Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Bag-3)Tersibukkan dengan perkara yang kurang utama sehingga meninggalkan perkara yang lebih utamaImam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala berkata:"Setan telah menggoda banyak dari ahli ibadah. Engkau melihat mereka salat malam, salat-salat sunnah di malam hari, salat-salat sunnah di siang hari, tetapi mereka tidak memperhatikan perbaikan batin mereka. Padahal kita tahu bahwa dalam batin ini banyak sekali aib. Mereka juga tidak memperhatikan apa yang mereka makan. Padahal memperhatikan hal-hal tersebut, memperbaiki penyakit-penyakit batin, dan memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi lebih utama daripada memperbanyak salat-salat sunnah."Maksud Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala adalah jangan sampai seseorang sibuk dengan amalan-amalan lahiriah, seperti ibadah-ibadah dan salat sunnah, namun lupa memperbaiki batinnya.Batin kita penuh dengan penyakit yang perlu diperbaiki sedikit demi sedikit dan perlu diobati. Demikian pula jangan sampai seseorang rajin beribadah dan salat, tetapi tidak peduli terhadap apa yang ia makan. Seharusnya ia memperhatikan apakah makanan tersebut berasal dari sumber yang halal atau tidak.Talbis Iblis terhadap ahli ibadah dalam membaca Al-Qur'anmembaca Al-qur'an dengan cepat tanpa tartil.Mereka membaca Al-Qur'an dengan terburu-buru, tidak dibaca perlahan-lahan sebagaimana yang diperintahkan. Tujuannya hanya mengejar target agar cepat khatam.Padahal kondisi seperti ini tidak terpuji.Memang diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa ada yang mengkhatamkan Al-Qur'an dalam sehari, bahkan ada yang mengkhatamkannya dalam satu rakaat, sebagaimana diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan juga Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah.Namun hal itu merupakan perkara yang jarang mereka lakukan. Bukan kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari.Meskipun hal tersebut dibolehkan, membaca Al-Qur'an dengan tartil dan penuh penghayatan tetap lebih disukai oleh para ulama.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Orang yang mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari, maka ia tidak memahaminya."Dari sini kita mengetahui bahwa sebagian salaf memang ada yang mengkhatamkan Al-Qur'an sehari sekali, bahkan ada yang dua kali sehari, khususnya pada bulan Ramadan.Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan bahwa larangan mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari berlaku di luar Ramadan. Adapun pada bulan Ramadan, sebagian salaf mengkhatamkan Al-Qur'an sehari sekali, bahkan Imam Syafi'i rahimahullah diriwayatkan mengkhatamkan Al-Qur'an dua kali sehari.Namun perlu diperhatikan bahwa sulit bagi kita mengqiyaskan diri dengan mereka. Imam Syafi'i sejak usia lima belas tahun sudah menjadi mufti di Makkah. Ketika beliau membaca Al-Qur'an, beliau memahami kandungannya, tafsirnya, dan maknanya.Berbeda dengan kebanyakan kita yang sering membaca tanpa memahami isi yang dibaca.Padahal tujuan utama membaca Al-Qur'an adalah:"Agar mereka mentadabburi ayat-ayat-Nya."Karena itu, maksud Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala adalah agar seseorang berusaha membaca Al-Qur'an untuk dipahami. Dengan pemahaman tersebut, iman akan lebih mudah bertambah dan Al-Qur'an akan lebih mudah diamalkan.Karena itu, selain memperhatikan kuantitas bacaan, yang lebih utama adalah memperhatikan kualitas bacaan.Beberapa niat yang bisa kita hadirkan ketika membaca Al-Qur'an:(1) niat tilawah, karena setiap huruf bernilai sepuluh kebaikan.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."Maka orang yang membaca "Alif Lam Mim" mendapatkan tiga puluh kebaikan.(2) Niat untuk mentadabburi Al-Qur'an.(3) Agar Allah memberikan rahmat kepada kita.(4) Agar Allah memberikan petunjuk kepada kita.(5) Bahkan seseorang boleh berniat untuk meruqyah dirinya sendiri dengan Al-Qur'an.Karena itu, ketika membaca Al-Qur'an hendaknya seseorang mengumpulkan berbagai niat yang baik sehingga bacaannya menjadi berkualitas.Jangan sampai hanya membaca, membaca, membaca, lalu mengejar target satu juz, dua juz, atau khatam, tetapi tidak memperoleh manfaat yang semestinya.Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencela kaum Khawarij.Beliau bersabda:"Mereka membaca Al-Qur'an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka."Artinya bacaan tersebut tidak masuk ke dalam hati mereka. Hanya sebatas lisan.Mereka dicela karena tidak mentadabburi apa yang mereka baca.Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah pernah berkata:"Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan."Agar bisa diamalkan, seseorang harus memahami maknanya terlebih dahulu.Sebagian orang mengira bahwa mengamalkan Al-Qur'an cukup dengan membacanya. Ketika sudah khatam, ia merasa telah mengamalkan Al-Qur'an.Padahal membaca hanyalah tahap awal.Tahap berikutnya adalah tadabbur.Kemudian setelah itu barulah beramal.Nasihat ustadz firanda: mulailah membaca Al-Qur'an dengan tadabbur agar bacaan kita berkualitas dan menambah keimanan. Bacalah perlahan-lahan. Tidak perlu tergesa-gesa. Kalau tidak memahami maknanya, bacalah terjemahannya. Tentu sangat berbeda antara orang yang hanya membaca dengan orang yang membaca sambil memahami.Kemudian Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala berkata:Membaca Alqur'an dengan keras (mengganggu orang lain)Dahulu ada sebagian qari yang membaca Al-Qur'an di menara masjid pada malam hari dengan suara yang sangat keras.Mereka membaca satu juz atau dua juz dengan suara yang ditinggikan sehingga terdengar oleh banyak orang.Menurut Ibnul Jauzi, mereka telah mengumpulkan dua kesalahan sekaligus.Pertama: Mengganggu Orang LainMereka mengganggu orang yang sedang tidur.Tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama. Ada yang sedang beristirahat, ada yang sakit, ada yang membutuhkan tidur agar bisa beraktivitas keesokan harinya.Membaca Al-Qur'an adalah ibadah, tetapi jika dilakukan dengan cara yang mengganggu kaum muslimin maka hal itu menjadi masalah.Kedua: Membuka Pintu Riya'Sulit bagi seseorang yang membaca Al-Qur'an di tempat tinggi dengan suara keras untuk benar-benar aman dari riya'.Sebagian ulama mengkritik kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengganggu kaum muslimin dengan suara bacaan yang diperdengarkan melalui pengeras suara.Misalnya memutar murattal satu atau dua jam sebelum azan Subuh sehingga mengganggu orang yang sedang tidur, orang yang sedang sakit, atau orang yang sedang melaksanakan ibadah lain.Bisa jadi ada orang yang sedang salat malam, sedang berdoa, sedang bermunajat kepada Allah, lalu terganggu oleh suara yang diperdengarkan melalui pengeras suara.Padahal masing-masing sedang beribadah.Karena itu syariat mengajarkan agar seorang muslim tidak mengganggu muslim lainnya, meskipun dengan bacaan Al-Qur'an.Bahkan setelah azan pun, apabila seseorang membaca Al-Qur'an dengan suara keras sehingga mengganggu orang yang sedang salat sunnah, berzikir, atau berdoa antara azan dan iqamah, maka hal tersebut juga tidak dibenarkan.Tujuan ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan mengganggu orang lain yang juga sedang beribadah.Belum lagi jika di dalamnya terdapat unsur riya', ingin didengar, atau ingin dipuji oleh manusia.Karena itu sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Para sahabat tidak melakukan amalan-amalan seperti itu.Mereka adalah generasi yang paling memahami agama dan paling ikhlas dalam beribadah.Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:"Barang siapa ingin meneladani, maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal dunia."Yang beliau maksud adalah para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Karena mereka telah selamat dari berbagai fitnah dan telah terbukti kebaikan mereka.Beliau juga mengatakan:"Ikutilah dan jangan membuat-buat perkara baru, karena kalian telah dicukupkan."Artinya, agama ini telah sempurna. Tidak perlu membuat tata cara ibadah baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.Sebuah kaidah yang dikenal oleh para ulama adalah:"Tidaklah muncul suatu bentuk ibadah yang baru kecuali akan menghilangkan atau mengurangi pelaksanaan sunnah yang telah ada."Contohnya, seseorang membaca Al-Qur'an dengan suara keras di masjid sehingga orang lain tidak bisa melaksanakan salat sunnah dengan khusyuk, tidak bisa berdoa dengan tenang, dan tidak bisa memanfaatkan waktu antara azan dan iqamah sebagaimana mestinya.Akhirnya sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi terganggu oleh amalan yang tidak beliau contohkan.Contoh Riya' yang TersembunyiIbnul Jauzi kemudian menyebutkan sebuah kejadian yang beliau saksikan.Beliau melihat seorang imam yang setelah selesai mengimami salat Subuh pada hari Jumat, kemudian membaca Al-Mu'awwidzatain dan doa khatam Al-Qur'an di hadapan jamaah.Menurut Ibnul Jauzi, perbuatan seperti ini mengandung bahaya yang besar.Karena bisa jadi tujuannya agar orang-orang mengetahui bahwa dirinya baru saja mengkhatamkan Al-Qur'an.Padahal para salaf dahulu justru menyembunyikan ibadah mereka. Mereka tidak suka menampakkan amal-amal saleh kepada manusia. Mereka lebih suka jika amal mereka hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.Ada sebagian salaf yang ketika sedang membaca Al-Qur'an lalu ada tamu datang, ia segera menutupi mushafnya agar tamu tersebut tidak mengetahui bahwa dirinya sedang beribadah.Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau sangat sering membaca Al-Qur'an, tetapi orang-orang tidak mengetahui kapan beliau mengkhatamkannya. Beliau tidak mengumumkan kapan khatam dan tidak mencari perhatian manusia.Karena mereka memahami bahwa riya' adalah salah satu senjata setan yang paling berbahaya dalam merusak amal saleh seseorang.Seseorang bisa saja bersungguh-sungguh beribadah selama berhari-hari atau berminggu-minggu, tetapi kemudian rusak karena keinginan untuk dipuji dan diketahui manusia.Karena itu seorang mukmin harus selalu waspada terhadap talbis iblis dalam perkara keikhlasan.Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah dalam PuasaIbnul Jauzi rahimahullahu ta'ala berkata bahwa setan telah menipu sebagian ahli ibadah dalam masalah puasa.Berpuasa terus menerusAda sebagian orang yang berpuasa terus-menerus sepanjang tahun (puasa dahar), kecuali pada hari-hari yang memang diharamkan untuk berpuasa seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyriq.Sebagaimana diketahui, tingkatan puasa sunnah yang paling tinggi adalah puasa Daud 'alaihis salam, yaitu puasa sehari dan berbuka sehari.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Tidak ada puasa yang lebih utama daripada puasa Daud."Karena itu para ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa dahar.Sebagian ulama memakruhkannya, bahkan ada yang mengharamkannya. Sebagian yang lain membolehkannya dengan syarat tidak berpuasa pada hari-hari yang dilarang.Namun Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa meskipun ada ulama yang membolehkan, tetap terdapat beberapa kekurangan dalam amalan tersebut, diantaranya:(1) Melemahkan diri dari kewajibanPuasa terus-menerus dapat menyebabkan seseorang menjadi lemah.Akibatnya ia bisa kesulitan mencari nafkah untuk keluarganya, padahal mencari nafkah merupakan kewajiban yang besar nilainya di sisi Allah.Selain itu, puasa yang terus-menerus juga dapat menyebabkan seseorang tidak mampu memenuhi hak-hak istrinya.Seorang istri memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi oleh suaminya. Jika seseorang melemahkan dirinya dengan ibadah sunnah yang berlebihan sehingga hak-hak wajib terabaikan, maka ini merupakan kekeliruan.(2) Kehilangan keutamaan yang lebih utamaRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud 'alaihis salam.Beliau bersabda:"Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari."Dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma disebutkan bahwa beliau ingin memperbanyak puasa dan ibadah.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian menasihatinya.Awalnya beliau diperintahkan berpuasa tiga hari setiap bulan.Namun Abdullah bin Amr mengatakan bahwa dirinya mampu melakukan yang lebih dari itu.Maka Rasulullah meningkatkan anjurannya sedikit demi sedikit hingga akhirnya beliau bersabda:"Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itulah puasa Daud dan tidak ada yang lebih utama daripada itu."Hadits ini menunjukkan bahwa ketika seseorang mencari bentuk puasa yang paling utama, maka jawabannya adalah puasa Daud.Bagaimana dengan para salaf yang berpuasa tiap hari?Ibnul Jauzi menjawab bahwa mereka memiliki kondisi yang berbeda.Sebagian dari mereka mampu menggabungkan seluruh kewajiban dengan ibadah tambahan tersebut.Sebagian lagi melakukannya pada akhir usia mereka ketika tanggung jawab sudah jauh berkurang.Namun demikian, hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tetap menjadi pedoman utama.Beliau telah bersabda:"Tidak ada yang lebih utama daripada puasa Daud."Karena itu, ketika terdapat perkataan atau amalan sebagian ulama yang berbeda dengan petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah keutamaan, maka petunjuk Nabi lebih didahulukan.Ibnul Jauzi juga menyebutkan bahwa ada orang-orang sebelum kita yang memaksakan diri dalam ibadah hingga akhirnya mengalami gangguan kesehatan.Ada yang penglihatannya melemah, ada yang fisiknya rusak karena memaksakan sesuatu yang berada di luar kemampuannya.Padahal Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.Karena itu, ibadah bukanlah sarana untuk menyiksa diri.Bila seseorang sakit, lemah, atau tidak mampu, maka syariat memberikan keringanan.Bahkan puasa Ramadan sekalipun memiliki rukhsah bagi orang yang sakit atau tidak mampu.Maka puasa sunnah lebih layak lagi untuk tidak dipaksakan ketika seseorang tidak mampu menjalankannya.Riya' yang tersembunyiBeliau menjelaskan bahwa kadang-kadang seseorang terkenal di tengah masyarakat sebagai ahli ibadah.Misalnya terkenal selalu berpuasa.Ia mengetahui bahwa orang-orang mengenalnya dengan sifat tersebut.Suatu hari ia tidak berpuasa karena suatu alasan.Namun ia berusaha menyembunyikan keadaan itu agar orang lain tetap mengira bahwa dirinya sedang berpuasa.Menurut Ibnul Jauzi, ini termasuk bentuk riya' yang sangat halus.Mengapa?Karena yang dijaga bukan lagi ibadahnya, tetapi citra dirinya di hadapan manusia.Seandainya ia benar-benar ingin menyembunyikan amalannya, maka tidak masalah jika orang lain mengetahui bahwa pada hari itu ia tidak berpuasa.Sebab tujuan seorang mukmin adalah mencari ridha Allah, bukan menjaga reputasi ibadah di hadapan manusia.Inilah salah satu pintu riya' yang sangat tersembunyi dan sering tidak disadari oleh banyak orang.Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala melanjutkan bahwa di antara manusia ada yang menceritakan ibadahnya kepada orang lain.Misalnya ia berkata:"Saya sudah dua puluh tahun tidak pernah berbuka."Maksudnya, ia ingin memberitahukan bahwa dirinya selalu berpuasa.Lalu setan datang membisikkan syubhat kepadanya:"Engkau hanya menceritakannya agar menjadi teladan bagi orang lain."Padahal Allah lebih mengetahui isi hati seseorang.Karena itu seorang mukmin harus sangat berhati-hati.Bisa jadi seseorang mengira dirinya sedang mengajak kepada kebaikan, padahal dalam hatinya terdapat keinginan agar dipuji, dihormati, dan dikagumi.Sebagian orang bahkan memerintahkan murid-murid atau pengikutnya untuk menceritakan ibadahnya kepada orang lain.Mereka menceritakan sedekahnya, tawaduknya, qiyamul lailnya, puasanya, dan berbagai amal salehnya.Kemudian kisah-kisah itu disebarluaskan.Padahal para salaf justru berusaha menyembunyikan amal-amal mereka.Mereka khawatir amal tersebut tercampuri oleh riya'.Abu Hazim rahimahullah berkata:"Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan dosa-dosamu."Kalimat ini menunjukkan betapa besar perhatian para salaf terhadap keikhlasan.Sebagian ulama salaf menjelaskan bahwa seseorang mungkin melakukan suatu amal dalam keadaan tersembunyi.Tidak ada yang mengetahui amal tersebut selain Allah.Kemudian setan terus menggodanya hingga akhirnya ia mulai menceritakan amal tersebut kepada orang lain.Akibatnya, pahala amal yang semula tercatat sebagai amal tersembunyi berpindah menjadi pahala amal yang tampak.Padahal amal yang tersembunyi memiliki keutamaan yang lebih besar daripada amal yang diketahui manusia.Karena itu para salaf sangat menjaga rahasia antara mereka dan Allah.Mereka tidak merasa aman dari riya', walaupun mereka adalah orang-orang yang sangat ikhlas.Jika para salaf yang begitu mulia saja takut terhadap riya', lalu bagaimana dengan kita?Maka sungguh aneh apabila seseorang begitu mudah menampakkan seluruh amalnya sementara para salaf justru bersungguh-sungguh menyembunyikannya."Hari Ini Kan Hari Kamis"Ibnul Jauzi menyebutkan contoh lain dari riya' yang sangat halus.Ada orang yang terbiasa berpuasa Senin dan Kamis.Kemudian suatu hari ia diajak makan.Ia tidak langsung mengatakan, "Saya sedang berpuasa."Tetapi ia menjawab:"Hari ini kan hari Kamis."Kalimat ini seakan-akan ingin memberitahukan kepada orang lain bahwa dirinya memiliki kebiasaan berpuasa Senin dan Kamis.Menurut Ibnul Jauzi, justru lebih baik jika ia mengatakan secara langsung:"Saya sedang berpuasa."Karena dengan ucapan tersebut orang lain belum tentu mengetahui bahwa itu adalah kebiasaan rutinnya.Adapun ketika ia berkata, "Hari ini kan hari Kamis," seolah-olah ia sedang menunjukkan amalan khusus yang biasa ia lakukan.Inilah tipisnya jalan riya'.Terkadang seseorang tidak menyadarinya sama sekali.Merendahkan Orang yang Tidak BerpuasaDi antara bentuk talbis iblis yang lain adalah ketika seseorang berpuasa lalu memandang rendah orang yang tidak berpuasa.Ia merasa dirinya lebih baik.Ia meremehkan orang lain karena tidak menjalankan puasa sunnah sebagaimana dirinya.Padahal bisa jadi orang yang tidak berpuasa tersebut memiliki amalan lain yang lebih besar nilainya di sisi Allah.Bisa jadi ia lebih berbakti kepada orang tua.Bisa jadi ia lebih banyak bersedekah.Bisa jadi ia lebih menjaga lisannya.Sedangkan orang yang berpuasa justru terjatuh dalam kesombongan.Karena itu, ibadah seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin merasa tinggi.Puasa Tetapi Melalaikan Tujuan PuasaIbnul Jauzi juga menyebutkan bahwa ada orang yang berpuasa tetapi tidak peduli dengan makanan yang ia konsumsi.Ia tidak memperhatikan apakah makanannya halal atau syubhat.Ada pula yang berpuasa tetapi lisannya tetap digunakan untuk ghibah.Ada yang berpuasa tetapi pandangannya tetap digunakan untuk melihat hal-hal yang haram.Ada yang berpuasa tetapi tetap sibuk dengan perkataan yang sia-sia.Padahal hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus.Puasa juga bertujuan menjaga lisan, menjaga pandangan, menjaga pendengaran, dan menjaga hati dari berbagai dosa.Namun setan menipu sebagian manusia.Ia membuat mereka merasa bahwa selama mereka berpuasa, maka dosa-dosa tersebut tidak menjadi masalah.Padahal semua itu termasuk talbis iblis.KesimpulanKarena itu seorang muslim hendaknya selalu waspada ketika beribadah.Jangan sampai ibadah yang telah dilakukan dengan susah payah rusak karena riya', ujub, atau berbagai tipu daya setan yang sangat halus.Pada akhirnya kita akan kembali kepada Allah sendirian.Yang akan menyelamatkan kita bukanlah pujian manusia, bukan pula sanjungan mereka.Yang akan menyelamatkan kita adalah amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.Maka jangan terlalu peduli dengan pujian manusia dan jangan pula sibuk mencari pengakuan mereka.Yang terpenting adalah beribadah dengan benar dan berusaha menjaga keikhlasan.Sungguh pintu-pintu riya' sangat banyak dan sangat samar.Karena itu seorang hamba harus terus memohon pertolongan kepada Allah agar dijaga dari tipu daya setan dan diberikan keikhlasan dalam seluruh amal ibadahnya.