🥞Sibuk dengan Amalan yang Kurang Utama (Al-Ma'dhul) Sehingga Meninggalkan yang Utama (Al-Afdhal)Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyampaikan bahwa setan telah menggoda banyak ahli ibadah sehingga mereka terlihat sangat rajin menegakkan salat malam maupun salat-salat sunah di siang hari, namun mereka melalaikan dua perkara yang jauh lebih utama:Perbaikan Batin: Mereka tidak menaruh perhatian untuk mengobati penyakit-penyakit yang ada di dalam hati mereka (seperti hasad, riya, sombong, ujub), padahal batin manusia dipenuhi oleh banyak aib.Kehalalan Makanan: Mereka tidak peduli dan tidak memeriksa dari mana sumber makanan yang mereka konsumsi sehari-hari.Prinsip Utama: Memperbaiki penyakit batin dan memperhatikan kehalalan makanan kedudukannya jauh lebih utama di sisi Allah daripada sekadar memperbanyak kuantitas salat sunah zahir namun mengabaikan kondisi batin dan kehalalan makanan.🥞Godaan Setan Terhadap Ahli Ibadah dalam Membaca Al-Qur'an (Zikru Talbis Alaihim fi Qira'atil Qur'an)Setan membisikkan tipu daya kepada suatu kaum pembaca Al-Qur'an melalui beberapa cara halus:1️⃣Membaca Terburu-buru Tanpa Tartil dan TadaburBanyak orang digoda untuk memperbanyak kuantitas tilawah, namun mereka membacanya dengan sangat cepat dan terburu-buru (hazan) tanpa mentartilnya (min ghairi tartil). Target mereka hanyalah menyelesaikan juz demi juz dengan cepat. Metode membaca seperti ini bukanlah kondisi yang terpuji.Sikap Terhadap Riwayat Para Salaf: Memang benar terdapat riwayat bahwa sebagian ulama Salaf dahulu ada yang mengkhatamkan Al-Qur'an dalam sehari, atau bahkan mengkhatamkannya dalam satu rakaat salat (seperti yang diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu dan Imam Abu Hanifah rahimahullah). Namun, Ibnu Jauzi menegaskan bahwa hal tersebut adalah perkara yang jarang dilakukan (amrun nadir) dan bukan menjadi rutinitas harian mereka sepanjang tahun.Hukum dan Ketentuan Waktu: Meskipun mengkhatamkan Al-Qur'an setiap hari itu diperbolehkan, para ulama lebih menyukai pembacaan yang dilakukan secara perlahan (tartil).Dalil Hadis Nabi ﷺ:"Tidak akan paham (Al-Qur'an) orang yang membacanya (khatam) kurang dari tiga hari." (HR. Abu Dawud No. 1390, Tirmidzi No. 2949, sahih).Penjelasan Ibnu Rajab Al-Hambali: Beliau menyebutkan dalam kitabnya bahwa larangan Nabi ﷺ untuk mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari 3 hari itu berlaku di luar bulan Ramadan. Adapun di dalam bulan Ramadan, sebagian Salaf mengkhatamkan Al-Qur'an sehari sekali, bahkan Imam Asy-Syafi'i diriwayatkan mengkhatamkannya dua kali sehari.Catatan Penting: Kita tidak bisa menyamakan diri kita dengan Imam Asy-Syafi'i. Beliau adalah seorang Mufti di Makkah sejak usia 15 tahun; ketika beliau membaca cepat, seluruh perangkat ilmu dan tafsirnya sudah langsung terbawa dalam pemahamannya. Sementara kita membaca tanpa mengerti maknanya.Tujuan Utama Membaca Al-Qur'an: Tujuan diturunkannya Al-Qur'an adalah untuk ditadaburi ayat-ayatnya agar iman bertambah dan mudah diamalkan. Mengejar target khatam (misalnya melalui grup-grup tilawah) tanpa ada tadabur sama sekali adalah bentuk talbis iblis.Niat-Niat Saat Membaca Al-Qur'an: Seseorang disarankan menggabungkan beberapa niat sekaligus agar bacaannya berkualitas:Niat ibadah tilawah (mendapat 10 pahala per huruf, di mana Alif, Lam, dan Mim dihitung sebagai huruf yang terpisah-pisah).Niat untuk mentadabbburi maknanya.Niat agar Allah menurunkan rahmat-Nya.Niat untuk mendapatkan petunjuk (hidayah).Niat untuk mengobati diri sendiri (ruqyah).Celaan Terhadap Kaum Khawarij: Nabi ﷺ mencela orang-orang Khawarij karena mereka rajin membaca Al-Qur'an tetapi tidak memahaminya.Dalil Hadis Nabi ﷺ:"Mereka membaca Al-Qur'an, namun tidak melewati tulang selangka mereka (tidak masuk ke dalam hati, hanya sekadar di lisan)." (HR. Bukhari No. 3611 & Muslim No. 1064).Perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah: Beliau berkata, "Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan untuk diamalkan, maka manusia menganggap membaca Al-Qur'an itu sendiri sebagai bentuk amalan (saja)." Membaca hanyalah tahapan paling awal, tahapan kedua adalah tadabur, dan tahapan ketiga adalah mengamalkannya dalam tindakan nyata.Nasihat Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu: Beliau melarang membaca Al-Qur'an dengan terburu-buru seperti melempar kurma busuk. Beliau menasihati: "Janganlah akhir surah menjadi fokus tujuan utamamu, tetapi berhentilah pada keajaiban-keajaiban Al-Qur'an, goyangkan hatimu, pikirkan, dan renungkanlah.".2️⃣ Membaca Al-Qur'an dengan Suara Keras di Menara Masjid (Mengganggu Orang Lain)Ibnu Jauzi menceritakan adanya sekelompok ahli baca Al-Qur'an (qari) di masa lampau yang sengaja naik ke menara masjid pada malam hari. Mereka membaca Al-Qur'an satu atau dua juz dengan mengumpulkan jemaah dan mengeraskan suara mereka secara berlebihan.Tindakan ini mengandung dua kesalahan fatal:Mengganggu hak orang lain: Suara keras tersebut membangunkan dan mengganggu orang yang sedang tidur, orang yang sedang sakit, atau mengganggu kekhusyukan orang lain yang sedang mendirikan salat malam dan berdoa di rumah-rumah mereka. (Ustaz mencontohkan fenomena masjid zaman sekarang yang memutar kaset murattal 1-2 jam sebelum azan Subuh sehingga mengganggu ketenangan masyarakat sekitar).Memaparkan diri pada bahaya riya: Sangat sulit bagi seseorang untuk menjaga keikhlasan hatinya ketika sengaja memperdengarkan suara merdunya di tengah keheningan malam jam 3 subuh agar didengar oleh masyarakat luas. Hal serupa juga terjadi pada orang yang sengaja membaca Al-Qur'an dengan suara keras di dalam masjid tepat setelah azan dikumandangkan, di mana jemaah sedang berkumpul. Tindakan ini mengganggu orang lain yang ingin melaksanakan salat sunah rawatib atau ingin berdoa dengan khusyuk di antara azan dan iqamah.Prinsip Sunnah: Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi ﷺ dan para sahabatnya (Khairul huda huda Muhammadin ﷺ). Jika mereka tidak melakukan amalan bersuara keras seperti itu, maka mendiamkannya adalah Islam yang terbaik. Ibnu Mas'ud berkata: "Ikutilah petunjuk (Nabi dan sahabat) dan janganlah kalian membuat bid'ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan." Setiap kali sebuah ibadah model baru dimunculkan, maka pasti ada amalan sunnah asli yang ditumbalkan (dikorbankan).3️⃣Menunjukkan Tanda Khatam di Hadapan PublikIbnu Jauzi menceritakan perkara menakjubkan yang beliau saksikan sendiri: Ada seorang imam yang memimpin salat Subuh di hari Jumat. Begitu selesai salat dan mengucapkan salam, ia segera berbalik menghadap jemaah lalu membaca dua surah terakhir (Al-Mu'awwidzatain) dan langsung menyambungnya dengan doa khatam Al-Qur'an.Tindakan ini sengaja dilakukan di depan jemaah agar publik mengetahui bahwa dirinya baru saja menyelesaikan khataman Al-Qur'an. Ini bukan metode para ulama Salaf. Para Salaf justru bersusah payah menyembunyikan ibadah mereka:Ada ulama Salaf yang ketika sedang membaca Al-Qur'an di rumahnya lalu tiba-tiba ada orang lain masuk, ia akan langsung menutup mushafnya dengan bajunya agar orang tersebut tidak tahu bahwa ia sedang beribadah.Imam Ahmad bin Hambal adalah orang yang sangat sering membaca Al-Qur'an, namun tidak ada satu pun orang yang mengetahui kapan hari dan waktu beliau mengkhatamkannya.Bahaya Riya: Riya adalah senjata iblis yang paling ampuh untuk menggugurkan amal saleh seseorang. Seseorang bisa saja berjuang membaca Al-Qur'an berhari-hari, namun pahalanya langsung sirna dalam sekejap ketika ia sengaja memamerkannya demi mendapatkan pujian makhluk.🥞Godaan Setan Terhadap Ahli Ibadah dalam Ibadah PuasaSetan juga masuk mendistorsi niat dan cara berpuasa para ahli ibadah:1️⃣Melakukan Puasa Dahar (Puasa Setiap Hari Sepanjang Tahun)Sebagian orang digoda untuk melaksanakan puasa secara terus-menerus setiap hari sepanjang tahun, dengan hanya berbuka pada hari-hari yang memang diharamkan secara syariat (dua hari raya Id dan hari-hari tasyrik).Mengenai hukum puasa setiap hari ini (di luar hari yang dilarang), terdapat perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan para ulama yang terbagi menjadi dua kelompok besar:Pendapat Pertama (Tidak Dianjurkan): Sebagian mengharamkannya, seperti pendapat Ibnu Hazm rahimahullah.Sebagian memakruhkannya, seperti mazhab Hanafiyah dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.Pendapat Kedua (Diperbolehkan):Sebagian menilainya sebagai amalan yang dianjurkan (mustahab), seperti mazhab Syafi'iyah.Sebagian menilainya sekadar boleh (ja'iz), seperti mazhab Hambali dan diikuti oleh Ibnu Jauzi sendiri.Dalil Pendapat yang Memakruhkan/Mengharamkan:Kisah Tiga Orang yang Datang ke Rumah Istri Nabi ﷺ: Mereka bertanya tentang ibadah Nabi ﷺ di rumah, lalu merasa ibadah mereka masih sedikit. Salah satu dari mereka berkata, "Saya akan salat malam suntuk dan tidak tidur," yang kedua berkata, "Saya akan berpuasa setiap hari dan tidak akan berbuka," dan yang ketiga berkata, "Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.". Mendengar hal itu, Nabi ﷺ marah dan bersabda kepada mereka:"Kaliankah yang berkata begini dan begitu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah di antara kalian. Namun aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku salat dan aku juga tidur, dan aku pun menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunahku, maka ia bukan dari golonganku." (HR. Bukhari No. 5063 & Muslim No. 1401).Hadis Hak Istri: Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Al-Aas yang ingin memaksakan diri berpuasa setiap hari:"...Sesungguhnya istrimu memiliki hak atas dirimu (yang harus engkau tunaikan)..." (HR. Bukhari No. 1975 & Muslim No. 1159). Banyak kewajiban mutlak yang akhirnya terlalaikan gara-gara seseorang sibuk mengejar amalan sunnah yang salah caranya.Dua Kekurangan Puasa Setiap Hari Menurut Ibnu Jauzi: Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa sekalipun kita mengambil pendapat yang membolehkan puasa setiap hari, amalan tersebut tetap memiliki dua kekurangan besar:Melemahkan Fisik: Puasa yang tanpa putus dapat membuat tubuh seseorang menjadi lemah sehingga ia tidak prima dalam mencari nafkah (rezeki) untuk keluarganya (padahal menafkahi keluarga adalah jihad fi sabilillah). Kelemahan fisik ini juga bisa menghalanginya untuk memenuhi kebutuhan biologis istrinya.Terluput dari Keutamaan Puasa Terbaik: Orang yang puasa setiap hari justru kehilangan kesempatan meraih pahala dari model puasa yang paling dicintai Allah, yaitu Puasa Daud.Dalil Hadis Puasa Daud:"Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Daud, dan salat yang paling dicintai oleh Allah adalah salat Daud. Beliau tidur sepertiga malam, salat seperenamnya, dan tidur lagi seperenamnya. Dan beliau berpuasa sehari serta berbuka sehari." (HR. Bukhari No. 1131 & Muslim No. 1159).Jawaban Mengenai Adanya Riwayat Salaf yang Puasa Setiap Hari: Jika ada yang bertanya mengapa ada sebagian ulama Salaf yang diriwayatkan berpuasa setiap hari, Ibnu Jauzi menjawab dengan beberapa sudut pandang:Kondisi fisik para Salaf tersebut sangat kuat sehingga mereka mampu menggabungkan antara puasa harian dengan pemenuhan hak-hak keluarga mereka.Banyak di antara Salaf yang melakukan hal itu adalah mereka yang memang tidak memiliki keluarga (tidak menikah) sehingga tidak memiliki beban nafkah.Sebagian Salaf baru melakukannya di penghujung hayat mereka (ketika usia sudah tua dan istri sudah wafat) sebagai bentuk pengisian waktu luang.Namun bagaimanapun juga, sabda Nabi ﷺ tetap menjadi pemutus perkara (faisal): "Tidak ada puasa yang lebih utama dari puasa Daud.". Riwayat satu orang Salaf tidak bisa dijadikan dalil mutlak jika menyelisihi hadis nabi, karena yang menjadi dalil hujah adalah kesepakatan (ijma') para Salaf, bukan ijtihad individu mereka.Bahaya Memaksakan Diri Melampaui Batas: Ibnu Jauzi menceritakan bahwa di masa lalu ada orang-orang yang memaksakan diri melakukan puasa Daud secara berlebihan padahal persediaan makanan mereka sangat sedikit dan kurang bergizi. Akibatnya, ada di antara mereka yang matanya menjadi buta dan ada yang otaknya menjadi kering. Tindakan memaksakan diri hingga merusak tubuh ini hukumnya tidak boleh (haram). Jangankan puasa sunnah, puasa Ramadan sekalipun jika seseorang sakit dan tidak mampu melaksanakannya, syariat melarangnya memaksakan diri dan memberikan keringanan untuk menggantinya di hari lain atau membayar fidyah.🥞 Samarnya Riya (Khofiyyur Riya)Bagian ini menjelaskan betapa halusnya pintu riya, masuk ke dalam hati ahli ibadah tanpa mereka sadari:Menyembunyikan Fakta Berbuka Demi Popularitas: Seseorang yang sudah terlanjur populer di mata masyarakat sebagai orang yang rajin berpuasa setiap hari, suatu saat ia terpaksa tidak berpuasa (mungkin karena sakit atau safar). Ia pun berusaha menyembunyikan fakta berbukanya tersebut secara sembunyi-sembunyi di dalam kamarnya agar status popularitas kesalehannya tidak jatuh di mata orang-orang. Ini adalah bentuk riya, yang sangat samar (khofiyyur riya).Sikap yang Benar: Jika seseorang benar-benar ingin ikhlas dan menghancurkan riya di hatinya, ia justru seharusnya sengaja menampakkan dirinya sedang makan/berbuka di hadapan orang-orang yang mengiranya selalu berpuasa, agar masyarakat tidak mengagungkannya secara berlebihan. Setelah itu, barulah ia melanjutkan puasanya kembali secara diam-diam tanpa menceritakannya kepada siapa pun.Sindiran Terhadap Alasan-Alasan Pamer Zaman Sekarang: Fenomena ini sama seperti orang yang sudah dikenal rajin salat malam, lalu pada suatu malam ia kesiangan dan tidak salat. Ketika bertemu orang, ia mulai mencari-cari alasan seperti, "Aduh, tadi malam badan saya capek sekali..."Ucapan ini sebenarnya terlontar karena ia merasa malu status "ahli salat malamnya" runtuh. Ia ingin orang tetap tahu bahwa biasanya ia selalu salat malam. Begitu pula dengan orang yang hobi pamer rutin pergi umrah setiap bulan Desember.Riya Berkedok Menjadi Teladan (Iqtida'): Ada orang yang secara terang-terangan berkata di depan publik, "Hari ini, tepat 20 tahun saya tidak pernah absen berpuasa." Setan membisikkan syubhat ke dalam hatinya: "Ceritakan saja amalanmu itu kepada manusia agar engkau bisa menjadi teladan kesalehan bagi mereka.". Ibnu Jauzi mengatakan: "Allah lebih tahu apa isi makasid (niat) yang sesungguhnya di dalam hati seseorang.". (Ustaz juga mengkritik fenomena zaman sekarang di mana ada tokoh agama yang membiarkan murid-muridnya mendokumentasikan, memotret, atau mensyuting aktivitas ibadah pribadinya—seperti salat dhuha atau sedekah subuh—lalu mengunggahnya ke media sosial dengan dalih motivasi, padahal hal itu sangat rawan merusak keikhlasan hati).Berpindahnya Catatan Pahala: Sekalipun kita mengasumsikan seseorang benar-benar ikhlas (tidak ada riya sama sekali) saat menceritakan amalan rahasianya kepada orang lain, tindakan mempublikasikan amalan tersebut tetap mendatangkan kerugian besar. Pahala amalan tersebut akan dipindahkan oleh Allah dari buku catatan amalan rahasia (diwanus sirr) ke dalam buku catatan amalan terang-terangan (diwanul alaniyah). Derajat dan kuantitas pahala dari amalan yang disembunyikan jauh lebih besar daripada amalan yang diperlihatkan kepada makhluk.Pamer Halus Saat Menolak Makanan: Ibnu Jauzi menyebutkan contoh riya terselubung lainnya. Ketika seseorang yang sedang berpuasa Senin-Kamis diajak makan bersama oleh temannya di hari Kamis, ia tidak langsung menjawab "Maaf saya sedang puasa," melainkan memutar kalimatnya dengan berkata, "Lho, sekarang ini hari apa ya? Bukankah sekarang hari Kamis?". Kalimat pamer yang halus ini sengaja diucapkan agar orang lain menyimpulkan sendiri bahwa ia adalah orang yang taat dan memiliki rutinitas puasa Senin-Kamis. Kalimat seperti ini jauh lebih buruk. Lebih baik ia berkata jujur secara langsung: "Mohon maaf, saya sedang berpuasa," tanpa perlu menggurui atau memancing orang menduga-duga rutinitasnya.🥞Dampak Buruk Lain Akibat Talbis Iblis pada Ahli PuasaSetan yang telah berhasil meniupkan rasa bangga (ujub) ke dalam hati orang yang berpuasa akan menyeretnya ke dalam beberapa dosa sekunder lainnya:Memandang Rendah Orang Lain: Ia mulai melihat orang-orang di sekitarnya yang tidak berpuasa sunah dengan pandangan menghina dan merendahkan (misal: memprotes orang lain yang hafal Al-Qur'an tetapi tidak ikut puasa sunah). Padahal, bisa jadi orang yang tidak puasa itu memiliki amalan andalan lain yang lebih hebat, seperti sangat berbakti kepada orang tuanya atau memiliki sifat yang sangat dermawan.Mengabaikan Kehalalan Makanan Berbuka: Mereka sangat rajin menahan lapar di siang hari, namun saat waktu berbuka tiba, mereka sama sekali tidak peduli apakah makanan yang mereka makan bersumber dari harta yang haram atau syubhat.Tetap Menjalankan Maksiat: Mereka berpuasa, namun di saat yang sama lidah mereka tidak berhenti melakukan gibah (membicarakan aib orang), mata mereka tetap menonton tayangan yang memperlihatkan aurat terbuka, dan lisan mereka terus berbicara tanpa faedah.Setan memberikan delusi (talbis) kepada mereka bahwa seluruh rentetan dosa maksiat tersebut pasti akan langsung dihapus dan dimaafkan secara otomatis berkat pahala puasa yang mereka lakukan, padahal maksiat-maksiat tersebut justru berpotensi besar menghancurkan dan menghapuskan seluruh pahala puasa mereka.🥞kesimpulanSetiap mukmin harus ekstra waspada terhadap jalannya riya yang sangat halus. Pada akhirnya, setiap manusia akan meninggal dunia dan menghadap Allah subhanahu wa ta'ala seorang diri tanpa membawa pujian manusia.Oleh karena itu, fokus utamanya adalah bagaimana agar amalan kita diterima di sisi Allah, bukan bagaimana agar amalan kita dipuji oleh makhluk.