Talbis iblis adalah metode iblis dalam menyesatkan manusia dengan kemaksiatan yang dibungkus ketaatan sehingga banyak yang terpedaya seolah olah keburukan adalah kebaikan.Penulis Kitab ini adalah imam Ibnul Jauzi Rahimahullahu, beliau hidup di abad ke 6 hijriah, dikenal sebagai orang yang ahli memberikan nasihat, buku ini ditulis dalam 13 bab , 4bab pertama adalah muqaddimah dan sisa bab lainnya berupa contoh contoh talbis iblis.Bab pertama : Melazimi sunnahBab kedua : Celaan terhadap bidah dan pelaku bidahBab ketiga : Peringatan fitnah iblis dan tipuannya Bab keempat : tipuan iblis dalam ghululBab kelima : adalah contoh contoh talbis iblis dalam menipu manusia yg berkaitan dengan aqidah dan agamabab keenam : talbis iblis kepada ulama dalam hal ilmuBab ketujuh : Tentang bagaimana syaitan menipu para penguasa Bab kedelapan : Tentang talbis iblis kepada ahli ibadah dalam hal ibadah sehingga mereka terjebak Bab kesembilan : tipuan Syaitan kepada orang yang ZuhudBab kesepuluh : Tentang bagaimana syaitan menipu orang sufiyah sehingga terjebak kepada bidah yg seakan ketaatanBab kesebelas : Tipudaya iblis terhdap orang yang istiqamah dengan perkara yang disangka karomah padahal bukanBab kedua belas : Tipuan Syaitan kepada orang awamBab ketiga belas : Tipuan Syaitan dengan angan angan sehingga manusia melupakan kematianMuqaddimah Beliau penulis memulai dengan memuji Allah , bersyahadatain,dan bershalawat kepada nabi, beliau berkata amma ba'dhu.. beliau menyebutkan sesungguhnya nikmat yang paling besar bagi manusia adalah akal, karena dengan akal manusia bisa mengenal Allah taala, dengan akal pula seseorang bisa membernarkan para rasul ,hanya saja akal secara independen tidak bisa mengantarkan manusia kepada tujuan, Karena akal terbatas , Maka Allah mengutus para rasul untuk membimbing akal tersebut bersama kitab-kitab suci, Oleh karenanya syariat itu seperti matahari adapun akal seperti mata , Artinya mata bisa melihat jika ada cahaya karena untuk melihat butuh cahaya yang cukup.Allah memberikan anugerah yang lain selain akal, Yaitu di utusnya Nabi Adam 'alaihissalam, kemudian beranak pinak dan mengajarkan wahyu yang diberikan oleh Allah kepada anak keturunannya sampai akhirnya pada suatu masa Qabil membunuh Habil pada saat syahwat sudah menguasai, kemudian terjadilah kerancuan-kerancuan sehingga muncul berbagai macam perselisihan sehingga dugaan iblis bahwasanya dia bisa menyesatkan manusia telah terjadi , Iblis melakukan tipuan dengan mencampurkan penjelasan syariat dengan syubhat, obat yang dibawa para Nabi dicampur racun sehingga orang-orang terpedaya, Cara mereka sangat banyak sehingga menjadikan umat berkelompok , terpecah belah dan hawa nafsu masuk dalam segala hal.Buku ini menjelaskan bagaimana tipu daya iblis agar kitabsemua bisa terhindar dari jerat" tersebut.Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847)Para ulama, seperti Syaikh Sulaiman At-Tamimi, juga menekankan bahwa "siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja, tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan". Orang yang selamat adalah yang mengenal keburukan maupun kebaikan secara terperinci kemudian dia mengenal dosa dosa besar sehingga dia beramal diatas ilmu.Para ulama menyebutkan dalam hal ini adalah para sahabat karena mereka pernah hidup di zaman jahiliyah yang pada masa itu keburukan terkumpul, kemudian mereka mendapatkan cahaya hidayah dengena diutusnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sehingga mereka mengenal keburukan dan kebaikan secara terperinci.Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,"Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang ayat-ayat Kami (agar orang-orang beriman mengambil pelajaran darinya) dan agar mereka bisa (orang-orang musyrik) mengatakan, 'Engkau telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab),' dan agar Kami menerangkannya kepada orang-orang yang mengetahui."(Surat Al-An'am ayat 105)Ayat ini menjelaskan agar kita tidak hanya mengenal kebaikan saja akan tetapi keburukan pun harus di kenal secara terperinci.Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menginginkan keluasan surga (bagian tengah atau terbaik dari surga), maka hendaklah ia menetapi jamaah (bersama kaum muslimin), karena setan bersama satu orang, dan ia lebih jauh dari dua orang." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya).Maka berjamaah lah dan jangan memiliki pemikiran sendiri,karena mudah bagi syaitan menggoda orang yang sendirian, ikutilah akidah yang benar yaitu aqidahnya kaum muslimin dan janganlah menyimpang dari apa yang diyakini oleh mereka.Dari Hamad, dari 'Asim, dari Abu wa'il ia berkata, Abdullah Bin Mas'ud berkata: Suatu hari Rasulullah membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’. Dan 'Ashim meniru beliau dengan membuat garis lurus seraya berkata, ‘Ini adalah jalan Allah’.Kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak), pada setiap jalan terdapat setan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca ayat وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ) yakni: garis yang pertama; (وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ), yakni garis-garis yang lain; (فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون)(diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam tafsirnya 1/ 385 no.194; Imam Ahmad dalam musnadnya 1/435,465; Imam Ad-Darimi dalam sunannya 1/67-68, bab dibencinya mendahulukan pendapat akal; Imam Ibnu Hibban dalam shahihnya (Al-Ihsan 1/181 no.7); Imam Al-Hakim dalam mustadrak 2/318 dari banyak jalur dari hammad bin Zaid. Imam Hakim berkata tentang hadis ini: Sanadnya shahih namun Imam Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Dan Syekh al-Albani menghasankan sanadnya dalam kitab dzilal al-Jannah 1/13).Dari Abu 'Amir al-Hauzaniy 'Abdillah bin Luhai, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu'awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian ia bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya umat ini akan terpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama'ah.”Keterangan:Hadits ini diriwayatkan oleh:Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597, dan lafazh hadits di atas adalah dari lafazh-nya.Ad-Darimi, dalam kitab Sunan-nya (II/241) Bab fii Iftiraqi Hadzihil Ummah.Imam Ahmad, dalam Musnad-nya (IV/102).Al-Hakim, dalam kitab al-Mustadrak (I/128).Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari'ah (I/314-315 no. 29).Ibnu Abi 'Ashim, dalam Kitabus Sunnah, (I/7) no. 1-2.Ibnu Baththah, dalam kitab al-Ibaanah 'an Syari'atil Firqah an-Najiyah (I/371) no. 268, tahqiq Ridha Na'san Mu'thi, cet.II Darur Rayah 1415 H.Al-Lalikaa-iy, dalam kitab Syarah Ushul I'tiqad Ahlus Sunah wal Jama'ah (I/113-114) no. 150, tahqiq Dr. Ahmad bin Sa'id bin Hamdan al-Ghaamidi, cet. Daar Thay-yibah th. 1418 H.Al-Ashbahani, dalam kitab al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah pasal Fii Dzikril Ahwa' al-Madzmumah al-Qismul Awwal I/107 no. 16.Rasulullah mengabarkan bahwa akan datang suatu masa dari umatku dimana pada saat itu hawa nafsu menggerogoti mereka, maka jika kita tidak memiliki ilmu agama yang baik tentu akan mudah terjebak kepada kekufuran.Maka solusi agar kita tidak terjerumus kepada kepada tipu daya syaitan adalah dengan Melazimi jama'ah, mengikuti apa yang ada pada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan para sahabatnya.Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu berkata, "Sederhana dalam As-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid'ah."Imam Abul ‘Aliyah berkata, “Hendaklah kalian berpegang dengan urusan yang pertama, yang mereka (para sahabat) jalani sebelum mereka berselisih”. (Riwayat Ibnul Jauzi, Talbis Iblis, hlm. 8)-Imam Al-Auza’i Rahimahullahu Ta’ala memberikan nasihat yang sangat berharga:“Bersabarlah di atas sunnah, berhentilah di mana kaum (salaf) berhenti, katakanlah apa yang mereka katakan, dan tinggalkan apa yang mereka tinggalkan. Tempuhlah jalan salafus shalih, karena apa yang mencukupi mereka akan mencukupimu.”Celaan kepada bid'ah ahlul bid'ahDari Ummul Mu'minin Ummu Abdillah Aisyah Radiyallahu 'anha, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak'.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.Diantara buruknya bid'ah adalah ketika seseorang mulai senang dengan bid'ah maka yang sudah menjadi kecil bahkan ditinggalkan, sepeti Sunnah Sunnah shalat dll.Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah dan lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa akan ada sekelompok umatnya yang dihalau dari telaga sebagaimana unta yang tersesat. Saat beliau memanggil mereka, malaikat berkata: "Sesungguhnya mereka telah mengubah-ubah (ajaranmu) sepeninggalmu," lalu Nabi bersabda: "Menjauhlah (celakalah) mereka!"Tidaklah seorang pelaku bidah lebih semangat melakukan kebidanan kecuali semakin jauhnya mereka dengan Allah. Sebagian orang sibuk dengan bid'ah sehingga seolah olah lama lama agama terlihat sama , pada awalnya sederhana namun lama lama mulai mengejek orang yang mengamalkan Sunnah, merasa paling pintar dan yang lainnya tertinggal.Bahkan perbuatan bid'ah lebih iblis cintai daripada maksiat, karena bertaubat dari dosa maksiat lebih mudah daripada bertaubat dari bid'ah. Jika bid'ah tersebar maka Sunnah perlahan mulai pudar dan hilang.Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata, "Barangsiapa membantu ahlul bid'ah, maka sungguh ia telah membantu untuk merobohkan Islam."(Diriwayatkan dalam Hilyah Al-Auliya' 8/103)Pengertian Sunnah & Bid'ahIbnul Jauzi menjelaskan Sunnah secara bahasa adalah jalan. Tidak diragukan bahwa ahlul atsar mereka adalah orang yang mengikuti Nabi shalallahu alaihi wa salam, karena mereka berada di atas jalan yang belum ada bid'ah pada masanya, karena bidah muncul setelah lara sahabat wafat, ahlussunah adalah orang yang memegang Sunnah Nabi.Bid'ah adalah perbuatan yang dulunya tidak ada kemudian di ad adakan , namun secara dominan. Bisanya perkara bidah itu menyelisihi syari'at, adapun perkara yang di ada ada namun tidak menambah maupun mengurangi syariat maka jumhur ulama dahulu membencinya mereka menjauh dari perkara yang baru walaupun itu boleh untuk menjaga perkara ittiba'. Mereka menjauhi perkara bidah yang berkaitan dengan ritual.Penulis (Ibnul Jauzi) menyebutkan Firqah terbagi 6, dan dari 6 tersebut terbagi lagi kedalam 12 bagian ,sehingga total seluruhnya adalah 72, ke enam Firqah tersebut adalah 1)Al haruriyah (khawarij)2) Al Qadariyah3) Al Jabariyah4) Murji'ah5)Rafidhah6) JahmiyahDan golongan yang selamat adalah yang berpegang teguh dengan Sunnah dan menjauhi bid'ahReferensi hadits Rumaysho.comMuslim.or.idRumaysho.comAlmanhaj.or.id tafsirweb.com