Bagian 1: Talbis Iblis Terhadap Penganut Reinkarnasi (Tanasukh)1. Konsep Pembalasan dalam Islam vs ReinkarnasiDalam Islam tidak ada konsep reinkarnasi. Islam mengenal konsep pembalasan yang gamblang: dimulai di dunia, berlanjut di alam barzakh (kubur), dan puncaknya di alam akhirat pada Hari Kebangkitan (Yaumul Hisab & Yaumul Mizan).Konsep Reinkarnasi (banyak tersebar pemahaman di India): Meyakini bahwa jika seseorang mati sebelum sempat membalas kebajikan atau keburukannya, ruhnya akan lahir kembali ke dunia dalam kehidupan berikutnya.Jika berbuat baik, akan lahir dalam strata/kondisi yang lebih baik.Jika berbuat buruk, akan lahir dalam kondisi hina atau bahkan menjelma menjadi hewan.2. Bantahan Logis & Syariat terhadap ReinkarnasiTidak Ada Faedahnya: Hakikat pembalasan seharusnya membuat pelaku sadar dan ingat akan dosa atau jasanya di masa lalu agar ia bisa merasakan keadilan tersebut. Kenyataannya, tidak ada satu pun manusia yang ingat kehidupan masa lalunya.Syubhat Penganut Reinkarnasi: Dari perkataan Abul Qosim al-Balkhi, paham ini muncul karena kebingungan melihat anak bayi/hewan yang lahir cacat atau kesakitan padahal tidak punya dosa. Iblis membisikkan syubhat bahwa penderitaan anak tersebut adalah akibat dosanya di kehidupan sebelumnya.Tahapan dan Proses Reinkarnasi Menurut Penganut ReinkarnasiImam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa konsep reinkarnasi tidak seragam. Penganutnya sangat banyak dan masing-masing kelompok memiliki model atau detail teorinya sendiri. Konsep yang dirangkum oleh Ibnu Jauzi belum tentu persis sama dengan penganut reinkarnasi dari agama lain (seperti di India), ataupun kelompok sekte Islam yang ikut terpengaruh paham ini.Inti yang disepakati adalah ketika seseorang meninggal dunia, ruhnya tidak menetap di alam barzakh, melainkan berpindah ke alam lain untuk kemudian bersiap lahir kembali ke dunia.Dua gambaran utama kondisi ruh tersebut berdasarkan akumulasi perbuatan di kehidupan sebelumnya:Jalur untuk Ruh yang Baik (Jiwa yang Suci):Ruh orang baik akan keluar dan menetap di suatu alam, lalu berpindah dan bercampur dengan cahaya matahari.Ruh tersebut kemudian hinggap atau masuk ke dalam tumbuh-tumbuhan/sayur-sayuran.Sayur-sayuran tersebut nantinya dimakan oleh manusia, sehingga ruhnya berpindah masuk ke dalam tubuh manusia yang memakannya.Melalui proses biologis (hubungan suami istri), ruh tersebut dimasukkan ke dalam rahim dan dilahirkan untuk kedua kalinya melalui perut seorang wanita.Karena masa lalunya baik, ia dilahirkan kembali dalam kondisi yang baik, baik dari segi strata sosial, ekonomi yang mapan, maupun fisik tubuh yang sempurna.Jalur untuk Ruh yang Buruk (Jiwa yang Berdosa):Jika seseorang di kehidupan sebelumnya banyak berbuat keburukan, ruhnya akan mampir ke suatu alam tertentu yang tingkatannya rendah.Ruh tersebut kemudian berubah atau masuk ke dalam tubuh serangga-serangga.Serangga tersebut nantinya dimakan oleh hewan lain (seperti burung atau binatang buas), sehingga ruhnya berpindah ke hewan pemangsa tersebut.Setelah hewan tersebut melakukan perkawinan, ruh tersebut dilahirkan kembali menjadi hewan baru (misalnya menjadi anjing, babi, atau hewan hina lainnya).Menurut konsep yang dicatat Ibnu Jauzi, ruh yang menjelma menjadi hewan ini baru bisa kembali bereinkarnasi menjadi manusia setelah melewati waktu 1.000 tahun.Meskipun detail caranya berbeda-beda, seluruh penganut paham reinkarnasi sepakat pada satu kesimpulan: Kondisi kehidupan manusia yang sekarang (saat ini) adalah hasil mutlak dari perbuatan di kehidupan masa lalunya.Orang yang sekarang lahir miskin, sengsara, atau cacat dianggap sedang menerima balasan karena di kehidupan sebelumnya ia adalah orang jahat.Sebaliknya, orang yang sekarang kaya raya, terpandang, dan berkecukupan dianggap sedang memanen hasil dari kebaikan di kehidupan masa lalunya.Kisah Khurafat Kucing Hitam dan Penganut ReinkarnasiBagian ini menceritakan sebuah riwayat unik yang dinukil oleh Imam Ibnu Jauzi dalam kitabnya dari seorang ulama bernama Abu Bakar Ibnu Valas. Kisah ini menceritakan bagaimana pemikiran reinkarnasi (tanasukh) sempat merembes dan merusak akal sebagian kaum muslimin (khususnya dari kalangan sekte Syiah ekstrem):Abu Bakar Ibnu Valas menceritakan bahwa suatu hari ia mendatangi rumah seseorang yang berpaham reinkarnasi. Di sana, ia mendapati orang tersebut sedang duduk di depan seekor kucing berwarna hitam. Orang tersebut mengusap-usap dan menggaruk-garuk bagian di antara kedua mata si kucing hitam. Keanehan terjadi ketika mata kucing tersebut mulai mengeluarkan air mata (menangis). Melihat kucingnya menangis, orang tersebut seketika ikut menangis dengan sangat sedih. Ketika Abu Bakar Ibnu Valas bertanya, "Kenapa kamu menangis?", orang itu menjawab dengan yakin: "Kucing hitam ini adalah ibuku. Ruh ibuku telah bereinkarnasi menjadi kucing ini!" Ia mengklaim bahwa si kucing menangis karena merasa bersenang-senang sekaligus menyesal (hasrah) saat melihat anaknya yang sekarang merawatnya. Orang itu kemudian mulai mengajak si kucing berbicara seolah-olah hewan tersebut mengerti ucapan manusia.Bantahan Cerdas Abu Bakar Ibnu Valas:Si penganut reinkarnasi mengklaim bahwa kucing itu paham semua omongannya.Kucing itu kemudian mengeluarkan suara erangan kecil (meong). Abu Bakar Ibnu Valas lalu balik bertanya, "Apakah kamu paham arti suara teriakan kucingmu itu?" Orang tersebut menjawab, "Tidak, saya tidak paham."Seketika itu juga Abu Bakar Ibnu Valas menyindirnya dengan telak: "Kalau begitu, kamulah yang sebenarnya bertukar posisi menjadi hewan, dan ibumu (si kucing) itulah yang menjadi manusianya! Karena dia paham bahasamu, sedangkan kamu tidak paham bahasanya."Fenomena Serupa di Zaman Modern & BahayanyaUstadz Firanda mengaitkan kisah klasik tersebut dengan realitas yang ada di masyarakat zaman sekarang:Kisah Kambing di India: Ustadz Firanda menceritakan pengalaman kawannya (seorang mahasiswa asal India saat kuliah di Madinah). Di India, ketika ada seekor kambing atau kucing liar masuk ke dalam rumah, sang pemilik rumah yang menganut paham reinkarnasi akan melarang hewan itu diusir. Mereka akan berkata, "Jangan diusir, ini adalah Om/Paman kami yang baru saja meninggal dunia kemarin dan menjelma menjadi kambing." Akibatnya, hewan tersebut diperlakukan dengan sangat sayang secara berlebihan.Kasus "Reinkarnasi Tokoh Besar/Raja": Ustadz Firanda juga pernah menemui seseorang yang mempercayai ramalan bahwa dirinya adalah hasil reinkarnasi dari seorang Sultan atau Raja yang hidup beberapa abad lalu. Raja tersebut dikisahkan memiliki banyak istri dan permaisuri serta hidup bergelimang kemewahan.Dampak Buruk pada Perilaku: Akibat doktrin khurafat tersebut, orang di zaman sekarang ini mengubah total gaya hidupnya. Ia meniru gaya hidup foya-foya, ingin memiliki banyak selir/wanita, dan berlagak seperti raja masa lalu hanya karena merasa ruhnya sama.Semua fenomena reinkarnasi ini adalah murni khurafat dan tipu daya pikiran yang merusak akal sehat. Dalam aqidah Islam, orang yang sudah meninggal dunia dunianya sudah selesai. Ruh mereka langsung berpindah dan tertahan di alam barzakh, tidak ada yang namanya kembali lagi ke dunia (reinkarnasi), apalagi berkomunikasi atau menjelma menjadi hewan.Kegagalan Konsep Pembalasan pada ReinkarnasiKetidaklogisan Paham Tanasukh: Bukti paling nyata dari kebatilannya adalah tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang mampu mengingat masa lalunya.Hilangnya Esensi Keadilan: Tujuan dari sebuah konsep pembalasan (punishment & reward) adalah agar pelaku sadar mengapa ia dihukum atau diberi hadiah. Jika di kehidupan sekarang seseorang diklaim sedang diazab (misalnya lahir menjadi tikus, kecoak, atau manusia yang cacat dan miskin) akibat dosa masa lalu, namun ia sama sekali tidak ingat apa dosanya, maka konsep pembalasan tersebut menjadi tidak ada faedahnya.Dampak Negatif: Karena tidak ada ingatan sama sekali, manusia tidak akan merasa takut untuk berbuat maksiat sepuas-puasnya di dunia, sebab mereka berpikir kalaupun nanti bereinkarnasi menjadi hewan atau menderita, mereka toh tidak akan mengingat kehidupan saat ini.Keadilan Sempurna dalam Konsep Pembalasan IslamSangat kontras dengan reinkarnasi, Islam menawarkan konsep pembalasan yang sangat logis, adil, dan pasti pada Hari Kebangkitan kelak:Semua Ingatan Dibuka: Pada hari itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengingatkan dan membukakan kembali seluruh ingatan manusia tentang apa saja yang telah mereka perbuat di dunia (Yauma idzin yunatbba'ul insanu bima qaddama wa akhkhar).Penyerahan Catatan Amal: Setiap orang akan dipaksa membaca sendiri buku catatan amalnya tanpa ada yang terlewat. Allah berfirman: "Iqra' kitฤbaka, kafฤ binafsikal-yauma 'alaika แธฅasฤซbฤ" (Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atasmu).Detail dan Transparan: Semua perbuatan, baik yang sekecil zarrah maupun yang besar, semuanya terpampang nyata di dalam kitab tersebut (lฤ yugฤdiru แนฃagฤซrataw wa lฤ kabฤซratan illฤ aแธฅแนฃฤhฤ). Seseorang melihat dengan mata kepalanya sendiri mengapa ia masuk surga atau mengapa ia disiksa di neraka.Pembalasan di mana pelakunya tidak ingat apa yang ia lakukan (seperti klaim reinkarnasi) bukanlah sebuah konsep pembalasan yang benar. Paham reinkarnasi hanyalah khurafat buatan iblis untuk mempermainkan akal manusia dan dijadikan bahan tertawaan oleh mereka.Bagian 2: Talbis Iblis Terhadap Kaum Khawarij1. Karakteristik Khawarij: Ujub dan Ekstrim dalam IbadahKhawarij adalah kelompok/sekte (firqoh) pertama yang muncul dalam sejarah Islam.Iblis menyesatkan mereka bukan lewat jalur maksiat (seperti zina atau khamr), melainkan lewat jalur ketaatan. Mereka dibuat sangat rajin beribadah (shalat malam sampai dahi hitam/luka, rajin puasa hingga wajah pucat).Akibatnya, muncul sifat ujub (merasa diri paling bertakwa) dan su'udzon kepada orang lain. Mereka menganggap jika orang lain melakukan dosa besar atau tidak sejalan dengan mereka, maka orang tersebut otomatis kafir.2. Pelopor Khawarij di Zaman Nabi (Dzul Khuwaishirah)Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu.Konteks Kejadian: Setelah sebuah pertempuran (atau penarikan pajak dari kaum non-muslim), Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam membagikan harta ghanimah atau fai' tersebut khusus kepada empat orang tokoh pemuka Arab.Melihat pembagian tersebut, muncul rasa tidak nyaman di hati sebagian sahabat. Mereka merasa heran mengapa harta tersebut hanya diberikan kepada orang-orang Arab Badui yang baru saja masuk Islam, sedangkan kaum Anshar dan Muhajirin yang sudah lama berjuang justru tidak diberi.Mendengar desas-desus tersebut, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam memberikan jawaban: "Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Padahal aku adalah orang yang dipercaya oleh Zat yang ada di langit (Allah). Kabar dari langit datang kepadaku, baik di waktu pagi maupun sore hari."Penjelasan Ustadz: Nabi shallallahu โalaihi wasallam adalah orang yang paling adil dalam pembagian tersebut. Beliau memberikan harta kepada para mualaf Badui tersebut dengan tujuan ta'liful qulub (melunakkan hati mereka agar iman mereka kokoh). Nabi shallallahu โalaihi wasallam jauh lebih tahu taktik dan maslahat terbaik dalam berdakwah.Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba maju seorang laki-laki yang secara fisik digambarkan sangat khas di dalam hadits:Matanya cekung ke dalam (gairul 'ainain).Tulang pipinya menonjol.Dahinya menonjol/maju ke depan.Jenggotnya sangat lebat.Pakaian/sarungnya digulung tinggi (di atas mata kaki).Kepalanya botak plontos.Pria ini (yang dalam riwayat lain bernama Dzul Khuwaishirah At-Tamimi) dengan berani dan kasarnya memprotes kebijakan Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam di depan umum dengan berkata:"Ittaqillah, ya Muhammad! (Bertakwalah kepada Allah, wahai Muhammad!)" Dan dalam riwayat lain ia berkata: "Berlakulah adil, wahai Muhammad!"Mendengar ucapan lancang dari Dzul Khuwaishirah yang menyuruhnya bertakwa dan berlaku adil, Rasulullah SAW langsung mengangkat kepalanya dan memandang pria tersebut.Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam menegurnya: "Celaka engkau! Bukankah orang yang paling berhak dan paling utama untuk bertakwa kepada Allah di atas muka bumi ini adalah aku?"Setelah ditegur keras oleh Nabi shallallahu โalaihi wasallam, pria tersebut menunjukkan sikap angkuh. Ia bersikap cuek, memalingkan badan, dan langsung berjalan pergi meninggalkan Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam begitu saja.Melihat kelancangan pria tersebut yang berani menghina maksumnya Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam, sahabat Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu merasa geram. Khalid langsung maju menghadap Nabi shallallahu โalaihi wasallam dan meminta izin: "Ya Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang ini!"Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam secara tegas melarang tindakan Khalid bin Walid dan bersabda: "Jangan (kau bunuh dia), karena bisa jadi dia adalah orang yang mendirikan shalat."Khalid kemudian berkata kepada Nabi shallallahu โalaihi wasallam, mencoba meyakinkan: "Ya Rasulullah, betapa banyak orang yang shalat dan mengucapkan dengan lisannya sesuatu yang sebenarnya tidak ada di dalam hatinya (maksudnya, bisa jadi dia adalah orang munafik/kafir yang menyembunyikan kebusukan)."Mendengar argumen Khalid, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam memberikan sebuah kaidah agung dalam syariat: "Sesungguhnya aku tidak diperintahkan oleh Allah untuk memeriksa isi hati manusia, dan tidak pula diperintahkan untuk membelah perut mereka."Cikal bakal Khawarij dimulai saat seorang pria bernama Dzul Khuwaishirah At-Tamimi memprotes pembagian harta (ghanimah) oleh Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam. Pria tersebut berkata secara lancang: "Bertakwalah kepada Allah, wahai Muhammad! Berlakulah adil!" Nabi shallallahu โalaihi wasallam menegurnya dan bersabda bahwa akan muncul dari keturunan/jejak orang ini suatu kaum yang rajin membaca Al-Qur'an, namun Al-Qur'an tersebut tidak melewati kerongkongan mereka (tidak masuk ke hati dan tidak dipahami). Mereka keluar dari agama secepat anak panah menembus hewan buruan.Ciri khas utama mereka: Membunuh sesama umat Islam, membiarkan para penyembah berhala/orang kafir, dan mudah mengkafirkan orang muslimin.3. Munculnya Khawarij secara Massal di Zaman Ali bin Abi ThalibPasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, terjadi perbedaan ijtihad politik antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah, yang memicu Perang Siffin. Ketika kedua belah pihak sepakat melakukan Tahkim (perundingan/damai) menggunakan utusan manusia, sebanyak 12.000 orang memisahkan diri dari pasukan Ali (lalu bersisa 6.000 orang di satu daerah). Mereka inilah yang resmi disebut kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa al-Asy'ari dengan dalil: "Tidak ada hukum kecuali milik Allah" (Inil hukmu illa lillah).4. Diskusi Ibnu Abbas dengan Kaum KhawarijSahabat Nabi, Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), meminta izin kepada Ali untuk berdiskusi dan membantah 3 poin syubhat utama Khawarij:Syubhat 1: Kenapa Ali bin Abi Thalib menjadikan manusia hakim dalam urusan Allah, padahal Allah berfirman "Inil hukmu illa lillahโ (Tidak ada hukum kecuali milik Allah)?Bantahan Ibnu Abbas: Allah Taโala di dalam Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk berhukum pada keputusan dua orang lelaki adil dalam urusan kecil seperti denda berburu kelinci saat ihram, maupun urusan-urusan rumah tangga. Urusan menumpahkan darah umat Islam tentu jauh lebih utama untuk didamaikan lewat perwakilan manusia.Syubhat 2: Ali memerangi pasukan Aisyah di Perang Jamal, kalau yang diperangi tersebut adalah kaum mukminin maka tidak boleh diperangi, kalau mereka kafir kenapa tidak diambil ghanimahnya dan tidak ditawan wanita-wanitanya?Bantahan Ibnu Abbas: Aisyah adalah Ummul Mukminin (Ibunda orang-orang beriman). Apakah kaum Khawarij tega dan berani menjadikan ibunda mereka sendiri sebagai budak wanita tawanan?Syubhat 3: Ali menghapus gelar Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) saat perjanjian damai dengan Mu'awiyah. Kalau dia bukan Amirul Mukminin, berarti dia Amirul Kafirin (Pemimpin Orang Kafir).Bantahan Ibnu Abbas: Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam pun pernah menghapus kalimat "Rasulullah" di belakang namanya saat Perjanjian Hudaibiyah karena ditolak oleh kaum kafir Quraisy, demi tercapainya perdamaian.Hasil Diskusi: Sebanyak 2.000 orang Khawarij bertaubat dan kembali ke pasukan Ali, sementara sisanya tetap membangkang.5. Kekejaman Khawarij & Pembunuhan Ali bin Abi ThalibKaum Khawarij membunuh sahabat bernama Abdullah bin Khabbab dan membelah perut budak wanitanya yang sedang hamil tua hanya karena Abdullah menyampaikan hadits Nabi tentang larangan ikut campur dalam fitnah. Karena tumpahnya darah ini, Ali bin Abi Thalib akhirnya memerangi mereka secara total dalam Perang Nahrawan dimana dalam perang tersebut mereka (kaum Khawarij) kalah.Sisa-sisa Khawarij kemudian berkonspirasi di Mekah untuk membunuh tiga tokoh: Ali, Mu'awiyah, dan Amr bin Ash.Abdurrahman bin Muljam (seorang Khawarij) berhasil menusuk kepala Ali bin Abi Thalib dengan pedang beracun saat beliau hendak shalat subuh hingga wafat.6. Akhir Hayat Tragis Abdurrahman bin MuljamSaat dieksekusi potong tangan, kaki, hingga matanya dipanaskan dengan besi panas, Ibnu Muljam sama sekali tidak berteriak dan terus membaca Al-Qur'an (Surat Al-โAlaq). Orang yang melihatnya bisa saja terkecoh menyangka dia adalah wali Allah.Namun, saat lidahnya hendak dipotong, ia baru ketakutan. Alasannya bukan karena sakit, melainkan ia takut sesaat tidak bisa berdzikir kepada Allah sebelum mati.Kesimpulan: Meskipun tampak luar biasa dalam ibadah, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam menjuluki kaum Khawarij ini sebagai Kilaabun Naar (anjing-anjing penghuni neraka jahanam) karena pemikiran mereka yang ekstrem dan mudah menumpahkan darah kaum muslimin.