📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan
Kisah empat wanita di Zaman Nabi Musa alaihissalam
Kisah empat wanita di Zaman Nabi Musa alaihissalamUstadz Dr. Firanda Andirja, M.A🦋 Mereka adalah empat wanita sholehah yang hidup di zaman yang penuh kesulitan, di zaman kebengisan dan kekejaman Firaun. Mereka adalah:1. Ibunda Nabi Musa AlaihissalamKisah ibunda Nabi Musa diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam banyak ayat, di antaranya dalam Surat Thaha dan Surat Al-Qashash.Banyak orang-orang yang berhasil namun tidak disebutkan ayah mereka, di antaranya Nabi Musa Alaihissalam. Musa disebut sebagai Musa bin Imran, tetapi dalam kisah perjalanannya sama sekali tidak disebut tentang ayahnya. Seakan-akan keberhasilan Nabi Musa Alaihissalam sebab utamanya adalah ibunya. Demikian juga Nabi Isa Alaihissalam yang dididik tanpa seorang ayah oleh ibunya, Maryam.☘️ Situasi Kelahiran Nabi MusaNabi Musa lahir di zaman penuh kesulitan ketika Firaun menguasai Mesir. Firaun mendapatkan kabar dari para dukun bahwa kekuasaannya akan dihancurkan oleh seorang anak yang lahir dari kalangan Bani Israel pada tahun tertentu.Firaun kemudian mengirim pasukannya untuk mendata wanita-wanita yang hamil. Perut ibunda Nabi Musa tidak terlalu kelihatan saat hamil, sehingga lolos dari pendataan ketat tersebut. Setiap bayi laki-laki yang lahir langsung dibunuh oleh pasukan Firaun, sementara bayi perempuan dibiarkan hidup.☘️ Perintah Allah kepada Ibunda Nabi MusaKetika Nabi Musa lahir, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan wahyu/ilham kepada ibunya."Susuilah dia, dan apabila engkau khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah ia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya termasuk para rasul." (QS. Al-Qashash: 7)Sebagai seorang ibu, melepaskan anak yang sangat dicintai ke Sungai Nil yang luas dan penuh buaya tentu sangat berat. Namun, atas perintah Allah, ia melawan rasa sedihnya. Ia membuat keranjang (tabut), meletakkan bayinya di sana, dan menghanyutkannya ke sungai. Ia berpesan kepada anak perempuannya (kakak Nabi Musa) untuk mengikuti ke mana perginya keranjang tersebut dari jauh.☘️ Di Istana FiraunKeranjang tersebut hanyut melewati istana Firaun dan ditemukan oleh istrinya Firaun (Asiyah). Qadarullah, Firaun dan Asiyah tidak memiliki anak, sehingga kerinduan Asiyah untuk memiliki anak sangat besar.Ketika Firaun melihat bayi tersebut, ia langsung berniat membunuhnya karena tahu bayi itu dari Bani Israel. Namun, Asiyah mencintai bayi tersebut dan berkata kepada Firaun:"Ia adalah penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak angkat." (QS. Al-Qashash: 9)Firaun akhirnya mengalah demi istrinya.☘️ Pertemuan Kembali dengan IbunyaDi istana, bayi Musa menolak menyusu kepada semua wanita yang ditawarkan. Allah telah menetapkan bahwa Musa tidak mau menerima air susu dari siapapun. Kakak perempuan Musa yang mengawasi dari jauh lalu menawarkan solusi dengan berkata:"Maukah aku tunjukkan kepada kalian sebuah keluarga yang dapat merawatnya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?" (QS. Al-Qashash: 12)Akhirnya, ibunda Nabi Musa dipanggil ke istana untuk menyusuinya, dan bayi Musa langsung mau menyusu. Dengan cara inilah Allah mengembalikan Musa kepada ibunya tanpa disadari oleh Firaun, agar sang ibu tidak bersedih dan mengetahui bahwa janji Allah adalah benar.2. Istri Nabi Musa AlaihissalamIbnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata bahwa orang yang paling kuat firasatnya ada tiga orang, yaitu:Suami Zulaikha (majikan Nabi Yusuf) yang berkata kepada istrinya untuk memuliakan YusufIstri Nabi Musa, ketika ia menyarankan ayahnya untuk mempekerjakan Nabi Musa karena kuat dan amanah.Abu Bakar ash-Shiddiq ketika memilih Umar bin Khattab sebagai khalifah.☘️ Kisah Pertemuan Nabi Musa dan Istrinya di MadyanSetelah Nabi Musa tidak sengaja membunuh seorang lelaki dari kaum Firaun, ia melarikan diri dari Mesir menuju Madyan dengan berjalan kaki yang sangat jauh tanpa membawa bekal makanan (hingga ia memakan dedaunan di jalan).Sesampainya di Madyan, ia melihat sekelompok orang sedang memberi minum hewan ternak di sebuah sumur, dan ada dua orang wanita yang berdiri menunggu di pinggir bersama kambing mereka tanpa bisa mendekat karena dihalang-halangi oleh para lelaki yang tidak berakhlak baik.Nabi Musa yang merasa kasihan mendatangi kedua wanita tersebut dan bertanya, "Apa maksudmu (berbuat begitu)?" Mereka menjawab, "Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami) sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang sudah lanjut usia."Nabi Musa kemudian membantu mengambilkan air untuk kambing mereka. Setelah itu, Musa berteduh di bawah pohon dan berdoa:"Ya Rabb, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24)☘️ Pernikahan Nabi MusaSalah satu dari dua wanita tersebut kembali menemui Nabi Musa dengan penuh rasa malu (tamsi ‘alā istihyā’) untuk menyampaikan undangan ayahnya sebagai bentuk balasan atas bantuan yang diberikan.Setelah Nabi Musa menceritakan kisahnya kepada ayah wanita tersebut (yang merupakan orang sholeh), salah satu putrinya berkata kepada ayahnya:"Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (QS. Al-Qashash: 26)Mereka tahu kalau nabi Musa seoramg yang kuat, Karena Nabi Musa mampu mengangkat penutup sumur yang biasanya harus dibuka oleh banyak orang seorang diri. Mereka pun tahu kalau nabi Musa seorang yang amanah, Karena saat berjalan menuju rumahnya, Nabi Musa menyuruh wanita tersebut berjalan di belakang dan memberikan petunjuk arah dengan kerikil agar ia tidak melihat lekuk tubuh wanita tersebut di depannya.Ayah wanita tersebut kemudian menawarkan putrinya untuk dinikahkan dengan Nabi Musa dengan mahar bekerja selama 8 atau 10 tahun sebagai pengembala. Nabi Musa menyetujuinya, dan ia mendapatkan istri yang sholehah, pemalu, dan bertakwa kepada Allah.3. Istri Firaun (Asiyah binti Muzahim)Asiyah adalah istri Firaun yang hidup dalam kemegahan istana, kekayaan melimpah, dan bersuamikan seorang raja yang mengaku sebagai tuhan. Namun, ketika bayi Musa ditemukan dan diangkat sebagai anak, Asiyah beriman kepada ajaran Allah melalui Nabi Musa.Ia menyembunyikan keimanannya sampai akhirnya Firaun mengetahui hal tersebut. Firaun murka dan mengancam serta menyiksanya agar kembali kafir dan meninggalkan keimanannya kepada Allah.Firaun menawarkan kemegahan istana yang lebih tinggi jika ia mau meninggalkan agamanya, namun Asiyah menolaknya mentah-mentah. Ia lebih memilih siksaan daripada hidup megah dalam kekafiran. Allah mengabadikan doanya di dalam Al-Qur'an:"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (QS. At-Tahrim: 11)Asiyah akhirnya wafat sebagai syahidah di tangan suaminya sendiri demi mempertahankan keimanannya.4. Masyitoh (Penyisir Rambut Putri Firaun)Dalam hadist Isra' Mi'raj, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mencium aroma yang sangat wangi, lalu malaikat Jibril menjelaskan bahwa aroma wangi itu berasal dari Masyitoh (tukang sisir rambut putri Firaun) beserta anak-anaknya.☘️ Kisah Syahidnya MasyitohSuatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut putri Firaun, sisirnya terjatuh dan ia tanpa sengaja mengucapkan "Bismillah" (Dengan nama Allah).Putri Firaun bertanya, "Apakah maksudmu ayahku?"Masyitoh menjawab, "Bukan, Rabbku dan Rabb ayahmu adalah Allah."Putri Firaun mengancam akan melaporkan hal itu kepada ayahnya, dan Masyitoh menjawab, "Silakan."Firaun yang mendengar hal itu menjadi sangat marah dan memanggil Masyitoh. Firaun menyiapkan sebuah wadah/panci raksasa dari tembaga yang diisi dengan minyak panas mendidih untuk membunuh Masyitoh beserta anak-anaknya guna menggoyahkan iman wanita tersebut.Firaun mulai menyiksa dan melemparkan anak-anak Masyitoh satu per satu ke dalam wadah panas tersebut di hadapannya. Ketika giliran anak terakhir yang masih bayi dan menyusui, Masyitoh sempat merasa gentar karena tidak tega melihat anaknya. Namun, atas izin Allah, bayi tersebut dapat berbicara untuk menguatkan ibunya:"Wahai ibunda, masuklah (ke dalam panci), karena sesungguhnya siksaan dunia lebih ringan daripada siksaan akhirat."Masyitoh dan anak-anaknya pun dengan tegar masuk ke dalam wadah tersebut dan gugur sebagai syahidah dalam keadaan tetap beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebelum meninggal, ia sempat berpesan kepada Firaun agar tulang-belulangnya dan anak-anaknya dikumpulkan dalam satu kain dan dikuburkan bersama, yang disetujui oleh Firaun.🎀 Kesimpulan 🎀Kisah keempat wanita sholehah di zaman Nabi Musa Alaihissalam ini mengajarkan kepada kita tentang arti kesabaran yang luar biasa, keteguhan prinsip dalam memegang akidah dan keimanan, serta bagaimana mengutamakan akhirat di atas segalanya meskipun harus menghadapi ujian, kesusahan, maupun ancaman dunia.Materi 33




