📚 Jejak Pustaka

Laporan & catatan kegiatan Jejak Pustaka

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka14 Agustus 2026
R
Ressy Sri Agesty

📍 Kabupaten Bandung

Bagaimana Menyikapi Anak yang Terkadang Masih Suka Pegang-Pegang Payudara Ibunya?

Bagaimana Menyikapi Anak yang Terkadang Masih Suka Pegang-Pegang Payudara Ibunya?Saat anak mulai besar/lepas sapih, ajarkan batasan aurat dengan jelas dan lembut.Biasakan anak memahami bahwa tubuh orang tua dan tubuhnya sendiri memiliki batas privasi.Bangun hubungan dengan anak melalui komunikasi dan kerja sama, bukan hanya perintah dan paksaan.Jika hubungan dengan anak kurang harmonis, orang tua perlu introspeksi dan mengevaluasi pola pengasuhan.Ingat bahwa anak adalah amanah dari Allah, sehingga orang tua perlu terus memperbaiki diri.

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 Agustus 2026
D

Dewi Hajar Novanda

📍 Kota Depok

Bab 13 - Mendorong Pola Pikir Berkembang

🌱 Mendorong Pola Pikir Berkembang (Growth Mindset)Anak perlu tahu bahwa meragukan diri sendiri, merasa gugup, atau melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Semua orang pernah mengalaminya.✨ Saat perasaan itu muncul:• Bantu anak mengenali dan menamai perasaannya.• Beri nama khusus yang mudah diingat, bahkan bisa menggunakan nama manusia.• Ajak mereka menyadari saat perasaan tersebut datang.• Katakan bahwa mereka tidak harus mempercayai semua pikiran negatif yang muncul.• Ganti pikiran tersebut dengan kalimat yang lebih positif dan membantu.💡 Tujuannya bukan menghilangkan kesulitan, tetapi membantu anak memahami bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan ketekunan.📌 Contoh Mengubah Pola Pikir Tetap Menjadi Pola Pikir Berkembang❌ "Aku tidak bisa mengikat tali sepatuku, aku tidak berguna."✅ "Mengikat tali sepatu memang sulit, tetapi aku sedang belajar melakukannya."❌ "Aku sangat buruk dalam olahraga."✅ "Saat ini aku belum mahir dalam olahraga, tetapi aku bisa menjadi lebih baik jika terus berlatih."❌ "Tidak ada yang mau menjadi temanku."✅ "Aku masih kesulitan mencari teman, tetapi aku bisa belajar lebih percaya diri dan mengajak teman lain bermain."❌ "Aku tidak bisa mengerjakan PR Matematikaku."✅ "PR ini memang sulit, tetapi aku tidak akan menyerah. Aku bisa meminta bantuan dan terus mencoba."❌ "Aku tidak bisa memanjat pohon; aku payah."✅ "Aku belum pandai memanjat sekarang, tetapi kemampuan itu bisa berkembang dengan latihan."🌿 Ingatkan anak bahwa kata “belum” sering kali lebih membantu daripada kata “tidak bisa”.Karena setiap kemampuan besar dimulai dari proses belajar yang kecil. 💛

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Kisah Nabi dan Rasul

Ketika Fir’aun telah kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Nabi Musa, ia pun meluapkan emosinya dengan menuduh Nabi Musa sebagai orang gila. Ini menjadi pelajaran bahwa ketika seseorang melihat maslahat dalam dakwahnya, dia harus tetap melanjutkan usaha tersebut, meskipun banyak orang mencela dan melontarkan tuduhan yang tidak benar.​Sebagian orang berpendapat bahwa rusa sebenarnya berlari lebih cepat daripada harimau. Namun, rusa sering kali menjadi mangsa harimau karena kebiasaannya yang suka menoleh ke belakang untuk mengecek apakah harimau sudah dekat.​Oleh karena itu, seorang dai seharusnya tetap fokus pada dakwahnya dan tidak terlalu terpengaruh oleh bantahan-bantahan orang lain. Jika seorang dai hanya sibuk membela diri dari tuduhan, dia sebenarnya hanya membela kepentingan dirinya, bukan membela agama Allah. Faktanya, tidak mungkin seseorang dapat menggapai keredaan semua orang.

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 Agustus 2026
E

Exa Betti Aldila

📍 Kabupaten Magelang

The Book You Wish Your Parents Had Read - Philippa Perry

Kebohongan AnakBerbohong adalah bagian dari perkembangan anak. Anak dapat berbohong karena meniru orang dewasa, menghindari hukuman, mencari perhatian, melindungi perasaan, berimajinasi, atau membutuhkan privasi.Kebohongan sering menjadi bentuk komunikasi. Di balik kebohongan mungkin ada rasa takut, sedih, malu, kebutuhan akan perhatian, atau kesulitan mengungkapkan perasaan.Hukuman keras tidak membuat anak lebih jujur. Penelitian Talwar menunjukkan bahwa lingkungan yang penuh hukuman justru membuat anak lebih cepat dan lebih terampil berbohong untuk menghindari konsekuensi.Jangan hanya fokus pada kebohongannya, cari akar masalahnya. Tanyakan: “Apa yang membuat anak merasa perlu berbohong?”Reaksi orang tua sangat menentukan. Menghakimi, mengancam, atau bereaksi berlebihan dapat membuat anak semakin menutup diri dan takut bercerita.Validasi perasaan ≠ membenarkan kebohongan. Orang tua dapat menerima perasaan anak sambil tetap mengajarkan bahwa berkata jujur adalah cara yang lebih aman dan sehat.Anak, terutama remaja, membutuhkan privasi dan ruang untuk membangun identitas, tetapi tetap perlu tahu bahwa orang tua adalah tempat yang aman untuk bercerita.Jaga komunikasi tetap terbuka sejak kecil. Ketika anak yakin bahwa ia dapat bercerita tanpa langsung dihakimi, kemungkinan ia akan lebih terbuka saat menghadapi masalah.Inti utama:Jangan hanya menghukum kebohongan. Pahami alasan di baliknya. Hubungan yang aman, empati, dan komunikasi terbuka lebih efektif dalam menumbuhkan kejujuran daripada hukuman keras

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Kandungan bab 2 keistimewaan Tauhid

Luasnya karunia Allah. Banyaknya pahala Tauhid disisi Allah. Selain itu, Tauhid menghapuskan dosa².Tafsir ayat surah Al-An'am. Perhatikan kelima masalah yg tersebut dalam hadits Ubadah. Apabila anda mempertemukan antara hadits Ibadah, hadits Itban, dan hadits sesudahnya, akan jelas bagi anda pengertian kalimat La Ilaha Illallah, dan akan jelas bagi anda kesalahan orang² yg tersesat karena hawa nafsunya. Perlu diingat persyaratan yang digunakan nyatakan dalam haditas Itban (yaitu ikhlas semata² karena Allah dan tidak mempersekutukanNya). Para Nabi perlu di ingatkan pula akan keistimewaan La Ilaha Illallah. Bahwa berat timbangan Laa Ilaha Illallah mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak diantara orang yg mengucapkan kalimat tersebut ringan timbangan baiknya. Dinyatakan bahwa bumi itu tujuh lapis seprti halnya langit.

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan: Peran Orang Tua dalam Mempersiapkan Anak untuk Shalat Jumat

Ringkasan: Peran Orang Tua dalam Mempersiapkan Anak untuk Shalat Jumat1. Peran IbuMempersiapkan anak sebelum berangkat Jumat dengan memandikan, memotong kuku, dan memakai parfum agar tampil bersih dan rapi.Menasihati anak agar menaati adab-adab shalat Jumat.Membiasakan anak melaksanakan shalat Jumat bersama ayahnya di masjid.2. Peran AyahMenjadi teladan dengan senang mengajak anak ke masjid, terutama pada hari Jumat.Membiasakan anak dekat dengan masjid sejak kecil.Mengajarkan adab ketika berada di masjid.Mengajarkan adab hari Jumat dan adab bergaul dengan orang lain.Menemani anak ke masjid sehingga anak merasa senang dan nyaman.3. Manfaat bagi AnakAnak mengenal teman-teman seusianya di masjid.Anak belajar menunaikan kewajiban kepada Allah.Anak menjadi dekat dan merasa senang pergi ke masjid.Anak belajar bersosialisasi dan menjaga adab dengan orang lain.Inti Pelajaran:Peran ibu dan ayah saling melengkapi dalam membentuk kebiasaan anak mencintai shalat Jumat dan masjid. Ibu mempersiapkan dan menasihati, sedangkan ayah memberi teladan, mendampingi, dan mengajarkan adab.Sumber: HR. Abu Dawud (1533), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha'if Sunan Abu Dawud, IV/31.

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Ketakutan dan Kecemasan (Bagian 1)

1. TAKUT = RESPONS TUBUH ALAMI• Rasa takut adalah respons tubuh terhadap ancaman.• Tubuh mengirim sinyal: “Saya dalam bahaya.”• Anak membutuhkan bantuan orang dewasa untuk beralih dari “Saya dalam bahaya” → “Saya aman.”2. BUKAN SOAL LOGIKA, TAPI KEHADIRANSaat anak takut, otak yang berpikir logis tidak bekerja optimal. Karena itu, memberi alasan seperti “Kamu tidak perlu takut” biasanya tidak membantu.Yang paling menenangkan adalah merasakan kehadiran orang tua.Anak lebih membutuhkan keterhubungan daripada logika.3. GALI, JANGAN PAKSA HILANGDaripada berkata:“Kamu tidak perlu takut.”Coba tanyakan dengan rasa ingin tahu:“Hmm… ada sesuatu di sini. Ceritakan lebih lanjut.”Menggali ketakutan dapat menemukan pengalaman yang sebenarnya dialami anak.Contoh: • Takut anjing → mungkin baru membaca buku tentang tokoh yang digigit.• Takut sendirian → mungkin pernah mengalami sesuatu saat orang tua sedang bekerja.• Takut naik bus sekolah → mungkin baru melihat perkelahian siswa.4. MEYAKINKAN VS MENGGALI❌ Meyakinkan:“Ini alasan kamu tidak perlu takut.”→ Fokus menghilangkan rasa takut dan dapat membuat informasi penting tersembunyi.✅ Menggali:“Hmm… ada sesuatu di sini. Ceritakan lebih lanjut.”→ Fokus memahami pengalaman anak sehingga kita tahu bagaimana membantunya.KETAKUTAN VS KECEMASANKETAKUTAN→ Berkaitan dengan ancaman yang lebih nyata/spesifik.→ Bantu anak merasa aman dan dampingi menghadapi situasi.Contoh:Anak takut anjing mengejar → dengarkan, dampingi, lalu bantu anak belajar menghadapi situasi dengan aman.KECEMASAN→ Kekhawatiran yang lebih umum dan belum tentu terjadi.Contoh:“Aku takut tidak berhasil dalam ujian Matematika.”Jangan buru-buru berkata:“Kamu pasti baik-baik saja.”Lebih baik validasi:“Wajar kalau kamu merasa cemas. Ceritakan apa yang membuatmu khawatir.”5. KECEMASAN TIDAK PERLU “DISINGKIRKAN”Mencoba membuat anak tidak cemas justru dapat memperparah kecemasannya.Anak bisa menangkap pesan:“Saya tidak seharusnya merasa seperti ini.”Kecemasan lebih efektif dikelola dengan: • membiarkannya ada• meningkatkan toleransi terhadapnya• memahami tujuannya• tetap menjalani aktivitas sehari-hariTugas orang tua bukan mengubah perasaan anak, tetapi membantu anak merasa nyaman dengan dirinya ketika kecemasan muncul.CONTOH SINGKAT🚌 Takut naik bus sekolah→ “Apa yang bikin kamu takut?”→ Dengarkan ceritanya dan dampingi.📚 Cemas menghadapi ujian→ “Wajar merasa cemas. Apa yang paling kamu khawatirkan?”→ Bantu anak menghadapi kecemasan, bukan memaksanya hilang.Good Inside, Meletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik, Dr. Becky Kennedy

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka16 Agustus 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

Tazkiyatun Nufus

4. Meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasalamAllah Ta'ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."Tolong tambakan catatan diatas

💬 0 komentar📅 13 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka14 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

Pelunasan Utang Dengan Emas

Utang uang dibayar dengan emas itu boleh, asal tidak disepakati sejak awal dan emas yang diberikan nilainya disesuaikan dengan nominal utang saat akad. Jadi, tidak kemudian jumlah emasnya ditambah mengikuti kenaikan harga emas atau inflasi saat pelunasan, karena itu membuat orang yang berutang harus membayar lebih banyak.Misalnya utang Rp10 juta:Saat akad: utangnya Rp10 juta, bukan “emas sekian gram”.Saat jatuh tempo, boleh dilunasi dengan emas jika kedua pihak sepakat saat pelunasan.Yang penting, emas tersebut diperhitungkan sebagai alat pembayaran utang Rp10 juta, bukan utang berubah menjadi jumlah emas yang nilainya mengikuti harga emas saat pelunasan.Kalau sejak awal disepakati, “Nanti kamu kembalikan dalam bentuk emas sejumlah X gram,” ini berbeda dan perlu dikaji karena akad utangnya menjadi terkait dengan emas.Jadi kalau tujuan penyesuaian karena inflasi adalah agar Rp10 juta berubah menjadi kewajiban yang lebih besar, misalnya menjadi Rp12 juta hanya karena nilai uang turun, itu bukan sekadar “membayar dengan emas”, tetapi sudah menyangkut penambahan nominal utang.📖 Ada Orang Utang - Ustadz Ammi Nur Baits

💬 0 komentar📅 13 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka13 Agustus 2026
S

Siti Nadiroh

📍 Kabupaten Brebes

Sebab-Sebab Su'ul Khotimah (7)

Kontradiksi antara sikap zhahir dan batin tampak baik di hadapan manusia tetapi bermaksiat saat sendirian menjadi sebab seseorang mengalami su'ul khatimah, sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisa': 108:​يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا​"Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan."​Su'ul khatimah tidak akan terjadi pada orang yang konsisten dalam kebaikan lahir dan batin, melainkan bagi mereka yang terus memelihara dosa tersembunyi hingga maut menjemput sebelum bertobat.

💬 0 komentar📅 13 Agu 2026Baca selengkapnya →