📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka29 menit lalu
N

Naella ulia

📍 -

Resep membuat sendiri produk pembersih dan pewangi yang ramah lingkungan.

Pembersih SerbagunaCampurkan sabun castile (sabun dari minyak nabati murni) dengan air hangat. Gunakan spons, kain lap, jaring-jaring, atau sikat, lalu gosoklah. Ini bisa digunakan untuk membersihkan dinding, lantai, dan permukaan meja. Campurkan satu bagian sabun castile dengan satu bagian air dalam botol tekan untuk sabun cuci tangan.Btw, kalau teman-teman nyari di marketplace sabun castile banyak banget macamnya dengan rentang harga yang beda-beda. Cari yang sabar aja ya, insyaAllah dapat yang murah. Atau kalau mau hemat, sabun castile ini bisa diganti dengan sabun dari jelantah buatan sendiri.Pembunuh Kuman SerbagunaHangatkan cuka putih hingga suhu 55°C dan segera masukkan ke botol semprot. Jika kita langsung menggunakannya, biarkan cairan berada di permukaan perabot selama satu menit. Atau kalau kita menggunakannya lain waktu, biarkan cairan selama 10 menit sebelum dilap. (Catatan: jangan gunakan cuka di permukaan marmer).Pembersih Kaca, Vas, dan Kran LogamCampurkan 2 sendok teh cuka putih dengan 1 liter air di dalam botol semprot. Gunakan koran bekas untuk mengelap permukaan (koran bekas tidak akan menggores kaca atau meninggalkan serabut).Bubuk Penggosok Bak Cuci, Bak Mandi, dan KomporCampurkan baking soda, sedikit sabun castile/sabun cuci piring, dan sedikit perasan lemon. Buatlah campuran yang kental seperti krim kue. Bubuhkan di permukaan dan gosok dengan loofah, spons, atau sikat.THE WORLD OF MARRIAGECandra Prahastiwi, Saviera Yonita, Dr.Victa Ryza

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 jam lalu
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Orang yang tidak mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 39-40)

Tafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:40)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Orang yang tidak mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 39-40)Atau semua amalan mereka adalah seperti kegelapan yang gulita di lautan yang paling dalam dan diliputi oleh ombak yang di atasnya ada ombak lagi, dan di atasnya ada awan yang tebal, sungguh gelap gulita yang bertumpuk-tumpuk. Apabila ada seseorang yang mengeluarkan tangannya, maka dia tidak dapat melihatnya karena gelap gulita. Orang-orang kafir itu tertutupi oleh tumpukan kegelapan: kegelapan syirik, kesesatan, dan rusaknya perbuatan. Maka barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah yang berasal dari kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya yang akan memberikan petunjuk, niscaya dia tidak memiliki pemberi hidayah sedikit pun.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka13 jam lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Ciptakan hubungan baru dengan seseorang yang telah anda kenal

Ciptakan hubungan baru dengan seseorang yang telah anda kenal Sumber: Don't sweat the small stuff with your family Bagi kita sangat umum bila kita mengikuti kebiasaan anggota keluarga dan siapapun yang kebetulan tinggal bersama kita. Kebiasaan ini tetapi tidak terbatas pada reaksi berlebihan komunikasi yang defensif saling menyalahkan tidak mau mendengarkan mengharapkan perilaku yang berbeda dan perhatian yang terpecah. Sesungguhnya semakin kita mengenal seseorang pasangan anak orang tua teman sekamar dan lain-lain tampaknya kita makin cenderung mengandaikannya begitu saja, kita menganggap bahwa diri kita tahu apa yang mereka pikirkan atau bagaimana reaksi mereka nantinya, kita juga mudah meledak selain itu kita sering memberi tanggapan yang menyebalkan. Seolah-olah kita mengharapkan orang yang kita sayangi atau orang orang yang tinggal bersama kita berperilaku tertentu. Kita kemudian mengesahkan harapan tersebut dengan memperhatikan betul perilaku yang kita ingin lihat dan mengabaikan atau tidak menghiraukan yang selebihnya. Sebagai contoh untuk beberapa waktu saya menyadari diri saya mengharapkan putri saya menolak saran yang saya ajukan berkenan dengan kegiatan baru yang kelihatan ingin dilakukannya. Saya berharap ia akan bersikap menentang pilihan saya dan tampaknya saya hampir selalu benar. Saya akan mengajukan satu saran dan ia akan berkata "aku tidak mau". Mengingat pengalaman yang lalu dengannya dan karena tebakan saya yang selalu benar mengenai respon yang akan ditunjukkannya saya menemukan bahwa saya sebenarnya mencari pembenaran atas asumsi saya. Saya tidak menanggapi prosponnya secara proporsional dan lebih mencari motifnya ketimbang melihat setiap situasi dengan pikiran seni dan hati terbuka. Saya memutuskan untuk mencoba menciptakan hubungan baru dengannya untuk mengatasi pola yang berulang itu. Saya tahu bahwa satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan menelaah kontribusi saya terhadap problem yang ada ketimbang terus fokus pada reaksinya. Saya perhatikan bahwa cara Saya memberi saran ternyata terlalu agresif dan saya juga meneliti bagaimana saya mengajukan kepadanya kesempatan yang lain. akhirnya saya menyadari bahwa masalahnya sebagian besar ada pada saya. Bukannya memotivasinya antusiasmu saya malah membuat dia kesal. Akibat kekesalannya itu respon yang ditunjukkannya biasanya memutuskan untuk tidak melakukan hal yang baru. Ini jelas membuat saya kecewa sehingga saya justru semakin bersemangat. Ada bisa bayangkan apa yang diperoleh dari tingkah semacam itu. Begitu saya berubah berubah pula hubungan kami. Perubahan dalam hubungan kami sungguh nyata . Saya kini memahami bahwa harapan saya pada putri saya baik mengenai bagaimana respon yang nanti ditunjukkannya atas saran saya maupun mengenai prediksi saya berkaitan dengan bagaimana ia akan meresponnya jelaskan mencerminkan segala keruwetan yang timbul ini. Ia memang senang mencoba hal baru tetapi lebih memilih melakukannya pada saat yang ia inginkan bukan yang saya inginkan. Apa yang tidak disukainya adalah ayah yang bersikap kelewat antusias dan mendorongnya terlampau cepat serta menuntut respon yang antusias. Kini saya setelah saya mengetahui bagaimana sikap saya saya tidak menyalahkan yang sedikitpun. Karena saya telah menyingkirkan ekspektasi saya ini ia bisa memahami bahwa kalau saya terlalu bersemangat itu hanyalah salah satu cara saya untuk menunjukkan rasa sayang. Kami berdua jadi semakin berkembang dan menjadi lebih bisa menerima satu sama lain. Dalam upaya menciptakan hubungan baru dengan orang yang telah anda kenal sangatlah penting untuk berusaha menghilangkan semua rasa sakit hati yang dulu-dulu sumber kemarahan dan sebanyak mungkin ekspektasi yang ada. Ini berarti memberi maaf secara total dan kesediaan penuh untuk memulai dari awal. Mungkin ada seseorang dalam hidup anda mungkin banyak orang yang akan membawa banyak manfaat bila anda mau membentuk hubungan baru dengannya. Saya sangat menganjurkan anda untuk mencoba melakukannya. Imbalannya sungguh manis dan pasti dan bagian paling menyenangkan dari cara ini adalah tak seorangpun yang harus berubah kecuali Anda.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI13 jam lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sebelas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke sebelas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,فَبَيَّنَ الله له هَذا بَيانًا شائِعًا كافِيًا بِوُجُوهٍ مِنْ أَنْواعِ الْبَيَانِ شَرْعًا وَقَدَرًاAllah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan perkara ini dengan penjelasan yang cukup, dengan berbagai uslub (cara) baik secara syar’iat maupun dengan takdir.Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa dengan penjelasan yang sangat jelas di dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits-hadits yang shahih, baik dengan tinjauan syari’at maupun dari segi takdir.Di dalam Al Qur’an diantaranya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul, dan ulil amri diantara kalian.”(QS. An-Nisa: 59)Dan yang dimaksud dengan ulil amri di sini adalah para ulama dan para pemerintah (para penguasa).Allah mengatakan kepada orang-orang yang beriman,“Wahai orang-orang yang beriman (yang merasa bahhwasanya dia beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat, beriman kepada kitab-kitab, beriman kepada para Rasul, beriman kepada hari akhir, beriman kepada takdir) hendaklah kalian taat kepada Allah dan taat lah kalian kepada Rasul dan orang yang memerintah diantara kalian.”Ulil amri sebagaimana disebutkan oleh para mufassirin adalah para ulama dan juga para umara. Kita diperintah untuk mentaati mereka dan ini menunjukkan tentang wajibnya mentaati pemerintah dan juga penguasa, karena Allah mengatakan, أَطِيعُوا۟ (hendaklah kalian mentaati).Namun ketaatan kepada seorang penguasa dan pemerintah bukanlah ketaatan yang mutlak, berbeda dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Oleh karena itu ketika menyebutkan Allah dan juga Rasul-Nya, didahului dengan kalimat أَطِيعُوا۟.يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَKarena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan yang mutlak.Adapun ketika menyebutkan ulil amri, maka Allah mengatakan وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ (dan pemerintah diantara kalian) karena ketaatan kepada pemerintah dan penguasa bukanlah ketaatan yang mutlak, akan tetapi ketaatan yang berada di dalam ketaatan. Ketaatan di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Apabila seorang pemerintah dan penguasa, memerintah dengan perkara yang sesuai dengan syari’at, sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya, maka perintah tersebut harus ditaati.Namun apabila dia memerintah dengan kemaksiatan dengan sebuah dosa dengan sebuah perkara yang bertentangan dengan syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla maka perintah tersebut tidak boleh ditaati.Adapun di dalam hadits, maka diantara dalil yang menunjukkan pentingnya dan wajibnya kita mendengar dan taat kepada pemerintah adalah ketika Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwasiat kepada para sahabat.1. Wasiat dengan ketakwaan2. Wasiat mendengar dan taat kepada penguasa meskipun yang berkuasa adalah seorang budak dari Habasyah.Dan diantara dalilnya dari sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah ucapan Ubadah Ibnu Shamit ketika beliau mengatakan,بَايَعَنَا رسول الله صلى الله عليه وسلم عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وعَسرِنَا، وَيُسْرِنَا، وَعلى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا“Kami dahulu membai’at Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk mendengar dan taat baik ketika kami dalam keadaan semangat maupun dalam keadaan malas, baik dalam kesusahan maupun dalam kemudahan.”Mendengar dan taat meskipun harus diambil sebagian dari hak kami, baik hak harta maupun yang lain.Meskipun diambil sebagian hak kita, baik harta maupun yang lain, maka tidak boleh ini menjadikan kita keluar dari ketaatan kepada pemerintah.Kemudian beliau mengatakan,وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ“Dan kami telah membai’at Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk tidak memberontak, untuk tidak mengambil kekuasaan dari yang memiliki.”Ini adalah isi dari bai’at para sahabat radhiyallāhu ‘anhum kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, diantaranya adalah supaya kita tidak mengambil kekuasaan dari pemiliknya.Yaitu memberontak kepada pemerintah, memberontak kepada penguasa yang sah, maka ini diharamkan di dalam agama kita.Kemudian Beliau mengatakan,وقال إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ‏“Kecuali apabila engkau melihat kekufuran yang jelas, kekafiran yang jelas, dari pemerintah tersebut dan engkau memiliki dalil (memiliki burhan) yang sangat jelas yang tidak ada kesamaran di dalamnya (maka dalam keadaan seperti itu boleh seseorang memberontak).”Yaitu apabila melihat kekufuran, dan di sini Beliau mengatakan كُفْرًا بَوَاحًا (kekufuran yang jelas) artinya, bukan hanya sekedar keragu-raguan atau kekufuran yang samar, kekufuran yang jelas maksudnya adalah kekufuran yang semua umat Islam bersepakat atas kekufuran tersebut.Dan di sana ada dalil yang jelas di dalam Al Qur’an maupun hadits yang mengatakan bahwasanya ini adalah sebuah kekufuran dan bukan hanya sekedar keraguan, bukan hanya sekedar kemaksiatan. Engkau memiliki dalil dari Allah Subhānahu wa Ta’āla atas masalah tersebut.Dan para ulama menyebutkan ini adalah perkecualian, dan ini menunjukkan kepada kita hanya sekedar melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang penguasa, maka ini tidak menjadikan dan tidak membolehkan seseorang untuk keluar dan memberontak kepada pemerintah, karena Beliau mengatakan كُفْرًا بَوَاحًا, sebuah kekafiran yang sangat jelas.Adapun hanya melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh pemerintah, maka ini tidak boleh menjadikan seseorang keluar dan memberontak kepada pemerintah tersebut.Yang dinamakan dengan korupsi, maka ini adalah sebuah kemaksiatan dan bukan kekufuran. Tidak boleh menjadikan seseorang memberontak dan keluar kepada pemerintah.Berbuat dholim adalah kemaksiatan. Kemaksiatan tersebut akan ditanyakan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada penguasa di hari kiamat, kemaksiatan dia adalah untuk dia sendiri dan kewajiban kita adalah mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut, selama perintah tersebut sesuai dengan syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ucapan Beliau,إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًاMenunjukkan kepada kita bahwasanya kemaksiatan tidak menjadikan seseorang keluar dari ketaatan kepada pemerintah kita.Dan di sini Beliau memberikan syarat-syarat yang ketat sebuah kekafiran dan kekafiran tersebut adalah kekafiran yang sangat jelas dan memiliki dalil yang sangat kuat.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 jam lalu
L

Lisna Nurul Hikmah

📍 Kabupaten Banyumas

Bab 1 wanita bersama Rabbnya

Wanita yang dekat dengan Rabbnya adalah wanita yang:♡ Memiliki iman yang kuat.♡ Senantiasa sadar bahwa Allah mengawasi dan menolongnya.♡ Bersabar dalam menghadapi ujian.♡ Tetap berusaha, bukan hanya berdiam diri.♡ Bertawakal setelah melakukan usaha.♡ Menjaga kehormatan dan kesucian diri.♡ Yakin bahwa setiap kesulitan memiliki hikmah dan jalan keluar dari Allah.“Berusahalah, bersabarlah, lalu bertawakallah.Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang bersandar kepada-Nya.”

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 jam lalu
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Bab 7

BAB 7TERMASUK SYIRIK: MEMAKAI GELANG, BENANG, DAN SEJENISNYA SEBAGAI PENGUSIR ATAU PENANGKAL MARA BAHAYAFirman Allah Subhanahu Wata`ala, “Katakanlah, Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah, cukuplah Allah bagiku. KepadaNya-lah orang-orang yang berserah diri bertawakkal.” (Az-Zumar: 38)Imam bin Hushain, menuturkan bahwa Nabi melihat seorang laki-laki terdapat ditangannya gelang kuningan, maka beliau bertanya, “Apakah ini?” Orang itu menjawab, “Penangkal sakit.” Nabi pun bersabda, “Lepaskan itu, karena ia tidak menambah pada dirimu kecuali kelemahan; sebab jika kamu mati sedang gelang itu masih ada padamu , maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (Hadits Riwayat Iman Ahmad dengan sanad yang bisa diterima).Dan Riwayat Imam Ahmad puladari Uqbah bin Amir secara marfu’, “Barangsiapa menggantungkan tamimah, maka semoga Allah tidak menyempurnakan (memenuhi) hajatnya; dan barangsiapa menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak menjadikannya dalam ketenangan.” Disebutkan dalam Riwayat lain, “Barangsiapa menggantungkan tamimah, maka dia telah berbuat syirik.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hudzaifah, bahwa ia melihat seorang laki-laki ditangannya ada benang benang untuk mengobati sakit panas, maka dia putuskan benang itu seraya membaca Firman Allah Subhanahu Wata’ala, “Dan Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah , melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan-sesembahan yang lain).”

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 jam lalu
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Tafsir Al-furqan: 47

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:47)Tema: TANDA-TANDA KEKUASAAN ALLAH DALAM ALAM (Ayat 45-62)Firman Allah subhanahu wata'āla:Dialah yang menjadikan untuk kalian malam (sebagai) pakaian. (Al-Furqan:47)Maksudnya, menyembunyikan wujud dan menutupinya. Sama dengan yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). (Al-Lail: 1)Adapun firman Allah subhanahu wata'āla:dan tidur untuk istirahat. (Al Furqaan:47)Yaitu menghentikan semua gerakan untuk istirahat agar tubuh menjadi segar kembali. Karena sesungguhnya semua anggota tubuh dan panca indra mengalami kelelahan akibat banyak bergerak dalam melakukan aktivitas di siang hari mencari penghidupan. Apabila malam hari tiba dan suasana menjadi tenang, maka menjadi tenang pula semua gerakan dan beristirahat, lalu datanglah rasa kantuk, kemudian tertidur. Tidur merupakan istirahat bagi tubuh dan roh sekaligus.dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (Al Furqaan:47)Manusia melakukan aktivitasnya di siang hari untuk mencari peng­hidupannya lewat usaha serta kerjanya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk kalian malam dan"" siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari), (Al-Qasas: 73), hingga akhir ayat.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 jam lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Sedekahkan 1 dapatkan 700 kali lipat

Anas berkata, “Bila Rasulullah dimintai sesuatu atas nama Islam, pasti beliau memberinya. Pernah ada seorang lelaki menemui beliau, lalu beliau memberinya sejumlah besar kambing yang ada di antara dua gunung. Lalu orang tersebut pulang ke kaumnya seraya berkata, “Wahai kaumku, masuklah Islam, karena Muhammad telah memberiku suatu pemberian layaknya orang yang tidak takut miskin.” (HR. Muslim)Rasulullah ﷺ sangat dermawan dan murah hati. Itulah akhlak beliau. Bila memberi suatu, beliau seperti orang yang tidak takut kefakiran. Pernah suatu ketika, beliau bersabda pada bendaharanya, Bilal, yang artinya. “Infakkanlah, hai Bilal. Jangan takut Pemilik 'Arsy akan mengurangi (harta),” sabda beliau kepada Bilal. (HR. al-Bazzâr, ath-Thabarâni, dan al-Baihaqi)Beliau ﷺ juga pernah bersabda, yang artinya: “Berinfaklah, niscaya Allah mencukupimu.” (HR. ath-Thabarâni dalam al-Ausath, dari Qais bin Sala’ al-Anshari)

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 jam lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran Ayat 71-72

71 Wahai Ahli Kitab! Mengapa kalian mencampur kebenaran yang diturunkan di dalam kitab-kitab suci kalian dengan kebatilan yang berasal dari diri kalian sendiri, dan menyembunyikan kebenaran dan petunjuk yang ada di dalamnya, termasuk mengenai kebenaran kenabian Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, padahal kalian tahu mana yang hak dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang sesat?!72 Sekelompok ulama Yahudi (yang lain) mengatakan, “Berimanlah kalian secara lahir kepada Al-Qur'ān yang diturunkan kepada orang-orang mukmin di pagi hari dan kafirlah kepada-Nya di sore hari, agar mereka menjadi ragu terhadap agama mereka karena kalian kafir kepada-Nya setelah kalian beriman kepada-Nya, kemudian mereka akan meninggalkan agama mereka sembari berkata, 'Mereka (Ahli Kitab) lebih tahu daripada kami tentang kitab-kitab Allah, dan mereka sudah meninggalkannya'.”

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 jam lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 86 | Ilmu Allāh ﷻ Telah Mendahului Segala Sesuatu yang Akan Terjadi pada Makhluk-Nya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-86 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَعَلَىٰ العَبْدِDan wajib bagi seorang hamba, setelah itu semuanyaأَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِي كُلِّ كَائِنٍ مِنْ خَلْقِهِkewajiban seorang hamba adalah meyakini bahwasanya Allāh ﷻ telah mendahului ilmu-Nya di dalam segala sesuatu yang terjadi di antara apa yang Allāh ciptakan.Berkaitan dengan ‘ilmullāh, berarti ini martabah yang pertama, hendaklah dia mengetahui bahasanya ilmu Allāh itu mendahului segala sesuatu yang terjadi di dunia. Tidak mungkin terjadi sesuatu kemudian baru di situ dibarengi dengan ilmu Allāh, atau terjadi sesuatu setelahnya baru Allāh ﷻ mengetahui. Ini keyakinan yang bathil.Yang benar, bahwasanya sebelum terjadi segala sesuatu Allāh ﷻ telah mengetahui sesuatu tersebut. Tidak mungkin Allāh ﷻ dalam keadaan tidak tahu apa yang akan terjadi, berdasarkan Firman Allāh ﷻإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(QS. Al-Baqarah: 282)Sesungguhnya Allāh ﷻ Dialah yang mengetahui segala sesuatu, segala sesuatu mencakup yang belum terjadi, maupun yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.فَقَدَّرَ ذَلِكَ بِمَشِيئَتِهِ تَقْدِيرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًاMaka Allāh ﷻ mentakdirkan itu semuanya dengan kehendak Allāh ﷻ, dengan takdir yang kokoh, mubraman ini maknanya hampir sama dengan kokoh, dan ini menunjukkan martabah yang ketiga yaitu bahwasanya segala sesuatu terjadi dengan masyīʾatullāh.Jadi Allāh ﷻ mengetahui, Allāh ﷻ menulis, dan Allāh ﷻ menjadikan sesuatu tadi dengan kehendak-Nya, dan itu semuanya ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, yang muhkam, yang mubram, dengan sedetail-detailnya dan terjadi di waktu sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis.Tidak ada yang meleset meskipun hanya setitik pun. Ini namanya takdiran muhkanan mubraman, dia adalah takdir yang kokoh yang tidak meleset sedikitpun. Semuanya persis dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, seperti yang Allāh ﷻ ketahui, seperti yang Allāh ﷻ tulis dan terjadi dengan masyīʾatullāh.إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ(QS. Yā-Sīn: 82)Semuanya dengan masyīʾatullāh, Sesungguhnya urusan Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu maka tinggal mengatakan ‘كُنْ’ terjadilah apa yang diinginkan oleh Allāh ﷻ.لَيْسَ فِيهِ نَاقِضٌTidak ada di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan sebelumnya, nāqidun yang membatalkan, tidak ada yang bisa membatalkan.وَلَا مُعَقِّبٌtidak ada yang bisa menentang, tidak ada yang bisa membatalkan, tidak ada yang bisa menentangnyaوَلَا مُزِيلٌtidak ada yang bisa menghilangkannya,وَلَا مُغَيِّرٌtidak ada yang bisa merubahnyaوَلَامُحَوِّلٌtidak ada yang bisa memindahnyaوَلَا زَائِدٌ وَلَا نَاقِصٌtidak ada yang bisa menambahnya dan tidak ada yang bisa menguranginya.Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, tidak ada yang bisa merubahnyaمِنْ خَلْقِهِ فِي سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِtidak ada yang bisa melakukan itu semuanya—membatalkan, menghilangkan, merubah, memindahkan, menambah, mengurangi—di antara hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa melakukannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, sampai malaikat sekalipun tidak ada yang bisa merubahnya. Sampai Nabi yang diutus tidak ada yang bisa merubahnya. Itu semuanya sudah ditetapkan oleh Allāh ﷻ. La tabdīl, tidak ada perubahan di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ tulis.وَذَلِكَ مِنْ عَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِDan yang demikian adalah termasuk aqdil (ikatan) iman dan ini adalah termasuk pondasi mengenal, ini adalah termasuk pondasi keimanan, yaitu tentang masalah beriman dengan takdir. Ini termasuk aqidah iman, ini termasuk pondasi, harus ada di dalam diri kita keimanan dengan takdir dengan cara yang sudah kita sebutkan: beriman dengan ilmu Allāh, beriman dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, beriman dengan masyīʾatullāh.Karena ini semua adalah termasuk pondasi keimanan, makanya beriman dengan takdir adalah termasuk arkanul iman, yang dimaksud dengan arkan adalah bagian yang paling penting dari sesuatu. Di antara sekian puluh cabang keimanan, maka iman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah termasuk cabang yang paling tinggi karena dia masuk arkanul iman. Makanya disifati di sini denganعَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِini adalah termasuk pondasi-pondasi dalam mengenal, yaitu dalam beriman.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →