📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 jam lalu
F
fitria bunga yunita

📍 Kota Bogor

Talbis Iblis #7: Talbis Iblis kepada Ahli Ibadah (Bag-3)

Talbis Iblis #7: Talbis Iblis kepada Ahli Ibadah (Bag-3) Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.:1. Sibuk dengan amalan aunah hingga melupakan yang wajibSetan menggoda sebagian ahli ibadah supaya sibuk melakukan solat sunah siang dan malam, namun mereka mengabaikan perbaikan batin (penyakit-penyakit hati) serta tidak mempedulikan sumber makanan mereka.Memperbaiki hati dan memastikan makanan yang dimakan adalah halal sepatutnya menjadi keutamaan yang lebih besar berbanding sekadar memperbanyakkan solat sunah.2. Tipu daya iblis dalam membaca Al-QuranMembaca terlalu cepat (gopoh): setan menggoda sebagian orang untuk mengejar jumlah bacaan Al-Quran untuk memenuhi target khatam, sehingga membacanya tanpa tartil dan tanpa tadabbur.Tujuan utama Al-Quran: Ustadz mengingatkan bahwa tujuan utama al-Quran diturunkan adalah untuk ditadabbur dan diamalkan. Walaupun ada riwayat salafu solih yang khatam dalam masa yang sangat singkat, perkara itu jarang dilakukan di luar Ramadan dan mereka membacanya dengan penuh kefahaman..Mengganggu orang Lain: Iblis menggoda orang yang membaca Al-Quran dengan suara yang terlalu kuat menggunakan mikrofon masjid pada waktu malam (sebelum subuh) atau selepas azan. Perbuatan ini dan mengganggu orang yang sedang tidur, orang sakit, atau orang lain yang ingin khusyuk solat sunat dan berdoa3. Riya' terang-teranganDicontohkan orang yang sengaja membaca doa khatam al-Quran di hadapan jemaah selepas solat Subuh hari Jumaat semata-mata agar orang lain tahu bahwa dia telah khatam Al-Quran. Ini berbeda dengan salafu solih yang sentiasa menyembunyikan amalan mereka agar terhindar daripada sifat riya'.4. Tipu daya dalam ibadah puasaPuasa dahar (terus menerus): Iblis menggoda sebagian orang untuk berpuasa setiap hari tanpa henti (kecuali pada hari-hari yang diharamkan). Sebaiknya hal ini tidak dilakukan karena menyebabkan badan menjadi lemah untuk mencari rezeki serta mengabaikan hak biologi pasangan (isteri). Ustadz menegaskan bahwa sebaik-baik puasa sunat ialah Puasa Nabi Daud (sehari puasa, sehari berbuka).5. Riya' yang SamarSeseorang yang terkenal sering berpuasa, apabila tiba satu hari dia terpaksa berbuka (tidak berpuasa), dia akan menyembunyikannya agar reputasinya sebagai ahli puasa tidak jatuh. Jika ia Ikhlas, sebaiknya sesekali tampakkan tidak berpuasa di depan orang.Pintu-pintu riya' amat banyak dan setan sentiasa mencari jalan untuk menggugurkan pahala amalan manusia. Oleh itu, setiap Muslim dituntut untuk sentiasa memeriksa niat hati, mengutamakan kualitas ibadah (ikhlas dan mengikut sunnah) dibandingkan kuantitas, serta berupaya untuk menyembunyikan amalan kebaikan dari orang lain.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya17 jam lalu
P
putri anggraini

📍 Kota Samarinda

Talbis Iblis 7 : Talbis Iblis terhadap ahli ibadah bagian 3

Sibuk dengan yang tidak utama dan meninggalkan yang utamaIbnul Jauzi rahimahullah berkata syaitan telah mengoda banyak dari ahli ibadah, kau melihat orang sholat sholat sunnah dimalam hari, mereka sholat di siang hari tetapi mereka tidak perhatian terhadap batin mereka. Padahal dalam batin ini sangat banyak aib. Dan mereka tidak memperhatikan apa yang mereka makan. Padahal memperhatikan hal tersebut membantu memperbaiki penyakit-penyakit batin, dan perhatian terhadap apa yang kita makan itu lebih utama daripada memperbanyak sholat-sholat sunnah.Maksud dari iman Ibnul Jauzi rahimahullah jangan sampai seseorang sibuk dengan yang dzohir dan lupa dengan yang batin. Jangan lupa memperhatikan batin dan memperhatikan pada dzohir.Godaan syaitan terhadap para pembaca Al-Qur'an. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata syaitan telah menggoda manusia dengan memperbanyak tilawah Qur'an tapi mereka membaca dengan hazn (cepat), tanpa dengan tartil, tanpa dibaca dengan pelan-pelan. Metode membaca dengan cepat, ini lah kondisi tidak terpuji. Memang benar diriwayatkan dari sebagian salaf khatam dalam sehari, atau ada yang menghatamkan Al-Qur'an dalam satu rakaat sholat. Namun, perkara ini adalah yang jarang diantara mereka. Bukan setiap hari mereka lakukan. Membaca dengan tartil itu lebih disukai ulama. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda, "barangsiapa yang khatam Al-Qur'an terlalu cepat atau kurang dari 3 hari maka dia tidak faqih". Perlu diperhatikan sulit kita kiyaskan kita dengan mereka, karena mereka paham artinya, paham tafsirnya. Contoh imam syafi'i rahimahullah yang sudah jadi mufti dari umur 15 tahun, beliau membaca Al-Qur'an dengan paham dengan tartil dan terbawa sudah tafsirnya. Tujuan membaca Al-Qur'an adalah untuk dipahami, dengan  begitu iman akan bertambah dan mudah akan di amalkan. Berbeda dengan orang yang membuat target berjuz-juz, tidak pelan-pelan tidak ada tadabbur. Maka ini adalah talbis iblis. Seorang hendaklah memperhatikan kuantitas dia juga hendaknya memperhatikan kualitas dengan dia baca. Kita niat membaca Al-Qur'an niat tilawah:1. Untuk mendapatkan pahala, 2. Untuk mentadabbur3.  Untuk Mengobati dirinya dengan ruqiyah4. Agar mendapatkan petunjuk5. Agar kita mendapatkan rahmat AllahPara ulama membahas ini dan dengan ini bacaan Al-Qur'an kita berkualitas. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, bersabda bahwa aku tidak mengatakan alif lam mim, itu satu ayat. Tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. Dan satu huruf 10 pahal.Oleh karena Nabi Shallallahu alayhi wa sallam mencela orang-orang khawarij mereka membaca Al-Qur'an tapi tidak melewati kerongkongan nya.Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan. Al-Qur'an harus dipahami, dimengerti baru untuk diamalkan. Maka sebagian orang membatasi diri hanya dengan membaca Al-Qur'an, padahal membaca itu baru tahapan awal.Tahapan Al-Qur'an1. Membaca2. Tadabbur3. BeramalMulai sekarang berusaha untuk mentadaburi agar bertambah iman dan berkualitas. Membaca Al-Qur'an pelan-pelan, baca terjemahannya. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam saja berbicara pada orang Arab jangan mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari 3 hari. Ini orang Arab dilarang, bagaimana lagi kita kita bukan orang Arab.Ibnu Mas'ud berkata jangan jadikan akhir Al-Qur'an pada tujuanmu. Tapi berhentilah pada keajaiban-keajaiban Al-Qur'an, goyangkan hati, pikirkan, renungkan,maka akan datang bacaan yang berkualitas untuk menambah iman.Adapun bulan Ramadhan boleh mengkhatamkan Al-Qur'an boleh dengan berkualitas, memahami maknanya.Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, iblis menggoda kelompok ahli Qura, Ahli Qur'an kaum khawarij dimana mereka membaca Al-Qur'an di menara pada malam hari. Mereka mengumpulkan suara  dengan beberapa orang, maka mereka ini sudah mengumpulkan dia kesalahan, kesalahan pertama menganggu orang tidur, kedua masuk pada riya'.Sama seperti masjid sekarang dua jam sebelum sholat subuh, kita dengar masjid berbunyi, banyak yang terganggu sholat malamnya terganggu, yang sakit tidak bisa tidur. Diantaranya juga banyak orang yang sudah adzan dia membaca Al-Qur'an, bersenandung, bahasa arabnya salah, terganggu dengan orang bacaan Al-Qur'an. Sehingga sunnah tidak di lakukan. Maka sebaik-baiknya petunjuk adalah sunnah Nabi shallallahu alayhi wa sallam.Berkata Ibnul Jauzi rahimahullah, di antara perkara menakjubkan adalaah seseorang mengimami sholat subuh pada hari Jum'at, setelah sholat subuh dia kemudian dia membaca Al-Muqizatain dan dia membacaa do'a khatam Qur'an. Sungguh ini bukan metode para salaf, para salaf sangat menyembunyikan smalam mereka. Tarohlah itu tidak riya', itupun bukan metode salaf. Apalagi jika terkena salaf.Rabi' bin Khusaim rahimahullah, dia seorang tabi'in dan seluruh amalnya tersembunyi. Para sahabat berkata, kalau Nabi melihat mu pasti Nabi mencintai mu. Bisa jadi dia sedang membaca Al-Qur'an, kemudian ada orang masuk dia tutup Al-Qur'annya.Godaan Syaitan terhadap puasa ibadah dalam ibadah puasaSyaitan menggoda seseorang maka mereka puasa terus menerus (puasa dhar) , dan itu hukum nya boleh. Jika seorang berpuasa pada hari yang tidak diharamkan.Tingkatan puasa sunnah 1. Berbuka dua hari, puasa sehari2. Puasa Daud3. Puasa Dhar (puasa setiap hari, kecuali hari raya, hari tasryik).Maka para ulama berbeda pendapat tidak dianjurkan berpuasa Dhar, ada yang berpendapat makruh, ada yang berkata haram. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam pernah menegur Abdullah bin Amr bi Ash, tidak ada yang lebih utama dari puasa Daud.Dan cerita 3 orang sahabat yang mendatangi istri Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Ada yang ingin tidak menikah, ada yang ingin berpuasa, dan ada yang ingin sholat terus terusan. Lalu Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam menengur mereka satu demi satu. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam menegur orang yang puasa setiap hari.Ibnul Jauzi rahimahullah berkata meskipun ini boleh berpuasa setiap hari, akan menimpa dua kekurangan :1. Dia mungkin akan lemah, untuk mencari rezeki demi keluarga nya dan bisa jadi terhalang untuk bermesraan dengan istrinya, sedangkan istrinya juga membutuhkan haknya. 2. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda bahwa sesungguhnya istrimu punya hak, betapa banyak kewajiban yang terlalaikan karena melakukan sunnah yang salah dengan berpuasa setiap hari.Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda pada Abdullah bin Amr bin Ash, berpuasa satu bulan dalam 3 hari (puasa ayyamul bidh) Kata Abdullah, aku lebih mampu dari itu ya Rasulullah, Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam berkata maka berpuasa sehari dan berbuka dua hari. Abdullah berkata, aku bisa lebih dari itu maka berpuasalah dengan puasa Daud. Dan tidak ada yang lebih baik daripada puasa Daud.Jika ada yang berkata seseorang kadang mampu melakukan puasa sekaligus mencari rezeki dan dia bisa berpuasa setiap hari. Tapi kita tetap berpatokan pada dalil Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, hadist Nabi lebih kita cinta tentang puasa Nabi Daud.Bahkan ada kaum sebelum kita mereka mendawamkan, mengkontinyukan puasa daud sstiap hari padahal makanan mereka kurang bergizi dan makanan sedikit. Akhirnya sebagian mereka ada yang buta matanya, otaknya kering. Terlalu memaksakan untuk berpuasa Daud. Maka ini adalah bentuk kelalaian dan keterpaksaan pada jiwa yang padahal itu tidak mampu, melalaikan jm kewajiban bagi jiwa. Ini tidak boleh, puasa bukan untuk bunuh diri. Bahkan puasa Ramadhan jika tidak mampu berpuasa kita bisa menganti dengan fidyah.SAMARNYA RIYA'Ibnul Jauzi rahimahullah bisa jadi terkenal seseorang sering berpuasa dahr, dan dia tahu dia terkenal suka berpuasa. Maka dia tidak pernah bebruka, misalnya satu hari dia tidak berpuasa baik karena sakit, dia bersembunyi agar popularitas dia tidak jatuh. Ini adalah riya' yang samar. Jika orang ini ingin ikhlas harusnya jika dia ingin berbuka puasa, maka dia sesekali dia menampakkan dia berbuka di hadapan orang yang tau dia berpuasa setiap hari.Diantara mereka ada yang riya' dengan mengambarkan dengan puasanya, misalnya "hari ini sejak 20 tahun yang lalu aku selalu berpuasa dan tidak pernah berbuka". Syaitan membuat syubhat "cerita aja saman orang agar kau jadi teladan". Ibnul Jauzi rahimahullah berkata Allah lebih mengetahui hati seseorang.Misalnya juga seorang ustadz meminta muridnya mempopulerkan dirinya setiap ibadahnya.Syubhat iblis : kabarkanlah ibadahmu agar engkau dihormati, kalau sudah ingin dihormati maka ini riya'.Minimal kalau ikhlas pahalanya berkurang dan pahala ibadah tersembunyi, menjadi amal ibadah yang terlihat. Amal tersembunyi pahalanya lebih besar daripada amal yang terlihat.Para salaf bersusah payah menyembunyikan amal mereka. Para salaf sangat takut riya' sedangkan sekarang kita tidak takut dengan riya'. Orang zaman sekarang bersusah payah untuk mempublikasikan amal ibadahnya.Kata Ibnul Jauzi rahimahullah sebagian mereka ada yang selalu berpuasa Senin Kamis, diajak makan-makan dia menolak makan-makan, lalu dia berkata "coba ingat hari apa? Ini kan hari kamis". Ini mengesankan dsngan riya' yang samar. Ada juga orang yang berpuasa tapi mengomentari orang lain dengan menghina misalnya " ini orang ini katanya hafal Al-Qur'an tapi tidak puasa kamis".Berpuasa makan sahur dan bukanya tidak tau syubhat atau haram. Berpuasa tapi tidak perduli ghibah jalan terus. Berpuasa tapi nonton jalan terus. Harusnya berpuasa menjaga semuanya, iblis mengesankan dengan berpuasa semuanya akan terhapus.Jadi seorang beribadah dia harus waspada jangan sampai ibadahnya hancur gara-gara riya' bahkan dengan riya' yang tersembunyi. Maka pentingkanlah ibadah kita untuk Allah, jangan perdulikan pujian orang kita akan bertemu Allah sendiri-sendiri.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya17 jam lalu
S
Sylvia Eka Putri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Talbis iblis terhadap ahli ilmu (bagian 3)

Talbis iblis #7Talbis iblis terhadap ahli ibadah (bagian 3)15. Sibuk tentang hal yang tidak utama lalu maninggalkan hal yang utamaIman Al Jauzy berkata“Setan telah menggoda banyak ahli ibadah dengan sholat sunnah dimalam hari tetapi mereka tidak perhatian dengan perbaikan batin mereka padahal dalam batin banyak sekali aib dan tidak memperhatikan apa yang mereka makan halal atau haram.karena ini lebih utama dari pada memperbanyak sholat sunnah16. Talbis iblis dalam membaca al quranIman Al Jauzy berkata“Syetan telah menggoda dengan memperbanyak tilawah tapi cepat tanpa mentartil,(target banyak juz selesai) ini tidak terpuji.”Memang ada riwayat para salaf khatam dalam sehari atau dalam 1 rakaat seperti yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan dan Abu Hanifah namun ini adalah perkara yg jarang dan siapa salaf yang begini bukan setiap hariIni boleh tapi membaca dengan tartil itu lebih utamaSabda rasululloh“Orang yang khatam kurang dari 3 hari maka dia tidak paham al qur’an”Larangan ini diluar ramadhan tapi boleh dibulan Ramdhan seperti Imam Syafii menghatamkan al qur’an sehari 2 kali dalam ramadhan.Tujuan membaca alqur’an adalah utk ditaddaburi ayat2nyaFudhail Bin Iyadh pernah berkata“Sesungguhnya alqur’an diturunkan untuk diamalkan dan untuk diamalkan harus ditadabburi maka sebagian orang membatasi mengamalkan alqur’an dengan tidak mentadabburinya”17. Talbis iblis terhadap pembaca Al qur’an dan#.membacanya dimenara mesjid dimalam hari dengan suara keras atau berame2 dengan 1 suara.Maka mereka telah mengumpulkan 2 kesalahan yaitumengganggu orang tidurMemaparkan diri Terjerumus dalam riya#.membaca alquran setelah adzan sehingga mengganggu org berdoa atau sholat sunnahIbnu Mas’ud berkata“siapa yang ingin bersunnah maka ikutilah orang2 yang sudah meninggal yaitu para sahabat”Berkata Ibnu Al Jauzy“Diantara perkara yang menakjubkan ketika seseorang mengimami sholat subuh dihari jumat setelah mengucapkan salam dia membaca surat terakhir dan mengucapkan doa khatam qur’an,ini bukan metode salaf yang suka menyembunyikan amalan”Robi’ Bin Husain seluruh amalanya tersembunyi sampai ada sahabat yang mengatakan kalo nabi melihatnya nabi pasti mencintainyaAhmad bin Hambal sering baca qur’an dan tidak diketahui kapan dia khatam qur’an.17. Talbis iblis terhadap ibadah puasaSyetan menggoda sebagian orang dengan puasa terus menerus (puasa Dahr)Ini hukumnya boleh jika dia tidak berpuasa dihari2 yang diharamkanTingkatan puasaPuasa Dahr dengan syarat tidak puasa dihari yang dilarang (khilaf ulama ada yang bilang haram dan ada yang bilang makruh)Puasa sehari berbuka sehariPuasa sehari berbuka 2 hariKekurangan puasa dahr bagi seseorangmenyebabkan dia lemah sehingga tidak fokus mencari rejeki buat keluarga,Membuat dia terhalang memenuhi kebutuhan biologis istrinyaMenyebabkan dia terluput dari keutamaan nabi yaitu puasa daud lebih sempurnaHadist  dari abdullan bin Amr bin Ash“Rasululloh bertemun denganku dan berkata “ bukankah telah disampaikan kepadaku bahwasanya engkau selalu sholat malam  bukankah kau yang berkata “aku akan sholat malam dan puasa disiang hari”Aku berkata “benar ya rasululloh aku telah mengatkan demikian”Maka Rasululloh menasehati jangan sholat semalam suntuk,sholat dan tidurlah dan jangan puasa setiap hari,puasa dan berbukalah,kalo mau puasa 3 hari dalam 1 bulan karena ini seperti puasa setiap hari”Aku berkata “saya mampu lebih daripada itu”Maka rasululloh memberi yang lebih tinggi “ puass sehari berbuka 2 hari”Aku berkata “saya lebih mampu dari itu ya Rasululloh”“Kalo begitu puasa nabi Daud karena ini puasa terbaik”“Aku masih mampu lebih dari itu ya Rasululloh dan beliau berkata “tidak ada yang lebih baik dari itu”Jika ada yang berkata bahwa ada ulama salaf yang berpuasa setiap hari sikap kita“Mereka mampu melakukannya setip hari tanpa melalaikan kewajiban kepada keluarga atau bisa jadi mereka tidak punya keluarga dan tidak perlu mencari rejeki ada juga yg melakukan diakhir hayatnyaMeskipun demikian rasululloh berkata“Tidak ada yang lebih afdol dari puasa daud”Ada orang yang merutinkan puasa Daud padahal makanan mereka kurang bergizi dan sedikit sampai ada yg buta karena terlalu memaksa ini adalah bentuk kelalaian terhadap jiwa yang bukan kemampuannya maka ini tidak boleh.Ada yang dikenal orang suka melakukan puasa dahr maka dia tidak pernah berbuka sama sekali,kalopun dia berbuka satu hari maka dia sembunyi agar tidak dilihat orang dan ini adalah riya jika dia ingin ikhlas hendaknya dia berbuka didepan orang yang menganggap  dia puasa setiap hari lalu dia puas lagi diam diam dan tidak menyampaikan keorang lain.Diantaranya ada yg riya secara terang2an dan berkata “saya selalu berpuasa setiap hari semenjak 20 tahun”Dan syetan berbuat syubhat “tunjukan kepada orang agar menjadi teladan”“Sembunyikanlah kebaikan2mu seperti kau menyembunyikan keburukanmu”Sufyan Atsauri berkata“Sungguh seorang hamba melakukan ibadah dalam kesendirianya maka syetan menggodanya utk menyebarkanya maka pahalanya berpindah dari pahala amalan tersembunyi menjadi amalan yang terlihat”Ada yang terbiasa puasa senen kamis lalu menghina orang yang tidak puasaAda yang berpuasa namun berbuka tidak tahu haram dan halalnyaAda yang berpuasa tapi ghibah jalan terus (maksiat)Harus puasa tidak hanya menahan makan dan minum“Waspadalah terhadap hancurnya ibadah dengan riya yang tersembunyi jangan pedulikan pujian manusia”

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 jam lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 02 | Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidul Islam Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Diantara pembatal keislaman, ada yang berupa keyakinan, seperti:• Meyakini bahwa ada illah (sesembahan) selain Allah• Meyakini bahwa hukum selain hukum Allah adalah lebih baik daripada hukum Allah• Meyakini bahwa shalat lima waktu tidak wajib• Meyakini kehalalan sesuatu yang jelas diharamkan di dalam agama Islam, seperti zina, homoseks, minuman keras, dan lain-lain.Ini adalah beberapa keyakinan yang bisa membatalkan keislaman seseorang.Orang-orang munafik meskipun mengucapkan kalimat – لا إله إلا الله – dan mengucapkan syahadat – محمداً رسول الله – akan tetapi mereka kafir karena tidak meyakini makna dua kalimat syahadat tersebut.Pembatal keislaman ada yang berupa perbuatan anggota badan, seperti:• Bersujud kepada selain Allah• Menyembah untuk selain Allah• Dan lain-lainMengetahui Nawaqidul Islam (pembatal-pembatal keislaman) merupakan perkara yang sangat penting, karena seseorang harus mengetahui kebaikan untuk diamalkan dan mengetahui kejelekan supaya bisa terhindar dari kejelekan tersebut.Orang yang hanya mengetahui kebaikan tetapi tidak mengetahui kejelekan, dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut, disadari atau tidak disadari.Apalagi kejelekan tersebut adalah kekufuran yang barangsiapa meninggal di atas kekufuran, maka kesengsaraan selamanya yang akan dia rasakan.Hudzaifah Ibnu Yaman, seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,كان أصحابُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَسأَلُونَه عن الخَيرِ، وكُنتُ أسأَلُه عن الشَّرِمَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي“Dahulu, para sahabat Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya kepada Beliau tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada Beliau tentang kejelekan, karena aku takut terjerumus ke dalam kejelekan tersebut.” [Muttafaqun’ Alaihi]Hal ini dilakukan oleh para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu. Mereka mengetahui kebenaran dan juga berusaha untuk mengetahui kesalahan. Mempelajari Al Haq dan juga mempelajari jenis-jenis kebathilan. Mengetahui kebenaran tersebut supaya bisa diamalkan dan mengetahui kebathilan (kesalahan) supaya bisa terhindar.Di dalam sebuah bait syair dikatakan,عَرَفْتُ الشّرَّ لا لِلشّرِّ لَكِنْ لِتَوَقّيهِفَمَن لا يعرِفُ الشّرَّمنَ الناسِ يقعْ فيهِ“Aku mengetahui kejelekan bukan untuk mengamalkan kejelekan tersebut, akan tetapi supaya terhindar dari kejelekan tersebut. Dan barangsiapa diantara manusia yang tidak mengetahui suatu kejelekan, maka dikhawatirkan dia akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut.”Salah satu penyebab utama seseorang terjatuh di dalam Nawaqidul Islam adalah karena tidak tahu, tidak belajar, dan tidak berusaha mempelajarinya.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,والجهل داء قاتل وشفاؤه أمران في التركيب متفقان نص من القرآن أو من سنة وطبيب ذاك العالم الرباني“Kebodohan adalah penyakit yang mematikan dan obatnya adalah dua hal yang digabung menjadi satu, yaitu nash dari Al Qur’an atau dari As Sunnah dan dokternya ada seorang ‘alim robbani.”Oleh karena itu para ulama di dalam kitab-kitab mereka (kitab akidah atau kitab fiqih) menyebutkan tentang bab Ar Riddah (kemurtadan). Yang dibahas adalah perkara-perkara yang bisa menjadikan seseorang murtad (keluar dari agama Islam).Para ulama membuat bab ini tujuannya adalah supaya kita tahu pembatal-pembatal keislaman dan supaya kita waspada, jangan sampai kita dan orang-orang yang kita cintai, serta kaum muslimin terjatuh ke dalam apa yang dinamakan dengan Nawaqidul Islam. Yang apabila dia meninggal dalam keadaan demikian, maka batal seluruh amalannya dan dia kekal di dalam neraka bersama orang-orang yang kafir.Allah mengatakan,وَمَن یَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَیَمُتۡ وَهُوَ كَافِرࣱ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ[Surat Al-Baqarah 217]“Dan barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, kemudian dia meninggal dunia dan dia dalam keadaan kafir, maka merekalah orang-orang yang batal amalannya di dunia maupun di akhirat, dan merekalah penduduk neraka, mereka kekal di dalamnya.”Tentunya di dalam memahami Nawaqidul Islam, seseorang harus kembali kepada Al Qur’an, hadits-hadits Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum dan melihat kembali ucapan-ucapan para ulama di dalam masalah Nawaqidul Islam. Karena menentukan sebuah ucapan, keyakinan, atau perbuatan, apakah dia mengeluarkan seseorang dari Islam atau tidak, ini adalah hukum syar’i, harus kembali kepada dalil.Tidak boleh seseorang menghukumi sebuah amalan atau sebuah ucapan atau sebuah keyakinan, bahwa ini adalah kekufuran, mengeluarkan pelakunya dari Islam, kecuali di sana ada dalil yang jelas di dalam Al Qur’an atau di dalam hadits. Jangan sampai seseorang berdusta atas nama Allah.Allah berkata,(وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَـٰذَا حَلَـٰلࣱ وَهَـٰذَا حَرَامࣱ لِّتَفۡتَرُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا یُفۡلِحُونَ)[Surat An-Nahl 116]“Janganlah kalian mengatakan dengan lisan-lisan kalian, ini adalah halal, ini adalah haram, untuk berdusta atas nama Allah. Orang-orang yang berdusta atas nama Allah, maka dia tidak akan beruntung.”Jangan sampai seseorang mengatakan, ini adalah kufur, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak mengatakan demikian. Atau sebaliknya, mengatakan ini tidak kufur padahal Allah dan Rasul-Nya menghukumi itu sebagai sebuah kekufuran.Di sana ada dua kelompok yang tersesat di dalam masalah ini.1. Kelompok yang berlebih-lebihan, hingga mengatakan bahwasanya ini adalah sesuatu yang kufur, padahal Allah tidak mengatakan itu adalah sebuah kekufuran. Seperti orang-orang Khawarij yang berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar, dia keluar dari Islam.2. Orang-orang yang berlebihan, sehingga mengatakan bahwa ini sesuatu yang tidak kufur, padahal Allah telah menjelaskan bahwa itu adalah kekufuran. Seperti orang-orang Murji’ah, yang mereka menganggap bahwasanya keimanan cukup dengan keyakinan di dalam hati. Seandainya seseorang mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan amalan yang kufur, yang penting hatinya mengenal dan meyakini Allah, maka dia tidak keluar dari agama Islam.Ahlussunnah wal Jama’ah bukan termasuk Khawarij dan juga bukan termasuk Murji’ah. Mereka berada di pertengahan. Mereka kembali kepada Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Apa yang dihukumi oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai bentuk kekufuran, maka mereka katakan ini adalah kufur. Dan apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya ini bukan kekufuran, maka mereka tidak mengatakan ini adalah kekufuran.Dan mereka di dalam masalah ini berpegang dengan kaidah-kaidah yang berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Dan Insya Allah akan kita bahas sebagian kaidah-kaidah tersebut di dalam pertemuan selanjutnya.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya17 jam lalu
F
Fiedningsih

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Tablis iblis #7

TALBIS IBLIS #7TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ILMU (Bag-3)Ustadz DR.FIRANDA ANDIRJA, M.ASetan telah banyak menggoda dari ahli ibadah, mereka shalat sunnah di malam hari, shalat sunnah di siang hari tetapi mereka tidak perhatian terhadap perbaikan batin mereka.padahal kita tahu, bahwa dalam batin ini banyak aib.Mereka juga tidak perhatikan akan apa yg mereka makan, padahal memperhatikan hal tersebut akan memperbaiki penyakit-penyakit batin dan perhatian terhadap akan halal nya yg kita makan.Itu lebih utama daripada memperbanyak shalat-shalat sunnah.Imam Jawzi ingin mengatakan:Jangan kita menyibukkan dg  amalan yang zahir dari pada yang batin, sedikit perlu kita perbaiki🍄Godaan setan pada ahli ibadah dalam membaca Al QuranSetan menggoda mereka cara memperbanyak tilawah Qur’an tetapi tetapi mereka membaca Al Qur’an dg cepat tanpa mentartil.Ini adalah kondisi yg tidak terpuji.Meskipun hal ini boleh,tapi membacanya deh tartil lebih disukai para ulama.Seseorang membaca Al Qur’an untuk dipahami Dan agar mudah diamalkanNiat ketika membaca Al Qur’an ada beberapa:-   niat tilawahniat mentadaburiNiat beramal☘️Iblis menggoda sekelompok ahli pembaca Qur’anMereka membaca Al Qur’an di menara masjid malam hari dg suara yg keras.Maka mereka telah mengumpulkan 2 kesalahan:mengganggu orang tidurMemaparkan diri terjerumus ke dalam riya☘️Diantara mereka ada yg baca Al Qur’an ketika azan,Imam Jawzi berkata :Ada perkara yg menakjubkan, imam shalat subuh pada hari Jumat ,setelah selesai Shalat di berzikir dan baca doa khatam Qur’an. Ini bukan perlakukan para salaf. Para salaf menyembunyikan ibadah mereka.Ar-Rabi’ bin Khutsaim : seluruh amalnya tersembunyiImam Akhmad sering baca Al Qur’an dan tidak diketahui kapan dia khatam Qur’anRiya itu senjata setan yg paling ampuh untuk menggugurkan amalan soleh seseorang.Seseorang harus waspada pada talbis iblisGODAAN SETAN TERHADAP AHLI PUASASetan menggoda sebagian kaum dengan puasa  Dahr (terus-menerus)Tingkatan puasa sunnah :puasa sehari  berbuka 2 hariPuasa nabi Daud (berbuka sehari,puasa sehari)Puasa dahr ( puasa terus-menerus), dg syarat ketika hari-hari di haramkan puasa, tidak berpuasaAda 2 pendapat di kalangan ulama tentang puasa dahr :Tidak dianjurkan puasa  setiap hari ( ada yg mengatakan hukum haram dan ada makhruh)Memperbolehkan ( ada yang mustajab dan ada jaiz)Kata Imam Jawzi  ada 2 kekurangan yg akan menimpa orang yg puasa terus-menerus:Bisa jadi membuat dia lemah,sehingga orang ini lemah untuk mencari rezeki buat keluarga nya,bisa jadi tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis istrinyaMenyebabkan dia terluput dari keutamaan  dari puasa Nabi DaudNabi ﷺ mengatakan“ tidak ada yg lebih afdal dari puasa nabi Daud”.SAMARNYA RIYAOrang yg berpuasa dahr ini ,untuk menjaga agar ketenarannya dalam berpuasa, ketika dia tidak puasa mungkin karena sakit,dia sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan sama orang bahwasanya dia hari itu tidak berpuasa. Ini adalah riya yg samar.Makanya jika dia ingin ikhlas, untuk menyembunyikan ibadahnya justru dia berbuka di hadapan orang yang tahu kalau dia berbuka puasa setiap hari. Kemudian dia puasa lagi diam-diam.Ada yang riya terang-terangan tentang puasanyaDia berkata bahwa sejak 20 th ini saya tidak pernah berbukasetan bikin syubhat, cerita aja sama orang-orang biar kamu jadi teladan.Jika pun itu ikhlas,pahalanya akan berkurang, dari pahala ibadah yg tersembunyi menjadi pahala ibadah yang terlihat.Sufyan ats- Tsauri berkata :“Sesungguhnya seorang hamba melakukan amalan ibadah dalam kesendiriannya, maka setan menggodanya sampai akhirnya dibicarakan, maka pahala berpindah dari yg tersembunyi kepada pahala yang terlihat”.Para salaf terdahulu takut riyaPara salaf terdahulu bersusah payah untuk menyembunyikan amal soleh, di zaman sekarang orang bersusah payah untuk mempublikasikan amal solehnya.Diantara mereka ada yg puasa Senin Kamis tapi merendahkan atau menghina  orang lainDiantara mereka ada yg berpuasa,mereka tidak peduli dg iftor mereka pakai makan apa, apakah itu dari haram atau halal.Diantara mereka ada yg puas tpi ghibah nya jalan terusDiantara mereka ada yg puasa melihat hal-hal yang haram jalan terusDiantara mereka yg puasa ngoceh jalan terus, harusnya jaga bicaraSeseorang jika beribadah harus waspada jangan sampai ibadahnya hancur karena  riya dan setan  menghapuskan riya dalam diri seseorang bahkan dg cara yg sangat tersembunyi

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya18 jam lalu
T
Tendri Novita

📍 Kota Palu

Talbis Iblis 7

TALBIS IBLIS 7Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah (Bagian 3)Pemateri: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.1. Fokus Pada Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas IbadahSetan tidak selalu menggoda manusia dengan meninggalkan ibadah, tetapi terkadang mendorong seseorang sibuk memperbanyak amalan lahiriah sambil melalaikan perbaikan hati dan akhlak.Pelajaran Penting:Perbaikan hati lebih utama daripada sekadar memperbanyak amalan sunnah.Kehalalan makanan dan sumber rezeki sangat berpengaruh terhadap diterimanya ibadah.Ibadah yang berkualitas lebih dicintai Allah daripada amalan yang banyak namun tanpa perhatian terhadap batin.2. Adab Membaca Al-Qur’anA. Jangan Hanya Mengejar Target KhatamSetan membisikkan agar seseorang membaca Al-Qur’an dengan sangat cepat demi menyelesaikan target khatam, sehingga mengabaikan tartil dan pemahaman.Allah berfirman:“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).”(QS. Al-Muzzammil: 4)B. Utamakan TadabburTujuan utama membaca Al-Qur’an adalah memahami, menghayati, dan mengamalkan isinya.Allah berfirman:“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?”(QS. Muhammad: 24)C. Tidak Mengganggu Orang LainMembaca Al-Qur’an dengan suara keras hingga mengganggu orang lain bukanlah adab yang diajarkan syariat.Pelajaran Penting:Tartil lebih utama daripada tergesa-gesa.Tadabbur lebih penting daripada sekadar banyaknya bacaan.Hindari sikap yang dapat menimbulkan riya atau mengganggu kaum muslimin lainnya.3. Bahaya Riya dalam IbadahRiya termasuk salah satu pintu terbesar yang digunakan setan untuk merusak amal seseorang.Bentuk-Bentuk Riya:Menampakkan ibadah agar dipuji manusia.Memamerkan keberhasilan khatam Al-Qur’an.Menceritakan amalan pribadi tanpa kebutuhan syar’i.Berpura-pura tetap berpuasa agar dianggap saleh.Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu?”Beliau menjawab, “Riya.”(HR. Ahmad)Pelajaran Penting:Para salaf sangat berusaha menyembunyikan amal ibadah mereka.Amal yang ikhlas meskipun sedikit lebih baik daripada amal banyak yang tercampuri riya.4. Talbis Iblis dalam Puasa SunnahSetan dapat menggoda seseorang agar berlebihan dalam berpuasa hingga melalaikan kewajiban yang lebih utama.Bentuk Kesalahan:Berpuasa terus-menerus hingga melemahkan tubuh.Melalaikan nafkah keluarga.Mengabaikan hak pasangan dan kewajiban lainnya.Rasulullah ﷺ bersabda:“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Dawud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.”(HR. Bukhari dan Muslim)Pelajaran Penting:Islam mengajarkan keseimbangan dalam beribadah.Ibadah sunnah tidak boleh menyebabkan kewajiban terbengkalai.Sikap berlebihan (ghuluw) bukanlah ajaran Islam.Hikmah dan Pelajaran Kajian✅ Setan dapat menyesatkan seseorang melalui ibadah yang tidak dilakukan sesuai tuntunan.✅ Kualitas ibadah lebih penting daripada sekadar kuantitas.✅ Membaca Al-Qur’an harus disertai tartil, tadabbur, dan adab yang baik.✅ Riya dapat merusak amal yang telah susah payah dilakukan.✅ Islam mengajarkan keseimbangan dan menjauhi sikap berlebihan dalam beribadah.✅ Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang ikhlas dan sesuai sunnah.KesimpulanTalbis Iblis terhadap ahli ibadah sering kali terjadi bukan dengan mengajak meninggalkan ibadah, tetapi dengan merusak niat, menghilangkan keikhlasan, mendorong sikap berlebihan, serta membuat seseorang lebih memperhatikan kuantitas daripada kualitas ibadah. Seorang muslim hendaknya selalu menjaga keikhlasan, mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, dan mengutamakan amal yang benar, seimbang, serta bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.Instagram: @tendrinovitaaKomunitas: @komunitas.beekind#jejakcahaya ✨

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya19 jam lalu
D
Dewi Murthy Sari

📍 Kota Samarinda

Talbis Iblis #7 Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Bagian 3)

Sibuk dengan yg tidak utama sehingga meninggalkan yang utama.Sibuk dengan ibadah dimalam hari, mengerjakan sholat sholat sunnah tapi tidak memperhatikan batin, memperbaiki isi hati, dan tidak memperhatikan apa yang kita makan.Membaca Al Qur'an tanpa tartil, terburu-buru. Boleh membaca Qur'an khatam dalam sehari tetapi dengan Tartil dan paham dengan isi Al-Qur'an, karna tujuan utama membaca Al-Qur'an adalah mentadaburinya.Iblis membuat rancu para Qori', mereka membaca Qur'an dimenara mesjid pada malam hari dengan suara kencang.Mereka mengumpulkan 2 kesalahan, yang pertama adalah mengganggu orang tidur pada malam hari, yang kedua adalah riya dalam membaca Al-Qur'an.Membaca doa khatam Qur'an didepan orang banyak. Para salaf dahulu menyembunyikan amalan mereka. Riya adalah senajata setan paling ampuh untuk menggugurkan amal sholeh seseorang. Itulah sebab harus waspada dengan Talbis Iblis.Talbis Iblis Terhadap Ibadah PuasaTingkatan puasa sunnah:Puasa sehari, berbuka 2 hariPuasa Daud, puasa sehari, berbuka sehariPuasa Dahr, puasa terus-menerus kecuali di hari yang diharamkan untuk puasa.Syeitan menggoda sebagian kaum untuk puasa terus menerus (dahr). Hukumnya boleh apabila tidak berpuasa dihari yang diharamkan untuk berpuasa (hari Ied, Adha, hari tasyrik). Ibnu Jauzi mengatakan ada kekurangan sebab puasa terus-menerus: Menjadi lemah, tidak kuat mencari rejeki, dan bisa jadi mengabaikan hak biologis istri.Sabda Rasul: "Tidak ada yang lebih afdal dari puasa Daud"Amalan puasa sunnah tidak luput dari godaan syeitan untuk riya. Riya yang samar akan nampak pada orang yg berpuasa tetapi menceritakan amalannya dengan dalih sebagai teladan.Sufyan ats Tsauri:" Sesungguhnya seorang hamba melakukan ibadah dengan kesenderiannya, lalu setan menggodanya sampai akhirnya dibicarakan, maka pahala berpindah dari yang tersembunyi menjadi pahala yang terlihat."Beberapa bentuk talbis Iblis terhadap orang berpuasa:Berpuasa senin kamis tetapi mereka menampakkan, pamer jika sedang berpuasa, merendahkan dan menghina orang lainBerpuasa tetapi mengghibahBerpuasa tidak menjaga lisan

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 jam lalu
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 2 - Mahzab Penulis Kitab

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah ini adalah seorang Hanbali, beliau tumbuh sebagai seorang Hanbali yaitu bermadzhab dengan madzhabnya imam Ahmad bin Hanbal, tapi apa yang dimaksud dengan Hanbali disini, apakah yang dimaksud beliau adalah orang yang fanatik sehingga tidak mengambil pendapat kecuali dari madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal, jawabannya tidak, dinamakan dengan Hanbali karena beliau mengawali menuntut ilmu fiqihnya dengan mazhab Hanbali dan inilah yang dimaksud oleh para ulama ketika mereka menambahkan atau menisbahkan diri mereka kepada Syafi’i, Hanafi, Maliki, bukan berarti mereka ta’asub dan fanatik terhadap madzhab tersebut. Awal mereka menuntut ilmu adalah dengan mempelajari kitab-kitab Hanbali atau Syafi’i atau yang lain, cuma setelahnya ketika mereka sudah sampai pada marhalah tertentu, sampai pada tingkatan tertentu di situ mereka tidak melihat lagi ini madzhab fulan atau madzhab fulan tapi mereka melihat dalil, kalau pendapat tersebut itulah yang sesuai dengan dalil itulah yang mereka ambil.Berkata adz-Dzahabi rahimahullāh “wa lahul āna ‘iddatussinīn lā yu’ti bimadzhabin mu’ayyan bal bima qāmaddalīlu alaihi ‘indah”, ini menceritakan tentang gurunya dan beliau yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah sekarang, ini Imam adz-Dzahabi berbicara tentang apa yang ada di masanya sudah beberapa tahun terakhir ini beliau tidak berfatwa dengan madzhab tertentu tapi dengan pendapat yang sesuai dengan dalil menurut beliau, jadi bukan berfatwa berdasarkan madzhab Hanbali atau madzhab Syafi’i tapi berfatwa menjawab sesuai dengan apa yang menurut beliau lebih dekat dengan dalil. Sungguh beliau telah menolong sunnah secara murni dan menolong tharīqah salafīyyah yaitu menyebarkan manhaj salaf dan berhujah untuk menolong sunnah ini dan menolong manhaj salaf ini dengan berbagai bukti, berbagai muqaddimah, dengan berbagai perkara yang bukti-bukti tersebut atau alasan-alasan tersebut mungkin sebelum beliau belum ada yang menyebutkan atau menampakkan.Ini menunjukkan tentang bagaimana manhaj Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, jadi memang beliau bertumbuh dan berkembang dan mungkin di sekitar beliau, lingkungan beliau rata-rata adalah bermazhab Hanbali cuma beliau bukan seorang yang ta’asub atau fanatik terhadap madzhab beliau, ta’asub dengan dalil. Adapun aqidah maka jelas aqidah beliau adalah aqidah para salafush sholeh dan ini kita lihat dari karangan-karangan beliau termasuk diantaranya adalah kitab yang insyaAllāh akan kita pelajari bersama yaitu Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, di situ kita akan melihat bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang Asma’ dan juga Sifat Allāh ﷻ, bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang sahaba dan InsyaAllāh nanti akan kita sebutkan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya yaitu tentang muqaddimah yang berkaitan dengan kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah.Karangan-karangan beliau, disebutkan oleh Adz-Dzahabi bahwasanya beliau pernah mencoba untuk mengumpulkan karangan-karangan gurunya Syaikhul Islām Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh, kemudian beliau menyebutkan mendapatkan seribu mushonnaf yaitu seribu karangan, tulisan dan ternyata setelah beliau mengumpulkan tulisan-tulisan Syaikhul Islām beliau setelah itu melihat karangan-karangan yang lain, menunjukkan begitu banyaknya tulisan-tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, beliau rahimahullāh termasuk orang yang banyak dibukakan oleh Allāh ﷻ pintu-pintu, pintu menulis, beliau orang yang kuat didalam menulis, pintu berdakwah, berjihad dengan tangannya dengan lisannya maka ini adalah Fadlullāh, keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki dan tidak semua dari kita dibukakan oleh Allāh ﷻ untuk banyak menulis.Cuma yang perlu kita ingat kan disini menulis ini adalah perkara yang penting karena kalau kita menulis dan memiliki kitab, memiliki buku maka itu akan insyaAllāh lebih lama meskipun kita sudah meninggal dunia, namanya buku masih bisa di baca dan dibacakan dipelajari oleh orang lain. Adapun seseorang hanya berbicara saja apalagi tidak ada di sana rekaman maka ketika dia meninggal dunia hilang begitu saja, maka penting seseorang di sini menulis. Dan yang perlu diketahui di sini hendaklah seseorang menulis apa yang memang dibutuhkan oleh manusia artinya bukan hanya sekedar menulis dan punya buku tapi dia menulis sesuatu yang memang dibutuhkan.Dan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak di dalam tulisan-tulisan termasuk di antaranya adalah aqidah wasithiyah ini, kenapa beliau menulis karena ada sebabnya dan nanti akan kita sebutkan sejarah bagaimana beliau menulis kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, permintaan dari seseorang yang dia tidak mau kecuali tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimmiyah padahal di sana banyak kitab-kitab aqidah sebelum masa Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Cuma orang yang tanya tadi tidak mau kecuali yang ditulis oleh Syaikhul Islam, akhirnya beliau pun mengabulkan permintaan tersebut.Dan tulisan-tulisan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dikenal dengan bagusnya dan ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh syaikhul Islam adalah ungkapan-ungkapan yang baik dan susunannya juga sangat rapi kemudian juga dikenal beliau ini dengan taksimatnya yaitu dalam pembagian-pembagian ini luar biasa sehingga banyak para ulama para thulabul ‘ilm yang mereka bisa mengambil faedah dan banyak mengambil faedah dari pembagian pembagiannya. Dengan adanya pembagian sebuah masalah ternyata dia terbagi menjadi beberapa bagian, seseorang lebih jelas dan lebih praktis lebih paham sehingga dia tidak menyamakan sesuatu yang beda dan tidak membedakan sesuatu yang sama.Dan ada yang mengatakan bahwasanya beliau bisa berbahasa Abriah, bahasa abriah ini adalah bahasa orang-orang Yahud dan juga bisa bahasa Latiniyyah ini dipahami dari sebagian ungkapan beliau yang di mana beliau menyatakan bahwasanya bahasa Abria ini dekat dengan bahasa Arab, ini sebagian memahami bahwasanya beliau berarti paham tentang lughah tentang bahasa Abriah.Tentang sifat beliau syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari sisi akhlak beliau adalah seorang ulama yang pemurah, karīm, dan itu semua kemurahan tadi bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh beliau tapi sepertinya adalah sesuatu yang memang bawaan dari sejak kecil dan beliau adalah seorang pemberani bukan seorang pengecut, dan beliau adalah seorang yang zuhud di dalam dunia, tidak tergantung hatinya dengan sedikit pun dari dunia bahkan disebutkan bahwasanya beliau banyak meninggalkan perkara yang mubah, banyak meninggalkan perkara yang sebenarnya boleh karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan, dan tentunya ini semua menunjukkan tentang buah dari ilmu yaitu zuhud terhadap dunia dan keinginan terhadap akhirat dan bagaimana beliau meninggalkan perkara yang mubah karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan oleh Allāh ﷻ.Beliau Rahimahullāh semasa hidupnya berjihad dijalan Allāh ﷻ baik dengan lisannya, yaitu dengan berdakwah dengan lisannya dan juga dengan tulisannya, banyak menulis bagaimana jumlah tulisan-tulisan beliau dan beliau memerangi tentara Tartar dan mendorong kaum muslimin untuk berjihad dan bahkan dalam peperangan-peperangan beliau senantiasa berada di shaf yang awwal. Ini menunjukkan bagaimana beliau sebagai seorang ulama bukan hanya sekedar bisa menulis, bisa memberikan pengarahan kepada manusia, tetapi beliau menjadi orang yang menjadi contoh bagi yang lain di dalam jihad fī sabīlillāh dan mendorong manusia untuk jihad memerangi orang-orang kuffar dan jihad yang dimaksud disini tentunya adalah jihad yang syar’i bukan jihad yang dipahami oleh sebagian orang-orang yang tersesat dari jalan Allāh ﷻ.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 jam lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

TINGGALNYA ORANG-ORANG BERIMAN & ORANG-ORANG MUNAFIK

Setelah orang-orang kafir (musyrik dan ahlul kitab) digiring ke neraka, yang tersisa hanyalah orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang shalih maupun yang banyak maksiat.Mereka tetap menunggu Rabb mereka karena di dunia mereka bertauhid dan tidak menyembah sesembahan orang-orang kafir, meskipun memiliki hubungan dan kebutuhan dengan mereka dalam urusan dunia. Allah datang kepada mereka dalam bentuk yang berbeda dari yang pertama kali mereka lihat sebagai ujian bagi keimanan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di Padang Mahsyar. Ketika Allah berkata, "Aku adalah Rabb kalian", mereka berhati-hati dan berlindung kepada Allah agar tidak terfitnah. Mereka menegaskan bahwa mereka tidak pernah menyekutukan Allah sedikit pun. Ini menunjukkan keutamaan tauhid. Allah kemudian memberikan tanda yang membuat mereka mengenali-Nya. Dalam hadits disebutkan bahwa Allah menyingkap betis-Nya, dan kaum mukminin pun mengenali Rabb mereka. Kewajiban seorang muslim adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam dalil tanpa menyerupakan, menolak, menakwilkan, atau mempertanyakan bagaimana hakikatnya. Setiap mukmin yang dahulu ikhlas beribadah kepada Allah akan diberi kemampuan untuk bersujud. Adapun orang-orang munafik yang dahulu sujud karena riya' atau demi kepentingan dunia tidak mampu bersujud. Punggung mereka menjadi kaku dan rata sehingga setiap hendak sujud mereka justru terjatuh. Mereka dahulu menipu Allah dan kaum mukminin dengan menampakkan keislaman, namun pada hari itu tipu daya mereka tidak bermanfaat. Setelah itu Allah menampakkan diri kepada orang-orang beriman dalam bentuk yang mereka kenali. Mereka pun berkata, "Engkau adalah Rabb kami."

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 jam lalu
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyah : pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah bag. 2

Halaqah 27 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Muqaddimah #2Didalam sebuah hadīts yang shahīh, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ“Para nabi itu ibarat saudara sebapak. Ibu mereka berbeda-beda, agama mereka adalah satu.”(Hadīts riwayat Bukhāri 3443 dan Muslim 2365)Para nabi mereka bersaudara, ibu mereka berbeda tapi bapak mereka sama. Dan ini bukan maksud nasab secara hakiki. Tetapi disini (maksudnya) ingin mendekatkan kepada kita pemahaman tentang bagaimana aqidah dan tata cara ibadah mereka.⇒ Ibu-ibu mereka berbeda, maksudnya adalah syari’at mereka berbeda.Sebagaimana firman Allāh Azza wa Jalla:لِكُلٍّۢ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةًۭ وَمِنْهَاجًۭا ۚ“Bagi masing-masing dari kalian, kami jadikan syari’at dan juga jalan”.(QS. Al-Maidāh: 48)Syari’at yang ada di zaman nabi Mūsā berbeda dengan syari’at di zaman nabi Hūd (misalnya).Syari’at yang ada dikaumnya nabi Shālih berbeda dengan syari’at yang ada dikaumnya nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam (misalnya).Yang berbeda diantara mereka adalah syari’atnya (tatacara beribadahnya) karena kebijaksanaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka Allāh bedakan.Mungkin sebuah syari’at pas bagi sebuah kaum dan tidak pas bagi kaum yang lain, sehingga bukan keadilan jika Allāh samakan satu dengan lain. Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha Bijaksana (sehingga Allāh bedakan syari’atnya).Terkadang sebuah syari’at disyari’atkan bagi sebuah kaum tetapi tidak disyari’atkan bagi kaum yang lain.Contoh (seperti):⑴ TayammumTayammum hanya disyari’atkan untuk umat Nabi muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam saja. Adapun umat-umat sebelumnya tidak disyari’atkan Tayammum.Didalam sebuah hadīts beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا“Dijadikan untukku tanah sebagai masjid (tempat shalāt) dan untuk bersuci.”(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 438)⇒ Jadi tanah yang kita pijak ini, bisa digunakan untuk sujud sekaligus bisa untuk bersuci (tayammum) artinya jika disana tidak ada air untuk berwudhu atau untuk mandi maka bisa digantikan dengan Tayammum.Syari’at Tayammum ini tidak ada bagi umat sebelumnya dan tidak boleh mereka melakukan sujud diatas tanah langsung tapi harus ada tempat ibadah didalam ruangan.Makanya beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan :فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّMaka siapa saja dikalangan umat-ku yang mendapatkan waktu shalāt (misalnya ketika dia safar dia mendapati waktu shalāt) maka dia tidak harus menunggu hingga mendapatkan tempat untuk shalāt (masjid atau mushala), seandainya dia berhenti lalu dia shalāt diatas gurun atau tanah (misalnya) maka ini tidak masalah.⇒ Jadi Tayammum hanya disyari’atkan bagi umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan tidak disyari’atkan bagi umat sebelumnya.⑵ Masalah Halal dan HaramMasalah Halal dan haram terkadang juga berbeda, terkadang Allāh haramkan bagi sebagian kaum dan dihalalkan bagi kaum yang lain.Contoh : GhanimahNabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :وَأُحِلَّتْ لِيَ الغَنَائِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِيDan dihalalkan untuk-ku ghanimah (maksudnya untuk beliau dan disyari’atkan untuk umat beliau). Seandainya berperang dan musuh kita (orang-orang kāfir) kalah maka halal bagi kita untuk mengambil rampasan perang (bukan sesuatu yang diharamkan) seperti senjata, emas yang tertinggal bahkan tawanan mereka bisa menjadi budak yang halal bagi kaum muslimin (tentunya dengan aturan yang ada didalamnya).Adapun diumat sebelumnya (umat nabi-nabi sebelumnya) jika terjadi peperangan antara mereka dengan kufar maka tidak halal bagi mereka untuk mengambil harta rampasan perang. Meskipun dihadapan mereka tumpukan emas,hewan dan yang lainnya maka tidak halal bagi mereka untuk mengambil rampasan perang tersebut.Kalau mereka mengambil maka haram hukumnya, ini berlaku bagi umat-umat sebelumnya.⇒ Ini adalah makna أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (ibu-ibu mereka berbeda) maksudnya syari’atnya berbeda.وَدِينُهُمْ وَاحِدٌAdapun agama mereka satu yaitu Islām, maksudnya adalah semuanya dari awal hingga akhir agamanya satu yaitu menyembah hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.⇒ Islām menyerahkan diri hanya kepada Allāh.Bedanya :√ Satunya disyari’atkan Tayammum.√ Satunya TIDAK disyari’atkan Tayammum.Tapi semuanya sama hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.√ Satunya dihalalkan ghanimah.√ Satunya TIDAK dihalalkan ghanimah.Semuanya sama, menyembah dan taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Maka hadīts yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhāri ini menunjukkan bahwa para nabi dan para rasūl agama mereka satu yaitu ISLĀM.⇒ Dan ini adalah makna Dīnul Islām secara umum.Kemudian disana ada makna agama Islām secara khusus yaitu Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan inilah yang dimaksud oleh beliau (pengarang) didalam ucapan beliau :معرفة دين الإسلام بالإدلةKita mengenal agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, karena kita mengaku sebagai pengikut beliau dan pemeluk agama Islām. Maka kewajiban kita adalah mengenal agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian kalau kita cermati (nanti) ternyata didalam agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam didalamnya juga ada istilah Islām.Jadi yang paling luas Islām adalah agama seluruh nabi dan rasūl, lebih khusus adalah agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Dan agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan;⑴ Islām (الإسلام)⑵ Imān (الإيمان)⑶ Ihsān (الإحسان)√ Islām mewakili amalan-amalan yang dhāhir.√ Imān mewakili amalan-amalan yang bathin.√ Ihsān adalah puncak didalam melakukan amalan yang dhāhir maupun yang bathin.Dīn (دِينَ) disini maksudnya adalah Dīnul Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ucapan beliau (rahimahullāh) :بالإدلة“Dengan dalīl-dalīlnya”Kita ingin mengenal agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan dalīl-dalīlnya. Karena demikianlah aqidah dibangun. Seseorang boleh meyakini kalau memang ada hujjah (dalīlnya).Dalam agama Islām diajarkan kepada kita untuk meyakini sesuatu berdasarkan hujjah. Jika ada dalīl silahkan diyakini.Jadi aqidah tidak dibangun diatas khurāfat, takhayul, persangkaan semata yang tidak ada dalīlnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin.Mereka (orang-orang musyrikin) meyakini dan mengatakan sesuatu hanya dzān saja, semua itu muncul dari lisan mereka (tanpa dalīl) hanya berdasarkan persangkaan semata.Seperti ketika mereka mengatakan:هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ“Mereka itu pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh” (QS.Yūnus 18).مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ“Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allāh dengan sedekat-dekatnya” (QS. Az-Zummar :3).Malāikat adalah بنت الله ?Darimana mereka ucapkan itu semua? Dzān saja ( إِلَّا ٱلظَّنَّ) mereka tidak menyangka kecuali hanya persangkaan semata. Dan demikian yang dilakukan oleh pengikut-pengikut mereka sampai saat ini.Mereka mengatakan sesuatu yang tidak jelas dalīlnya, hanya dzān dan juga takhārus, takhabut, tidak ada disana sesuatu yang berdasarkan dalīl yang shahīh.Maka beliau rahimahullāh mengajak kita untuk mengenal agama Islām dengan dalīl-dalīl.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya21 jam lalu
K
khaira azwa putri ranaji

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

catatan TALBIS IBLIS #7: talbis iblis kepada ahli ibadah

TALBIS IBLIS #7: talbis iblis kepada ahli ibadah1️⃣Sibuk dengan Amalan Lahiriah, Lupa Memperbaiki Batinsetan sering membuat orang rajin shalat sunnah namun lupa memperbaiki penyakit batin (seperti sombong, dengki, dll) dan tidak peduli dengan kehalalan makanan.2️⃣Target Khatam Al-Qur’an Tanpa Tadabursetan menggoda untuk membaca Al-Qur'an dengan sangat cepat (hazan) demi mengejar target khatam tanpa dibaca perlahan (tartil) dan tanpa dipahami maknanya.Rasulullah ﷺ bersabda:"لَا يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ""Tidak paham (tidak faqih) orang yang membaca (mengkhatamkan) Al-Qur'an kurang dari tiga hari".🎈Tujuan utama membaca Al-Qur’an adalah untuk tadabur (merenungkan maknanya) agar iman bertambah, bukan sekadar sampai di lisan saja.3️⃣Beribadah Sambil Mengganggu Orang Lainsetan membisikkan bahwa membaca Al-Qur'an dengan suara keras di menara atau mikrofon masjid di malam hari adalah kebaikan.Namun, Ibnu Jauzi menyebut ini memiliki dua kesalahan besar:mengganggu orang yang sedang tidur, orang sakit, atau orang yang sedang khusyuk shalat tahajudrentan terjerumus dalam riya' karena sulit bagi hati untuk tetap ikhlas saat bacaan bagusnya didengar banyak orang di tengah malam.4️⃣Pamer Ibadah Secara Haluscara licik setan untuk merusak keikhlasan seseorang:Mengumumkan ibadah (ex: sengaja membaca doa khatam Al-Qur'an di depan jemaah setelah shalat agar orang tahu dia sudah khatam).Menjaga "image" (seseorang yang dikenal selalu puasa, saat dia sedang tidak puasa (karena sakit atau hal lain), dia bersembunyi saat makan agar orang-orang tetap menyangka dia hebat karena selalu puasa).Sindiran halus (saat diajak makan, dia berkata, "Eh, ini hari apa ya? Hari Kamis ya?" (mengisyaratkan bahwa dia rutin puasa Senin-Kamis)).5️⃣Berlebih-lebihan dalam Puasa Sunnahsetan mendorong seseorang untuk puasa setiap hari tanpa henti (puasa dahar). Hal ini bisa menimbulkan dampak buruk:Membuat tubuh lemah sehingga tidak bisa bekerja mencari nafkah bagi keluarga.Melalaikan kewajiban biologis terhadap pasangan.Nabi ﷺ menegaskan bahwa puasa yang paling dicintai Allah adalah Puasa Daud: "أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ"6️⃣Bahaya Riya' yang Menghapus Amalsetan sering membisikkan agar kita menceritakan amalan kita dengan alasan "supaya jadi teladan". Padahal, para salaf dahulu sangat berusaha menyembunyikan amal mereka seperti mereka menyembunyikan dosa.Nasihat Abu Hazim:"اكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ""Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan dosa-dosamu".Setiap kali amalan yang tadinya rahasia diceritakan kepada orang lain, maka pahalanya bisa berkurang dari pahala amalan tersembunyi menjadi pahala amalan yang terlihat.Jangan hanya mengejar kuantitas ibadah, tapi perhatikan kualitas, keikhlasan, dan jangan sampai ibadah kita justru mengganggu hak orang lain atau menjadi sarana untuk pamer.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 jam lalu
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 52

Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS An Nisa 60Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Berkata Al-Mushannif rahimahullah, beliau mendatangkan Firman Allāh ﷻوقوله تعالى : {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء : 60](Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.)Allāh mengatakan,Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwasanya mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, yaitu Al-Qur’an.وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَDan beriman dengan apa yang diturunkan sebelummu. Yakni Taurat, Injil dan seterusnya.يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka mengaku muslim, karena mungkin sudah bersyahadat di depan Nabi, atau depan para sahabat, tapi ketika terjadi masalah di antara mereka, bukan mengembalikan keputusan dari permasalahan tadi kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, bahkanيُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Padahal sudah menyangka bahwasanya mereka adalah katanya beriman kepada Al-Qur’an, katanya beriman dengan apa yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam. Tapi ketika terjadi permasalahan, persengketaan, justru malah bertahakum kepada thaghut.Dan di antara makna thaghut adalahمن حكم بغير ما أنزل اللهSudah berlalu ketika membahas tentang Tsalatsatul Ushul.Dan masuk di dalam thaghut adalah setiap orang yangمن ادّعى علم الغيبSetiap orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghoib.Ada di antara mereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Misalnya kepada dukun, atau bertahakum kepada orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.Harusnya apa? Kalau memang dia muslim, maka wajib untuk Islam kullihi, bukan hanya sekedar dalam masalah ibadah, dalam masalah aqidah, tapi ketika terjadi persengketaan dalam masalah muamalah ataupun yang lain, maka seorang muslim, dia harus masuk ke dalam Islam semuanya. Yaitu menyerahkan keputusan dari persengketaan tadi kepada Allah dan juga rasul-Nya, bukan kepada thaghut. Ini menguatkan tentang kewajiban masuk ke dalam Islam semuanya. Ya, termasuk di antaranya ketika ada perselisihan.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِDan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri thaghut tersebut.Mereka diperintahkan untuk mengingkari thaghut, mengingkari dukun, mengingkari setiap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, dan kita diperintahkan untuk beriman dengan Allah.{فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا} [البقرة : 256](Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.)Mereka sudah diperintahkan untuk mengingkari thaghut, dan ini adalah bagian dari Islam.الإسلام الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهلهItu bagian dari Islam.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِMereka sudah diperintahkan untuk mengingkari thaghut. Karena mengingkari thaghut adalah bagian dari Islam. Tapi kok masih bertahakum kepada thaghut. Berarti di sini belum masuk ke dalam Islam kullihi. Padahal wajib bagi mereka untuk masuk ke dalam Islam kullihi.وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًاDan syaitan ingin untuk menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.Dalam ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang munafik, yang di antara sifat mereka, kesenangan mereka, kemauan mereka, untuk bertahakum bukan kepada Allah dan rasul-Nya. Karena mereka memang tidak beriman. Tapi tahakumnya adalah kepada thaghut.Dari mana kita berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan?Tadi sudah disebutkan di dalam firman Allah Azza wa Jallaوَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِDan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut.Dan mengingkari thaghut, ini adalah termasuk makna Islam.Karena Islam adalahالاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهلهIni mengingkari thaghut.Ketika mereka berhukum dengan thaghut, berarti mereka telah meninggalkan satu di antara konsekuensi keislaman mereka. Karena konsekuensi keislaman, adalah Islam di seluruh perkara. Termasuk di antaranya adalah di dalam masalah tahakum, yaitu berhukum. Maka harus yakin bahwasanya apa yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya ini adalah keputusan yang paling benar, adalah keputusan yang paling baik, untuk dirinya dan orang lain. Itu keyakinan seorang muslim.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 jam lalu
P
Puji

📍 Kota Bekasi

Halaqah 2 Muqaddimah Kitab Ta’dzimul Ilmi

Halaqah yang ke dua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Masuklah sekarang beliau pada Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilmi. Tentunya dimulai dari muqaddimah yang ada di dalam Kitab Ta’dzhimul ‘Ilmi.Beliau mengatakan,بسم الله الرحمن الرحيمJadi kitab Ta’dzhimul ‘Ilm juga dimulai dengan basmalah.  الحمد لله، وأشهد ألَّ إله إلَّ الله، وأشهد أنَّ محمَّدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، وعلىٰ آله وصحبه عدد من تعلَّم وعلَّمSetelah membaca basmalah sebagaimana tadi beliau memuji Allah subhanahu wa taala dan bersyahadat dengan dua kalimat Syahadat dan mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.أمَّا بعدُAdapun setelahnya,فإنَّ حظَّ العبد من العلم موقوفٌ علىٰ حظِّ قلبه من تعظيمه وإجلالهIni muqaddimah yang bagus yang hendaklah kita memahaminya.Sesungguhnya, kata beliau, bagian seorang hamba terhadap ilmu (besar kecilnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki, banyak sedikitnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki) itu tergantung pada pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri.فمن ٱمتأ قلبه بتعظيم العلم وإجلالهMaka barangsiapa yang penuh hatinya ini dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin berisi hatinya dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin mengagungkan ilmu,صلُح أن يكون محلا لهMaka hati tersebut pantas untuk menjadi tempat bagi ilmu itu sendiri.وبقدر نقصان هيبة العلم في القلب؛ ينقص حظُّ العبد منهDan sesuai dengan semakin berkurang pengagungan seseorang terhadap ilmu, maka akan semakin berkurang juga ilmu yang bermanfaat yang ada pada orang tersebut.حتىَّٰ يكونَ من القلوب قلبٌ ليس فيه شيءٌ من العلمSehingga di sana ada hati-hati manusia yang tidak ada di dalamnya sedikit pun ilmu.Karena pengagungan dia terhadap ilmu di dalam hatinya itu kosong, karena tidak ada pengagungan, maka tidak ada sama sekali ilmu di dalam hatinya.Ini bisa kita rasakan pada diri kita sendiri dan kita bisa melihat orang yang ada di sekitar kita. Semakin dia mengagungkan ilmu, maka ilmu semakin betah untuk tinggal di dalam hatinya. Tapi semakin berkurang pengagungan dia terhadap ilmu, maka akan semakin berkurang juga ilmu yang ada pada dirinya.فمن عظَّم العلم لاحت أنواره عليه، ووفَدَت رُسل فنونه إليهMaka barangsiapa yang mengagungkan ilmu (ilmu yang bermanfaat), maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu tersebut pada dirinya.Barangsiapa yang mengagungkan ilmu maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu pada diri orang tersebut. Al jaza min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amalannya), dan kemudian akan berdatanganlah cabang-cabang dari ilmu tersebut kepadanya ketika dia mengagungkan ilmu tersebut di dalam hatinya. Maka akan dengan senang hati cabang-cabang dari ilmu itu mendatangi orang tersebut. Bukan hanya pokok-pokok dari ilmu tapi juga cabang-cabangnya akan mendatangi orang tersebut karena dia mengagungkan ilmu.ولم يكن لهمَّته غايةٌ إلا تلقِّيه، ولا لنفسه لذَّةٌ إلاَّ الفكرُ فيهKalau orang sudah mengagungkan ilmu, maka tidak ada keinginan yang puncak bagi dirinya kecuali ingin mendapatkan ilmu tersebut, keinginan dia yang paling besar adalah mendapatkan ilmu tersebut sebagaimana para ulama mereka mendapatkan ilmu tersebut. Dan tidak ada di dalam dirinya kelezatan kecuali ketika dia memikirkan ilmu tersebut.Kelezatan dia bukan pada tontonan, bukan apa yang dia dengar tapi kelezatan dia adalah ketika dia memikirkan ilmu tersebut. Dia merasakan kenikmatan tersebut tidak dirasakan oleh orang lain.وكأنَّ أبا محمَّدٍ الدَّارميَّ الحافظ رَحِمَهُ الله لَمَحَ هٰذا المعنىٰ فَخَتَمَ كتاب العلم من سننه المسمَّاة ب”المسند الجامع” ببابٍ في إعظام العلمSepertinya (kata Syaikh) Abu Muhammad Ad-Darimi Al-Hafidz beliau mengisyaratkan pada makna ini, yaitu makna bahwasanya orang yang mengagungkan ilmu maka dia akan mendapatkan ilmu. Kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.Di dalam kitab beliau Al-Musnad atau dikenal dengan Sunan Ad-Darimi maka beliau menutup kitabnya dengan sebuah bab yang isinya adalah tentang pengagungan ilmu dan ini beliau taruh di akhir. Sepertinya beliau ingin menunjukkan bahwasanya tidak mungkin mendapatkan ilmu kecuali orang yang mengagungkan ilmu. Kemudian beliau mengatakan,وأعونُ شيءٍ علىٰ الوصول إلىٰ إعظام العلم وإجلاله: معرفةُ معاقد تعظيمهDan perkara yang paling membantu kita, setelah kita mengetahui bahwasanya ternyata rumus untuk mendapatkan ilmu kita harus punya pengagungan terhadap ilmu, itu sudah menjadi rumus, kalau kita punya pengagungan kita akan mendapatkan ilmu kalau kita tidak mengagungkan ilmu, maka jangan berharap kita bisa mendapatkan ilmu tersebut.Kata Syaikh untuk mendapatkan di dalam hati kita pengagungan yang besar terhadap ilmu maka hal yang sangat membantu supaya kita sampai kepada sikap mengagungkan terhadap ilmu itu adalah kita harus mengenal simpul-simpul dari pengagungan terhadap ilmu. Karena dari mengenal itulah baru kita bisa mengamalkan, kalau kita tidak mengenal bagaimana kita bisa mengamalkan.وهي الأصول الجامعة، المحقِّقَةُ لِعَظَمَة العلم في القلبYang dimaksud dengan simpul tadi itu adalah pokok-pokok yang menyeluruh, prinsip-prinsip dasar yang menyeluruh, yang akan mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita.Syaikh ingin menyebutkan untuk kita supaya kita tahu, kemudian kita bisa mengamalkan, dan kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu tersebut di dalam diri kita.فمن أخذ بها كان معظِّمًا للعلم مجِلًّ لهMaka barangsiapa yang mengambil simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu tadi, dia ambil, dia pahami dan dia praktekkan, maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu.ومن ضيَّعها فلنفسه أضاعTapi barangsiapa yang menyia-nyiakan simpul-simpul tadi, mungkin dia belajar tapi dia tidak mengamalkan simpul-simpul tadi, dia dengarkan dan dia tinggalkan, berarti dia telah menyia-nyiakan simpul-simpul tadi.Dia tidak mengamalkan dia tidak mempraktikkan dalam kehidupan dia sehari-hari atau dalam kehidupan dia dalam menuntut ilmu, maka orang tersebut pada hakikatnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Karena ketika dia menyia-nyiakan simpul-simpul tadi akhirnya dia tidak mengagungkan ilmu. Kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka akhirnya dia tidak mendapatkan ilmu. Dan orang yang tidak mendapatkan ilmu, dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, meridhoi dirinya dalam keadaan bodoh. Ridha kalau dirinya dalam keadaan tidak tahu tentang agama Allah ﷻ. Maka dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, karena rata-rata musibah itu sebabnya adalah karena kebodohan. Sebaliknya, dengan ilmu, seseorang berarti dia dikehendaki kebaikan oleh Allah.مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِBarangsiapa yang Allah ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan dia paham tentang agamanya.Kalau kita membiarkan diri kita dalam keadaan bodoh berarti kita telah menyia-nyiakan diri kita sendiri. Kita dalam keadaan bodoh karena kita tidak mau mengagungkan ilmu sehingga ilmu pun tidak mau betah di dalam diri kita, kita pun dalam keadaan bodoh. Makanya kita belajar mempelajari simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu supaya kita mendapatkan ilmu.ولِهَواه أطاعDan dia telah mengikuti hawa nafsunya.Simpul-simpul yang akan beliau sebutkan itu kebanyakan atau semuanya bertentangan dengan hawa nafsu. Jadi kalau kita menyia-nyiakan simpul-simpul tadi berarti kita sebenarnya mengikuti hawa nafsu kita, karena apa yang beliau sebutkan berupa prinsip dan juga simpul dalam mengagungkan ilmu itu rata-rata bertentangan dengan hawa nafsu.فلا يلومنَّ – إن فتَر عنه – إلَّ نفسهMaka janganlah dia mencela kalau sampai dia terputus dari ilmu kecuali dirinya.Kalau terjadi musibah atau dia tidak mendapatkan ilmu, karena dia tidak mengikuti simpul-simpul tadi, tidak mempraktekkan simpul-simpul tadi. Seandainya dia suatu saat putus dari ilmu dan tidak istiqomah di atas ilmu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri. Nasihat sudah datang dari para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam sampainya mereka kepada ilmu.Kemudian beliau mendatangkan pemisalan.يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَDua tanganmu itulah yang mengikat dan mulutmu yang meniup.Ini adalah sebuah permisalan ketika ada seseorang yang dia ingin menyeberang sungai kemudian dia ingin menggunakan kirbah, sebuah tempat yang digunakan untuk menaruh air, zaman dulu terbuat dari kulit yang dihilangkan isinya, yaitu dihilangkan airnya kemudian ditiup dan diikat sehingga isinya adalah udara berfungsi seperti ban kalau di zaman kita.Ditiup kemudian diikat dengan tangannya kemudian dia pun menyeberangi sungai tersebut tapi dia mengikatnya tidak benar, mengikatnya tidak sungguh-sungguh. Akhirnya ketika dia menyeberang dia pun terseret tidak bisa mengambil faedah dari kirbah tadi, kemudian dikatakan,يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَKedua tanganmu yang mengikat dan mulutmu sendiri yang meniup.Bukan tanganku yang mengikat dan bukan mulutku yang meniup, tapi antum sendiri yang melakukan. Sehingga ini adalah permisalan bagi orang yang dia terkena bencana/musibah karena perbuatan dia sendiri.ومن لا يُكْرِمُ العلمَ لا يُكرِمُه العلمُDan barangsiapa yang tidak menghormati ilmu, tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan memuliakan dia.Balasan itu sesuai dengan amal. Kalau kita mengagungkan ilmu, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat derajat kita.يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚAllah ﷻ akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu, karena mereka mengagungkan ilmu sehingga Allah ﷻ pun mengangkat derajat mereka.إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَSesungguhnya Allah ﷻ mengangkat dengan Kitab ini (Al-Quran) beberapa kaum dan merendahkan kaum yang lain.Sehingga kembali kepada diri kita masing-masing. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang kita mengetahui tentang keutamaannya, dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam surga.مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِKalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang di situ kita termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ dan diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harus menempuh dan mempraktekkan prinsip-prinsip yang merupakan bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama ini.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya21 jam lalu
A
Alina Rostiana

📍 Kota Yogyakarta

Materi ke 7 Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian ke -3 Bersama Ustadz DR.FIRANDA ANDIRJA M.A

Materi ke 7Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian ke -3Bersama Ustadz DR.FIRANDA ANDIRJA M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِTalbis Iblis terhadap ahli ibadah—Faslun al-insyighal bil-mafduh 'an al-fadhil. Fasal tentang sibuk dengan yang tidak utama sehingga meninggalkan yang utama. Wa qad lab-basa 'ala jama'atin muta'abbidin fatarahum yushallunal-laila wan-nahar wa la yanzhuruna fi islahi 'aibin bathinin wa la fi math'amin wan-nazharu fi dzalika aula bihim min katsratit-tanafful. Kata Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala, "Setan telah menggoda banyak dari ahli ibadah. Kau lihat mereka salat malam, salat-salat sunah di malam hari, salat-salat sunah di siang hari, tetapi mereka tidak perhatian terhadap perbaikan batin mereka. Padahal, kita tahu di dalam batin ini banyak sekali aib.""Dan mereka juga tidak memperhatikan tentang apa yang mereka makan. Padahal, memperhatikan hal-hal tersebut—memperbaiki penyakit-penyakit batin dan juga perhatian terhadap halalnya apa yang kita makan dari sumber yang mana—itu lebih utama daripada memperbanyak salat-salat sunah, daripada memperbanyak salat-salat sunah." Nah, ini maksudnya, ya, Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala eh menyampaikan jangan sampai seseorang sibuk dengan yang zahir, seperti ibadah-ibadah eh salat sunah, kemudian lupa untuk memperbaiki yang batin. Batin kita ini penuh dengan penyakit, perlu kita perbaiki sedikit demi sedikit, perlu kita obati.Demikian juga, jangan sampai rajin ibadah, salat terus, tapi tidak peduli, tidak memperhatikan apa yang kita makan. Harusnya kita perhatikan yang kita makan ini sumbernya halal atau atau tidak. Kemudian pembahasan berikutnya, Dzikru talbisihi 'alaihim fi qira'atil-qur'an. Penyebutan tentang godaan setan terhadap para ahli ibadah dalam membaca Al-Qur'an.Ibnul Jauzi berkata, "Setan telah menggoda suatu kaum dengan memperbanyak tilawah Qur'an, tetapi mereka membaca Al-Qur'an dengan hazzan, yaitu dengan cepat, min ghairi tartil, tanpa mentartil." Yaitu, baca dengan cepat, berburu-buru, tanpa ditartil, tanpa dibaca dengan pelan-pelan. Wa hadzihi halatun laisat bi mahmudah. Metode membaca seperti ini, dengan cepat sekali—ya, intinya target adalah berjus-jus dengan cepat—ini adalah kondisi yang tidak terpuji.Wa qad ruwiya 'an jama'atin minas-salaf annahum kanu yaqra'unal-qur'ana fi kulli yaumin au fi kulli rak'ah. Memang benar, diriwayatkan dari sebagian salaf, ada di antara mereka yang membaca Al-Qur'an khatam dalam sehari, atau bahkan ada yang menghatamkan Al-Qur'an dalam satu rakaat, seperti diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan juga diriwayatkan dari Al-Imam Abu Hanifah rahimahullahu taala. Mereka membaca Qur'an satu rakaat khatam. Namun, kata Ibnul Jauzi, wa hadza yakunu nadiran minhum. Namun, ini adalah perkara yang jarang dari mereka. Wa man dawama 'alaihi, dan siapa di antara para salaf yang mungkin selalu seperti ini—artinya, mereka mungkin seperti itu tapi bukan setiap hari, bukan setiap hari menghatamkan Qur'an satu hari khatam, bukan setiap hari setiap satu rakaat 30 juz—tapi mereka melakukan jarang, tapi pernah mereka lakukan.Siapa yang mendawamkan hal ini, ya, wa in kana ja'izan, meskipun hal ini boleh—boleh seorang terus khatam Al-Qur'an setiap hari satu kali—illa annat-tartil wat-tatsabbut ahabbu ilal-'ulama'. Akan tetapi, membaca dengan tartil, dengan pelan-pelan, itu lebih disukai oleh para ulama. Wa qad qala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, la yafqahu man qara'al-qur'ana fi aqalla min tsalats. Orang yang baca Al-Qur'an kurang—khatam Qur'an kurang dari tiga hari, maka dia tidak paham, dia tidak fakih, dia tidak paham apa? Al-Qur'an.Jadi, eh kita dapatkan memang sebagian salaf mereka membaca Al-Qur'an khatam sehari sekali, bahkan ada di antara mereka ada yang khatam sehari dua kali, terutama di bulan Ramadan. Dan Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan dalam eh kitabnya tentang eh keutamaan beribadah di bulan Ramadan, beliau menyebutkan bahwasanya larangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghatamkan Qur'an kurang dari tiga hari itu berlaku di luar bulan Ramadan. Adapun pada bulan Ramadan, maka sebagian salaf mereka menghatamkan Qur'an sehari sekali, bahkan diriwayatkan Imam Syafi'i rahimahullah beliau menghatamkan sehari dua dua kali. Namun, ini ketika bulan Ramadan saja.Namun, perlu diperhatikan, sulit bagi kita untuk mengkiaskan diri kita dengan mereka para ulama. Bayangkan Imam Syafi'i yang sejak usia 15 tahun sudah menjadi mufti di kota Mekah, ketika dia baca Qur'an mungkin se-khatam sehari sekali, dia baca dengan paham dan dia sudah ketika baca maka seluruh tafsirnya terbawa dalam bacaannya. Maka beda dengan kita, yang kita baca kita enggak ngerti apa yang kita kita baca. Padahal, tujuan utama dari baca Al-Qur'an adalah untuk liyaddabbaru ayatihi, untuk ditadaburi ayat-ayatnya.Maka, maksud dari Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala adalah seorang berusaha membaca Al-Qur'an untuk dipahami, karena itu itu adalah eh keutamaan atau tujuan dari membaca Al-Qur'an. Kalau sudah dipahami, maka iman semakin mudah bertambah dan mudah untuk diamalkan. Adapun baca target sehari sekian juz tapi bacanya dengan tidak tartil, tidak tatsabbut, tidak pelan-pelan, hanya yang penting siapa target siapa target, apalagi bikin grup-grup target, akhirnya tidak ada tadabur dalam bacaan tersebut dan itu tentu talbis Iblis, kata Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala. Maka seorang, selain memperhatikan kuantitas dia baca, yang lebih utama adalah dia memperhatikan kualitas apa yang dia baca.Di antara hal yang yang yang perlu, yang yang saya sesalkan dalam kehidupan saya adalah baca Al-Qur'an, saya kurang tadabur. Kadang saya juga baca dengan apa? Target, ya. Kadang saya baca dengan target. Itu pun saya ngerti bahasa Arab, bagaimana lagi dengan yang tidak ngerti apa? Bahasa Arab. Maka, mulai sekarang kita rubah cara baca Qur'an kita, kita baca Qur'an dengan niat untuk apa? Tadabur. Jadi, niat untuk tadabur. Ada beberapa niat yang bisa kita pasang ketika baca Al-Qur'an, di antaranya niat tilawah, yang di mana setiap huruf dapat 10 pahala. Alif lam mim, la aqulu alif lam mim harfun, kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, walakin alifun harfun, wal-lamu harfun, wa mimun harfun." Alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf. Siapa yang baca alif lam mim dapat 30 kebaikan. Itu di antara niat kita baca Al-Qur'an. Di antara niat kita baca Al-Qur'an adalah untuk mentadaburi—mentadaburi Al-Qur'an.Di antaranya agar Allah memberikan rahmat kepada kepada kita, di antaranya kita dapat petunjuk ketika baca Al-Qur'an. Para ulama menyebutkan niat-niat tersebut sehingga ketika kita baca Al-Qur'an berkualitas. Bahkan, boleh kita berniat untuk mengobati diri kita, untuk merukiah—rukiah diri sendiri, boleh, ya. Oleh karenanya, seorang ketika baca Qur'an dia kumpulkan beberapa niat, sehingga baca Qur'an-nya berkualitas. Bukan cuma baca baca baca baca, kemudian target satu juz, dua juz, khatam, tapi yang didapatkan tidak sebanyak yang seharusnya.Oleh karenanya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencela orang-orang Khawarij, kenapa? Karena mereka baca Qur'an, mereka tidak paham. Kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yaqra'unal-qur'ana la yujawizu taraqiyahum. Mereka baca Al-Qur'an namun tidak melewati taraqi, yaitu tidak melewati tulang selangka mereka, yaitu tidak masuk ke dalam hati, hanya sekadar di di lisan, ya. Jadi, mereka dicela karena tidak mentadaburi apa yang mereka baca. Maka, seorang berusaha ketika baca Qur'an niatnya adalah untuk mentadaburi. Eh, Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah berkata, innama nuzilal-qur'anu liyu'mala bihi fattakhadzannasu qira'atahu 'amalan. Sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan. Dan untuk bisa diamalkan harus ditadaburi, harus ngerti. Bagaimana mau mengamalkan Al-Qur'an kalau tidak dimengerti? Ngerti dulu baru diamalkan. Fattakhadzannasu qira'atahu 'amalan, maka sebagian orang hanya membatasi mengamalkan Al-Qur'an dengan membacanya saja.Sehingga dia sudah kalau sudah khatam Qur'an dia merasa sudah mengamalkan, padahal belum. Baca itu adalah salah satu tahapan yang paling awal. Tahapan kedua, tadabur. Tahapan ketiga baru ber- beramal. Maka nasihat bagi saya pribadi, dan juga kepada para hadirin hadirat, mulai sekarang kalau baca Qur'an berusaha untuk mentadaburi, agar ketika kita baca berkualitas dan kita tambah iman. Kita baca pelan-pelan, enggak usah buru-buru, enggak usah buru-buru. Baca aja, baca kalau tidak ngerti baca terjemahannya. Tentu berbeda kalau kita hanya sekadar baca. Makanya tadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, la yafqahu man qara'al-qur'ana fi aqalla min tsalats. Tidak fakih atau tidak paham orang menghatamkan Qur'an kurang dari tiga hari. Ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bicara kepada orang-orang Arab yang mereka ngerti bahasa Arab. Itu pun kalau mereka khatam Qur'an kurang dari tiga hari tidak dikatakan paham. Artinya, Rasulullah menyuruh mereka untuk menghatamkan Qur'an tiga hari minimal, atau lebih daripada daripada itu.Maka, jangan sampai Iblis datang mentalbis, menggoda kita sehingga kita hanya terfokus, terpacu pada akhir surat yang penting selesai, yang penting selesai, tanpa kita tadabur, tanpa kita tadabur. Dan ada sebuah perkataan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu melarang akan hal ini, ya. Jangan jadikan akhir Qur'an sebagai tujuanmu, tapi qifu 'inda 'aja'ibihi, berhentilah pada keajaiban-keajaiban Al-Qur'an. Harrikul-qulub, goyangkan hati, pikirkan, renungkan. Maka akan datang bacaan yang berkualitas yang sangat mudah menambah iman. Makanya para ulama menyebutkan di antara cara, karena iman itu yazid wa yanqush, iman itu naik dan turun, di antara cara paling mudah menambah keimanan dengan baca Al-Qur'an, tapi baca Qur'an yang berkualitas. Bukan sekadar yang penting khatam, yang penting khatam, khatam. Adapun bulan Ramadan, sesekali khatam Qur'an dalam waktu singkat dua hari, itu boleh, sebagaimana para salaf tentu dengan bacaan yang berkualitas, tetap di dipahami maknanya, eh sebagaimana yang dipraktikkan oleh para para salaf.Kemudian, Ibnul Jauzi berkata, wa qad lab-basa iblisu 'ala qaumin minal-qurra'. Iblis telah menggoda, membuat rancu sekelompok ahli baca Qur'an, sekelompok qari. Mereka membaca Al-Qur'an di menara masjid di malam hari. Dahulu tidak ada toa,tidak ada mikrofon.Sehingga orang kalau azan di menara, supaya apa? Suara terdengar. Ini masalahnya bukan azan, dia baca Qur'an di menara masjid di malam hari. Bil-aswatil-mujtami'atil-murtafi'ati juz'an awil-juz'aini, dengan suara yang kencang, yang dia kumpulkan kemudian dia keluarkan dengan keras. Itu dengan tarik napas, kemudian suara keras, kemudian di disampaikan, ya. Atau bisa jadi maksudnya adalah beberapa orang baca ramai-ramai dengan satu suara, dengan satu suara, ya, satu juz atau dua juz di malam hari.Maka mereka ini, qari ini, ahli baca Qur'an ini, fayajma'una baina adzan-nas fi man'ihim minan-naum wa bainat-ta'arrudh lir-riya'. Maka mereka telah mengumpulkan dua kesalahan. Kesalahan pertama, mengganggu orang tidur, (tertawa) kata Ibnul Jauzi, kesalahan pertama mengganggu orang . Yang kedua, memaparkan diri kepada terjerumus dalam riya’. Sulit orang baca Qur'an di menara di malam hari—coba kalau antum baca Qur'an jam 3 malam, baca pakai mikrofon, mikrofon Masjid Al-Ikhlas di Kubima—sulit bilang saya tidak riak. Sulit enggak? Sulit, apalagi bacaannya bagus, indah. Hati siapa yang kuat mengatakan saya tidak riak? Saya hanya ingin berta'abbud, bertakarub kepada Allah, sementara orang semua terbangun tidurnya dengar suara antum. Oleh karenanya, sebagian masjid, 1 jam sebelum azan sudah putar muratal, bahkan 2 jam sebelum azan sudah putar apa? Muratal. Mengganggu. Orang yang lagi tidur kebangun, yang sakit enggak bisa tidur, yang salat malam keganggu bacaannya.Orang2 yg mengganggu sekitarnya bs jadi berdosa bukannya dpt pahala.Diantaranya ada yg membaca Al quran setelah sholat itu bs mengganggu orang,dan sunnah ya tdk terjalankan.Adapun org yg berdzikir2 dengan sholawat2 nyanyian,maka org2 tsb bisa terpapar riya’.Sunnah yg terbaik Rasulullah ﷺ dan para sabahat,jika beliau tdk menjalankannya maka itu adalah sunnah yg terbaik.Sebaik2nya petunjuk adalah petunjuknya Rasulullah ﷺJanganlah membuat2 perkara2 baru thd ibadahKarena ketika ada ibadah baru yg dimunculkan maka akan ada sunnah yg ditinggalkanBerkata Ibnu Jauzi:Diantara perkara yg menakjubkan yg aku lihat ada seseorang yg mengimami sholat subuh pd hari Jumat,setelah sholat subuh di hari Jumat dia membaca al Mukwadita’in (3 ayat qul)dan dia membaca doa khatam Al quran(utk memberi tahu org2 bahwa dia telah membaca khatam Al quran)~>bukan cara ibadah salaf(metoda salaf semua ibadah sebaiknya tersembunyi)Imam Ahmad sering membaca Al quran,dan tdk diketahui kapan dia khatam Al quranRiya’ itu adalah senjata setan yg paling ampuh dalam rangka menggugurkan amalan ibadah seseorang.Seseorang harus waspada dengan takbis iblis.Itulah talbis iblis pada para pembaca Al alquranBab berikutnya: GODAAN SETAN TERHADAP PARA AHLI IBADAH DALAM IBADAH PUASASetan menggoda pd sebagian kaum,maka mereka puasa terus menerus,dan itu hukumnya boleh jika seseorang berpuasa pd hari2 yg tdk diharamkan.Puasa sunnah itu bertingkat tingkat,yg paling tinggi itu puasa Sunna Senin-Kamis,puasa Daud,puasa dhahr(puasa tiap hari)dgn syarat ketika ada hari2 diharamkan berpuasa maka tdk boleh berpuasa(ied,ayyamul tasyrik)~>khilaf para ulama:1.tidak dianjurkan berpuasa tiap hari ~>ada 2 pendapat:haram dan ada pula makruhRasulullah ﷺ berkata :Tidak ada yg lebih afdhol daripada puasa DaudOleh karenanya, Ibnu Jauzi mengingatkan di antara bentuk talbis iblis (tipu daya iblis) kepada para penuntut ilmu atau para ulama, yaitu mereka asyik dengan ilmu dan mereka menyangka bahwasanya ilmu tersebut sudah cukup tanpa harus diamalkan.Iblis membisikkan kepada mereka: 'Ilmu itu adalah derajat yang tinggi, posisi yang mulia, kedudukan yang luhur.' Sehingga orang yang memilikinya merasa, 'Saya sudah punya kedudukan yang tinggi,' lalu dia lalai dari beramal. Padahal, maksud utama dari ilmu itu adalah untuk diamalkan.Ibaratnya ilmu itu adalah pohon, dan amalan itu adalah buahnya. Seseorang mencari ilmu agar dia bisa beramal dengan benar, bukan sekadar untuk tahu.Oleh karenanya, Ibnu Jauzi menyebutkan permisalan orang yang mengumpulkan ilmu, tahu ini halal, tahu ini haram, tahu ini sunnah, tahu ini makruh, tahu detail-detail masalah agama, tetapi dia tidak mengamalkannya, ibarat seorang yang sakit. Dia pergi ke dokter, lalu dia diberi resep obat. Dia tahu obat ini khasiatnya begini, obat ini kandungannya begitu, diminumnya tiga kali sehari, dia hafal semuanya. Dia hafal resep tersebut, dia bawa resep itu ke mana-mana, dia baca terus resepnya, tapi obatnya tidak pernah dia minum. Apakah dia bisa sembuh? Tentu tidak akan bisa sembuh.Sama halnya dengan orang yang tahu, 'Oh, ini haram, ini riya tidak boleh, hasad tidak boleh, suuzan tidak boleh,' dia tahu teorinya. Dia tahu bahwasanya salat malam itu mulia, baca Al-Qur'an itu mendatangkan pahala yang besar, sedekah itu menghapuskan dosa. Dia tahu semua dalilnya, dia hafal, bahkan dia bisa mengajarkannya kepada orang lain. Tetapi, dia sendiri tidak mengamalkannya. Maka ilmu yang dia miliki tidak akan bermanfaat bagi dirinya.Maka dari itu, iblis menipu mereka dengan mengesankan bahwa: 'Yang penting kamu sudah tahu, kamu sudah punya ilmu, kedudukanmu sudah tinggi di sisi Allah, tinggale menyampaikan saja.' Ini adalah salah satu bentuk tipu daya iblis yang sangat berbahaya bagi para ahli ilmu dan penuntut ilmu."

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 jam lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 52 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Secara Hakikat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ABeliau mengatakan rahimahullāh,وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة،و ليس بمخلوق ككلام البريةDan mereka (Ahlussunnah wal jama’ah), karena disini Al Imam Abu Ja’far Ath thohawiy kita tahu sedang menceritakan kepada kita aqidah Ahlu Sunnah wal jama’ah.Dan mereka meyakini (keyakinan lawan dari keragu²an) meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada keraguan didalamnya,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ..[QS Al-Hujurat 15]Mereka beriman kepada Allāh dan RasulNya, dan kemudian mereka tidak ada keraguan.Tidak ada keraguan didalam keyakinan tersebut.وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَDan mereka adalah orang² yang yakin dengan ayat² Kami,أنه كلام الله تعالى بالحقيقةMereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah KalamullahبالحقيقةSecara hakiki,Ini adalah penekanan karena mungkin ada diantara Ahlu bida’ yang mereka mengatakan kita meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi ini adalah majas, bukan itu yang dimaksud, itu adalah keyakinan Ahlu bida’, adapun kita meyakini bahwasanya itu adalah Kalamullah, Allāh yang pertama kali berbicara disampaikan kepada Malaikat Jibril disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, tapi yg pertama kali berbicara adalah Allāh subhanahu wa ta’ala, Allāh berbicara, Allāh memilih sifat Kalam hakiki, Allāh berbicara sebagaimana yang Allāh kabarkan banyak didalam Al-Qur’an, Allāh berbicara dana Allāh mewahyukan dan kalimat hakikoh bukan berarti menyerupakan Allāh dengan makhluk secara hakiki kemudian dibayangkan bahwasanya ucapan Allāh sama dengan makhluk (Tidak) hakikoh sesuai dengan keanggunganNya, Allāh berbicara secara hakiki tapi bicaranya Allāh tidak sama dengan bicaranya makhluk, makhluk memiliki hakikat dan Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki hakikat, makhluk ketika dia memiliki sifat dia memiliki hakikat, demikian Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat dan juga memiliki hakikat, masing² memiliki hakikat bukan berarti seseorang meyakini bahwasanya Allāh berbicara didalam Al-Qur’an bilhakikat/maksudnya sama dengan ucapan makhluk.Ini adalah bantahan bagi Jam’iyyah dan Mua’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi majas, disandarkan kepada Allāh secara majas, hakikatnya Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan ucapan (kata mereka) jadi mereka bukan Allāh berbicara tapi Allāh menciptakan ucapan disandarkan kepada Allāh/dikatakan kepada Allāh tapi itu adalah majas, hakikatnya bukan demikian, hakikatnya Allāh menciptakan ucapan diluar diriNya kemudian disandarkan itu kepada Allāh secara majas, dan kita tahu bahwasanya sesuatu yang disandarkan kepada Allāh ada dua jenis, terkadang disandarkan kepada Allāh berupa makna/berupa sifat, maka ini tentunya bukan makhluk seperti kalamullah ini adalah sifat Allāh, Al Kalam disini adalah sifat Allāh, disandarkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, ini adalah idhofatu Asyifa Illa Mursi , kemudian disana ada idhofatu A’yan, disandarkan makhluk kepada Al Kholiq, seperti misalnya laqotallah, laqoh (unta) disandarkan kepada Allāh ini adalah bukan laqoh sifat bagi Allāh (bukan) tapi ini adalah penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, atau baitullah ini juga penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, Abdullāh, Masjidullah maka ini penyandaran makhluk kepada Al Kholiq.Yang dimaksud dengan firman Allāhحَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِفَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ[QS Al Baqarah 75]Maka ini semua idhofatu Asyifa Illa Al Mau’su, penyandaran sifat kepada yang disifati.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya22 jam lalu
A
Aminatus Noer Sholichah

📍 Kota Surabaya

Materi ke-7 : talbis IBLIS terhadap ahli ilmu bagian ke-3

Rangkuman Kajian: Talbis Iblis #7 (Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu – Bagian 3)1. Fitnah Hubbur Riyasah (Gila Hormat & Cinta Kedudukan)Salah satu puncak tipu daya iblis yang paling berbahaya bagi ahli ilmu adalah menanamkan kecintaan pada kekuasaan, pengaruh, dan penghormatan dari manusia.Candu Pujian: Iblis membuat seorang ahli ilmu merasa berhak untuk selalu dihormati, didengarkan kata-katanya tanpa boleh dibantah, dan diprioritaskan dalam segala urusan majelis.Merasa di Atas Angin: Keinginan untuk menjadi pusat perhatian (center of attention) ini perlahan mengikis keikhlasan, sehingga aktivitas dakwah atau belajar tidak lagi diniatkan karena Allah, melainkan untuk mempertahankan status sosial.2. Ambisi Memperbanyak Pengikut (Jamaah)Iblis masuk melalui celah kuantitas untuk merusak kualitas hati seorang dai atau penuntut ilmu:Bangga dengan Angka: Muncul perasaan senang dan puas yang berlebihan ketika melihat majelisnya dihadiri banyak orang, videonya ditonton jutaan kali, atau pengikutnya di media sosial melimpah.Sempit Hati Saat Sepi: Sebaliknya, ia akan merasa sesak, sedih, atau bahkan tersinggung jika majelisnya sepi atau pengikutnya berkurang.Sikap Sinis pada Guru Lain: Ciri nyata dari talbis ini adalah munculnya rasa tidak suka atau benci ketika melihat murid atau jamaahnya pergi belajar kepada ulama/ustadz lain. Dakwah yang harusnya mengajak manusia kepada Allah, bergeser menjadi mengajak manusia kepada kelompok atau dirinya sendiri.3. Penyakit 'Ujub (Mengagumi Diri Sendiri) & Merendahkan Orang AwamKetika ilmu sudah bertambah, iblis meniupkan bisikan bahwa dirinya adalah orang pilihan yang suci dan jenius.Merasa Paling Selamat: Merasa diri paling paham dalil, paling sunnah, atau paling bersih dari dosa, sementara memandang orang awam atau penuntut ilmu yang baru belajar dengan pandangan merendahkan dan penuh penghinaan.Sulit Menerima Kebenaran: Sifat 'ujub ini melahirkan kesombongan yang membuat seorang ahli ilmu sangat gengsi untuk menerima masukan, kritikan, atau koreksi ilmiah, meskipun kritikan tersebut datang dari orang yang lebih muda atau lebih rendah status sosialnya.4. Riya' dan Sum'ah Lewat Karya IlmiahBagi ahli ilmu yang aktif menulis buku, membuat artikel, atau menyusun fatwa, iblis memalingkan niat mereka:Bukan lagi untuk menyebarkan manfaat dan menyelamatkan umat dari kebodohan, melainkan agar namanya tercatat dalam sejarah, dianggap sebagai ulama yang produktif, atau sekadar berburu gelar akademis (Al-Allamah, Profesor, Doktor) demi validasi manusia.💡 Kesimpulan & Solusi KeselamatanDi akhir kajian, Ust. Firanda menekankan beberapa benteng agar terhindar dari talbis di fase ini:🌱 Tawadhu yang Hakiki: Sadarilah bahwa ilmu, hafalan, dan pemahaman yang kuat adalah murni titipan dari Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri. Allah bisa mencabutnya dalam sekejap.🔄 Fokus pada Manfaat, Bukan Kuantitas: Suksesnya dakwah di mata Allah diukur dari keikhlasan, bukan dari seberapa penuh ruangan majelis atau seberapa banyak pengikut.🤫 Miliki Amal Rahasia: Perbanyak ibadah, sedekah, atau tangisan di sepertiga malam yang tidak diketahui oleh satu pun jamaah atau murid, sebagai penyeimbang dan penawar racun riya' di siang hari.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 jam lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 52

Halaqah 52 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Secara HakikatKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة،و ليس بمخلوق ككلام البريةDan mereka (Ahlussunnah wal jama’ah), karena disini Al Imam Abu Ja’far Ath thohawiy kita tahu sedang menceritakan kepada kita aqidah Ahlu Sunnah wal jama’ah.Dan mereka meyakini (keyakinan lawan dari keragu²an) meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada keraguan didalamnya,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ..[QS Al-Hujurat 15]Mereka beriman kepada Allāh dan RasulNya, dan kemudian mereka tidak ada keraguan.Tidak ada keraguan didalam keyakinan tersebut.وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَDan mereka adalah orang² yang yakin dengan ayat² Kami,أنه كلام الله تعالى بالحقيقةMereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah KalamullahبالحقيقةSecara hakiki,Ini adalah penekanan karena mungkin ada diantara Ahlu bida’ yang mereka mengatakan kita meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi ini adalah majas, bukan itu yang dimaksud, itu adalah keyakinan Ahlu bida’, adapun kita meyakini bahwasanya itu adalah Kalamullah, Allāh yang pertama kali berbicara disampaikan kepada Malaikat Jibril disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, tapi yg pertama kali berbicara adalah Allāh subhanahu wa ta’ala, Allāh berbicara, Allāh memilih sifat Kalam hakiki, Allāh berbicara sebagaimana yang Allāh kabarkan banyak didalam Al-Qur’an, Allāh berbicara dana Allāh mewahyukan dan kalimat hakikoh bukan berarti menyerupakan Allāh dengan makhluk secara hakiki kemudian dibayangkan bahwasanya ucapan Allāh sama dengan makhluk (Tidak) hakikoh sesuai dengan keanggunganNya, Allāh berbicara secara hakiki tapi bicaranya Allāh tidak sama dengan bicaranya makhluk, makhluk memiliki hakikat dan Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki hakikat, makhluk ketika dia memiliki sifat dia memiliki hakikat, demikian Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat dan juga memiliki hakikat, masing² memiliki hakikat bukan berarti seseorang meyakini bahwasanya Allāh berbicara didalam Al-Qur’an bilhakikat/maksudnya sama dengan ucapan makhluk.Ini adalah bantahan bagi Jam’iyyah dan Mua’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi majas, disandarkan kepada Allāh secara majas, hakikatnya Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan ucapan (kata mereka) jadi mereka bukan Allāh berbicara tapi Allāh menciptakan ucapan disandarkan kepada Allāh/dikatakan kepada Allāh tapi itu adalah majas, hakikatnya bukan demikian, hakikatnya Allāh menciptakan ucapan diluar diriNya kemudian disandarkan itu kepada Allāh secara majas, dan kita tahu bahwasanya sesuatu yang disandarkan kepada Allāh ada dua jenis, terkadang disandarkan kepada Allāh berupa makna/berupa sifat, maka ini tentunya bukan makhluk seperti kalamullah ini adalah sifat Allāh, Al Kalam disini adalah sifat Allāh, disandarkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, ini adalah idhofatu Asyifa Illa Mursi , kemudian disana ada idhofatu A’yan, disandarkan makhluk kepada Al Kholiq, seperti misalnya laqotallah, laqoh (unta) disandarkan kepada Allāh ini adalah bukan laqoh sifat bagi Allāh (bukan) tapi ini adalah penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, atau baitullah ini juga penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, Abdullāh, Masjidullah maka ini penyandaran makhluk kepada Al Kholiq.Yang dimaksud dengan firman Allāhحَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِفَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ[QS Al Baqarah 75]Maka ini semua idhofatu Asyifa Illa Al Mau’su, penyandaran sifat kepada yang disifati.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya23 jam lalu
P
Peni Fauziah Puadah

📍 Kota Bandung

Ringkasan Talbis Iblis 7

"Jangan jadikan akhir quran sebagai tujuanmu, tapi berhentilah pada keajaiban-keajaiban Alquran"Ulama menyebutkan, karena iman itu bertambah dan berkurang, maka tingkatkanlah iman dengan membaca Alquran. Artinya bacaan quran yg dibutuhkan untuk meningkatkan iman adalah yang berkualitas.Alquran itu turun untuk di amalkan. Bagaimana bisa seseorang mengamalkan Alquran tanpa memahaminya lewat tadabbur?Maka tadabbur itu adalah tahapan ke dua setelah kita membaca.Semoga kita terlindung dari talbis iblis yang membisiki kita untuk cepat cepat dalam membaca Alquran tanpa mengetahui maknanya.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 jam lalu
R
Riva Aktivia

📍 Kota Palembang

Talbis iblis 6

Talbis iblis #6 Terhadap ahli ilmu bagian 2 sering mengulang niat karena ragu apakah niatnya batal was-was adalah kebodohan yang disebabkan oleh iblis. 20 berlama-lama mengerjakan ibadah sunnah tapi meninggalkan ibadah yang wajib hanya mengikuti ibadah yang dilakukan ornag soleh tapi tidak mempelajari apakah yang dilakukan oleh orang itu ada syariatnya atau tidak. Riya dalam beribadah, apalagi dizaman sekarang semua hal mudah dishare, sedangkan amal/ibadah yang disembunyikan lebih baik dibanding yang diperlihatkan. beribadah/beramal lalu viral sehingga niatnya yang awalnya ikhlas lama2 jadi berbelok hingga menjadi riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →