Rangkuman 20 Menanamkan Imam Kepada Anak
METODE MEMOTIVASI ANAK(Bag.2) Fase 7โ10 TahunDi usia seperti ini, secara umum perlu diperhatikan mengenai perubahan perilaku anak dalam masalah konsistensinya terhadap sholat. Jangan memaksanya menjalankan sholat sekalipun mereka telah terbiasa, demi menghindari kemalasan, penolakan, dan kebosanan.Pada dasarnya, di usia ini merupakan permulaan masa-masa baru, masa membangkang, susah diatur, dan tergesa-gesa. Dalam kondisi seperti ini, kita harus berinteraksi dengan mereka secara arif dan hikmah.Jika si anak belum juga sholat, orang tua harus menunggu di sampingnya untuk memaksanya sambil berkata, "Saya tetap menunggu sesuatu yang sangat penting untuk dikerjakan sebelum lewat waktunya."Semuanya itu dilakukan dengan keteguhan, tidak kasar, dan menjauhi ancaman.Di saat mereka menunjukkan komitmen dan memuliakan sholat, akan membuat kita menyenangi kepribadian mereka. Itu semua merupakan keistimewaan yang bisa menghilangkan problem dan cacat.Pada usia seperti ini, seharusnya seorang anak sudah harus diajari hukum bersuci, sifat-sifat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan sebagian doa-doa khusus.Pada usia ini, kita bisa memulai membiasakannya melaksanakan sholat lima waktu setiap hari dan mengganti yang tertinggal ketika dia sudah mulai komitmen melaksanakannya semua pada waktunya.Baru kita mengajarinya sholat langsung setelah mendengar azan tanpa menundanya. Bila sudah terbiasa, baru kita ajari sunnah-sunnah sholat dan kita beritahu keutamaan-keutamaannya.Setelah itu, biarkan dia memilih sholat sekarang atau setelah dewasa.Ada beberapa faktor tertentu yang bisa membuat anak memiliki konsistensi dengan sholat pada usia tersebut, yakni:1. Anak harus selalu melihat pada kedua orang tua dan bagaimana perhatian mereka terhadap sholat.2. Islam menganjurkan berolahraga guna menjaga kesehatan badan dan kekuatannya. Akan tetapi, jangan sampai melakukan olahraga itu di waktu melakukan sholat. Hal ini tidak dibenarkan.3. Apabila anak sakit, kita harus mengajarinya melaksanakan sholat semampunya sehingga dia terbina, tahu, dan terbiasa. Karena itu, tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan sholat kendatipun sakit.4. Tanamkan pada diri anak keberanian mengajak teman-temannya untuk melaksanakan sholat tanpa ada beban di hati. Tanamkan pada dirinya untuk tidak memaksa teman-temannya yang bermalas-malasan melaksanakan sholat. Akan tetapi, mengajak mereka pada kebaikan dan mensyukuri nikmat Allah.5. Harus bertahap dalam mengajari anak. Kita harus memakai sarana-sarana yang dibolehkan syariat untuk menanamkan sholat dalam jiwa mereka, di antaranya: a. Menggunakan media bergambar yang menunjukkan cara berwudhu dan sholat. b. Mengajari berhitung lalu mengaitkannya dengan sholat. c. Kaset-kaset video dan televisi yang berisi tentang wudhu, sholat, dan lain sebagainya yang dibolehkan Allah Azza wa Jalla.โขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขโขTentang persoalan memukul setelah berusia sepuluh tahun karena meninggalkan sholat, para ulama berpendapat kita tidak perlu memukulnya di usia sepuluh tahun jika sudah melaksanakan tugas sebagaimana mestinya semenjak masih kecil.Seandainya terpaksa, maka pukullah dengan tidak terlalu keras dan jangan di posisi yang dilarang seperti wajah. Jangan pukul di hadapan orang dan jangan memukul saat Anda marah.Perintah memukul dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada hakikatnya bertujuan memperbaiki, bukan menghukum, menghina, atau membuat masalah baru.Ingatlah, menanamkan ketekunan sholat terhadap anak sama pentingnya dengan menanamkan akhlak-akhlak yang lain ke dalam jiwa anak. Tetapi, kita harus menyikapi sholat dengan saksama karena bisa berdampak pada menjauhkan anak dari agama.Masa kurang lebih tiga tahun hingga anak menjadi terbiasa dengan hal tersebut. Menggunakan tahap waktu sangat penting untuk pembentukan karakter. Butuh sebuah rancangan sistematis dengan waktu yang cukup untuk mencapai tujuan.Untuk mencapai hal tersebut, perlu permulaan sedini mungkin. Kandungan-kandungan moral dan sentuhan hati yang bisa meresap pada diri anak. Semua ini sangat membutuhkan kesabaran, ketenangan, dan kebijaksanaan, bukan kekerasan.Pada usia ini, anak menginginkan agar kita bisa memahami perasaan, membantu menyelesaikan permasalahan, serta merasakan problem dan kecemasan mereka.Perlu diketahui bahwa permainan merupakan hal yang menarik perhatiannya sehingga sering membuat lupa dan membangkang untuk melaksanakan sholat.Mengingat hal seperti ini, kita tidak harus mendesaknya agar dia tidak berprasangka jika kita menanyakan sholatnya setiap kali bertemu.Dia masih di bawah usia taklif atau pembebanan kewajiban. Sholat dalam usia ini hanyalah untuk melatih dan membiasakan saja, tidak lebih dari itu.













