Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)
Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 8Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Dzikru Talbisi Iblisa 'ala al-'Ubbad) Bag 2I. Mukaddimah: Kebodohan sebagai Akar Segala WaswasAl-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala menegaskan sebuah kaidah utama dalam bab ini:"Pintu terbesar yang dimasuki Iblis untuk mengelabui manusia adalah kebodohan (al-jahl). Iblis dapat mendatangi orang-orang bodoh dengan sangat mudah dan aman. Sebaliknya, jika Iblis ingin menggoda seorang alim (orang yang berilmu), ia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan mencuri-curi kesempatan."Iblis sukses menyesatkan banyak ahli ibadah justru karena minimnya ilmu agama yang mereka miliki. Mayoritas ahli ibadah menghabiskan waktu untuk melakukan ritual fisik tanpa bimbingan ilmu syar'i. Oleh karena itu, seorang tabi'in senior, Rabi' bin Khutsaim, memberikan nasihat: "Tafaqqah taziil (Belajarlah ilmu fikih terlebih dahulu, baru setelah itu engkau silakan menyendiri untuk fokus beribadah)." Jika seseorang mengisolasi diri untuk beribadah tanpa ilmu, ia berada dalam bahaya besar karena Iblis tidak akan membiarkannya beribadah dengan benar.II. Keutamaan Ilmu di Atas Ibadah SunnahKerancuan pertama (talbis) yang dibisikkan Iblis kepada ahli ibadah adalah membuat mereka mendahulukan amalan sunnah (nawafil) daripada menuntut ilmu, padahal kedudukan ilmu jauh lebih utama. Iblis menipu mereka dengan logika: "Tujuan ilmu adalah amal, jadi langsung saja lakukan amalnya tanpa perlu membuang waktu menuntut ilmu."Ibnul Jauzi membantah hal ini dengan menjelaskan bahwa kaum ahli ibadah yang bodoh mengira amalan itu hanyalah sebatas gerakan anggota tubuh lahiriah (amalan jawarih). Mereka tidak menyadari bahwa amalan yang paling agung adalah amalan hati (amalul qalb), seperti meluruskan akidah, mengenal sifat-sifat Allah, serta memupuk keimanan. Amalan hati ini kedudukannya jauh lebih tinggi daripada amalan fisik dan hanya bisa diraih melalui jalur menuntut ilmu. Semangat beribadah tanpa ilmu adalah karakteristik kaum Nasrani yang tersesat (Ad-Dhallin).Atsar Para Salaf tentang Ilmu:Mutarrif bin 'Abdillah bin Asy-Syiikhir berkata: "Keutamaan ilmu itu jauh lebih baik daripada keutamaan ibadah." * Yusuf bin Asbath berkata: "Satu bab ilmu yang engkau pelajari dengan benar, itu lebih baik daripada engkau mengikuti 70 kali peperangan (jihad)."Al-Mu'afa bin 'Imran berkata: "Menulis satu hadis Nabi lebih aku sukai daripada melakukan shalat malam semalam suntuk."III. Talbis Iblis dalam Urusan Thaharah (Bersuci) & WuduKetika ahli ibadah mencampakkan ilmu, Iblis dengan sangat mudah merancukkan pemikiran mereka dalam berbagai praktik thaharah harian melalui penyakit waswas:A. Waswas Saat Buang HajatIblis membisikkan rasa waswas saat buang air kecil. Ada orang yang melakukan gerakan berlebihan seperti berdiri, berjalan, berdeham dengan keras, hingga menghentakkan kaki secara bergantian dengan asumsi agar sisa air kencingnya keluar semua. Tindakan melampaui batas ini justru memicu penyakit waswas. Secara syariat, seseorang cukup membersihkan kemaluannya dengan mengurutnya secara lembut, lalu menyiramnya dengan air tanpa perlu melompat-lompat.B. Waswas dalam Penggunaan Air & Istinja'Iblis menghiasi pikiran sebagian orang bahwa menggunakan air dalam jumlah banyak secara berlebihan itu lebih bagus. Padahal, jika najis sudah hilang, pembasuhan sudah dihukum suci. Begitu pula dalam urusan istinja' menggunakan batu (istijmar). Jika kotoran keluar secara normal di area lubang dubur, cukup dibersihkan dengan 3 buah batu. Menggunakan batu secara berlebihan hingga 21 batu adalah tindakan tidak mengikuti sunnah Nabi ﷺ.C. Keraguan Terhadap Kesucian Air & TempatBanyak orang terjebak dalam asumsi tanpa bukti: "Jangan-jangan tempat ini najis, jangan-jangan air ini kemasukan tikus." Di dalam ilmu kaidah fikih, berlaku aturan baku: Hukum asal dari air dan segala tempat adalah suci. Keyakinan yang telah pasti tidak boleh digugurkan hanya karena adanya keraguan (Al-Yaqinu la Yazulu bis-Syakk). Jika Anda bertamu ke rumah orang lain, shalatlah di atas lantainya tanpa perlu ragu, kecuali jika mata Anda melihat langsung atau hidung Anda mencium bau najis di tempat tersebut.D. Empat Perkara yang Dibenci Akibat Waswas Air:Seseorang yang berwudu secara berlebihan hingga menghabiskan air dalam jumlah besar telah mengumpulkan 4 perkara yang dibenci syariat:Tabzir: Boros dalam penggunaan air (makruh meskipun berwudu di sungai yang mengalir).Menghabiskan Umur: Menyia-nyiakan waktu yang berharga untuk perkara yang tidak wajib dan tidak pula disunnahkan di dalam kamar mandi.Melampaui Batas Syariat: Merasa tidak nyaman dengan batas minimal yang ditetapkan oleh syariat.Menyelisihi Sunnah: Melanggar batasan mencuci anggota wudu lebih dari tiga kali. Akibat wudu yang terlalu lama ini, mereka sering kali luput dari Takbiratul Ihram bersama imam atau kehilangan jamaah shalat.Nabi ﷺ pernah memperingatkan bahwa akan datang suatu kaum dari umatnya yang melampaui batas dalam dua hal: dalam berdoa dan dalam bersuci. Iblis juga menugaskan setan khusus yang bernama Walhan untuk meniupkan rasa waswas pada manusia dalam urusan wudu.IV. Talbis Iblis dalam Niat Shalat & Takbiratul IhramA. Fenomena Waswas Lafal NiatIblis menggoda orang shalat melalui pelafalan niat (ushalli). Orang yang terkena waswas akan terus mengulang-ulang kalimat niatnya karena merasa niat sebelumnya telah batal atau lafalnya salah. Mereka bersusah payah merangkai kata secara detail di lisan (Ushalli fardhal zuhri arba'a raka'atin...).Ibnul Jauzi menegaskan bahwa niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan. Keinginan dan kesadaran Anda berdiri untuk menjalankan shalat fardu menghadap kiblat itulah yang dinamakan niat, dan itu terkumpul dalam hati dalam satu waktu (lahzah) tanpa perlu diuraikan secara mekanis lewat lisan. Seluruh fuqaha sepakat bahwa melafalkan niat bukanlah sunnah Nabi ﷺ dan tidak pula wajib.B. Mengulang-ulang Takbiratul IhramAda orang yang bertakbir "Allahu Akbar", lalu membatalkannya, dan mengulangnya kembali berkali-kali. Anehnya, ketika imam sudah hendak rukuk, orang yang waswas ini tiba-tiba bisa takbir dengan lancar tanpa ragu karena takut kehilangan rakaat. Ini adalah bukti nyata bahwa waswas tersebut hanyalah permainan Iblis untuk menggugurkan pahala keutamaan Takbiratul Ihram di awal shalat. Saking parahnya penyakit ini, sebagian orang sampai bersumpah dengan nama Allah, menjanjikan seluruh hartanya, bahkan mengancam mencerai-ceraikan istrinya jika mereka mengulang takbir lagi.C. Kisah Ketegasan Para Ulama Terhadap WaswasKisah Abu Hazim: Ketika masuk ke dalam masjid, Iblis membisikkan rasa waswas ke dalam hatinya: "Sesungguhnya engkau shalat tanpa wudu." Abu Hazim langsung menepisnya dengan cerdas: "Sejak kapan engkau mulai peduli dan memberikan nasihat kebaikan kepadaku, wahai Iblis?"Kisah Ibnu 'Aqil: Seseorang mengadu kepada Ibnu 'Aqil: "Aku telah membasuh anggota wuduku dan bertakbir, namun perasaanku mengatakan aku belum membasuh dan belum bertakbir." Ibnu 'Aqil menjawab tegas: "Kalau begitu, engkau tidak wajib shalat." Orang-orang heran dengan jawaban itu, maka Ibnu 'Aqil menjelaskan: "Nabi ﷺ bersabda bahwa pena syariat diangkat dari orang gila sampai ia sadar. Barangsiapa yang sudah bertakbir secara nyata lalu akalnya mengatakan ia belum bertakbir, maka ia adalah orang yang kehilangan akal (gila), dan orang gila tidak wajib shalat."Ibnul Jauzi menyimpulkan: "Al-waswasatu sababuha khalalun fil-'aqli wa jahlun bis-syar'i" (Sesungguhnya penyakit waswas itu disebabkan oleh adanya gangguan pada akal dan kebodohan terhadap syariat).V. Atsar Para Sahabat terhadap Sikap Berlebihan (Mutanatti'un)Mis'ar meriwayatkan dari Man bin 'Abdurrahman, dari catatan tangan ayahnya, bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu bersabda:"Demi Dzat yang tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Dia, aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas dan keras terhadap orang-orang yang mempersulit diri (mutanatti'un) melebihi Rasulullah ﷺ. Dan aku tahu Abu Bakar adalah orang yang sangat khawatir terhadap mereka, serta Umar bin Khattab adalah manusia yang paling keras di atas muka bumi terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beragama."Sebagian orang yang waswas, apabila mereka berhasil meluruskan takbir dan niatnya sesuai standar waswas mereka, mereka akan mendadak santai dan mengabaikan kekhusyukan sisa shalatnya. Seolah-olah inti dari shalat hanyalah mempaskan takbir. Padahal, takbir hanyalah pintu masuk. Shalat ibarat sebuah rumah; jangan sampai Anda menghabiskan seluruh energi hanya untuk berdiri di depan pintu lalu melalaikan keindahan di dalam rumah tersebut.VI. Salah Skala Prioritas saat MasbukIblis mengelabui orang yang tertinggal shalat jamaah (masbuk). Ketika ia mendapati imam sudah hampir selesai membaca surat dan bersiap rukuk, ia takbir lalu sibuk membaca doa istifttah dan ta'awwudz yang panjang. Akibatnya, imam keburu rukuk dan ia kehilangan kesempatan membaca Al-Fatihah.Ini adalah bentuk kesalahan skala prioritas akibat kebodohan fikih. Doa istifttah dan ta'awwudz hukumnya adalah sunnah, sedangkan membaca Al-Fatihah adalah kewajiban (wajib/rukun) bagi makmum menurut mayoritas ulama. Maka, mendahulukan amalan sunnah hingga melalaikan amalan wajib adalah bagian dari tipuan Iblis.Ibnul Jauzi mengisahkan pengalamannya saat masih kecil ketika shalat di belakang gurunya, seorang ahli fikih bernama Abu Bakar Ad-Dinari. Sang guru melihat Ibnul Jauzi kecil melakukan hal tersebut saat masbuk, lalu menegurnya:"Wahai anakku, sesungguhnya para ahli fikih berselisih tentang wajibnya membaca Al-Fatihah bagi makmum di belakang imam, namun mereka semua sepakat bahwa doa istifttah itu hukumnya hanyalah sunnah. Oleh karena itu, sibukkan dirimu dengan perkara yang wajib dan tinggalkan perkara yang sunnah jika waktunya sempit."VII. Meninggalkan Sunnah karena Alasan Psikologis PribadiIblis juga menipu sebagian ahli ibadah untuk meninggalkan sunnah Nabi ﷺ demi menuruti perasaan atau kondisi psikologis pribadi mereka sendiri:Sengaja Mundur dari Saf Pertama: Ada orang yang sengaja memilih shalat di saf belakang meskipun saf pertama masih kosong. Alasan mereka: "Aku ingin hatiku lebih fokus dan aku takut tertimpa penyakit riya jika shalat di depan." Ini adalah logika yang keliru. Kewajiban seorang muslim adalah menjalankan sunnah di saf pertama, lalu melawan penyakit riya di dalam hatinya, bukan justru menyerah kalah dengan cara mundur ke saf belakang.Sengaja Tidak Bersedekap: Ada orang yang shalat tanpa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap) dengan alasan: "Aku khawatir jika aku bersedekap, aku akan terlihat seperti orang yang khusyuk, padahal hatiku tidak khusyuk." Niatnya mungkin terdengar jujur, namun tindakan ini menyelisihi sunnah. Nabi ﷺ pernah melihat Ibnu Mas'ud keliru meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan, lalu Nabi ﷺ langsung memegang dan memperbaiki posisi tangan Ibnu Mas'ud agar bersedekap dengan benar.Ketika Ahmad bin Hanbal diberitahu bahwa Abdullah ibnul Mubarak memiliki pendapat atau perilaku tertentu yang menyelisihi sunnah karena alasan pribadi, Imam Ahmad menegaskan: "Ibnu Mubarak tidak turun dari langit (ia bisa keliru). Yang menjadi hujah bagi kita adalah dalil syariat, bukan figur individu saleh." Ibrahim bin Adham juga mengingatkan umat agar selalu berpegang teguh pada jalan asal (al-asl), yaitu dalil syar'i, bukan mengikuti jalan-jalan tikus (ijtihad pribadi yang keliru).VIII. Talbis Iblis dalam Urusan Tajweed & Formalisme RitualA. Berlebihan dalam Makharijul HurufIblis menggelincirkan sebagian orang dalam urusan membaca Al-Qur'an saat shalat. Mereka terlalu terobsesi pada keabsahan makhraj dan penekanan tasydid secara berlebihan. Ibnul Jauzi menceritakan: "Sungguh aku pernah melihat ada orang yang mengucapkan lafal 'Waladh-Dhallin' dengan penekanan huruf Dhad yang begitu ekstrem hingga air liurnya keluar berhamburan." Sikap berlebihan ini membuat fokus pikiran mereka tersita habis hanya untuk memikirkan teknis makhraj huruf, sehingga hati mereka benar-benar kosong dari mentadabburi makna agung ayat yang sedang mereka baca. Tajweed adalah sarana untuk memperindah bacaan, bukan tujuan utama yang merusak kekhusyukan shalat.B. Salam Tanpa Menyelesaikan TasyahudIblis menipu sebagian orang untuk melakukan formalisme ritual tanpa pemahaman. Ketika imam mengucapkan salam, mereka langsung terburu-buru ikut mengucapkan salam, padahal bacaan tasyahud akhir dan selawat wajib mereka belum selesai dibaca. Bacaan wajib shalat tidak ditanggung oleh imam jika makmum sengaja meninggalkannya. Selesaikan bacaan tasyahud akhir Anda terlebih dahulu, baru kemudian menyusul salam di belakang imam.IX. Ketimpangan Ibadah Malam (Tahajjud) vs Shalat Fardhu (Subuh)Iblis menipu sebagian ahli ibadah untuk menghabiskan seluruh malamnya dengan begadang melakukan shalat tahajjud dan zikir. Akibatnya, menjelang waktu subuh, tubuh mereka kelelahan dan mereka ketiduran hingga luput dari shalat subuh berjamaah di masjid, atau shalat subuh dalam kondisi mengantuk berat dan malas.Pahala shalat fardu berjamaah jauh lebih besar dan lebih dicintai oleh Allah daripada shalat malam semalaman suntuk. Menghidupkan sunnah dengan cara menghancurkan kewajiban adalah bentuk nyata dari talbis Iblis.Ibnul Jauzi mengisahkan seorang ahli ibadah bernama Husain Al-Qazwini yang berjalan terus di siang hari di dalam Masjid Al-Mansur. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab: "Aku sengaja berjalan terus agar tubuhku tidak tertidur." Ibnul Jauzi menyebut ini sebagai kebodohan yang menyelisihi syariat dan akal. Tubuh manusia memiliki hak untuk beristirahat. Rasulullah ﷺ bersabda:"Hendaknya kalian menempuh jalan yang tengah (moderat). Karena sesungguhnya barangsiapa yang memaksakan diri berlebih-lebihan dalam urusan agama, maka agama ini pasti akan mengalahkannya."Dalil-Dalil Larangan Memaksakan Diri dalam Ibadah:Hadis Tali Zainab: Rasulullah ﷺ melihat ada tali yang membentang di antara dua tiang masjid milik Zainab untuk dijadikan pegangan saat tubuhnya kelelahan shalat malam. Nabi ﷺ memerintahkan: "Lepas tali itu! Hendaknya salah seorang dari kalian shalat di waktu semangatnya. Jika ia lelah atau malas, hendaknya ia shalat dalam posisi duduk."Hadis Larangan Shalat Saat Mengantuk: Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat, hendaknya ia pergi tidur sampai hilang rasa kantuknya. Karena jika ia memaksa shalat saat mengantuk, bisa jadi ia berniat meminta ampunan namun lisannya justru mencaci-maki dirinya sendiri tanpa sadar."Metode Tidur Nabi Daud: Sebaik-baik metode ibadah malam adalah metode Nabi Daud alaihis salam, yaitu tidur pada setengah malam pertama, bangun menghidupkan sepertiga malam, dan tidur kembali pada seperenam malam terakhir, sehingga saat subuh tiba fisik berada dalam kondisi segar.Jika ada riwayat yang menyatakan sebagian ulama salaf shalat semalam suntuk, hal itu dilakukan melalui proses latihan bertahap selama bertahun-tahun (tadarruj), dan mereka dibantu oleh kebiasaan tidur siang (qailulah) serta porsi makan yang sangat sedikit, sehingga mereka dijamin tidak akan melalaikan shalat subuh berjamaah. Namun secara mutlak, petunjuk dan sunnah Rasulullah ﷺ yang tetap membagi waktu malamnya untuk tidur adalah mutiara terbaik yang wajib diikuti.X. Fitnah Menceritakan Amal (Tahadduts bil-'Amal) & Riya dalam TangisanA. Riya yang Terselubung (Smug Riya)Iblis melancarkan tipuan yang sangat halus kepada orang-orang yang rajin shalat malam. Pada siang harinya, Iblis menggoda mereka untuk membocorkan amalan malamnya kepada orang lain melalui lisan mereka secara terselubung.Misalnya, seseorang berkata di dalam sebuah majelis: "Masya Allah, muadzin subuh di masjid itu tadi malam mengumandangkan azan tepat pada waktunya." Niat batinnya mengucapkan kalimat itu adalah agar orang-orang di majelis tahu bahwa dia tidak tidur dan ikut terjaga di sepertiga malam untuk tahajjud.Ada pula yang berkata: "Si Fulan itu kalau shalat subuh tidak pernah bisa mendapatkan Takbiratul Ihram pertama bersama imam, selalu saja terlambat." Kalimat ini mengandung dua dosa sekaligus: Riya terselubung (agar dirinya dipuji selalu shalat subuh di saf terdepan) ditambah dosa Ghibah (menceritakan aib orang lain). Perbuatan menceritakan amal ini akan memindahkan catatan pahala amalan yang semula rahasia di sisi Allah menjadi amalan terang-terangan yang berkurang atau bahkan sirna pahalanya akibat riya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa di antara kalian yang mampu memiliki amalan sholeh yang tersembunyi, maka lakukanlah."B. Talbis dalam Tangisan IbadahIblis juga menyusup melalui air mata. Seseorang yang menangis di dalam shalat di depan banyak orang, jika ia sebenarnya mampu menahan tangisnya namun sengaja melepaskannya agar terlihat khusyuk, maka ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam jurang riya. Lebih parah lagi adalah fenomena tangisan yang dibuat-buat (gimmick) untuk memancing suasana haru jemaah.Para ulama salaf dahulu adalah orang-orang yang paling ketat menyembunyikan tangisannya:Abu Wa'il apabila shalat sendirian di rumahnya akan menangis tersedu-sedu. Namun, jika ia ditawarkan seluruh dunia ini agar ia mau menangis di depan mata orang lain, ia tidak akan pernah mau melakukannya.Ayyub As-Sikhtiyani apabila sedang menyampaikan ilmu lalu hatinya tersentuh dan air matanya hendak mengalir, ia akan segera berdiri atau mengambil kain untuk mengusap wajahnya sambil berkata kepada jemaah: "Aduh, penyakit pilek/flu saya sedang parah sekali hari ini." Beliau berpura-pura sakit flu demi menutupi air mata ikhlasnya agar tidak diketahui oleh manusia dan selamat dari penyakit riya.
















