🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta Untuknya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Maka masing² dari kita akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia dicipta untuknya.Melakukan apa yang sudah ditakdirkan untuk orang yang sudah Allāh tulis di dalam Lauhul Mahfudz, dia akan masuk ke dalam Surga maka ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan dia di dunia Allāh akan memudahkan dia untuk melakukan amalan² yang memasukkan dia ke dalam Surga atau yang menjadi sebab dia masuk kedalam Surga, misalnya dijadikan dia lahir di tengah² orang Islam kemudian diajarkan oleh orang tuanya tentang Islam yang benar atas seandainya dia lahir di negeri kafir orang tuanya kafir tapi Allāh tulis dia termasuk penduduk Surga maka akan ada jalan dia masuk ke dalam agama Islam, mungkin akan ada di sana (dinegeri kafir) dakwah ada yayasan yang didirikan kemudian salah satu sebab akhirnya dia mungkin tidak sengaja masuk ke dalam Masjid dan mendengar orang mengajak kepada Islam dan seterusnya, akhirnya masuk Islam, orang yang sudah Allāh subhanahu wa taala putuskan dia termasuk penduduk Surga makaمُيَسَّرٌDia akan dimudahkan untuk melakukan apa yang memang dia ditakdirkan untuk makanya kita katakan kita khusnudzon kepada Allāh, lihat siapa kita lemahnya kita ada hinanya kita tapi Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan karunia dan juga anugerah dipilih kita di antara sekian banyak manusia untuk mengenal Allāh lebih dalam, kita belajar tentang Nama² Allāh kita belajar tentang sifat Allāh kita mengenal lebih dalam tentang agama Allāh khusnudzon kepada Allāh, Allāh ingin memasukkan kita ke dalam Surganya Allāh mudahkan kita untuk menuntut ilmu agama Allāh jaga kita dan jadikan kita Istiqomah sampai detik ini kita berharap sampai kita tentunya sampai meninggal dunia di tengah² gelombang fitnah yang semakin dahsyat, baik fitnah syahwat maupun syubhat, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala tidak menjaga niscaya kita sudah terseret dengan arus, tenggelam bersama orang² yang tenggelam, tenggelam di dalam kebodohan, tenggelam didalam syahwat, tenggelam di dalam subhat, dan sudah banyak korban, kalau bukan Allāh subhanahu wa ta’ala yang menjaga niscaya kita tidak akan terjadi, maka kita khusnudzon kepada Allāh dan Allāh mengatakan,أَنَا عِنْدَ حسن ظَنِّ عَبْدِي بِيAku ini sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu.Kalau kita berprasangka baik kepada Allāh maka itulah yang akan kita dapat, kita berprasangka baik kepada Allāh, Allah ingin memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.Maka hendaklah kita bersyukur kepada Allāh atas seluruh Taufik dan juga hidayah, diantara bentuk syukur kita kepada Allāh subhanahu wa taala adalah dengan menjaga kenikmatan ini menjaga ketaatan kita kepada Allāh menjaga Istiqomah kita di dalam menuntut ilmu agama.وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُSebaliknya orang yang sudah ditentukan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam Nerakanya Allāh baik selamanya maupun sementara maka akan dimudahkan juga kalau memang dia adalah orang yang akan masuk ke dalam Neraka selama-lamanya maka ada saja di sana jalan sehingga dia meninggal di atas kekufuran diatas kesyirikan, mungkin dia dahulunya adalah seorang muslim & Allāh subhanahu wa ta’ala lebih tahu siapa yang berhak untuk masuk ke dalam Surga-nya dan Allāh lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan azabNya, Allāh tidak akan menzalim apa yang Allāh lakukan pasti di sana ada hikmah, Allāh mudahkan yang ini dan Allāh mudahkan yang itu Allāh lakukan itu semuanya dengan hikmah tidak ada kezaliman di dalam.Ini yang harus terpatri didalam diri seorang muslim.إنّ الله لا يَظِلم مثقال ذرَّةAllāh tidak akan mendholimi meskipun hanya sebesar dzarrah.Sehingga Allāh mengatakan,..وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ۝[QS Fushilat 46]Dan Rabbmu tidak akan menzalimi hamba²Nya. Masing² akan dimudahkan oleh Allāh, termasuk di antaranya pelaku maksiat dari orang Islam maka itu pun akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan dan Allāh lebih tahu siapa di antara mereka yang berhak untuk mendapatkan hidayah yang ada juga Istiqomah dan siapa yang tidak berhak dan Allāh subhanahu wa ta’ala sekali lagi tidak menzalimi hambaNya.اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُDan ini menjadikan seseorang ketika melihat saudara yang masih belum mendapatkan hidayah mungkin dia masih terkumpul dalam kebidahan dia atau di dalam firkah dia mengingat hadits iniوَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Melihat dengan kacamata kasih sayang, sayang kepada mereka, kasian kepada mereka yang masih belum mendapatkan hidayah sehingga nanti didalam dirinya untuk mengajak / di dalam dirinya untuk mendakwahi dengan maksud merahmati/ menyayangi bukan maksud mendzalimi atau menghinakan, kemudian ketika dia melihat keadaan mereka dan dia melihat pada dirinya sendiri semakin dia bertambah bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang tidak menjadikan dirinya seperti mereka yang masih terkungkung di dalam subhat hak mereka diantara bentuk syukurnya adalah dengan berusaha mengajak orang yang sesuai dengan kemampuan, dia menjelaskan mengajak dan ini adalah bentuk syukur dia atas nikmat hidayah yang telah Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, sebagaimana dia senang dan gembira bahagia mendapat hidayah maka dia senang juga seandainya orang lain juga mendapatkan hidayah tersebut sebagaimana dulu orang yang mendakwahi kita bersabar dalam mengajak kita, kitapun bersabar ketika mendakwahi orang lain mereka bersabar sehingga kita pun mendapatkan hidayah dan paham bahkan kita pun juga demikian,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِTidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk orang lain sebagaimana atau apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.ثُمَّ قَرَأَkemudian beliau ﷺ membaca firman Allāh,فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ ۝وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ ۝وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ ۝[QS Al Lail 5-10]Maka beliau rahimahullāh di sini mendatangkan ucapan,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،maka ini adalah Taufik dari Allāh subhanahu wa ta’ala setelah telah menjelaskan bahwasanya semuanya itu dengan takdir Allāh masuknya seseorang ke dalam Surga dengan takdir Allāh masuknya seseorang kedalam Neraka dengan takdir Allah maka beliau menjelaskan masing² akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia ditakdirkan untuknya, ini adalah dorongan bagi kita untuk beramal ingin masuk ke dalam Surga semua kita ingin masuk ke dalam Surga maka beramal lah karena masuk ke dalam Surga itu ada sebab,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ingin selamat dari Nerakanya Allāh ya jangan kita melakukan perkara yang menjadi sebab maksudnya seseorang ke dalam Neraka Allāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ini isyarat dari beliau beriman dengan takdir dan beriman dengan syariat sebagaimana yang kita ulang².

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 74

Kamis, 9 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 74Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kelima, Hadist Shahih Riwayat Ummu Salamah (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Makna Kalimat "لا ماصلوا" (Jangan Kalian Memerangi Mereka Selama Masih Shalat)​Nabi ﷺ, beliau mengatakan jangan kalian memerangi mereka:​لا ماصلوا​Maksudnya adalah selama mereka masih muslim. Selama mereka ini masih muslim, tidak keluar dari agama Islām, karena kezaliman yang mereka lakukan tidak mengeluarkan mereka dari Islām. Demikian pula kefasikan dan dosa besar yang mereka lakukan, tidak mengeluarkan mereka dari Islām. Selama mereka ini masih muslim, maka لاتقاتلهم (jangan memerangi mereka).​Kriteria Ulul Amri: Ulul amri yang kita diperintahkan untuk mentaati mereka adalah yang muslimun, berdasarkan firman Allāh:​۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ​(Minkum: muslimin).Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”(QS. An-Nisa: 59)Syarat Pemimpin dalam Kondisi Normal vs Kondisi Tidak Normal​Kondisi Normal (Ikhtiar/Tenang):Disyaratkan yang menjadi pemimpin adalah:​Laki-laki yang sehat.​Mengetahui tentang bagaimana cara mengatur negara dan mengurus urusan perang.Seorang yang merdeka.​Dari Quraisy (termasuk keturunan Quraisy).​Kondisi Tidak Normal: Mungkin salah satu dari syarat-syarat di atas kurang. Namun seandainya muncul dan diangkat seorang yang masih kurang di antara syarat-syarat tadi, maka ini tidak membatalkan kepemimpinan beliau. Dalilnya banyak, di antaranya:​Sabda Nabi ﷺ:​…وإن تأمَّرَ عليكم عبدٌ حبشِيٌّ​(Meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyah). Dalam keadaan normal disyaratkan merdeka, tapi seandainya ada seorang budak yang menjadi seorang pemimpin, wajib bagi kita mendengar dan taat.​Di dalam sebuah hadits:​وإن كان عبداً مجدع الأطراف​(Meskipun dia adalah seorang budak yang terpotong ujung-ujung jarinya). (HR. Muslim)​Penjelasan: Kita tahu bahwasanya orang yang terpotong ujung jarinya tidak bisa melakukan banyak perkara. Tangan memiliki banyak perkara yang bisa kita gunakan diantaranya dengan sebab jari-jari yang Allāh ciptakan pada tangan tersebut. Seandainya hanya ada tangan saja tanpa ada jari, maka banyak perkara yang tidak bisa kita kerjakan. Budak tadi مجدع الأطراف (putus jari jemarinya); kalau dia berperang tidak bisa berperang, bagaimana dia membawa tombak, membawa anak panah, membawa senjata atau pedang. Jika dia berperang dengan orang lain pasti kalah karena dia tidak punya kekuatan. Padahal jika dalam keadaan normal, disyaratkan seorang pemimpin yang sehat badannya dan sempurna.​Kepemimpinan Wanita dalam Kondisi Tertentu:Disyaratkan untuk seorang laki-laki, karena Nabi ﷺ mengatakan:​ما أفلح قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً​Artinya:“Tidak akan beruntung sebuah kaum yang mereka menjadikan urusan mereka ini diserahkan kepada seorang wanita.”​Ketentuan Syar'i: Ini jika dalam keadaan normal. Tapi dalam keadaan tertentu seorang wanita menjadi pemimpin, selama dia adalah seorang muslim maka sah kepemimpinannya. Bukan berarti boleh memberontak kepada pemimpin wanita (tidak boleh), selama dia Islām, karena muslimin mencakup laki-laki maupun perempuan. Seandainya disana Qadarullah ada seorang pemimpin/penguasa wanita dan dia adalah seorang muslimah, maka dia adalah termasuk ulul amr yang kita diwajibkan untuk taat kepadanya dan mendengar kepadanya, karena ukurannya di sini adalah Islām.Dalil Kafirnya Orang yang Meninggalkan Shalat​Nabi ﷺ di sini mengatakan ما صلوا (selama mereka ini masih shalat), dan ini juga menjadi dalil yang digunakan sebagian ulama tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat.​Karena Nabi ﷺ di sini menjadikan ukuran Islām dan tidaknya seseorang dari shalatnya. Selama mereka masih shalat (Muslim), jika sudah tidak shalat (Bukan Muslim).​Sebagaimana hadits:​الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ​Artinya:“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkan shalat maka sungguh dia telah kafir [keluar dari agama Islām].”(HR. Muslim)Syahid (Sisi Pendalilan) Bab: "البدعة أشد من الكبائر"​Kenapa muallif (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) mendatangkan hadits ini? (Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Muslim).​Kita lihat perbandingannya:​Ketika Nabi ﷺ berbicara tentang Khawarij (Ahlu Bid'ah):Beliau ﷺ memerintahkan untuk memerangi mereka dan membunuh mereka.​Ketika beliau mengabarkan tentang adanya pemimpin-pemimpin yang zalim (Pelaku Dosa Besar): Ternyata ketika ditanya, “Ya Rasulullah apakah kita memerangi mereka?” Beliau mengatakan لا تقاتلهم (jangan kalian memerangi mereka).​Alasan Perbedaan Hukum:​Khawarij disuruh diperangi karena mereka adalah ahlu bid'ah yang mudharat mereka—atau yang mereka hasilkan—ini banyak dan besar sekali.​Adapun yang dilakukan oleh umara (para pemimpin), maka itu sebatas kemaksiatan tidak sampai kepada kebidahan; jauh kezaliman yang mereka lakukan ini dari kebidahan.​Hal ini menunjukkan bahwasanya:​البدعة أشد من الكبائر​(Bid'ah itu lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar).Karena ketika beliau ﷺ menyebutkan tentang para pemimpin yang zalim, beliau melarang kita untuk memerangi mereka. Berarti sesuatu yang disuruh untuk diperangi (bid'ah Khawarij) itu lebih dahsyat daripada sesuatu yang tidak disuruh diperangi (kezaliman dosa besar).​Di sini ada hubungan yang erat antara hadits yang kemarin (أينما لقيتموهم فاقتلوهم) dengan hadits yang sekarang (لا ماصلوا). Oleh karenanya digandengkan oleh beliau, supaya kita memahami dan supaya kita bisa langsung membandingkan antara yang pertama (bid'ahnya orang-orang Khawarij) dengan kezaliman yang dilakukan oleh umara-umara yang zalim.Kesimpulan​Hadits dari Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini menegaskan bahwa kepemimpinan seorang muslim tetap sah dan wajib ditaati dalam hal yang ma'ruf—meskipun pemimpin tersebut seorang budak yang cacat, seorang wanita dalam kondisi tertentu, atau penguasa yang melakukan dosa besar dan kezaliman—selama mereka masih mendirikan shalat (ما صلوا). Hadits ini sekaligus menjadi dalil bahwa pembatas keislaman seseorang adalah shalat, di mana orang yang meninggalkannya dihukumi kafir keluar dari Islām (فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ).​Sisi pendalilan utama (syahid) dari bab ini adalah perbandingan hukum yang kontras dari Nabi ﷺ: beliau memerintahkan untuk memburu dan membunuh kaum Khawarij karena bahaya kebid'ahannya yang sangat besar, namun sebaliknya, beliau melarang keras memerangi pemimpin yang dzalim dan fasiq selama mereka muslim. Kontras hukum ini membuktikan secara nyata bahwa kedudukan dosa bid'ah (seperti bid'ah Khawarij) jauh lebih dahsyat, berbahaya, dan lebih berat dampaknya bagi umat dibandingkan dengan dosa-dosa besar biasa (seperti kezaliman atau kefasikan para penguasa).

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 24

Halaqah yang ke dua puluh empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد التاسع عشرSimpul yang ke-19 di antara simpul-simpul (prinsip-prinsip) yang dengannya kita bisa mengagungkan ilmu.شَغَفُ القلب بالعلمKecintaan yang besar, yang dahsyat terhadap ilmu.وَغَلَبَتُه عليهDan berusaha untuk memenangkan (membesarkan) kecintaan tersebut.Menjadikan kecintaan dia terhadap ilmu berkuasa menguasai hatinya. Ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu. Kita berusaha untuk membesarkan kecintaan kita terhadap ilmu.فصدق الطَّلب له يوجب محبَّته، وتعلُّقَ القلب به، ولا ينال العبدُ درجةَ العلم حتَّىٰ تكون لذَّته الكبرىٰ فيهMaka kesungguhan (shidq) di dalam mencari ilmu,Shidq di sini adalah kejujuran. Dan sudah berlalu yang dimaksud dengan kejujuran dalam menuntut ilmu itu adalah mengumpulkan seluruh keinginan untuk ilmu.Sudah kita terangkan, kita ini banyak keinginan, ingin mobil, ingin harta, ingin itu, dan ini, maka termasuk kejujuran kita dalam menuntut ilmu adalah kita kumpulkan keinginan-keinginan tadi untuk mendapatkan ilmu.Akibat dari kita mengumpulkan keinginan tadi untuk ilmu adalah akhirnya kita akan mencintai ilmu tersebut, itu akan membawa kita mencintai ilmu tersebut.Jadi kalau kita ingin memiliki syaghaf (kecintaan yang sangat terhadap ilmu), maka kita harus mengumpulkan keinginan-keinginan tadi untuk mendapatkan ilmu tadi, dan ini akan menyebabkan hati kita memiliki hubungan yang sangat erat dengan ilmu.Dan seorang hamba tidak akan mendapatkan derajat (ketinggian) di dalam ilmu sampai kelezatan (kenikmatan) dia yang paling besar di dalam ilmu tadi. Kita tidak akan mendapatkan ketinggian ilmu, sampai kita merasakan bahwasanya kita ini merasa nikmat dan merasa lezat ketika kita berkecimpung dengan ilmu.Kalau kita sudah sampai derajatnya nikmat bersama ilmu, menghadiri majelis ilmu nikmat, menulis nikmat, memikirkan ilmu nikmat, kalau sudah sampai di situ, ini kita sudah sampai derajat yang tinggi dalam masalah ilmu.Kalau kita sudah merasakan kenikmatan kita bukan ketika kita bertamasya, bukan ketika kita di mall, bukan ketika kita berjalan-jalan, tapi kita mendapatkan kelezatan ketika kita memikirkan ilmu, ini sudah sampai derajat yang tinggi. Bagaimana seseorang bisa mendapatkan kelezatan tadi?وإنمَّا تُنال لذَّة العلم بثلاثة أمورٍKelezatan ilmu tadi itu bisa didapatkan dengan tiga perkara. Kalau seseorang sudah merasakan lezatnya, nikmatnya di dalam ilmu ini mengalahkan yang lain, mengalahkan orang-orang kaya, mengalahkan para penguasa, dan raja-raja di dunia, mengalahkan kelezatan yang mereka rasakan. Kalau seseorang sudah sampai nikmat di dalam ilmu, maka dia akan merasakan nikmat yang luar biasa yang tidak dirasakan oleh raja-raja di dunia.ذكرها أبو عبد الله ابن القيِّمDisebutkan oleh Ibnul Qayyim Abu Abdillah (kunyahnya) rahimahullāh,أحدِهاYang pertama adalahبذل الوُسْع والجَهْدKalau kita ingin mendapatkan lezatnya ilmu, maka kita harus mengeluarkan/mengerahkan kekuatan kita dan kemampuan kita, kesungguhan kita dalam menuntutnya.Hadir di majelis ilmu, menghafal, bangun di malam hari untuk murajaah, bertanya, kita kerahkan tenaga kita. Kalau kita malas-malasan dan setengah-setengah, tidak mengerahkan seluruh kemampuan kita untuk mendapatkan ilmu, maka kita tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu.وثانيهاDan yang ke dua adalahصدق الطَّلبJujur dalam mencari.Kejujuran dalam mencari, yaitu dengan cara kita mengumpulkan seluruh keinginan kita, kita tumpahkan semuanya untuk menuntut ilmu.وثالثِهاDan yang ke tiga adalahصحَّة النِّيَّة والإخلاصKebenaran niat dan juga keikhlasan.Dan sudah berlalu niat dalam menuntut ilmu. Ana ingin menghilangkan kebodohan yang ada pada diri ana, ana ingin menghilangkan kebodohan pada diri orang lain, ana ingin menjelaskan nanti ke keluarga ana, ingin menjelaskan ke teman-teman ana yang benar adalah seperti ini.Atau niatnya adalah ingin menghidupkan ilmu yang sebelumnya mati di dalam dirinya, dia hidupkan dengan cara menuntut ilmu. Yang sebelumnya mati di hati orang lain, maka dia hidupkan dengan cara dia menuntut ilmu terlebih dahulu dan ingin menghidupkan ilmu tersebut di hati-hati orang lain.Kemudian yang ke empat adalah ingin mengamalkan ilmu tadi. Kalau niat kita ikhlas dan kita dengan fisik kita, kita keluarkan, dan kita kerahkan kemampuan kita dan hati kita atau keinginan kita, kita satukan untuk mendapatkan ilmu tadi, maka ini dengan tiga hal seperti ini kita insyaAllāh akan merasakan lezatnya ilmu.ولا تَتِمُّ هٰذه الأمور الثَّلاثة، إلَّ مع دفع كلِّ ما يُشْغِلُ عن القلبDan tidak akan sempurna tiga perkara ini kecuali apabila kita menolak segala sesuatu yang menyibukkan dari hati kita. Segala sesuatu yang menyibukkan, yang memalingkan dari hati kita, maka hendaklah kita tolak. Kalau kita menolak maka akan sempurna tiga perkara ini.Adapun seseorang dia bersungguh-sungguh dan dia kumpulkan seluruh keinginannya dan dia punya niat yang ikhlas tapi dia senang melakukan perkara-perkara yang menyibukkan hatinya, yang melalaikan hatinya, tidak dia hindarkan dan tidak dia jauhi, maka ini juga sulit bagi seseorang untuk mendapatkan lezatnya ilmu.Ini yang mengucapkan Ibnul Qayyim, seorang ulama dan dia sudah merasakan lezatnya ilmu tersebut. Dia sampaikan cara ini kepada kita supaya kita juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh para ulama.إنَّ لذَّة العلم فوق لذَّة السُّلطان والحكم الَّتي تتطلَّع إليه ونفوسٌ كثيرةٌ، وتُبذَل لأجلها أموالٌ وفيرةٌ، وتُسفَك دماءٌ غزيرةٌBeliau menyebutkan tentang bagaimana nikmatnya ilmu.Sesungguhnya lezatnya ilmu itu di atas lezatnya seorang penguasa atau lezatnya kekuasaan.Jabatan kekuasaan lezat, antum jadi seorang penguasa, petinggi, antum memerintahkan, menyuruh, melarang, mengeluarkan peraturan, nikmat, tapi ternyata kelezatan ilmu itu lebih tinggi.Antum menjadi seorang penguasa, dilayani oleh orang lain, ketika antum ke sana disambut, dilayani, dihidangkan makanan yang paling lezat, ditawari, dihormati, sebuah kelezatan. Tapi ternyata kelezatan ilmu ini lebih tinggi daripada kelezatan jabatan tadi, kedudukan tadi. Kelezatan yang di mana banyak orang yang mencari-cari kelezatan tersebut.Orang berebutan ingin menduduki kedudukan tertentu di sebuah instansi. Ana ingin jadi seorang direktur, ana ingin menjabat jabatan tersebut, berebutan mungkin sampai mengeluarkan uang.وتُبذَل لأجلها أموالٌ وفيرةٌSampai mereka berani untuk nyogok demi untuk mendapatkan kelezatan kedudukan dan jabatan tadi.وتُسفَك دماءٌ غزيرةٌBahkan ditumpahkan darah demi untuk mendapatkan kedudukan tadi, kalau perlu saingannya tadi mati demi untuk mendapatkan kedudukan tadi, tapi ternyata kelezatan ilmu itu jauh lebih tinggi, lebih lezat daripada kelezatan kekuasaan.ولهذاOleh karena itu,كانت الملوك تتوقُ إلىٰ لذَّة العلم، وتُحِسُّ فقدَها، وتطلُب تحصيلَهاBuktinya kelezatan ilmu itu jauh lebih tinggi dan lebih lezat daripada kelezatan kekuasaan, dahulu para raja mereka tatūq (rindu) untuk mendapatkan kelezatan ilmu. Berarti mereka belum merasakan kelezatan tadi. Mereka rindu untuk merasakan kelezatan ilmu dan mereka merasakan kehilangan kelezatan tadi dan mereka berusaha untuk mendapatkannya.Ada sebuah kisah,قيل لأبي جعفرٍ المنصورDikatakan kepada Abu Ja’far Al-Manshur,الخليفةِ العباسيِّ المشهورSeorang khalifah dari Bani ‘Abbas yang terkenalالَّذي كانت ممالكه تملأ الشَّرق والغربDi mana kekuasaan beliau saat itu meliputi dari timur ke barat, apa yang beliau ucapkan didengar beliau dihormati dan disegani oleh orang banyak.هل بقي من لذَّاتِ الدُّنيا شيءٌ لم تنله؟Pernah ditanyakan kepada beliau, karena beliau tentunya sudah merasakan berbagai kenikmatan dunia, mungkin kenikmatan harta, kenikmatan wanita, kenikmatan jabatan, dan seterusnya. Apakah ada dari kelezatan dunia yang belum kamu rasakan?فقالMaka beliau menjawab,وهو مستوٍ علىٰ كرسيِّه وسرير ملكهBeliau menjawab dan saat itu beliau berada di atas kursinya dan di atas singgasana kerajaannya, jadi ditanya dan beliau dalam keadaan berada di atas singgasana kursi kebesaran.بقيت خَصلةٌKata beliau, ada satu kenikmatan yang belum pernah ana rasakan.أن أقعُدَ علىٰ مِصْطَبَةٍKenikmatan tersebut adalah aku duduk di atas mishthabah (sesuatu yang agak tinggi).Zaman dulu ketika ada majelis ilmu maka gurunya duduknya di tempat yang agak tinggi daripada murid-muridnya supaya murid-muridnya melihat beliau. Aku ingin duduk, yaitu aku duduk di atas mishthabah, di atas sesuatu yang agak tinggi.وحولي أصحاب الحديث – أي طاَّبُ العلمDan aku berkeinginan di sekitarku ini adalah para penuntut hadits, orang-orang yang mencari hadits Nabi ﷺ yang dia melakukan rihlah, perjalanan yang panjang untuk mencari hadits. Aku ingin duduk sebagai seorang guru di atas tempat yang agak tinggi kemudian mereka berada di sekitarku, yaitu para penuntut ilmu.فيقول المستمليKemudian berkata mustamliy (orang yang ada di depan seorang Syaikh dan dia nanti yang berkata kepada Syaikh, hadits apa yang engkau ingin sampaikan).من ذكرت رحمك الله؟Mustamliy tadi mengatakan, Siapa yang engkau sebutkan semoga Allāh ﷻ merahmati dirimu?Mustamliy sekaligus murid, sekaligus dia yang perannya di majelis tersebut sebagai mustamliy, yaitu berkata kepada gurunya, dari siapa hadits-mu, siapa yang engkau sebutkan, barulah setelah itu nanti syaikhnya mengatakan haddatsana fulan.يعني فيقولMaksud beliau adalah setelah itu beliau akan mengatakan,حدَّثنا فلانٌ، قال: حدَّثنا فلانٌBeliau mengatakan telah memberikan atau menyampaikan kepadaku hadits si fulan.ويسوق الأحاديث المسندةKemudian dia menyebutkan hadits tersebut secara bersanad.Dia berkeinginan untuk menjadi seperti itu. Mungkin beliau pernah melihat di masjid mereka berkumpul mungkin ribuan atau lima ribuan orang seperti di majelisnya Imam Ahmad, murid-muridnya mendengar kemudian satu orang mengatakan hadits apa, Syaikh kemudian beliau mengatakan haddatsana fulan, qāla haddatsana fulan, qāla akhbarana dan seterusnya, qāla Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, demikian dan demikian.Beliau berkeinginan seandainya beliau menjadi seperti itu, menjadi seorang Ahlul Hadits. Ini menunjukkan bahwasanya mereka ingin merasakan nikmat yang dirasakan oleh para ulama para Ahlul Hadits.ومتىٰ عُمِر القلب بلذَّة العلم سقطت لذَّاتُ العاداتDan kapan saja hati seseorang itu dipenuhi dengan kelezatan ilmu (kalau kita sudah merasakan kelezatan ilmu), maka akan berjatuhan kelezatan-kelezatan perkara-perkara yang merupakan adat dan kebiasaan kita.Ketika seorang sudah merasakan lezatnya ilmu, maka dia akan melihat kelezatan makanan itu tidak ada apa-apanya. Ketika dia merasakan lezatnya ilmu maka dia sudah tidak memandang makanan yang favorit itu sebagai suatu yang wah, atau minuman yang enak sesuatu yang wah, atau tempat tidur yang empuk itu suatu yang sangat menghibur dia. Ini terjadi ketika dia merasakan lezatnya ilmu.وذهَلَتِ النَّفسُ عنهاMaka jiwa ini akan lupa dan lalai terhadap kelezatan-kelezatan perkara-perkara kebiasaan tadi, seperti makan, minum, tidur, dan seterusnya.بل تستحيل الآلامُ لذَّةً بهٰذه اللَّذَّةBahkan kata beliau, sesuatu yang sakit menurut orang biasa, itu bisa menjadi kelezatan tersendiri dengan adanya kelezatan ilmu.Mungkin orang menyangka kok bisa duduk dari habis Ashar sampai Isya’ misalnya, orang menyangka capek sekali jadi orang menuntut ilmu. Tapi orang yang menuntut ilmu tidak merasakan. Orang yang merasakan kelezatan ilmu, justru semakin lama dia semakin senang. Itu kok bisa tidur sehari semalam cuma 1 jam, ana saja tidur 6 jam inginnya tidur lagi, padahal ketika dia bermalam bersama ilmu murajaah atau membaca ilmu tadi kepada gurunya misalnya, dia merasakan di situ nikmat yang luar biasa.Ada sebagian ulama sampai mereka lupa makan, lupa minum, karena sedang sibuk dengan ilmu tadi. Jangan kita menyangka tersiksa sekali orang tersebut tidak makan, sayang tidak minum ini, tidak makan ini, tidak, dia dalam keadaan nikmat yang luar biasa dengan ilmu tadi.Maka ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu, kita berusaha untuk mencintai ilmu tersebut dan menjadikan kecintaan kita terhadap ilmu ini menguasai hati kita dengan cara yang tadi disebutkan.

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 24

Halaqah yang Ke-24 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang ke 22Diantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan MerdekaMereka adalah manusia maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا”Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)Dan Allah mengatakanوَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ”Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27)Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikatDan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ”Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… “ (Yusuf : 109)Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau adapun sabda Rasulullah ﷺمَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَTidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing (HR Al-Bukhari)Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah (HR Al-Bukhari)Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan., sebagaimana di dalam Al Qashas : 27

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 74 | Allāh Mengetahui Amalan-Amalan Orang yang Ditakdirkan Masuk Surga atau Neraka

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكَذَلِكَ أَفْعَالُهُمْ فِيمَا عَلِمَ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلُوهُDemikian pula Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui tentang amalan² mereka pekerjaan² mereka,أَفْعَالُIni manshub karena di athobkan ‘adada yaitu Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui juga tentang apa yang mereka lakukan,فِيمَا عَلِمَ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلُوهُMengetahui tentang apa yang akan mereka lakukan,Itu terjemahan bebas, Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui siapa yang akan masuk Surga dan Allāh mengetahui amalan² yang mereka lakukan di dunia sehingga itu menjadi sebab masuknya dia ke dalam Surga dan itu menjadi sebab maksudnya yang dia ke dalam Neraka karena masuknya surga ada sebab, masuknya seseorang ke dalam Neraka juga memiliki sebab, Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui siapa penduduk Surga dan siapa penduduk Neraka dan mengetahui amalan apa yang menyebabkan dia masuk ke dalam Surga dan amalan apa yang dilakukan oleh seseorang sehingga dia termasuk penduduk Nerakaجَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَوَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ[QS Az Zukhruf 72]Itulah Surga yang diwariskan kepada kalian dengan sebab amalan yang kalian kerjakan.Masing² Anda sebab sehingga kalau masing² anda sebabnya kita melakukan amalan² yang menyebabkan kita masuk ke dalam Surga dan menjauhi amalan² yang menyebabkan kita masuk ke dalam Neraka,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها من قولٍ وعملٍ وأعوذُ بكَ منَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍYa Allāh, aku memohon kepadaMu Surga dan apa yang mendekatkan kepada Surga berupa ucapan maupun perbuatan.Jadi meminta kepada Allāh dan meminta kepada Allāh supaya dimudahkan untuk berucap dan beramal yang menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam Surga dan berlindung kepada Allāh dari Neraka dan berlindung kepada Allāh dari ucapan dan juga perbuatan yang menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam nerakanya Allāh subhanahu wa ta’ala,وَكَذَلِكَ أَفْعَالُهُمْ فِيمَا عَلِمَ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلُوهُTermasuk diantaranya perbuatan² manusia Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui perbuatan² tersebut sebelum mereka melakukan perbuatan tersebut, Dan Allāh telah menulis apa yang akan mereka lakukan di dunia semuanya ditulis oleh Allāh si Fulan akan melakukan ini si Fulan akan melakukan amal shaleh atau melakukan kemaksiatan sudah ditulis oleh Allāh dalam Lauhul Mahfudz, semuanya sudah ditulis oleh Allāhمَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ۝[QS Al Hadid 22]إِنَّ اللَّهُ كَتَبَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍSesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala telah menulis takdir² makhlukNya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi, di antara takdir² tersebut adalah apa yang diamalkan oleh seseorang, sebagaimana dalam haditsويرسل إليه الملك ؛ فينفخ فيه الروح ؛ ويؤمر بأربع كلمات: يكتب رزقه، وأجله، وعملهDisuruh menulis tentang amal yaitu amalan yang sudah Allāh subhanahu wa taala tulis di dalam Lauhul Mahfudz diperintahkan untuk di tulis oleh para Malaikat.Maka ini termasuk akidah Ahlussunnah wal jamaah bahasanya Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui termasuk diantaranya adalah siapa yang akan masuk ke dalam Surga dan siapa yang akan masuk ke dalam Neraka dan apa amalan² yang mereka lakukan di dunia sehingga menyebabkan mereka masuk ke dalam Surga & masuk ke dalam Neraka.Kemudian beliau mengatakan rahimahullāh ,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،kemudian di antara hal yang penting yang harus kita pahami adalah bahwasanya masing² dari kita yang sudah diketahui apakah dia penduduk Surga atau penduduk Neraka ya sudah diketahui amalan mereka yang akan mereka kerjakan maka masing³ dari kitaمُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia dicipta untuknya dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang memang sudah ditakdirkan untuk kalau dia ditakdirkan sebagai penduduk Surga maka akan dimudahkan dia untuk melakukan amalan2 yang mendekatkan dia kepada surganya Allāh di sana ada akibat dan di sana Allāh subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan sebabnya, sebaliknya orang yang sudah ditetapkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam NerakaNya Allāh subhanahu wa ta’ala maka akan dimudahkan untuk melakukan perkara yang menyebabkannya masuk ke dalam Neraka, ini berdasarkan sebuah hadits yang tadi kita sebutkan awalnya,مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِTidak ada diantara kalian kecuali sudah diketahui kedudukannya dari Surga maupun dari Neraka.Para Shahabat radhiyallahu taala anhum ketika mereka mendengar kabar dari Nabi ﷺ mereka mengatakan,يا رسول الله فلم نعمل؟Wahai Rasulullah kalau begitu untuk apa kita beramal,Berarti semuanya sudah ditentukan oleh Allāh ﷻ, si fulan penduduk Surga untuk apa beramal kalau memang saya sudah ditentukan sebagai penduduk Surga, toh nanti juga akan masuk Surga seandainya dia termasuk penduduk Neraka untuk apa dia beramal toh nanti akhirnya juga masuk Neraka berarti nggak usah beramalيا رسول الله فلم نعمل؟Oleh karena itu kenapa kita beramal wahai Rasulullahأفلا نتكل؟Apakah kita tidak boleh pasrah begitu saja enggak usah kita beramal enggak usah kita beramal haaleh karena semuanya sudah ditentukan oleh Allāh sebagai penduduk Surga atau penduduk Neraka.Ini ucapan sebagian shahabat radhiyallahu ta’ala Anhum saat itu, dan mungkin itu ada di dalam benak sebagian kita & Alhamdulillah Nabi ﷺ telah memberikan jawaban kepada para shahabat saat itu dan ini adalah jawaban untuk kita yang menghilangkan wasawis Syaitan yang mengajak kita senantiasa untuk malas dalam beramal yang mengajak kita untuk meninggalkan amal shaleh & lalai dengan dunia kita kesibukan kita, Nabi ﷺ shallallahu alaihi wasallam mengatakan dan petunjuk beliau adalah sebaik-baik petunjuk dan inilah yang harus kita pegang.قال: لا،Beliau mengatakan Tidak,Yaitu jangan kalian pasrah kemudian kalian tidak beramal shaleh ucapan Nabi ﷺ la, ini sudah cukup memecut kita & menyadarkan kita dari was was syaitan yang mengajak manusia untuk tidak beramal Nabi mengatakan La, kemudian beliau mengatakan,اعملواHendaklah kalian beramal,Beriman, beramal, shalatlah, berpuasalah berbuat baiklah kepada manusia,tunaikan kewajiban hindarkanlah dari kemaksiatanاعملواBeramal lah amal di sini masuk di dalamnya menjalankan atau melaksanakan perintah dan juga menjauhi larangan, semuanya dinamakan dengan amal jadi amal itu bisa menjalankan perintah dan juga bisa menjauhi larangan semuanya termasuk amal shalehاعملواHendaklah kalian beramal, ini petunjuk Nabi ﷺ yang kita imani ucapan beliau,وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙItu adalah wahyu dari Allāh subhanahu wa ta’ala itu bukan dari beliau sendiri, Wahyu dari Allāh yang disampaikan kepadanyaوَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚApa yang diberikan oleh Nabi ﷺ maka ambillah dan apa yang beliau larang maka tinggalkanlah, beliau mengatakan LA itu kan larangan jangan kita iktikal dan ucapan beliau اعملوا perintah yang harus kita kerjakanوَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚDisini beliau melarang dan memerintah, melarang kita untuk iktikal melarang kita untuk pasrah tidak beramal meninggalkan perintah Allāh atau termasuk makna tidak beramal adalah seseorang melanggar apa yang Allāh larang dan di sini ada perintah itu dalam ucapan beliauاعملواada larangan La dan ada perintah perintah untuk beramal, maka ini yang harus kita pegang kuat-kuat.

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 73

Rabu, 8 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 73Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kelima, Hadist Shahih Riwayat Ummu Salamah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Dalil yang Dibahas dan Sumber Riwayat​Muallif mengatakan:​وفيه أيضا​Maksudnya adalah di dalam hadits yang shahih. ​Sumber yang meriwayatkan hadits ini bukan Al-Bukhari dan Muslim, tetapi diriwayatkan oleh Imam Muslim saja, dari Ummu Salamah, yang mana beliau menyatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda:​«سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ»​Artinya:“Akan ada pemimpin-pemimpin (amir-amir) maka engkau mengenal dan kalian mengingkari.”Penjelasan Makna Potongan Hadits​Makna تَعْرِفُونَ (Kalian Mengenal/Tahu): Maksudnya adalah kalian tahu bahwasanya mereka melakukan sesuatu yang ma'ruf, yang dikenal di dalam syariat (sesuatu yang ma'ruf) bukan sesuatu yang mungkar.​Makna وَتُنْكِرُونَ (Dan Kalian Mengingkari): Maksudnya adalah ada di antaranya yang merupakan amalan yang mungkar.Kondisi Pemimpin:Hal ini menunjukkan bahwasanya umara (pemimpin) tadi adalah makhluk yang masih tercampur amalannya antara yang baik dan juga yang jelek.​Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda:​فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ​Makna: Barangsiapa yang mengenal, sungguh dia telah berlepas diri. Ini adalah kondisi di mana seseorang mengenal dan dia mengingkari dengan hatinya, maka sungguh dia telah berlepas diri.​Nabi ﷺ bersabda:​وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ​Makna: Barangsiapa yang mengingkari maka dia selamat. Artinya bukan hanya sekedar mengingkari dengan hati (seperti kondisi pertama), tetapi dia mengingkari dengan lisannya (misalnya), maka dia telah selamat.​Catatan Mengenai Pengingkaran dengan Lisan:​Pengingkaran dengan lisan ini tidak mengharuskan dilakukan secara jahr (terang-terangan), demo, atau dengan cara membeberkan kesalahan-kesalahan di depan orang banyak (seperti yang dipahami oleh sebagian orang).​Tidak ada kelaziman antara mengingkari dengan lisan dengan demo atau membeberkan aib di depan orang lain.​Memahami hadits:​كلمة باطل عند سلطان جائر​(Kalimat yang benar yang disampaikan di depan pemimpin yang dzalim), kemudian membayangkannya dengan cara demo adalah pemahaman yang salah.​Seandainya seseorang berduaan dengan pemimpin tersebut kemudian dia mengingkari dengan lisannya dan mengatakan, "Wahai Amir, bertaqwalah kepada Allah," maka ini pun sudah termasuk mengingkari dengan lisannya, tidak harus dilakukan di hadapan orang banyak, dan ini pun dinamakan dengan inkarul munkar.​Nabi ﷺ bersabda:​وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ​Makna: Akan tetapi yang celaka adalah orang yang ridha dan mengikuti.​Kondisi Orang yang Celaka: Orang ini berbeda dengan kondisi yang pertama (yang tahu dan mengingkari). Orang yang celaka ini tidak ada pengingkaran di dalam hatinya, melainkan dia ridha dengan kemungkaran tersebut (وَمَنْ رَضِيَ), ditambah lagi dia mengikuti kemungkaran tersebut (وَتَابَعَ). Maka inilah orang yang celaka.Pertanyaan Para Sahabat dan Jawaban Nabi ﷺ​Mendengar kabar tentang akan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki sifat tersebut—yaitu melakukan yang ma'ruf dan juga melakukan yang mungkar (menunjukkan mereka mungkin melakukan kefasikan karena kefasikan adalah perkara mungkar, atau melakukan kezaliman yang juga masuk kemungkaran)—para sahabat bertanya:​قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟​Artinya:“Mereka (para sahabat) mengatakan: 'Apakah kita memerangi mereka?'”​Catatan: Pemimpin-pemimpin ini dijadikan amanah namun melakukan kemungkaran, baik menzalimi rakyatnya atau melakukan kefasikan. Kefasikan ini efeknya untuk dirinya sendiri (tidak sampai menzalimi orang lain), sedangkan kezaliman efek/pengaruhnya juga kepada orang lain.​Mendengar pertanyaan itu, Nabi ﷺ menjawab:​قَالَ لَا مَا صَلَّوْا​Artinya:“Maka Nabi ﷺ mengatakan: 'Tidak, [jangan memerangi mereka] selama mereka masih mendirikan shalat.'”Larangan Memberontak dan Kaidah Maslahat-Mudharat​Maksud Kata لَا (Tidak):Maksudnya adalah janganlah kalian memerangi mereka (نُقَاتِلُهُمْ).​Alasan Larangan Memerangi: Karena kalau memerangi mereka, akan terjadi mudharat yang lebih besar. Memang benar bahwasanya kedhaliman dan kefasikan pemimpin itu adalah mudharat, tetapi memerangi mereka dan keluar kemudian memberontak kepada mereka, mudharatnya jauh lebih besar.​Kaidah di Dalam Syariat:Syariat kita adalah syariat yang tujuannya:​Menghilangkan kemudharatan.​Meringankan kemudharatan.​Jika tidak bisa menghilangkan kemudharatan secara keseluruhan, maka syariat berfungsi untuk mengurangi kemudharatan tersebut. Ini adalah kaidah di dalam syariat.​Realita di Lapangan (Waqi'):Jika seseorang melakukan khuruj (keluar/memberontak) atau memerangi pemimpin yang zalim, justru biasanya (ghalibnya) akan terjadi kemungkaran yang lebih besar. Oleh karena itu, memberontak bukan sesuatu yang disyariatkan. Tidak ada sebuah pemberontakan di sebuah negara atau sebuah daerah kepada pemimpin yang syar'i, kecuali setelahnya adalah kehancuran dan juga kebinasaan. Sebuah kota yang sebelumnya hidup dengan manusianya, tidak lama (setengah atau satu bulan) setelah pemberontakan bisa menjadi kota yang mati dan tidak dihuni lagi oleh manusia.​Pentingnya Bersabar:Seandainya mereka mau bersabar ketika kehilangan 1 rumah (misalnya), niscaya ribuan rumah akan terselamatkan. Tapi kalau gara-gara 1 rumah kemudian dibesar-besarkan dengan mengatakan ini adalah kezaliman-kezaliman lalu memberontak kepada penguasa, yang terjadi adalah ribuan atau puluhan ribu rumah akan hancur dan binasa. Jika mereka mau bersabar saat ada satu orang tokoh mereka yang mungkin dibunuh atau dipenjara secara zalim tanpa hak, niscaya akan selamat ribuan manusia. Namun ketika mereka tidak mau bersabar karena 1 orang terbunuh/terluka lalu melakukan pemberontakan dan peperangan, akibatnya menjadi ribuan atau puluhan ribu manusia yang ikut terbunuh. Bukan demikian tujuan syariat Islām.Ketentuan (Dhowabit) Inkarul Mungkar terhadap Pemimpin​Inkarul munkar di dalam Islām memiliki dhowabit (ketentuan-ketentuan/batasan).​Allāh Subhanahu wa Ta'ala mensyariatkan bagi kita semuanya untuk mendengar dan taat kepada penguasa serta bersabar atas kezaliman mereka.​Kefasikan dan kezaliman pemimpin tidak menghalalkan seseorang untuk memberontak kepada penguasa.​Semua ini Allāh syariatkan adalah untuk maslahat bagi diri kita sendiri. Jangan kita menyangka atau mengira bahwa syariat ini dibuat agar enaknya penguasa/pemimpin atau supaya mereka merasakan enaknya nikmat kekuasaan saja (Tidak).​Syariat mendengar dan taat ini—berdasarkan prinsip السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ آمَرَ (mendengar dan taat walaupun yang memerintah adalah seorang budak)—adalah untuk kepentingan dan maslahat diri kita sendiri.Kesimpulan​Berdasarkan hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Ummu Salamah, Nabi ﷺ mengabarkan akan datangnya para pemimpin yang mencampuradukkan amalan ma'ruf dan munkar (fasiq/dhalim). Sikap seorang muslim dalam inkarul munkar dihadapkan pada ketentuan syariat: berlepas diri dengan pengingkaran hati, atau selamat dengan pengingkaran lisan (yang dilakukan secara rahasia/berduaan tanpa harus demo atau jahr), serta diharamkan bersikap ridha dan mengikuti kemungkaran tersebut.​Ketika para sahabat bertanya apakah boleh memerangi pemimpin yang dhalim/fasiq tersebut, Nabi ﷺ melarangnya secara tegas (قَالَ لَا) selama mereka masih shalat. Larangan memberontak (khuruj) ini didasarkan pada kaidah syariat untuk menolak atau meringankan mudharat. Sebab, realita menunjukkan bahwa pemberontakan selalu melahirkan kehancuran, pertumpahan darah, dan kemudharatan massal yang jauh lebih besar daripada bersabar atas kezaliman satu-dua orang. Kewajiban mendengar, taat, dan bersabar kepada penguasa disyariatkan murni demi melindungi kemaslahatan, keamanan, dan urusan agama maupun dunia kaum muslimin sendiri, bukan demi kenyamanan penguasa.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 73 | Allāh Sudah Mengetahui Jumlah Hamba-Nya yang Masuk Surga dan Neraka Sejak Zaman Azali

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَقَدْ عَلِمَ اللَّهُ فِيمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ، جُمْلَةً وَاحِدَةً،Dan sungguh Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahuiفِيمَا لَمْ يَزَلْsejak dahulu, maksudnya adalah Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahui sejak dahulu dan terus-menerus Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahuinya.Disini setelah berbicara tentang masalah Mi’raj kemudian Telaga kemudian Syafaat kemudian masalah Misaq dan sebelumnya berbicara tentang masalah sifat-sifat Allāh ini semua harus berdasarkan dalil tidak boleh kita mendahulukan akal di atas dalil maka kembali beliau berbicara tentang masalah takdir Allāh dan di poin sebelumnya sebenarnya sudah menyinggung tentang masalah takdir Allāh seperti misalnya ucapan beliau,خَلَقَ الخَلْقَ بعِلْمِهِ وَقَدَّرَ لَهُمْ أَقْدَارًاوقدر لهم أقدارا وضرب لهم آجالاوكل شيء يجري بتقديره الله ومشيئتهوكلهم يتقلبون في مشيئته، بين فضله وعدلهini sebenarnya beliau sudah menyinggung juga tentang masalah takdir dan setelah itu berbicara tentang risalah Nabi Muhammad ﷺ berbicara tentang ruqyah berbicara tentang Telaga berbicara tentang Syafaat sekarang kembali lagi kepada Takdir maka akan kita lihat beliau rahimahullāh terkadang mengulang-ulang sebuah pembahasan dan ini Allāh ta’ala alam maksudnya adalah untuk menguatkan mungkin di zaman beliau terlalu banyak penyimpangan di dalam masalah ini sehingga termasuk hirus dan selamat para ulama dalam menyampaikan dan melakukan perbaikan adalah dengan mengulang-ulang dan Nabi ﷺ terkadang beliau mengulang sebuah ucapan untuk menguatkan seperti ucapan beliau misalnyaالطيرة شرك الطيرة شركألا وقول الزور، ألا وقول الزور، ألا وقول الزورTerkadang mengulang² ucapan maksudnya untuk menguatkan, menekankan permasalahan tersebut ini juga mungkin diantara perbedaan antara aqidah ath thawiyah dengan Al aqidah Al Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad, karena kalau di aqidah Al Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad (Ibnu Qudamah) biasanya disebutkan pembahasan yang disebutkan sekali saja karena memang itu adalah kitab yang ringkas di dalam masalah akidah adapun Abu Ja’far Ath thohawiy rahimahullāh disini didalam aqidah ath thohawiyyah maka kita lihat bagaimana beliau terkadang mengulang dan tidak seperti di dalam Aqidah Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad tertibnya / di dalam urutan sehingga ada di antara tulabul ilm atau seorang penuntut ilmu yang mutaakhirin yang memiliki ide untuk mengumpulkan pembahasan-pembahasan yang satu bab, yang sama dalam akidah Thawiyah dalam masalah takdir yang dikumpulkan jadi satu diganti urutannya kemudian diurutkan dari saya dari iman kepada Allah dan sebetulnya secara berurutan kemudian dipindah juga sarahnya karena matanya dipindah dan disesuaikan diurutkan maka syarahnya juga di sesuaikan ini dilakukan kalau ngga salah judulnya Minha ilahiyyah atau yang semisalnya Tartib aqidah ath thohawiyyah, jadi diurutkan kembali oleh beliau kemudian di rubah juga sarahnya ini mungkin dari satu sisi ini lebih memudahkan karena dikumpulkan materi yang sama dalam satu tempat karena al imam Ath thohawiy di sini tidak berurutan dari terkena sudah disebutkan membahas masalah yang lain dan kembali lagi ke permasalahan tersebut termasuk di sini adalah tentang masalah takdirوَقَدْ عَلِمَ اللَّهُ فِيمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ، جُمْلَةً وَاحِدَةً،Dan Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahui sejak dahulu.Ini bantahan bagi orang-orang Qadariyah yang meyakini bahwasanya Allāh mengetahui setelah terjadinya, diantara iman terhadap takdir adalah meyakini bahwasanya Allāh mengetahui segala sesuatu baik yang sudah terjadi yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi Allāh mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi karena Allāh mengatakanإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌSesungguhnya Allah dialah yang mengetahui segala sesuatuوَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُDan Dialah yang mengetahui dan bijaksanaوَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ[QS Al An’am 59]Tidak ada yang samat bagi Allāh subhanahu wa ta’ala semuanya diketahui oleh Allāh.Ini termasuk beriman dengan takdir Allāh dan ini adalah martabat yang pertama tingkatan yang pertama di dalam beriman dengan takdir Allāh yaitu meyakini bahwasanya Allāh mengetahui segala sesuatu, termasuk diantaranya adalahعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ،Jumlah orang yang masuk ke dalam Surga, berapa jumlahnya.وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ،Dan jumlah orang yang akan masuk ke dalam Neraka.Baik yang masuk selama-lamanya di dalam Neraka yang mereka meninggal di atas kekufuran, maupun orang yang masuk ke dalam Neraka sementara di antara orang Islam kemudian dia dikeluarkan dan masuk ke dalam Surganya Allāh subhanahu wa ta’ala, maka Allāh subhanahu wa ta’ala, Allah mengetahui jumlah mereka dan mengetahui satu persatu dari penduduk Surga dan juga penduduk. Si fulan dia adalah termasuk ahlu Jannah & meninggal dalam keadaan Islam, sif Fulan adalah termasuk penduduk Neraka dan akan meninggal di atas kekufuran, itu di bawah ilmu Allāhجُمْلَةً وَاحِدَةً،Secara berurutan, dan juga secara terperinci Allāh subhanahu wa ta’ala Maha mengetahui,فَلَا يُزَادُ فِي ذَلِكَ الْعَدَدِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُMaka tidak akan ditambah dari jumlah tersebut, kalau misalnya jumlah penduduk surga adalah 10 miliar sudah ditentukan oleh Allāh dan sudah diketahui oleh Allāh sebelumnya maka tidak akan bertambah ya yang sudah ditentukan oleh Allāh sebelumnya itulah yang akan masuk ke dalam Surga.apakah saya dikurangi? juga tidak akan dikurangi oleh Allāh yang sudah ditentukan oleh Allāh sebagai penduduk Surga atau surganya penduduk Neraka maka tidak akan bertambah dan tidak akan dikurangi, sudah diputuskan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala sebelumnya sudah ditakdirkan oleh Allāh sebelumnya.Didalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakanمَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِTidak ada diantara kalian kecuali sudah diketahui kedudukannya dari Surga dan juga Neraka,مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍTidak ada diantara kalian.Kita dan juga mereka sudah diketahui oleh Allāh subhanahu wa ta’ala apakah dia ini penduduk Surga yang kelak akan mendapatkan kebahagiaan di dalam Surga atau seseorang ini termasuk penduduk Neraka, apakah dia termasuk yang selamanya masuk kedalam Neraka atau dia termasuk yang akan dikeluarkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari Neraka dan masuk ke dalam Surga dengan sebab keimanan yang dia miliki tidak akan ditambah oleh Allāh dan tidak akan dikurangi ,رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ.Qolam² / pena² elah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering maka seseorang ketika dia memikirkan dirinya berharap kepada Allāh subhanahu wa ta’ala dan khusnudzon kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan Taufik untuk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allāh sebagai seorang muslim di ilhamkan di dalam dirinya untuk mengesahkan Allāh menjadikan di dalam dirinya rasa takut untuk menyekutukan Allāh diilhamkan di dalam dirinya untuk beriman dengan hari Akhir, keinginan untuk mengikuti sunnah keinginan untuk menuntut dan mendalami ilmu agama nanti akan disebutkan bahwasanya masing-masing akan dimudahkan.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 23 | Terbitnya Matahari Dari Barat

Halaqah 23 - Terbitnya Matahari dari BaratMatahari setiap harinya meminta izin kepada Allah ﷻ untuk terbit dari timur, sampai ketika sudah waktunya maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak mengizinkan matahari untuk terbit dari timur. Dan menyuruhnya kembali dari tempat dia datang, yaitu arah barat. Akhirnya terbitlah matahari dari barat (HR. Bukhari)Terbitnya matahari dari barat adalah termasuk tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat. Apabila manusia melihatnya, maka mereka akan beriman semuanya dan akan yakin bahwa kiamat memang sudah dekat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ أَوۡ يَأۡتِىَ رَبُّكَ أَوۡ يَأۡتِىَ بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ‌ۗ يَوۡمَ يَأۡتِى بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَـٰنُہَا لَمۡ تَكُنۡ ءَامَنَتۡ مِن قَبۡلُ أَوۡ كَسَبَتۡ فِىٓ إِيمَـٰنِہَا خَيۡرً۬ا‌ۗ قُلِ ٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ“Tidaklah mereka menunggu kecuali kedatangan para malaikat yaitu malaikat maut atau kedatangan Allah atau kedatangan sebagian tanda-tanda kebesaran Allah. Hari ketika datang sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhanmu, tidak akan bermanfaat iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau belum beramal kebaikan di dalam imannya. Katakanlah, “Tunggulah, sesungguhnya kita juga menunggu.” (Al-An’am :158)Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ menafsirkan bahwa tanda kebesaran Allah ﷻ di dalam ayat ini adalah terbitnya matahari dari barat. Saat itu orang kafir bertaubat dari kekafirannya, orang yang beriman yang sebelumnya menyia-nyiakan amal shaleh maka dia akan bertaubat dan beramal shaleh, namun pintu taubat di kala itu sudah tertutup dan amal tidak akan diterima karena dilakukan di saat terpaksa.Kecuali orang mukmin yang sebelum munculnya matahari dari barat sudah beriman dan beramal shaleh, maka amalannya akan diterima. Oleh karena itu maka seorang muslim hendaknya segera bertaubat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dari segala dosa, bagaimanapun besar dosa yang dia miliki dan jangan menundanya.Rasulullah ﷺ bersabdaمَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِBarang siapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari barat, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menerima taubatnya (HR. Muslim)

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 73

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 73 | Allāh Sudah Mengetahui Jumlah Hamba-Nya yang Masuk Surga dan Neraka Sejak Zaman AzaliHalaqah 73 | Allāh Sudah Mengetahui Jumlah Hamba-Nya yang Masuk Surga dan Neraka Sejak Zaman AzaliKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَقَدْ عَلِمَ اللَّهُ فِيمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ، جُمْلَةً وَاحِدَةً،Dan sungguh Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahuiفِيمَا لَمْ يَزَلْsejak dahulu, maksudnya adalah Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahui sejak dahulu dan terus-menerus Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahuinya.Disini setelah berbicara tentang masalah Mi’raj kemudian Telaga kemudian Syafaat kemudian masalah Misaq dan sebelumnya berbicara tentang masalah sifat-sifat Allāh ini semua harus berdasarkan dalil tidak boleh kita mendahulukan akal di atas dalil maka kembali beliau berbicara tentang masalah takdir Allāh dan di poin sebelumnya sebenarnya sudah menyinggung tentang masalah takdir Allāh seperti misalnya ucapan beliau,خَلَقَ الخَلْقَ بعِلْمِهِ وَقَدَّرَ لَهُمْ أَقْدَارًاوقدر لهم أقدارا وضرب لهم آجالاوكل شيء يجري بتقديره الله ومشيئتهوكلهم يتقلبون في مشيئته، بين فضله وعدلهini sebenarnya beliau sudah menyinggung juga tentang masalah takdir dan setelah itu berbicara tentang risalah Nabi Muhammad ﷺ berbicara tentang ruqyah berbicara tentang Telaga berbicara tentang Syafaat sekarang kembali lagi kepada Takdir maka akan kita lihat beliau rahimahullāh terkadang mengulang-ulang sebuah pembahasan dan ini Allāh ta’ala alam maksudnya adalah untuk menguatkan mungkin di zaman beliau terlalu banyak penyimpangan di dalam masalah ini sehingga termasuk hirus dan selamat para ulama dalam menyampaikan dan melakukan perbaikan adalah dengan mengulang-ulang dan Nabi ﷺ terkadang beliau mengulang sebuah ucapan untuk menguatkan seperti ucapan beliau misalnyaالطيرة شرك الطيرة شركألا وقول الزور، ألا وقول الزور، ألا وقول الزورTerkadang mengulang² ucapan maksudnya untuk menguatkan, menekankan permasalahan tersebut ini juga mungkin diantara perbedaan antara aqidah ath thawiyah dengan Al aqidah Al Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad, karena kalau di aqidah Al Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad (Ibnu Qudamah) biasanya disebutkan pembahasan yang disebutkan sekali saja karena memang itu adalah kitab yang ringkas di dalam masalah akidah adapun Abu Ja’far Ath thohawiy rahimahullāh disini didalam aqidah ath thohawiyyah maka kita lihat bagaimana beliau terkadang mengulang dan tidak seperti di dalam Aqidah Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad tertibnya / di dalam urutan sehingga ada di antara tulabul ilm atau seorang penuntut ilmu yang mutaakhirin yang memiliki ide untuk mengumpulkan pembahasan-pembahasan yang satu bab, yang sama dalam akidah Thawiyah dalam masalah takdir yang dikumpulkan jadi satu diganti urutannya kemudian diurutkan dari saya dari iman kepada Allah dan sebetulnya secara berurutan kemudian dipindah juga sarahnya karena matanya dipindah dan disesuaikan diurutkan maka syarahnya juga di sesuaikan ini dilakukan kalau ngga salah judulnya Minha ilahiyyah atau yang semisalnya Tartib aqidah ath thohawiyyah, jadi diurutkan kembali oleh beliau kemudian di rubah juga sarahnya ini mungkin dari satu sisi ini lebih memudahkan karena dikumpulkan materi yang sama dalam satu tempat karena al imam Ath thohawiy di sini tidak berurutan dari terkena sudah disebutkan membahas masalah yang lain dan kembali lagi ke permasalahan tersebut termasuk di sini adalah tentang masalah takdirوَقَدْ عَلِمَ اللَّهُ فِيمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ، جُمْلَةً وَاحِدَةً،Dan Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahui sejak dahulu.Ini bantahan bagi orang-orang Qadariyah yang meyakini bahwasanya Allāh mengetahui setelah terjadinya, diantara iman terhadap takdir adalah meyakini bahwasanya Allāh mengetahui segala sesuatu baik yang sudah terjadi yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi Allāh mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi karena Allāh mengatakanإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌSesungguhnya Allah dialah yang mengetahui segala sesuatuوَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُDan Dialah yang mengetahui dan bijaksanaوَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ[QS Al An’am 59]Tidak ada yang samat bagi Allāh subhanahu wa ta’ala semuanya diketahui oleh Allāh.Ini termasuk beriman dengan takdir Allāh dan ini adalah martabat yang pertama tingkatan yang pertama di dalam beriman dengan takdir Allāh yaitu meyakini bahwasanya Allāh mengetahui segala sesuatu, termasuk diantaranya adalahعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ،Jumlah orang yang masuk ke dalam Surga, berapa jumlahnya.وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ،Dan jumlah orang yang akan masuk ke dalam Neraka.Baik yang masuk selama-lamanya di dalam Neraka yang mereka meninggal di atas kekufuran, maupun orang yang masuk ke dalam Neraka sementara di antara orang Islam kemudian dia dikeluarkan dan masuk ke dalam Surganya Allāh subhanahu wa ta’ala, maka Allāh subhanahu wa ta’ala, Allah mengetahui jumlah mereka dan mengetahui satu persatu dari penduduk Surga dan juga penduduk. Si fulan dia adalah termasuk ahlu Jannah & meninggal dalam keadaan Islam, sif Fulan adalah termasuk penduduk Neraka dan akan meninggal di atas kekufuran, itu di bawah ilmu Allāhجُمْلَةً وَاحِدَةً،Secara berurutan, dan juga secara terperinci Allāh subhanahu wa ta’ala Maha mengetahui,فَلَا يُزَادُ فِي ذَلِكَ الْعَدَدِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُMaka tidak akan ditambah dari jumlah tersebut, kalau misalnya jumlah penduduk surga adalah 10 miliar sudah ditentukan oleh Allāh dan sudah diketahui oleh Allāh sebelumnya maka tidak akan bertambah ya yang sudah ditentukan oleh Allāh sebelumnya itulah yang akan masuk ke dalam Surga.apakah saya dikurangi? juga tidak akan dikurangi oleh Allāh yang sudah ditentukan oleh Allāh sebagai penduduk Surga atau surganya penduduk Neraka maka tidak akan bertambah dan tidak akan dikurangi, sudah diputuskan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala sebelumnya sudah ditakdirkan oleh Allāh sebelumnya.Didalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakanمَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِTidak ada diantara kalian kecuali sudah diketahui kedudukannya dari Surga dan juga Neraka,مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍTidak ada diantara kalian.Kita dan juga mereka sudah diketahui oleh Allāh subhanahu wa ta’ala apakah dia ini penduduk Surga yang kelak akan mendapatkan kebahagiaan di dalam Surga atau seseorang ini termasuk penduduk Neraka, apakah dia termasuk yang selamanya masuk kedalam Neraka atau dia termasuk yang akan dikeluarkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari Neraka dan masuk ke dalam Surga dengan sebab keimanan yang dia miliki tidak akan ditambah oleh Allāh dan tidak akan dikurangi ,رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ.Qolam² / pena² elah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering maka seseorang ketika dia memikirkan dirinya berharap kepada Allāh subhanahu wa ta’ala dan khusnudzon kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan Taufik untuk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allāh sebagai seorang muslim di ilhamkan di dalam dirinya untuk mengesahkan Allāh menjadikan di dalam dirinya rasa takut untuk menyekutukan Allāh diilhamkan di dalam dirinya untuk beriman dengan hari Akhir, keinginan untuk mengikuti sunnah keinginan untuk menuntut dan mendalami ilmu agama nanti akan disebutkan bahwasanya masing-masing akan dimudahkan.Bikin gambar tanpa orang

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 23: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 21)

Halaqah 23:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 21)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Setelah memahami mukjizat, Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah dan hal-hal yang berkaitan dengannya maka di lanjutkan poin-poin tentang tata cara beriman kepada para rasul. Diantara tata cara beriman dengan para rasul ‘alayhimussalam adalah beriman dengan nama-nama para nabi dan rasul yang Allah telah sebutkan namanya didalam Alquran mereka berjumlah 25 orang, 18 Diantaranya disebutkan berturut-turut didalam surat Al An’am dan 7 orang berpisah-pisah didalam surat -surat yang lain. 18 nama didalam surat Al An’am adalah:1. Ibrahim2. Ishaq3. Ya’qub4. Nuh5. Daud6. Sulaiman7. Ayyub8. Yusuf9. Musa10. Harun11. Zakariya12. Yahya13. ‘Isa14. Ilyas15. Ismail16. Al Yasa’17. Yunus18. Luth ‘Alayhimussalam lihat surat Al An’am : 83-86 Adapun 7 orang yang lain maka mereka adalah :1. Nabi AdamDua puluh lima kali disebutkan nama Nabi Adam di dalam Al-Quran, yang pertama di dalam surat Al-Baqarah : 31.2. Nabi IdrisDisebutkan dua kali didalam Al-Quran dalam surat Maryam : 56 dan Al-Anbiya’: 85.3. Nabi DzulkifliDua kali disebutkan didalam surat Al-Anbiya’: 85 dan surat Shod : 48.4. Nabi HudTujuh kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Al-A’raf : 65.5. Nabi ShalehSembilan kali disebutkan yang pertama di dalam surat Al A’raf : 73.6. Nabi SyuaibSepuluh Kali disebutkan, yang pertama didalam surat Al A’raf : 85.7 Nabi Muhammad ﷺEmpat kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Ali Imran : 144. Kemudian diantara beriman dengan para Rasul ‘alayhimussalam adalah meyakini adanya kekhususan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain dan diantaranya:1. Beliau diutus untuk segenap Manusia dan Jin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah wahai Muhammad, wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullãh untuk kalian semuanya” (Al-A’raf : 158). Dan Nabi ﷺ bersabda:وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس كافة"Dan dahulu para Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan diutus aku untuk manusia semuanya" (HR Bukhari).Dan beliau ﷺ diutus kepada Jin sebagaimana kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al-Jin.2. Allah telah menjadikan beliau sebagai Nabi yang terakhir.Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ…“Tidaklah Muhammad bapak salah seorang diantara laki-laki kalian akan tetapi dia adalah Rasulullãh dan penutup para Nabi” (Al-Ahzab: 40). Dan Rasulullah ﷺ bersabda:كانتْ بنو إسرائيلَ تسوسُهمُ الأنبياءُ ، كلَّما هلَكَ نبيٌّ خلَفَهُ نَبِيٌّ ، وإِنَّه لا نَبِي بعدِي ،…“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para Nabi, setiap kali meninggal seorang Nabi akan digantikan Nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 23

Halaqah yang Ke-23 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-21👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara tata cara beriman dengan para rasul ‘alayhimussalam adalah beriman dengan nama-nama para nabi dan rasul yang Allah telah sebutkan namanya didalam Alquran mereka berjumlah 25 orang, 18 Diantaranya disebutkan berturut-turut didalam surat Al An’am dan 7 orang berpisah-pisah didalam surat -surat yang lain.18 nama didalam surat Al An’am adalahIbrahimIshaqYa’qubNuhDaudSulaimanAyyubYusufMusaHarunZakariyaYahya‘IsaIlyasIsmailAl Yasa’YunusLuth ‘Alayhimussalam lihat surat Al An’am : 83-86Adapun 7 orang yang lain maka mereka adalaاNabi Adam,dua puluh lima kali disebutkan nama Nabi Adam di dalam Al-Quran, yang pertama di dalam surat Al-Baqarah : 31Nabi Idris,Disebutkan dua kali didalam Al-Quran dalam surat Maryam : 56 dan Al-Anbiya’: 85Nabi Dzulkifli,Dua kali disebutkan didalam surat Al-Anbiya’: 85 dan surat Shod : 48Nabi Hud,Tujuh kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Al-A’raf : 65Nabi Shaleh,Sembilan kali disebutkan yang pertama di dalam surat Al A’raf : 73Nabi Syuaib,Sepuluh Kali disebutkan, yang pertama didalam surat Al A’raf : 857 Nabi Muhammad ﷺ,Empat kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Ali Imran : 144Kemudian diantara beriman dengan para Rasul ‘alayhimussalam adalah meyakini adanya kekhususan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain dan diantaranya① Beliau diutus untuk segenap Manusia dan Jin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah wahai Muhammad, wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullãh untuk kalian semuanya” (Al-A’raf : 158)Dan Nabi ﷺ bersabdaوكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس كافةDan dahulu para Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan diutus aku untuk manusia semuanya (HR Bukhari)Dan beliau ﷺ diutus kepada Jin sebagaimana kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al-Jin② Allah telah menjadikan beliau sebagai Nabi yang terakhir.Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanمَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ…“Tidaklah Muhammad bapak salah seorang diantara laki-laki kalian akan tetapi dia adalah Rasulullãh dan penutup para Nabi” (Al-Ahzab: 40)Dan Rasulullah ﷺ bersabdaكانتْ بنو إسرائيلَ تسوسُهمُ الأنبياءُ ، كلَّما هلَكَ نبيٌّ خلَفَهُ نَبِيٌّ ، وإِنَّه لا نَبِي بعدِي ،…“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para Nabi, setiap kali meninggal seorang Nabi akan digantikan Nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku” (HR Al Bukhari dan Muslim)

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 72 – Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ali bin Abi Thalib (Bagian 4)Rasulullah ﷺ bersabda bahwa memerangi Khawarij secara syar'i di bawah pemerintah yang sah terdapat pahala, karena mereka membawa kerusakan besar bagi agama dan kehidupan kaum muslimin.Poin-poin penting:Khawarij menimbulkan kekacauan, sehingga dakwah, ibadah, keamanan, pendidikan, dan aktivitas masyarakat menjadi terhambat.Pada masa Ali bin Abi Thalib, banyak tenaga tercurah untuk menghadapi Khawarij sehingga perluasan dakwah Islam terganggu.Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya aku bertemu mereka, niscaya akan aku bunuh mereka sebagaimana kaum 'Ad dibinasakan." Ini menunjukkan kerasnya ancaman terhadap Khawarij.Ancaman seperti ini tidak pernah diucapkan Nabi ﷺ kepada pelaku dosa besar, sehingga menunjukkan betapa besarnya bahaya bid'ah Khawarij.Halaqah ini menegaskan bahwa bid'ah Khawarij termasuk dosa yang sangat besar karena dampaknya merusak agama dan kehidupan kaum muslimin.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 23

Halaqah yang ke dua puluh tiga dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثامن عشر التحفظ في مسألة العالمSimpul yang ke-18 adalah hendaklah kita berhati-hati (menjaga) ketika kita bertanya kepada seorang guru atau seorang yang berilmu.التحفظ artinya kita berusaha untuk menjaga.  Menjaga lisan, menjaga adab kita ketika kita bertanya kepada seorang guru, seorang yang berilmu, yang dia akan menularkan dan menyampaikan ilmunya kepada kita supaya benar-benar yang sampai kepada kita ini adalah ilmu. Kalau kita mengagungkan ilmu, maka kita berhati-hati dalam bertanya dan ketika kita ingin mengeluarkan ilmu tersebut dari guru kita.فرارًا من مسائل الشَّغْب، وحفظًا لهيبة العالم؛ فإنَّ من السُّؤال ما يرُاد به التَّشغببُ وإيقاظ الفتنة وإشاعة السُّوءUsaha untuk lari dari permasalahan-permasalahan yang menimbulkan fitnah (pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan keonaran) dan juga untuk menjaga kewibawaan dari seorang ‘alim.Maka perlu diketahui bahwasanya ada diantara pertanyaan yang diinginkan di balik itu adalah untuk mengobarkan api fitnah, untuk membangunkan fitnah, untuk menyebarkan kejelekan. Maka hati-hati dengan pertanyaan seperti ini.Sedang banyak peristiwa, banyak kejadian viral, kemudian ada sengaja seseorang karena ingin menyulut api fitnah akhirnya dia bertanya kepada gurunya dengan pertanyaan yang bisa mengobarkan fitnah tersebut. Ini harus kita pahami dan seorang guru harus memahami yang demikian.ومن آنس منه العلماء هٰذه المسائل لقي منهم ما لا يُعجبهPara ulama mendapatkan bahwasanya pertanyaan-pertanyaan ini adalah sumber dari fitnah, dan para ulama mereka sadar yang demikian, maka seseorang akan melihat dari para ulama tersebut sesuatu yang tidak menakjubkan dia.Karena para ulama ini sadar sebelum datang fitnah dia sudah tahu ini bisa mengobarkan api fitnah. Makanya kalau kita sampai salah dalam bertanya, jangan menyalahkan orang lain kalau melihat ulama yang kita tanya dia bersikap kepada kita atau mengucapkan kepada kita sesuatu yang kita tidak senang.كما مرَّ معك في زجر المتعلِّمSebagaimana telah berlalu tentang memberikan pelajaran kepada seorang murid.فا بدَّ من التَّحفُّظ في مسألة العالمMaka hendaklah kita menjaga dan benar-benar menjaga ketika kita bertanya kepada seorang yang ‘alim.ولا يُفلح في تَحَفُّظه فيها إلَّ من أعمل أربعة أصولٍSeseorang tidak mungkin sukses dalam menjaga pertanyaannya kecuali apabila dia melaksanakan empat pondasi.Ini kita harus punya pemahaman, punya cara yang benar dalam bertanya kepada seorang guru supaya kita mendapatkan manfaat. Kalau kita tidak punya fiqh, tidak punya pemahaman, tidak paham cara bertanya kepada seorang guru, maka akan hilang keberkahan ilmu tadi. Bukan manfaat yang kita dapatkan, justru malah sesuatu yang tidak kita senangi yang kita dapatkan karena kita tidak belajar tentang bagaimana bertanya.أوَّلهاYang pertama,الفكر في سؤاله لماذا يسأل؟Dia pikirkan dulu tentang pertanyaan yang akan dia tanyakan, kenapa dia bertanya.فيكون قصده من السُّؤال التَّفقُّه والتَّعلُّم، لا التَّعنُّت والتَّهكُّم؛Hendaklah dia perhatikan bahwasanya maksud dia ketika bertanya kepada guru tadi adalah ingin paham, ingin belajar.Jadi dia tanyakan kepada dirinya kenapa ana bertanya tentang pertanyaan ini. Kalau jawabannya adalah ana ingin lebih paham, ana ingin mendapatkan ilmu, maka itu sudah poin yang pertama yang bagus. Berarti maksud antum adalah ingin memahami agama ini.لا التَّعنُّت والتَّهكُّمBukan ta’annut (ingin membantah) dan bukan ingin tahakkum (menyempitkan gurunya).Sengaja dia bertanya kepada gurunya supaya syaikhnya bingung, supaya dia kelihatan sempit. Kalau sudah niatnya seperti itu kita harus menahan diri dari pertanyaan tadi. Tapi kalau niatnya adalah ingin paham tentang agamanya dan sungguh-sungguh dia ingin memahami agamanya, silahkan.فإنَّ من ساء قصده في سؤاله يُحرم بركةَ العلم، ويُمنع منفعتهKarena barangsiapa yang buruk maksud dia dan niat dia dalam bertanya, maka dia tidak akan mendapatkan berkah ilmu.Kalau maksud dia bukan belajar tapi ingin membantah, mungkin sama Syaikh dibantah, bisa dijawab pertanyaan tadi. Mungkin maksud dia ingin menyempitkan gurunya dan bisa ditangani oleh guru tadi. Tapi karena niatnya dia dari awal memang ingin sekedar membantah, ingin sekedar menunjukkan dia pernah belajar di sana dan di sini, meskipun dijawab oleh gurunya, dia tidak akan mendapatkan berkah ilmu tadi.Mungkin ketika gurunya menyampaikan dia tidak konsen lagi karena tujuan dia bukan ingin paham tapi hanya sekedar ingin membantah. Dia sudah anggap gurunya ini tidak bisa jawab. Bagaimana orang orang yang demikian dia mendapatkan ilmu?ويُمنع منفعتهDan dia tidak mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut, tidak bisa mengamalkan ilmu tadi.الأصل الثَّانيYang ke dua yang harus kita perhatikan ketika kita ingin bertanya kepada guru,التَّفطُّنُ إلىٰ ما يَسأل عنهHendaklah dia memikirkan apa pertanyaan yang dia tanyakan.Kalau tadi memperhatikan kenapa dia bertanya niatnya apa, kalau yang ke dua kita harus meperhatikan pertanyaan apa yang kita tanyakan kepada guru kita. Mungkin kita ikhlas ingin paham, tapi bagaimana pertanyaan tersebut, apakah ada manfaatnya atau tidak.فا تسأل عمَّا لا نفع فيه؛Jangan engkau bertanya tentang suatu yang tidak bermanfaat.Syaikh menyebutkan contohnya, misalnya apakah air banjir yang ada di zaman Nabi Nuh itu air asin atau air tawar, karena seluruh bumi tergenang air itu airnya asin atau air tawar, ini pertanyaan yang tidak ada manfaatnya.إمَّا بالنَّظر إلىٰ حالكMungkin dilihat dari keadaan dirimu.Artinya antum bertanya tentang sesuatu yang itu seandainya dijawab manfaatnya tidak akan kembali ke antum. Suatu yang terjadi di belahan Afrika sana misalnya, seandainya dijawab tidak ada manfaatnya bagi antum. Politik yang ada di sana misalnya, peperangan yang ada di sana,أو بالنَّظر إلىٰ المسألة نفسهاAtau dilihat dari pertanyaan itu sendiri tidak ada manfaatnya.Seperti yang tadi kita sebutkan contohnya, tidak ada manfaatnya, jangan bertanya.Antum menghabiskan waktu antum dan menghabiskan waktu Syaikh. Kalau beliau tidak menjawab atau berpaling dari pertanyaan antum jangan salahkan kecuali diri antum sendiri karena yang antum tanyakan memang tidak ada manfaatnya bagi antum atau memang asalnya tidak ada manfaatnya.ومثله السُّؤال عمَّا لم يقعYang seperti itu juga adalah bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.Syaikh seandainya misalnya di sana itu begini dan begini bagaimana Syaikh yang kita lakukan? Ini bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi dan belum tentu terjadi.أو ما لا يُحدَّث به كلُّ أحدٍ، وإنَّما يُخصُّ به قومٌ دون قومٍAtau pertanyaan tersebut ini tidak boleh jawabannya didengar kecuali orang-orang khusus saja.Antum bertanya tentang sebuah pertanyaan yang jawabannya tidak boleh didengar kecuali orang-orang tertentu saja. Ini antum jangan bertanya kepada beliau di hadapan orang banyak tentang pertanyaan tersebut. Kalau kita tidak memahami pertanyaan yang bermanfaat dan tidak mengetahui pertanyaan yang bermanfaat, maka jangan salahkan kalau nanti kita lihat Syaikh berpaling dari ucapan kita atau mengusir kita dari majelis.Kalau kelihatan antum dari kemarin pertanyaannya seperti ini, yang dibawa adalah syubhat-syubhat padahal di situ ada fulan, ada orang yang baru ngaji, ada orang yang baru kenal sunnah tapi yang antum bawa syubhat-syubhat tentang masalah-masalah takfir, masalah ini dan itu, bisa diusir dari majelis. Daripada satu orang di sini tapi merusak orang-orang yang ada di majelis, maka lebih baik diusir satu orang dan yang lain mengambil ilmu.الأصل الثَّالثYang ke tiga,الانتباه إلىٰ صلاحية حال الشَّيخ للإجابة عن سؤالهHendaklah kita memperhatikan keadaan Syaikh bagaimana keadaan beliau ketika beliau akan menjawab pertanyaan tadi.فا يَسألُه في حالٍ تمْنَعُهُJangan sampai seseorang bertanya kepada gurunya di dalam keadaan yang mencegah beliau untuk bisa menjawab pertanyaan.Jadi kita lihat situasi dan kondisi Syaikh, jangan sampai kita bertanya kepada beliau dan beliau dalam keadaan yang menghalangi beliau untuk menjawab pertanyaan kita. Cari waktu kondisi yang kira-kira beliau dengan leluasa bisa menjawab pertanyaan kita dengan baik. Contoh misalnya keadaan yang tidak pas kita bertanya kepada beliauككونه مهمومًاMungkin beliau dalam keadaan mahmum, sedang ada beban yang ada di dalam hati beliau.Kalau kita bertanya kepada beliau dalam keadaan seperti itu mungkin beliau akan menjawab pertanyaan kita tapi jawabannya tidak seperti yang kita inginkan, karena di dalam hati beliau ada beban, ada suatu yang sangat beliau pikirkan.Mungkin anaknya sedang dalam keadaan panas yang luar biasa, dia memikirkan bagimana dia membawa anaknya rumah sakit, antum bertanya tentang sebuah perkara. Ini bukan pas bukan waktunya antum bertanya. Jangan antum menyangka bahwasanya itu adalah menunjukkan semangat antum dalam menuntut ilmu.Atau melihat beliau misalnya tidak konsen dalam menjawab pertanyaan kita karena sedang ada beban tadi, kemudian kita mengatakan ini bukan seorang ulama seorang ahlul ilmu karena ditanya beliau tidak memperhatikan pertanyaan. Antum yang salah dalam memilih kondisi dan juga situasi.أو متفكِّرًاAtau beliau dalam keadaan memikirkan sesuatu.Tentang sebuah permasalahan agama, masalah fiqih, karena itu memang amalan mereka, pekerjaan mereka, memikirkan ilmu. Terkadang mereka sampai beberapa hari memikirkan sebuah permasalahan mana yang lebih kuat. Ketika beliau dalam keadaan seperti itu maka tidak pas antum bertanya kepada beliau.أو ماشيًا في طريقٍAtau beliau dalam keadaan berjalan di jalan.Mungkin beliau ada maksud, ketika beliau berjalan itu ada tujuan, mungkin mau menjenguk orang atau ada janjian dengan orang lain di sana.أو راكبًا سيَّارَتهAtau beliau dalam keadaan menyupir.Karena orang yang sedang menyupir maka dia sedang konsentrasi dengan apa yang ada di depannya.بل يتحيَّنُ طيب نفسهTetapi dia berusaha mencari kapan ketika beliau ini siap dan baik jiwanya untuk ditanya.Misalnya memang beliau memberikan waktu khusus, beliau menyempatkan waktu, memang ini untuk interaktif misalnya untuk pertanyaan, silahkan berarti beliau memang siap untuk ditanya dan siap konsentrasi untuk menjawab pertanyaan.الأصل الرَّابعYang ke empat yang perlu kita perhatikan,تيقُّظ السَّائل إلىٰ كيفيَّة سؤالهKalau niat kita sudah bagus, pertanyaannya bermanfaat, dan waktunya, situasi dan kondisinya pas, yang ke empat jangan lupa kita harus menyampaikan pertanyaan tadi dengan baik, harus dipikirkan bagaimana supaya pertanyaan tadi bisa disampaikan dengan baik, misalnyaبإخراجه في صورةٍ حسنةٍ متأدِّبةٍYaitu dengan memberikan pertanyaan tadi dalam bentuk yang baik dan penuh dengan adab, contohفيُقدِّم الدُّعاء للشَّيخDia mendahulukan dengan mendoakan,Syaikhuna ahsanallāhu ilaik, Syaikhuna bārakallāhu fīk, itu didahulukan dengan doa, ghafarallāhu lakum wa liwālidaykum, mendoakan kedua orang tuanya, mendoakan untuk beliau, ini termasuk adab.ويبجِّله في خطابهKemudian di dalam pertanyaan kita ada sesuatu yang menunjukkan kita ini menghormati beliau.Syaikhuna, Ustadzuna, Ya Mu’allim, Wahai Guru, ada ucapan yang menunjukkan kita menghormati beliau.ولا تكون مخاطبته له كمخاطبته أهلَ السُّوق وأخلاطَ العوامJangan sampai ketika dia berbicara kepada guru tersebut, kepada seorang ulama tersebut, sama ketika dia berbicara dengan orang yang ada di pasar.Tidak ada doa, tidak ada penghormatan, ini berapa, ini sekilo berapa, jangan sampai kita menyamakan ketika kita berbicara kepada guru kita sama ketika kita berbicara dengan orang-orang yang ada di pasar dengan suara yang keras, tidak ada adabnya.وأخلاطَ العوامDan orang-orang awam.Kita harus hormati beliau dan menggunakan kalimat-kalimat yang baik yang menunjukkan penghormatan kita terhadap beliau.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan Halaqah 73 – Al-Nār (Neraka) dan Adzabnya (Bagian 3)

Ringkasan Halaqah 73 – Al-Nār (Neraka) dan Adzabnya (Bagian 3)1. Makanan Penghuni Nerakaa. Dhari'Makanan penghuni neraka berupa dhari', yaitu tumbuhan berduri.Tidak mengenyangkan dan tidak menghilangkan rasa lapar.Dalil: QS. Al-Ghāsyiyah: 6–7.b. Pohon ZaqqumTumbuh dari dasar neraka.Mayangnya seperti kepala-kepala setan.Dimakan hingga memenuhi perut penghuni neraka.Setelah itu mereka minum air yang sangat panas.Dalil: QS. Ad-Dukhān: 43–46; QS. Ash-Ṣāffāt: 62–66; QS. Al-Wāqi'ah: 51–55.c. Air Minum Penghuni NerakaKetika meminta minum, mereka diberi air seperti logam yang mendidih.Air itu menghanguskan wajah dan memotong-motong usus mereka.Dalil: QS. Al-Kahfi: 29; QS. Muhammad: 15.d. GhislīnMakanan berupa nanah penghuni neraka yang sangat busuk dan menjijikkan.Hanya dimakan oleh orang-orang yang berdosa.Dalil: QS. Al-Ḥāqqah: 35–37.2. Pakaian Penghuni NerakaPakaian mereka terbuat dari api.Pakaian mereka juga dari tembaga panas yang menutupi wajah.Dalil: QS. Al-Ḥajj: 19; QS. Ibrāhīm: 50.3. Bentuk Adzab Penghuni NerakaKulit mereka matang, lalu dikembalikan lagi agar terus merasakan adzab.Isi perut meleleh dan kulit hancur karena siraman air panas.Dipukul dengan palu-palu besi ketika mencoba keluar.Diseret di atas wajah-wajah mereka.Wajah mereka menjadi hitam.Leher dibelenggu, kaki dirantai, diseret ke air mendidih lalu dibakar dalam api.Dalil: QS. An-Nisā': 56; QS. Al-Ḥajj: 19–22; QS. Al-Qamar: 48; QS. Āli 'Imrān: 106; QS. Ghāfir: 71–72.4. Permintaan Penghuni NerakaMemohon agar dikeluarkan supaya bisa beramal saleh.Meminta penjaga neraka berdoa agar adzab diringankan walau hanya sehari.Meminta Malaikat Malik agar Allah mematikan mereka.Semua permintaan tersebut ditolak.Dalil: QS. Fāṭir: 37; QS. Ghāfir: 49; QS. Az-Zukhruf: 77.PelajaranAdzab neraka sangat dahsyat dan tidak ada keringanan bagi orang-orang kafir.Penghuni neraka tidak akan keluar, adzab mereka tidak diringankan, dan mereka tidak dimatikan.Hendaknya kita berlindung kepada Allah, memperbanyak amal saleh, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 72

Selasa, 7 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 72Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keempat Hadist Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib (Bagian 4)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Pahala Membunuh Kaum Khawarij secara Syar'i​Nabi ﷺ bersabda mengenai kaum Khawarij:​فإنَّ قتلَهم أجرٌ لمن قَتَلَهم​Artinya:“Karena sesungguhnya membunuh mereka ini ada pahala bagi orang-orang yang membunuh mereka di hari Kiamat.”Orang-orang yang memerangi orang-orang Khawarij dengan cara yang benar harus dibimbing oleh pemerintah, sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan juga pasukannya. Ketika mereka membunuh orang-orang Khawarij, mereka mendapatkan pahala.Dampak Buruk dan Kerusakan Akibat Kaum Khawarij​Alasan mengapa memerangi kaum Khawarij mendatangkan pahala yang besar adalah karena mereka membawa mudharat yang sangat besar bagi kaum muslimin:​Salah Sasaran dalam Berjihad:Mereka meninggalkan penyembah-penyembah kuburan, tetapi mereka justru memerangi orang-orang Islām (yang dianggap melakukan dosa besar lalu dibunuh).​Mengacaukan Stabilitas Negara:Mereka ingin mengacaukan keadaan negara. Padahal, di dalam negara yang kacau, tidak mungkin bisa berdakwah dengan baik, serta tidak mungkin bisa mengembangkan lagi dan berjihad mengajak orang lain untuk masuk ke dalam agama Islām.​Contoh Sejarah Perbandingan Zaman Umar dan Zaman Ali:​Di zaman Umar bin Khattab, banyak negeri-negeri yang sebelumnya negeri kufur masuk ke dalam agama Islām.​Di zaman Ali bin Abi Thalib, meskipun berlangsung 4-5 tahun, sangat sedikit sekali tambahan negeri yang masuk ke dalam agama Islām. Hal ini dikarenakan beliau sibuk mengurusi orang-orang Khawarij.​Terabaikannya Maslahat Dunia dan Agama:Akibat kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang Khawarij, banyak maslahat dunia dan maslahat agama menjadi terabaikan, tersingkirkan, atau hilang. Jika situasi negara kacau karena pemerintah sibuk berperang melawan Khawarij di dalam negeri, kegiatan sehari-hari masyarakat tidak dapat berputar:​Tidak mungkin ada pasar yang berjalan dengan baik.​Tidak ada orang yang berani membuka warungnya.​Tidak ada anak-anak yang berani melakukan perjalanan sekolah.​Tidak ada dai yang berani untuk ceramah.​Tidak ada orang yang berani datang ke masjid untuk shalat.​Akhirnya, semua urusan dunia maupun urusan agama menjadi kacau dan terhambat gara-gara orang-orang Khawarij ini.Sumber Hadits dan Penggabungan Riwayat​Hadits pertama (فإنَّ قتلَهم أجرٌ لمن قَتَلَهم) adalah hadits dari Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan juga Muslim.​Kemudian muallif menyebutkan potongan hadits berikutnya:​لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عادPotongan di atas merupakan bagian dari hadits Abu Said Al-Khudri, yang lengkapnya berbunyi:​يمرقون من الإسلام كما يme السهم من الرمية لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد​Hadits Abu Said Al-Khudri ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Wallāhualam, teks di sini merupakan penggabungan antara dua hadits, yaitu hadits Ali bin Abi Thalib dan hadits Abu Said Al-Khudri.Makna Ancaman Pembunuhan Seperti "Kaum 'Ad"q​Di dalam hadits Abu Said Al-Khudri, Nabi ﷺ bersabda:​لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد​Artinya:“Seandainya aku bertemu dengan mereka niscaya aku akan membunuh mereka sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Ad.”​Maksud dari "Pembunuhan Kaum 'Ad" adalah Kaum 'Ad dahulu dihancurkan dan terbunuh secara keseluruhan tanpa ada yang disisakan oleh Allāh. Artinya, Nabi ﷺ berniat seandainya bertemu dengan kaum Khawarij, beliau akan menghabisi semuanya secara keseluruhan dan tidak akan menyisakan mereka.Syahid (Sisi Pendalilan) Bahwa Bid'ah Lebih Besar daripada Dosa Besar​Ini menunjukkan betapa kerasnya ancaman Nabi ﷺ terhadap orang-orang Khawarij sampai beliau berniat untuk membunuh mereka secara keseluruhan tanpa ada yang disisakan. Apakah ucapan atau ancaman seperti ini (لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد) pernah beliau ucapkan kepada orang yang melakukan dosa besar biasa? Tidak pernah. Karena beliau tidak pernah mengucapkan ancaman ini kepada pelaku dosa besar, maka hal ini menjadi dalil yang menunjukkan dahsyatnya dan besarnya dosa bid'ah, khususnya dosa bid'ah Khawarij di sini, sampai-sampai Nabi ﷺ mengancam mereka dengan ancaman yang sedemikian rupa.Kesimpulan​Berdasarkan hadits shahih riwayat Ali bin Abi Thalib dan Abu Said Al-Khudri, memerangi kaum Khawarij di bawah bimbingan pemerintah yang sah merupakan amalan yang berpahala besar di hari kiamat. Hal ini dikarenakan bid'ah Khawarij menimbulkan mudharat global yang menghancurkan maslahat dunia maupun agama; mereka justru memerangi umat Islam dan melumpuhkan stabilitas negara (seperti pasar, sekolah, dakwah, dan shalat berjamaah), sebagaimana yang terjadi di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Kekerasan ancaman Nabi ﷺ yang berniat menghabisi mereka secara total tanpa sisa seperti pemusnahan kaum 'Ad—suatu ancaman yang tidak pernah beliau sampaikan kepada para pelaku dosa besar biasa—menjadi bukti kuat tentang betapa dahsyat dan besarnya bahaya dosa bid'ah dibandingkan dengan dosa-dosa besar lainnya.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 22

Halaqah yang ke dua puluh dua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد السابع عشرSimpul yang ke-17 diantara simpul-simpul (prinsip-prinsip) yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam diri kita,الذب عن العلم، والذود عن حياضهAdalah membela ilmu.Kita harus punya rasa pembelaan terhadap ilmu karena ilmu qalallahu waqala rasul dengan pemahaman para salaf ini harus kita bela, jangan sampai ada yang berusaha untuk merusak ilmu dan merusak pemahaman yang benar terhadap ilmu. Kalau ada yang merusaknya kita berusaha untuk membelanya.والذود عن حياضهDan kita berusaha untuk mengusir setiap orang yang ingin mendekati (merusak) telaga-telaga ilmu tersebut.Ini bentuk pengagungan kita terhadap ilmu.Orang yang cinta dengan ilmu dan mengagungkan ilmu, dia tidak akan rela kalau di sana ada orang-orang yang berbicara dan merusak ilmu.Allāh ﷻ mengatakan demikian, Rasul ﷺ mengatakan demikian, pemahaman demikian, tapi dia berbicara di hadapan orang dan mengobrak abrik ilmu dan merusak pemahaman yang benar tentang ilmu, maka harus ada di dalam hatinya ghirah (kecemburuan). Tidak rela kalau sampai ada orang yang merusak ilmu. Ini bentuk penganggungan kita terhadap ilmu. إنَّ للعلم حُرمةً وافرةً، توجب الانتصارَ له إذا تُعرِّض لجنَابه بما لا يصلحُSesungguhnya ilmu ini memiliki kehormatan yang tinggi, kehormatan yang besar, yang mengharuskan kita untuk membela ilmu tersebut. Apabila ada yang berusaha untuk merusaknya, apabila ada yang berusaha memasukkan ke dalam ilmu tadi sesuatu yang tidak benar.وقد ظهر هٰذا الانتضار عند أهل العلم في مظاهرَDan telah muncul terwujud pembelaan tersebut (pembelaan yang dilakukan oleh para ulama) pada keadaan-keadaan berikut.Jadi terlihat di sana peristiwa atau keadaan yang menunjukkan bahwasanya para ulama, mereka berkeinginan untuk membela mati-matian ilmu tersebut. Ilmu yang mereka rela untuk meninggalkan negaranya sampai ke negara lain, mengeluarkan harta yang dia miliki, dia berpisah dengan keluarganya, bukti kecintaan mereka terhadap ilmu.منهاDiantaranya adalahالرَّدُّ علىٰ المخالفMembantah orang yang menyimpang.Para ulama membantah. Imam Ahmad membantah, Ibnu Taimiyah membantah, karena ini adalah bentuk pengagungan mereka terhadap ilmu. Mereka tidak rela ilmu itu dirusak. Dia harus bangkit, dia habiskan malamnya mungkin untuk menulis bantahan, dihabiskan waktu selama beberapa bulan untuk menulis bantahan. Itu dilakukan ingin membela mati-matian ilmu yang dia agungkan, tidak ingin ilmu dirusak oleh sebagian orang.فمن ٱستبانت مخالته للشَّريعة رُدَّ عليه كائنًا من كانMaka barangsiapa yang jelas penyimpangan dia terhadap syari’at, maka dia harus dibantah. Siapapun dia.Terkadang temannya sendiri, Al Imam Ahmad Bin Hanbal berkata kepada Ishaq Ibn Rahawaih, teman beliau sendiri dan sama-sama ulama, tapi ilmu lebih dia cintai kalau tidak benar sikapnya terhadap ilmu yang dia sampaikan, bukan demikian cara memperlakukan ucapan orang-orang yang baik. Siapapun dia, maka ditolak meskipun itu adalah temannya sendiri, meskipun adalah keluarganya sendiri.حَيَّةً للدِّين، ونصيحةً للمسلمينItu dilakukan yang pertama adalah untuk menjaga agama. Dia sampaikan bantahannya untuk menjaga agama ini supaya tetap murni, suci, tidak dirusak oleh pemikiran yang menyimpang.ونصيحةً للمسلمينDan ini adalah bentuk nasehat untuk kaum muslimin.Tidak ingin sampai pemahaman yang tidak benar itu kepada saudara-saudaranya diantara kaum muslimin, makanya beliau membantah karena tidak ingin kaum muslimin teracuni dan masuk di dalam pemikiran mereka, ajaran-ajaran yang menyimpang. Ini bagian dari menasihati kaum muslimin.ومنهاDiantara bentuk pembelaan para ulama terhadap ilmu adalahهجرُ المبتدعِBukan hanya membantah saja tapi juga menghajr (memboikot) seorang Ahlul Bid’ah.Ahlul Bid’ah ini perusak agama, menambah-nambah di dalam agama, menyuruh manusia untuk meyakini bid’ah tadi atau mengamalkan bid’ah tadi. Maka termasuk bentuk pembelaan kita adalah memboikot mubtadi’.ذكره أبو يعلىٰ الفرَّاء إجماعًاAbu Ya’la Al-Farra’ menyebutkan bahwasanya adalah ijma’, menghajr mubtadi Itu adalah sebuah ijma.فا يُؤخذ العلم عن أهل البدعTidak boleh diambil ilmu dari seorang Ahlul Bid’ah, seorang jahmi, atau seorang mu’tazili, atau seorang murjiah, atau seorang khawarij. Jangan mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ah, mereka merusak.Dan kalau kita mengambil ilmu darinya, manusia akan tertipu. Si fulan saja mendatangi, berarti tidak masalah kita mendatangi majelisnya, tidak masalah kita mendengarkan ceramahnya, akhirnya ajaran yang menyimpang tadi sampai kepada orang-orang orang awam, kepada orang-orang yang jahil sehingga bisa merusak agama. Maka pembelaan kita adalah dengan menghajr seorang mubtadi’.لٰكن إذا ٱضْطرَّ إليه فلا بأسAkan tetapi kalau dalam keadaan terpaksa maka tidak masalah.Seperti misalnya di lingkungan sekolah, kita belajar macam-macam perkara, di situ ada satu pelajaran harus yang mengajar adalah si fulan mubtadi’. Mau tidak mau kita harus menghadiri kelasnya, kalau tidak maka kita tidak akan lulus misalnya, maka dalam keadaan terpaksa tidak masalah, tapi kita harus berhati-hati dengan pemikirannya.كما في الرِّواية عنهم لدىٰ المحدِّثينSebagaimana (ini sebuah contoh) hukum meriwayatkan dari mereka menurut para muhadditsin.Para Ahlul Hadits asalnya mereka tidak mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ah. Kalau mereka mau mencari hadits mereka lihat dulu ini Ahlul Bid’ah atau Ahlus Sunnah. Kalau Ahlus Sunnah mereka ambil ilmunya, kalau Ahlul Bid’ah maka mereka tidak mengambil ilmunya.Tapi di sana ada sebagian Ahlul Bid’ah, mereka lihat ini adalah Ahlul Bid’ah yang tidak bohong karena Ahlul Bid’ah ini ada yang suka bohong dan ada yang takut bohong.Orang-orang khawarij dahulu mereka adalah orang-orang yang takut bohong karena mereka mengatakan pelaku dosa besar keluar dari Islam. Jadi mereka kalau bohong atas nama Nabi takut mereka, sehingga kadang kalau dia menghafal hadits, memiliki riwayat hadits diambil darinya karena dia adalah punya keyakinan tidak boleh bohong sehingga tidak mungkin dia bohong di dalam menyampaikan hadits, ini sebuah pengecualian.ومنها: زجر المتعلِّم إذا تعدَّىٰ في بحثهDiantara bentuk pembelaan terhadap ilmu, selain membantah kemudian memboikot Ahlul Bid’ah, juga terkadang kita menggertak seorang penuntut ilmu yang ada di hadapan kita. Kita bentak misalnya apabila dia berlebihan dalam menuntut ilmu.أو ظهر منه لَدَدٌAtau terlihat bahwasanya orang ini suka membantah.Dia mungkin baru belajar dan ingin menampakkan tentang semangatnya atau menampakkan ilmunya, sudah disampaikan oleh gurunya demikian dan demikian tapi begini, diulang lagi tapi begini, dan seterusnya. Maka dalam keadaan demikian boleh bagi seorang guru untuk menggertak kalau kelihatan di dalam dirinya sifat seperti ini.أو سوءُ أدبٍAtau terlihat dia tidak beradab.Karena ini semua adalah menunjukkan penghinaan terhadap ilmu dan kita sebagai seorang yang menisbahkan kepada ilmu harus membela. Ini tidak beradab dalam majelis padahal seharusnya seorang penuntut ilmu dan setiap orang yang cinta ilmu harus beradab di dalam majelis. Kalau ini tidak beradab maka boleh bagi seorang guru untuk memberikan pelajaran bagi murid tersebut.وإن ٱحتاج المعلِّم إلىٰ إخراج المتعلم من مجلسه؛ زجرًا له فليفعلKalau misalnya seorang guru perlu untuk mengeluarkan seorang murid dari majelisnya karena ingin memberikan pelajaran kepada murid tersebut, maka hendaklah dia lakukan.Karena keinginan guru tadi supaya anak ini sadar bahwasanya sikap dia itu salah, sikap dia ini tidak mencerminkan pengagungan terhadap ilmu, sehingga terkadang diusir oleh gurunya.كما كان يفعله شعبة مع عفَّانَ بن مسلمٍ في درسهSebagaimana ini pernah dilakukan oleh Syu’bah rahimahullah (Amirul Mu’minin Fil Hadits), beliau pernah mengusir seorang muridnya dan dia adalah seorang imam juga sebenarnya, seorang Ahlul Hadits, ‘Affan Ibn Muslim, di dalam dars-nya.Ini dilakukan oleh Syu’bah untuk memberikan pelajaran kepada muridnya supaya dia mengetahui adab-adab dalam menuntut ilmu. Apakah ‘Affan ketika diusir oleh gurunya kemudian dia mutung dan putus asa kemudian malu tidak mau mengadiri majelis Syu’bah? Tidak, beliau tetap tegar dan beliau bersabar.Dan beliau tahu bahwasanya gurunya tidak melakukan yang demikian kecuali untuk kebaikannya dan karena gurunya mencintai ilmu dan mengagungkan ilmu dan ingin melihat muridnya juga mengagungkan ilmu tersebut. Sehingga jadilah Affan seorang ulama, juga jadilah Affan seorang Imam juga, karena dia bersabar dalam menuntut ilmu, bersabar dalam bermajelis, bersabar atas perilaku gurunya.Kalau dia tidak bersabar, maka mungkin dia akan jadi seorang tukang kayu saja atau tukang bersih-bersih saja. Tapi beliau bersabar dan akhirnya beliau juga mendapatkan ilmu dari Syu’bah.Syu’bah melihat muridnya bersabar dan ternyata dia menghadiri majelis ilmunya Syu’bah lagi. Maka dia tahu bahwasanya ini murid benar-benar dia ingin mencari ilmu, maka akan diberikan kepadanya ilmu karena dia bersungguh-sungguh. Ini ilmunya, ini haditsnya, karena dia melihat murid tersebut memang benar-benar ingin belajar. Kemudian,وقد يُزجر المتعلِّم بعدمِ الإقبال عليهTerkadang seorang penuntut ilmu (murid) diberikan pelajaran dengan cara gurunya tidak menghadap kepada murid tadi. Ketika ditanya oleh murid tadi dia tidak menghadapkan dirinya kepada murid tadi, dicuekin.وتركِ إجابتهDan meninggalkan untuk menjawab pertanyaan dia. Kalau memang murid tadi di dalam dirinya ada kebaikan, maka InsyaAllāh dia akan bisa mengambil pelajaran. Ini ada sesuatu pada diri ana, sehingga Syaikh beliau demikian dan demikian. Apa yang salah, kalau memang dalam dirinya ada kebaikan, maka dia akan memperbaiki dirinya.فالسُّكوت جوابٌ؛ قاله الأعمشMaka diamnya seseorang itu adalah sebuah jawaban.Jawaban tidak harus diucapkan. Apalagi seorang ulama, maka diamnya dia itu adalah sebuah jawaban. Itu sebuah pelajaran bagi kita. Kalau beliau berbicara, maka kita berbicara di dalam permasalahan tadi, sebagaimana beliau berbicara. Kalau beliau diam, ketahuilah bahwasanya para ulama itu diam di atas ilmu juga, bukan karena mereka tidak tahu.فالسُّكوت جوابٌMaka diamnya itu adalah sebuah jawaban.Kita harus sadar, kita harus mudah mengerti kenapa guru kita diam. Kenapa beliau tidak mau menjawab, kita harus sadar maksud beliau mungkin seperti ini, mungkin ini kalau sampai dijawab akan terjadi fitnah bagi saudara-saudara ana. Ini di sekitar ana masih banyak orang awam sementara pertanyaan ana tadi sudah terlalu jauh. Kalau sampai disampaikan dan dijawab oleh Syaikh, ini fitnah bagi orang-orang yang ada di sekitar ana, dia mengambil pelajaran. Berarti nanti ana kalau jadi seorang guru harus melihat suasana. Maka diamnya guru kita itu adalah jawaban.قاله الأعمشIni diucapkan oleh Al-A’masy. Ini adalah seorang muhaddits, Sulaiman Ibn Mihran Al-Kufiy.ورأينا هٰذا كثيرٍا من جماعةٍ من الشُّيوخSyaikh mengatakan dan kami melihat yang demikian banyak dilakukan oleh guru-guru kami atau para ulama.منهم العلَّمة ابن بازDiantaranya adalah Al-‘Allamah Ibn Baz rahimahullah (Syaikh Bin Baz).فربَّما سأله سائلٌ عمَّا لا ينفعه، فترك الشيخ إجابَتَه، وأمر القارئ أن يواصل قراءته، أو أجابه بخلاف قصدهTerkadang ada yang tanya kepada Syaikh tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, sampai perkara yang tidak bermanfaat ditanyakan. Maka Syaikh tidak menjawab pertanyaan tadi, kemudian menyuruh sang pembaca yaitu yang membaca kitab di hadapan beliau untuk meneruskan qira’ahnya.Jadi ada yang bertanya, Syaikh apa hukumnya demikian dan demikian. Saya mengatakan, Iqra (baca). Tidak dijawab pertanyaan orang tadi karena melihat itu tidak bermanfaat.Ini pelajaran bagi kita kalau kita duduk di situ kalau ada orang yang bertanya dan kurang bermanfaat, untuk sebagai pembelaan kita terhadap ilmu, maka jangan kita menjawab pertanyaan tadi. Ini pelajaran, makanya ini penting seseorang melazimi seorang guru. Dia bukan hanya belajar mengambil ilmu darinya tapi juga mengambil adab dari beliau.أو أجابه بخلاف قصدهAtau menjawabnya tetapi bertentangan dengan maksud orang yang bertanya tadi.Terlihat dia maksudnya mau demikian kemudian oleh Syaikh dijawab bertentangan dengan apa yang dia maksudkan sebagai pelajaran bagi orang tersebut.Ini adalah ma’qid (simpul) yang ke-17. Kita harus memiliki pembelaan terhadap ilmu kalau ada orang yang akan menghinakan ilmu tersebut atau merusak ilmu tersebut

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 72

Halaqah 72 | Perjanjian yang Allāh Ambil atas Nabi Adam dan KeturunannyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَالْمِيثَاقُ الَّذِي أَخَذَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ آدَمَ وَذُرِّيَّتِهِ حَقٌّDan perjanjian yang Allāh subhanahu wa ta’ala ambil dari Adam dan juga keturunannya maka ini adalah Haq.Diantara akidah Ahlussunnah wal jamaah bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala dahulu telah mengambil sebuah perjanjian dari Nabi Adam alaihissalam sebagai bapak manusia dan juga anak keturunan beliau ini adalah hak ini adalah benar adanya karena yang demikian berdasarkan dalil yang shahih bahkan dalilnya adalah dalil yang mutawatir secara makna sebagaimana ini dijelaskan oleh syekh Albani rahimahullah di dalam silsilah Al Hadits shahihah berdasarkan semua hadits yaitu hadits Abdullāh bin Abbas yang diangkat sampai Nabi ﷺ di mana beliau ﷺ mengatakan,إنَّ اللَّهَ تعالى أخذَ الميثاقَ من ظَهرِ آدمَ عليهِ السَّلامُ بنعمانَ يومِ عرفةَ فأخرج من صلبِه كلَّ ذرِّيَّةٍ ذراها فنثرها بين يدَيه كالذر ثم كلَّمهم قُبُلًا قال أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىNabi ﷺ mengatakan, sesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengambil perjanjian dari punggung Adam di hari Arafah kemudian Allāh subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang sulbinya, Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau Allāh subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang Sulbinya langsung dunia Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau.Ini sesuatu yang harus kita yakini berdasarkan hadits yang shahih Allāh semata mengeluarkan seluruh keturunan Nabi Adam alaihissalam saat ini termasuk di antaranya kita meskipun kita tidak mengingatnya tapi inilah yang digambarkan oleh Nabi ﷺ,فنثرها بين يدَيهKemudian Allāh subhanahu wa ta’ala meletakkan mereka di depan Nabi Adam alaihissalam,كالذرSeperti semut-semut yang kecil meletakkan keturunan Nabi Adam alaihissalam di depan Nabi Adam alaihissalam seperti كالذر itu seperti semut kecil yang banyak dan semuanya adalah keturunan nabi Adam alaihissalam manusia kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berbicara kepada mereka semuanya dan mengatakan,أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْBukankah Aku adalah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian.Sehingga wajib bagi kalian untuk menyembah Allāh saja dan tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun di sini Allāh subhanahu wa ta’ala mengambil Misaq Allāh mengambil perjanjian dengan Nabi Adam alaihissalam dan juga seluruh keturunannya,أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْBukankah Aku adalah Rabb kalian ?Apa jawab mereka?بَلَىMereka mengatakan iya, ya Allah semuanya mengakui bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Rabb mereka, pengakuan yang merupakan janji dari mereka untuk menyembah kepada Allāh saja tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.Ini adalah Misaq, ini perjanjian yang berat berarti di sana sudah ada janji yang Allāh subhanahu wa ta’ala dari Nabi Adam alaihissalam dan juga keturunannya dan janji yang harus kita tepati maka muwahidun / orang-orang yang bertauhid orang-orang Islam dari semenjak umat nabi-nabi terdahulu dan yang mengikuti Nabi ﷺ merekalah orang-orang yang menempati janji mereka adalah orang-orang yang menempati janji karena kita sudah mengakui di hadapan Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kita yang kita harus mengesakannya mentauhidkan tidak boleh menyekutukannya Dia dengan sesuatu apa ketika diperintahkan untuk menyempurnakan janji kepada Allāh subhanahu wa ta’ala.Setelah perjanjian tersebut Allāh subhanahu wa taala bukan hanya mencukupkan diri dengan perjanjian yang sudah Allāh ambil kepada mereka dahulu, tapi Allāh subhanahu wa taala mengutus para rasul mengingatkan manusia atas perjanjian tersebut۝ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…[QS An Nahl 36]Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya menyembah kalian kepada Allāh dan menjauhi Thagut. Ini adalah isi perjanjian yang Allāh ambil dari mereka, Allāh utus para utusan dan jumlah mereka luar biasa banyak disebutkan dalam hadits jumlah mereka ada 124.000, 300 lebih diantaranya adalah sebagai Rasul dan Allāh subhanahu wa ta’ala tidaklah menurunkan kitab kecuali untuk mengingatkan manusia juga tentang Tauhid,كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ۝ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ[QS Hud 1,2]Kitab yang diqaskan ayat-ayatnya dan diperinci dari Allāh subhanahu wa ta’ala apa tujuannya?أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَSupaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allāh subhanahu wa ta’ala semata.Tauhid, Islam ini adalah janji yang sudah Allāh ambil dari kita semuanya ini adalah hikmah diciptakannya Jin dan juga manusia hikmah diutusnya para Rasul hikmah diturunkan kitab-kitab Allāh subhanahu wa ta’ala, maka kita sebagai seorang muslim membenarkan Misaq tersebut jangan kita seperti orang-orang yang mendahulukan akalnya bagaimana dan bagaimana dikeluarkan semuanya dari tulang sulbi adab, berupa semut atau berupa dzar kecil-kecil seperti semut, ini ucapan orang-orang yang kurang akal bukan orang yang cerdas akalnya adaupun orang yang shahih akalnya maka dia menyadari, akalnya menyadari bahwasanya akal dia itu penuh dengan kekurangan itu orang yang benar akalnya, kalau memang itu kabar yang Shahih dari Nabi ﷺ maka akal yang shahih akan mendengarkannya, akal yang shahih menyadari bahwasanya dirinya adalah penuh dengan kekurangan.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 22: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)

Halaqah 22:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 20)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah: 4. Al Karamah menambah keimanan, ketakwaan dan kerendahan hati pada pemiliknya, sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah menambah kekufuran dan kejauhan dari Allah ‘Azza wa jalla.Di dalam kitab Hilyatul Auliya Abu Nu’aim rahimahullah membawakan dengan sanadnya kisah Abu Muslim Al-Khaulani seorang yang shaleh, dengan Al-Aswad Al-Amsyi orang yang mengaku menjadi Nabi berkata Syarah bil Al-Khaulani ketika Al-Aswad bin qais bin dil himar Al-Amsyi di Yaman muncul dipanggilah Abu Muslim maka Al-Amsyi berkata “apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? ”berkata Abu muslim “Iya”kembali Al-Amsyi bertanya“apakah engkau bahwa aku adalah Rasulullah? ”berkata Abu muslim “aku tidak mendengar”.Maka di nyalakanlah api yang besar kemudian di lemparkan Abu Muslim kedalam api tersebut, tetapi beliau tidak termudharati, maka penduduk kerajaan Al-Aswad Al-Amsyi berkata kepadanya apabila engkau biarkan Abu Muslim berada di negerimu maka dia akan merusak urusanmu, usirlah dia maka Abu Muslim pun datang ke kota Madinah dan saat itu Rasulullah ﷺ sudah wafat dan digantikan Abu Bakar, kemudian Abu Muslim menambatkan untanya dipintu masjid Nabawi kemudian shalat menuju salah satu tiang diantara tiang-tiang Masjid.Maka Umar bin khaththab melihatnya dan mendatanginya dan berkata “Dari mana asal mu?”Abu Muslim mengatakan : "Dari Yaman”Berkata Umar “apa yang dilakukan musuh-musuh Allah terhadap saudara kita yang dibakar dan tidak mempan”Abu Muslim berkata: “itu adalah Abdullah Ibn tsaub”Berkata Umar: “aku meminta dengan Nama Allah apakah dia adalah dirimu? ”berkata Abu muslim: “Iya”Berkata syarah bil maka Umar antara kedua mata Abu Muslim kemudian membawanya dan mendudukannya antara Abu Bakar dan Umar.Berkata Umar Ibn Khattab ”segala puji bagi Allah yang belum mematikanku dari dunia sehingga memperlihatkan kepada diriku diantara umat Muhammad orang yang dibakar seperti dibakarnya Nabi Ibrahim kekasih Allah”.Lihatlah bagaimana ucapan Abu Muslim ketika ditanya oleh Umar Ibn khattab beliau berusaha untuk menutupi identitas beliau dan mengatakan “itu adalah Abdullah bin tsaub” seakan-akan orang tersebut bukan dirinya.5. Al-Karamah digunakan untuk sesuatu kebaikan atau perkara yang diperbolehkan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah digunakan untuk perkara yang diharamkan seperti menyakiti orang lain atau menyombongkan diri dan lain-lain.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 22

Halaqah yang Ke-22 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-20diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah④ Al Karamah menambah keimanan, ketakwaan dan kerendahan hati pada pemiliknya, sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah menambah kekufuran dan kejauhan dari Allah ‘Azza wa jallaDi dalam kitab Hilyatul Auliya Abu Nu’aim rahimahullah membawakan dengan sanadnya kisah Abu Muslim Al-Khaulani seorang yang shaleh, dengan Al-Aswad Al-Amsyi orang yang mengaku menjadi Nabi berkata Syarah bil Al-Khaulani ketika Al-Aswad bin qais bin dil himar Al-Amsyi di Yaman muncul dipanggilah Abu Muslim maka Al-Amsyi berkata “apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? ”berkata Abu muslim “Iya”kembali Al-Amsyi bertanya“apakah engkau bahwa aku adalah Rasulullah? ”berkata Abu muslim “aku tidak mendengar”Maka di nyalakanlah api yang besar kemudian di lemparkan Abu Muslim kedalam api tersebut, tetapi beliau tidak termudharati, maka penduduk kerajaan Al-Aswad Al-Amsyi berkata kepadanya apabila engkau biarkan Abu Muslim berada di negerimu maka dia akan merusak urusanmu, usirlah dia maka Abu Muslim pun datang ke kota Madinah dan saat itu Rasulullah ﷺ sudah wafat dan digantikan Abu Bakar, kemudian Abu Muslim menambatkan untanya dipintu masjid Nabawi kemudian shalat menuju salah satu tiang diantara tiang-tiang MasjidMaka Umar bin khaththab melihatnya dan mendatanginya dan berkata “dari mana asal mu”Abu Muslim mengatakan : ” dari Yaman ”Berkata Umar “apa yang dilakukan musuh-musuh Allah terhadap saudara kita yang dibakar dan tidak mempan”Abu Muslim berkata: “itu adalah Abdullah Ibn tsaub”Berkata Umar: “aku meminta dengan Nama Allah apakah dia adalah dirimu? ”berkata Abu muslim: “Iya”Berkata syarah bil maka Umar antara kedua mata Abu Muslim kemudian membawanya dan mendudukannya antara Abu Bakar dan UmarBerkata Umar Ibn Khaththab ”segala puji bagi Allah yang belum mematikanku dari dunia sehingga memperlihatkan kepada diriku diantara umat Muhammad orang yang dibakar seperti dibakarnya Nabi Ibrahim kekasih Allah”Lihatlah bagaimana ucapan Abu Muslim ketika ditanya oleh Umar Ibn khaththab beliau berusaha untuk menutupi identitas beliau dan mengatakan “itu adalah Abdullah bin tsaub” seakan-akan orang tersebut bukan dirinya.⑤ Al-Karamah digunakan untuk sesuatu kebaikan atau perkara yang diperbolehkan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah digunakan untuk perkara yang diharamkan seperti menyakiti orang lain atau menyombongkan diri dan lain-lain

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

HALAQAH 72 | AL-NĀR (NERAKA) DAN ADZABNYA (BAG. 2)

HALAQAH 72 | AL-NĀR (NERAKA) DAN ADZABNYA (BAG. 2)(Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir)1. Neraka Dimulai & AbadiDinyalakan pada hari kiamat.Tidak akan pernah padam; apinya akan terus ditambah kekuatannya oleh Allah (QS At-Takwir: 12, QS Al-Isrā': 97).2. Karakteristik NerakaNeraka bisa melihat, mendengar, dan berbicara.Di hari kiamat, akan keluar potongan berbentuk leher yang memiliki mata, telinga, dan lisan.Mengemban tugas khusus untuk mengadzab 3 golongan: orang sombong/keras kepala menentang kebenaran, orang yang syirik (berdoa kepada selain Allah), dan orang yang menggambar makhluk bernyawa (HR Tirmidzi).3. Pintu-Pintu NerakaMemiliki 7 pintu yang akan dimasuki sesuai porsi amalan masing-masing (QS Al-Hijr: 44).Pintu dibuka langsung tanpa syafaat saat penghuninya tiba di depan neraka (QS Az-Zumar: 71).Seluruh pintu ditutup rapat selama bulan Ramadhan (HR Bukhari & Muslim).Setelah orang kafir masuk, pintu akan ditutup rapat secara permanen (QS Al-Balad: 20).4. Tingkatan AdzabMemiliki tingkatan berdasarkan kedahsyatan siksanya.Tingkat paling bawah diisi oleh orang-orang munafik (QS An-Nisā': 145).Adzab paling ringan: memakai dua sandal dari api yang membuat otaknya mendidih layaknya periuk (HR Bukhari & Muslim).5. Bahan Bakar & Suasana SiksaanBahan bakarnya adalah manusia (orang kafir), batu, serta apa saja yang disembah selain Allah secara ridha (QS Al-Baqarah: 24, QS Al-Anbiyā': 98).Sangat panas (api dunia hanya $1/70$ bagian dari api neraka).Tidak ada kesejukan sama sekali; angin yang bertiup sangat panas (samum), airnya mendidih (hamim), dan naungannya berupa asap hitam yang pekat (yahmum) (QS Al-Waqi'ah: 41-44).6. Penduduk/Penghuni NerakaOrang-orang kafir: kaum musyrik, Ahlul Kitab (Yahudi & Nasrani), dan orang munafik (QS Al-Bayyinah: 6, QS An-Nisā': 140).Tokoh-tokoh spesifik yang disebutkan: Fir'aun, Istri Nabi Nuh, Istri Nabi Luth, serta Abu Lahab beserta istrinya.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →