1. Mengubah Kebohongan Menjadi KeinginanKebohongan sering muncul karena anak ingin sesuatu namun takut, malu, atau khawatir mendapat masalah.Alih-alih memandang mereka sebagai “penipu”, lihatlah bahwa di balik kebohongan ada keinginan atau kebutuhan yang belum terungkap.Pindahkan fokus dari kebohongan ke keinginan yang sebenarnya.Contoh percakapan:Anak: “Ibu, aku tidak mengacaukan permainan teka-teki dan menyembunyikan kepingannya di bawah sofa. Aku tidak melakukannya, aku tidak melakukannya!”Ibu: “Hmm... Mengangguk pelan, tidak mengatakan apa-apa lagi.”Anak: “Aku tidak melakukannya!”Ibu: “Oh... oke... baiklah, yang ingin Ibu katakan adalah jika kamu ingin di luar dan berdiskusi tentang itu, Ibu di sini.”2. Menunggu dan Memberikan Pembuka NantiBerhenti sejenak saat anak berbohong. Jangan langsung menuduh atau menjelaskan panjang lebar.Tunjukkan bahwa Ibu melihat, tetapi tidak bereaksi keras.Setelah anak merasa lebih tenang, berikan “pembuka” untuk percakapan jujur.Contoh percakapan:Ibu: “Jadi, kamu tidak mengerjakannya, kan?”(setelah anak mulai tenang)Ibu: “Hei, Sayang. Menulis itu sulit. Atau paling tidak bagi Ibu. Ibu tahu itu.”Ibu: “Ibu ingin tahu apa yang dapat kamu lakukan jika sesuatu terasa terlalu sulit untuk dimulai.”3. Bertanya kepada Anak Apa yang Dia Butuhkan untuk Berkata JujurJika anak masih berbohong, bantu dia mengungkap apa yang sebenarnya dia butuhkan untuk bisa jujur.Tanyakan dengan empati, bukan untuk menjebak.Memberi ruang bagi anak untuk menyebutkan kebutuhannya akan membuatnya lebih berani jujur.Contoh percakapan:📞 Ibu di telepon oleh sekolah putri Anda yang memberitahukan bahwa dia tidak mengerjakan PR menulis selama seminggu terakhir.Anda pulang, lalu bertanya kepadanya tentang hal itu.Anak:“Saya kerjakan! Saya kerjakan! Saya tidak ingin membicarakannya!”Setelah memberikan beberapa jeda, ketika melihat sedikit peluang, Anda bisa berkata:Ibu:“Oh... oke... baiklah, yang ingin Ibu katakan adalah jika seorang anak di keluarga ini tidak mengerjakan PR selama beberapa hari, Ibu akan benar-benar mencoba untuk mengerti. Karena setiap anak di keluarga ini, jika mereka tidak mengerjakan PR, pasti punya alasan untuk itu.”Ibu:“Ibu teringat saat berusia 7 tahun dan tidak mengerjakan PR menulis selama beberapa hari. Menulis terasa begitu rumit dan sangat sulit untuk Ibu kerjakan. Namun, jika hal itu terjadi, Ibu akan duduk bersamamu dan membicarakannya. Kamu tidak dalam masalah....”Kemudian, bersikaplah tenang. Jangan memandang anak dan berkata, “Jadi, kamu tidak mengerjakannya, kan?” Lanjutkan saja.Anda dapat kembali kepada anak nanti dan berkata:Ibu:“Hei, Sayang. Menulis itu sulit. Atau paling tidak bagi Ibu. Ibu di sini. Kamu anak yang baik, walaupun tidak mengerjakan PR. Ibu tahu itu. Ibu mencintaimu.”Jika merasa ada peluang, tambahkan:Ibu:“Ibu ingin tahu apa yang dapat kamu lakukan jika sesuatu terasa terlalu sulit untuk dimulai?”4. Bertanya kepada Anak Apa yang Dia Butuhkan untuk Berkata JujurJika anak masih berbohong, bantu dia mengungkap apa yang sebenarnya dia butuhkan untuk bisa jujur.Tanyakan dengan empati, bukan untuk menjebak.Memberi ruang bagi anak untuk menyebutkan kebutuhannya akan membuatnya lebih berani jujur.Contoh percakapan:Ibu:“Hei... Ibu ingin berbicara sebentar. Kamu tidak dalam masalah. Ibu hanya berpikir, kadang-kadang sulit untuk mengatakan yang sebenarnya.”Ibu:“Pokoknya, Ibu ingin tahu apa yang kamu butuhkan supaya bisa terus terang.”Ibu:“Ibu tidak akan marah kalau kamu berkata jujur. Apa yang membuatmu takut mengatakannya? Apakah ada yang bisa Ibu bantu?”Good Inside, Meletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kennedy)