Kisah Fatimah Binti Rasulullah SAW - Part 2*1. Perang Uhud*Peristiwa bersejarah saat Fatimah Az-Zahra ikut ke medan perang untuk mengobati ayahnya terjadi pada Perang Uhud (tahun ke-3 Hijriah). Kisah ini menjadi salah satu bukti nyata keberanian, ketenangan, serta ketangkasan medis yang dimiliki oleh putri bungsu Rasulullah SAW tersebut.Kekacauan di Medan UhudPada fase kedua Perang Uhud, pasukan Muslimin mengalami situasi yang sangat kritis akibat serangan balik mendadak dari kaum kafir Quraisy. Di tengah kekacauan itu, Nabi Muhammad SAW terluka parah. Wajah beliau bersimbah darah, kepala beliau terluka, dan gigi depan beliau patah.Mendengar kabar buruk mengenai kondisi ayahnya, Fatimah bersama sekelompok wanita Madinah (termasuk bibi Nabi, Shafiyyah) bergegas menuju bukit Uhud dengan kecemasan yang luar biasa.Aksi Medis Fatimah dan Ali bin Abi ThalibSetibanya di medan perang, Fatimah langsung memeluk ayahnya dengan tangis yang tak tertahankan melihat luka-luka beliau. Fatimah kemudian bekerja sama dengan suaminya, Ali bin Abi Thalib, untuk memberikan pertolongan pertama:Membasuh Luka dengan Air: Ali bin Abi Thalib mengambil air menggunakan perisainya (atau wadah batu) dan menuangkannya, sementara Fatimah dengan lembut membasuh dan membersihkan darah dari wajah suci Rasulullah.Darah yang Terus Mengucur: Meskipun sudah dibasuh berulang kali, aliran darah dari luka Nabi tidak kunjung berhenti karena lukanya yang cukup dalam. Air justru membuat darah mengalir semakin deras.Inovasi Obat Pendarahan (Kauterisasi Herbal): Melihat situasi tersebut, Fatimah tidak panik. Ia dengan cerdas mengambil potongan tikar yang terbuat dari pelepah daun papirus/kurma kering, lalu membakarnya hingga menjadi abu. Abu hasil pembakaran tersebut kemudian diusapkan dan ditempelkan pada luka Rasulullah. Berkat sifat abu papirus yang mendinginkan dan menyerap cairan, pendarahan pada wajah Nabi akhirnya berhasil dihentikan.*2. Keinginan Ali bin Abi Thalib Berpoligami*Kisah mengenai keinginan Ali bin Abi Thalib untuk berpoligami merupakan salah satu peristiwa yang sangat masyhur dalam sejarah Islam. Peristiwa ini tercatat secara sahih dalam Kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.Awal Mula Rencana PernikahanSetelah beberapa tahun membina rumah tangga yang harmonis bersama Fatimah Az-Zahra, Ali bin Abi Thalib sempat bermaksud untuk meminang putri dari Abu Jahal (yang bernama Juwairiyah atau Al-Aura). Pada masa itu, poligami adalah hal yang umum dan legal secara syariat Islam. Keluarga Abu Jahal pun kemudian mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta izin atas pinangan tersebut.Reaksi Fatimah Az-ZahraKetika kabar pinangan ini sampai ke telinga Fatimah, hatinya merasa sangat terluka dan sedih. Ia segera menemui ayahnya, Rasulullah SAW, sambil menangis dan mengadu:"Kaummu mengira bahwa engkau tidak akan marah untuk membela putri-putrimu. Itulah Ali, dia mau menikah dengan putri Abu Jahal."Ketegasan dan Khutbah Rasulullah SAWMendengar aduan putrinya, Rasulullah SAW langsung menuju masjid, berdiri di atas mimbar, lalu menyampaikan khutbah yang sangat tegas di hadapan para sahabat. Beliau bersabda:"Bani Hasyim bin Mughirah (keluarga Abu Jahal) meminta izin kepadaku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan! Kecuali jika Ali bin Abi Thalib mau menceraikan putriku terlebih dahulu lalu silakan menikah dengan putri mereka. Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku. Apa yang menggelisahkannya akan menggelisahkanku, dan apa yang menyakitinya akan menyakitiku."Nabi SAW juga menambahkan penegasan penting:"Aku tidak mengharamkan sesuatu yang halal dan tidak menghalalkan sesuatu yang haram. Akan tetapi, demi Allah, tidak mungkin berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah pada satu suami selama-lamanya."Alasan Rasulullah SAW MelarangPara ulama menjelaskan beberapa alasan utama di balik larangan khusus dari Rasulullah SAW tersebut:1. Menjaga Perasaan Fatimah & Rasulullah: Menyakiti hati Fatimah sama saja dengan menyakiti hati Rasulullah SAW. Menyakiti Rasulullah adalah perkara yang diharamkan dalam Islam.2. Menolak Persatuan dengan Putri Musuh Allah: Rasulullah SAW tidak rida jika putri pemuka Islam disandingkan dengan putri pemuka kekafiran (Abu Jahal) di bawah atap rumah tangga yang sama.3. Kekhawatiran Fitnah Agama: Nabi khawatir rasa cemburu yang terlalu berat akan memicu fitnah (ujian) terhadap kekhusyukan dan ketaatan beragama Fatimah *3. Menjadi Utusan Ummul Mukminin dalam menyampaikan pesan.*Kisah mengenai Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang menjadi utusan para istri Nabi Muhammad SAW tercantum secara sahih dalam Kitab Sahih Muslim (Hadis No. 2442). Peristiwa ini menggambarkan dinamika kecemburuan yang manusiawi di antara Ummahatul Mukminin (para istri Nabi) serta bagaimana Rasulullah SAW menegaskan rasa cintanya kepada Aisyah RA.Berikut adalah urutan kisah lengkapnya:Latar Belakang: Kecemburuan Para Istri NabiPara sahabat Nabi sangat mengetahui betapa besarnya rasa cinta Rasulullah SAW kepada Aisyah RA. Oleh karena itu, para sahabat sering kali sengaja menahan atau menunda untuk mengirimkan hadiah mereka kepada Nabi, dan baru mengirimkannya ketika mengetahui Rasulullah sedang mendapatkan giliran menginap di rumah Aisyah.Hal ini memicu rasa cemburu dari istri-istri Nabi yang lain. Mereka berkumpul di rumah Ummu Salamah RA dan sepakat untuk meminta keadilan terkait perlakuan atau kecenderungan tersebut.Fatimah Diutus Menghadap RasulullahUntuk menyampaikan kegelisahan tersebut, para istri Nabi sepakat mengutus Fatimah Az-Zahra sebagai perantara. Mereka memilih Fatimah karena tahu bahwa ia adalah putri kesayangan yang paling didengar oleh Rasulullah SAW.Fatimah kemudian mendatangi rumah Aisyah, tempat di mana Rasulullah SAW sedang berbaring berselimut bersama Aisyah. Setelah meminta izin masuk, Fatimah menyampaikan pesan para istri Nabi:"Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istrimu mengutusku untuk memohon keadilan kepadamu demi putri Abu Quhafah (Aisyah)." (Aisyah yang berada di sana memilih diam dan mendengarkan).Jawaban Bijak Rasulullah SAWRasulullah SAW tidak memarahi Fatimah ataupun langsung memperdebatkan tuntutan para istrinya. Beliau justru memberikan pertanyaan yang menyentuh hati putrinya:Rasulullah bertanya: "Wahai putriku, tidakkah engkau mencintai apa yang aku cintai?"Fatimah langsung menjawab tanpa ragu: "Tentu saja, ya Rasulullah."Rasulullah kemudian bersabda: "Maka, cintailah wanita ini (Aisyah)."Mendengar arahan langsung dari ayahnya, Fatimah seketika paham bahwa rasa cinta Nabi kepada Aisyah adalah ketetapan hati yang diridai oleh Allah. Fatimah pun langsung pamit pulang.Sikap Tegas Fatimah SelanjutnyaSetibanya kembali di hadapan para istri Nabi, Fatimah menceritakan semua jawaban yang diberikan oleh Rasulullah SAW.Mendengar cerita itu, para istri Nabi belum merasa puas dan mendesak Fatimah: "Engkau belum menyelesaikan apa-apa untuk kami! Kembalilah lagi menemui Rasulullah." Namun, karena rasa hormat, bakti, dan ketaatannya yang mutlak kepada sang ayah, Fatimah dengan tegas menolak sambil berkata: "Demi Allah, aku tidak akan pernah berbicara kepada beliau tentang hal ini lagi untuk selamanya."(Catatan Sejarah: Setelah Fatimah menolak kembali, para istri Nabi akhirnya mengutus Zainab binti Jahsy RA sebagai utusan kedua untuk menyampaikan keluhan yang sama).Hikmah dari Kisah IniKedekatan Fatimah dan Aisyah: Kisah ini membantah anggapan bahwa Fatimah dan Aisyah memiliki hubungan yang buruk. Justru, Fatimah sangat menghormati posisi Aisyah dan menuruti perintah ayahnya untuk mencintai ibu tirinya tersebut.Kisah mengenai Rasulullah SAW berbisik kepada Fatimah Az-Zahra terjadi pada hari-hari terakhir menjelang wafatnya Rasulullah (tahun 11 Hijriah). Momen emosional ini tercatat secara sahih dalam Kitab Sahih Bukhari (Hadis No. 3624) dan Sahih Muslim, yang diceritakan langsung oleh Aisyah RA yang menyembunyikan rasa penasarannya saat menyaksikan peristiwa tersebut.*4. Peristiwa Menjelang Rasulullah Wafat*Suasana di Kamar RasulullahSaat Rasulullah SAW sedang sakit parah di rumah Aisyah, Fatimah datang berkunjung. Cara berjalan Fatimah sangat mirip dengan cara berjalan ayahnya. Ketika melihat putri tercintanya datang, Nabi SAW menyambutnya dengan hangat dan bersabda, "Selamat datang, putriku."Beliau kemudian mendudukkan Fatimah di sebelah kanan atau kirinya. Di sinilah momen bisikan itu terjadi.Bisikan Pertama: Fatimah Menangis Tersedu-seduRasulullah SAW mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah. Sesaat setelah mendengar bisikan itu, Fatimah langsung menangis dengan sangat keras dan tersedu-sedu.Aisyah yang melihat hal itu merasa sangat iba dan berkata dalam hati, "Aku belum pernah melihat kesedihan yang begitu dekat dengan kegembiraan seperti hari ini."Bisikan Kedua: Fatimah Tersenyum BahagiaMelihat putrinya menangis sedih, Rasulullah SAW kembali mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu yang kedua kalinya. Seketika itu juga, tangis Fatimah mereda dan wajahnya berubah menjadi tersenyum serta tertawa bahagia.Aisyah yang sangat penasaran mencoba bertanya kepada Fatimah setelah Nabi berbisik, "Apa yang dibisikkan Rasulullah kepadamu?" Namun, Fatimah menjaga rahasia tersebut dengan sangat rapat dan menjawab, "Aku tidak akan membuka rahasia Rasulullah SAW."Rahasia di Balik Bisikan TerungkapMisteri bisikan tersebut baru terungkap setelah Rasulullah SAW wafat. Aisyah kembali bertanya kepada Fatimah atas nama hak yang dimilikinya, dan barulah Fatimah menceritakan isi bisikan tersebut:*. Isi Bisikan Pertama (Penyebab Menangis):Rasulullah SAW memberi tahu Fatimah bahwa malaikat Jibril biasanya mengoreksi bacaan Al-Qur'an beliau setahun sekali, namun tahun ini Jibril melakukannya dua kali. Nabi bersabda: "Aku tidak melihat hal itu melainkan sebagai tanda bahwa ajalku (wafatku) telah dekat. Dan sesungguhnya engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku." Kabar kematian ayahnya inilah yang membuat Fatimah menangis hebat.*. Isi Bisikan Kedua (Penyebab Tersenyum):Melihat kesedihan putrinya, Nabi SAW memberikan kabar gembira untuk menghiburnya. Beliau bersabda: "Tidakkah engkau rida menjadi pemimpin bagi para wanita penduduk surga (atau wanita umat ini)?" Mendengar bahwa ia akan menjadi wanita paling mulia di surga dan segera berkumpul kembali dengan ayahnya, Fatimah pun tersenyum bahagia.*5. Perselisihan Warisan Rasulullah SAW*Kisah mengenai warisan Rasulullah SAW yang melibatkan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra merupakan salah satu peristiwa penting setelah wafatnya Nabi. Masalah ini berpusat pada status kepemilikan tanah di Fadak dan Khaibar, serta sisa harta fai' (harta yang diperoleh tanpa peperangan) milik Rasulullah SAW.Berikut adalah kronologi dan penjelasan lengkap mengenai kisah tersebut:Fatimah Meminta Warisan kepada Abu BakarSesaat setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar dibaiat sebagai Khalifah, Fatimah Az-Zahra bersama Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi) mendatangi Abu Bakar. Fatimah bermaksud untuk meminta hak warisan ayahnya, terutama atas tanah Fadak (sebuah oasis di utara Madinah) dan bagian Nabi dari tanah Khums di Khaibar.Keputusan dan Penolakan Abu BakarMendengar permohonan tersebut, Abu Bakar menolak untuk menyerahkan tanah-tanah tersebut sebagai harta warisan pribadi. Beliau tidak bermaksud mengambilnya untuk diri sendiri, melainkan menegakkan ketetapan hukum yang didengarnya langsung dari Rasulullah SAW.Abu Bakar menyampaikan hadis Nabi SAW yang berbunyi:"Kami (para Nabi) tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah (untuk umat)." (HR. Bukhari dan Muslim).Abu Bakar menegaskan bahwa beliau tidak akan mengubah sedikit pun apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya. Harta tersebut akan tetap dikelola oleh negara, dan hasilnya digunakan untuk kemaslahatan umat Islam serta membiayai kebutuhan hidup keluarga Nabi (ahlu bait) secukupnya, persis seperti yang dilakukan Rasulullah dahulu.Reaksi Fatimah dan Dinamika HubunganMendengar keputusan tersebut, Fatimah merasa kecewa. Sebagai seorang manusia dan putri yang sedang berduka, ia merasakan kesedihan yang mendalam. Berdasarkan riwayat dalam Sahih Bukhari, Fatimah memilih untuk diam dan tidak lagi membahas masalah warisan tersebut dengan Abu Bakar hingga beliau wafat sekitar 6 months kemudian.Meskipun terjadi perbedaan pendapat mengenai status hukum tanah tersebut, menjelang wafatnya Fatimah, Abu Bakar sempat datang berkunjung ke rumah Fatimah untuk meminta keridaannya. Dalam beberapa riwayat (seperti dicatat oleh Imam Al-Baihaqi), Fatimah akhirnya rida dan memaafkan Abu Bakar, menunjukkan bahwa hubungan mereka tetap berlandaskan ukhuwah Islamiyah.*6. Akhir Hayat Fatimah*Ucapan Rasulullah SAW dalam bisikan tersebut terbukti sangat akurat. Fatimah Az-Zahra menjadi anggota keluarga Nabi yang pertama kali wafat menyusul beliau, tepatnya sekitar 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW dalam usia yang masih sangat muda (3 Ramadhan tahun 11 hijriah)Meninggalkan anak anak yang masih kecil Hasan 8 tahun, Husain 7 tahun serta Zainab dan Ummu Kulsum.Wasiat Kepada Asma' binti Umais: Fatimah merasa cemas jika jenazahnya nanti setelah dikafani akan membentuk lekuk tubuh dan dilihat oleh orang asing (non-mahram). Asma' binti Umais menenangkannya dengan membuatkan keranda bertenda (seperti usungan tertutup dari pelepah kurma yang ditutup kain). Sesuai dengan wasiat khusus dari Fatimah yang ingin menjaga privasi dan kesucian dirinya dari keramaian orang banyak, proses pengurusan jenazah hingga pemakamannya dilakukan secara tertutup.Jenazah Fatimah dimandikan Asma' Binti Umais. Fatimah Az-Zahra dimakamkan di Pemakaman Baqi' (Jannatul Baqi') yang terletak di dekat Masjid Nabawi, Madinah.Namun, karena pemakaman dilakukan secara rahasia di malam hari dan Ali bin Abi Thalib sengaja meratakan tanah makamnya serta tidak memberi tanda khusus agar tidak memicu kerumunan massa yang besar.Sumber Ceramah ust Dr Firanda Andirja Lc MA