🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 76

Senin, 24 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 76Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keenam, Hadits Shahih Riwayat Jarir Bin Abdillah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​وَعَنْ جَرِيرٍ: أَنَّ رَجُلًا تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ…"Dari Jarir bahwasanya seorang laki-laki bersedekah dengan sebuah sedekah, kemudian manusia mengikutinya..."Asbabul Wurud (Sebab Keluarnya Hadits) dalam Shahih Muslim​Kedatangan Arab Badui: Beberapa orang Arab Badui (Al-A'rab) mendatangi Rasulullah ﷺ memakai pakaian dari bulu domba (shuf), yang menunjukkan kondisi fakir miskin dan sangat membutuhkan bantuan (hajah).​Anjuran Rasulullah ﷺ: Rasulullah ﷺ mendorong (hatth) para sahabat untuk bersedekah menolong mereka.​Sikap Sahabat: Para sahabat sempat lambat (abtha'u) merespon karena ajakan masih bersifat anjuran, sehingga raut rasa memprihatinkan/tidak senang terlihat di wajah Rasulullah ﷺ.​Pelopor Kebaikan: Laki-laki dari kalangan Anshar datang membawa sekeranjang anggur/perak (shurrah min wariq) sampai ia merasa keberatan membawanya.​Inspirasi Kebaikan: Langkah sahabat Anshar tersebut menggerakkan hati para sahabat lainnya untuk ikut berbondong-bondong menyerahkan sedekah.​Kebahagiaan Rasulullah ﷺ: Wajah Rasulullah ﷺ menjadi gembira (surur) karena para sahabat mendapat pahala dan kaum fakir miskin terbantu mendapatkan makanan serta pakaian yang layak.Dalil Utama & Sabda Rasulullah ﷺ«فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ»"Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barang siapa yang menempuh/menghidupkan di dalam Islam jalan yang baik, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikit pun.'"Penjelasan Makna Hadits & Kandungannya​Makna Man Sanna fi Islām Sunnatan Hasanah: Mengamalkan dan menghidupkan kembali amalan yang sudah disyariatkan (masru') dalam agama Islam di tengah masyarakat yang sedang tidak/belum menjalankannya, bukan membuat-buat syariat baru.​Syarat Utama: Amalan tersebut wajib didasari rasa ikhlas.​Ketentuan Pahala Pelopor:​Mendapatkan pahala atas amalan pribadinya.​Mendapatkan pahala tambahan dari orang-orang yang mengikuti jejaknya.​Keadilan Pahala: Pahala orang yang mengikuti tidak dikurangi sedikitpun; Allah melipatgandakan pahala dan memberikan bagian dobel tersebut kepada si pelopor pertama.​Keutamaan Menjadi Qudwah: Menunjukkan tingginya derajat orang yang menjadi teladan dalam kebaikan, karena semangatnya dapat menjadi jalan hidayah bagi orang lain.​Makna "Sunnah Hasanah" dalam hadits ini adalah keberanian dan semangat untuk mengamalkan serta menghidupkan kembali syariat Islam yang sah (masru'—seperti sedekah) ketika orang lain sedang lalai atau ragu. Barang siapa yang menjadi pelopor (qudwah) dalam kebaikan dengan niat ikhlas, ia akan memperoleh pahala berlipat ganda dari orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 26 : Tiupan Sangkakala Pertama

HALAQAH 26-TIUPAN SANGKAKALA PERTAMA Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan akan ditiupnya Sangkakala.Rasulullah ﷺ pernah ditanya apa itu sangkakala, maka beliau mengatakan, Tanduk yang ditiup (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmizi dan Nasai).Beberapa ayat menyebutkan bahwa sangkakala akan ditiup sebanyak 2 kali. Diantaranya adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَىوَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri, menunggu” (Az Zumar : 68)Tiupan sangkakala pertama, dengannya meninggal semua yang ada di langit dan di bumi, kecuali yang Allah kehendaki. Tiupan ini terjadi di hari jum’at sebagaimana dalam Shahih Muslim.Dan setiap hari jum’at, hewan-hewan, mereka senantiasa memasang telinga antara waktu subuh sampai terbit matahari, karena takut bila ditiup sangkakala pada hari tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai).Bila terdengar maka semua akan mencondongkan lehernya dan mengangkatnya. Dan yang pertama kali mendengar adalah seorang laki-laki yang sedang memperbaiki penampungan air untuk minum ontanya maka diapun mati dan matilah semua manusia (HR. Muslim).Waktu tersebut sangat singkat sehingga seseorang tidak akan sempat berwasiat dan tidak ada waktu kembali ke keluarganya. Mereka meninggal di tempatnya masing-masing. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَىمَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةً۬ وَٲحِدَةً۬ تَأۡخُذُهُمۡ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ (٤٩) فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةً۬ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ (٥٠“Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat satu wasiat pun dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya.” (Yasiin: 49-50)Di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa ada sebagian yang sudah mengangkat makanan ke mulutnya namun tidak sempat memakannya karena sudah ditiup sangkakala. Meninggallah seluruh manusia dan kerajaan hari itu adalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semata. Ketahuilah bahwa malaikat yang akan meniup sangkakala, sekarang telah menuruh sangkakala di mulutnya, mengerutkan dahi, memasang telinganya menunggu sewaktu-waktu diperintah oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى (Hadits Shahih Riwayat Tirmizi).Rasulullah ﷺ ketika mengabarkan para sahabat dengan kabar ini, beliau menyuruh para sahabat mengatakan:حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَاCukuplah Allah bagi kita, dan Dialah sebaik-baik wakil, hanya kepada Allah kita bertawakal (HR.Ahmad).

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Qadha dan Qadhar halaqah 1

Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Pengertian Al Qadha dan Al Qadar”.Al Qadha dan Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri.Al QadhaSecara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan, menyempurnakan, dan mewajibkan.Allah berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…[QS Al-Isra’ 23] “Dan Rabb-mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepada-Nya.”Dan Allah berfirman,وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ…[QS Ghafir 20] “Dan Allah memutuskan dengan benar.”Dan Allah berfirman,فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ…[QS Al-Baqarah 200] “Maka apabila kalian menyelesaikan manasik haji kalian hendaklah kalian mengingat Allah, seperti kalian mengingat bapak-bapak kalian atau lebih banyak.”Adapun secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allah putuskan pada makhluk-Nya baik berupa pengadaan, peniadaan, atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allah sebelumnya.Al QadarSecara bahasa adalah menentukan.Adapun secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau azali sudah Allah tentukan akan terjadi.Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak azali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allah setelah itu, berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melazimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain.Apa yang Allah tentukan akan Dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allah maka itulah yang dia tentukan sebelumnya.Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya mencakup makna kata yang lain.Al Qadha adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya. Demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 76

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 76 | Amalan Seseorang Dinilai di AkhirnyaHalaqah 76 | Amalan Seseorang Dinilai di AkhirnyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-76 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan. Kalau misalnya selama di dunia dia dalam keadaan kufur, terakhir hidupnya dia masuk dalam agama Islam, maka al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya, dia akan masuk ke dalam surga karena dia meninggal di atas Islam meskipun sebagian besar hidupnya adalah di atas kekufuran tapi kalau akhirnya diakhiri dengan keislaman maka dia masuk ke dalam Surga.Sebaliknya, kalau seseorang sebagian besar hidupnya hidup di dalam Islam kemudian terakhirnya dia meninggalkan Islam dan meninggal di atas kekufuran maka dia masuk ke dalam Neraka.Ini menunjukkan bahwasanya diantara jenis manusia ada diantara mereka yang dari awal sampai akhir Istiqomah, dari semenjak dia lahir, lahir di tengah-tengah orang Islam dan orangtuanya juga di atas sunnah, dia kenal sunnah semenjak kecil, menjadi seorang penuntut ilmu, akhirnya menjadi seorang mungkin ulama dan sampai dia meninggal dunia di atas Islam.Ada diantara mereka dari sejak awal kehidupannya itu di atas kekufuran artinya tinggal di tengah-tengah orang yang kafir dan tumbuh sebagai anak yang diajari tentang kekufuran, sehingga dia dewasa dalam keadaan dia kufur sampai dia tua dan sampai dia meninggal dunia dalam keadaan dia kufur.Dan ada di antara manusia yang berbeda keadaannya di awal dengan di akhir, ada yang di awalnya Islam akhirnya kufur, ada yang di awalnya dia kufur di akhirnya dia Islam. Kalau yang pertama tadi kalau dia meninggal di atas Islam maka akan masuk ke dalam surga, kalau seseorang meninggal di atas kekufuran maka akan masuk ke dalam neraka, bagaimana dengan orang yang berpindah tadi dari Islam ke kufur atau dari kufur ke Islam mana yang dipakai? al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya.Dalam sebuah hadits, dari ʿAbdullāh bin Masʿūd raḍiyallāhu ʿanhu, Rasūlullāh ﷺ bersabda:إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan dikumpulkan penciptaannya oleh Allāh ﷻ di dalam perut ibunya, 40 hari pertama itu sebagai Nutfah, 40 hari yang kedua sebagai ‘alaqah, kemudian 40 hari yang ketiga sebagai Mudhghah, genap 120 hari Allāh ﷻ akan mengirimkan malaikat kemudian dia meniupkan nyawa (ruh) sehingga hiduplah segumpal daging tersebut yang sudah sempurna anggota badannya.Kemudian diperintahkan malaikat tadi untuk menulis rezkinya, ajalnya, amalannya, apakah dia adalah termasuk orang yang bahagia atau orang yang celaka. Kemudian Beliau ﷺ menyebutkan, dan sungguh salah seorang di antara kalian mengamalkan amalan penduduk surga, sebagai seorang muslim yang taat, kemudian tidak ada jarak di antara dia dengan surga kecuali satu dzira’ saja, satu jengkal saja, menunjukkan bahwasanya dia mengamalkan amal sholeh, seorang muslim mengamalkan amal sholeh sampai jarak antara dia dengan surga adalah jarak yang dekat, akan tetapi sudah didahului dengan takdir Allāh ﷻ, takdir Allāh ﷻ disebutkan bahwasanya orang ini akan masuk ke dalam nerakaفَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِakhirnya karena memang sudah ditakdirkan sebelumnya pasti akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang akhirnya menjadi sebab dia masuk kedalam Neraka, sehingga akhirnya yang awalnya dia kelihatannya mengamalkan amalan penduduk Surga, akhirnya dengan satu sebab dia melenceng dan menyimpang kemudian melakukan amalan penduduk nerakaفَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَاsehingga akhirnya dia pun masuk ke dalam neraka, karenaكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ pasti akan terjadi, orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang memang dia ditakdirkan untuknya.Buatkan gambarnya yang bagus, warna pastel ungu, mudah dibaca, tidak perlu ada gambar orang, ada gambar bunga lecil dan bintal kecil, pelangi kecil, tanaman kecil..buat semenarik mungkin yaa..biar orang lain senang bacanya

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 1: Pengertian Al Qadha & Al Qadar

Silsilah Ilmiyyah 9:Beriman Kepada Takdir AllahHalaqah 1:Pengertian Al Qadha & Al QadarUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAl Qadha & Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri.■ Al QadhaSecara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan, menyempurnakan, dan mewajibkan.Allah berfirman:وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ..."Dan Rabb-mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepada-Nya.” (QS. Al-Isra:)Dan Allah berfirman:وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ…“Dan Allah memutuskan dengan benar.” (QS.Ghafir: 20)Dan Allah berfirman:فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ…“Maka apabila kalian menyelesaikan manasik haji kalian hendaklah kalian mengingat Allah, seperti kalian mengingat bapak-bapak kalian atau lebih banyak.” (QS.Al-Baqarah: 200)Adapun secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allah putuskan pada makhluk-Nya baik berupa pengadaan, peniadaan, atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allah sebelumnya.■ Al-Qadar• Secara bahasa adalah Menentukan.• Adapun secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau azali sudah Allah tentukan akan terjadi.Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak azali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allah setelah itu, berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melazimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain.Apa yang Allah tentukan akan Dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allah maka itulah yang dia tentukan sebelumnya.Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya mencakup makna kata yang lain.Al Qadha adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya. Demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 76 ~ Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bag 01

Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah Penulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan. Kalau misalnya selama di dunia dia dalam keadaan kufur, terakhir hidupnya dia masuk dalam agama Islam, maka al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya, dia akan masuk ke dalam surga karena dia meninggal di atas Islam meskipun sebagian besar hidupnya adalah di atas kekufuran tapi kalau akhirnya diakhiri dengan keislaman maka dia masuk ke dalam Surga.Sebaliknya, kalau seseorang sebagian besar hidupnya hidup di dalam Islam kemudian terakhirnya dia meninggalkan Islam dan meninggal di atas kekufuran maka dia masuk ke dalam Neraka.Ini menunjukkan bahwasanya diantara jenis manusia ada diantara mereka yang dari awal sampai akhir Istiqomah, dari semenjak dia lahir, lahir di tengah-tengah orang Islam dan orangtuanya juga di atas sunnah, dia kenal sunnah semenjak kecil, menjadi seorang penuntut ilmu, akhirnya menjadi seorang mungkin ulama dan sampai dia meninggal dunia di atas Islam.Ada diantara mereka dari sejak awal kehidupannya itu di atas kekufuran artinya tinggal di tengah-tengah orang yang kafir dan tumbuh sebagai anak yang diajari tentang kekufuran, sehingga dia dewasa dalam keadaan dia kufur sampai dia tua dan sampai dia meninggal dunia dalam keadaan dia kufur.Dan ada di antara manusia yang berbeda keadaannya di awal dengan di akhir, ada yang di awalnya Islam akhirnya kufur, ada yang di awalnya dia kufur di akhirnya dia Islam. Kalau yang pertama tadi kalau dia meninggal di atas Islam maka akan masuk ke dalam surga, kalau seseorang meninggal di atas kekufuran maka akan masuk ke dalam neraka, bagaimana dengan orang yang berpindah tadi dari Islam ke kufur atau dari kufur ke Islam mana yang dipakai? al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya.Dalam sebuah hadits, dari ʿAbdullāh bin Masʿūd raḍiyallāhu ʿanhu, Rasūlullāh ﷺ bersabda:إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan dikumpulkan penciptaannya oleh Allāh ﷻ di dalam perut ibunya, 40 hari pertama itu sebagai Nutfah, 40 hari yang kedua sebagai ‘alaqah, kemudian 40 hari yang ketiga sebagai Mudhghah, genap 120 hari Allāh ﷻ akan mengirimkan malaikat kemudian dia meniupkan nyawa (ruh) sehingga hiduplah segumpal daging tersebut yang sudah sempurna anggota badannya.Kemudian diperintahkan malaikat tadi untuk menulis rezkinya, ajalnya, amalannya, apakah dia adalah termasuk orang yang bahagia atau orang yang celaka. Kemudian Beliau ﷺ menyebutkan, dan sungguh salah seorang di antara kalian mengamalkan amalan penduduk surga, sebagai seorang muslim yang taat, kemudian tidak ada jarak di antara dia dengan surga kecuali satu dzira’ saja, satu jengkal saja, menunjukkan bahwasanya dia mengamalkan amal sholeh, seorang muslim mengamalkan amal sholeh sampai jarak antara dia dengan surga adalah jarak yang dekat, akan tetapi sudah didahului dengan takdir Allāh ﷻ, takdir Allāh ﷻ disebutkan bahwasanya orang ini akan masuk ke dalam nerakaفَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِakhirnya karena memang sudah ditakdirkan sebelumnya pasti akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang akhirnya menjadi sebab dia masuk kedalam Neraka, sehingga akhirnya yang awalnya dia kelihatannya mengamalkan amalan penduduk Surga, akhirnya dengan satu sebab dia melenceng dan menyimpang kemudian melakukan amalan penduduk nerakaفَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَاsehingga akhirnya dia pun masuk ke dalam neraka, karenaكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ pasti akan terjadi, orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang memang dia ditakdirkan untuknya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah pembahasan kitan al-ushulu ats-tsalatsah bagian 3

Halaqah 51 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Muqoddimah Kadar Minimal Mengenal Rasulullah ﷺSeluruh maklumat yang ada didalam agama islam maka kalau kita cermati dia akan kembali asalnya kepada ma’rifatullāh, ma’rifatul diinil Islam dan juga ma’rifatu an-nabi ﷺ.معرقه نبیكم محمد ﷺMengenal nabi kalian yaitu Muhammad ﷺ. Ini adalah bab mengenal orang yang telah diutus oleh Allah kepada kita untuk mengajarkan kepada kita ibadah, karena ketika beliau berbicara tentang ibadah sebelum menyebutkan ma’rifatullāh, ma’rifatul diinil Islam, ma’rifatunnabi ﷺ, beliau menyebutkan tentang ibadah dan keutamaan ibadah.Dan sudah kita sebutkan bahwasanya tiga perkara ini Al Ushūlu AtsTsalātsah ini langsung berkaitan dengan ibadah. Mengenal Allah adalah mengenal ma’bud mengenal siapa yang diibadahi, mengenal agama islam adalah mengenal bagaimana cara beribadahnya. Ibadah kepada Allah yaitu ada yang amalan dzohir dan ada amalan batin dan seterusnya, harus ada muroqobah, harus ada musyahadah. Itu kita kenal bagaimana cara beribadah kepada Allah macam macamnya dari ma’rifatul diinil Islam.Kemudian yang ketiga kita mengenal orang yang telah diutus oleh Allah untuk mengajar kita tata cara beribadah. Harus kita kenal, kalau kita tidak mengenal siapa yang menyampaikan tata cara beribadah tadi dikhawatirkan kita menganggap orang yang bukan utusan sebagai utusan. Menganggap itu adalah dari Allah padahal bukan dari Allah, karena dia bukan utusan Allah mengaku sebagai seorang utusan Allah. Makanya kita harus kenal siapa yang sudah Allah tunjuk diantara manusia ini untuk mengajarkan kita tata cara ibadah. Kita harus mengenalnya dan hukumnya wajib mengenal siapa orang yang telah diutus oleh Allah kepada kita.Mengenal Nabi Muhammad ﷺ inilah yang akan disampaikan oleh beliau disini, yang perlu kita pahami sebelum memasuki apa yang akan disampaikan oleh beliau, bahwasanya disana ada kadar yang wajib didalam mengenal Nabi Muhammad ﷺYang pertama adalah mengenal nama beliau mengetahui nama beliau, ini kadar minimal. Mengenal nama beliau yaitu nama beliau adalah Muhammad. Atau seandainya dia mengenal namanya Ahmad boleh, karena baik Muhammad maupun Ahmad ini adalah nama beliau. Muhammad artinya adalah orang yang sering dipuji, Ahmad ini adalah isim tafdhil yang artinya adalah orang yang paling terpuji. Kemudian yang kedua, mengenal bahwasanya beliau adalah hamba Allah dan juga Rosul-Nya. Beliau adalah seorang hamba artinya bukan Tuhan yang disembah tapi beliau adalah hambanya Allah. Hamba berarti dia yang menyembah, dan dia adalah seorang Rosul mengenal bahwasanya beliau adalah seorang Rosul yaitu seorang utusan Allah.Yang ketiga, mengenal bahwa apa yang beliau bawah adalah benar.Kemudian yang keempat, mengenal bahwa kebenaran beliau ditunjukkan oleh Al-Quran sebagaimana telah berlaluلَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡهُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗاKalau antum ingin mengenalkan orang apalagi dia adalah orang awam maka inilah minimal yang antum sampaikan pada beliau. Apakah ada keharusan dia mengenal atau menghapal nasab Nabi Muhammad ﷺ, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah sampai kepada Iismail bin Ibrahim nasabnya maka ini bukan termasuk kewajiban.Dan apa yang beliau sebutkan disini umur, beliau dari orang arab keturunannya Ismail, ini bukan termasuk yang kadar wajib. Kadar yang wajib yang sudah kita sampaikan tadi dan ini adalah kadar yang merupakan tambahan.Orang yang cinta dengan sesuatu dan kecintaan dia adalah kecintaan yang benar maka dia akan rindu dan ingin banyak tahu tentang sesuatu yang dia cintai tersebut. Semakin orang senang cinta terhadap sesuatu maka dia akan semakin ingin mengetahui tentang sesuatu tersebut, ini kalau mahabbah nya adalah mahabbah yang shadiqa. Antum cinta dengan seseorang ingin mengenal dia lebih banyak. Semakin antum mencintai maka antum berusaha untuk mengenalnya. Maka tentunya cinta kita kepada Rosulullah ﷺ kalau itu adalah kecintaan yang shadiqa akan membawa kita untuk berusaha mengenal Beliau ﷺ. Semakin dia mengetahui tentang maklumat dan info orang yang sangat dia cintai tadi maka akan semakin bertambah keimanannya didalam hatinya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

RANGKUMAN – MUQADDIMAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT

RANGKUMAN – MUQADDIMAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT📌 1. Pokok-Pokok Keimanan • Beriman kepada malaikat adalah salah satu pokok/rukun iman yang wajib diyakini. • Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak kaum muslimin menunjukkan wajibnya beriman kepada malaikat. • Kufur kepada malaikat berarti kufur kepada Allah. • Semakin seseorang mengetahui tentang malaikat secara terperinci, semakin bertambah keimanannya dan semakin banyak manfaat yang diperoleh.📌 2. Pengertian Malaikat • Al-malāikah adalah bentuk jamak dari malak yang berarti utusan. • Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia dan dimuliakan. • Allah memilih mereka sebagai utusan-Nya kepada makhluk. • Malaikat diciptakan dari cahaya. • Jumlah malaikat tidak diketahui kecuali oleh Allah. • Mereka diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menaati perintah-Nya.📖 3. Dalil tentang Iman kepada Malaikat Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 285 bahwa Rasul dan orang-orang beriman beriman kepada: • Allah • Malaikat-malaikat-Nya • Kitab-kitab-Nya • Rasul-rasul-NyaAllah juga berfirman dalam QS. An-Nisa: 136 bahwa orang yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.📌 4. Hadits Jibril Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa iman adalah beriman kepada: • Allah • Malaikat-malaikat-Nya • Kitab-kitab-Nya • Rasul-rasul-Nya • Hari akhir • Takdir yang baik maupun yang buruk.(HR. Muslim)⭐ 5. Cara Beriman kepada Malaikat Ada 4 hal yang perlu diyakini: 1️⃣ Beriman dengan keberadaan malaikat. 2️⃣ Beriman dengan nama-nama malaikat. 3️⃣ Beriman dengan sifat-sifat malaikat. 4️⃣ Beriman dengan amalan-amalan mereka.💡 Inti pelajaran: Beriman kepada malaikat adalah bagian dari rukun iman dan tidak sah iman seseorang tanpa beriman kepada malaikat Allah.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi Rahimahullah.Kita akan bersama-sama mempelajari tentang sebuah kitab yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi Rahimahullah yaitu kitab yang berjudul Al-Ushulu As-Sittah yang artinya enam kaidah.Dan ini adalah termasuk karangan beliau yang sangat bermanfaat. Dan dia meskipun ringkas akan tetapi mengandung banyak faedah. Yang hendaknya seorang muslim mengetahui faedah-faedah ini.Beliau menyebutkan di dalam kitab ini, enam perkara yang sangat penting.Beliau adalah seorang ulama yang bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi. Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah dan menimba ilmu agama ini semenjak kecil. Dan diantara gurunya adalah bapak beliau sendiri, demikian pula ulama-ulama besar yang lain di zaman beliau, seperti Asy Syaikh Muhammad Al Hayah As Sindi, dan juga yang lain.Dan di dalam mencari ilmu, beliau telah pergi ke beberapa daerah, diantaranya adalah ke Basrah, demikian pula ke daerah-daerah di Hijaz seperti Mekkah dan juga Madinah dan menimba ilmu dari para ulama yang tinggal di sana.Dan hampir-hampir beliau menuju ke kota Syam (daerah Syam) untuk menimba ilmu di sana, hanya karena ada rintangan dan halangan tertentu akhirnya beliau mengurungkan niatnya.Dan beliau termasuk ulama yang gigih di dalam menghidupkan Al Qur’an, menghidupkan As Sunnah, mengajak manusia kembali kepada Allah, bertauhid kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Dan beliau meninggal pada tahun 1206 Hijriyyah. Dan telah meninggalkan karangan yang sangat banyak, yang sangat bermanfaat.Diantaranya adalah:– Al Ushul Ats-Tsalatsah– Al Qawa’idul Arba’– Ushulul Iman– Kasyfusy Syubuhat– Kitabut TauhidDan diantaranya adalah kitab yang Insya Allah akan kita pelajari yaitu Al-Ushulu As-Sittah.Beliau berkata,بسم الله الرحمن الرحيمMemulai kitabnya dengan basmalah.Meniru dan mengikuti apa yang Allah lakukan di dalam Al Qur’anul Karim, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memulai kitabnya dengan basmalah.Demikian pula mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ketika Beliau menulis surat yang isinya adalah dakwah kepada raja-raja yang ada di zaman Beliau ﷺ. Beliau memulai kitabnya dengan basmalah.Oleh karena itu di sini pengarang memulai kitabnya dengan basmalah.بسم الله الرحمن الرحيمDan ب di sini adalah ب al-isti’anah yaitu ب yang fungsinya untuk memohon pertolongan.Orang yang mengatakan بسم الله pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Ismillah dengan nama Allah.Kalimat yang mufrad, yang tunggal, yaitu ism dan dia disandarkan kepada kalimat lafdzul jalalah dan ini maknanya adalah mencakup seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.Orang yang mengatakan بسم الله berarti dia telah beristi’anah (memohon) pertolongan dengan seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.Allah (lafdzul jalalah) adalah nama Allah yang paling a’dham (paling besar) yang disandarkan kepadanya nama-nama Allah yang lain.Oleh karena itu setelahnya disebutkan Ar-Rahman Ar-Rahim. Dan Ar-Rahman Ar-Rahim adalah nama diantara nama-nama Allah.Diambil dari Ar-Rahmah yang artinya kasih sayang.Dan perbedaan antara Ar-Rahman dengan Ar-Rahim disebutkan oleh para ulama diantaranya adalah:Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang lebih umum mencakup orang yang beriman dan mencakup orang yang kafir kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Orang kafir juga mendapatkan bagian dari kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.Allah memberikan rezeki kepada mereka, memberikan makan kepada mereka, memberikan minum kepada mereka, memberikan kesehatan kepada mereka, memberikan anak, memberikan istri, memberikan harta, dan ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.Adapun Ar-Rahim, maka mengandung rahmat, mengandung kasih sayang yang lebih khusus yaitu kasih sayang yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman.Berupa hidayah kepada jalan yang lurus, berupa keimanan, berupa rasa tenang ketika dzikrullah.Ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi dikhususkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang yang beriman dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 24: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)

Halaqah 24:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka.Mereka adalah manusia, maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا"Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)Dan Allah mengatakan:وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ"Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27).Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikat.Dan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ"Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… " (Yusuf : 109)Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau.Adapun sabda Rasulullah ﷺمَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing" (HR Al-Bukhari)"Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah" (HR Al-Bukhari)Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan, sebagaimana di dalam Al Qashas : 27.

💬 0 komentar📅 26 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 75

Jum'at, 10 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 75Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kelima, Hadist Shahih Riwayat Ummu Salamah (Bagian 3)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Ketentuan Hukum Terhadap Pelaku Bid'ah secara Umum​Jangan kita kiaskan kemudian setiap orang yang melakukan kebid’ahan—karena bid'ah ini lebih dahsyat daripada kemaksiatan—kemudian dihalalkan darah orang yang melakukan kebidahan tersebut (Tidak). ​Di sini beliau ﷺ sedang berbicara secara khusus tentang aliran tertentu, yaitu al-Khawarij. Sabda beliau:​أينما لقيتموهم فاقتلوهم​Maksudnya adalah khusus untuk orang-orang Khawarij. Begitu pula sabda beliau:​لئن لقيتموهم لأقتلنهم قتل عاد​Ini juga khusus tentang orang-orang Khawarij.Kedahsyatan Ancaman Terhadap Kaum Khawarij​Para ulama menjelaskan bahwasanya Nabi ﷺ tidak menyebutkan ancaman-ancaman yang lebih dahsyat daripada ancaman-ancaman terhadap orang-orang Khawarij. Di antara ancaman dan sifat buruk mereka adalah:​Pemusnahan Total: Nabi ﷺ sampai meniatkan seandainya bertemu dengan mereka, beliau akan membunuh mereka secara keseluruhan (bukan hanya sekedar dibunuh sebagian), tetapi seperti terbunuhnya orang-orang ‘Ad (kaumnya Nabi Hud) yang dibinasakan oleh Allāh secara keseluruhan tanpa ada di antara mereka yang tersisa.​Sifat شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ (Sejelek-jelek Orang yang Terbunuh):Nabi ﷺ bersabda bahwa mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah langit. Makna kalimat شرُّ قتلى di sini adalah min syarri qotla (di antara sejelek-jelek orang yang terbunuh).​Perbandingan Kata: Sama halnya dengan sabda Nabi ﷺ:​وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا​Makna syarral umur di sini maksudnya adalah min syarril umur (di antara sejelek-jelek perkara), karena sejelek-jelek perkara mutlak adalah syirik. Maka maksud kalimat tersebut adalah sebagian/di antara yang paling jelek adalah bid'ah. Demikian pula makna hadits tentang Khawarij, diucapkan oleh Nabi bahwa orang yang terbunuh yang paling syar (di antara yang paling jelek) adalah terbunuhnya orang-orang Khawarij.​Sifat خيرُ قتلى مَن قتَلوه (Sebaik-baik Orang yang Terbunuh):Nabi ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (orang-orang Khawarij). Lengkapnya beliau bersabda:​شرُّ قtly تَحْتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه​Sifat كِلَابُ النَّارِ (Anjing-Anjing Neraka):Sebelumnya Nabi ﷺ juga mensifati orang-orang Khawarij bahwasanya mereka adalah Kilabunnar (Anjing-anjing Neraka). Wallāhualam, maksudnya mereka diancam dengan Neraka kelak, yang mana azab mereka sangat pedih sehingga mereka berteriak seperti teriakan anjing-anjing. Yang jelas ini adalah sifat yang jelek bagi orang-orang Khawarij.Atsar Abu Umamah radhiyallahu anhu di Damaskus​Disebutkan sebuah kisah mengenai sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu. Saat itu beliau melihat kepala-kepala yang dipajang di tangga masjid Damaskus (dan ini adalah kepala-kepala orang-orang Khawarij). Beliau kemudian mengatakan:​كِلَابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه​Kemudian beliau membaca firman Allāh ﷻ:​۞ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ​Artinya: “Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang memutih, dan ada pula wajah yang hitam gelap.” (QS. Ali 'Imran: 106)​Penjelasan Ayat: Sudah kita sampaikan sebelumnya, yang dimaksud dengan wajah-wajah yang memutih adalah Ahlussunnah, sedangkan wajah yang hitam adalah Ahli Bid'ah. Abu Umamah (seorang sahabat Nabi ﷺ) membaca ayat ini ketika melihat mayat-mayat orang-orang Khawarij. Hal ini menguatkan apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas bahwasanya wajah-wajah yang menghitam tadi adalah Ahlu Bid'ah.Otentisitas Riwayat dari Abu Umamah​Kisah di atas berlanjut hingga akhir ayat (إلى akhirِ الآيةِ). Aku (yaitu Abu Ghalib) berkata kepada Abu Umamah:​أَنتَ سمعتَهُ من رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّلهُ علَيهِ وسلَّمَ ؟​Artinya: “Apakah engkau mendengar ini langsung dari Rasulullah ﷺ?”​Abu Umamah menjawab untuk menguatkan:​لَو لَم أسمَعهُ إلَّا مرَّةً أو مرَّتينِ أو ثلاثًا أو أربعًا- حتَّى عدَّ سَبعًا- ما حدَّثتُكُموهُ​Artinya: “Seandainya aku tidak mendengarnya dari Nabi ﷺ kecuali satu, dua, tiga, atau empat kali—sampai beliau menghitungnya sebanyak tujuh kali—niscaya aku tidak akan menyampaikan ini kepada kalian.”​Maksud Jawaban Abu Umamah: Seandainya beliau tidak mendengarnya secara langsung dan berulang kali dari Nabi ﷺ, tentunya beliau tidak akan berani menyampaikan hal seperti ini. Sebab, perkara-perkara yang disebutkan tadi (كلابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ Сَّماءِ خيرُ قَتلى من قتلوهُ) merupakan bagian dari perkara gaib. Seandainya bukan karena mendengar dari Nabi ﷺ, niscaya beliau tidak akan menyampaikannya kepada manusia.Peringatan Terhadap Pemikiran Khawarij Masa Kini​Oleh karenanya, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada di sana ancaman-ancaman yang mengerikan yang melebihi ancaman yang datang untuk aliran Khawarij ini. Aliran Khawarij sudah ada sejak zaman dahulu, dan dari masa ke masa masih terus ada orang-orang yang membawa pemikiran Khawarij ini sampai di zaman kita sekarang ini. ​Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan pemikiran mereka. Di antara caranya adalah dengan membentengi diri kita menggunakan aqidah yang benar. ​Jangan sampai kita tertipu dengan rajinnya ibadah mereka (seperti rajinnya mereka membaca Al-Qur'an), atau karena mereka memakai pakaian seperti pakaian kita, atau secara lahiriah (dhahirnya) tampak seperti seorang Salafi, padahal ternyata pemikiran mereka adalah pemikiran Khawarij.​Kesimpulan​Ancaman yang sedemikian keras dari Nabi ﷺ—seperti perintah pemusnahan total laksana kaum 'Ad, julukan seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah langit (syarru qatla), serta sebutan anjing-anjing neraka (kilabun nar)—merupakan kekhususan yang ditujukan kepada sekte Khawarij saja, dan tidak boleh dikiaskan untuk menghalalkan darah seluruh pelaku bid'ah secara umum. Atsar dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu di Damaskus menegaskan otentisitas ancaman gaib ini (yang beliau dengar hingga tujuh kali dari Rasulullah ﷺ) sekaligus mengaitkan kaum Khawarij sebagai bagian dari ahli bid'ah yang berwajah hitam di hari kiamat berdasarkan QS. Ali 'Imran: 106. Karena pemikiran Khawarij ini terus lestari dari masa ke masa hingga zaman sekarang, umat Islam diperingatkan agar tidak tertipu oleh casing lahiriah mereka (seperti janggut/pakaian, klaim manhaj Salaf, maupun kencangnya ibadah dan bacaan Al-Qur'an), melainkan harus membentengi diri dengan pemahaman aqidah yang benar agar selamat dari syubhat pemikiran radikal tersebut.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 75

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta UntuknyaHalaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta UntuknyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Maka masing² dari kita akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia dicipta untuknya.Melakukan apa yang sudah ditakdirkan untuk orang yang sudah Allāh tulis di dalam Lauhul Mahfudz, dia akan masuk ke dalam Surga maka ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan dia di dunia Allāh akan memudahkan dia untuk melakukan amalan² yang memasukkan dia ke dalam Surga atau yang menjadi sebab dia masuk kedalam Surga, misalnya dijadikan dia lahir di tengah² orang Islam kemudian diajarkan oleh orang tuanya tentang Islam yang benar atas seandainya dia lahir di negeri kafir orang tuanya kafir tapi Allāh tulis dia termasuk penduduk Surga maka akan ada jalan dia masuk ke dalam agama Islam, mungkin akan ada di sana (dinegeri kafir) dakwah ada yayasan yang didirikan kemudian salah satu sebab akhirnya dia mungkin tidak sengaja masuk ke dalam Masjid dan mendengar orang mengajak kepada Islam dan seterusnya, akhirnya masuk Islam, orang yang sudah Allāh subhanahu wa taala putuskan dia termasuk penduduk Surga makaمُيَسَّرٌDia akan dimudahkan untuk melakukan apa yang memang dia ditakdirkan untuk makanya kita katakan kita khusnudzon kepada Allāh, lihat siapa kita lemahnya kita ada hinanya kita tapi Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan karunia dan juga anugerah dipilih kita di antara sekian banyak manusia untuk mengenal Allāh lebih dalam, kita belajar tentang Nama² Allāh kita belajar tentang sifat Allāh kita mengenal lebih dalam tentang agama Allāh khusnudzon kepada Allāh, Allāh ingin memasukkan kita ke dalam Surganya Allāh mudahkan kita untuk menuntut ilmu agama Allāh jaga kita dan jadikan kita Istiqomah sampai detik ini kita berharap sampai kita tentunya sampai meninggal dunia di tengah² gelombang fitnah yang semakin dahsyat, baik fitnah syahwat maupun syubhat, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala tidak menjaga niscaya kita sudah terseret dengan arus, tenggelam bersama orang² yang tenggelam, tenggelam di dalam kebodohan, tenggelam didalam syahwat, tenggelam di dalam subhat, dan sudah banyak korban, kalau bukan Allāh subhanahu wa ta’ala yang menjaga niscaya kita tidak akan terjadi, maka kita khusnudzon kepada Allāh dan Allāh mengatakan,أَنَا عِنْدَ حسن ظَنِّ عَبْدِي بِيAku ini sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu.Kalau kita berprasangka baik kepada Allāh maka itulah yang akan kita dapat, kita berprasangka baik kepada Allāh, Allah ingin memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.Maka hendaklah kita bersyukur kepada Allāh atas seluruh Taufik dan juga hidayah, diantara bentuk syukur kita kepada Allāh subhanahu wa taala adalah dengan menjaga kenikmatan ini menjaga ketaatan kita kepada Allāh menjaga Istiqomah kita di dalam menuntut ilmu agama.وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُSebaliknya orang yang sudah ditentukan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam Nerakanya Allāh baik selamanya maupun sementara maka akan dimudahkan juga kalau memang dia adalah orang yang akan masuk ke dalam Neraka selama-lamanya maka ada saja di sana jalan sehingga dia meninggal di atas kekufuran diatas kesyirikan, mungkin dia dahulunya adalah seorang muslim & Allāh subhanahu wa ta’ala lebih tahu siapa yang berhak untuk masuk ke dalam Surga-nya dan Allāh lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan azabNya, Allāh tidak akan menzalim apa yang Allāh lakukan pasti di sana ada hikmah, Allāh mudahkan yang ini dan Allāh mudahkan yang itu Allāh lakukan itu semuanya dengan hikmah tidak ada kezaliman di dalam.Ini yang harus terpatri didalam diri seorang muslim.إنّ الله لا يَظِلم مثقال ذرَّةAllāh tidak akan mendholimi meskipun hanya sebesar dzarrah.Sehingga Allāh mengatakan,..وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ۝[QS Fushilat 46]Dan Rabbmu tidak akan menzalimi hamba²Nya. Masing² akan dimudahkan oleh Allāh, termasuk di antaranya pelaku maksiat dari orang Islam maka itu pun akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan dan Allāh lebih tahu siapa di antara mereka yang berhak untuk mendapatkan hidayah yang ada juga Istiqomah dan siapa yang tidak berhak dan Allāh subhanahu wa ta’ala sekali lagi tidak menzalimi hambaNya.اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُDan ini menjadikan seseorang ketika melihat saudara yang masih belum mendapatkan hidayah mungkin dia masih terkumpul dalam kebidahan dia atau di dalam firkah dia mengingat hadits iniوَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Melihat dengan kacamata kasih sayang, sayang kepada mereka, kasian kepada mereka yang masih belum mendapatkan hidayah sehingga nanti didalam dirinya untuk mengajak / di dalam dirinya untuk mendakwahi dengan maksud merahmati/ menyayangi bukan maksud mendzalimi atau menghinakan, kemudian ketika dia melihat keadaan mereka dan dia melihat pada dirinya sendiri semakin dia bertambah bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang tidak menjadikan dirinya seperti mereka yang masih terkungkung di dalam subhat hak mereka diantara bentuk syukurnya adalah dengan berusaha mengajak orang yang sesuai dengan kemampuan, dia menjelaskan mengajak dan ini adalah bentuk syukur dia atas nikmat hidayah yang telah Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, sebagaimana dia senang dan gembira bahagia mendapat hidayah maka dia senang juga seandainya orang lain juga mendapatkan hidayah tersebut sebagaimana dulu orang yang mendakwahi kita bersabar dalam mengajak kita, kitapun bersabar ketika mendakwahi orang lain mereka bersabar sehingga kita pun mendapatkan hidayah dan paham bahkan kita pun juga demikian,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِTidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk orang lain sebagaimana atau apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.ثُمَّ قَرَأَkemudian beliau ﷺ membaca firman Allāh,فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ ۝وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ ۝وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ ۝[QS Al Lail 5-10]Maka beliau rahimahullāh di sini mendatangkan ucapan,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،maka ini adalah Taufik dari Allāh subhanahu wa ta’ala setelah telah menjelaskan bahwasanya semuanya itu dengan takdir Allāh masuknya seseorang ke dalam Surga dengan takdir Allāh masuknya seseorang kedalam Neraka dengan takdir Allah maka beliau menjelaskan masing² akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia ditakdirkan untuknya, ini adalah dorongan bagi kita untuk beramal ingin masuk ke dalam Surga semua kita ingin masuk ke dalam Surga maka beramal lah karena masuk ke dalam Surga itu ada sebab,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ingin selamat dari Nerakanya Allāh ya jangan kita melakukan perkara yang menjadi sebab maksudnya seseorang ke dalam Neraka Allāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ini isyarat dari beliau beriman dengan takdir dan beriman dengan syariat sebagaimana yang kita ulang².Bikin gambar yang lengkapnisinya tanpa ada gambar manusia

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah 75 – Manfaat Beriman kepada Hari Akhir

Ringkasan Halaqah 75Manfaat Beriman kepada Hari Akhir1. Mengingatkan bahwa dunia hanya sementaraDunia sangat singkat.Hari kiamat dan hisab sudah dekat.Dalil: QS. Al-Anbiyā': 12. Tidak tertipu oleh kenikmatan duniaKenikmatan dunia hanya sementara.Jangan iri dengan kesenangan orang kafir.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 196–1973. Kesuksesan sejati adalah di akhiratOrang yang dijauhkan dari neraka dan masuk surga adalah orang yang benar-benar beruntung.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 1854. Kerugian terbesar adalah masuk nerakaMasuk neraka merupakan kehinaan yang sebenarnya.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 1925. Menguatkan kesabaran saat mendapat musibahMeyakini bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.Membantu tetap sabar menghadapi ujian.6. Mendorong keikhlasan dalam beramalAmal yang ikhlas akan bermanfaat pada hari kiamat.7. Mendorong segera bertaubatDosa adalah penyebab bencana di akhirat.Perbanyak taubat dan istighfar.8. Mendorong istiqamah dalam ketaatanBersabar menjalankan perintah Allah.Bersabar meninggalkan maksiat.Semua itu lebih ringan daripada azab akhirat.9. Mengingat nikmat Islam dan imanIslam dan iman adalah nikmat terbesar yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.10. Mengingat bahaya kekafiran, kesyirikan, dan kemunafikanKetiganya menjadi sebab kekal di dalam neraka.11. Menumbuhkan semangat berdakwahMengajak kaum muslimin istiqamah.Mengajak orang kafir masuk Islam agar selamat dari azab.12. Memotivasi untuk memperbanyak doaBerdoa memohon:Kebaikan dunia.Kebaikan akhirat.Perlindungan dari neraka.Dalil: QS. Al-Baqarah: 201Doa Rasulullah ﷺ:"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan." (HR. Ibnu Majah)KesimpulanBeriman kepada hari akhir menjadikan seorang muslim:Lebih zuhud terhadap dunia.Semangat beramal saleh.Ikhlas dalam ibadah.Rajin bertaubat.Sabar menghadapi ujian.Istiqamah dalam ketaatan.Semangat berdakwah.Memperbanyak doa dan berharap surga serta dijauhkan dari neraka.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Kitab KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 25

Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد العشرونSimpul yang ke-20حفظ الوقت في العلمMenjaga waktu untuk ilmu.Yaitu kita berusaha menggunakan waktu kita ini untuk ilmu.Kalau kita memang menghormati ilmu dan itu adalah suatu yang besar di mata kita, suatu yang berharga dan bernilai di hati kita, maka kita berusaha setiap waktu yang kita gunakan ini ada hubungannya dengan ilmu.قال ابن الجوزيِّ في صيد خاطرهBerkata Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitab beliau Shaidul Khathir. (صيد الخاطر)ينبغي للإنسان أن يعرف شرف زمانه، وقدر وقته، فا يُضيِّع منه لحظةً في غير قُربةٍ، ويُقدِّم فيه الأفضل فالأفضل من القول والعملSepantasnya bagi seseorang untuk mengetahui tentang betapa berharganya usianya dan betapa bernilainya waktu yang Allah berikan kepadanya.Satu detik, satu menit, itu adalah sesuatu yang berharga. Mungkin seseorang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ kurang dari 1 menit tapi dia ucapkan itu di akhir hidupnya, selamat.مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَBarangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ maka dia masuk ke dalam surga. Padahal itu diucapkan kurang dari 1 menit.Maka janganlah dia menyia-nyiakan sekejap pun dari usianya tadi, dari umurnya tadi, di dalam selain qurbah (ketaatan) kepada Allāh ﷻ. Kalau bisa waktu semuanya ini detik-detik yang kita lalui ini semuanya adalah di dalam ketaatan kepada Allāh ﷻ. Jangan sampai ada sedikit pun yang selain qurbah.Dan dia mendahulukan mana yang lebih afdhal kemudian yang afdhal baik berupa ucapan maupun perbuatan. Kalau memang di sana ada ucapan semuanya baik, cari yang lebih baik dari ucapan-ucapan tadi. Ada beberapa amalan semuanya baik, kita cari yang paling baik. Ini termasuk memanfaatkan waktu.ومن هنا عظُمت رعاية العلماء للوقتDari sini kita mengetahui besarnya penjagaan ulama terhadap waktu.Karena mereka mengetahui tentang bagaimana berharganya waktu.حتىٰ قال محمَّد بن عبد الباقي البزَّازSehingga seorang ulama yaitu Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzās beliau mengatakan,ما ضيَّعتُ ساعةً من عمري في لهوٍ أو لعبٍAku tidak pernah menyia-nyiakan sedikit pun dari umurku di dalam perkara yang sia-sia atau dalam bermain-main.Sampai mengatakan demikian, tidak pernah menyia-nyiakan meskipun hanya sekedar dari umurnya dalam perkara yang sia-sia atau bermain-main.Lihat bandingkan antara beliau dengan keadaan kita. Berapa waktu yang kita gunakan untuk ibadah dalam sehari, berapa waktu yang kita gunakan untuk ilmu, sisanya masing-masing dari kita bisa menjawab sendiri, untuk permainan, untuk melihat sesuatu yang tidak bermanfaat.وقال أبو الوفاء ابن عقيلBerkata Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil,الذي صنَّف كتاب الفنون في ثمان مئة مجلَّدٍBerkata seorang ulama Ibnu ‘Aqil yang beliau adalah yang menulis Kitabul Funun setebal 800 jilid, beliau mengatakan,إنيِّ لا يحِلُّ لي أن أُضيِّعَ ساعةً من عمريSesungguhnya tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sekejap pun dari umurku.Jadi beliau sampai menulis sebanyak itu kitabnya karena beliau tidak menyia-nyiakan waktunya. Kalau kita bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sebenarnya banyak yang bisa kita kerjakan, kita bisa menghafal, kita bisa membaca kitab, kalau kita sudah sampai kita bisa menulis, banyak sebenarnya cuma banyak diantara kita yang menyia-nyiakan waktunya sehingga waktunya tidak berbarakah.وبَلَغَتْ بهمُ الحال أن يُقرأ عليهم حال الأكل؛ بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخاءDan ada diantara mereka (saking mereka menjaga waktunya) yang dibacakan, artinya ada seorang guru muridnya disuruh membaca dan dia dalam keadaan makan, sambil dia makan dia minta seseorang untuk membacakan kitab, ingin mengambil faedah.Ini juga bisa kita lakukan. Kita sambil makan mungkin sambil nyetel sesuatu kita tidak ingin menyia-nyiakan waktu, apakah itu bisa? Bisa sebenarnya, sambil kita di mobil pulang atau berangkat kita mendengarkan sebuah ilmu supaya tidak sia-sia waktu kita.بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخلاءBahkan terkadang ada diantara mereka dibacakan kepada beliau dan mereka berada di dalam darul khala (tempat untuk mandi atau untuk buang hajat).Ada seseorang yang disuruh membaca dengan suara keras di luar, dia bukan membaca di dalam kamar kecil tersebut tapi ada orang lain yang disuruh membaca dengan keras di luar karena beliau tidak ingin menyia-nyiakan waktunya.Karena biasanya orang di dalam kamar mandi itu tersia-sia waktunya, mungkin ngelamun, mungkin dia memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya sampai ketika berada di dalam kamar kecil tersebut dia ingin memanfaatkan waktunya. Ini termasuk pengagungan terhadap ilmu. Kita menggunakan waktu kita benar-benar untuk ilmu.فاحفظ أيُّها الطَّالبُ وقتَكMaka hendaklah engkau wahai seorang penuntut ilmu menjaga waktumu. Jaga waktumu dengan baik, jangan disia-siakan.فلقد أبلغ الوزيرُ الصَّالح ابنُ هُبيرة في نصحك بقولهMaka Al-Wazir Ash-Shalih Ibn Hubairah, beliau adalah seorang menteri kerajaan yang memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu, sungguh beliau bersungguh-sungguh dalam memberikan nasihat kepadamu dengan ucapan beliau.والوقت أنفسُ ما عُنيتَ بحفظهDan waktu sebenarnya adalah sesuatu yang paling berharga yang kamu harus menjaganya.Itu lebih berharga daripada harta yang kau miliki, daripada rumah yang engkau miliki. Waktu itu adalah suatu yang paling berharga yang harusnya engkau jaga dia.وأراه أسهلَ ما عليك يضيعُDan aku melihat bahwasanya itu adalah sesuatu yang paling mudah engkau sia-siakan.Padahal itu adalah sesuatu yang paling berharga yang harusnya kita jaga tapi justru paling mudah kita menyia-nyiakan waktu tersebut. Kadang kalau sudah nganggur yang dicari nonton apa, buka apa, mudah sekali seorang menyia-nyiakan waktu. Tapi jarang diantara kita sedang nganggur apa yang ana lakukan, ana murajaah surat apa, apa kitab yang ana baca sekarang. Makanya beliau mengatakan sangat mudah sekali  waktu tersebut engkau sia-siakan.تمت الخلاصةTelah sempurna kitab Al-Khulasah.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُDengan demikian kita telah menyelesaikan kitab yang sangat berharga ini yang ditulis oleh guru kami yang mulia, beliau adalah Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad hafidzahullāhu ta’ala, semoga Allāh subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa beliau dan mengampuni dosa kedua orang tua beliau dan memberikan kepada beliau pahala yang besar dan menjadikan apa yang kita baca dari kitab beliau ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 25

Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalamDiantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalam① Seseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jallaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanلَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164)② Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam③ Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah, Allah berfirmanإِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9)④ Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.⑤ Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.⑥ Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 25: Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

Halaqah 25:Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘AlaihimussalamUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalamSeseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jalla.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164).Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam.Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah.Allah berfirman:إِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9).Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.Kita berdoa kepada Allah ‘Azza wa jalla semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan meninggal dunia diatas keimanan.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 25 | Penjelasan Penutup Kitab Pembatal Keislaman Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau berkata,وَكُلُّهَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ خَطَرًا، وَأَكْثَرِ مَا يَكُونُ وُقُوعًا،فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْذَرَهَا وَيَخَافَ مِنْهَا عَلَى نَفْسِهِنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ مُوجِبَاتِ غَضَبِهِ، وَأَلِيمِ عِقَابِهِ“Dan semuanya ini termasuk yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi. Maka sepantasnya seorang muslim waspada dan takut terjadi atas dirinya sendiri. Kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang menyebabkan kemarahan-Nya dan kita berlindung kepada Allah dari pedihnya siksaan-Nya.”Ini menunjukkan bahwa di sana masih ada perkara-perkara yang lain yang tidak beliau sebutkan di sini.Ucapan beliau,فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْذَرَهَا وَيَخَافَ مِنْهَا عَلَى نَفْسِهِ“Maka wajib bagi seorang muslim untuk waspada dan takut dia terjatuh di dalam perkara-perkara tersebut.Diantara bentuk kewaspadaan kita dan ketakutan kita adalah:1. Berdo’a dan berlindung kepada Allah dari seluruh pembatal keislaman.2. Mempelajari agama Allah, dimulai dari masalah akidah.3. Mengamalkan apa yang sudah dipelajari.Beliau rahimahullah mengatakan,نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ مُوجِبَاتِ غَضَبِهِ، وَأَلِيمِ عِقَابِهِ“Kami berlindung kepada Allah dari segala hal yang menjadikan kemarahan Allah dan kami berlindung dari pedihnya siksaan Allah.”Ini adalah do’a terbaik dari pengarang rahimahullah. Beliau mendo’akan untuk beliau sendiri dan mendo’akan setiap orang yang membaca buku beliau ini. Berlindung kepada Allah dari segala hal yang menjadikan amarah Allah.Kemudian beliau mengatakan,وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ“Dan shalawat Allah serta salam-Nya atas Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.”Menggabungkan di dalam kalimat terakhir ini, antara shalawat dan salam, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk melakukan shalawat dan salam seperti dalam firman Allah,(إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا)[Surat Al-Ahzab 56]“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bersholawat atas Beliau dan ucapkanlah salam dengan sebenarnya.”Dengan demikian kita sudah menyelesaikan kitab yang mulia ini, kitab yang sangat bermanfaat, yaitu Nawaqidul Islam, yang berisi tentang 10 perkara yang paling besar yang bisa membatalkan keislaman seseorang.Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan menjadikan ilmu yang kita dapatkan adalah ilmu yang diamalkan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 73 – Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ummu SalamahRasulullah ﷺ mengabarkan bahwa akan ada pemimpin yang mencampur antara amalan yang ma'ruf dan yang mungkar.Poin-poin penting:Pemimpin bisa memiliki kebaikan sekaligus melakukan kemungkaran, seperti kefasikan atau kezaliman.Seorang mukmin wajib mengingkari kemungkaran sesuai kemampuannya.Mengingkari dengan hati berarti berlepas diri dari kemungkaran.Mengingkari dengan lisan tidak harus dilakukan secara terbuka, demonstrasi, atau mempermalukan penguasa di depan umum. Nasihat secara langsung juga termasuk mengingkari dengan lisan.Yang tercela adalah orang yang ridha terhadap kemungkaran dan ikut mengikutinya.Ketika para sahabat bertanya apakah pemimpin yang berbuat mungkar boleh diperangi, Nabi ﷺ menjawab: "Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat."Larangan memberontak kepada penguasa bertujuan mencegah kerusakan yang lebih besar, karena pemberontakan biasanya menimbulkan korban jiwa, kehancuran, dan kekacauan yang jauh lebih besar daripada kezaliman yang ingin dihilangkan.Syariat Islam bertujuan menghilangkan atau meminimalkan mudarat. Oleh karena itu, kaum muslimin diperintahkan untuk mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma'ruf serta bersabar atas kezaliman mereka demi menjaga kemaslahatan umat.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 25 | Meninggalnya Orang-orang yang beriman sebelum hari kiamat terbenamnya tanah secara besar-besaran ketiga tempat dan keluarnya api dari yaman

Halaqah 25 Meninggalnya Orang-orang yang beriman sebelum hari kiamat terbenamnya tanah secara besar-besaran ketiga tempat dan keluarnya api dari yamanSilsilah Beriman Kepada Hari Akhir Sebelum terjadinya hari kiamat, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan mengirim angin yang mencabut nyawa semua orang yang beriman. Sehingga tidak tersisa di dunia, kecuali sejelek-jelek manusia. Rasulullah ﷺ bersabda,Kemudian Allah akan mengutus angin yang dingin dari arah Syam, maka tidak ada seorang pun di Bumi yang di dalam hatinya ada kebaikan atau iman meski sebesar biji sawi, kecuali akan dicabut nyawanya oleh angin tersebut. Sampai seandainya salah seorang dari mereka masuk ke dalam gunung, niscaya angin tersebut akan masuk bersamanya dan mencabut nyawanya. Maka tersisalah sejelek-jelek manusia yang ringan berbuat kerusakan, seperti ringannya burung dan mereka ganas dalam berbuat kedzaliman satu dengan yang lain, seperti ganasnya hewan buas. Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran (HR. Muslim).Di dalam sebuah hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwasanya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengutus angin tersebut dari Yaman. Sebagian ulama mengatakan bahwasanya angin tersebut, berasal dari dua arah, yaitu Yaman dan juga Syam.Dan di antara tanda-tanda besar hari kiamat adalah akan terbenamnya tanah secara besar-besaran di tiga daerah timur, barat dan jazirah arab, sebagaimana datang didalam hadits.Dan termasuk dalam tanda-tanda besar hari kiamat adalah munculnya api dari Yaman yang akan menggiring manusia ke tempat pengumpulan. Dan tempat dikumpulkannya manusia saat itu adalah Syam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi di dalam Sha’abul Iman dan hadits ini shahih. Dan syam adalah daerah-daerah di sekitar Masjidil Aqsa. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya,Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan kaki, sebagian naik kendaraan dan sebagian akan diseret di atas wajah-wajah mereka (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi)Api ini akan senantiasa bersama mereka siang dan malam sehingga mereka sampai ditempat pengumpulan.Sebagaimana bisa disimpulkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.Dan yang terakhir kali akan dikumpulkan adalah dua orang penggembala dari Qobilah Muzailah (HR. Bukhari dan Muslim).Pengumpulan di sini berbeda dengan pengumpulan manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya. Pengumpulan di sini adalah di dunia untuk sebagian manusia. Sedangkan pengumpulan setelah dibangkitkannya manusia adalah di akhirat untuk semua manusia. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan keselamatan kepada kita semua di dunia dan di akhirat.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta Untuknya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Maka masing² dari kita akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia dicipta untuknya.Melakukan apa yang sudah ditakdirkan untuk orang yang sudah Allāh tulis di dalam Lauhul Mahfudz, dia akan masuk ke dalam Surga maka ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan dia di dunia Allāh akan memudahkan dia untuk melakukan amalan² yang memasukkan dia ke dalam Surga atau yang menjadi sebab dia masuk kedalam Surga, misalnya dijadikan dia lahir di tengah² orang Islam kemudian diajarkan oleh orang tuanya tentang Islam yang benar atas seandainya dia lahir di negeri kafir orang tuanya kafir tapi Allāh tulis dia termasuk penduduk Surga maka akan ada jalan dia masuk ke dalam agama Islam, mungkin akan ada di sana (dinegeri kafir) dakwah ada yayasan yang didirikan kemudian salah satu sebab akhirnya dia mungkin tidak sengaja masuk ke dalam Masjid dan mendengar orang mengajak kepada Islam dan seterusnya, akhirnya masuk Islam, orang yang sudah Allāh subhanahu wa taala putuskan dia termasuk penduduk Surga makaمُيَسَّرٌDia akan dimudahkan untuk melakukan apa yang memang dia ditakdirkan untuk makanya kita katakan kita khusnudzon kepada Allāh, lihat siapa kita lemahnya kita ada hinanya kita tapi Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan karunia dan juga anugerah dipilih kita di antara sekian banyak manusia untuk mengenal Allāh lebih dalam, kita belajar tentang Nama² Allāh kita belajar tentang sifat Allāh kita mengenal lebih dalam tentang agama Allāh khusnudzon kepada Allāh, Allāh ingin memasukkan kita ke dalam Surganya Allāh mudahkan kita untuk menuntut ilmu agama Allāh jaga kita dan jadikan kita Istiqomah sampai detik ini kita berharap sampai kita tentunya sampai meninggal dunia di tengah² gelombang fitnah yang semakin dahsyat, baik fitnah syahwat maupun syubhat, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala tidak menjaga niscaya kita sudah terseret dengan arus, tenggelam bersama orang² yang tenggelam, tenggelam di dalam kebodohan, tenggelam didalam syahwat, tenggelam di dalam subhat, dan sudah banyak korban, kalau bukan Allāh subhanahu wa ta’ala yang menjaga niscaya kita tidak akan terjadi, maka kita khusnudzon kepada Allāh dan Allāh mengatakan,أَنَا عِنْدَ حسن ظَنِّ عَبْدِي بِيAku ini sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu.Kalau kita berprasangka baik kepada Allāh maka itulah yang akan kita dapat, kita berprasangka baik kepada Allāh, Allah ingin memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.Maka hendaklah kita bersyukur kepada Allāh atas seluruh Taufik dan juga hidayah, diantara bentuk syukur kita kepada Allāh subhanahu wa taala adalah dengan menjaga kenikmatan ini menjaga ketaatan kita kepada Allāh menjaga Istiqomah kita di dalam menuntut ilmu agama.وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُSebaliknya orang yang sudah ditentukan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam Nerakanya Allāh baik selamanya maupun sementara maka akan dimudahkan juga kalau memang dia adalah orang yang akan masuk ke dalam Neraka selama-lamanya maka ada saja di sana jalan sehingga dia meninggal di atas kekufuran diatas kesyirikan, mungkin dia dahulunya adalah seorang muslim & Allāh subhanahu wa ta’ala lebih tahu siapa yang berhak untuk masuk ke dalam Surga-nya dan Allāh lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan azabNya, Allāh tidak akan menzalim apa yang Allāh lakukan pasti di sana ada hikmah, Allāh mudahkan yang ini dan Allāh mudahkan yang itu Allāh lakukan itu semuanya dengan hikmah tidak ada kezaliman di dalam.Ini yang harus terpatri didalam diri seorang muslim.إنّ الله لا يَظِلم مثقال ذرَّةAllāh tidak akan mendholimi meskipun hanya sebesar dzarrah.Sehingga Allāh mengatakan,..وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ۝[QS Fushilat 46]Dan Rabbmu tidak akan menzalimi hamba²Nya. Masing² akan dimudahkan oleh Allāh, termasuk di antaranya pelaku maksiat dari orang Islam maka itu pun akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan dan Allāh lebih tahu siapa di antara mereka yang berhak untuk mendapatkan hidayah yang ada juga Istiqomah dan siapa yang tidak berhak dan Allāh subhanahu wa ta’ala sekali lagi tidak menzalimi hambaNya.اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُDan ini menjadikan seseorang ketika melihat saudara yang masih belum mendapatkan hidayah mungkin dia masih terkumpul dalam kebidahan dia atau di dalam firkah dia mengingat hadits iniوَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Melihat dengan kacamata kasih sayang, sayang kepada mereka, kasian kepada mereka yang masih belum mendapatkan hidayah sehingga nanti didalam dirinya untuk mengajak / di dalam dirinya untuk mendakwahi dengan maksud merahmati/ menyayangi bukan maksud mendzalimi atau menghinakan, kemudian ketika dia melihat keadaan mereka dan dia melihat pada dirinya sendiri semakin dia bertambah bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang tidak menjadikan dirinya seperti mereka yang masih terkungkung di dalam subhat hak mereka diantara bentuk syukurnya adalah dengan berusaha mengajak orang yang sesuai dengan kemampuan, dia menjelaskan mengajak dan ini adalah bentuk syukur dia atas nikmat hidayah yang telah Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, sebagaimana dia senang dan gembira bahagia mendapat hidayah maka dia senang juga seandainya orang lain juga mendapatkan hidayah tersebut sebagaimana dulu orang yang mendakwahi kita bersabar dalam mengajak kita, kitapun bersabar ketika mendakwahi orang lain mereka bersabar sehingga kita pun mendapatkan hidayah dan paham bahkan kita pun juga demikian,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِTidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk orang lain sebagaimana atau apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.ثُمَّ قَرَأَkemudian beliau ﷺ membaca firman Allāh,فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ ۝وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ ۝وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ ۝[QS Al Lail 5-10]Maka beliau rahimahullāh di sini mendatangkan ucapan,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،maka ini adalah Taufik dari Allāh subhanahu wa ta’ala setelah telah menjelaskan bahwasanya semuanya itu dengan takdir Allāh masuknya seseorang ke dalam Surga dengan takdir Allāh masuknya seseorang kedalam Neraka dengan takdir Allah maka beliau menjelaskan masing² akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia ditakdirkan untuknya, ini adalah dorongan bagi kita untuk beramal ingin masuk ke dalam Surga semua kita ingin masuk ke dalam Surga maka beramal lah karena masuk ke dalam Surga itu ada sebab,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ingin selamat dari Nerakanya Allāh ya jangan kita melakukan perkara yang menjadi sebab maksudnya seseorang ke dalam Neraka Allāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ini isyarat dari beliau beriman dengan takdir dan beriman dengan syariat sebagaimana yang kita ulang².

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →