Like Father, Like SonLike parents, Like Children(Kisah Nyata)Judy (bukan nama sebenarnya) tumbuh sebagai anak remaja usia 12 tahun. Ia pelajar SMP swasta, pandai, supel bergaul terbukti dari teman-temannya yang banyak, baik teman-teman sekolah maupun teman main di rumahnya. Judy setiap minggu pasti singgah dan main di rumah saya, karena memang anak ini cukup dekat dengan saya.Ketika Judy sedang bermain atau ngobrol bersama temannya di ruang tengah, saya sering mendengarkan kata-kata yang membuatku risih, karena saya tidak terbiasa dengan kata-kata itu."Bego lu! Kalau itu mah gampang!" Judy menyahut ketika temannya tidak bisa mengerjakan permainannya. "Dasar lu bego! Sialan lu!"Jujur saat itu juga saya berteriak dan menegurnya, supaya tidak muncul kata-kata seperti itu. Ketika saya tegur, dia memahami dan menyadari kekeliruanannya, namun saat dia kembali bercanda, terkadang muncul kembali kata-kata tersebut.Belakangan saya bertamu ke rumahnya, ngobrol bersama orang tuanya sambil menikmati hangatnya teh manis dan menyaksikan pertandingan sepak bola. Berjalannya waktu ketika permainan bola menjadi seru, saling memasukkan bola pada gawang lawannya, lalu saya dikejutkan dengan suara keras oleh seisi rumah itu,"Goooooooooolllllllllll...! Bego tuh kipernya. Bego! Coba kalau tidak maju, kagak gol tuh...! Bego bener!"Saya langsung terkaget bak kena batu. Ternyata di sini sumbernya. Di rumah ini kata "bego" mulai dikenalkan. Maka tak heran Judy selalu menggunakan kata itu dalam kesehariannya. Dalam hati kecilku berkata like father, like son.Judy juga suka belajar di rumah saya, suka bercanda dengan saya. Karena kedekatan antara Judy dan saya, terkadang kami bermain hingga saya bisa merangkul dia sangat dekat. Judy pun tanpa ragu bisa memeluk dan merangkulku. Sampai suatu saat ketika kami sedang bercanda, dari mulut Judy sempat tercium bau yang tidak saya suka, yakni bau rokok.Secara refleks saya memegang mulutnya dan kudekatkan ke hidung saya."Hai, Judy, kamu merokok ya?" tegur saya sambil terus memegang mulutnya."Ah, kagak. Kagak, Om," jawab Judy sambil menarik mukanya dari muka saya.Saya mulai membuka pembicaraan dengannya tentang rokok. Saya bercerita kapan pertama kali saya merokok, pas seusia Judy. Saya juga bercerita bagaimana saya bisa berhenti merokok, bahkan benci pada bau rokok. Kami sharing hingga ada keterbukaan antara saya dan Judy."Denger ya! Kalau kamu masih mau main lagi sama Om, maka syaratnya adalah, kamu tidak boleh merokok, sebab Om tidak mau orang-orang terdekat Om merokok!" itu yang saya ucapkan setelah saya sharing dan bercerita.Di balik semuanya itu, ayah Judy adalah perokok berat. Di rumahnya selalu ada bungkus rokok. Kapanpun ayahnya bisa merokok, hanya satu syaratnya: kalau merokok harus di luar, bukan di dalam rumah.Like father, like son.Sangat benar kata peribahasa, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" atau "Like father, like son". Jadi janganlah terlebih dahulu menyalahkan anak-anak. Semua anak terlahir bersih dan berharga. Tidak ada anak yang bermasalah.Selama ini mungkin kitalah orang tua yang bermasalah. Tontonan film, video, televisi yang bermasalah, ataupun lingkungan yang kita tinggali itu yang terlebih dahulu bermasalah. Oleh karena itu, bagi ayah yang sedang membaca tulisan ini, lakukan yang terbaik buat anak-anak kita, karena ayah adalah orang pertama yang akan dijadikan sosok model dan citra diri seorang anak, khususnya anak laki-laki.> Masalah adalah bagian hidup kita.> Hanya orang mati> yang tidak mempunyai masalah.> Karena itu belajarlah> untuk menghadapi masalah.> Sir Peter Daniels