Susy Siswandini
📍 Kota Administrasi Jakarta Barat
KISAH DUA ISTRI NABI, ZAINAB DAN ZAINAB
PEMATERI: UST. FIRANDA ANDIRJAMakna Nama: Kata "Zainab" berasal dari makna tumbuhan yang aromanya wangi, sehingga dijadikan nama wanita yang indah. Di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, banyak wanita yang bernama Zainab, termasuk dua istri Nabi serta istri Abdullah bin Mas'ud.Kisah Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu 'anhaNasab dan Keluarga: Dikenal dengan Zainab binti Khuzaimah al-Hilaliyah. Ibunya bernama Hind bintu Auf, yang memiliki putri-putri terkenal (saudari-saudari Zainab):Maimunah binti al-Harits (istri Nabi yang dinikahi setelah wafatnya Zainab).Asma binti Umais (pernah menjadi istri Ja'far bin Abi Thalib, lalu Abu Bakar, kemudian Ali bin Abi Thalib).Salma binti Umais (istri Hamzah bin Abdul Muthalib).Ummul Fadhl Lubabah al-Kubra binti al-Harits (istri al-Abbas bin Abdul Muthalib).Lubabah ash-Shughra binti al-Harits (ibu Khalid bin al-Walid).Gelar "Ummul Masakin": Beliau digelari Ummul Masakin (ibundanya orang-orang miskin) karena perhatiannya yang sangat besar untuk membantu janda-janda dan anak-anak yatim, menghabiskan umurnya untuk mengurusi orang-orang miskin sejak zaman jahiliyah hingga masa Islam dan setelah menjadi istri Nabi.Pernikahan Sebelumnya: Pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa sebelum dinikahi Nabi, beliau adalah istri dari Abdullah bin Jahsyin, yang wafat sebagai syahid dalam Perang Uhud dengan kondisi hidung dan telinga terpotong (dikenal sebagai Abdullah bin Jahsyin al-Mujaddad).Rumah Tangga & Keistimewaan: Beliau berumah tangga dengan Nabi dalam waktu yang singkat (berkisar antara 2–3 bulan hingga sekitar 8 bulan, wafat pada tahun ke-4 Hijriah bulan Rabiul Awal). Tidak diriwayatkan adanya kecemburuan dari diri beliau terhadap istri-istri Nabi yang lain karena hari-hari beliau disibukkan dengan beribadah kepada Allah, mengurus anak yatim, dan mengurus para janda. Beliau memiliki keistimewaan sebagai satu-satunya istri Nabi yang disalatkan jenazahnya oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Kisah Zainab binti Jahsyin radhiyallahu 'anhaNasab & Latar Belakang: Beliau adalah putri dari bibi Nabi, yaitu Umaimah binti Abdul Muthalib (sehingga merupakan sepupu Nabi). Lahir sekitar 32 tahun sebelum hijrah dan wafat sekitar tahun 20 Hijriah pada usia sekitar 52 atau 53 tahun. Beliau adalah istri Nabi yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Hadits "Paling Panjang Tangannya": Rasulullah pernah bersabda kepada istri-istrinya bahwa yang pertama kali menyusul beliau adalah yang paling panjang tangannya di antara mereka. Maksud dari "paling panjang tangannya" bukanlah ukuran fisik, melainkan paling banyak berinfak/bersedekah, yaitu Zainab binti Jahsyin.Peristiwa Haditsul Ifki: Ketika Aisyah radhiyallahu 'anha dituduh berzina dalam peristiwa haditsul ifki, saudari Zainab yaitu Hamnah binti Jahsyin ikut terprovokasi menuduh Aisyah demi membela saudarinya (madunya). Namun, Zainab binti Jahsyin sendiri tidak terprovokasi. Ketika Nabi meminta pendapatnya tentang Aisyah, Zainab menjawab: "Ya Rasulullah, aku menjaga pendengaranku dan penglihatanku... demi Allah, aku tidak mengetahui dari Aisyah kecuali kebaikan." Aisyah mengakui bahwa Zainab adalah satu-satunya wanita yang menyaingi/menyamainya dalam kedudukan dan kecintaan di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Pernikahan dengan Zaid bin Haritsah & Hukum Kafa'ah:Zaid bin Haritsah adalah anak angkat Nabi (mantan budak yang dimerdekakan). Nabi melamar Zainab binti Jahsyin untuk dinikahkan dengan Zaid. Hal ini terasa berat karena Zainab berasal dari keluarga terhormat/Quraisy dan merupakan sepupu Nabi, sementara Zaid adalah bekas budak. Allah menurunkan surat al-Ahzab ayat 36, sehingga mereka tunduk dan Zainab menikah dengan Zaid.Para ulama mengambil dalil dari ayat ini bahwa kesetaraan (kafa'ah) dalam nasab bukanlah syarat dalam pernikahan, melainkan yang diperhatikan adalah kesamaan dalam agama.Pernikahan dengan Nabi & Penghapusan Tradisi Anak Angkat:Rumah tangga Zaid dan Zainab tidak langgeng (kurang lebih setahun) karena tidak ada kecocokan, hingga Zaid menceraikannya.Allah menurunkan surat al-Ahzab ayat 37, di mana Allah memerintahkan agar Zainab dinikahkan langsung dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tradisi jahiliyah tentang anak angkat secara total (bahwa anak angkat bukan anak kandung, dan bekas istri anak angkat boleh dinikahi oleh bapak angkatnya).Proses Lamaran & Keistimewaan Dinikahkan Allah: Nabi menyuruh Zaid untuk melamar Zainab untuk Nabi. Zaid datang saat Zainab sedang meraci adonan roti, lalu mundur dan membalikkan badan karena agungnya kedudukan Zainab yang kini menjadi istri Nabi. Zainab berkata: "Aku tidak akan menjawab sampai aku istikharah." Setelah itu, Allah langsung menikahkan Zainab dengan Nabi tanpa melalui wali manusia. Oleh karena itu, Zainab sering membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi lainnya: "Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian, adapun aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang tujuh."Walimah & Turunnya Ayat Hijab: Pada saat walimah pernikahan Zainab (menjamu dengan roti dan daging), ada sebagian tamu yang masih duduk-duduk lama setelah makan dan belum pulang. Nabi keluar rumah mendatangi kamar-kamar istrinya dengan harapan tamu ikut keluar, tetapi mereka belum pulang. Anas bin Malik mengikuti Nabi, lalu masuk ke rumah Zainab bersama Nabi. Nabi menutup tirai, dan turunlah ayat hijab serta peringatan dari Allah kepada kaum muslimin untuk segera pulang setelah makan.





