🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI15 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 17 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 05)

Silsilah Ilmiyyah Ushul TsalatsahMengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala: Hakikat Ibadah dan Macam-MacamnyaPendahuluanPada halaqah sebelumnya dijelaskan bahwa Rabb yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan adalah satu-satunya yang berhak diibadahi.Setelah memahami siapa Rabb yang berhak disembah, langkah berikutnya adalah memahami apa itu ibadah. Hal ini penting agar seorang muslim mengetahui mana yang termasuk ibadah dan mana yang bukan.Jangan sampai seseorang menganggap suatu amalan bukan ibadah, lalu memberikannya kepada selain Allah, padahal amalan tersebut termasuk ibadah. Jika hal itu terjadi, maka ia dapat terjatuh ke dalam syirik.1. Agama Islam Berdiri di Atas Tiga TingkatanSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan bahwa di antara ibadah yang Allah perintahkan adalah:IslamImanIhsanKetiganya merupakan pondasi agama Islam.Dalilnya adalah Hadits Jibril yang sangat terkenal.Isi Hadits JibrilJibril datang dalam bentuk seorang laki-laki kepada Rasulullah ﷺ di hadapan para sahabat untuk mengajarkan agama.Jibril bertanya:Apa itu Islam?Rasulullah ﷺ menjawab dengan rukun Islam:SyahadatShalatZakatPuasa RamadhanHajiApa itu Iman?Rasulullah ﷺ menjawab dengan rukun iman:Iman kepada AllahMalaikatKitab-kitabRasul-rasulHari AkhirTakdirApa itu Ihsan?Rasulullah ﷺ bersabda:“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”Kapan Hari Kiamat?Rasulullah ﷺ menjawab:“Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.”Ini menunjukkan bahwa waktu kiamat hanya diketahui Allah.Tanda-Tanda KiamatRasulullah ﷺ menjelaskan sebagian tanda-tandanya.Di akhir majelis beliau bersabda:“Ini adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama kalian.”Dari hadits ini dipahami bahwa seluruh agama Islam mencakup Islam, Iman, dan Ihsan.2. Macam-Macam Ibadah yang Disebutkan SyaikhDi antara ibadah yang wajib ditujukan hanya kepada Allah adalah:Ibadah HatiTakut (Khauf)Harap (Raja’)TawakalRaghbah (keinginan kuat kepada rahmat Allah)Rahbah (cemas terhadap azab Allah)Khusyu’Khasy-yahInabah (kembali kepada Allah)Ibadah LisanDoaDzikirIstighatsahMemohon perlindungan (isti’adzah)Memohon pertolongan (isti’anah)Ibadah Badan dan HartaMenyembelih kurbanBernazarShalatSedekahDan berbagai ibadah lainnyaDaftar ini bukan pembatasan. Masih banyak jenis ibadah lain yang tidak disebutkan oleh Syaikh.3. Definisi IbadahPara ulama mendefinisikan ibadah dengan definisi yang sangat terkenal:“Ibadah adalah nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun batin.”Makna Definisi IniIbadah mencakup:UcapanDzikirDoaMembaca Al-Qur’anAmar ma’ruf nahi munkarPerbuatanShalatPuasaSedekahHajiAmalan LahirSujudRuku’Menolong sesamaMenuntut ilmuAmalan BatinCinta kepada AllahTakut kepada AllahTawakal kepada AllahIkhlasHarapan kepada AllahSemua yang dicintai dan diridhai Allah termasuk ibadah.4. Bagaimana Mengetahui Sesuatu Termasuk Ibadah?Caranya dengan melihat dalil syariat.Pertama: Allah MemerintahkannyaJika Allah memerintahkan suatu amalan maka itu menunjukkan bahwa amalan tersebut dicintai Allah dan merupakan ibadah.Contohnya:TasbihAllah berfirman:“Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”(QS Al-Ahzab: 42)Ini menunjukkan tasbih adalah ibadah.ShalatAllah berfirman:“Maka dirikanlah shalat.”Karena Allah memerintahkannya, maka shalat adalah ibadah.Kedua: Allah Memuji PelakunyaJika Allah memuji suatu amalan atau memuji orang yang melakukannya, maka itu menunjukkan amalan tersebut dicintai Allah dan termasuk ibadah.Contohnya:Menunaikan nazarMemberi makan orang lainKarena Allah memuji pelakunya.5. Semua Ibadah Harus Ditujukan Kepada AllahDalilnya adalah firman Allah:“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian menyembah siapa pun bersama Allah.”(QS Al-Jinn: 18)Makna “Masjid-Masjid”Para ulama menjelaskan dua makna:PertamaBangunan masjid.KeduaAnggota tubuh yang digunakan untuk sujud.Yaitu:DahiDua telapak tanganDua lututDua ujung kakiAnggota tubuh yang digunakan untuk bersujud kepada Allah tidak boleh digunakan untuk beribadah kepada selain-Nya.6. Bahaya Memalingkan Ibadah Kepada Selain AllahSyaikh berkata:“Barang siapa memalingkan salah satu ibadah kepada selain Allah maka dia musyrik dan kafir.”Artinya:Walaupun hanya satu jenis ibadah diserahkan kepada selain Allah, maka pelakunya terjatuh ke dalam syirik.Contohnya:Berdoa kepada selain AllahMenyembelih untuk selain AllahBernazar kepada selain AllahMeminta pertolongan gaib kepada selain AllahSemua ini termasuk syirik besar.7. Dalil Bahwa Syirik Membatalkan KeislamanAllah berfirman:“Barang siapa berdoa kepada sesembahan lain bersama Allah tanpa dalil, maka perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir tidak akan beruntung.”(QS Al-Mu’minun: 117)Ayat ini menunjukkan:Orang yang berdoa kepada selain Allah termasuk musyrik.Allah menyebut mereka sebagai orang kafir.Mereka tidak akan memperoleh keberuntungan.Makna “bersama Allah” adalah seseorang terkadang berdoa kepada Allah dan terkadang kepada selain Allah.Inilah hakikat syirik.8. Syirik Besar dan Syirik KecilPara ulama menjelaskan bahwa syirik terbagi menjadi dua:Syirik BesarMengeluarkan pelakunya dari Islam.Membatalkan seluruh amal.Jika mati belum bertaubat, kekal di neraka.Syirik KecilTidak mengeluarkan dari Islam.Tetap merupakan dosa besar.Menjadi jalan menuju syirik besar.Dalam pembahasan halaqah ini, yang dimaksud adalah syirik besar.9. Akibat Syirik BesarPertama: Menghapus Seluruh AmalAllah berfirman:“Jika engkau berbuat syirik, niscaya gugurlah seluruh amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang rugi.”(QS Az-Zumar: 65)Kedua: Surga DiharamkanAllah berfirman:“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya.”(QS Al-Maidah: 72)Ketiga: Kekal di Neraka Jika Meninggal Tanpa TaubatAllah berfirman:“Tempat tinggalnya adalah neraka dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.”(QS Al-Maidah: 72)Inti Halaqah 17🌿 Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.🌿 Islam, Iman, dan Ihsan merupakan bagian terbesar dari ibadah dan menjadi pondasi agama.🌿 Semua bentuk ibadah seperti doa, takut, harap, tawakal, isti’anah, isti’adzah, istighatsah, menyembelih, dan bernazar wajib ditujukan hanya kepada Allah.🌿 Cara mengetahui suatu amalan termasuk ibadah adalah dengan melihat apakah Allah memerintahkannya atau memuji pelakunya.🌿 Memalingkan satu saja bentuk ibadah kepada selain Allah termasuk syirik.🌿 Syirik besar membatalkan amal, mengeluarkan pelakunya dari Islam, mengharamkan surga baginya, dan jika mati tanpa taubat menyebabkan kekal di neraka.Pelajaran terbesar dari halaqah ini adalah bahwa tauhid bukan hanya mengakui Allah sebagai Rabb, tetapi juga mengikhlaskan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah semata

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 17: Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh ﷻ

Halaqah 17 :Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh ﷻ🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىTakdir telah tertulis, akan tetapi bukan berarti seseorang meninggalkan berdo’a kepada Allah.Berdo’a adalah bagian dari mengambil sebab yang diperintahkan untuk mendapatkan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى“Dan berkata Rabb kalian, hendaklah kalian berdo’a kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.”[QS. Ghafir: 60]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ…“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat mengabulkan do’anya orang yang berdo’a kepada-Ku.”[QS. Al-Baqarah: 186]Dan do’a adalah ibadah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,الدعاء هو العبادة”Do’a itu adalah ibadah.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah]Dan Rasulullah ﷺ bersabda,وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ“Dan tidak menolak Al Qadar kecuali do’a.” [Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah]Dan bukanlah yang dimaksud dengan do’a bisa menolak takdir, bahwa do’a bisa melawan takdir Allah yang sudah Allah tulis, akan tetapi makna Al Qadar disini adalah Al Muqoddar, yaitu sesuatu yang ditakdirkan, artinya do’a bisa menjadi sebab berubahnya keadaan yang ditakdirkan oleh Allah menjadi keadaan lain yang juga ditakdirkan oleh Allah.Contoh seseorang ditakdirkan sakit kemudian dia berdo’a kepada Allah meminta kesembuhan kemudian Allah mengabulkan do’anya dan menakdirkan kesembuhan bagi orang tersebut.Dan do’a yang dipanjatkan oleh seseorang kepada Allah adalah bagian dari takdir Allah.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah

Halaqah yang ke tujuh belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Peran Do’a di Dalam Beriman dengan Takdir Allah”.Takdir telah tertulis, akan tetapi bukan berarti seseorang meninggalkan berdo’a kepada Allah.Berdo’a adalah bagian dari mengambil sebab yang diperintahkan untuk mendapatkan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ[QS Ghafir 60]“Dan berkata Rabb kalian, hendaklah kalian berdo’a kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ…[QS Al-Baqarah 186]“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat mengabulkan do’anya orang yang berdo’a kepada-Ku.”Dan do’a adalah ibadah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,الدعاء هو العبادة”Do’a itu adalah ibadah.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah]Dan Rasulullah ﷺ bersabda,وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ“Dan tidak menolak Al Qadar kecuali do’a.” [Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah]Dan bukanlah yang dimaksud dengan do’a bisa menolak takdir, bahwa do’a bisa melawan takdir Allah yang sudah Allah tulis, akan tetapi makna Al Qadar disini adalah Al Muqoddar, yaitu sesuatu yang ditakdirkan, artinya do’a bisa menjadi sebab berubahnya keadaan yang ditakdirkan oleh Allah menjadi keadaan lain yang juga ditakdirkan oleh Allah.Contoh seseorang ditakdirkan sakit kemudian dia berdo’a kepada Allah meminta kesembuhan kemudian Allah mengabulkan do’anya dan menakdirkan kesembuhan bagi orang tersebut.Dan do’a yang dipanjatkan oleh seseorang kepada Allah adalah bagian dari takdir Allah.Lalu bagaimana dikatakan bahwa doa bisa melawan takdir Allah azza wajalla.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 6

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 6”.Diantara ibadah malaikat yang ke-6 adalah,• ⑹ SHALĀTTelah berlalu di dalam sebuah hadits bahwasanya ada sebagian malaikat yang mereka melakukan shalat di Baitul Ma’mur, wallāhu a’lam tentang bagaimana para malaikat tersebut melakukan shalat. Namun, disebutkan di dalam beberapa dalil bahwasanya mereka berdiri untuk Allāh dan bersujud.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman menceritakan tentang ucapan malaikat:وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ (١٦٤) وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ (١٦٥) وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ (١٦٦)“Tidak ada di antara kami kecuali dia memiliki kedudukan yang diketahui. Dan sesungguhnya kami berdiri bershaf-shaf dan sesungguhnya kami bertasbih.”(Ash-Shāffāt 164 – 166)Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟“Apakah kalian tidak mau bershaf seperti bershafnya malaikat di sisi Rabb mereka?”Para shahābat berkata,يَا رَسُوْلُ اللّهِ، ِوَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟“Wahai Rasūlullāh, bagaimana malaikat bershaf di sisi Rabb mereka?”Maka Beliau bersabda,يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَل َوَ يَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ“Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang pertama dan mereka saling merapatkan shaf.”(HR Muslim I/322, no. 430)Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:إِنَّ الَّذِينَ عِندَرَبِّكَ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ“Sesungguhnya malaikat yang di sisi Rabbmu tidak sombong dari beribadah kepadaNya, bertasbih untukNya dan bersujud.”(Al-A’rāf 206)Yang ke-7 diantara ibadah mereka,• ⑺ MENGUCAPKAN SALAM◆ Telah berlalu bahwa mereka mengucapkan salam kepada Ibrāhīm ketika masuk ke rumah beliau.Di dalam sebuah hadīts, Jibrīl pernah berkata kepada Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam,فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي“Apabila Khadījah mendatangimu maka sampaikanlah salam dari Rabbnya dan juga dariku.”(HR Bukhāri III/1389 dan Muslim no. 2433)Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada ‘Āisyah,يَا عَائِشَةُ هَذَا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ“Wahai ‘Āisyah, ini adalah Jibrīl mengucapkan salam kepadamu.”(HR Bukhāri VI/305 no. 2447 dan Muslim no.2474)◆ Malaikat mengucapkan salam untuk orang-orang yang beriman ketika sakaratul maut.Allāh berfirman:الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙيَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Mereka adalah orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan baik. Para malaikat mengatakan, ‘Keselamatan atas kalian, masuklah kalian ke dalam surga dengan sebab apa yang kalian amalkan’.”(An-Nahl 32)◆ Dan mereka mengucapkan salam kepada penduduk surga setelah dibukanya pintu-pintu surga.Allāh berfirman:وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاؤُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ“Dan digiring orang-orang yang bertaqwa ke surga secara berkelompok-berkelompok sehingga ketika mereka mendatangi surga dan dibuka pintu-pintunya dan berkata para penjaganya, ‘Keselamatan atas kalian, kalian telah baik maka masuklah kalian ke dalam surga selama-lamanya’.” (Az-Zumar 73)Yang ke-8 diantara ibadah malaikat, bahwasanya :• ⑻ MALAIKAT TAKUT KEPADA ALLĀHAllāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ“Dan mereka takut kepada Allāh.” (Al-Anbiyā 28)Dan Allāh berfirman:يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ“Mereka takut kepada Rabb mereka yang ada di atas mereka.” (An-Nahl 50)Demikianlah ibadah para malaikat, mereka sibuk dengan ibadah dan ikhlash di dalamnya dan terus menerus.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita termasuk hamba-hamba Allāh yang istiqamah di dalam beribadah sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia.Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 91

Senin, 14 September 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 91Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Keenam (Hadits Al-Haudh / Telaga)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMatan Hadits Utama(HR. Al-Bukhari & Muslim dari Abdullah bin Mas'ud)​أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ، حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ! أَصْحَابِي، يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ"Aku akan mendahului kalian di atas telaga. Akan diangkat kepadaku beberapa orang dari kalian, sehingga ketika aku hendak mengambilkan air untuk mereka, tiba-tiba mereka dihalangi dariku. Maka aku berkata: 'Wahai Rabb, mereka adalah sahabat-sahabatku!' Lalu Dia berfirman: 'Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka buat setelah kematianmu.'"Poin Kandungan MateriKeutamaan dan Sifat Telaga (Haudh) Nabi ﷺMakna Faroth (فَرَطٌ): Mendahului sampai ke telaga untuk melayani umatnya. Beriman kepada Haudh adalah bagian dari keimanan kepada hari akhir.​Sifat Air Telaga:​Lebih dingin daripada es (أبرد من الثلج).​Lebih manis daripada madu (أحلى من العسل).​Lebih putih daripada susu.​Barang siapa meminum darinya, ia tidak akan haus selama-lamanya (من شرب لم يظمأ أبدًا).​Gelas/Teko Telaga (كَكُجُومِ السَّمَاءِ):Bejana/gelas telaga berjumlah sangat banyak dan indah bagaikan bintang-bintang di langit, menunjukkan umat Islam tidak perlu mengantri lama meski jumlahnya sangat banyak.​Ukuran Telaga: Sangat luas, dengan panjang dan lebar masing-masing perjalanan satu bulan.Peristiwa Pengusiran dan Penghalangan di Telaga (Iktuliju Duni)Pengenalan Umat: Nabi ﷺ mengenali umatnya dari ciri fisik khusus, yaitu bekas air wudhu (wajah dan tangan yang bersinar).​Penghalangan: Saat Nabi ﷺ hendak memberikan air untuk menghilangkan dahaga mereka, tiba-tiba mereka dijauhkan dan dihalangi dari telaga.​Dialog Ilahi: Nabi ﷺ memohon kepada Allah karena mereka adalah umat/sahabat beliau, namun dijawab bahwa beliau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggal beliau (لا تدري ما أحدثوا بعدك).Faedah Penting dari Kalimat La Tadri Ma Ahdatsu Ba'daka​Ketidaktahuan Nabi terhadap Hal Gaib: Nabi ﷺ tidak mengetahui perkara gaib dan tidak tahu kejadian setelah beliau wafat, termasuk kondisi orang-orang setelah kematiannya. Ini sekaligus membantah keyakinan keliru bahwa orang yang sudah mati mengetahui perbuatan keluarganya di dunia.​Makna Ahdatsu (Membuat Perkara Baru / Bid'ah):​Kata muhdats mencakup orang yang murtad setelah wafatnya Nabi ﷺ (sehingga hakikatnya bukan sahabat sejati, karena definisi sahabat adalah yang mati di atas Islam).​Mencakup pula orang-orang yang melakukan bid'ah dalam agama. Banyak ulama menjelaskan bahwa pelaku bidah (seperti Khawarij, Mu'tazilah, Murjiah, dan ahlul bid'ah lainnya) termasuk golongan yang dihalangi dari telaga Nabi ﷺ sebagai bentuk hukuman karena lebih memilih bid'ah daripada sunnah.Konsekuensi Hukum di Akhirat bagi Pelaku Bid'ah Hukuman di Telaga: Ahlul bid'ah mendatangi telaga dalam keadaan sangat haus, namun diusir, dihinakan, dan tidak bisa meminum air telaga sementara orang lain meminumnya.​Status Masuk Surga/Neraka:​Tidak meminum telaga bukan berarti mutlak kekal di neraka. Jika mereka muslim dan bid'ahnya bukan bentuk kekafiran (mukaffirah), mereka tetap berpotensi masuk surga setelah diampuni atau disiksa terlebih dahulu.​Sebaliknya, orang yang meminum telaga belum tentu dijamin bebas dari neraka jika ia membawa dosa besar (masuk dalam wilayah kehendak Allah/tahta masyiatillah). Namun, jika ia sempat masuk neraka, ia tidak akan merasakan haus di dalamnya karena sabda Nabi ﷺ bahwa peminum telaga tidak akan haus selama-lamanya.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 91 | Ahlus Sunnah Meyakini Bahwa Allāh ﷻ Menjadikan Nabi Ibrahim Sebagai Khalil-Nya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri : Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāhالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهBeliau mengatakan, menyebutkan tentang aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah atau di antara aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah, setelah berbicara sebelumnya tentang masalah Al-‘Arsy dan Al-Kursi, dan bahwasanya kita beriman dengan adanya Al-‘Arsy dan Al-Kursi dan bahwa keduanya adalah dua perkara yang berbeda, dua makhluk yang berbeda. Maka, beliau mengatakanوَنَقُولُ: إِنَّ اللهَ اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاDan kami mengatakan, kami di sini adalah Ahlussunnah, dan kami katakan dengan lisan kami dan kita yakini dengan hati kami, bukan hanya kita katakan dengan lisan saja: Sesungguhnya Allāh ﷻ telah menjadikan Ibrāhīm sebagai kekasih-Nya.Kita katakan ini sebagaimana Allāh ﷻ mengatakan,وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Dan Allāh telah menjadikan, mengangkatIbrāhīm sebagai kekasih-Nya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 125)Dan Khalīl ini adalah yang sangat dicintai. Dinamakan Khalīl atau kekasih karena dialah yang paling dicintai oleh Allāh ﷻ, dan derajat khullah atau derajat kekasih ini adalah derajat yang paling tinggi di antara derajat-derajat maḥabbah, karena maḥabbah, yaitu rasa cinta, ini memiliki tingkatan-tingkatan. Di sana ada al-maḥabbah, di sana ada al-wudd, dan seterusnya. Itu kalau diterjemahkan dalam bahasa kita ya sama, yaitu cinta, tapi dalam bahasa Arab itu memiliki makna khusus, itu adalah tingkatan-tingkatan derajat.Dan yang paling puncak adalah derajat khullah. Kalau sudah dianggap dan diangkat sebagai khalīl, maka itu adalah menunjukkan kecintaan yang luar biasa. Artinya, Allāh ﷻ ketika mengangkat Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām sebagai khalīl menunjukkan bahwa Allāh ﷻ sangat mencintai Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām. Dan ini tentunya adalah derajat yang sangat tinggi, sangat dicintai oleh Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di dalam batin seseorang dan apa yang ada di dzhahir seseorang. Ketika Allāh ﷻ mencintai seorang makhluk dengan kecintaan yang luar biasa, menunjukkan bagaimana ketinggian keimanan dan ketakwaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām.وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاSesungguhnya Allāh ﷻ telah menjadikan Ibrāhīm sebagai kekasih bagi-Nya, sehingga Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām adalah khalīlullāh.Kenapa di sini disebutkan oleh Al-Imām Abū Jaʿfar aṭ-Ṭaḥāwī? Karena orang-orang Jahmiyah, sebagaimana kita ketahui, mereka menolak mensifati Allāh dengan maḥabbah. Ketika seseorang meyakini bahwasanya Allāh mengangkat Ibrāhīm sebagai khalīl, otomatis dia menetapkan sifat maḥabbah bagi Allāh. Sehingga mereka tidak mengakui bahwasanya Allāh ﷻ menjadikan Ibrāhīm sebagai khalīl. Mereka mengatakan bahwa Ibrāhīm bukan khalīlullāh, padahal Allāh ﷻ mengatakanوَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاdan banyak ayat lain yang menyebutkan sifat cinta dari Allāh ﷻإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang bertakwa.”(QS. At-Tawbah, 9:4)إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Al-Baqarah, 2:195)إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”(QS. Al-Baqarah, 2:222)إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”(QS. As-Saff, 61:4)Dan Nabi ﷺ mengatakan,لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُAku akan memberikan besok bendera kepada seorang laki-laki yang dia mencintai Allāh dan Rasul-Nya, dan Allāh serta Rasul-Nya pun mencintainya.كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَانِ“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan, berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman”Dalil-dalil yang banyak menunjukkan bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā memiliki sifat maḥabbah; Ahlussunnah menetapkan sifat maḥabbah bagi Allāh. Allāh ﷻ mencintai dan Dia dicintai. Tentunya, Ahlussunnah, sebagaimana dalam menetapkan sifat-sifat yang lain, menetapkan kecintaan yang sesuai dengan keagungan Allāh, tidak sama dengan kecintaan yang dimiliki oleh makhluk.اللَّهُ يُحِبُّ مَحَبَّةً تَلِيقُ بِجَلَالِهِAllāh ﷻ mencintai dengan kecintaan yang sesuai dengan keagungan-Nya.Tidak ada isyqāl bagi Ahlussunnah wal-Jamāʿah. Kita tetapkan dan kita menafikan tasybīh dengan makhluk sebagaimana kita melakukan hal tersebut pada sifat-sifat yang lain. Inilah sebabnya mengapa beliau mendatangkan permasalahan ini langsung berkaitan dengan ʿaqīdah — memang ada di sana kelompok yang mengingkari hal ini, yaitu mengingkari Ibrāhīm sebagai Khalīl.Dan Nabi kita Muḥammad ﷺ, beliau juga seorang Khalīlullāh. Sebagaimana Ibrāhīm adalah Khalīlullāh maka Nabi kita Muḥammad ﷺ juga Khalīlullāh, sebagaimana dalam hadits,إِنَّ اللَّهَ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Allāh ﷻ telah mengangkat aku sebagai Khalīl sebagaimana Allāh ﷻ telah mengangkat Ibrāhīm sebagai Khalīl.”Berarti, Allāh ﷻ sangat-sangat mencintai Nabi kita Muḥammad ﷺ. Bahkan, mana yang lebih afdhal di antara dua Khalīl ini? Yang lebih afdhal dan yang lebih dicintai oleh Allāh ﷻ adalah Nabi kita Muḥammad ﷺ, sehingga dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ mengatakan,أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ“Aku adalah pemuka anak manusia dan tidak ada pamer disana .”Di situ beliau menyebutkan hakekat bahwa Allāh ﷻ telah menjadikan beliau sebagai sayyid (pemuka) yang paling utama di antara manusia, termasuk di antaranya lebih utama daripada kakek beliau sendiri, yaitu Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām.Di sana ada sebuah kisah dimana Khālid bin ʿAbdillāh al-Qasrī yang saat itu sebagai amīr wilayah Iraq. Ketika ʿĪdul-Aḍḥā, beliau berkhutbah, kemudian setelah berkhutbah beliau mengatakan,أَيُّهَا النَّاسُ، ضَحُّوا يَتَقَبَّلِ اللَّهُ ضَحَايَاكُمْ، فَإِنِّي مُضَحٍّ بِجَعْدِ بْنِ دِرْهَمَ“Wahai manusia, hendaklah kalian menyembelih semoga Allāh ﷻ menerima sembelihan-sembelihan kalian. Sesungguhnya aku hari ini akan menyembelih Jaʿd Ibn Dirham.”Jaʿd Ibn Dirham ini adalah gurunya dari Jahm bin Ṣafwān, disembelih maksudnya adalah dipenggal lehernya, dibunuh karena dia murtad dari agama Islam.فَإِنَّهُ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَتَّخِذْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Karena sesungguhnya dia menyangka bahwasanya Allāh tidak menjadikan Ibrāhīm sebagai kekasih-Nya.” Ini sebabnya, ini adalah bidʿah yang dia bawa, mengingkari kekhullahan Nabi Ibrāhīm, mengingkari bahwasanya Nabi Ibrāhīm adalah Khalīlullāh.وَلَمْ يُكَلِّمْ مُوسَى تَكْلِيمًاDan dia menyangka bahwasanya Allāh tidak berbicara kepada Nabi Mūsa. Padahal jelas dalam Al-Quranوَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا“Dan Allāh berbicara langsung kepada Musa.” Surah An-Nisā’ (4:164) وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ …“Dan Rabb-nya berbicara langsung kepadanya..” Surah Al-Aʿrāf (7:143)ayat yang sangat jelas yang menunjukkan bahwasanya Allāh berbicara kepada Nabi Mūsa.Ayat yang sangat jelas bahwasanya Allāh mengangkat Nabi Ibrāhīm sebagai Khalīl, tetapi dia ingkari. Ini adalah sebuah kekufuran yang ṣarih.ثُمَّ نَزَلَ فَذَبَحَهُAkhirnya, dia pun turun dari mimbar kemudian menyembelih atau memenggal leher Jaʿd Ibn Dirham. Karena ini adalah sebuah penyimpangan dan sebuah kekufuran.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 16

Halaqah yang ke enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Aliran yang Menyimpang di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah”.Aliran yang menyimpang di dalam masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah adalah:– Al Qodariyyah– Al JabriyyahMereka tidak membedakan antara Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah.Mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah dicintai oleh Allah.Adapun Al Qodariyyah maka mereka mengatakan bahwa setiap yang diinginkan oleh Allah pasti dicintai oleh Allah dan yg tidak Allah cintai dan ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.Dan diantara yang tidak dicintai oleh Allah adalahkekafiran dan kemaksiatan.Dengan demikian kekafiran dan kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allah karena Allah tidak mencintainya.Kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluk semuanya bukan dengan Iradah dan penciptaan Allah tetapi dengan Iradah makhluk tersebut tanpa campur tangan Iradah Allah dan penciptaan Allah.Dan adapun Al Jabriyyah maka mereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan Iradah dan penciptaan Allah.Dan setiap yang diinginkan oleh Allah dan diciptakan pasti dicintai oleh Allah.Dan kekufuran serta kemaksiatan diciptakan oleh Allah, berarti kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah azza wajalla.Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al Qodariyyah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah di dalam kerajaan Allah dan mereka benar ketika mengatakan bahwa Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.Dan kita mengetahui bahwa orang-orang Al Jabriyyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah dan mereka benar ketika meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan itu semua.Adapun Ahlus Sunnah, maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka.Mereka meyakini bahwa Allah mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran dan kemaksiatan.Dan Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.Dari keterangan di atas diketahui bahwa syubhat Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah satu, yaitu: mereka tidak membedakan antara dua Iradah Allah dan meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allah berarti dicintai oleh Allah, padahal tidak semua yang diciptakan Allah dicintai oleh Allah azza wajalla.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 16: Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah

Halaqah 16:Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAliran yang menyimpang di dalam masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah adalah:Al QodariyyahAl JabriyyahMereka tidak membedakan antara Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah.Mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah dicintai oleh Allah.Al QodariyyahMereka mengatakan bahwa setiap yang diinginkan oleh Allah pasti dicintai oleh Allah dan yang tidak Allah cintai dan ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.Dan diantara yang tidak dicintai oleh Allah adalahkekafiran dan kemaksiatan.Dengan demikian kekafiran dan kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allah karena Allah tidak mencintainya.Kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluk semuanya bukan dengan Iradah dan penciptaan Allah tetapi dengan Iradah makhluk tersebut tanpa campur tangan Iradah Allah dan penciptaan Allah.Al JabriyyahMereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan Iradah dan penciptaan Allah.Dan setiap yang diinginkan oleh Allah dan diciptakan pasti dicintai oleh Allah.Dan kekufuran serta kemaksiatan diciptakan oleh Allah, berarti kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah azza wajalla.Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al Qodariyyah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah di dalam kerajaan Allah dan mereka benar ketika mengatakan bahwa Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.Dan kita mengetahui bahwa orang-orang Al Jabriyyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah dan mereka benar ketika meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan itu semua.Ahlus SunnahAdapun Ahlus Sunnah, maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka.▪️Mereka meyakini bahwa Allah mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran dan kemaksiatan.▪️Dan Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.Dari keterangan di atas diketahui bahwa syubhat Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah satu, yaitu: mereka tidak membedakan antara dua Iradah Allah dan meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allah berarti dicintai oleh Allah, padahal tidak semua yang diciptakan Allah dicintai oleh Allah azza wajalla.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 16 Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 5

Halaqah – 16 Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 5Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Beriman Kepada Malaikatالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعينHalaqah yang ke-16 dari Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah ke-6 Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 5”.Diantara ibadah malaikat setelah tasbih dan mendo’akan adalah;• ⑶ MENGHADIRI MAJLIS DZIKIR.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إن لله تبارك وتعالى ملائكة سيارة فضلا يتبعون مجالس الذكر فإذا وجدوا مجلسا فيه ذكر قعدوا معهم وحف بعضهم بعضا بأجنحتهم حتى يملؤا ما بينهم وبين السماء الدنيا فإذا تفرقوا عرجوا وصعدوا إلى السماء“Sesungguhnya Allāh Tabāraka wa Ta’āla memiliki malaikat-malaikat tambahan yang senantiasa berjalan mencari majlis-majlis dzikir. Maka apabila menemukan majlis di dalamnya ada dzikir, para malaikat tersebut duduk bersama mereka. Dan mereka saling menaungi dengan sayap mereka sehingga memenuhi antara mereka sampai langit dunia. Maka apabila mereka berpisah (yaitu selesai dari majlis dzikir tersebut), naiklah para malaikat ke langit.”(HR Bukhāri IV/2353, No. 6045 dan Muslim IV/2170, dan ini adalah lafazh Muslim)⇒ Maksud dari majlis dzikir disini adalah orang-orang yang berkumpul dalam rangka berdzikir kepada Allāh seperti majlis ilmu dan bukanlah majlis dzikir yang diadakan dengan cara yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.• ⑷ MALAIKAT MENDENGARKAN KHUTBAH.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إذا كان يوم الجمعة كان على كل باب من أبواب المسجد الملائكة يكتبون الأول فالأول فإذا جلس الإمام طووا الصحف وجاءوا يستمعون الذكر“Apabila hari Jum’at maka disetiap pintu diantara pintu-pintu masjid ada malaikat-malaikat yang menulis yang pertama-tama datang kemudian yang selanjutnya. Kemudian apabila imam duduk mereka melipat lembaran catatan dan datang untuk mendengarkan dzikir.”(HR Bukhāri II/407 – al fath dan Muslim II/586 no. 850)• ⑸ MEREKA MENGATAKAN “ĀMĪN” KETIKA IMAM MENGATAKAN “ĀMĪN” DI DALAM SHALATNYA. DAN MENGATAKAN “ALLĀHUMMA RABBANĀ LAKAL HAMDU” KETIKA IMAM MEMBACA “SAMI’ALLĀHU LIMAN HAMIDAH”.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إذا أمن الإمام فأمنوا، فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه“Apabila imam membaca ‘Āmīn’ maka bacalah Āmīn, karena barangsiapa yang bacaan Āmīnnya bersamaan dengan Āmīn malaikat diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR Bukhāri II/262 – al fath dan Muslim I/307)Dan Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إذا قال الإمام سمع الله لمن حمده فقولوا اللهم ربنا لك الحمد فإنه من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه“Apabila imam membaca ‘Sami’allāhu liman hamidah’ maka katakanlah ‘Allāhumma Rabbanā lakal hamdu’ karena barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR Bukhāri II/284dan Muslim I/36 no. 409)Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 16 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 04)

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.• MENGENAL ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLASetelah kita mengetahui siapakah Allāh dan bagaimanakah kita mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka beliau (rahimahullāh) ingin menyampaikan kepada kita bahwasanya dzat yang telah memelihara kita dengan kenikmatan Nya, yang telah menciptakan langit dan juga bumi, menciptakan tanda-tanda kekuasaan (seperti) malam, siang, matahari dan bulan, maka Dia lah Rabb yang disembah. Dialah yang berhak untuk diibadahi dan disembah.Beliau rahimahullāh mengatakan:والرب هو: المعبود“Dan Rabb, Dia lah yang disembah”Dialah yang diibadahi, apabila seseorang sudah meyakini bahwasanya Allāh Dia-lah yang menciptakan alam semesta dan juga mengaturnya, maka kewajiban dia adalah hanya menyerahkan ibadah ini kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan dalīlnya adalah firman Allāh :يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ۞ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ۞Wahai manusia! Hendaklah kalian menyembah (beribadah) kepada Rabb kalian yang telah memelihara kalian dan seluruh alam semesta.Siapakah Rabb kalian?Rabb kalian adalah yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa (takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla).⇒ Rabb yang memiliki sifat-sifat inilah yang berhak untuk disembah dan diibadahi.Sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian yang tidak menciptakan kalian jangan disembah, demikian pula menciptakan orang-orang sebelum kalian.Menciptakan bapak kalian, orang tua kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kita dari semenjak nabi Ādam alayhissalām, itulah Rabb yang berhak untuk disembah, selain itu (yang tidak memiliki sifat ini, yang tidak menciptakan) maka janganlah disembah supaya kalian bertaqwa.Menjadikan penjagaan antara kalian dengan neraka-Nya Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Kemudian Allāh mengatakan:ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗاRabb yang hendaknya kalian sembah, Dia lah yang telah menjadikan bagi kalian bumi ini menjadi terhampar sehingga mudah diambil manfaat.Maka inilah Rabb yang berhak untuk kalian ibadah, adapun selain Allāh yang tidak menjadikan bumi ini terhampar, maka dia tidak berhak untuk di ibadahi.وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗYang telah menjadikan langit menjadi bangunan yang besar ,yang berada diatas manusia. Dialah yang berhak untuk diibadahi dan disembah.وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗDan telah menurunkan dari langit air hujanفَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖKemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengeluarkan dengan air hujan tersebut buah-buahan sebagai rejeki bagi kalian.⇒ Inilah Rabb yang berhak untuk diibadahi dan disembah.Menjadikan bumi terhampar menjadikan langit menjadi bangunan, menurunkan air dari awan kemudian dialah yang telah mengeluarkan tanaman, biji-bijian, buah-buahan dengan air tersebut.⇒ Inilah Rabb yang berhak untuk disembahdan diibadahi.فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَMaka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allāh, sedangkan kalian mengetahui.Janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allāh!Beribadah kepada Allāh juga beribadah kepada selain Allāh, sedangkan kalian mengetahui (memahami) bahwasanya yang menciptakan kalian, yang menjadikan bumi terhampar, menjadikan langit menjadi bangunan, menurunkan air hujan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Kalau kalian mengetahui bahwasanya yang melakukan itu semua adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tidak ada yang melakukan itu semua kecuali ,Allāh maka janganlah kalian menyekutukan Allāh (menyembah Allāh juga menyembah selain Allāh).Beribadah kepada Allāh bersamaan itu beribadah juga kepada selain Allāh, menyerahkan ibadahnya sebagian kepada Allāh tetapi juga menyerahkan sebagian ibadah yang lain kepada selain Allāh.Jadi keimanan kita, bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki (baik dari langit maupun dari bumi), mengatur alam semesta ini, seharusnya ini menjadikan kita tidak beribadah kecuali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.(QS. Al Baqarah: 21-22)⇒ Inilah maksud dari ayat yang mulia ini.Oleh karena itu setelahnya beliau menukil ucapan Ibnu Katsīr (yang memiliki kitāb tafsīr Al Qur’ānil ‘Azhīm I/197)Beliau mengatakan:الخالق لهذه الأشياء هو المستحق للعبادةBerkata Ibnu Katsīr rahimahullāh:“Yang menciptakan ini semua, Dia lah yang berhak untuk di ibadahi.”Adapun yang tidak menciptakan ini dan itu maka mereka tidak berhak untuk diibadahi meskipun memiliki kedudukan yang tinggi diantara manusia.√ Seorang nabi adalah orang yang mulia disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tetapi dia tidak menciptakan, oleh karena itu tidak berhak untuk di ibadahi.√ Seorang malāikat adalah hamba Allāh yang mulia di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi dia tidak menciptakan oleh karena itu, tidak berhak untuk di ibadahi dan tidak berhak untuk disembah.Jika didalam hati kita meyakini bahwasanya Allāh satu-satunya yang mencipta, memberikan rejeki dan mengatur alam semesta ini, maka seharusnya kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allāh.Orang-orang musyrikin Quraisy yang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus diantara mereka mereka adalah orang-orang yang mengakui bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang mencipta dan mengakui bahwasanya Allāh yang memberikan rejeki kepada mereka, dan bahwasanya Allāh yang mengatur alam semesta ini.Mereka mengakui itu semua akan tetapi ketika diajak oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk hanya menyerahkan ibadah kepada Allāh saja mereka menolak.⇒ Mereka tidak mengikuti ajakan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Padahal mereka mengakui rubūbiyah Allāh, dan bahwasanya Allāh yang menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka, tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwasanya patung-patung yang ada disekitar Ka’bah, itulah yang menciptakan mereka. Tidak!Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla sendiri yang telah mengabarkan keyakinan mereka tentang Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَKatakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allāh”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”(QS. Yūnus: 31)Inilah jawaban orang-orang musyrikin Quraisy Mereka mengatakan dan meyakini bahwasanya Allāh yang melakukan itu semua, tetapi mereka tidak mau mengEsakan Allāh, (mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla) didalam ibadah mereka sehari-hari.Terkadang mereka menyembah kepada Allāh (kalau mau) dan terkadang mereka menyembah kepada selain Allāh, sebagaimana ketika mereka berada ditengah lautan, datang ombak yang besar, datang angin yang kencang, dalam keadaan sangat bahaya baru mereka ingat kepada Allāh dan mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Tetapi ketika mereka sudah diselamatkan sampai kedaratan, mereka lupa kepada Allāh dan kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ“Apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allāh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allāh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allāh)”(QS. Al Ankabut: 65)Mereka berdo’a kepada Allāh, dalam keadaan ikhlās hatinya untuk Allāh, mengatakan,”Yā Allāh, seandainya Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.Ketika Allāh menyelamatkan mereka, sampai kesadaran tiba-tiba mereka menyekutukan Allāh. Terkadang menyembah kepada Allāh berdo’a semata hanya kepada Allāh dan terkadang mereka menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Kemudian Allāh mengatakan, didalam ayat tadi setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyuruh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada mereka, “Siapakah yang telah memberikan rejeki, mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan?”. Ketika mereka mengatakan Allāh, maka Allāh mengatakan kepada Nabi-Nya.“Maka katakanlah kepada mereka, kenapa kalian tidak takut kepada Allāh, kenapa kalian tidak takut dengan adzab Allāh?”Sudah tahu bahwasanya Allāh yang mencipta dan tidak ada yang mencipta selain Allāh, kemudian kalian menyekutukan Allāh dengan yang lain.⇒ Keyakinan bahwasanya Allāh yang mencipta adalah fitrah, yang Allāh fitrahkan kepada manusia.Ketika Allāh menciptakan mereka (manusia) di fitrahkan didalam hatinya keyakinan dan kepercayaan bahwa Allāh yang menciptakan, yang memberi rejeki dan mengatur alam semesta ini.Oleh karena itu orang-orang musyrikin Quraisy yang dikatakan musyrikin oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, didalam hatinya juga meyakini bahwa Allāh yang menciptakan mereka.Karena ini adalah fitrah, bahkan Fir’aun yang mengatakan, “Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi”, sebenarnya dia meyakini bahwasanya dia bukan Rabb dan meyakini bahwasanya Allāhlah Rabb dia, yang telah menciptakan dia dan bahwasanya apa yang berasal dari Mūsā berupa ayat-ayat dan muzijat semuanya dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan Allāh kabarkan didalam Al Qur’ān tentang bagaimana sebenarnya keyakinan Fir’aun.قَالَ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗاDia (Mūsā) menjawab, ”Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir‘aun.”(QS. Al Isrā’: 102)Menunjukkan bahwasanya Fir’aun mengetahui tentang Allāh, dan dia lah yang telah menciptakannya dan juga menciptakan alam semesta dan bahwasanya ucapan dia, “Aku adalah Rabb yang paling tinggi” adalah ucapan yang keluar dari orang yang sombong, mengetahui yang al haq tetapi dia mengucapkan dan menolak kebenaran tersebut.Fir’aun mengenal bahwasanya Allāh adalah Rabb semesta alam, jangan kan Fir’aun syaithān dan iblīs mengenal bahwasanya Allāh yang telah menciptakan dia dan menciptakan nabi Ādam alayhissallām.Allāh berkata kepada iblīs setelah dia diperintahkan untuk bersujud, (sujud penghormatan) kepada Nabi Ādam kemudian dia menolak.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌۭ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍۢ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍۢAllāh berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Ādam ) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblīs “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia (Ādam) Engkau ciptakan dari tanah”(QS. Al ‘Arāf: 12)Didalam ayat yang lain dia mengatakan:قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَIblīs menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus”(QS. Al ‘Arāf: 16)Iblīs memanggil kepada Allāh dengan Rabb, mengenal bahwasanya Allāh adalah rabb Nya, apakah ini bermanfaat bagi syaithān?Tidak bermanfaat baginya, karena dia tidak melaksanakan perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Mengenal bahwasanya Allāh yang menciptakan, memberikan rejeki dan mengatur alam semesta adalah fitrah yang seharusnya menuntun kita hanya beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Oleh karena itu disini, beliau mendatangkan ayat:يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”(QS. Al Baqarah: 21)Dan ini adalah perintah pertama didalam Al Qur’ān, didalam Al Qur’ān banyak perintah, tapi perintah pertama yang Allāh sebutkan didalam Al Qur’ān adalah perintah untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata.Betapa besar dan agungnya perintah untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sehingga Allāh menjadikan perintah untuk beribadah ini sebagai perintah yang pertama didalam Al Qur’ān sebelum perintah-perintah yang lain.⇒ Dan larangan berbuat syirik adalah larangan yang pertama didalam Al QurānTadi disebutkan Allāh berfirman:فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًۭا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allāh, padahal kamu mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 22)Dan ini adalah larangan yang pertama didalam Al Qurān (larangan berbuat syirik).√ Perintah pertama adalah perintah untuk bertauhīd dan larangan pertama adalah larangan dari perbuatan syirik.Itulah yang bisa kita sampaikan.Wallāhu Ta’āla A’lam.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke empat belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke empat belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,اَلْأَصْلُ الرَّابِعُ : بَيَانُ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ ، وَالْفِقْهِ وَالْفُقَهَاءِ ، وَبَيَانُ مَنْ تَشَبَّهَ بِهِمْ وَلَيْسَ مِنْهُمْPerkara pokok yang keempat adalah tentang:Penjelasan makna dari ilmu dan para ulama dan makna dari fiqih dan juga para fuqaha’ dan menjelaskan tentang orang-orang yang menyerupai mereka, padahal dia bukan termasuk ulama dan bukan termasuk fuqaha’.Hal ini juga termasuk perkara yang penting seperti yang dikatakan oleh pengarang, karena banyak di zaman kita orang yang tidak mengetahui apa itu sebenarnya ilmu.Yang telah datang keutamaannya di dalam Al Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Yang kita diperintahkan untuk menuntutnya.yang dengannya seseorang mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah.Yang dengannya dia bisa selamat di dunia dan juga di akhirat.Banyak diantara saudara-saudara kita yang belum mengetahui apa sebenarnya ilmu tersebut.Dan para ulama menjelaskan yang dimaksud dengan ilmu yang ada di dalam Al Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang kita didorong dan dianjurkan untuk menuntutnya, yang barangsiapa menuntutnya maka akan dimudahkan jalan menuju surga, dan bahwasanya orang yang menuntutnya berarti Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menginginkan kebaikan darinya.Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah:ما قال الله و قال الرسول“Apa yang dikatakan oleh Allah dan apa yang dikatakan oleh Rasul-Nya.”Apabila di situ disebutkan ilmu, maka yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah ilmu syar’i, ilmu yang bersumber (berdasar) dari Al Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang shahih.Di dalam ayatnya, Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ“Allah Subhānahu wa Ta’āla akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)Di sini Allah Subhānahu wa Ta’āla berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan juga orang-orang yang diberikan ilmu, diangkat oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla beberapa derajat.Yang dimaksud dengan ilmu di dalam ayat ini adalah ilmu agama, apa yang dikatakan oleh Allah dan apa yang dikatakan oleh Rasul-Nya.Demikian pula firman Allah Subhānahu wa Ta’āla menceritakan tentang perintah Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada Nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu sebagaimana firman Allah,وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًۭاDan katakanlah wahai Muhammad, “Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)Maka yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya.Allah Subhānahu wa Ta’āla menyuruh Nabi-Nya untuk meminta tambahan, bukan meminta tambahan dunia atau kekuasaan atau yang lain, akan tetapi disuruh untuk meminta tambahan ilmu, dan ilmu di sini adalah ilmu agama.Demikan pula ilmu yang datang di dalam hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka yang dimaksud adalah ilmu agama.Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menuntut atau menempuh sebuah jalan di dalam jalan tersebut dia ingin mencari ilmu agama, maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan memudahkan dia jalan menuju surga.” (Hadits shahih riwayat Muslim)Dan jalan di sini, bisa jalan haqiqi seseorang bepergian jauh dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan atau yang dimaksud dengan jalan di sini adalah jalan maknawi yaitu cara untuk mendapatkan ilmu. Seperti seseorang membaca atau mendengarkan, maka ini juga termasuk jalan menuntut ilmu agama. Pahalanya maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan memudahkan dia jalan menuju Surga.Karena orang yang menuntut ilmu maka dia akan mengetahui yang benar, sehingga dia bisa mengamalkan kebenaran tersebut. Dan orang yang menuntut ilmu maka dia akan mengenal yang bathil, sehingga dia dengan mudah meninggalkan kebathilan tersebut.Apabila seseorang istiqomah dengan ilmu yang dia miliki, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, dan mengetahui kebathilan kemudian meninggalkannya, sampai dia meninggal dunia maka diharapkan orang yang demikian akan dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla masuk ke dalam surga

💬 0 komentar📅 11 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 90

Halaqah 90Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Kelima Hadits Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu (Bagian 02)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaPenulis kitab mengajak untuk merenungi (ta'ammul) riwayat para sahabat yang ingin fokus beribadah secara berlebihan:​«فَتَأَمَّلْ! إِذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ أَرَادَ التَّبَتُّلَ لِلْعِبَادَةِ، قِيلَ فِيهِ هَذَا الكَلَامُ الغَلِيظُ: (فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي؛ فَلَيْسَ مِنِّي) وَسُمِّيَ فِعْلُهُ رُغُوبًا عَنِ السُّنَّةِ؛ فَمَا ظَنُّكَ بِغَيْرِ هَذَا مِنَ البِدَعِ؟ وَمَا ظَنُّكَ بِغَيْرِ الصَّحَابَةِ؟»"Maka renungkanlah! Apabila sebagian sahabat (yang mulia) hendak mengkhususkan diri untuk beribadah (secara berlebihan), lalu dikatakan kepada mereka ucapan yang sangat keras ini: (Barang siapa yang benci terhadap sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku), dan perbuatan mereka dinamakan sebagai bentuk membenci/memalingkan diri dari sunnah; maka bagaimana prasangkamu dengan bentuk bid'ah selain dari ini? Dan bagaimana prasangkamu apabila yang melakukannya adalah selain para sahabat?"Dalil-DalilHadits Utama (HR. Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu)Matan Hadits: Teks di atas (terdapat dalam Shahih Muslim).Hadits Syarat Diterimanya Amalan​مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ"Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak."Pemahaman dan Kandungan MateriPerkara yang Tidak Dilihat/Dinilai oleh Allah ﷻ​Jasad Manusia (Ajsādikum): Allah ﷻ tidak menilai seseorang berdasarkan fisik (gemuk, kurus, tinggi, pendek, tampan, atau jelek). Semua fisik adalah ciptaan Allah.​Harta Manusia (Amwālikum): Kekayaan, kemiskinan, atau tingkatan ekonomi tidak menjadi standar keutamaan/derajat di sisi Allah.​Pelajaran: Seseorang tidak boleh menjadikan besarnya jasad atau banyaknya harta sebagai tujuan utama (himmah).Dua Perkara Utama yang Dilihat oleh Allah ﷻ​Hati Manusia (Qulūbikum):​Allah melihat kondisi batin manusia: keikhlasan, keimanan, rasa takut (khauf), rasa cinta (mahabbah), harapan (raja'), tawakal, zuhud, serta kebersihan hati dari riya, sum'ah, dan syahwat yang diharamkan.​Kewajiban Hamba: Menjaga kebersihan hati secara ekstra. Malu kepada Allah jika hati kotor oleh maksiat, serta bersegera membersihkannya dengan istighfar, taubat, dan amal saleh. Perhatian terhadap hati harus jauh melebihi perhatian terhadap benda duniawi (seperti kendaraan/mobil).​Amalan Manusia (A'mālikum):​Allah melihat apakah amalan hamba sesuai dengan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ atau justru mengikuti hawa nafsu dan kebid’ahan.​Amalan yang diridhai dan diterima Allah hanyalah amalan yang mencakupi syarat kesesuaian dengan Sunnah Nabi ﷺ (berdasarkan hadits Man 'amila 'amalan...).Korelasi dengan Istiqamah diatas Islam​Sabda Nabi ﷺ (wa lākin yanzhuru ilā qulūbikum wa a'mālikum) memberikan dorongan kuat untuk:​Beramal sesuai petunjuk Islam yang dibawa Nabi ﷺ.​Istiqamah di atas amalan yang sesuai Islam hingga akhir hayat, karena Allah senantiasa melihat dan menilai amalan tersebut secara berkesinambungan.Kesimpulan Halaqah 90 menegaskan bahwa standar kemuliaan di sisi Allah bukan terletak pada tampilan fisik (jasad) maupun kadar kekayaan (harta), melainkan pada kesucian batin (hati) dan kebenaran tindakan (amalan). Seorang hamba dituntut untuk senantiasa menyucikan hatinya dari penyakit-penyakit batin serta memastikan setiap amalannya sesuai dengan Sunnah Nabi ﷺ dan istiqamah di atasnya sampai akhir hayat.

💬 0 komentar📅 11 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 15

Halaqah yang ke lima belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beberapa Contoh Keadaan yang Berkaitan dengan Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah”.1. Keimanan Abu BakarKeimanan Abu Bakar berkaitan dengannya dua Iradah sekaligus (Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah).Berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Bakar.Dan berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah mentakdirkan, mewujudkan, dan menciptakan keimanan Abu Bakar.2. Keimanan Abu JahalKeimanan Abu Jahal berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah saja dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah.Berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Jahal.Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan, mewujudkan, dan menciptakan keimanan Abu Jahal.3. Kemaksiatan orang yang berbuat maksiatKemaksiatan orang yang berbuat maksiat berkaitan dengannya Iradah Kauniyah saja dan tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah.Berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah mentakdirkan, mewujudkan, & menciptakan kemaksiatan tersebut.Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena secara syari’at, Allah tidak mencintai dan menginginkan kemaksiatan tersebut.4. Kekufuran Orang yang Beriman yang Tidak TerjadiHal ini tidak berkaitan dengannya dua Iradah.Tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena secara syari’at, Allah tidak mencintai dan tidak menginginkan kekufuran orang yang beriman.Dan tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan kekufuran orang yang beriman dan tidak mewujudkannya serta tidak menciptakannya.

💬 0 komentar📅 11 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 90

Halaqah 90 | Allāh ﷻ Tidak Membutuhkan ‘Arsy dan Allāh ﷻ Penguasa Segala SesuatuKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-90 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَهُوَ جَلَّ جَلَالُهُ مُسْتَغْنٍ عَنِ العَرْشِ وَمَا دُوْنَهُDan Dia, Allāh ﷻ, tidak butuh dengan ‘Arsy, dan apa yang ada di bawah ‘Arsy.Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy. Hal ini harus kita imani, dan bukan berarti Allāh ﷻ membutuhkan ‘Arsy. Allāh ﷻ tidak butuh dengan ‘Arsy.Bukan berarti jika Allāh ﷻ berada di atasnya, kemudian Allāh butuh terhadap ‘Arsy. Sebagian orang membayangkan, jika Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy, maka jika ‘Arsy jatuh, berarti Allāh akan jatuh juga. Subhānallāh, ini adalah tasybih, kemudian akhirnya mereka mengingkari sifat istiwā’ Allāh ﷻ. Tidak semua yang berada di atas sesuatu harus membutuhkan apa yang ada di bawahnya. Langit berada di atas awan, tapi bukan berarti langit membutuhkan awan, dan seterusnya. Secara umum, maka makhluk semuanya membutuhkan Allāh ﷻ.يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِQS. Fāṭir (35:15)Wahai manusia, kalian semua sangat membutuhkan Allāh ﷻ. Langit yang demikian besar tadi, siapa yang menahannya sehingga ia tidak jatuh? Allāh ﷻ yang menahan.إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَاQS. Fāṭir (35:41)Allāh ﷻ Dia-lah yang menahan langit dan bumi agar tidak jatuh, tidak goyah.Langit yang demikian kokoh di atas, jika Allāh ﷻ menghendaki, ia bisa jatuh, tetapi Allāh yang menahannya. Langit yang di atasnya dan seterusnya, Allāh ﷻ menahan agar tidak jatuh. Demikian pula bumi kita, yang berada di tengah-tengah alam semesta yang sangat besar ini, Allāh ﷻ yang menahannya.Demikian pula ‘Arsy yang sangat besar tadi, Allāh ﷻ yang menahannya. Kursi yang demikian besar tadi, Allāh ﷻ juga yang menahannya. Jika Allāh ﷻ menghendaki, Allāh bisa menghancurkan mereka. Allāh ﷻ tidak membutuhkan mereka, melainkan mereka yang membutuhkan Allāh ﷻ.Kemudian, beliau mengatakanمُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وفَوْقَهُAllāh ﷻ Dia-lah yang meliputi segala sesuatu, karena Dia-lah yang Maha Besar. Allāh ﷻ yang meliputi segala sesuatu. Allāh yang mengetahui segala sesuatu, mendengar segala sesuatu, melihat segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allāh. Semuanya adalah ciptaan Allāh.‘Arsy dan langit dan kursi dan seluruhnya itu adalah sangat kecil di hadapan Allāh ﷻ. Oleh karena itu, Allāh ﷻ meliputi segala sesuatu, sebagaimana disebutkan dalam ayatوَٱلسَّمَـٰوَٰتُ مَطْوِيَّـٰتٌۭ بِيَمِينِهِۦ (QS. Az-Zumar: 67)Pada hari kiamat, langit-langit yang demikian besar akan digulung oleh Allāh dengan tangan kananNya, dan itu adalah sangat kecil di hadapan Allāh ﷻ.مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وفَوْقَهُDan Allāh ﷻ berada di atas segala sesuatu, karena di antara sifat Allāh adalah Al-‘Uluw. Fauqohū dhamir hu di sini kembali kepada kulli shay’, jadi Allāh muḥīṭun bi qulli shay’ dan Allāh fauqahu yaitu fauqa kulli shay’ karena di antara nama Allāh adalah Al-‘Alī, yang Maha Tinggi. Wa fauqohū dan Allāh ﷻ berada di atas segala sesuatu, Dialah yang Maha Tinggi.A’ā mintum man fiṣ-samā’ (Apakah kalian merasa aman dengan yang ada di atas?)وَقَدْ أَعْجَزَ عَنِ الإِحَاطَةِ خَلْقَهُDan Allāh ﷻ telah menjadikan makhluk-Nya tidak mampu untuk meliputi Allāh.وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ(QS. Al-An’am: 103)Mereka tidak bisa meliputi Allāh. Mereka melihat Allāh, tapi tidak bisa meliputi Allāh,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ(QS. Al-Baqarah: 255)Tidak mungkin mereka bisa meliputi dari ilmu Allāh kecuali apa yang Allāh kehendaki.Allāh ﷻ yang meliputi mereka dengan kekuasaan-Nya, dengan kebesaran-Nya, tapi mereka tidak mungkin meliputi Allāh ﷻ karena mereka adalah makhluk yang kecil. Seandainya mereka bisa melihat, melihatnya adalah melihat yang sesuai dengan keterbatasan mereka sebagai makhluk.وَقَدْ أَعْجَزَ عَنِ الإِحَاطَةِ خَلْقَهُDan sungguh, Allāh ﷻ telah menjadikan makhluk-Nya ini lemah untuk bisa meliputi Allāh ﷻ.

💬 0 komentar📅 11 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

BERIMAN DENGAN AMALAN-AMALAN MALAIKAT Bagian Keempat

BERIMAN DENGAN AMALAN-AMALAN MALAIKATBagian KeempatMalaikat tidak hanya mendoakan kebaikan, tetapi juga mendoakan kejelekan bagi orang-orang tertentu dengan perintah Allah.1. Laknat bagi orang yang meninggal dalam keadaan kafirAllah menyebutkan bahwa orang-orang yang kafir dan meninggal dalam keadaan kafir mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.📖 QS. Al-Baqarah: 1612. Laknat bagi orang yang membuat bid’ah di Madinah atau melindunginyaBarang siapa membuat bid’ah di Madinah atau melindungi orang yang membuat bid’ah di dalamnya, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.📚 HR. Bukhari no. 1867 dan Muslim; HR. Muslim no. 1371a3. Laknat bagi orang yang mencela para sahabat Nabi ﷺBarang siapa mencela para sahabat Nabi ﷺ, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.📚 HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir4. Laknat bagi orang yang mengacungkan senjata kepada saudaranya sesama MuslimOrang yang mengacungkan senjata kepada saudaranya akan dilaknat oleh para malaikat, bahkan jika orang tersebut adalah saudara kandungnya.📚 HR. Muslim5. Laknat bagi istri yang enggan memenuhi ajakan suaminya ke tempat tidurApabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian istrinya enggan dan suaminya bermalam dalam keadaan marah, maka malaikat melaknatnya sampai pagi.📚 HR. Bukhari dan MuslimMakna laknat malaikatLaknat malaikat dalam dalil-dalil tersebut adalah doa malaikat kepada Allah agar Allah menjauhkan orang tersebut dari rahmat-Nya. Materi juga menyebutkan doa jelek malaikat bagi orang yang menahan infak yang diwajibkan atasnya.🌿 Pelajaran: Beriman kepada amalan malaikat berarti meyakini bahwa mereka melaksanakan perintah Allah, termasuk mendoakan kebaikan maupun kejelekan sesuai dengan apa yang Allah perintahkan.

💬 0 komentar📅 11 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 15 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 03)

Silsilah Ilmiyyah Al-Ushul Ats-TsalatsahMengenal Allah ﷻ Melalui Makhluk-Makhluk-NyaTema UtamaMengenal Allah melalui Ciptaan-NyaSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa salah satu cara mengenal Allah adalah dengan memperhatikan makhluk-makhluk-Nya.Beliau berkata:ومن مخلوقاته السماوات السبع ومن فيهن والأرضون السبع ومن فيهن وما بينهما“Dan di antara makhluk-makhluk-Nya adalah tujuh langit dan apa yang ada di dalamnya, tujuh bumi dan apa yang ada di dalamnya, serta apa yang ada di antara keduanya.”1. Makhluk-Makhluk Besar yang Menunjukkan Kebesaran AllahA. Tujuh LangitAllah menciptakan:Tujuh lapis langit.Tanpa tiang yang terlihat.Dengan ukuran yang sangat besar.Di dalam langit terdapat:MalaikatBintang-bintangPlanet-planetBerbagai makhluk yang hanya diketahui AllahB. Tujuh BumiAllah juga menciptakan:Tujuh bumi.Apa saja yang ada di dalamnya.Berbagai makhluk dan kehidupan.C. Makhluk di Antara Langit dan BumiDi antaranya:AwanAnginHujanManusiaHewanTumbuhanBerbagai makhluk lainnyaSemuanya menunjukkan:Kekuasaan AllahKebesaran AllahKesempurnaan ilmu Allah2. Tafakur terhadap Alam SemestaSemakin seseorang merenungi ciptaan Allah, semakin ia mengenal Rabbnya.Yang dipelajari dari alam:Allah Maha Besar.Allah Maha Kuasa.Allah Maha Mengetahui.Allah Maha Mengatur.Karena tidak mungkin alam semesta yang sangat teratur ini tercipta tanpa Pencipta Yang Maha Sempurna.3. Besarnya Langit Menunjukkan Kebesaran AllahKetika manusia melihat:BumiMatahariPlanetBintangGalaksiMaka semua itu sebenarnya masih berada di bawah langit dunia (langit pertama).Padahal:Ada langit kedua.Ada langit ketiga.Hingga langit ketujuh.Setiap langit memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada langit sebelumnya.4. Kursi dan ’Arsy AllahDalam hadits disebutkan:Perbandingan Langit dan KursiTujuh langit dan tujuh bumi dibandingkan dengan Kursi Allah seperti:Sebuah cincin kecil yang dilemparkan di tengah padang pasir yang luas.Perbandingan Kursi dan ’ArsyKursi dibandingkan dengan ’Arsy juga seperti:Sebuah cincin kecil yang dilemparkan di tengah padang pasir.Hal ini menunjukkan:Sangat besarnya Kursi Allah.Sangat besarnya ’Arsy Allah.5. Makna “Allahu Akbar”Jika makhluk Allah saja begitu besar, maka:Allah jauh lebih besar daripada seluruh ciptaan-Nya.Karena itu kalimat yang pertama dikumandangkan dalam adzan adalah:الله أكبر“Allah Maha Besar.”Dan kalimat pertama dalam shalat adalah:Takbiratul Ihram“Allahu Akbar.”Hikmah TakbirKetika mengucapkan:Allahu AkbarSeorang muslim mengingat bahwa:Allah lebih besar dari dunia.Allah lebih besar dari pekerjaan.Allah lebih besar dari masalah hidup.Allah lebih besar dari segala yang ditakuti.Sehingga hatinya menjadi:KhusyukTundukBergantung kepada Allah6. Dalil dari Al-Qur’anQS. Fussilat: 37“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya.”Pelajaran AyatMalam, siang, matahari, dan bulan:Bukan sesembahan.Hanya makhluk Allah.Karena itu ibadah hanya boleh diberikan kepada:Allah Sang Pencipta.Bukan kepada makhluk.7. Dalil Kedua: QS. Al-A’raf Ayat 54Allah berfirman:“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy…”Kandungan AyatAllah PenciptaAllah menciptakan:LangitBumiMatahariBulanBintang-bintangAllah PengaturAllah mengatur:Pergantian siang dan malam.Peredaran matahari.Peredaran bulan.Peredaran bintang.Semuanya tunduk kepada perintah Allah.Allah Pemilik Seluruh UrusanAllah berfirman:أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ“Ingatlah! Menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.”Artinya:Allah yang menciptakan.Allah yang mengatur.Allah yang berhak ditaati.Allah yang berhak disembah.Hubungan Rububiyah dan UluhiyahKarena Allah adalah:PenciptaPengaturPemberi rezekiPemilik alam semestaMaka konsekuensinya:Hanya Allah yang berhak diibadahi.Sebagaimana ucapan penulis:وهو معبودي ليس لي معبود سواه“Dialah sesembahanku, tidak ada sesembahan bagiku selain Dia.”Poin-Poin Penting untuk DihafalMakhluk Allah yang DisebutkanTujuh langit.Tujuh bumi.Makhluk di antara keduanya.Yang Ada di LangitMalaikatBintangPlanetMakhluk lainnyaYang Ada di Antara Langit dan BumiAwanAnginHujanManusiaHewanTumbuhanPelajaran dari Alam SemestaAllah Maha Besar.Allah Maha Kuasa.Allah Maha Mengetahui.Allah Maha Mengatur.DalilQS. Fussilat: 37Jangan menyembah matahari dan bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya.QS. Al-A’raf: 54Allah adalah Pencipta dan Pengatur seluruh alam.KesimpulanHalaqah ini mengajarkan bahwa salah satu jalan mengenal Allah adalah dengan memperhatikan makhluk-makhluk-Nya. Tujuh langit, tujuh bumi, serta seluruh makhluk di antara keduanya menunjukkan kebesaran, kekuasaan, ilmu, dan hikmah Allah. Semakin seseorang bertafakur terhadap ciptaan Allah, semakin kuat pengenalannya kepada Allah dan semakin yakin bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Karena Dia satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan Pemilik seluruh alam semesta.

💬 0 komentar📅 11 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat – Beriman dengan Amalan-Amalan Malaikat (Bagian Ketiga)

RINGKASAN MATERI6. Orang yang Menjenguk Orang yang SakitOrang yang menjenguk saudaranya sesama muslim yang sakit mendapatkan doa dari para malaikat.• Jika menjenguk pada pagi hari, 70.000 malaikat berselawat untuknya hingga sore.• Jika menjenguk pada sore hari, 70.000 malaikat berselawat untuknya hingga pagi.• Ia juga mendapatkan buah-buahan di Surga.(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, sahih)7. Malaikat Mengaminkan Ucapan Baik di Samping Orang Sakit atau MeninggalKetika menghadiri orang yang sakit atau meninggal, hendaknya mengucapkan ucapan yang baik, karena malaikat akan mengaminkan apa yang diucapkan.(HR. Muslim)8. Malaikat Mengaminkan Doa untuk Saudara Se-IslamBarangsiapa mendoakan kebaikan untuk saudaranya sesama muslim secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, maka malaikat yang ditugaskan akan berkata:“Aamiin, dan bagimu yang semisalnya.”(HR. Muslim)🌸 Pelajaran penting:Mendoakan saudara sesama muslim secara sembunyi-sembunyi merupakan amalan yang utama karena lebih dekat kepada keikhlasan. Doa tersebut juga menjadi sebab seseorang mendapatkan kebaikan yang semisal dengan apa yang ia doakan untuk saudaranya.🤲 Mari perbanyak mendoakan kebaikan untuk saudara-saudara sesama muslim, baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 89 | ‘Arsy dan Kursi Allāh ﷻ adalah Benar Adanya

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri : Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāhالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-89 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ‘Arsy dan juga Kursiy ini adalah benar adanya, dan keduanya adalah makhluk Allāh ﷻ yang disebutkan oleh Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’ān, dan juga disebutkan tentang sebagian sifatnya di dalam dalil. Maka kita katakan bahwa ‘Arsy dan Kursi itu adalah benar. Jangan kita ingkari meskipun mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya. Selama itu dikabarkan oleh Allāh ﷻ atau dikabarkan oleh Nabi ﷺ, maka harus kita imani.Al-‘Arsy ini adalah makhluk Allāh ﷻ yang paling besar, makhluk Allāh ﷻ yang paling tinggi, makhluk Allāh ﷻ yang pertama kali diciptakan oleh Allāh ﷻ. Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy, dan Kursi Allāh ﷻ sebagaimana dinukil dari Abdullah bin ‘Abbās, ini adalah mawḍi’u qadamihi, yaitu tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Tentunya Abdullah bin ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā tidak mengatakan yang demikian kecuali pernah mendengar itu dari Nabi ﷺ, karena hal yang seperti ini tidak mungkin dari ijtihad seorang sahabat. Pasti dia pernah mendengarnya dari Nabi ﷺ.Disebutkan bahwa Kursi ini adalah makhluk. Ada sebuah hadits di mana Nabi ﷺ mengatakan:إِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي النِّسْبَةِ إِلَى الْكُرْسِيِّ كَسَبْعِ دَرَاهِمَ أُلْقِيَتْ فِي تُرْسٍ“Sesungguhnya langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi Allāh itu seperti tujuh dirham (koin) yang dilemparkan ke tameng.”Tameng di sini adalah seperti perisai besar yang digunakan oleh seseorang yang berperang untuk melindungi dirinya. Tujuh koin dirham yang dilemparkan di tameng tersebut merupakan permisalan tujuh langit dibandingkan dengan Kursi Allāh ﷻ. Lihatlah bagaimana perbandingan antara tujuh koin dirham tadi dengan tameng, yang tentunya jauh lebih besar daripada koin tadi.Padahal, kalau kita melihat langit yang pertama saja, kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya. Ketika kita melihat cerita para ahli tentang bagaimana besarnya bumi, ternyata di sana ada planet yang lebih besar, dan matahari berlipat-lipat lebih besar daripada bumi. Kita membayangkan betapa besarnya matahari, ternyata di sana ada yang lebih besar daripada matahari dan jauh lebih besar daripada matahari, berjutaan kali lipat lebih besar dari matahari.Ternyata kita berada di satu galaksi, yaitu kumpulan bintang-bintang yang besar yang jumlahnya jutaan bintang, dan di sana banyak bintang yang lebih besar daripada matahari. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya galaksi Bima Sakti, di mana keberadaan kita berada, dan ternyata di alam semesta ini ada jutaan atau miliaran galaksi-galaksi yang merupakan kumpulan dari bintang-bintang. Galaksi Bima Sakti adalah salah satu di antara galaksi-galaksi tersebut. Itu semuanya berada di bawah langit yang pertama. Baru langit yang pertama, demikian besarnya.Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang ketebalan langit. Ternyata langit bukan sesuatu yang tipis, tetapi dia adalah sesuatu yang tebal. Dari bawah sampai atas, itu membutuhkan 500 tahun perjalanan untuk sampai dari bawah ke atas. Kemudian, untuk mencapai langit yang berikutnya juga membutuhkan 500 tahun perjalanan. Dari langit yang pertama sampai langit yang kedua, jika langit yang pertama kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya, lalu bagaimana dengan langit yang kedua, yang jauh lebih besar daripada langit yang pertama. Dan dia juga memiliki ketebalan yang sama. Antara langit yang kedua dengan lainnya juga demikian, lalu bagaimana dengan langit yang ketujuh? Allāhu Akbar. Maka tentunya ini adalah makhluk yang sangat besar.Tujuh langit ini dibandingkan dengan Kursi Allāh, maka ini seperti tujuh koin dirham yang dilemparkan di tameng tadi. Berarti, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kursi Allāh. Kursi Allāh jauh lebih besar. Bahkan disebutkan dalam hadits yang lain, itu seperti tujuh cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir. Subḥānallāh, ini menunjukkan betapa besarnya Kursi Allāh. Sehingga Allāh ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’ān:وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ(QS. Al-Baqarah: 255)Kursi Allāh ini meluas meliputi langit dan bumi, jauh lebih besar daripada langit dan bumi. Maka kita harus beriman dengan adanya Kursi ini. Diriwayatkan, dinukil dari Abdullah bin ‘Abbās bahwaمَوْضِعُ قَدَمَيْ الرَّحْمٰنِitu adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Kita tetapkan kaki Allāh ﷻ sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan kaki makhluk. Dan kita tetapkan Kursi bahwasanya di sana ada makhluk Allāh yang dinamakan dengan Kursi.Al-‘Arsy juga demikian. Al-‘Arsy ini jauh lebih besar daripada Kursi Allāh. Kalau tadi kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya Kursi Allāh, maka bagaimana dengan ‘Arsy? Disebutkan dalam hadits, perbandingan antara Kursi dengan ‘Arsy Allāh itu seperti cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir. Bagaimana seseorang bisa membayangkan tentang besarnya ‘Arsy Allāh? Dia adalahالْعَرْشِ الْمَجِيدِ‘Arsy yang sangat agung dan sangat besar. Dia adalah makhluk Allāh ﷻ yang paling besar, dan Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy.Jika itu adalah benar ciptaan Allāh ﷻ, maka bagaimana dengan yang menciptakan? Allāh ﷻ lah yang Maha Besar. Bagaimana seseorang bisa sombong dan tidak mau beribadah kepada Allāh ﷻ? Dia adalah makhluk yang sangat kecil. Seseorang seharusnya bersyukur bahwa Allāh ﷻ yang Maha Besar, demikian Maha Besarnya Allāh, namun Allāh ﷻ memperhatikan kita yang sangat kecil. Allāh ﷻ memberikan kita rezeki dan kenikmatan oleh Allāh ﷻ yang Maha Besar, yang Maha Rahmān, yang sangat memperhatikan setiap hamba-Nya.وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ، كَمَا بَيَّنَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ‘Arsy dan Kursiy ini adalah benar adanya sebagaimana Allāh ﷻ menerangkan di dalam Al-Qur’ān,وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَdan banyak di dalam Al-Qur’ān Allāh ﷻ menyebutkan tentang ‘Arsy. Allāh ﷻ berfirman:ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Allāh ﷻ beristiwa’ di atas ‘Arsy.”(QS. Al-A’rāf: 54)Dan Allāh ﷻ berfirman:وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء“Dan ‘Arsy Allāh ﷻ adalah berada di atas air.”(QS. Hūd: 7)Dan firman Allāh ﷻ:وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ“Dan Dia-lah Allāh ﷻ, Rabb bagi ‘Arsy yang sangat besar.”(QS. At-Tawbah: 129)Allāh ﷻ mensifati ‘Arsy dengan beberapa sifat, di antaranya adalah kebesaran. Bahwasanya ‘Arsy ini sangat besar, dan Allāh ﷻ beristiwa di atasnya, dan bahwasanya Allāh ﷻ adalah Rabb bagi ‘Arsy. Allāh ﷻ mensifati ‘Arsy ini dengan al-Karīm, sebagaimana firman Allāh:فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ“Maka Maha Tinggi Allāh, Raja yang sebenar-benarnya. Tidak ada ilah selain Dia, Rabb bagi ‘Arsy yang mulia.”(QS. Al-Mu’minūn: 116)Maka, apa yang datang di dalam Al-Qur’ān berupa kabar-kabar tentang ‘Arsy, harus kita imani.

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 14 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 02)

Silsilah Ilmiyyah Al-Ushul Ats-TsalatsahMengenal Allah ﷻ Melalui Ayat-Ayat dan Makhluk-NyaTujuan PembahasanSetelah mengetahui bahwa Allah adalah Rabb seluruh alam, muncul pertanyaan:“Bagaimana engkau mengenal Rabbmu?”Jawaban yang diajarkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah:فقل بآياته ومخلوقاته“Aku mengenal Rabbku melalui ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya.”1. Cara Mengenal Allah ﷻA. Melalui Ayat-Ayat AllahYang dimaksud ayat di sini adalah:Ayat KauniyahTanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di alam semesta.Contohnya:Pergantian siang dan malamMatahariBulanLangitBumiGunungLautanTumbuhanHewanSemua itu menunjukkan:Kebesaran AllahIlmu AllahHikmah AllahKekuasaan AllahB. Melalui Makhluk-Makhluk AllahMakhluk adalah segala sesuatu selain Allah.Seluruh makhluk:Diciptakan dari tidak ada menjadi ada.Memerlukan Allah.Tidak mampu berdiri sendiri.Dengan memperhatikan makhluk, seseorang akan mengenal:Keagungan AllahKesempurnaan AllahKekuasaan AllahKebijaksanaan Allah2. Tafakur Menjadi Jalan Mengenal AllahSemakin seseorang:MerenungMemikirkan ciptaan AllahMengamati alam semestaMaka semakin bertambah:Ma’rifatullah(Pengenalan terhadap Allah)Iman(Keyakinan kepada Allah)Ketundukan(Kepatuhan terhadap perintah Allah)Karena ia melihat bukti-bukti kekuasaan Allah di sekelilingnya.3. Sebagian Tanda Kekuasaan AllahSyaikh menyebutkan:ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan.”4. Tanda Kekuasaan Allah pada Malam dan SiangA. Allah Menciptakan Malam dan Siang dengan HikmahAllah tidak menciptakannya secara sia-sia.Fungsi SiangWaktu bekerjaWaktu mencari rezekiWaktu beraktivitasWaktu memenuhi kebutuhan hidupFungsi MalamWaktu beristirahatWaktu menenangkan tubuhWaktu memulihkan tenagaWaktu tidurB. Hikmah Pergantian Siang dan MalamDengan adanya pergantian tersebut:Kehidupan berjalan normal.Tubuh manusia mendapatkan keseimbangan.Manusia dapat mengatur waktu.Manusia dapat menghitung hari.C. Jika Hanya Ada SiangAkan muncul banyak mudarat:Sulit beristirahat dengan sempurna.Kehidupan tidak seimbang.Sulit membedakan hari.D. Jika Hanya Ada MalamAkan muncul banyak kesulitan:Aktivitas manusia terganggu.Banyak pekerjaan tidak dapat dilakukan.Kebutuhan penerangan sangat besar.Kehidupan menjadi lebih sulit.PelajaranPergantian siang dan malam menunjukkan:Rahmat AllahHikmah AllahIlmu AllahKekuasaan AllahAllah mampu:Mengubah siang menjadi malamMengubah malam menjadi siang5. Tanda Kekuasaan Allah pada MatahariKeistimewaan MatahariAllah menciptakan matahari:Sangat besarMenghasilkan cahayaMenghasilkan panas yang bermanfaatManfaat MatahariBagi ManusiaSumber cahaya alamiMembantu kesehatan tubuhMembantu aktivitas manusiaBagi TumbuhanMembantu proses pertumbuhanMenjadi sumber kehidupanBagi KehidupanMengurangi kebutuhan penerangan pada siang hariMenunjang keseimbangan alamJarak Matahari yang Sangat TepatAllah meletakkan matahari pada jarak yang sempurna.Jika Terlalu DekatBumi akan rusak.Kehidupan tidak dapat berlangsung.Jika Terlalu JauhManusia tidak memperoleh manfaat yang cukup.Kehidupan terganggu.Pelajaran dari MatahariMatahari menunjukkan:Ilmu AllahAllah mengetahui apa yang paling baik bagi makhluk-Nya.Hikmah AllahSegala sesuatu diciptakan dengan ukuran yang tepat.Qudrah AllahAllah mampu menciptakan dan mengatur matahari setiap saat.Kehidupan AllahAllah Maha Hidup dan tidak pernah lalai mengurus makhluk-Nya.6. Allah Tidak Pernah LalaiAllah berfirman:لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ“Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.”(QS. Al-Baqarah: 255)Maknanya:Allah selalu mengatur alam semesta.Allah selalu menjaga langit dan bumi.Tidak ada satu pun urusan yang luput dari pengawasan-Nya.7. Tanda Kekuasaan Allah pada BulanBulan juga merupakan salah satu ayat Allah yang sangat besar.Perbedaan Bulan dan MatahariMatahariMemancarkan sinar yang kuat.Menghasilkan panas.BulanMemantulkan cahaya yang lembut.Tidak membakar seperti matahari.Hikmah Diciptakannya BulanAllah menjadikan bulan:Memiliki fase-fase tertentu.Memiliki kedudukan-kedudukan tertentu.Menjadi alat perhitungan waktu.Fungsi BulanMenentukan TanggalManusia dapat mengetahui:Awal bulanPertengahan bulanAkhir bulanMenentukan TahunManusia dapat menghitung:Bulan-bulan HijriahPergantian tahunDalilQS. Yunus: 5وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ“Dan Allah menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”Buah Tafakur terhadap Ciptaan AllahOrang yang merenungkan:MalamSiangMatahariBulanLangitBumiakan semakin:Mengenal Allah (Ma’rifatullah)Bertambah ImannyaYakin terhadap Kekuasaan AllahTunduk kepada Perintah AllahMengagungkan AllahPoin-Poin Penting untuk DihafalCara Mengenal AllahMelalui ayat-ayat-Nya.Melalui makhluk-makhluk-Nya.Ayat Kekuasaan Allah yang DisebutkanMalamSiangMatahariBulanHikmah MalamIstirahatKetenanganTidurHikmah SiangAktivitasBekerjaMencari rezekiManfaat MatahariCahayaPanasKehidupanManfaat BulanMenentukan tanggalMenentukan bulanMenghitung tahunKesimpulanAllah ﷻ dapat dikenal melalui ayat-ayat kekuasaan-Nya dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Pergantian malam dan siang, serta penciptaan matahari dan bulan, menunjukkan kesempurnaan ilmu, hikmah, rahmat, dan kekuasaan Allah. Semakin seseorang bertafakur terhadap ciptaan Allah, semakin bertambah pengenalannya kepada Allah, keimanannya kepada-Nya, dan ketundukannya terhadap syariat-Nya.

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 14: Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah

Halaqah 14:Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Perbedaan antara Iradah Kauniyah Qadariyyah dan Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya:1. Iradah Kauniyah melazimkan terjadinya apa yang diinginkan oleh Allah.Misalnya Allah menginginkan menciptakan matahari maka terciptalah matahari.Sedangkan Iradah Syar’iyyah maka tidak melazimkan terjadinya apa yang Allah inginkan, seperti secara syari’at Allah menginginkan ke-Islam-an Abu Lahab tetapi hal tersebut tidak terjadi.2. Bahwa Iradah Kauniyah tidak melazimkan apa yang Allah inginkan tersebut dicintai oleh Allah, akan tetapi terkadang kejadiannya ada yg dicintai oleh Allah, misal keimanan orang yang beriman.Dan terkadang ada yang kejadiannya tidak dicintai oleh Allah, seperti kemaksiatan.Adapun Iradah Syar’iyyah maka kejadiannya pasti sesuatu yang dicintai oleh Allah, seperti keimanan orang yang beriman, ketaatan orang yang taat, dll.3. Iradah Kauniyah tidak melazimkan bahwa itu diperintah oleh Allah, sedangkan Iradah Syar’iyyah melazimkan bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah, artinya setiap yang diinginkan oleh Allah secara syari’at berarti dia diperintahkan.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →