👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Wanita dan Anak #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya30 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

#JejakCahaya 29 Kisah Istri Nabi Saudah Binti Zam'ah

“Kisah Istri Nabi Saudah Binti Zam'ah”Pemateri: Ustadz DR. Firanda Andirja, M.ASilsilah, Fisik, dan Latar Belakang KeluargaNama Lengkap: Saudah binti Zam'ah bin Qais al-Amiriyah al-Qurasyiyah (berasal dari suku Quraisy yang memiliki nasab terhormat).​Karakteristik Fisik & Usia: Beliau memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar (agak gemuk) sehingga berjalan lebih lambat dibanding yang lain.​Usia beliau lebih tua dibanding Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam. Saat dinikahi oleh Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam, usia beliau diperkirakan sudah memasuki kepala 60 (sekitar 60-an tahun), sementara Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam berusia sekitar 50 tahun.Pernikahan Pertama:Sebelumnya, Saudah menikah dengan sepupunya sendiri yaitu Sakran bin Amr radhiyallahu 'anhu (saudara kandung dari Suhail bin Amr). Mereka berdua termasuk golongan awal yang masuk Islam dan bersama-sama melakukan hijrah ke Habasyah. Sakran kemudian wafat sepulang dari habasyah (di masa-masa awal Islam di Makkah).Proses Pernikahan dengan Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallamKondisi Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam Pasca Wafatnya Khadijah:Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam mengalami masa-masa kesedihan yang mendalam (Amul Huzn / Tahun Kesedihan, tahun ke-10 kenabian) setelah wafatnya Khadijah binti Khuwailid dan paman beliau (Abu Thalib), sementara rumah tangga Nabi memerlukan sosok yang mengurus anak-anak.​Peran Khaulah binti Hakim (Mak Comblang):Sahabiyah Khaulah binti Hakim datang menawarkan diri untuk mencarikan jodoh bagi Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam, yaitu menawarkan opsi gadis (Aisyah binti Abu Bakar) atau janda (Saudah binti Zam'ah). Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam menyetujui keduanya untuk dilamar.​Dialog Pernikahan:Ketika dilamar, Saudah sempat merasa ragu karena merasa dirinya sudah tua dan memiliki banyak anak yatim (tanggungan dari suami sebelumnya) yang khawatir akan merepotkan Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam. Namun, Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam memuji kedermawanan dan kebaikan Saudah, lalu resmi menikahinya (menjadi istri kedua / istri pertama yang dinikahi Nabi setelah Khadijah).​Reaksi Keluarga:Saudah memiliki saudara laki-laki bernama Abad bin Zam'ah yang saat itu masih musyrik. Ketika mendengar saudarinya dinikahi Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam, ia sempat menyesal dan menaburkan pasir ke kepalanya karena belum masuk Islam (namun kemudian ia masuk Islam dan menyesali sikap bodohnya di masa lalu).Menemani Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam & Hubungan Harmonis dengan Madu (Aisyah)Saudah menemani Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam sendirian di Makkah selama kurang lebih 3 tahun (sebelum Nabi tinggal serumah dengan Aisyah setelah hijrah ke Madinah), menjalankan peran menenangkan rumah tangga Nabi di tengah beratnya tekanan kaum musyrikin Quraisy.​Kedekatan dengan Aisyah: Meskipun Aisyah adalah istri yang paling dicintai Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam, Saudah tidak pernah bermasalah atau cemburu berlebihan. Terdapat kisah jenaka ketika Saudah dan Aisyah saling lempar makanan/tepung di hadapan Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam, dan Nabi tertawa menyaksikannya karena suasana rumah tangga yang cair dan penuh canda.​Sikap Mengalah yang Luar Biasa (Menyerahkan Jatah Hari):​Ketika usia Saudah semakin tua dan khawatir Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam akan menceraikannya (karena beliau ingin tetap mendampingi Nabi dan dikumpulkan bersama beliau di surga), Saudah berkata: "Ya Rasulullah, aku hadiahkan hari dan malam giliranku untuk Aisyah."​Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam menerima hal tersebut, dan turunlah ayat Al-Qur'an (Q.S. An-Nisa: 128) yang berkaitan dengan perdamaian semacam ini.Sifat Jenaka, Kedermawanan, dan KetegasanSuka Bercanda Menyenangkan Suami: Saudah dikenal sering melontarkan gurauan ringan kepada Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam untuk menghibur beliau (seperti kisah lucu ketika ia bercerita shalat di belakang Nabi sampai menutup hidungnya karena rukuk Nabi yang terlalu lama, yang membuat Nabi tertawa).​Dermawan:Khalifah Umar bin Khattab pernah mengirimkan satu kantong penuh dirham (koin perak) kepada Saudah. Ketika ditanya apa isinya, Saudah langsung membagi-bagikan seluruh uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan tanpa menyisakannya untuk diri sendiri.​Ketegasan & Kepatuhan Total pada Wasiat Nabi:​Beliau dikenal sebagai wanita yang tegas (fīhā ḥiddah).​Selepas wafatnya Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam, Saudah memegang teguh pesan Nabi agar para istri Nabi menetap di rumah dan tidak keluar lagi. Selama puluhan tahun hingga akhir hayatnya di masa Khalifah Umar/Mu'awiyah, Saudah tidak pernah pergi berhaji lagi karena memilih konsisten berdiam di rumah sesuai arahan Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam.​Peristiwa di Muzdalifah: Saat ibadah haji, karena postur tubuhnya yang besar dan lambat berjalan, Saudah meminta izin kepada Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam untuk berangkat duluan meninggalkan Muzdalifah menuju Mina di tengah malam sebelum orang banyak bergerak, agar tidak merepotkan.Wafatnya Saudah binti Zam'ah radhiyallahu 'anhaUmmul Mukminin Saudah binti Zam'ah wafat pada akhir masa kekhalifahan Umar bin Khattab (atau ada riwayat lain di masa Mu'awiyah, sekitar tahun 54 Hijriah).Kesimpulan Pengorbanan & Pengertian: Saudah binti Zam'ah memberikan teladan agung tentang seorang istri yang sangat pengertian, tidak banyak menuntut, ikhlas mengalah demi kebahagiaan suami dan madunya, serta fokus meraih ridha Allah Subḥānahu wataʿālā.​Ketaatan Mutlak: Komitmen Saudah dalam menjaga pesan dan batasan yang diajarkan Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam (seperti tetap tinggal di rumah) menunjukkan kelurusan aqidah dan kecintaannya yang mendalam kepada sunnah Nabi.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
A

Aini septiana

📍 Kota Padang

Materi 29: Kisah Ummul Mu'minin Saudah binti Zam'ah

🌸 MATERI 29 — KISAH UMMUL MUKMININ SAUDAH BINTI ZAM'AHKajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.🍃 1. Mengenal Saudah binti Zam'ah رضي الله عنهاSaudah binti Zam'ah رضي الله عنها adalah salah satu Ummul Mukminin, yaitu istri Rasulullah ﷺ. Beliau berasal dari suku Quraisy dan termasuk wanita yang lebih dahulu memeluk Islam.Sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ, Saudah menikah dengan As-Sakran bin Amr. Keduanya turut berhijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agama mereka dari tekanan kaum musyrikin.Setelah suaminya wafat, Saudah menjadi seorang janda. Kemudian, melalui perantara Khaulah binti Hakim, Rasulullah ﷺ menikahinya setelah wafatnya Khadijah رضي الله عنها.🌷 2. Mendampingi Rasulullah ﷺ pada Masa SulitPernikahan Saudah dengan Rasulullah ﷺ terjadi setelah wafatnya Khadijah, ketika Rasulullah ﷺ sedang menghadapi kesedihan dan tantangan dakwah yang berat.Saudah mendampingi Rasulullah ﷺ pada masa awal dakwah di Makkah. Beliau juga membantu mengurus rumah tangga dan anak-anak Rasulullah ﷺ.Kehadirannya menjadi bagian penting dalam kehidupan Rasulullah ﷺ setelah kehilangan Khadijah.Pelajaran:Mendampingi orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan bentuk kebaikan yang besar.Kasih sayang tidak selalu ditunjukkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui perhatian dan pengorbanan.Jangan meremehkan peran seseorang dalam keluarga hanya karena perannya tidak terlihat oleh banyak orang.🪷 3. Pribadi yang Ceria dan HumorisSaudah dikenal memiliki sifat humoris dan mampu mencairkan suasana. Beliau pernah bercanda dengan Rasulullah ﷺ sehingga membuat beliau tertawa.Sikap ini menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak hanya membutuhkan tanggung jawab, tetapi juga keramahan dan suasana yang menyenangkan.Pelajaran: ✨ Membuat keluarga tersenyum dapat menjadi bentuk kebaikan.✨ Bercanda diperbolehkan selama tidak mengandung kebohongan, penghinaan, atau menyakiti orang lain.✨ Jangan menjadikan rumah sebagai tempat yang penuh ketegangan. Bangun suasana yang nyaman melalui perkataan dan perilaku yang baik.🍂 4. Kelapangan Hati Saudah dalam Rumah TanggaKetika Saudah semakin lanjut usia, beliau memberikan hari gilirannya kepada Aisyah رضي الله عنها. Saudah tetap ingin menjadi istri Rasulullah ﷺ dan berharap dapat bersama beliau di akhirat.Peristiwa ini berkaitan dengan firman Allah dalam:📖 QS. An-Nisa: 128Ayat tersebut menjelaskan bahwa apabila seorang istri mengkhawatirkan sikap nusyuz atau ketidakpedulian suaminya, keduanya boleh mengadakan perdamaian yang dibenarkan syariat. Perdamaian itu dapat menjadi jalan untuk menyelesaikan persoalan rumah tangga.Pelajaran:Kebijaksanaan diperlukan ketika menghadapi persoalan rumah tangga.Mengalah dalam perkara yang diperbolehkan dapat menjadi jalan untuk menjaga hubungan.Keputusan dalam rumah tangga hendaknya dilakukan dengan kerelaan, komunikasi, dan tanpa kezaliman.🌿 Catatan: Pengorbanan Saudah merupakan kisah khusus dalam rumah tangga Rasulullah ﷺ. Kisah ini tidak berarti seorang istri harus selalu mengorbankan haknya atau menerima perlakuan yang zalim.🌸 5. Kedermawanan SaudahSaudah dikenal sebagai wanita yang dermawan. Ketika memperoleh harta, beliau menggunakannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.Sikap ini menunjukkan bahwa harta bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga dapat menjadi sarana berbuat baik kepada sesama.📖 Dalil: QS. Al-Baqarah: 261Allah menjelaskan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji.Pelajaran:Biasakan bersedekah sesuai kemampuan.Jangan menunggu kaya untuk membantu orang lain.Harta yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi bekal akhirat.Kedermawanan bukan hanya tentang jumlah harta, tetapi juga keikhlasan dan kepedulian.🍃 6. Ketaatan dan Kesungguhan Menjaga KehormatanSetelah Rasulullah ﷺ wafat, Saudah menjalani kehidupan dengan menjaga kehormatan dan kedudukannya sebagai Ummul Mukminin.Kehidupan beliau mengingatkan kita bahwa seorang muslimah hendaknya menjaga kehormatan diri, memperhatikan tuntunan agama, serta menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.Pelajaran:Jadikan ketaatan kepada Allah sebagai pedoman dalam mengambil keputusan.Jaga kehormatan diri tanpa merendahkan orang lain.Isi kehidupan dengan ibadah, amal saleh, dan kebaikan kepada sesama.🥀 7. Muhasabah Diri🌷 Apakah aku sudah berusaha menghadirkan suasana yang menyenangkan di dalam keluarga?🌷 Apakah aku mampu mendampingi orang terdekat ketika mereka menghadapi kesulitan?🌷 Apakah aku mudah tersinggung dan sulit mengalah dalam perkara kecil?🌷 Apakah aku sudah membiasakan diri bersedekah sesuai kemampuan?🌷 Apakah aku menggunakan waktu dan nikmat yang Allah berikan untuk melakukan kebaikan?✨ KesimpulanKisah Saudah binti Zam'ah رضي الله عنها mengajarkan kesetiaan, kepedulian, kedermawanan, kelapangan hati, dan kemampuan menghadirkan kebahagiaan dalam keluarga.Beliau mengingatkan kita bahwa kemuliaan seorang muslimah tidak hanya terlihat dari banyaknya amal yang diketahui orang lain, tetapi juga dari ketulusan, akhlak, dan kebaikan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.Semoga Allah menjadikan kita wanita yang lembut akhlaknya, lapang hatinya, tulus dalam berbuat baik, dan istiqamah dalam ketaatan. Aamiin. 🌸

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
D

Delonie Regia

📍 Kota Tangerang Selatan

Catatan Kajian: Materi 29: Kisah Saudah binti Zam'ah - Ustadz Firanda Andirja hafizhahullahu

Catatan Kajian Kisah Saudah binti Zam'ahUstadz Firanda Andirja hafizhahullahu Saudah bintu Zam'ah adalah salah satu istri Nabi Muhammad shalallahu alayhi wasallam.Profil Saudah bintu Zam'ahKeturunan: Beliau berasal dari suku Quraisy.Karakter & Kehidupan: Saudah adalah seorang wanita yang sangat shalihah, cerdas, dan bijak. Beliau masuk Islam di awal masa dakwah di Makkah bersama suaminya, Sakran bin Amr.Pernikahan dengan Nabi: Saudah menikah dengan Nabi setelah wafatnya Khadijah. Pernikahan ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian, di masa yang dikenal sebagai Amul Huzn (Tahun Kesedihan).Keutamaan dan Akhlak Saudah1.  Kesetiaan & Pengabdian: Beliau menemani Nabi sendirian selama 3 tahun sebelum Nabi hidup serumah dengan Aisyah.2.  Kearifan dalam Berumah Tangga: Saudah memiliki sifat pengertian. Beliau bahkan menghibahkan hari gilirannya kepada Aisyah demi mencari keridhaan Nabi ketika beliau merasa usianya sudah lanjut.3.  Canda Tawa & Keceriaan: Meskipun tegas, beliau sering menghibur Nabi dengan canda yang menyenangkan, seperti kisah saat beliau bercerita tentang kelelahan saat mengikuti shalat Nabi4.  Kedermawanan: Beliau dikenal sangat dermawan. Ketika mendapatkan hadiah berupa harta dari Umar bin Khattab, beliau segera membagikannya kepada yang membutuhkan.Wasiat & Kesetiaan pada RasulullahSetelah wafatnya Nabi, Saudah sangat memegang teguh wasiat Nabi untuk tetap menetap di rumah. Bahkan untuk ibadah haji pun, beliau memutuskan untuk tidak melakukannya lagi setelah haji terakhir bersama Nabi.Beliau wafat pada akhir masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
A
Agustina dyah Aminingsih

📍 Kabupaten Karanganyar

Materi 29 Kisah Istri Nabi Saudah binti Zam'ah

Ustadz Firanda AndirjaSalah satu sosok mulia para ummahatul mukminin yg bernama saudah binti zam'ah RA.belisu adalah istri Nabi yg sangat mulia, beliau istri kedua setelah wafatnya khadijah binti khuwailid,mungkin dari sekian istri2 Nabi saudah yg paling tdk terkenal,secara fisik saudah adalah sosok wanita yg tinggi,besar badan nya sampai dikatakan beliau gemuk,usia beliau lebih tua dari pada Rasulullah SAW,ketika Rasulullah menikahi dgn saudah ,umur saudah adalah kurang lebih 60tahun dan Rasulullah berumur 50tahun.Saudah memiliki nasab yg tinggi dari suku/bani Qurays,beliau masuk Islam sejak awal,saudah adalah wanita sholihah termasuk orang2 yg masuk Islam di awal,ditahun ke 10 kenabian khadihah wafat,itu disebut tahun kesedihan Rasulullah, beliau kehilangan sosok wanita mulia yg menemani perjuangan dakwah nya,kesedihan luar biasa dirasakan Rasulullah sepeninggam istrinya khadijah, setelah khadijah wafat Rasulullah menikahi aisyah,saudah dalam waktu yg berdekatan, saudah adalah seorang janda dengan 5 atau 6 anak dari pernikahan sebelumnya.Saudah meninggal pada tahun 54 Hihriyah,sedangkan Rasulullah meninggal pada tahun 11 hijriyah, beliau adalah wanita yg suka bercanda (menghibur ,menyenangkan Rasulullah),beliau kg menghadiahkan harinya untuk aisyah RA,beliau sangat pengertian, sederhana,dan dermawan.sepeninggal Rasulullah saudah tdk mau berhaji lagi, krn beliau taat dgn pesan Rasulullah sebelum wafat,yaitu berpesan untuk slalu menetap dirumah nya.beliau jg slalu memikirkan tentang akhirat.beliau wafat di masa khalifah sahabat Umar bin khattab.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
S

Siska wati Berutu

📍 Kota Medan

Kisah Saudah binti Zam'ah

Catatan KajianKisah Saudah radhiyallahu ‘anhaUstadz Firanda AndirjaSaudah binti Zam'ah bin Qais Al-Amiriyah adalah istri kedua Rasulullah ﷺ setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha.Secara fisik, Saudah memiliki tubuh yang besar atau agak gemuk. Usia beliau lebih tua daripada Rasulullah ﷺ. Ketika menikah dengan Nabi Muhammad ﷺ, Saudah berusia sekitar 60 tahun, sedangkan Rasulullah ﷺ berusia sekitar 50 tahun.Saudah binti Zam'ah termasuk orang yang masuk Islam pada masa awal bersama suaminya, Saqran bin Amr.Beliau adalah saudara Suhail bin Amr, tokoh Quraisy yang menjadi wakil dalam Perjanjian Hudaibiyah.Saudah dan suaminya termasuk As-Sabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam. Keduanya menghadapi tekanan keras dari kaum kafir Quraisy di Makkah.Saudah pernah bermimpi melihat dirinya tertimpa atau mengalami peristiwa yang berkaitan dengan jatuhnya sesuatu ketika sedang berbaring. Setelah menceritakan mimpinya kepada suaminya, Saqran berkata:“Kalau mimpi itu benar, itu artinya aku akan wafat dan kau akan menikah lagi.”Saqran bin Amr kemudian wafat pada tahun ke-10 kenabian, ketika Rasulullah ﷺ juga sedang mengalami kesedihan karena wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha.Khaulah binti Hakim, teman Saudah ketika berhijrah ke Habasyah, mendatangi Rasulullah ﷺ untuk menjadi perantara pernikahan antara Saudah dan Rasulullah ﷺ.Khaulah menyarankan Saudah binti Zam'ah dengan beberapa pertimbangan:Saudah adalah wanita mukminah yang matang.Beliau telah menjanda demi memperjuangkan Islam.Beliau dapat membantu mengurus rumah tangga Rasulullah ﷺ dan anak-anak beliau yang masih kecil.Maka Rasulullah pun menikah dengan Saudah.Saudah adalah wanita yang sangat bijak dan memahami posisinya.Beliau tidak pernah menganggap Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai saingan. Bahkan, Saudah kerap bercanda bersama Aisyah.Ketika usianya semakin senja dan merasa tidak lagi membutuhkan hubungan suami istri, Saudah menyerahkan giliran harinya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha demi mencari keridaan Rasulullah ﷺ.Peristiwa ini menjadi sebab turunnya sebagian ayat dalam Surah An-Nisa.Saudah dikenal sebagai sosok yang:Ceria dan suka bercanda untuk menyenangkan hati Rasulullah ﷺ.Dermawan.Tidak terikat dengan duniawi.Bijak dan memahami posisinya.Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Saudah memilih untuk tidak berhaji lagi dan sepenuhnya menetap di rumahnya, sesuai dengan pesan Rasulullah ﷺ kepada para istri beliau.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
N

Novrianti Fadlun Katili

📍 Palu

Kisah Ummul Mukminin Saudah binti Zam‘ah Radhiyallahu ‘anha - Ustadz Firanda Andirja hafizhohullah

🕌 1\. Saudah binti Zam‘ah رضي الله عنهاSaudah adalah istri Nabi yang kedua, setelah wafatnya Khadijah, istri pertama Nabi. Saudah memiliki ciri fisik yang tinggi dan agak besar atau gemuk, dan beliau lebih tua dari Nabi. Ketika menikah dengan Nabi, sebagian ulama mengatakan umur beliau sekitar 60-an, sedangkan umur Nabi 50-an.📖 2\. Nama lengkap dan nasab SaudahNama lengkapnya adalah Saudah bintu Zam‘ah bin Qais al-Qurasyiyah. Jadi, beliau memiliki nasab yang tinggi, yaitu dari suku Quraisy. Beliau termasuk orang yang masuk Islam di awal bersama suaminya, as-Sakran bin Amr radhiyallahu ‘anhu. Dari pernikahan ini, beliau mendapatkan lima orang anak.🤲 3\. Keutamaan Saudah dan suaminyaTermasuk kebahagiaan Saudah karena memiliki suami yang sama-sama masuk Islam di awal, di bawah Nabi ﷺ. Pada masa-masa itu, banyak orang yang ditindas, dibunuh, disiksa, dan ada yang keluarganya diboikot.🌿 4\. Suami Saudah dan hubungan keluarganyaSuaminya, as-Sakran bin Amr, adalah saudara Suhail bin Amr, seorang tokoh yang hebat dari Quraisy, yang sempat berunding dengan Nabi ketika Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah dan mewakili Quraisy.💞 5\. Rumah tangga Saudah dan suaminyaRumah tangga Saudah dan suaminya yang pertama ini adalah sebuah nikmat dari Allah, memiliki pasangan yang sama-sama di atas Islam, saleh dan salehah.🕋 6\. Hijrah ke Habasyah dan wafatnya suami SaudahKeduanya pun berhijrah ke Habasyah. Lalu, sekembalinya dari itu, suaminya meninggal dunia, yaitu pada tahun ke-10 kenabian. Saat itu, Rasulullah ﷺ pun sedang mengalami tahun kesedihan, yaitu wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, paman Nabi.🌸 7\. Khawlah binti Hakim Menawarkan Pernikahan kepada Rasulullah ﷺAda seorang wanita bernama Khawlah binti Hakim. Beliau mendatangi Rasulullah ﷺ dan menawarkan pernikahan kepada Rasulullah ﷺ.Khawlah berkata, “Wahai Rasulullah, sepertinya ada kekosongan di dalam dirimu setelah wafatnya Khadijah.”Rasulullah ﷺ menjawab, “Iya, jelas. Ia adalah ibu dari anak-anakku dan ia yang mengurus rumahku.”Maka Khawlah berkata, “Maukah engkau aku lamarkan seorang wanita?”Rasulullah ﷺ menjawab, “Iya, tidak mengapa, karena kalian para wanita lebih tahu dalam hal ini. Siapa wanita yang hendak engkau tawarkan, wahai Khawlah?”Khawlah menjawab, “Mana yang engkau inginkan, yang gadis atau janda?”Rasulullah ﷺ menjawab, “Jika yang gadis siapa, dan yang janda siapa?”Khawlah menjawab, “Yang gadis adalah Aisyah dan yang janda adalah Saudah.”Rasulullah ﷺ berkata, “Baik, aku melamar keduanya.”Maka Khawlah pergi ke rumah Abu Bakar untuk melamar Aisyah.🕋 8\. Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan AisyahUrutannya, setelah Khadijah wafat, Rasulullah ﷺ menikahi Aisyah. Namun, saat itu baru akad saja karena Aisyah berusia 6 tahun. Ketika berusia 9 tahun, barulah Aisyah tinggal serumah dengan Rasulullah ﷺ.💞 9\. Lamaran Rasulullah ﷺ kepada SaudahLalu setelah itu, Khawlah pergi kepada Saudah untuk menyampaikan lamaran Rasulullah ﷺ kepada Saudah. Awalnya, Saudah merasa tidak enak untuk menerima lamaran tersebut karena umurnya sudah tua dan memiliki banyak anak. Beliau tidak mau kalau dirinya dan anak-anaknya kelak akan merepotkan Nabi ﷺ.Kemudian Nabi ﷺ menjawab, “Semoga Allah merahmatimu.”Wahai Saudah, sesungguhnya sebaik-baiknya wanita penunggang unta (wanita arab) adalah wanita yang sayang terhadap anak-anaknya dan sangat memperhatikan suaminya. Kemudian menikahlah Rasulullah ﷺ dengan Saudah.🌿 10\. Reaksi Saudara Saudah Ketika Mengetahui PernikahannyaKetika Saudah menikah dengan Nabi ﷺ, saat itu ada saudaranya, yaitu ‘Abd bin Zam‘ah, yang masih kafir Quraisy. Ketika ia pulang dari berdagang dan mengetahui Saudah menikah dengan Rasulullah ﷺ, maka ia mengambil pasir dan meletakkannya di atas kepala Saudah, lalu berkata, “Sial, kakakku menikah dengan Muhammad.”Namun, setelah ‘Abd masuk Islam, ia menyesali perbuatannya tersebut dan menganggap dirinya orang yang bodoh karena melakukan hal tersebut kepada Saudah.💗 11\. Saudah Merupakan Wanita yang CerdasKetika menikah dengan Nabi ﷺ, Saudah merupakan wanita yang cerdas, tahu menempatkan diri, dan tidak berseteru dengan anak Nabi ﷺ seperti kepada Fatimah. Di sini Saudah pintar mengambil hati Nabi ﷺ dan anak-anaknya.Saudah hidup bersama Nabi ﷺ sendirian selama 3 tahun tanpa istri yang lain. Saat itu, dakwah Nabi ﷺ masih dalam kondisi yang berat. Saudah berusaha menggantikan peran Khadijah, meskipun tidak persis sama, namun beliau berusaha menemani Nabi ﷺ dalam dakwahnya selama 3 tahun tersebut tanpa ada istri yang lainnya.🕌 12\. Saudah dan Aisyah Hidup Bersama di MadinahSetelah itu, mereka berhijrah ke Madinah. Lalu sesampainya di sana, barulah Aisyah bergabung bersama kehidupan rumah tangga mereka.Tidak ada satu pun riwayat yang mengatakan adanya kecemburuan antara Saudah dan Aisyah. Ini menunjukkan bijaknya Saudah dan menyayangi Aisyah, bukan sebagai lawan namun sebagai saudarinya.🪷 13\. Saudah dan Aisyah Bercanda BersamaDalam satu riwayat, suatu hari Saudah diundang ke rumah Aisyah dan Aisyah sedang membuat makanan. Di sampingnya ada Saudah.Kemudian Aisyah mempersilakan Saudah untuk makan, dan Saudah berkata, “Aku sedang tidak ingin makan.”Lalu Aisyah berkata, “Makanlah atau makanan ini akan kutaruh di wajahmu.”Saudah mengatakan lagi, “Tidak, Aisyah, aku sedang tidak ingin makan.”Lalu Aisyah mengambil makanan tersebut dan melemparkannya ke wajah Saudah. Rasulullah ﷺ yang sedang berada di antara mereka pun tertawa.Rasulullah ﷺ berkata, “Balaslah, wahai Saudah.”Lalu Saudah membalas Aisyah dan Rasulullah ﷺ pun tertawa.📝 Hal ini menunjukkan bagaimana Saudah pandai menghadapi kondisi dan situasi.🌾 14. Keutamaan Saudah رضي الله عنها1\. Saudah pandai bercanda dan membuat Nabi ﷺ senang.2\. Saudah dipuji oleh Aisyah رضي الله عنها.Aisyah berkata, مَا رَأَيْتُ امْرَأَةً أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَكُونَ فِي مِسْلَاخِهَا مِنْ سَوْدَةَ بِنْتِ زَمْعَةَArtinya:“Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang lebih aku sukai untuk menjadi seperti dirinya selain Saudah binti Zam‘ah.”Ini merupakan bagian dari perkataan Aisyah رضي الله عنها. Dalam riwayat lengkapnya, Aisyah juga menyebutkan bahwa Saudah memiliki ketegasan karakter, kemudian ketika telah lanjut usia, Saudah memberikan giliran harinya bersama Rasulullah ﷺ kepada Aisyah. Sumber: Sahih Muslim, hadis no. 1463; juga diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, no. 5212 dengan lafaz yang lebih ringkas.Para ulama mengatakan bahwa ketegaran yang dimaksud di sini menunjukkan bahwa Saudah adalah wanita yang tegar.3\. Saudah menghadiahkan harinya untuk Aisyah.Hadisnya: Aisyah berkata, ketika Saudah sudah sangat tua, Saudah khawatir Nabi ﷺ akan menceraikannya. Maka Saudah berkata kepada Nabi ﷺ,“Wahai Rasulullah, aku menghadiahkan hariku untuk Aisyah.”Maka Rasulullah ﷺ menerima hadiah tersebut.أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ وَهَبَتْ يَوْمَهَا لِعَائِشَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْسِمُ لِعَائِشَةَ بِيَوْمِهَا وَيَوْمِ سَوْدَةَ.Artinya:“Bahwasanya Saudah binti Zam‘ah memberikan giliran harinya kepada Aisyah. Maka Nabi ﷺ memberikan giliran kepada Aisyah pada hari gilirannya sendiri dan hari giliran Saudah.”Sumber: Sahih al-Bukhari no. 5212. Hadis ini sahih. Riwayat ini menunjukkan kebijaksanaan Saudah, kerelaan beliau memberikan gilirannya, dan hubungan baiknya dengan Aisyah رضي الله عنها.4\. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Saudah tidak berhaji lagi.Saudah selalu mengingat pesan Rasulullah ﷺ, “Setelah ini, menetaplah di rumah kalian.”Maka Saudah pun terus menetap di rumahnya. Beliau berkata, “Tidak akan ada tunggangan yang menggerakkan aku setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.”5\. Saudah adalah wanita yang dermawan.Umar sangat menghormati Saudah. Sampai-sampai Umar pernah memberikan Saudah sekantong dirham.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
D
Dinda fitrinita Runi setiawan

📍 Kabupaten Bondowoso

Materi 29 🌾kisah Saudah binti zam'ah 🌾

‎Kisah Saudah binti zam'ah 🎙️Ustadz Dr. Firanda Andirja,MA‎saudah binti zam'ah secara fisik adalah sosok wanita yang tinggi dan besar dan usia beliau lebih tua dari nabi shalallahu alaihi wasallam.ketika menikah dengan nabi berusia 60an.‎Saudah masuk Islam sejak awal bersama suaminya yang bernama sakran bin Amr.sakran bin Amr adalah saudara Suhail bin Amr (tokoh hebat dari Quraisy).ini adalah suatu nikmat yang luar biasa ketika pasangan saling sinkron taat dalam beragama.‎Mereka berdua berhijrah ke habasyah atas perintah nabi shalallahu alaihi wasallam bersama para sahabat lainnya.kemudian ada isu bahwasanya penduduk kota Mekkah sudah memaafkan nabi shalallahu alaihi wasallam,lalu mereka balik lagi ke kota Mekkah kemudian sakran bin Amr meninggal dunia ketika masih di habasyah (pendapat pertama) dan ada yang mengatakan meninggal dunia ketika kembali ke Mekkah (pendapat kedua)‎Di dalam sebagian riwayat disebutkan bahwasanya Saudah bermimpi: ada rembulan jatuh ke dirinya sedangkan dirinya sedang berbaring.lalu suaminya berkata:" kalau mimpi itu benar wahai istriku,maka itu maknanya sebentar lagi aku akan meninggal dan kau akan menikah lagi setelah ku."‎Sekitar 10 tahun kenabian , Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sedang mengalami puncak kesedihan karena istri beliau (Khadijah baru meninggal dunia) dan paman nabi meninggal dunia.maka masuklah Saudah dari habasyah ke Mekkah ketika suami beliau sudah meninggal dunia.‎lalu seorang wanita khaulah binti hakim datang kepada nabi shalallahu alaihi wasallam dan berkata:"yaa Rasulullah,aku melihat ada kesedihan dan kekosongan sepeninggal khadijah.maukah engkau aku lamarkan seorang wanita?Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab :"jelas,ibunya anak anak".tidak mengapa,siapa yang mau kau lamar kan? khaulah menjawab:"jika gadis Aisyah binti abu bakar,kalau janda Saudah binti zam'ah.‎Lalu khaulah melamarkan Aisyah binti abu bakar.abu bakar pun menjawab cobalah tanya pada nabi,apakah pantas anakku untuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.lalu nabi pun melangsungkan akad nikah bersama Aisyah tetapi tidak bisa digauli karena saat itu usia Aisyah masih 6th.dan Rasulullah baru tinggal serumah bersama Aisyah ketika usia Aisyah 9th.‎Lalu khaulah pun datang kepada Saudah untuk melamarkan untuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.‎Saudah adalah wanita yang menjanda dan memiliki beberapa anak.tetapi Saudah menolak.lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata: apa yang mengahalangimu untuk menikah denganku?lalu Saudah menjawab:"yaa Rasulullah aku sangat ragu ragu karena engkau adalah seorang yang sangat aku cintai di atas muka bumi ini,tetapi aku tidak ingin merepotkan engkau,takut anak anakku merepotkan engkau."lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata:"apakah ada lagi halangan yang lain?"Saudah berkata: tidak ada,aku hanya tak ingin menyibukkan engkau."Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata:"semoga Allah merahmati engkau wahai Saudah, sesungguhnya sebaik baik wanita arab adalah wanita berunta dari Quraisy yang sayang terhadap anak anak nya dan paling perhatian kepada suaminya."lalu Saudah pun menikah dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.‎Ketika Saudah menikah,ada saudaranya yang menyesal karena dia menikah dengan nabi shalallahu alaihi wasallam, kemudian dia ambil pasir dan di tuang ke kepalanya(saudaranya masih kafir).tetapi ketika dia sudah masuk Islam,dia menyesali perbuatannya kala itu.‎Saudah selama 3th hidup sendirian bersama nabi,tidak ada istri yang lain.dimana ada kondisi kondisi yang berat kala itu dalam dakwah.dia mencoba menemani Rasulullah shalallahu alaihi wasallam seperti Khadijah meskipun tidak ada yg bisa seperti Khadijah.akhirya setelah 3th menemani nabi shalallahu alaihi wasallam,akhirnya mereka berhijrah ke Madinah dan sampai disana,Saudah pun punya madu baru yaitu aisyah.tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa ada kecemburuan antara Saudah dan Aisyah.dia tidak pernah menganggap Aisyah sebagai saingannya justru menjadi teman.‎Dalam riwayat yang menarik, disebutkan bagaimana kedekatan antara Saudah dan Aisyah: suatu hari Saudah diundang ke rumah Aisyah untuk makan, Aisyah Radhiyallahu ta'ala Anha berkata:suatu hari aku bikin makanan,di samping ku ada Saudah lagi duduk,lalu aku berkata:makanlah saudah.lalu Saudah menjawab : saya lagi tidak ingin makan.kata Aisyah:"makan atau saya taruh kue ini di wajahmu?"Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun tertawa ketika itu beliau berada di antara keduanya.lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata: balaslah wahai Saudah.kemudian Saudah pun ambil kue dan taruh di wajah Aisyah.mereka pun bercanda tertawa bersama.‎Di sini disimpulkan bahwasanya Saudah mampu mengatur perasaannya,tidak ada kecemburuan di antara keduanya.‎Keutamaan saudah binti zam'ah:‎Disebutkan oleh para ulama yaitu akhlak Saudah senang bercanda. Aisyah Radhiyallahuanha berkata: aku tidak melihat seorang wanita yang seperti Saudah,yang paling aku ingin seperti dia, dia wanita yang tegas,rajin beribadah,dan pengertian.‎Saudah menghadiahkan harinya kepada Aisyah Radhiyallahu ta'ala Anha.‎karena dia takut akan diceraikan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam karena dia berpikiran jika dia sudah tua dan ingin menyenangkan nabi shalallahu alaihi wasallam.‎Setelah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam wafat,Saudah tidak ingin berhaji lagi.‎Ketika Saudah berhaji dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,beliau meminta keluar dari Musdalifah lebih cepat karena ketika beliau keluar barengan yang lainnya ,beliau kesusahan karena badan beliau yang besar dan jalannya yang lambat.dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun mengijinkannya.‎saudah adalah wanita yang sangat dermawan.‎‎

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
S

Susy Siswandini

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

KISAH ISTRI NABI, SAUDAH BINTI ZAM’ah

PEMATERI: UST. FIRANDA ANDIRJA1. Nasab, Fisik, dan Awal Masuk IslamPerawakan & Usia: Secara fisik, Saudah bintu Zam'ah adalah wanita yang tinggi dan badannya besar (agak gemuk). Usianya lebih tua dari Nabi (saat menikah berusia sekitar 60-an atau 60 tahun lebih, sementara Nabi 50-an)Nasab & Hijrah: Beliau berasal dari suku Quraisy (Saudah bintu Zam'ah bin Qais al-Amiriyah al-Qurasyiyah). Masuk Islam sejak awal bersama suami pertamanya, Sakran bin Amr (saudara Suhail bin Amr), dan sempat berhijrah bersama ke negeri Habasyah.2. Wafatnya Suami Pertama & Tahun Kesedihan (Amul Huzn)Setelah pulang dari Habasyah, suami Saudah (Sakran bin Amr) meninggal dunia pada tahun ke-10 kenabian.Wafatnya suaminya bertepatan dengan Amul Huzn (tahun kesedihan), yaitu masa di mana Khadijah radhiallahu 'anha dan paman Nabi (Abu Thalib) baru saja meninggal dunia.3. Proses Pernikahan dengan NabiPeran Khaulah binti Hakim: Khaulah binti Hakim bertindak sebagai Mak Comblang yang datang menawarkan kepada Nabi untuk menikah lagi guna mengisi kekosongan setelah wafatnya Khadijah.Lamaran: Khaulah menawarkan dua pilihan: gadis (Aisyah) atau janda (Saudah), lalu Nabi menjawab untuk melamar keduanya ("Fkurihima alayya") Keraguan Saudah: Saudah sempat ragu karena merasa sudah tua dan takut anak-anaknya yang banyak akan menyibukkan Nabi. Namun, Nabi memuji Saudah sebagai sebaik-baik wanita Quraisy yang paling sayang kepada anak-anaknya dan perhatian terhadap suaminya.4. Kehidupan Rumah Tangga dan Keutamaan SaudahMenemani Nabi 3 Tahun Sendirian: Saudah mendampingi Nabi selama 3 tahun di Makkah (dari tahun ke-10 hingga hijrah) tanpa ada madu atau istri lain Sikap Bijak & Humoris: Saudah sangat pandai mengatur diri, tidak bersaing dengan Aisyah, dan sering bercanda untuk menyenangkan hati Nabi (seperti kisah lempar-lemparan kue khazirah) Pujian Aisyah: Aisyah memuji Saudah sebagai wanita yang rajin beribadah dan memiliki ketegasan (fiha hidah) dalam menghadapi berbagai kondisi.5. Menghadiahkan Hari untuk AisyahKarena usianya yang sudah sangat senja, Saudah khawatir Nabi akan menceraikannya. Untuk mencari keridaan Nabi agar tetap senang, Saudah berkata: "Ya Rasulullah, aku menghadiahkan hariku (giliran nginapku) buat Aisyah." Peristiwa ini berkaitan dengan turunnya Surah An-Nisa' ayat 128 6. Pengamalan Wasiat dan Sifat DermawanTidak Pernah Haji Lagi: Setelah Rasulullah wafat, Saudah tidak pernah berhaji lagi seumur hidupnya karena memegang teguh pesan Nabi agar para istri Nabi menetap di rumah ("La tuhautun ba'da rasulillah") Pulang Duluan dari Muzdalifah: Karena tubuhnya yang besar dan jalannya lambat, Saudah meminta izin kepada Nabi untuk berangkat duluan dari Muzdalifah ke Mina pada tengah malam agar tidak merepotkanSangat Dermawan: Ketika Umar bin Khattab memberikannya sekantong penuh dirham (koin perak), Saudah langsung membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan hingga habis 7. Kisah Terkait Ayat Hijab & WafatnyaAyat Hijab: Berawal dari teguran Umar bin Khattab ketika Saudah keluar malam untuk buang hajat, hingga akhirnya Allah menurunkan ayat tentang kewajiban berhijab bagi istri-istri Nabi.Wafat: Saudah bintu Zam'ah radhiallahu 'anha wafat pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab (sekitar tahun 50-an atau 54 Hijriah / 40 tahun setelah wafatnya Nabi), meninggalkan teladan tentang kesederhanaan, pengertian, dan ketaatan kepada suaminya

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Kisah Istri Nabi Saudah Binti Zam'ah - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A

Peran Saudah dalam Rumah Tangga NabiSaudah dikenal sebagai wanita yang:Penyayang dan sabarHumoris, mampu membuat Rasulullah tersenyumQana’ah dan dermawan, bahkan ketika Umar memberi sejumlah dirham, ia membagikannya seluruhnya kepada fakir miskinTidak cemburuan, bahkan setelah Aisyah masuk ke rumah tangga NabiSalah satu keteladanan paling masyhur adalah ketika Saudah menyerahkan jatah malamnya kepada Aisyah demi kebahagiaan Rasulullah ﷺSikap ini menunjukkan ketulusan dan keikhlasan yang sangat tinggi.Aisyah sendiri pernah berkata:“Tidak ada wanita yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia, melebihi Saudah binti Zam’ah.”Keteguhan Iman dan KeteladananDari hasil pencarian, beberapa karakter utama Saudah tampak konsisten:Tangguh dan tidak cemburuanSetia dan tulus dalam pernikahan pertamanyaBerani berhijrah ke Habasyah meski penuh risikoMengasuh putri-putri Nabi setelah Khadijah wafatSelalu mendukung dakwah Nabi, termasuk pada masa Isra’ Mi’raj ketika kaum musyrikin mengolok-olok beliauWafatnya SaudahSaudah wafat pada masa pemerintahan Umar bin al-KhattabRiwayat menyebut sekitar tahun 54 H, dan beliau dimakamkan di Baqi’ al-Gharqad, MadinahIntisari Pelajaran dari Saudah binti Zam’ahCinta adalah memberi, bukan menuntut.Kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian hidup.Kerelaan dan keikhlasan dalam berumah tangga.Kepedulian sosial, dermawan meski tidak hidup berlebihan.Keteguhan dalam dakwah, mendampingi Nabi pada masa paling sulit.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
N
Nur Rofifah Fadhilah

📍 indonesia

Kisah ibunda Saudah binti Zam'ah

Kisah ibunda Saudah binti Zam'ah1. Latar Belakang dan Pernikahan: Saudah binti Zam'ah adalah istri kedua Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya Khadijah. Beliau berasal dari suku Quraisy, memiliki fisik yang tinggi dan besar, serta usianya lebih tua dari Nabi. Sebelumnya, beliau menikah dengan sepupunya bernama Sakran bin Amr dan sempat ikut berhijrah ke Habasyah.2. Peran dan Akhlak: Saudah dikenal sebagai wanita yang sangat salehah, dermawan, serta sangat pengertian. Setelah Nabi menikahinya, beliau dengan ikhlas menemani Nabi di masa-masa sulit dakwah di Makkah selama tiga tahun tanpa ada madu (istri lain) hingga masa hijrah ke Madinah.3. Hubungan dengan Aisyah: Meskipun Nabi kemudian menikahi Aisyah yang merupakan istri yang sangat dicintai Nabi, Saudah tidak pernah cemburu dan bahkan menganggap Aisyah sebagai teman dekat. Menjelang masa tuanya, Saudah dengan tulus mengharapkan keridaan Nabi dan bahkan menghibahkan jatah hari gilirannya untuk Aisyah.4. Ketaatan dan Wafat: Selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW, Saudah memegang teguh wasiat untuk menetap di rumah dan memilih untuk tidak lagi menunaikan ibadah haji. Beliau wafat pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
J

Juleha

📍 Kota Palu

KISAH ISTRI NABI SAUDAH BINTI ZAM’AH

Al Ustadz Firanda Andirja HafizhahullahSaudah dari secara fisik dia adalah seorang wanita yang tinggi badannya besar (aga gemuk) dari sisi umur beliau lebih tua dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikah dengan Saudah sebagian ulama ada yang mengatakan umur Saudah sekitar kurang lebih 60 an sementara Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika itu 50an.Siapa Saudah? Namanya Saudah Bintu Zam’ah Bin Qois Al Amiriyah Al Quurosiyah. Dari suku Quroisy dan memiliki nasab yang tinggi.Beliau masuk islam lebih awal bersama suaminya yang merupakan sepupunya Saqron Bin Amr Radiyallahu ‘Anhu. Dari pernikahan beliau lahir anak ada yang mengatakan 5 anak dan ada yang mengatakan 6 anak.Saudah wanita yang sangat Shalihah, awal-awal islam dia sudah masuk islam bersama suaminya.Merupakan kebahagiaan bagi Saudah karena suaminya masuk islam, dan suaminya juga sholeh. Bahkan mereka berdua berhijrah ke Habbasyah.Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menemukan Negri yang aman selain Habbasyah. apalagi di negeri Habbasyah ada seorang Raja yang tidak mendzholimi orang yang tinggal di Negerinya yaitu Raja Najashi.Saudah adalah istri ketiga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. dia dinikahi berdekatan dengan Aisyah Radiyallahu ‘Anha.Salah satu Keutamaan Saudah, beliau menemani Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selama 3 tahun dari tahun 10 Kenabian sampai 13 tahun.Akhirnya setelah 3 tahun menjalani kehidupan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan beratnya kehidupan maka Berhijralah Saudah ke Madinah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga berhijrah.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
R
Rohimatul Hanifah

📍 Kota Palu

Materi 29-Kisah Istri Nabi Saudah binti Zam’ah

Kisah Istri Nabi Saudah binti Zam’ahSaudah binti Zam’ah adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang kedua setelah wafatnya Khadijah radhiallahu ta’ala ‘anha.Secara fisik beliau seorang yang tinggi besar. Usia beliau lebih tua dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.Namanya Saudah binti Zam’ah bin Qais Al-Qurasyiah, memiliki nasab yang tinggi. Masuk Islam sejak awal bersama suaminya yang merupakan sepupunya, yaitu Saqran bin Amr. Mereka memiliki lima orang anak (pendapat lain menyebut enam anak).Saqran bin Amr adalah saudara Suhail bin Amr. Suhail bin Amr adalah tokoh dalam Perjanjian Hudaibiyah.Ketika penindasan di kota Makkah semakin keras, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah dan berangkatlah mereka, termasuk Saudah dan suaminya, Saqran.Ketika kondisi sudah lebih baik, akhirnya sebagian sahabat kembali ke Makkah, salah satunya Saudah bersama Saqran bin Amr. Kemudian Saqran meninggal dunia.Disebutkan Saudah pernah bermimpi ada rembulan jatuh mengenai dirinya sementara dia sedang berbaring. Saqran menjawab, “Jika mimpi itu benar, istriku, maka sebentar lagi aku akan meninggal dan engkau akan menikah lagi.”Di tahun itu juga istri Nabi shallallahu alaihi wasallam (Khadijah) meninggal dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengalami kesedihan yang luar biasa. Para ahli sejarah menamakan tahun ke-10 kenabian dengan ‘Tahun Kesedihan’ karena wafatnya Khadijah dan paman Nabi shallallahu alaihi wasallam (Abu Thalib). Nabi shallallahu alaihi wasallam sangat bersedih karena keduanya adalah penopang Nabi shallallahu alaihi wasallam.Ada seorang wanita salehah, Khaulah binti Hakim, istrinya Utsman bin Madz’un, yang juga teman perjalanan Saudah ketika hijrah ke Habasyah. Melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam kehilangan istrinya, ia mencoba menawarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk menikah lagi. Jika gadis, maka Aisyah binti Abu Bakar, dan jika janda, maka Saudah binti Zam’ah. Nabi shallallahu alaihi wasallam pun mengiyakan. Nabi shallallahu alaihi wasallam melamar dan menikahi Aisyah, setelah itu Nabi shallallahu alaihi wasallam menikahi Saudah binti Zam’ah.Saudah sempat ragu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling ia cintai di muka bumi dan ia tidak ingin merepotkan beliau dengan anak-anaknya yang banyak. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun memuji kebaikan-kebaikannya dan akhirnya ia menerima. Menikahlah Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan Saudah.Saudah menikah dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam selama tiga tahun tanpa madu (Aisyah belum tinggal dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam), mendampingi Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan berbagai macam beratnya kehidupan. Kemudian berhijrahlah mereka ke Madinah, bertemulah Saudah dengan Aisyah, tapi tidak pernah ada riwayat mereka saling cemburu. Saudah begitu bijaksana menghadapi Aisyah yang masih remaja pada saat itu.Keutamaan Saudah binti Zam’ahSaudah suka bercanda menyenangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam.Dipuji oleh Aisyah rajin ibadah, wanita yang tegas, meskipun suka bercanda. Tegar menjalani sesuatu yang ia yakini.Saudah menghadiahkan harinya untuk Aisyah, dia mencari keridaan Nabi shallallahu alaihi wasallam.Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, beliau tidak mau berhaji lagi karena mengingat Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah berkata kepada istrinya, ‘Menetaplah di rumah-rumah kalian sepeninggalku.’Di antara cerdasnya Saudah, mengingat dirinya sudah tua dan berbadan besar, ketika berhaji bersama, Saudah meminta izin untuk berangkat dari Muzdalifah terlebih dahulu sebelum subuh karena khawatir jika berangkat bersama rombongan ia akan tertinggal. Nabi shallallahu alaihi wasallam pun mengizinkan.Sangat dermawan, orientasinya akhirat. Umar pernah memberinya kepingan perak dalam satu kantong kurma, Saudah pun membagi-bagikannya kepada orang yang membutuhkan sampai habis.Saudah radhiallahu ta’ala ‘anha wafat di zaman khilafah Umar bin Khattab radhiallahu ta’ala ‘anhu, sekitar 40 tahun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
H

Hikmahwati

📍 Kabupaten Kuningan

Materi 29-Kisah Istri Nabi Saudah Binti Zam'ah

Saudah binti Zam'ah adalah istri kedua Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya Khadijah RA. Usianya lebih tua dari Rasulullah SAW. Saudah berasal dari suku Quraisy. Suami pertamanya bernama Sakran bin Amr yang merupakan saudara dari Suhail bin Amr (tokoh Quraisy yang berunding bersama Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah). Dari pernikahan pertamanya, Saudah dikaruniai 6 orang anak. Saudah dan suami pertamanya adalah termasuk orang-orang yang pertama masuk islam.Salah satu nikmat yang dimiliki oleh Saudah adalah ia memiliki suami yang sholeh (mereka berdua ikut hijrah ke Habasyah). Kemudian ada isu yang menyatakan bahwa penduduk kota mekkah sudah memaafkan Nabi Muhammad SAW, sudah tidak memusuhi Nabi SAW lagi (hal ini terjadi ketika Nabi SAW membaca surat An-Najm, kemudian diakhir surat Nabi SAW bersujud dan orang-orang ikut bersujud pula).Sakran bin Amr meninggal dunia ketika masih di Habasyah. Namun ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa Sakran meninggal ketika baru sampai di kota mekkah.Ada satu riwayat yang menyebutkan bahwa Saudah bercerita kepada suaminya (Sakran). Ia bermimpi mendapatkan rembulan jatuh dipangkuannya ketika ia sedang tidur. Maka suaminya berkata "Jika benar demikian, sesungguhnya sebentar lagi aku akan meninggal dan aku akan menikah lagi setelah itu". Hal itu terjadi pada tahun 10 kenabian. Dimana pada saat itu disebut juga dengan 'amul huzni (tahun kesedihan) karena Rasulullah juga sedang melewati masa-masa kesedihan setelah wafatnya Khadijah RA dan pamannya yaitu Abu Thalib.Kemudian datanglah kepada Rasulullah seorang wanita bernama Khaula binti Hakim dan menawarkan Rasulullah untuk menikah lagi. "Maukah aku lamarkan untukmu seorang wanita ?". Rasulullah pun menanyakan siapa wanita yang hendak dilamar. Lalu Khaula memberi pilihan Aisyah binti Abu Bakar (gadis) atau Saudah binti Zam'ah (janda). Kemudia akhirnya Rasulullah melamar keduanya. Yang lebih dulu dinikahi lebih dulu adalah Aisyah RA (namun Rasulullah baru hidup bersama Aisyah setelah Aisyah berusia 9 tahun).Ibnu Abbas meriwayatkan "Nabi SAW melamar wanita dari kaum Quraisy namanya Saudah. Dia seorang janda dan memiliki anak yatim dari suaminya yang telah meninggal dunia. Lalu Rasulullah bertanya kepada Saudah "Apa yang menghalangimu untuk menikah denganku ?" Lalu Saudah menjawab "Ya Rasulullah, aku agak ragu menikah denganmu karena aku tidak ingin merepotkan engkau" kemudian Rasulullah bertanya lagi ""apa ada lagi halangan yang lain?". Saudah menjawab tidak ada lagi yang menghalangi selain karena Saudah takut merepotkan Rasulullah. Kemudian Rasulullah SAW berdoa "semoga Allah merahmati engkau wahai Saudah. sesungguhnya sebaik-baik wanita yang mengendarai unta (wanita arab) adalah wanita Quraisy. Wanita yang paling sayang terhadap anak-anaknya dan yang paling perhatian terhadap suaminya". Akhirnya Rasulullah menikah dengan Saudah binti Zam'ah. Selama 3 tahun bersama Rasulullah, Saudah tidak memiliki madu (Rasulullah sudah menikah dengan Aisyah RA tapi belum hidup bersama).Disebutkan pula riwayat yang menceritakan tentang kedekatan Saudah dan Aisyah : suatu hari Saudah diundang jamuan makan di rumah Aisyah. Disana Aisyah meminta Saudah untuk memakan makanan yang sudah disediakan namun Saudah menolaknya. Sampai Aisyah berkata "Makan, atau makanan itu aku letakkan ke wajahmu". Rasulullah ada diantara mereka berdua (Saudahh dan Aisyah) dan tertawa kemudian mengatakan "balas wahai Saudah". Maka Saudah pun menempelkan makanan ke wajah Aisyah kemudian mereka tertawa bersama.Keutamaan Saudah binti Zam'ah :Senang bercanda (menyenangkan Rasulullah SAW)Dipuji oleh Aisyah RA sebagai wanita yang tegasMenghadiahkan harinya (jatah menginapnya) kepada AisyahSetelah Rasulullah wafat, Saudah tidak mau lagi berhaji (karena teringat pesan Rasulullah yaitu "setelah ini, menetaplah di rumah")Saudah wafat di zaman khilafah Umar bin Khatab sekitar tahun 54 H

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
D

Dini Nurfaizah

📍 Kabupaten Kepulauan Mentawai

#29 Kisah Istri Nabi Saudah binti Zam’ah

#29 Kisah Istri Nabi Saudah binti Zam’ahUst Dr. Firanda Andirja, M.AIstri yang wafat kedua setelah Khadijah.Badannya agak gemuk, umurnya lebih tua dari Nabi Muhammad. Berasal dari suku Quraisy, masuk Islam di awal bersama suaminya. Lahir 5 atau 6 orang anak.Suaminya selanjutnya meninggal di masa-masa hijrah tahun 10 kenabian, bersamaan dengan tahun kesedihan dimana Khadijah baru saja meninggal.Khaula yang melamar Aisyah dan tak lama Saudah. Awalnya Saudah merasa minder karena umurnya di atas Rasul dan sangat kagum dengan Rasulullah dan takut merepotkan karena mempunya banyak anak.Rasulullah menikah dengan Saudah sendirian selama 3 tahun.Keutamaan Saudah:Senang bercanda, menyenangkan hati Rasulullah.Dipuji oleh Aisyah ra. karena tegas, tegarMenghadiahkan harinya kepada Aisyah raSetelah Rasulullah wafat, Saudah tidak mau berhaji lagi. Karena rasulullah pernah bersabda untuk menetap di rumah.Saudah pengertian dan cerdas.Sangat dermawan. Ayat hijab turun sebab Saudah. Suatu malam, Saudah ingin pergi hajat, tapi dipanggil Umar dari jauh, Saudah selanjutnya kembali ke rumah dan mengadu kepada Rasulullah, selanjutnya Saudah pergi kembali dan kembali dipanggil Umar, Saudah kembali ke rumah dan kembali mengadu kepad Rasulullah. Selanjutnya turun ayat mengenai hijab termasuk cadar. 

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
E

Exa Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Kisah Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha - Ustadz Firanda Andirja

Kisah Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anhaTeladan Ummahatul Mukminin — Istri Rasulullah ﷺSosok Saudah binti Zam’ahSaudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha adalah salah satu istri Rasulullah ﷺ yang mulia. Beliau berasal dari suku Quraisy dan termasuk wanita yang memeluk Islam pada masa awal dakwah.Beliau menikah dengan Sakran bin Amr, seorang sahabat yang juga masuk Islam. Keduanya berhijrah ke Habasyah demi menyelamatkan agama dari penindasan kaum musyrikin.Setelah suaminya meninggal dunia, Saudah kembali ke Makkah dalam keadaan menjanda dan memiliki anak-anak yang perlu diurus.Pernikahan dengan Rasulullah ﷺPada tahun ke-10 kenabian, Rasulullah ﷺ mengalami kesedihan mendalam karena wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib. Tahun tersebut dikenal sebagai ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan).Khaulah binti Hakim kemudian mengusulkan kepada Rasulullah ﷺ agar menikah kembali. Ia menawarkan dua pilihan, yaitu Aisyah binti Abu Bakar dan Saudah binti Zam’ah.Setelah menikahi Aisyah melalui akad nikah, Rasulullah ﷺ menikahi Saudah. Aisyah saat itu belum tinggal serumah dengan beliau, sehingga Saudah menemani Rasulullah ﷺ di Makkah selama beberapa tahun sebelum hijrah ke Madinah.Saudah menerima pernikahan tersebut dengan penuh kerendahan hati. Meskipun usianya lebih tua daripada Rasulullah ﷺ dan memiliki anak-anak, beliau menjadi pendamping yang berusaha meringankan beban beliau.Wanita yang Penyayang dan PengertianRasulullah ﷺ memuji wanita Quraisy yang salehah karena kasih sayangnya kepada anak-anak dan perhatiannya kepada suami. Saudah termasuk wanita yang memiliki sifat-sifat mulia tersebut.Beliau mampu menempatkan diri dalam kehidupan rumah tangga dan tidak menjadikan hubungan dengan istri Rasulullah ﷺ lainnya sebagai ajang persaingan.Ketika Aisyah masih muda, Saudah dapat menjalin hubungan yang akrab dengannya. Bahkan, keduanya pernah bercanda dengan saling mengoleskan makanan ke wajah, sementara Rasulullah ﷺ tertawa melihat tingkah mereka.Pelajaran: Kedewasaan dan kebijaksanaan membantu seseorang menjaga keharmonisan rumah tangga, termasuk dalam hubungan dengan orang lain yang dekat dengan pasangannya.Pribadi yang Humoris dan MenyenangkanSaudah bukan hanya wanita yang salehah, tetapi juga memiliki selera humor. Beliau terkadang bercanda dengan Rasulullah ﷺ untuk menciptakan suasana yang menyenangkan.Hal ini mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak harus selalu dipenuhi keseriusan. Canda yang baik dan tidak menyakiti dapat mempererat kasih sayang antara suami dan istri.Mengutamakan Keridaan Rasulullah ﷺKetika Saudah merasa usianya semakin lanjut, beliau khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Karena ingin tetap menjadi istri beliau, Saudah memberikan jatah hari gilirannya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha.Rasulullah ﷺ menerima pemberian tersebut. Peristiwa ini berkaitan dengan ketentuan tentang perdamaian antara suami dan istri dalam Surah An-Nisa ayat 128.Sikap Saudah menunjukkan pengertian dan keinginannya menjaga ikatan pernikahan dengan Rasulullah ﷺ.Tegar dan Memiliki Kepribadian KuatAisyah radhiyallahu ‘anha pernah memuji Saudah. Dalam riwayat sahih Muslim, Aisyah menyatakan bahwa ia ingin memiliki sifat seperti Saudah dalam ketegasan dan kemampuannya menghadapi keadaan.Pujian ini menunjukkan bahwa Saudah bukan sekadar wanita yang humoris dan pengertian, tetapi juga memiliki keteguhan hati.Beliau mampu menghadapi perubahan hidup dengan bijaksana, tanpa harus memperbesar persoalan.Dermawan dan Tidak Terikat pada DuniaDikisahkan bahwa ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memberikan uang kepada Saudah, beliau membagikannya kepada orang lain hingga habis.Sikap tersebut menjadi teladan tentang kemurahan hati dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan.Berusaha Menjalankan Petunjuk Rasulullah ﷺSaudah dikenal berhati-hati dalam menjalankan apa yang beliau pahami dari petunjuk Rasulullah ﷺ. Di antaranya, beliau memilih tidak berhaji lagi setelah Rasulullah ﷺ wafat, berdasarkan pemahamannya terhadap arahan agar istri-istri Nabi menetap di rumah.Beliau juga pernah meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk berangkat lebih awal dari Muzdalifah menuju Mina saat haji, karena kondisi fisiknya membuat perjalanan bersama rombongan lebih sulit. Rasulullah ﷺ mengizinkannya.Kisah ini memperlihatkan kecerdasan Saudah dalam mengenali keterbatasan dirinya dan mencari kemudahan tanpa merepotkan orang lain.Hikmah dari Kisah Saudah* Bersyukur atas pasangan yang saleh. Pasangan yang saling mendukung dalam ketaatan merupakan nikmat besar dari Allah.* Menjaga keharmonisan rumah tangga. Jangan mudah memperbesar masalah atau menjadikan perbedaan sebagai persaingan.* Menjadi pribadi yang menyenangkan. Canda yang baik dapat mempererat hubungan keluarga.* Mendahulukan kebaikan dan keridaan Allah. Jangan sampai harta, kedudukan, atau persaingan menguasai hati.* Bijaksana menghadapi perubahan hidup. Setiap orang memiliki keterbatasan, sehingga perlu mengenali kemampuan diri dan mencari jalan yang baik.* Memiliki keteguhan hati. Kelembutan tidak berarti lemah; seseorang tetap dapat bersikap tegas ketika diperlukan.PenutupSaudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha merupakan teladan wanita yang sederhana, dermawan, humoris, pengertian, dan tegar. Beliau menjalani kehidupan bersama Rasulullah ﷺ dengan berusaha menjaga keharmonisan dan mengutamakan kebaikan.Kisah beliau mengingatkan kita bahwa kemuliaan seorang wanita tidak hanya terlihat dari kecantikan atau usia muda, tetapi juga dari akhlak, ketakwaan, kebijaksanaan, dan kemampuannya menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
F

Febbi NK

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

#29 Kisah Istri Nabi Saudah binti Zam'ah رضي الله عنها

Kisah Istri Nabi Saudah binti Zam'ah رضي الله عنها - Ust. Dr. Firanda Andirja, Lc, MA -1. Siapa Saudah?Nama: Saudah binti Zam'ah bin Qais al-Amiriyah al-Qurasyiyah, dari Quraisy nasab tinggi.Fisik: Wanita tinggi, besar / agak gemuk, berat badannya.Usia: Lebih tua dari Nabi ﷺ. Saat dinikahi Nabi umur ∼60-an (ada riwayat 66), sedangkan Nabi ﷺ umur ∼50 tahun (setelah wafat Khadijah). Fisik tinggi besar membuat mudah dikenali bahkan di malam hari.Istri ke-2: Setelah Khadijah wafat, beliau istri kedua Nabi. Paling tidak terkenal di antara istri-istri Nabi.2. Suami Pertama & Hijrah ke HabasyahSuami: Sakran bin Amr, sepupunya sendiri. Saudara dari Suhail bin Amr (tokoh Quraisy yang jadi wakil Quraisy saat Perjanjian Hudaibiyah 6 H, yang protes tulisan "Muhammad Rasulullah" dihapus).Keluarga Saleh: Masuk Islam sejak awal di Makkah saat Islam ditindas, disiksa, diboikot. Punya 5-6 anak.Hijrah ke Habasyah: Ikut hijrah ke Habasyah karena penindasan. Mendengar isu pembesar Makkah sujud ikut Nabi saat baca QS An-Najm dan sudah masuk Islam (ternyata hanya spontan), sebagian sahabat kembali ke Makkah.Mimpi: Bermimpi rembulan jatuh menimpanya saat berbaring. Diceritakan ke suami, suami berkata: "Kalau mimpimu benar, sebentar lagi aku mati dan kau akan menikah setelahku."Wafatnya Sakran: Ada 2 pendapat: wafat masih di Habasyah atau setelah sampai Makkah. Wafat sekitar tahun 10 Kenabian (Amul Huzn).3. Pernikahan dengan Nabi ﷺ - Peran Khaulah bintu HakimTahun Kesedihan: Tahun 10 Kenabian, Nabi ﷺ sangat sedih wafatnya Khadijah (penopang di rumah) dan Abu Thalib (penopang di luar).Mak Comblang: Khaulah bintu Hakim (istri Utsman bin Maz'un, teman hijrah Saudah) datang tawarkan: "Ya Rasulullah, tidakkah kau menikah lagi? Ada kekosongan setelah Khadijah." Nabi ﷺ bilang: "Terserah kalian wanita lebih tahu." Khaulah tawarkan 2 pilihan:Gadis: Aisyah binti Abu BakarJanda: Saudah binti Zam'ah Nabi ﷺ setuju keduanya. Urutan: Nabi akad dulu dengan Aisyah (umur 6 th, serumah umur 9 th - hal biasa di zaman itu, tidak ada musyrikin yang mencela), baru menikah dengan Saudah.Lamaran ke Saudah: Khaulah tidak bilang dia mak comblang, tapi bilang: "Rasulullah mengutusku melamarmu." Menjaga adab.Saudah ragu karena sudah tua & punya banyak anak yatim: "Ya Rasulullah, engkau orang paling aku cintai, tapi aku tidak ingin merepotkanmu dengan anak-anakku." Nabi ﷺ memuji: "Semoga Allah merahmatimu, sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang paling sayang anaknya & paling menjaga harta suaminya." Akhirnya menikah.Reaksi Keluarga: Saudaranya Abd bin Zam'ah yang masih kafir saat dengar Saudah nikah dengan Nabi, ambil pasir tabur di kepalanya (sial). Setelah masuk Islam dia berkata: "Sungguh bodoh aku dulu."4. Kehidupan Bersama Nabi ﷺMenemani 3 Tahun Sendirian: Dari tahun 10-13 Kenabian, sebelum hijrah ke Madinah, Saudah menemani Nabi sendirian tanpa madu (karena Aisyah belum serumah). Berusaha menggantikan peran Khadijah.Tidak Cemburu: Saat di Madinah madunya Aisyah (istri paling dicintai Nabi), tidak ada riwayat Saudah cemburu. Pandai mengatur diri, anggap Aisyah sebagai teman.Kisah Lempar Kue: Aisyah buat khazirah (daging rebus + tepung/manisan), undang Saudah. Saudah menolak makan. Aisyah (masih remaja) ancam: "Makan atau kulempar ke mukamu." Aisyah lempar kue ke muka Saudah, Nabi di tengah mereka tertawa. Lalu Nabi suruh Saudah balas lempar ke Aisyah. Suasana madu yang akur & lucu.Suka Bercanda: Pernah cerita: "Ya Rasulullah, semalam saya bermakmum di belakang Anda, rukuknya lama sampai hidung saya hampir berdarah, saya tutup hidung." Nabi tertawa. Selalu menyenangkan suami.5. Keutamaan & Sifat MuliaDipuji Aisyah: Dalam Shahih Muslim, Aisyah berkata: "Tidak ada wanita yang paling aku ingin seperti dia kecuali Saudah. Dia tegas (hidah), tegar dalam pendirian."Menghadiahkan Hari untuk Aisyah: Saat sudah sangat tua, khawatir Nabi menceraikannya karena tidak bisa melayani, Saudah berkata: "Ya Rasulullah, hariku untuk Aisyah." Nabi terima. Turun QS An-Nisa:4:128 tentang islah jika istri khawatir nushuz suami. Tujuannya hanya ingin meninggal sebagai istri Nabi & menemani di surga.Lazim di Rumah: Setelah Nabi wafat, tidak mau haji lagi. Memahami sabda Nabi "Menetaplah di rumah - Ala zuhuril husur". Dari wafat Nabi 11 H sampai wafatnya 54 H (40 tahun) tidak haji lagi.Izin di Muzdalifah: Saat haji wada', karena fisik besar & tua, jalannya lambat, minta izin Nabi berangkat dari Muzdalifah ke Mina lebih awal tengah malam agar tidak tertinggal rombongan. Nabi izinkan.Sangat Dermawan: Umar bin Khattab memberi sekantong dirham (perak) sebanyak kurma. Saudah tanya "Apa ini?" lalu langsung bagi habis semua.Sebab Turun Ayat Hijab: Umar ingin istri Nabi berhijab. Saudah keluar malam untuk hajat (dulu belum ada toilet di rumah), Umar teriak: "Aku kenal kau, ya Saudah!" karena fisiknya khas tinggi besar. Saudah lapor ke Nabi. Lalu turun ayat hijab QS Al-Ahzab:59.6. Wafat Wafat di akhir kekhalifahan Umar bin Khattab sekitar tahun 54 H, sekitar 40 tahun setelah wafat Nabi ﷺ. Pelajaran: Pasangan saleh-salehah adalah nikmat terbesar. Saudah contoh wanita yang pengertian, tidak neko-neko, tidak bikin masalah dengan madu, sederhana, dermawan, tegar, dan selalu menyenangkan suami.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
S

Sri Wahyuni Wadi

📍 Indonesia

Ringkasan Materi 29 - Kisah Saudah Binti Zam'ah

Kajian Umum oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja., M.A.Saudah Binti Zam'ah merupakan wanita yang memiliki nasab yang tinggi karena keturunan dari Quraisy. Ia termasuk wanita yang awal-awal masuk Islam. Suaminya bernama Sakran bin Amr dan saat masuk Islam keduanya ikut berhijrah ke Habsyah.‎Setelah kaum Muslimin balik ke Mekkah, Suaminya meninggal Dunia, sampai selesai masa Iddah Saudah binti Zam'ah dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.‎Saudah binti Zam'ah memiliki teman dekat yaitu Khaulah binti Hakim. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam sedang berduka karena meninggalnya istri tercintanya Khadijah, Khaulah datang menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya "apakah beliau ingin menikah lagi. Rasulullah bertanya, "dengan siapa?" Khaulah menjawab, "ada yang gadis dan ada yang janda." Rasulullah bertanya lagi, "Siapa yang gadis dan siapa yang janda?" Khaulah menjelaskan: "yang gadis adalah putri dari makhluk Allah yang paling engkau cintai, yaitu Aisyah binti Abu Bakar. Sedangkan yang janda adalah Saudah binti Zam'ah, wanita yang telah beriman kepadamu dan mengikutimu." Rasulullah kemudian mengutus Khaulah untuk meminang keduanya.‎Setelah Khaulah dari rumah Abu Bakar untuk menyampaikan lamaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Khaulah binti Hakim langsung mendatangi Saudah binti Zam'ah. Khaulah berkata, "Kebaikan dan berkah apa yang dimasukkan Allah kepadamu!" Saudah bertanya, "apa itu, wahai Khaulah?" Khaulah menjawab, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengutusku untuk melamarmu."‎Dari kisah tersebut, lamaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada Aisyah ra. baru sebatas akad tetapi belum digauli dan tinggal bersama. Sedangkan yang dilamar dan langsung dinikahi saat itu adalah Saudah binti Zam'ah. Saudahlah yang menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam melewati masa-masa beratnya menghadapi ujian Dakwah sepeninggal Khadijah ra.‎Rumah tangga beliau berjalan kurang lebih tiga tahun selama di Mekkah sebelum Hijrah ke Madinah. Dan pada saat di Madinah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mulai tinggal bersama Aisyah binti Abu Bakar. ‎Keutamaan Saudah binti Zam'ah;1. ‎Suka bercanda dalam perkara yang baik untuk menyenangkan hati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam2. ‎Wanita yang rajin beribadah dan tegas, tegar dalam menjalani apa yang ia yakini. Termasuk dalam menghadapi keluarganya yang belum beriman/ kafir.3. ‎Mengutamakan orang lain, dimana demi menjaga kebahagiaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Saudah merelakan jatah malam gilirannya untuk Aisyah4. ‎Istri yang taat, setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berpesan saat Haji Wada' agar istri-istrinya menetap di rumah, Saudah mengamalkannya dengan sangat setia dan tidak pernah menunaikan haji lagi hingga akhir hayatnya5. ‎Sosok wanita yang dermawan. Ketika pernah dikirimi satu kantong penuh dirham oleh Umar bin Khattab, seluruh uang tersebut langsung ia bagikan dan sedekahkan kepada orang-orang miskin‎Wallahu'alam...

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
E
Endah elfian ari

📍 Kota Bogor

#29 KiSAH ISTRI RASULULLAH ﷺ, SAUDAH BINTI ZAM'AH

#29 KISAH ISTRI NABI ﷺ, SAUDAH BINTI ZAM'AH Oleh Ust. Dr. Firanda AndirjaKajian ini membahas profil dan keutamaan salah satu istri Nabi ﷺ, yaitu Saudah binti Zam'ah radhiallahu 'anhaa. Beliau adalah sosok yang mulia namun seringkali tidak banyak dikenal oleh umat Islam dibandingkan istri-istri Nabi lainnya. Berikut adalah rincian profil dan perjalanan hidup beliau:Profil Pribadi dan Latar BelakangKeturunan dan Pernikahan: Saudah berasal dari suku Quraisy. Sebelum menikah dengan Nabi, beliau adalah istri dari sepupunya, Sakran bin Amr. Keduanya termasuk kelompok yang masuk Islam di awal masa dakwah dan sempat melakukan hijrah ke Habasyah.Keadaan Fisik dan Usia: Beliau digambarkan sebagai wanita yang tinggi dan bertubuh besar. Ketika menikah dengan Nabi setelah wafatnya Khadijah binti Khuwailid, usia Saudah sudah lanjut (sekitar 60-an tahun), yang menjadikannya sosok yang bijaksana dan keibuan bagi anak-anak Nabi.Peran dalam Keluarga: Beliau menjadi istri Nabi selama tiga tahun sendirian sebelum Nabi kemudian menikahi Aisyah binti Abu Bakar. Saudah dikenal sebagai wanita yang sangat pengertian, dermawan, dan tidak menuntut secara duniawi.Keistimewaan dan Akhlak SaudahSikap Bijak dalam Berpoligami: Salah satu keistimewaan luar biasa Saudah adalah kemampuannya beradaptasi setelah Nabi memiliki istri lain (madu). Beliau tidak memiliki kecemburuan yang merusak, bahkan sangat akrab dengan Aisyah.Contoh Permisalan: Terdapat kisah saat mereka bercanda dengan saling melempar makanan (khazirah) di depan Nabi, yang menunjukkan keharmonisan dan suasana kekeluargaan yang cair.Kerendahan Hati dan Pengorbanan: Beliau menunjukkan sikap luar biasa dengan memberikan jatah hari gilirannya kepada Aisyah karena beliau sadar usianya sudah lanjut dan lebih mengutamakan keridhaan Nabi.Kepatuhan terhadap Wasiat: Saudah adalah istri yang sangat patuh. Setelah Nabi wafat, beliau melazimi rumahnya dan hampir tidak pernah keluar rumah lagi. Bahkan untuk urusan haji, beliau memutuskan untuk tidak berhaji lagi setelah haji perpisahan karena menjalankan wasiat Nabi untuk menetap di rumah.Kedermawanan: Pernah suatu ketika Umar bin Khattab mengirimkan bantuan berupa dirham yang banyak kepada Saudah, namun beliau segera membagikan seluruhnya kepada orang-orang yang membutuhkan tanpa menyisakan untuk dirinya sendiri.Pelajaran Penting dari KajianPentingnya Pengertian dalam Rumah Tangga: Kajian ini menekankan bagaimana Saudah menjadi teladan bagi ibu-ibu dalam menjaga keutuhan rumah tangga melalui kesederhanaan dan manajemen emosi yang baik.Menghindari Konflik: Saudah memberikan contoh bagaimana bersikap dewasa dalam menghadapi situasi sulit, sehingga beliau bisa hidup rukun dengan Aisyah yang merupakan istri yang paling dicintai Nabi.Ketaatan Mutlak: Keputusan beliau untuk menetap di rumah sepanjang sisa hidupnya menunjukkan betapa kuatnya rasa hormat dan ketaatan beliau terhadap instruksi Nabi.[Endah Ea]

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
👩‍👧 Wanita dan Anak #jejakcahaya29 Oktober 2026
P

Puspita Wulandari

📍 Kabupaten Kutai Timur

🌼Materi 28; "Kisah Istri Nabi Saudah Binti Zam'ah"

Saudah adalah istri kedua setelah wafatnya Khadijah radiallahu 'anha,secara fisik Saudah memiliki badan yang besar (agak gemuk) dari umur beliau lebih tua dari Rasulullah SAW,saat menikah dengan Nabi Muhammad SAW Saidah berumur 60than,sedangkan Rasulullah berusia 50th.Saudah binti Zam'ah bin Qais Al Amiriyah yang masuk islam diawal-awal bersama suaminya Saqron bin Amr.beliau adalah saudara nya Suhail bin Amr tokoh hebat dari Quraisy wakil saat perjanjian Hudaibiyah.Saudah dan suaminya tergolong Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang awal masuk islam) dan menghadapi tekanan keras dari kaum kafir Quraisy di Mekkah.Saudah pernah bermimpi suatu malam ia bermimpi ada rembulan jatuh kedirinya,sementara dia sedang berbaring.Lalu Ia memberitahu suaminya,Saqran berkata "Kalau mimpi itu benar,itu artinya aku akan wafat dan kau akan menikah lagi"Saqran bin Amr pun wafat di tahun ke-10 keNabian,disaat itu juga Rasulullah sedang mengalami kesedihan karena wafatnya Khadijah.Setelag Saqran wafat Saudah kembali ke Mekkah.Khaulah binti Hakim adalah teman Saudah saat berhijrah ke Habasyah. Khaulah mwlendatangi Nabi untuk menjadi perantara antara Saudah dan Rasulullah.Khaulah menyarankan Saudah binti Zam'ah dengan pertimbangan bahwa Saudah adalah wanita mukminah yang matang telah menjanda demi memperjuanglan islam,dan bisa membantu mengurus rumah tangga mengurus anak-anak Nabi yang masih kecil.Rasulullah menyetujui tawaran tersebut untuk meminang Saudah.pernikahan ini berlangsung pada Bulan Ramadhan tahun ke-10 keNabian (sekitar 3thn sebelum hijrah ke Madinah)Saudah sangat bijak dan paham posisi.Beliau tidak pernah menganggap Aisyah ra,sebagai saingan bahkan kerap bercanda bersamanyaKetika usianya semakin senja dan merasa tidak membutuhkan lagi hubungan suami istri,Saudah menyerahkan giliran harinya kepada Aisyah ra demi mencari keridhoan Nabi SAW dan momen ini menjadi Asbabunnuzul sebagian ayat dalam surah An Nisa.Saudah dikenal ceria dan suka bercanda untuk menyenangkan hati Rasulullah.beliau adalah sosok yang dermawan dan tidak terikat duniawi.Setelah Rasulullah wafat,Saudah memilih untuk tidak berhaji lagi dan sepenuhnya menetap dirumahnya sesuai pesan Rasulullah SAW kepada para istrinya.Saudah binti Zam'ah ra wafat pada masa ke khalifahan Umar Bin Khattab.ra (sekitar tahun 54Hijriah) meninggalkan teladan luar biasa tentang keteguhan iman,kesederhanaan,kebijaksanaan dalam rumah tangga.

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →