Kau Tetap AyahkuKisah NyataDidi, remaja berusia 14 tahun yang duduk di kelas VIII SMP, adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja di perusahaan pertambangan di luar pulau, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga.Ketika ibunya mengalami tekanan mental hingga harus menjalani rehabilitasi, Didi terpaksa mengambil peran besar dalam mengurus kedua adiknya. Di tengah tanggung jawabnya, ia tetap berusaha menjaga prestasi sekolah dan mengatur waktu belajarnya.Sosok yang banyak membantunya adalah Sir T, gurunya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Didi kerap datang untuk belajar, makan bersama, atau sekadar bercerita tentang sekolah dan kehidupannya.Hampir setahun berlalu. Kondisi ibu Didi mulai membaik. Suatu malam, kedua orang tua Didi datang menemui Sir T. Mereka ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini mengusik pikiran mereka.Ibu Didi:โSaya khawatir, Pak, dengan Didi. Selama saya sakit, papahnya juga lebih banyak berkonsentrasi mengurus saya. Akibatnya, Didi banyak merepotkan Bapak. Saya berterima kasih karena Bapak telah membantu Didi dan adik-adiknya.Namun, ada yang membuat saya khawatir. Sejak masuk SMP dan bertemu dengan Bapak, Didi selalu bercerita tentang Sir T. Dia sangat bangga kepada Bapak. Apa yang Bapak katakan pasti dia laksanakan.Sedikit-sedikit dia menyebut nama Bapak. โMah, Sir T begini, Sir T tadi sama saya begitu.โ Semua selalu tentang Sir T. Dia sama sekali tidak pernah bangga dengan papahnya. Saya takut lama-kelamaan figur papahnya akan hilang dan bergeser kepada Bapak.โSir T:โIbu, wajar jika orang tua mengkhawatirkan anaknya, apalagi jika menyangkut figur ayah. Namun, Ibu tidak perlu terlalu khawatir.Pada masa remaja, anak sedang mencari tokoh idola. Bukan hanya Didi, tetapi kebanyakan remaja juga mencari sosok yang dianggap cocok dengan dirinya, entah artis, pahlawan, atau guru.Mungkin Didi menemukan sosok itu pada saya. Itu wajar dan tidak salah, karena dari orang yang diidolakan, dia menemukan hal-hal yang sesuai dengan dirinya.โIbu Didi:โYa, Pak, tetapi saya benar-benar khawatir karena papahnya seolah tidak pernah dilirik. Semua serba Sir T. Bahkan, ketika saya memuji agendanya yang rapi, dia mengatakan, โYa, Mah, agenda Sir T juga begini, jadi enak dilihatnya.โ Saya jadi bingung, Pak.โSir T:โMaaf, Pak, saya ingin bertanya. Selama Bapak bekerja di luar pulau, apakah Bapak berkomunikasi dengan Didi?โAyah Didi:โJujur, Pak, saya jarang berkomunikasi dengannya karena saya pikir sudah ada mamahnya. Saya hanya memantau melalui mamah dan opungnya.โSir T:โNah, itu masalahnya. Didi membutuhkan sesuatu dari Bapak.Anak seusia Didi akan sangat bangga kepada ayahnya jika dia benar-benar menemukan sesuatu dari ayahnya. Bapak tidak harus selalu menelepon karena kesibukan pekerjaan dan jarak yang jauh mungkin menyulitkan komunikasi. Namun, pernahkah Bapak rutin mengirimkan SMS kepada Didi?Saya selalu bertanya kepadanya, โPapah sudah SMS kamu belum?โ Didi hanya menggelengkan kepala. Bahkan, terkadang dia mengacuhkan pertanyaan saya.Pak, Didi sebetulnya memerlukan Bapak. Ketika Bapak pulang, apakah Bapak menyediakan waktu untuk Didi?โAyah Didi:โYa, Pak. Saya akui saya salah. Saya lebih banyak berkonsentrasi mengurus istri. Bagaimana saya tidak pusing, Pak? Istri saya berada di panti rehabilitasi. Setiap pulang dari pulau, saya langsung menjenguknya karena khawatir dan ingin dia cepat sembuh.โSir T:โBetul, Bapak tidak salah karena ingin merawat istri. Namun, di sisi lain, Bapak melakukan kesalahan besar terhadap Didi. Dia juga membutuhkan Bapak.Lihat, anak seusianya sudah harus mengurus kebutuhan keluarga. Sebuah SMS saja sangat berarti baginya.Pernahkah Bapak menanyakan pelajarannya atau apakah dia sudah makan? Terlebih lagi, pernahkah Bapak mengatakan bahwa Bapak merindukannya?โSaat itu, sang ayah hanya menggeleng dan menitikkan air mata.Sir T melanjutkan:โPak, Didi sebenarnya bangga memiliki ayah seperti Bapak, seorang pekerja tambang di sebuah pulau. Namun, kebanggaan itu lama-kelamaan memudar karena Bapak tidak pernah memberinya kesempatan untuk merasa bangga kepada ayahnya sendiri.Maaf saya mengatakan demikian, tetapi itulah yang terjadi. Ini harus segera diakhiri agar Didi tidak hanya bangga kepada saya sebagai gurunya, tetapi juga bangga kepada Bapak sebagai ayahnya.Pernahkah Bapak masuk ke kamarnya, berbaring di sampingnya, lalu mengobrol layaknya seorang sahabat? Didi membutuhkan itu. Dia ingin sekali dekat dengan papahnya.Orang yang seharusnya menjadi sumber utama informasi dan tempat anak belajar tentang kehidupan adalah ayahnya sendiri, bukan orang lain.Didi sudah remaja. Pernahkah Bapak menceritakan pengalaman masa remaja Bapak kepadanya?Percayalah, Pak. Didi bukan anak yang melupakan papahnya. Dia anak baik yang menghormati orang tuanya. Sekarang, tinggal bagaimana Bapak hadir sebagai ayah yang baik dan dibutuhkan oleh Didi.โPercakapan malam itu diakhiri dengan minum teh bersama. Ada pelajaran berharga yang dapat dipetik oleh orang tua maupun pendidik.Jarak yang jauh bukanlah penghalang bagi kedekatan orang tua dan anak. Komunikasi adalah salah satu modal utama dalam membangun hubungan keluarga.Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Anak juga membutuhkan perhatian, waktu, dan ungkapan kasih sayang agar tetap merasa dekat dengan orang tuanya.Sebab, sesibuk apa pun seorang ayah dan sejauh apa pun jarak memisahkan, anak tetap membutuhkan kehadiran ayah dalam kehidupannya.