Susy Siswandini
📍 Kota Administrasi Jakarta Barat
KISAH FATIMAH BINTI RASULULLAH
PEMATERI: UST. FIRANDA ANDIRJA1. Keutamaan dan Kemuliaan Fatimah binti Rasulullah• Empat Wanita yang Sempurna: Ustadz menyebutkan hadis tentang wanita yang sempurna di antaranya adalah Asiah (istri Firaun), Khadijah binti Khuwailid, Maryam binti Imran, dan Fatimah binti Muhammad. Mereka merupakan sayidat ahlil jannah (pemimpin para wanita di surga).• Dikelilingi Orang-orang Termulia: Fatimah diliputi dan dibimbing dalam lingkungan yang terbaik, dengan ayah Rasulullah, ibu Khadijah, suami Ali bin Abi Thalib, serta kedua putra beliau (Hasan dan Husain) yang merupakan pemimpin para pemuda di surga.• Kelahiran dan Wafat: Fatimah radhiallahu 'anha lahir sekitar 5 tahun sebelum kenabian (ketika Nabi berusia sekitar 35 tahun) dan wafat pada tahun 11 Hijriah dalam usia sekitar 29 tahun. Beliau adalah putri terakhir Nabi dan satu-satunya anak Nabi yang hidup setelah wafatnya Rasulullah.• Kunyah "Ummu Abiha" dan Gelar "Az-Zahra": Fatimah dikenal di kalangan ulama dengan kunyah Ummu abiha (ibu bapaknya) karena besarnya perhatian dan kasih sayang beliau kepada sang ayah setelah kepergian ibunda Khadijah. Sebagian ahli sejarah juga mensifati beliau dengan Az-Zahra (yang putih dan bersinar), menyamai fisik ayahnya yang berkulit putih dan bercahaya.2. Perjalanan Hidup dan Penderitaan di Makkah• Masa-masa Dakwah dan Ujian: Fatimah menyaksikan suka duka dakwah ayahnya, termasuk ketika para putri Nabi dicerai oleh putra-putra Abu Lahab atas desakan orang-orang Quraisy, serta pemboikotan Bani Hasyim selama kurang lebih 3 tahun di Syi'ib Abi Thalib.• Peristiwa di Sisi Ka'bah: Sekitar tahun 10 atau 11 kenabian (ketika usia Fatimah sekitar 15 tahun), Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diganggu saat salat di sisi Ka'bah, di mana Uqbah bin Abi Mu'aith meletakkan kotoran dan isi perut unta di atas pundak Nabi atas suruhan Abu Jahal.• Ketegaran Fatimah: Melihat ayahnya diganggu, Fatimah yang saat itu masih gadis remaja datang membersihkan kotoran dari pundak ayahnya dan memaki-maki Abu Jahal beserta teman-temannya. Nabi kemudian berdoa agar gembong-gembong Quraisy dibinasakan, yang semuanya terbukti binasa dalam Perang Badar.3. Pernikahan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib• Proses Lamaran: Setelah berhijrah ke Madinah (usia Fatimah sekitar 18 tahun), Ali bin Abi Thalib didorong oleh seorang budak wanita untuk melamar Fatimah. Ali yang sangat segan dan tidak memiliki modal (harta) akhirnya memberanikan diri menemui Nabi.• Mahar Sederhana: Nabi bertanya kepada Ali apakah memiliki sesuatu untuk mahar. Ali hanya memiliki baju perang hutamiah seharga 4 dirham. Dengan mahar tersebut, Nabi langsung menikahkan Ali dengan Fatimah.• Perabot Pernikahan: Pernikahan mereka sangat sederhana. Peralatan rumah tangga yang disiapkan meliputi tempat tidur (bantal dari kulit berisi serabut kurma, alas tidur berupa kulit domba), tempat air dari kulit, dan alat penggiling gandum.• Pelajaran: Pernikahan hendaknya jangan dipersulit, terutama di zaman penuh fitnah agar para pemuda bisa lebih fokus dan selamat dalam menjalani kehidupan.4. Kehidupan Rumah Tangga dan Zikir Pengganti Pembantu• Permintaan Pembantu: Suatu hari Ali merasa sangat letih karena harus menimba air hingga dadanya sakit, sementara tangan Fatimah lecet akibat menggiling gandum. Mereka mendatangi Nabi untuk meminta budak sebagai pembantu rumah tangga.• Penolakan Nabi: Nabi menolak memberikan pembantu karena masih banyak ahlus suffah (sahabat-sahabat miskin yang tinggal di pelataran masjid) yang perutnya kelipatan lapar, dan Nabi harus mendahulukan kepentingan mereka yang lebih membutuhkan.• Pemberian Zikir (Pengganti Pembantu): Nabi mendatangi rumah mereka dan memberikan solusi yang lebih baik daripada pembantu, yaitu membaca zikir sebelum tidur:• Bertasbih 33 kali• Bertahmid 33 kali• Bertakbir 34 kali(Genap 100 kali). Ali bin Abi Thalib menyatakan tidak pernah meninggalkan zikir ini sejak diajarkan oleh Rasulullah hingga akhir hayatnya, bahkan dalam kondisi perang yang berat sekalipun.5. Menyikapi Problematika Rumah Tangga• Kisah Ali Tidur di Masjid: Suatu siang Nabi mendatangi rumah Fatimah dan mendapati Ali tidak ada di rumah. Ketika ditanya, Fatimah menjawab bahwa sempat terjadi masalah di antara mereka yang membuat Ali marah lalu pergi.• Metode Nabi Menghadapi Masalah: Nabi tidak memperdalam atau memperpanjang masalah (tidak kepo/menanya-nanyakan detail pertengkaran). Nabi justru mencari Ali yang sedang tidur di masjid dengan badan penuh tanah (karena selendangnya jatuh).• Abu Turab: Nabi membersihkan tanah dari pundak Ali sambil bercanda memanggilnya "Abu turab" (bapak tanah). Ali sangat menyukai panggilan ini karena mengingatkan pada momen indah di mana mertuanya tidak membela putrinya secara berlebihan, melainkan mendatangi dan menyayangi mantunya untuk meredakan masalah. Tidak semua permasalahan rumah tangga harus diperjelas secara detail, terkadang cukup didiamkan agar masalah tersebut hilang dengan sendirinya.






