### Kisah Ummul Mukminin Juwairiyah Radhiyallahu ‘Anha - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.### 1\. Nasab dan Latar Belakang JuwairiyahJuwairiyah bintu Al-Harits bin Abi Zirar berasal dari Bani Al-Musthaliq, salah satu cabang Kabilah Khuza'ah. Ayahnya, Al-Harits bin Abi Zirar, merupakan pemimpin Bani Al-Musthaliq.Sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ, Juwairiyah adalah istri Musafi' bin Shafwan, seorang tokoh dan ahli perang dari Bani Al-Musthaliq.Kaumnya kemudian berperang melawan pasukan kaum muslimin dalam peperangan yang dikenal dengan dua nama, yaitu Perang Bani Al-Musthaliq atau Perang Al-Muraisi'.Dalam peperangan tersebut, Musafi' bin Shafwan terbunuh, sedangkan ayah Juwairiyah melarikan diri dan Juwairiyah menjadi tawanan.Nama asli Juwairiyah adalah Barrah binti Al-Harits bin Abi Zirar.### 2\. Pernikahan Juwairiyah dengan Rasulullah ﷺSetelah menjadi tawanan, Juwairiyah jatuh ke bagian Tsabit bin Qais bin Syammas. Ia kemudian membuat kesepakatan dengan Tsabit untuk menebus dan memerdekakan dirinya sendiri.Tsabit menetapkan tebusan sebesar 40 uqiyah. Karena tidak mampu membayar tebusan tersebut, Juwairiyah mendatangi Rasulullah ﷺ untuk meminta bantuan.Inilah pertemuan pertama Rasulullah ﷺ dengan Juwairiyah.Juwairiyah adalah seorang wanita yang sangat cantik dan merupakan putri dari pemimpin kaumnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengungkapkan kecemburuannya ketika melihat kecantikan Juwairiyah.Kemudian Rasulullah ﷺ menawarkan:"Apakah engkau ingin aku membayarkan tebusanmu, kemudian aku menikahimu?"Juwairiyah pun menjawab, "Ya, wahai Rasulullah."Akhirnya Rasulullah ﷺ membayarkan pembebasannya dan menikahinya.Dalam riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Juwairiyah adalah wanita yang cantik. Ketika datang menemui Rasulullah ﷺ, ia memperkenalkan dirinya sebagai putri Al-Harits, pemimpin kaumnya, kemudian meminta bantuan untuk menyelesaikan perjanjian pembebasannya.Riwayat kisah pernikahan ini terdapat dalam kitab-kitab sirah, di antaranya Sirah Ibnu Hisyam dan Thabaqat Ibnu Sa'ad.Ada beberapa sisi yang menjadi perhatian dalam pernikahan ini:* Juwairiyah merupakan wanita yang cantik.* Ia telah menerima Islam meskipun sedang berada dalam keadaan sebagai tawanan.* Ia merupakan putri dari pemimpin sebuah kabilah dan berasal dari keluarga terpandang.* Pernikahan ini memiliki hikmah sosial dan politik, yaitu mendekatkan hubungan dengan kerabat Juwairiyah sehingga diharapkan semakin banyak dari mereka yang menerima Islam.Dalam sebagian riwayat sejarah disebutkan bahwa usia Juwairiyah ketika menikah dengan Rasulullah ﷺ sekitar 20 tahun.### 3\. Keberkahan Juwairiyah bagi KeluarganyaSetelah Rasulullah ﷺ menikahi Juwairiyah, berita pernikahan tersebut sampai kepada para sahabat.Saat itu, para sahabat masih menawan banyak kerabat Juwairiyah dari Bani Al-Musthaliq.Mereka kemudian berkata bahwa orang-orang tersebut sekarang merupakan kerabat Rasulullah ﷺ melalui pernikahan. Karena menghormati hubungan tersebut, para sahabat membebaskan tawanan-tawanan yang berada dalam kekuasaan mereka.Disebutkan bahwa ada sekitar 100 keluarga yang dibebaskan karena pernikahan Juwairiyah dengan Rasulullah ﷺ. Banyak dari mereka kemudian masuk Islam.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:فَمَا أَعْلَمُ امْرَأَةً كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً عَلَى قَوْمِهَا مِنْهَا"Aku tidak mengetahui ada seorang wanita yang lebih besar keberkahannya bagi kaumnya daripada Juwairiyah."Riwayat kisah ini disebutkan dalam riwayat Aisyah tentang pernikahan Juwairiyah, yang dibawakan dalam kitab-kitab sirah.Subhanallah, hanya karena pernikahan Juwairiyah, sekitar 100 keluarga mendapatkan kemerdekaan dan menjadi sebab banyak orang menerima Islam.Betapa besar keberkahan yang Allah berikan melalui Juwairiyah.Dari kisah ini kita belajar bahwa setiap anggota keluarga, baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya berusaha menjadi sebab keberkahan bagi keluarganya.Jika kita sudah belajar agama, berusahalah agar anggota keluarga yang lain juga ikut belajar agama.Jika kita memiliki harta, berusahalah membantu kerabat yang membutuhkan. Jika kita tidak memiliki harta tetapi suami memiliki kelapangan rezeki, kita dapat mengajak suami untuk membantu keluarga.Jika ada anggota keluarga yang bertengkar, berusahalah mendamaikan dan menyatukan mereka.Jangan sampai kita hanya menjadi orang yang mendapatkan kebaikan, tetapi berusahalah menjadi orang yang membawa keberkahan bagi keluarga.### 4\. Ayah Juwairiyah Akhirnya Masuk IslamTidak hanya kerabatnya, ayah Juwairiyah, Al-Harits bin Abi Zirar, akhirnya juga masuk Islam.Ketika mendengar putrinya menjadi tawanan, Al-Harits datang ke Madinah dengan membawa banyak unta untuk menebusnya.Namun, dalam perjalanan, ada dua ekor unta yang ia sukai. Ia pun memisahkan dan menyembunyikan kedua unta tersebut di suatu tempat, kemudian melanjutkan perjalanan dengan membawa unta-unta yang lain.Ketika bertemu Rasulullah ﷺ, Al-Harits bermaksud menebus putrinya.Namun, Rasulullah ﷺ bertanya tentang dua ekor unta yang disembunyikannya.Al-Harits terkejut karena tidak ada seorang pun yang mengetahui perbuatannya tersebut selain Allah.Ia kemudian bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.Akhirnya, Al-Harits masuk Islam.Kisah dua ekor unta ini diriwayatkan dalam literatur sirah, di antaranya melalui penuturan Ibnu Ishaq. Kisah ini bukan hadis yang tercantum dalam Shahih Bukhari atau Shahih Muslim.### 5\. Rasulullah ﷺ Mengubah Nama JuwairiyahNama asli Juwairiyah adalah Barrah. Kata Barrah memiliki makna wanita yang baik atau salehah.Namun, Rasulullah ﷺ kemudian mengubah namanya menjadi Juwairiyah.Mengapa nama tersebut diubah?Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan:كَانَتْ جُوَيْرِيَةُ اسْمُهَا بَرَّةَ، فَحَوَّلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اسْمَهَا جُوَيْرِيَةَ، وَكَانَ يَكْرَهُ أَنْ يُقَالَ: خَرَجَ مِنْ عِنْدِ بَرَّةَ"Nama Juwairiyah dahulu adalah Barrah. Kemudian Rasulullah ﷺ mengubah namanya menjadi Juwairiyah. Beliau tidak menyukai jika dikatakan, 'Beliau keluar dari sisi Barrah.'"HR. Muslim no. 2140. Sunnah +1Hal ini karena ungkapan tersebut bisa menimbulkan kesan yang kurang baik, seolah-olah seseorang baru saja keluar dari tempat kebaikan.### 6\. Juwairiyah, Wanita yang Rajin BeribadahJuwairiyah memiliki akhlak yang baik. Setelah dibimbing dengan Islam, ia menjadi sosok wanita yang luar biasa dalam ibadah.Ia dikenal rajin berzikir dan berpuasa.Rasulullah ﷺ pernah mendapati Juwairiyah sedang berzikir dalam waktu yang sangat lama.Dalam sebuah hadis dari Juwairiyah radhiyallahu ‘anha diceritakan:Pada suatu pagi, Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya setelah salat Subuh, sementara Juwairiyah sedang duduk di tempat salatnya.Ketika Rasulullah ﷺ kembali pada waktu Duha, Juwairiyah masih berada di tempat yang sama.Rasulullah ﷺ bertanya:"Apakah engkau masih dalam keadaan seperti ketika aku meninggalkanmu tadi?"Juwairiyah menjawab, "Ya."Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau telah membaca empat kalimat sebanyak tiga kali. Kalimat tersebut memiliki keutamaan yang sangat besar, bahkan jika ditimbang dengan seluruh zikir yang telah dibaca Juwairiyah sejak pagi tadi, niscaya kalimat tersebut akan lebih berat timbangannya.Rasulullah ﷺ bersabda:سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِLatin:Subhanallahi wa bihamdihi, 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'arsyihi, wa midada kalimatihi.Artinya:"Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sejauh keridaan-Nya, seberat timbangan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya."HR. Muslim no. 2726. Ensiklopedia Terjemahan Hadis-hadis Nabi +1Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan zikir tersebut.Hal yang menjadi perhatian kita adalah bahwa Juwairiyah merupakan sosok wanita yang betah berzikir kepada Allah.Untuk bisa betah berzikir kepada Allah membutuhkan iman yang kuat.Betah berzikir artinya seseorang merasa bahagia dan nyaman ketika mengingat Allah. Hal ini tentu membutuhkan latihan dan perjuangan.Kita perlu melatih diri sampai merasa bahagia ketika beribadah kepada Allah.Tentu saja, keadaan setiap orang berbeda. Juwairiyah saat itu tidak memiliki anak dan sedang berada di rumah ketika Rasulullah ﷺ keluar. Adapun seorang ibu yang memiliki pekerjaan rumah dan harus mengurus anak tentu memiliki kesibukan tersendiri.Namun, yang perlu kita teladani adalah bagaimana Juwairiyah mampu memanfaatkan waktunya untuk berzikir kepada Allah.Jangan sampai waktu kita habis untuk hal-hal yang sia-sia.Keuntungan memperbanyak zikir sangatlah besar, di antaranya:* Menjaga diri dari berbagai macam dosa.* Mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan.* Meninggikan derajat di akhirat.* Mendapatkan kemudahan dan kebaikan dari Allah, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.Namun, semua itu membutuhkan iman dan kesungguhan.### 7\. Juwairiyah dan Puasa Hari JumatJuwairiyah juga dikenal rajin berpuasa.Dalam sebuah hadis, Abu Ayyub meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menemui Juwairiyah pada hari Jumat ketika ia sedang berpuasa.Rasulullah ﷺ bertanya:"Apakah engkau berpuasa kemarin?"Juwairiyah menjawab, "Tidak."Beliau bertanya lagi:"Apakah engkau berniat berpuasa besok?"Juwairiyah menjawab, "Tidak."Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:فَأَفْطِرِي"Maka berbukalah."HR. Bukhari no. 1986. Sunnah Beta +1Hal ini berkaitan dengan larangan mengkhususkan puasa pada hari Jumat saja tanpa berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.Rasulullah ﷺ bersabda:لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ"Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali dengan berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya."HR. Bukhari no. 1985. Sunnah +1### 8\. Wafatnya Juwairiyah radhiyallahu ‘anhaJuwairiyah hidup bersama Rasulullah ﷺ hingga beliau wafat.Setelah itu, Juwairiyah masih hidup pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan, hingga masa Muawiyah radhiyallahu ‘anhum.Beliau wafat di Madinah.Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Juwairiyah wafat pada tahun 50 Hijriyah. Ada pula riwayat yang menyebutkan tahun 56 Hijriyah.Usia beliau ketika wafat juga diperkirakan sekitar 60 tahun lebih. Adapun angka pastinya tidak dapat dipastikan karena terdapat perbedaan riwayat mengenai tahun kelahirannya dan tahun wafatnya.Juwairiyah radhiyallahu ‘anha adalah salah satu Ummul Mukminin yang dikenang karena keberkahannya bagi keluarga dan kaumnya serta kesungguhannya dalam beribadah kepada Allah.### 9\. Pelajaran dari Kisah JuwairiyahAda satu pelajaran penting dari kehidupan Juwairiyah radhiyallahu ‘anha, yaitu bagaimana seseorang berusaha melatih dirinya agar bahagia dalam beribadah kepada Allah.Ubah sikap kita yang selama ini merasa bahwa ibadah adalah beban. Cobalah melatih diri agar memandang ibadah sebagai sumber kebahagiaan.Jangan sampai kita hanya bersemangat dalam urusan dunia, tetapi merasa berat ketika harus beribadah kepada Allah.Sisihkan waktu untuk memperbanyak zikir, melatih diri agar terbiasa beribadah, dan menikmati kedekatan dengan Allah.Hidup ini hanya sebentar. Maka, manfaatkan waktu yang Allah berikan untuk memperbanyak amal saleh.