Menanamkan rasa cinta kepada Allah dalam hati anak-anak Semakin dini kita memulainya akan semakin baik. Kita juga harus memilih waktu dan cara yang tepat untuk membicarakan masalah ini dengan mereka. Berikut ini fase atau tahapan mengenai bagaimana mengajari mereka mencintai Allah.Fase pernikahanIslam menjadikan memilih pasangan yang baik adalah salah satu hak anak terhadap kedua orang tuanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga menegaskan bahwa calon suami hendaklah seorang yang disukai akhlak dan agamanya. Setelah menentukan calon suami atau istri, kita berdoa supaya Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kita keturunan yang baik.Fase dalam rahimBila mengetahui di dalam kandungannya sudah terdapat rezeki yang diberikan Allah Azza wa Jalla, harus meningkatkan taqarrub kepada Allah Azza wa Jalla dan persiapan menyambut nikmat ini, di mana kita banyak-banyak mendengarkan Al-Qur'an, bahwa semua yang ada di sekitar ibunya sangat berpengaruh terhadap janin, maka kondisi jiwa yang tenang dan menghadap kepada Allah Azza wa Jalla sangat membantu meringankan ketegangan jiwa.Syekh Ali al-Qarni menyatakan bahwa kejiwaan janin itu tidak bisa dipisahkan dengan kejiwaan ibunya. Dapat kita simpulkan bahwa mendidik anak harus dimulai semenjak dari janin.Pasca kelahiran sampai dua tahunBalita itu seperti kertas putih yang siap menampung segala bentuk coret-coretan. Seiring dengan perkembangan daya tangkap si anak, kita harus memperbanyak menyebut asma Allah Azza wa Jalla di hadapannya. Kita usahakan agar dia ikut mengulang-ulang kalimat tersebut dengan baik.Usia 2 sampai 3 tahunPada usia ini otak anak sudah mampu menampung memori. Kita arahkan untuk menghafal surat-surat pendek. Disesuaikan dengan kemampuannya. Semakin bertambah daya nalarnya, kita harus semakin sering mengulang-ulang di hadapannya bahwa Allah-lah yang memberikan makanan kepada kita.Gelar anak-anak di sisi Allah adalah kekasih-kekasih Allah yang dititipkan kepada orang tua untuk memilih nama yang baik, mengajarinya urusan agama, dunia, dan mendidiknya untuk berkepan santun. Allah juga menyukai kemurahan, kelemahlembutan, keadilan, keindahan, kebersihan, dan lain sebagainya.Usia 3 sampai 6 tahunPada usia ini kemampuan anak menerima pengetahuan, mengambil pelajaran, dan mencontohnya mencapai puncaknya. Kita mesti menggunakan fase ini untuk mengarang dan menceritakan kisah-kisah yang mengarahkannya pada perilaku mulia yang sangat kita inginkan darinya. Metode satu hari satu cerita untuk memberikan kesempatan kepada anak supaya merenunginya.Ketika kita berbicara tentang Allah kepada mereka, pada usia ini kita harus berbicara dengan benar, jangan berlebihan. Pada fase ini selayaknya untuk tidak terlalu detail ketika berbicara tentang zat Allah dengan anak-anak karena khawatir terjatuh ke dalam kekeliruan yang dapat menyebabkan kita diazab.Usia 7 sampai 10 tahunFase ini merupakan fase usia yang paling penting. Kita tidak boleh menganggap remeh fase ini. Akal dan daya nalar sang anak mulai terbuka dengan baik. Kita berinteraksi dengannya seperti teman. Kita tanamkan dalam jiwanya pengetahuan tentang ibadah kepada Allah Azza wa Jalla secara mendalam.Yang tidak boleh dilupakan adalah membuat pijakan-pijakan metode pendidikan yang bisa dipilih anak untuk menumbuhkan minat belajarnya.Fase 10 tahun ke atasUsia ini nampak jelas tanda-tanda anak yang ingin bebas, berdikari, keras kepala, membangkang terhadap nasihat-nasihat dan perintah kedua orang tuanya. Pada fase ini, anak menganggap keduanya laksana busur yang mengikat kebebasannya.Kita juga harus menjelaskan bahwa Allah Azza wa Jalla terkadang menguji manusia dengan sesuatu yang tidak disukainya. Yang jelas, rentan usia ini sangat rawan, karena pada masa tersebut mengembalikan akal dan pikiran anak seperti baru lagi, sehingga riskan terjadi hal-hal yang buruk jika orang tua salah berinteraksi dengan anak.Hal yang tak kalah pentingnya bagi anak-anak kita pada usia ini adalah berdialog secara santai namun terarah. Cara yang benar ialah berdialog secara santai namun positif sesuai dengan pokok permasalahan, berisi kebaikan-kebaikan, dan mampu memberikan pengaruh positif terhadap anak.Hubungan ini bukan hubungan menerima dan tunduk pada kenyataan, tapi hubungan pengertian, perubahan, dan perbaikan. Sebagai tujuan akhir adalah menetapkannya yang benar sebagaimana mestinya, bukan sebagaimana hawa nafsu.Di atas segala dialog ini mereka cinta kasih, tanggung jawab, perhatian, dan mengalahkan kehendak nafsu.