Syubhat iblis dalam akidah dan agama-agama. Al-Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah membuka dan memulai dengan syubhat (keracunan pemikiran) yang dilancarkan iblis kepada penganut pemikiran berasal dari Sufastai'yyah. Sufasta'iyyah ini dari filsafat Yunani, shofisme yang meragukan segala sesuatu. Dan mereka ada beberapa mahzab. Ibnul Jauzi menyebut Yahudi, Nasrani, Majusi. Tapi Ibnul Jauzi rahimahullahu memulai membahas dari Ahlul filsafat, ditinjau dari jayanya orang Yunani. Dimana mereka lebih dulu muncul secara zaman dari pada Yahudi dan Nasrani. Dan pengaruh Yunani melebar sampai masuk dalam agama samawi (agama Yahudi, agama Nasrani, dan firqoh-firqoh dalam agama Islam). Diantara ahli filsafat yunani, Shofisme. Mereka adalah orang yang mengingkari hakikat. Mereka ini banyak penganutnya, kemudian munculah Sukrates (Socrates), Aflatun, Aris Toteles yang membantah pemikiran (mahzab) ini. Diawali kaum Yunani dari mahzab thobaiyyin yang mereka berusaha alam semesta muncul karena tabi'at, tapi mereka banyak berselisih diantara mereka. Apa sih asal muasal alam ini? Mereka berselisih, ada yang berkata udara, ada yang mengatakan api, ada yang mengatakan atom terkecil. Mereka sangat banyak berselisih karena mereka tidak ada dalil yang kuat, karena masing-masing hanya kembali kepada akal saja. Kemudian munculah mahzab shofisme yang mengingkari hakikat. Mereka terdiri dari tiga Mazhab :1. Al inadiyah (menolak hakikat). Mereka benar-benar menentang adanya hakikat. 2. Al InadiyahMereka berkata hakikat itu tidak ada yang absolut tetapi relatif, subjektif, tidak ada kebenaran yang objektif. 3. Laa adriyah (Abstain) Tidak tau hakikat ada atau tidak. 1. Al inadiyah, yaitu orang-orang yang mengatakan adalah apa yang kita liat sesuai dengan apa yang kita liat, dan bisa jadi tidak sesuai dengan yang kita liat. Tidak jelas, dan tidak ada hakikat. Mereka adalah kaum yang terjebak dalam keraguan, meragukan segala hal. Iblis masuk ke dalam pikiran mereka karena mereka menolak hakikat. Cara membantah mereka para ulama, "perkataan kalian ini ada hakikat nya atau tidak?". Kita terapkan kaidah mereka pada mereka. Kalau mereka berkata tidak ada hakikat nya, maka pertanyaan mereka bathil, mahzab mereka bathil. Kalau mereka perkataan kita ada hakikat nya, berarti mereka mengakui ada hakikat, bathil juga mahzab mereka. Jika ingin berdiskusi dengan mereka ini harus ada keyakinan yang sama untuk membantah mereka. Para ulama sebagian banyak yang putus asa berdiskusi dengan mereka. Tapi banyak ulama yang berkata kita harus dikusi dengan mereka. Dizaman ini pengikut mereka adalah orang liberal yang mengatakan kebenaran adalah relatif. Beruntung nya tidak ada lagi shofisme yang alami tidak ada lagi. Mereka ini adalah orang-orang yang sakit. Ibnul Aqil adalah salah satu orang dari mahzab Hambali pernah berdiskusi dengan orang dari kalangan shofisme. Jangan pernah putus asa berdiskusi dengan mereka mudahan mereka dapat hidayah. Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala membawakan suatu cerita dari Abul Qosim Al-Bakhli, suatu hari ada seseorang dari mahzab shofisme dia berdialog dengan seorang ahli kalam. Akhirnya seorang yang alim ini berdiskusi, ketika dia sedang berdiskusi. Disuruh ambil tunggang nya. Setelah dia selalu merasa menang. Maka dia keluar untuk mencari tunggangannya, ternyata tunggangannya hilang. Maka dia kembali kepada seorang yang alim, dan dia berkata "wahai fulan, untaku sudah dicuri". Seorang alim menjawab, "coba kau pikiran lagi, mungkin kau tidak pakai onta, mungkin kau mengkhayal saja. Coba kau pikir-pikir lagi". Orang shofiisme menjawab "celaka engkau, untuk apa aku ingat, sungguh aku tidak ragu dan aku yakin aku datang naik onta". Maka seorang alim menjawab, "engkau ini bagaimana, engkau menolak semua hakekat dan engkau tadi yakin bahwa engkau naik onta. Dan engkau berkeyakinan orang yang bangun dan tidur sama saja". Lalu dia tersadar. Dan dia menetapkan hakikat dan pemikiran nya atau keyakinan nya terbantahkan . Sebenarnya untuk menyadarkan orang yang seperti ini perlu diperbaiki, karena mereka terjebak dalam suatu khurufat, banyak khayalan diluar kemampuan mereka. Dan mereka selalu dalam keraguan. 2. Indiyah (relativesme) dia mengakatan hakikat tidak ada yang objektif, tapi keyakinan yang subjektif. Dia menganggap kita semua sama sama benar, tidak ada yang salah diantara kita. Maka ini disebut subjektivitas. Contohnya perkataan mereka mengakatan madu itu manis, tapi bagi orang sakit madu itu pahit. Apakah dua-duanya salah? Maka dia bilang mereka tidak salah. Inilah disebut Mazhab relativesme. Bantahan Iman Ibnul Jauzi rahimahullah, pertama kita bantah "apakah keyakinan mu ini pasti benar?" Mereka akan menjawab "subjektif, menurut kami benar tapi bisa jadi menurut selain kami tidak benar. Karena bisa jadi menurut kami begini, dan menurut mereka salah". Maka kata imam Jauzi rahimahullah masih ada kemungkinan salah dari pihak lain, maka pendapat kalian tertolak. Kalau ada sisi salah maka tidak bisa dan tidak boleh diyakini. Percuma untuk dipertahankan. Kelompok ketiga yang dibantah Ibnul Jauzi rahimahullah, Laa Ad dahariyah (penolak adanya Tuhan pecipta). Mereka itu punya beberapa metode, yang terkumpul pada orang Atheisme (yang menolak adanya Tuhan). 2 kelompok yaitu :Dahriyah, mengatakan alam itu ada, dan terjadi sendiri tanpa ada yang menjadikan. Alam tanpa Tuhan. Thobaiyyun, yang mengatakan alam diatur oleh tabi'at bukan oleh Tuhan. Thobi'i (natural, aturan alam). Bantahan terhadap dahriyah mengunakan logika yaitu ilmu dasar, akibat tidak mungkin muncul tanpa sebab. Misalnya pena terjatuh pasti ada sebab nya. Contoh lain kita melihat bangunan tinggi pasti ada yang membangun, bangunan tersebut. Lalu bagaimana langit, dengan alam semesta ini tidak mungkin tidak terjadi dengan sendirinya. Sebagian Arab Badui berkata, jika melihat ada kotoran unta atau melihat telapak kaki, pasti menunjukkan tadi ada unta dan ada bekas kaki. Tidak harus kita melihat tapi kita bisa melihat dampaknya. Langit-langit dengan bintangnya, bumi dengan jalan-jalannya, laut dengan ombaknya, itu menunjukkan ada pengaturnya, ada yang membuat. Bahkan seorang merenung kan dirinya cukuplah itu menjadi dalil bahwa Tuhan itu ada. Semua syaraf-syaraf, lidah, gigi, diserap oleh darah. Ini semua ciptaan Allah. Lihatlah jari-jari ini, bisa dibuka, bisa dilipat, bisa bekerja dengan jari tersebut. Inilah semua ciptaan Tuhan, Allah. Intinya barangsiapa yang melihat ini, maka dia tahu ini semua ada yang menciptakan. Ibnul Jauzi rahimahullah membantah perkataan Tuhan tidak terlihat dan Tuhan tidak ada. Bantahannya, kita sepakat dalam tubuh ada jiwa, ada akal yang tidak terlihat. Tapi kita yakin ada jiwa kita yang mengaturnya dan kita punya akal ini yang berpikir yang untuk bertindak. Maka ini membuktikan ada pengaturan, ada keteraturan. Sesuatu itu bisa diakui meskipun sesuatu yang tidak terlihat. Misalnya lagi sebuah aliran listrik itu ada meskipun tidak terlihat. Kita mengetahui akal dan jiwa tapi tidak bisa secara rinci jiwa dan akal dan bisa diketahui secara global. Tapi kita mengetahui dan tidak ada seorang yang menolak adanya akal dan jiwa. Begitu juga dengan Tuhan kita, kita tidak mengetahui dengan detail. Kecuali Tuhan kita sendiri yang mengabarkan. Falasifah Thobaiyyun, mereka berusaha ilmiah dengan menyatakan ada tabi'at yang mengatur. Misalnya mereka kembali pada perselisihan udara, api, berkumpul antara api, air, udara dan tanah. Ada yang mengatakan unsur udara adalah api. Maka mereka berkata inilah terjadi reaksi, inilah berjalan sesuai tabi'at. Bantahan Ibnul Jauzi rahimahullah, Pertama tabi'at aturan alam tersebut tercipta oleh Allah subhanahu ta'ala. Diantara yang menunjukkan tabi'at tidak bisa teratur jika tidak berkumpul. Namanya tabi'at ini tidak bisa bereaksi kecuali jika dikumpulkan, bercampur barulah timbulah reaksi suatu yang lain. Maka reaksi ini menyelisihi awal tersebut. Fisikawan contoh bertemu teori, ini bisa terjadi tanpa ada Tuhan. Makanya justru dengan ada aturan ini maka gaya ini, gaya itu bisa ditemukan rumusnya, dapat dan baru tau justru itu menunjukkan adanya Tuhan. Bukan mengingkari adanya Tuhan. Karena sejatinya dia ikut aturan. Kelompok berikut nya,As-Tsanawiyah (Tuhan itu ada dua) Ini termasuk orang Majusiyah, tuhan pecipta kebaikan, Tuhan pecipta keburukan. Tuhan dua, Tuhan Api atau cahaya, pecipta kebaikan. Tuhan kegelapan zulmah pecipta keburukan. Ada manusia tertipu dengan iblis, mereka meyakini Tuhan ada dua. Karena mereka berpikir Tuhan ada dua. As-Tsanawiyah (Tuhan itu ada dua) Ini termasuk orang Majusiyah, tuhan pecipta kebaikan, Tuhan pecipta keburukan. Tuhan dua, Tuhan Api atau cahaya, pecipta kebaikan.Logika bantahan kedua, Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, taruhlah Tuhan kegelapan selalu menciptakan keburukan menurut keyakinan majusi, tapi bukankah gelap itu saling bermanfaat misalnya ketika ada orang ingin dibunuh dia bersembunyi dalam kegelapan tidak ketahuan, maka ini adalah kebaikan. Maka logika mereka gelapan adalah keburukan maka ini adalah logika tidak benar sebab banyak kegelapan yang bermanfaat. Dan begitu sebaliknya cahaya selalu bermanfaat, bukankah banyak api yang menghancurkan. Maka logika mereka tidak benar, menyelisihi kenyataan yang ada. Mereka punya pemikiran begini karena iblis masuk dalam pemikiran mereka.