Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ
Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺNabi Muhammad ﷺ adalah manusia termulia yang memiliki garis keturunan (nasab) paling terhormat. Kehormatan nasab beliau diakui oleh musuh-musuhnya (seperti Abu Sufyan) dan para penguasa asing (seperti Heraklius). Para rasul terdahulu selalu diutus dari kalangan keluarga yang memiliki nasab terhormat di antara kaumnya.Para ulama sepakat silsilah Nabi Muhammad ﷺ dari ayah beliau hingga Adnan adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghalib bin Fihr bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.Ada Khilaf silsilah dari Adnan hingga Nabi Ismail AS tidak dapat dipastikan karena tidak ada hadits sahih; jumlah kakek di antara keduanya diperkirakan berkisar antara 7, 9, 10, hingga 40 orang. Silsilah dari Nabi Ismail AS bin Ibrahim AS hingga Nabi Adam AS jauh lebih tidak bisa dipastikan lagi.Berdasarkan HR. Muslim (No. 2276), Allah memilih jalur keturunan terbaik untuk mengutus Nabi Muhammad ﷺ: Bani Kinanah dipilih dari keturunan Nabi Ismail, suku Quraisy dipilih dari Bani Kinanah, Bani Hasyim dipilih dari suku Quraisy, Nabi Muhammad ﷺ dipilih dari Bani Hasyim.Asal-usul Nama Abdul Mutthalib: Kakek Nabi Muhammad ﷺ sebenarnya bernama Syaibah bin Hasyim. Ia dijuluki "Abdul Mutthalib" (budak al-Mutthalib) karena saat pertama kali dibawa oleh pamannya (al-Mutthalib) ke Makkah, penduduk menyangka Syaibah adalah budak yang baru dibeli, padahal beliau adalah anak dari kaka Mutthalib yakni Hasyim. Setelah al-Mutthalib wafat, tanggung jawab kepemimpinan (siqayah dan rifadah) diteruskan oleh Abdul Mutthalib, yang kemudian diturunkan lagi kepada putranya, al-Abbas (paman Nabi).Hikmah di Balik Nasab yang MuliaMenghindari Celaan: Kaum Arab tidak bisa mencela garis keturunan Nabi karena mereka tahu nasab Abdul Mutthalib (pemimpin Quraisy dan pemilik sumur Zamzam) jauh lebih tinggi. Kelahiran beliau dari kaum bangsawan membantah tuduhan bahwa beliau mengaku sebagai nabi hanya demi mencari kekuasaan, popularitas, atau penghormatan materi. Para pengikut beliau merasa bangga dan terhormat karena dipimpin oleh seorang nabi yang memiliki latar belakang keluarga yang sangat mulia.













