Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 5 (Bagian 2)Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A.Tema: Talbis Iblis terhadap Kaum Filsuf, Penyembah Langit, dan Penyembah Berhala1. Talbis Iblis terhadap Kaum Filosof (Al-Falasifah)Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari Bab 5, spesifik pada subjudul Dzikru Talbisihi 'ala Al-Falasifah wa Tabi'ihiim (Penyebutan tentang Talbis Iblis terhadap kaum filosof Yunani dan para pengikutnya).Al-Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa para filosof seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan Plotinus adalah orang-orang yang dikaruniai kecerdasan otak yang luar biasa. Mereka sangat genius ketika meneliti hal-hal yang bersifat empiris dan inderawi (hissiyah), seperti ilmu biologi, kimia, dan fisika. Buku-buku mereka kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab secara masif pada masa Khalifah Al-Ma'mun (Dinasti Abbasiyah), yang membuat banyak ilmuwan muslim kala itu terpesona.A. Cacat Logika Filsafat dalam Ranah TeologiTitik kehancuran kaum filosof terjadi ketika mereka mencoba membedah ranah teologi (ketuhanan) hanya dengan mengandalkan kecerdasan akal, serta mengabaikan cahaya wahyu nabi (Nurul Nubuwwah).Akal manusia hanya mampu menangkap keberadaan Tuhan secara global (kulli)—bahwa Tuhan itu ada, Maha Kuasa, dan Maha Dahsyat. Namun, akal tidak akan pernah bisa menebak detail sifat Tuhan dan cara Dia menciptakan alam tanpa bimbingan wahyu. Karena tidak memiliki landasan empiris untuk dianalogikan, pembahasan ketuhanan mereka akhirnya dipenuhi oleh prasangka (zhunnan) dan spekulasi liar.B. Analogi Keterbatasan Akal: Misteri Ruh dan JinUntuk memahami keterbatasan akal, kita tidak perlu melompat jauh ke zat Allah, cukup renungkan dua makhluk gaib yang dekat dengan kita:Misteri Ruh: Ruh berada di dalam jasad kita setiap hari, namun tidak ada satu pun pakar biologi atau fisika yang bisa menjelaskan dari unsur apa ruh dibuat, bagaimana bentuknya, atau bagaimana ia mengalir di dalam darah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit'." (QS. Al-Isra': 85)Fenomena Jin: Secara sains, kita tidak bisa menjelaskan bagaimana jin bisa merasuki tubuh manusia, mengubah suara korban, atau menguasai otaknya. Pemateri menceritakan pengalaman pribadinya memiliki keponakan yang kesurupan jin, lalu mendadak bisa nembang (menyanyikan lagu) Jawa halus dan fasih berbahasa Jawa, padahal aslinya tidak bisa. Sains tidak punya rumusnya. Jika mengukur ruh dan jin saja akal manusia sudah angkat tangan, bagaimana mungkin mereka lancang mengukur Zat Sang Pencipta (Al-Khaliq) hanya dengan logika akal?C. Doktrin Keliru Kaum Filosof tentang TuhanAkibat mengandalkan logika yang liar, kaum filosof terpecah menjadi beberapa pendapat ekstrem mengenai Tuhan:Kelompok Materialis (Dahriyah): Mereka yang sama sekali menolak keberadaan Pencipta dan menganggap alam ada dengan sendirinya.Konsep Causa Prima (Al-Illah Al-Ula): Mayoritas filosof seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles sebenarnya menetapkan adanya "Sebab Pertama" (Tuhan) yang mereka sebut Causa Prima. Namun, mereka terjebak pada logika bahwa jika sebuah sebab itu "Maha Sempurna", maka akibat yang ditimbulkannya (yaitu alam semesta) tidak boleh terlambat dan harus ada bersamaan dengan sebab tersebut.Dampaknya: Mereka berkesimpulan bahwa alam semesta ini bersifat azali (qadim/tanpa permulaan) bersama Tuhan. Konsep ini menolak fakta bahwa alam diciptakan dari ketiadaan (minal 'adam).Menolak Kehendak Tuhan: Mereka mengklaim alam semesta lahir bukan karena kehendak atau keinginan Tuhan, melainkan hanya efek konsekuensi logis dari keberadaan zat Tuhan yang Mahasempurna. Bagi mereka, Tuhan tidak memiliki keinginan karena memiliki keinginan dianggap sebagai sebuah kekurangan.2. Syubhat Ibnu Sina: Sifat Ilmu Allah & Pengingkaran Hari AkhirPemikiran filsafat Yunani yang melenceng ini di kemudian hari memengaruhi beberapa pemikir muslim, salah satunya adalah Ibnu Sina.A. Syubhat tentang Ilmu AllahIblis membisikkan syubhat kepada para filosof Yunani bahwa Tuhan yang Mahasempurna hanya layak memikirkan hal-hal yang sempurna (yaitu diri-Nya sendiri), sehingga Tuhan tidak mengetahui makhluk-Nya yang penuh kekurangan.Ibnu Sina mencoba memodifikasi pemikiran ini agar terlihat agak islami. Beliau menyatakan: "Allah mengetahui makhluk-makhluk-Nya secara global (kulli), tetapi tidak mengetahui secara mendetail (juz'i)."Logika Ibnu Sina: Makhluk di dunia ini selalu berubah-ubah dan ada yang buruk. Tuhan tidak pantas memikirkan hal-hal detail yang berubah dan buruk tersebut.Bantahan: Pemikiran ini langsung dikafirkan oleh Al-Ghazali karena bertentangan dengan banyak ayat Al-Qur'an, di antaranya:" Dan tidak jatuh selembar daun pun melainkan Dia mengetahuinya..." (QS. Al-An'am: 59)Syubhat filsafat yang menuntut Tuhan harus "sederhana tanpa keragaman sifat" ini pula yang kelak merusak konsep asma wa sifat pada sekte Mu'tazilah dan Jahmiyah (yang menyatakan ilmu Allah adalah zat Allah itu sendiri).B. Pengingkaran Kebangkitan JasadKaum filosof Yunani, yang kemudian diikuti oleh Ibnu Sina dalam kitabnya Risalatul Adhawiyyah, secara tegas mengingkari adanya kebangkitan jasad di hari kiamat. Mereka mengklaim bahwa surga dan neraka fisik itu tidak ada; yang dibangkitkan kelak hanyalah ruh manusia saja.Logika Keliru Mereka: Mereka bingung membayangkan secara materi: Jika ada bagian tubuh manusia mati, lalu dimakan ikan hiu, kemudian ikan hiu tersebut ditangkap dan dimakan oleh manusia lain, bagaimana cara Allah memisahkan dan membangkitkan molekul jasad yang sudah saling bercampur tersebut?Bantahan: Ini adalah kekufuran yang sama persis dengan kaum musyrik Arab yang diabadikan dalam Surah Yasin (QS. 36:78-79). Bagi Allah Yang Maha Kuasa, mengembalikan jasad yang telah hancur menjadi debu adalah perkara yang sangat mudah melalui proses penumbuhan kembali yang telah Dia tetapkan.3. Kelompok Ketiga: Penyembah Benda Langit (Ashamal Haikal)Subbab berikutnya membahas tentang Dzikru Talbisihi 'ala Ashabil Haikal. Paham ini menyerang orang-orang yang meyakini bahwa benda-benda langit (matahari, bulan, bintang, dan planet-planet seperti Mars, Venus, Merkurius) memiliki ruh/nyawa yang mengatur takdir di bumi.Setan menipu mereka untuk membuat Haikal (simbol fisik/patung) di bumi sebagai proyeksi atau perwakilan dari ruh-ruh planet di langit tersebut. Akhirnya, mereka menyembah patung-patung tersebut dan melakukan berbagai ritual pengorbanan yang keji.Sebagai contoh, demi mengambil hati "Ruh Matahari" yang mereka anggap suci tanpa cacat, mereka tega menyembelih anak-anak kecil yang masih suci dan tidak berdosa sebagai tumbal di hadapan patung perwakilan matahari tersebut.4. Kelompok Keempat: Penyembah Berhala (Ashabul Ashnam)Iblis menyesatkan para penyembah berhala dengan memanfaatkan kecenderungan psikologis manusia yang menyukai visual, bentuk-bentuk yang indah, dan simbol yang tampak nyata, sehingga mereka mencampakkan akal sehat mereka sendiri.A. Asal-Mula Penyembahan BerhalaSebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Abbas mengenai kaum Nabi Nuh alaihis salam, penyembahan berhala awalnya bermula dari niat yang baik. Ketika lima orang saleh (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr) wafat, masyarakat membuat patung-patung mereka di tempat pengajian hanya untuk mengenang dan memotivasi diri agar rajin beribadah.Namun, ketika generasi pembuat patung itu telah mati dan ilmu tauhid mulai dilupakan, setan datang membisikkan kepada generasi penerus bahwa patung-patung orang saleh tersebut adalah tuhan yang harus disembah sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah mengabadikan argumen keliru mereka dalam Al-Qur'an:"Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (QS. Az-Zumar: 3)B. Masuknya Berhala ke Jazirah ArabPraktik syirik ini pertama kali diimpor ke kota Makkah oleh Amr bin Luhay Al-Khuza'i, seorang pemimpin suku Khuza'ah yang sangat ditaati. Saat melakukan perjalanan ke negeri Syam, ia melihat penduduk di sana menyembah berhala dan mengklaim bahwa berhala bisa mendatangkan hujan dan kemenangan. Amr bin Luhay lalu membawa berhala bernama Hubal ke Makkah dan memerintahkan kaum Quraisy untuk menyembah dan mengagungkannya di sekitar Ka'bah. Sejak saat itu, setiap kabilah Arab mulai memiliki berhalanya masing-masing, seperti Latta di Thaif, Uzza di Nakhlah, dan Manat di pesisir laut.C. Kisah Tragis Isaf dan Na'ilahDi antara berhala yang disembah di Makkah adalah Isaf dan Na'ilah. Sejarahnya, mereka adalah sepasang kekasih dari Yaman yang melakukan ibadah haji. Karena tidak bisa menahan syahwat saat suasana sepi, keduanya nekat melakukan zina di dalam Ka'bah. Allah langsung mengutuk mereka menjadi dua patung batu.Awalnya, kedua patung batu ini diletakkan di luar Ka'bah (satu di bukit Shafa, satu di bukit Marwah) sebagai peringatan bagi manusia agar tidak meniru perbuatan maksiat mereka. Namun, seiring berjalannya waktu dan hilangnya ilmu tauhid, Iblis memutarbalikkan fakta hingga akhirnya kedua patung pezina ini justru ikut disembah dan diusap-usap oleh kaum musyrikin saat melakukan thawaf.D. Degradasi Logika Penyembah PatungIblis berhasil membuat akal kaum musyrikin turun ke titik terendah dalam urusan ketuhanan:Jika mereka sedang melakukan perjalanan dan lupa membawa patung tuhan mereka, mereka akan mencari 4 buah batu di jalan. Satu batu yang paling bagus akan dijadikan "Tuhan", sedangkan 3 batu sisanya dijadikan sebagai tungku untuk memasak makanan.Jika mereka kehilangan batu tuhan mereka di tengah jalan, mereka akan saling berteriak, "Carilah tuhan baru kalian karena tuhan yang lama telah hilang!"Jika mereka tidak menemukan batu sama sekali, mereka akan mengumpulkan segundukan pasir, lalu menyiramnya dengan susu unta agar bisa dibentuk, kemudian mereka melakukan thawaf di sekeliling gundukan pasir susu tersebut.Al-Qur'an mematahkan kebodohan logika ini dengan tamparan keras:"Apakah mereka mempunyai kaki untuk berjalan, atau mempunyai tangan untuk memegang dengan kuat, atau mempunyai mata untuk melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? (Tentu tidak)..." (QS. Al-A'raf: 195)"Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat sendiri?" (QS. As-Saffat: 95)Kesimpulan Utama (Intisari untuk Murajaah)Puncak dari seluruh penyimpangan dalam Bab 5 ini dirangkum dengan sangat tepat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Ar-Rum:"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai." (QS. Ar-Rum: 7)Kaum filosof, ateis, dan manusia modern bisa memiliki kecerdasan luar biasa hingga mampu menciptakan teknologi tinggi dan menguasai ilmu duniawi secara detail. Namun, jika mereka mencampakkan petunjuk wahyu para nabi dan bersandar total pada logika akal, akal mereka mendadak akan lumpuh, konyol, dan tersesat jauh dalam urusan yang paling mendasar: yaitu mengenal Allah dan mentauhidkan-Nya.