👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Wanita dan Anak #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Materi 34: " Kisah Teladan Ummu Ad-Darda' "

Materi 34: " Kisah Teladan Ummu Ad-Darda' "🎙 Pemateri: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. حفظه الله تعالى🌿 Dua Wanita Mulia di Balik Kesuksesan Abu Darda'Abu Darda' radhiyallahu 'anhu (seorang sahabat Nabi ﷺ yang merupakan ahli Al-Qur'an dan qadi/hakim di Damaskus, Suriah) memiliki dua orang istri yang sama-sama mulia dan dikenal dengan panggilan Ummu Ad-Darda'. Keduanya merupakan wanita salihah dalam sejarah Islam, yang terbagi menjadi Ummu Ad-Darda' Al-Kubra (Senior) dan Ummu Ad-Darda' Ash-Shugra (Junior).🌸 1. Ummu Ad-Darda' Al-Kubra (Senior) — Khairah binti Abi Hadrat Al-Aslami🌿 Latar Belakang & Status: Beliau adalah seorang sahabiah yang mulia, berilmu, dan meriwayatkan hadis dari Nabi ﷺ. (Definisi Sahabiah: Seseorang yang bertemu dengan Nabi ﷺ, beriman kepada beliau, dan meninggal dalam keadaan Islam).🌾 Kehidupan Rumah Tangga & Kisah Salman Al-Farisi:Rasulullah ﷺ mempersaudarakan antara Salman al-Farisi dan Abu Darda' (nizham al-akhi / sistem persaudaraan) untuk mempererat kepedulian antar-sahabat.Suatu ketika, Salman berkunjung ke rumah Abu Darda' dan mendapati Ummu Ad-Darda' senior mengenakan pakaian yang tidak rapi (tidak berhias). Ketika ditanya, Ummu Ad-Darda' menjawab secara bijak tanpa membongkar aib suaminya:"Saudaramu Abu Darda' tidak butuh dengan dunia (ia sibuk beribadah terus)."🌷 Teguran Salman & Keputusan Nabi ﷺ:Salman menginap dan mendapati Abu Darda' berpuasa di siang hari serta shalat malam terus-menerus tanpa memedulikan hak istrinya.Keesokan harinya, Salman menasihati Abu Darda' dengan kalimat yang sangat terkenal:"Sesungguhnya Rabbmu punya hak, dirimu punya hak, tamumu punya hak, dan istrimu punya hak. Maka berikanlah masing-masing haknya."Ketika Abu Darda' mengadu kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Salman telah benar."🌻 Wafatnya:Abu Darda' dipanggil ke Damaskus untuk mengajarkan Al-Qur'an dan diangkat menjadi hakim (qadi).Ummu Ad-Darda' Al-Kubra wafat terlebih dahulu di Damaskus sekitar tahun 30 Hijriah (pada masa Khalifah Utsman bin Affan, sekitar 2 tahun sebelum suaminya wafat pada tahun 32 H).🪻 2. Ummu Ad-Darda' Ash-Shugra (Junior) — Hujaimah binti Huyai Al-Washabiyah🍃 Latar Belakang & Silsilah: Berasal dari Yaman, kemudian tinggal di Syam (Damaskus). Beliau adalah seorang tabi'iyyah (orang yang tidak bertemu Nabi ﷺ, tetapi bertemu dengan para sahabat dalam keadaan Islam). Beliau dikenal sangat faqih (ahli fikih), alim, ahli ibadah, cerdas, cantik jelita, dan banyak meriwayatkan hadis dari suaminya (Abu Darda').🌾 Dahulu beliau adalah anak yatim piatu yang dipelihara oleh Abu Darda' dan Ummu Ad-Darda' senior. Ia tumbuh di bawah didikan Abu Darda', sering ikut belajar di majelis Al-Qur'an, hingga akhirnya dinikahi oleh Abu Darda' setelah dewasa.🌷 Menolak Lamaran Gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan:Setelah Abu Darda' wafat, Ummu Ad-Darda' junior hidup lama hingga wafat sekitar tahun 81 Hijriah.Karena kecantikan dan kedudukannya yang mulia, beliau sempat dilamar oleh Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Syam sekaligus Khalifah saat itu). Namun, beliau dengan tegas menolak lamaran tersebut dan berkata:"Aku pernah mendengar suamiku (Abu Darda') menceritakan sabda Nabi ﷺ bahwa wanita di surga akan bersama suaminya yang terakhir. Dan aku tidak mau mencari pengganti selain Abu Darda'."🌸 Akhlak & Penghormatan kepada Suami: Dalam riwayat Sahih Muslim, Ummu Ad-Darda' selalu menyebut suaminya dengan sebutan "Sayyidi" (tuanku/pemimpinku) ketika meriwayatkan hadis, menunjukkan betapa besar rasa hormat dan takzimnya kepada suami.🪴 Kehidupan Ilmiah, Zikir, & Keberanian Menasihati Pemimpin:Majelis Ilmu: Dihadiri oleh para ulama tabiin hingga Khalifah Abdul Malik bin Marwan.Ahli Zikir: Hari-harinya dipenuhi dengan zikir kepada Allah; beliau menyatakan tidak ada hal yang paling menyenangkan dan memuaskan dadanya selain berzikir kepada Allah.Menegur Penguasa: Pernah dengan berani menegur Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang melaknat pembantunya, dengan mengingatkan sabda Nabi ﷺ bahwa orang yang suka melaknat tidak akan bisa memberi syafaat di hari kiamat.🌱 3. Pelajaran & Faedah PentingPentingnya Keseimbangan Hak dalam Islam: Ibadah sunnah tidak boleh melalaikan hak keluarga, khususnya hak istri. Suami wajib adil membagi waktu antara ibadah, istirahat, melayani tamu, dan memberikan hak kepada istri (sebagaimana nasihat Salman Al-Farisi).Kesetiaan Istri yang Salihah: Potret Ummu Ad-Darda' junior menunjukkan ketulusan cinta dan kesetiaan yang luar biasa kepada suami, hingga menolak pinangan seorang penguasa demi tetap bersama suaminya di surga kelak.Penghormatan Istri kepada Suami: Menghormati suami adalah wujud ketaatan kepada Allah, yang turut membangun kewibawaan suami di dalam rumah tangga serta memberikan teladan positif bagi pendidikan anak-anak.Menyibukkan Diri dengan Zikir dan Ilmu: Meneladani Ummu Ad-Darda' yang mengisi sisa umurnya dengan majelis ilmu, zikir kepada Allah, dan amal saleh sebagai bekal terbaik menghadapi kehidupan akhirat.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
E
Endah elfian ari

📍 Kota Bogor

#34 KISAH 2 UMMU DARDA

Oleh Ust. Dr. Firanda Andirja M.AKajian ini membahas kisah teladan dua istri sahabat Nabi, Abu Darda radhiallahu 'anhu, yang keduanya dikenal dengan nama Ummu Darda. Berikut adalah poin-poin utama dari kajian tersebut:1. Dua Sosok Ummu DardaAbu Darda memiliki dua istri yang masing-masing memiliki peran dan keutamaan tersendiri:Ummu Darda al-Kubra (Senior): Beliau adalah seorang sahabiyah bernama Khairah bintu Abi Hadrad al-Aslami. Beliau sempat bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beriman, dan meriwayatkan hadis dari beliau.Ummu Darda as-Sughra (Junior): Beliau adalah seorang tabi'iyah bernama Hujaimah bintu Huyai al-Washabiyah. Beliau tidak bertemu Nabi, namun bertemu dengan para sahabat. Beliau adalah seorang wanita yang sangat ahli fikih, berilmu luas, dan dikenal memiliki kecerdasan serta ketakwaan yang tinggi.2. Kisah Salman al-Farisi dan Abu DardaSalman al-Farisi yang merupakan saudara angkat Abu Drada memberi nasihat kepada Abu Darda. Salman mendapati istri Abu Darda dalam kondisi berpakaian kurang rapi karena Abu Darda yang terlalu sibuk beribadah (puasa di siang hari dan salat di malam hari) hingga mengabaikan hak istrinya. Salman memberikan nasihat emas yang kemudian dibenarkan oleh Nabi:> "Sesungguhnya bagi tubuhmu ada hak, bagi Tuhanmu ada hak, bagi tamumu ada hak, dan bagi keluargamu ada hak. Maka berikanlah hak-hak tersebut kepada pemiliknya."3. Keteladanan Ummu Darda as-SughraHujaimah adalah anak yatim yang dipelihara oleh Abu Darda. Beliau dididik langsung oleh suaminya sejak kecil, diajarkan al-Qur'an dan ilmu agama, hingga akhirnya dinikahi oleh Abu Darda.Kesetiaan yang Luar Biasa: Setelah Abu Darda wafat, Ummu Darda menolak lamaran Muawiyah bin Abi Sufyan (seorang Gubernur/Khalifah yang terpandang). Beliau memilih tetap setia karena memegang hadis bahwa wanita di surga akan bersama dengan suaminya yang terakhir di dunia.Penghormatan kepada Suami: Dalam riwayat Sahih Muslim, Ummu Darda menyebut suaminya dengan sebutan "Sayyidi" (tuanku/pemimpinku). Ini menunjukkan adab dan rasa hormat yang sangat tinggi dari seorang istri kepada suaminya.Ahli Ibadah dan Ilmu: Beliau dikenal sebagai wanita yang sangat gemar berzikir. Ketika murid-muridnya merasa khawatir beliau bosan berzikir, beliau justru menyatakan bahwa tidak ada ibadah yang paling menyejukkan hatinya selain berzikir kepada Allah. Beliau pun rutin mengadakan majelis ilmu di Damaskus dan Baitul Maqdis.4. Pelajaran Penting untuk Rumah TanggaKeseimbangan Hak: Setiap individu harus menyeimbangkan antara hak Allah, hak diri sendiri, dan hak keluarga. Ibadah yang berlebihan hingga melalaikan kewajiban kepada pasangan tidak dibenarkan.Menjaga Harga Diri Pasangan: Ummu Darda adalah contoh istri yang mampu menjaga kehormatan suaminya. Ketika ditanya tentang kondisi suaminya, beliau tidak membuka aib, melainkan menjawab dengan bahasa yang santun.Membangun Komunikasi: Suami-istri harus saling menenangkan. Jika satu pihak sedang marah, pihak lain menyenangkan.-endah ea-

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
E

Exa Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Kisah Ummu Ad-Darda' - Ustadz Firanda Andirja

Kisah Ummu DardaDua wanita shalihah yang sama-sama dikenal dengan nama Ummu Darda, yaitu Ummu Darda Al-Kubra (senior) dan Ummu Darda Ash-Shughra (junior). Keduanya merupakan teladan dalam ilmu, ibadah, kesetiaan kepada suami, dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Mengenal Dua Ummu DardaUmmu Darda Al-Kubra* Nama beliau Khairah binti Abi Hadrad Al-Aslami.* Termasuk sahabiyah karena pernah bertemu dan beriman kepada Rasulullah ﷺ.* Seorang wanita shalihah, berilmu, dan meriwayatkan hadis.* Wafat sekitar tahun 30 Hijriah, dua tahun sebelum Abu Darda.Ummu Darda Ash-Shughra* Nama beliau Hujaimah binti Huyay Al-Washabiyah.* Termasuk tabi'iyah karena tidak bertemu Rasulullah ﷺ, tetapi bertemu para sahabat.* Dikenal sebagai wanita yang fakih, alim, ahli ibadah, cantik, dan memiliki kecerdasan serta wawasan luas.* Wafat sekitar tahun 81 Hijriah atau setelahnya.Kisah Salman Al-Farisi dan Abu DardaRasulullah ﷺ mempersaudarakan Salman Al-Farisi dengan Abu Darda.Suatu hari Salman mengunjungi rumah Abu Darda dan mendapati Ummu Darda berpakaian tidak rapi. Ketika ditanya, beliau menjawab bahwa Abu Darda tidak terlalu membutuhkan dunia.Salman kemudian memperhatikan kebiasaan Abu Darda. Ternyata Abu Darda terlalu berlebihan dalam beribadah:* Siang hari berpuasa.* Malam hari sibuk salat malam.* Kurang memperhatikan hak istrinya.Salman kemudian menasihatinya:* Dirimu memiliki hak atas dirimu.* Allah memiliki hak atas dirimu.* Tamu memiliki hak atas dirimu.* Istrimu juga memiliki hak atas dirimu.Maka berikanlah setiap orang haknya.Ketika hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda bahwa Salman benar.Pelajaran:* Ibadah tidak boleh membuat seseorang melalaikan kewajiban terhadap keluarga.* Suami wajib memperhatikan hak istri, termasuk kebutuhan kasih sayang dan kedekatan.* Menasihati rumah tangga orang lain harus dilakukan dengan bijaksana.* Keseimbangan antara ibadah dan tanggung jawab keluarga sangat penting.Ummu Darda Ash-Shughra: Wanita yang Tumbuh Bersama IlmuUmmu Darda Ash-Shughra sejak kecil merupakan anak yatim yang diasuh oleh Abu Darda dan Ummu Darda Al-Kubra.Beliau sejak kecil:* Belajar Al-Qur'an bersama Abu Darda.* Sering mengikuti majelis ilmu.* Bahkan ketika masih kecil, terkadang ikut berada di saf laki-laki.* Setelah mulai besar, Abu Darda mengarahkannya untuk belajar bersama para wanita.Setelah dewasa, beliau dinikahi oleh Abu Darda.Beliau kemudian menjadi wanita berilmu dan memiliki banyak murid. Banyak ulama tabi'in meriwayatkan ilmu dan hadis darinya.Pelajaran: Pendidikan agama sebaiknya dimulai sejak anak masih kecil. Kesabaran dalam mendidik akan membuahkan kebaikan di kemudian hari.Kesetiaan Ummu Darda kepada SuaminyaSetelah Abu Darda wafat, Ummu Darda Ash-Shughra masih hidup selama puluhan tahun.Karena dikenal cantik dan shalihah, beliau pernah dilamar oleh Muawiyah radhiyallahu 'anhu.Namun, beliau menolak lamaran tersebut karena sangat mencintai Abu Darda.Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang wanita di surga akan bersama suaminya yang terakhir.Beliau tidak ingin mencari pengganti selain Abu Darda.Bahkan ketika Abu Darda menjelang wafat, Ummu Darda berkata bahwa beliau ingin tetap menjadi istrinya di akhirat.Pelajaran:* Kesetiaan dan kecintaan kepada pasangan merupakan salah satu gambaran indah rumah tangga para wanita shalihah.* Kebahagiaan rumah tangga tidak harus dibangun dengan kemewahan.* Cinta, kesederhanaan, dan kebersamaan dalam ketaatan jauh lebih berharga.Menghormati dan Memuliakan SuamiSalah satu bentuk penghormatan Ummu Darda kepada suaminya adalah ketika meriwayatkan hadis beliau menggunakan ungkapan:Haddatsani Sayyidi — Tuanku telah menyampaikan hadis kepadaku.Yang dimaksud dengan tuanku adalah Abu Darda, suaminya sendiri.Imam Nawawi menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan bentuk penghormatan dan pemuliaan seorang istri terhadap suaminya.Pelajaran:* Istri shalihah menjaga kehormatan suaminya.* Menghormati suami bukan berarti tidak boleh menasihati ketika suami melakukan kesalahan.* Sikap seorang ibu dalam menghormati ayah berpengaruh terhadap cara anak-anak memandang dan menghormati ayahnya.* Ketaatan kepada suami merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala selama dalam perkara yang ma'ruf.Semangat Ummu Darda dalam Menuntut dan Mengajarkan IlmuUmmu Darda memiliki majelis ilmu yang dihadiri banyak orang, termasuk para tabi'in dan khalifah Abdul Malik bin Marwan.Beliau mengajar di Damaskus dan Baitul Maqdis.Salah satu muridnya, Aun bin Abdullah, pernah merasa khawatir bahwa kegiatan zikir bersama akan membuat beliau bosan.Namun, Ummu Darda menjawab bahwa beliau telah mencari berbagai bentuk ibadah dan tidak menemukan sesuatu yang lebih menenangkan hati daripada berzikir kepada Allah.Pelajaran:* Zikir merupakan ibadah yang menenangkan hati.* Wanita shalihah menjadikan majelis ilmu dan zikir sebagai bagian dari kehidupannya.* Jangan sampai waktu habis untuk kegiatan dan pergaulan yang tidak bermanfaat.* Sisihkan waktu untuk membaca Al-Qur'an, berzikir, dan beribadah.Nasihat-Nasihat Ummu DardaBeberapa nasihat beliau yang sangat berharga:A. Terimalah pemberian dengan baikJika seseorang memberikan rezeki atau hadiah, terimalah apabila tidak ada alasan yang melarangnya.Jika tidak membutuhkan, berikan kepada orang lain. Jika membutuhkan, manfaatkan untuk membantu ketaatan kepada Allah.B. Jangan lupa berzikir ketika makanBeliau mengingatkan murid-muridnya agar tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga mengiringinya dengan zikir dan pujian kepada Allah.C. Ajarkan hikmah kepada anak sejak kecilBeliau berkata agar hikmah dipelajari ketika masih muda sehingga dapat diamalkan ketika dewasa.Orang tua hendaknya membiasakan anak mendengar nasihat dan perkataan yang baik sejak dini.D. Jangan mudah marah ketika dicelaKetika diberitahu bahwa ada orang yang mencelanya, Ummu Darda justru mengatakan bahwa beliau sering dikaitkan dengan perkara yang tidak pernah dilakukannya.Beliau tidak mudah terpancing emosi dan menunjukkan kebersihan hatinya.Berani Menasihati PemimpinSuatu ketika, khalifah Abdul Malik bin Marwan mengirimkan hadiah kepada Ummu Darda. Karena pembantunya terlambat, khalifah melaknat pembantunya.Ummu Darda kemudian menasihati khalifah dengan menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ bahwa orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat maupun saksi bagi orang lain pada hari kiamat.Pelajaran:* Jangan membiasakan lisan dengan laknat dan ucapan buruk.* Orang berilmu hendaknya berani menyampaikan kebenaran.* Nasihat harus diberikan dengan landasan ilmu dan dalil.Membela Kehormatan Sesama MuslimUmmu Darda meriwayatkan hadis dari Abu Darda bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan orang yang membela kehormatan saudaranya.Barang siapa membela kehormatan saudaranya ketika ada orang yang menghinanya, Allah akan melindungi wajahnya dari api neraka pada hari kiamat.Pelajaran: Jangan diam ketika melihat saudara Muslim digunjing atau direndahkan. Belalah kehormatannya dengan cara yang baik dan benar.Nasihat dalam Menghadapi Perselisihan Rumah TanggaNasihat Abu Darda kepada istrinya:Jika istrinya marah, beliau akan berusaha menyenangkan dan menenangkannya. Begitu pula ketika beliau marah, istrinya hendaknya berusaha menenangkannya.Sebab, jika keduanya sama-sama mempertahankan kemarahan, rumah tangga bisa berujung pada perpisahan.Pelajaran:* Jangan membalas kemarahan dengan kemarahan.* Salah satu pasangan perlu berusaha menenangkan keadaan.* Mengalah demi kebaikan rumah tangga bukanlah kehinaan.* Jaga komunikasi dan saling memahami.### Hikmah Utama dari Kisah Ummu Darda* Menjadi istri shalihah: Menghormati suami, menjaga kehormatannya, dan memperhatikan hak-haknya.* Mencintai ilmu: Belajar agama sejak kecil dan mengajarkannya kepada orang lain.* Memperbanyak ibadah: Mengisi waktu dengan Al-Qur'an, zikir, dan amal kebaikan.* Menjaga lisan: Tidak mudah mencela, melaknat, atau membicarakan keburukan orang lain.* Menjaga persaudaraan: Membela kehormatan sesama Muslim.* Bijaksana dalam rumah tangga: Menjaga keseimbangan antara ibadah, keluarga, dan kehidupan sosial.* Mempersiapkan akhirat: Mengurangi kesibukan yang tidak bermanfaat dan memperbanyak bekal untuk bertemu Allah.Penutup:Kisah Ummu Darda mengajarkan bahwa wanita shalihah bukan hanya wanita yang rajin beribadah, tetapi juga wanita yang berilmu, menjaga kehormatan suami, mencintai akhirat, menjaga lisannya, dan memberikan manfaat bagi orang lain.Jangan sampai usia terus bertambah, tetapi waktu kita habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.Perbanyaklah zikir, membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita wanita-wanita yang shalihah, sebagaimana teladan Ummu Darda radhiyallahu 'anha. Aamiin.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
F

Febbi NK

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

#34 Kisah Teladan Ummu Ad-Darda'

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda' - Ust. Dr. Firanda Andirja -🌸Siapa Ummu Darda? Ada Dua Orang!🌸Abu Darda Radhiyallahu Anhu memiliki dua istri yang sama-sama disebut Ummu Darda:1. Ummu Darda Al-Kubra (Senior): Namanya Khairah bintu Abi Hadrad Al-Aslami. Dia Sahabiah (bertemu Nabi, beriman, wafat dalam iman), alim & meriwayatkan hadis dari Nabi. Wafat sekitar 30 H, 2 tahun sebelum Abu Darda (32 H).2. Ummu Darda As-Sughra (Junior): Namanya Hujaymah bintu Huyay Al-Washabiyah Al-Himyariyah. Bukan sahabiah, tapi Tabi'iyah (bertemu sahabat). Wafat 81 H (ada yang bilang 90 H), hidup ∼50 tahun setelah Abu Darda wafat. Asalnya dari Yaman (Himyar), tinggal di Damaskus.Catatan: Nama anak Abu Darda yang bernama Darda bukan dari kedua istri ini, dari istri lain yang tidak diketahui kabarnya.Abu Darda sendiri: Nama Uwaimir bin Amir Al-Khazraji, ahli Quran, penghafal Quran bersama Muadz, Zaid dll. Dipanggil ke Damaskus untuk ajarkan Quran, lalu jadi Qadhi/Hakim di Syam, wafat 32 H di masa Utsman.1. Ummu Darda Al-Kubra - Kisah Salman & Keseimbangan IbadahNabi persaudarakan (mu'akhah) Salman Al-Farisi (Persia) dengan Abu Darda (Anshar Khazraj) agar saling perhatian, seperti Sa'ad bin Rabi' dengan Abdurrahman bin Auf. Sistem persaudaraan ini metode Nabi pasca Hijrah. Suatu hari Salman kunjungi rumah Abu Darda, dapati Ummu Darda mutabadzilah - pakaian tidak rapi / semrawut.Adab Sahabiat: Biasanya istri berhias rapi di rumah untuk suami. Nabi melarang pulang safar malam-malam nyelonong, hendaknya siang agar istri bisa bersiap: sisir rambut, dll. Zaman sekarang terbalik: di rumah seadanya, keluar rumah berhias.Salman heran, tanya kenapa. Ummu Darda tidak curhat membongkar aib suami, tidak nangis, hanya beri isyarat: "Inna akhaka Abu Darda la hajata lahu fid dunya - Saudaramu Abu Darda tidak butuh dunia." Maksudnya: ngapain berhias kalau suami tidak menyentuhku. Dia jaga kehormatan suami. Salman paham ada masalah, tapi tidak langsung vonis, dia cross-check dengan menginap. Abu Darda hidangkan makanan, Salman suruh Abu Darda ikut makan padahal puasa sunnah: "Saya tidak makan sampai kau makan." Dalil puasa sunnah boleh dibatalkan untuk menyenangkan tamu. Abu Darda mau qiyamul lail dari awal malam, Salman suruh tidur dulu, 2x disuruh tidur, baru bangun di sepertiga malam terakhir lalu shalat bersama.Abu Darda siang puasa terus, malam shalat terus, kapan sentuh istri? Benar Ummu Darda terbengkalai. Tidak langsung tembak masalah istri, tidak bilang "istrimu laporan". Dia urut: "Jiwamu punya hak, Rabbmu punya hak, tamumu punya hak, istrimu punya hak. Fa'thi kulla dzi haqqin haqqah - Berikan masing-masing haknya." Dimulai dari diri, Allah, tamu, baru istri di akhir, agar tidak ribut. Abu Darda lapor ke Nabi, Nabi jawab: "Shadaqa Salman - Salman telah benar." Maka perkataan Salman jadi seperti sabda Nabi.Pelajaran: Ibadah ada porsinya, jangan berlebih di satu porsi lalu korbankan porsi lain. 2. Ummu Darda As-Sughra - Yatim yang Dididik Suami, Setia Sampai AkhiratBiografi pujian ulama: Ibnu Qaisarani: Faqihah, Alimah, Abidah, Malihah, Jamilah, Wasi'atal ilm, Wafiratal aql - ahli fiqih, alim, ahli ibadah, menyenangkan, cantik jelita, ilmu luas, akal cerdas, meriwayatkan banyak hadis dari Abu Darda. Az-Dzahabi: Dia belajar dari suaminya, terkenal ilmu, amal, zuhud. Muridnya banyak: Jubair bin Nufair, Abu Qilabah, Salim bin Abi Al-Ja'd, Raja bin Haiwah, Makhul, Zaid bin Aslam dll. Asal mula: Dia anak yatim dipelihara Abu Darda & Ummu Darda Al-Kubra sejak kecil. Sering masuk dalam mantel Abu Darda, shalat di shaf laki-laki, duduk di halaqah Quran karena masih kecil. Ketika mulai besar, Abu Darda suruh: "Ilhaqi bi shufufin nisa - Gabunglah dengan shaf wanita." Setelah dewasa dinikahi Abu Darda. Cantik jelita, setelah Abu Darda wafat dilamar Muawiyah (Gubernur Syam di masa Utsman / Khalifah setelahnya). Muawiyah dari Quraisy Bani Umayyah, nasab tinggi, tidak ada kurangnya. Ummu Darda masih sangat muda, mungkin belasan/20-an. Tapi ditolak. Alasan tolak: Dia dengar hadis dari suaminya: "Innal mar'ata li akhiri azwajiha - Wanita di surga bersama suami terakhirnya. Wa la uridu li Abi Darda badilan - Saya tidak mau pengganti selain Abu Darda." Dia sangat cinta Abu Darda meski usia jauh berbeda. Lamaran akhirat: Saat Abu Darda mau wafat, Ummu Darda berkata: "Engkau melamarku dari keluargaku di dunia, sekarang saya melamarmu untuk akhirat, terimalah agar kita menikah sampai akhirat." Abu Darda jawab: "Kalau ingin tetap bersamaku, jangan menikah lagi setelah aku meninggal." Muawiyah nasihati: "Alaiki bish shiyam - Hendaknya kau berpuasa" karena masih muda tapi tidak mau menikah.Banding Ummu Salamah: Saat Abu Salamah wafat, dia baca doa musibah tapi tidak bisa ucap "ganti yang lebih baik" karena siapa lebih baik dari suamiku? Terpaksa ucap karena sunnah, ternyata Allah ganti dengan Nabi. Saat dilamar Nabi dia tolak dengan 3 alasan (tua, anak banyak, cemburu), Nabi bantah semua. Ini bukti cinta sahabiat ke suami, bukan karena kaya, tapi susah & sederhana. Banding Nailah istri Utsman: Cantik jelita, setelah Utsman wafat dilamar banyak lelaki, akhirnya dia patahkan giginya yang indah agar tidak ada yang lamar, karena tidak ingin cinta ke Utsman luntur, ingin bersama sampai akhirat.Catatan: Zaman sahabat hampir tidak ada janda nganggur, begitu masa iddah selesai langsung dilamar sebagai bentuk perhatian, itu hilang sekarang.3. Sifat & Kemuliaan Ummu Darda As-SughraSangat hormat suami: Dalam Shahih Muslim dia meriwayatkan: "Haddatsani Sayyidi - Telah menyampaikan kepadaku tuanku (Sayyidi)." Imam Nawawi: Ini dalil tauqir, menghormati suami sampai tidak bilang "suamiku" tapi "tuanku" seperti budak ke tuan. Hadisnya: Siapa doakan saudaranya tanpa diketahui, malaikat aminkan "wa laka bimitsl" - kau juga dapat sama.Pelajaran hormat suami: Istri sholehah membuat suami merasa jadi gubernur di rumah (_Ar-rijalu qawwamuna 'alan nisa_, Ibnu Abbas: suami seperti gubernur). Jika ibu hormat, anak lihat bapak dihormati, nasihat bapak didengar. Jika bapak tiap hari diomelin ibu, harga diri jatuh, anak anggap bapak macan ternyata kucing kurus. Taat suami karena taat Allah, bukan karena orang tua/orang lain. Nasihati suami salah tetap dengan hormat.Ahli ilmu: Punya majelis 6 bulan di Damaskus, 6 bulan di Baitul Maqdis, mengajar ilmu & Quran. Hadir di majelisnya termasuk Khalifah Abdul Malik bin Marwan, tabi'in Aun bin Abdillah dll.Ahli zikir: Banyak wanita datang untuk ibadah bersama, melihatnya ingat akhirat, semangat zikir, Quran, shalat malam. Muridnya: Kami duduk berzikir masing-masing di sisi beliau, kami khawatir buat bosan, dia jawab: "Saya cari ibadah paling menyenangkan hati & memuaskan dada, tidak ada seperti zikir Allah, bagaimana saya bosan?"Pelajaran zikir: Kurangi relasi tidak bermanfaat, kurangi sosmed. Penduduk Madinah usia 40 fokus ibadah tinggalkan dunia. Usia 40 sekarang malah tambah relasi. Quran tidak khatam berbulan-bulan padahal semua ada tapi tidak dibaca.Nasihat rezeki: Seseorang berdoa minta rezeki, Allah tidak turunkan hujan dinar/dirham. Rezeki lewat perantara lain: jual beli, hadiah. Jika dikasih hadiah terima, jangan tolak (sakiti hati pemberi), kalau tidak perlu kasihkan orang lain, kalau perlu pakai untuk isti'anah beribadah.Nasihat makan: Pernah makan bersama murid lupa puji Allah, dia tegur: "Wahai putra-putraku, jangan lupa campur makanan kalian dengan zikir. Makan sambil memuji Allah lebih baik daripada makan diam-diam." Ini sunnah: makan diiringi Alhamdulillah, Subhanallah.Nasihat hikmah: "Ta'allamul hikmah wa antum shigar, ta'maluna biha wa antum kibar - Pelajari hikmah saat masih kecil, amalkan saat besar." Ajari anak kata-kata hikmah sejak kecil, nanti saat hadapi cobaan dia ingat solusi dari orang tua.Hati bersih: Dikabari ada orang mencelanya, dia jawab: "Subhanallah, betapa sering saya dipuji dengan perkara yang tidak saya lakukan." Tidak marah, anggap celaan sebagai pujian yang tidak pantas. Akhlak mulia.Berani nasihati khalifah: Abdul Malik bin Marwan kirim hadiah perkakas (karpet, bantal) ke Ummu Darda di malam hari, pembantu telat, khalifah melaknat pembantu. Pagi hari Ummu Darda tegur: "Saya dengar semalam engkau melaknat pembantumu. Aku dengar suamiku berkata Nabi bersabda: La yakunul la'anun syufa'a wa la syuhada yaumal qiyamah - Tukang melaknat tidak akan jadi pemberi syafaat & saksi di hari kiamat." Dia nasihati tanpa ragu.Hadis lain yang diriwayatkan dari suaminya: - Tirmidzi: Man radda 'an 'irdhi akhihi... Siapa bela kehormatan saudaranya, Allah bela wajahnya dari neraka. - Abu Dawud: Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa 'alaihi tawakkaltu... pagi-petang 7x Allah cukupkan dari kegelisahan (ada masalah sanad).- Rumus rumah tangga Abu Darda: "Wahai Ummu Darda, jika kau marah saya yang menyenangkanmu, jika saya marah kau yang menyenangkan saya, jika sama-sama marah kita akan berpisah." Jika istri marah suami tenang, jangan sama-sama teriak.Penutup: Jadilah istri sholehah yang kalau dilihat ingatkan akhirat, kesibukannya zikir. Manfaatkan waktu agar bahagia saat bertemu Allah.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Kisah Teladan Ummu Ad-Darda’ | Ustadz Dr. Firanda Andirja

1. Ummu Ad-Darda’ Al-Kubra (Senior)• Identitas: Bernama Khairah bintu Abi Hadrat Al-Aslami, wanita shalihah yang dikenal ilmunya dan meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam. Seorang sahabiyah yang bertemu dan beriman dengan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam.• Kisah Kunjungan Salman Al-Farisi:Abu Darda’ : orang yang terkenal sangat ahli ibadah, ahli quran, bahkan menjadi Hakim Qadi di Damaskus/Syiria. Dan wafat di masa pemerintahan Utsman bin 'Affan.- Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam mempersaudarakan Salman Al-Farisi (Persia) dengan Abu Darda’ (suku Khazraj) melalui sistem persaudaraan (Nizham at-Ta’akhi).Rasulullah di awal-awal Islam banyak mempersaudarakan, agar saling perhatian satu sama lain. Seperti mempersaudarakan salah satu Suku Anshar dan salah satu kaum Muhajirin.- Salman mengunjungi dan melihat Ummu Ad-Darda’ berpakaian semrawut (tidak rapi) atau tidak berhias. Ketika ditanya, ia menjaga kehormatan suaminya dengan berkata bijak bahwa suaminya tidak butuh dengan kesenangan duniawi.“Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan ...” (HR Bukhari)- Abu Darda’ terlalu fokus beribadah hingga berpuasa sunnah setiap hari dan shalat sepanjang malam.“... Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali ...” (HR Bukhari)- Salman menasihati Abu Darda’ dengan menginap untuk membimbingnya: meminta Abu Darda’ membatalkan puasa sunnah, menahan shalat hingga waktu sepertiga malam terakhir, lalu menyampaikan bahwa tubuh memiliki hak, Allah memiliki hak, tamu memiliki hak, dan istri memiliki hak, sehingga hak masing-masing harus dipenuhi.Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi dirimu (jiwamu) ada hak, bagi Rabbmu ada hak, bagi tamu ada hak dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut ...” (HR Bukhari)Faedah : Jika terdapat berita sampai kepada kita, sebelum memberi nasihat, diteliti dulu kebenarannya. Dan jika ingin memberi nasihat, jangan langsung ke intinya (Salman tidak jug-jug membahas hak istri Abu Darda’).- Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam membenarkan dan memuji nasihat Salman.“... Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar”.” (HR. Bukhari no. 1968)Faedah : Beribadah jangan mengikuti hawa nafsu. Karena masing-masing ada porsinya.• Wafat: Wafat di Damaskus beberapa waktu mendahului Abu Darda’ sekitar tahun 30 H.2. Ummu Ad-Darda’ Ash-Sughra (Junior)• Identitas: Juhaimah atau Hujaimah bintu Huyay Al-Washabiyah (berasal dari Yaman), seorang tabi'iyah yang ahli fiqih, alim, ahli ibadah, cantik jelita, ilmunya luas, akalnya cerdas, dan meriwayatkan banyak hadits dari suaminya. Faedah : Seorang suami shaleh adalah yang mengajari istrinya ilmu agama.Usianya panjang. Terkenal dengan ilmu dan amal dan zuhud.• Masa Kecil dan Pernikahan:- Dibesarkan sebagai anak yatim dalam asuhan Abu Darda’ dan diajarkan ilmu agama serta Al-Quran sejak kecil.- Saat masih kecil, pernah berada satu mantel bersama Abu Darda’. Dan sering shalat di shaff laki-laki saat diajak ke masjid oleh Abu Darda’.- Setelah dewasa, Abu Darda’ menikahinya. Saat Abu Darda’ hendak wafat, Ummu Ad-Darda’ berpesan ingin menjadi istrinya kembali di akhirat kelak dan berikrar tidak menikah lagi.• Menolak Lamaran Tokoh Besar:- Setelah Abu Darda’ wafat, ia dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan, tetapi menolaknya karena berpegang pada sabda Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bahwa seorang wanita di Surga kelak bersama suaminya yang terakhir.Dalilnya adalah perbuatan Ummu Dardaa’ yang menolak lamaran Mu’awiyah karena ingin menjadi suami Abu Dardaa’ di surga. Ia berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ (suaminya yang telah meninggal) berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا“Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir”. Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa’” [As-Shahihah no 128]• Penghormatan Kepada Suami:- Ketika meriwayatkan hadits, ia menyebut suaminya dengan panggilan penuh takzim, yaitu tuanku telah menyampaikan hadits kepadaku.• Kiprah Keilmuan dan Keteladanan:- Membuka majelis ilmu di Damaskus dan Baitul Maqdis yang dihadiri para pembesar tabi’in hingga khalifah Abdul Malik bin Marwan.- Sangat tekun berdzikir hingga menyatakan bahwa tidak ada ibadah yang paling menyejukkan hatinya selain mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.- Tegas menasehati khalifah Abdul Malik bin Marwan saat melaknat pembantunya, dengan mengingatkan hadits mengenai larangan gemar melaknat.• Wafat: Pada tahun 81+ H.HIKMAH DAN PELAJARAN RUMAH TANGGA• Keseimbangan Hak dan Kewajiban: Menjalankan ibadah sunnah tidak boleh sampai menelantarkan hak pasangan maupun kebutuhan keluarga.• Manajemen Konflik Suami Istri: Pesan bijak Abu Darda’ kepada istrinya agar ketika salah satu sedang marah, pihak lain hendaknya berusaha meredakan dan menenangkan suasana demi menjaga keutuhan rumah tangga.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
S
SHILFI LATIFATHUL WANGSA

📍 Kabupaten Purwakarta

Ummu ad darda

Ummu darda, istri dari abu darda. Abu darda memiliki anak darda dari istri lain bukan istri senior dan junior. Abu darda memiliki 2 istri yang dikenal dengan sebutan ummu darda dua duanya, hanya saja yang pertama ummu darda al qubro yaitu ummu darda senior, yang kedua disebut ummu darda as sughro yaitu ummu darda yang junior. Dua duanya wanita shalihah. Ummu darda al qubro namanya adalah khayrah bintu abi hadrat al aslami. Seorang wanita shalihah yang dikenal juga dengan ilmunya dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah, dan dia adalah sohabiyah, yaitu bertemu dengan Nabi Muhammad dan beriman dengan Nabi Muhammad. Adapun yang junior maka dia bukan sohabiyah, dia tidak bertemu dengan Nabi Muhammad tapi dia seorang tabiiyah bertemu dengan sahabatnya. Ummu darda yang senior, menikah dengan abu darda dan abu darda adalah seorang yang terkenal sangat ahli ibadah, ahli qur'an, diantara sahabat yang hafal al quran adalah abu darda. Uwaimir bin amir. Kalau puasa sunnah boleh berbuka. Abu darda suka beribadah dan suka berpuasa. Salman al farisi menasihati abu darda. Salman telah di persaudarakan oleh Nabi shallallahu'alayhi wasallam dengan abu darda. Nasehat dari salman al farisi kepada abu darda. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).Beberapa faedah dari hadits di atas:1- Disyari’atkan mempersaudarakan sesama muslim karena Allah.2- Disunnahkan pula bertandang (berziarah) ke saudara muslim dan bermalam di sana.3- Bolehnya berbicara dengan wanita non mahram ketika ada hajat.4- Boleh bertanya perkara yang mengandung maslahat walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan orang yang bertanya.5- Sesama muslim hendaklah saling menasehati apalagi ketika melihat saudaranya keliru atau lalai dari ketaatan.6- Keutamaan shalat sunnah di akhir malam.7- Disunnahkan bagi istri untuk berhias diri bagi suaminya.8- Istri memiliki hak yang mesti dijalani suami yaitu hubungan interaksi yang baik, termasuk pula dalam hal hubungan intim, jatah istri pun mesti diberikan.9- Bolehnya melarang melakukan perkara sunnah jika sampai terjerumus dalam kekeliruan atau lalai melakukan hal yang wajib.10- Hadits ini menunjukkan larangan menyusah-nyusahkan (memberatkan) diri dalam ibadah.11- Bolehnya membatalkan puasa sunnah. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama) dan tidak ada kewajiban qodho’ jika puasa tersebut ditinggalkan.Abu darda shalat shubuh ke masjid dan cerita ke Nabi Muhammad dan Rasulullah membenarkan perkataan salman al farisi. Sejak saat itu abu darda memperbaiki sikapnya terhadap istrinya.Ummu darda junior namanya adalah hujaymah bintu huyay al wasshobiyah. Dia seorang yang ahli fiqih, wanita yang alim, wanita yang ahli ibadah, wanita yang menyenangkan, wanita yang cantik jelita, ilmu nya luas, akal nya cerdas dan meriwayatkan banyak hadits dari suaminya ialah abu darda. Ummu darda as sughro. Umurnya panjang, terkenal dengan ilmu dan amal, dan zuhud, perawi hadits. Ummu darda adalah anak yatim, dipelihara oleh abu darda. Dia tinggal sama abu darda dan ummu darda al qubro (senior). Duduk di shaf laki laki saat masih kecil. Belajar sejak kecil bersama abu darda. Setelah dewasa, dinikahi oleh abu darda. Abu darda meninggal sekitar tahun 32 hijriyah. Ummu darda waktu dinikahi umur nya masih muda, dia masih hidup setelah wafatnya abu darda, meninggal nya lama setelah wafatnya abu darda, dia wafat pada tahun 81 atau lebih hijriyah. Dia masih hidup sekita 50 tahun. Dia dilamar muawiyah. Abu darda hakimnya. Muawiyah dari quraisy. Lamaran ditolak oleh ummu darda. Ummu darda sangat cinta kepada abu darda. Cinta sejati. Ketika terkena musibah ini do'anya "Ya Allah berilah aku pahala atas musibah yang menimpa ku ini, berilah aku ganti yang lebih baik." Seperti cerita ummu salamah. Kebahagiaan bukan harus dibangun diatas kemewahan. Ummu darda begitu cintanya kepada abu darda.Sifat sifat ummu darda maka beliau dikenal dengan :1. Ahli ibadah2. Ahli ilmuTerkumpul kepada dirinya, dia sangat hormat sama suaminya. Diantara bentuk kehormatannya dalam shahih muslim beliau meriwayatkan dari ummu darda sesungguhnya tuanku telah menyampaikan hadits kepadaku, bahwasanya jika ada seorang mendo'akan saudaranya tanpa diketahui saudaranya, maka malaikat akan mengaminkan dengan berkata kau juga mendapatkan seperti yang kau do'akan buat saudaranya. Ini hadits dari abu darda. Sangat menghormati abu darda. Hormat sama suami. Ibu ibu hormati suami. Anak anak melihat bapak nya ini sosok yang dihormati oleh ibunya. Sehingga kalau bapak nasihat, anak anak dengar. Tapi kalau lihat bapaknya diomelin terus sama ibunya, jatuh harga diri bapaknya. Istri tidak hormat kepada suaminya. Istri yang shalihah istri yang membuat suaminya merasa dirinya menjadi gubernur dirumah. 3. Sering mengajarkan ilmu dan mengajarkan al qur'an4. Selalu berdzikir kepada AllahNasihat nasihat dari ummu darda : 1. Usman bin hayyan berkata aku mendengar ummu darda berkata sesungguhnya salah seorang dari kalian berdo'a Ya Allah berilah rezeki kepadaku, dan dia tahu Allah tidak akan turunkan hujan dinar maupun hujan dirham, tidak ada hujan emas dan hujan perak. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada seseorang melewati orang lain, entah jual beli, entah hadiah, siapa yang diberikan suatu pemberian entah hadiah entah apa maka terima, jangan tolak. Kalau kau tidak perlu, kasihkan kepada yang lain. Jangan malu malu untuk terima. Kalau ada yang kasih terima saja. Kalau kau tidak perlu kasihkan ke yang lain. Kalau kau perlu, gunakan untuk beribadah kepada Allah. 2. Usman bin hayyan berkata suatu hari kami makan bersama abu darda lalu kami lupa untuk memuji Allah ta'ala. Lalu ummu darda berkata wahai murid muridku, jangan kalian lupa untuk mencampurkan makanan kalian dengan dzikir kepada Allah subhanahu wata'ala. Makan sambil memuji Allah subhanahu wata'ala daripada makan sambil diam diam. 3. Pelajarilah hikmah hikmah ketika kalian masih kecil atau masih muda dan kalian akan mengamalkannya ketika sudah besar. Akhlak mulia ummu darda ketika ada yang cela dia, dia tidak masalah malah dianggap pujian. Hadits dari ummu darda dari abu darda siapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah akan membela wajahnya dari neraka jahannam. Kalau ada orang yang mencela saudara kita, kita bela dia, kamu ga boleh begitu, kamu ga benar, kalau perkataan kamu benar itu namanya ghibah, kalau mau nasihatin, nasihatin langsung. Kalau kita bela saudara kita, kita akan dibela oleh Allah dari neraka jahannam. Hadits dari ummu darda dari abu darda siapa yang dzikir di pagi hari dan di petang hari membaca hasbiyallahu laa illaaha illaa huwa 'alayhi tawakkaltu wa huwa rabbul 'arsyil adzim 7 kali maka Allah akan mencukupkan dia dari apa yang dia gelisahkan. Hadits dari ummu darda dari abu darda kalau kamu marah, saya akan menyenangkan engkau. Kalau saya marah, senangkan diriku. Jika kita sama sama marah, kita bakalan berpisah. Waktu harus kita manfaatkan agar kita bahagia ketika kita bertemu dengan Allah subhanahu wata'ala.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

KISAH TELADAN UMMU AD-DARDA

1. Mengenal Dua Sosok Ummu ad-DardaDalam sejarah Islam, terdapat dua perempuan yang dikenal dengan sebutan Ummu ad-Darda al-Kubra dan Ummu ad-Darda as-SughraA. Ummu ad-Darda al-KubraNama beliau adalah Khairah bintu Abi Hadrad al-Aslamiyah. Beliau termasuk sahabiyah dan merupakan istri Abu Darda radhiyallahu ‘anhu.Abu Darda dikenal sebagai sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki perhatian besar terhadap Al-Qur’an, ilmu, dan ibadah.Salah satu kisah yang menggambarkan kehidupan rumah tangga Abu Darda dan istrinya adalah kunjungan Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu ke rumah mereka.Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari nomor 1968.Ketika Salman datang, beliau melihat Ummu ad-Darda dalam keadaan sederhana. Salman kemudian bertanya tentang keadaannya.Ummu ad-Darda menjawab bahwa Abu Darda tidak lagi memiliki keinginan terhadap dunia.Ketika Abu Darda datang, Salman menyuguhkan makanan dan mengajaknya makan. Namun, Abu Darda mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa.Salman pun berkata bahwa ia tidak akan makan sampai Abu Darda ikut makan. Akhirnya Abu Darda berbuka dan makan bersama Salman.Ketika malam tiba, Abu Darda hendak mengerjakan salat malam. Salman memintanya untuk tidur terlebih dahulu. Ketika malam telah mencapai bagian akhirnya, Salman membangunkan Abu Darda dan keduanya melaksanakan salat malam.Salman kemudian menyampaikan nasihat:إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya.”Ketika kisah tersebut disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:صَدَقَ سَلْمَانُ“Salman telah berkata benar.”(HR. Bukhari no. 1968)B. Ummu ad-Darda as-SughraNama beliau adalah Hujaimah bintu Huyai al-Aushabiyah al-Himyariyah. Beliau termasuk generasi tabi’in.Beliau dikenal sebagai perempuan yang berilmu, ahli ibadah, memiliki pemahaman agama, dan mengajarkan ilmu kepada banyak orang.Ummu ad-Darda as-Sughra dikenal sebagai perempuan yang memiliki ilmu agama dan menjadi tempat belajar banyak orang.Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga Abu Darda. Setelah menjadi yatim, beliau berada dalam asuhan Abu Darda, kemudian dinikahi oleh beliau.Beliau dikenal mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama. Majelis ilmunya dihadiri oleh para penuntut ilmu, termasuk tokoh-tokoh dari kalangan tabi’in.Disebutkan dalam sejumlah riwayat sejarah bahwa beliau mengajar selama enam bulan di Damaskus dan enam bulan di Baitul Maqdis.Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam menyebarkan ilmu agama, dengan tetap menjaga adab dan ketentuan syariat.Ummu ad-Darda as-Sughra dalam Menghormati SuamiUmmu ad-Darda as-Sughra dikenal sebagai sosok istri yang menghormati suaminya.Dalam kehidupan rumah tangga, penghormatan kepada suami bukan sekadar ucapan, tetapi juga tampak dalam sikap, perhatian, dan penjagaan terhadap kehormatan keluarga.Diriwayatkan bahwa beliau pernah menyampaikan hadis dari suaminya dengan menyebut:“Tuanku telah menyampaikan hadis kepadaku.”Hal ini menunjukkan penghormatan beliau kepada suaminya.Nasihat dan teladan dari Ummu ad-DardaBeberapa nasihat dan teladan yang dapat dipetik dari kehidupan beliau:1. Membiasakan memuji Allah ketika makanTidak membiasakan diri makan dalam keadaan diam tanpa mengingat Allah. Mengucapkan pujian kepada Allah atas nikmat makanan yang diberikan.2. Menyambut pemberian dengan baikApabila mendapatkan hadiah, terimalah dengan baik. Jika tidak menyukainya atau tidak membutuhkannya, berikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.3. Memberikan nasihat kepada anak-anakBeliau memperhatikan pendidikan dan pembinaan akhlak anak-anak.4. Berani menasihati pemimpinBeliau tidak segan memberikan nasihat kepada khalifah ketika melihat kesalahan.Salah satu peristiwa yang disebutkan dalam materi kajian adalah ketika seorang khalifah mencela pelayannya. Ummu ad-Darda memberikan nasihat agar tidak menzalimi atau merendahkan orang lain.5. Menjaga zikir pagi dan petangDi antara zikir yang disebutkan dalam materi kajian sebagai zikir Ummu ad-Darda as-Sughra adalah:حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِLatin:Hasbiyallāhu lā ilāha illā huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arsyil-‘azhīm.Artinya:“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb pemilik ‘Arsy yang agung.”Dibaca sebanyak tujuh kali pada pagi dan petang sebagaimana disebutkan dalam riwayat Sunan Abi Dawud nomor 5081.Zikir ini mengandung makna tawakal dan penyerahan diri kepada Allah. Seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah tempat bergantung dan hanya kepada-Nya segala urusan diserahkan.6. Tidak mudah terpancing amarahKetika diberi tahu bahwa banyak orang mencela dirinya, beliau tidak terpancing emosi dan tidak membalas dengan kemarahan.Justru beliau memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak perlu membuat dirinya marah.Ini menunjukkan kemuliaan akhlak, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
H
Heni Andini

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Kisah teladan ummu Ad-Darda

Kisah Teladan Ummu Ad-DardaUstaz Dr. Firanda Andirja, M.A.​Abu Darda radhiallahu 'anhu memiliki dua orang istri yang sama-sama mulia dan dikenal dengan sebutan Ummu Darda, yaitu:🎀 ​Ummu Darda Al-Kubra (Senior) 🎀 Seorang sahabiah (bertemu dan beriman kepada Nabi Muhammad 🎀 shallallahu 'alaihi wasallam) 🎀​Ummu Darda As-Sughra (Junior): Seorang tabi'ah (tidak bertemu Nabi, tetapi bertemu dengan para sahabat).​1. Ummu Darda Al-Kubra (Senior)​Nama asli beliau adalah Khairah binti Abi Hadrad Al-Aslami.​Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mempersaudarakan Salman Al-Farisi dan Abu Darda. Suatu hari, Salman mengunjungi rumah Abu Darda dan mendapati Ummu Darda berpakaian lusuh/tidak rapi.​Ketika Salman bertanya mengapa penampilannya tidak rapi, Ummu Darda menjawab secara bijak tanpa menjelekkan suaminya: "Saudaramu Abu Darda tidak butuh dengan dunia" , karena Abu Darda sibuk berpuasa di siang hari dan salat malam sepanjang malam.​Salman kemudian menunggu Abu Darda pulang, lalu bertamu dan menginap di sana untuk menyelidiki situasi tersebut.​Setelah melihat sendiri ibadah Abu Darda yang berlebihan hingga melalaikan hak keluarga, Salman memberikan nasihat bijak yang masyhur:​"Sesungguhnya Rabbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atas keluargamu, dan tamumu punya hak atasmu. Maka berikanlah hak kepada masing-masing yang berhak." ​Ketika dilaporkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau membenarkan perkataan Salman .​Ummu Darda Al-Kubra wafat pada sekitar tahun 32 Hijriah (ada juga yang menyebutkan 2 tahun sebelum Abu Darda wafat).​2. Ummu Darda As-Sughra (Junior)​Nama asli beliau adalah Hujaimah binti Huyai Al-Washabiyah (berasal dari Yaman, kemudian tinggal di Damaskus, Suriah).​Beliau adalah anak yatim yang dipelihara di rumah Abu Darda .Sejak kecil ia dididik langsung oleh Abu Darda, diajarkan Al-Qur'an, hingga akhirnya dinikahi setelah dewasa.​Dikenal sebagai wanita yang faqih (ahli fikih), alim, ahli ibadah, cerdas, cantik jelita, serta meriwayatkan banyak hadis dari suaminya.​Setelah Abu Darda meninggal dunia sekitar tahun 32 Hijriah, Ummu Darda As-Sughra hidup cukup lama (wafat sekitar tahun 81 Hijriah).​Karena dikenal sangat cantik, beliau sempat dilamar oleh Gubernur Syam (yang kemudian menjadi Khalifah) yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan.​Lamaran tersebut ditolak karena Ummu Darda ingin tetap setia kepada suaminya dan berpegang pada sabda Nabi: "Wanita itu di surga bersama suaminya yang terakhir." ​Ummu Darda sangat menghormati suaminya, bahkan ketika meriwayatkan hadis dari Abu Darda, beliau sering berkata: "Telah menyampaikan hadis kepadaku tuanku (sayyidi)...". sebagai bentuk takzim yang luar biasa kepada suami. Para ulama seperti Imam Nawawi memuji adab mulia ini.​Beliau aktif mengajarkan ilmu (di Damaskus dan Baitul Maqdis), dan majelisnya dihadiri oleh para ulama tabi'in hingga khalifah Abdul Malik bin Marwan ​Beliau sangat mencintai zikir kepada Allah, dan ketika murid-muridnya merasa sungkan karena berzikir terlalu lama, beliau berkata bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan dan menenteramkan hatinya selain berzikir mengingat Allah ​Pelajaran Penting dari Kisah Ini adalah :​Keseimbangan dalam Beribadah ➡️ Ibadah sunnah tidak boleh mengorbankan hak-hak keluarga, pasangan, maupun kesehatan diri sendiri.​Kesetiaan Istri Solehah ➡️ Potret kesetiaan para sahabiah dan tabi'ah yang sangat mencintai suami mereka karena Allah dan mengharapkan kebersamaan hingga di surga kelak.​Adab Istri kepada Suami ➡️ Menghormati suami adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, yang juga berdampak baik pada didikan dan psikologi anak-anak di rumah ​Memanfaatkan Waktu untuk Akhirat ➡️ Mengurangi kesibukan duniawi yang sia-sia dan memperbanyak zikir serta amal saleh sebagai persiapan menghadap Allah Subhanahu wa Ta'alaMateri 34

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
H

Hikmahwati

📍 Kabupaten Kuningan

Materi 34-Kisah Teladan Ummu Ad-Darda'

Ummu Darda' merupakan Istri dari Abu Darda'. Abu Darda' memiliki dua istri yang keduanya dipanggil Ummu Darda'. Yang satu Ummu Darda' Al-kubra, kedua disebut dengan Ummu Darda' As-Sugra.Ummu Darda' Al-kubra bernama Khairah binti Abi Hadrat al aslami. Beliau adalah sohabiyah (bertemu dan beriman kepada Rasulullah). Diantara sahabat yang menghafal Qur'an adalah Abu Darda'. Beliau diangkat menjadi hakim di damaskus. Abu Darda' meninggal pada pemerintahan Utsman bin Affan. Ummu Darda' Al-kubra wafat 2 tahun sebelum Abu Darda'. HR Imam Bukhari tentang kedatangan Salman Al-Farisi ke rumah Abu Darda' : "Rasulullah SAW mempersaudarakan antara Salman Al-Farisi (dari persia) dan Abu Darda' (dari suku Al-Khajraj dari Anshar) . Hal ini adalah metode dari Rasulullah untuk saling perhatian satu sama lain. Pada Suatu hari Salman Al-Farisi mendatangi rumah Abu Darda'. Dia mendapati Ummu Darda' pakaiannya tidak rapi. Maka Salman bertanya "Kenapa engkau memakai pakaian yang tidak rapi ?". Ummu Darda' menjawab "Saudaramu, Abu Darda' tidak butuh dengan dunia". dari jawaban Ummu tersebut, Salman menjawab adanya masalah. Ketika Abu Darda' datang, dan menyajikan makanan untuk salman. Abu Darda' berkata bahwa makanan tersebut hanya untuk Salman (Abu Darda' tidak ikut makan). Tetapi Salman berkata bahwa dia tidak akan makan sebelum Abu Darda' juga ikut makan. Akhirnya mereka makan bersama. Ternyata Salman menginap di rumah Abu Darda'. Diawal malam, Abu Darda' bangun untuk shalat malam, tapi dicegah oleh salman. Lalu kembali Abu Darda' terbangun untuk melakukan shalat malam, lalu dicegah lagi untuk kedua kalinya oleh Salman. Lalu di 1/3 malam terakhir (menjelang pagi) Salman berkata "Sekarang saatnya untuk shalat malam". Akhirnya Salman dan Abu Darda' shalat malam. Akhirnya Salman mengetahui bahwa saudaranya ini sangat kuat beribadah (siang puasa, malam bangun lebih awal untuk beribadah pula). Setelah memastikan apa yang terjadi pada saudaranya (sangat taat beribadah dan jarang menyentuh istrinya) maka Salma menasehati Abu Darda' "Sesungguhnya badanmu, jiwamu punya hak, hendaknya engkau istarahat. jangan shalat malam lebih awal. Sesungguhnya Rabb-mu punya hak. Dan Tamumu juga punya hak untuk dijamu. Dan ingat istrimu juga punya hak, maka berikanlah masing-masing haknya". Dalam hal ini, Salman sangat bijaksana dalam menyikapi permasalahan yang dialami oleh Abu Darda' dan Ummu Darda'. Setelah kejadian itu, Abu Darda' menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah berkata "Telah benar Salman". Sejak saat itu Abu Darda' memperbaiki sikapnya terhadap istrinya.Ummu Darda' As-Sugra bernama hujaimah binti Khuyay al Washabiyah adalah thabiiyah (tidak bertemu dengan Rasulullah, bertemu dengan sahabat. Kemudian meninggal dalam kondisi islam). Beliau adalah wanita yang sangat sholeha. "Dia seorang yang Faqih (ahli Fiqih), wanita yang alim, ahli ibadah, wanita yang cantik jelita, ilmunya luas, akalnya cerdas dan meriwayatkan banyak hadist dari suaminya Abu Darda' " . Beliau banyak belajar ilmu dari suaminya. Terkenal dengan ilmu, amal, dan zuhud."Ummu Darda' As-sugra adalah anak yatim, dipelihara oleh Abu Darda' dan Ummu Darda' al-kubra. Saat masih kecil bahkan sesekali lasuk kedalam mantel yang sama dengan abu darda'. saat masih kecil, dia masuk ke dalam shaf laki-laki ketika shalat berjamaah. Dia duduk di halaqah-halaqah ahli Qur'an. Sampai ketika dia sudah besar, Abu Darda' berkata " sudah saatnya engkau belajar bersama sesama wanita". Ketika sudah dewasa akhirnya dinikahi oleh Abu Darda'. Menemani Abu Darda' sampai suaminya meninggal. Ummu Darda' meninggal sekitar 81 H. Masih hidup sekitar 50 tahun setelah suaminya meninggal. Setelah Abu Darda' meninggal, Ummu Darda' dilamar oleh Muawiyah (Statusnya sebagai gubernur/Khalifah). Muawiyah tersebut berasal dari Quraisy. Ternyata lamaran tersebut ditolak. Beliau menyampaikan bahwa ada hadist Rasulullah yang mengatakan "Wanita itu di surga bersama suaminya yang terakhir". Dan saya tidak mau mencari pengganti Abu Darda'. Akhirnya Muawiyah menasehati dengan berkata "Hendaknya engkau berpuasa".Sifat-sifat Ummu Darda' As-Sugra adalah : Ahli IbadahSangat hormat kepada suaminyaDalam Shahih Muslim beliau meriwayatkan Hadist dari ummu Darda' "Sesungguhnya tuanku telah menyampaikan hadist kepadaku. Jika ada seseorang mendoakan saudaranya tanpa diketahui saudara, maka malaikat akan mengaminkan sambil berkata "kau juga akan mendapatkan apa yang kau doakan untuk saudaramu". Dalam hadist tersebut, Ummu Darda' menyebut suaminya sebagai "Tuanku" sebagai bentuk penghormatan kepada suaminya.Sering mengajarkan ilmu dan Al-Qur'anSelalu berdzikir kepada AllahNasihat-nasihat dari Ummu Darda' :Utsman bin hayyan berkata " aku mendengar Ummu Darda' berkata : "sesungguhnya salah seorang dari kali an berdoa Ya Allah berilah rezeki kepadaku, dan dia tahu Allah tidak akan turunkan hujan dinar maupun dirham. sesungguhnya allah memberi rezeki kepada manusia dari arah lain. apabila ada yang memberimu hadiah, maka terima. apabila engkau tidak memerlukannya, maka beri hadiah tersebut kepada yang membutuhkan."Utsman bin hayyan berkata "Suatu hari kami makan makanan bersama Ummu Darda'. Suatu hari kami lupa untuk memuji Allah. Lalu ummu Darda' berkata "Wahai murid-muridku, jangan kalian lupa untuk mecampurkan makanan kalian dengan dzikir kepada Allah SWT. Makan sambil memuji Allah SWT. Daripada makan diam-diam".

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
N
Nurul Zanah

📍 Kabupaten Purworejo

MATERI 34 = KISAH 4 WANITA DI ZAMAN NABI MUSA

KISAH 4 WANITA DI ZAMAN NABI MUSA1. Ibunda Nabi Musa (Yokhebed)Latar Belakang & Perjuangan: Hidup di tengah kekejaman Firaun yang memerintahkan untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil. Berkat penjagaan dan pertolongan Allah, kehamilan ibunda Nabi Musa tidak terlalu mencolok sehingga ia berhasil melahirkan Musa dengan selamat.Ujian Menghanyutkan Anak: Dengan penuh keimanan dan kepatuhan terhadap ilham/wahyu dari Allah, ia menyusui Nabi Musa terlebih dahulu, lalu memasukkannya ke dalam sebuah peti (tabut) dan menghanyutkannya ke Sungai Nil.Ketabahan Hati: Allah mengokohkan hatinya sehingga ia tidak membongkar rahasia tersebut. Allah menepati janji-Nya untuk mengembalikan Nabi Musa kepada sang ibu secara aman melalui tangan istri Firaun, sekaligus menjadikannya sebagai nabi.2. Istri Nabi Musa (Shafurah)Pertemuan di Madyan: Ketika Nabi Musa melarikan diri dari Mesir menuju Madyan dalam keadaan lelah dan lapar, ia menolong dua orang putri Nabi Syu'aib yang kesulitan mengambil air di sumur karena didesak oleh para gembala lelaki.Sifat Amanah dan Kuat: Putri tersebut menyampaikan kepada ayahnya bahwa Nabi Musa adalah sosok yang kuat (mampu mengangkat penutup sumur yang berat sendirian) dan amanah (menjaga pandangan dengan berjalan di depan dan memberi petunjuk arah dengan kerikil agar tidak melihat lekuk tubuh wanita di belakangnya).Pernikahan: Ia dinikahkan dengan Nabi Musa dengan mahar bekerja menggembala ternak selama 8 hingga 10 tahun. Ia menjadi istri yang salihah, pemalu, dan setia mendampingi Nabi Musa.3. Asiyah binti Muzahim (Istri Firaun)Menyelamatkan Nabi Musa: Ketika peti bayi Musa ditemukan di sungai oleh keluarga istana, Firaun berniat membunuhnya karena dicurigai sebagai anak Bani Israil. Namun, Asiyah membujuk Firaun agar tidak membunuhnya dan mengangkat Musa sebagai anak.Keimanan di Istana Megah: Hati Asiyah terpaut kepada kebenaran ajaran Nabi Musa. Ia menyembunyikan keimanannya di tengah kemegahan istana suaminya yang kafir dan mengaku sebagai tuhan.Wafat Syahid: Ketika Firaun mengetahui keimanannya, Asiyah disiksa dengan kejam. Ia menolak tawarannya untuk tetap hidup bermewah-mewah dalam kekufuran dan memilih berdoa agar dibangunkan sebuah istana di sisi Allah di dalam surga, hingga akhirnya wafat sebagai syahidah.4. Masyitoh (Tukang Sisir Putri Firaun)Keteguhan Iman: Masyitoh adalah wanita salehah yang bekerja menyisir rambut putri Firaun. Ketika sisirnya terjatuh dan ia menyebut "Bismillah" (Dengan nama Allah), putri Firaun protes mengira itu adalah nama ayahnya (Firaun). Masyitoh dengan tegas menyatakan bahwa Tuhannya dan Tuhan Firaun adalah Allah.Ujian Keji dan Panci Raksasa: Firaun murka dan menghukum Masyitoh beserta anak-anaknya dengan cara melemparkan mereka satu per satu ke dalam panci raksasa berisi minyak mendidih.Ketaran Jiwa & Mukjizat: Masyitoh sempat hampir goyah ketika melihat anak bayinya hendak dilemparkan, namun sang bayi berbicara meneguhkan ibunya untuk bersabar. Rasulullah ﷺmencium aroma wangi yang sangat harum dari kuburan Masyitoh saat peristiwa Isra Mikraj sebagai kemuliaan atas keteguhan imannya. 

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
V

Virginia Widyasri

📍 Kabupaten Bogor

Kisah Teladan Ummu Ad Darda’

Ummu Ad-Darda' Al-Kubra (Senior)Identitas: Bernama Khairah binti Abi Hadrad al-Aslami, seorang sahabiah yang bertemu dan beriman kepada Nabi ﷺ serta meriwayatkan hadis.Kisah Kunjungan Salman Al-Farisi:Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Salman Al-Farisi dengan Abu Darda' melalui sistem persaudaraan (Nizham at-Ta'akhi).Salman berkunjung dan melihat Ummu Ad-Darda' berpakaian lusuh atau tidak berhias. Ketika ditanya, ia menjaga kehormatan suaminya dengan berkata bijak bahwa suaminya tidak butuh dengan kesenangan duniawi.Abu Darda' terlalu fokus beribadah hingga berpuasa setiap hari dan salat sepanjang malam.Salman menasihati Abu Darda' dengan menginap untuk membimbingnya: meminta Abu Darda' membatalkan puasa sunnah, menahan salat hingga waktu sepertiga malam terakhir, lalu menyampaikan kaidah bahwa tubuh memiliki hak, Allah memiliki hak, tamu memiliki hak, dan istri memiliki hak, sehingga hak masing-masing harus dipenuhi.Rasulullah ﷺ membenarkan dan memuji nasihat Salman tersebut.Wafat: Wafat di Damaskus beberapa waktu mendahului Abu Darda'.Ummu Ad-Darda' Ash-Shughra (Junior)Identitas: Bernama Hujaimah binti Huyay al-Washabiyah (berasal dari Yaman), seorang tabi'iyah yang terpelajar, ahli ibadah, cerdas, dan meriwayatkan banyak hadis.Masa Kecil dan Pernikahan:Dibesarkan sebagai anak yatim dalam asuhan Abu Darda' dan diajarkan ilmu agama serta Al-Qur'an sejak kecil.Setelah dewasa, Abu Darda' menikahinya. Saat Abu Darda' hendak wafat, Ummu Ad-Darda' berpesan ingin menjadi istrinya kembali di akhirat kelak dan berikrar tidak menikah lagi.Menolak Lamaran Tokoh Besar:Setelah Abu Darda' wafat, ia dilamar oleh Muawiyah bin Abi Sufyan, tetapi menolaknya berpegang pada sabda Nabi ﷺ bahwa seorang wanita di surga kelak bersama suaminya yang terakhir.Penghormatan kepada Suami:Ketika meriwayatkan hadis, ia menyebut suaminya dengan panggilan penuh takzim, yaitu tuanku telah menyampaikan hadis kepadaku.Kiprah Keilmuan dan Keteladanan:Membuka majelis ilmu di Damaskus dan Baitul Maqdis yang dihadiri para pembesar tabiin hingga Khalifah Abdul Malik bin Marwan.Sangat tekun berzikir hingga menyatakan bahwa tidak ada ibadah yang paling menyejukkan hatinya selain mengingat Allah.Tegas menasihati Khalifah Abdul Malik bin Marwan saat melaknat pembantunya, dengan mengingatkan hadis mengenai larangan gemar melaknat.Hikmah dan Pelajaran Rumah TanggaKeseimbangan Hak dan Kewajiban: Menjalankan ibadah sunnah tidak boleh sampai menelantarkan hak pasangan maupun kebutuhan keluarga.Manajemen Konflik Suami Istri: Pesan bijak Abu Darda' kepada istrinya mengajarkan agar ketika salah satu sedang marah, pihak lain hendaknya berusaha meredakan dan menenangkan suasana demi menjaga keutuhan rumah tangga.

💬 0 komentar📅 5 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya4 jam lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

#33 - 4 Wanita di Zaman Nabi Musa

kecerdasan bukanlah dua hal yang bertentangan. Seorang perempuan dapat memiliki keberanian, ketajaman menilai seseorang, dan kemampuan mengambil keputusan tanpa kehilangan rasa malunya. Dalam memilih pasangan pun, agama, amanah, dan kekuatan karakter jauh lebih layak dipertimbangkan daripada sekadar penampilan atau kemapanan.Dari Asiyah, kita diingatkan bahwa kemewahan tidak selalu berarti kebahagiaan, dan kedudukan tinggi tidak menjamin keselamatan seseorang. Ia memiliki istana, tetapi memilih surga. Ia hidup bersama penguasa yang paling berkuasa, tetapi tidak membiarkan kekuasaan suaminya menentukan kepada siapa ia harus beriman. Sebuah pengingat bahwa dunia boleh dimiliki, tetapi jangan sampai dunia memiliki hati kita.Sementara dari Masyitoh, kita belajar bahwa iman bukan sekadar sesuatu yang diyakini ketika keadaan sedang baik-baik saja. Ada keyakinan yang tetap teguh bahkan ketika harga yang harus dibayar begitu mahal. Kisahnya mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya, dan bahwa perjumpaan dengan Allah serta balasan akhirat jauh lebih berharga daripada apa pun yang harus ditinggalkan.Empat perempuan, empat keadaan yang berbeda: seorang ibu yang harus melepaskan anaknya, seorang gadis yang menjaga kehormatannya, seorang istri yang menolak kekufuran suaminya, dan seorang ibu yang mempertahankan imannya hingga akhir hayat. Namun, semuanya bertemu pada satu hal: Allah lebih mereka cintai daripada apa pun yang bisa ditawarkan dunia.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya2 hari lalu
B
Baby Nabilah Ulzanah

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Kisah Empat Wanita Di Zaman Nabi Musa Alaihissalam - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

1. Ibunda Nabi Musa AL-ISLAMDi Balik Keberhasilan Anak: Al-Qur'an mengabadikan peran ibu dalam keberhasilan tokoh-tokoh besar seperti Nabi Musa, Nabi Isa, dan Maryam, di mana sosok ayah tidak disebutkan atau telah meninggal dunia.Ujian Kelahiran & Perintah Allah: Nabi Musa lahir di era kekejaman Firaun yang membantai bayi laki-laki Bani Israil. Allah mengilhamkan kepada ibunda Nabi Musa untuk menyusui bayinya terlebih dahulu—agar sang bayi mengenali rasa ASI ibunya—sebelum dihanyutkan ke Sungai Nil di dalam peti.Kesabaran dan Janji Allah: Meski diliputi rasa cemas, sang ibu bersabar dan bertawakal. Allah berjanji akan mengembalikan Musa kepadanya dan menjadikannya seorang rasul.Pengembalian yang Cepat: Di istana Firaun, bayi Musa menolak disusui oleh wanita mana pun. Atas petunjuk kakak perempuan Musa yang mengawasi dari jauh, ibunya dipanggil ke istana untuk menyusui Musa. Janji Allah pun terbukti, Musa kembali ke pelukan ibunya dan sang ibu dibayar oleh Firaun untuk merawat anaknya sendiri.2. Istri Nabi Musa (Putri Syu'aib/Orang Saleh dari Madyan)Ketajaman Firasat: Ibnu Mas'ud menyebutkan bahwa salah satu orang dengan firasat terkuat adalah istri Nabi Musa, yang mampu menilai Musa sebagai sosok yang kuat (al-qawiyy) dan terpercaya (al-amin).Kisah Pertemuan di Madyan: Nabi Musa melarikan diri dari Mesir ke Madyan setelah tidak sengaja membunuh seorang pria suku Firaun. Di Madyan, Musa membantu dua wanita mengambil air minum untuk ternak mereka karena mereka tidak ingin berdesak-desakan dengan para pria.Akhlak & Sikap Pemalu: Salah satu dari wanita tersebut mendatangi Musa dengan penuh rasa malu (tamsyi 'ala istihya') untuk mengundangnya ke rumah atas panggilan ayahnya. Musa berjalan di depan dan meminta wanita tersebut berjalan di belakangnya sambil melempar kerikil sebagai penunjuk arah untuk menjaga pandangan.Pernikahan: Karena terkesan dengan sifat kuat (mampu mengangkat penutup sumur sendirian) dan amanah Musa, sang ayah menikahkan putrinya dengan Musa dengan mahar bekerja padanya selama 8–10 tahun.3. Asiyah binti Muzahim (Istri Firaun)Penyelamat Bayi Musa: Ketika menemukan bayi Musa di sungai Nil, Asiyah yang belum memiliki anak merasa sangat sayang dan membujuk Firaun untuk tidak membunuhnya, melainkan menjadikannya penyejuk mata dan anak angkat.Menolak Kemewahan Dunia: Ketika ketahuan beriman kepada ajaran Nabi Musa, Firaun mengancam dan menyiksanya. Asiyah ditawari kemegahan istana jika mau kufur, namun ia menolak dan memilih berdoa agar dibangunkan rumah/istana di sisi Allah di surga (Robbibni li 'indaka baitan fil jannah).Keteguhan Iman: Asiyah rela mengorbankan nyawa, status, dan kekayaan demi mempertahankan tauhid hingga akhir hayatnya.4. Masyitoh (Penyisir Rambut Putri Firaun)Keharuman di Malam Isra Mi'raj: Rasulullah SAW mencium aroma sangat wangi di langit saat Isra Mi'raj, yang ternyata berasal dari kubur Masyitoh dan anak-anaknya.Awal Mula Ketahuan: Ketika sedang menyisir rambut putri Firaun, sisirnya jatuh dan Masyitoh mengucapkan "Bismillah". Putri Firaun bertanya apakah yang dimaksud adalah ayahnya, namun Masyitoh dengan tegas menjawab bahwa Tuhannya dan Tuhan Firaun adalah Allah.Siksaan Firaun: Firaun murka dan menyiapkan kuali/panci raksasa berisi minyak panas. Anak-anak Masyitoh dilemparkan satu per satu ke dalam minyak panas di hadapan Masyitoh untuk menggoyahkan imannya.Permintaan Terakhir & Keajaiban: Masyitoh meminta agar tulang-belulangnya dan anak-anaknya dikumpulkan dalam satu kain dan dikuburkan bersama. Saat giliran bayi terkahirnya yang masih menyusu hendak dilemparkan, Masyitoh sempat ragu, namun atas izin Allah sang bayi berbicara dan menguatkannya: "Wahai ibunda, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran." Masyitoh pun melompat dan wafat sebagai syahidah.Pesan Kunci / Hikmah Utama:Kesabaran, ketakwaan, dan rasa malu adalah perhiasan terbesar bagi wanita salehah.Keteguhan iman (istiqamah) jauh lebih berharga daripada seluruh kemewahan dan kekuasaan duniawi.Di balik keberhasilan tokoh-tokoh besar dalam sejarah, selalu ada peran dan perjuangan wanita-wanita hebat yang salehah.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
S

Susy Siswandini

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

KISAH 4 WANITA DI JAMAN ‎NABI MUSA

PEMATERI: UST. FIRANDA ANDIRJA1. Ibunda Nabi Musa AlaihissalamKondisi Kelahiran Nabi Musa: Nabi Musa lahir di zaman yang penuh dengan kesulitan, kebengisan, dan kekejaman Firaun. Firaun melakukan sensus dengan mengirim pasukannya untuk mendata wanita-wanita yang hamil. Jika anak yang lahir laki-laki, langsung dibunuh; jika perempuan, dibiarkan hidup.Ilham dan Perintah Allah: Allah mengilhamkan kepada ibunda Nabi Musa untuk menyusui Nabi Musa terlebih dahulu agar mengetahui rasa air susu ibunya. Setelah itu, baru dimasukkan ke dalam tabut (keranjang) dan dihanyutkan ke Sungai Nil.Janji Allah: Allah berfirman kepada ibunya: "Jangan takut dan jangan bersedih, sesungguhnya Kami akan kembalikan dia kepadamu, dan Kami akan menjadikannya termasuk para rasul."Pengawasan Kakak Musa: Kakak perempuan Nabi Musa diperintahkan untuk mengikuti ke mana jalannya kotak tersebut dari jauh seakan-akan tidak kenal. Kotak tersebut akhirnya melewati kerajaan Firaun dan diambil oleh istri Firaun (Asia bintu Muzahim) karena Firaun dan istrinya tidak punya anak.Pertemuan Kembali dengan Ibu: Nabi Musa tidak mau menyusui kepada siapapun sampai akhirnya kakaknya datang menawarkan keluarga yang bisa menyusuinya (yakni ibu kandungnya sendiri yang diberi upah oleh Firaun). Hal ini terjadi berkat kunci kesabaran dan keyakinan bahwa janji Allah adalah benar.2. Istri Nabi Musa AlaihissalamFirasat yang Kuat: Menurut Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, orang yang paling kuat firasatnya ada tiga: majikannya Nabi Yusuf (yang menyuruh memuliakan Yusuf), istrinya Nabi Musa, dan Abu Bakar (ketika memilih Umar).Kisah Pertemuan: Nabi Musa melarikan diri dari Mesir karena tidak sengaja membunuh seorang dari kaum Firaun, lalu berjalan ratusan kilometer sampai tiba di negeri Madyan tanpa membawa bekal makanan.Menolong Dua Wanita di Sumur: Nabi Musa mendapati dua wanita sedang menghalang-halangi kambing mereka minum karena tidak bisa mendahului para lelaki yang berakhlak buruk. Nabi Musa langsung menolong mengambilkan air untuk mereka. Setelah itu, beliau berteduh di bawah pohon dan berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku sangat butuh kebaikan yang Engkau turunkan."Sifat Pemalu: Salah satu dari dua wanita tersebut mendatangi Nabi Musa dengan malu-malu (tersipu malu) untuk menyampaikan undangan ayahnya. Sifat malu adalah sifat mulia yang mempercantik para wanita.Kuat dan Amanah: Berdasarkan firasat putrinya, sang ayah mengetahui Nabi Musa adalah orang yang kuat (karena sanggup mengangkat tutup sumur sendirian yang biasanya butuh 8 orang) dan amanah (karena saat berjalan menuju rumah, Nabi Musa berjalan di depan dan mengarahkan lewat kerikil agar tidak melihat lekuk tubuh perempuan di belakangnya).Pernikahan: Ayah dari wanita tersebut menawarkan pernikahan dengan mahar Nabi Musa bekerja menjadi tukang kebun selama 8 atau 10 tahun.Keutamaan Istri Salehah: Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang salehah, yaitu istri yang membantu suami untuk urusan akhirat (bukan terus-menerus menuntut dunia).3. Istri Firaun (Asia bintu Muzahim)Pengangkatan Anak: Ketika bayi Musa diambil dari Sungai Nil, Asia bintu Muzahim sangat menyayanginya dan membujuk Firaun agar tidak membunuhnya dengan berkata: "Anak ini akan menyenangkan kita dan membahagiakan engkau dan bagiku, jangan kau bunuh dia, asalkan bisa jadi akan bermanfaat bagi kita di kemudian hari atau kita angkat menjadi anak angkat."Keimanan di Tengah Kemegahan: Kehadiran Nabi Musa membuat Asia beriman kepada Allah dan beriman kepada Nabi Musa. Ia menyembunyikan imannya hingga akhirnya ketahuan oleh Firaun.Pilihan dan Doa: Firaun mengancam untuk membunuhnya dan menawarkan istana yang lebih megah jika ia kafir kepada Musa, namun ia menolak. Allah mengabadikan doanya dalam Al-Qur'an: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah istana di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim."Ketabahan: Ia rela meninggalkan segala kekayaan dan kemegahan dunia (meskipun suaminya adalah raja yang sangat karismatik dan berkuasa) demi tetap teguh beriman kepada Allah, meskipun konsekuensinya ia harus dibunuh oleh suaminya sendiri.4. Masyithah (Penyisir Rambut Putri Firaun)Aroma Wangi di Perjalanan Isra' Mi'raj: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencium aroma yang wangi ketika Isra' Mi'raj. Jibril memberitahu bahwa aroma tersebut berasal dari Masyithah (tukang sisir rambut putrinya Firaun) beserta anak-anaknya.Kisah Keteguhan Iman: Suatu hari ketika sedang menyisir rambut putri Firaun, sisir yang digunakannya jatuh dan ia mengucapkan "Bismillah" (Dengan nama Allah). Putri Firaun bertanya, "Apakah maksudmu bapakku?" Masyithah menjawab, "Tuhanku dan tuhan bapakmu adalah Allah."Hukuman Keji: Putri Firaun melaporkan hal tersebut kepada ayahnya. Firaun murka dan memanggil Masyithah beserta anak-anaknya untuk dilemparkan ke dalam panci raksasa besar berisi minyak yang mendidih.Ujian dan Pengorbanan: Firaun membunuh anak-anaknya satu persatu di depan matanya untuk menggoyang imannya. Sebelum dilemparkan, Masyithah sempat meminta kepada Firaun agar tulang-tulang ia dan anak-anaknya dikumpulkan dalam satu kain dan dikuburkan bersama.Puncak Ketegaran: Ketika tersisa anak kecil terakhir yang masih disusui dan Masyithah hampir mundur karena tidak tega, sang anak kecil tiba-tiba berbicara: "Ibunda, masuklah dalam panci tersebut, sesungguhnya azab dunia lebih ringan daripada azab akhirat." Masyithah pun tegar membela agama Allah hingga akhir hayatnya.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
N
Nurul Zanah

📍 Kabupaten Purworejo

MATARI 33 = KISAH UMMU DARDA'

KISAH ISTRI ABU DARDA’1. Dua Sosok Ummu Ad-Darda'Sahabat Nabi yang bernama Abu Ad-Darda' (Uwaimir bin Amir Al-Khazraji) memiliki dua istri yang sama-sama dikenal dengan julukan Ummu Ad-Darda', yaitu:Ummu Ad-Darda' Al-Kubra (Senior): Seorang sahabiah (bertemu dan beriman kepada Nabi ﷺ). Nama aslinya adalah Khairah binti Abi Hadrad Al-Aslami.Ummu Ad-Darda' Al-Sughra (Junior): Seorang tabi'ah (tidak bertemu Nabi ﷺ, tetapi bertemu para sahabat). Nama aslinya adalah Hujaimah binti Huyai Al-Washabiyah (asal Yaman, tinggal di Syam/Damaskus).2. Kisah Ummu Ad-Darda' Al-Kubra (Senior) & Salman Al-FarisiLatar Belakang: Rasulullah ﷺ mempersaudarakan antara Salman Al-Farisi dan Abu Ad-Darda'.Kunjungan Salman Al-Farisi: Suatu hari Salman mendatangi rumah Abu Ad-Darda' dan mendapati Ummu Ad-Darda' Al-Kubra mengenakan pakaian yang tidak rapi (tidak berhias).Jawaban Bijak: Ketika Salman bertanya, Ummu Ad-Darda' tidak menjelek-jelekkan suaminya, melainkan menjaga kehormatan rumah tangga dengan menjawab: "Saudaramu Abu Ad-Darda' tidak butuh dengan dunia (ia terlalu sibuk beribadah siang dan malam)."Solusi Bijak dari Salman: Salman menginap untuk mengecek kebenarannya. Mengetahui Abu Ad-Darda' terus-menerus shalat malam dan berpuasa tanpa istirahat, Salman menasihatinya keesokan harinya:"Sesungguhnya Tuhanmu punya hak atasmu, dirimu punya hak, tamumu punya hak, dan istrimu juga punya hak. Maka berikanlah hak kepada masing-masing."Ketika diadukan kepada Nabi ﷺ, beliau membenarkan perkataan Salman ("Salman telah benar"), mengajarkan bahwa ibadah harus proporsional dan tidak boleh menzalimkan hak keluarga.3. Kisah Ummu Ad-Darda' Al-Sughra (Junior) & Kesetiaan CintanyaLatar Belakang: Beliau adalah anak yatim yang dipelihara dan dididik langsung sejak kecil oleh Abu Ad-Darda' (serta diajarkan ilmu agama dan Al-Qur'an), hingga akhirnya dinikahi oleh Abu Ad-Darda'.Menolak Lamaran Gubernur/Khalifah Mu'awiyah: Setelah Abu Ad-Darda' wafat (tahun 32 H), Ummu Ad-Darda' Al-Sughra tumbuh menjadi wanita yang sangat alim, ahli ibadah, dan berparas cantik jelita. Beliau bahkan sempat dilamar oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan (gubernur/khalifah saat itu).Alasan Menolak: Beliau menolak lamaran tersebut karena memegang teguh sabda Nabi ﷺ bahwa wanita di surga bersama suaminya yang terakhir, dan beliau tidak ingin mencari pengganti selain Abu Ad-Darda'.Janji Setia: Semasa hidupnya, Abu Ad-Darda' pernah berpesan agar istrinya tidak menikah lagi selepas kepergiannya demi bisa bersatu kembali di surga kelak.4. Karakter, Keutamaan, & Teladan Ummu Ad-Darda' Al-SughraTakzim dan Hormat kepada Suami: Beliau sangat menghormati suaminya. Dalam periwayatan hadis di Sahih Muslim, beliau selalu menyebut suaminya dengan sebutan "Sayyidi" (tuanku/majikanku), sebuah bentuk adab tinggi istri kepada suami yang membuat suami merasa dihormati layaknya "gubernur" di rumah.Majelis Ilmu & Zikir: Beliau aktif mengajar ilmu fikih dan hadis di Damaskus dan Baitul Maqdis. Murid-muridnya (termasuk para ulama tabiin dan khalifah Abdul Malik bin Marwan) sering mendatangi majelisnya untuk berzikir dan mendengarkan nasihat. Beliau dikenal sangat mencintai zikir kepada Allah.Berani Menasihati Penguasa: Beliau tidak ragu menegur penguasa seperti Khalifah Abdul Malik bin Marwan ketika keliru (misalnya menegur sang khalifah yang melaknat pembantunya, dengan menyampaikan hadis Nabi ﷺ bahwa orang yang suka melaknat tidak akan bisa menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat).Wafat: Beliau wafat sekitar tahun 81 Hijriah dalam usia lanjut setelah menghabiskan hidupnya dalam ilmu dan amal saleh. 

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
H

Hikmahwati

📍 Kabupaten Kuningan

Materi 33-Kisah 4 Wanita di Zaman Nabi Musa AS

Ibunya Nabi Musa AS, Istrinya Nabi Musa AS, Istrinya Fir'aun dan Masyito (Penyisir rambut putrinya Fir'aun)Ibunda Nabi Musa ASDiabadikan dalam surat QS. Taha dan QS. Al-Qasas. Nabi Musa lahir ketika Fir'aun menguasai kota mesir. Kakak Nabi Musa adalah Nabi Harun. Ketika sedang hamil, ibunda Nabi Musa tidak tercatat oleh pasukan Fir'aun. QS. Al-Qasas (Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibunda Nabi Musa AS, susuilah Musa. Masukkan kedalam keranjang, lepaskan ke sungai Nil. jangan takut dan jangan bersedih. Kami akan kembalikan dia kepadamu, kami akan jadikan dia termasuk Rasul).Ibunda Nabi Musa meminta kepada kakanya Nabi Musa(kakak perempuan) untuk mengamati kemana perginya kotak yang berisi Nabi Musa tersebut. Setelah diamati dari jauh, ternyata Musa ditemukan oleh istrinya Fir'aun. (Awalnya Fir'aun memerintahlan istrinya untuk membunuh Nabi Musa karena Fir'aun mengetahui bayi tersebut adalah bayi bani israil. Namun istri Fir'aun menolak secara halus perintah fir'aun tersebut. Maka Bayi Musa tidak jadi dibunuh). Kemudian kakak Nabi Musa yang mengamati keranjang tadi, melaporkan kejadian tersebut kepada ibundanya. Hal tersebut membuat hati ibunda Nabi Musa kosong. Ibunda Nabi Musa merasa sangat khawatir karena Bayi Musa justru sangat dekat dengan Fir'aun. Setelah ada di Istana Fir'aun, Bayi Nabi Musa tidak mau menyusu kepada siapapun. Bahkan Fir'aun memerintahkan untuk mencari wanita yang bisa menyusui bayi Musa. Kemudian kakak Nabi Musa datang kepada Fir'aun dan memberi tahu bahwa ada wanita yang bisa menyusui bayi Musa dan akan sangat menyayangi Nabi Musa. Maka datanglah ibunda Nabi Musa, untuk menyusui bayi Musa. Akhirnya tinggalah ibunda Nabi Musa di istana untuk mengasuh Nabi Musa (tanpa sepengetahuan Fir'aun bahwa itu adalah ibunya). Berkat kesabaran ibunda Nabi Musa, Allah menepati janji-Nya bahwa akan mengembalikan Nabi Musa kepada ibundanya.Kisah Istri Nabi Musa ASDiceritakan dalam surat QS. Al-Qasas. Ibnu Mas'ud RA berkata :"orang yang firasatnya paling kuat ada 3 orang. Yang pertama adalah majikannya Nabi Yusuf AS (Suaminya Zulaikha), kedua adalah istrinya Nabi Musa AS, ketika adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq saat memilih Umar menjadi khalifah setelahnya".Nabi Musa adalah manusia yang sangat kuat. Saat sedang perang dengan bani Qibti, Nabi Musa tidak sengaja membunuh salah satu dari bani qibti. Mengetahui hal tersebut, Fir'aun dan pasukannya mencari Nabi Musa. Nabi Musa pun Kabur ke kota Madyan. Dari kota mesir ke madyan adalah jarak yang sangat jauh. Ketika tiba di Madyan, Nabi Musa mendapati orang-orang sedang mencari air di sekitar sumur. Disana ada 2 wanita yang dihalang-halangi untuk mengambil air. Setelah bertanya kepada kedua wanita tersebut, ternyata dua wanita tersebut tidak bisa menganmbil air sebelum semua laki-laki pergi (selesai mengambil air). Ketika itu mengambil air merupakan pekerjaan laki-laki. kedua perempuan tersebut harus mengambil air karena ayahnya di rumah sudah tua. Setibanya di rumah, ayahnya bertanya (karena heran mengambil airnya sangat cepat. Maka berceritalah kedua wanita tersebut tentang Nabi Musa yang menolong mereka. Akhirnya ayah kedua perempuan tersebut memerintahkan salah satu anaknya untuk mengundang Nabi Musa sebagai upah karena sudah menolong putrinya mengambil air. Setibanya disana, Nabi Musa bertemu dengan ayah dari kedua wanita tersebut (dan ditenangkan. bahwasannya kota tersebut sudah jauh darui jangkauan Fir'aun).Salah satu putrinya berkata "Wahai Ayah, pekerjakanlah laki-laki tersebut. Sesungguhnya orang yang pantas engkau pekerjakan adalah orang yang kuat dan amanah". Lalu ayahnya ingin menikahkan Nabi Musa dengan salah satu putrinya. Maharnya adalah Nabi Musa bekerja menjadi tukang kebun selama 8 tahun (atau 10 tahun).Setelah 10 tahun, Nabi Musa Rindu kembali ke kota Mesir. Akhirnya Nabi Musa berjalan menuju kota mesir bersama Istrinya. Kisah Istri Fir'aunAsiyah binti Muzahid. Saat menemukan Nabi Musa, Asiyah berkata "jangan kau bunuh dia, bayi ini mungkin bermanfaat bagi kita dan kita angkat sebagai anak angkat". Seiring berjalannya waktu, Istri Fir'aun juga mengimani apa yang Nabi Musa imani. Sampai akhirnya hal tersebut diketahui oleh Fir'aun kemudian diberi pilihan. Bahwa apabila istrinya mengikuti Fir'aun (kafir kepada Allah) maka akan diberikan istana yangs angat megah. Namun Asiyah berdoa kepada Allah untuk dilindungi dari Fir'aun. Asiyah tetap memilih beriman kepada Allah dan meminta istana di surga. Karena hal tersebut, Asiyah dibunuh oleh Fir'aun.Pelajaran yang dapat diambil adalah tabahnya Asiyah dalam menjalani kehidupan. Beliau rela meninggalkan segala kemewahan dunia bahkan rela meninggal dunia untuk bisa tetap beriman kepada Allah SWT.Masyitoh (penyisir rambut putrinya Fir'aun)Masyitoh bukan nama. Masyitoh adalah sebutan untuk penyisir rambut.Dari Ibnu Abbas RA Rasulullah SAW bersabda : "Ketika malam isra' mi'raj datang kepadaku aroma yang wangi. lalu aku berkata " Wahai Jibril, ini aroma apa yang aku cium ?". Jibril menjawab " Ini adalah aroma dari Masyitoh (penyisir ) rambut putrinya Fir'aun dan aroma dari anak-anaknya". Aku bertanya kepada Jibril "apa gerangan cerita tentang penyisir rambut putri Fir'aun dan anak-anaknya ?". Maka jibril menceritakan tentang penyisir rambut tersebut. "Ketika dia sedang menyisir rambut putri Fir'aun, tiba-tiba sisirnya jatuh. Ketika sisirnya jatuh tersebut dia mengucapkan bismillah. maka bertanyalah putri Fir'aun "Kau sedang menyebut nama bapakku ?" lalu penyisir tersebut menjawab "bukan, aku sebut nama Allah. Allah adalah Rabb-ku dan Rabb ayahmu". Sang putri menyampaikan kabar tersebut kepada ayahnya (Fir'aun). Fir'aun pun marah dan memanggil penyisir rambut tersebut kemudian ditanya oleh Fir'aun "Apakah kau punya tuhan selainku?", Lalu penyisir rambut tersebut menjawab "ya. Tuhanku dan tuhanmu sama". Maka Fir'aun marah besar dan memerintahkan untuk mengambil panci besar dari tembaga, dipanaskan. ternyata anak-anaknya pun terkena dampaknya. Lalu Masyitoh dan anaknya dibakar satu persatu (saat itu anaknya terlebih dulu yang dibakar). Lalu sebelum hal tersebut terjadi, Masyitoh meminta agar tulangnya dan tulang anak-anaknya dikumpulkan menjadi satu dan dikubur bersama. dan Fir'aun menyetujui hal tersebut. Satu persatu anaknya dilempar ke dalam panci panas tersebut sampai datanglah kepada anaknya yang terakhir yang masih menyusu. Saat itu, Masyitoh tersebut mulai tidak kuat (sedikit mundur). Lalu anaknya berkata "Ya Umma, masuklah kedalam panci tersebut. sesungguhnya azab dunia ini jauh dari azab akhirat".

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
A

Aini septiana

📍 Kota Padang

Materi 33: Kisah 4 Wanita di Zaman Nabi Musa

Kisah 4 Wanita di Zaman Nabi Musa عليه السلامPemateri: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.1. Ibu Nabi Musa عليه السلامPada zaman Fir’aun, bayi laki-laki dari Bani Israil dibunuh karena Fir’aun takut kekuasaannya terancam.Ketika ibu Nabi Musa melahirkan, Allah memberikan ilham kepadanya untuk menyusui Musa. Setelah itu, ia menghanyutkan Musa ke sungai dengan penuh tawakal kepada Allah.Musa kemudian ditemukan oleh keluarga Fir’aun. Istri Fir’aun meminta agar Musa tidak dibunuh dan menjadikannya sebagai anak angkat.Allah mengatur agar Musa kembali kepada ibunya. Musa tidak mau menyusu kepada perempuan lain, hingga akhirnya ibunya sendiri dipanggil untuk menyusuinya.📖 Dalil: Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash: 7, yang menjelaskan bahwa Allah mengilhamkan kepada ibu Musa untuk menyusui Musa dan menghanyutkannya ke sungai ketika ia khawatir.🌷 Pelajaran:Tawakal bukan berarti tidak melakukan usaha.Seorang ibu dapat menghadapi ujian berat dengan pertolongan Allah.Allah mampu menjaga hamba-Nya melalui jalan yang tidak disangka-sangka.2. Istri Nabi Musa عليه السلامKetika Nabi Musa melarikan diri dari Mesir, beliau tiba di Madyan. Di sana, beliau membantu dua perempuan yang sedang menunggu untuk memberi minum ternaknya.Salah seorang perempuan itu kemudian datang kepada Musa dengan rasa malu dan menyampaikan bahwa ayahnya mengundang Musa untuk memberikan imbalan atas bantuannya.Perempuan tersebut melihat bahwa Musa adalah orang yang kuat dan amanah. Ayahnya kemudian menawarkan Musa untuk menikahi salah satu putrinya dengan mahar bekerja selama delapan tahun.📖 Dalil: Dalam QS. Al-Qashash: 26, salah seorang perempuan berkata:“Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja. Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”🌷 Pelajaran:Menilai seseorang perlu melihat akhlak dan amanahnya.Perempuan dapat menyampaikan pendapat dengan santun dan berdasarkan alasan yang jelas.Kekuatan dan amanah merupakan sifat penting dalam bekerja maupun menjalankan tanggung jawab.3. Istri Fir’aun — AsiyahAsiyah, istri Fir’aun, beriman kepada Allah meskipun hidup bersama seorang penguasa yang zalim.Dalam materi disebutkan bahwa Asiyah beriman kepada Nabi Musa secara diam-diam. Ketika keimanannya diketahui Fir’aun, ia tetap memilih iman meskipun harus menghadapi siksaan dan kehilangan kemewahan dunia.Asiyah tidak menjadikan kedudukan, kekayaan, atau kemewahan sebagai alasan untuk meninggalkan kebenaran.📖 Dalil: Dalam QS. At-Tahrim: 11, Allah menjadikan istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman. Ia berdoa agar Allah membangunkan rumah untuknya di sisi-Nya di surga dan menyelamatkannya dari Fir’aun serta perbuatannya.🌷 Pelajaran:Keimanan lebih berharga daripada kemewahan dunia.Lingkungan yang buruk tidak harus membuat seseorang ikut menjadi buruk.Keteguhan iman membutuhkan keberanian dan kesabaran.4. Masyithah — Penyisir Rambut Putri Fir’aunMasyithah dikenal dalam kisah ini sebagai penyisir rambut putri Fir’aun. Dalam materi, diceritakan bahwa ia tetap mengakui Allah sebagai Tuhannya ketika ditanya oleh Fir’aun.Ia tidak mau mengingkari keimanannya meskipun mendapat ancaman. Dalam kisah tersebut, Masyithah dan anak-anaknya mengalami penyiksaan hingga dibunuh.Disebutkan pula bahwa ketika Masyithah menghadapi kematian, tercium aroma harum. Kisah ini menggambarkan keteguhan seorang perempuan dalam mempertahankan iman kepada Allah.🌷 Pelajaran:Jangan menggadaikan iman demi keselamatan atau keuntungan dunia.Kebenaran harus tetap dipegang meskipun menghadapi tekanan.Kesabaran dalam mempertahankan iman merupakan bentuk keteguhan hati.Catatan: Kisah Masyithah beserta rincian peristiwa penyiksaannya dikenal melalui riwayat-riwayat. Rincian tersebut perlu dibedakan dari ayat Al-Qur’an yang secara jelas menyebut kisah ibu Musa dan istri Fir’aun.🍃 Hikmah Umum dari Kisah 4 WanitaTawakal kepada Allah — sebagaimana ibu Nabi Musa yang menyerahkan urusan anaknya kepada Allah.Menjaga amanah dan akhlak — sebagaimana perempuan yang menilai Nabi Musa sebagai sosok kuat dan amanah.Teguh dalam keimanan — sebagaimana Asiyah yang tidak silau oleh kemewahan dunia.Berani mempertahankan kebenaran — sebagaimana Masyithah dalam kisah yang disampaikan.Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan dunia, melainkan oleh iman, ketakwaan, dan amalnya.🌸 MuhasabahApakah aku sudah bertawakal kepada Allah setelah berusaha?Apakah aku menilai seseorang berdasarkan akhlak dan amanahnya?Apakah aku tetap berpegang pada kebenaran ketika menghadapi tekanan?Apakah dunia dan kemewahannya pernah membuatku mengabaikan ketaatan kepada Allah?Kesimpulan: Kisah empat wanita pada zaman Nabi Musa mengajarkan bahwa iman, tawakal, amanah, dan keteguhan hati adalah bekal penting dalam menghadapi ujian kehidupan. Allah mampu mengangkat derajat hamba-Nya yang tetap berpegang pada kebenaran.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
D

Dini Nurfaizah

📍 Kabupaten Kepulauan Mentawai

#33 Kisah 4 Wanita di Zaman Nabi Musa

#33 Kisah 4 Wanita di Zaman Nabi Musa Ust Dr. Firanda Andirja, M.AIbunya Nabi MusaIbunya Nabi Musa hamil tidak terlihat, sehingga Fir’aun tidak bisa melacaknya (karena saat itu ibu hamil didata dan ditunggu hingga melahirkan, jika lahir anak laki-laki langsung dikubur). Setelah lahir, Nabi Musa dihanyutkan di sungai dengan dicek dari jauh. Suatu saat Fir’aun menemukannya dan hendak dibunuh tapi ditahan oleh istrinya. Nabi Musa kemudian diangkat dan diasuh di keluarga Fir’aun. Selnajutnya dicari ibu susu dan ibunyalah yang terpilih karena NAbi Musa hanya mau menyusu dengannya (dicoba ke ibu-ibu yang lain namun Nabi Musa tidak mau karena sudah disusui sebelumnya sebelum dihanyutkan). Sehingga Nabi Musa diasuh oleh ibunya sendiri di istana.Istrinya Nabi MusaOrang yang punya firasat paling kuat salah satunya adalah istrinya Nabi Musa. Pertama kali Nabi Musa bertemu istrinya adalah saat Nabi Musa membantunya menimba air. Nabi Musa kemudian diberi imbalan oleh ayah wanita tersebut. Karena Nabi Musa datang ke rumah, wanita ini berkata ke ayahnya bahwa hendaklah Nabi Musa diperkejakan karena Nabi Musa kuat dan amanah. Selanjutnya Orang tuanya menwarkan anaknya untuk dinikahkan dengan mahar bekerja di kebun selama 8 tahun.Istrinya Fir’aunIstrinya beriman kepada Nabi Musa, anak angkatnya, secara diam-diam. Kemudian saat ketahuan Fir’aun, dia rela dibunuh daripada kafir. Meninggalkan seluruh kemewahan demi iman.Masyitho (penyisir rambut putri Fir’aun)Suatu saat Nabi Musa bertemu dengan Masyitho dan putri Fir’aun, Nabi Musa berkata bahwa Tuhannya dan Tuhan Nabi Fir’aun adalah sama. Putrinya kemudian menyampaikan kepada Fir’aun sehingga membuatnya marah. Selanjutnya masyitho dipanggil dan ditanyai siapa Tuhanmu, dan dijawab Allah, Tuhan yang sama dengan Fir’aun. Selanjutnya masyitho dibunuh beserta anak-anaknya. Anak-anaknya dibunuh duluan dengan dimasukkan ke minyak panas hingga sisa tulang. selanjutnya ia lalu muncul wangi harum saat dibunuh.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya3 hari lalu
D

Delonie Regia

📍 Kota Tangerang Selatan

Catatan Kajian - Materi 33: Kisah Empat Wanita di Zaman Nabi Musa Alaihissalam

Catatan KajianKisah Empat Wanita di Zaman Nabi Musa Alaihissalam Ustadz Firanda Andirja hafizhahullahu Video ini membahas kisah empat wanita sholehah yang hidup di zaman kekejaman Firaun pada masa Nabi Musa Alaihissalam. Ustadz Dr. Firanda Andirja menjelaskan bahwa mempelajari sejarah orang-orang saleh dapat meningkatkan semangat beribadah.Berikut adalah empat wanita yang dikisahkan:1.  Ibunda Nabi Musa Sosok yang penuh kesabaran dan keimanan. Atas perintah Allah, ia menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil dan akhirnya dipersatukan kembali oleh Allah untuk menyusui Musa di istana Firaun.2.  Istri Nabi Musa Seorang wanita yang memiliki firasat kuat, pemalu, dan bertakwa. Ia adalah putri dari orang saleh (kemungkinan Nabi Syu'aib) di Madyan yang menyarankan ayahnya untuk mempekerjakan Musa karena sifatnya yang kuat dan amanah.3.  Istri Firaun (Asia bintu Muzahim) Meskipun hidup dalam kemegahan istana Firaun, ia tetap beriman kepada Allah. Ia memilih untuk mati syahid daripada meninggalkan keimanannya meski diancam oleh suaminya sendiri.4.  Masyitoh (Penyisir rambut putri Firaun) Wanita yang rela mengorbankan diri beserta anak-anaknya demi mempertahankan akidahnya. Kisahnya diabadikan karena kesetiaannya yang luar biasa kepada Allah meski harus menghadapi siksaan keji Firaun.

💬 0 komentar📅 4 Nov 2026Baca selengkapnya →