📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
P
Peni Fauziah Puadah

📍 Kota Bandung

Ringkasan Talbis Iblis 7

"Jangan jadikan akhir quran sebagai tujuanmu, tapi berhentilah pada keajaiban-keajaiban Alquran"Ulama menyebutkan, karena iman itu bertambah dan berkurang, maka tingkatkanlah iman dengan membaca Alquran. Artinya bacaan quran yg dibutuhkan untuk meningkatkan iman adalah yang berkualitas.Alquran itu turun untuk di amalkan. Bagaimana bisa seseorang mengamalkan Alquran tanpa memahaminya lewat tadabbur?Maka tadabbur itu adalah tahapan ke dua setelah kita membaca.Semoga kita terlindung dari talbis iblis yang membisiki kita untuk cepat cepat dalam membaca Alquran tanpa mengetahui maknanya.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 jam lalu
R
Riva Aktivia

📍 Kota Palembang

Talbis iblis 6

Talbis iblis #6 Terhadap ahli ilmu bagian 2 sering mengulang niat karena ragu apakah niatnya batal was-was adalah kebodohan yang disebabkan oleh iblis. 20 berlama-lama mengerjakan ibadah sunnah tapi meninggalkan ibadah yang wajib hanya mengikuti ibadah yang dilakukan ornag soleh tapi tidak mempelajari apakah yang dilakukan oleh orang itu ada syariatnya atau tidak. Riya dalam beribadah, apalagi dizaman sekarang semua hal mudah dishare, sedangkan amal/ibadah yang disembunyikan lebih baik dibanding yang diperlihatkan. beribadah/beramal lalu viral sehingga niatnya yang awalnya ikhlas lama2 jadi berbelok hingga menjadi riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 jam lalu
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 1 Al aqidah Al Wasithiyyah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Dan pada kesempatan kali ini yang akan kita sampaikan adalah tentang biografi dari Mu’allif yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.Dan ini adalah apa yang sudah kita biasakan selama ini sebelum kita membahas sebuah kitab terlebih dahulu kita mengenal siapa pengarang kitab ini, supaya kita juga mengetahui tentang kedudukan kitab ini. Dan di antara faedah yang lain juga ketika kita mempelajari biografi para ulama, apalagi mereka adalah ulama-ulama yang sudah dikenal ketakwaannya, ilmunya, dan telah diambil faedahnya oleh banyak kaum muslimin, maka tentunya di dalam pembacaan biografi mereka ini akan banyak pelajaran yang bisa kita ambil, yang dengannya seseorang akan semakin semangat didalam menuntut ilmu, semakin bersabar apabila mereka membaca tentang kesabaran para ulama didalam menuntut ilmu, dalam mengajarkan ilmu, didalam berdakwah.Maka beliau rahimahullāh, nama beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Al Khadr bin Muhammad bin Al Khadr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Harani. Ada yang mengatakan bahwasanya kenapa beliau dikenal dengan Ibnu Taimiyyah, siapakah Ibnu Taimiyyah, ada yang mengatakan bahwasanya laqab Taimiyyah bahwa kakek beliau yang kelima yaitu Muhammad Ibnu Khadr pernah beliau melakukan haji melalui sebuah daerah yang dinamakan dengan Taima’. Kemudian di sana beliau melihat seorang anak wanita dan ketika beliau pulang kembali mendapatkan bahwasanya istri beliau sudah melahirkan yaitu melahirkan seorang anak wanita. Kemudian beliau mengatakan “Ya Taimiyah! Ya Taimiyah!” menisbahkan anak tersebut kepada Taima’, dan Taima’ ini adalah sebuah daerah dekat Tabuk sehingga dilaqabi dengan Taimiyah.Kemudian beliau dilahirkan pada hari Senin, 10 bulan Rabi’ul Awal pada tahun 661 Hijriyah di Harran, dan Harran ini termasuk daerah Syam. Dan laqob beliau adalah Syaikhul Islām, Syaikhul Islām Taqiyuddin, sehingga terkadang dalam penyebutan beliau sebagian ulama mengatakan qāla Syaikhul Islām atau mengatakan qāla taqiyuddin dan semisalnya atau terkadang menyebutkan kunyah beliau yaitu Abul Abbas, lakoqnya Syaikhul Islām Taqiyuddin dan kunyahnya adalah Abul Abbas.Tentang makna Syaikhul Islām ada yang mengatakan bahwasanya dinamakan Syaikhul Islām, Syaikh itu artinya adalah orang yang sudah tua dan ada yang mengatakan seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah syaikhun fil islām qad syāba, dia adalah orang yang sudah memasuki waktu tua yaitu sebagai seorang yang sudah syaikh yaitu sudah tua dan beliau beda dengan yang lain yaitu beda dengan orang-orang yang sebaya dengan beliau yang biasanya mungkin yang namanya pemuda ini bergelimang dengan syahwatnya dengan nafsunya adapun beliau maka berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain sehingga dinamakan dengan Syaikhul Islām, ada yang mengatakan demikian.Dan ada yang mengatakan bahwasanya seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah tempat kembalinya manusia yaitu dalam bertanya, dalam bertanya tentang hukum-hukum Islam, mereka kembalinya kepada orang tersebut tentunya setelah Allāh ﷻ. Kembali kepada Allāh ﷻ kemudian menjadikan beliau-beliau ini yang dilaqobi oleh manusia oleh para ulama dengan Syaikhul Islām karena ketika ada sesuatu mereka kembali kepada para ulama tadi, bertanya kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai sandaran di dalam bertanya. Ini di antara sebab kenapa dinamakan seseorang sebagai Syaikhul Islām, dan Al-Imam as Syafi’I, Al-imam Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya sudah menggunakan istilah Syaikhul Islām ini sejak dahulu, ini bukan sesuatu yang baru yang ada di zaman Ibnu Tamiyah.Dan tentang keluarga beliau, ini adalah keluarga yang dikenal dengan keluarga ālu Taimiyyah, ālu artinya adalah keluarga, dan kakek dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yaitu Abdus Salam beliau adalah seorang ulama, beliau adalah Abul Barakat Majduddin, termasuk ulama Hanabilah yang dikenal dan diantara karangan-karangan beliau adalah المنتقى من أخبار مصطفى yang di Syarah dan dijelaskan oleh Asy-Syaukani di dalam kitab beliau Nail al-Authar syarh Muntaqa al-Akhbar, yaitu kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Bapak beliau yaitu Abdul Halim, beliau adalah Syihabuddin dan ini laqob beliau, namanya Abdul Halim dan kunyah beliau adalah Abul Mahasin dan beliau menjadi seorang ulama juga setelah bapaknya dan mengajarkan kepada kedua anaknya, kedua anaknya adalah Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abul Abbas kemudian saudara beliau yaitu Abu Muhammad. Saudara Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abu Muhammad ini, beliau juga seorang ulama yang mempelajari mazhab Hanbali dan dikenal dengan kepandaiannya juga di dalam ilmu agama.Jadi kalau kita melihat bapaknya, kakeknya, saudaranya, maka keluarga ini adalah keluarga yang berbarokah yaitu keluarga yang memperhatikan tentang masalah agama, masalah ilmu, dan ini yang seharusnya dilakukan oleh seseorang, bagaimana dia menjadikan keluarga dan mendidik keluarganya ini untuk cinta dengan ilmu agama semenjak mereka masih kecil. Dan tentunya ini semuanya bisa dilakukan kalau kita bisa menjadi qudwah, bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita.Apabila anak-anak kita melihat kita sibuk dengan mendengarkan ceramah, sibuk menulis, sibuk menyampaikan ilmu, maka ini memiliki pengaruh yang besar terhadap anak-anak kita. Tapi kalau kita dilihat oleh anak-anak kita sibuk dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat, menonton sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan bersama-sama dengan mereka maka ini mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan.Diantara guru-guru beliau disebutkan oleh murid beliau yaitu Ibnu Abdil Hadi, bahwasanya guru-guru Syaikhul Islām ini lebih dari 200, di antara guru beliau adalah Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Qudamah al-Maqdisi yang meninggal pada tahun 682 Hijriyah. Kemudian di antara guru beliau adalah Abdus Shomad Ibnu Asyakir ad-Dimasyqi 686 Hijriyah dan disana ada Syamsudin Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qawi al-Mardawi yang meninggal pada tahun 703 Hijriyah.Adapun murid-murid beliau maka telah berguru dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak ulama yang kita insyaAllāh mengenal mereka dan nama-nama mereka tidak asing di telinga kita, ternyata mereka ini adalah murid-murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh. Diantaranya adalah Ibnu Abdil Hadi meninggal tahun 744 Hijriyah, disana ada Adz-Dzahabi 748 hijriyah, di sana ada Ibnul Qoyyim yang meninggal 751 Hijriyah, di sana ada Ibnu Muflih yang mengarang الآداب الشرعية yang meninggal pada tahun 763 Hijriyah, dan di sana ada Ibnu Katsir yang memiliki tafsir Ibnu Katsir, ternyata beliau adalah juga murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah meninggal pada tahun 774 Hijriyah.Ini menunjukkan tentang keberkahan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah bagaimana beliau bisa dengan izin Allāh ﷻ, karunia dari Allāh ﷻ mencetak para ulama-ulama yang mereka mutkin, mumpuni di dalam ilmunya dan dikenal dengan ketakwaannya dan kesungguhannya dalam menyebarkan ilmu, tentunya kita khususnya para du’ad dan juga para thulabul ilm ingin memiliki murid-murid yang demikian, murid-murid yang berbarokah yang menyampaikan ilmu setelahnya, maka kita tiru apa yang dilakukan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Tentunya tidaklah keluar ulama-ulama seperti mereka ini kecuali ketika mereka memiliki qudwah yang baik, memiliki guru yang bisa ditiru dari sisi ilmunya, dari sisi ketakwaannya, dari sisi akhlaknya dan juga perlu seorang guru memperhatikan tentang keikhlasannya dalam mengajarkan ilmu kemudian juga memperhatikan kesungguhannya dalam mengajarkan ilmu.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnyaوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya21 jam lalu
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis iblis materi 6

Talbis IblisMateri 6Talbis iblis terhadap ahli ilmuhttps://youtu.be/-BhEt81ICnY?si=tlEdCiJIjWZoDyZ5Imam ibnul jauzi rahimallahu diantaranya tipu daya muslihat iblis, diantara orang yang tertipu orang yang solatTalbis iblis yang sibuk pada orang yang sibuk dengan yang wajib dan meninggalkan yang sunnahTalbis iblis pada orang yang memajangkan solat, dan meninggalkan perkara sunnahImam Ibnu jauzi rahimallahu diantara ada juga orang yang keluar dari undang undang sesungguhnya ada dari orang yang digoda iblis berlebihanTalbis iblis ada yang menceritakan amal solehTalbis Inlis orang yang membaca Alquran dan dikenal orang yang menyelesaikan bacaan alquran dj mesjid

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 jam lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 51 | Al-Qur’an Diucapkan Allāh Disampaikan Rasulullah dan Diimani oleh Mukmin

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,منه بدا بلا كيفية قولاً، وأنزله على رسوله وحياً،Yaitu Allāh subhanahu wa ta’ala setelah mengucapkan ucapan tadi kemudian didengar oleh Malaikat Jibril maka diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi kita Muhammad ﷺ,۞ إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ ۚ …[QS An Nisa 163]Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan Nabi² setelahnya,Dan Allāh mengatakan۞ …وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُن…[QS Al An’am 19]Dan telah diwahyukan kepadaku Al-Qur’an,Allāh ucapkan kemudian Allāh wahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan perantara Malaikat Jibril sebagaiالملك الموكل بالنفخMalaikat yang ditugaskan oleh Allāh ﷻ untuk menyampaikan wahyuوأنزله على رسوله وحياً، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،Diturunkan kepada Nabi ﷺ dengan amanah disampaikan oleh Malaikat Jibril dan disampaikan dengan amanah oleh Nabi Muhammad ﷺ kemudian oleh orang-orang yang beriman dibenarkan.، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،hu disini kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ yaitu orang² yang beriman mereka membenarkan Nabi ﷺ karena Allāh subhanahu wa ta’ala menyuruh mereka dan mengatakanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِWahai orang² yang beriman hendaklah kalian beriman kepada Allāh dan Rasulnya, percayalah kalian kepada Allāh dan juga RasulNya. Maka merekapun membenarkan tidaklah mereka dikatakan orang² beriman kecuali mereka membenarkan/mengimani/mempercayaiوصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،Dan orang² yang beriman mereka mengimani dengan apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ,۞ آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ..[QS Al Baqarah 285]Rasul beriman apa yang diturunkan kepada beliau yaitu Al-Qur’an, diturunkan kepada beliau dari Allāh dan juga Orang² yang beriman mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ.كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِMasing-masing dari mereka beriman kepada Allāh dan Malaikat²Nya, Kitab²Nya, beriman kepada Rasul² Allāh

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
D
Dwi Susanti

📍 Kabupaten Purbalingga

Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh

Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Beliau mengatakanوَأَوَّلُ مَن يَسْتَفْتِحُ بَابَ الْجَنَّةِ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلمDan yang pertama kali akan meminta dibuka pintu surga adalah Nabi Muḥammad ﷺ.Allāh ﷻ ingin menampakkan kemuliaan Nabi-Nya ﷺ di hadapan orang-orang yang beriman, dibersihkan hati orang-orang yang beriman dan digiring mereka menuju surga dengan terhormat dan dimuliakan kemudian Allāh ﷻ akan menampakan kedudukan Nabi kita Muhammad ﷺ di hadapan orang-orang yang beriman, dihadapan para Nabi dihadapan umat-umat terdahulu di hadapan umatnya sehingga mereka mengetahui kembali tentang kedudukan Rasulullāh ﷺ di hadapan manusia.Allāh ﷻ akan memberikan kehormatan kepada Beliau ﷺ memberikan syafa’at dan syafa’at ini adalah khusus bagi Beliau ﷺ yaitu syafa’at supaya dibuka pintu surga, ini salah satu diantara syafa’at yang khusus yang dimiliki oleh Rasulullāh ﷺ. Di dalam sebuah hadits Beliau ﷺ mengatakanوَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِDan aku adalah yang pertama kali akan mengetuk pintu surga, menunjukkan bahwasanya surga memiliki pintu yang harus kita imani dan pintunya sangat besar dan pintu tersebut akan diketuk oleh Rasulullāh ﷺ dan Beliaulah pertama kali mengetuk pintu surga, hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim.Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakanآتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُAku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat kemudian aku akan meminta untuk dibukakanفَيَقُولُ الْخَازِنُmaka berkata al-khāzim (penjaga surga dari kalangan malaikat)مَنْ أَنْتَSiapakah engkauفَأَقُولُmaka aku mengatakanمُحَمَّدٌAku adalah Muhammadفَيَقُولُmaka berkatalah penjaga tadiبِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَdenganmulah aku diperintah (aku diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk membukakan pintu surga ini untukmu) aku tidak akan membukakan untuk seorang pun sebelummu.Menunjukkan bahwasanya pintu surga tersebut terbuka dan Nabi ﷺ Beliaulah yang pertama kali meminta untuk dibukakan, dan ini adalah kehormatan yang luar biasa yang Allāh ﷻ berikan kepada Nabi-Nya ﷺ dan Allāh ﷻ memuliakan umat Beliau ﷺ dan mereka adalah umat yang pertama kali akan memasuki surga, sehingga di sini Syaikhul Islam mengatakanوَأَوَّلُ مَن يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنَ الأُمَمِ أُمَّتُهُDan yang pertama kali akan masuk ke dalam surga di antara umat-umat, diantara umat umat para Nabi dari yang pertama sampai Rasulullāh ﷺ dan mereka adalah Ahlul Jannah orang-orang yang beriman maka yang pertama kali akan masuk ke dalam surga di antara umat-umat tadi adalah umatnya Rasulullāh ﷺ, Allāh ﷻ muliakan Nabi ﷺ dan Allāh ﷻ muliakan umat Beliau ﷺ.Di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakanنَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِKita ini adalah orang-orang yang terakhir, karena kita adalah pengikut dari Nabi yang terakhir berarti kita ini umat yang terakhir, umat-umat yang lain itu ada sebelum kita, tapi kita ini adalah orang yang pertama di hari kiamat, selain pertama kali dihisab kita adalah yang pertama kali akan masuk kedalam surgaوَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَDan kita adalah yang akan pertama kali masuk ke dalam surga, hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim dan lafadzhnya adalah lafadzh Imam Muslim. Maka ini adalah keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada umat islam dimana mereka akan dimuliakan oleh Allāh ﷻ sehingga menjadi yang pertama masuk ke dalam surga padahal mereka adalah umat yang terakhir.Dan tentunya umat Rasulullāh ﷺ sendiri mereka bertingkat-tingkat, ada yang keimanannya tinggi dan ada diantara mereka yang lebih rendah daripada itu dan Allāh ﷻ Maha Adil, Allāh ﷻ tidak akan menyamakan tentunya diantara umat Rasulullāh ﷺ, Allāh ﷻ akan kedepankan siapa yang memang berhak di depan, sehingga disebutkan dalam hadits bahwasanya Nabi ﷺ mengatakanأوَّلُ زمرةٍ تَلِجُ الجنَّةَ صورَتُهم على صورةِ القمرِ ليلةَ البدرِRombongan yang pertama akan masuk ke dalam surga (diantara umat Nabi ﷺ) wajah mereka adalah seperti bulan di malam bulan purnama, dan di antara hadits yang menunjukkan demikian adalah sabda Nabi ﷺلَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً، أَوْ سَبْعُمِائَةِ أَلْفٍ مُتَمَاسِكُونَ. آخِذٌ بَعْضُهُمْ بَعْضاً. لاَ يَدْخُلُ أَوَّلُهُمْ حَتَّى يَدْخُلَ آخِرُهُمْ وَجُوهُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِAkan masuk surga diantara umatku 70.000 atau 700.000 (ini ada keraguan dari rawi) mereka saling memegang satu dengan yang lain (menunjukkan bagaimana ukhuwah kekompakan mereka) sampai masuklah yang pertama dan terakhir di dalam surga dan wajah-wajah mereka itu seperti cahaya bulan di malam bulan purnama.Ucapan Beliau ﷺ sampai masuk awal dan akhir mereka ke dalam surga maksudnya adalah mereka masuk dalam satu shaf secara serentak, 70.000 tadi dalam satu shaf secara serentak menunjukkan tentang besarnya pintu surga, kalau itu adalah pintu surga lalu bagaimana dengan surga itu sendiri, pintunya saja demikian besarnya lalu bagaimana dengan surga itu sendiri.Disebutkan dalam hadits bahwasanya orang-orang faqir Muhajirin itu akan lebih dahulu masuk surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya Muhajirin, orang-orang yang berhijrah ada yang kaya ada yang miskin, yang miskin diantara orang-orang Muhajirin itu lebih mendahului orang-orang kaya di antara mereka 40 tahun dan ini menunjukkan tentang bagaimana mereka terlebih dahulu karena mereka dihisabnya lebih sedikit tapi ini tidak menunjukkan bahwasanya setiap yang faqir di kalangan Muhajirin ini lebih afdhal daripada yang kaya di antara mereka.Allāh ﷻ lebihkan mereka lebih dahulu masuk surga tapi belum tentu lebih afdhal secara derajat daripada orang-orang kaya di kalangan Muhajirin, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq Utsman bin Affan Abdurrahman bin Auf rodhiyallohu’anhum mereka adalah orang-orang yang kaya di antara para sahabat Al-Muhajirin.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
N
Nadya Nandadita Islamina

📍 Kota Bandung

📜 RANGKUMAN KAJIAN: TALBIS IBLIS #7

Talbis Iblis #7: Talbis Iblis kepada Ahli Ibadah (Bag-3)" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.:Waspada Tipuan Setan Terhadap Ahli Ibadah📌 1. SIBUK DENGAN YANG TIDAK UTAMA (MENINGGALKAN YANG UTAMA)Kondisi Ahli Ibadah: Banyak yang rajin shalat sunnah di malam dan siang hari, namun abai terhadap perbaikan batin.Kelalaian Utama: Tidak memperhatikan penyakit-penyakit batin (hati) dan tidak peduli terhadap kehalalan sumber makanan.Prinsip Penting: Memperbaiki penyakit batin dan memastikan makanan yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal jauh lebih utama daripada sekadar memperbanyak kuantitas shalat sunnah.📌 2. TIPUAN DALAM MEMBACA AL-QUR'ANMembaca Terburu-buru (Hazan): Setan menggoda manusia untuk mengejar kuantitas (berjus-juz) tanpa tartil dan tadabur demi mencapai target semata.Tujuan Utama Membaca Al-Qur'an: Untuk ditadaburi (liyaddabbaru ayatih), dipahami maknanya, sehingga iman bertambah dan lebih mudah diamalkan.Niat-Niat Berkualitas Saat Membaca Al-Qur'an:Niat Tilawah: Mengejar pahala kebaikan di setiap huruf.Niat Tadabur: Memahami isi dan mencari petunjuk Allah.Niat Mengobati: Menjadikan Al-Qur'an sebagai sarana ruqyah mandiri.Larangan Nabi ﷺ: Tidak paham (tidak fakih) orang yang mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari 3 hari (berlaku di luar bulan Ramadhan).Peringatan Penting:Nabi ﷺ mencela kaum Khawarij karena membaca Al-Qur'an hanya sampai tenggorokan dan tidak masuk ke dalam hati.Jangan jadikan akhir surat atau khatam sebagai tujuan utama. Berhentilah pada keajaiban ayatnya untuk menggetarkan hati.📌 3. GANGGUAN SUARA DAN TIPUAN RIYA' DI MASJIDFenomena Membaca Keras di Malam Hari: Membaca Al-Qur'an atau memutar murattal dengan suara sangat keras (melalui pengeras suara) sebelum subuh.Dua Kesalahan Besar Menurut Imam Ibnu Jauzi:Mengganggu Orang Lain: Mengganggu orang yang sedang tidur, orang yang sakit, atau orang lain yang sedang khusyuk shalat malam.Terjerumus Riya' (Pamer): Sangat sulit menjaga keikhlasan hati ketika sengaja memperdengarkan suara merdu di malam buta agar diketahui orang lain.Mengganggu Doa Setelah Azan: Mengencangkan suara atau bersenandung di dalam masjid setelah azan dapat menzalimi hak jamaah lain yang ingin memanfaatkan waktu mustajab untuk shalat sunnah atau berdoa secara khusyuk.📌 4. RIYA' YANG SAMAR (KHOFIYUR RIYA') & PAMER AMALMenyembunyikan Pembatalan Amal: Seseorang yang dikenal selalu puasa setiap hari, lalu saat dia terpaksa tidak puasa (karena sakit/udzur), dia bersembunyi agar popularitasnya tidak jatuh.Solusi Ikhlas: Harusnya dia berani menampakkan bahwa dirinya sedang tidak berpuasa di hadapan orang yang mengenalnya agar amalnya tersamar.Riya' Berkedok "Ingin Menjadi Teladan": Setan membisikkan syubhat agar seseorang menceritakan rekam jejak ibadahnya (misal: "Saya sudah 20 tahun tidak pernah absen puasa ini") dengan alasan memotivasi orang lain, padahal aslinya mencari penghormatan.Sindiran Riya' yang Halus: Sengaja memancing ingatan orang saat diajak makan, "Ini hari apa ya? Oh iya, hari Kamis," untuk menunjukkan secara tidak langsung bahwa dirinya rajin puasa Senin-Kamis.Bahaya Riya': Dapat menggugurkan seluruh amal saleh yang sudah dibangun bertahun-tahun.Penurunan Derajat Amal: Menceritakan amalan yang tadinya tersembunyi (diwanis sirr) akan memindahkan catatan pahalanya menjadi amalan yang terlihat (diwanil alaniah), di mana nilai pahalanya jauh berkurang.Teladan Ulama Salaf: Mereka bersusah payah menyembunyikan amal. Imam Ahmad bin Hambal sering mengkhatamkan Al-Qur'an namun tidak ada yang tahu kapan beliau mengkhatamkannya.📌 5. TIPUAN DALAM IBADAH PUASAPuasa Dahar (Setahun Penuh): Ulama berbeda pendapat, sebagian memakruhkan/mengharamkan dan sebagian membolehkan selama tidak berpuasa di hari yang dilarang (Idul Fitri, Idul Adha, Hari Tasyrik).Dua Kekurangan Puasa Setahun Penuh (Meskipun Dibolehkan):Membuat Fisik Lemah: Bisa melalaikan kewajiban mencari nafkah untuk keluarga dan melalaikan hak biologis istri.Terluput dari Puasa Terbaik: Puasa yang paling dicintai Allah dan paling utama adalah Puasa Daud (sehari puasa, sehari berbuka).Larangan Memaksa Diri: Jangan memaksakan puasa sunnah jika kondisi fisik sedang sakit atau tidak mampu hingga merusak tubuh (seperti kisah sebagian orang terdahulu yang matanya menjadi buta atau otaknya kering). Puasa bukan untuk mencelakai diri sendiri.Noda-Noda Saat Berpuasa:Puasa tetapi tetap melakukan ghibah, menonton hal yang haram, dan tidak menjaga lisan.Merendahkan atau menghina orang lain yang tidak berpuasa sunnah. Setan menipu dengan menggambarkan bahwa pahala puasa otomatis menghapus semua dosa-dosa tersebut.💡 KESIMPULAN / PESAN UTAMA"Pintu-pintu riya' sangat banyak dan tipis. Jangan pedulikan pujian maupun cercaan manusia. Fokuslah agar ibadah kita diterima oleh Allah, karena pada akhirnya kita akan menghadap Allah seorang diri."Tolong buatkan teks di atas dalam bentuk foto dalam format story Instagram. Dengan menggunakan siluet tanpa wajah yang sesuai. Menggunakan stabilo magenta pastel dan garis warna biru pastel untuk membuat penekanan pada kata atau kalimat yang menjadi poin penting. Menggunakan latar belakang seperti journal. Tertata rapih dan mudah dipahami. Dimuat dalam satu halaman. Jangan ada gambar iblis atau mata satu dan pakai ilustrasi seorang muslimah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
F
Fatimah Azzahrah

📍 Kabupaten Banggai

Talbis iblis terhadap ahli ilmu bagian 2

Ustadz Dr. Firanda Andirja, lc. M.ATALBIS IBLISTalbis iblis terhadapa ahli Ilmu Bag-2TALBIS iblis dalam masalah niat dalam sholat- Mengulang² niat karena keraguan (harusnya tdk perlu ragu² krn sholat akan dah dengan niat yang benar) - Mengulang² takbir karena keraguan, - Bersumpah dengan nama Allah bertakbir di ulang²Tdk pernah di lakukan oleh Nabi dari hal² seperti ini. Untuk menghilangkan talbis ini "kalau tujuannya adalah menghadirkan niat sehinga di ulangi² untuk bertakbir, maka niat sdh ada. Karena tadi berdiri untuk sholat. "Niat tempat nya di hati bukan di lafadz kan""Lafal² tdk lazim dan keraguan itu murni kebodohan"- Mewajibkan membaca niat sambil takbirAbdullah bin Mas'ud berkata "demi dzat yang tdk ada sesembahan selain Allah, aku tdk pernah melihat seorang pun yang lebih tegas terhadap orang yang berlebih²han seperti Rasulullah صلى الله عليه وسلم، aku tdk pernah melihat seorang pun yang paling khawatir terhadap orang yang berlebih-lebihan seperti Abu Bakar, dan menurutku umar bin Khattab adalah orang yang paling keras dari penghuni bumi yang paling keras terhadap orang² yang berlebih-lebihan dalam beragama".- Sibuk untuk dalam niat untuk sholat sehingga lupa yang selanjutnya tdk di perhatikanDiantara orang² yang kena was² klw sdh merasa niat dan takbirnya pas, maka ia sdh santai. Sehingga ia tdk perhatikan apa yang selanjutnya. Seakan² tujuan sholat hanya ngepas kan niat dan takbir saja. "Tujuan takbir adalah masuk dalam sholat, tujuannya masuk dalam ibadah, kenapa sdh masuk malah ibadahnya di lalaikan"."Sholat itu seperti rumah, jangan smpai kamu hanya sibuk masuk pintu kemudian tdk sibuk dengan apa yang ada dalam rumah".- Di antara was² adalah sibuk dengan yang wajib meninggalka yang sunnahKetika masbuk yang di utamakan membaca Al-fatihah. (Wajib membaca al fatihah) prioritaskan yang wajib- meninggalkan sunnah² nabi karena perkara² yang menimpanya (masalah pribadi) (Jalankan sunnah lawan riya').Seandainya manusia pada tahu tentang keutamaan menjawab adzan dan keutamaan sholat di shaf pertama, kemudian mereka tdk bisa melakukan nya kecuali dengan undian, tentu mereka akan melakukan undian. Dalam hadits Muslim "Rasulullah bersabda "sebaik² shaf para lelaki adalah yang paling pertama dan yang paling buruk adalah yang paling akhir".Adapun meletakkan tangan di atas tangan yang lain adalah sunnah. Ibnu Mas'ud pernah sholat kemudian ia meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan, maka nabi melihat Ibnu Mas'ud tangannya terbalik, maka Rasulullah perbaiki."Perbaiki hati kerjakan sunnah, bukan mengikuti hati dengan meninggalkan sunnah"."Jangan mengikuti meskipun yang melakukan nya orang sholeh, karena kita terikat dengan dalil".Jangan sampai meninggalkan syariat hanya karena perkataan seorang yang engkau agungkan, karena syariat lebih agung dari perkataannya, dan orang bisa saja salah dalam menafsirkan, dan bisa jadi dia memiliki pendapat yang tdk sesuai dengan syariat karena hadits² belum sampai kepadanya. "Yang menjadi patokan adalah dalil"- Keluar dari undang² ibadahIblis sungguh telah menggoda sebagian orang yang sholat dalam masalah makhorijul hurufMengulang² membaca karena merasa kurang fasih,Terkadang iblis menggoda untuk mentahqiq tasyid, Terkadang dalam mengeluarkan rugdod, Berlebih²han dalam mengeluarkan hurufSibuk memikirkan tajwidnya sehingga lupa pada maknanya- iblis sungguh telah menggoda banyak orang dari kalangan ahli ibadah yang bodoh, mereka memandang bahwasanya ibadah itu hanyalah berdiri duduk sudah cukup, dan demikianlah kondisi ibadah mereka. Dan mereka melakukan kekurangan dalam perkara² wajib dalam ibadah yang mereka lakukan, dan mereka tdk sadar. - memanjang²kan sholat, memperpanjang qiro'ah namun meninggalkan perkara² yang sunnah dalam sholat, bahkan melakukan perkara² yang makruh dalam sholat.- Sibuk dengan yg sunnah lalai dengan yang wajibIblis telah memberi tipu muslihat kepada sebagian jama'ah dari kalangan ahli ibadah, merek memperbanyak sholat malam, dan diantara mereka ada yang begadang sampai semalam suntuk, sehingga meninggalkan sholat shubuh. dan ia senang klw bisa sholat malam, dan senangnya melebihi daripada melaksanakan sholat fardhu. Hendaknya seseorang sholat sesuai dengan semangatnya, klw capek boleh duduk. - Fitnah menceritakan amal sholehSungguh iblis telah memperdaya sekelompok Ahli sholat malam, di siang hari mereka menceritakan bahwa mereka telah sholat malam, tetapi mereka bercerita dengan cara halus, terkadang salah seorang berkata "subhanallah si fulan tadi malam adzannya pas waktu, agar orang yang mendengar tahu bahwa dia tdk tidur, makanya ia tahu bahwa si fulan adzannya pas waktu".Orang yang caranya seperti ini klw tdk riya' minimal dia telah memindahkan aslinya yang tersembunyi menjadi terlihat. Tentunya pahalanya berbeda. - Di antaranya orang² yang membaca Al qur'anSyaitan memberi tipu daya kepada sebagian orang yang mereka bersendirian sholat di masjid, maka di kenal lah ia, akhirnya orang² pun sholat di belakang mereka. Ini adalah salah satu racun yang di masukkan oleh iblis. Karena inilah orang jadi senang dengan dia, maka dia semangat beribadah. karena dia tau perbuatannya menjadi terkenal, dan orang² akan memujinya. Yang membuat ia semangat bukan karena ketulusannya tapi karena orang² semangat melihat ia ibadah. Dari Zaid bin tsabit nabi Rasulullah bersabda "sebaik² sholat seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat fardhu"- Syaitan menggoda sebagian ahli ibadah menangis di depan banyak orang. Dalam tangisan pun ada riya'

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
P
Puji

📍 Kota Bekasi

Talbis iblis Terhadap Ahli Ilmu Bagian 2

Talbis iblis #6penulis imam Ibnu Jauzi Ustadz Dr Firanda Adirja MA🌹🌺🌺🌺Tipu daya iblis pada shalat 🌺🌺🌺🌹. ragu-ragu (was-was) pada niat. mengulang-ngulang takbir karena ragu( was - was)iblis sering membersihkan keraguan pada orang yang shalat, seperti merasa niatnya batal atau takbirnya kurang sempurna sehingga diulang-ulang.❗tempatnya niat ada di hati❌ melafalkan niat bukan wajib(apa lagi menjabarkan)✅nabi tidak mencontohkan untuk melafalkan niat 🌺🌺🌺 Salah prioritas antara Sunnah dan wajib❌banyak orang terjebak menyibukkan diri dengan perkara sunnah seperti doa istighfar atau ta'awudz yang panjang dan melalaikan atau melewatkan perkara yang ✅wajib seperti membaca al-fatihah dengan tenang saat menjadi makmum yang masbuk🌺🌺🌺 Meninggalkan sunnah karena alasan pribadi❌ada orang yang sengaja tidak menempati shaf pertama atau tidak bersedekap dengan benar karena takut dianggap riya atau takut kurang khusyuk. ✅ kita harus melawan hawa nafsu dan mengikuti sunnah nabi bukan meninggalkan sunnah demi menjaga perasaan pribadi. 🌺🌺🌺 Berlebihan dalam beribadah iblis menggoda seseorang untuk berlebihan dalam tajwid seperti menekan huruf secara kencang hingga keluar air liur, yang justru membuat pelakunya lupa akan makna ayat yang dibaca.🌺🌺🌺 pentingnya skala prioritas dan keseimbangan ❌mengabaikan kewajiban seperti salat fardhu berjamaah karena terlalu asik salat Sunnah di malam hari adalah tipu daya iblis. ✅ tubuh ini memiliki hak untuk beristirahat dan di dalam Islam mengajarkan jalan Yang pertengahan. 🌺🌺🌺 fitnah dalam beramal ❌iblis sering membujuk seseorang untuk memamerkan amalannya secara halus atau terang-terangan✅ mau menyembunyikan amal saleh seperti sedekah atau tangisan saat beribadah untuk menjaga keikhlasan dari penyakit riya

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
P
putri anggraini

📍 Kota Samarinda

TALBIS IBLIS 6 : Talbis Iblis terhadap ahli ilmu bag. 2

Tipu muslihat iblis yang menjadi kan ibadah kita terganggu, kita merasa itu bid'ah ternyata itu bukan ibadah. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, diantaranya tipu daya muslihat iblis, diantara orang yang tertipu orang yang sholat. Orang yang berniat sholat, mengulangi berkali-kali. Dia menyangka niatnya sudah tidak terbatalkan, padahal niatnya tidak terbatalkan. Dan ketika imam rukuk dia ikut rukuk bersama rukuk. Itu semua godaan iblis, agar dia terluput dari keutamaan di takbiratul ihram, keutamaan diawal sholat dan yang lainnya. Dan diantara orang yang terkena was was syaitan, ada orang yang bersumpah "ya Allah demi allah, saya ingin bertakbir hanya sekali ini saja, bahkan ada yang bersumpah jika saya bisa bertakbir satu kali maka saya tinggalkan harta saya semua, atau ada orang yang bisa bertakbir maka dia akan menceraikan istrinya" Hal ini sungguh tidak terjadi dalam syariat islam, syariat kita mudah tidak pernah dilakukan pada Rasulullah shallallahu alami wa sallam dan para sahabat sama sekali hal seperti ini. Abu Hazim rahimahullah pernah masuk kedalam masjid, ketika dia masuk masjid. Maka datanglah iblis "sesungguhnya wahai abu hazim, engkau sholat tanpa wudhu". Abu Hazim menjawab "sejak kapan engkau wahai iblis menasehati ku dan berkata sholatku tanpa wudhu".Ini untuk menepis semua talbis iblis. Untuk membatah,menghilangkan talbis iblis ini " Kalau tujuanmu untuk menghadirkan niat, maka katakan untuk apa kau ulang-ulang niat? Bukankah engkau tadi berdiri untuk sholat maka sudah. Dan bukankah niat letaknya dihati? Tapi jika maksudnya diulangi untuk memperbaiki lafadz nya, ingatlah bahwa melafalkan tidak wajib dan kau sudah mengucapkan dengan benar. Tidak perlu diulangi lagi. Kau sudah mengucapkan tapi kau menyangka mengucapkan, maka inilah penyakit. Ibnul Jauzi rahimahullah sabagian kami meriwayatkan dari pada guru beliau Ibnu Aqil, "wahai Ibnu Aqil, aku telah membasuh anggota wudhu, kemudian aku berkata aku belum membasuh nya perasaanku, kemudian aku sudah bertakbir, aku belum tidak bertakbir". Bagaimana ini wahai Ibnul Aqil? Maka Ibnu Aqil menjawab bahwa "engkau tidak wajib sholat". Orang-orang bertanya kepada orang Ibnu Aqil " Bagaimana engkau mengatakan dia tidak wajib sholat?". Ibnu Aqil membawakan dalil, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رُفعَ القلَمُ عن ثلاثةٍ : عنِ الصَّبيِّ حتَّى يبلغَ ، وعن المجنونِ حتَّى يُفيق ، وعنِ النَّائمِ حتَّى يستيقظَ“Pena catatan amal diangkat dari tiga orang: dari anak kecil sampai dia baligh, dari orang gila sampai ia waras, dari orang yang tidur sampai ia bangun.” (HR. Bukhari secara mu’allaq, Abu Daud no. 4400, disahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’, 2: 5).Bahwasanya orang gila diangkatpena darinya, siapa yang bertakbir tapi dia berkata dia belum bertakbir. Was was syaitan dan ini gila. Diangkat dari orang gila. Was was dalam sholay yang berasal ada konslet di akal karena bodoh terhadap syariat. Sebagaimana diketahui jika ada seorang alim masuk, kemudian seseorang berkata "aku berniat menyambut, berdiri untuk bertemu seorang alim ini" Maka ini tidak perlu disebutkan, karena itu sudah terbetik dalam jiwa. Begitu juga saat kita ingin sholat, niat itu langsung terkumpul niat dalam satu waktu atau satu saat. Yang butuh waktu panjang ketika kita uraikan. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata tidak perlu merangkai niat yang terkumpul kau uraikan dalam lafal-lafal, lafal ini tidak lazim. Dan was-was itu murni kebodohan. Adapun was was itu ada, karena saat itu dia ingin merincikan pada suatu waktu. Misalnya "saya sholat dzuhur, fardu,sholatnya ada bukan qodho, sebagai makmum". Maka ini susah. Kalau dia ingin membebani dirinya untuk menyambut orang alim, maka itu berat. Jadi Ibnul Jauzi rahimahullah ingin menegaskan bahwa, Niat itu mudah, tidak sesulit yang di bayangkan.Dan boleh niat itu didahulukan sebelum takbir, selama niatnya belum dibatalkan.Dari Mis'ar berkata ini dari Ma'an bin Abdurrahman telah mengeluarkan catatan hadist dari tulisan ayahnya, dalam catatan tersebut Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi Dzat yang tidak ada sesembahan selain Dia, aku tidak pernah melihat seorang yang lebih tegas selain Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam terhadap orang sangat berlebih-lebihan. Aku tidak pernah melihat orang yang khawatir terhadap orang yang berlebihan dalam beragama. Dan aku tidak pernah melihat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu paling keras orangnya dimuka bumi ini terhadap orang berlebih-lebihan dalam agama. Terlalu sibuk memperhatikan niat akhirnya sholatnya tidak diperhatikan. Diantara orang terkena talbis iblis adalah orang yang terlalu fokus ke niat dan mengambungkan takbir. Kemudian santai pada setelah takbir. Dan ini talbis iblis, cara menghilangkan Sibuk dengan yang wajib dan meninggalkan yang sunnah. Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan orang yang sudah sah takbir dibelakang imam, orang masuk masbuk dia sudah sah bertakbir dibelakang imam tapi dia masih disibukkan dengan membaca istiftah. Maka jika begini tidak usah istiftah, fokus baca Al-fatihah saja. Karena aku fatihah adalah wajib dalam sholat. Istiftah, dan ta'awudz itu sunnah, dan para ulama menyebutkan wajib makmum dan imam membaca Al-fatihah. Iblis banyak memberi tipu daya contoh orang tidak pernah di shaf pertama selalu dibelakang, dia khawatir riya' jadi dia selalu di shaf belakang. Dia menjadikan masalah pribadi untuk meninggalkan sunnah. Lawan hatimu kerjakan sunnah Ini karena kurangnya ilmu kata imam Ibnul Jauzi rahimahullah. Dikatakan Imam bin Ahmad, wahai imam Ahmad sesungguhnya imam Mubarak berkata begini begitu. Iman Mubarak menjawab, sesungguhnya imam Mubarak bukan dalil, dan dia tidak turun dari langit. Dikatakan oleh Ibrahim bin Adham "sesungguhnya kalian memberi kan kepadaku bukan jalan yang asal, jangan pernah menjadikan jalan tikus sebagai dalil. Dan bisa jadi dia tidak menjadikan syariat sebagai dalil. Perkataan dia memang agung, tapi syariat lebih dalil". Imam Ibnul Jauzi rahimahullah diantara ada juga orang yang keluar dari undang-undang ibadah, sesungguhnya ada orang yang digoda iblis berlebihan dalam makharijul huruf. Ada yang sholat berulang-ulang mengulang untuk menyempurnakan makharijul huruf, ini keluar dari aturan sholat. Kadang iblis datang mentakhik tasyid "dikatakan iblis tasydidnya" atau ada yang berlebihan dalam huruf ض sampai liurnya keluar. Atau juga orang yang terkena talbis iblis dalam tajwid dan lupa terhadap makna ibadah. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkataIblis menggoda ahli ibadah yang bodoh, namanya ibadah itu mereka berdiri duduk dan mereka melakukan kekurangan dalam perkara-perkara wajib dan mereka tidak sadar. Misalnya orang yang salam melihat imam salam, sedangkan dia ikut salam. Padahal dia belum tahiyyat. Maka dia harus menyelesaikan tahiyyatnya karena ini tidak ditanggung imam. Talbis iblis pada orang memanjangkan sholat dan meninggalkan perkara sunnah atau melakukan hal makruh dalam sholat. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata aku bertemu dengan ahli ibadah dan dia sedang sholat sunnah di siang hari dan dia melakukan bacaan jahr disiang hari, sedangkan seharusnya sholat siang itu adalah sihr. Lalu ahli ibadah menjawab "aku melakukan bacaan jahr supaya aku tidak mengantuk".Maka Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjawab sesungguhnya jangan kau tinggal sunnah-sunnah nabi-mu karena bergadang, kalau kamu mengantuk maka tidur. Talbis iblis ke ahli ibadah sibuk dengan perkara sunnah dan melupakan perkara wajib. Ada orang yang lebih bahagia sholat sunnah sholat malam, sholat dhuha tapi terlewat sholat wajib. Orang bergadang untuk sholat malam terlewat dengan lewat fajr. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata aku pernah melihat ahli ibadah,dia berjalan di siang hari di masjid, ahli ibadah berkata "agar aku tidak tidur siang maka aku berjalan di masjid". Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata sesungguhnya ini adalah kebodohan, tidak pernah tau syariat karena sunnahnya adalah tidur siang dan memberikan hak tubuhnya. Rasulullah shallallahu alayhi sallam bersabda hendaknya kalian mengikuti petunjuk nabi yang tengah, jangalah kalian berlebih-lebihan. Siapa yang berlebih-lebihan maka, dia akan mendominasi. Ikuti sunnah Nabi. Kata Nabi Muhammad shallallahu alayhi sallam kalau seseorang mengantuk, maka hendaklah dia tidur. Jangan sampai dia ingin istighfar dia malah mencaci maki dirinya.Iman Ibnul Jauzi rahimahullah berkata secara akal tidaklah tidur memperbarui kekuatan yang tadi lemas gara-gara bergadang. Misalnya ada berkata jika sudah sampai ada perkataan para ulama yang sholat malam semalam suntuk? Maka kata imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata sesungguhnya ulama itu mengerjakan secara bertahap. Rasulullah shallallahu alayhi sallam tidak pernah bergadang semalam suntuk untuk sholat malam. Sunnah Nabi lebih utama untuk di ikuti. Talbis iblis bagi orang menceritakan amal sholeh, sholat di publish, umroh dipublish. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah sesungguhnya iblis memperdaya orang sholat malam, terkadang sholat malam menceritakan di siang hari. Riya' dan ghibah, misalnya fulan adzannya pas. Padahal amal sholeh yang disembunyikan itu lebih baik. Tapi syiatan selalu menjerumuskan untuk riya' atau syaitan membuat caranya halus dari amal yang dikurangi pahalanya. Talbis iblis pada orang yang membaca Al-Qur'an, dikenal kepada orang yang selalu menyelesaikan bacaan Al-Qur'an di masjid, Orang-orang senang kepada ahli ibadah dan orang-orang semangat untuk memujinya. Dia sholat bersemangat karena ingin mencari perhatian orang. Amir bin Khoisy tidak suka melihat orang sholatnya, maka dia sholat dirumah. Ada Ibnul abi Laila dan dia pura-pura tidur supaya tidak disangka orang sholat. Jiwa yang suka mencela itu adalah kontrol. Misalnya orang yang riya' jiwanya tahu kalau sudah ada sinyal maka segera jangan di lanjutkan. Talbis menggoda sebagian ahli ibadah menangis, sementara orang diselilingnya,menangis didepan banyak orang. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata mungkin dia tidak tahan dalam tangisnya tapi siapa yang mampu menahan tangisnya tapi dia tampakkan, maka sesungguhnya dia terjatuh dalam riya'. Abu awil di rumahnya terdengar suara tangisannya, kalau dikasihkan dunia dia untuk menangis dalam sholatnya dia tidak pernah mau. Salah seorang salaf ada yang ahli hadist kalau tidak sanggup menyampaikan ilmu dia kadang berdiri. Karena dalam tangisan ada riya'.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Talbis Iblis 6

Talbis Iblis 6Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bagian 2)Ustadz DR. Firanda Andirja, M.AWaswas dalam Niat Beribadah dan Takbir (Penyakit Waswas)Niat yang diulang-ulangIblis membisikkan keraguan bahwa niatnya batal atau lafalnya keliru. Akibatnya, seseorang mengulang-ulang ucapan Ushalli atau Allahu Akbar.Sumpah ekstrem yang menyiksaSaking parahnya penyakit waswas, ada orang yang sampai bersumpah dengan nama Allah, bersumpah menyedekahkan seluruh harta, hingga bersumpah menceraikan istrinya jika mereka mengulang takbir lagi.Bantahan syariatNiat itu bertempat di hati (bukan dilafalkan) dan sudah otomatis ada saat seseorang berdiri hendak salatUlama Ibnu 'Aqil menyindir orang yang terkena waswas ekstrem (seperti sudah membasuh wudu/takbir tapi merasa belum) sebagai orang yang tidak berakal/gila, sehingga pena syariat diangkat darinya.Waswas muncul karena adanya kekacauan (khalal) pada akal dan kebodohan terhadap syariat.Mensinkronkan Niat dengan Rukun Pertama Sebagian ulama fikih mensyaratkan niat harus dihadirkan berbarengan tepat pada rukun pertama (saat mengucapkan Allahu Akbar).Iblis memanfaatkan kaidah ini untuk membuat manusia terbebani. Sangat sulit bagi awam untuk meresapi keagungan lafal takbir sekaligus menguraikan detail niat salat (Zuhur, 4 rakaat, menghadap kiblat, menjadi makmum, karena Allah) dalam satu detik yang sama.Islam itu mudah; Rasulullah dan para sahabat tidak pernah menyulitkan diri dengan sinkronisasi detail lafal niat seperti ini.Salah Skala Prioritas dalam Shalat Fokus pada pintu masuk sajaorang yang saking susahnya mengepaskan takbir dan niat, ketika berhasil masuk salat, mereka langsung santai dan melalaikan kekhusyukan sisa salatnya. Salat diibaratkan seperti rumah; jangan hanya sibuk di pintu masuk (takbir) lalu melalaikan isinya.Mendahulukan sunnah, meninggal wajib (keadaan masbuk)Orang masbuk yang mendapati imam sebentar lagi rukuk, terkadang terjebak talbis dengan tetap membaca doa istiftah dan taawuz (yang hukumnya sunah). Akibatnya, mereka kehabisan waktu untuk membaca surah Al-Fatihah (yang hukumnya wajib).Meninggalkan Sunnah demi Alasan Pribadi Iblis menipu sebagian orang saleh untuk meninggalkan sunah demi kenyamanan perasaan atau alasan psikologis mereka sendiri:Sengaja memilih saf belakang karena takut tidak fokus atau takut riya di saf pertama.​Sengaja salat tanpa bersedekap (meletakkan tangan di dada) karena takut dicap sok khusyuk oleh orang lain.Bantahan: Syariat tetap memerintahkan untuk mengejar saf pertama dan melakukan gerakan salat sesuai sunah. Tugas manusia adalah menjalankan sunah tersebut sembari melawan penyakit riya di dalam hatinya, bukan malah mundur meninggalkan sunah. Patokan utama adalah dalil syariat, bukan perasaan atau perilaku tokoh saleh yang menyelisihi dalil.Berlebihan dalam Makhraj Huruf & Tajwid (Keluar dari Adab)​Iblis membuat orang berlebihan saat membaca Al-Fatihah dalam salat demi mengejar kesempurnaan makhraj (misal nekan huruf Dhad / ض) hingga mengeluarkan air ludah.​Dampak Buruk: Saking sibuknya memikirkan teknis tajwid dan makhraj, hati mereka menjadi kosong dan benar-benar lupa mentadaburi makna ayat yang sedang dibacaMelanggar Aturan Ibadah Akibat Kebodohan​Kasus Ikut Salam: Ada makmum yang langsung ikut salam begitu imam salam, padahal bacaan tasyahud akhir dan selawatnya sendiri belum selesai.​Mengeraskan Suara di Siang Hari: Ada yang sengaja mengeraskan suara (jahr) saat shalat sunnah di siang hari (yang asalnya lirih/sirr) hanya demi mengusir kantuk. Syariat menekankan jika mengantuk, sebaiknya tidur karena tubuh memiliki hak.​Begadang Kebablasan: Menggebu-gebu shalat malam/tahajud semalam suntuk, namun menjelang subuh kelelahan lalu ketiduran sehingga shalat subuhnya telat atau terlewat berjamaah. Menjaga shalat fardhu subuh jauh lebih utama daripada mengejar salat sunah malam.Fitnah Menceritakan Amal Sholeh ​Riya Malu-Malu (Isyarat): Orang yang salat malam sengaja bercerita di siang hari dengan gaya bahasa halus, contohnya: "Si Fulan muazin tadi malam adzannya pas waktu ya," agar orang lain paham bahwa dia semalaman terjaga/tidak tidur.​Memindahkan Catatan Amal: Meskipun selamat dari riya, menceritakan amal secara sengaja (termasuk pamer di media sosial/podcast) dapat menurunkan nilai pahala dari amalan rahasia (sirr) menjadi amalan yang nampak.Sengaja Beribadah di Depan Orang: Sengaja berlama-lama i'tikaf atau salat di masjid agar dilihat orang dan diikuti, yang akhirnya memicu semangat ibadah karena dorongan ingin dipuji. Padahal, sunah shalat nafilah (sunnah) adalah di rumah.Pamer Tangisan: Sengaja menampakkan tangisan di depan publik atau pura-pura menangis. Para Salaf dahulu justru mati-matian menyembunyikan tangisannya saat beribadah; jika tidak tahan, mereka akan pergi atau pura-pura sedang terkena flu berat agar tangisannya tersamarkan.KesimpulanSetiap kali manusia hendak pamer atau melakukan riya, Allah telah membekali manusia dengan Nafsul Lawwamah (jiwa yang suka mencela/memberi sinyal kontrol). Jika hati sudah merasakan sinyal ragu atau merasa ingin dipuji, segeralah berhenti dan tutup rapat-rapat semua pintu talbis Iblis tersebut.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #6 - Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)

1. Godaan Waswas (Keragu-raguan) dalam Niat Salat dan TakbirIblis sering memberikan waswas kepada seseorang yang hendak salat, sehingga orang tersebut mengulang-ulang lafal niatnya (seperti "ushalli") atau mengulang-ulang takbiratul ihram berkali-kali karena merasa niatnya telah batal atau belum pas.Anehnya, ketika imam sudah rukuk dan orang tersebut takut ketinggalan rakaat, seketika niatnya bisa hadir dan ia langsung bertakbir lalu rukuk. Hal ini membuktikan bahwa keraguan sebelumnya murni godaan Iblis yang ingin menghilangkan keutamaan takbiratul ihram dari orang tersebut.Ada orang yang karena parahnya penyakit waswas ini sampai bersumpah dengan nama Allah, bersumpah meninggalkan seluruh hartanya, bahkan bersumpah menceraikan istrinya jika ia mengulang takbirnya lagi. Padahal syariat Islam itu mudah dan Nabi ﷺ serta sahabat tidak pernah menyusahkan diri seperti ini.Terdapat kisah ulama salaf, Abu Hazim, yang menepis bisikan Iblis. Saat Iblis membisikkan bahwa ia salat tanpa wudu, ia menjawab telak, "Sejak kapan engkau (iblis) peduli untuk memberiku nasihat?".2. Solusi dari Waswas dan Hakikat NiatCara menepis kerancuan ini adalah dengan menyadari bahwa tempat niat itu di dalam hati, bukan pada lafal lisan. Melafalkan niat tidak diwajibkan, dan keinginan kita untuk bangkit mengerjakan salat, itulah hakikat niat.Al-Imam Ibnu Jauzi membawakan kisah Ibnu Aqil tentang seseorang yang merasa belum berwudu dan bertakbir padahal ia sudah melakukannya. Ibnu Aqil menjawab bahwa orang seperti ini "tidak wajib salat" karena perbuatannya menunjukkan akalnya sedang tidak waras, dan pena catatan amal diangkat bagi orang gila.Sebab utama waswas adalah kerancuan di akal akibat ketidaktahuan (kebodohan) terhadap ilmu syariat.Niat itu datang seketika di dalam hati. Ketika kita berangkat ke masjid untuk salat magrib, otomatis di hati sudah terkumpul niat untuk salat magrib 3 rakaat, menghadap kiblat, dan menjadi makmum, tanpa perlu diurai menjadi untaian kata-kata panjang yang memakan waktu.Memaksakan diri menggabungkan lafal niat yang sangat panjang secara berbarengan tepat di detik yang sama saat mengucapkan takbiratul ihram adalah sesuatu yang sangat berat dan justru memicu waswas. Syariat tidak menuntut hal sesulit itu.Terdapat atsar dari Abdullah Bin Mas'ud yang membenci sikap berlebih-lebihan dan menyulit-nyulitkan diri dalam beragama (mutanatti'). Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab juga sangat tegas keras terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan.3. Lalai pada Tujuan Ibadah karena Hal-Hal Kurang PentingTerlalu Sibuk dengan Takbir/Niat: Sebagian orang yang terkena waswas, ketika merasa takbir dan niatnya sudah pas, mereka justru santai dan tidak memperhatikan kelanjutan kekhusyukan salatnya. Padahal salat itu ibarat rumah; takbir hanyalah pintu masuknya. Jangan sampai kita hanya sibuk mengurus pintu rumah lalu melalaikan isi di dalamnya.Sibuk dengan Sunah, Lalai pada yang Wajib: Ada makmum yang terlambat (masbuk) dan imam sudah hampir rukuk, tetapi sang makmum malah sibuk membaca doa iftitah dan ta'awuz (yang hukumnya sunah) sehingga tidak sempat membaca Al-Fatihah yang hukumnya wajib. Seharusnya, ia memprioritaskan membaca Al-Fatihah.Ibnu Jauzi saat kecil pernah ditegur oleh gurunya, Abu Bakar Ad-Dinawari, bahwa doa iftitah disepakati sunah, sedangkan membaca Al-Fatihah adalah wajib (atau diperselisihkan kewajibannya bagi makmum). Maka, dalam kondisi waktu sempit, dahulukanlah yang wajib.4. Meninggalkan Sunah karena Perasaan Pribadi atau Takut RiyaIblis kerap menipu sebagian orang saleh sehingga meninggalkan sunah karena alasan kondisi hatinya. Misalnya, sengaja mundur tidak mau salat di saf (barisan) paling depan dengan alasan agar hatinya lebih fokus atau karena takut riya.Contoh lain adalah orang yang sengaja tidak bersedekap (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri) di dada saat berdiri salat, melainkan melepaskannya lurus ke bawah, dengan alasan takut dianggap sok khusyuk oleh orang lain padahal hatinya sedang tidak khusyuk.Padahal secara syariat, sebaik-baik saf bagi pria adalah di saf paling depan, dan bersedekap adalah sunah. Tindakan yang benar adalah tetap kerjakan sunah tersebut lalu lawanlah penyakit hati serta ketakutan riya di dalam diri, bukan malah lari dengan meninggalkan sunah.Kita terikat pada dalil, bukan pada perbuatan tokoh tertentu. Meskipun ada ulama atau orang saleh di masa lalu yang perbuatannya tanpa sengaja menyelisihi sunah, kita tetap harus mengikuti dalil. Ulama tidak maksum dan bisa jadi dalil hadis belum sampai kepada mereka. Imam Ahmad bin Hanbal pun pernah menegaskan, "Ibnu Mubarak (seorang tokoh ulama besar) tidak turun dari langit."5. Berlebih-lebihan dalam Tajwid (Makharijul Huruf)Iblis menggoda agar orang berlebih-lebihan mengucapkan makhraj huruf hingga keluar dari batas kewajaran ibadah. Contohnya mengulang-ulang kata "Alhamdulillah" atau memaksakan menekan makhraj huruf Dhad (ض) teramat keras hingga memercikkan air liur. Yang penting adalah hurufnya terdengar jelas dan tepat (tidak tertukar dengan huruf lain).Akibat terlalu sibuk memikirkan makhraj dan tajwid, seseorang justru menjadi lalai merenungkan makna ayat-ayat yang dibacanya. Padahal tajwid adalah sarana untuk membantu kita menyelami maknanya.6. Kelalaian dalam Pelaksanaan SalatKesalahan makmum yang langsung mengikuti imam salam padahal tasyahud dan selawat wajib (Tasyahud Akhir) belum selesai ia baca. Tasyahud wajib tidak ditanggung oleh imam, sehingga makmum harus menyelesaikannya dulu sebelum ikut mengucapkan salam.Mengerjakan salat sunah di siang hari dengan mengeraskan bacaan (Jahar) dengan alasan untuk mengusir rasa kantuk. Padahal salat siang disyariatkan pelan (Sirr). Solusi syar'i jika mengantuk adalah tidur sejenak, bukan memaksakan salat sambil melanggar aturan.7. Salah Prioritas: Mendahulukan Salat Malam Dibanding Salat FarduIblis menipu sebagian ahli ibadah agar mereka memaksakan diri begadang salat malam (sunah) semalam suntuk, namun menjelang Subuh mereka ketiduran dan akhirnya terlewat salat Subuh berjamaah yang hukumnya fardu dan pahalanya jauh lebih besar.Atau, mereka berhasil bangun subuh tapi dalam kondisi yang sangat mengantuk dan malas. Diceritakan kisah Husain Al-Qazwini yang memaksakan diri berjalan berkeliling masjid di siang hari agar tidak tidur akibat begadang malam. Ini menyelisihi syariat, sebab tubuh juga memiliki hak untuk diistirahatkan.Nabi ﷺ melarang umatnya memaksakan diri dalam beribadah saat lelah. Beliau pernah memerintahkan mencopot tali di masjid yang digunakan Zainab untuk berpegangan saat lelah salat, dan menyuruhnya salat sambil duduk saja jika lelah.Kalau sangat mengantuk, Nabi memerintahkan untuk tidur terlebih dahulu. Dikhawatirkan jika memaksakan salat dalam keadaan setengah sadar, seseorang berniat istigfar namun lisannya malah mencaci-maki dirinya sendiri tanpa sadar.Sebaik-baik ritme salat malam adalah salat Nabi Daud: Beliau tidur di pertengahan awal malam, bangun salat di sepertiga malam, dan tidur lagi di seperenam akhir malam agar bisa bangun salat subuh dalam keadaan tubuh yang segar.8. Fitnah Riya Terselubung dan Mempublikasikan Amal SalehPenyakit yang marak di zaman sekarang: hobi upload atau publikasi amal saleh (seperti sedang umrah, haji, atau bersedekah).Iblis sering memperdaya para ahli ibadah malam untuk berbuat riya dengan cara yang sangat halus. Seseorang bisa bercerita secara tersirat, misalnya: "Muazin tadi malam azannya pas waktu," agar pendengar menyimpulkan bahwa ia sedang terbangun salat malam. Atau berkata: "Fulan itu tidak pernah takbiratul ihram tepat waktu saat subuh", yang artinya ia sedang riya memuji dirinya sendiri sekaligus jatuh ke dalam ghibah (menggunjing) saudaranya.Menceritakan amal ibadah akan menurunkan kedudukan dari amalan rahasia (yang pahalanya sangat besar) menjadi amalan jahr (terlihat). Apalagi jika dicampuri niat pamer, pahalanya bisa gugur total. Waspadailah undangan-undangan acara seperti podcast yang sering memancing kita untuk mengumbar amalan di masa lalu.Riya berkumpul untuk salat di masjid: Ada sekelompok orang yang terkenal karena sering berlama-lama salat sunah di masjid hingga menjadi viral dan dielu-elukan masyarakat. Padahal sebaik-baik salat sunah adalah di rumah, karena lebih aman dari incaran pujian manusia.Berkebalikan dengan kaum salaf terdahulu yang sangat menjaga keikhlasan. Amir bin Qais enggan salat sunah di masjid. Ibnu Abi Laila pura-pura berbaring tidur jika ada orang tiba-tiba masuk saat ia sedang salat. Ada juga yang pura-pura menggeliat seperti baru bangun tidur saat azan subuh berkumandang demi menyembunyikan salat malamnya.Nafsul Lawwamah: Ini adalah alarm pengingat dalam jiwa manusia yang otomatis mencela tatkala kita berbuat salah. Sebenarnya, orang yang sedang riya itu sadar bahwa dirinya sedang riya, sebab pujian itu terasa "lezat" di hati. Jika alarm peringatan di hati ini mulai muncul, segeralah berhenti. Jangan teruskan niat untuk bercerita.9. Berlebih-lebihan dalam Tangisan IbadahTerkadang Iblis menggoda seseorang saat sedang salat atau mendengar kajian, sehingga ia sengaja menangis tersedu-sedu dan menampakkan tangisannya di depan banyak orang. Barangsiapa yang sebenarnya mampu menahan/menyembunyikan tangisnya tapi malah sengaja melampiaskannya, sungguh ia telah memaparkan dirinya pada riya. Tentu hukumnya berbeda jika memang tangisannya itu tak kuasa ia tahan secara alamiah.Contoh ulama salaf dalam menyembunyikan tangis mereka sungguh luar biasa: Abu Wail menangis tersedu-sedu jika salat sendirian di rumah, tapi menolak menampakkannya di luar biarpun ditawari seisi dunia. Ayyub As-Sakhtiyani akan memilih langsung bangkit lalu pergi saat tak mampu menahan tangis, demi menghindar dari tatapan orang. Ulama lain ada yang sibuk mengelap hidungnya dan beralasan, "Penyakit flu ini sungguh berat," semata-mata demi menutupi air matanya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah (Bagian 2)

Talbis Iblis dalam Masalah Niat SalatRagu-ragu dalam Mengucapkan Niat: Ada orang yang ingin salat lalu melafalkan "Usholli...", kemudian dia batalkan dan ulangi lagi karena menyangka niatnya batal. Padahal niat di dalam hati tidak akan batal hanya karena lafalnya keliru atau tidak pas. Harusnya dia tidak perlu ragu-ragu karena salatnya sudah sah dengan niat yang benar.Waswas Saat Takbiratul Ihram: Sebagian orang mengulang-ulang kalimat "Allahu Akbar." Uniknya, ketika imam mulai rukuk, orang yang waswas tersebut tiba-tiba bisa langsung fokus dan ikut rukuk karena takut ketinggalan rakaat. Ini membuktikan bahwa niat sebenarnya mudah dihadirkan, namun iblis sengaja membuatnya waswas agar ia kehilangan keutamaan takbiratul ihram, keutamaan di awal salat.Karena saking seringnya mengulang takbir, ada orang yang sampai bersumpah: "Demi Allah saya tidak akan mengulang takbir," atau "Jika saya ulangi takbir, semua harta saya tinggalkan," bahkan ada yang bersumpah "Saya ceraikan istri saya jika mengulang takbir." Itu semua adalah talbis iblis, kenapa menyusahkan diri. Syariat Islam itu mudah, ringan, dan selamat dari hal-hal ekstrem seperti ini, yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ maupun para sahabat.Cara Menepis Waswas dalam NiatKisah Abu Hazim: Ketika masuk masjid, iblis membisikinya: "Wahai Abu Hazim, sesungguhnya kamu salat tanpa wudhu." Abu Hazim langsung menepis: "Sejak kapan kau mau berbaik hati memberikan nasihat kepadaku, wahai iblis?"Hakikat Niat: Niat itu sudah ada sejak seseorang berdiri dan berniat menuju salat fardu. Tempat niat adalah di hati, bukan pada lafal. Melafalkan niat tidaklah wajib; bila lafal sudah benar, mengulang tanpa sebab hanyalah penyakit waswas. Orang yang sudah mengucapkan sesuatu tetapi merasa belum mengucapkannya digambarkan sebagai gangguan waswas.Kisah Ibnu Aqil dan Orang Waswas: Seseorang mengadu kepada ulama Ibnu Aqil bahwa ia merasa belum membasuh anggota wudhu atau belum bertakbir padahal ia sudah melakukannya. Ibnu Aqil menjawab: "Kalau begitu kamu tidak usah salat, karena salat tidak wajib bagimu." Ketika ditanya alasannya, beliau menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bersabda pena diangkat dari orang gila sampai dia sadar. Orang yang sudah takbir tapi merasa belum bertakbir, akalnya sedang tidak beres (terkena penyakit waswas).Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa waswas dalam niat bersumber dari kekacauan akal dan kebodohan terhadap syariat. Dicontohkan, jika kita berdiri untuk menyambut orang alim, kita tidak perlu melafalkan: "Saya berniat berdiri untuk menyambut orang alim ini karena ilmunya..." Demikian pula dalam salat, begitu kita menuju masjid untuk salat Magrib, dalam satu detik di hati sudah tergambar salat Magrib 3 rakaat, menghadap kiblat, dan menjadi makmum. Niat terjadi seketika; yang panjang itu penguraiannya.“Saya ingin salat magrib” dalam sekejap sudah mencakup: magrib, 3 rakaat, menghadap kiblat, makmum/munfarid, ada/qadha, dll. sesuai konteks.Yang membutuhkan waktu adalah merangkai lafal: ushalli fardha zhuhri arba'a raka'atin… dst.Waswas muncul ketika orang berusaha menghadirkan seluruh rincian itu secara simultan dalam bentuk lafal yang terurai.Ibnu Jauzi menekankan: niat itu mudah, tidak sesulit yang dibayangkan.Batasan Waktu Niat dan Celaan terhadap Sikap BerlebihanDalam ilmu fikih, boleh mendahului takbir dengan niat dalam waktu yang singkat selama niat tersebut tidak dibatalkan.Di sebagian kalangan, ada pendapat bahwa niat harus persis berbarengan dengan rukun pertama (saat mengucapkan takbir). Praktiknya menjadi berat bila orang mengharuskan sinkronisasi rentetan lafal niat yang panjang dengan “Allahu akbar” sambil merenungi makna takbir dalam satu waktu. Kesulitan ini memicu pengulangan takbir dan waswas. Ditekankan: Nabi ﷺ dan para sahabat tidak melafalkan niat panjang seperti itu.Riwayat Abdullah bin Mas'ud: Ia bersumpah bahwa tidak ada orang yang lebih tegas dan keras terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan (mutanatthi'un / menyulitkan diri dalam beragama) selain Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Pesan: jangan menyusahkan diri dengan tambahan-tambahan yang tidak dituntunkan.Jangan jadikan “niat pas & takbir pas” sebagai tujuan utama. Orang waswas sering santai setelah merasa takbirnya pas, lalu lalai terhadap sisa salat. Takbir hanyalah pintu masuk ke salat; ibadah utamanya ada setelah masuk. Analogi: jangan hanya sibuk masuk rumah lalu melupakan aktivitas di dalam rumah.Salah Prioritas: Terlalu Fokus Yang Sunnah, Melalaikan yang WajibOrang yang masbuk sering kali sibuk membaca doa istiftah yang hukumnya sunnah, padahal imam sudah mau rukuk. Seharusnya, ia langsung membaca surah Al-Fatihah (yang hukumnya wajib bagi makmum menurut sebagian ulama) tanpa perlu istiftah atau ta’awuz agar tidak ketinggalan rakaat.Nasihat Guru Ibnul Jauzi (Abu Bakar Ad-Dinavari): Ketika Ibnul Jauzi masih kecil dan melakukan hal serupa (masbuk tapi membaca istiftah), gurunya menasihati: "Para ulama berselisih tentang wajibnya membaca Al-Fatihah di belakang imam, tapi mereka sepakat doa istiftah itu sunah. Maka sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkan yang sunnah."Meninggalkan Sunnah demi Alasan PribadiIblis juga menipu sebagian orang saleh untuk meninggalkan amalan sunnah karena mengikuti kondisi psikologis atau perasaan pribadi mereka.Contoh 1 (Sengaja Mundur dari Saf Pertama): Ada orang yang sengaja tidak mau di saf pertama karena takut riya atau agar hatinya lebih fokus di belakang. Ini keliru; seharusnya tetap ke saf pertama dan lawan perasaan riya tersebut. Nabi ﷺ bersabda bahwa andai manusia tahu keutamaan saf pertama, mereka akan rela melakukan undian (qur'ah) untuk mendapatkannya.Contoh 2 (Sengaja Salat Tidak Sedekap): Ada orang salat yang tidak meletakkan tangan kanan di atas kiri  karena khawatir khusyuk padahal hatinya tidak khusyuk. Ini menyelisihi sunnah nabi.Patokannya Adalah Dalil (Syariat), Bukan Figur Orang Saleh: Ibnul Jauzi menegaskan bahwa walau ada orang saleh/ulama melakukan sesuatu yang tidak sesuai sunnah, yang diikuti tetap dalil. Ulama bukan ma'shum; bisa salah, bisa belum sampai hadis kepadanya. Jangan berhenti pada “ada di buku fikih” atau “fulan berpendapat demikian”; timbang dengan dalil yang lebih kuat. Ia menukil perkataan Imam Ahmad bin Hambal ketika disodori pendapat Ibnu Mubarak: "Ibnu Mubarak tidak turun dari langit (bisa salah)."Berlebih-lebihan dalam Makhraj Huruf dan TajwidIblis menggoda sebagian orang salat agar terlalu ekstrem dalam melafalkan makharijul huruf hingga mengulang-ulang bacaan (misal: "Alhamdu, Alhamdu...").Ibnul Jauzi bercerita pernah melihat orang yang melafalkan huruf Dhad ("waladh-dhoolliin") dengan sangat kencang dan berlebihan sampai air liurnya keluar.Berlebihan menekan huruf hingga ludah/liur keluar disebut contoh penyimpangan dari adab salat dan terlalu sibuk memikirkan kesempurnaan makhraj dan tajwid membuat seseorang lupa mentadaburi makna-makna ayat yang sedang ia baca.Talbis Iblis dalam Memaknai Ibadah & Mengatur FisikIbadah hanya formalitas gerak; meninggalkan kewajiban karena tidak paham. Ada makmum yang langsung salam mengikuti imam padahal tasyahud wajibnya belum selesai dibaca. Tasyahud yang wajib tidak ditanggung imam; selesaikan dulu, lalu salam.Ada yang memanjangkan salat sunah siang dengan bacaan keras agar tidak mengantuk. Ditegur: salat siang asalnya sirr; jika mengantuk, tidur karena tubuh punya hak.Menyaringkan Suara di Siang Hari: Ibnul Jauzi pernah menegur orang yang salat sunnah di siang hari secara jahr (bersuara keras). Orang itu beralasan untuk menghilangkan kantuk. Ibnul Jauzi menasihati: "Jika ngantuk, tidurlah, karena tubuhmu punya hak untuk istirahat."Mengorbankan yang Wajib Demi Salat Malam: Ada orang yang begadang semalam suntuk untuk salat malam atau salat Dhuha dengan perasaan yang lebih bahagia daripada saat melakukan salat fardhu. Akibatnya, menjelang Subuh ia kelelahan, tertidur, dan melewatkan salat Subuh berjamaah atau salat dalam keadaan malas. Seseorang harusnya lebih bahagia bisa salat Subuh berjamaah karena pahala amalan fardu jauh lebih besar daripada amalan sunnah.Kisah Husain Al-Qazwini: Orang saleh yang sengaja berjalan-jalan terus di siang hari di masjid agar tidak tertidur. Ini dianggap kebodohan karena menyelisihi syariat dan akal. Syariat mengatakan badan kita punya hak, maka tidurlah, salat malamlah dan tidurlah. Secara akal juga demikian, dengan tidur tubuh kita setelahnya akan bersemangat lagi. Nabi ﷺ berkata, “Hendaknya kalian mengikuti petunjuk Nabi yang tengah, siapa yang berlebihan dalam agama, dia akan terdominasi.”Hadis Tali Zainab & Larangan Memaksa Diri: Nabi ﷺ memerintahkan untuk melepas tali yang dipasang Zainab untuk berpegangan saat lelah salat. Salatlah sesuai kemampuan, jika lelah silakan duduk. Jika mengantuk saat salat, tidurlah terlebih dahulu, sebab dikhawatirkan orang yang mengantuk niatnya membaca istigfar malah mencaci dirinya sendiri tanpa sadar.Sebaik-baik salat malam adalah seperti Nabi Daud; tidur setengah malam pertama, salat sepertiga malam, dan tidur lagi seperenam malam terakhir sehingga bangun Subuh dalam keadaan segar. Para ulama Salaf yang bisa salat semalam suntuk melakukannya secara bertahap, dibantu dengan tidur siang (qailulah) serta porsi makan yang sedikit; bukan standar umum, dan Nabi ﷺ sendiri tidak dikenal begadang tanpa tidur sama sekali setiap malam.Fitnah Menceritakan Amal Saleh (Riya Terselubung)Iblis menipu ahli salat malam untuk menceritakan amalan mereka secara halus di siang hari agar orang lain tahu mereka habis salat malam.Contoh Riya Halus: Mengatakan "MasyaAllah, si fulan tadi malam azannya tepat waktu." Maksud terselubungnya adalah memberi tahu orang-orang bahwa dia tidak tidur semalam sehingga tahu jam azan muazin. Atau mengghibah orang lain: "Si Fulan kalau salat Subuh selalu terlambat Takbiratul Ihram," secara tidak langsung memuji diri sendiri bahwa dirinya tidak pernah terlambat.Kerugian Amalan Tercerita: Meskipun pelakunya tidak berniat riya, menceritakan amalan akan memindahkan status pahalanya dari "amalan rahasia/tersembunyi" (yang pahalanya jauh lebih besar) menjadi "amalan yang terlihat/terceritakan." Jika diniatkan untuk riya, maka pahalanya akan hangus total. Di zaman sekarang, harus sangat hati-hati terhadap budaya upload/publish amal (salat, umrah, haji, sedekah) jika tidak ada maslahat syar'i yang jelas dan aman dari riya.Riya dalam Beribadah di Masjid & MenangisSengaja Beribadah Agar Terkenal: Setan menggoda orang untuk sengaja berlama-lama salat sendirian di masjid agar orang datang bersimpati, memujinya, lalu menjadikannya viral. Hal ini membuat ia makin semangat ibadah karena pujian orang, bukan karena ikhlas. Padahal Nabi ﷺ bersabda sebaik-baik salat (sunnah) bagi laki-laki adalah di rumahnya, kecuali salat fardu.Kisah Salaf Menyembunyikan Amalan:Amir bin Qais tidak suka orang lain melihatnya salat sunnah di masjid.Ibnu Abi Laila langsung pura-pura tidur/berbaring jika sedang salat lalu ada orang masuk ke ruangannya.Ada yang salat semalam suntuk, lalu menjelang subuh pura-pura tidur agar paginya bisa berkata "Wah tidur semalam nyenyak sekali" agar dikira orang tidak salat malam.Allah membekali manusia dengan jiwa yang suka mencela (nafsul lawwamah). Sinyal ini akan mengingatkan hati kita saat kita mulai terdeteksi ingin pamer atau riya. Jika sinyal itu muncul, segera berhenti dan jangan diteruskan karena riya terasa manis/lezat bagi nafsu.Menangis di depan orang banyak bisa terjadi tanpa sengaja; jika tak mampu menahan, tidak dipaksa. Tetapi orang yang mampu menyembunyikan tangis lalu sengaja menampakkannya sedang membuka pintu riya.Kisah Salaf Menahan Tangis:Ayub As-Sikhtiyani jika sudah tidak kuat menahan tangis saat menyampaikan ilmu, ia akan segera berdiri dan pergi.Ada juga yang mengambil tisu saat menangis lalu berbohong dengan berkata "Flu itu berat," demi menutupi bahwa ia sedang menangis karena takut riya.Jangan membuat-buat tangisan, suara sedu, atau gestur tisu tanpa air mata demi kesan khusyuk.Hidup ini singkat, maka beribadahlah dengan khusyuk dan ikhlas, dan tutuplah rapat-rapat segala pintu riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (bagian 2)

Godaan iblis agar terluput dari keutamaan takbiratul ikhram dengan membuat hati was-was apakah sudah benar mengucapkan niat padahalNiat lisan salah tapi tetap dihitung shalat karena sudah ada niat di hati untuk shalat. Ini disebabkan oleh kurangnya ilmu saat beribadahAkhirnya ia pun melakukan takbir berulang-ulang. Perkara ini tidak pernah ditemukan di kisah nabi dna para sahabatYang bikin berniatnya itu was-was adalah ia ingin menghadirkan seluruh kata-kata niat itu secara utuh diucapkan “aku berniat shalat magrib 3 rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah taala” padahal kalau niat dalam hati “aku berniat shalat magrib” itu dah otomatis magrib pasti 3 rakaatKalau orang yang sudah merasa niat yang dia ucapkan pas dan takbirnya sudah dilakukan ia menjadi orang yang santai tidak memperhatikan shalatnya, tidak memperhatikan rukunnya yang lain hal ini keliruSaat shalat jamaah bila imam sudah tinggal sedikit selesai langsung saja baca al fatihah tidak perlu doa iftitah dan taawuz karena itu hukumnya sunnahJangan sampai kita mendahulukan sunnah dan melalaikan yang wajibSibukkan yang wajib tinggalkan yang sunnah apabila kondisi tidak memungkinkanJadi para ulama sepakat doa iftitah adalah sunnah sedangkan al fatihan sebagai makmum ada yang bilang sunnah  maka cukup imam  dan ada yang bilang wajib tetap dibacaAda orang yang banyak meninggalkan banyak sunnah karena kondisi dirinyaYaitu sengaja ingin di saf belakang alasannya “aku ingin lebih fokus agar hatiku tidak riya” artinya masalah pribadinya menghalangi dari berbuat sunnah yang benar adalah perbaiki hatimu dan lakukanlah sunnahSeharusnya jalani sunnah lawan riyaUlama bukan maksum. Jadi bukan ulama bilang sesuatu pasti benar tapi harus kembali ke dalil jadi ulama bisa salah karena hadist bisa belum sampai kepadanya

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #6 : Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)

Talbis Iblis #6 : Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)Oleh Ustadz Firanda Andirja Hafidzahullah 1.     Talbis Iblis dalam masalah Niat ShalatIblis berusaha merusak ibadah dengan membuat seseorang merasa sudah beribadah padahal sebenarnya belum, atau sebaliknya.·    Mengulang-ulang Lafal Niat: Seseorang terus-menerus mengulang ucapan niatnya (seperti usholli) karena mengira niat sebelumnya batal atau tidak pas. Padahal, niat itu letaknya di dalam hati dan sudah ada sejak ia berdiri untuk salat.·    Ragu saat Takbiratul Ihram: Mengulang-ulang Allahu Akbar karena berusaha menyinkronkan lafal niat yang panjang di dalam hati bersamaan dengan takbir. Menariknya, ketika imam ruku, orang tersebut tiba-tiba bisa langsung takbir dan ikut ruku karena takut kehilangan rakaat. Ini bukti bahwa waswas sebelumnya hanyalah permainan iblis agar ia kehilangan keutamaan awal salat.·    Hakikat Niat Menurut Ulama: Tempat niat adalah di dalam hati, bukan pada lafal. Niat akan muncul secara otomatis/seketika saat seseorang hendak salat (seperti analogi ketika berdiri menyambut orang alim, kita tidak perlu melafalkan niat). Oleh karena itu, melafalkan niat bukanlah sebuah kewajiban.·    Kata Ibnu Jauzi & Ibnu Aqil: Waswas dalam niat bersumber dari gangguan akal akibat kurangnya pemahaman terhadap syariat (kebodohan terhadap syariat).2.     Skala Prioritas (Mendahulukan Sunah, Merusak Wajib)Iblis menipu ahli ilmu atau ahli ibadah dengan membuat mereka terlalu fokus pada perkara sunah, namun melalaikan perkara yang wajib.·       Masbuk yang keliru: Terlalu sibuk membaca doa istiftah dan taawudz (hukumnya sunah) hingga melupakan atau kehabisan waktu untuk membaca Al-Fatihah (hukumnya wajib).·       Memilih saf belakang: Sengaja memilih saf belakang dengan alasan takut riya, padahal saf depan memiliki keutamaan yang jauh lebih besar (sesuai dalil bahwa sebaik-baik saf laki-laki adalah yang pertama).3. Berlebihan dalam Tajwid dan Makhraj HurufIblis menggoda orang yang salat agar terlalu ekstrem dalam melafalkan huruf-huruf Al-Qur'an (tajwid) sampai menekan makhraj secara tidak wajar atau mengulang-ulang satu kata (misal: alhamdu, alhamdu).Dampaknya: Orang tersebut keluar dari ketenangan aturan salat dan fokusnya habis hanya untuk memikirkan teknis tajwid, sehingga ia melalaikan esensi utama salat, yaitu mentadaburi (merenungkan) makna ayat yang dibaca. Tajwid sejatinya hanyalah sarana untuk membaca dengan benar, bukan tujuan akhir yang mengorbankan pemahaman makna4.  Semangat Amalan Sunah tapi Merusak Amalan WajibIblis menghiasi amalan sunah hingga seseorang merasa jauh lebih bahagia melakukannya dibanding amalan wajib.·       Contohnya: seseorang begadang semalam suntuk untuk salat malam, namun di penghujung malam ia kelelahan lalu ketiduran sehingga melewatkan salat subuh berjamaah atau salat subuh di awal waktu. Padahal, pahala amalan fardu jauh lebih besar di sisi Allah daripada amalan sunah.5. Fitnah Menceritakan Amal Saleh·       Iblis menggoda orang yang rajin beribadah untuk mempublikasikan atau menceritakan amalan mereka di siang hari, baik secara langsung maupun dengan isyarat yang halus.·       Contohnya : "Si Fulan muadzin tadi malam azannya tepat waktu ya.". Maksud terselubungnya adalah agar orang lain tahu bahwa dia terjaga dan sedang salat malam pada jam tersebut. Perbuatan ini sama ada menghapuskan pahala (jika riyak) atau memindahkan amalan tersebut daripada amalan tersembunyi yang tinggi pahalanya kepada amalan yang terang-terangan.Kesimpulan : Kunci utama agar selamat dari segala bentuk tipu muslihat Iblis dalam beribadah adalah dengan menyeimbangkan ilmu syariat yang benar dan menjaga keikhlasan hati. serta senantiasa mengamalkan ilmu yang didapat agar ilmu tersebut menjadi penolong, di akhirat kelak.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
U
Ulfa Puspitasari

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (bag 2)

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja Kajian dimulai dengan pembahasan dari kitab Talbis Iblis, yang membahas berbagai tipu daya dan muslihat iblis dalam menggangu ibadah manusia. Iblis berniat merusak ibadah kita, sehingga kita merasa melakukan ibadah, namun pada kenyataannya ibadah tersebut terganggu atau bahkan tidak sah. Salah satu tipu daya iblis adalah mencampuri niat dalam shalat. Ada orang yang berniat shalat namun karena waswas atau keraguan, ia mengulangi niatnya berkali-kali, padahal niat tidak batal hanya karena ucapan salah atau repetisi lafal. Niat sebenarnya hanya perlu hadir dalam hati sekali saja. Contoh kasus lain, orang ragu saat takbiratul ihram lalu mengulanginya terus-menerus, padahal jika imam sudah rukuk, biasanya niat langsung hadir sempurna karena takut tertinggal rakaat.Banyak yang sampai bersumpah agar hanya takbir sekali karena waswas berulang-ulang, bahkan ada yang bersumpah dengan sesuatu yang berat untuk menguatkan niat takbir sekali, padahal ini termasuk tipu daya iblis yang menyulitkan diri sendiri.Disebutkan juga kisah Abu Hazim yang mendapatkan bisikan waswas dari iblis: "Shalatmu tanpa wudhu". Ia menepis bisikan tersebut dengan tegas karena tahu itu hanya tipu daya iblis. Implikasi utamanya adalah bahwa niat hadir di hati saat hendak melaksanakan shalat, dan tidak perlu diulang-ulang untuk memperbaiki lafaz niat karena bukan kewajiban melafalkannya.Penjelasan lebih lanjut:Niat adalah dalam hati, bukan pada lafaz.Pengulangan niat untuk memperbaiki lafaz hanya akan menimbulkan keraguan yang tidak perlu.Lafal niat tidak wajib, yang wajib adalah kehadiran niat di hati.Jika seseorang merasa belum mengucapkan niat padahal sudah, ini merupakan penyakit waswas.Kisah dan pendapat dari Imam Ibnu Aqil dipaparkan: seseorang yang terus merasa belum selesai wudhu atau takbirannya, padahal sudah, disebut sebagai orang gila dan tidak wajib shalat. Ini mempertegas bahwa keraguan yang berlebihan adalah penyakit.Sebab utama waswas niat adalah kebodohan terhadap syariat. Contoh analogi: ketika bertemu ulama dan berdiri untuk menyambutnya, niat sudah langsung hadir di hati tanpa perlu dilafalkan. Begitu juga niat shalat sudah hadir saat seseorang berdiri untuk shalat tanpa harus dirinci dan dilafalkan.Niat shalat sudah mencakup:Jenis shalat (fardu, sunnah) Waktu pelaksanaan Jumlah rakaat, arah kiblat, status sebagai makmum atau imamSemua ini sudah tersusun dalam satu saat tanpa perlu perincian panjang atau pelafalan formal.Inti penting yang ditekankan Ibnu Jauzi:Niat itu mudah dan tidak sesulit yang dibayangkan.Tidak perlu membebani diri dengan lafaz dan perincian kompleks.Niat boleh didahulukan sebelum takbiratul ihram.Bahasan fikih terkait niat pada rukun pertama ibadah:Dalam wudhu, niat harus hadir saat melakukan rukun pertama (mencuci wajah).Dalam shalat, rukun pertama adalah takbiratul ihram.Akan tetapi, menggabungkan niat yang panjang dan takbiratul ihram secara bersamaan secara sempurna sangat sulit.Rasulullah tidak membebankan yang terlalu rumit ini.Banyak orang waswas karena sulitnya menyelaraskan niat dengan takbir (yang berarti menghayati makna "Allah Maha Besar" sambil menghadirkan niat terperinci). Oleh karena itu, jangan terlalu berlebihan dalam mengulang-ulang takbir dan niat.Dalam hadis dan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat tidak melakukan pelafalan niat secara panjang dan berulang-ulang. Menyulitkan diri dalam ibadah adalah sesuatu yang diwaspadai dan tidak dicontohkan oleh Nabi dan sahabat.Dikatakan juga muslihat iblis ada pada orang yang terlalu sibuk mengatur niat dan takbir sementara shalatnya sendiri kurang diperhatikan. Contoh lain: setelah takbir, makmum yang masbuk terkadang terlalu lama membaca doa-doa sunnah sehingga tertinggal rukuk imam.Prioritas ibadah harus diperhatikan:Tidak boleh mengutamakan sunnah sekaligus meninggalkan kewajiban. Misalnya, jika tertinggal rukuk, sebaiknya langsung baca Al-Fatihah, tanpa doa istiftah atau ta’awudz agar tidak tertinggal imam.Ibnu Jauzi mencontohkan bahwa para ulama berbeda pendapat soal kewajiban membaca Al-Fatihah bagi makmum, tetapi sunnah-sunnah seperti doa istiftah dan ta’awudz tidak boleh sampai mengganggu kewajiban. Jangan sampai yang sunnah malah dilaksanakan, tapi yang wajib terabaikan.Tipu daya iblis lainnya adalah menyebabkan orang meninggalkan sunnah karena masalah pribadi atau ketakutan riya, seperti memilih untuk tidak isi saf terdepan demi agar hatinya fokus, atau takut dianggap khusyuk. Ini tetap termasuk kesalahan dan kekurangan ilmu.Hadis shahih menegaskan keutamaan saf pertama dalam shalat berjamaah. Jangan takut salah paham orang, yang penting adalah memperbaiki hati dan mengikuti sunnah.Contoh lain sunnah yang sering dilalaikan adalah posisi tangan saat shalat yang diajarkan Nabi yaitu tangan kiri di atas kanan. Sebagian orang meninggalkan ini karena alasan pribadi, padahal ini termasuk sunnah penting dalam shalat.Kesimpulan penting oleh Ibnu Jauzi:Jangan meninggalkan syariat hanya karena mengikuti kebiasaan atau pendapat seseorang, walaupun orang tersebut saleh.Ulama bukan maksum, dan pendapat mereka bisa salah.Yang dijadikan pegangan adalah dalil dari Al-Quran dan hadis.Ditekankan bahwa keluar dari kaidah ibadah lalu berlebih-lebihan adalah kesalahan:Contohnya pada bacaan Al-Quran dalam shalat: mentahqiq (pelafalan huruf) yang terlalu berlebihan bisa membuat keluar dari aturan yang benar.Iblis membuat orang terlalu fokus pada tajwid sampai lupa makna, sementara tujuan membaca Al-Quran adalah memahami makna.Tipu daya lain: sebagian orang ahli ibadah hanya fokus pada gerakan berdiri dan duduk, tanpa memperhatikan hal-hal wajib lainnya sehingga ibadahnya kurang sempurna.Praktik lain yang tertangkap adalah beberapa makmum sudah ikut salam ketika imam salam padahal tasyahhud belum selesai. Ini tidak ditanggung oleh imam dan haram ditinggalkan tasyahhud sampai selesai.Ada juga yang memanjangkan salat dengan bacaan berjamaah, tapi melalaikan sunnah dan mengerjakan yang makruh.Contoh kasus salat siang (dhuha) dengan suara keras untuk menghilangkan ngantuk adalah kesalahan karena melanggar adab sunnah.Perhatian soal prioritas ibadah:Jangan sampai terlalu fokus pada salat malam sehingga salat fardu tertinggal.Salat fardu berjamaah lebih utama daripada salat malam.Jika seorang berlebihan dalam persiapan salat fardu (misal kesiapan untuk berjamaah), bisa membuatnya tertinggal salat berjamaah dan ini salah.Contoh nyata kebodohan menurut syariat: berjalan di siang hari supaya tidak mengantuk untuk shalat malam. Nabi mengajarkan agar badan juga diperhatikan, jika mengantuk hendaknya tidur.Rasulullah melarang memaksakan berdiri salat jika capek; boleh duduk salat sunah.Jika ngantuk saat shalat, lebih baik tidur dahulu agar shalat dengan semangat dan khusyuk.Salat Nabi Daud yang jadi contoh adalah dengan bertahap menjalankan salat malam tanpa berlebihan.Tidak ada riwayat Nabi Muhammad pernah begadang semalaman tanpa tidur. Sunnah lebih menekankan keseimbangan ibadah dan istirahat.Iblis juga menipu dengan riya’, memprovokasi orang agar suka mempublikasikan amal saleh mereka.Contoh negatif: seseorang sengaja mengabarkan azan tepat waktu untuk menunjukkan bahwa dia tidak tidur semalaman, yang pada hakikatnya adalah riya’ terselubung.Dalil penting: Allah memuji orang yang berinfak secara terang-terangan jika niatnya ikhlas, tapi amal tersembunyi lebih utama.Iblis memancing riya juga dalam urusan menangis dalam ibadah. Bila seseorang bisa menahan tangis, sebaiknya menahan, karena menampilkan tangis bisa menjadi riya.Orang yang gemar beribadah di masjid supaya terlihat dan menjadi pusat perhatian juga bagian dari tipu daya iblis.Rasulullah menegaskan shalat sunnah terbaik adalah di rumah kecuali salat fardu yang disunnahkan di masjid agar tidak dikenal riya.Beberapa sahabat salat malam sambil menyembunyikan ibadahnya agar tidak diketahui orang lain, menghindari riya.Manusia memiliki nafsul lawwamah yaitu jiwa yang suka mencela dirinya ketika melakukan kesalahan atau maksiat, sebagai kontrol internal agar jangan melakukan riya’.Penting untuk menghentikan diri saat ada tanda riya’, jangan lanjutkan cerita atau pamer amal saleh.Iblis terus menggoda manusia dan ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, menutup pintu riya’ dan kesombongan.Kajian akan dilanjutkan pada pembahasan talbis iblis dalam ibadah lainnya seperti baca Qur’an, puasa, dan haji.Kesimpulan Utama: Ibadah harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan sederhana, tidak rumit dan tidak berlebihan.Waswas dan kebingungan dalam niat serta pelaksanaan adalah tipu daya iblis untuk mengganggu keikhlasan dan kekhusyukan.Prioritaskan kewajiban dalam ibadah, jangan sampai tertukar dengan pelaksanaan sunnah yang menyebabkan kelalaian.Hindari riya’ dengan menjaga amal tetap tersembunyi, tidak diumumkan kecuali untuk maslahat syar’i dan ikhlas.Pelajari dan pahami dalil sebagai pedoman utama dalam beribadah, jangan semata mengikuti kebiasaan atau pendapat individu.Istirahat dan menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari ibadah yang diperintahkan oleh Rasulullah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)

Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 8Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Dzikru Talbisi Iblisa 'ala al-'Ubbad) Bag 2I. Mukaddimah: Kebodohan sebagai Akar Segala WaswasAl-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala menegaskan sebuah kaidah utama dalam bab ini:"Pintu terbesar yang dimasuki Iblis untuk mengelabui manusia adalah kebodohan (al-jahl). Iblis dapat mendatangi orang-orang bodoh dengan sangat mudah dan aman. Sebaliknya, jika Iblis ingin menggoda seorang alim (orang yang berilmu), ia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan mencuri-curi kesempatan."Iblis sukses menyesatkan banyak ahli ibadah justru karena minimnya ilmu agama yang mereka miliki. Mayoritas ahli ibadah menghabiskan waktu untuk melakukan ritual fisik tanpa bimbingan ilmu syar'i. Oleh karena itu, seorang tabi'in senior, Rabi' bin Khutsaim, memberikan nasihat: "Tafaqqah taziil (Belajarlah ilmu fikih terlebih dahulu, baru setelah itu engkau silakan menyendiri untuk fokus beribadah)." Jika seseorang mengisolasi diri untuk beribadah tanpa ilmu, ia berada dalam bahaya besar karena Iblis tidak akan membiarkannya beribadah dengan benar.II. Keutamaan Ilmu di Atas Ibadah SunnahKerancuan pertama (talbis) yang dibisikkan Iblis kepada ahli ibadah adalah membuat mereka mendahulukan amalan sunnah (nawafil) daripada menuntut ilmu, padahal kedudukan ilmu jauh lebih utama. Iblis menipu mereka dengan logika: "Tujuan ilmu adalah amal, jadi langsung saja lakukan amalnya tanpa perlu membuang waktu menuntut ilmu."Ibnul Jauzi membantah hal ini dengan menjelaskan bahwa kaum ahli ibadah yang bodoh mengira amalan itu hanyalah sebatas gerakan anggota tubuh lahiriah (amalan jawarih). Mereka tidak menyadari bahwa amalan yang paling agung adalah amalan hati (amalul qalb), seperti meluruskan akidah, mengenal sifat-sifat Allah, serta memupuk keimanan. Amalan hati ini kedudukannya jauh lebih tinggi daripada amalan fisik dan hanya bisa diraih melalui jalur menuntut ilmu. Semangat beribadah tanpa ilmu adalah karakteristik kaum Nasrani yang tersesat (Ad-Dhallin).Atsar Para Salaf tentang Ilmu:Mutarrif bin 'Abdillah bin Asy-Syiikhir berkata: "Keutamaan ilmu itu jauh lebih baik daripada keutamaan ibadah." * Yusuf bin Asbath berkata: "Satu bab ilmu yang engkau pelajari dengan benar, itu lebih baik daripada engkau mengikuti 70 kali peperangan (jihad)."Al-Mu'afa bin 'Imran berkata: "Menulis satu hadis Nabi lebih aku sukai daripada melakukan shalat malam semalam suntuk."III. Talbis Iblis dalam Urusan Thaharah (Bersuci) & WuduKetika ahli ibadah mencampakkan ilmu, Iblis dengan sangat mudah merancukkan pemikiran mereka dalam berbagai praktik thaharah harian melalui penyakit waswas:A. Waswas Saat Buang HajatIblis membisikkan rasa waswas saat buang air kecil. Ada orang yang melakukan gerakan berlebihan seperti berdiri, berjalan, berdeham dengan keras, hingga menghentakkan kaki secara bergantian dengan asumsi agar sisa air kencingnya keluar semua. Tindakan melampaui batas ini justru memicu penyakit waswas. Secara syariat, seseorang cukup membersihkan kemaluannya dengan mengurutnya secara lembut, lalu menyiramnya dengan air tanpa perlu melompat-lompat.B. Waswas dalam Penggunaan Air & Istinja'Iblis menghiasi pikiran sebagian orang bahwa menggunakan air dalam jumlah banyak secara berlebihan itu lebih bagus. Padahal, jika najis sudah hilang, pembasuhan sudah dihukum suci. Begitu pula dalam urusan istinja' menggunakan batu (istijmar). Jika kotoran keluar secara normal di area lubang dubur, cukup dibersihkan dengan 3 buah batu. Menggunakan batu secara berlebihan hingga 21 batu adalah tindakan tidak mengikuti sunnah Nabi ﷺ.C. Keraguan Terhadap Kesucian Air & TempatBanyak orang terjebak dalam asumsi tanpa bukti: "Jangan-jangan tempat ini najis, jangan-jangan air ini kemasukan tikus." Di dalam ilmu kaidah fikih, berlaku aturan baku: Hukum asal dari air dan segala tempat adalah suci. Keyakinan yang telah pasti tidak boleh digugurkan hanya karena adanya keraguan (Al-Yaqinu la Yazulu bis-Syakk). Jika Anda bertamu ke rumah orang lain, shalatlah di atas lantainya tanpa perlu ragu, kecuali jika mata Anda melihat langsung atau hidung Anda mencium bau najis di tempat tersebut.D. Empat Perkara yang Dibenci Akibat Waswas Air:Seseorang yang berwudu secara berlebihan hingga menghabiskan air dalam jumlah besar telah mengumpulkan 4 perkara yang dibenci syariat:Tabzir: Boros dalam penggunaan air (makruh meskipun berwudu di sungai yang mengalir).Menghabiskan Umur: Menyia-nyiakan waktu yang berharga untuk perkara yang tidak wajib dan tidak pula disunnahkan di dalam kamar mandi.Melampaui Batas Syariat: Merasa tidak nyaman dengan batas minimal yang ditetapkan oleh syariat.Menyelisihi Sunnah: Melanggar batasan mencuci anggota wudu lebih dari tiga kali. Akibat wudu yang terlalu lama ini, mereka sering kali luput dari Takbiratul Ihram bersama imam atau kehilangan jamaah shalat.Nabi ﷺ pernah memperingatkan bahwa akan datang suatu kaum dari umatnya yang melampaui batas dalam dua hal: dalam berdoa dan dalam bersuci. Iblis juga menugaskan setan khusus yang bernama Walhan untuk meniupkan rasa waswas pada manusia dalam urusan wudu.IV. Talbis Iblis dalam Niat Shalat & Takbiratul IhramA. Fenomena Waswas Lafal NiatIblis menggoda orang shalat melalui pelafalan niat (ushalli). Orang yang terkena waswas akan terus mengulang-ulang kalimat niatnya karena merasa niat sebelumnya telah batal atau lafalnya salah. Mereka bersusah payah merangkai kata secara detail di lisan (Ushalli fardhal zuhri arba'a raka'atin...).Ibnul Jauzi menegaskan bahwa niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan. Keinginan dan kesadaran Anda berdiri untuk menjalankan shalat fardu menghadap kiblat itulah yang dinamakan niat, dan itu terkumpul dalam hati dalam satu waktu (lahzah) tanpa perlu diuraikan secara mekanis lewat lisan. Seluruh fuqaha sepakat bahwa melafalkan niat bukanlah sunnah Nabi ﷺ dan tidak pula wajib.B. Mengulang-ulang Takbiratul IhramAda orang yang bertakbir "Allahu Akbar", lalu membatalkannya, dan mengulangnya kembali berkali-kali. Anehnya, ketika imam sudah hendak rukuk, orang yang waswas ini tiba-tiba bisa takbir dengan lancar tanpa ragu karena takut kehilangan rakaat. Ini adalah bukti nyata bahwa waswas tersebut hanyalah permainan Iblis untuk menggugurkan pahala keutamaan Takbiratul Ihram di awal shalat. Saking parahnya penyakit ini, sebagian orang sampai bersumpah dengan nama Allah, menjanjikan seluruh hartanya, bahkan mengancam mencerai-ceraikan istrinya jika mereka mengulang takbir lagi.C. Kisah Ketegasan Para Ulama Terhadap WaswasKisah Abu Hazim: Ketika masuk ke dalam masjid, Iblis membisikkan rasa waswas ke dalam hatinya: "Sesungguhnya engkau shalat tanpa wudu." Abu Hazim langsung menepisnya dengan cerdas: "Sejak kapan engkau mulai peduli dan memberikan nasihat kebaikan kepadaku, wahai Iblis?"Kisah Ibnu 'Aqil: Seseorang mengadu kepada Ibnu 'Aqil: "Aku telah membasuh anggota wuduku dan bertakbir, namun perasaanku mengatakan aku belum membasuh dan belum bertakbir." Ibnu 'Aqil menjawab tegas: "Kalau begitu, engkau tidak wajib shalat." Orang-orang heran dengan jawaban itu, maka Ibnu 'Aqil menjelaskan: "Nabi ﷺ bersabda bahwa pena syariat diangkat dari orang gila sampai ia sadar. Barangsiapa yang sudah bertakbir secara nyata lalu akalnya mengatakan ia belum bertakbir, maka ia adalah orang yang kehilangan akal (gila), dan orang gila tidak wajib shalat."Ibnul Jauzi menyimpulkan: "Al-waswasatu sababuha khalalun fil-'aqli wa jahlun bis-syar'i" (Sesungguhnya penyakit waswas itu disebabkan oleh adanya gangguan pada akal dan kebodohan terhadap syariat).V. Atsar Para Sahabat terhadap Sikap Berlebihan (Mutanatti'un)Mis'ar meriwayatkan dari Man bin 'Abdurrahman, dari catatan tangan ayahnya, bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu bersabda:"Demi Dzat yang tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Dia, aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas dan keras terhadap orang-orang yang mempersulit diri (mutanatti'un) melebihi Rasulullah ﷺ. Dan aku tahu Abu Bakar adalah orang yang sangat khawatir terhadap mereka, serta Umar bin Khattab adalah manusia yang paling keras di atas muka bumi terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beragama."Sebagian orang yang waswas, apabila mereka berhasil meluruskan takbir dan niatnya sesuai standar waswas mereka, mereka akan mendadak santai dan mengabaikan kekhusyukan sisa shalatnya. Seolah-olah inti dari shalat hanyalah mempaskan takbir. Padahal, takbir hanyalah pintu masuk. Shalat ibarat sebuah rumah; jangan sampai Anda menghabiskan seluruh energi hanya untuk berdiri di depan pintu lalu melalaikan keindahan di dalam rumah tersebut.VI. Salah Skala Prioritas saat MasbukIblis mengelabui orang yang tertinggal shalat jamaah (masbuk). Ketika ia mendapati imam sudah hampir selesai membaca surat dan bersiap rukuk, ia takbir lalu sibuk membaca doa istifttah dan ta'awwudz yang panjang. Akibatnya, imam keburu rukuk dan ia kehilangan kesempatan membaca Al-Fatihah.Ini adalah bentuk kesalahan skala prioritas akibat kebodohan fikih. Doa istifttah dan ta'awwudz hukumnya adalah sunnah, sedangkan membaca Al-Fatihah adalah kewajiban (wajib/rukun) bagi makmum menurut mayoritas ulama. Maka, mendahulukan amalan sunnah hingga melalaikan amalan wajib adalah bagian dari tipuan Iblis.Ibnul Jauzi mengisahkan pengalamannya saat masih kecil ketika shalat di belakang gurunya, seorang ahli fikih bernama Abu Bakar Ad-Dinari. Sang guru melihat Ibnul Jauzi kecil melakukan hal tersebut saat masbuk, lalu menegurnya:"Wahai anakku, sesungguhnya para ahli fikih berselisih tentang wajibnya membaca Al-Fatihah bagi makmum di belakang imam, namun mereka semua sepakat bahwa doa istifttah itu hukumnya hanyalah sunnah. Oleh karena itu, sibukkan dirimu dengan perkara yang wajib dan tinggalkan perkara yang sunnah jika waktunya sempit."VII. Meninggalkan Sunnah karena Alasan Psikologis PribadiIblis juga menipu sebagian ahli ibadah untuk meninggalkan sunnah Nabi ﷺ demi menuruti perasaan atau kondisi psikologis pribadi mereka sendiri:Sengaja Mundur dari Saf Pertama: Ada orang yang sengaja memilih shalat di saf belakang meskipun saf pertama masih kosong. Alasan mereka: "Aku ingin hatiku lebih fokus dan aku takut tertimpa penyakit riya jika shalat di depan." Ini adalah logika yang keliru. Kewajiban seorang muslim adalah menjalankan sunnah di saf pertama, lalu melawan penyakit riya di dalam hatinya, bukan justru menyerah kalah dengan cara mundur ke saf belakang.Sengaja Tidak Bersedekap: Ada orang yang shalat tanpa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap) dengan alasan: "Aku khawatir jika aku bersedekap, aku akan terlihat seperti orang yang khusyuk, padahal hatiku tidak khusyuk." Niatnya mungkin terdengar jujur, namun tindakan ini menyelisihi sunnah. Nabi ﷺ pernah melihat Ibnu Mas'ud keliru meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan, lalu Nabi ﷺ langsung memegang dan memperbaiki posisi tangan Ibnu Mas'ud agar bersedekap dengan benar.Ketika Ahmad bin Hanbal diberitahu bahwa Abdullah ibnul Mubarak memiliki pendapat atau perilaku tertentu yang menyelisihi sunnah karena alasan pribadi, Imam Ahmad menegaskan: "Ibnu Mubarak tidak turun dari langit (ia bisa keliru). Yang menjadi hujah bagi kita adalah dalil syariat, bukan figur individu saleh." Ibrahim bin Adham juga mengingatkan umat agar selalu berpegang teguh pada jalan asal (al-asl), yaitu dalil syar'i, bukan mengikuti jalan-jalan tikus (ijtihad pribadi yang keliru).VIII. Talbis Iblis dalam Urusan Tajweed & Formalisme RitualA. Berlebihan dalam Makharijul HurufIblis menggelincirkan sebagian orang dalam urusan membaca Al-Qur'an saat shalat. Mereka terlalu terobsesi pada keabsahan makhraj dan penekanan tasydid secara berlebihan. Ibnul Jauzi menceritakan: "Sungguh aku pernah melihat ada orang yang mengucapkan lafal 'Waladh-Dhallin' dengan penekanan huruf Dhad yang begitu ekstrem hingga air liurnya keluar berhamburan." Sikap berlebihan ini membuat fokus pikiran mereka tersita habis hanya untuk memikirkan teknis makhraj huruf, sehingga hati mereka benar-benar kosong dari mentadabburi makna agung ayat yang sedang mereka baca. Tajweed adalah sarana untuk memperindah bacaan, bukan tujuan utama yang merusak kekhusyukan shalat.B. Salam Tanpa Menyelesaikan TasyahudIblis menipu sebagian orang untuk melakukan formalisme ritual tanpa pemahaman. Ketika imam mengucapkan salam, mereka langsung terburu-buru ikut mengucapkan salam, padahal bacaan tasyahud akhir dan selawat wajib mereka belum selesai dibaca. Bacaan wajib shalat tidak ditanggung oleh imam jika makmum sengaja meninggalkannya. Selesaikan bacaan tasyahud akhir Anda terlebih dahulu, baru kemudian menyusul salam di belakang imam.IX. Ketimpangan Ibadah Malam (Tahajjud) vs Shalat Fardhu (Subuh)Iblis menipu sebagian ahli ibadah untuk menghabiskan seluruh malamnya dengan begadang melakukan shalat tahajjud dan zikir. Akibatnya, menjelang waktu subuh, tubuh mereka kelelahan dan mereka ketiduran hingga luput dari shalat subuh berjamaah di masjid, atau shalat subuh dalam kondisi mengantuk berat dan malas.Pahala shalat fardu berjamaah jauh lebih besar dan lebih dicintai oleh Allah daripada shalat malam semalaman suntuk. Menghidupkan sunnah dengan cara menghancurkan kewajiban adalah bentuk nyata dari talbis Iblis.Ibnul Jauzi mengisahkan seorang ahli ibadah bernama Husain Al-Qazwini yang berjalan terus di siang hari di dalam Masjid Al-Mansur. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab: "Aku sengaja berjalan terus agar tubuhku tidak tertidur." Ibnul Jauzi menyebut ini sebagai kebodohan yang menyelisihi syariat dan akal. Tubuh manusia memiliki hak untuk beristirahat. Rasulullah ﷺ bersabda:"Hendaknya kalian menempuh jalan yang tengah (moderat). Karena sesungguhnya barangsiapa yang memaksakan diri berlebih-lebihan dalam urusan agama, maka agama ini pasti akan mengalahkannya."Dalil-Dalil Larangan Memaksakan Diri dalam Ibadah:Hadis Tali Zainab: Rasulullah ﷺ melihat ada tali yang membentang di antara dua tiang masjid milik Zainab untuk dijadikan pegangan saat tubuhnya kelelahan shalat malam. Nabi ﷺ memerintahkan: "Lepas tali itu! Hendaknya salah seorang dari kalian shalat di waktu semangatnya. Jika ia lelah atau malas, hendaknya ia shalat dalam posisi duduk."Hadis Larangan Shalat Saat Mengantuk: Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat, hendaknya ia pergi tidur sampai hilang rasa kantuknya. Karena jika ia memaksa shalat saat mengantuk, bisa jadi ia berniat meminta ampunan namun lisannya justru mencaci-maki dirinya sendiri tanpa sadar."Metode Tidur Nabi Daud: Sebaik-baik metode ibadah malam adalah metode Nabi Daud alaihis salam, yaitu tidur pada setengah malam pertama, bangun menghidupkan sepertiga malam, dan tidur kembali pada seperenam malam terakhir, sehingga saat subuh tiba fisik berada dalam kondisi segar.Jika ada riwayat yang menyatakan sebagian ulama salaf shalat semalam suntuk, hal itu dilakukan melalui proses latihan bertahap selama bertahun-tahun (tadarruj), dan mereka dibantu oleh kebiasaan tidur siang (qailulah) serta porsi makan yang sangat sedikit, sehingga mereka dijamin tidak akan melalaikan shalat subuh berjamaah. Namun secara mutlak, petunjuk dan sunnah Rasulullah ﷺ yang tetap membagi waktu malamnya untuk tidur adalah mutiara terbaik yang wajib diikuti.X. Fitnah Menceritakan Amal (Tahadduts bil-'Amal) & Riya dalam TangisanA. Riya yang Terselubung (Smug Riya)Iblis melancarkan tipuan yang sangat halus kepada orang-orang yang rajin shalat malam. Pada siang harinya, Iblis menggoda mereka untuk membocorkan amalan malamnya kepada orang lain melalui lisan mereka secara terselubung.Misalnya, seseorang berkata di dalam sebuah majelis: "Masya Allah, muadzin subuh di masjid itu tadi malam mengumandangkan azan tepat pada waktunya." Niat batinnya mengucapkan kalimat itu adalah agar orang-orang di majelis tahu bahwa dia tidak tidur dan ikut terjaga di sepertiga malam untuk tahajjud.Ada pula yang berkata: "Si Fulan itu kalau shalat subuh tidak pernah bisa mendapatkan Takbiratul Ihram pertama bersama imam, selalu saja terlambat." Kalimat ini mengandung dua dosa sekaligus: Riya terselubung (agar dirinya dipuji selalu shalat subuh di saf terdepan) ditambah dosa Ghibah (menceritakan aib orang lain). Perbuatan menceritakan amal ini akan memindahkan catatan pahala amalan yang semula rahasia di sisi Allah menjadi amalan terang-terangan yang berkurang atau bahkan sirna pahalanya akibat riya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa di antara kalian yang mampu memiliki amalan sholeh yang tersembunyi, maka lakukanlah."B. Talbis dalam Tangisan IbadahIblis juga menyusup melalui air mata. Seseorang yang menangis di dalam shalat di depan banyak orang, jika ia sebenarnya mampu menahan tangisnya namun sengaja melepaskannya agar terlihat khusyuk, maka ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam jurang riya. Lebih parah lagi adalah fenomena tangisan yang dibuat-buat (gimmick) untuk memancing suasana haru jemaah.Para ulama salaf dahulu adalah orang-orang yang paling ketat menyembunyikan tangisannya:Abu Wa'il apabila shalat sendirian di rumahnya akan menangis tersedu-sedu. Namun, jika ia ditawarkan seluruh dunia ini agar ia mau menangis di depan mata orang lain, ia tidak akan pernah mau melakukannya.Ayyub As-Sikhtiyani apabila sedang menyampaikan ilmu lalu hatinya tersentuh dan air matanya hendak mengalir, ia akan segera berdiri atau mengambil kain untuk mengusap wajahnya sambil berkata kepada jemaah: "Aduh, penyakit pilek/flu saya sedang parah sekali hari ini." Beliau berpura-pura sakit flu demi menutupi air mata ikhlasnya agar tidak diketahui oleh manusia dan selamat dari penyakit riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
L
Lathifah Aulia Dewi

📍 Kabupaten Boyolali

Talbis Iblis 006 Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Bagian 2)

Masalah Niat ShalatNiat “ushalli shalata kadza..” (saya berniat shalat ini). Kemudian dia mengulangi lagi niatnya karena dia menyangka niatnya batal. Seharusnya tidak perlu ragu-ragu.Bertakbir, batalin lagi. Ulangi takbir, batal lagi. Ini godaan iblis.Untuk menghilangkan was-was: kalau tujuanmu menghadirkan niat, niatmu sudah ada, buat apa mengulang-ulang? Karena keinginanmu untuk shalat itu sudah niat, dan tempat niat adalah di hati. Kalau maksudmu mengulangi niat untuk memperbaiki lafalnya, ingatlah bahwa melafalkan niat itu tidak wajib, dan engkau sudah benar, mengapa diulangi lagi?Yang membuat was-wasadalah ketika dia ingin menghadirkan lafal niat secara terperinci (diuraikan) dalam satu waktu: shalat zhuhur, fardhu, ada’, menghadap kiblat, sebagai makmum. Itu susah. Yang mudah itu menghadirkan niat tanpa menguraikan lafal.Boleh niat didahulukan sebelum takbir.Sebagian ulama fikih berpendapat niat adalah rukun shalat, dan harus dihadirkan pada rukun pertama dalam shalat. Misalnya berwudhu, rukun pertama membasuh wajah. Ketika membasuh wajah harus dihadirkan niat wudhunya. Kalau shalat, rukun pertamanya “ALLAHU AKBAR”, sulit untuk menggabungkan Allahu Akbar dengan ushalli…. sementara harus merenungkan juga makna allahu akbar. Sulit untuk menerapkan kedua hal tsb di saat yang bersamaan. Ini menimbulkan was-was, akhirnya takbirnya diulang-ulang.Di antara was-was: sibuk dengan yang sunnah dan meninggalkan yang wajib. Contoh: sudah sah takbir di belakang imam (masbuk), kemudian dia masih baca doa istiftah (panjang). Kalau tahu imam sudah tinggal sedikit waktu berdirinya maka langsung saja baca Al-Fatihah. Kalau disibukkan dengan istiftah, imam keburu rukuk. Khawatir tidak mendapat al-Fatihah. Baca taawudz dan istiftah itu sunnah. Al-Fatihah itu wajib. Meski ada khilaf, ada yang mengatakan makmum tetap wajib baca, ada yang mengatakan makmum tidak harus baca cukup mengikuti imam. Jangan mendahulukan yang sunnah dan melalaikan yang wajib.Ada seseorang yang meninggalkan sunnah-sunnah Nabi karena mengikuti kondisi dirinya sendiri. Contoh: SENGAJA tidak di shaf pertama. Alasannya dia ingin fokus. Dia khawatir dirinya riya’. Ini masalah pribadi dia sehingga dia meninggalkan sunnah. HARUSNYA jalani sunnah, lawan riya’ (perbaiki hatimu). Contoh lain: orang shalat berdiri tidak bersedekap (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri). Tangan di samping. Dia khawatir kalau bersedekap seakan-akan dia khusyu’ padahal hatinya tidak khusyu’. Niatnya “baik” supaya tidak disangka khusyu’, tapi ini menyelisihi sunnah.Seandainya manusia tahu keutamaan menjawab adzan, dan keutamaan di shaf pertama, kemudian mereka tidak bisa melakukannya kecuali dengan undian, tentu mereka akan melakukan undian.Yang jadi patokan adalah dalil. Jangan berpatokan pada seseorang. Ulama bukan ma’shum. Jika ulama berselisih maka kita cari dalil mana yang lebih dekat dengan kebenaran. Bukan kalau ada ulama yang bilang pasti benar. “Di buku fikih ini ada,” nanti semuanya ada. Yang bilang boleh minta kepada mayat juga ada di buku-buku. Yang bilang boleh melakukan hal-hal aneh juga banyak di buku-buku. BUKAN BERARTI KALAU ADA DI BUKU JADI BOLEH. Ulama juga bisa salah, ulama juga bisa tidak sampai ilmu/hadits kepadanya, sehingga fikihnya mungkin kurang pas.Iblis terkadang menggoda sebagian orang yang shalat dalam masalah makhorijul huruf. Dengan mengulang-ulang bacaannya karena merasa bacaannya kurang fasih. Tasydidnya kurang kencang. Kadang berlebihan demi memastikan bacaannya benar. Yang penting hurufnya sudah jelas maka sudah cukup. Iblis membuat mereka keluar dari aturan shalat yang benar dengan berlebihan dalam mewujudkan huruf tsb. Dan jadi sibuk memikirkan makhroj daripada memikirkan makna ayat. Padahal tajwid adalah sarana untuk memikirkan makna ayat.Imam Salam, tapi Bacaan Tasyahud Belum SelesaiTidak apa imam salam duluan, selesaikan bacaan tasyahud. Sebab bacaan tasyahud itu wajib, tidak ditanggung imam.Salat Sunnah di Siang Hari dengan Mengeraskan Bacaan Al-Qur’anMengeraskan bacaan saat salat di siang hari itu makruh, kecuali salat Jum’at, salat ‘Id. Ada yang berkata ingin menghilangkan kantuknya dengan bacaan jahr. Lalu dijawab, sesungguhnya sunnah-sunnah Nabi jangan ditinggalkan gara-gara begadangmu, kalau mengantuk ya tidur, sebab tubuhmu juga butuh istirahat. Seseorang karena kebodohannya akhirnya meninggalkan sunnah.Sibuk dengan yang Sunnah dan Lalai dengan yang WajibSibuk dengan salat malam, salat dhuha, senang dengan salat sunnah melebihi salat fardhu. Begadang demi salat malam. Sebelum subuh sudah capek, sampai salat fajarnya ketinggalan. Ini salah. Yang lebih utama adalah yang wajib. Seseorang harus lebih bahagia salat subuh berjamaah daripada salat malam. Salat fardhu berjamaah pahalanya lebih besar. Jangan salah prioritas. Salat malam itu indah, dianjurkan, tapi jangan sampai shalat fardhunya kelewatan.Seseorang jangan shalat jika dalam kondisi mengantuk.Bukankah telah diriwayatkan sekelompok ulama salaf shalat semalam suntuk?Mereka itu bertahap sampai di kebiasaan tersebut. Tidak tiba-tiba shalat semalaman. Mereka yakin bisa salat subuh berjamaah. Mereka kuat karena mereka tidur siang dan makan mereka sedikit.Tidak sampai bahwa Rasul begadang semalam suntuk tanpa tidur sama sekali. Sunnah Nabi lebih utama untuk diikuti daripada perbuatan para salaf.Fitnah Menceritakan Amal ShalihMereka menceritakan bahwa mereka shalat malam, tetapi terkadang tidak secara langsung. “Si Fulan semalam adzannya pas waktu.” Dia berkata demikian agar orang-orang mengira semalam tidak tidur. Ini riya’ secara halus.Atau berkata, “Si Fulan kalau shalat tidak pernah takbiratul ikram, pasti terlambat terus.” Ini ghibah plus riya’. Sehingga orang-orang tahu dia tidak pernah terlambat.Orang yang seperti itu, kalau dia tidak riya’ minimal dia telah memindahkan catatan amalnya dari amal tersembunyi menuju amal yang terlihat/terceritakan. Beda pahala antara amal tersembunyi dan amal yang diceritakan.Orang yang Bersendirian Beribadah dalam MasjidDia beribadah karena orang lain semangat melihatnya ibadah. Lebih baik salat sunnah itu di rumah.Menangis di Keramaian OrangMisalnya ketika kajian, merasa tersentuh, kalau bisa menahannya maka itu lebih baik.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya1 hari lalu
A
Aniza

📍 Kota Depok

Talbis iblis kepada ahli ilmu (bag.2)

KAJIAN KITABTALBIS IBLIS #6TALBIS IBLIS KEPADA AHLI ILMU (bagian - 2)Karya Ibnul Jauzi RahimahullaahSenin, 8 Juni 20026Ustdz DR. Firanda Andirja============ Tipuan iblis yang menjadikan ibadah kita terganggu.Diantaranya dalam masalah niat sholat.Ada org yg sholat berniat : usholli, usholli berkali². Disangkanya niatnya batal, padahal niatnya sudah hadir.Diantara org yg was² : ada org yang bersumpah takbir mau sekali aja. Contoh : demi Allaah kalau saya ulang takbir lagi, saya akan tinggalkan harta saya. Ini krna demi kokohnya takbirnya.Syari'at islam itu mudah.Untuk menghilangkan talbis iblis :Jika tujuanmu untuk menghadirkan niat, maka melafalkan niat tdk wajib. Kenapa kamu mengulang2 niat? Kenapa engkau mengira belum mengucapkan niat?Padahal niat adanya di hati.Jika ada org yg mengatakan " aku belum wudhu, aku belum bertakbir. Padahal sudah dilakukan. Ini adalah was² syetan.Ibnul jauzi mengatakan :Ketahuilah was² dlm niat sholat karena adanya masalah di akalnya. Karena kebodohan pada syariat.Niat sudah terkumpul dalam satu waktu "pingin sholat zuhur, 4 rokaat, sebagai makmum" (ini sudah ada di dalam hati)Jadi ga perlu di lafalkan yg butuh waktu banyak karna harus di uraikan."Niat itu mudah"Ada sebagian org berpendapat : niat dilafalkan bareng dengan rukun sholat yg pertama.takburatul ihram (ini sulit menggabungkan niat dengan takbiratul ihram)Sulit meresapi niat barengan dengan lafal Allaahu Akbar.Islam itu mudah.Talbis yg lain :Membaca doa istiftah yang sunnah saat sholat jamaah saat sudah masbuq. Seharusnya dahulukan baca al fatihah yg wajib. Yang lain :Sholat jamaah lebih milih di shaf belakang karna takut tdk fokus / riya.Padahal sunnahnya shaf pertama lbh utama. "Sebaik² shaf lelaki adalah paling depan."Kata ibnul jauzi, Hal² ini terjadi karena kurangnya ilmu. "Jangan meninggalkan syariat karena mengikuti perkataan seseorang yg engkau agungkan. Mungkin hadits belum sampai kepadanya."Yang jadi patokan adalah dalil. Ulama bukan ma'shum. Bila ada perdebatan antar ulama, kembali ke dalil.======Keluar dari Undang-Undang Ibadah.Iblis telah menggoda sebagian org yg sholat dalam hal makhorijul huruf. Ada org yg baca al qurannya harus fasih, harus benar makhorijul huruf, jadi kalau salah diulang² bacaan al fatihahnya saat sholat..ini adalah talbis iblis.Sibuk memikirkan makhorijul huruf dan tajwidny saat sholat. Sementara makna ayat gak dipikirkan. Ini adalah talbis iblis.==Iblis menggoda ahli ibadah dengan mengurangi perkara² wajib dlm ibadah.Contoh : orang langsung ikut salam ketika imam salam, tapi tdk menyelesaikan tasyahud akhirnya.Iblis mengganggu dalam memanjang²kan sholat. Melakukan perkara2 makruh dlm sholat. Ada org melakukan sholat sunnah di siang hari dan mengeraskan bacaan sholatnya. Alasannya agar tdk ngantuk, makanya bacaannya dkeraskan.Kalau ngantuk lebih baik tidur. Badan harus diistirahatkan.Karena sunnahnya org ngantuk itu tidur.===Talbis iblis yg lain : sibuk dengan perkara sunnah namun lalai dengan yg wajib. Mereka memperbanyak sholat malam. Ada yg sholat malam semalam suntuk. Sebelum subuh dia capek. Akhirnya subuhnya kesiangan.Orang harus lebih bahagia sholat subuh berjamaah dibandingkan bisa sholat malam.Jangan terbalik.Ada org yg berjalan terus di siang hari di mesjid. Alasannya agar tidak ngantuk.Badan harus diberikan hak. Istirahatlah. Makan. Tdk boleh berlebihan dalam agama.Sebaiknya orang sholat sesuai semangatnya. Kalau capek gak kuat, boleh duduk.Kalau ngantuk, tidur dulu., perbaharui dulu tenaganya, baru sholat lagi.Jangan sampai salah prioritas. Sholat subuh jangan sampai ngantuk² gara² sholat malam.Para salaf dahulu kuat sholat malam, sholat subuh berjamaah. Karena mereka tidur siang dan makan sedikit.====Fitnah menceritakan amal sholeh.Sholat di publishUmroh di publishSedekah di publish.Sungguh iblis telah menipu orang yg sholat malam, siang hari diceritakan ke org lain.Riya tipis (Si fulan tadi malam azannya pas)Orang ini minimal telah memindahkan amal tersembunyi menjadi amal yg terceritakan (pahala bisa berkurang).Amal sholeh yg disembunyikan lebih baik.====Orang-orang yg sering sholat di mesjid.Membuat viral banyak org yg jadi senang mengikuti orang ini.Sebaik² sholat di rumah kecuali sholat fardhu (di mesjid).=====Iblis menggoda ahli ibadah. Mereka menangis di depan banyak orang. Jangan pura² nangis. Kalau dia bisa menahan nangis, maka tahanlah. Kecuali memang ga bisa nahan. ====

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →