📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS An Nahl: 18 — Menghitung Nikmat Allah

Menurut Ibnu Katsir, nikmat Allah itu begitu banyak sampai kita tidak akan mampu menghitung maupun mensyukurinya secara sempurna. Bahkan kalau manusia dituntut membalas seluruh nikmat-Nya, kita pasti tidak mampu. Karena itu, Allah Maha Pengampun atas kelalaian kita dalam bersyukur.Dan Allah juga Maha Penyayang. Ketika kita sadar, bertaubat, dan kembali kepada-Nya dengan ketaatan, Allah tidak langsung menghukum kita atas kelalaian tersebut. Jadi ayat ini sekaligus menunjukkan betapa banyak nikmat Allah dan betapa luas ampunan serta kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-'Araf:193

Tafsir Al-MuyassarQS Al-'Araf:193Wahai orang-orang musyrik, jika kalian menyeru berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah itu kepada petunjuk, niscaya dia tidak akan dapat mendengar seruan kalian dan tidak pula mau mengikuti kalian. Kalian seru atau tidak adalah sama karena dia tidak mendengar dan tidak pula melihat, tidak dapat memberi petunjuk dan tidak dapat diberi petunjuk.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Root & Wings 1 - Pengabaian thdp pertanyaan anak

Penolakan atau pengabaian yang berulang bisa membuat si anak berasumsi:Tidak seharusnya aku berpikir sebanyak itu.Bahkan kalau aku berpikir, sebaiknya aku tidak banyak bertanya.Orangtuaku jadi jengkel kalau aku bertanya.Mengetahui jawaban itu tidak benar.• Rasa ingin tahuku akan menimbulkan hardikan.Aku mungkin ditertawakan.Mereka toh tidak tahu jawabannya (mereka juga tidakpeduli akan jawabannya).Atau yang lebih buruk lagi, aku akan cari jawabannya di tempat lain (yang bisa jadi berbahaya).

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
D

Dewi Hajar Novanda

📍 Kota Depok

Bab 14 - Menghadapi Opini dan Saran yang Tidak Diinginkan

🌿 Menghadapi Opini dan Saran yang Tidak DiinginkanHampir setiap orang tua pernah menerima komentar atau saran pengasuhan yang tidak sesuai dengan keyakinannya."Anda sebaiknya mengabaikan tantrumnya; ini akan mengajarinya bahwa tidak ada yang peduli sehingga dia akan berhenti.""Jika dia berbicara seperti itu kepadaku, aku akan mengurungnya di kamar sepanjang hari.""Anda perlu bersikap lebih tegas kepada mereka. Tamparan kecil berhasil untuk saya ketika anak-anak berperilaku buruk."Komentar seperti ini sering kali sulit diterima. Bukan hanya cara kita mengasuh yang dipertanyakan, tetapi juga perilaku anak kita. Namun, memahami alasan di balik kritik tersebut dapat membantu kita merespons dengan lebih bijak.➜ Karena Mereka Peduli kepada KitaSering kali, saran diberikan karena orang lain melihat kita sedang kesulitan dan ingin membantu.Misalnya, mereka melihat kita kelelahan menghadapi tantrum, lalu menawarkan solusi yang menurut mereka efektif. Meskipun sarannya mungkin tidak cocok bagi kita, motivasi mereka biasanya adalah kepedulian.Dalam situasi seperti ini, kita dapat menghargai perhatian mereka sambil menjelaskan mengapa pendekatan yang mereka sarankan tidak sesuai dengan nilai atau tujuan pengasuhan yang kita pilih.➜ Karena Mereka Tidak Memahami Pilihan KitaPerbedaan generasi sering kali melahirkan perbedaan cara pandang tentang pengasuhan.Seorang nenek mungkin tidak memahami mengapa kita tetap mendampingi anak yang sedang tantrum. Dalam pemahamannya, anak yang berperilaku seperti itu dahulu akan dihukum atau dipukul agar belajar bersikap sopan dan patuh.Karena itu, ia mungkin khawatir anak kita akan tumbuh menjadi anak yang tidak disiplin jika kita tidak bersikap lebih "keras". Dalam situasi seperti ini, penjelasan yang tenang, disertai informasi atau referensi yang dapat dipercaya, sering kali lebih membantu daripada perdebatan.➜ Karena Cara Kita Berbeda dari Cara Kita Dulu DibesarkanKritik jenis ini sering datang dari orang tua kita sendiri.Mungkin dahulu kita dipukul atau dikirim ke kamar ketika berperilaku tidak baik. Kini, ketika anak kita melakukan hal yang sama, kita memilih memeluknya, mendengarkan perasaannya, dan membimbingnya memahami emosinya.Ketika orang tua berkata, "Saya dulu melakukan itu kepada kalian dan kalian baik-baik saja," mereka mungkin merasa bahwa pilihan kita merupakan penilaian terhadap cara mereka membesarkan kita.Padahal, memilih pendekatan yang berbeda tidak selalu berarti menyalahkan masa lalu. Kita hanya mengambil keputusan berdasarkan pemahaman dan pengetahuan yang tersedia saat ini. Karena itu, penjelasan yang lembut dan penuh penghargaan biasanya lebih mudah diterima.➜ Karena Kritik Itu Berasal dari Luka Mereka SendiriIni mungkin alasan yang paling jarang terjadi, tetapi juga yang paling sulit dihadapi.Ada orang-orang yang pernah mengalami luka mendalam dalam hidupnya dan menutupi rasa sakit tersebut dengan kepahitan. Mereka lebih mudah mengkritik atau menyerang orang lain daripada menghadapi pergumulan mereka sendiri.Dalam situasi seperti ini, penting untuk mengingat bahwa kritik tersebut sering kali bukan tentang kita atau keluarga kita. Kritik itu lebih banyak mencerminkan kondisi orang yang menyampaikannya.Respons terbaik biasanya sederhana:"Terima kasih atas sarannya. Akan saya pertimbangkan."Setelah itu, kita dapat melanjutkan pilihan pengasuhan yang kita yakini. Jika hubungan tersebut terus-menerus membawa dampak buruk bagi kesehatan emosional kita, membatasi interaksi juga bisa menjadi pilihan yang bijaksana.✨ Inti PembahasanTidak semua kritik lahir dari niat buruk. Sebagian muncul karena kepedulian, sebagian karena perbedaan pemahaman, sebagian lagi karena pengalaman masa lalu yang berbeda. Ketika kita mampu memahami alasan di balik komentar yang diberikan, kita akan lebih mudah merespons dengan tenang, tanpa kehilan gan keyakinan terhadap pilihan pengasuhan yang kita jalani.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 hari lalu
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Rangkuman 7 Dahsyatnya Bahaya Lisan Wanita

Mencela Dan Melaknat (Part 1)Mencela, mencaci maki, dan melaknat merupakan ucapan yang tidak memiliki manfaat, bahkan dapat menjadi dosa yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.Allah Ta‘ala melarang menyakiti kaum mukminin dengan perkataan maupun perbuatan. Allah berfirman:“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS. Al-Ahzab: 58)Rasulullah ﷺ juga bersabda:“Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fasik berarti keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun kekufuran dalam hadis tersebut berkaitan dengan memerangi seorang Muslim dan tidak serta-merta berarti seseorang keluar dari Islam hanya karena melakukan perbuatan tersebut.Orang yang gemar mencela juga digambarkan dengan celaan yang sangat keras. Rasulullah ﷺ bersabda:“Dua orang yang saling mencaci adalah dua setan yang saling mencaci dan saling berdusta.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)Seorang mukmin sejati bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, atau menyakiti orang lain dengan lisannya.Terlebih ketika sedang marah. Ketika emosi tidak terkendali, seseorang bisa mengucapkan laknat kepada manusia, hewan, benda, atau sesuatu yang sebenarnya tidak berhak dilaknat.Ini bukan perkara sepele. Laknat adalah ucapan yang mengandung doa agar seseorang dijauhkan dari rahmat Allah. Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati terhadap lisannya.Rasulullah ﷺ bersabda:“Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.”(HR. Muslim)Lebih mengerikan lagi, apabila seseorang melaknat orang yang tidak berhak mendapat laknat, maka laknat tersebut dapat kembali kepada orang yang mengucapkannya.Karena itu, ketika marah, jangan biarkan lisan mengambil alih kendali hati. Jangan sampai beberapa detik kemarahan membuat kita mengucapkan kalimat yang justru menjadi keburukan bagi diri sendiri.MuhasabahBerapa kali lisan kita mencela ketika marah?Berapa kali kita melaknat tanpa berpikir?Jangan merasa ringan dengan dosa lisan hanya karena tidak meninggalkan luka yang terlihat.Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, tetapi tercatat di sisi Allah.Jaga lisan sebelum ucapan menjadi penyesalan yang tidak bisa ditarik kembali.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 14

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 14وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا ۖ وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَArtinya:“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.’”Ayat ini menjelaskan sifat orang-orang munafik. Ketika bertemu dengan kaum Muslimin, mereka mengaku beriman. Namun ketika kembali kepada kelompok mereka sendiri, mereka justru menunjukkan bahwa mereka tidak beriman dan mengatakan bahwa perkataan mereka kepada kaum Muslimin hanyalah olok-olok.Siapakah yang dimaksud dengan “setan-setan mereka”?Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud adalah para pembesar dan pemimpin mereka, yaitu dari kalangan pembesar kaum musyrikin dan pembesar dari kalangan orang-orang munafik.Maka, orang-orang munafik itu bersikap bermuka dua:Ketika bertemu orang-orang beriman, mereka berkata, “Kami beriman.”Namun ketika mereka kembali kepada para pemimpin dan pembesar mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman.”Mereka tidak benar-benar beriman. Mereka hanya menampakkan keislaman di hadapan kaum Muslimin, sementara di balik itu mereka tetap bersama orang-orang yang menentang kebenaran.Pelajaran penting:Jangan sampai lisan kita menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati. Ayat ini mengingatkan betapa berbahayanya kemunafikan dan mempermainkan agama, karena seseorang dapat terlihat bersama orang-orang beriman, tetapi hatinya justru berpihak kepada kebatilan.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 hari lalu
G

Gardina daru adini

📍 Kota Depok

Resume

Rawat dan didiklah anak dengan ketulusan hati dan niat yang ikhlas, semata-mata mengharap keridhaan Allah.Canangkan niat demi Allah semata pada seluruh aktivitas edukatif (pendidikan dan pengajaran) anak kita, baik berupa perintah, larangan, nasihat, pengawasan, maupun hukuman.Ikhlas adalah fondasi keimanan dan merupakan keharusan di dalam Islam.Allah tidak akan menerima suatu amal shalih tanpa ada keikhlasan di dalam jiwa pelakunya

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 hari lalu
H

Halida Achmad Bagraff

📍 Kota Surabaya

Ringkasan sub bab hari terakhir menjelang wafat

Rasulullah berpesan kepada umatnya tentang dunia. Janganlah berlomba-lomba mengejar dunia. Agar dunia tidak membuat umatnya binasa sebagaimana umat-umat sebelumnya binasa karena dunia.Sehari sebelum wafat, Rasulullah bersedekah beberapa dinar. Lalu bersabda: “Kami (para nabi) tidak meninggalkan warisan. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah.” (HR. al Bukhari 6730).Buku: Bila Kumati. Catatan Tentang Peristiwa Kematian.Karya: Ammi Nur Baits

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al-Muyassar Al-'Aĥzāb (33:54)

Tema: ADAB DAN SOPAN SANTUN DALAM RUMAH TANGGA NABI (Ayat 53-58)Bila kalian (wahai manusia) menampakkan melalui lisan-lisan kalian sesuatu yang menyakiti Rasulullah dari apa yang Allah larang kalian darinya, atau menyembunyikannya dalam jiwa kalian, maka sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kalian dan apa yang kalian perlihatkan, dan Dia akan menghisab kalian atasnya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran Ayat 65-66

Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu berdebat tentang agama Ibrahim -'alaihissalām-? Orang Yahudi mengklaim bahwa Ibrahim adalah seorang penganut Yahudi, dan orang Nasrani mengklaim bahwa Ibrahim adalah seorang penganut Nasrani, padahal kalian tahu bahwa agama Yahudi dan Nasrani baru muncul jauh setelah Ibrahim meninggal dunia. Tidakkah kalian berpikir tentang kelirunya ucapan kalian dan salahnya anggapan kalian?!Hai kalian -kaum Ahli Kitab-! Kalian (boleh) berdebat dengan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang sesuatu yang kamu ketahui menyangkut urusan agamamu dan apa yang diturunkan kepadamu. Lalu mengapa kamu berdebat dengannya tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui menyangkut urusan Ibrahim dan agamanya, sedangkan masalah itu tidak tertulis di dalam kitab-kitab sucimu dan tidak pernah disampaikan oleh nabi-nabimu?! Allah mengetahui hakikat segala sesuatu dan rahasia yang ada di baliknya, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 84 | Takdir Allāh ﷻ Tidak Bisa Diubah oleh Makhluk Meskipun Mereka Semua Bersepakat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahBeliau mengatakan rahimahullāh: فَلَوِ اجْتَمَعَ الخَلْقُ كُلُّهُمْSeandainya seluruh makhluk berkumpul, jangan satu atau dua, tetapi semuanya berkumpulعَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ كَائِنٌSeandainya semua makhluk berkumpul, baik jin maupun manusia, hewan, dan seluruh makhluk yang ada berkumpul atas sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allāh tetapkan sesuatu tadi di dalam Lauh al-Maḥfūẓ, sudah Allāh tulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu terjadiلِيَجْعَلُوهُ غَيْرَ كَائِنٍkemudian mereka semuanya berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, Allah sudah tulis dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu akan terjadi, meninggalnya seseorang atau mendapatkan nikmatnya seseorang, hidayahnya seseorang, tersesatnya seseorang sudah Allah tulis, kemudian semua makhluk berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, sudah ditulis oleh Allah fulan ini mendapatkan hidayah semuanya berkumpul untuk menghalangi dia dari hidayah, di doktrin disurati didatangi diberikan syubhat diasingkan dan seterusnya tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menentukan menuliskan bahwasanya orang ini akan mendapatkan hidayah makaلَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِmereka tidak akan mampu untuk melakukannya.Sebaliknya apa yang sudah Allāh ﷻ tulis tidak akan terjadi kemudian semuanya berkumpul untuk menjadikan itu terjadi maka mereka juga tidak akan mampu. Semuanya sudah ditulis mereka tidak bisa menghalangi rezeki kita yang sudah Allāh ﷻ tulis, mereka tidak bisa memberikan atau menghalangi hidayah yang sudah Allāh ﷻ tetapkan untuk kita.Demikian pula sebaliknya kita tidak bisa menyampaikan hidayah kepada seseorang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dia sesat, tidak bisa kita memberikan hidayah kepada orang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dan dijauhkan dari agama ini, yang bisa kita lakukan memenuhi perintah Allāh ﷻ yaitu berdakwah, memberikan nasihat, memberikan contoh. Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ hidayah maupun kesesatan.Ini makna ucapan beliauوَلَوِ اجْتَمَعُوا كُلُّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ فِيهِ أَنَّهُ غَيْرُ كَائِنٍ، لِيَجْعَلُوهُ كَائِنًا؛ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِtidak akan mungkin mereka bisa melakukannya.Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbāsوَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُNabi ﷺ memberikan nasehat kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbās dan saat itu masih kecil tapi sudah diajari tentang keimanan dengan takdir, menunjukkan bahwa diantara hal yang perlu kita tekankan kepada anak-anak kita adalah keimanan dengan takdir Allāh ﷻ, penting.Ketahuilah bahwasanya semua makhluk, semua umat seandainya mereka semuanya bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, ingin menolongmu, ingin memberikan hidayah kepadamu, ingin memberikan kamu rezekiلَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَtidak mungkin mereka itu bisa memberikan kepada kamu manfaat kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau Allāh ﷻ sudah menulis antum dapat sekian atau diberi sekian maka tidak mungkin mereka bisa memberi lebih dari itu. Oleh karena itu ketika seseorang diberikan manfaat oleh orang lain ketahuilah bahwasanya itu sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ. Maka bersyukurlah dan memujilah Allāh ﷻ dan bukan berarti kita tidak mengucapkan syukur kepada manusia karena kita diperintahkan untuk mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada manusiaلَا يَشْكُر اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُر النَّاسَTidak bersyukur kepada Allāh ﷻ orang yang tidak bersyukur kepada manusia.Kita tahu bahwasanya ini sudah di takdirkan, dia memberi kita sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ tidak keluar dari apa yang Allāh ﷻ sudah tulis, dan kita diperintahkan untuk bersyukur kepada manusia mengucapkan terima kasih kepada manusia dan ini adalah bentuk syukur kita kepada Allāh ﷻ. Ini bagus ditanamkan pada anak-anak kita, tidak mungkin mereka itu bisa memberikan bantuan kepadamu kecuali itu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, maka pujilah Allāh ﷻ. Kemudianوَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَSeandainya mereka semuanya berkumpul untuk memudharati kamu, mereka ingin menyihirmu, ingin membegalmu, ingin membunuhmu, ingin mengganggumu, itu juga perlu ditanamkan, tidak mungkin mereka bisa memudharati dirimu kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau memang Allāh ﷻ menulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ engkau akan tergores engkau akan tersayat bagian punggungmu misalnya, itu yang akan tersayat, tidak mungkin mereka bisa melakukan lebih daripada itu, tidak mungkin mereka bisa memudharati kecuali dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis. Kalau ditanamkan berulang-ulang di dalam diri seseorang seorang anak dan diri seorang muslim secara umum maka menjadikan dia bertawakkal kepada Allāh ﷻ, hanya takut kepada Allāh ﷻ.Dan itulah yang dialami oleh para sahabat radhiyallāhu ta’ala ‘anhum, Nabi ﷺ sudah menanamkan kepada diri mereka keimanan dengan takdir sehingga diantara pasukan-pasukan perang, para sahabat Nabi ﷺ dikenal sebagai pasukan perang yang paling berani, tidak diketahui dalam sejarah pasukan perang yang lebih berani daripada para sahabat Nabi ﷺ.Karena mereka yakin, tidak mungkin mengenai saya kecuali apa yang sudah Allāh ﷻ tetapkan. Seseorang mau berada di dalam rumahnya di dalam gedung yang kuat yang tinggi yang dijaga oleh banyak pengawal dan berbagai pengamanan, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dia termudharati dia terkena sesuatu pasti akan terjadi, tidak mungkin dia akan bisa menghindar.Dia sudah berusaha menjaga pola makannya, menjaga makanannya, menjaga pola hidupnya, kalau memang sudah Allāh ﷻ tulis dia terkena penyakit tersebut ya dia akan terkena, tidak mungkin dia bisa menghindar dari apa yang sudah Allāh ﷻرُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُPena-pena telah diangkat oleh Allāh ﷻ dan juga lembaran-lembaran telah kering, ini sudah selesai tidak mungkin bisa dirubah.Termasuk diantaranya penduduk surga dan juga penduduk neraka sebagaimana telah berlalu itu juga diantara yang sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ tidak mungkin bisa dirubah. Kita berdoa kepada Allāh, semoga Allāh Subḥānahu wa Taʿālā menjadikan kita termasuk Ahlul Jannah dan memudahkan kita untuk mengamalkan amalan Ahlul Jannah.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 hari lalu
T

Titi Dwi Rabbani

📍 Kota Tangerang Selatan

Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ

Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺPeristiwa-Peristiwa Penting sebelum Lahirnya RasulullahKedua: Kisah Tentara Bergajah1. Asal-usul Tahun Gajah: Nabi Muhammad ﷺ lahir pada Tahun Gajah, dinamakan demikian karena pada tahun tersebut Allah menghancurkan pasukan bergajah yang kisahnya diabadikan dalam QS. Al-Fiil: 1-5.2. Pembangunan Gereja Al-Qullais: Abrahah, wakil Raja Najasyi (penguasa Habasyah) di Yaman, membangun gereja megah bernama al-Qullais di Shan'a untuk menarik perhatian Romawi dan mengalihkan orang Arab agar tidak lagi berhaji ke Ka'bah.3. Pemicu Kemurkaan Abrahah: Seorang pria dari suku Kinanah (Quraisy) yang tidak terima mendatangi al-Qullais lalu mengotori dinding gereja tersebut dengan kotoran manusia.4. Mobilisasi Pasukan Gajah: Abrahah murka dan memimpin pasukan besar ke Makkah untuk menghancurkan Ka'bah menggunakan sekelompok gajah, dipimpin gajah terbesar bernama Mahmud.5. Gagalnya Perlawanan Arab: Kabilah-kabilah Arab sempat mencoba melawan namun kalah karena kalah jumlah, tidak bersatu, dan gentar melihat gajah.6. Penunjuk Jalan Abrahah: Nufail bin Habib al-Khats’ami (tawanan Abrahah) dan Abu Righal (utusan kabilah Tsaqif dari Thaif) dipaksa/diutus menjadi penunjuk jalan pasukan Abrahah menuju Makkah.7. Perampasan Harta Penduduk: Setibanya di al-Mughammas (dekat Makkah), pasukan Abrahah merampas harta penduduk, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Mutthalib (pemimpin Quraisy).8. Strategi Non-Militer Quraisy: Suku Quraisy di bawah arahan Abdul Mutthalib sepakat untuk tidak melakukan perlawanan militer sama sekali demi keselamatan mereka.9. Pertemuan: Abdul Mutthalib menemui Abrahah hanya untuk meminta kembali unta-untanya yang dirampas. Saat Abrahah heran mengapa ia tidak membela Ka'bah, Abdul Mutthalib menjawab bahwa dirinya adalah pemilik unta, sedangkan Ka'bah memiliki Pemiliknya sendiri (Allah) yang akan melindunginya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 hari lalu
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Baqarah 60

Tafsir Al-MuyassarAl-Baqarah (2:60)Tema: PERINGATAN ALLAH KEPADA BANI ISRAIL (Ayat 40-141)Subtema: Perincian nikmat Allah kepada Bani Israil (Ayat 49-60)Catatan kaki:209824. Ialah sebanyak suku Bani Isrā`īl sebagaimana tersebut dalam surah Al-Aʻrāf ayat 160.Ingatlah terhadap nikmat Kami yang diberikan kepada kalian ketika kalian sangat kehausan selama masa pembuangan, ketika Musa dengan sangat merendah berdoa kepada Kami agar Kami menurunkan hujan bagi kaumnya. Kami berkata, "Pukulkan tongkatmu ke batu itu." Musa pun melakukannya sehingga mengalirlah dari batu itu dua belas mata air sesuai dengan jumlah kabilah yang ada di Bani Israil. Setiap kabilah mengetahui mata air yang dikhususkan bagi mereka sehingga tidak saling berebut dan Kami ucapkan kepada mereka, "Makan dan minumlah sebagian rezeki Allah itu dan janganlah berbuat kerusakan di muka bumi."Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →