🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 67

Selasa, 30 Juni 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 67Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Ketiga QS. Al-An-Nahl 25(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Firman Allāh ﷻ di dalam Surat An-Nahl:​۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ​Artinya:“Supaya mereka membawa dosa-dosa mereka secara sempurna di hari kiamat dan di antara dosa-dosa orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu. Ingatlah, alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl)​Di dalam ayat tersebut terdapat potongan firman Allāh ﷻ:​۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ​Artinya:“Supaya mereka membawa dosa-dosa mereka secara sempurna di hari kiamat.”​Pendalilan Bahwa Bid'ah Lebih Besar daripada Dosa Besar​Di antara yang menunjukkan bahwasanya bid'ah ini lebih besar daripada dosa-dosa besar adalah apa yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia ini.​Dosa-dosa yang mereka (para pelaku) lakukan akan mereka pertanggungjawabkan di hari kiamat.​Berdasarkan firman Allāh ﷻ:​۞ وَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةࣲ شَرࣰّا یَرَهُۥ​Artinya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”(QS. Az-Zalzalah: 8)​Ternyata pertanggungjawaban tidak sebatas disitu saja. Bukannya dosanya sendiri saja yang akan dia pikul, tetapi di sana ada tambahan yang lain yang juga dia pikul, yaitu:​وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ​Artinya:“Dan di antara dosa-dosa orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu.”Penjelasan Makna Kata "وَمِنْ" (Dan di Antara/Sebagian)​Kata وَمِنْ أَوْزَارِ bermakna "Dan di antara". ​Arti dari kalimat ini adalah tidak semua dosa orang yang telah mengikuti dia dalam kesesatan tadi kemudian ditumpahkan dosanya kepada mubtadi (pelaku/pembuat bid'ah) tersebut. Kata "min" di sini digunakan untuk menunjukkan sebagian.​Hal ini berbeda jika redaksi ayatnya berbunyi:​و أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ​(Jika ayatnya tanpa kata "min", melainkan langsung di-athof-kan/disambungkan kepada kata أَوْزَارِ sebelumnya).Contoh Kasus Penanggungan Dosa​Ilustrasinya adalah seorang mubtadi mengajak orang lain (misalkan 3 orang) untuk melakukan suatu bid'ah. ​Orang Pertama: Ikut melakukan bid'ah tersebut, dan di samping itu dia juga melakukan dosa zina. ​Orang Kedua: Ikut melakukan bid'ah tersebut, dan di samping itu dia juga melakukan dosa mencuri. Orang Ketiga: Ikut melakukan bid'ah tersebut, dan di samping itu dia juga melakukan dosa riba.​Pembagian Dosa yang Ditanggung:​Mubtadi (yang mengajak):Dia mempertanggungjawabkan dosanya sendiri (dosa bid'ah yang dipikulnya sendiri). Kemudian, dia juga akan terkena dan menanggung dosa bid'ah dari orang pertama, kedua, dan ketiga yang mengikutinya. Adapun dosa zina, mencuri, dan riba yang dilakukan oleh para pengikutnya, mubtadi tersebut tidak ikut merasakan akibatnya.Pengikut (orang pertama, kedua, ketiga):Jangan dipahami bahwa dosa mereka akan ditanggung sepenuhnya oleh mubtadinya sehingga mereka bebas. Tidak demikian. Orang yang mengikuti dakwah mubtadi tadi juga akan mempertanggungjawabkan dosa bid'ahnya sendiri, serta merasakan dosanya jika Allāh menghendaki.Kelipatan Dosa bagi Mubtadi (Da’i Kesesatan)​Orang yang mengikutinya (orang pertama, kedua, dan ketiga) akan diazab dengan sebab bid'ah yang dilakukannya. ​Namun, mubtadi yang pertama (yang mengajak) azabnya lebih berat lagi, lebih besar, dan lebih berlipat. ​Dia menanggung dosa bid'ahnya sendiri ditambah dosa bid'ah orang yang mengikutinya:​Jika ada 1 orang yang diajak dan mengikuti, maka dosa mubtadi tersebut menjadi dua kali lipat.​Jika ada 3 orang yang diajak, maka dosanya menjadi lebih besar lagi.​Apalagi jika pengikutnya mencapai puluhan atau ratusan orang, maka mubtadi tersebut akan mempertanggungjawabkan urusannya sendiri, dan oleh Allāh akan ditambahi dengan dosa bid'ah yang dilakukan oleh orang-orang yang dia dakwahi (karena sebab dia, mereka menjadi melakukan bid'ah).Kesimpulan​Ayat dari Surat An-Nahl ini membuktikan bahwa dosa bid'ah lebih besar daripada dosa besar karena seorang mubtadi (yang mengajak kepada bid'ah/kesesatan) tidak hanya memikul dosa pribadinya secara sempurna pada hari kiamat, melainkan juga harus memikul sebagian dosa dari orang-orang yang telah disesatkannya tanpa ilmu. Dosa yang ikut ditanggung oleh mubtadi tersebut adalah khusus dosa bid'ah yang diamalkan oleh para pengikut akibat dakwahnya, sedangkan dosa-dosa pribadi lain dari pengikutnya (seperti zina, mencuri, atau riba) tetap ditanggung masing-masing. Di sisi lain, para pengikut pun tetap memikul dosa bid'ah mereka sendiri. Akibatnya, dosa seorang mubtadi akan berlipat ganda secara luar biasa bergantung pada banyaknya jumlah orang yang mengikutinya, yang menjadikan kedudukan dosa bid'ah ini jauh lebih berat.

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 17 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Tujuh Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke tujuh belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau berkata,السَّابِعُ:السِّحْرُ وَمِنْهُ الصَّرْفُ وَالعَطْفُ فَمَنْ فَعَلَهُ أَوْ رَضِيَ بِهِ كَفَرَوَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ“Yang ke tujuh adalah sihir. Dan diantara macamnya, Ash Shorfu dan Al ‘Athfu. Barangsiapa yang mengerjakannya atau ridho dengan sihir, maka dia telah kufur, keluar dari Islam. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya ‘Dan tidaklah keduanya mengajarkan sihir kepada seseorang sampai keduanya berkata sesungguhnya kami adalah ujian, maka janganlah engkau kufur.’ [Al Baqarah 102]”السِّحْرُ di dalam Bahasa Arab adalah segala hal yang samar sebabnya.السَّحَرُ artinya di akhir malam. Dinamakan demikian karena waktu tersebut adalah waktu yang samar.Sihir yang dilarang ada dua jenis:1. Sihir hakikiYaitu sihir yang benar-benar, maksudnya sihir yang memudhoroti orang lain, membuat sakit, membunuh, sihir yang menjadikan kecintaan menjadi sebuah kebencian, dan sebaliknya.2. Sihir takhyili, yaitu sihir yang hanya sekedar hayalan, menjadikan penglihatan orang lain melihat sesuatu yang tidak sebenarnya, seperti yang terjadi di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam ketika Fir’aun mengumpulkan tukang sihir-tukang sihir di Mesir untuk melawan Nabi Musa ‘alaihissalam. Mereka menggunakan sihir takhyili, menyihir mata-mata manusia sehingga melihat tali-tali yang mereka lempar seakan-akan itu adalah ular.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(قَالُوا۟ یَـٰمُوسَىٰۤ إِمَّاۤ أَن تُلۡقِیَ وَإِمَّاۤ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِینَ ۝ قَالَ أَلۡقُوا۟ۖ فَلَمَّاۤ أَلۡقَوۡا۟ سَحَرُوۤا۟ أَعۡیُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَاۤءُو بِسِحۡرٍ عَظِیمࣲ)[Surat Al-A’raf 115 – 116]“Mereka berkata, wahai Musa silakan engkau yang melempar tongkatmu dahulu atau kami yang melempar? Beliau berkata, silakan kalian melempar tali-tali kalian. Ketika mereka melempar tali-tali tersebut, mereka menyihir mata-mata manusia dan manusia menjadi takut, yaitu ketika mereka melihat dengan mata mereka, bahwa tali-tali tersebut seakan-akan berubah menjadi ular. Dan mereka pun datang dengan sihir yang besar.”Ini berbeda dengan mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam dimana Allah benar-benar menjadikan tongkat Nabi Musa, ular yang hidup yang bergerak yang memakan tali-tali yang dilempar.Kedua jenis sihir ini diharamkan di dalam agama Islam dan sihir memiliki macam-macam yang banyak, diantaranya kata beliau adalah As Shorfu dan Al ‘Athfu.Ash Shorfu artinya adalah memalingkan. Maksudnya memalingkan rasa cinta menjadi rasa benci. Misalnya seorang suami yang mencintai istrinya berubah menjadi kebencian dengan sebab sihir ini.Al ‘Athfu artinya adalah cinta. Sihir ini menjadikan seseorang yang awalnya membenci akhirnya menjadi mencintai.Beliau mengatakan,فَمَنْ فَعَلَهُ أَوْ رَضِيَ بِهِ كَفَرَ“Barangsiapa yang mengamalkan sihir ini atau ridho dengan sihir ini, maka dia telah kufur.”Jika seseorang bekerjasama dengan syaithan untuk menyihir orang lain atau dia ridho dengan sihir tersebut meskipun dia tidak melakukannya, maka dia telah kufur. Karena ridho dengan sihir adalah ridho dengan kekufuran. Dalil yang menunjukkan bahwa sihir adalah kufur dan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam adalah firman Allah,وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ“Dan tidaklah keduanya (Harut dan Marut) mengajarkan kepada orang lain sihir, sampai keduanya berkata sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah engkau kufur.” [Al Baqarah 102]Dan maksud janganlah engkau kufur yaitu janganlah engkau mempelajari sihir.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah 67: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 2)

Berikut ringkasan Halaqah 67 – Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 2) yang mudah di-copy paste:🌿 Faedah Halaqah 67: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 2)1. Surga sangat luas.Luasnya seluas langit dan bumi.Ini menunjukkan betapa besarnya karunia Allah bagi orang-orang yang bertakwa.(QS. Ali 'Imran: 133)2. Rumah-rumah di surga sangat megah.Bertingkat-tingkat dengan sungai mengalir di bawahnya.Bangunannya dari emas dan perak.Lumpurnya berbau kasturi, kerikilnya mutiara dan batu mulia, tanahnya seperti za'faran.(QS. Az-Zumar: 20, HR. Tirmidzi)3. Menjaga shalat rawatib menjadi sebab dibangunkan rumah di surga.12 rakaat setiap hari:4 sebelum Zuhur2 setelah Zuhur2 setelah Maghrib2 setelah Isya2 sebelum Subuh(HR. Muslim)4. Di surga terdapat kemah yang sangat indah.Terbuat dari mutiara berongga.Tingginya 30 mil.(HR. Bukhari)5. Surga memiliki sungai-sungai yang penuh kenikmatan.Sungai air yang tidak berubah.Sungai susu yang tidak berubah rasa.Sungai khamr yang lezat.Sungai madu yang murni.Di antaranya adalah Sungai Al-Kautsar.(QS. Muhammad: 15, QS. Al-Kautsar: 1)6. Surga memiliki mata air dan pohon-pohon yang agung.Di antaranya mata air Salsabil.Ada pohon yang naungannya ditempuh selama 100 tahun.Di antaranya Sidratul Muntaha.(QS. Adz-Dzariyat: 15, QS. Al-Insan: 18, HR. Bukhari)7. Bau wangi surga sangat harum.Dapat tercium dari perjalanan 70 tahun.(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)🌸 Sumber: Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 67: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 2).

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 66

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 66 | Allāh Ta’ala Terbebas Dari Batasan-BatasanHalaqah 66 | Allāh Ta’ala Terbebas Dari Batasan-BatasanKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِMaha Tinggi Allāh dari batasan²,Allāh subhanahu wa ta’ala adalah yang maha sempurna tidak dibatasiوَالْغَايَاتِDan Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Suci dari tujuan²,ada yang menafsirkan disini dari hajah/ kebutuhan Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha Kaya tidak membutuhkan kita, makhluk dari yang paling kecil sampai yang paling besar (Arsy) yaitu semuanya merekalah yang membutuhkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala,اَللّٰهُ الصَّمَدُ‌Dialah yang Ashomad/ seluruh makhluk itu bergantung kepada Allāh dan Dialah Al-Ghani yang maha kaya yang tidak butuh dengan makhluk,يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ[QS Fatir 15]Allāh menciptakan kita bukan karena butuh kepada kita tapi kitalah yang butuh kepada Allāh,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ[QS adz dzariat 56,57]Aku tidak menginginkan diri mereka rezeki dan Aku menciptakan mereka bukan karena Aku menginginkan mereka memberikan makan kepadaKu. Sesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha memberikan rezeki.وَالْأَرْكَانِDan Maha Tinggi Allah subhanahu wa ta’ala dari Al-Arkan,وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِIni maknanya hampir sama yaitu anggota badan yang tersusun dari darah daging tulang, Maha Suci Allāh dari yang demikian, Allah Subhana wa ta’ala tidak sama dengan makhluk dan bukan berarti di sini beliau mengingkari sifat tangan bagi Allāh sifat kaki bagi Allāh sifat jari bagi Allāh sifat wajah bagi Allāh bukan demikian maknanya, tapi yang beliau ingkari di sini adalah kalau yang dimaksud Arkan A’dho disini adalah anggota badan seperti anggota badan manusia yang terdiri dari daging tulang darah maka Maha Suci Allah dari yang demikian, adapun Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki wajah dan kita menetapkan yang demikian, Allāh subhanahu wa ta’ala tangan, memiliki kaki, memiliki jari, maka ketika kita menetapkan bukan berarti kita menyerupakan Allāh subhanahu wa ta’ala dengan makhluk bukan berarti kita meyakini Allāh memiliki Arkan, ardho dan juga adhawat, karena kita tetapkan itu semua dan kita meyakini bahwasanya tangan, kaki, wajah, Allāh tidak sama dengan wajah makhluk,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُJadi yang maksud dari Al imam Abu Jafar ath Thohawiy di sini yang diingkari oleh beliau adalahوَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِYang maknanya adalah anggota badan yang dimiliki oleh manusia yang terdiri dari darah daging dan juga tulang, dan istilah-istilah ini ini mungkin banyak di zaman beliau ini istilah-istilah yang dipakai oleh orang-orang Ahlu Kalam, maka kita ahlussunnah mengingkari tentunyaالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِDengan makna seperti ini, kita tidak meyakini yang demikian, kita mengingkari kalau yang mereka maksud denganالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِIni adalah anggota badan seperti yang dimiliki oleh manusia maka jelas kalau yang dimaksud kita mengingkari yang demikian – الْغَايَاتِ – kalau yang dimaksud adalah hajat maka kita mengingkari.Oleh di sini beliau sampaikan oleh Abu Ja’far Ath thohawiy Maha Suci dari yang demikian, kita tidak meyakini bahwasanya Allah punyaالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِTapi kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allāh punya wajah yang tidak sama dengan makhluk itu yang kita tetapkan kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allāh memiliki kaki yang tidak sama dengan makhluk, sesuai dengan keagungan Allah itu yang dimiliki oleh Ahlussunnah. Jadi beliau mendatangkan istilah-istilah ahlul Kalam di sini karena mungkin saat itu memang tersebar ilmu kalam ini dan beliau menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka bukan berarti beliau termasuk ahlu Kalam menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka ya karena terkadang kalau tidak menggunakan istilah mereka tidak sampai maklumat ini kepada mereka sehingga terpaksa sekarang seseorang menggunakan istilah-istilah mereka supaya mereka memahami ucapan kita bukan berarti Al Imam Abu Ja’far tawawi beliau mendukung Ahlu Kalam karena kita tahu beliau termasuk ahlussunnah wal jamaahلَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِAllāh subhanahu wa ta’ala tidak diliputi oleh arah yang enam (depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah) karena enam arah ini makhluqah ini adalah makhluk maka Allāh subhanahu wa taala tidak nih diliputi oleh makhluk,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚDialah Allāh subhanahu wa taala yang Akbar Dialah yang Maha Besar, tidak diliputi tidak dikuasai dan tidak dikelilingi oleh enam arah. Karena enam arahnya adalah jihad yang makhluqohكَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِSeperti makhluk² yang diciptakan – الْمُبْتَدَعَاتِ – Al mujada artinya sesuatu yang baru dan yang dimaksud adalah makhluk yang diciptakan oleh Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala tidak seperti makhluk.Dan ini juga istilah yang sering dipakai oleh ahlul Kalam dan ini bukan berarti beliau menafikan Ulu’ullah, bukan berarti beliau menafikan ketinggian Allāh, karena yang menafsirkan di sini adalah al-jihat al-makhluqah, adapun Ulu’ullāh ketinggian Allāh subhanahu wa ta’ala maka ini bukan termasuk jihat Al makhluqllāh, bukan termasuk arah-arah yang makhluk, ketinggian Allāh subhanahu wa taala telah tetap dengan dalil² yang banyak,أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِApakah kalian merasa aman dengan yang ada di langit,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍإِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِتَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖوَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُIni semua menunjukkan bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang memiliki sifat Al Uluw, Allāh subhanahu wa ta’ala berada diatas, jadi yang beliau nafikan di sini adalah Al jihat yang makhluqah, makanya beliau mengatakan,كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِSeperti makhluk-makhluk atau seperti seluruh makhluk.Jadi beliau tidak mengingkari Jihatululw bagi Allāh subhanahu wa ta’ala.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 66 | Allāh Ta’ala Terbebas Dari Batasan-Batasan

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِMaha Tinggi Allāh dari batasan²,Allāh subhanahu wa ta’ala adalah yang maha sempurna tidak dibatasiوَالْغَايَاتِDan Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Suci dari tujuan²,ada yang menafsirkan disini dari hajah/ kebutuhan Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha Kaya tidak membutuhkan kita, makhluk dari yang paling kecil sampai yang paling besar (Arsy) yaitu semuanya merekalah yang membutuhkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala,اَللّٰهُ الصَّمَدُ‌Dialah yang Ashomad/ seluruh makhluk itu bergantung kepada Allāh dan Dialah Al-Ghani yang maha kaya yang tidak butuh dengan makhluk,يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ[QS Fatir 15]Allāh menciptakan kita bukan karena butuh kepada kita tapi kitalah yang butuh kepada Allāh,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ[QS adz dzariat 56,57]Aku tidak menginginkan diri mereka rezeki dan Aku menciptakan mereka bukan karena Aku menginginkan mereka memberikan makan kepadaKu. Sesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha memberikan rezeki.وَالْأَرْكَانِDan Maha Tinggi Allah subhanahu wa ta’ala dari Al-Arkan,وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِIni maknanya hampir sama yaitu anggota badan yang tersusun dari darah daging tulang, Maha Suci Allāh dari yang demikian, Allah Subhana wa ta’ala tidak sama dengan makhluk dan bukan berarti di sini beliau mengingkari sifat tangan bagi Allāh sifat kaki bagi Allāh sifat jari bagi Allāh sifat wajah bagi Allāh bukan demikian maknanya, tapi yang beliau ingkari di sini adalah kalau yang dimaksud Arkan A’dho disini adalah anggota badan seperti anggota badan manusia yang terdiri dari daging tulang darah maka Maha Suci Allah dari yang demikian, adapun Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki wajah dan kita menetapkan yang demikian, Allāh subhanahu wa ta’ala tangan, memiliki kaki, memiliki jari, maka ketika kita menetapkan bukan berarti kita menyerupakan Allāh subhanahu wa ta’ala dengan makhluk bukan berarti kita meyakini Allāh memiliki Arkan, ardho dan juga adhawat, karena kita tetapkan itu semua dan kita meyakini bahwasanya tangan, kaki, wajah, Allāh tidak sama dengan wajah makhluk,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُJadi yang maksud dari Al imam Abu Jafar ath Thohawiy di sini yang diingkari oleh beliau adalahوَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِYang maknanya adalah anggota badan yang dimiliki oleh manusia yang terdiri dari darah daging dan juga tulang, dan istilah-istilah ini ini mungkin banyak di zaman beliau ini istilah-istilah yang dipakai oleh orang-orang Ahlu Kalam, maka kita ahlussunnah mengingkari tentunyaالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِDengan makna seperti ini, kita tidak meyakini yang demikian, kita mengingkari kalau yang mereka maksud denganالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِIni adalah anggota badan seperti yang dimiliki oleh manusia maka jelas kalau yang dimaksud kita mengingkari yang demikian – الْغَايَاتِ – kalau yang dimaksud adalah hajat maka kita mengingkari.Oleh di sini beliau sampaikan oleh Abu Ja’far Ath thohawiy Maha Suci dari yang demikian, kita tidak meyakini bahwasanya Allah punyaالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِTapi kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allāh punya wajah yang tidak sama dengan makhluk itu yang kita tetapkan kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allāh memiliki kaki yang tidak sama dengan makhluk, sesuai dengan keagungan Allah itu yang dimiliki oleh Ahlussunnah. Jadi beliau mendatangkan istilah-istilah ahlul Kalam di sini karena mungkin saat itu memang tersebar ilmu kalam ini dan beliau menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka bukan berarti beliau termasuk ahlu Kalam menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka ya karena terkadang kalau tidak menggunakan istilah mereka tidak sampai maklumat ini kepada mereka sehingga terpaksa sekarang seseorang menggunakan istilah-istilah mereka supaya mereka memahami ucapan kita bukan berarti Al Imam Abu Ja’far tawawi beliau mendukung Ahlu Kalam karena kita tahu beliau termasuk ahlussunnah wal jamaahلَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِAllāh subhanahu wa ta’ala tidak diliputi oleh arah yang enam (depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah) karena enam arah ini makhluqah ini adalah makhluk maka Allāh subhanahu wa taala tidak nih diliputi oleh makhluk,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚDialah Allāh subhanahu wa taala yang Akbar Dialah yang Maha Besar, tidak diliputi tidak dikuasai dan tidak dikelilingi oleh enam arah. Karena enam arahnya adalah jihad yang makhluqohكَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِSeperti makhluk² yang diciptakan – الْمُبْتَدَعَاتِ – Al mujada artinya sesuatu yang baru dan yang dimaksud adalah makhluk yang diciptakan oleh Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala tidak seperti makhluk.Dan ini juga istilah yang sering dipakai oleh ahlul Kalam dan ini bukan berarti beliau menafikan Ulu’ullah, bukan berarti beliau menafikan ketinggian Allāh, karena yang menafsirkan di sini adalah al-jihat al-makhluqah, adapun Ulu’ullāh ketinggian Allāh subhanahu wa ta’ala maka ini bukan termasuk jihat Al makhluqllāh, bukan termasuk arah-arah yang makhluk, ketinggian Allāh subhanahu wa taala telah tetap dengan dalil² yang banyak,أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِApakah kalian merasa aman dengan yang ada di langit,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍإِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِتَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖوَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُIni semua menunjukkan bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang memiliki sifat Al Uluw, Allāh subhanahu wa ta’ala berada diatas, jadi yang beliau nafikan di sini adalah Al jihat yang makhluqah, makanya beliau mengatakan,كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِSeperti makhluk-makhluk atau seperti seluruh makhluk.Jadi beliau tidak mengingkari Jihatululw bagi Allāh subhanahu wa ta’ala.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 16

Halaqah yang ke enam belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثالث عشرSimpul yang ke-13 di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu adalahبذل الجهد في تحفظ العلم، والمذاكرة به، والسؤال عنهKita mengeluarkan seluruh upaya mengerahkan seluruh tenaga untuk menjaga ilmu yaitu dengan cara menghafalnya.Harus ada upaya untuk menghafal mungkin diulang-ulang di waktu pagi di waktu sore dimurajaah lagi, ada usaha kita untuk menjaganya.Ini adalah termasuk pengagungan kita terhadap ilmu, kalau ada ilmu datang kemudian kita biarkan begitu saja berarti ini tidak menghormati tidak mengagungkan.Kalau ada ilmu kita berusaha untuk menghafalnya, kita mendengar kemudian kita berusaha untuk menghafalnya, kita tangkap dan kita berusaha untuk menghafalnya, diulang ,dan dimurajaah, maka ini bentuk pengagungan kita terhadap ilmu tersebut.Tapi kalau datang, dibiarkan begitu saja, datang lagi, dibiarkan begitu saja, maka ini menunjukkan semakin sedikit pengagungan dia terhadap ilmu tersebut.والمذاكرة بهDan juga mudzakarah (saling mengingatkan).Saling murajaah antum dengan teman antum sesama satu Syaikh, sama-sama berguru kepada guru Fulan misalnya, antum mudzakarah, oh tadi Syaikh menyebutkan demikian, oh iya tadi kan beliau juga menyebutkan demikian, maknanya apa itu? Oh beliau menyebutkan maknanya ini, oh tadi syaikh mengingatkan kita dalam permasalahan, antum ingat tidak?Ini namanya mudzakarah, teman antum menyebutkan sesuatu, antum menyebutkan sesuatu, dia menambah atau antum mengingatkan, dan seterusnya.والسؤال عنهDan mengeluarkan upaya juga dan usaha dan juga tenaga untuk bertanya.Penganggungan kita terhadap ilmu ditunjukkan ketika kita tidak memahami sebuah perkara kemudian kita ingin tahu, ingin mengetahui sesuatu yang masih samar bagi kita tadi, maka ini menunjukkan pengagungan kita terhadap ilmu.Tapi kalau kita tidak tahu kemudian kita biarkan diri kita dalam keadaan tidak tahu dan tidak mau bertanya, ini menunjukkan pengagungan terhadap ilmu yang ada dalam diri kita kurang. Tapi kalau dia mengagungkan ilmu maka dia berusaha untuk bertanya.إذ تلقِّيه عن الشُّيوخ لا ينفع بلا حفظٍ لهKarena ketika dia mencari ilmu dari gurunya, menuntut ilmu dari guru-gurunya, itu tidak akan bermanfaat kalau dia tidak menghafal.Kalau dia tidak berusaha untuk menghafal, maka apa yang dia dapatkan itu tidak akan bermanfaat, akan hilang begitu saja. Maka harus kita keluarkan tenaga kita untuk menghafal. Dulu kita belajar ilmu umum saja kita semangat untuk menghafal, kenapa ketika kita belajar agama kemudian kita bermalas-malasan dalam menghafal.ومذاكرةٍ بهTidak akan bermanfaat kecuali kalau kita mudzākarah.Selain menghafal kita juga mudzākarah, yaitu kita bersama orang lain, dengannya kadang kita saling mengingatkan dan mengetahui kekurangan diri kita. Ketika kita bersama-sama mudzākarah dengan teman, oh iya ini faedah ini Ana Hampir lupa tidak Ana catat, misalnya, Alhamdulillah Antum mengingatkan.Ini yang disebutkan oleh guru kita tadi dan ini dilakukan oleh para ulama sejak zaman dahulu. Kadang ketika mereka berkumpul seperti ketika musim Haji misalnya, mereka sama-sama berkumpul di Makkah, sama-sama berkumpul di Arafah di hari yang sama, di situ mereka bertemu Imam Fulan, ketemu Imam Fulan yang mereka lakukan mudzākarah misalnya, menyebutkan antum hafal tidak hadits tentang masalah ini? Oh iya ana juga punya hadits ini dengan sanad ini, mereka saling mudzākarah.Mudzākarah ini ketika masing-masing menghafal. Kalau misalnya satunya hafal satunya tidak menghafal, bagaimana bisa mudzākarah? Mudzākarah itu kalau masing-masing punya perhatian. Yang A menghafal, yang B juga menghafal, maka di sana ada mudzākarah.وسؤالٍ عنهDemikian pula tidak bermanfaat kita belajar sama seorang guru kalau kita tidak mau bertanya ketika kita tidak tahu.Kita duduk untuk menuntut ilmu, kita ingin mencari, kalau memang kita tidak tahu kita cari ilmunya. Kalau pas kita tidak tahu kok kita tidak mau bertanya, berarti ada kekurangan dalam usaha dia menuntut ilmu.تحقِّق في قلب طالب العلم تعظيمَهMaka ini semuanya akan mewujudkan di dalam hati seorang penuntut ilmu, pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri.Jadi antum menghafal itu bagian dari pengagungan terhadap ilmu. Antum mudzākarah termasuk bagian pengagungan terhadap ilmu. Antum bertanya kepada guru antum tentang perkara yang antum tidak tahu, itu termasuk bentuk pengagungan antum terhadap ilmu.بكمال الالتفات إليه والاشتغال بهKarena ini menunjukkan antum benar-benar menoleh kepada ilmu tadi.Ketika antum menghafal, mudzākarah, kemudian bertanya, menunjukkan antum punya perhatian yang besar terhadap ilmu tadi.والاشتغال بهDan benar-benar antum menyibukkan diri dengan ilmu, konsen. Berarti ini termasuk pengagungan terhadap ilmu.فالحفظ خَلوةٌ بالنَّفس، والمذاكرة جلوسٌ إلىٰ القرين، والسُّؤال إقبالٌ علىٰ العالمKetika kita menghafal berarti kita sedang berkhalwah (menyendiri). Kita menghafal, kita ulang lagi, kita dalam keadaan bersama ilmu tapi kita dalam keadaan sendiri.Kemudian yang namanya mudzākarah bersama teman ini adalah duduk bersama teman, sesama penuntut ilmu kepada guru tadi, yang kita lakukan bersama teman tersebut yang kita sebutkan juga ilmu.Ketika kita sendiri kita sibuk dengan ilmu, ketika kita bersama teman kita mudzākarah dan menyibukkan diri dengan ilmu.Dan bertanya, ini kita menghadap kepada guru kita. Jadi ketika dalam keadaan sendiri sibuk dengan ilmu, ketika bersama teman sibuk dengan ilmu, ketika ada guru di depan kita maka kita bertanya kepadanya. Dalam berbagai keadaan dia menyibukkan dirinya dengan ilmu maka ini menunjukkan dia mengagungkan ilmu.ولم يزلِ العلماء الأعلام يحضُّون علىٰ الحفظ ويأمرون بهPara ulama senantiasa dari zaman dulu sampai sekarang mereka menganjurkan dan memerintahkan untuk menghafal. Kita disuruh untuk menghafal oleh guru-guru kita.احفظ فكل حافظ إمامHendaklah engkau menghafal karena setiap orang yang hafal itu dia akan menjadi pemimpin (imam).Ini adalah nasihat para ulama kepada murid-muridnya untuk menghafal.سمعت شيخنا ابن عثيمين يقولAku mendengar guru kami Ibnu Utsaimin Rahimahullāh berkata,حفظنا قليا وقرأنا كثيرا، فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأناSyaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin beliau mengatakan, kami menghafal sedikit dan banyak membaca. Jadi kalau dibandingkan apa yang kami hafal dengan apa yang kami baca itu banyak yang kami baca.Itu maksudnya, maka kami pun mengambil manfaat, apa yang kami ambil manfaatnya dari hafalan kami itu lebih banyak daripada apa yang kami baca.Beliau mengatakan, manfaat yang kami dapatkan dari menghafal (padahal itu sedikit) itu lebih banyak daripada manfaat yang kami dapatkan dari apa yang kami baca. Karena ketika seseorang menghafal, maka itu akan lebih melekat di dalam hatinya. Kalau dia mendapatkan ilmu dengan cara menghafal itu akan lebih melekat pada hatinya.Tapi kalau sekedar membaca, dia mengambil manfaat tapi banyak lupa. Dia membaca satu jilid misalnya, sudah sampai halaman yang terakhir dia sudah lupa apa yang dia baca di awal. Beberapa hari setelah itu dia sudah lupa mungkin sebagian besar apa yang ada di dalam kitab tersebut. Tapi ketika dia menghafal maka hari ini dia ingat, dan seminggu lagi dia masih ingat, sebulan lagi dia masih ingat.Ini menunjukkan tentang keutamaan menghafal. Dan sudah berlalu disampaikan, kita mulai menghafal kitab-kitab yang mukhtasar, kitab-kitab matan yang ringkas yang di situ dikumpulkan pendapat-pendapat yang rajih di dalam satu cabang ilmu.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 16

Halaqah yang Ke-16 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang “Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke empat belas”Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara perkara Aqidah yang berkaitan dengan Al-Mu’jizat adalah beriman dengan Al-KaramahAl Karamah secara bahasa adalah pemberian, ada pun secara syariat: sebuah perkara diluar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali Allah.Sebuah perkara dil uar kebiasaan maksudnya karamah bukan pemberian kenikmatan biasa, yang di maksud dengan kebiasaan adalah kebiasaan manusia di zaman tersebut yang terjadi pada seorang wali Allah, berarti Karamah tidak terjadi pada seorang nabi dan tidak pula pada wali syaitan.Yang dimaksud dengan wali Allah adalah setiap orang yang beriman dan bertakwa. sebagaimana firman Allahأَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَالَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada takut atas mereka dan mereka tidak bersedih, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa” (Yunus : 62-63)Iman dan takwa tidak akan terwujud kecuali dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dan perintah yang paling besar adalah tauhid kepada Allah dan larangan yang paling besar ada syirik kepada AllahApabila seseorang menyekutukan Allah atau mengajak manusia menyekutukan Allah maka dia bukan wali Allah. Apabila seseorang mengajak kepada Bid’ah maka dia bukan wali Allah, apabila seseorang meninggalkan shalat 5 waktu maka dia bukan wali AllahSeorang wali Allah diukur dari keimanan dan ketakwaan bukan hanya sekedar dari kesaksian atau dari kemampuan yang luar biasa. Seandainya dia beriman dan bertakwa maka dia adalah wali Allah meskipun tidak memiliki kesaktian yang luar biasaNamun sebaliknya orang yang memiliki kesaktian tetapi tidak bertakwa dan beriman maka dia bukan wali AllahSeorang wali Allah bukan berarti dia tidak pernah berdosa, dia berdosa sebagaimana manusia yang lain namun dia bukan orang yang terus menerus melakukan dosa dan apabila dia berdosa maka dia bersegera di dalam bertaubat kepada Allah

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah 66 – Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 1)

Ringkasan Halaqah 66 – Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 1)🌸 Pengertian Al-JannahSecara bahasa: kebun.Secara syariat: negeri di akhirat yang penuh kenikmatan yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.🌸 Kenikmatan SurgaKenikmatannya tidak pernah terlintas dalam hati manusia.Nikmat dunia tidak ada yang dapat menyamai kenikmatan surga.Sebesar apa pun kita membayangkannya, tetap tidak akan setara dengan kenikmatan surga.Dalil: QS. As-Sajdah: 17 dan hadis riwayat Bukhari-Muslim.🌸 Kenikmatan Surga Berbeda dengan DuniaNama kenikmatannya sama, tetapi hakikat dan kelezatannya jauh lebih sempurna.Rumah surga berbeda dengan rumah dunia.Buah-buahan surga jauh lebih nikmat meskipun namanya sama.Dalil: QS. Al-Baqarah: 25.🌸 Hilangnya Semua KesusahanOrang yang pernah paling sengsara di dunia, setelah merasakan surga sekali saja, akan merasa seolah tidak pernah mengalami kesusahan.Dalil: Hadis riwayat Muslim.🌸 Semua Keinginan DikabulkanSemua yang diinginkan penghuni surga akan diberikan oleh Allah.Mereka kekal di dalamnya.Dalil: QS. Al-Furqan: 16.🌸 Nama-Nama SurgaJannātun Na'īm → Surga yang penuh kenikmatan. (QS. Luqman: 8)Dārussalām → Negeri yang selamat dari segala kekurangan dan kejelekan. (QS. Al-An'am: 127)Maqām Amīn → Tempat tinggal yang aman dari segala musibah dan kejelekan. (QS. Ad-Dukhan: 51)Dārul Muqāmah → Tempat tinggal yang kekal, tanpa rasa lelah dan lesu. (QS. Fathir: 35)🌸 Inti Pelajaran✨ Surga adalah negeri yang:Penuh kenikmatan.Tidak memiliki kekurangan sedikit pun.Aman dari segala musibah.Semua keinginan penghuninya dipenuhi.Kekal selama-lamanya.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 16: Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 14)

Halaqah 16:Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 14)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara perkara Aqidah yang berkaitan dengan Al-Mu’jizat adalah beriman dengan Al-Karamah​Al Karamah Secara bahasa adalah pemberianSecara syariat adalah sebuah perkara diluar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali Allah.Sebuah perkara diluar kebiasaan maksudnya karamah bukan pemberian kenikmatan biasa, yang di maksud dengan kebiasaan adalah kebiasaan manusia di zaman tersebut yang terjadi pada seorang wali Allah, berarti Karamah tidak terjadi pada seorang nabi dan tidak pula pada wali syaitan.Yang dimaksud dengan wali Allah adalah setiap orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana firman Allah:أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَالَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ"Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada takut atas mereka dan mereka tidak bersedih, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa" (Yunus : 62-63)Iman dan takwa tidak akan terwujud kecuali dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dan perintah yang paling besar adalah tauhid kepada Allah dan larangan yang paling besar ada syirik kepada Allah.Apabila seseorang menyekutukan Allah atau mengajak manusia menyekutukan Allah maka dia bukan wali Allah. Apabila seseorang mengajak kepada Bid’ah maka dia bukan wali Allah, apabila seseorang meninggalkan shalat 5 waktu maka dia bukan wali Allah.Seorang wali Allah diukur dari keimanan dan ketakwaan bukan hanya sekedar dari kesaksian atau dari kemampuan yang luar biasa. Seandainya dia beriman dan bertakwa maka dia adalah wali Allah meskipun tidak memiliki kesaktian yang luar biasa.Namun sebaliknya orang yang memiliki kesaktian tetapi tidak bertakwa dan beriman maka dia bukan wali Allah.Seorang wali Allah bukan berarti dia tidak pernah berdosa, dia berdosa sebagaimana manusia yang lain namun dia bukan orang yang terus menerus melakukan dosa dan apabila dia berdosa maka dia bersegera di dalam bertaubat kepada Allah.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 16 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Enam Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Dalil bahwasanya orang yang mengejek agama Allah dan apa yang berkaitan dengannya menjadi kafir adalah firman Allah,قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Katakanlah wahai Muhammad, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya, kalian mengejek-ejek? Janganlah kalian minta udzur. Sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” [At Taubah 65-66]Pada tahun ke-9 ketika Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam perjalanan dalam rangka perang Tabuk, ada seseorang berkata di dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh yang lain,مَا رَأَيْتُ مِثْلَ قُرَّائِنَا هَؤُلاءِ لا أَرْغَبَ بُطُونًا ، وَلا أَكْذَبَ أَلْسِنَةً ، وَلا أَجْبَنَ عِنْدَ اللِّقَاءِ“Aku tidak melihat orang-orang yang lebih besar perutnya (lebih banyak makannya), lebih dusta ucapannya, dan lebih pengecut ketika berperang, daripada mereka.”Dan dia memaksudkan mengejek Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya.Auf bin Malik radhiyallāhu ‘anhu salah seorang sahabat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar ucapan ini, beliau mengingkari, seraya berkata,كَذَبتَ، وَلَكِنَّكَ مُنَافِقٌ لَأُخبِرَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم“Engkau telah berdusta. Akan tetapi engkau adalah seorang munafik, sungguh aku akan mengabarkan kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau segera pergi menuju kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ternyata wahyu telah mendahului.Allah telah mengabarkan kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang ucapan laki-laki tersebut.Maka orang munafik tadi datang dan meminta maaf, meminta udzur kepada Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Allah berkata,وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُمۡ لَیَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ[Surat At-Tawbah 65]“Dan kalau engkau bertanya kepada mereka, mereka berkata, sesungguhnya kami hanya berbincang dan bermain-main saja.”Maka Allah menyuruh Nabi-Nya untuk menjawab,قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan juga Rasul-Nya, kalian mengejek? Janganlah kalian minta udzur. Sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.”Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang ucapan tersebut dan tidak menambahnya.“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya, kalian mengejek? Janganlah kalian minta udzur. Sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.”Ini menunjukkan kepada kita tentang bahayanya mengejek-ejek segala sesuatu yang berkaitan dengan agama Allah.Firman Allah, قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” menunjukkan bahwa mengejek Allah, ayat-ayat-Nya, serta Rasul-Nya, adalah kekufuran.Allah mengatakan, كَفَرْتُم (kalian telah kufur).Padahal saat itu yang mengucapkan ucapan ejekan hanyalah satu orang. Yang demikian karena orang-orang yang mendengar saat itu ridho terhadap ejekan tersebut, meskipun mereka tidak mengucapkan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَیۡكُمۡ فِی ٱلۡكِتَـٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَایَـٰتِ ٱللَّهِ یُكۡفَرُ بِهَا وَیُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُوا۟ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ یَخُوضُوا۟ فِی حَدِیثٍ غَیۡرِهِۦۤ إِنَّكُمۡ إِذࣰا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ وَٱلۡكَـٰفِرِینَ فِی جَهَنَّمَ جَمِیعًا)[Surat An-Nisa’ 140]“Dan sungguh telah Allah turunkan kepada kalian di dalam Al Qur’an, apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah dikufuri dan diejek, maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka berbicara tentang pembicaraan lain. Sesungguhnya kalau kalian demikian, maka kalian semisal dengan mereka. Sesungguhnya Allah mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, semuanya.”Apabila mendengar di sana ada ayat Allah dihina atau Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dihina, atau para sahabat dihina, maka janganlah kalian duduk bersama mereka, sampai mereka merubah tema pembicaraan mereka.Apabila kalian duduk bersama mereka, santai bersama mereka, tidak tergerak hati kalian ketika mendengar Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya dihina, niscaya kalian semisal dengan mereka.Dan perlu diketahui bahwa mengejek terkadang dengan lisan, terkadang dengan tulisan, bahkan bisa dengan isyarat, seperti isyarat mata atau tangan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HALAQAH 66

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 66Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kedua QS. Al-An’am 144(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Dalil Al-Qur'an yang Dibahas​Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla:​فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا لِّیُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَیۡرِ عِلۡمٍۚArtinya:​“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berdusta atas nama Allāh, untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu” (QS. Al-An’ām: 144)Korelasi Perbuatan Bid’ah dengan Berdusta Atas Nama Allāh​Definisi Masuknya Bid'ah dalam Ayat:Orang yang melakukan perbuatan bid’ah masuk ke dalam kategori ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا (berdusta atas nama Allāh).​Alasan Pendustaan:​Orang yang melakukan bid’ah seakan-akan mengatakan bahwa amalan tersebut berasal dari Allāh.Ketika dia mengamalkan dan mendakwahkannya, seakan-akan dia mengatakan, "Ini adalah dari Allāh," padahal sebenarnya bukan dari Allāh. Maka perbuatan ini adalah bentuk berdusta.​Contoh Kasus:Mengatakan sesuatu disyari’atkan padahal tidak disyari’atkan. Contohnya adalah perayaan maulud nabi; perayaan tersebut dianggap disyari’atkan, padahal tidak disyari’atkan. Ketika seseorang mengatakan maulud nabi adalah disyari’atkan, berarti dia berdusta atas nama Allāh karena seakan-akan mengatakan Allāh mensyari’atkannya, padahal Allāh tidak pernah mensyari’atkannya.Pendalilan Bahwa Bid'ah Lebih Besar daripada Dosa Besar​Kunci Pendalilan: Letak kunci argumennya berada pada kalimat فَمَنۡ أَظۡلَمُ ("Siapakah yang lebih zhalim").​Bentuk Kezhaliman: Seseorang tahu mana jalan Allāh yang lurus, kemudian dia berdusta atas nama Allāh dengan mengatakan, "Oh yang benar adalah jalan ke sini mas," dengan tujuan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allāh tanpa ilmu.​Kesesuaian dengan Judul Bab:Ayat ini menunjukkan bahwasanya apa yang disampaikan oleh muallif (penulis) di dalam judul bab adalah benar adanya, yaitu: Bid’ah itu lebih besar daripada dosa-dosa besar. Hal ini dikarenakan bid'ah termasuk ke dalam ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ (berdusta atas nama Allāh), dan Allāh menegaskan tidak ada yang lebih zhalim daripada orang yang melakukannya.​Kesimpulan​Perbuatan bid’ah termasuk dalam kategori berdusta atas nama Allāh (ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا) karena pelakunya mengklaim suatu amalan atau perayaan (seperti maulud nabi) sebagai bagian dari syariat Allāh, padahal Allāh tidak pernah mensyari’atkannya. Berdasarkan firman Allāh dalam QS. Al-An’ām ayat 144 melalui kalimat فَمَنۡ أَظۡلَمُ ("Siapakah yang lebih zhalim"), perbuatan berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia ini merupakan bentuk kezhaliman yang sangat besar. Hal ini membuktikan kebenaran judul bab yang dibawakan oleh muallif bahwa dosa bid’ah kedudukannya lebih besar daripada dosa-dosa besar lainnya.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 66 | Sesuatu yang Berkaitan Dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yg Paling Dahsyat | Pembahasan Dalil Kedua QS Al An’am 144Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-66 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.Beliau mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla:فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا لِّیُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَیۡرِ عِلۡمٍۚ“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berdusta atas nama Allāh, untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu” (QS. Al-An’ām:144)Masuk di dalam ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا adalah orang yang melakukan bid’ah.Kenapa koq bisa dimasukkan orang yang melakukan bid’ah ini dengan berdusta atas nama Allāh? Orang yang melakukan bid’ah, seakan-akan dia mengatakan, ini adalah dari siapa? dari Allāh.Dia melakukan amalan-amalan yang bid’ah tadi, ketika dia mengamalkan dan mendakwahkan apalagi. Seakan-akan dia mengatakan bahwasanya ini adalah dari siapa? Dari Allāh. Padahal bukan dari Allāh.Berarti berdusta bukan itu? Berdusta.Mengatakan ini disyari’atkan padahal itu tidak disyari’atkan, maulud nabi perayaannya di anggap ini adalah disyari’atkan, padahal itu tidak disyari’atkan.Ketika dia mengatakan maulud nabi adalah disyari’atkan, berarti dia berdusta atas nama Allāh. Maka dia masuk di dalam berdusta atas nama Allāh. Karena seakan-akan dia mengatakan Allāh mensyari’atkan hal ini, padahal Allāh tidak pernah mensyari’atkannya.Makanya beliau mendatangkan firman Allāh:فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰاDarimana kita mengetahui dengan ayat ini bahwasanya berdusta atas nama Allāh tadi lebih besar dosanya daripada dosa besar.Bahwasanya ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ini adalah lebih besar daripada dosa besar. Masuk di dalam ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ adalah perbuatan bid’ah.Di sini kuncinya adalah pada kalimat فَمَنۡ أَظۡلَمُ (siapakah yang lebih zhalim) daripada orang yang berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia dari jalan Allāh.Tahu bahwasanya ini adalah jalan Allāh, jalan yang lurus kemudian dia berdusta atas nama Allāh, “Oh yang benar adalah jalan ke sini mas”. Ingin menyesatkan manusia dari jalan Allāh.Thayyib, maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ dan masuk di dalam ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ adalah bid’ah. Karena dia telah berdusta atas nama Allāh, menunjukkan bahwasanya apa yang disampaikan oleh muallif di dalam judul bab tadi adalah benar adanya, bahwasanya bid’ah itu adalah lebih besar daripada dosa-dosa besar.Karena dia adalah termasuk kezhaliman dia adalah berdusta atas nama Allāh dan Allāh mengatakan فَمَنۡ أَظۡلَمُ (siapa yang lebih zhalim), daripada orang yang berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 65 | Siapa yang Tidak Menghindari Penafian dan Tasybih Maka akan Tergelincir

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَمَنْ لَمْ يَتَوَقَّ النَّفْيَ وَالتَّشْبِيهَ زَلَّDan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari menafikan dan juga menyerupakan maka dia akan tergelincir.Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari 2 perkara ini maka dia akan tergelincir apa yang pertama?√ menjaga diri dari menafikan, yaitu menta’til datang dalil yang berisi tentang sifat Allāh kemudian dia mengingkari dan sudah berlalu bahwasanya ta’til disini bisa ta’til kulliun (seluruhnya dia ta’til) baik nama maupun sifat Allāh, atau terkadang namanya ditetapkan tapi dia ingkari sifat Allāh atau terkadang nama dia ditetapkan sebagian sifat dia tetapkan, tapi sebagian sifat yang lain dia ta’til/ingkari, maka ini juga masuk An-Nafia, ada ta’tilunkuliun ada ta’tilunjuziun dan ini semuanya bertentangan dengan Firman Allāh azza wa jallaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِWahai orang² yang beriman, berimanlah kalian kepada Allāh dan juga RasulNya.Al imam Syafi’i mengatakan,آمَنْتُ باللهِ، وبما جاء عن اللهِ على مُرادِ اللهِ، وآمَنتُ برَسولِ اللهِ وبما جاء عن رَسولِ اللهِ على مُرادِ رَسولِ اللهِDemikian seharusnya seorang muslim bukan malah menafi yaitu mengingkari, menta’til.Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya nafia maka dia akan zalla maka dia akan tergelincir masuk kedalam ta’til, masuk golongan muatillah, padahal Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih tahu tentang DiriNya Rasulullāh ﷺ dialah yang lebih tahu tentang diri Allāh daripada kita bagaimana seseorang berani menafikan apa yang ditetapkan oleh Allāh dan juga RasulNyaوَالتَّشْبِيهَDan Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari tasbih yaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk maka dia juga tergelincir, karena ini bertentangan dengan firman Allāh… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖTidak ada yang menyerupakan Allāh sesuatu apapun, kalau dia menyerupakan Allāh berarti dia bertentangan dengan ayat ini dan juga firman Allāh,وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌFirman Allahهَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّافَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الأمْثَالَDan ayat² yang lain, ayat² tasbih yang isinya adalah mensucikan Allāh dari seluruh kekurangan dan tasbihyaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk ini adalah mensifati Allāh dengan sifat kekurangan, karena makhluk tempat kekurangan, kalau kita mensifati atau menyerupakan Allāh dengan makhluk berarti kita mensifati Allāh dengan sifat kekurangan, ini adalah penghinaan terhadap Allāh sehingga beliau mengatakan -زَلَّ- dia akan tergelincir baik yang mengingkari maupun orang yang menyerupakan, baik ta’til maupun tasbih , an-nafii ini keterlaluan karena dia mengingkari, mengingkari dengan maksud untuk menyucikan Allāh tasbih juga keterlaluan karena dia menetapkan, dia menetapkan bagi Allāh sifat tapi kebablasan, keterlaluan karena dia menetapkan dan selanjutnya dia menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk . Ahlussunnah wal jamaah mereka berada diantara keduanyanنافع تنجه بلا تعطيل و إثبات بلا تشبيهMuatillah ingin mentanjih tapi akhirnya dia menta’til musabihat mereka ingin menishbat akhirnya mereka menyerupakan, ini kesesatan dan penyimpangan adapun ahlussunnah wal jamaah maka Alhamdulillah mereka mentanjih / mensucikan Allāh tanpa harus mereka menta’til kita katakan Allāh subhanahu wa ta’ala tidak memiliki sifat kekurangan sedikit dan seluruh sifat Allāh yang Allāh kabarkan kepada kita adalah sifat kesempurnaan kita menyucikan Allāh di sini dari seluruh sifat kekurangan Allāh subhanahu wa taala memiliki sifat rahmah dan itu adalah Rahmah yang sempurna, Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ilmu dan itu adalah ilmu yang sempurna, Alhamdulillah kita menyucikan Allāh tanpa kita menta’til & kita meng isbat kita menetapkan tanpa kita mentasbih kita tetapkan karena Allāh subhanahu wa taala memiliki pendengaran Allāh memiliki penglihatan dan itu semua tidak serupa dengan penglihatan dan pendengaran makhluk,… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.Jadi di sini beliau ingin membantah muatilah dan juga musabihatولم يصب التنزيهDan tidak mungkin dia akan sampai kepada penyucian yang sebenarnya.Mensucikan Allah bukan dengan cara mentaatil seperti yang dilakukan oleh muatillah, mensucikan Allāh bukan dengan cara mentasbih karena orang-orang musabihat di antara alasan mereka loh kita kan harus menetapkan apa yang Allāh tetapkan kalau Allāh menetapkan dia beristiwa ya kita tetapkan istiwa dan yang kita tahu adalah istiwa makhluk berarti istiwa Allah sama dengan istiwa makhluk , ini baik muatillah maupun musabihat mereka tidak sampai kepada Tanzih yaitu mensucikan Allāh dengan sebenar-benar pensucian, cara untuk mentanjih disebutkan dalam firman Allāhلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.Tidak ada yang serupa dengan Allāh sedikitpun dan Dia adalah Dzat yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.Menetapkan tanpa kita menyerupakan, menetapkan sifat dan kita meyakini bahwasanya sifat tersebut tidak sama dengan sifat makhluk sedikitpun itu Tanzih yang benarفَإِنَّ رَبَّنَا – جَلَّ وَعَلَا – مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ الْوَحْدَانِيَّةِkarena sesungguhnya Rabb kita jala wa ala disifati dengan sifat-sifat keEsaan yaitu Maha Esa dalam hal apa Maha Esa dalam rububiyah, Maha Esa dalam nama dan juga sifat Allāh, Maha Esa dalam uluhiyah sebagaimana telah berlalu di awal kita ini, maka Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang Maha Esa disifati dengan sifat-sifat keEsaan termasuk diantaranya adalah di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh, Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Esa di dalam nama dan juga sifatnya tidak ada yang serupa denganوَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌTidak ada yang serupa dengan Allāh seorangpunلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖمَنْعُوتٌ بِنُعُوتِ الْفَرْدَانِيَّةِ،Allāh subhanahu wa ta’ala man’ut (maknanya hampir sama dengan mausuf) ada naab ada was , man’utun disifati bil Utin fardaniyah (dengan sifat-sifat fardaniyah) Al fardinayah maknanya hampir sama dengan wahdaniyah disifati dengan sifat² keEsaan ini menguatkan saja apa yang disebutkan sebelum jadi kalau Allah subhanahu wa taala disifati dengan sifat-sifat keEsaan maka tidak boleh menta’til dan juga tidak boleh mentasbihلَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِyaitu tidak ada di antara makhlukNya yang bersifat dengan sifat-sifat Allāhلَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِTidak ada seorang bariyyah pun seorang makhluk yang serupa dengan Allāh subhanahu wa ta’ala ini jadi juga menguatkan pernyataan beliau sebelumnya, intinya di dalam ini dalam paragraf ini ingin menyampaikan kepada kita tentang wahdaniyatullah di dalam masalah namun ada juga sifatnya.

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 15: Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 13)

Halaqah 15:Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 13)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAyat-ayat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ sangat banyak, hal ini menunjukkan keutamaan beliau disisi Allah menunjukkan betapa pentingnya risalah yang beliau bawa, karena risalah beliau adalah risalah yang terakhir dan tidak ada lagi risalah setelah risalah beliau ﷺDan diantara ayat-ayat atau mu'jizat-mu'jizat tersebut1. Al-Isra dan Al-Mi’raj​Al Isra : Dijalankannya Nabi Muhammad ﷺ diwaktu malam dari Al-Masjidil Haram yang ada di Makkah ke Al-Masjidil Aqsa yang ada di Palestina Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hambaNya dimalam hari dari Al-Masjid Haram Ke Al Masjid Aqsa yang Kami berkahi sekitarnya untuk Kami tunjukkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al-Isra : 1)​Al Mi’raj : Diangkatnya Nabi Muhammad ﷺ kelangit kemudian ke sidratul muntaha. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:فَعَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا"Maka Allah mengangkatku ke langit dunia" (HR. Bukhari dan Muslim)Dua perjalanan yang jauh yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat menunjukkan kekuasaan Allah dan bahwasanya Muhammad ﷺ adalah Nabi utusan Allah2. Terbelahnya BulanAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُوَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ“Telah dekat kiamat dan bulan telah terbelah dan apabila mereka melihat satu ayat mereka berpaling dan mengatakan ini adalah sihir yang terus menerus” (Al-Qamar : 1-2)Berkata An-nas bin Malik radhiyallahu ‘anhuأن أهل مكة سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم انير يهم آيَةً فعرهم إنْشَقَّ الْقَمَر"Sesungguhnya penduduk Makkah telah meminta Rasulullah ﷺ untuk menunjukkan satu tanda kekuasaan, maka beliau ﷺ memperlihatkan kepada mereka terbelahnya bulan" (HR. Bukhari dan Muslim)3. Batu yang Mengucapkan Salam Kepada BeliauRasulullah ﷺ bersabda:إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ"Sungguh aku mengetahui sebuah batu di Makkah dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi, sungguh aku mengetahuinya sekarang" (HR Muslim)4. Kabar Beliau Tentang Mati Syahidnya Umar Ibnu khaththab & Utsman Ibn Affan radhiyallahu ‘anhumaBerkata An-nas bin Malik radhiyallahu ‘anhuصَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُحُدٍ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ , وَعُمَرُ , وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ , فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ ، قَالَ : ” اثْبُتْ أُحُدُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِ"Nabi ﷺ naik keatas Gunung Uhud dan bersama beliau Abu Bakar, Umar dan Utsman maka bergetarlah gunung Uhud Nabi ﷺ kemudian menendang gunung Uhud dengan kaki beliau seraya berkata tenanglah wahai Uhud tidak ada diatasmu kecuali seorang Nabi, seorang Sidiq dan dua orang syahid" (HR. Al Bukhâri)Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ, karena Umar dan Utsman dibunuh dan meninggal dalam keadaan syahid.5. Menangisnya Batang Pohon KurmaBerkata Zabir Ibn Abdillah radhiyallahu ‘anhaالمسجد مسقوفا على جذوع من نخل فكان النبي صلى الله عليه وسلم اذا خطب يقوم الى جذع منها فلما صنع له المنبر وكان عليه فسمعنا لذلك الجذع صوتا كصوت العشار حتى جاء النبى صلى الله عليه وسلم فوضع يده عليها فسكنت."Dahulu masjid Nabawi bertiangkan batang pohon kurma, maka dahulu Nabi ﷺ apabila khutbah beliau berdiri didekat salah satu batang tersebut ketika dibuatkan mimbar, kemudian beliau berkhutbah diatas nya maka kami mendengar suara batang kurma tersebut seperti suara unta yang sedang hamil sepuluh bulan sampai datang Nabi ﷺ, kemudian beliau meletakkan tangannya pada batang tersebut maka diamlah batang tersebut" (HR. Bukhari)

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 15

Halaqah yang Ke lima belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian yang Ketigabelas👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAyat-ayat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ sangat banyak, hal ini menunjukkan keutamaan beliau disisi Allah menunjukkan betapa pentingnya risalah yang beliau bawa, karena risalah beliau adalah risalah yang terakhir dan tidak ada lagi risalah setelah risalah beliau ﷺDan diantara ayat-ayat atau mukjizat-mu’jizat tersebut① Al-Isra dan Al-Mi’rajAl Isra : dijalankannya Nabi Muhammad ﷺ diwaktu malam dari Al-Masjidil Haram yang ada di Makkah ke Masjidil Aqsa yang ada di PalestinaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hambaNya dimalam hari dari Al-Masjid Haram Ke Al Masjid Aqsa yang Kami berkahi sekitarnya untuk Kami tunjukkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al-Isra : 1)Adapun Al Mi’raj : diangkatnya Nabi Muhammad ﷺ kelangit kemudian ke sidratul muntaha. Nabi Muhammad ﷺ bersabdaفَعَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَاMaka Allah mengangkatku ke langit dunia (HR. Bukhari dan Muslim)Dua perjalanan yang jauh yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat menunjukkan kekuasaan Allah dan bahwasanya Muhammad ﷺ adalah Nabi utusan Allah② Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanاقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُوَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ“Telah dekat kiamat dan bulan telah terbelah dan apabila mereka melihat satu ayat mereka berpaling dan mengatakan ini adalah sihir yang terus menerus” (Al-Qamar : 1-2)Berkata Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhuأن أهل مكة سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم انير يهم آيَةً فعرهم إنْشَقَّ الْقَمَرSesungguhnya penduduk Makkah telah meminta Rasulullah ﷺ untuk menunjukkan satu tanda kekuasaan, maka beliau ﷺ memperlihatkan kepada mereka terbelahnya bulan (HR Bukhari dan Muslim)③ Batu yang mengucapkan salam kepada beliauRasulullah ﷺ bersabdaإِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَSungguh aku mengetahui sebuah batu di Makkah dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi, sungguh aku mengetahuinya sekarang (HR Muslim)④ kabar beliau tentang mati syahidnya Umar Ibnu khaththab dan Utsman Ibn Affan radhiyallahu ‘anhumaBerkata Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhuصَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُحُدٍ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ , وَعُمَرُ , وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ , فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ ، قَالَ : ” اثْبُتْ أُحُدُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِNabi ﷺ naik keatas Gunung Uhud dan bersama beliau Abu Bakar, Umar dan Utsman maka bergetarlah gunung Uhud Nabi ﷺ kemudian menendang gunung Uhud dengan kaki beliau seraya berkata tenanglah wahai Uhud tidak ada diatasmu kecuali seorang Nabi, seorang Sidiq dan dua orang syahid (HR Al Bukhâri)Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ, karena Umar dan Utsman dibunuh dan meninggal dalam keadaan syahid⑤ Menangisnya Batang pohon kurmaBerkata Zabir Ibn Abdillah radhiyallahu ‘anhaالمسجد مسقوفا على جذوع من نخل فكان النبي صلى الله عليه وسلم اذا خطب يقوم الى جذع منها فلما صنع له المنبر وكان عليه فسمعنا لذلك الجذع صوتا كصوت العشار حتى جاء النبى صلى الله عليه وسلم فوضع يده عليها فسكنت.Dahulu masjid Nabawi bertiangkan batang pohon kurma, maka dahulu Nabi ﷺ apabila khutbah beliau berdiri didekat salah satu batang tersebut ketika dibuatkan mimbar, kemudian beliau berkhutbah diatas nya maka kami mendengar suara batang kurma tersebut seperti suara unta yang sedang hamil sepuluh bulan sampai datang Nabi ﷺ, kemudian beliau meletakkan tangannya pada batang tersebut maka diamlah batang tersebut (HR. Bukhari)

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 65

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 65 | Siapa yang Tidak Menghindari Penafian dan Tasybih Maka akan TergelincirHalaqah 65 | Siapa yang Tidak Menghindari Penafian dan Tasybih Maka akan TergelincirKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَمَنْ لَمْ يَتَوَقَّ النَّفْيَ وَالتَّشْبِيهَ زَلَّDan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari menafikan dan juga menyerupakan maka dia akan tergelincir.Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari 2 perkara ini maka dia akan tergelincir apa yang pertama?√ menjaga diri dari menafikan, yaitu menta’til datang dalil yang berisi tentang sifat Allāh kemudian dia mengingkari dan sudah berlalu bahwasanya ta’til disini bisa ta’til kulliun (seluruhnya dia ta’til) baik nama maupun sifat Allāh, atau terkadang namanya ditetapkan tapi dia ingkari sifat Allāh atau terkadang nama dia ditetapkan sebagian sifat dia tetapkan, tapi sebagian sifat yang lain dia ta’til/ingkari, maka ini juga masuk An-Nafia, ada ta’tilunkuliun ada ta’tilunjuziun dan ini semuanya bertentangan dengan Firman Allāh azza wa jallaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِWahai orang² yang beriman, berimanlah kalian kepada Allāh dan juga RasulNya.Al imam Syafi’i mengatakan,آمَنْتُ باللهِ، وبما جاء عن اللهِ على مُرادِ اللهِ، وآمَنتُ برَسولِ اللهِ وبما جاء عن رَسولِ اللهِ على مُرادِ رَسولِ اللهِDemikian seharusnya seorang muslim bukan malah menafi yaitu mengingkari, menta’til.Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya nafia maka dia akan zalla maka dia akan tergelincir masuk kedalam ta’til, masuk golongan muatillah, padahal Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih tahu tentang DiriNya Rasulullāh ﷺ dialah yang lebih tahu tentang diri Allāh daripada kita bagaimana seseorang berani menafikan apa yang ditetapkan oleh Allāh dan juga RasulNyaوَالتَّشْبِيهَDan Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari tasbih yaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk maka dia juga tergelincir, karena ini bertentangan dengan firman Allāh… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖTidak ada yang menyerupakan Allāh sesuatu apapun, kalau dia menyerupakan Allāh berarti dia bertentangan dengan ayat ini dan juga firman Allāh,وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌFirman Allahهَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّافَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الأمْثَالَDan ayat² yang lain, ayat² tasbih yang isinya adalah mensucikan Allāh dari seluruh kekurangan dan tasbihyaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk ini adalah mensifati Allāh dengan sifat kekurangan, karena makhluk tempat kekurangan, kalau kita mensifati atau menyerupakan Allāh dengan makhluk berarti kita mensifati Allāh dengan sifat kekurangan, ini adalah penghinaan terhadap Allāh sehingga beliau mengatakan -زَلَّ- dia akan tergelincir baik yang mengingkari maupun orang yang menyerupakan, baik ta’til maupun tasbih , an-nafii ini keterlaluan karena dia mengingkari, mengingkari dengan maksud untuk menyucikan Allāh tasbih juga keterlaluan karena dia menetapkan, dia menetapkan bagi Allāh sifat tapi kebablasan, keterlaluan karena dia menetapkan dan selanjutnya dia menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk . Ahlussunnah wal jamaah mereka berada diantara keduanyanنافع تنجه بلا تعطيل و إثبات بلا تشبيهMuatillah ingin mentanjih tapi akhirnya dia menta’til musabihat mereka ingin menishbat akhirnya mereka menyerupakan, ini kesesatan dan penyimpangan adapun ahlussunnah wal jamaah maka Alhamdulillah mereka mentanjih / mensucikan Allāh tanpa harus mereka menta’til kita katakan Allāh subhanahu wa ta’ala tidak memiliki sifat kekurangan sedikit dan seluruh sifat Allāh yang Allāh kabarkan kepada kita adalah sifat kesempurnaan kita menyucikan Allāh di sini dari seluruh sifat kekurangan Allāh subhanahu wa taala memiliki sifat rahmah dan itu adalah Rahmah yang sempurna, Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ilmu dan itu adalah ilmu yang sempurna, Alhamdulillah kita menyucikan Allāh tanpa kita menta’til & kita meng isbat kita menetapkan tanpa kita mentasbih kita tetapkan karena Allāh subhanahu wa taala memiliki pendengaran Allāh memiliki penglihatan dan itu semua tidak serupa dengan penglihatan dan pendengaran makhluk,… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.Jadi di sini beliau ingin membantah muatilah dan juga musabihatولم يصب التنزيهDan tidak mungkin dia akan sampai kepada penyucian yang sebenarnya.Mensucikan Allah bukan dengan cara mentaatil seperti yang dilakukan oleh muatillah, mensucikan Allāh bukan dengan cara mentasbih karena orang-orang musabihat di antara alasan mereka loh kita kan harus menetapkan apa yang Allāh tetapkan kalau Allāh menetapkan dia beristiwa ya kita tetapkan istiwa dan yang kita tahu adalah istiwa makhluk berarti istiwa Allah sama dengan istiwa makhluk , ini baik muatillah maupun musabihat mereka tidak sampai kepada Tanzih yaitu mensucikan Allāh dengan sebenar-benar pensucian, cara untuk mentanjih disebutkan dalam firman Allāhلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.Tidak ada yang serupa dengan Allāh sedikitpun dan Dia adalah Dzat yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.Menetapkan tanpa kita menyerupakan, menetapkan sifat dan kita meyakini bahwasanya sifat tersebut tidak sama dengan sifat makhluk sedikitpun itu Tanzih yang benarفَإِنَّ رَبَّنَا – جَلَّ وَعَلَا – مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ الْوَحْدَانِيَّةِkarena sesungguhnya Rabb kita jala wa ala disifati dengan sifat-sifat keEsaan yaitu Maha Esa dalam hal apa Maha Esa dalam rububiyah, Maha Esa dalam nama dan juga sifat Allāh, Maha Esa dalam uluhiyah sebagaimana telah berlalu di awal kita ini, maka Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang Maha Esa disifati dengan sifat-sifat keEsaan termasuk diantaranya adalah di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh, Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Esa di dalam nama dan juga sifatnya tidak ada yang serupa denganوَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌTidak ada yang serupa dengan Allāh seorangpunلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖمَنْعُوتٌ بِنُعُوتِ الْفَرْدَانِيَّةِ،Allāh subhanahu wa ta’ala man’ut (maknanya hampir sama dengan mausuf) ada naab ada was , man’utun disifati bil Utin fardaniyah (dengan sifat-sifat fardaniyah) Al fardinayah maknanya hampir sama dengan wahdaniyah disifati dengan sifat² keEsaan ini menguatkan saja apa yang disebutkan sebelum jadi kalau Allah subhanahu wa taala disifati dengan sifat-sifat keEsaan maka tidak boleh menta’til dan juga tidak boleh mentasbihلَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِyaitu tidak ada di antara makhlukNya yang bersifat dengan sifat-sifat Allāhلَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِTidak ada seorang bariyyah pun seorang makhluk yang serupa dengan Allāh subhanahu wa ta’ala ini jadi juga menguatkan pernyataan beliau sebelumnya, intinya di dalam ini dalam paragraf ini ingin menyampaikan kepada kita tentang wahdaniyatullah di dalam masalah namun ada juga sifatnya.Bikinin gambarnya tp ga ada gambar manusia ya banyakin tulisannyan yg jelas

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 15

Halaqah yang ke lima belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثاني عشرSimpul yang ke-12 diantara 20 simpul yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu adalahانتخاب الصحبة الصالحة لهHendaklah kita memilih pertemanan yang baik untuk mendapatkan ilmu tadi.اتِّخاذ الزَّميل ضرورةٌ لازمةٌ في نفوس الخلق،Mengambil seorang teman itu sesuatu yang harus dalam diri-diri manusia. Kita adalah manusia, makhluk sosial, tidak bisa kita hidup sendiri, kita butuh teman.فيحتاج طالب العلم إلى معاشرة غيره من الطُّاَّب؛Maka seorang penuntut ilmu itu sangat membutuhkan orang lain. Dia butuh bersosial dan bermuamalah dengan orang lain, diantara sesama penuntut ilmu.Dia membutuhkan teman dalam menuntut ilmu tersebut karena sebagaimana telah berlalu bahwasanya ilmu ini adalah berat. Dia adalah suatu yang sangat mulia, suatu yang sangat berat, dan kita tahu bahwasanya untuk mencari ilmu ini bukan dengan berleha-leha. Kita harus bersungguh-sungguh. Kalau kita sendiri, maka ini sesuatu yang bisa menyebabkan seseorang mudah futur ketika dia menuntut ilmu dan dia tidak memiliki teman dalam menuntut ilmu.Maka dia membutuhkan teman untuk menuntut ilmu. Teman yang satu visi, satu misi, satu semangat, yang dia juga berkeinginan untuk sampai kepada ilmu tadi sehingga ketika kita dalam keadaan lemah melihat teman tersebut dalam keadaan semangat kita pun ikut bersemangat. Ketika kita dalam keadaan lemah, dia menasehati kita, menggandeng kita, ayo terus kita melangkah supaya kita sampai kepada ilmu tadi. Kita butuh dan memerlukan teman-teman yang seperti itu.Maka termasuk pengagungan kita terhadap ilmu, jangan kita sembarangan dalam mencari teman. Kita harus mencari teman-teman yang memang satu tujuan, satu semangat.لِتُعِينَه هٰذه المعاشرة علىٰ تحصيل العلم والاجتهاد في طلبهSupaya pertemanan ini menolong dia, membantu dia untuk mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.Berarti sebaliknya, kalau kita memilih sembarang teman, kita mendekati teman-teman yang malas misalnya, teman-teman yang tidak punya semangat untuk memahami, tidak punya semangat untuk bertanya, tidak punya semangat untuk menghafal, maka ini berarti kurang pengagungan kita terhadap ilmu. Kalau kita memang benar-benar mengagungkan ilmu, carilah teman-teman yang sama-sama mengagungkan ilmu, sama-sama semangat dalam menuntut ilmu.والزَّمالة في العلم إن سَلِمت من الغوائل نافعةٌ في الوصول إلى المقصودDan pertemanan di dalam ilmu kalau selamat dari perkara-perkara yang merusaknya, maka akan bermanfaat. Jadi kalau kita benar dalam mencari teman bukan hanya sembarangan tapi kita pilih mana teman yang memang semangat dalam menuntut ilmu. Kalau selamat pertemanan tersebut dari kerusakan, itu akan bermanfaat bagi kita dalam menyampaikan kita kepada maksud, yaitu yang akan membantu kita, memudahkan kita untuk sampai kepada ilmu.Berarti sebaliknya, teman yang tidak baik maka ini yang akan menghalangi kita dari ilmu. Ini akan memperlambat kita dari ilmu dan menjadikan kita tidak sampai kepada cita-cita kita untuk menjadi seorang ahlul ‘ilm.ولا يَحسُنُ بقاصد العا إلَّ ٱنتخاب صحبةٍ صالحةٍ تُعينه؛ فإنَّ للخليل في خليله أثرًاMaka tidak sepantasnya bagi orang yang mengejar sesuatu yang tinggi, cita-cita yang mulia, tidak pantas baginya kecuali mencari pertemanan-pertemanan yang shalehah yang akan membantu dia, karena kata beliau, kekasih kepada kekasihnya itu memiliki pengaruh, atau seorang kekasih atau teman dekat, orang yang sangat dia cintai, maka ini memiliki pengaruh terhadap kekasihnya atau orang yang sangat dia cintai.روى أبو داود والتِّرمذيُّ عن أبي هريرة أنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: الرَّجل علىٰ دين خليله، فلينظرْ أحدكم من يُخالِلAbu Daud dan juga Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Seseorang itu di atas agama khalilnya. Khalil itu adalah bukan hanya sekedar teman, tapi dia adalah teman yang sangat-sangat dekat, teman yang sangat dia cintai.Maka qaidah (rumusnya) seseorang, agama dia, ketaatan dia, kualitas agama dia, itu sama dengan kualitas agama orang yang sangat dia cintai (khalilnya), karena tidak mungkin dia sangat mencintai orang tersebut kecuali ada memang persamaan yang banyak diantara dua orang tadi. Karena ada persamaan yang banyak diantara dua orang tadi, maka akhirnya dia mencintai dan sangat mencintai sehinggaالرَّجل علىٰ دين خليلهSeseorang itu berada di atas agama khalilnya.فلينظرْ أحدكم من يُخالِلMaka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat.Masing-masing dari kita melihat siapa teman dekat Ana, siapa orang yang paling Ana cintai yang Ana kadang menyampaikan kepadanya sesuatu yang menjadi rahasia Ana, siapa dia itulah Antum. Kalau orang tersebut adalah orang yang shaleh, orang yang semangat, maka itulah Antum. Tapi kalau orang tersebut adalah orang yang jauh dari agama, jauh dari ketaatan kepada Allāh ﷻ, maka itulah kurang lebih diri kita.فلينظرْ أحدكم من يُخالِلMaka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan khalil.Ini menunjukkan bahwasanya khalil (teman dekat) itu sangat berpengaruh kepada teman dekatnya. Kalau kita memang ingin sampai kepada ilmu, sampai kepada cita-cita kita yang tinggi untuk mendapatkan ilmu, maka hendaklah kita mencari teman-teman yang shaleh.قال الرَّاغب الأصفهانيُّ: ليس إعداء الجليس لجليسه بمقاله وفعاله فقط، بل بالنَّظر إليهBerkata Ar-Raghib Al-Ashfahaniy, Tidaklah penularan teman duduk kepada teman duduknya hanya dengan ucapan dan perbuatan saja.Seseorang duduk bersama orang lain bisa tertular karena sebab ucapan temannya atau bisa tertular dengan sebab perbuatan temannya.Kata Ar-Raghib bukan hanya ucapan dan juga perbuatan saja,بل بالنَّظر إليهBahkan dengan hanya melihat saja itu bisa menular.Teman duduknya belum berbicara dan belum bergerak, dia hanya melihat tapi dia adalah teman duduk yang baik misalnya, teman duduk yang shaleh dia belum berbicara, belum bergerak apa-apa, hanya sekedar dilihat itu sudah mempengaruhi kita. Ini adalah orang yang shaleh Ana harus demikian dan demikian, sudah mempengaruhi kita padahal kita hanya sekedar melihat dia dan dia belum berbicara belum berbuat.Sebaliknya orang yang rusak dan dia menjadi teman duduk kita, sekedar kita melihat dia juga kita akan bisa terpengaruh dengan orang tersebut padahal dia belum berbicara, padahal dia belum berperilaku, hanya sekedar kita melihat orang yang rusak tadi maka ini bisa mempengaruhi.Kalau memang demikian keadaan teman duduk, teman akrab, maka di sini perlu kita memperhatikan siapa teman akrab kita dalam menuntut ilmu. Ingat sesuatu yang akan kita cari ini adalah suatu yang sangat mulia, benar-benar kita harus menyeleksi siapa teman yang bisa kita jadikan benar-benar seorang sahabat yang bersama-sama berjalan untuk mendapatkan ilmu.وإنَّما يُختار للصُّحبة من يُعاشِر للفضيلة لا للمنفعة ولا للذَّةDan sesungguhnya dipilih untuk menjadi seorang teman, orang yang kita bergaul dengannya karena keutamaannya.Cara mencari teman yang baik adalah kita memilih diantara mereka seorang teman yang kita jadikan teman karena keutamaannya. Misalnya keutamaannya, dia semangat untuk menuntut ilmu, dia memperhatikan ilmunya, dia menghafal, dia beradab, dia terlihat orang yang mengagungkan ilmu, berarti ini kita mengambil dia sebagai seorang teman karena keutamaan dia.لا للمنفعة ولا للذَّةBukan karena manfaat.Mengambil seseorang sebagai teman karena manfaatnya, yaitu karena kita ingin mengambil manfaat dari dia karena dia adalah seorang yang kaya misalnya, akhirnya kita menjadikan dia sebagai teman, ini berarti berteman karena kita ingin mengambil manfaat dari dia, ini jangan sampai demikian.ولا للذَّةDan jangan sampai kita mengambil teman karena kita merasa nikmat ketika dekat dengan orang tersebut.Mungkin orangnya suka guyon misalnya kemudian kita akhirnya menjadikan dia sebagai teman. Seharusnya kita mencari teman karena keutamaan dia, contohnya adalah dia adalah penuntut ilmu yang memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu.فإنَّ عقْد المعاشرة يُبرَم علىٰ هٰذه المطالب الثَّلاثة: الفضيلة، والمنفعة، واللَّذَّةKarena pertemanan itu biasanya berdasarkan tiga perkara ini, ada pertemanan karena fadhilah (keutamaan) teman tersebut, ada pertemanan karena manfa’ah yaitu karena teman tersebut kita bisa ambil manfaat dari dia karena dia punya uang misalnya,واللَّذَّةDan seseorang yang kita jadikan teman karena kita merasa nikmat ketika berteman dengan orang tersebut, yaitu karena dia suka menghibur misalnya.Maka yang bermanfaat adalah kalau kita mengambil seseorang menjadi teman karena keutamaan yang dia miliki. Adapun pertemanan yang berdasarkan manfaat dan juga kelezatan atau kenikmatan maka ini terputus dengan sebab berhentinya manfaat yang kita ambil dan dengan sebab kita sudah tidak bisa merasakan kenikmatan bersama dia.Kemudian beliau mengatakan,ذكره شيخ شيوخنا محمدُ الخضرِ بنُ حسينٍ في رسائل الإصلاحDisebutkan oleh guru dari guru-guru kami Muhammad Al-Khadhir Ibn Husein dalam Rasā’il Al-Ishlah, ini maksudnya adalah tentang masalah bahwasanya pertemanan ini terkadang karena keutamaan, terkadang karena manfaat, terkadang karena kenikmatan, ini disebutkan oleh guru dari guru-guru beliauفانتخب صديق الفضيلة زميلً؛ فإنَّك تعْرَفُ بهMaka pilihlah seseorang menjadi teman bagimu karena keutamaan yang dia miliki, maka engkau akan dikenal dengannya.Yaitu ketika kita memilih seorang teman yang mulia, dia memiliki fadhilah, memiliki keutamaan, maka kita ini akan dikenal baik meskipun kita mungkin tidak sebaik orang tersebut tapi karena kita adalah teman orang yang memiliki keutamaan tadi maka kita akan dikenal sebagai orang yang baik, karena ini adalah temannya si fulan dan si fulan adalah seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh, maka kita akan dikenal juga sebagai seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh.و قال ابنُ مانعْ في إرشاد الطلاب – وهو يوصي طالب العلمDan berkata Ibnu Mani’ rahimahullāh di dalam kitab beliau Irsyaduth Thullab dan beliau dalam keadaan memberikan wasiat kepada penuntut ilmu.ويَحْذَر كلَّ الحذر من مخالطة السُّفهاءHendaklah seorang penuntut ilmu waspada dan benar-benar waspada dari berteman dengan para sufaha’ (orang-orang yang yang mereka tidak menjaga dirinya, melakukan kemaksiatan melakukan perkara-perkara yang tidak bermanfaat).وأهلِ المجون والوقاحةDan orang-orang yang rusak.وسيِّئي السُّمعةDan orang-orang yang jelek atau dikenal jelek oleh manusia/masyarakat.والأغبياءDan orang-orang yang ghabi.Kurang lebih maknanya adalah orang-orang yang tolol, tidak bisa menjaga waktunya atau melakukan perkara-perkara yang sangat tidak bermanfaat, melihat sesuatu yang tidak bermanfaat atau melakukan aktivitas-aktivitas yang sama sekali tidak ada manfaatnya.والبلَداءIni hampir sama maknanya dengan al-aghbiya’.فإنَّ مخالطتهم سبَبُ الحرمانِ وشقاوةِ الإنسانKarena bercampur dengan mereka, kita tidak menjaga diri kita sebagai seorang penuntut ilmu, tidak menjaga pergaulan kita, dan kemudian kita menyamakan diri kita dengan mereka, orang-orang yang memang tidak memperhatikan waktunya, tidak memperhatikan kehormatan dirinya, terjerumus dan bergelimang dengan kemaksiatan, dikenal jelek oleh masyarakat, maka bercampur baur dengan mereka ini menjadi sebab kita tidak mendapatkan ilmu, karena kita menghinakan ilmu, dengan kita tidak menjaga pergaulan kita dengan orang lain ini berarti kita menghinakan ilmu yang kita bawa.وشقاوةِ الإنسانDan ini menjadi kebinasaan dan kecelakaan tersendiri bagi seseorang

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 15 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Enam Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke sepuluh dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau berkata,السَّادِسُ: مَنِ اسْتَهْزَأَ بِشَيْءٍ مِنْ دِيْنِ اللهِ، أَوْ ثَوَابِهِ، أَوْ عِقَابِهِ، كَفَرَوَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْYang ke enam:“Barangsiapa yang mengejek sesuatu dari agama Allah atau pahala-Nya atau siksaan-Nya, sungguh dia telah kufur.Dalilnya firman Allah yang artinya: Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, kalian mengejek? Janganlah minta udzur, sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.”Beliau mengatakan, مَنِ اسْتَهْزَأَ بِشَيْءٍ مِنْ دِيْنِ اللهِ،Barangsiapa yang mengejek sesuatu yang berkaitan dengan agama Allah, seperti Allah Azza wa Jalla yang mensyari’atkan agama Islam, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang membawa agama Islam, ayat-ayat Allah yang merupakan sumber agama Islam, perintah-perintah dan larangan-larangan, para sahabat yang mereka adalah orang pertama yang menerima agama Islam dari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para ulama yang mereka adalah pewaris para Nabi, dll.Beliau berkata setelahnya, أَوْ ثَوَابِهِ، أَوْ عِقَابِهِ atau mengejek pahala Allah atau siksaan-Nya, seperti mengejek surga dan kenikmatan di dalamnya, dan mengolok-olok neraka dan berbagai siksaan di dalamnya.Seorang muslim apabila di dalam hatinya ada keimanan, maka keimanan tersebut akan mendorong dia untuk mengagungkan apa yang berkaitan dengan agamanya. Dia akan mengagungkan Allah, Dzat yang menurunkan agama Islam.Allah berkata,(وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ)[Surat Al-Muddaththir 3]“Dan Rabb-mu hendaklah engkau agungkan.”Dan Allah berfirman,وَكَبِّرۡهُ تَكۡبِیرَۢا[Surat Al-Isra’ 111]“Dan hendaklah engkau mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan.”Mengagungkan Allah diantaranya dengan hanya menyembah kepada Allah. Dan juga menyifati Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan sesuai dengan keagungan-Nya, dll.Barangsiapa yang menyekutukan Allah, sungguh dia telah merendahkan Allah, karena dia menyamakan makhluk yang lemah dengan Al Khaliq, Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.Barangsiapa yang menyifati Allah dengan kekurangan, sungguh dia telah merendahkan Allah. Seperti orang-orang yang meyakini bahwa Allah memiliki anak. Sebagaimana keyakinan orang-orang musyrikin.Allah berfirman,(وَیَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَـٰتِ سُبۡحَـٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا یَشۡتَهُونَ)[Surat An-Nahl 57]“Dan mereka menjadikan bagi Allah, anak-anak wanita. Maha Suci Allah. Dan bagi mereka apa yang mereka senangi (anak laki-laki).”Orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka juga mengatakan bahwasanya Allah memiliki anak.Allah berfirman,وَقَالَتِ ٱلۡیَهُودُ عُزَیۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَـٰرَى ٱلۡمَسِیحُ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ[Surat At-Tawbah 30]“Orang-orang Yahudi mengatakan ‘Uzair adalah anak Allah dan orang-orang Nasrani mengatakan Isa Al Masih adalah anak Allah.”Diantara contoh merendahkan Allah, apa yang diucapkan orang-orang Yahudi ketika mereka menyifati Allah dengan kefakiran.Allah berfirman,لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِیرࣱ وَنَحۡنُ أَغۡنِیَاۤءُۘ[Surat Ali Imran 181]“Allah telah mendengar ucapan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, sesungguhnya Allah adalah fakir dan kami adalah orang-orang kaya.”Mereka menyifati Allah. Mereka menyifati bahwa tangan Allah terbelenggu.Allah berfirman,وَقَالَتِ ٱلۡیَهُودُ یَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ غُلَّتۡ أَیۡدِیهِمۡ وَلُعِنُوا۟ بِمَا قَالُوا۟ بَلۡ یَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ یُنفِقُ كَیۡفَ یَشَاۤءُۚ[Surat Al-Ma’idah 64]“Dan berkata orang-orang Yahudi, tangan Allah terbelenggu. Tangan merekalah yang terbelenggu. Dan mereka dilaknat dengan sebab apa yang mereka ucapkan. Bahkan kedua tangan Allah terbentang. Dia berinfak sesuai dengan cara yang dia kehendaki.Seseorang yang di dalam hatinya ada keimanan, dia akan menghormati ayat-ayat Allah.Ayat-ayat Allah ada dua:1. Ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta ini.2. Ayat-ayat sam’iyyah. yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di dalam kitab-Nya, seperti yang ada di dalam Al Qur’an.Kewajiban seorang muslim adalah menghormati ayat-ayat Allah dan tidak menghinakannya.Allah berfirman,وَلَا تَتَّخِذُوۤا۟ ءَایَـٰتِ ٱللَّهِ هُزُوࣰاۚ[Surat Al-Baqarah 231]“Dan janganlah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai senda gurau.”Kewajiban seorang muslim adalah menghormati Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Allah berfirman,فَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ مَعَهُۥۤ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ[Surat Al-A’raf 157]“Maka orang-orang yang beriman dengan Beliau dan mereka menghormati Beliau dan menolong Beliau dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersama Beliau, maka merekalah orang-orang yang beruntung.Dan diantara bentuk penghormatan kita kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah menghormati istri-istri Beliau yang mereka merupakan ibu-ibu kita dan menghormati para sahabat Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.Beberapa dalīl yang menunjukkan tentang apa yang beliau tetapkan, apa yang beliau simpulkan bahwasanya bid’ah itu lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar.Kalau yang di maksud dengan الكبائر di sini, kira-kira الكبائر dengan makna yang umum atau makna khusus?Kalau di sebutkan bid’ah, بدعة أشد من الكبائر isyarat bahwasanya yang di maksud dengan الكبائر adalah yang berada di bawah bid’ah, yaitu kabāir dengan makna khusus.Mustaqim tidak seandainya kabāir di sini, kita bawa kepada makna yang umum? Laa yastaqim. Bagaimana bid’ah lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar termasuk di antaranya adalah syirik.Laa, dalam hadīts disebutkan bahwasanya syirik adalah:أعظم الذنوب عند الله“Dosa yang paling besar di sisi Allāh adalah kesyirikan”Thayyib, dari sini kita tahu bahwasanya makna kabāir di sini adalah makna yang khusus bukan makna yang umum. Beliau mendatangkan beberapa dalīl dari Al-Qur’ān dan juga beberapa dalīl dari Sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Adapun dalīl dari Al-Qur’ān, maka yang pertama adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:وقال الله تعالى: إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ“Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik” (QS. An-Nissā:48)Ayat ini, ayat yang pertama yang dibawakan oleh beliau. Beliau ingin tunjukkan dengan ayat ini bahwasanya bid’ah, itu lebih besar daripada dosa-dosa besar.Ini perlu ta’amul yang demikian, karena ayatnya di sini berbicara tentang syirik, padahal di dalam bab ini yang beliau sebutkan hanya bid’ah dengan dosa-dosa besar.Di dalam judul bab nya tidak di sebutkan tentang syirik, kalau di sebutkan di dalam bab nya, di sebutkan tentang syirik أن شرك أشد من الكبائر, pas kita mendatangkan firman Allāh إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ, itu kalau bab nya bab باب ماجاء أن أن شرك أشد من الكبائر.Itu kalau kalimatnya adalah الشرك karena kita ingin menjelaskan bahwasanya syirik ini adalah yang paling besar sehingga dia tidak diampuni dosanya.Adapun dosa besar yang lain masih,إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”Yang disebutkan dalam ayat ini yang pertama adalah syirik yang kedua adalah yang ada di bawah syirik (bid’ah dan juga kabāir), itulah yang ada di bawah syirik.Thayyib, berarti yang disebutkan di sini adalah syirik dan apa yang ada di bawah syirik.Lalu kenapa beliau di sini mendatangkan ayat ini padahal di sini perbandingannya adalah antara syirik dengan apa yang ada di bawah syirik. Dan apa yang ada di bawah syirik masuk di dalamnya bid’ah dan juga kabāir.Kalau yang dibandingkan adalah syirik dengan apa yang ada di bawah syirik, jelas. Tapi di sini beliau mendatangkan ayat ini di dalam bab ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر (bid’ah itu lebih dahsyat daripada dosa besar).Maka sebagian surah menjelaskan bahwasanya bid’ah kalau tadi kita lihat di sini, urutannya syirik, bid’ah dengan kabāir, maka dia memiliki sifat yang menjadikan dia lebih dekat kepada syirik daripada kepada dosa besar.Dia memiliki sifat yang menjadikan dia lebih dekat dengan syirik daripada kepada dosa-dosa besar.Thayyib, apa di antara persamaannya?Disebutkan bahwasanya di antara persamaannya bahwasanya orang yang melakukan syirik ketika dia melakukan syirik niatnya adalah ibadah. Orang melakukan sesuatu di depan patung yesus (misalnya) ketika dia melakukan kesyirikan, niatnya adalah ibadah dan makna ini juga ada di dalam bid’ah. Karena orang yang melakukan bid’ah inginnya adalah ingin beribadah.Baik, adapun kabāir, ketika dia melakukan dosa besar tadi, orang yang melakukan kabāir maka niatnya bukan ibadah, dia memahami dan mengetahui bahwasanya itu adalah dosa. Dia melacur, dia minum minuman keras tidak ada niat apa? Ibadah.Dia paham bahwasanya itu adalah dosa, berbeda dengan bid’ah, maka niat orang yang melakukannya adalah ibadah, dan ini makna juga ada di dalam orang yang melakukan kesyirikan.Sehingga dari sisi ini, bid’ah ini lebih dekat dan memiliki persamaan dengan kesyirikan, dari sisi yang lain orang yang melakukan bid’ah seakan-akan dia telah menjadikan dirinya sebagai musyari’, menjadikan dirinya sebagai yang mensyari’atkan.Dia menentukan ini di sunnahkan, ini di wajibkan, ini di syari’atkan. Itu adalah orang yang mumtadi’ atau orang yang melakukan bid’ah dan orang yang melakukan demikian berarti dia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tauhīd, masuk di dalam tauhīd al-uluhiyyah yaitu meng-Esa-kan Allāh di dalam masalah hukum syar’i.Sebagaimana disebutkan oleh syaikh Abdul Muhsin ketika beliau membantah sebagian jama’ah yang mereka menambah di dalam pembagian tauhīd dengan tauhīd al-hakimiyyah. Beliau mengatakan bahwasanya, tidak perlu menambah dengan tauhīd al-hakimiyyah, karena al-hakimiyyah di sini, (hukum) di sini ada dua.Biasa artinya adalah hukum syar’i atau hukum kauni, kalau dia adalah hukum kauni maka ini masuk di dalam tauhīd rububiyyah. Hukum kauni maksudnya adalah diciptakannya alam, hidup dan juga meninggal, digerakkannya matahari dan seterusnya, maka ini adalah hukum kauni.Kita Esa-kan Allāh di dalam hukum kauni, berarti ini masuk di dalam apa? Rububiyyah.Tapi kalau yang di maksud adalah hukum yang syar’i maka ini adalah masuk di dalam tauhīd uluhiyah.Baik. Orang yang melakukan bid’ah berarti dia bertentangan dengan tauhīd al-uluhiyyah sehingga dia digabungkan (di samakan) dengan kesyirikan. Lebih dekat kepada syirik daripada kepada kabāir.Sehingga beliau mendatangkan ayat ini,إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُBid’ah ini lebih dekat kepada kesyirikan daripada kabāir karena masing-masing dari syirik maupun bid’ah itu maksudnya adalah apa? Adalah ingin taqarrub kepada Allāh, ingin beribadah kepada Allāh.Dari sisi ini menunjukkan bahwasanya bid’ah lebih أشد daripada kabāir, lebih dahsyat lebih besar dosanya daripada dosa besar yang besar, karena sama-sama pelakunya melakukan bid’ah maupun kesyirikan dan niatnya adalah bertaqarrub kepada Allāh Azza wa Jalla.Itu adalah sebab kenapa beliau mendatangkan ayat ini, ingin menunjukkan kepada kita bahwasanya bid’ah ini lebih dekat kepada kesyirikan daripada dosa-dosa besar.

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →