🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 72 | Perjanjian yang Allāh Ambil atas Nabi Adam dan Keturunannya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَالْمِيثَاقُ الَّذِي أَخَذَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ آدَمَ وَذُرِّيَّتِهِ حَقٌّDan perjanjian yang Allāh subhanahu wa ta’ala ambil dari Adam dan juga keturunannya maka ini adalah Haq.Diantara akidah Ahlussunnah wal jamaah bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala dahulu telah mengambil sebuah perjanjian dari Nabi Adam alaihissalam sebagai bapak manusia dan juga anak keturunan beliau ini adalah hak ini adalah benar adanya karena yang demikian berdasarkan dalil yang shahih bahkan dalilnya adalah dalil yang mutawatir secara makna sebagaimana ini dijelaskan oleh syekh Albani rahimahullah di dalam silsilah Al Hadits shahihah berdasarkan semua hadits yaitu hadits Abdullāh bin Abbas yang diangkat sampai Nabi ﷺ di mana beliau ﷺ mengatakan,إنَّ اللَّهَ تعالى أخذَ الميثاقَ من ظَهرِ آدمَ عليهِ السَّلامُ بنعمانَ يومِ عرفةَ فأخرج من صلبِه كلَّ ذرِّيَّةٍ ذراها فنثرها بين يدَيه كالذر ثم كلَّمهم قُبُلًا قال أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىNabi ﷺ mengatakan, sesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengambil perjanjian dari punggung Adam di hari Arafah kemudian Allāh subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang sulbinya, Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau Allāh subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang Sulbinya langsung dunia Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau.Ini sesuatu yang harus kita yakini berdasarkan hadits yang shahih Allāh semata mengeluarkan seluruh keturunan Nabi Adam alaihissalam saat ini termasuk di antaranya kita meskipun kita tidak mengingatnya tapi inilah yang digambarkan oleh Nabi ﷺ,فنثرها بين يدَيهKemudian Allāh subhanahu wa ta’ala meletakkan mereka di depan Nabi Adam alaihissalam,كالذرSeperti semut-semut yang kecil meletakkan keturunan Nabi Adam alaihissalam di depan Nabi Adam alaihissalam seperti كالذر itu seperti semut kecil yang banyak dan semuanya adalah keturunan nabi Adam alaihissalam manusia kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berbicara kepada mereka semuanya dan mengatakan,أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْBukankah Aku adalah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian.Sehingga wajib bagi kalian untuk menyembah Allāh saja dan tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun di sini Allāh subhanahu wa ta’ala mengambil Misaq Allāh mengambil perjanjian dengan Nabi Adam alaihissalam dan juga seluruh keturunannya,أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْBukankah Aku adalah Rabb kalian ?Apa jawab mereka?بَلَىMereka mengatakan iya, ya Allah semuanya mengakui bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Rabb mereka, pengakuan yang merupakan janji dari mereka untuk menyembah kepada Allāh saja tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.Ini adalah Misaq, ini perjanjian yang berat berarti di sana sudah ada janji yang Allāh subhanahu wa ta’ala dari Nabi Adam alaihissalam dan juga keturunannya dan janji yang harus kita tepati maka muwahidun / orang-orang yang bertauhid orang-orang Islam dari semenjak umat nabi-nabi terdahulu dan yang mengikuti Nabi ﷺ merekalah orang-orang yang menempati janji mereka adalah orang-orang yang menempati janji karena kita sudah mengakui di hadapan Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kita yang kita harus mengesakannya mentauhidkan tidak boleh menyekutukannya Dia dengan sesuatu apa ketika diperintahkan untuk menyempurnakan janji kepada Allāh subhanahu wa ta’ala.Setelah perjanjian tersebut Allāh subhanahu wa taala bukan hanya mencukupkan diri dengan perjanjian yang sudah Allāh ambil kepada mereka dahulu, tapi Allāh subhanahu wa taala mengutus para rasul mengingatkan manusia atas perjanjian tersebut۝ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…[QS An Nahl 36]Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya menyembah kalian kepada Allāh dan menjauhi Thagut. Ini adalah isi perjanjian yang Allāh ambil dari mereka, Allāh utus para utusan dan jumlah mereka luar biasa banyak disebutkan dalam hadits jumlah mereka ada 124.000, 300 lebih diantaranya adalah sebagai Rasul dan Allāh subhanahu wa ta’ala tidaklah menurunkan kitab kecuali untuk mengingatkan manusia juga tentang Tauhid,كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ۝ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ[QS Hud 1,2]Kitab yang diqaskan ayat-ayatnya dan diperinci dari Allāh subhanahu wa ta’ala apa tujuannya?أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَSupaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allāh subhanahu wa ta’ala semata.Tauhid, Islam ini adalah janji yang sudah Allāh ambil dari kita semuanya ini adalah hikmah diciptakannya Jin dan juga manusia hikmah diutusnya para Rasul hikmah diturunkan kitab-kitab Allāh subhanahu wa ta’ala, maka kita sebagai seorang muslim membenarkan Misaq tersebut jangan kita seperti orang-orang yang mendahulukan akalnya bagaimana dan bagaimana dikeluarkan semuanya dari tulang sulbi adab, berupa semut atau berupa dzar kecil-kecil seperti semut, ini ucapan orang-orang yang kurang akal bukan orang yang cerdas akalnya adaupun orang yang shahih akalnya maka dia menyadari, akalnya menyadari bahwasanya akal dia itu penuh dengan kekurangan itu orang yang benar akalnya, kalau memang itu kabar yang Shahih dari Nabi ﷺ maka akal yang shahih akan mendengarkannya, akal yang shahih menyadari bahwasanya dirinya adalah penuh dengan kekurangan.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 22 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Sembilan Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh dua dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Risalah Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah umum untuk seluruh manusia dan jin. Apabila ada jin yang mendengar kedatangan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka mereka wajib untuk mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Allah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa ada sebagian jin yang datang kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan mendengar Al Qur’an dari Beliau.Allah berfirman,(وَإِذۡ صَرَفۡنَاۤ إِلَیۡكَ نَفَرࣰا مِّنَ ٱلۡجِنِّ یَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوۤا۟ أَنصِتُوا۟ۖ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا۟ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِینَ)[Surat Al-Ahqaf 29]“Dan ketika kami palingkan kepadamu serombongan dari jin yang mereka mendengar Al Qur’an yang engkau baca. Ketika mereka menghadirinya, mereka mengatakan ‘Hendaklah kalian diam.’ Ketika Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam selesai membaca Al Qur’an tersebut, maka jin-jin tersebut pergi kepada kaum mereka dalam keadaan memberikan peringatan.”(قَالُوا۟ یَـٰقَوۡمَنَاۤ إِنَّا سَمِعۡنَا كِتَـٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقࣰا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡهِ یَهۡدِیۤ إِلَى ٱلۡحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِیقࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ)[Surat Al-Ahqaf 30]“Mereka berkata, ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan apa yang sebelumnya, yang memberikan petunjuk kepada kebenaran, dan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.”Para jin tersebut, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an apabila dipelajari dan diamalkan, akan membimbing seseorang kepada jalan yang lurus.Kemudian mereka mengatakan,(یَـٰقَوۡمَنَاۤ أَجِیبُوا۟ دَاعِیَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ یَغۡفِرۡ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَیُجِرۡكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِیمࣲ)[Surat Al-Ahqaf 31]“Wahai kaum kami, hendaklah kalian menjawab penyeru dari Allah (Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam) dan hendaklah kalian beriman dengan Beliau, niscaya Allah mengampuni dosa kalian dan akan menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih.”Ini menunjukkan kepada kita tentang kewajiban jin untuk beriman dengan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan beribadah kepada Allah dengan syari’at Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Setelah ini semua, apabila ada seseorang di zaman sekarang meyakini bahwa sebagian manusia boleh untuk tidak mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, boleh untuk tidak beriman dengan Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, boleh untuk keluar dari syari’at Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah keluar dari agama Islam.Kenapa demikian?Karena dia telah mendustakan kabar Allah dan karena dia telah mendustakan kabar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Masuk di dalam golongan ini sebagian manusia yang mengaku telah mencapai derajat tertentu di dalam agama, maka dia sudah tidak terikat dengan perintah dan larangan, boleh baginya tidak sholat lima waktu, tidak puasa Ramadhan, meminum minuman keras, berzina, dll. Dan mereka mengatakan bahwasanya syari’at hanyalah untuk orang-orang yang memiliki derajat yang rendah di dalam agama.Barangsiapa yang meyakini keyakinan ini, maka dia telah keluar dari agama Islam.Seharusnya seorang muslim semakin mengenal Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya, maka semakin rajin beribadah kepada Allah.Orang yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling takut kepada Allah.Allah Subhānahu wa Ta’āla memuji para ulama karena mereka mengenal Allah dan mengenal agamanya.إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ[Surat Fatir 28]“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”Di dalam hadits, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Beliau adalah orang yang paling mengenal Allah. [HR Al Bukhari]Dan Beliau juga mengabarkan bahwa Beliau adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah. [HR Muslim]Disebutkan di dalam hadits bahwa Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam sholat malam sampai kaki Beliau pecah-pecah. Kemudian Beliau ditanya tentang perkara ini, maka Beliau mengatakan,أَفَلاَ أكُونَ عبْداً شكُوراً؟“Bukankah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” [HR Bukhari dan Muslim]Seseorang semakin mengenal Allah, semakin mengenal agamanya, harusnya semakin takut kepada Allah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah kepada-Nya, bukan semakin jauh dari Allah.Kemudian Syeikh mengatakan,كَمَا وَسِعَ الخَضِرُ الخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيهِ السَّلَامُفَهُوَ كَافِرٌ“Sebagaimana Nabi Khadhir boleh keluar dari syari’at Nabi Musa, maka dia telah kafir.”Maksudnya adalah kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al Kahfi, yang ringkasnya bahwa Nabi Khadhir tidak mengikuti syar’iat Nabi Musa ‘alaihissalam. Nabi Khadhir merusak sebagian kapal orang-orang miskin, membunuh seorang anak kecil yang tidak berdosa, kemudian ketika keduanya (Nabi Musa dan Nabi Khadhir) mampir ke sebuah desa dan penduduknya tidak menghormati beliau berdua, tidak menjamu beliau berdua, maka Nabi Khadhir ‘alaihissalam justru memperbaiki sebuah dinding yang sudah hampir roboh.Maka kita katakan ini adalah sebuah alasan yang tidak benar dan alasan yang bathil, karena Nabi Khadhir ‘alaihissalam bukan termasuk Bani Israil. Sedangkan Nabi Musa ‘alaihissalam hanya diutus kepada Bani Israil.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 71

Senin, 6 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 71Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keempat Hadist Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib (Bagian 3)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Sifat dan Karakteristik Kaum Khawarij​Nabi ﷺ telah mensifati orang-orang Khawarij ini di dalam hadits beliau, di antaranya:​Berusia Pemuda:Kebanyakan orang-orang Khawarij rata-rata adalah pemuda (berusia 20, 18, 25 tahun), adapun yang sudah tua jarang.Dangkal Akalnya (سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ):Mereka adalah orang-orang yang sangat dangkal akal mereka, kurang ilmu, dan kurang akal. Kondisi inilah yang akhirnya membuat mereka mudah sekali terkena syubhat.Ancaman Nabi ﷺ terhadap Khawarij​Meskipun kondisi mereka demikian, lihat bagaimana Nabi ﷺ mengancam orang-orang tersebut dengan sabdanya:​فأينما لقيتموهم فاقتلوهم​Artinya:“Dimana saja kalian bertemu dengan mereka maka hendaklah kalian bunuh mereka.”Ketentuan Hukum dan Otoritas Pelaksanaan Perintah Pembunuhan​Maksud Perintah فاقتلوهم (Hendaklah Kalian Bunuh Mereka):Perintah ini ditujukan kepada imam kaum muslimin (pemimpin/pemerintah kaum muslimin) bersama pasukannya dan kaum muslimin yang lainnya (di bawah komando penguasa).​Larangan Eksekusi secara Individu:Peperangan dan eksekusi ini bukan dilakukan secara sendiri-sendiri atau individu. Seandainya di dekat rumah kita ada orang Khawarij, kita tidak boleh membunuhnya secara pribadi dengan alasan dia adalah orang Khawarij dan ada hadits tersebut.​Alasan Larangan Membunuh secara Pribadi:Jika tidak diserahkan kepada pemerintah, maka akan terjadi kekacauan. Bisa saja seseorang membunuh orang lain karena urusan pribadi, kemudian membuat alasan/dalih bahwa orang yang dibunuhnya adalah seorang Khawarij (yang ingin memberontak kepada penguasa). Oleh karenanya, yang berhak membunuh adalah pemerintah dan penguasa, atau jika kita diperintahkan oleh penguasa dalam peperangan untuk memerangi dan membunuh mereka, maka hal demikian tidak mengapa.Fitnah Khawarij pada Masa Ali bin Abi Thalib​Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu melaksanakan hadits Nabi ﷺ ini karena kaum Khawarij keluar di zaman beliau.​Alasan Khawarij Mengkafirkan Sahabat:Kaum Khawarij mengkafirkan Ali bin Abi Thalib dan juga mengkafirkan Muawiyah bin Abi Sufyan dengan alasan bahwasanya mereka berdua tidak berhukum dengan hukum Allāh, melainkan berhukum dengan hukum manusia. Hal ini karena mereka mewakilkan orang lain di dalam musyawarah (pihak ini mewakilkan A dan yang lain mewakilkan B).​Dalil yang Digunakan Khawarij:Orang-orang Khawarij menganggap musyawarah/perwakilan ini sebagai bagian dari berhukum dengan selain hukum Allāh, kemudian mereka membacakan ayat:​۞ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ​Artinya:“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allāh, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”(QS. Al-Maidah: 44)​Berdasarkan ayat ini, menurut orang-orang Khawarij, mereka tidak ragu untuk mengkafirkan Ali, Muawiyah, serta setiap orang yang setuju dengan musyawarah tersebut, dan menghukumi bahwa mereka telah keluar dari agama Islām. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memerintahkan kepada pemerintah kaum muslimin, "Maka kalian wahai imam kaum muslimin/pemerintah kaum muslimin kalau mendapatkan unsur golongan ini ditengah-tengah kalian maka bunuhlah mereka."Syahid (Sisi Pendalilan) Bahwa Bid'ah Lebih Dahsyat daripada Dosa Besar​Perbandingan dengan Dosa Besar Lain:Adakah perintah seperti ini pada orang yang melakukan riba? Jika bertemu orang yang melakukan riba apakah ada hadits untuk membunuhnya? Tidak ada haditsnya. Atau jika bertemu dengan orang yang berdusta, apakah diperintah untuk membunuhnya? Tidak.​Letak Kesimpulan Pendalilan:Namun, ketika Nabi ﷺ berbicara tentang orang-orang Khawarij, beliau sampai menyuruh kita (bersama pemerintah dan penguasa kaum muslimin) untuk membunuh mereka. Padahal, pada kemaksiatan biasa dan dosa-dosa besar yang biasa, kita tidak sampai diperintahkan untuk membunuh mereka. Hal ini menunjukkan bahwasanya bid'ah (khususnya bid'ah Khawarij di sini) bahayanya lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar, karena Nabi ﷺ sampai memerintahkan untuk membunuh pelakunya.Kesimpulan​Perintah tegas Nabi ﷺ untuk memerangi dan membunuh kaum Khawarij di mana pun mereka berada—yang pelaksanaannya wajib berada di bawah otoritas pemerintah/penguasa yang sah agar tidak timbul kekacauan—menjadi bukti kuat bahwa bahaya bid'ah jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan dosa-dosa besar biasa (seperti riba atau dusta). Pelaku dosa besar biasa tidak dikenakan perintah hukuman mati/bunuh yang sedemikian rupa, sedangkan kaum Khawarij, yang didominasi oleh pemuda dangkal akal dan mudah terkena syubhat hingga berani mengkafirkan para sahabat (seperti Ali dan Muawiyah) serta memberontak menggunakan dalil Al-Qur'an yang dipahami secara keliru, diperintahkan untuk dibunuh demi menjaga stabilitas dan kesucian agama.

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 21 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Sembilan Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh satu dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah,التَّاسِعُ:مَنِ اعْتَقَدَ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ اتِّبَاعُ النَّبِيِّ ﷺ،وَأَنَّهُ يَسَعُهُ الخُرُوجُ عَنْ شَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ ﷺكَمَا وَسِعَ الخَضِرُ الخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيهِ السَّلَامُفَهُوَ كَافِرٌ“Yang ke sembilan, barangsiapa yang meyakini bahwa sebagian manusia tidak wajib mengikuti Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan bahwa dia boleh keluar dari syari’at Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Nabi Khadhir keluar dari syari’at Nabi Musa ‘alaihissalam, maka dia kafir.”Wajib bagi seluruh manusia semenjak diutusnya Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk beriman kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti risalah Beliau, karena Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, baik orang Arab maupun selain orang Arab, baik ahlul kitab, orang-orang musyrikin, maupun pengikut Nabi sebelumnya.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةࣰ لِّلۡعَـٰلَمِینَ)[Surat Al-Anbiya’ 107]“Dan tidaklah kami mengutusmu Wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّی رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَیۡكُمۡ جَمِیعًا[Surat Al-A’raf 158]“Katakanlah wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasulullah untuk kalian semuanya.”Dan ini adalah keistimewaan Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Adapun para Nabi sebelumnya, maka mereka diutus untuk kaumnya saja.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً“Dahulu seorang Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan aku diutus ke seluruh manusia.” [Muttafaqun ‘Alaihi]Nabi Musa ‘alaihissalam diutus kepada Bani Israil. Nabi Isa ‘alaihissalam diutus kepada Bani Israil. Nabi Shalih ‘alaihissalam diutus kepada Tsamud. Nabi Hud kepada ‘Aad. Nabi Syu’aib diutus kepada Madyan. Nabi Nuh diutus kepada kaumnya.Apabila ada seorang Yahudi yang mengaku beriman dengan Nabi Musa atau seorang Nasrani yang mengaku beriman kepada Nabi Isa, mendengar tentang kedatangan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia wajib mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Apabila dia meninggal dan tidak beriman dengan Beliau, maka dia meninggal dalam keadaan kufur.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ“Tidaklah mendengar kedatanganku, seseorang diantara umat ini, baik seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia meninggal dunia dan tidak beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali dia adalah termasuk penghuni neraka.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim]Bahkan bukan hanya itu. Seandainya sekarang ada seorang Nabi yang masih hidup, maka diwajibkan bagi Nabi tersebut untuk mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh Nabi tersebut melaksanakan syari’atnya sendiri.Allah Subhānahu wa Ta’āla telah mengambil perjanjian dari para Nabi dan mewajibkan mereka untuk mengikuti, beriman, dan menolong Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam apabila menemui Beliau.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِیثَـٰقَ ٱلنَّبِیِّـۧنَ لَمَاۤ ءَاتَیۡتُكُم مِّن كِتَـٰبࣲ وَحِكۡمَةࣲ ثُمَّ جَاۤءَكُمۡ رَسُولࣱ مُّصَدِّقࣱ لِّمَا مَعَكُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِهِۦ وَلَتَنصُرُنَّهُۥۚ قَالَ ءَأَقۡرَرۡتُمۡ وَأَخَذۡتُمۡ عَلَىٰ ذَالِكُم إِصۡرِیۖ قَالُوۤا۟ أَقۡرَرۡنَاۚ قَالَ فَٱشۡهَدُوا۟ وَأَنَا۠ مَعَكُم مِّنَ ٱلشَّـٰهِدِینَ)(فَمَن تَوَلَّىٰ بَعۡدَ ذَ ا⁠لِكَ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ)[Surat Ali Imran 81-82]“Ketika Allah Subhānahu wa Ta’āla mengambil perjanjian dari para Nabi, ‘Seandainya Aku memberikan kepada kalian kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rasul yang membenarkan apa yang kalian bawa, maka kalian harus beriman dengan Rasul tersebut dan kalian harus menolongnya.’Kemudian Allah berkata, ‘Apakah kalian mengakui perjanjian ini dan mengambil perjanjian ini?’ Mereka mengatakan, ‘Kami berikrar.’Allah berkata, ‘Maka saksikanlah, dan Aku bersama kalian, termasuk yang bersaksi.’ Maka barangsiapa yang berpaling dari perjanjian ini, maka mereka adalah orang-orang yang fasik.”Di dalam sebuah hadits, suatu saat Umar bin Khatab radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu membaca sebuah kitab yang beliau dapatkan dari ahlul kitab. Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam marah dan berkata, “Apakah engkau bingung wahai anak Al Khatab?”Kemudian Beliau berkata,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam sekarang ini hidup, niscaya dia tidak boleh kecuali harus mengikuti diriku.” [HR Imam Ahmad dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani Rahimahullah]Oleh karena itu, di akhir zaman ketika Nabi Isa ‘alaihissalam turun ke dunia, maka beliau akan turun sebagai salah satu diantara umat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, mengikuti syar’iat Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, dan tidak berhukum dengan Injil.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 71 – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali bin Abi Thalib (Bagian 3)Rasulullah ﷺ bersabda:"Di mana saja kalian menemui mereka (Khawarij), maka bunuhlah mereka."Poin-poin penting:Khawarij umumnya adalah pemuda yang dangkal ilmu dan akalnya, sehingga mudah terpengaruh syubhat.Perintah memerangi Khawarij ditujukan kepada imam/pemerintah kaum muslimin beserta pasukannya, bukan kepada setiap individu.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu melaksanakan perintah ini ketika memerangi Khawarij yang memberontak.Khawarij mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena salah memahami QS. Al-Ma'idah: 44, sehingga menganggap tahkim sebagai berhukum dengan selain hukum Allah.Salah satu ciri Khawarij adalah mudah mengkafirkan kaum muslimin tanpa ilmu dan pemahaman yang benar.Tidak boleh bertindak sendiri terhadap orang yang dianggap Khawarij. Penindakan adalah wewenang pemerintah agar tidak terjadi fitnah dan kekacauan.Nabi ﷺ tidak memerintahkan membunuh pelaku dosa besar seperti riba atau dusta, namun memerintahkan memerangi Khawarij melalui pemerintah. Hal ini menunjukkan besarnya bahaya bid'ah Khawarij.Dalil ini menjadi bukti bahwa bid'ah Khawarij lebih berbahaya daripada banyak dosa besar, karena merusak agama dan keselamatan kaum muslimin.

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 21

Halaqah yang Ke-21 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-19Diantara hal yang perlu diketahui seorang muslim adalah perbedaan Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah, karena sering terjadi seseorang menganggap Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah sebagai Al-Karamah, menganggap seorang wali syaithan sebagai wali Allah.Berikut adalah perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah (semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan taufiq kepada kita semua dan menerangi diri kita dengan ilmu agama, diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah① Melihat perjalanan hidup orang tersebut, kalau dia adalah seorang mukmin yang bertakwa maka ini adalah Al-Karamah dan kalau sebaliknya dia bukan seorang yang mu’min dan bukan orang yang bertakwa maka itu adalah Al Ahwal Asy-Syaithaniyyah.Berkata syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullahوشرط كونها كرامةً أن يكون من جرت على يده هذه الكرامةُ مستقيمًا على الإيمان ومتابعة الشريعة فإن كان خلاف ذلك فالجاري على يده من الخوارق يكون من الأحوال الشيطانية 1:49“Dan sesuatu yang luar biasa menjadi karamah di syaratkan orang yang mendapatkan karamah tersebut adalah orang yang istiqamah diatas iman dan mengikuti syariat, adapun apabila sebaliknya maka sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada dirinya adalah termasuk Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah② Al-Karamah adalah anugerah dari Allah tidak bisa dipelajari dan diusahakan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah adalah bantuan dari syaithan bisa dipelajari dan diusahakan yaitu dengan berbuat sesuatu yang membuat ridha syaithan, seperti berbuat kufur kepada Allah (meninggalkan shalat dan kewajiban-kewajiban yang lain) menghalalkan sesuatu yang yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan lain-lain. Oleh karena itu Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah memiliki sekolah-sekolah perguruan-perguruan untuk mempelajari perkara-perkara yang luar biasa tersebut dan disana ada buku-buku yang dijual bebas yang mengajarkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah yang dikenal dengan Al-Mujarrabat③ Al-Karamah tidak bisa di lawan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah bisa di lawan dengan beberapa dzikir dan doa didalam Al-Quran dan As-SunnahBerkata Syaikhul Islam rahimahullahوهكذا أهل الأحوال الشيطانية تنصرف عنهم شياطينهم إذا ذكر عندهم ما يطردها مثل آية الكرسي 4.11Dan demikianlah orang-orang yang memiliki Ahwal Asy-Syaithaniyyah (syaithan-syaithan) mereka akan meninggalkan mereka apabila disebutkan disamping mereka apa yang mengusir syaithan-syaithan tersebut seperti ayat kursi

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 71 | Syafa’at Rasulullāh

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوَالشَّفَاعَةُ الَّتِي ادَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّDiantara yang harus kita imani Dan inilah yang diyakini oleh ahlussunnah wal jamaah adalah Syafaat.وَالشَّفَاعَةُ الَّتِي ادَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّSyafaat yang Allāh subhanahu wa ta’ala simpankan untuk mereka ini adalah benar adanya.Ahlussunnah mereka menetapkan Telaga Nabi ﷺ mereka juga membenarkan adanya Syafaat di hari Kiamat.Perhatikan kita tidak mengingkari Syafaat kita menetapkan dan mengimani adanya Syafaat, karena ayat dan juga hadits yang berkaitan dengan syafaat ini banyak dan sikap kita sebagai Ahlussunnah membenarkan apa yang tetap di dalam Al-Qur’an dan hadits bagaimana kita mengingkari Syafaat sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang bahwasanya Ahlusunnah mereka tidak beriman dengan Syafaat , siapa yang mengatakan demikian.. kita beriman dengan Syafaat sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah,قُلْ لِّلّٰهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا ..۝[QS Az Zumar 44]Katakanlah bahwasanya milik Allāh seluruh Syafaatمَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚTidak ada yang memberikan syafaat disisi Allāh kecuali dengan izinnya.وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ[QS Al Anbiya 28]Dan tidaklah mereka memberikan syafaat kecuali bagi orang yang Allah ridhoi.من أسعد الناس بشفاعتك؟siapa orang yang paling gembira dengan syafaatmu wahai Rasulullāh,لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِDalil² yang banyak yang menunjukkan adanya Syafaat yang musbatah/ yang ditetapkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala.Maka sebagaimana ucapan beliauوَالشَّفَاعَةُ الَّتِي ادَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّSyafaat yang Allāh simpan untuk mereka adalah benar adanya.Kita harus meyakini demikian sebagaimana dikabarkan oleh Allāh dan juga rasulnya tidak boleh kita menolaknyaكَمَا رُوِيَ فِي الْأَخْبَارِSebagaimana yang demikian diriwayatkan didalam kabar-kabar.Yaitu kabar-kabar yang shahih yang ada di dalam Al-Qur’an dan juga hadits Nabi ﷺ.Didalam masalah syafaat ada sebagian orang yang mengikat mengingkari syafaat dan ada sebagian orang yang menetapkan Syafaat tetapi berlebihan.Orang yang mengingkari seperti Mua’tazilah, khawarij dengan akalnya mereka mengingkari adanya Syafaat di hari kiamat yaitu syafaat keluarnya pelaku dosa besar dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga karena mereka meyakini bahwasanya pelaku dosa besar ini kekal selamanya di dalam Neraka kalau di sana ada syafaat berarti pelaku dosa besar tidak kekal di dalam Neraka sehingga mereka pun mengingkari adanya Syafaat mereka ekstrem mengingkari adanya Syafaat.Ada sebagian kelompok yang menetapkan adanya Syafaat tapi berlebihan berlebihan didalam meyakini Syafaat dan menetapkan Syafaat tersebut sehingga di antara bentuk berlebihannya mereka sampai mereka meminta Syafaat dari yang tidak berhak, meminta syafaat dari Nabi Muhammad ﷺ, berziarah ke kota Madinah mendatangi makam Nabi ﷺ, ya Rasulullah berikan syafaat untukku disisi Allāh , atau bukan di kuburan Nabi ﷺ meminta Syafaat dari para wali orang² yang sholeh mendatangi kuburan mereka mengatakan Ya Wali.., sampai untuk mendapatkan syafaat yang khayalan tadi selain mereka berdoa mereka juga mengorbankan ibadah mereka artinya sampai menyembah-nyembah kepada makhluk tersebut, mungkin menyembelih di sisi kuburan wali tersebut atau bernazar untuk wali tersebut semuanya tujuannya adalah ingin kalau ditanya kenapa engkau melakukannya demikian (Syafaat) kan mereka nanti yang memberikan Syafaat untuk kita di hari kiamat aku takut nanti masuk neraka aku banyak dosanya sehingga kalau aku melakukan yang demikian maka insya Allāh aku akan diberikan syafaat oleh wali-wali tersebut. Ini beriman dengan syafaat tapi berlebihan, ahlussunnah berada di pertengahan mereka menetapkan syafaat tapi mereka juga meyakini tentang syarat-syarat untuk mendapatkan Syafaat mereka meyakini Syafaat berdasarkan dalil mereka menyebutkan tentang jenis-jenis Syafaat berdasarkan ada Syafaat yang khusus bagi Nabi ﷺ ya ada Syafaat yang umum dimiliki oleh Nabi atau dilakukan oleh Nabi dan selain Nabi ﷺ, mereka mengatakan itu semua berdasarkan dalil termasuk bagaimana cara mendapatkan syafaat mereka juga meyakini dengan dalil, bahwasanya untuk mendapatkan Syafaat,Yang pertama harus ada izin dari Allāh, izin dari Allāh bagi orang yang akan memberikan syafaat Nabi, Malaikat, orang yang orang yang beriman mereka tidak mungkin memberikan syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allāh jadi bukan seperti yang diyakini oleh sebagian orang bahwasanya Nabi kelak ya secara langsung dia akan berbicara di hadapan Allah ya Allah ampuni si fulan dan masukkan ke dalam Surga, enggak dia tidak mungkin memberikan Syafaat kepada seseorang kecuali setelah diizinkan oleh Allāh mengizinkan dia untuk memberikan syafaat barunya memberikan syafaat bukan secara langsung tidak diizinkan kemudian dia langsung memberikan syafaat ini berbeda dengan keadaan kita di dunia kalau kita ingin memberikan syafaat kepada orang lain tanpa kita meminta izin terlebih dahulu kepada ya sang ketua atau pemimpin kita langsung mendatangi kantornya kita bilang tolong fulan dipermudah tidak diizinkan terlebih dahulu di dunia tapi kalau di akhirat,مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚTidak ada yang memberikan syafaat di sisi Allāh kecuali dengan izin Allāh, Allāh mengizinkan baru ya seseorang bisa memberikan syafaat makanya Rasulullāh ﷺ ketika akan memberikan Syafaatul uzma apa yang terjadi? Beliau bersujud dihadapan Allāh, memuji Allāh bukan langsung meminta Syafaat bersujud dihadapan Allāh dan setelah Allah mengatakan,يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ وَسَلْ تُعْطَWahai ya Muhammad angkat kepalamu katakanlah engkau akan didengar dan mintalah maka engkau akan diberikanlah Syafaat untuk memberikan syafaat.Barulah setelah itu Nabi ﷺ berani untuk memohonkan bagi orang lain.مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚmakanya kalau ingin mendapatkan syafaatnya kita meminta langsung kepada Allāh, karena Allāh subhanahu wa taala Dialah yang mengizinkan Nabi, Allāh subhanahu wa ta’ala mengizinkan malaikat meminta langsung kepada Allāh bukan meminta kepada Nabi atau meminta kepada Malaikat, ini salah alamatnya mereka tidak mungkin memberikan Syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allāh.Kemudian yang kedua syarat untuk mendapatkan syafaat dari kiamat adalah kita harus dalam keadaan sebagai orang yang bertauhid.Inilah yang kelak berhak untuk mendapatkan syafaat dari Nabi atau dari Malaikat mereka tidak akan memberikan Syafaat kecuali bagi orang yang terpenuhi syaratnya yaitu orang yang mentauhidkan Allāh.وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰDan mereka tidak memberikan Syafaat kecuali bagi orang yang Allāh ridhai.siapa yang Allāh ridhai ?orang-orang yang bertauhid , adapun orang yang musyrik orang yang kafir maka mereka mendapatkan murka bukan mendapatkan ridho Allāh,وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖAllāh tidak Ridha kekufuran, yang Allāh ridhai adalah ketauhidan, sehingga didalam hadis Nabi ﷺ mengatakan ketika ditanya siapa yang berhak untuk mendapatkan syafaat beliau,مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِOrang yang mengatakan – لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ – ikhlas dari hatinya.Inilah orang yang berhak untuk mendapatkan Syafaat di hari kiamat maka ahlusunah wal jamaah mereka mengajak kepada Tauhid berusaha untuk mewujudkan Tauhid kepada dirinya karena mereka tahu bahwasanya Tauhid ini adalah syarat untuk mendapatkan syafaat.Sebagian orang salah alamat/ salah cara di dalam mendapatkan syafaat meminta dari makhluk yang tidak memiliki padahal Allāh mengatakan,قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًاMeminta kepada makhluk yang justru ini menjadikan dia terjerumus ke dalam kesyirikan, melakukan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allāh padahal yang berhak untuk mendapatkan syafaatnya hari kiamat hanyalah yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.Jadi ahlussunnah mereka tidak menafikan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah mereka juga tidak berlebihan dalam menetapkan sehingga sampai meminta Syafaat dari yang tidak berhak, tapi mereka menetapkan dengan kaidah menetapkan adanya Syafaat dan mengikuti kabar-kabar dari Allāh dan juga RasulNya tentang masalah Syafaat bukan hanya sekedar menetapkan kemudian menentukan cara sendiri dalam mendapatkan syafaat tersebut.

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

AN-NĀR (NERAKA) & ADZABNYA (Bag. 1)

Berikut ringkasan materi Silsilah Ilmiyyah Halaqah 71 – An-Nār (Neraka) dan Adzabnya (Bag. 1) yang disusun dengan gaya natural, singkat, dan mudah dijadikan desain catatan tangan. Berdasarkan isi PDF.🔥 AN-NĀR (NERAKA) & ADZABNYA (Bag. 1)📖 Apa itu Neraka?An-Nār secara bahasa berarti api.Secara syariat, neraka adalah tempat di akhirat yang Allah siapkan untuk orang-orang kafir sebagai tempat azab yang sangat pedih dan menghinakan.✨ Dahsyatnya Azab Neraka"Maka pada hari itu tidak ada yang mengazab seperti azab Allah."QS. Al-Fajr: 25Sekali dicelupkan ke dalam neraka, seluruh kenikmatan dunia akan terlupakan.Penghuni neraka sampai berkata bahwa ia tidak pernah merasakan kenikmatan sedikit pun. (HR. Muslim)💔 Penyesalan Orang KafirQS. Al-Ma'ārij: 11–14Mereka ingin menebus azab dengan:anak-anaknya,istrinya,saudaranya,keluarganya,bahkan seluruh manusia di bumi,asal dirinya selamat. Namun semuanya tidak berguna.🔥 Nama-nama NerakaHāwiyah → jurang yang dalam.Al-Huthamah → yang menghancurkan.Jahīm → api yang menyala-nyala.Saqar → yang menghanguskan.👼 Penjaga NerakaDijaga oleh 19 malaikat yang keras dan tidak pernah mendurhakai Allah.Dalil:QS. At-Tahrīm: 6QS. Al-Muddatstsir: 30📊 Banyaknya Penghuni NerakaDari setiap 1.000 manusia, hanya 1 orang yang masuk surga, sedangkan 999 masuk neraka (mayoritas dari Ya'juj dan Ma'juj). (HR. Bukhari)📏 Besarnya Tubuh Penghuni NerakaJarak antara kedua pundaknya sejauh perjalanan 3 hari.Tebal kulit sekitar 42 hasta (±19 m).Satu gigi geraham sebesar Gunung Uhud.Tempat duduknya seperti jarak Makkah–Madinah.🌋 Besarnya NerakaNeraka tetap berkata:"Apakah masih ada tambahan?"QS. Qāf: 30Neraka baru merasa cukup setelah Allah meletakkan telapak kaki-Nya sesuai dengan keagungan-Nya. (HR. Bukhari)🪨 Dalamnya NerakaSebuah batu yang dilempar ke neraka membutuhkan 70 tahun hingga mencapai das

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 70 – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali bin Abi Thalib (Bagian 2)Ali bin Abi Thalib tidak mengkafirkan kaum Khawarij, meskipun mereka mengkafirkan dan memerangi beliau. Ini menunjukkan sikap adil dan hati-hatinya Ahlus Sunnah dalam masalah takfir.Takfir (mengkafirkan) adalah hukum syariat, bukan balas dendam. Seseorang tidak boleh mengkafirkan orang lain hanya karena dirinya dikafirkan.Sabda Nabi ﷺ: "Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembus buruannya" maksudnya mereka sangat jauh menyimpang dari ajaran Islam, bukan menjadi dalil pasti bahwa seluruh Khawarij kafir.Penyimpangan utama Khawarij:Mengkafirkan pelaku dosa besar.Memberontak kepada penguasa yang sah.Kedua pokok ini saling berkaitan. Karena menganggap pelaku dosa besar kafir, mereka juga menganggap penguasa yang melakukan dosa besar telah kafir sehingga menurut mereka boleh diperangi dan digulingkan.Tidak setiap orang yang mengkafirkan orang lain disebut Khawarij. Harus dilihat alasan pengkafirannya.Tidak setiap orang yang memberontak kepada penguasa disebut Khawarij. Jika pemberontakan dilakukan karena ambisi kekuasaan atau harta, itu tetap dosa, tetapi bukan ciri Khawarij.Seseorang dikhawatirkan termasuk pemikiran Khawarij apabila terkumpul dua keyakinan:Mengkafirkan pelaku dosa besar.Memberontak kepada penguasa karena meyakini penguasa tersebut kafir akibat dosa besarnya.Pelajaran penting:Berhati-hati dalam menghukumi orang lain sebagai kafir atau Khawarij.Penamaan Khawarij tidak boleh dilakukan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan kriteria yang dijelaskan oleh para ulama berdasarkan dalil.

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 20: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 18)

Halaqah 20:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 18)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Perbedaan antara Al-Mu’jizah dengan Al-Karamah: 1. Al-Mu’jizah disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, sedangkan Al-Karamah tidak disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, tetapi terjadi Al-Karamah dengan sebab dia mengikuti dan beriman dengan Nabi dan istiqamah diatasnya.2. Al-Mu’jizah terjadi pada seorang Nabi dan Nabi adalah manusia laki-laki yang merdeka sedangkan Al-Karamah bisa terjadi bisa terjadi pada seorang jin atau manusia, hamba sahaya atau orang yang merdeka, seorang laki-laki atau pun perempuan. Kalau mereka adalah orang-orang yang shaleh seperti yang terjadi pada Maryam dan juga Safinah maula Rasulullah ﷺ.3. Al Mu’jizah sesuatu yang luar biasa disemua tempat dan masa, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa di tempat dan juga masa tertentu saja, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa menurut tempat dan masa tertentu saja. Oleh karena itu apa yang terjadi Maryam ‘alayhassalam berupa ditemukannya makanan musim panas dimusim dingin dan sebaliknya adalah sesuatu yang biasa di zaman sekarang.4. Didalam Al-Mu’jizah seorang Nabi diperintahkan untuk menampakkan nya sedangkan Al-Karamah maka seorang wali diperintahkan untuk menyembunyikannya.5. Manfaat Al Mu’jizah adalah untuk umum sedangkan manfaat Al-Karamah biasanya untuk khusus orang tersebut.

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 20

Halaqah yang Ke-20 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke delapan belas.Disana ada perbedaan antara Al-Mu’jizah dengan Al-Karamah① Al-Mu’jizah disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, sedangkan Al-Karamah tidak disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, tetapi terjadi Al-Karamah dengan sebab dia mengikuti dan beriman dengan Nabi dan istiqamah diatasnya② Al-Mu’jizah terjadi pada seorang Nabi dan Nabi adalah manusia laki-laki yang merdeka sedangkan Al-Karamah bisa terjadi bisa terjadi pada seorang jin atau manusia, hamba sahaya atau orang yang merdeka, seorang laki-laki atau pun perempuan. Kalau mereka adalah orang-orang yang shaleh seperti yang terjadi pada Maryam dan juga Safinah maula Rasulullah ﷺ③ Al Mu’jizah sesuatu yang luar biasa disemua tempat dan masa, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa di tempat dan juga masa tertentu saja, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa menurut tempat dan masa tertentu saja. Oleh karena itu apa yang terjadi Maryam ‘alayhassalam berupa ditemukannya makanan musim panas dimusim dingin dan sebaliknya adalah sesuatu yang biasa di zaman sekarang④ Didalam Al-Mu’jizah seorang Nabi diperintahkan untuk menampakkan nya sedangkan Al-Karamah maka seorang wali diperintahkan untuk menyembunyikannya⑤ Manfaat Al Mu’jizah adalah untuk umum sedangkan manfaat Al-Karamah biasanya untuk khusus orang tersebut

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bag. 5)

Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari AkhirAl-Jannah dan Kenikmatannya (Bag. 5)🌿 1. Sebagian besar penduduk surga adalah orang-orang lemah (miskin).Rasulullah ﷺ bersabda:"Maka sebagian besar orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin."(HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah ﷺ juga mengabarkan beberapa nama penghuni surga, di antaranya: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum. (HR. Tirmidzi)🌿 2. Nikmat terbesar di surga adalah melihat wajah Allah ﷻ.Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setelah penghuni surga masuk surga, Allah bertanya:"Apakah kalian menginginkan Aku tambah kenikmatan kepada kalian?"Lalu Allah menyingkap hijab-Nya, dan tidak ada kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka.(HR. Muslim)🌿 3. "Tambahan" dalam QS. Yunus: 26 adalah melihat wajah Allah."Bagi orang-orang yang berbuat baik adalah surga dan tambahan."(QS. Yunus: 26)Para sahabat seperti Abu Bakr, Abu Musa Al-Asy'ari, dan Hudzaifah radhiyallahu 'anhum menafsirkan bahwa "tambahan" tersebut adalah memandang wajah Allah ﷻ.🌿 4. Wajah penghuni surga berseri-seri karena melihat Rabb mereka."Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, melihat kepada Rabb mereka."(QS. Al-Qiyamah: 22–23)Mereka memperoleh kemuliaan ini karena:Taat kepada Allah.Menjauhi larangan-Nya.Membenarkan berita-Nya.Bersabar atas ujian.Membaca dan mendengar firman-Nya.Mengikuti Rasul-Nya.Merindukan perjumpaan dengan-Nya.🌿 5. Jalan menuju surga penuh dengan rintangan.Menjalankan perintah Allah.Meninggalkan larangan-Nya.Bersabar menghadapi ujian.Rasulullah ﷺ bersabda:"Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang dibenci, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat."(HR. Muslim)🌿 6. Kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal."Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."(QS. Al-A'la: 16–17)Allah juga berfirman bahwa dunia hanyalah:Permainan.Sendau gurau.Perhiasan.Saling berbangga.Berlomba memperbanyak harta dan anak.Sedangkan akhirat berisi adzab atau ampunan serta keridaan Allah.(QS. Al-Hadid: 20)🌿 7. Dunia adalah sarana menuju akhirat.Allah menciptakan dunia beserta kenikmatannya agar dimanfaatkan dalam ketaatan untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya, bukan untuk melalaikan akhirat.🌿 8. Orang yang tercelaOrang yang tercela adalah orang yang menjadikan kebahagiaan dunia sebagai tujuan utama dan melupakan kebahagiaan akhirat.🤲 Doa:"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga-Mu yang Engkau anugerahi kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia. Āmīn."

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 70 | Mereka yang Terusir dari Haudh Rasulullah

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDidalam hadits yang lain Nabi ﷺ mengabarkan tentang adanya sebagian orang yang mereka sudah dilihat oleh Nabi ﷺ, akan mendekati Telaga beliau, sebagai orang yang sudah dilihat oleh Nabi ﷺ mendekati telaga beliau ﷺ tapi ternyata dihalangi, kemudian belum bertanya?Mereka adalah para shahabatku, maka dikatakan kepada beliau ﷺإنك لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَengkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahmu.Ada yang menafsirkan di sini orang-orang yang murtad setelah meninggalnya Nabi ﷺ, beliau ﷺ tahu dhohirnya saja mereka adalah shahabat beliau yang menemani beliau, maksudnya yg bertemu dengan beliau, karena setiap yang melihat Nabi ﷺ maka dinamakan shahabat tahunya mereka datang beriman bersyahadat adapun setelah itu mereka murtad setelah meninggalnya Nabi ﷺ maka ini bukan kemampuan Nabi ﷺ, beliau meninggal dan tidak mengerti apa yang terjadi maka beliau mengucapkan sesuai dengan yang belum lihat sebelum meninggal – أُصَيْحَابِيأُصَيْحَابِي – tapi ternyata mereka murtad dan kalau murtad berarti bukan lagi shahabat Nabi ﷺ, karena shahabat didefinisikan oleh para ulama orang yang melihat/bertemu Nabi ﷺ beriman dengan beliau dan meninggal di atas Islam, namun sudah murtad dan meninggal di atas kekufuran berarti bukan termasuk shahabat Nabi ﷺ. Bahkan sebagian ulama ada yang menjelaskan bahwasanya ucapanإِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَIhdats sini umum termasuk ihdats yang memiliki makna membuat bidah di dalam agama, ihdats dengan makna yang membuat bidah di dalam agama sebagaimana ucapan Nabi«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru didalam urusan agama kami yang dia bukan termasuk agama Islam maka amalan tersebut tertolak.Nabi mengatakan dalam hadits yang lain beliau mengatakan,وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ..Perkara yang paling jelek itu adalah yang muhdats/diada²kan, makanya ada yang memasukkan ihdats membuat bidah di dalam agama ini masuk di dalam ancaman hadits ini, terancam orangnya tidak akan bisa meminum telaganya Rasulullāh ﷺ.Bahkan para ulama menyebutkan kelompok² yang muhditsun khawarij disebutkan oleh mereka karena mereka membuat ihdats didalam agama Islam mereka menyebutkan kelompok-kelompok tadi sehingga ini peringatan bagi setiap orang yang mengadakan ihdats didalam agama.Hati² bisa-bisa mereka masuk dalam ancaman hadits ini tidak bisa meminum dari telaganya Rasulullāh ﷺ.Disaat yang lain mereka bisa meminum dengan puas dan tidak merasakan kehausan mereka terus mendapatkan kehausan mereka tidak bisa menghilangkan dahaga mereka, merasakan kehausan dan dihinakan sebagai seorang muslim karena ditolak oleh Nabi ﷺ disebutkan dalam hadis yang lain,سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِىMenjauhlah² diusir oleh Nabi ﷺ.Ini tidak beradab seorang umat yang tidak beradab diutus kepada mereka Rasulullāh ﷺ diajarkan kepada mereka kebenaran dan Nabi ﷺ mengajarkan itu dengan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa kemudian setelah itu dengan mudahnya dia membuat akidah yang baru, membuat amalan-amalan yang baru, seakan-akan Nabi ﷺ tidak diutus kepada mereka, dikemanakan sunah Nabi ﷺ tidak beradab orang yang demikian, maka orang yang demikian pantas kelak diusir oleh Nabi – سُحْقًا سُحْقًا – pergi kalian, maka hati² dengan perbuatan bid’ah, semoga Allāh subhanahu wa ta’ala semoga Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan kita dan menetapkan hati kita di atas agamanya dan mati dalam keadaan menetapi sunnah Nabi ﷺ .Ini adalah tentang Al Haudhالَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِAllāh memuliakan Nabi ﷺ dengan banyak pemuliaan, diantaranya adalah diberikan kepada beliau Telaga ini,غِيَاثًا لِأُمَّتِهِTelaga tersebut diantara hikmahnya adalah selain itu adalah ikram maka itu adalah untuk memberikan pertolongan kepada umatnya yang mereka membutuhkan air yang membutuhkan pertolongan,غِيَاثًا لِأُمَّتِهِUntuk memberikan pertolongan yaitu memberikan air kepada umat beliau ﷺ– حَقٌّBahwasanya semua itu adalah Haq,Dan hadits² tentang masalah telaga Nabi ﷺ adalah hadits² yang mutawatir diriwayatkan oleh banyak shahabat, seandainya itu adalah hadits yang tidak mutawatir kalau itu Hadits yang shahih wajib bagi kita untuk membenarkan, lalu bagaimana dengan hadits yang mutawatir yang seharusnya tidak ada keraguan sedikitpun di dalam diri kita banyak shahabat yang meriwayatkan hadis tentang tenaga Nabi ﷺ.

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 70

Jum’at, 3 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 70Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keempat Hadist Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Prinsip Inshaf (Keadilan) Ahlussunnah wal Jama'ah​Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, meskipun diperangi dan dikafirkan oleh orang-orang Khawarij, tidak membalas pengkafiran mereka dengan pengkafiran juga.​Ini adalah bentuk inshaf (sikap adil) dari Ahlussunnah wal Jama'ah; orang mengkafirkan mereka, tetapi mereka tidak dengan mudah mengkafirkan orang lain. Mereka sangat berhati-hati.​Masalah takfir (pengkafiran), tafsiq (penyesatan), dan tabdi' (pembid'ahan) adalah masalah hukum syar'i, bukan masalah balas-membalas. Jika ada orang mengkafirkan kita, tidak berarti kita harus mengkafirkan dia. Kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allāh atas hukum yang telah kita terapkan.Makna Hadits "يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية"​Arti Kalimat:"Mereka Yamruq (keluar menjauh) dari agama Islām sebagaimana keluarnya anak panah dari sasaran."Maksud dari Kalimat Ini:Jika itu bukan pengkafiran, maksudnya adalah menjauh dari tuntunan Islām.Bentuk Penyimpangan Khawarij dari Tuntunan Islām:​Tuntunan Islām melarang kita mengkafirkan pelaku dosa besar.Tuntunan Islām melarang seseorang memberontak kepada pemerintah dan juga penguasanya.​Sebaliknya, orang-orang Khawarij justru mengkafirkan pelaku dosa besar dan mereka justru memberontak kepada pemerintah yang sah, sehingga berarti mereka menjauhi tuntunan Islām itu sendiri, bahkan sangat jauh dari tuntunan Islām.​Permisalan Anak Panah dan Sasaran (Ar-Ramiyah):​Dipermisalkan seperti sasaran (seekor rusa misalnya) yang dipanah oleh seseorang, kemudian anak panah tersebut keluar dari arah yang berbeda; masuk dari perut bagian kiri dan keluar dari perut bagian kanan. Itu adalah permisalan bagi orang yang meninggalkan ajaran Islām.​Anak panah bisa masuk dari perut bagian kiri dan keluar dari bagian kanan karena saking cepat atau kerasnya. Anak panah yang tajam dilepaskan oleh pemiliknya dengan tepat dan cepat, sehingga bisa keluar dari perut bagian kanan. Ini menunjukkan tentang cepatnya ia meninggalkan buruannya atau sasaran tadi.​Oleh karenanya, sifat orang-orang Khawarij adalah cepatnya mereka meninggalkan ajaran Islām dan aqidah yang mereka miliki, yaitu dengan memberontak kepada pemerintah yang sah dan mengkafirkan pelaku dosa besar. Dengan dua bid'ah ini, mereka menjauh dari agama Islām dengan kecepatan yang sangat cepat (sebagaimana anak panah yang menembus perut sasaran karena saking cepatnya). Berbeda dengan anak panah yang pelan-pelan, ia hanya akan menancap saja, atau seandainya tembus ke bagian kanan, ia tetap berada di perut tersebut dan tidak sampai keluar dari perutnya.Catatan Tambahan: Ada ulama yang sampai mengkafirkan mereka, dan hal ini menunjukkan tentang bahayanya bid'ah orang-orang Khawarij.Pokok-Pokok (Ushul) Pemikiran Khawarij​Orang-orang Khawarij adalah orang-orang yang terkumpul di dalamnya pokok-pokok mereka, yaitu:​Mengkafirkan pelaku dosa besar.​Memberontak kepada penguasa yang sah.​Di antara ciri orang-orang Khawarij, kalau sampai terkumpul di dalam dirinya dua hal ini, maka dikhawatirkan dia termasuk seorang Khawarij.Ketentuan dalam Menilai Seseorang sebagai Khawarij​Kita harus berhati-hati dan tidak boleh sembarangan mengungkapkan atau mengatakan seseorang adalah Khawarij. Diperlukan rincian berikut:​Jika hanya sekadar mengkafirkan: Belum tentu dia seorang Khawarij.​Ada orang yang mengkafirkan kita, tetapi mungkin dari sisi yang lain dan bukan karena sebab kita melakukan dosa besar. Contohnya: Mengkafirkan karena tidak membaiat imamnya. Apakah kemudian kita katakan dia Khawarij? Tidak.​Sebagian orang menyangka setiap orang yang mengkafirkan berarti Khawarij. Jika faedahnya demikian, maka semua aliran adalah Khawarij karena rata-rata mereka mengkafirkan orang yang berseberangan dengan dirinya (Qodariyah mengkafirkan Jabriyah, Jabriyah mengkafirkan Qodariyah, Murjiyah mengkafirkan Khawarij, Khawarij mengkafirkan Murjiyah, rata-rata demikian). Jadi, kita harus melihat sebab dia mengkafirkan.​Jika hanya sekadar mengkafirkan tetapi tidak memberontak: Jika dia mengkafirkan pelaku dosa besar tetapi tidak memberontak kepada penguasa, maka tidak bisa dinamakan juga sebagai orang Khawarij. Harus terkumpul di dalamnya dua makna (ushul) tersebut.​Hubungan Pengkafiran Dosa Besar dengan Pemberontakan:​Terkadang orang yang memiliki jabatan mudah sekali melakukan dosa besar. Ketika orang Khawarij melihat pemerintah/penguasa melakukan dosa besar, sesuai dengan kaidahnya, mereka mengkafirkan pemerintah tadi. Jika pemerintah dianggap kafir, maka diperbolehkan untuk memberontak kepadanya.​Alur pemikiran mereka: Menganggap penguasanya melakukan dosa besar (berzina, riba, dan seterusnya), jika melakukan dosa besar berarti telah keluar dari agama Islām, dan kalau keluar dari agama Islām maka harus diganti dengan orang Islām dan harus memberontak kepadanya. Jika tidak demikian kondisinya, jangan mudah mengatakan itu adalah orang Khawarij.​Jika memberontak tetapi tidak mengkafirkan:​Ada orang memberontak kepada penguasa, tetapi niat memberontaknya bukan karena mengkafirkan penguasa tersebut (misalnya, dia memberontak karena ingin mendapatkan uangnya, jabatan, atau kekuasaan, padahal dia meyakini raja sebelumnya tetap muslim). Apakah dia dinamakan Khawarij? Tidak dinamakan sebagai Khawarij, tetapi dia melakukan dosa karena memberontak kepada penguasa yang sah.​Oleh karenanya, tidak dikatakan setiap yang memberontak kemudian dinamakan Khawarij. Ciri-ciri orang Khawarij yang sebenarnya adalah apabila sebab dia memberontak adalah karena meyakini penguasanya melakukan dosa besar, dan orang yang melakukan dosa besar berarti telah keluar dari agama Islām.Kesimpulan​Sikap Ahlussunnah wal Jama'ah dalam masalah hukum syar'i seperti takfir, tafsiq, dan tabdi' adalah selalu mengedepankan sifat inshaf (adil) dan kehati-hatian, bukan atas dasar balas-membalas. Sabda Nabi ﷺ mengenai sifat Khawarij yang "melesat keluar dari agama seperti anak panah menembus sasarannya" bermakna bahwa mereka menjauh dari tuntunan Islām dengan sangat cepat. ​Seseorang baru dapat dikategorikan sebagai Khawarij apabila di dalam dirinya secara utuh terkumpul dua pokok pemikiran (ushul), yaitu mengkafirkan pelaku dosa besar sekaligus memberontak kepada penguasa yang sah dengan landasan pengkafiran tersebut (karena menganggap penguasa yang berbuat dosa besar telah keluar dari Islām). Oleh karena itu, tidak setiap orang yang sekadar mengkafirkan atau sekadar memberontak karena urusan dunia/kekuasaan dapat disebut sebagai Khawarij.

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 20 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Delapan Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an mengabarkan bahwa diantara sifat orang-orang Yahudi, mereka dahulu menolong dan mencintai orang-orang kafir, yaitu orang-orang musyrikin yang menyembah berhala. Padahal orang-orang Yahudi adalah ahlul kitab yang menisbahkan diri mereka kepada wahyu.Allah berfirman,(تَرَىٰ كَثِیرࣰا مِّنۡهُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ۚ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ أَن سَخِطَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِمۡ وَفِی ٱلۡعَذَابِ هُمۡ خَـٰلِدُونَ)[Surat Al-Ma’idah 80]“Kamu akan melihat sebagian besar mereka (orang-orang Yahudi) mencintai dan menolong orang-orang kafir (orang-orang musyrikin). Sungguh jelek perbuatan tangan mereka. Allah marah kepada mereka. Dan di dalam neraka, mereka akan kekal.”Kemudian Allah mengatakan,(وَلَوۡ كَانُوا۟ یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِیِّ وَمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِیَاۤءَ وَلَـٰكِنَّ كَثِیرࣰا مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَ)[Surat Al-Ma’idah 81]“Seandainya mereka benar-benar beriman kepada Allah, Nabi, dan apa yang diturunkan kepada Nabi berupa wahyu, tentunya mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir tersebut sebagai penolong. Tetapi banyak diantara mereka yang fasik.”Mencintai dan menolong orang-orang kafir ternyata juga termasuk sifat orang-orang munafik.Allah berfirman,(بَشِّرِ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ بِأَنَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِیمًا)[Surat An-Nisa’ 138]“Kabarkanlah (berikan kabar gembira) kepada orang-orang munafik, bahwa mereka mendapatkan adzab yang pedih.”Kemudian Allah berfirman,(ٱلَّذِینَ یَتَّخِذُونَ ٱلۡكَـٰفِرِینَ أَوۡلِیَاۤءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَۚ أَیَبۡتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلۡعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِیعࣰا)[Surat An-Nisa’ 139]“Mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, bukan orang-orang yang beriman. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang-orang kafir tersebut? Padahal kemuliaan semuanya hanyalah milik Allah.”Seorang muslim loyalnya hanyalah kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.Allah berfirman,(إِنَّمَا وَلِیُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِینَ یُقِیمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُم رَاكِعُونَ )[Surat Al-Ma’idah 55]“Sesungguhnya wali kalian (penolong kalian) adalah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mereka mendirikan sholat, membayar zakat, dan mereka dalam keadaan rukuk.”Dan Allah berfirman,(وَمَن یَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَـٰلِبُونَ)[Surat Al-Ma’idah 56]“Dan barangsiapa yang loyal kepada Allah, dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya golongan Allah, merekalah orang-orang yang menang.”Dalil bahwasanya menolong kaum musyrikin di dalam memerangi kaum muslimin dengan maksud ingin menampakkan agama orang-orang musyrikin, ini adalah termasuk kekufuran, adalah firman Allah dalam surat Al Maidah 51,وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين“Barangsiapa diantara kalian yang menjadikan mereka sebagai penolong, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”Firman Allah, فَإِنَّهُ مِنْهُمْ, maka dia adalah termasuk mereka, yaitu termasuk orang-orang kafir.Ibnu ‘Athiyah menjelaskan di dalam tafsirnya, bahwa orang yang loyal dengan keyakinan dan agamanya maka dia termasuk mereka di dalam kekufuran dan sama-sama berhak mendapatkan bencana dan kekal di neraka.Adapun orang-orang yang loyal dengan perbuatannya, yaitu menolong mereka dan semisalnya tanpa keyakinan dan kerusakan iman, maka dia termasuk mereka dalam hal ikut mendapatkan celaan dan kebencian yang menimpa mereka. [Al Muharrar Al Wajiz jilid 2 halaman 204].Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 70

Halaqah 70 | Mereka yang Terusir dari Haudh RasulullahKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDidalam hadits yang lain Nabi ﷺ mengabarkan tentang adanya sebagian orang yang mereka sudah dilihat oleh Nabi ﷺ, akan mendekati Telaga beliau, sebagai orang yang sudah dilihat oleh Nabi ﷺ mendekati telaga beliau ﷺ tapi ternyata dihalangi, kemudian belum bertanya?Mereka adalah para shahabatku, maka dikatakan kepada beliau ﷺإنك لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَengkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahmu.Ada yang menafsirkan di sini orang-orang yang murtad setelah meninggalnya Nabi ﷺ, beliau ﷺ tahu dhohirnya saja mereka adalah shahabat beliau yang menemani beliau, maksudnya yg bertemu dengan beliau, karena setiap yang melihat Nabi ﷺ maka dinamakan shahabat tahunya mereka datang beriman bersyahadat adapun setelah itu mereka murtad setelah meninggalnya Nabi ﷺ maka ini bukan kemampuan Nabi ﷺ, beliau meninggal dan tidak mengerti apa yang terjadi maka beliau mengucapkan sesuai dengan yang belum lihat sebelum meninggal – أُصَيْحَابِيأُصَيْحَابِي – tapi ternyata mereka murtad dan kalau murtad berarti bukan lagi shahabat Nabi ﷺ, karena shahabat didefinisikan oleh para ulama orang yang melihat/bertemu Nabi ﷺ beriman dengan beliau dan meninggal di atas Islam, namun sudah murtad dan meninggal di atas kekufuran berarti bukan termasuk shahabat Nabi ﷺ. Bahkan sebagian ulama ada yang menjelaskan bahwasanya ucapanإِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَIhdats sini umum termasuk ihdats yang memiliki makna membuat bidah di dalam agama, ihdats dengan makna yang membuat bidah di dalam agama sebagaimana ucapan Nabi«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru didalam urusan agama kami yang dia bukan termasuk agama Islam maka amalan tersebut tertolak.Nabi mengatakan dalam hadits yang lain beliau mengatakan,وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ..Perkara yang paling jelek itu adalah yang muhdats/diada²kan, makanya ada yang memasukkan ihdats membuat bidah di dalam agama ini masuk di dalam ancaman hadits ini, terancam orangnya tidak akan bisa meminum telaganya Rasulullāh ﷺ.Bahkan para ulama menyebutkan kelompok² yang muhditsun khawarij disebutkan oleh mereka karena mereka membuat ihdats didalam agama Islam mereka menyebutkan kelompok-kelompok tadi sehingga ini peringatan bagi setiap orang yang mengadakan ihdats didalam agama.Hati² bisa-bisa mereka masuk dalam ancaman hadits ini tidak bisa meminum dari telaganya Rasulullāh ﷺ.Disaat yang lain mereka bisa meminum dengan puas dan tidak merasakan kehausan mereka terus mendapatkan kehausan mereka tidak bisa menghilangkan dahaga mereka, merasakan kehausan dan dihinakan sebagai seorang muslim karena ditolak oleh Nabi ﷺ disebutkan dalam hadis yang lain,سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِىMenjauhlah² diusir oleh Nabi ﷺ.Ini tidak beradab seorang umat yang tidak beradab diutus kepada mereka Rasulullāh ﷺ diajarkan kepada mereka kebenaran dan Nabi ﷺ mengajarkan itu dengan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa kemudian setelah itu dengan mudahnya dia membuat akidah yang baru, membuat amalan-amalan yang baru, seakan-akan Nabi ﷺ tidak diutus kepada mereka, dikemanakan sunah Nabi ﷺ tidak beradab orang yang demikian, maka orang yang demikian pantas kelak diusir oleh Nabi – سُحْقًا سُحْقًا – pergi kalian, maka hati² dengan perbuatan bid’ah, semoga Allāh subhanahu wa ta’ala semoga Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan kita dan menetapkan hati kita di atas agamanya dan mati dalam keadaan menetapi sunnah Nabi ﷺ .Ini adalah tentang Al Haudhالَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِAllāh memuliakan Nabi ﷺ dengan banyak pemuliaan, diantaranya adalah diberikan kepada beliau Telaga ini,غِيَاثًا لِأُمَّتِهِTelaga tersebut diantara hikmahnya adalah selain itu adalah ikram maka itu adalah untuk memberikan pertolongan kepada umatnya yang mereka membutuhkan air yang membutuhkan pertolongan,غِيَاثًا لِأُمَّتِهِUntuk memberikan pertolongan yaitu memberikan air kepada umat beliau ﷺ– حَقٌّBahwasanya semua itu adalah Haq,Dan hadits² tentang masalah telaga Nabi ﷺ adalah hadits² yang mutawatir diriwayatkan oleh banyak shahabat, seandainya itu adalah hadits yang tidak mutawatir kalau itu Hadits yang shahih wajib bagi kita untuk membenarkan, lalu bagaimana dengan hadits yang mutawatir yang seharusnya tidak ada keraguan sedikitpun di dalam diri kita banyak shahabat yang meriwayatkan hadis tentang tenaga Nabi ﷺ.

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 69

Kamis, 2 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 69Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keempat Hadist Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh mendatangkan sabda Nabi ﷺ di dalam sebuah hadits yang shahih, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan juga Muslim:​وفي الصحيح أنه ﷺ قال في الخوارج: “أينما لقيتموهم فاقتلوهم...”​Artinya:“Dan di dalam kitab shahih, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda tentang orang-orang Khawarij: 'Dimana saja kalian bertemu dengan orang-orang Khawarij tadi maka hendaklah kalian bunuh mereka...'”​Hadits ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, yang mana Nabi ﷺ sedang mensifati orang-orang Khawarij:​يأتي في آخِر الزمان قوم حُدثاء الأسنان، سُفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرَّميَّة​Artinya:“Akan datang di akhir zaman sebuah kaum yang mereka masih muda tetapi akalnya adalah akal yang sangat kurang, mereka mengucapkan ucapan sebaik-baik manusia, mereka Yamruq (keluar menjauh) dari agama Islām sebagaimana keluarnya anak panah dari sasaran (ar-ramiyah).”Penjelasan Karakteristik Orang Khawarij​Mereka adalah kaum yang masih muda (حُدثاء الأسنان), tetapi akalnya adalah akal yang sangat kurang (سُفهاء الأحلام). Disebutkan mereka mengucapkan ucapan sebaik-baik manusia (يقولون من خير قول البرية). Ada yang mengatakan bahwa ucapan sebaik-baik manusia di sini adalah ucapan Rasulullāh ﷺ, dan ada yang mengatakan Al-Quran. Disebutkan didalam sejarah bahwasanya orang-orang Khawarij mereka ini adalah orang-orang yang sangat kencang ibadahnya; malam mereka shalat malam, dan siang mereka membaca Al-Quran.Makna Kalimat "يمرقون من الإسلام" (Yamruqūn Mina Al-Islām)​Nabi ﷺ menyebutkan kabar yang sangat mencengangkan/mengagetkan bahwa ternyata orang-orang tadi keluar menjauh dari agama Islām sebagaimana melesatnya anak panah dari sasarannya (الرَّميَّة yang dimaksud adalah sasaran).​Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai status keislaman mereka berdasarkan kalimat ini:Sebagian ulama menghukumi orang-orang Khawarij ini kafir/keluar dari agama Islām, dengan berdalil pada kalimat hadits يمرقون من الإسلام.Pendapat yang Lebih Shahih, mereka ini tidak keluar dari agama Islām; orang-orang Khawarij adalah muslimun (tidak keluar dari agama Islām).Kedudukan dan Hujjah dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu​Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu adalah sahabat yang meriwayatkan hadits tentang perintah membunuh mereka (لقيتموهم فاقتلوهم), beliau juga yang memerangi orang-orang Khawarij sendiri bersama orang-orang beliau, dan beliau pula yang dikafirkan, dihalalkan darahnya, hingga akhirnya dibunuh oleh orang-orang Khawarij. ​Meskipun demikian, beliau tidak mengkafirkan mereka. Ketika beliau ditanya apakah mereka orang kafir, beliau menjawab:​من الكفر فروا​Artinya:“Mereka ini adalah orang yang sedang lari dari kekafiran.”​(Keterangan ini disebutkan di dalam Mushannaf Abdul Razzaq dan juga di dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).​Konteks Peperangan Nahrawan:Jawaban di atas disampaikan ketika Ali bin Abi Thalib memerangi dan membunuh orang-orang Haruriyyah (Haruriyyah adalah nama lain dari Khawarij; dinamakan Haruriyyah karena mereka berkumpul di sebuah daerah bernama Harura). Dalam peperangan besar Nahrawan tersebut, terbunuh orang-orang Khawarij dalam jumlah yang banyak. Beliau kemudian ditanya, "Siapakah orang-orang ini wahai amirul mukminin, apakah mereka adalah orang-orang yang Kafir?" Beliau menjawab: من الكفر فروا.​Makna Jawaban Ali:Mereka bukan orang kafir, tetapi justru orang yang takut dengan kekafiran sehingga lari kencang meninggalkannya, namun perbuatannya kebablasan. Mereka menganggap sesuatu yang tidak mengkafirkan sebagai bentuk kekafiran, yaitu mereka berucap bahwa orang yang melakukan dosa besar berarti keluar dari agama Islām.Niat Mereka:Secara niat mereka ingin keluar dan ingin menjauh dari kekufuran. Melalui jawaban ini, Ali bin Abi Thalib ingin memberikan penjelasan bahwa beliau tidak menghukumi orang-orang Khawarij sebagai orang kafir. Beliau membunuh/memerangi mereka bukan karena mereka kafir, melainkan karena menjalankan sabda Nabi ﷺ.Bantahan Status bahwa Mereka Orang Munafik​Ketika ada yang bertanya, "Apakah mereka adalah orang Munafik jika bukan orang yang kafir?", ​Ali bin Abi Thalib mengatakan: Sesungguhnya orang-orang munafik tidak mengingat Allāh kecuali sedikit. Sedangkan mereka ini (orang-orang Khawarij) yang dibunuh/diperangi banyak mengingat Allāh, membaca tasbih, tahlil, tahmid, membaca Al-Quran, dan seterusnya. Maka, dinamakan munafik juga bukan, dinamakan kafir juga bukan; berarti mereka adalah muslimun (orang-orang Islām). ​Lalu kenapa mereka bisa demikian? Mereka ini adalah sebuah kaum yang tertimpa fitnah syubhat yang menjadikan mereka buta dan tuli.​Kesimpulan​Berdasarkan hadits shahih riwayat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, orang-orang Khawarij memiliki karakteristik fisik yang berusia muda dan kurang akal, namun sangat kencang dalam beribadah (shalat malam, membaca Al-Quran) serta mengucapkan ucapan yang baik. Nabi ﷺ memerintahkan untuk memerangi/membunuh mereka di mana pun bertemu karena mereka melesat menjauh dari ajaran agama Islām (yamruquna mina al-Islām). Kendati demikian, menurut pendapat yang lebih shahih dari Ali bin Abi Thalib, mereka tidak dihukumi sebagai orang kafir maupun orang munafik. Mereka tetaplah muslim yang berniat lari dari kekafiran, namun mengalami keterlanjuran (kebablasan) dalam beragama akibat tertimpa fitnah syubhat yang membuat mereka buta dan tuli, sehingga menghukumi pelaku dosa besar telah keluar dari Islām.

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 19 - Turunnya Nabi Isa 'Alaihissalam Bagian 2

Halaqah 19 - Turunnya Nabi Isa 'Alaihissalam Bagian 2Silsilah Beriman kepada Hari Akhir ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah – 19 Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam Bagian 2Halaqah – 19 Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam Bagian 2Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Beriman Kepada Hari Akhirالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعينHalaqah yang ke-19 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam Bagian 2”Setelah Ya’juj dan Ma’juj binasa, jadilah Nabi ‘Isa ‘alaihissalam seorang pemimpin yang adil yang menegakkan syariat islam. Rasulullah ﷺ bersabda :وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً ، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَاDemi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hampir-hampir turun ‘Isa Ibnu Maryam di antara kalian sebagai seorang penguasa yang adil. Maka dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menggugurkan atau membatalkan hukum jizyah, harta benda melimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang menerima shadaqah. Sehingga sujud sekali saat itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya (HR. Bukhari dan Muslim)Beliau turun ‘alaihissalam, beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ mengikuti syari’at beliau dan bukan untuk menghapus syariat Nabi Muhammad ﷺ Manusia saat itu dalam keadaan aman, tentram dan damai. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwasanya kehidupan saat itu adalah kehidupan yang sangat indah. Langit di ijinkan untuk menurunkan hujan, Bumi di ijinkan untuk mengeluarkan tanaman, bahkan seandainya ada sebuah biji yang jatuh di atas batu yang keras niscaya dia akan tumbuh. Tidak ada saling bakhil, tidak ada saling hasad dan tidak ada saling benci.Sampai seandainya ada seseorang melewati seekor singa, niscaya singa tersebut tidak akan mengganggunya. Dan seandainya ada orang yang menginjak seekor ular niscaya ular tersebut tidak akan mengganggunya (Hadits Shahih Riwayat Ad-Dailami).Di dalam Shahih Muslim disebutkanbahwasanya beliau akan melakukan haji dan umrah.Dan di dalam hadits yang lain disebutkanbahwasanya beliau akan tinggal di Bumi selama 40 tahun. Kemudian meninggal dan dishalatkan oleh orang islam (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud).

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 19

Halaqah yang Ke-19 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke ujuh belas 17👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ASetelah kita mengetahui tentang Al-Karamah yang Allāh berikan kepada wali-Nya, maka hendaklah kita mengenal tentang Al Ahwal Asy-syaithaniyyah (keadaan-syaithan-syaitan).Al-Ahwal Asy-syaithoniyyah/keadaan-keadaan syaitan adalah perkara-perkara yang di luar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali syaitan sebagai IstidrajWali syaitan adalah pengikut syaitan dan penolong syaitan. yang dimaksud dengan Istidraj adalah dibiarkan supaya bertambah kekufurannya kemudian di azabDan di antara dalil yang menunjukkan adanya wali-wali syaithan adalah firman Allah :وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Dan orang-orang yang kafir, maka wali-walinya adalah thagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka adalah penduduk Neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah : 257)Dan Allah berfirman:… وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ…“Dan sesungguhnya syaithan-syaithan mewahyukan kepada wali-walinya untuk mendebat kalian” (Al-An’am : 121)Dan diantara contoh Al-Ahwal Asy-syaithaniyyah, apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah didalam kitab beliau Al-Furqan ( بين أولياء الرحمن و أولياء الشيطان )Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan didalam kitab ini diantara contoh Al-Ahwal syaitoniyyah① Apa yang terjadi pada Musaiylamah Al-Kadzab ketika dia mengaku sebagai seorang Nabi dia mengabarkan beberapa perkara yang ghaib wahyu dengan dari syaitan② Apa yang terjadi pada Al-Aswad Al-Amsiy yang mengaku sebagai Nabi mengabarkan tentang perkara yang ghaib dengan wahyu dari syaitan sehingga tentara kaum muslimin takut syaithan akan mengabarkan kepadanya tentang mereka, sampai tentara kaum muslimin takut apabila syaithan akan mengabarkan kepada Aswad Al-Amsiy tentang mereka③ Kisah Al-Haris Al-Dimasykiy yang mengaku sebagai Nabi di zaman Abdul Malik bin Marwan setiap kali di tangkap dan di penjara datang syaitan dan melepaskan ikatan di kaki nya dan melindungi dia dari senjata.Manusia saat itu melihat rombongannya berjalan diudara ketika dia ditangkap ada orang yang menikam nya dengan tombak namun tidak mempanMaka berkata Abdul Malik :“Engkau tidak menyebut nama Allah”Kemudian ketika dia menyebut nama Allah dan menikamnya mempanlah tombaknya dan meninggallah Al-Harits

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 19: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 17)

Halaqah 19:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 17)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىSetelah mengetahui tentang Al-Karamah yang Allāh berikan kepada wali-Nya, maka hendaklah mengenal tentang Al Ahwal Asy-syaithaniyyah (keadaan-syaithan-syaitan).Al-Ahwal Asy-syaithoniyyah (keadaan-keadaan syaitan) adalah perkara-perkara yang di luar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali syaitan sebagai Istidraj.Wali syaitan adalah pengikut syaitan dan penolong syaitan. Yang dimaksud dengan Istidraj adalah dibiarkan supaya bertambah kekufurannya kemudian di azab.Dan di antara dalil yang menunjukkan adanya wali-wali syaithan adalah firman Allah :وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Dan orang-orang yang kafir, maka wali-walinya adalah thagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka adalah penduduk Neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah : 257)Dan Allah berfirman:… وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ…“Dan sesungguhnya syaithan-syaithan mewahyukan kepada wali-walinya untuk mendebat kalian” (Al-An’am : 121).Dan diantara contoh Al-Ahwal Asy-syaithaniyyah, apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah didalam kitab beliau Al-Furqan ( بين أولياء الرحمن و أولياء الشيطان )Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan didalam kitab ini diantara contoh Al-Ahwal syaitoniyyah:1. Apa yang terjadi pada Musaiylamah Al-Kadzab ketika dia mengaku sebagai seorang Nabi dia mengabarkan beberapa perkara yang ghaib wahyu dengan dari syaitan.2. Apa yang terjadi pada Al-Aswad Al-Amsiy yang mengaku sebagai Nabi mengabarkan tentang perkara yang ghaib dengan wahyu dari syaitan sehingga tentara kaum muslimin takut syaithan akan mengabarkan kepadanya tentang mereka, sampai tentara kaum muslimin takut apabila syaithan akan mengabarkan kepada Aswad Al-Amsiy tentang mereka.3. Kisah Al-Haris Al-Dimasykiy yang mengaku sebagai Nabi di zaman Abdul Malik bin Marwan setiap kali di tangkap dan di penjara datang syaitan dan melepaskan ikatan di kaki nya dan melindungi dia dari senjata. Manusia saat itu melihat rombongannya berjalan diudara ketika dia ditangkap ada orang yang menikam nya dengan tombak namun tidak mempan.Maka berkata Abdul Malik :“Engkau tidak menyebut nama Allah”Kemudian ketika dia menyebut nama Allah dan menikamnya mempanlah tombaknya dan meninggal lah Al-Harits

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →