📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
J

Juleha

📍 Kota Palu

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda’

Al Ustadz Firanda Andirja HafizhahullahKisah Istri dari Abu Darda.Abu darda Radiyallahu ‘Anhu memiliki dua istri yang dikenal dengan sebutan Ummu Darda dua-duanya. Hanya saja yang pertama disebut dengan Ummu Darda Al Qubro yaitu senior dan yang kedua disebut Ummu Darda As Shugro yaitu Ummu Darda yang Junior. Keduanya adalah Istri yang shalihah.Ummu Darda Al Kubro namanya Khairah Bintu Abi Hadrad Al Aslamy seorang wanita sholihah yang dikenal juga dengan ilmunya. Dan dia adalah sahabiyab, dia bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beriman kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.Adapun yang junior dia bukan sahabiyah. Dia tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.Tapi dia seorang Taabi’iyah. Bertemu dengan sahabat. Sahabat adalah orang-orang yg bertemu dengan Nabi, beriman kepada Nabi dan meninggal dalam kondisi beriman. Adapun Tabi’in  yaitu seseorang yang tidak bertemu dengan Nabi tapi bertemu dengan Sahabat dalam kondisi islam dan meninggal dalam kondisi islam.Abu Darda terkenal sebagai ahli ibadah. Beliau adalah ahli Quran. Diantara sahabat yang Hafal Quran adalah Abu Darda.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
N

Novrianti Fadlun Katili

📍 Palu

KISAH TELADAN UMMU DARDA KUBRO WA SUGRO - Ustadz Firanda Andirja hafizhohullah

🌾 1\. Mengenal Ummu Darda Kubro dan Ummu Darda SugroAbu Darda memiliki dua orang istri yang salihah, yang dikenal dengan panggilan Ummu Darda Kubro dan Ummu Darda Sugro.① Ummu Darda KubroBernama Khayrah binti Abi Hadrad. Beliau dikenal sebagai wanita salihah yang meriwayatkan beberapa hadis Nabi ﷺ dan termasuk golongan sahabiyah.Sahabiyah adalah wanita yang bertemu dengan Nabi ﷺ, beriman kepada beliau, dan meninggal dunia dalam keadaan beriman.② Ummu Darda SugroBeliau bukanlah sahabiyah karena tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ. Namun, beliau termasuk seorang tabi'iyah, yaitu orang yang tidak bertemu Nabi ﷺ, tetapi bertemu dengan para sahabat, masuk Islam, dan meninggal dunia dalam keadaan beriman. 2\. Kisah Ummu Darda KubroBeliau menikah dengan Abu Darda. Ummu Darda Kubro merupakan seorang wanita yang terkenal ahli ibadah. Beliau juga seorang ahli Al-Qur'an, sedangkan suaminya, Abu Darda, juga seorang penghafal Al-Qur'an. ✧ Kisah dalam Hadis tentang Salman Al-FarisiKisah keduanya tertuang dalam hadis riwayat Imam Bukhari, yaitu tentang Salman Al-Farisi. Ketika itu, Nabi ﷺ mempersaudarakan Salman dan Abu Darda. Mereka saling memberikan perhatian dan juga saling mengunjungi.Suatu hari, Salman mendatangi rumah Abu Darda. Ia melihat Ummu Darda dalam keadaan sederhana dan tidak berdandan. Salman pun bertanya kepadanya, "Mengapa engkau seperti ini?"Ummu Darda menjawab bahwa saudaranya, Abu Darda, sudah tidak memiliki keinginan terhadap dunia.Ketika Abu Darda datang, ia menyiapkan makanan untuk Salman. Namun, Abu Darda mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa. Salman berkata bahwa ia tidak akan makan sampai Abu Darda ikut makan. Akhirnya, mereka pun makan bersama.Malam harinya, Abu Darda bangun untuk melaksanakan salat malam. Salman memintanya untuk tidur kembali. Ketika Abu Darda hendak bangun lagi, Salman kembali memintanya tidur.Hingga pada sepertiga malam terakhir, Salman berkata, "Sekarang bangunlah." Kemudian, mereka berdua melaksanakan salat malam. Setelah itu, Salman menasihati Abu Darda:✦ Nasihat Salman Al-Farisi> إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُArtinya:"Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak atas dirimu, dirimu sendiri memiliki hak atas dirimu, dan keluargamu juga memiliki hak atas dirimu. Maka, berikanlah kepada setiap yang memiliki hak akan haknya."Sumber: HR. Bukhari no. 1968, Sahih al-Bukhari, hadis tentang puasa.Salman mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh hanya berfokus pada ibadah sampai melupakan hak-hak yang lainnya.Setelah mendengarkan nasihat Salman, Abu Darda pun pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh dan menyampaikan kejadian tersebut kepada Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjawab:صَدَقَ سَلْمَانُArtinya: "Salman benar."Sumber: HR. Bukhari no. 1968, Sahih al-Bukhari.Salman mengajarkan kita bagaimana cara menasihati saudara dengan bijaksana. Abu Darda kemudian kembali memperhatikan hak istrinya dan keluarganya. Hingga mereka pindah ke Damaskus bersama-sama, dan Ummu Darda meninggal dunia sebelum Abu Darda. 3\. Kisah Ummu Darda Sugro ① Nama dan Latar BelakangNama beliau adalah Hujaimah binti Huyay al-Washshabiyyah al-Himyariyyah al-Dimasyqiyyah. Ada pula yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Yaman, kemudian tinggal bersama suaminya di Syam. Ada juga yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Damaskus.Menurut Imam Adz-Dzahabi, Ummu Darda Sugro adalah seorang wanita yang ahli fikih, berilmu, ahli ibadah, dan memiliki keutamaan.Beliau merupakan wanita yang sangat cantik jelita, ilmunya luas, akalnya cerdas, serta meriwayatkan banyak hadis dari suaminya, Abu Darda. ② Kedudukan dan KeilmuanAdz-Dzahabi juga menyebutkan bahwa Ummu Darda Sugro telah meriwayatkan banyak ilmu dari suaminya, Abu Darda. Beliau merupakan wanita yang rajin berpuasa, dikenal dengan ilmu dan kezuhudannya.Banyak perawi hadis yang meriwayatkan hadis dari beliau, di antaranya:* Jubair bin Nufair.* Abu Qilabah al-Jarmi.* Sa'id bin Abdul Aziz.* Raja' bin Haywah.* Yunus bin Maisarah.* Dan masih banyak perawi hadis lainnya. ③ Masa Kecil Ummu Darda SugroUmmu Darda Sugro merupakan seorang anak yatim yang dipelihara oleh Abu Darda. Sejak masih kecil, beliau tinggal bersama Ummu Darda Kubro.Abu Darda sangat memperhatikan pendidikan beliau. Bahkan, ketika masih kecil, Hujaimah sering diajak masuk ke masjid oleh Abu Darda dan ketika masih kecil beliau masuk ke saf laki-laki. Beliau juga duduk di halaqah ahli Al-Qur'an untuk belajar Al-Qur'an.Sampai suatu hari Abu Darda berkata kepadanya:"Sudah saatnya kau belajar bersama para wanita."Setelah masa kanak-kanaknya dilewati, beliau kemudian diajari oleh Abu Darda dan Ummu Darda Kubro.Ummu Darda Sugro hidup lebih lama daripada Abu Darda karena beliau dinikahi ketika masih muda. Bahkan, setelah Abu Darda wafat, beliau masih terus hidup hingga tahun 81 Hijriah. Jadi, beliau masih hidup sekitar 50 tahun setelah wafatnya Abu Darda.④ Kesetiaan kepada Abu DardaKarena Ummu Darda Sugro sangat cantik jelita, beliau pernah dilamar oleh Mu'awiyah yang saat itu menjabat sebagai gubernur Syam. Namun, lamaran tersebut ditolak.Ummu Darda berkata:"Sesungguhnya aku mendengar hadis dari suamiku. Sesungguhnya seorang wanita ketika di surga akan bersama suaminya yang terakhir. Dan aku tidak ingin mencari pengganti selain Abu Darda."Maka Mu'awiyah pun membalas suratnya:"Kalau begitu, hendaklah kamu memperbanyak puasa."Dalil tentang kesetiaan Ummu Darda SugroRasulullah ﷺ bersabda:الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَاArtinya:"Seorang wanita akan bersama suaminya yang terakhir."Sumber: Diriwayatkan dari Abu Darda dalam Al-Mu'jam Al-Awsath karya Ath-Thabrani, no. 3130; juga diriwayatkan Abu Ya'la. Penilaian terhadap jalur periwayatannya memiliki pembahasan di kalangan ulama hadis. مصدر: مجمع الزوائد +2 4\. Keutamaan Ummu Darda Sugro dalam Menuntut IlmuUmmu Darda dikenal sebagai wanita yang ahli ibadah, berilmu, dan sangat hormat kepada suaminya.Di antara keutamaan beliau adalah senang mengajarkan ilmu. Beliau mengajar di Damaskus dan terkadang juga di Baitul Maqdis. Banyak orang yang menghadiri majelis beliau, di antaranya para ulama tabi'in.Bahkan, disebutkan bahwa majelis beliau juga dihadiri oleh tokoh-tokoh besar pada zamannya. Beliau juga mengajarkan Al-Qur'an.Di antara keberkahan beliau, ketika para wanita melihat beliau, mengingatkan mereka kepada akhirat. Mereka kemudian banyak berdzikir.✧ Kisah Majelis Ilmu Ummu DardaSuatu hari, ketika duduk bersama di majelis Ummu Darda, masing-masing dari mereka berdzikir dan berdiskusi.Mereka kemudian berkata:"Wahai guru kami, Ummu Darda, kami khawatir telah membuatmu bosan dengan majelis ini."Ummu Darda menjawab:"Apakah kalian mendapati bahwa aku bosan? Aku telah mencari ibadah dalam segala hal, tetapi aku tidak menemukan sesuatu yang lebih menenangkan hatiku dan lebih mengumpulkan hatiku selain duduk bersama para ahli ilmu dan berdiskusi dengan mereka."Nasihat dari Ummu Darda:Majelis ilmu merupakan salah satu bentuk ibadah yang dapat menenangkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.Sumber: Riwayat tentang Ummu Darda dalam Siyar A'lam an-Nubala dan Tahdzib al-Kamal. النووي +15\. Nasihat-Nasihat Ummu Darda ① Nasihat tentang RezekiUmmu Darda berkata:"Jika salah seorang di antara kalian berkata, 'Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku,' padahal ia mengetahui bahwa Allah tidak akan menurunkan uang dinar ataupun dirham dari langit, sesungguhnya Allah memberikan rezeki melalui perantara manusia.Maka barang siapa yang diberikan sesuatu, hendaklah ia menerimanya. Jika ia orang kaya, hendaklah ia memberikan pemberian tersebut kepada saudaranya yang membutuhkan. Jika ia orang fakir, hendaklah ia memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhannya."Teks Arab:إِنَّ أَحَدَكُمْ يَقُولُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي، وَقَدْ عَلِمَ أَنَّ اللَّهَ لَا يُمْطِرُ عَلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا يَرْزُقُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ، فَمَنْ أُعْطِيَ شَيْئًا فَلْيَقْبَلْهُ، فَإِنْ كَانَ عَنْهُ غَنِيًّا فَلْيَضَعْهُ فِي ذِي الْحَاجَةِ مِنْ إِخْوَانِهِ، وَإِنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَسْتَعِنْ بِهِ عَلَى حَاجَتِهِ.Sumber: Riwayat Ummu Darda dalam Tahdzib al-Kamal karya Imam al-Mizzi, jilid 35, hlm. 356. أم الدرداء الصغرى- الجزء رقم35 +1 ② Nasihat tentang Bersyukur Setelah MakanDari Utsman bin Hayyan, beliau menceritakan bahwa suatu hari mereka makan bersama Ummu Darda. Mereka lupa mengucapkan Alhamdulillah setelah makan.Maka Ummu Darda berkata:"Wahai anak-anakku, janganlah kalian lupa mengiringi makanan kalian dengan mengingat Allah. Makan disertai pujian kepada Allah lebih baik daripada makan dalam keadaan diam."Teks Arab:يَا بَنِيَّ، لَا تَدَعُوا أَنْ تُؤَدِّمُوا طَعَامَكُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ، أَكْلٌ وَحَمْدٌ خَيْرٌ مِنْ أَكْلٍ وَصَمْتٍ.Sumber: Riwayat Ummu Darda dalam Tahdzib al-Kamal karya Imam al-Mizzi, jilid 35, hlm. 357. أم الدرداء الصغرى- الجزء رقم35 ③ Nasihat tentang Belajar Sejak KecilUmmu Darda juga berwasiat:"Pelajarilah hikmah ketika kalian masih kecil, agar kalian dapat mengamalkannya ketika sudah besar. Sesungguhnya setiap orang yang menanam pasti akan memanen apa yang ditanamnya, baik berapa kebaikan maupun keburukan."Teks Arab:تَعَلَّمُوا الْحِكْمَةَ صِغَارًا تَعْمَلُوا بِهَا كِبَارًا، وَإِنَّ كُلَّ زَارِعٍ حَاصِدٌ مَا زَرَعَ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ.Sumber: Tahdzib al-Kamal karya Imam al-Mizzi, jilid 35, hlm. 356. أم الدرداء الصغرى- الجزء رقم35 +1 ④ Nasihat tentang Pujian dan Celaan ManusiaSuatu ketika, ada seseorang yang datang kepada Ummu Darda dan memberitahukan bahwa ada orang yang membicarakan keburukannya di hadapan Abdul Malik bin Marwan.Ummu Darda menjawab:"Jika kita dicela karena sesuatu yang memang ada pada diri kita, bukankah selama ini kita juga sering dipuji karena sesuatu yang sebenarnya tidak ada pada diri kita?"Teks Arab:إِنْ نُؤْبَنُ بِمَا فِينَا فَطَالَمَا زُكِّينَا بِمَا لَيْسَ فِينَا.Sumber: Tahdzib al-Kamal karya Imam al-Mizzi, jilid 35, hlm. 357. أم الدرداء الصغرى- الجزء رقم35 +16\. Nasihat tentang Larangan MelaknatUmmu Darda juga meriwayatkan dan mengingatkan tentang hadis Rasulullah ﷺ mengenai bahaya melaknat.Beliau menyampaikan bahwa orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat maupun saksi pada hari kiamat kelak.Dalil hadis:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.Artinya:Rasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat."Sumber: HR. Muslim no. 2598. أم الدرداء الصغرى- الجزء رقم35✧ Kisah Abdul Malik bin Marwan dan PembantunyaSuatu hari, Abdul Malik bin Marwan mengirimkan hadiah berupa perlengkapan rumah kepada Ummu Darda.Pada suatu malam, Abdul Malik bangun dan memanggil pembantunya. Namun, pembantunya terlambat datang sehingga Abdul Malik melaknatnya.Ketika pagi hari, Ummu Darda berkata kepadanya:"Aku mendengar engkau melaknat pembantumu tadi malam ketika engkau memanggilnya."Kemudian Ummu Darda menyampaikan hadis yang pernah didengarnya dari Abu Darda, dari Rasulullah ﷺ:لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِArtinya:"Orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat."Sumber: HR. Muslim no. 2598, dari Abu Darda melalui Ummu Darda.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
S

Siska wati Berutu

📍 Kota Medan

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda'

Catatan KajianKisah Teladan Ummu Ad-Darda'Pemateri: Ustadz Firanda AndirjaAbu Darda' Uwaimir al-Anshari merupakan salah seorang sahabat Nabi ﷺ. Beliau memiliki dua orang istri yang sama-sama dikenal dengan gelar Ummu Darda'.1. Ummu Darda' Al-KubraNama asli Ummu Darda' Al-Kubra adalah Khairah binti Hadrad.Beliau merupakan seorang wanita yang ahli ibadah dan ahli Al-Qur'an.Kisah Salman Al-Farisi bersama Abu Darda' dan istrinyaSuatu ketika, Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu, yang merupakan sahabat Abu Darda', mengunjungi rumah Abu Darda'.Ketika itu, Salman melihat istri Abu Darda' mengenakan pakaian yang lusuh dan kurang rapi. Salman kemudian bertanya mengenai keadaannya. Ummu Darda' menjawab bahwa Abu Darda' sudah tidak memiliki ketertarikan terhadap dunia.Mendengar jawaban tersebut, Salman memahami bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan dalam hubungan rumah tangga mereka.Tidak lama kemudian, Abu Darda' datang dan menghidangkan makanan untuk Salman. Saat itu, Abu Darda' sedang berpuasa. Salman pun memintanya untuk berbuka.Ketika malam tiba, Abu Darda' hendak melaksanakan shalat malam, tetapi Salman menyuruhnya untuk tidur terlebih dahulu. Hal tersebut terjadi hingga dua kali.Setelah memasuki sepertiga malam terakhir, barulah mereka bangun dan melaksanakan shalat malam.Salman kemudian menasihati Abu Darda':"Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, jiwamu memiliki hak atasmu, dan istrimu juga memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah masing-masing haknya."Ketika waktu Subuh tiba, Abu Darda' pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat. Beliau kemudian menyampaikan nasihat Salman tersebut kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ membenarkannya.Faedah: Tidak boleh berlebih-lebihan dalam beribadah hingga melalaikan hak-hak yang lain, termasuk hak istri dan keluarga. Setiap pihak memiliki hak yang harus ditunaikan dengan seimbang.2. Ummu Darda' Ash-ShughraNama asli Ummu Darda' Ash-Shughra adalah Hujaimah binti Huyay al-Awshabiyah.Beliau telah menjadi yatim sejak kecil. Hujaimah kemudian diasuh oleh Abu Darda'.Semasa dalam pengasuhan Abu Darda', Hujaimah sering diikutsertakan dalam majelis-majelis ilmu dan shalat berjamaah bersama kaum laki-laki. Namun, ketika menginjak usia balig, beliau mulai bergabung dengan majelis ilmu khusus kaum perempuan.Sejak kecil terbiasa mengikuti majelis ilmu, Hujaimah tumbuh menjadi seorang wanita yang cerdas dan memiliki pemahaman yang baik, terutama dalam ilmu agama.Setelah istri pertama Abu Darda' meninggal dunia, Abu Darda' kemudian menikahi Hujaimah.Kesetiaan Ummu Darda' kepada Abu Darda'Setelah Abu Darda' meninggal dunia, Ummu Darda' pernah dilamar oleh Muawiyah. Namun, beliau menolak lamaran tersebut.Hal ini berkaitan dengan janji yang pernah disampaikan Ummu Darda' kepada Abu Darda' ketika suaminya menjelang wafat.Saat itu, Ummu Darda' berkata:"Wahai Abu Darda', dahulu engkau telah melamarku kepada keluargaku di dunia. Sekarang, aku melamarmu untuk kehidupan akhirat. Maka, terimalah lamaranku agar kita dapat bersama kembali di akhirat."Abu Darda' kemudian menjawab:"Kalau begitu, janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal dunia."Nasihat tersebut dipegang oleh Ummu Darda' setelah kepergian suaminya.Keutamaan Ummu Darda'Ummu Darda' sangat menghormati suaminya. Beliau juga dikenal sebagai wanita berilmu yang banyak disukai oleh kaum perempuan untuk diambil ilmunya.Banyak wanita yang bersemangat untuk belajar dan menghadiri majelis ilmu bersama beliau.Di antara nasihat Ummu Darda':"Bagaimana kiranya keadaan salah seorang di antara kalian yang mengatakan, 'Ya Allah, berilah aku rezeki,' sementara dia mengetahui bahwa Allah tidak menurunkan hujan berupa dinar ataupun dirham dari langit.Namun, Allah memberikan rezeki kepada sebagian manusia melalui sebagian yang lain.Karena itu, barang siapa diberi, hendaknya menerima pemberian tersebut. Barang siapa berkecukupan, hendaknya memberikan kepada saudaranya yang membutuhkan.Jika dia fakir, hendaknya meminta pertolongan untuk memenuhi kebutuhannya. Janganlah dia menolak rezeki yang telah Allah berikan kepadanya."

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al Mukhtasar surah Al isra ayat 21

Perhatikanlah -wahai Rasul-, bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain di kehidupan dunia ini dari segi rezeki dan pangkat kedudukan, namun kehidupan akhirat tentu lebih tinggi derajat kenikmatan dan karunianya serta lebih besar keutamaannya dibandingkan kehidupan dunia. Sebab itu, hendaknya setiap mukmin berusaha untuk meraihnya.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
A
Agustina dyah Aminingsih

📍 Kabupaten Karanganyar

Materi 34 Kisah teladan Ummu Darda'

Ustadz Firanda AndirjaUmmu darda' beliau adalah seorang istri yang shalihah ,istri dari abu darda'.istri abu darda' ada 2,ummu darda' Alkubro dan ummu darda' assughro.kedua nya adalah wanita yang sholihah .Abu darda' adalah seorang yang terkenal rajin beribadah, ahli ibadah beliau juga ahli Qur'an,beliau wafat pada 32 hijriyah di masa khalifah ustman bin affan,1.ummu darda' al kubro,beliau istri pertama abu darda',beliau adalah seorang yang taat kepada suami, tidak menceritakan kehidupan rumah tangga nya kepada orang lain,tidak menceritakan masalah dengan suaminya kepada orang lain,beliau sangat sabar dan menjaga hak2 suaminya.beliau wafat 2 tahun sebelum suaminya yaitu abu darda' yaitu pada tahun 30 hijriyah.2.ummu darda' as sughro,beliau wanita yang sholihah wanita yang alim,ahli fiqih,ahli ibadah,menyenangkan suaminya,berparas cantik jelita,ilmunya luas,akalnya cerdas,banyak meriwayatkan ilmu dari suaminya yaitu abu darda'.ummu darda' adalah seorang anak yatim,dirawat oleh abi darda' dan jg istrinya ummu darda' al kubro,beliau sering ikut dan duduk di halaqoh2 Qur'an,belajar sejak kecil dari abu darda'.beliau wafat pada tahun 81 hijriyah.beliau sangat mencintai suaminya,bahkan beliau tidak mau menikah lagi sepeninggal suaminya,karena beliau ingin kembali bersama suaminya yaitu abu darda' di akhirat atau syurga.belisu diwarisi suaminya menjadi seorang ahli ilmu ahli ibadah,sangat hormat kepada suaminya,beliau rajin baca Qur'an dan berdzikir,beliau juga mempunyai sifat pemaaf, tidak marah ketika ada yang mencela nya

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Tafsir Ibnu Katsir QS. Saba: 1–2 — Allah Maha Memiliki, Maha Mengetahui, dan Maha Pengampun

QS. Saba ayat 1الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُQS. Saba ayat 2يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُArtinya:“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.”

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka2 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Bebaskan diri anda dari barang rongsok

Bebaskan diri anda dari barang rongsokSumber Don't sweat the small stuff with your family Meskipun saat ini sangat sederhana saran ini berharga untuk diulas, ini bukan tugas yang mudah dilaksanakan .Memerlukan ketekunan Upaya ini akan membantu menjadi orang yang lebih santai juga bermanfaat untuk mendukung upaya kita untuk tidak memusingkan hal-hal kecil di rumah. Praset setiap hari segala macam bentuk barang muncul dalam kehidupan kita kebanyakan di antaranya tidak berguna dan cuma memakan ruang mental sekaligus ruang secara fisik. Tanpa pengaturan dan upaya secara sadar untuk mencegah barang-barang ini menumpuk kita akan melawan menghadapi tim dan barang-barang tak berguna. Alasannya barang-barang rongsokan datang ke kehidupan kita entah kita mulai atau tidak. Jika kita tidak tahu bagaimana menyingkirkannya begitu bareng-bareng itu datang tak telak lagi pasti tumpukan itu semakin tinggi dan sulit menyortirnya. Kebanyakan orang yang yakin bahwa mereka akan segera menggunakannya atau terperangkap pada keyakinan yang hampir selalu keliru bahwa mereka akan memerlukannya suatu Hari nanti. Yang termasuk barang rongsokan adalah segala macam barang yang memakan tempat membutuhkan perhatian ekstra menyebalkan dan dalam artian tertentu nyaris tidak pernah kita pakai. Beberapa bentuk paling umum barang ungkapan adalah tumbukan sobekan kertas koran lama buku telepon lama majalah dari zaman baheula pakaian dan handuk yang sudah buluk karena lama tidak dipakai dan lain-lain. Akan ada perasaan tentram bila memiliki rumah yang bebas dari barang rongsokan.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS At Taubah : 91

Tafsir Al-MuyassarQS At Taubah : 91Orang-orang yang uzur karena lemah, sakit dan orang-orang fakir yang tidak memiliki harta sama sekali untuk persiapan mereka berperang, mereka tidak berdosa jika mereka tidak ikut berperang selama mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan syariat-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan dan menghukum orang yang tidak bisa ikut berjihad bersama Rasulullah karena uzur padahal dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah Maha Pengampun dan Penyayang bagi orang-orang yang berbuat baik.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
N
Nur Rofifah Fadhilah

📍 indonesia

Kisah teladan Ummu Darda

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda' A. Mengenal Dua Sosok Ummu Ad-Darda': Abu Ad-Darda' memiliki dua istri yang sama-sama salihah dengan panggilan yang sama:1. Ummu Ad-Darda' Al-Kubra (Senior): Seorang sahabiyah (bertemu dan beriman kepada Nabi Muhammad SAW) bernama Khairah binti Abi Hadrat Al-Aslami. Beliau dikenal sebagai wanita yang alim dan meriwayatkan hadis.2. Ummu Ad-Darda' As-Sugra (Junior): Seorang tabi'ah (tidak bertemu Nabi, tetapi bertemu para sahabat) bernama Hujaimah binti Huyai Al-Washabiyah. Beliau dipelihara sejak kecil oleh Abu Ad-Darda', dinikahi setelah dewasa, dan hidup lama setelah suaminya wafat.B. Kisah Inspiratif Ummu Ad-Darda' Al-Kubra:Sahabat Salman Al-Farisi pernah berkunjung dan mendapati Ummu Ad-Darda' berpakaian tidak rapi. Ketika ditanya, beliau menjaga kehormatan suami dengan menjawab secara isyarat bahwa suaminya (Abu Ad-Darda') sibuk beribadah (puasa di siang hari dan salat di malam hari) dan tidak mementingkan dunia/istri.Salman Al-Farisi kemudian menasihati Abu Ad-Darda' secara bijak bahwa setiap pihak memiliki haknya masing-masing—termasuk diri sendiri, tamu, dan istri—yang kemudian dibenarkan oleh Nabi SAW.C. Kisah Inspiratif Ummu Ad-Darda' As-Sugra:Setelah Abu Ad-Darda' wafat, beliau yang dikenal cantik jelita sempat dilamar oleh Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Syam/Khalifah). Lamaran tersebut ditolak karena beliau ingin tetap setia dan berharap bisa bersatu kembali dengan Abu Ad-Darda' di surga kelak.Beliau memiliki majelis ilmu yang luas (dikunjungi para tabiin hingga khalifah Abdul Malik bin Marwan), sangat menghormati suaminya (bahkan menyebut suaminya dengan sebutan "Sayyidi" atau tuanku/majikannya), dan mengisi kesehariannya dengan memperbanyak zikir serta beribadah kepada Allah SWT.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
B
Baby Nabilah Ulzanah

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

1. Pengantar: Dua Ummu Darda'Sahabat Nabi, Abu Darda' (Uwaimir bin Amir al-Khazraji), memiliki dua istri yang keduanya sama-sama dikenal dengan sebutan Ummu Darda':Ummu Darda' al-Kubra (Senior): Bernama Khairah binti Abi Hadrad al-Aslami. Beliau adalah seorang sahabiah (bertemu Nabi ﷺ dan beriman). Wafat sekitar tahun 30 H (2 tahun sebelum Abu Darda').Ummu Darda' as-Sughra (Junior): Bernama Hujaimah/Juhaimah binti Huyai al-Washabiyah (al-Himyariyah). Beliau adalah seorang tabi'iah (tidak bertemu Nabi ﷺ, tetapi belajar dari para sahabat, terutama suaminya). Wafat sekitar tahun 81 H.2. Kisah Ummu Darda' al-Kubra (Senior)Nasihat Salman al-Farisi tentang Hak-Hak Kehidupan:Nabi ﷺ mempersaudarakan Salman al-Farisi dan Abu Darda'. Suatu ketika, Salman berkunjung dan melihat Ummu Darda' mengenakan pakaian seadanya (tidak berhias).Ummu Darda' tidak membeberkan aib rumah tangga, melainkan berisyarat bahwa Abu Darda' sangat fokus beribadah hingga tidak mementingkan dunia/istrinya.Salman menginap untuk memastikan keadaan. Ia menemukan Abu Darda' selalu berpuasa di siang hari dan ingin salat sepanjang malam.Salman menasihati Abu Darda': "Sesungguhnya Rabbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, dan istrimu punya hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak, haknya."Ketika disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau menegaskan bahwa Salman benar.Hikmah: Beribadah tidak boleh berlebihan hingga melalaikan hak keluarga dan kesehatan diri sendiri.3. Kisah Ummu Darda' as-Sughra (Junior)Pendidikan Sejak Kecil:Beliau tumbuh sebagai anak yatim di bawah asuhan Abu Darda' dan Ummu Darda' al-Kubra. Sejak kecil diajarkan Al-Qur'an dan ilmu agama.Setelah dewasa, beliau dinikahi oleh Abu Darda' dan tumbuh menjadi wanita yang sangat cerdas, fakih, cantik, serta meriwayatkan banyak hadis.Ketaatan dan Kesetiaan:Hormat kepada Suami: Dalam meredaksikan hadis dari suaminya, beliau menyebut Abu Darda' dengan sebutan "Haddatsanii Sayyidii" (Telah menyampaikan hadis kepadaku, tuanku), yang menunjukkan rasa takzim yang luar biasa.Cinta Hingga Akhirat: Sebelum Abu Darda' wafat, Ummu Darda' meminta agar kelak dapat dipersatukan kembali di surga. Abu Darda' berpesan agar ia tidak menikah lagi setelahnya.Menolak Lamaran Khalifah Mu'awiyah: Setelah Abu Darda' wafat, beliau dilamar oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan (Gubernur/Khalifah saat itu). Namun, Ummu Darda' menolak demi bisa menjadi istri Abu Darda' kembali di surga, sesuai hadis bahwa wanita di surga bersama suaminya yang terakhir.Keutamaan dan Majelis Ilmu:Beliau menjadi guru besar yang mengajar di Damaskus dan Baitul Maqdis, di mana majelisnya dihadiri oleh banyak tabi'in hingga Khalifah Abdul Malik bin Marwan.Terkenal sangat tekun berzikir dan menasihati agar selalu mengingat Allah, termasuk membaca basmalah/tahmid saat makan dan menuntut ilmu sejak muda.Berani memberikan nasihat/teguran dengan santun kepada penguasa (Abdul Malik bin Marwan) agar tidak mudah melaknat pembantu.4. Kesimpulan dan Hikmah UtamaTugas Suami: Mengajarkan ilmu agama kepada istri dan keluarga.Keseimbangan Hak: Pembagian waktu yang bijak antara ibadah kepada Allah, hak diri, serta hak anak dan istri.Penghormatan Istri: Pentingnya kesetiaan, menjaga kehormatan rumah tangga, dan memuliakan suami.Manfaat Zikir dan Ilmu: Menyediakan waktu khusus untuk berzikir dan belajar Al-Qur'an demi membekali diri menghadapi akhirat

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda

Keteladanan dari kisah Ummu Ad-Darda’ Ash-Shugra:Latar Belakang dan Keilmuan: Berbeda dengan istri pertama yang merupakan seorang sahabiyah, Ummu Ad-Darda' Ash-Shugra adalah seorang tabi'iyyah asal Yaman yang tumbuh besar di Syam (Damaskus). Sejak kecil beliau yatim piatu dan diasuh langsung oleh Abu Ad-Darda' serta Ummu Ad-Darda' Senior. Tumbuh di lingkungan ilmu membuatnya menjadi wanita yang sangat faqih (paham agama), alim, cerdas, dan menjadi salah satu periwayat hadis utama dari suaminya.Menolak Lamaran Penguasa Demi Kesetiaan: Setelah Abu Ad-Darda' wafat, beliau sempat dilamar oleh Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Syam yang kemudian menjadi Khalifah). Beliau menolaknya dengan tegas karena memegang teguh sabda Nabi ﷺ yang pernah disampaikan suaminya bahwa seorang wanita di surga akan bersama dengan suami terakhirnya di dunia. Beliau memilih menjaga kesetiaan agar bisa kembali bersanding dengan Abu Ad-Darda' di akhirat.Penghormatan Luar Biasa kepada Suami: Dalam riwayat Sahih Muslim, keteladanan akhlaknya terlihat dari kebiasaannya yang selalu menyebut Abu Ad-Darda' dengan panggilan penuh takzim, yaitu "Sayyidi" (Tuanku/Pemimpinku) setiap kali meriwayatkan hadis. Ketika Salman Al-Farisi berkunjung dan melihat penampilan Ummu Ad-Darda' yang tidak terawat karena Abu Ad-Darda' terlalu sibuk beribadah siang dan malam, beliau tidak mengeluh ataupun menjelekkan suaminya. Sebaliknya, beliau menjawab dengan bijak dan menjaga kehormatan suaminya dengan berkata: "Saudaramu Abu Darda' tidak butuh dengan dunia (ia sibuk beribadah terus)."Keluasan Majelis Ilmu: Keilmuannya yang mendalam membuat majelis ilmu yang ia pimpin di Damaskus dihadiri oleh para ulama besar tabi'in, bahkan Khalifah Abdul Malik bin Marwan pun duduk menghadiri majelisnya untuk menimba ilmu. Di mana Abu Ad-Darda' bertugas mengajarkan Al-Qur'an dan menjadi hakim (qadi).Keberanian Menasihati Pemimpin: Beliau tidak segan dan takut untuk menegur Khalifah Abdul Malik bin Marwan secara langsung ketika sang khalifah melaknat pembantunya. Beliau dengan tegas mengingatkan khalifah tentang sabda Nabi ﷺ bahwa orang yang suka melaknat tidak akan bisa memberikan syafaat atau menjadi saksi di hari kiamat.Kecintaan pada Zikir: Beliau adalah seorang ahli zikir sejati yang prinsip hidupnya menyatakan bahwa tidak ada hal yang paling menenangkan dan memuaskan dadanya di dunia ini selain berzikir kepada Allah SWT.Kisah ini memberikan teguran keras bahwa ibadah ritual (seperti puasa setiap hari dan shalat malam semalam suntuk) tidak boleh menyingkirkan kewajiban pemenuhan hak orang lain. Melalui nasihat terkenal dari Salman Al-Farisi yang kemudian dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ: "Sesungguhnya Rabbmu punya hak, dirimu punya hak, tamumu punya hak, dan istrimu punya hak. Maka berikanlah masing-masing haknya."

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 hari lalu
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

Al fath 7

Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang memberikan kabar bahwa milikNya-lah kerajaan langit dan bumi serta semua tentara yang ada pada keduanya agar semua hamba mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah yang memberikan pertolongan dan yang memberikan kehinaan dan supaya para hamba mengetahui bahwa tentara-tentaraNya akan mendapatkan pertolongan sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 173 ﴿ "Dan sesungguhnya tentara kami, merekalah yang akan mendapat kemenangan." (Ash-Shaffat: 173). ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maha-kuat, Maha Mengalahkan, Maha Menundukkan segala sesuatu. Meski Mahaperkasa dan Mahakuat, Allah adalah Mahabijaksana terhadap para makhlukNya. PengaturanNya berlaku sesuai dengan kebijakan hikmah dan kesempurnaanNya.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
D

Dini Nurfaizah

📍 Kabupaten Kepulauan Mentawai

#34 Kisah Teladan Ummu Ad-Darda’

#34 Kisah Teladan Ummu Ad-Darda’Ust Dr. Firanda Andirja, M.AAbu Darda punya 2 istri, Ummu Darda Senior dan junior. Ummu Darda SeniorUmmu Darda Senior bernama Khoiro bintu Abu hadrat as salmi, seorang shohabiyah, bertemu Nabi dan beriman.Abu Darda adalah ahli ibadah yang hapal Ql-Quran. Abu Darda dikirim ke Damaskus untuk mengajar Al-Quran. Keutamaan: sangat Menghargai suami.Ummu Darda JuniorUmmu Darda junior bernama  Juaimah binti Hulail  , seorang tabi’i, tidak bertemu Nabi tapi bertemu sahabat Nabi dan beriman kepada Nabi. Ummu Darda banyak meriwayatkan banyak hadits dari suaminya, Abu Darda. Dia adalah anak yatim dan tinggal dengan Abu Darda, dan sering dibawa Abu Darda ke masjid dan ke majelis ilmu. Saat dewasa dinikahi oleh Abu Darda. Ummu Darda hidup lama setelah suaminya meninggal, sekitar 50 tahun. Dia tidak menikah setelahnya walaupun dilamar orang lain. Keutamaan:Sangat cinta kepada suaminya.Sangat hormat kepada suaminya.Punya majelis ilmu.Nasihat-nasihat Ummu Darda:Jika diberi hadiah terima, kalau tidak perlu, terima dulu lalu kasih ke orang lain.Di sela-sela makan hendaklah berdzikir.Pelajarilah hikmah-hikmah saat masih kecil, nnti kalian petik saat dewasa. Ceritakan anak-anak perkataan bijak biar bisa jadi pegangan anak-anak ketika dewasa.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke empat belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke empat belas “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullahKemudian beliau mengatakan,وَدَلِيلُ الشَّفَاعَةِ،Dan dalil tentang syafa’at (dalil bahwasanya mereka menyembah sesembahan-sesembahan tersebut tujuannya adalah untuk mencari syafa’at),قَوْلُهُ تَعَالَadalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ[Surat Yunus 18]وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِDan mereka (orang-orang Quraisy) menyembah kepada selain Allahمَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْsesuatu yang tidak memberikan mudhorot kepada mereka dan juga tidak memberikan manfaat.Seharusnya seseorang apabila ingin menyembah, menyembah sesuatu yang memberikan manfaat dan memberikan mudhorot, yaitu Allah Subhānahu wa Ta’āla. Di tangan-Nya lah manfaat dan juga mudhorot.Namun orang-orang musyrikin menyembah kepada selain Allah, sesuatu yang sama sekali tidak memberikan manfaat dan juga tidak bisa memberikan mudhorot.وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِKetika mereka ditanya kenapa mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah orang-orang yang akan memberikan syafa’at kepada kami di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla.’Ini adalah tujuan ke dua, mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Supaya sesembahan-sesembahan tersebut memberikan syafa’at kepada mereka di sisi Allah.Menunjukkan sekali lagi bahwasanya mereka mengenal Allah. Dan bahwa tujuan mereka adalah tujuan yang baik. Akan tetapi apakah cara yang dilakukan oleh mereka adalah cara yang diridhoi oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla?Dengarkanlah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla setelahnya,قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِKatakanlah (Wahai Muhammad) kepada mereka, apakah kalian wahai orang-orang musyrikin, mengabarkan kepada Allah sesuatu yang tidak Allah ketahui di langit maupun di bumi?Artinya apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrikin adalah sesuatu yang tidak berdasar. Seakan-akan mereka mengabarkan kepada Allah, sesuatu yang tidak Allah ketahui di langit maupun di bumi.Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak pernah mengabarkan yang demikian. Dari mana mereka tahu bahwasanya orang-orang shalih yang sudah meninggal tersebut yang mereka sembah memberikan syafa’at di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka.Kemudian Allah mengatakan,سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَMaha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.Di sini Allah mengatakan, عَمَّا يُشْرِكُونَ dari apa yang mereka sekutukan. Menunjukkan bahwasanya apa yang mereka lakukan adalah termasuk jenis kesyirikan.Perbuatan mereka menyembah kepada selain Allah, menyerahkan ibadah kepada selain Allah dengan tujuan supaya selain Allah tersebut memberikan syafa’at di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka, maka ini adalah termasuk bagian dari kesyirikan.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya2 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 14: Simpul 11– Menjaga Kemuliaan Ilmu dari Perkara yang Membuatnya Tampak Jelek Di Hadapan Manusia

Halaqah 14:Simpul 11– Menjaga Kemuliaan Ilmu dari Perkara yang Membuatnya Tampak Jelek Di Hadapan Manusia📚 Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm✒️ Karya: Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi حفظه لله تعالى🎙Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىBeliau mengatakanالمعقد الحادي عشرSimpul yang ke-11 adalahصيانة العلم عما يشين مما يُخالف المروءة ويخرمهاMenjaga ilmu dari perkara-perkara yang menjadikan dia jelek, termasuk pengagungan kita terhadap ilmu adalah kita harus menjaga ilmu menjaga dia tetap mulia menjaganya dari seluruh perkara yang menjadikan dia itu jelek menjadikan dia nampak jelek di hadapan manusiaمما يُخالف المروءة ويخرمهاDari segala sesuatu yang menyelisihi muru’ah (kehormatan atau kewibawaan) atau memecahkan kewibawaan tersebut.Jadi harusnya ilmu yang kita cari maka hendaklah kita perindah dengan cara kita memperbaiki diri kita yaitu dengan menjaga muru’ah seseorang, sebagaimana ilmu itu indah sebagaimana ilmu itu mulia maka hendaklah kita sebagai pembawa ilmu tersebut harus menghiasi diri kita ini dengan muru’ah.Segala sesuatu yang menyelisihi muru’ah menyelisihi kehormatan menyelisihi kewibawaan maka jangan kita lakukan karena itu nanti akan memperjelek ilmu yang kita bawa, kalau memang kita ingin mengagungkan ilmu maka hendaklah kita menjaga ilmu dari segala sesuatu yang menjelekkannya.Beliau mengatakanمن لم يَصُنِ العلمَ لم يَصُنْهُ العلمُBarang siapa yang tidak menjaga ilmu (dari segala sesuatu yang menjelekkannya) maka ilmu tidak akan menjaganya. Kalau kita tidak menjaga dia menjaga kehormatan dia menjaga kemuliaan dia dengan cara kita menjaga kemuliaan kita sebagai seorang yang membawa ilmu maka ilmu tidak akan menjaga kita.كما قال الشَّافعيُّSebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’iyومن أخلَّ بالمروءة بالوقوع فيما يَشين فقد ٱستخفَّ بالعلمBarang siapa yang merusak muru’ahnya sendiri merusak kewibawaannya sendiri dengan menjerumuskan dirinya di dalam perkara yang menjadikan dia buruk menjadikan dia jelek maka sungguh dia telah menganggap remeh ilmu.Kalau kita bermudah-mudahan sebagai seorang penuntut ilmu kemudian kita menyamakan diri kita dengan orang-orang awam biasa atau orang-orang yang pengangguran atau orang-orang yang mereka memang tidak tahu malu, kita samakan diri kita dengan mereka ini berarti kita sebenarnya telah meremehkan ilmu kita. Kita tidak menjaga diri kita tidak menjaga adab kita tidak menjaga muru’ah kita berarti kita tidak menghormati ilmu yang kita makaفلم يُعظِّمْه فوقع في البطَالةMaka berarti dia tidak mengagungkan ilmu dan terjatuhlah dia ke dalam kerusakanفتُفضي به الحال إلى زوال ٱسم العلم عنهakhirnya ketika kita tidak peduli dengan kehormatan kita dan muru’ah kita padahal kita orang yang menisbahkan dirinya pada ilmu, kita bangga sebagai seorang penuntut ilmu tapi kita tidak menjaga diri kita kemudian kita terjerumus ke dalam perkara-perkara yang itu sebenarnya tidak pantas dilakukan oleh seorang penuntut ilmu karena biasanya yang melakukan adalah seorang yang pengangguran atau seorang preman atau orang yang nakal akhirnya keadaan yang seperti ini akan menyebabkan hilangnya nama ilmu dari kita.Ketika kita sudah tidak mempedulikan lagi kewibawaan kita muru’ah kita sebagai seorang penuntut ilmu mungkin dari sisi pakaian, dari sisi pakaian tidak mencerminkan dia seorang penuntut ilmu, seorang penuntut ilmu maka mereka memiliki pakaian yang menunjukkan bahwasanya dia adalah seorang penuntut ilmu.Adapun memakai pakaian yang tidak mencerminkan dia sebagai seorang penuntut ilmu maka ini bisa menghilangkan nama ilmu darinya sehingga orang sudah tidak lagi menyebut dia sebagai seorang santri tidak menyebut dia sebagai seorang penuntut ilmu lagi, karena dilihat dari sisi gerak-geriknya dari sisi akhlaknya dari sisi pakaiannya sama dengan yang lain tidak ada bedanya, ini akibat dari orang yang tidak menjaga ilmu.قال وهب بن منبِّهBerkata Wahab Ibn Munabbih rahimahullahلا يكون البطَّال من الحكماءOrang yang rusak (yang dia sudah tidak memperhatikan dirinya) maka dia tidak mungkin menjadi seorang yang berilmu (orang yang memiliki hikmah).Kemudian beliau menjelaskan apa yang dimaksud dengan muru’ahو جِماع المروءة – كما قاله ابن تيميَّة الجدُّ في المحرَّر، وتبعه حفيده في بعض فتاويه -: استعمال ما يُجمِّله ويَزِينه، و تجنُّبُ ما يُدنِّسه ويَشِينهYang dimaksud dengan muru’ah itu terkumpul dalam ucapan ini sebagaimana diucapkan oleh Ibnu Taimiyah kakeknya, karena di sana ada Ibnu Taimiyah kakek ada Ibnu Taimiyah cucu, kalau Ibnu Taimiyah kakek ini adalah kakeknya Ibnu Taimiyah guru dari Ibnul Qayyim, kalau Syaikhul Islam gurunya Ibnul Qayyim maka ini adalah cucunya, kakek maupun cucu dikenal dengan Ibnu Taimiyah.Sebagaimana ini diucapkan oleh Ibnu Taimiyah aljad (kakek) di dalam Kitab beliau Al-Muharrar dan diikuti oleh cucunya di dalam sebagian fatwa beliau, yang dimaksud dengan muru’ah adalah menggunakan apa yang memperindah dan menjadikan dia lebih bagus dan menjauhi apa yang bisa merusaknya dan menjadikan dia lebih jelek.Jadi sebagaimana ilmu itu adalah indah maka kita iringi dengan perbuatan kita yang indah, perbuatan kita yang menjaga adab perbuatan kita dan tingkah laku kita dan perilaku kita yang memperindah ilmu tadi, dan kita menjauhi segala hal yang mengotori ilmu tadi dan juga justru memperjelek dan memperburuk ilmu tadi.Ini yang dimaksud dengan al-muru’ah, segala sesuatu yang memperindah ilmu baik berupa pakaian misalnya atau berupa gerak-gerik dan akhlak maka hendaklah kita lakukan, dan segala sesuatu yang memperburuk dan memperjelek ilmu tadi maka hendaklah kita jauhi, ini semua adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu.قيل لأبي محمَّدٍ سفيانَ بن عُيَيْنةَDikatakan kepada Abu Muhammad Sufyan Ibn ‘Uyainah, ditanyakan kepada beliauقدِ ٱستنبطتَ من القرآن كلَّ شيءٍ، فأين المروءةُ فيه؟Engkau telah beristinbath dari Al-Qur’an segala sesuatu, artinya Sufyan Ibn ‘Uyainah segala sesuatu beliau bisa mendatangkan dalilnya dari Al-Qur’an, akhirnya beliau ditanyaفأين المروءةُ فيه؟mana dalil yang menunjukkan tentang pentingnya menjaga muru’ahفقالmaka Sufyan Ibn ‘Uyainah mengatakanفي قوله تعالىٰ: ﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ﴾ الأعراف: الآية 199Beliau mengatakan di dalam Firman Allāh ﷻ yang artinya ambillah al-‘afwa (maafkanlah) dan perintahkanlah dengan yang baik dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.Beliau mengatakanففيه المروءة، وحسن الأدب، ومكارم الأخاقmaka di dalam ayat ini ada muru’ah, kita sebagai seorang penuntut ilmu misalnya terjadi ada orang yang mendzhalimi kita perindahlah ilmu yang Antum miliki dengan cara kita memaafkan orang tersebut, ini muru’ah bagi seseorang dan itu memperindah ilmu yang ada pada diri kita ketika Antum memaafkan dia.Tapi coba ketika Antum didzhalimi oleh orang lain kemudian Antum marah-marah dan Antum banting apa yang ada disekitar Antum tidak memaafkan orang tersebut bukankah ini memperjelek ilmu yang Antum bawa, kalau memang kita ingin mendapatkan ilmu kita agungkan ilmu kita jaga dia dari perkara-perkara yang memperjeleknya, kita perindah dia dengan gerak-gerik kita yang indah juga, kita maafkan maka ini termasuk bentuk muru’ah menjaga kehormatan kita sebagai seorang penuntut ilmu.Demikian pula memerintahkan kepada kebaikan dan berpaling dari orang-orang yang jahil, ini semua adalah bentuk muru’ah dan ini adalah menunjukkan baiknya adab dan dia termasuk akhlak yang mulia.Ini dalil didalam Al-Qur’an yang menunjukkan tentang muru’ah, memaafkan orang lain mengajak kepada kebaikan kemudian berpaling dari orang-orang yang jahil.Ketika ada orang yang mencela Antum misal menjelek-jelekkan Antum maka ingat Antum sedang membawa ilmu maka Antum harus menjaga ilmu tadi supaya jangan sampai diperjelek yaitu dengan cara kita membalas atau dengan cara kita berpaling dari orang-orang yang jahil, kita maafkan dan kita berpaling dari orang-orang yang jahil.Kemudian beliau mengatakanومِن ألْزَمِ أدبِ النَّفس للطَّالب: تحلِّيه بالمروءةDan termasuk di antara adab terhadap diri sendiri yang seharusnya dipegang oleh seorang penuntut ilmu adalah menghiasi dirinya dengan muru’ah.Sebagaimana telah berlalu ada adab terhadap diri sendiri ada adab terhadap teman ada adab terhadap guru, termasuk di antara adab terhadap diri sendiri bagi seorang penuntut ilmu adalah dia menghiasi dirinya dengan muru’ah, jangan dia samakan dia sebagai seorang penuntut ilmu dengan orang lainوما يحمل عليهاdan apa yang membawa kepada muru’ahوتنكُّبُه خوارمها الَّتي تخلُّ بها؛Demikian pula dia berusaha untuk menjauhi segala hal yang bisa merusak muru’ah dia, kemudian beliau memberikan contoh di antara contoh yang bisa merusak kehormatan seorang penuntut ilmuكحلق لحيتهseperti memotong jenggotnyaArtinya seorang penuntut ilmu adalah orang yang tentunya memiliki ilmu tidak seperti manusia yang lain di antara ilmu yang dia dapat adalah memanjangkan atau membiarkan jenggot, ketika dia mencukur jenggotnya maka ini merusak muru’ah dia, harusnya dia menghiasi dirinya dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dari sisi pakaiannya dari sisi jenggotnya, dzhahirnya seharusnya dihiasi dengan sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallamأو كثرةٍ الالتفات في الطريقDi antara yang merusak kehormatan seseorang, kalau memotong jenggot ini adalah kemaksiatan dan seluruh kemaksiatan memperburuk seorang penuntut ilmu, demikian pula kata beliau terlalu banyak menoleh ketika di jalan maka ini juga bisa merusak kewibawaan seseorang.Kalau Antum melihat ada orang lain ketika dia berjalan melihat kekanan melihat kekiri keatas kebawah bagaimana pandangan Antum terhadap orang tersebut dengan orang lain yang dia berjalan dan terlihat bahwasanya dia konsentrasi terhadap satu tujuan, dia tidak banyak menoleh kecuali kalau memang diperlukan ketika akan menyeberang misalnya memang harus menoleh, tapi ketika dia tidak diperlukan dia sering menoleh dan melihat tidak menjaga pandangan maka ini akan merusak kehormatan seseorang.Harusnya dia menghiasi ilmu yang ada pada dirinya dengan adab yang baik, jangan dia seperti pengangguran yang berjalan di jalan tidak tahu tujuannya tidak tahu kemana hanya ingin melihat aurat manusia, seorang penuntut ilmu berjalan di jalan dan dia memiliki tujuan, Ana mau ke pasar Ana mau ke toko Ana ingin ke kuliah itu tujuannya bukan melihat kekanan dan kekiri, ini termasuk kewibawaan yang hendaknya dijaga oleh seseorang penuntut ilmu.أو مدِّ الرِّجلين في مَجْمَعِ النَّاس من غير حاجةٍ ولا ضرورةٍ داعيةٍAtau menjulurkan kedua kakinya diperkumpulan manusia, banyak orang sedang kumpul kemudian dia menjulurkan kedua kakinya ini sesuatu yang merusak kewibawaan seseorang.Seharusnya dalam perkumpulan-perkumpulan seperti itu seorang penuntut ilmu menjaga adabnya, adab dalam bermajelis adab duduk bersama orang lain itu bagaimana, karena ketika dia menjulurkan kedua kakinya maka ini seperti menghinakan orang yang ada di depannyaمن غير حاجةٍ ولا ضرورةٍ داعيةٍpadahal itu tidak ada keperluan dan bukan sesuatu yang darurat, kalau memang dia capek silakan dia menjulurkan kakinya kalau memang dia sakit silahkan dia menjulurkan kakinya tapi kalau tidak ada keperluan dan dia bukan orang yang sakit maka termasuk adab yang indah adalah kita menjaga adab dalam duduk kita bersama orang lain di antaranya adalah tidak menjulurkan kedua kakiأو صحبةِ الأراذل والفسَّاق والمُجَّان والبطَّالينDiantara yang merusak muru’ah seseorang adalah bersahabat dengan orang-orang yang rendah, maksudnya adalah ahli maksiat, bukan maksudnya orang miskin orang fakir.Bersahabat dengan الأراذل yaitu orang-orang yang kerjanya adalah bermaksiat siang dan malam والفسَّاق dan juga orang-orang fasik والمُجَّان hampir sama maknanya والبطَّالين dan orang-orang yang rusak. Seorang penuntut ilmu hendaklah dia menjaga ilmunya dengan cara jangan dia berteman dengan orang-orang yang senang bermaksiat kepada Allāh ﷻ.أو مصارعةِ الأحداث والصِّغارatau diantara yang merusak muru’ah adalah seseorang gulat dengan anak-anak kecil, dia seorang penuntut ilmu sudah dewasa kemudian dia gulat dengan anak-anak kecil maka ini diantara yang merusak muru’ah dan kehormatan seseorang.Ini hanya sekedar contoh dan kita kembali kepada kaidah yang pertama tadi segala sesuatu yang memperindah ilmu maka hendaklah kita menjaganya dan segala sesuatu yang bisa memperjelek ilmu dan merusak nama baik ilmu maka hendaklah kita menjauhinya, ini termasuk bentuk penganggungan kita terhadap ilmu.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Materi 34: " Kisah Teladan Ummu Ad-Darda' "

Materi 34: " Kisah Teladan Ummu Ad-Darda' "🎙 Pemateri: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. حفظه الله تعالى🌿 Dua Wanita Mulia di Balik Kesuksesan Abu Darda'Abu Darda' radhiyallahu 'anhu (seorang sahabat Nabi ﷺ yang merupakan ahli Al-Qur'an dan qadi/hakim di Damaskus, Suriah) memiliki dua orang istri yang sama-sama mulia dan dikenal dengan panggilan Ummu Ad-Darda'. Keduanya merupakan wanita salihah dalam sejarah Islam, yang terbagi menjadi Ummu Ad-Darda' Al-Kubra (Senior) dan Ummu Ad-Darda' Ash-Shugra (Junior).🌸 1. Ummu Ad-Darda' Al-Kubra (Senior) — Khairah binti Abi Hadrat Al-Aslami🌿 Latar Belakang & Status: Beliau adalah seorang sahabiah yang mulia, berilmu, dan meriwayatkan hadis dari Nabi ﷺ. (Definisi Sahabiah: Seseorang yang bertemu dengan Nabi ﷺ, beriman kepada beliau, dan meninggal dalam keadaan Islam).🌾 Kehidupan Rumah Tangga & Kisah Salman Al-Farisi:Rasulullah ﷺ mempersaudarakan antara Salman al-Farisi dan Abu Darda' (nizham al-akhi / sistem persaudaraan) untuk mempererat kepedulian antar-sahabat.Suatu ketika, Salman berkunjung ke rumah Abu Darda' dan mendapati Ummu Ad-Darda' senior mengenakan pakaian yang tidak rapi (tidak berhias). Ketika ditanya, Ummu Ad-Darda' menjawab secara bijak tanpa membongkar aib suaminya:"Saudaramu Abu Darda' tidak butuh dengan dunia (ia sibuk beribadah terus)."🌷 Teguran Salman & Keputusan Nabi ﷺ:Salman menginap dan mendapati Abu Darda' berpuasa di siang hari serta shalat malam terus-menerus tanpa memedulikan hak istrinya.Keesokan harinya, Salman menasihati Abu Darda' dengan kalimat yang sangat terkenal:"Sesungguhnya Rabbmu punya hak, dirimu punya hak, tamumu punya hak, dan istrimu punya hak. Maka berikanlah masing-masing haknya."Ketika Abu Darda' mengadu kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Salman telah benar."🌻 Wafatnya:Abu Darda' dipanggil ke Damaskus untuk mengajarkan Al-Qur'an dan diangkat menjadi hakim (qadi).Ummu Ad-Darda' Al-Kubra wafat terlebih dahulu di Damaskus sekitar tahun 30 Hijriah (pada masa Khalifah Utsman bin Affan, sekitar 2 tahun sebelum suaminya wafat pada tahun 32 H).🪻 2. Ummu Ad-Darda' Ash-Shugra (Junior) — Hujaimah binti Huyai Al-Washabiyah🍃 Latar Belakang & Silsilah: Berasal dari Yaman, kemudian tinggal di Syam (Damaskus). Beliau adalah seorang tabi'iyyah (orang yang tidak bertemu Nabi ﷺ, tetapi bertemu dengan para sahabat dalam keadaan Islam). Beliau dikenal sangat faqih (ahli fikih), alim, ahli ibadah, cerdas, cantik jelita, dan banyak meriwayatkan hadis dari suaminya (Abu Darda').🌾 Dahulu beliau adalah anak yatim piatu yang dipelihara oleh Abu Darda' dan Ummu Ad-Darda' senior. Ia tumbuh di bawah didikan Abu Darda', sering ikut belajar di majelis Al-Qur'an, hingga akhirnya dinikahi oleh Abu Darda' setelah dewasa.🌷 Menolak Lamaran Gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan:Setelah Abu Darda' wafat, Ummu Ad-Darda' junior hidup lama hingga wafat sekitar tahun 81 Hijriah.Karena kecantikan dan kedudukannya yang mulia, beliau sempat dilamar oleh Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Syam sekaligus Khalifah saat itu). Namun, beliau dengan tegas menolak lamaran tersebut dan berkata:"Aku pernah mendengar suamiku (Abu Darda') menceritakan sabda Nabi ﷺ bahwa wanita di surga akan bersama suaminya yang terakhir. Dan aku tidak mau mencari pengganti selain Abu Darda'."🌸 Akhlak & Penghormatan kepada Suami: Dalam riwayat Sahih Muslim, Ummu Ad-Darda' selalu menyebut suaminya dengan sebutan "Sayyidi" (tuanku/pemimpinku) ketika meriwayatkan hadis, menunjukkan betapa besar rasa hormat dan takzimnya kepada suami.🪴 Kehidupan Ilmiah, Zikir, & Keberanian Menasihati Pemimpin:Majelis Ilmu: Dihadiri oleh para ulama tabiin hingga Khalifah Abdul Malik bin Marwan.Ahli Zikir: Hari-harinya dipenuhi dengan zikir kepada Allah; beliau menyatakan tidak ada hal yang paling menyenangkan dan memuaskan dadanya selain berzikir kepada Allah.Menegur Penguasa: Pernah dengan berani menegur Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang melaknat pembantunya, dengan mengingatkan sabda Nabi ﷺ bahwa orang yang suka melaknat tidak akan bisa memberi syafaat di hari kiamat.🌱 3. Pelajaran & Faedah PentingPentingnya Keseimbangan Hak dalam Islam: Ibadah sunnah tidak boleh melalaikan hak keluarga, khususnya hak istri. Suami wajib adil membagi waktu antara ibadah, istirahat, melayani tamu, dan memberikan hak kepada istri (sebagaimana nasihat Salman Al-Farisi).Kesetiaan Istri yang Salihah: Potret Ummu Ad-Darda' junior menunjukkan ketulusan cinta dan kesetiaan yang luar biasa kepada suami, hingga menolak pinangan seorang penguasa demi tetap bersama suaminya di surga kelak.Penghormatan Istri kepada Suami: Menghormati suami adalah wujud ketaatan kepada Allah, yang turut membangun kewibawaan suami di dalam rumah tangga serta memberikan teladan positif bagi pendidikan anak-anak.Menyibukkan Diri dengan Zikir dan Ilmu: Meneladani Ummu Ad-Darda' yang mengisi sisa umurnya dengan majelis ilmu, zikir kepada Allah, dan amal saleh sebagai bekal terbaik menghadapi kehidupan akhirat.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
E
Endah elfian ari

📍 Kota Bogor

#34 KISAH 2 UMMU DARDA

Oleh Ust. Dr. Firanda Andirja M.AKajian ini membahas kisah teladan dua istri sahabat Nabi, Abu Darda radhiallahu 'anhu, yang keduanya dikenal dengan nama Ummu Darda. Berikut adalah poin-poin utama dari kajian tersebut:1. Dua Sosok Ummu DardaAbu Darda memiliki dua istri yang masing-masing memiliki peran dan keutamaan tersendiri:Ummu Darda al-Kubra (Senior): Beliau adalah seorang sahabiyah bernama Khairah bintu Abi Hadrad al-Aslami. Beliau sempat bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beriman, dan meriwayatkan hadis dari beliau.Ummu Darda as-Sughra (Junior): Beliau adalah seorang tabi'iyah bernama Hujaimah bintu Huyai al-Washabiyah. Beliau tidak bertemu Nabi, namun bertemu dengan para sahabat. Beliau adalah seorang wanita yang sangat ahli fikih, berilmu luas, dan dikenal memiliki kecerdasan serta ketakwaan yang tinggi.2. Kisah Salman al-Farisi dan Abu DardaSalman al-Farisi yang merupakan saudara angkat Abu Drada memberi nasihat kepada Abu Darda. Salman mendapati istri Abu Darda dalam kondisi berpakaian kurang rapi karena Abu Darda yang terlalu sibuk beribadah (puasa di siang hari dan salat di malam hari) hingga mengabaikan hak istrinya. Salman memberikan nasihat emas yang kemudian dibenarkan oleh Nabi:> "Sesungguhnya bagi tubuhmu ada hak, bagi Tuhanmu ada hak, bagi tamumu ada hak, dan bagi keluargamu ada hak. Maka berikanlah hak-hak tersebut kepada pemiliknya."3. Keteladanan Ummu Darda as-SughraHujaimah adalah anak yatim yang dipelihara oleh Abu Darda. Beliau dididik langsung oleh suaminya sejak kecil, diajarkan al-Qur'an dan ilmu agama, hingga akhirnya dinikahi oleh Abu Darda.Kesetiaan yang Luar Biasa: Setelah Abu Darda wafat, Ummu Darda menolak lamaran Muawiyah bin Abi Sufyan (seorang Gubernur/Khalifah yang terpandang). Beliau memilih tetap setia karena memegang hadis bahwa wanita di surga akan bersama dengan suaminya yang terakhir di dunia.Penghormatan kepada Suami: Dalam riwayat Sahih Muslim, Ummu Darda menyebut suaminya dengan sebutan "Sayyidi" (tuanku/pemimpinku). Ini menunjukkan adab dan rasa hormat yang sangat tinggi dari seorang istri kepada suaminya.Ahli Ibadah dan Ilmu: Beliau dikenal sebagai wanita yang sangat gemar berzikir. Ketika murid-muridnya merasa khawatir beliau bosan berzikir, beliau justru menyatakan bahwa tidak ada ibadah yang paling menyejukkan hatinya selain berzikir kepada Allah. Beliau pun rutin mengadakan majelis ilmu di Damaskus dan Baitul Maqdis.4. Pelajaran Penting untuk Rumah TanggaKeseimbangan Hak: Setiap individu harus menyeimbangkan antara hak Allah, hak diri sendiri, dan hak keluarga. Ibadah yang berlebihan hingga melalaikan kewajiban kepada pasangan tidak dibenarkan.Menjaga Harga Diri Pasangan: Ummu Darda adalah contoh istri yang mampu menjaga kehormatan suaminya. Ketika ditanya tentang kondisi suaminya, beliau tidak membuka aib, melainkan menjawab dengan bahasa yang santun.Membangun Komunikasi: Suami-istri harus saling menenangkan. Jika satu pihak sedang marah, pihak lain menyenangkan.-endah ea-

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
E

Exa Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Kisah Ummu Ad-Darda' - Ustadz Firanda Andirja

Kisah Ummu DardaDua wanita shalihah yang sama-sama dikenal dengan nama Ummu Darda, yaitu Ummu Darda Al-Kubra (senior) dan Ummu Darda Ash-Shughra (junior). Keduanya merupakan teladan dalam ilmu, ibadah, kesetiaan kepada suami, dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Mengenal Dua Ummu DardaUmmu Darda Al-Kubra* Nama beliau Khairah binti Abi Hadrad Al-Aslami.* Termasuk sahabiyah karena pernah bertemu dan beriman kepada Rasulullah ﷺ.* Seorang wanita shalihah, berilmu, dan meriwayatkan hadis.* Wafat sekitar tahun 30 Hijriah, dua tahun sebelum Abu Darda.Ummu Darda Ash-Shughra* Nama beliau Hujaimah binti Huyay Al-Washabiyah.* Termasuk tabi'iyah karena tidak bertemu Rasulullah ﷺ, tetapi bertemu para sahabat.* Dikenal sebagai wanita yang fakih, alim, ahli ibadah, cantik, dan memiliki kecerdasan serta wawasan luas.* Wafat sekitar tahun 81 Hijriah atau setelahnya.Kisah Salman Al-Farisi dan Abu DardaRasulullah ﷺ mempersaudarakan Salman Al-Farisi dengan Abu Darda.Suatu hari Salman mengunjungi rumah Abu Darda dan mendapati Ummu Darda berpakaian tidak rapi. Ketika ditanya, beliau menjawab bahwa Abu Darda tidak terlalu membutuhkan dunia.Salman kemudian memperhatikan kebiasaan Abu Darda. Ternyata Abu Darda terlalu berlebihan dalam beribadah:* Siang hari berpuasa.* Malam hari sibuk salat malam.* Kurang memperhatikan hak istrinya.Salman kemudian menasihatinya:* Dirimu memiliki hak atas dirimu.* Allah memiliki hak atas dirimu.* Tamu memiliki hak atas dirimu.* Istrimu juga memiliki hak atas dirimu.Maka berikanlah setiap orang haknya.Ketika hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda bahwa Salman benar.Pelajaran:* Ibadah tidak boleh membuat seseorang melalaikan kewajiban terhadap keluarga.* Suami wajib memperhatikan hak istri, termasuk kebutuhan kasih sayang dan kedekatan.* Menasihati rumah tangga orang lain harus dilakukan dengan bijaksana.* Keseimbangan antara ibadah dan tanggung jawab keluarga sangat penting.Ummu Darda Ash-Shughra: Wanita yang Tumbuh Bersama IlmuUmmu Darda Ash-Shughra sejak kecil merupakan anak yatim yang diasuh oleh Abu Darda dan Ummu Darda Al-Kubra.Beliau sejak kecil:* Belajar Al-Qur'an bersama Abu Darda.* Sering mengikuti majelis ilmu.* Bahkan ketika masih kecil, terkadang ikut berada di saf laki-laki.* Setelah mulai besar, Abu Darda mengarahkannya untuk belajar bersama para wanita.Setelah dewasa, beliau dinikahi oleh Abu Darda.Beliau kemudian menjadi wanita berilmu dan memiliki banyak murid. Banyak ulama tabi'in meriwayatkan ilmu dan hadis darinya.Pelajaran: Pendidikan agama sebaiknya dimulai sejak anak masih kecil. Kesabaran dalam mendidik akan membuahkan kebaikan di kemudian hari.Kesetiaan Ummu Darda kepada SuaminyaSetelah Abu Darda wafat, Ummu Darda Ash-Shughra masih hidup selama puluhan tahun.Karena dikenal cantik dan shalihah, beliau pernah dilamar oleh Muawiyah radhiyallahu 'anhu.Namun, beliau menolak lamaran tersebut karena sangat mencintai Abu Darda.Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang wanita di surga akan bersama suaminya yang terakhir.Beliau tidak ingin mencari pengganti selain Abu Darda.Bahkan ketika Abu Darda menjelang wafat, Ummu Darda berkata bahwa beliau ingin tetap menjadi istrinya di akhirat.Pelajaran:* Kesetiaan dan kecintaan kepada pasangan merupakan salah satu gambaran indah rumah tangga para wanita shalihah.* Kebahagiaan rumah tangga tidak harus dibangun dengan kemewahan.* Cinta, kesederhanaan, dan kebersamaan dalam ketaatan jauh lebih berharga.Menghormati dan Memuliakan SuamiSalah satu bentuk penghormatan Ummu Darda kepada suaminya adalah ketika meriwayatkan hadis beliau menggunakan ungkapan:Haddatsani Sayyidi — Tuanku telah menyampaikan hadis kepadaku.Yang dimaksud dengan tuanku adalah Abu Darda, suaminya sendiri.Imam Nawawi menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan bentuk penghormatan dan pemuliaan seorang istri terhadap suaminya.Pelajaran:* Istri shalihah menjaga kehormatan suaminya.* Menghormati suami bukan berarti tidak boleh menasihati ketika suami melakukan kesalahan.* Sikap seorang ibu dalam menghormati ayah berpengaruh terhadap cara anak-anak memandang dan menghormati ayahnya.* Ketaatan kepada suami merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala selama dalam perkara yang ma'ruf.Semangat Ummu Darda dalam Menuntut dan Mengajarkan IlmuUmmu Darda memiliki majelis ilmu yang dihadiri banyak orang, termasuk para tabi'in dan khalifah Abdul Malik bin Marwan.Beliau mengajar di Damaskus dan Baitul Maqdis.Salah satu muridnya, Aun bin Abdullah, pernah merasa khawatir bahwa kegiatan zikir bersama akan membuat beliau bosan.Namun, Ummu Darda menjawab bahwa beliau telah mencari berbagai bentuk ibadah dan tidak menemukan sesuatu yang lebih menenangkan hati daripada berzikir kepada Allah.Pelajaran:* Zikir merupakan ibadah yang menenangkan hati.* Wanita shalihah menjadikan majelis ilmu dan zikir sebagai bagian dari kehidupannya.* Jangan sampai waktu habis untuk kegiatan dan pergaulan yang tidak bermanfaat.* Sisihkan waktu untuk membaca Al-Qur'an, berzikir, dan beribadah.Nasihat-Nasihat Ummu DardaBeberapa nasihat beliau yang sangat berharga:A. Terimalah pemberian dengan baikJika seseorang memberikan rezeki atau hadiah, terimalah apabila tidak ada alasan yang melarangnya.Jika tidak membutuhkan, berikan kepada orang lain. Jika membutuhkan, manfaatkan untuk membantu ketaatan kepada Allah.B. Jangan lupa berzikir ketika makanBeliau mengingatkan murid-muridnya agar tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga mengiringinya dengan zikir dan pujian kepada Allah.C. Ajarkan hikmah kepada anak sejak kecilBeliau berkata agar hikmah dipelajari ketika masih muda sehingga dapat diamalkan ketika dewasa.Orang tua hendaknya membiasakan anak mendengar nasihat dan perkataan yang baik sejak dini.D. Jangan mudah marah ketika dicelaKetika diberitahu bahwa ada orang yang mencelanya, Ummu Darda justru mengatakan bahwa beliau sering dikaitkan dengan perkara yang tidak pernah dilakukannya.Beliau tidak mudah terpancing emosi dan menunjukkan kebersihan hatinya.Berani Menasihati PemimpinSuatu ketika, khalifah Abdul Malik bin Marwan mengirimkan hadiah kepada Ummu Darda. Karena pembantunya terlambat, khalifah melaknat pembantunya.Ummu Darda kemudian menasihati khalifah dengan menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ bahwa orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat maupun saksi bagi orang lain pada hari kiamat.Pelajaran:* Jangan membiasakan lisan dengan laknat dan ucapan buruk.* Orang berilmu hendaknya berani menyampaikan kebenaran.* Nasihat harus diberikan dengan landasan ilmu dan dalil.Membela Kehormatan Sesama MuslimUmmu Darda meriwayatkan hadis dari Abu Darda bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan orang yang membela kehormatan saudaranya.Barang siapa membela kehormatan saudaranya ketika ada orang yang menghinanya, Allah akan melindungi wajahnya dari api neraka pada hari kiamat.Pelajaran: Jangan diam ketika melihat saudara Muslim digunjing atau direndahkan. Belalah kehormatannya dengan cara yang baik dan benar.Nasihat dalam Menghadapi Perselisihan Rumah TanggaNasihat Abu Darda kepada istrinya:Jika istrinya marah, beliau akan berusaha menyenangkan dan menenangkannya. Begitu pula ketika beliau marah, istrinya hendaknya berusaha menenangkannya.Sebab, jika keduanya sama-sama mempertahankan kemarahan, rumah tangga bisa berujung pada perpisahan.Pelajaran:* Jangan membalas kemarahan dengan kemarahan.* Salah satu pasangan perlu berusaha menenangkan keadaan.* Mengalah demi kebaikan rumah tangga bukanlah kehinaan.* Jaga komunikasi dan saling memahami.### Hikmah Utama dari Kisah Ummu Darda* Menjadi istri shalihah: Menghormati suami, menjaga kehormatannya, dan memperhatikan hak-haknya.* Mencintai ilmu: Belajar agama sejak kecil dan mengajarkannya kepada orang lain.* Memperbanyak ibadah: Mengisi waktu dengan Al-Qur'an, zikir, dan amal kebaikan.* Menjaga lisan: Tidak mudah mencela, melaknat, atau membicarakan keburukan orang lain.* Menjaga persaudaraan: Membela kehormatan sesama Muslim.* Bijaksana dalam rumah tangga: Menjaga keseimbangan antara ibadah, keluarga, dan kehidupan sosial.* Mempersiapkan akhirat: Mengurangi kesibukan yang tidak bermanfaat dan memperbanyak bekal untuk bertemu Allah.Penutup:Kisah Ummu Darda mengajarkan bahwa wanita shalihah bukan hanya wanita yang rajin beribadah, tetapi juga wanita yang berilmu, menjaga kehormatan suami, mencintai akhirat, menjaga lisannya, dan memberikan manfaat bagi orang lain.Jangan sampai usia terus bertambah, tetapi waktu kita habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.Perbanyaklah zikir, membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita wanita-wanita yang shalihah, sebagaimana teladan Ummu Darda radhiyallahu 'anha. Aamiin.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →