Quran maka Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan Kitab yang telah diturunkan kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya dan Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh” (An-Nisa : 136)Adapun dari Assunnah maka Nabi ﷺ bersabda ketika ditanya Malaikat Jibril tentang apa itu Iman?الإيمان أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِBeriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya dan hari Akhir dan engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang burukBeliau (Malaikat Jibril) mengatakan صَدَقْتَ (engkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.Dan para Ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada rasul rasul Allah ‘azza wajalla.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 51 | Bab 07

Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS Al Baqarah 208Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-51 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Berkata Al-Mushonnif rahimahullah :باب وجوب الدخول في الإسلام كله وترك ما سواهBab tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam semuanya, dan meninggalkan apa-apa selain agama Islam.Di dalam bab ini, beliau rahimahullah Ta’ala ingin menjelaskan kepada kita, bahwasanya di antara makna Islam yang sudah beliau sebutkan sebelumnya ketika membahas tentang tafsirul Islam, kemudian beliau menyebutkan bahwasanya di antara konsekuensi dari keislaman kita, di antaranya adalah bernama dengan nama-nama Islam, berfanatik dengan fanatik terhadap Islam, dan kita harus pegang sumber yang digunakan di dalam agama Islam dan mencukupkan diri dengan sumber yang ada di dalam agama Islam, maka beliau ingin menjelaskan di dalam bab ini, bahwasanya yang dimaksud dengan Islam yang memiliki keutamaan dan hukumnya adalah wajib, adalah menyerahkan diri secara keseluruhan.Di sini penekanan kullihi, masuk ke dalam Islam semuanya. Artinya bukanlah yang dimaksud dengan Islam hanya Islam sebagian saja. Sebagian perkara dia menyerahkan diri, tapi dalam sebagian yang lain dia masih membangkang, membantah kepada Allah, bukan itu yang dimaksud.Islam yang dimaksud adalah Islam secara kaffah, semuanya. Bukan dengan Islam di dalam sebagian amal, tapi tidak Islam dalam sebagian yang lain. Dan ini hukumnya adalah wajib, bukan sebuah anjuran saja, dianjurkan bagi Antum untuk melaksanakan Islam secara keseluruhan, kalau Antum bisa, ya alhamdulillah, kalau tidak ya tidak mengapa. Tidak demikian.Tapi di sini hukumnya sampai wajib untuk masuk ke dalam agama Islam semuanya. Masuklah Antum ke dalam Islam secara keseluruhan, jangan milih-milih. Dalam hal akidah Islam, tapi kalau dalam masalah manhaj, masalah muamalatul hukkam sudah melenceng, memilih cara orang-orang khawarij, misalnya.Di dalam masalah ibadah, Islam, sesuai dengan Al Qur’an dan hadits, tapi masalah imamah mengikuti caranya orang-orang khawarij.Di dalam masalah ibadah sesuai dengan Islam, tapi untuk masalah Tazkiyatun nufus misalnya, dia mengambil caranya orang-orang sufi. Bukan ini yang dimaksud.Maksud ke dalam Islam kullihi, dalam seluruh perkara. Dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, Tazkiyatun nufus, akhlak, tahakum, jangan kita memecah-belah agama yang sudah menjadi satu kesatuan.Wajib hukumnya bagi kita semua masuk ke dalam agama Islam secara kullihi, keseluruhan.Perbedaan antara bab ini dan bab yang sebelumnya, bab yang kedua, adalah bab yang sebelumnya adalah tentangوجوب دخول في الإسلامAda yang mengatakan perbedaannya, kalau yang pertama yaitu وجوب دخول في الإسلام, adalah secara global. Secara global wajib bagi kita untuk masuk ke dalam agama Islam.Adapun di dalam bab ketujuh ini, maka disebutkan di sini, wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara terperinci, jadi dia masuknya kalau dia yang didepan kalau disiniوجوب الدخول في الإسلام كلهIni sudah masuk keperinciannya/sudah kedalam²nya (dia masukin) semuanya dilaksanakan, kamar aqidah, muamalah, akhlak semuanya dia masukin, ini perbedaan antara bab yang nomer 2 dengan bab yang 7 ini, jadi ini lebih terperinci lagi, bukan hanya pintu gerbangnya dia masuk tetapi pintu² yang lain yang ada didalam Islām dan ini hukum adalah wajib, dia melaksanakan Islām didalam seluruh perkara tadi.وترك ما سواهDan kewajiban untuk meninggalkan yang selain itu.Beliau mengatakanوقول الله تعالى:Dalil yang pertama dari al-Quran tentang wajibnya masuk kedalam Islām kullihi (seluruh apa yang ada didalam Islām)وقول الله تعالى : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً)(البقرة: من الآية 208)Dan firman Allah yaitu wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.Ini adalah apa yang beliau maksud dengan kalimat kullihi. Kaffah, di dalam seluruh apa yang ada di dalam Islam ini. Dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, imamah, dan seterusnya, maka masuklah ke dalam Islam, di dalam seluruh masalah tadi, seluruh bidang tadi, ke dalam Islam itu, Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam. Jangan kita memilah memilih dan memecah-belah, memisah-misah agama yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam, ke dalam penyerahan diri kepada Allah secara kaffah, secara keseluruhan. Ayat ini sangat jelas. Udkhulu, karena di sini adalah perintah, sedangkan asal dari perintah adalah wajib.Makanya beliau mengatakan wajibnya masuk ke dalam Islam, bukan hanya sekedar sesuatu yang Sunnah.Dan ucapan Allah kaffah, ini menunjukkan apa yang beliau sebutkan di dalam judulnya, kullihi, seluruh Islam.Dan kewajiban kita masuk ke dalam Islam semuanya, ini konsekuensinya adalah meninggalkan selain yang bukan merupakan Islam. Kalau dalam seluruh perkara kita diwajibkan untuk masuk semuanya, wajib untuk menggunakan Islam sebagai dasarnya, maka ini otomatis konsekuensinya kita harus meninggalkan segala sesuatu yang bukan termasuk di dalam agama agama Islam. Ini sudah konsekuensinya, kalau memang kita harus masuk di dalam Islam seluruhnya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
D
Deni trisiananingrum

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis bagian 6

Kitab TALBIS IBLIS - “Tipuan Iblis”karangan Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnul JauziBagian 6Oleh Ustadz Firanda AndirjaSumber: Youtube Firanda Andirja Talbis Iblis-6BAB KEDELAPAN: PENYEBUTAN TIPU DAYAIBLIS KEPADA PARA HAMBA DALAM IBADAHBagian 2Penyebutan Tipu Dayanya kepada Mereka dalam Shalat ◦ Di antaranya tipu dayanya kepada mereka dalam niat shalat. Di antara mereka ada yang berkata: "Aku shalat shalat ini," kemudian mengulanginya karena mengira bahwa dia telah merusak niat. Niat tidak rusak meski tidak ridha dengan lafaz. Di antara mereka ada yang takbir kemudian merusaknya, kemudian takbir kemudian merusaknya. Jika imam rukuk, orang yang was- was takbir dan rukuk bersamanya. Aku heran apa yang menghadirkan niat saat itu? Itu tidak lain karena Iblis ingin melewatkan keutamaan baginya. Di antara orang yang was-was ada yang bersumpah demi Allah tidak akan takbir selain yang ini. Di antara mereka ada yang bersumpah demi Allah dengan mengeluarkan hartanya atau dengan talak. Ini semua tipu daya Iblis. Syariat itu toleran, mudah, selamat dari bencana-bencana ini. Tidak terjadi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya sesuatu dari ini.Telah sampai kepada kami dari Abu Hazim bahwa dia masuk masjid lalu Iblis membisikkan kepadanya bahwa kamu shalat tanpa wudhu. Dia berkata: "Nasihatmu tidak sampai ke tingkat ini." Pembongkaran tipu daya ini adalah dikatakan kepada orang yang was-was: Jika kamu ingin menghadirkan niat, niat sudah hadir karena kamu berdiri untuk menunaikan fardhu dan inilah niat itu. Tempatnya adalah hati, bukanlafaz. Jika kamu ingin membenarkan lafaz, lafaz tidak wajib. Kamu sudah mengatakannya dengan benar, maka apa alasan mengulanginya? Apakah kamu mengira setelah mengatakan bahwa kamu tidak mengatakannya? Ibnul Jauzi berkata: Sebagian syaikh menceritakan kepadaku dari Ibnu Aqil kisahyang mengherankan bahwa seorang laki-laki menemuinya dan berkata: "Sesungguhnya aku membasuh anggota dan berkata aku tidakmembasuhnya, aku takbir dan berkata aku tidak takbir." Ibnu Aqil berkata kepadanya: "Tinggalkan shalat karena itu tidak wajib atas kamu." Suatu kaum berkata kepada Ibnu Aqil: "Bagaimana kamu berkata demikian?" Dia berkata kepada mereka: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Diangkat pena dari orang gila hingga dia sadar.' Barangsiapa takbir dan berkata tidak takbir maka dia bukan orang berakal, dan orang gila tidak wajib shalat atasnyaIbnul Jauzi berkata: Ketahuilah bahwa was-was dalam niat shalat sebabnya adalah kerusakan dalam akal dan kebodohan terhadap kemudahan. Diketahui bahwa orang yang dimasuki seorang alim lalu dia berdiri untuknya dan berkata: "Aku niat berdiri tegak karena masuknya alim ini karena ilmunya menghadap kepadanya dengan wajahku," ini menunjukkan ada cacat dalam akalnya. Sesungguhnya ini telah tergambar dalam pikirannya sejak melihatalim itu. Berdirinya manusia untuk shalat untuk menunaikan fardhu adalah perkara yang tergambar dalam jiwa dalam satu keadaan, tidak memanjang waktunya. Yang memanjang waktu adalah menyusun lafaz-lafaz ini, sedangkan lafaz tidak wajib. Was-was adalah kebodohan murniSesungguhnya orang yang was-was memaksakan dirinya menghadirkan dalam hatinya zuhur empat rakaat fardhu dalam satu keadaan terperinci dengan lafaz-lafaznya sambil dia memperhatikannya, dan itu mustahil.Seandainya dia memaksakan dirinya demikian dalam berdiri untuk alim, niscaya sulit baginya.Dari Miswar dia berkata: Mu'in bin Abdurrahman mengeluarkan kepadaku sebuah kitab dan bersumpah demi Allah bahwa itu tulisan ayahnya. Di dalamnya tertulis: Abdullah berkata: "Demi Dzat yang tidak ada ilah selain- Nya, aku tidak melihat seorang pun yang lebih keras terhadap orang-orang yang berlebihan daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak melihat setelah beliau yang lebih takut kepada mereka daripada Abu Bakar. Sesungguhnya aku mengira Umar adalah orang yang paling takut di muka bumi kepada mereka." ◦ Di antara orang yang was-was ada yang jika niatnya benar dan dia takbir, dia lalai dari sisa shalatnya seolah-olah tujuan dari shalat hanya takbir saja. Ini tipu daya yang dibongkar bahwa takbir dimaksudkan untuk masuk dalam ibadah. Bagaimana mengabaikan ibadah yang seperti rumah dan hanya sibuk menjaga pintu? ◦ Di antara orang yang was-was ada yang takbirnya benar di belakang imam padahal tersisa dari rakaat sedikit, lalu dia membaca iftitah dan ta'awwudz. Imam rukuk. Ini juga tipu daya karena yang dia mulai dari ta'awwudz dan iftitah adalah sunnah, sedangkan yang dia tinggalkan yaitu membaca al-Fatihah wajib bagi makmum menurut segolongan ulama. Maka tidak pantas mendahulukan sunnah atasnya. ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang sehingga mereka meninggalkan banyak sunnah karena kejadian-kejadian yang menimpa mereka. Di antara mereka ada yang sengaja tidak berada di shaf pertama sambil berkata: "Yang dimaksud adalah mendekatkan hati." Di antara mereka ada yang tidak meletakkan tangan di atas tangan dalam salat sambil berkata: "Aku tidak suka menampakkan kekhusyukan yang tidak ada dalam hatiku.". Kami telah meriwayatkan kedua perbuatan ini dari sebagian tokoh salehbesar, namun ini adalah masalah yang disebabkan oleh kurangnya ilmu.Dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi alaihi wa sallam bersabda: "Seandainya manusia mengetahuikeutamaan yang mereka peroleh dalam azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan cara lain kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi."Dalam riwayat khusus Muslim dari hadisnya, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama, dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir."Adapun meletakkan tangan di atas tangan, itu adalah sunnah. Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya bahwa Ibnu Zubair berkata: "Meletakkan tangan di atas tangan adalah termasuk sunnah." Dan bahwa Ibnu Mas'ud pernah salat lalu meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihatnya dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri. ◦ Iblis telah menipu sebagian orang yang salat dalam hal makharijul huruf (tempat keluarnya huruf). Kamu akan melihatnya berkata "al-hamdu al-hamdu" sehingga dengan mengulang kata tersebut dia keluar dari aturan adab salat. Terkadang dia menipu dalam hal tahqiq tasydid (membenarkan huruf yang ditasydid), dan terkadang dalam mengeluarkan huruf dhad pada kata "al-maghdubi". Sungguh aku telah melihat orang yang mengucapkan "al-maghdubi" sehingga keluar ludah bersama keluarnya huruf dhad karena kuatnya penekanan. Padahal yang dimaksud hanyalah membenarkan huruf saja. Iblis mengeluarkan orang-orang ini dengan berlebihan melampaui batas tahqiq dan menyibukkan mereka dengan melebih-lebihkan huruf sehingga tidak memahami bacaan. Semua wasangka ini dari Iblis.Dalam riwayat khusus Muslim dari hadis Utsman bin Abi al-Ash, dia berkata:"Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: 'Sesungguhnya setan telah menghalangi antara aku dengan salatku dan bacaanku, dia memusingkanku.' Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Jika kamu merasakannya, makaberlindunglah kepada Allah darinya tiga kali dan ludahlah ke kirimu. ' Aku melakukan itu, maka Allah menghilangkannya dariku." ◦ Iblis telah menipu banyak orang dari kalangan orang bodoh yang beribadah. Mereka melihat bahwa ibadah hanyalah berdiri dan duduk saja. Mereka tekun dalam hal itu namun melalaikan sebagian kewajiban mereka tanpa mengetahuinya. Iblis juga menipu yang lain di antara mereka. Mereka memanjangkan salat dan memperbanyak bacaan, namun meninggalkan yang disunnahkan dalam salat dan melakukan yang dimakruhkan. ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang beribadah sehingga mereka memperbanyak salat malam. Di antara mereka ada yang begadang sepanjang malam dan lebih bergembira dengan qiyamul lail dan salat dhuha daripada bergembira dengan menunaikan fardhu. Kemudian dia tertidur menjelang fajar sehingga melewatkan salat fardhu, atau bangun lalu bersiap-siap untuk salat sehingga melewatkan jamaah, atau dia bangun dalam keadaan malas sehingga tidak mampu mencari nafkah untuk keluarganya. Jika ada yang berkata: "Kamu telah meriwayatkan kepada kami bahwa sekelompok salaf biasa menghidupkan malam," maka jawabannya: Mereka bertahap hingga mampu melakukan itu. Mereka yakin dapat menjaga salat fajar berjamaah. Mereka terbantu dengan qailulah (tidur siang) karena sedikitnya makanan, dan itu benar bagi mereka. Kemudian belum sampai kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah begadang semalam tanpa tidur. Maka sunnahnyalah yang diikuti." ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang qiyamul lail sehingga mereka membicarakan hal itu di siang hari. Barangkali salah seorang dari mereka berkata: "Si fulan muazin azan pada waktu itu," agar orang-orang tahu bahwa dia sedang terjaga. ◦ Iblis telah menipu yang lain yang menyendiri di masjid-masjid untuk salat dan beribadah sehingga mereka dikenal karena hal itu. Keadaan mereka tersebar di antara manusia. Itu termasuk tipu daya Iblis yang menguatkan jiwa untuk beribadah karena mengetahui bahwa hal itu akan tersebar dan mendatangkan pujian. Dari Zaid bin Tsabit, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:"Sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat wajib."Berkata penulis: "Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahihain." Amir bin Abd Qais tidak suka dilihat orang saat salat. Dia tidak salat sunnah di masjid. Dia salat seribu rakaat setiap hari. Ibnu Abi Laila jika salat lalu ada yang masuk, dia berbaring ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang beribadah. Mereka menangis sementara orang-orang di sekitar mereka. Ini terkadang terjadi pada seseorang sehingga tidak bisa dicegah. Barangsiapa yang mampu menutupinya namun menampakkannya, maka dia telah terjatuh dalam riya. Dari Ashim: "Abu Wail jika salat di rumahnya menangis tersedu-sedu. Seandainya diberikan kepadanya dunia agar melakukannya di hadapan seseorang yang melihatnya, dia tidak akan melakukannya." Ayyub as-Sakhtiyani jika tangisan mengalahkannya, dia berdiri ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang beribadah. Kamu melihat mereka salat siang malam namun tidak memperhatikan perbaikan cacat batin dan makanan. Memperhatikan hal itu lebih utama bagi mereka daripada memperbanyak sunnah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 51 - Bab 7 (Pembahasan Bab Utama dan Dalil Pertama (Al-Baqarah:208))

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 51Bab 7/Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS. Al-Baqarah: 208Penjelasan Umum BabKita harus pegang sumber yang digunakan di dalam agama Islam dan mencukupkan diri dengan sumber yang ada di dalam agama Islam. Islam yang memiliki keutamaan dan hukumnya adalah wajib, adalah menyerahkan diri secara keseluruhan.Kullihi (masuk ke dalam Islam semuanya). Maksud ke dalam Islam kullihi, dalam seluruh perkara. Dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, Tazkiyatun nufus (penyucian jiwa), akhlak, tahakum (berhukum). Islam yang diwajibkan Allah bukan Islam sebagian, tetapi Islam secara menyeluruh (kaffah). Seorang muslim wajib tunduk kepada syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak boleh mengambil Islam pada satu sisi lalu mengambil pemikiran atau jalan selain Islam pada sisi yang lain.Telah dibahas sebelumnya dalam bab 2 ( وجوب دخول في الإسلام : Wujūbul Islām) yaitu menjelaskan kewajiban menjadi seorang muslim yang wajib masuk Islam secara keseluruhan (global). Sedangkan pada bab 7 lebih terperinci lagi, yaitu:Kewajiban masuk ke dalam Islam secara terperinci.Aqidah, muamalah, akhlak, dan seluruh perkara Islam harus dilaksanakan.Menjalankan seluruh perkara yang ada di dalam Islam.Hukumnya wajib.Wajib meninggalkan selain Islam.Pembahasan Dalil Pertama (QS. Al-Baqarah, ayat 208)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah” (QS Al-Baqarah: 208)Dalil pertama tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara kullihi. Kata kaffah menunjukkan seluruh apa yang ada di dalam Islam. Dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, imamah, dan seluruh bidang kehidupan, harus masuk ke dalam Islam yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.Tidak boleh memilah-milah dan memecah-belah agama yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Masuk ke dalam agama Islam dan menyerahkan diri kepada Allah secara keseluruhan.Kata ادخلوا (udkhulu) adalah perintah. Karena di sini adalah perintah, sedangkan asal dari perintah adalah wajib. Kata كافة (kaffah) menunjukkan seluruh Islam (kullihi).Konsekuensi masuk ke dalam Islam seluruhnya adalah meninggalkan segala sesuatu yang bukan termasuk Islam. Wajib menjadikan Islam sebagai dasar dalam seluruh perkara dan meninggalkan selainnya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
M
Meutia Yunita

📍 Kota Bandung

Ringkasan Materi 6: Talbis Iblis #6

Tipu Daya Iblis terhadap Ahli Ibadah (Bagian 2)Tipu daya dalam masalah niat dan takbirWaswas dalam niat: banyak orang terjebak mengulang-ulang lafaz niat karena merasa niatnya batal. Padahal, niat itu ada di hati. Begitu kita berdiri untuk salat, kita sudah berniat.Mengulang takbir: Iblis membuat orang ragu saat Takbiratul Ihram sehingga ia mengulangnya berkali-kali. Akibatnya, ia kehilangan keutamaan takbir pertama bersama imam.Penyakit waswas ini muncul karena kebodohan terhadap agama dan adanya gangguan pada logika (akal).Kekeliruan skala prioritas (wajib vs sunnah)Mendahulukan yang sunnah: Ada orang yang masbuk (terlambat) sibuk membaca doa istiftah (sunnah) yang panjang, sampai-sampai ia tidak sempat membaca Al-Fatihah (wajib/rukun).Meninggalkan yang wajib demi sunnah: Contohnya, orang yang semangat salat malam (tahajud) tapi akhirnya ketiduran sehingga meninggalkan salat Subuh atau tidak salat Subuh berjemaah. Padahal, pahala amalan wajib jauh lebih besar.Meninggalkan sunnah karena alasan yang salahAda orang yang enggan melakukan sunnah karena takut dianggap pamer (riya). Contoh: Tidak mau salat di saf pertama karena takut riya.Prinsip: Kita harus tetap menjalankan sunnah dan melawan penyakit hatinya, bukan malah meninggalkan sunnahnya.Berlebih-lebihan dalam tajwid dan makhrajIblis menggoda ahli Quran untuk terlalu fokus pada makhraj (cara keluar huruf) secara berlebihan hingga mengulang-ulang satu huruf berkali-kali.Dampaknya: Seseorang jadi terlalu sibuk dengan teknis suara, sehingga lupa merenungi makna ayat yang sedang dibaca.Riya halus (menceritakan amal)Cerita Terselubung: Iblis menggoda orang untuk menceritakan ibadahnya secara halus. Contoh: "Tadi malam muazin azannya tepat waktu ya," (tujuannya supaya orang tahu bahwa dia bangun dan salat malam).Menghapus Pahala: Amalan yang seharusnya rahasia antara hamba dan Allah menjadi terbuka. Amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi jauh lebih utama dan lebih terjaga dari riya.Sifat para Salaf: ulama dahulu sangat kuat dalam menyembunyikan amalan. Mengabaikan hak tubuhIblis menggoda ahli ibadah untuk tidak tidur sama sekali demi beribadah. Padahal, tubuh memiliki hak untuk istirahat.Nabi Muhammad SAW melarang hal ini. Beliau mengajarkan kita untuk salat malam tapi juga harus tidur, agar saat salat fardu kita dalam kondisi segar dan fokus, bukan mengantuk.Kesimpulan:Ibadah yang paling baik adalah yang sesuai dengan dalil (sunnah) dan dilakukan dengan ikhlas. Jangan biarkan Iblis merusak pahala Anda melalui perasaan ragu-ragu (waswas), perasaan ingin dipuji (riya), atau sikap berlebih-lebihan yang justru keluar dari jalur agama.*keterangan: hari ini desain posternya berbeda dari sebelumnya karena batasan generate image di chat gpt nya sudah habis.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

KEADAAN ORANG-ORANG KAFIR KETIKA DIGIRING dan DIKUMPULKAN ke dalam NERAKA

PERTAMA | Mereka akan digiring dengan kasar.(QS Ath Thūr: 13-14)KEDUA | Mereka akan digiring secara berkelompok dan akan disambut oleh para malaikat penjaga neraka di ambang pintu neraka dengan penuh penghinaan.(QS Az Zumar: 71-72)KETIGA | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan di atas wajah-wajah mereka. (HR Bukhāri dan Muslim; QS Al Furqān: 34)KEEMPAT| Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan buta, bisu dan tuli. (QS Al Isrā: 97)KELIMA | Mereka akan dikumpulkan bersama teman-teman mereka dan sesembahansesembahan mereka dan akan saling menyalahkandi antara mereka sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam neraka. (Q.S. Ash Shāffāt: 22-32)KEENAM | Sebelum mereka sampai ke neraka mereka akan mendengar suara neraka (QS Al Furqān: 12)

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
K
khaira azwa putri ranaji

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

catatan TALBIS IBLIS #6: talbis iblis terhadap ahli ilmu

Kerancuan dalam Niat dan Takbiratul Ihramwas” dalam niat: iblis membuat orang mengulang-ulang ucapan niat (misalnya "Usolli") karena merasa niatnya batal.                        "النِيَّةُ مَحَلُّهَا فِي الْقَلْبِ لَا بِاللَّفْظِ"mengulang takbir: iblis menggoda orang untuk membatalkan takbir berkali-kali hingga ia luput dari keutamaan awal shalat bersama Imam.sumpah yang berlebihan: saking was-wasnya, ada yang sampai bersumpah:"لَوْ عَاوَدْتُ التَّكْبِيرَ طَلَّقْتُ زَوْجَتِي"(Jika aku mengulang takbir lagi, aku ceraikan istriku) hanya agar bisa berhenti dari was-was tersebut.Hakikat was”was” dalam niat shalat adalah bukti adanya kekacauan pada akal(الْوَسْوَسَةُ سَبَبُهَا خَلَلٌ فِي الْعَقْلِ)dan kebodohan terhadap syariat.Salah Prioritas: Mendahulukan Sunnah daripada WajibIblis menggoda makmum masbuk untuk sibuk membaca doa istiftah padahal Imam sudah mau rukuk. ia meninggalkan yang wajib (membaca Al-Fatihah).begadang untuk shalat malam (tahajjud) namun ketiduran sehingga meninggalkan shalat Subuh.Meninggalkan Sunnah Karena Alasan "Hati"Menghindari Saf PertamaSeseorang sengaja berdiri di saf belakang dengan alasan agar lebih khusyuk atau takut riya,"لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا".Tidak Sedekapsengaja tidak meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri karena takut dianggap pura-pura khusyuk.jalankan sunnah dan lawan penyakit hatimu, bukan malah meninggalkan sunnah.Berlebihan dalam Makharijul Huruf (Tajwid)setan menyibukkan orang dengan terlalu menekan makhraj huruf (ex: ض) secara berlebihan hingga keluar air liur/ludah: حَتَّى يَخْرُجَ رِيقهhal ini membuat seseorang lupa merenungkan makna ayat yang sedang dibaca.Kebodohan dalam Aturan Ibadahlangsung ikut salam begitu Imam salam, padahal ia belum menyelesaikan bacaan Tasyahud.memaksa tetap solat walaupun ngantuk, padahal Nabi memerintahkan untuk tidur dahulu agar ia tidak mencaci dirinya sendiri saat berniat istigfar."إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَرْقُدْ"Tipu Daya Riya (Pamer) yang HalusMenceritakan amal secara tersiratDengan bercerita, amalan yang tadinya tercatat di buku amalan rahasia berpindah ke buku amalan yang diperlihatkan, sehingga pahalanya berkurang.Pura-pura sakit untuk menyembunyikan tangis saat ibadah, lalu mengambil tisu dan berkata:"الزُّكَامُ شَدِيدٌ" (Flu ini sangat berat).Ibnu Abi Laila: jika sedang shalat lalu ada orang masuk, ia akan langsung berbaring/pura-pura tidur agar ibadahnya tidak diketahui orang lain.Prinsip Utama Melawan TalbiIkuti jalan asal/sunnah yang jelas, bukan mengikuti "perasaan" atau pendapat tokoh tertentu yang menyalahi dalil.Tubuh memiliki hak untuk istirahat:"إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا".Amal yang disembunyikan jauh lebih baik:"مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ".

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
A
Aminatus Noer Sholichah

📍 Kota Surabaya

Materi 6 : talbis IBLIS terhadap ahli ilmu bagian ke-2

Rangkuman Kajian: Talbis Iblis #6 (Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu – Bagian 2)1. Mengapa Iblis Sangat Ambisius Menipu Ahli Ilmu?Iblis memahami bahwa menjatuhkan seorang awam hanya merugikan individu tersebut. Namun, jika iblis berhasil menyimpangkan seorang ahli ilmu (ulama/penuntut ilmu), maka dampaknya akan merusak masyarakat luas karena mereka adalah rujukan umat. Iblis masuk bukan lewat pintu maksiat kasar, melainkan lewat celah-celah halus dalam aktivitas keilmuan mereka.2. Tipu Daya Spesifik pada Berbagai Golongan Ahli IlmuIbnul Jauzi memetakan bagaimana iblis menyesatkan para pakar di bidangnya masing-masing:Talbis pada Ahli Hadits (Muhadditsin):Iblis menipu sebagian mereka sehingga menghabiskan seluruh waktu dan umur hanya untuk berburu sanad yang asing (gharaib), mengoleksi jalur periwayatan, dan sibuk menulis tanpa sempat memahami fiqh (kandungan hukum) dari hadits yang mereka hafal. Mereka merasa sudah selamat hanya dengan mengoleksi hadits, padahal tidak mengamalkannya.Talbis pada Ahli Fiqh (Fuqaha):Sebagian ahli fiqh ditipu hingga masuk ke dalam jebakan perdebatan (jidal) yang tujuannya bukan lagi mencari kebenaran, melainkan demi menjatuhkan dan mempermalukan lawan bicara. Celah lainnya adalah mencari-cari hiyal (muslihat/celah hukum) untuk menghalalkan yang haram demi menyenangkan pihak tertentu atau penguasa.Talbis pada Ahli Bahasa & Sastra (Ahli Nahwu/Lughah):Iblis membuat mereka terlena dan menghabiskan umur puluhan tahun dalam memperdebatkan detail-detail rumit ilmu tata bahasa dan sastra kuno, hingga melalaikan ilmu yang fardhu 'ain (seperti perbaikan akidah, cara bersuci, dan shalat yang benar).Talbis pada Para Mubaligh / Penceramah (Al-Wa'izh):Iblis menipu sebagian penceramah agar suka membawakan kisah-kisah aneh, dongeng, atau bahkan hadits palsu/lemah hanya demi membuat jamaah menangis atau tertawa. Fokus mereka bergeser dari mengedukasi umat menjadi sekadar mencari panggung, popularitas, dan pujian.3. Dua Penyakit Kronis Ahli Ilmu di Bagian KeduaUst. Firanda menekankan dua jebakan paling mematikan yang kerap mengintai para pemilik ilmu:⚠️ Penyakit Hasad (Dengki) Antar Sesama"Hasad yang paling tajam sering kali terjadi di antara orang yang seprofesi, termasuk di antara sesama ahli ilmu."Iblis meniupkan rasa tidak suka, iri, dan dengki ketika melihat ada ulama atau penuntut ilmu lain yang memiliki jamaah lebih banyak, kitabnya lebih laris, atau lebih dihormati oleh masyarakat. Hal ini membuat sebagian ahli ilmu tega mencari-cari kesalahan saudaranya demi menjatuhkan reputasinya.⚠️ Fitnah Kedekatan dengan Penguasa (Ulama Su')Iblis mengaburkan batasan dalam berinteraksi dengan pemerintah/penguasa. Mereka ditipu dengan alasan "ingin memberikan nasihat", namun hakikatnya adalah untuk mencari:Fasilitas duniawi dan harta.Jabatan, kedudukan, dan legitimasi.Pembenaran (stempel syar'i) atas kebijakan penguasa yang keliru demi mengamankan posisi mereka sendiri.💡 Kesimpulan & Solusi KeselamatanBenteng utama bagi para ahli ilmu dan penuntut ilmu agar selamat dari talbis ini adalah senantiasa memperbarui keikhlasan niat, rajin mengintrospeksi diri (muhasabah), serta menyadari bahwa ilmu yang tidak membuahkan rasa takut kepada Allah (Khasyyah) dan tidak diamalkan justru akan menjadi bumerang (hujjah) yang memberatkan mereka di akhirat.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
M
Marni

📍 Kota Bogor

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu

Talbis Iblis Terhadap Alhi Ilmu Ustadz Firanda Andirja Diantara tipu daya iblis dalam sholat : - Dia menyangka niatnya batal padahal tidak batal. - Mengulang ngulang takbir, tidak perlu ragu ragu - harus mengumpulkan niat dalam satu waktu. - sibuk dalam niat sholat tapi kebelakangnya tidak diperhatikan, seakan-akan mengutamakan niat dan yang lain dilalaikan. - sibuk dengan yang wajib dan meninggalkan sunah. - meninggalkan banyak sunah sunah nabi. - menggoda dengan makharijul huruf dalam bacaan sholat dan lupa dengan makna makna. - mengganggu dengan memanjang manjangkan sholat - sibuk dengan yang sunah dan meninggalkan yang wajib, cth sibuk sholat malam dan kesiangan sholat subuh - fitnah menceritakan amal sholeh atau riya, jika sudah ada sinyal untuk riya maka segera berhenti bercerita Itu semua adalah godaan iblis atau was was syaitan

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
N
Noorhayati

📍 Kabupaten Bogor

Ringkasan Talbis iblis-6 ustadz firanda adirja

🌿 TALBIS IBLIS #6🖋️ Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.📖 TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ILMU (Bag. 2)🟨 WAS-WAS DALAM SHALAT• Iblis menimbulkan keraguan dalam niat, wudhu, dan takbir.• Niat tempatnya di hati, tidak wajib dilafalkan.• Syariat Islam itu mudah dan ringan.• Sibuk menyempurnakan lafaz niat dapat membuat lupa hakikat shalat.🔴 POIN PENTINGNiat adalah rukun shalat dan hadir bersamaan dengan takbiratul ihram.🟨 TALBIS DALAM IBADAH• Terlalu sibuk dengan bacaan sunnah hingga melupakan yang wajib.• Fokus pada kesempurnaan makhraj dan tasydid sampai lalai memahami makna ayat.• Tergesa-gesa menyelesaikan tasyahud karena mengikuti imam.• Memanjangkan ibadah sunnah hingga melalaikan kewajiban.🔴 INGAT!Ibadah terbaik adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ, bukan yang berlebihan.🟨 TALBIS RIYA'• Menceritakan amal shalih agar mendapat pujian manusia.• Menampilkan ibadah agar dipandang saleh.• Setan menggoda ahli ibadah melalui rasa bangga dan pujian.🌿 KAIDAH PENTING"Ikuti dalil dan sunnah, jangan berlebihan dalam ibadah, serta dahulukan yang wajib daripada yang sunnah."📚 Sumber Kajian:Talbis Iblis karya Imam Ibnul Jauzi@komunitasbeekins #jejakcahaya

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
N
Nurul

📍 Kota Depok

Pembahasan Kitab Al-Ushulu Ats-Tsalatsah bag.2

Halaqah 26 : Landasan Kedua Ma'rifatul Dinil Islam Bil Adillah : Muqaddimah #1Setelah kita menyelesaikan landasan yang pertama kita masuk pada :الأصل الثاني: معرفة دين الإسلام بالإدلةLandasan yang kedua diantara tiga landasan yang wajib hukumnya kita pelajari, kita amalkan, kita dakwahkan dan kita harus bersabar didalam mempelajarinya.Yaitu tentang : معرفة دين الإسلام بالإدلةLandasan kedua : Mengenal agama Islām dengan dalīl-dalīlnya.Ini adalah pondasi yang kedua, setelah mengenal Allāh adalah mengenal agama Islām. Yang dimaksud dengan دين الإسلام disini adalah Dīnul Islām dengan makna yang khusus yaitu agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Dīnul Islām terkadang maknanya adalah umum, makna umum Dīnul Islām adalah agama Islām yang merupakan agama seluruh nabi dan juga seluruh rasūl.Agama seluruh nabi dan rasūl adalah satu yaitu Islām. Baik nabi Ādam, nabi Nūh, nabi Ibāhīm, nabi Mūsā, nabi Isa, seluruh nabi mereka beragam Islām.Didalam sebuah ayat ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām.Allāh mengatakan kepada-nya:إِذْ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَKetika Allāh Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada Ibrāhīm : “Islāmlah kamu!” Beliau mengatakan: “Aku Islām, aku menyerahkan diri untuk Allāh Rabbul ‘ālamīn”.(QS. Al-Baqarah:131)Ayat ini ⇒ Menunjukan bahwasanya agama nabi Ibrāhīm adalah Islām.Dan ayat setelah bagaimana Nabi Ibrāhīm berpesan kepada anak-anaknya dan juga Ya’qūb.وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِـۧمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَDan Ibrāhīm berwasiat dengannya (yaitu dengan wasiat Dīnul Islām) kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qūb.Ibrāhīm berkata: “Wahai,anak-anakku! Sesungguhnya Allāh telah memilih agama ini (Islām) bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islām”.(QS. Al-Baqarah:132)⇒ Ini adalah wasiat nabi Ibrāhīm dan nabi Ya’qūb untuk putra-putra mereka, supaya mereka istiqāmah diatas Islām. Agama mereka adalah agama Islām.أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَـٰهَكَ وَإِلَـٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِـۧمَ وَإِسْمَـٰعِيلَ وَإِسْحَـٰقَ إِلَـٰهًۭا وَٰحِدًۭا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَApakah kalian hadir ketika kematian mendatangi Ya’qūb? Ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrāhīm, Ismā’il dan Ishāq (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.(QS. Al-Baqarah:133)⇒ Inilah agama nabi Ibrāhīm, nabi Ya’qūb, nabi Ismā’il.Ketika nabi Sulaimān mengirim surat kepada Bilqis.قَالَتْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَؤُا۟ إِنِّىٓ أُلْقِىَ إِلَىَّ كِتَـٰبٌۭ كَرِيمٌBerkata Bilqis : “Wahai, pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.=> Saat itu yang membawa surat adalah Hudhud.إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِSesungguhnya (surat) itu dari Sulaimān isinya, “Dengan nama Allāh Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”.Kemudian dilanjutkan :أَلَّا تَعۡلُواْ عَلَيَّ وَأۡتُونِي مُسۡلِمِينَ“Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”(QS. An-Naml:29-31)⇒ Maksudnya menyerahkan diri adalah menyerahkan diri kepada Allāh sebagai seorang muslim.Dan diakhir Bilqis mengatakan:قَالَتْ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَـٰنَ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ“Yā Rabb, sesungguhnya aku telah menzhālimi diriku sendiri dan aku berserah diri bersama Sulaimān kepada Allāh, Tuhan semesta alam”.(QS. An-Naml:44)⇒ Ini adalah agama nabi Sulaimān yaitu Islām.Mūsā alayhissalām ketika beliau berkata kepada kaumnya.وَقَالَ مُوسَىٰ يَـٰقَوْمِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَBerkata Mūsā: “Wahai kaumku (Bani Isrāil) jika kamu beriman kepada Allāh, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”.(QS.Yūnus: 84)⇒ Menunjukkan bahwa nabi Mūsā alayhissalām menyeru kepada Islām, agama beliau adalah agama Islām dan beliau menyeru kepada Islām.Adapun agama Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagaimana agama para nabi sebelumnya yaitu Islām. Banyak sekali dalīl yang menunjukkan bahwasanya agama beliau adalah Islām.Ini adalah perkara yang واضح (yang jelas), yang ingin kita sampaikan disini bahwasanya seluruh nabi dan rasūl agama mereka adalah satu yaitu Islām.Dan ini adalah pengertian Dīnul Islām secara umum. Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan :إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَـٰمُ“Sesungguhnya agama disisi Allāh adalah Islām”(QS. Āli-Imrān:19)Karena agama seluruh nabi dan rasūl adalah Islām. Jangan ada yang berpikir bahwasanya nabi Isa beragama Kristen, nabi Mūsā beragama Yahūdi. Tidak !Jangan kita melihat sebuah kaum yang mereka mengaku pengikutnya nabi Isa dan mereka menamakan dirinya Kristen atau Nashara.Dan kita melihat orang-orang yang mengaku beriman dengan nabi Mūsā dan mereka menamakan dirinya (misalnya) Yahūd. Kemudian kita berkeyakinan bahwasanya Isa beragam Nashrāni dan Mūsā beragama Yahūdi.Itu adalah pengakuan mereka, sementara nabi Mūsā dan nabi Isa keduanya adalah seorang Muslim.Demikian pula firman Allāh ‘Azza wa Jalla:وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islām, maka tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”(QS. Āli-Imrān:85)Maka jangan ada yang mengatakan lagi bahwa nabi Mūsā beragama Yahūdi atau mengatakan nabi Isa beragama Nashrāni. Kemudian ingin membantah ayat ini.Kita katakan mereka adalah muslim, adapun pengikut-pengikut mereka yang ghuluw terhadap nabi Isa tentunya mereka sekedar pengakuan sebagai seorang pengikut, adapun secara kenyataan mereka bukan pengikutnya nabi Isa alayhissalām.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
R
RATIH HANDAYANI

📍 Kabupaten Bogor

Day-6 TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI IBADAH BAGIAN 2

Talbis Iblis terkait niat sholat; ada yang berkata, "Saya berniat sholat ini" dan orang tersebut mengulanginya lagi seakan-akan niat sebelumnya sudah dibatalkan, lalu orang tersebut mengulangi niatnya hingga berkali-kali lagi. Padahal niat itu tidak terbatalkan. Jika seseorang sudah berniat sholat, tetapi lafal yang diucapkannya tidak pas, maka cukup mengganti lafalnya tak perlu mengulang-ulang niatnya. Karena niat sholatnya sudah ada. Seharusnya tidak perlu ragu-ragu, karena sholatnya sudah sah dengan niat yang benar.Lalu ada lagi orang yang bertakbir ketika sholat, kemudian membatalkan lagi. Lalu bertakbir lagi, hingga berulang-ulang. Dan saat imam ruku' orang tersebut bertakbir lalu langsung ruku' karena takut ketinggalan rakat. Padahal sebelumnya sangat ragu-ragu akan takbirnya. Apa yang membuat orang tersebut yakin akan niat takbirnya, padahal sebelumnya ragu-ragu? aitu semua karena godaan iblis, karena iblis ingin orang tersebut terluputkan dari keutamaan takbiratul ihram, dari keutamaan di awal sholat, dan sebagainya.Ada pula orang yang was-was hingga bersumpah dengan nama Allah, "Demi Allah aku mau takbir cuman sekali ini saja!" Bahkan ada yang bersumpah agar kokoh agar bertakbir cuman sekali dengan mengatakan, "Jika aku ulangi takbir, semua harta aku tinggalkan!" Ini semua talbis dari iblis. Ingatlah bahwa syariat Islam itu mudah, ringan dan selamat dari segala kekurangan apapun. Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukan hal ini.Telah sampai pada kami, riwayat dari Abu Hazim rahimahullah ta'ala, beliau masuk masjid. Disaat memasuki masjid, iblis membisikkan talbis was-was dengan berkata, "Wahai Abu Hazim, sesungguhnya engkau sholat tanpa wudhu". Kemudian Abu Hazim menjawab iblis, seraya berkata, "Sejak kapan engkau menasehati ku hingga seperti ini, wahai iblis". Dan untuk menghilangkan kerancuan dan was-was talbis iblis, maka tak perlu dengan cara mengulang-ulang niat, mengulang-ulang takbir demi menghadirkan niat, karena sebenarnya niat itu sudah ada. Karena engkau tadi berdiri hendak menjalankan sholat fardhu. Dan keinginanmu untuk sholat, itu sudah merupakan niat. Karena tempatnya niat adalah di hati bukan di lisan. Namun jika engkau mengulang-ulang niatmu karena untuk memperbaiki lafalmu, ingatlah bahwa melafalkan niat tidak wajib. Dan engkau sudah benar lafalmu.Al Imam Ibnu Jauzi berkata, "Sebagian guru kami telah meriwayatkan dari Ibnu Aqil sebuah hikayat yang menakjubkan. Ada seorang bertemu dengan Ibnu Aqil, kemudian orang ini bertanya, "Wahai Ibnu Aqil, sesungguhnya aku telah membasuh anggota wudhu misalnya, kemudian aku mengatakan bahwa aku belum membasuhnya, kemudian aku berwudhu tapi perasaan mengatakan sudah membasuh wudhu, dan lisan saya mengatakan belum membasuh wudhu. Kemudian saat aku bertakbir, aku mengatakan bahwa aku belum bertakbir". Maka Ibnu Aqil berkata, "Kalau begitu engkau tidak usah sholat! Karena sholat tidak wajib bagimu!" Maka sebagian orang yang bertanya kepada Ibnu Aqil, "Bagaimana engkau bilang bahwa sholat tidak wajib bagi dia?" Maka Ibnu Aqil menjawab, "Nabi berkata , bahwa orang gila diangkat pena darinya hingga orang gila tersebut sadar". "Siapa yang bertakbir kemudian bilang, saya belum bertakbir, maka orang tersebut tidak berakal, karena orang gila tidak wajib sholat.""Jika seseorang berdiri untuk sholat/malaksanakan fardhu sholat, maka perkara ini sudah terbetik dalam jiwanya, dalam satu saat. "Saya ingin sholat Dzuhur!" "Saya ingin sholat ashar!" Dan sudah jelas ia berniat sholat. Tidak butuh waktu yang lama dalam meniatkan apalagi menguraikan. Yang membuat lama adalah menguraikan lafalnya secara detail padahal sudah tahu hendak sholat fardhu apa, menghadap Kiblat, sebagai makmum, bukan sholat qodho, sebanyak berapa rakaat.Al Imam Ibnu Jauzi hendak mengingatkan kepada kita bahwa berniat itu sangatlah mudah.Niat sholat boleh didahulukan sebelum takbiratul ihram dengan waktu yang sebentar selama tidak membatalkan niatnya. Dalam kaidah fiqih mengatakan, bahwa niat adalah rukun sholat dan niat itu harus dihadirkan dalam rukun pertama dalam sholat. Misal ketika hendak berwudhu, rukun wudhu adalah membasuh wajah kemudian membasuh kedua tangan , kemudian membasuh kepala dan membasuh kaki. Adapun cuci tangan adalah sunnahnya.Menurut ulama fiqih, berniat wudhu hendaklah disaat ketika membasuh rukun wudhu yang pertama, yaitu saat membasuh wajah. Sehingga harus dihadirkan bebarengan antara niat dengan rukun pertama, karena termasuk ibadah. Adapun saat sholat, rukun pertama sholat adalah saat takbiratul ihram, "Allahu Akbar" dan dibarengi dengan niat.Karena menghadirkan niat harus bebarengan dengan rukun pertama dari suatu ibadah inilah yang memunculkan was-was syaithon.Dari Mis'ar, dia mengatakan bahwa Man'an bin Abdurrahman telah mengeluarkan kepada Mis'ar suatu kitab tulisan hadits dan bersumpah bahwa kitab tersebut dari catatan tulisan tangan bapaknya Man'an bin Abdurrahman. Dan ternyata dalam catatan tersebut, Abdullah bin Mas'ud mengatakan bahwa demi dzat yang tidak ada sesembahan selainNya, dan akuntidak melihat seorang pun yang lebih tegas terhadap orang yang berlebih-lebihan. Dan Rasulullah sangat tegas terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan. Dan Abdullah bin Mas'ud juga mengatakan bahwa ia tidak melihat seorangpun yang paling khawatir terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan kecuali Umar bin Khattab. Dan menurut Abdullah bin Mas'ud, Umar bin Khattab adalah orang yang paling keras terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beribadah.Talbis iblis yang lainnya adalah, adanya seseorang yang sibuk untuk memperbaiki lafal niatnya apakah sudah tepat atau belum, sementara sholatnya tidak diperhitungkan. Jadi orang-orang yang terkena was-was syaithon merasa jika niat dan takbirnya sudah tepat lafalnya, maka mereka menganggap sholatnya sudah santai sehingga tidak memperhatikan apa yang selanjutnya. Seakan-akan sholat itu hanya menjelaskan niat dan takbir.Talbis iblis kepada orang yang masbuk sholat, adalah saat tertinggal rukun takbir pertamanya imam, orang yang masbuk tak perlu membaca doa oftitah dan ta'awudz. Langsung saja membaca Al-Fatihah. Terlebih bacaan surat pendek imam sudah hampir mendekati ruku'. Sebab doa oftitah dan ta'awudz itu Sunnah sedangkan membaca Al-Fatihah adalah wajib.Jika imam sudah ruku', maka segeralah selesaikan Al-Fatihah. Karena Al-Fatihah wajib.Talbis iblis bagi orang-orang yang meninggalkan sunnah-sunnah dikarenakan kondisi pribadi dirinya. Misalnya ada seseorang yang khawatir riya' jika berada di shaf depan. Al Imam Ibnu Jauzi menasehatkan agar membaiki hati dengan memerangi riya' dan kerjakan Sunnah.Jangan mengikuti orang-orang Sholih yang mengingkari sunnah, karena seorang mukmin itu terikat dengan dalil. Maknanya yang dijadikan patokan dalam beragama adalah dalil. Karena orang-orang sholih bisa salah, kurang ilmu dan tidak maksum.Talbis iblis kepada orang-orang yang sholat tetapi was-was terhadap makhojul huruf dalam bacaan sholatnya. Hingga mengulang-ulang terus bacaan karena kurang pas pelafalan makhojul hurufnua. Sementara lupa akan makna bacaannya. Padahal makhojul huruf merupakan sarana dalam mengetahui makan-makan bacaan Al-Quran.Talbis iblis kepada imam yang memanjang-manjangnya sholatnya. Padahal sunnahnya sholat dengan waktu yang tidak dipanjang-panjangkan. Sebab bisa jadi ada makmum tua yang tidak kuat berdiri lama.Talbis iblis kepada orang yang mementingkan Sunnah tapi meningkatkan hal wajib. Misalnya melalui sholat malam sepanjang malam tetapi meninggalkan sholat subuh karena ngantuk. Padahal sholat subuh berjamaah lebih utama dan disukai daripada sholat malam sepanjang malam. Rasulullah pun menganjurkan agar tidur dahulu sebelum sholat malam hingga ngantuknya hilang.Talbis iblis kepada orang yang memperlihatkan amal sholih. Di zaman sekarang banyak orang yang mempublish segala amalan seperti saat pergi haji. Tentunya pahalanya berbeda antara amalan yang disembunyikan dengan amalan yang diperlihatkan.Talbis iblis kepada orang-orang yang membaca Al-Quran. Orang-orang ini membaca Al-Quran di masjid hingga menjadi perhatian orang. Hingga banyak orang yang sholat dibelakangnya. Dan orang tersebut semakin semangat beribadah membaca Al-Quran karena banyak yang mengikutinya (viral).Riya' adalah talbis iblis yang sangat nyata dan diketahui oleh manusia tapi memilih untuk tidak menggubris. Manusia sebenarnya sadar jika dirinya sedang riya' namun memilih untuk tak perduli terhadap sinyal riya'.Catatan pribadi kajian kitab Talbis Ibliskarya Al Imam Ibnu Jauzi Pemateri: Ust. Firanda Andirja, M.AChallenge: @komunitas.beekindPencatat: @umlinote

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
S
SHILFI LATIFATHUL WANGSA

📍 Kabupaten Purwakarta

Talbis iblis 6

Talbis iblis 6 terhadap ahli ilmu‎Tipu daya muslihat iblis yang menjadikan ibadah kita terganggu‎Iblis ingin merusak ibadah kita‎Diantaranya tipu daya muslihat iblis dalam niat shalat‎Dia menyangka niatnya batal‎Sudah takbir dia bilang belum‎Sudah basuh dia bilang belum‎Itu orang gila‎Dan orang gila tidak boleh shalat sampai dia berakalSaya pengen shalat dzuhur, saya pengen shalat ashar, sudah jelas Tidak butuh waktu yang lamaTidak perlu di uraikanKalau kamu berangkat ke masjid pasti kamu sudah terbetik mau ke masjid shalat maghrib 3 rakaat, ga perlu di uraikan saya mau shalat maghrib 3 rakaat menghadap kiblat di masjid ini, ga perluYang butuh waktu panjang itu yang kamu uraikanAku berniat usholli fardhol dzuhri tapi kalau sudah di dalam hati itu sudah cepatTidak perlu kau merangkai niat yang kau uraikan lafal lafal dan lafal lafal itu gak wajib, dan itu murni kebodohanMeskipun kita mengucapkan dalam hati lafal lafal nya memang susah kalau kita uraikanSaya pengen shalat maghrib 3 rakaat menghadap kiblat menjadi ma'mum selesai sudah otomatis tidak perlu di uraikanDan niat itu boleh didahulukan sebelum takbirIblis selalu berusaha menipu kita dari yang wajib dan yang utama.‌Talbis iblis terhadap niat shalatMengulang ulang niat karena raguMengulang takbir saat imam rukuBersumpah dengan nama Allah karena was was‌Talbis iblis terhadap sibuk dengan sunnah hingga meninggalkan yang wajib‌Talbis iblis meninggalkan sunnah karena takut riya'‌Talbis iblis terlalu fokus pada makhraj huruf‌Talbis iblis menganggap ibadah hanya sekedar gerakanContoh : tidak menyelesaikan tasyahud karena imam sudah salam‌Talbis iblis memanjangkan shalat‌Talbis iblis sunnah tapi lalai shalat wajibAllahu akbar sambil merenungkan lafal niat Menggabungkan niat sambil membayangkan Allah Maha Besar dengan menghadirkan niat usholli Meresapi niat sekaligus takbir dan niatnya panjang dan ini susah, dan islam tidak se susah ituKalau kita niat lalu menggabungkan dengan rukun yang pertama takbir itu sulitIni menimbulkan shalat nya jadi was was dan di ulang ulang terusIni tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat‌Talbis iblis menceritakan amal shalih‌Talbis iblis saat membaca al qur'an‌Talbis iblis menangis di hadapan orangJangan terlalu fokus pada takbir setelahnya kau lalaikanDo'a istiftah ini sunnahJalani sunnah lawan riyaMasalah riya kamu lawanNiatnya baik tapi itu menyelisihi sunnahIni karena kurangnya ilmuKalau ada kesempatan di shaf awal ya di shaf awal jangan takut riya'Jangan tinggalkan sunnahYang jadi patokan nya adalah dalil adalah syariatUlama berselisih kita cari syariatTalbis iblis adalah was was dari iblisIblis menggoda pada kalangan orang bodohMengucapkan bacaan shalat di siang hari adalah sirr Sibuk dengan perkara yang sunnah dan melalaikan yang wajibMereka memperpanjang shalat malam shalat malam ada yang begadang dan dia seneng bisa shalat malam dia seneng bisa shalat dhuha kemudian dia ngantuk shalat shubuhnya tertundaSeseorang harus bisa lebih bahagia kalau dia shalat shubuh berjamaah, shalat fardhu berjama'ah di masjid‎‎

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
S
Sortha Nauli

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Ringkasan Bab 6#TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ILMU Bag.2

TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ILMU bag.2Al Imam Ibnul Jauzi mengatakan, salah satu nya masalah niat dalam sholat, seperti seseorang berkali2 niat sholat karena merasa lafaz nya keliru,pdhal itu tdk perlu. Karena semua itu godaan iblis, agar Iblis ingin dia luput dri keutamaan takbiratul ihram. Maka untuk menghilangkan was2 ini, kalau tujuan mu tuk menghiadirkan niat shg kau ulangi Allahu Akbar berkali2, maka sebenarnya niat mu sdh ada. Tuk apa kau ulangi niat. Karena kau td sdh berdiri tuk sholat fardhu,maka keinginan mu sdh termasuk niat,dan tempat niat itu di hati bukan di lafadz. Kau sdh ucapkan, tp merasa blm mengucapkan,ini adl penyakit. Karena itu jika seseorng berdiri untuk melalsanakan fardhu sholat maka ini perkara yg sdh tergambar dlm jiwa nya bahwa dia ingin sholat. Ibnu Jauzi mengingatkan,tidak perlu merangkai niat,diuraikan dalam lafadz2,dan was2 itumurni kebodohan. Kemudian beliau mengatakan, boleh niat didahulukan sebelum takbir dg waktu yg sebentar., selama dia tidak membatalkan niatnya. Niat itu adalah rukun sholat, dan niat itu harus dihadirkan bersama kepada rukun pertama dalam sholat.Diantara Talbis Iblis seseorng sibuk masuk dlm sholat sementara yg belakang nya tidak dia perhatikan terlalu sibuk urusan niat akhirnya sholat malah tak dia perhatikan. Diantara org yg kena was2 kl dia merasa niat dan takbir nya sdh ompas,maka dia sudah santai, sehingga dia tdk perhatikan selanjutnya seakan2 tujuan sholat adl mengepaskan takbir dan niat. Dan ini talbis iblis, dan menghilangkan nya dh mengetahui bahwa takbir adl masuk dlm sholat. Diantara was2, sibuk dg yg sunnah kemudian meninggalkan yg wajib. Ini perkara krn kurangnya Ilmu. Dalam hal apapun yg kita lakukan, yg menjadi patokan adalah dalil.Diantara pasal ttg keluar dri undang-undang Ibadah yaitu mengagungkan Allah Subhanahu wa ta'ala,menjalankan ibadah dg khusyuk. Iblis terkadang menggoda org yg sholat dg masalah makhorijul huruf, sehingga mengulang2 huruf2 ketika membaca surah. Dan iblis membuat mereka jdk berlebih2an dan lbh fokus untuk ke tajwid bukan makna ayat, dan ini talbis iblis.Iblis menggoda ahli ibadah yg kurang ilmu dlm perkara2 ibadah. Mereka kurang dalam melaksanakan perkara2 wajib dalam ibadah yg mereka lakukan. Fitnah menceritakan amal sholeh. Iblis telah menipu sekelompok org yg suka shalat malam. Amal sholeh yg disembunyikan itu lebih baik. Para salaf, mereka selalu menyembunyikan ibadah yg mereka lakukan. Allah memberi nafsu lawamah pada diri kita yaitu, jiwa yg suka mencela. Ini adalah kontrol tuk diri kita ketika melakukan maksiat. Ini adalah rem untuk diri kita. Tutup pintu pintu riya dalam ibadah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 hari lalu
A
Amika Aspar

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis #6

Catatan KajianTalbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja M.A (YouTube channel @FirandaAndirjaOfficial)Kitab "Talbis Iblis"Ditulis oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullaah Ta'ala Talbis Iblis dalam Urusan Niat, Takbir, dan Sumpah Was-was * Pengulangan lafal niat secara lisan karena ragu merupakan gangguan iblis, sebab niat di dalam hati tidak batal hanya karena salah ucap. * Mengulang-ulang Takbiratul Ihram merupakan jebakan setan agar seorang hamba kehilangan keutamaan di awal Sholat bersama imam. * Bersumpah ekstrem seperti ingin menceraikan istri atau menyedekahkan seluruh harta agar tidak mengulang takbir lahir dari kebodohan, karena syariat Islam itu mudah. * Kisah Abu Hazim yang menepis bisikan iblis tentang dirinya belum berwudhu dengan menegaskan bahwa iblis tidak mungkin memberikan nasihat yang tulus. * Niat sudah ada sejak seseorang berdiri dan melangkah untuk Sholat fardhu, sehingga tidak perlu memaksakan uraian lafal panjang bersamaan dengan Takbiratul Ihram.Hakikat Niat Secara Akal dan Syariat (Kisah Ibnu Aqil) * Ibnu Aqil menegur keras orang yang was-was telah membasuh anggota wudhu dan takbir dengan menyebut Sholat tidak wajib baginya, karena orang gila diangkat pena syariat darinya. * Niat bersifat spontan dan tidak rumit, analoginya seperti seseorang yang langsung berdiri saat melihat orang alim tanpa perlu melafalkan niat berdirinya. * Gambaran utuh mengenai Sholat fardhu sudah otomatis terkumpul di dalam hati dalam satu waktu yang singkat tanpa perlu diurai lewat kalimat yang panjang.Ketegasan Para Sahabat terhadap Sikap Berlebih-lebihan (Mutanatti'un) * Abdullah bin Mas'ud menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang paling keras dalam melarang sikap mempersulit diri melebihi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. * Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan tokoh yang paling mengkhawatirkan munculnya sikap kaku dan berlebihan dalam beragama setelah wafatnya nabi. * Umar bin Khattab dikenal sebagai orang yang paling keras tindakannya di muka bumi terhadap siapa saja yang bersikap berlebih-lebihan tanpa contoh dari nabi.Prioritas Ibadah dan Menghindari Jebakan Prioritas yang Terbalik * Terlalu fokus mengepaskan takbir di awal namun mengabaikan kekhusyukan di sisa rakaat adalah talbis iblis, karena takbir hanyalah pintu masuk Sholat. * Makmum masbuk harus mendahulukan hal yang wajib yaitu membaca Al-Fatihah, bukan malah menyibukkan diri dengan doa istiftah atau taawudz yang hukumnya Sunnah. * Kisah masa kecil Ibnu Jauzi yang ditegur gurunya, Abu Bakar Ad-Dinavari, agar selalu menyibukkan diri dengan perkara wajib dan meninggalkan yang Sunnah jika waktu sempit.Larangan Menyelisihi Sunnah Atas Alasan Kondisi Pribadi * Mundur ke saf belakang karena alasan pribadi seperti takut terjangkit penyakit riya, adalah keliru, karena Sunnahnya adalah mengejar saf pertama sambil melawan riya,. * Menolak bersedekap karena takut dituduh sok khusyuk menyalahi Sunnah nabi yang bahkan pernah membetulkan langsung posisi tangan Ibnu Mas'ud yang terbalik. * Patokan utama dalam beragama adalah dalil sahih dari wahyu, bukan pendapat atau amalan individu figur saleh karena ulama tidak maksum.Berlebihan dalam Makharijul Huruf dan Tajwid saat Sholat * Memaksakan makhraj huruf secara ekstrem hingga mengulang kata atau membuat air liur memercik keluar saat membaca huruf Dhad dapat merusak aturan Sholat. * Fokus berlebihan pada urusan teknis tajwid lahiriah membuat pikiran seseorang melalaikan esensi utama Al-Qur'an yaitu merenungkan makna mendalam ayat.Mengatur Ritme Ibadah Sesuai Hak Tubuh (Menepis Was-was Sholat Malam) * Mengeraskan suara Sholat Sunnah di siang hari untuk mengusir kantuk menyalahi Sunnah sirr, karena jalan keluar yang syar'i saat mengantuk berat adalah tidur. * Begadang semalam suntuk untuk tahajud namun akhirnya ketiduran dan melewatkan Sholat Subuh berjamaah adalah kesalahan besar dalam skala prioritas. * Husain Al-Qazwini yang mondar-mandir di siang hari agar tidak tertidur dikritik sebagai bentuk kebodohan karena tubuh memiliki hak untuk diistirahatkan. * Nabi memerintahkan mencopot tali gantungan Sholat milik Zainab dan bersabda agar seseorang Sholat di kala bugar serta dipersilakan duduk jika lelah. * Pola Sholat malam paling ideal adalah meneladani Nabi Daud yang tidur setengah malam pertama, Sholat sepertiga malam, dan tidur lagi seperenam malam terakhir. * Riwayat ulama salaf yang kuat beribadah semalam suntuk dilakukan secara bertahap, dibantu tidur siang (qailulah), serta porsi makan yang sedikit.Fitnah Mempublikasikan Amal Saleh (Riya, dan Ghibah secara Halus) * Memuji muadzin yang azan tepat waktu agar orang lain paham bahwa dirinya terjaga untuk Sholat malam termasuk bentuk riya, yang samar atau malu-malu. * Menyindir orang lain yang selalu terlambat Sholat Subuh merupakan perpaduan antara riya, memuji diri sendiri secara tidak langsung dan perbuatan ghibah. * Menceritakan amalan secara sukarela dapat memindahkan catatan pahala dari kategori amal rahasia yang tersembunyi menjadi amal yang tampak di permukaan.Jebakan Beribadah di Depan Publik dan Menyembunyikan Tangisan * Menjadi lebih bersemangat beribadah karena jamaah mengikuti di belakang dan ingin mendengarkan pujian manusia termasuk racun kepopuleran yang dimasukkan iblis. * Sebaik-baik Sholat seseorang adalah di rumahnya kecuali untuk Sholat fardhu, sebagaimana para salaf yang menyembunyikan Sholat Sunnah mereka dari pandangan orang. * Ibnu Abi Laila akan langsung berpura-pura tidur berbaring apabila ada orang lain yang mendadak masuk ke dalam kamarnya saat ia sedang Sholat. * Alarm internal berupa nafsul lawwamah akan memberikan sinyal di dalam hati sesaat sebelum seseorang terjerumus ke dalam perilaku riya, atau pamer. * Sengaja menampakkan tangisan, dibuat-buat, atau menyewa orang untuk memicu tangisan jemaah dilarang karena membuka pintu riya, lebar-lebar. * Jika seseorang masih mampu menahan tangisannya di depan publik, maka Sunnahnya adalah menahannya atau segera pergi menyamarkannya seperti berpura-pura flu.Kesimpulan * Inti dari kajian ini menegaskan bahwa esensi beragama harus selalu berpatokan pada kemudahan serta dalil sahih yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat. * Segala bentuk sikap ekstrem, was-was, berlebih-lebihan dalam ibadah lahiriah, serta salah dalam menyusun skala prioritas antara amalan wajib dan Sunnah merupakan bentuk tipu daya iblis yang bersumber dari kebodohan terhadap syariat. * Menjaga keikhlasan dengan menutup rapat semua celah riya, dan pamer amalan, serta memenuhi hak tubuh secara proporsional adalah kunci utama agar ibadah tidak rusak dan diterima di sisi Allah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 hari lalu
S
Salma laela fitri

📍 Kabupaten Karawang

Ringkasan pertemuan ke 6

Ringkasan Kajian Talbis Iblis #5 Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah dalam Ibadah Mereka (Bagian 2)Pemateri: Ustadz Firanda Andirja حفظه اللهKitab:Talbis IblisKarya Imam Ibnu al-Jauzi رحمه الله--- PendahuluanImam Ibnu al-Jauzi رحمه الله menjelaskan bahwa setan tidak selalu menggoda manusia dengan maksiat. Terkadang ia justru masuk melalui pintu ibadah, sehingga seseorang merasa sedang mendekat kepada Allah padahal sebenarnya telah terjatuh dalam kesalahan, waswas, riya, atau sikap berlebihan yang tidak diajarkan syariat.--- 1. Talbis Iblis dalam Niat dan Takbiratul IhramSalah satu bentuk waswas yang sering menimpa ahli ibadah adalah keraguan dalam niat dan takbir.Contohnya: Mengulang-ulang lafaz niat. Mengulang takbir berkali-kali. Merasa niat batal padahal tidak batal.Merasa takbir belum sah padahal sudah sah.Padahal:Niat tempatnya di hati. Niat sudah ada ketika seseorang berdiri untuk salat.Melafalkan niat bukan syarat sah salat. Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak pernah mengulang-ulang niat atau takbir.Imam Ibnu al-Jauzi menegaskan bahwa waswas semacam ini berasal dari kebodohan terhadap syariat dan tipu daya setan.--- 2. Jangan Terlalu Fokus pada Permulaan SalatSebagian orang sangat sibuk memastikan niat dan takbirnya sempurna, namun setelah masuk salat justru lalai dalam kekhusyukan.Padahal:Takbir adalah pintu masuk salat, bukan tujuan salat.Tujuan utama adalah menjalankan seluruh salat dengan benar dan khusyuk, bukan hanya menyempurnakan permulaannya.---3. Mendahulukan yang Wajib daripada yang SunnahDi antara talbis iblis adalah membuat seseorang sibuk dengan amalan sunnah hingga melalaikan yang wajib.Contohnya:Terlambat mengikuti imam karena sibuk membaca doa istiftah. Memaksakan membaca ta'awudz dan doa pembuka padahal imam hampir rukuk.Akibatnya tidak sempat membaca Al-Fatihah.Kaidah penting:Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah.---4. Jangan Tinggalkan Sunnah karena Alasan PribadiSebagian orang meninggalkan sunnah dengan alasan menjaga hati.Misalnya: Tidak mau berada di saf pertama karena takut riya.Tidak bersedekap saat salat karena takut dianggap khusyuk.Menjauhi amalan sunnah karena khawatir dipuji.Imam Ibnu al-Jauzi menjelaskan bahwa ini adalah kekeliruan.Yang benar:Tetap menjalankan sunnah.Memperbaiki niat dan hati.Melawan riya, bukan meninggalkan amalan yang diajarkan Nabi ﷺ.---5. Talbis Iblis dalam Bacaan SalatSetan juga menggoda sebagian orang dengan berlebihan dalam makharijul huruf dan tajwid.Akibatnya:Mengulang-ulang bacaan.Terlalu memaksakan pelafalan huruf.Fokus kepada suara dan tajwid.Lalai dari memahami makna ayat.Padahal tujuan utama membaca Al-Qur'an dalam salat adalah:Mengagungkan Allah.Merenungi makna bacaan. Menghadirkan hati.---6. Berlebihan dalam Salat MalamSebagian ahli ibadah terlalu memaksakan diri dalam qiyamul lail.Contohnya:Begadang semalaman. Kurang tidur.Ketiduran hingga terlambat Subuh.Salat Subuh dalam keadaan sangat mengantuk.Kehilangan jamaah Subuh.Padahal:Salat fardu lebih utama daripada salat sunnah.Nabi ﷺ mengajarkan keseimbangan: Beribadah.Beristirahat.Memberikan hak tubuh.Tidak berlebihan.--- 7. Menyembunyikan Amal SalehDi antara talbis iblis yang sangat halus adalah mendorong seseorang untuk menceritakan amal salehnya.Contoh: Memberi isyarat bahwa dirinya salat malam. Memberi isyarat bahwa dirinya selalu hadir di saf pertama. Menunjukkan kesalehan secara tidak langsung.Misalnya berkata:"Tadi malam muazin azan tepat jam sekian."Padahal maksud tersembunyinya adalah menunjukkan bahwa dirinya tidak tidur semalaman.Ini termasuk pintu riya yang sangat halus.--- 8. Amal yang Disembunyikan Lebih UtamaPara salaf sangat menjaga keikhlasan.Di antara contoh mereka: Menyembunyikan salat malam.Menyembunyikan tangisan. Tidak suka diketahui orang sedang beribadah.Mereka khawatir amal yang diketahui manusia akan tercampuri riya dan ujub.Karena itu Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa mampu memiliki amal saleh yang tersembunyi, maka lakukanlah."---9. Talbis Iblis dalam Menampakkan TangisanSebagian orang memperlihatkan tangisan agar dianggap khusyuk.Padahal: Menangis karena takut kepada Allah adalah ibadah yang agung.Namun memperlihatkannya tanpa kebutuhan bisa menjadi pintu riya.Para salaf berusaha: Menahan tangisan di hadapan manusia.Menyembunyikan keadaan hati mereka.Menjaga keikhlasan semaksimal mungkin.--- Pelajaran Penting1. Waswas dalam niat dan takbir berasal dari godaan setan.2. Niat tempatnya di hati dan tidak perlu dipersulit.3. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah.4. Jangan meninggalkan sunnah hanya karena takut riya.5. Fokus utama bacaan salat adalah memahami maknanya.6. Salat fardu lebih utama daripada ibadah sunnah.7. Tubuh memiliki hak untuk beristirahat.8. Amal yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan.9. Riya sering datang melalui cara yang sangat halus.10. Seorang muslim harus selalu mengoreksi niatnya dan menjaga keikhlasan dalam beribadah. KesimpulanImam Ibnu al-Jauzi رحمه الله menjelaskan bahwa setan sering menipu ahli ibadah melalui sikap berlebihan, waswas, salah prioritas, dan riya yang tersembunyi. Karena itu, seorang muslim harus senantiasa menimbang ibadahnya dengan ilmu, mengikuti sunnah Nabi ﷺ, mendahulukan yang wajib, serta menjaga keikhlasan agar amalnya diterima di sisi Allah سبحانه وتعالى.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →