Materi ke 7Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian ke -3Bersama Ustadz DR.FIRANDA ANDIRJA M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِTalbis Iblis terhadap ahli ibadah—Faslun al-insyighal bil-mafduh 'an al-fadhil. Fasal tentang sibuk dengan yang tidak utama sehingga meninggalkan yang utama. Wa qad lab-basa 'ala jama'atin muta'abbidin fatarahum yushallunal-laila wan-nahar wa la yanzhuruna fi islahi 'aibin bathinin wa la fi math'amin wan-nazharu fi dzalika aula bihim min katsratit-tanafful. Kata Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala, "Setan telah menggoda banyak dari ahli ibadah. Kau lihat mereka salat malam, salat-salat sunah di malam hari, salat-salat sunah di siang hari, tetapi mereka tidak perhatian terhadap perbaikan batin mereka. Padahal, kita tahu di dalam batin ini banyak sekali aib.""Dan mereka juga tidak memperhatikan tentang apa yang mereka makan. Padahal, memperhatikan hal-hal tersebut—memperbaiki penyakit-penyakit batin dan juga perhatian terhadap halalnya apa yang kita makan dari sumber yang mana—itu lebih utama daripada memperbanyak salat-salat sunah, daripada memperbanyak salat-salat sunah." Nah, ini maksudnya, ya, Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala eh menyampaikan jangan sampai seseorang sibuk dengan yang zahir, seperti ibadah-ibadah eh salat sunah, kemudian lupa untuk memperbaiki yang batin. Batin kita ini penuh dengan penyakit, perlu kita perbaiki sedikit demi sedikit, perlu kita obati.Demikian juga, jangan sampai rajin ibadah, salat terus, tapi tidak peduli, tidak memperhatikan apa yang kita makan. Harusnya kita perhatikan yang kita makan ini sumbernya halal atau atau tidak. Kemudian pembahasan berikutnya, Dzikru talbisihi 'alaihim fi qira'atil-qur'an. Penyebutan tentang godaan setan terhadap para ahli ibadah dalam membaca Al-Qur'an.Ibnul Jauzi berkata, "Setan telah menggoda suatu kaum dengan memperbanyak tilawah Qur'an, tetapi mereka membaca Al-Qur'an dengan hazzan, yaitu dengan cepat, min ghairi tartil, tanpa mentartil." Yaitu, baca dengan cepat, berburu-buru, tanpa ditartil, tanpa dibaca dengan pelan-pelan. Wa hadzihi halatun laisat bi mahmudah. Metode membaca seperti ini, dengan cepat sekali—ya, intinya target adalah berjus-jus dengan cepat—ini adalah kondisi yang tidak terpuji.Wa qad ruwiya 'an jama'atin minas-salaf annahum kanu yaqra'unal-qur'ana fi kulli yaumin au fi kulli rak'ah. Memang benar, diriwayatkan dari sebagian salaf, ada di antara mereka yang membaca Al-Qur'an khatam dalam sehari, atau bahkan ada yang menghatamkan Al-Qur'an dalam satu rakaat, seperti diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan juga diriwayatkan dari Al-Imam Abu Hanifah rahimahullahu taala. Mereka membaca Qur'an satu rakaat khatam. Namun, kata Ibnul Jauzi, wa hadza yakunu nadiran minhum. Namun, ini adalah perkara yang jarang dari mereka. Wa man dawama 'alaihi, dan siapa di antara para salaf yang mungkin selalu seperti ini—artinya, mereka mungkin seperti itu tapi bukan setiap hari, bukan setiap hari menghatamkan Qur'an satu hari khatam, bukan setiap hari setiap satu rakaat 30 juz—tapi mereka melakukan jarang, tapi pernah mereka lakukan.Siapa yang mendawamkan hal ini, ya, wa in kana ja'izan, meskipun hal ini boleh—boleh seorang terus khatam Al-Qur'an setiap hari satu kali—illa annat-tartil wat-tatsabbut ahabbu ilal-'ulama'. Akan tetapi, membaca dengan tartil, dengan pelan-pelan, itu lebih disukai oleh para ulama. Wa qad qala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, la yafqahu man qara'al-qur'ana fi aqalla min tsalats. Orang yang baca Al-Qur'an kurang—khatam Qur'an kurang dari tiga hari, maka dia tidak paham, dia tidak fakih, dia tidak paham apa? Al-Qur'an.Jadi, eh kita dapatkan memang sebagian salaf mereka membaca Al-Qur'an khatam sehari sekali, bahkan ada di antara mereka ada yang khatam sehari dua kali, terutama di bulan Ramadan. Dan Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan dalam eh kitabnya tentang eh keutamaan beribadah di bulan Ramadan, beliau menyebutkan bahwasanya larangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghatamkan Qur'an kurang dari tiga hari itu berlaku di luar bulan Ramadan. Adapun pada bulan Ramadan, maka sebagian salaf mereka menghatamkan Qur'an sehari sekali, bahkan diriwayatkan Imam Syafi'i rahimahullah beliau menghatamkan sehari dua dua kali. Namun, ini ketika bulan Ramadan saja.Namun, perlu diperhatikan, sulit bagi kita untuk mengkiaskan diri kita dengan mereka para ulama. Bayangkan Imam Syafi'i yang sejak usia 15 tahun sudah menjadi mufti di kota Mekah, ketika dia baca Qur'an mungkin se-khatam sehari sekali, dia baca dengan paham dan dia sudah ketika baca maka seluruh tafsirnya terbawa dalam bacaannya. Maka beda dengan kita, yang kita baca kita enggak ngerti apa yang kita kita baca. Padahal, tujuan utama dari baca Al-Qur'an adalah untuk liyaddabbaru ayatihi, untuk ditadaburi ayat-ayatnya.Maka, maksud dari Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala adalah seorang berusaha membaca Al-Qur'an untuk dipahami, karena itu itu adalah eh keutamaan atau tujuan dari membaca Al-Qur'an. Kalau sudah dipahami, maka iman semakin mudah bertambah dan mudah untuk diamalkan. Adapun baca target sehari sekian juz tapi bacanya dengan tidak tartil, tidak tatsabbut, tidak pelan-pelan, hanya yang penting siapa target siapa target, apalagi bikin grup-grup target, akhirnya tidak ada tadabur dalam bacaan tersebut dan itu tentu talbis Iblis, kata Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala. Maka seorang, selain memperhatikan kuantitas dia baca, yang lebih utama adalah dia memperhatikan kualitas apa yang dia baca.Di antara hal yang yang yang perlu, yang yang saya sesalkan dalam kehidupan saya adalah baca Al-Qur'an, saya kurang tadabur. Kadang saya juga baca dengan apa? Target, ya. Kadang saya baca dengan target. Itu pun saya ngerti bahasa Arab, bagaimana lagi dengan yang tidak ngerti apa? Bahasa Arab. Maka, mulai sekarang kita rubah cara baca Qur'an kita, kita baca Qur'an dengan niat untuk apa? Tadabur. Jadi, niat untuk tadabur. Ada beberapa niat yang bisa kita pasang ketika baca Al-Qur'an, di antaranya niat tilawah, yang di mana setiap huruf dapat 10 pahala. Alif lam mim, la aqulu alif lam mim harfun, kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, walakin alifun harfun, wal-lamu harfun, wa mimun harfun." Alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf. Siapa yang baca alif lam mim dapat 30 kebaikan. Itu di antara niat kita baca Al-Qur'an. Di antara niat kita baca Al-Qur'an adalah untuk mentadaburi—mentadaburi Al-Qur'an.Di antaranya agar Allah memberikan rahmat kepada kepada kita, di antaranya kita dapat petunjuk ketika baca Al-Qur'an. Para ulama menyebutkan niat-niat tersebut sehingga ketika kita baca Al-Qur'an berkualitas. Bahkan, boleh kita berniat untuk mengobati diri kita, untuk merukiah—rukiah diri sendiri, boleh, ya. Oleh karenanya, seorang ketika baca Qur'an dia kumpulkan beberapa niat, sehingga baca Qur'an-nya berkualitas. Bukan cuma baca baca baca baca, kemudian target satu juz, dua juz, khatam, tapi yang didapatkan tidak sebanyak yang seharusnya.Oleh karenanya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencela orang-orang Khawarij, kenapa? Karena mereka baca Qur'an, mereka tidak paham. Kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yaqra'unal-qur'ana la yujawizu taraqiyahum. Mereka baca Al-Qur'an namun tidak melewati taraqi, yaitu tidak melewati tulang selangka mereka, yaitu tidak masuk ke dalam hati, hanya sekadar di di lisan, ya. Jadi, mereka dicela karena tidak mentadaburi apa yang mereka baca. Maka, seorang berusaha ketika baca Qur'an niatnya adalah untuk mentadaburi. Eh, Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah berkata, innama nuzilal-qur'anu liyu'mala bihi fattakhadzannasu qira'atahu 'amalan. Sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan. Dan untuk bisa diamalkan harus ditadaburi, harus ngerti. Bagaimana mau mengamalkan Al-Qur'an kalau tidak dimengerti? Ngerti dulu baru diamalkan. Fattakhadzannasu qira'atahu 'amalan, maka sebagian orang hanya membatasi mengamalkan Al-Qur'an dengan membacanya saja.Sehingga dia sudah kalau sudah khatam Qur'an dia merasa sudah mengamalkan, padahal belum. Baca itu adalah salah satu tahapan yang paling awal. Tahapan kedua, tadabur. Tahapan ketiga baru ber- beramal. Maka nasihat bagi saya pribadi, dan juga kepada para hadirin hadirat, mulai sekarang kalau baca Qur'an berusaha untuk mentadaburi, agar ketika kita baca berkualitas dan kita tambah iman. Kita baca pelan-pelan, enggak usah buru-buru, enggak usah buru-buru. Baca aja, baca kalau tidak ngerti baca terjemahannya. Tentu berbeda kalau kita hanya sekadar baca. Makanya tadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, la yafqahu man qara'al-qur'ana fi aqalla min tsalats. Tidak fakih atau tidak paham orang menghatamkan Qur'an kurang dari tiga hari. Ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bicara kepada orang-orang Arab yang mereka ngerti bahasa Arab. Itu pun kalau mereka khatam Qur'an kurang dari tiga hari tidak dikatakan paham. Artinya, Rasulullah menyuruh mereka untuk menghatamkan Qur'an tiga hari minimal, atau lebih daripada daripada itu.Maka, jangan sampai Iblis datang mentalbis, menggoda kita sehingga kita hanya terfokus, terpacu pada akhir surat yang penting selesai, yang penting selesai, tanpa kita tadabur, tanpa kita tadabur. Dan ada sebuah perkataan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu melarang akan hal ini, ya. Jangan jadikan akhir Qur'an sebagai tujuanmu, tapi qifu 'inda 'aja'ibihi, berhentilah pada keajaiban-keajaiban Al-Qur'an. Harrikul-qulub, goyangkan hati, pikirkan, renungkan. Maka akan datang bacaan yang berkualitas yang sangat mudah menambah iman. Makanya para ulama menyebutkan di antara cara, karena iman itu yazid wa yanqush, iman itu naik dan turun, di antara cara paling mudah menambah keimanan dengan baca Al-Qur'an, tapi baca Qur'an yang berkualitas. Bukan sekadar yang penting khatam, yang penting khatam, khatam. Adapun bulan Ramadan, sesekali khatam Qur'an dalam waktu singkat dua hari, itu boleh, sebagaimana para salaf tentu dengan bacaan yang berkualitas, tetap di dipahami maknanya, eh sebagaimana yang dipraktikkan oleh para para salaf.Kemudian, Ibnul Jauzi berkata, wa qad lab-basa iblisu 'ala qaumin minal-qurra'. Iblis telah menggoda, membuat rancu sekelompok ahli baca Qur'an, sekelompok qari. Mereka membaca Al-Qur'an di menara masjid di malam hari. Dahulu tidak ada toa,tidak ada mikrofon.Sehingga orang kalau azan di menara, supaya apa? Suara terdengar. Ini masalahnya bukan azan, dia baca Qur'an di menara masjid di malam hari. Bil-aswatil-mujtami'atil-murtafi'ati juz'an awil-juz'aini, dengan suara yang kencang, yang dia kumpulkan kemudian dia keluarkan dengan keras. Itu dengan tarik napas, kemudian suara keras, kemudian di disampaikan, ya. Atau bisa jadi maksudnya adalah beberapa orang baca ramai-ramai dengan satu suara, dengan satu suara, ya, satu juz atau dua juz di malam hari.Maka mereka ini, qari ini, ahli baca Qur'an ini, fayajma'una baina adzan-nas fi man'ihim minan-naum wa bainat-ta'arrudh lir-riya'. Maka mereka telah mengumpulkan dua kesalahan. Kesalahan pertama, mengganggu orang tidur, (tertawa) kata Ibnul Jauzi, kesalahan pertama mengganggu orang . Yang kedua, memaparkan diri kepada terjerumus dalam riya’. Sulit orang baca Qur'an di menara di malam hari—coba kalau antum baca Qur'an jam 3 malam, baca pakai mikrofon, mikrofon Masjid Al-Ikhlas di Kubima—sulit bilang saya tidak riak. Sulit enggak? Sulit, apalagi bacaannya bagus, indah. Hati siapa yang kuat mengatakan saya tidak riak? Saya hanya ingin berta'abbud, bertakarub kepada Allah, sementara orang semua terbangun tidurnya dengar suara antum. Oleh karenanya, sebagian masjid, 1 jam sebelum azan sudah putar muratal, bahkan 2 jam sebelum azan sudah putar apa? Muratal. Mengganggu. Orang yang lagi tidur kebangun, yang sakit enggak bisa tidur, yang salat malam keganggu bacaannya.Orang2 yg mengganggu sekitarnya bs jadi berdosa bukannya dpt pahala.Diantaranya ada yg membaca Al quran setelah sholat itu bs mengganggu orang,dan sunnah ya tdk terjalankan.Adapun org yg berdzikir2 dengan sholawat2 nyanyian,maka org2 tsb bisa terpapar riya’.Sunnah yg terbaik Rasulullah ﷺ dan para sabahat,jika beliau tdk menjalankannya maka itu adalah sunnah yg terbaik.Sebaik2nya petunjuk adalah petunjuknya Rasulullah ﷺJanganlah membuat2 perkara2 baru thd ibadahKarena ketika ada ibadah baru yg dimunculkan maka akan ada sunnah yg ditinggalkanBerkata Ibnu Jauzi:Diantara perkara yg menakjubkan yg aku lihat ada seseorang yg mengimami sholat subuh pd hari Jumat,setelah sholat subuh di hari Jumat dia membaca al Mukwadita’in (3 ayat qul)dan dia membaca doa khatam Al quran(utk memberi tahu org2 bahwa dia telah membaca khatam Al quran)~>bukan cara ibadah salaf(metoda salaf semua ibadah sebaiknya tersembunyi)Imam Ahmad sering membaca Al quran,dan tdk diketahui kapan dia khatam Al quranRiya’ itu adalah senjata setan yg paling ampuh dalam rangka menggugurkan amalan ibadah seseorang.Seseorang harus waspada dengan takbis iblis.Itulah talbis iblis pada para pembaca Al alquranBab berikutnya: GODAAN SETAN TERHADAP PARA AHLI IBADAH DALAM IBADAH PUASASetan menggoda pd sebagian kaum,maka mereka puasa terus menerus,dan itu hukumnya boleh jika seseorang berpuasa pd hari2 yg tdk diharamkan.Puasa sunnah itu bertingkat tingkat,yg paling tinggi itu puasa Sunna Senin-Kamis,puasa Daud,puasa dhahr(puasa tiap hari)dgn syarat ketika ada hari2 diharamkan berpuasa maka tdk boleh berpuasa(ied,ayyamul tasyrik)~>khilaf para ulama:1.tidak dianjurkan berpuasa tiap hari ~>ada 2 pendapat:haram dan ada pula makruhRasulullah ﷺ berkata :Tidak ada yg lebih afdhol daripada puasa DaudOleh karenanya, Ibnu Jauzi mengingatkan di antara bentuk talbis iblis (tipu daya iblis) kepada para penuntut ilmu atau para ulama, yaitu mereka asyik dengan ilmu dan mereka menyangka bahwasanya ilmu tersebut sudah cukup tanpa harus diamalkan.Iblis membisikkan kepada mereka: 'Ilmu itu adalah derajat yang tinggi, posisi yang mulia, kedudukan yang luhur.' Sehingga orang yang memilikinya merasa, 'Saya sudah punya kedudukan yang tinggi,' lalu dia lalai dari beramal. Padahal, maksud utama dari ilmu itu adalah untuk diamalkan.Ibaratnya ilmu itu adalah pohon, dan amalan itu adalah buahnya. Seseorang mencari ilmu agar dia bisa beramal dengan benar, bukan sekadar untuk tahu.Oleh karenanya, Ibnu Jauzi menyebutkan permisalan orang yang mengumpulkan ilmu, tahu ini halal, tahu ini haram, tahu ini sunnah, tahu ini makruh, tahu detail-detail masalah agama, tetapi dia tidak mengamalkannya, ibarat seorang yang sakit. Dia pergi ke dokter, lalu dia diberi resep obat. Dia tahu obat ini khasiatnya begini, obat ini kandungannya begitu, diminumnya tiga kali sehari, dia hafal semuanya. Dia hafal resep tersebut, dia bawa resep itu ke mana-mana, dia baca terus resepnya, tapi obatnya tidak pernah dia minum. Apakah dia bisa sembuh? Tentu tidak akan bisa sembuh.Sama halnya dengan orang yang tahu, 'Oh, ini haram, ini riya tidak boleh, hasad tidak boleh, suuzan tidak boleh,' dia tahu teorinya. Dia tahu bahwasanya salat malam itu mulia, baca Al-Qur'an itu mendatangkan pahala yang besar, sedekah itu menghapuskan dosa. Dia tahu semua dalilnya, dia hafal, bahkan dia bisa mengajarkannya kepada orang lain. Tetapi, dia sendiri tidak mengamalkannya. Maka ilmu yang dia miliki tidak akan bermanfaat bagi dirinya.Maka dari itu, iblis menipu mereka dengan mengesankan bahwa: 'Yang penting kamu sudah tahu, kamu sudah punya ilmu, kedudukanmu sudah tinggi di sisi Allah, tinggale menyampaikan saja.' Ini adalah salah satu bentuk tipu daya iblis yang sangat berbahaya bagi para ahli ilmu dan penuntut ilmu."