Talbis Iblis #4 Penganut Reinkarnasi dan Sekte Khawarij
Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 5 (Bagian 3)Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A.Tema: Talbis Iblis terhadap Penganut Reinkarnasi dan Sekte KhawarijBAGIAN I: Talbis Iblis dalam Paham Reinkarnasi (Tanasukhal-Arwah)Kita melanjutkan bahasan dari kitab Talbis Iblis karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala. Pada bagian ini, kita akan melewatkan beberapa pembahasan yang terlalu rumit dan berfokus pada perkara-perkara yang penting untuk kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari sub-bab talbis Iblis terhadap orang-orang yang berpendapat tentang reinkarnasi (tanasukh).A. Konsep Pembalasan: Islam vs ReinkarnasiDi dalam Islam, paham reinkarnasi sama sekali tidak dikenal. Islam memiliki konsep pembalasan yang pasti, jelas, dan gamblang di dalam Al-Qur'an maupun hadis. Pembalasan tersebut dimulai sejak di dunia, dilanjutkan di alam barzakh (kubur), dan puncaknya berada di alam akhirat kelak melalui hari kebangkitan, Yaumul Hisab (hari perhitungan), dan Mizan (penimbangan amal).Sebaliknya, paham reinkarnasi yang banyak tersebar di India meyakini bahwa manusia yang mati akan dihidupkan kembali ke dunia dalam kehidupan berikutnya dengan wujud yang berbeda, tergantung akumulasi amalnya (karma):Jika ia berbuat baik di kehidupan sekarang, ia akan lahir kembali dalam strata sosial atau kondisi fisik yang jauh lebih baik.Jika ia berbuat buruk, ia akan lahir kembali dalam kondisi yang menderita, bahkan bisa menjelma menjadi hewan-hewan yang hina.B. Bantahan Logis terhadap Paham ReinkarnasiBantahan terhadap konsep reinkarnasi sebenarnya sangat sederhana: Esensi dari sebuah pembalasan adalah kesadaran. Seseorang harus ingat dan sadar mengapa ia diberi balasan, agar ia bisa merasakan kebahagiaan atas kebaikannya atau penyesalan atas keburukan masa lalunya.Kenyataannya, tidak ada satu pun manusia di atas muka bumi ini yang mampu mengingat kehidupan masa lalunya. Jika tidak ada yang ingat, maka konsep pembalasan melalui reinkarnasi ini menjadi tidak ada faedahnya sama sekali.C. Syubhat yang MenyesatkanAl-Imam Ibnul Jauzi menukil perkataan Abul Qasim Al-Balkhi mengenai awal mula masuknya syubhat reinkarnasi ini. Tokoh-tokoh pemikir reinkarnasi merasa bingung ketika melihat anak-anak kecil yang lahir cacat atau mengalami sakit sakral. Logika mereka berkata: "Tidak mungkin Tuhan menyiksa anak kecil yang tidak punya dosa hanya untuk menguji orang tuanya. Ini pasti akibat dari dosa yang dilakukan anak tersebut pada kehidupannya yang sebelumnya." Dari sinilah Iblis mengunci akal mereka dalam kesimpulan keliru.Ibnul Jauzi juga memaparkan salah satu varian konsep reinkarnasi yang sangat aneh: Jika seseorang mati, ruhnya akan mampir ke sayur-sayuran, lalu sayur itu dimakan manusia, masuk ke perut wanita, baru lahir kembali menjadi manusia (jika ia baik). Jika ia buruk, ruhnya akan mampir ke serangga, dimakan hewan lain, hingga lahir sebagai hewan, dan baru bisa kembali menjadi manusia setelah 1.000 tahun.D. Kisah-Kisah Satir Seputar ReinkarnasiPaham reinkarnasi ini rupanya sempat menyusup ke sebagian kaum muslimin yang terpengaruh, termasuk ke dalam sekte Syiah ekstrem. Abu Bakar bin Jauras mengisahkan bahwa ia pernah bertemu dengan seorang penganut Syiah yang sudah terpengaruh paham reinkarnasi (tanasukh).Orang tersebut sedang duduk sambil mengusap-usap dan menggaruk bagian di antara kedua mata seekor kucing hitam. Ketika diusap, kucing tersebut mengeluarkan air mata. Menyaksikan hal itu, si pemilik kucing ikut menangis tersedu-sedu.Abu Bakar bertanya: "Kenapa engkau menangis?" Si Pemilik Kucing menjawab: "Celaka engkau! Kucing hitam ini sebenarnya adalah reinkarnasi dari ibuku. Ketika aku mengusapnya, ia menangis karena melihatku dan menyesali masa lalunya." Ia pun mulai mengajak kucing tersebut mengobrol seolah-olah si kucing paham. Kucing itu pun mengeong lirih. Abu Bakar bertanya lagi: "Apakah kucing itu paham ucapanmu?" Si Pemilik Kucing menjawab: "Ya, dia paham." Abu Bakar membalas dengan telak: "Lalu, apakah engkau paham arti keongannya?" Si Pemilik Kucing menjawab: "Tidak." Abu Bakar menyindir: "Kalau begitu, kamulah yang sebenarnya menjadi hewan, dan ibumu/kucing itu yang menjadi manusianya (karena dia paham kamu, sedangkan kamu tidak paham dia)!"Di era modern, khurafat ini masih terjadi. Ada orang yang mengubah total gaya hidupnya menjadi boros dan bernafsu mencari banyak selir hanya karena dukun atau paranormal mengatakan bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari seorang Sultan pada abad masa lalu. Di dalam Islam, semua ini adalah khurafat batil; orang yang mati mutlak masuk ke alam barzakh, bukan kembali ke dunia.BAGIAN II: Talbis Iblis pada Sekte KhawarijKita beralih pada bab berikutnya, yaitu Dzikru Talbisihi 'ala Al-Khawarij (Penyebutan tentang Talbis Iblis terhadap kaum Khawarij). Khawarij adalah firqah (sekte) pertama yang muncul di dalam Islam. Cikal bakalnya sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ, namun mereka baru menjelma menjadi sebuah gerakan bersenjata pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.A. Akar Penyakit Khawarij: Ujub dan EkstremismePintu masuk talbis Iblis kepada kaum Khawarij adalah sifat ujub (bangga diri) terhadap ketakwaan dan kuantitas ibadah sendiri, yang dibarengi dengan sifat su'udzon (buruk sangka) yang akut kepada orang lain.Setan menggoda manusia dari dua sisi: jika seseorang malas, setan akan menjerumuskannya ke dalam maksiat dan syahwat. Namun jika seseorang rajin beribadah, setan akan menjerumuskannya ke dalam sikap ghuluw (ekstrem/berlebih-lebihan) dalam beragama, hingga ia merasa ibadah orang lain tidak ada apa-apanya dan mudah mengkafirkan sesama muslim.B. Cikal Bakal di Zaman Nabi ﷺ: Protes Dzul KhuwaisirahPelopor pertama pemikiran Khawarij adalah seorang pria bernama Dzul Khuwaisirah At-Tamimi. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri, dikisahkan bahwa Rasulullah ﷺ sedang membagikan harta rampasan (fai') kepada empat tokoh mualaf Arab Badui (di antaranya Aqra' bin Habis dan 'Uyaynah bin Hishn) untuk melunakkan hati mereka.Melihat hal itu, Dzul Khuwaisirah datang dengan ciri-ciri fisik: matanya cekung ke dalam, dahinya menonjol, jenggotnya lebat, sarungnya diangkat tinggi, dan kepalanya botak. Ia dengan lancang memprotes Nabi ﷺ:"Bertakwalah kepada Allah, wahai Muhammad! Berbuat adillah!"Rasulullah ﷺ menegurnya dengan keras: "Woe kepada dirimu! Siapa lagi yang akan berbuat adil di atas muka bumi ini jika aku saja tidak berbuat adil? Bukankah aku adalah orang yang paling dipercaya oleh Dzat yang ada di langit?"Khalid bin Walid yang geram langsung meminta izin: "Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang ini!" Namun Nabi ﷺ melarangnya karena pria itu masih mengerjakan shalat. Setelah pria itu pergi, Nabi ﷺ bersabda bahwa kelak dari keturunan atau pemikiran orang ini akan lahir sebuah kaum yang:"Membaca Al-Qur'an namun tidak melewati kerongkongan mereka (hanya di lisan, tidak masuk ke hati). Mereka keluar dari agama secepat anak panah meluncur menembus hewan buruannya. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala."C. Kronologi Kemunculan Khawarij di Masa SahabatPemikiran tersembunyi ini akhirnya meledak menjadi gerakan pemberontakan pada masa Ali bin Abi Thalib akibat rangkaian tragedi politik pasca-wafatnya Utsman bin Affan:Pembunuhan Utsman: Khalifah Utsman dikepung dan dibunuh secara keji oleh para pemberontak saat sedang membaca Al-Qur'an.Perbedaan Ijtihad Ali dan Mu'awiyah: Setelah Ali diangkat menjadi Khalifah ke-4, Mu'awiyah (Gubernur Syam sekaligus kerabat dekat Utsman) menolak membai'at Ali sebelum para pembunuh Utsman ditangkap. Ali bin Abi Thalib berijtihad bahwa penangkapan tidak bisa dilakukan terburu-buru karena jumlah konspirator mencapai ribuan orang dari berbagai kabilah; memaksa menangkap mereka seketika akan menghancurkan stabilitas negara dan memicu perang suku yang lebih masif. Perbedaan ijtihad ini akhirnya menyulut Perang Siffin.Peristiwa Tahkim (Arbitrasi): Di ujung Perang Siffin, pasukan Mu'awiyah mengangkat mushaf di ujung tombak, meminta perang dihentikan untuk berhukum pada Al-Qur'an. Ali menerima perdamaian dan mengirim Abu Musa Al-Asy'ari sebagai perwakilan utusan, sementara Mu'awiyah mengirim 'Amr bin Al-'Ash.D. Keluar dan Memberontaknya Kaum Harura'Keputusan melakukan kesepakatan damai (tahkim) ini memicu kemarahan sekitar 12.000 orang di dalam pasukan Ali. Mereka memisahkan diri dan berkumpul di daerah Harura' (sehingga disebut kaum Haruriyah/Khawarij).Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah, 'Amr bin Al-'Ash, dan Abu Musa Al-Asy'ari dengan alasan: "Tidak ada hukum kecuali hukum Allah (La hukma illa Lillah)!" Mereka adalah orang-orang muda yang bodoh (sufaha'ul asnan), fasih membaca Al-Qur'an namun buta terhadap tafsirnya.Secara fisik dan ibadah, mereka sangat menakjubkan. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa para sahabat pun akan merasa minder jika membandingkan shalat dan puasa mereka dengan khusyuknya kaum Khawarij. Dahi mereka kapalan dan terluka saking seringnya sujud, serta wajah mereka pucat karena terus-menerus terjaga untuk shalat malam. Namun, semua ibadah itu sirna karena akidah mereka rusak.E. Debat Ilmiah Ibnu Abbas melawan KhawarijKetika 6.000 orang Khawarij bersiap mengangkat senjata melawan Khalifah, Ibnu Abbas meminta izin kepada Ali untuk mendatangi dan berdialog dengan mereka. Ibnu Abbas sengaja memakai pakaian Yaman terbaiknya dan merapikan rambutnya.Kaum Khawarij mengkritik: "Kenapa engkau memakai baju bagus ini, wahai Ibnu Abbas?" Ibnu Abbas menjawab: "Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ memakai pakaian terbaik yang lebih bagus dari ini."Ibnu Abbas kemudian menantang mereka: "Aku datang dari sisi para sahabat Nabi, Muhajirin dan Anshar, yang ke atas mereka Al-Qur'an diturunkan, dan mereka lebih paham tafsirnya daripada kalian. Katakan, apa saja 3 kritik kalian kepada Ali?"Kritik 1: Ali menyerahkan urusan agama kepada keputusan akal manusia (perwakilan dua hakim) dalam urusan damai, padahal Allah berfirman hukum hanya milik Allah.Bantahan Ibnu Abbas: Allah justru memerintahkan manusia menjadi hakim dalam urusan sepele, seperti menentukan denda berburu senilai seperempat dirham saat Ihram (QS. Al-Ma'idah: 95) dan urusan mendamaikan suami-istri yang bertengkar (QS. An-Nisa': 35). Jika untuk urusan hewan kemiri dan rumah tangga saja Allah menyuruh manusia menjadi hakim, tentu urusan mendamaikan darah ribuan kaum muslimin jauh lebih utama menggunakan penengah manusia!Kritik 2: Ali berperang di Perang Jamal tetapi tidak menawan wanita dan tidak mengambil ghanimah.Bantahan Ibnu Abbas: "Apakah kalian tega dan berani menjadikan ibunda kalian, Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu 'anha, sebagai budak tawanan perang lalu kalian halalkan penahanannya? Jika kalian mengatakannya halal, kalian kafir karena menghina istri Nabi!"Kritik 3: Ali menghapus gelarnya sebagai "Amirul Mukminin" saat menulis surat perjanjian damai dengan Mu'awiyah.Bantahan Ibnu Abbas: Saat Perjanjian Hudaybiyyah, kaum musyrik Quraisy menolak nama "Muhammad Rasulullah" ditulis di draf surat. Maka Rasulullah ﷺ sendiri yang mengalah dan menghapus gelar "Rasulullah" lalu menggantinya dengan "Muhammad bin Abdillah" demi tercapainya perdamaian. Apakah kalian ingin mengatakan Rasulullah bukan Rasul lagi saat nama itu dihapus?Mendengar hujah yang sangat cerdas ini, 2.000 orang Khawarij langsung bertobat dan kembali ke pasukan Ali, sementara sisanya tetap bertahan dalam kesesatan.F. Kekejaman Khawarij dan Tragedi Pembunuhan AliSisa kaum Khawarij yang keras kepala ini mulai melakukan pertumpahan darah. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan sahabat Nabi bernama Abdullah bin Khabbab bin Al-Arat yang sedang bersama istrinya yang hamil. Mereka menanyakan hadis tentang fitnah, dan Abdullah menjawab bahwa Nabi ﷺ menyuruh untuk menjadi hamba Allah yang terbunuh, bukan yang membunuh saat fitnah terjadi.Mendengar hal itu, mereka justru menyeret Abdullah ke pinggir sungai dan menyembelihnya secara keji. Tidak sampai di situ, mereka juga membelah perut istrinya yang sedang hamil dan membunuh bayi di dalamnya. Tragedi berdarah inilah yang memaksa Ali bin Abi Thalib membawa pasukannya untuk menumpas mereka di Perang Nahrawan.Pasukan Khawarij yang tersisa kemudian melarikan diri dan merencanakan konspirasi gelap di Makkah. Tiga orang dari mereka—Abdurrahman bin Muljam, Al-Burak bin Abdillah, dan Amr bin Bakr—berjanji untuk membunuh tiga tokoh secara serentak pada bulan Ramadan: Ali di Kufah, Mu'awiyah di Syam, dan 'Amr bin Al-'Ash di Mesir.Hanya Abdurrahman bin Muljam yang berhasil menjalankan misinya. Ia bersembunyi di Kufah dan menikam kepala Ali bin Abi Thalib dengan pedang yang telah direndam racun selama sebulan penuh, tepat saat Ali sedang berjalan keluar untuk mengimami shalat subuh. Khalifah Ali pun syahid akibat luka tersebut.G. Ironi Puncak Kesesatan Kaum KhawarijSetelah Ali wafat, Abdurrahman bin Muljam ditangkap untuk dieksekusi oleh Abdullah bin Ja'far. Proses eksekusinya sangat mengerikan:Kedua tangan dan kedua kakinya dipotong satu per satu. Bin Muljam diam dan tidak berteriak sedikit pun.Kedua matanya dicungkil menggunakan besi panas yang membara. Ia tetap tenang, tidak mengeluh, bahkan terus melantunkan Surah Al-'Alaq dengan khusyuk hingga selesai sementara darah mengalir dari wajahnya. Orang yang melihatnya pasti akan mengira dia adalah seorang wali Allah yang karamah.Namun, ketika algojo bersiap untuk memotong lidahnya, Bin Muljam mendadak panik, ketakutan, dan berteriak histeris.Ketika ditanya kenapa ia mendadak takut dipotong lidahnya, ia menjawab:"Aku tidak takut mati, tapi aku takut jika aku harus melewati satu detik pun di dunia ini dalam kondisi lidahku tidak bisa berdzikir mengingat Allah!"Inilah sejujurnya puncak dari talbis Iblis yang paling mengerikan di atas muka bumi. Seorang pembunuh menantu Rasulullah, pembunuh Khalifah rasyidin, merasa dirinya begitu suci hingga takut melewatkan waktu tanpa berdzikir kepada Allah di ujung kematiannya. Pantaslah jika Rasulullah ﷺ memberi mereka predikat seburuk-buruknya makhluk di bawah naungan langit: Kilabun Naar (Anjing-anjing Penghuni Neraka Jahanam).















