Makna Talbis Iblis dan Profil Penulis Definisi Talbis IblisTalbis Iblis ini kalau kita artikan secara bahasa Indonesiaadalah "Tipuan Iblis". Yaitu bagaimana iblis memperdayamanusia dengan cara seakan-akan itu adalah kebaikan, padahal ternyata itu adalah keburukan. Jadi, talbis adalah metode iblis dalam menipu manusia, di mana kemaksiatan disodorkan seakan-akan dalam bentuk ketaatan sehingga banyak yang terpedaya.Profil Al-Imam Ibnul JauziPenulis kitab ini adalah Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah Ta'ala yang hidup di abad ke-6 Hijriah. Beliau dikenal sebagai ahli al-wa'zh (ahli dalam memberi nasihat). Disebutkan dalam biografi beliau, ketika beliau mengisi pengajian, yang hadir paling tidak mencapai 10.000 orang di zaman tersebut. Terkadang majelisnya dipenuhi hingga 100.000 orang. Beliau sendiri pernah mengatakan bahwa telah masuk Islam di tangannya sebanyak 20.000 orang, dan telah bertaubat melalui perantaranya ada sekitar 100.000 orang. Hal ini menunjukkan jumlah yang sangat banyak. Beliau pakar dalam memberikan nasihat-nasihat, sehingga beliau menggeluti tentang metode-metode iblis dalam menggoda berbagai macam model manusia.Struktur Kitab Talbis IblisBuku ini disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah Ta'ala terdiri atas 13 bab. Empat bab pertama merupakan mukadimah, sementara sembilan bab berikutnya adalah rincian contoh-contoh talbis iblis. Berikut adalah rinciannya:Bab 1: Perintah untuk melazimi Sunnah wal Jamaah.Bab 2: Celaan terhadap bid'ah dan ahlul bid'ah.Bab 3: Peringatan tentang fitnah iblis dan tipuan-tipuannya.Bab 4: Makna talbis dan al-ghurur (pendahuluan kitab).Bab 5: Talbis iblis yang berkaitan dengan akidah dan agama.Bab 6: Talbis iblis terhadap para ulama dalam berbagai bidang ilmu (bagaimana setan menipu para ulama).Bab 7: Talbis iblis terhadap para wulat dan salathin (para penguasa).Bab 8: Talbis iblis terhadap para ahli ibadah dalam model-model ibadah mereka.Bab 9: Talbis iblis terhadap orang-orang zuhud.Bab 10: Talbis iblis terhadap orang-orang Sufiyah.Bab 11: Talbis iblis terhadap orang-orang yang beragama dengan perkara yang disangka karomah (padahal bid'ah/mungkar).Bab 12: Talbis iblis terhadap orang-orang awam.Bab 13: Talbis iblis kepada semua manusia dengan memperpanjang angan-angan (sehingga melupakan kematian).Peran dan Keterbatasan Akal ManusiaDalam khutbatul kitab (permulaan kitab), setelah memuji Allah, bersyahadat, dan bersalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menyebutkan bahwa sesungguhnya nikmat yang paling besar bagi manusia adalah akal.Dengan akal, seseorang bisa mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membenarkan para rasul. Namun, akal secara independen tidak bisa mengantarkan manusia kepada segala tujuannya karena akal terbatas kemampuannya. Oleh karenanya, harus diutus para rasul dan diturunkan kitab-kitab suci untuk membimbing akal tersebut.Al-Imam Ibnul Jauzi memberikan perumpamaan:Syariat (yang dibawa rasul) adalah seperti matahari.Akal manusia adalah seperti mata.Mata bisa melihat, tetapi jika tidak ada cahaya, percuma ia tidak bisa melihat. Maka, untuk bisa melihat dengan baik, mata membutuhkan cahaya yang cukup.Sejarah Permusuhan dan Metodologi Tipuan IblisSetelah Allah memberikan anugerah akal, diutusnya Nabi Adam 'alaihissalam, diturunkannya wahyu, hingga terjadinya tragedi Qabil membunuh Habil karena syahwat yang menguasai. Mulailah terjadi kerancuan dan muncul berbagai macam akidah serta aliran-aliran.Dugaan iblis bahwa ia bisa menyesatkan manusia telah terbukti. Cara yang dilakukan iblis dalam menggoda manusia adalah dengan mencampurkan penjelasan syariat dengan syubhat, dan mencampur obat penawar (dari para nabi) dengan racun, sehingga orang-orang pun terpedaya.Iblis memecah belah umat menjadi berkelompok-kelompok dengan berbagai aliran pemikiran, dan hawa nafsu masuk dalam segala hal.Urgensi Mengenalkan dan Mengenal KeburukanAl-Imam Ibnul Jauzi menulis, "Maka aku pandang, aku harus memperingatkan manusia dari tipuan-tipuan iblis, dan saya harus menunjukkan kepada manusia terhadap perangkap-perangkap iblis."Mengetahui keburukan adalah hal yang penting agar kita tidak terjerumus ke dalamnya. Hal ini sesuai dengan pemahamanSahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Beliau berkata:"Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang kebaikan, dan aku bertanya tentang keburukan karena aku khawatir keburukan tersebut mendapatiku."Seseorang yang hanya mengenal kebaikan dan tidak mengenal keburukan sangat rentan terjerumus ke dalam keburukan tersebut tanpa ia sadari. Sebagaimana perkataan seorang penyair: "Aku mengenal keburukan bukan untuk melakukannya, tapi untuk meninggalkannya. Barangsiapa yang tidak mengenal keburukan dari kebaikan, dia akan terjatuh ke dalamnya."Orang yang paling selamat adalah mereka yang mengenal kebaikan secara terperinci, sekaligus mengenal keburukan dan dosa-dosa secara terperinci. Inilah kondisi yang paling sempurna, seperti halnya para Sahabat Nabi yang pernah hidup di zaman Jahiliah. Mereka mengetahui dengan detail puncak-puncak keburukan (moral dan akidah yang rusak di masa itu), kemudian mereka mendapatkan cahaya hidayah Islam. Sehingga, ilmu dan amal mereka dibangun di atas fondasi mengenal keburukan secara terperinci agar bisa ditinggalkan, dan mengenal kebaikan secara terperinci agar bisa diamalkan.Bagaimana cara setan menjebak seorang dai?Dia punya pengalaman banyak, dia sudah pernah menjebak Nabi Adam alaihi salam, bukan cuma dai, nabi dijebak oleh setan.Apalagi kita manusia yang yang punya banyak kekurangan, manusia biasa.Oleh karenanya, selain kita mengenal kebaikan, kita perlu juga mengenal keburukan untuk menghindarinya. Inilah tujuan dari Ibnu al-Jauzi menulis buku ini untuk memperinci tentang jerat-jerat setan.Mukadimah tadi ada empat bab :- Di antaranya tentang al-amru biluzūmis sunnah wal jamā'ah. Sebenarnya, mukadimah ini kalau kita perhatikan, perintah untuk melazimi sunnah, memperingatkan tentang bahaya bidah, memperingatkan dengan jerat-jerat setan, ini sebenarnya jalan keluar,solusi.Seakan-akan Ibnu al-Jauzi mengatakan,"Kalau Anda ingin selamat dari seluruh jerat-jerat setan,sebagai mukadimah, lazimi sunnah, jauhi bidah."Karena kebanyakan jerat-jerat setan masuk dalam pintu bidah, melalui pintu bidah. Kemaksiatan yang dianggap ketaatan, itulah bidah. Setan datangkan kemaksiatan disangka ketaatan. Nanti akan dijelaskan rata-rata adalah dari sisi bidah. Maka untuk selamat, caranya bagaimana? Caranya, lazimi sunnah, jauhi bidah. Itu intinya.Inilah isi dari mukadimah yang dibawakan oleh Ibnu al-Jauzi rahimahullah ta'ala.Oleh karenanya, beliau membawakan hadis tentang larangan mengambil jalan-jalan yang yang salah. Ya, beliau bawakan hadis Ibnu Mas'ud radhiyallahu taala anhu, di mana Ibnu Mas'ud berkata, "Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya. Rasulullah berkata, 'Inilah jalan Allah yang lurus.' Kemudian Rasulullah bikin garis-garis sebelah kanan dan sebelah kiri. Rasulullah berkata, 'Ini jalan-jalan yang miring ini, lurus, yang miring ini, semuanya setiap jalan ada setan yang menyeru kepada jalan tersebut.'" Jalan kebenaran cuma satu di tengah, ya. Maka ikut jalan yang ini jangan ikuti jalan yang kanan dan kiri. Kemudian beliau membawakan, Rasulullah membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah, dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang yang lain." Jangan ikuti jalan-jalan yang yang lain. Kemudian beliau membawakan hadis memperingatkan tentang perpecahan umat, ya. Jadi, kita disuruh oleh Ibnu al-Jauzi rahimahullah ikuti jemaah. Maksudnya jemaah, maksudnya para sahabat, maksudnya akidah mereka yang benar, ya. Jangan nyempal dengan pemikiran sendiri. Karena tidaklah bidah muncul kecuali karena ada ide, dia punya ide tentang akidah, ide tentang ibadah, tidak kembali kepada sumber awal. Ini asal muasal munculnya bidah, ya. Dan setiap jalan-jalan kesesatan ada setan yang menyerunya. Setan mengatakan, "Ini ide bagus, ide bagus," sehingga akhirnya meninggalkan jalan yang lurus. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, dari hadis Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu anhuma, "Sungguhnya akan datang pada umatku yaitu perbuatan kemungkaran sebagaimana yang datang pada Bani Israel, seperti sandal dengan sandal," itu sama, sama persis antara sandal satu dengan sandal yang lainnya. "Bahkan kalau di Bani Israel ada orang yang menzinai ibunya terang-terangan, maka akan ada dari umatku yang melakukannya." Subhanallah.Dulu kita kalau baca hadis ini kita rasanya enggak mungkin. Bagaimana ada seorang mendatangi ibunya terang-terangan, tidak punya malu? Tapi kalau kita lihat zaman sekarang, dengan tersebarnya pornografi, dengan semacam-macam orang diajar dengan kerusakan. Ya, diajar kerusakan, ya. Dan kelainan-kelainan seksual tersebar, ya. Orang-orang banyak yang nonton, ketika nonton akhirnya terpengaruh, akhirnya tadinya fitrahnya lurus jadi jadi menyimpang, jadi rusak gara-gara tontonan. Kemudian ada berita juga anak dengan orang tua. Subhanallah, mengerikan ya kita lihat, mengerikan ada berita seperti itu. Tapi ini Rasulullah mengatakan sallallahu alaihi wasallam saking begitu semangatnya kaum muslimin mengikuti jalan-jalan orang-orang terdahulu, sampai kalau ada orang terdahulu yang mendatangi ibunya, menggauli ibunya terang-terangan, maka akan ada dari umatku yang melakukannya. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berkata, "Dan sesungguhnya Bani Israel telah terpecah belah menjadi 72 aliran," millah 72 golongan. "Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu aliran." Para sahabat bertanya, "Siapa yang selamat tersebut, ya Rasulullah?" Rasulullah berkata, "Yaitu orang yang melazimi apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya." Yaitu melazimi jemaah, melazimi apa yang dipegang oleh para salafunas saleh, yang Nabi dan para sahabat berada di atasnya. Ini cara beragama yang benar, cara beragama yang yang benar. Kita tidak berbicara tentang sarana, kita bicara tentang ritual ibadah, ritual ritual ibadah, keyakinan adalah yang diyakini oleh Nabi dan para sahabatnya. Nabi mengatakan yang selamat, "Yaitu jalan yang aku dan para sahabat menempuhnya."Kemudian beliau bawakan lagi hadis dari Muawiyah bin Abi Sufyan, kalau tadi dari 'Amr bin al-'Ash sekarang dari Muawiyah bin Abi Sufyan, sungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah berdiri menyampaikan khotbah atau nasihat kepada kami, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ketahuilah bahwasanya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab mereka terpecah belah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 di neraka dan satu di surga, dan mereka itulah al-jemaah." Ini yang tadi Ibnu al-Jauzi ketika membawa perintah orang untuk melazimi jemaah agar mendapati posisi yang paling baik di surga, dan jangan punya sikap menyendiri nyeleneh dalam pemikiran, dalam akidah, ya, hendaknya kembali kepada jemaah, yaitu jemaah Nabi dan para sahabatnya, ya. Ikutilah jemaah, dan akan muncul dari umatku suatu kaum yang hawa nafsu mengalir, menggerogoti mereka sebagaimana rabiis menjalar pada orang yang terkena penyakit rabiis, ya. Jadi, Nabi menjelaskan akan ada orang-orang yang sudah mereka dikuasai hawa nafsu. Kita mau debat mau apa, percuma. Kita mengajak ke sunnah, percuma, enggak bisa. Dia sudah punya syubhat yang terstruktur, saya kalau bilang demikian. Syubhat yang terstruktur. Kenapa saya begitu? Karena ketika saya menulis tentang liberal, tentang pluralisme, saya baca buku-buku mereka, risalah-risalah doktoral mereka, ya. Disertasi-disertasi mereka saya baca, dan saya baca tulisan mereka. Saya akhirnya saya simpulkan syubhat mereka terstruktur. Wajar jika mereka kemudian terjebak, ya. Karena mereka punya syubhat yang terstruktur. Kalau orang tidak punya tidak punya landasan agama yang baik akan mudah terjebak, ya. Akan mudah terjebak dengan syubhat mereka, padahal itu adalah kekufuran, yang intinya adalah kekufuran ujungnya, mengerikan.Dan demikian juga ketika kita membahas tentang sufiah, tentang mereka punya syubhat-syubhat yang terstruktur. Kita membahas tentang aliran-aliran, mereka punya syubhat yang terstruktur, ya. Dan sulit ketika kita menasihati, alhamdulillah banyak di antara mereka ada yang dapat hidayah, di antara mereka ada yang sulit, ya. Sulit dikasih tahu. Kenapa? Nabi mengatakan suatu kaum yang digerogoti oleh hawa nafsu mereka, dia punya pemikiran sendiri, mau diapain. Sebagaimana rabiis kalau sudah menggerogoti orang, sulit, sulit ya. Dia sudah dia sudah dia sudah tenteram dengan pemikirannya, mau mau pemikiran wahdatul wujud, mau manunggaling kawula gusti, mau ibadah sambil joget-joget, dia punya syubhat yang terstruktur, mau diapain. Kalau Allah tidak kasih dia, enggak bisa, ya. Makanya supaya tidak terjebak pada itu semua, lazimi jemaah, kata Ibnu al-Jauzi rahimahullah. Jangan keluar-keluar, jangan coba-coba dengan melakukan bidah-bidah, pemikiran-pemikiran, ndak. Apa yang di Rasulullah dan sahabatnya di atasnya, ikuti. Ini solusi yang ditawarkan oleh Ibnu al-Jauzi sejak awal, ditaruh di mukadimah, sebelum dia memaparkan tentang jerat-jerat setan secara detail nanti insyaallah pada waktunya kita sampaikan. Oleh karenanya banyak nasihat-nasihat dari para salaf, dia sebutkan di sini, banyak ya, saya nukil sebagian aja, ya. Seperti perkataan Abdullah bin Mas'ud, "Sederhana dalam sunnah," artinya mencukupkan diri dengan dengan sunnah, "lebih baik daripada sungguh-sungguh semangat tapi bidah."Orang bidah sekarang lebih semangat daripada yang sunnah. Sunnah gitu-gitu aja, mereka pengin variasi, bikin bidah, bikin ibadah gini, pengin pengin kelihatan memukau pemikirannya. Subhanallah, orang kalau dengar orang liberal menyampaikan, banyak orang terpukau, "Wah, masyaallah keren keren." Intinya kekufuran tapi dia sampaikan dengan cara yang terstruktur, kemudian dengan rapi, dengan indah, nukil perkataan ulama barat kah, apa pemikir-pemikir barat, kemudian macam-macam dirangkai dengan hadis-hadis, dengan ayat-ayat yang tafsirannya ngawur, orang terpukau. Ada hal satu yang baru dan sifat manusia ingin tahu satu yang baru. Padahal dalam agama jangan yang baru ditinggalkan, yang ragu-ragu tinggalkan. Kita disuruh kembali kepada pemahaman salaf. Tapi sifat manusia ingin sesuatu yang baru, kalau sudah tahu sesuatu yang baru dia sungguh-sungguh. Makanya Ibnu Mas'ud mengatakan, "Sederhana," artinya, "biasa dalam sunnah lebih baik daripada sungguh-sungguh dalam dalam bidah," ya. Kemudian juga di antaranya misalnya perkataan Abu Al-Aliyah, seorang tabi'in. "Alaykum bil amril awwal," kata tabi'in Abu Al-Aliyah. Abu Al-Aliyah ini yang yang menafsirkan Ar-Rahmanu 'alal 'Arsyistawa, kata dia, disampaikan oleh Al-Bukhari dalam sahih-nya, Ar-Rahmanu 'alal 'Arsyistawa dia mengatakan, 'ala wartafa'a, di atas maknanya. Di atas, bukan menguasai, tapi di atas, Allah di atas Arsy. "Hendaknya kalian berpegang teguh dengan perkara yang pertama," yaitu zaman para sahabat. Perkara pertama yang para sahabat di atasnya, sebelum memunculkan perpecahan-perpecahan.Lah sekarang kita ini berbagai macam perpecahan, kita kita belajar agama ya, kalau perkara dunia silakanlah enggak ada masalah. Perkara dunia silakan kita bervariasi, silakan berinovasi. Justru inovatif di di sangat dianjurkan dalam apa? Dalam perkara dunia. Tapi perkara agama, ini banyak nih pemikiran ini, kita telusuri, telusuri kembali kepada dulu seperti apa sih? Sebenarnya sebenarnya mudah, ya. Pemahaman salaf tuh mudah, dulu seperti apa? Zaman Nabi, para sahabat seperti apa? Itu yang kita Kalau kita mau keluar daripada koridor pemahaman salaf, wah macam-macam pemikiran dan akan-akan berkembang terus. Hari ini ada bidah ini, besok ada bidah ini, lusa ada bidah ini. Dan pemikiran ini, pemikiran ini, pemikiran ini. Yang yang saya sedih ya ikhwan, ya, kita lihat terkadang sebagian orang-orang ini, mereka punya pemikiran macam-macam, tapi mereka saling membiarkan di antara mereka. Ya. Yang gatal ya, yang gatal ya, yang gatal memperingatkan tentang itu adalah biasanya dai-dai sunnah, atau ada di antara mereka itu tidak banyak. Di antara selain dai-dai sunnah ada juga yang peringatkan tentang bahaya, tapi tidak banyak. Kebanyakan mereka membiarkan, demi persatuan sudah, mau bicara apa, mau keyakinan ini, mau wahdatul wujud, mau joget-jogetMakanya di antara metode iblis adalah mendatangkan bidah. Karena bidah itu kata Sufyan ats-Sauri, 'Al-bid'atu ahabbu ila ibliisa minal ma'siyah.' Bidah itu lebih disukai oleh iblis daripada maksiat. Kenapa? 'Al-ma'siyatu yutaabu minha, wal bid'atu laa yutaabu minha.' Maksiat itu orang tahu itu salah, sehingga dia mudah bertobat. Tapi kalau bidah, orang menganggap itu sebuah kedekatan diri kepada Allah (ibadah), sehingga dia tidak merasa bersalah dan sulit untuk bertobat.Oleh karenanya, iblis sangat senang menjerumuskan manusia ke dalam bidah.Di sini, Ibnul Jauzi membawakan sebuah riwayat dari Al-Hasan (Al-Bashri) – dan ini adalah metode iblis yang sangat berbahaya. Iblis berkata:(Iblis telah berputus asa untuk bisa disembah oleh umat Muhammad secara terang-terangan dalam kesyirikan besar, namun ia beralih ke cara lain).Kata iblis dalam riwayat tersebut:'Aku telah menghiasi bagi mereka (manusia) berbagai macam dosa (kemaksiatan), lalu mereka menghancurkan dosanya tersebut (menghilangkan dampaknya) dengan istighfar (memohon ampunan kepada Allah).' Jadi, iblis sudah capek-capek menjerumuskan manusia ke dalam zina, judi, minuman keras, atau mencuri. Begitu manusia itu sadar, lalu mereka menangis, sujud, dan beristighfar kepada Allah, maka dosa-dosa yang telah dikumpulkan bertahun-tahun tersebut langsung gugur dan hancur seketika oleh Allah karena istighfar mereka. Iblis merasa usahanya sia-sia.Maka apa strategi iblis selanjutnya? Iblis berkata:'Ketika aku melihat hal itu (dosanya hancur karena istighfar), maka aku pun menghiasi bagi mereka kesesatan-kesesatan berupa bidah (hawa nafsu yang dianggap sebagai agama), sehingga mereka mengerjakannya dan mengiranya sebagai petunjuk (ibadah). Akibatnya, mereka tidak pernah beristighfar dari perbuatan tersebut.'Inilah bahayanya bidah. Pelakunya merasa sedang melakukan kebaikan dan ketaatan, sehingga lisannya tidak pernah tergerak untuk beristighfar atau bertobat dari ritual atau amalan baru tersebut. Di sinilah iblis merasa menang karena dosanya terus mengalir tanpa ada penghapus berupa tobat."