Keikhlasan dalam mendidik anak adalah cita-cita yang tinggi dan membutuhkan kesungguhan. Menjaga niat agar tetap ikhlas bukan perkara mudah, karena manusia memiliki kecenderungan mencintai pujian, dunia, dan rasa bangga terhadap anak.Karena itu, orang tua perlu mengetahui hal-hal yang dapat membantu menjaga hati agar dalam mendidik anak, tujuan utamanya tetap mencari ridha Allah, bukan pujian atau pengakuan manusia.1. Memohon pertolongan AllahMenjaga keikhlasan adalah perkara yang berat. Hati manusia mudah berubah dan terbolak-balik. Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.Kita perlu menyadari bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.Ketika muncul keinginan untuk menjadi orang tua yang ikhlas, mintalah kepada Allah agar Dia menanamkan keikhlasan dalam hati dan menjauhkan kita dari keinginan mendapatkan pujian maupun membanggakan anak.Rasulullah ﷺ bersabda:“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”Rasulullah ﷺ juga mengajarkan sebuah doa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa-apa yang tidak aku ketahui.”Doa ini mengingatkan kita bahwa kesyirikan yang tersembunyi dalam hati bisa sangat samar, sehingga kita perlu terus memohon perlindungan dan ampunan kepada Allah.2. Mengetahui buah keikhlasan dan bahaya niat yang melencengSalah satu cara menjaga keikhlasan adalah dengan terus belajar tentang:hakikat dan kedudukan ikhlas,keutamaan ikhlas dalam mendidik anak,buah yang diperoleh dari keikhlasan,serta bahaya ketika niat mulai menyimpang.Kita perlu menyadari bahwa diri kita sering diliputi kelemahan, kejahilan, dan kelalaian. Karena itu, kita membutuhkan ilmu, nasihat, dan pengingat.Allah berfirman:“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)Artinya, menjaga keikhlasan bukan sesuatu yang cukup dilakukan sekali. Kita perlu terus mengingatkan dan memperbaiki niat.3. Takut terhadap murka AllahSeorang mukmin tidak hanya mengejar pujian Allah, tetapi juga takut jika amalnya justru mendatangkan murka-Nya.Pujian manusia sifatnya sementara dan belum tentu menunjukkan kemuliaan yang sebenarnya. Begitu pula celaan manusia tidak selalu berarti seseorang benar-benar tercela.Sebaliknya, ridha Allah adalah kemuliaan yang sebenarnya, sedangkan murka Allah adalah sesuatu yang harus kita hindari.Karena itu, dalam mendidik anak kita perlu belajar mengubah orientasi:Bukan:“Apa kata orang tentang cara saya mendidik anak?”Tetapi:“Apakah Allah ridha dengan apa yang saya lakukan?”Seorang mukmin juga berusaha melakukan amal terbaik, tetapi tetap memiliki rasa takut apakah amal tersebut diterima oleh Allah.Allah berfirman:“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)4. Mengenal nama dan sifat-sifat AllahMengenal Allah dengan benar akan membantu kita menjaga keikhlasan.Allah memiliki kekuasaan mutlak dan mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang tersembunyi di dalam hati.Allah berfirman:“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”(QS. Al-Mulk: 13)Artinya, meskipun manusia tidak mengetahui niat kita, Allah mengetahuinya.Maka ketika kita melakukan sesuatu dalam mendidik anak, yang paling penting bukan hanya bagaimana amal tersebut terlihat di hadapan manusia, tetapi bagaimana keadaan hati kita di hadapan Allah.Allah juga memiliki kerajaan dan kekuasaan yang sempurna. Dia yang memuliakan dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki.“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanya.”(QS. Al-Anbiya: 23)Kesadaran terhadap kebesaran Allah membuat kita tidak terlalu bergantung pada penilaian manusia.5. Jangan menjadikan pujian manusia sebagai tujuanKetika muncul keinginan untuk mendapatkan pujian dari orang lain atas anak atau cara kita mendidik, ingatlah bahwa orang yang kita harapkan pujiannya juga hanyalah hamba Allah yang lemah.Maka sangat disayangkan jika kita rela melakukan sesuatu yang mengundang murka Allah hanya demi mendapatkan keridhaan manusia.“Mengejar ridha manusia ibarat mengarungi lautan tak bertepi.”Sebab manusia memiliki penilaian yang berbeda-beda. Apa pun yang kita lakukan, akan selalu ada kemungkinan ada yang memuji dan ada yang mencela.Imam Asy-Syafi'i رحمه الله juga memberikan nasihat yang sangat dalam:“Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan bisa dicapai.”Maka fokuslah pada apa yang baik bagi diri kita di hadapan Allah dan jangan terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia.