Talbis Iblis kepada penganut Reinkarnasi dan Khawarij
🍒Pengantar konsep pembalasan dalam islam vs reinkarnasidalam islam tidak dikenal dengan pemahaman reinkarnasi, kita punya konsep tentang pembalasan yang konsep tersebut dijelaskan dengan gamblang dalam Al Qur'an dan hadist-hadist nabi bahwasannya siapa yang berbuat di dunia ini, maka ada pembalasannya.pembalasannya terkadang di mulai di dunia kemudian dilanjutkan di alam barzakh dan yang paling kuat pembalasannya adalah di alam akhirat kelak.makanya agama kita ada namanya hari kebangkitan, ada yaumil hisab (hari perhitungan) dimana akan diaudit tentang semua amal yang dilakukan kemudian setelah itu ditimbang, setelah itu baru kemudian adanya pembalasan. dan konsep dalam islam sangat jelas dan detail.adapun sistem pembalasan dalam agama-agama lain terkadang ada yang berbeda seperti, seperti sebagian agama berkeyakinan tentang adanya reinkarnasi. reinkarnasi ini banyak tersebar di india.❎yaitu meyakini bahwasannya seorang melakukan keburukan akan dibalas di dunia ini dalam kehidupan berikutnya. jika dia melakukan kebajikan di masa kehidupan sekarang maka dia akan meninggal kemudian dibangkitkan atau dihidupkan kembali dalam kehidupan berikutnya dalam strata, dalam kondisi yang lebih baik.jika dia dimasa kehidupan sekarang berbuat keburukan lantas dia mati, maka dia akan dibangkitakan atau dihidupkan dalam kehidupan berikutnya di dunia ini jg dalam kehidupan yang sangat buruk, bisa jadi dalam bentuk hewan, hewan-hewan yang hina.✅yang jadi bantahan secara sederhana: bahwasannya namanya konsep pembalasan, seharusnya seseorang sadar bahwa dia sedang dibalas dan apa yang dialami sekarang merupakan dampak dari perbuatan masa lalunya. sehingga dia merasakan pembalasan sekarang. merasa bahagia karena dia tahu dulu saya pernah berbuat kebaikan. atau dia sekarang dalam kondisi tersiksa karena dia tahu dulu dia melakukan keburukan.➡️tapi kenyataannya, kita sekarang di atas muka bumi ini, mungkin ada orang yang sudah reinkarnasi berkali-kali, mungkin kalau menurut keyakinan mereka mungkin saya sendiri sudah reinkarnasi entah berapa kali dan tidak ada seorang pun dari kita yang pernah merasakan atau mengingat masa lalunya. ketika tidak seorang pun mengingat masa lalunya berarti konsep pembalasan tersebut tidak ada faedahnya. namanya konsep pembalasan itu harusnya dia tau tentang apa yang dia lakukan sebelumnya sehingga dia merasakan dampaknya sekarang. baru itu dikatakan sebagai konsep pembalasan yang benar.adapun dia merasakan kehidupan sekarang dalam kondisi buruk atau kondisi baik akibat perbuatan masa lalunya sementara dia tidak ingat tentang masa lalunya, maka ini bukan konsep pembalasan yang tepat.pemikiran reinkarnasi ini asalnya berasal dari india, yang menjalar sampai ke sebagian kaum muslimin yang terpengaruh.Al Imam Ibnul Jauzi menjelaskan diantara syubhat yang menjadikan sebagian orang berpendapat tentang reinkarnasi yaitu beliau menyebutkan perkataan Abul Qosim Al-Balkhi:"ketika pembesar-pembesar/pemikir-pemikir reinkarnasi melihat anak-anak ada yang kesakitan atau hewan-hewan yang kesakitan atau anak lahir dalam kondisi sakit padahal tidak punya dosa, maka mereka berkata tidak mungkin sakitnya anak-anak ini adalah takdir dari Tuhan untuk menguji orangtuanya misalnya. kata mereka tidak mungkin. ini anak dalam kondisi sakit tentu akibat dari perbuatan dia dalam kehidupan sebelumnya. sehingga mereka menyimpulkan bahwasannya ada kehidupan sebelumnya dan dampaknya baru kelihatan sekarang" ➡️ini yang disebut reinkarnasi. ini syubhat sederhana yang mereka katakan.mereka kemudian menjelaskan kemudian, bahwa proses reinkarnasi ada beberapa tahapan (tentunya proses reinkarnasi ada beberapa pendapat, dan belum tentu sama proses reinkarnasi yang disebut ibnul jauzi belum tentu sama dengan proses reinkarnasi penganut agama yang lain atau orang islam yang terpengaruh dengan pemikiran reinkarnasi) tapi yang disebut oleh ibnul jauzi intinya bahwasannya jika seorang meninggal dunia, maka dia akan berpindah pada alam yang lain (suatu alam yang sederhana) kemudian nanti dia hidup kembali. Ada 4 tahap tapi tidak dijelaskan yang intinya mampir pada suatu alam tertentu, kalau dia jiwanya baik maka dia akan hidup kembali bercampur dengan cahaya matahari maka dia menjadi seperi sayur-sayuran, kemudian dimakan oleh manusia kemudian berubahlah ruhnya masuk ke dalam manusia. kemudian dilahirkan kedua kali melalui perut seorang wanita kemudian lahirlah dia untuk kehidupan yang kedua kalinya (tergantung dia dulu baik atau tidak, kalau dia baik maka dia akan dilahirkan dalam kondisi orang yang stratanya baik, entah baik ekonominya entah tubuhnya yang baik dan begitu juga sebaliknya)intinya orang yg meyakini reinkarnasi sepakat bahwasannya kehidupan sekarang adalah hasil dari kehidupan sebelumnnya.🍒Syubhat Penganut Reinkarnasi & Kisah khurafatnya.Ibnul Jauzi berkata:Suatu hari, Abu Bakar Ibnu Fallas bertemu dengan seseorang yang awalnya berpemahaman Syiah, namun kemudian berubah haluan mengikuti madzhab Ahlut Tanasukh (penganut paham reinkarnasi).Ibnu Fallas mendapati orang tersebut sedang duduk di depan seekor kucing hitam sambil mengusap-usap dan menggaruk bagian di antara kedua mata kucing tersebut. Ketika diusap-usap, keajaiban terjadi karena kucing tersebut mengeluarkan air mata (menangis). Melihat kucing itu menangis, si penganut reinkarnasi ini pun ikut menangis dengan sangat tersedu-sedu.Ketika Abu Bakar Ibnu Fallas bertanya heran, "Kenapa kamu menangis?", orang itu menjawab dengan yakin, "Kucing ini menangis ketika aku usap karena kucing ini adalah ibuku (hasil reinkarnasi dari ibunya yang telah meninggal)". Dia mengklaim bahwa ibunya menangis karena merasa sedih dan menyesal melihat anaknya sekarang.Orang tersebut kemudian mengajak si kucing mengobrol dan kucing itu hanya mengeluarkan suara ringkikan atau ngeongan kecil. Ibnu Fallas bertanya, "Apakah kamu paham apa yang dia (kucing) katakan?", orang itu menjawab, "Tidak paham." Ibnu Fallas lalu bertanya lagi, "Apakah kucing itu paham apa yang kamu katakan?", orang itu menjawab, "Ya, dia paham.".Mendengar jawaban tersebut, Abu Bakar Ibnu Fallas langsung menyindir dan menskakmat orang itu dengan berkata, "Kalau begitu, kamulah yang sebenarnya hewan (bodoh) dan ibumu (kucing itu) yang manusia! Karena dia paham bahasamu, sedangkan kamu tidak paham bahasanya.".Kesimpulan Ustadz: Cerita yang dibawakan oleh Ibnu Jauzi ini menjadi contoh nyata bagaimana iblis mempermainkan akal sehat manusia melalui talbis (tipuan). Akibat meyakini reinkarnasi, seseorang bisa menjadi sangat konyol hingga menganggap hewan di sekitarnya—seperti kucing, kambing, atau serangga—sebagai kerabat atau orang tuanya yang telah mati.🍒Tablis Iblis Kepada Kaum Khawarij.Khawarij adalah firqah (kelompok) menyimpang pertama yang muncul dalam Islam. Iblis menipu mereka bukan lewat kemaksiatan, melainkan lewat jalur ekstrimitas dalam beragama (ghuluw). Mereka tertipu oleh sifat ujub (bangga diri) atas hebatnya shalat malam, puasa, dan bacaan Qur'an mereka, sehingga mudah memandang rendah dan mengkafirkan kaum muslimin lainnya.kata ibnu Qoyyim, iblis menggoda bisa dua sisi, kalau iblis melihat ada orang yang cenderung kepada kemaksiatan, berleha-leha maka iblis buat dia terjerumus ke dalam kemaksiatan. kalau seseorang kecenderungannya bertaqwa maka iblis juga bisa menggoda dia dari sifat ghuluw yang berlebih-lebihan. ekstrim dalam beragama, hingga akhirnya dia sendiri rajin ibadah, rajin shalat malam, rajin puasa sehingga dia mudah mengkafirkan orang lain ketika orang lain tidak melakukan apa yang dia lakukan. jadi dia menjadikan orang lain barometer seperti dia, kalau saya yang begitu berarti saya menghina Allah, kalau saya yang melakukan maksiat berarti saya tidak beriman kepada Rasulullah. lalu dia generalkan orang lain terhadap orang lain, dia kiaskan orang lain terhadap dirinya, akhirnya dia mudah mengkafirkan orang lain.inilah kecenderungan kuat dalam beribadah yang dijadikan kesempatan oleh iblis untuk menjadikan seseorang ekstrim dalam beragama.✅Cikal Bakal Khawarij di Zaman Rasulullah. (Rasulullah tidak bertemu langsung dengan khwarij yang mengangkat pedang)Pelopor pemikiran ini adalah seorang kabilah Bani Tamim bernama Dzul Khuwaishirah. Saat Rasulullah membagikan harta fai'/ghanimah kepada tokoh-tokoh mualaf Arab Badui demi melunakkan hati mereka, orang ini datang dengan penampilan jidat menonjol, mata cekung, jenggot lebat, sarungnya dia gulung dan kepala botak.Dia memprotes Rasulullah secara kasar: "Ittaqillah (bertakwalah kepada Allah) wahai Muhammad, berlakulah adil!". Rasulullah menjawab: "Celaka engkau, siapa lagi yang akan berlaku adil di atas muka bumi ini jika aku saja tidak adil?"▶️ketika Khalid bin Walid meminta izin untuk memenggalnya, Rasulullahh melarangnya karena orang tersebut masih shalat secara lahiriah. Namun Rasulullah berkata: aku tidak disuruh menilai hati orang lain tapi hanya dzhohirnya saja.Rasulullah berkata bahwa kelak dari keturunan/pemikiran orang ini akan lahir suatu kaum yang rajin membaca Al-Qur'an namun tidak melewati kerongkongan mereka (tidak dipahami), dan mereka keluar dari agama secepat anak panah menembus hewan buruannya.🍒Puncak Fitnah Khawarij di Zaman Ali bin Abi ThalibLatar Belakang Konflik:Pengepungan Rumah Khalifah: Peristiwa tragis ini bermula ketika rumah Khalifah Utsman bin Affan dikepung oleh sekelompok besar massa pemberontak yang berbuat zalim. Jumlah komplotan pemberontak yang datang dari berbagai daerah dan kabilah ini diperkirakan mencapai 2.000 hingga 4.000 orang.Detik-Detik Pembunuhan: Para pemberontak berhasil menjebol dan menerobos masuk ke dalam rumah. Pada saat situasi mencekam tersebut, Utsman bin Affan sedang dalam kondisi duduk tenang sambil membaca Al-Qur'an.Syahid di Atas Al-Qur'an: Utsman sempat menahan hantaman senjata dengan tangannya, namun para pemberontak tetap tega menikam beliau hingga wafat secara syahid. Begitu kejamnya peristiwa tersebut sampai-sampai darah suci sang menantu Rasulullah ini menetes dan membasahi mushaf Al-Qur'an yang sedang beliau baca.Dampak Besar setelah Wafatnya Utsman:Pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan secara syahid oleh para pemberontak, terjadi perbedaan ijtihad politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan di Syam. Mu'awiyah menuntut penangkapan segera pembunuh Utsman, sedangkan Ali ingin menstabilkan negara terlebih dahulu karena para komplotan pembunuh berjumlah ribuan dan dilindungi kabilah-kabilah besar. Konflik ini memicu Perang SiffinPeristiwa Tahkim (Arbitrase): Ketika kubu Mu'awiyah mengangkat mushaf meminta perdamaian, Ali menerima jalur perundingan damai (Tahkim) dengan mengirim Abu Musa al-Asy'ari sebagai perwakilan, sementara kubu Syam mengirim Amr bin Ash.Membelotnya Khawarij: Keputusan Tahkim ini ditolak mentah-mentah oleh sebagian pasukan Ali yang berotak pendek. Sebanyak 12.000 orang memisahkan diri ke daerah Harura (sehingga disebut Haruriyah) dan mengerucut menjadi 6.000 orang. Mereka mengkafirkan Ali, Mu'awiyah, Amr bin Ash, Abu Musa, dan siapa saja yang rida pada keputusan tersebut dengan slogan populer: "Laa hukma illa lillah" (Tidak ada hukum kecuali milik Allah).▶️▶️Kematian Utsman bin Affan menjadi pemantik fitnah besar di kalangan umat Islam saat itu. Setelah Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah keempat, muncul perbedaan ijtihad politik dengan kerabat Utsman, yaitu Mu'awiyah bin Abi Sufyan di Syam, yang menuntut penangkapan segera para pembunuh Utsman. Perbedaan ijtihad inilah yang kemudian hari memicu terjadinya Perang Siffin dan menjadi celah bagi iblis untuk melahirkan kelompok Khawarij.🍒Debat Ibnu Abbas melawan KhawarijMelihat pembelotan tersebut, Abdullah bin Abbas (sepupu Rasulullah) meminta izin kepada Ali untuk berdiskusi dengan kaum Khawarij. Ibnu Abbas datang dengan pakaian terbaiknya. Beliau mendapati kaum Khawarij sebagai orang-orang yang dahinya hitam legam penuh luka saking seringnya sujud, tangan kapalan, dan wajah pucat karena kurus sering puasa dan shalat malam.Ibnu Abbas menantang mereka menyebutkan 3 poin utama yang mereka kritik dari Ali bin Abi Thalib, lalu mematahkannya satu per satu menggunakan dalil Al-Qur'an:Gugatan 1: Ali telah menetapkan manusia sebagai hakim dalam urusan agama Allah, padahal Allah berfirman "Inil hukmu illa lillah" (Hukum itu milik Allah).Bantahan Ibnu Abbas: Allah justru memerintahkan manusia menjadi hakim dalam urusan yang jauh lebih kecil. Contohnya, dalam urusan denda berburu saat ihram (Surah Al-Ma'idah: 95) yang keputusannya diserahkan pada "dua orang yang adil di antara kalian". Begitu pula dalam urusan sengketa rumah tangga suami-istri (Surah An-Nisa: 35), Allah menyuruh mengirim juru damai (hakam) dari kedua belah pihak. Ibnu Abbas menegaskan: "Jika urusan kelinci dan keharmonisan suami-istri saja Allah serahkan kepada hukum manusia, apalagi urusan darah dan persatuan umat Islam?". Khawarij terdiam.Gugatan 2: Ali berperang dalam Perang Jamal melawan kubu urusan Aisyah, tetapi tidak menawan wanita mereka dan tidak mengambil harta ghanimah. Jika mereka mukmin, kenapa diperang? Jika mereka kafir, kenapa wanita dan hartanya tidak dihalalkan?Bantahan Ibnu Abbas: Ibnu Abbas membalikkan logika mereka: "Apakah kalian tega dan berani menjadikan Ummul Mukminin Aisyah (ibunda kaum mukminin) sebagai budak tawanan perang kalian yang boleh digauli?". Jika mereka mengiyakan, mereka kafir karena menghina istri Nabi yang merupakan ibunda mereka di dalam Al-Qur'an (Surah Al-Ahzab: 6). Khawarij kembali terdiam.Gugatan 3: Ali menghapus gelarnya sebagai "Amirul Mukminin" (Pemimpin Orang-orang Beriman) saat menulis surat kesepakatan damai dengan Mu'awiyah. Jika dia bukan pemimpin orang beriman, berarti dia pemimpin orang kafir.Bantahan Ibnu Abbas: Ibnu Abbas mencontohkan langsung uswah dari Rasulullah pada Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, delegasi kafir Quraisy menolak klausul tulisan "Muhammad Rasulullah". Maka Rasulullah sendiri yang menghapus gelar kerasulannya demi tercapainya perdamaian dan menggantinya dengan "Muhammad bin Abdillah". "Jika Nabi saja boleh menghapus gelar Rasulullah demi maslahat, tentu Ali lebih boleh menghapus gelar Amirul Mukminin," kata Ibnu Abbas.Hasil dari debat ilmiah ini, sebanyak 2.000 orang Khawarij bertaubat dan kembali bergabung ke pasukan Ali bin Abi Thalib.🍒Kekejaman Khawarij & Akhir Hayat Para TokohnyaPembunuhan Abdullah bin Khabbab: Sisa kaum Khawarij yang keras kepala (4.000 orang) mulai menumpahkan darah. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan sahabat Nabi bernama Abdullah bin Khabbab bin Al-Arat beserta budak wanitanya yang sedang hamil. Setelah Abdullah menyampaikan hadits Nabi tentang anjuran menahan diri dan menjadi "hamba Allah yang terbunuh (bukan membunuh)" di masa fitnah, mereka justru menyeret Abdullah ke pinggir sungai dan menyembelihnya hingga darahnya mengalir ke air. Tak sampai di situ, mereka merobek perut budak wanitanya yang hamil dan membunuh janin di dalamnya.Perang Nahrawan: Mendengar kekejaman tersebut, Ali bin Abi Thalib meminta mereka menyerahkan eksekutor pembunuhan Abdullah bin Khabbab. Kaum Khawarij dengan sombong menjawab serentak: "Kami semua yang membunuhnya!". Atas dasar legalitas hukum inilah, Ali akhirnya mengerahkan pasukan untuk memerangi mereka di Nahrawan hingga mereka tewas kocar-kacir. Nabi menyebut mereka sebagai "Kilabun Naar" (Anjing-anjing neraka).Konspirasi Tiga Serangkai: Pasca kekalahan di Nahrawan, tiga sisa anggota Khawarij berkumpul di Mekkah: Abdurrahman bin Muljam, Al-Burak bin Abdillah, dan Amr bin Bakr. Mereka bersumpah di bulan Ramadhan untuk membunuh tiga tokoh umat Islam secara serentak di tiga tempat berbeda: Bin Muljam bertugas membunuh Ali di Kufah, Al-Burak membunuh Mu'awiyah di Syam, dan Amr bin Bakr membunuh Amr bin Ash di Mesir. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil mengeksekusi misinya.🍒Detik-Detik Kematian Ali bin Abi Thalib & Eksekusi Ibnu MuljamSyahidnya Khalifah Ali: Abdurrahman bin Muljam mengendap-endap dan menikam kepala Khalifah Ali bin Abi Thalib saat beliau keluar hendak melaksanakan shalat subuh. Tikaman pedang beracun tersebut menembus hingga ke otak Ali. Sebelum wafat, Ali berpesan agar menangkap pembunuhnya dan jangan sampai lolos. Ibnu Muljam yang tertangkap dengan sombong berkata bahwa pedangnya telah direndam racun selama sebulan penuh demi memastikan Ali wafat.Eksekusi Mati Ibnu Muljam (Kengerian Talbis Iblis): Ketika Ali wafat, Ibnu Muljam dijatuhi hukuman qishas yang sangat berat oleh Abdullah bin Ja'far. Kedua tangannya dipotong, kedua kakinya dipotong, dan matanya dicolok dengan besi panas. Menakjubkannya, sepanjang penyiksaan fisik yang amat mengerikan itu, Ibnu Muljam tidak berteriak sedikit pun dan justru terus-menerus membaca Al-Qur'an (Surah Al-'Alaq) dengan khusyuk.Ketakutan Kehilangan Zikir: Ibnu Muljam baru berteriak ketakutan dan panik ketika algojo hendak memotong lidahnya. Saat ditanya mengapa dia takut lidahnya dipotong padahal tangannya dipotong dia diam saja, Ibnu Muljam menjawab: "Aku tidak ingin sedetik pun ada waktu di dunia ini di mana aku mati dalam kondisi lidahku tidak berdzikir kepada Allah.".Penutup : Fenomena kematian Ibnu Muljam adalah puncak dari talbis (tipuan) iblis yang paling mengerikan. Secara lahiriah, dia terlihat seperti wali Allah yang tangguh, penyabar, dan ahli dzikir murni. Padahal, hakikatnya dia adalah pembunuh menantu Nabi, manusia terbaik di zamannya, dan divonis oleh Nabi sebagai anjing neraka karena rusaknya akidah akibat merasa paling benar sendiri.

















