🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI18 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 95

Halaqah 95Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah bin Al-Yaman (Bagian 01) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMatan HaditsHadits Utama (HR. Al-Bukhari & Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman)​عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! صِفْهُمْ لَنَا؟ فَقَالَ: «هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ»، قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ المَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»"Dahulu orang-orang (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena khawatir kejelekan itu menimpaku..."Ziyadah (Tambahan Riwayat) Abu Dawud / Imam Muslim​«ثُمَّ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مَعَهُ نَهْرٌ وَنَارٌ، فَمَنْ وَقَعَ فِي نَارِهِ؛ وَجَبَ أَجْرُهُ، وَحُطَّ وِزْرُهُ، وَمَنْ وَقَعَ فِي نَهْرِهِ؛ وَجَبَ وِزْرُهُ، وَحُطَّ أَجْرُهُ... ثُمَّ هِيَ قِيَامُ السَّاعَةِ»"Kemudian keluar Dajjal membawa sungai dan api. Barang siapa jatuh ke dalam apinya, wajib baginya pahala dan digugurkan dosanya. Barang siapa jatuh ke dalam sungainya, wajib baginya dosa dan digugurkan pahalanya... Kemudian setelah itu adalah terjadinya kiamat."Poin Garis Besar Pemahaman & Kandungan MateriMetode Hudzaifah bin Al-Yaman dalam Menuntut IlmuPerbedaan Sikap:Sebagian besar (aghlab) sahabat bertanya tentang kebaikan dan keutamaannya, sedangkan Hudzaifah fokus bertanya tentang kejelekan (asy-syarr) dan fitnah.​Alasan (Mahāfata an Yudrikanī):Beliau bertanya karena takut terjerumus ke dalam kejelekan tanpa disadari. Mengetahui kejelekan dan fitnah secara detail merupakan bentuk perlindungan diri agar bisa selamat ketika fitnah itu benar-benar terjadi.​Fikih Keseimbangan:Seorang muslim harus seimbang dalam mempelajari agama: mempelajari kebaikan (tauhid, amal saleh) dan juga mempelajari kejelekan untuk dijauhi (pembatal keislaman, jenis-jenis syirik, kebid’ahan, dan dosa-dosa besar).Tahapan Fase Kebaikan dan Kejelekan Menurut Hadits​Masa Jahiliyah & Kejelekan:Masa sebelum diutusnya Nabi ﷺ.​Kebaikan Murni:Diutusnya Nabi ﷺ membawa Islam.​Kejelekan Pertama:Terjadinya fitnah setelah masa awal Islam.Kebaikan Berasap (Dakhan):Makna Dakhan: Kebaikan yang ternoda/terkotori.​Sifat Kelompoknya: Kaum yang memberi petunjuk bukan dengan petunjuk Nabi ﷺ (yahdūna bi-ghairi hadyī), di mana ada amalan mereka yang dikenali (sesuai sunnah) dan ada yang diingkari (bid'ah).​Kejelekan Da’i Pintu Jahannam (Du'ātun 'alā Abwābi Jahannam):​Sifat Da’i: Berasal dari bangsa/kulit kita (min jildatinā) dan berbicara dengan bahasa kita (yatakallamūna bi-alsinatinā).​Bahaya: Barangsiapa menyambut ajakan mereka, maka mereka akan dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.Petunjuk Sikap Menghadapi FitnahJika Ada Jamaah dan Imam: Wajib melazimi jamaah kaum muslimin dan imam/pemerintah mereka (talzamu jamā'atal-muslimīna wa imāmahum).​Jika Tidak Ada Jamaah dan Imam:Wajib mengasingkan diri (i'tizāl) dari seluruh kelompok/aliran (firqah) penyimpangan tersebut, meskipun harus bertahan dengan menggigit akar pohon hingga ajal menjemput.Fitnah Akhir Zaman dan Kiamat​Setelah fase dai-dai pintu Jahannam, muncul fitnah terbesar yaitu keluarnya Dajjal yang membawa ujian berupa sungai (hakikatnya azab/dosa) dan api (hakikatnya kenikmatan/pahala).​Fase terakhir setelah fitnah Dajjal adalah terjadinya hari Kiamat (qiyāmus-sā'ah).Kesimpulan Halaqah 95 menegaskan pentingnya mempelajari bentuk-bentuk kejelekan (seperti penyimpangan, bid'ah, dan fitnah) agar hamba terhindar dari bahayanya. Hadits Hudzaifah radhiyallāhu 'anhu memberikan panduan tegas dalam menghadapi fitnah zaman: berpegang teguh pada Sunnah Nabi ﷺ, melazimi jamaah kaum muslimin dan pemerintahnya, atau memilih mengasingkan diri dari seluruh kelompok (firqah) yang menyimpang demi mempertahankan Islam dan aqidah murni sampai mati.

💬 0 komentar📅 18 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 9

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 9”.Diantara amalan malaikat dan tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta,⑺ MENJAGA KOTA MEKKAH DAN MADĪNAHMekkah dan Madinah adalah 2 kota yang dimuliakan Allāh;• Mekkah, di dalamnya ada Baitullāh• Madīnah adalah:⑴ Tempat hijrah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.⑵ Tempat kuburan Beliau.⑶ Disanalah Beliau akan dibangkitkan.Dan keutamaan 2 kota ini sangat banyak.Diantara malaikat Allāh ada yang ditugaskan menjaga kota Mekkah dan Madīnah dari Dajjāl.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ إِلَّا عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ صَافِّيْنَ يَحْرُسُونَهَا ، ثُمَّ تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ بِأَهْلِهَا ثَلَاثَ رَجَفَاتٍ ، فَيُخْرِجُ اللَّهُ كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ“Tidak ada sebuah negeri kecuali akan diinjak oleh Dajjāl kecuali Mekkah dan Madīnah. Tidak ada jalan dikota Madīnah kecuali ada malaikat-malaikat yang berbaris menjaganya. Kemudian goncanglah kota Madīnah dengan penduduknya 3 kali goncangan maka Allāh mengeluarkan darinya setiap orang kāfir dan munāfiq.” (HR Bukhāri II/665, no. 1782 dan Muslim IV/2261, no. 2942)Di dalam hadīts yang lain, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,على أنقاب المدينة ملائكة لا يدخلها الطاعون ولا الدجال“Di seluruh jalan-jalan Madīnah ada malaikat-malaikat. Madīnah tidak akan dimasuki wabah penyakit dan Dajjāl.” (HR Bukhāri II/665 no. 1781 dan Muslim II/1005, no. 1379)⑻ MENAUNGI NEGERI SYĀMNegeri Syam adalah negeri yang Allāh berkahi.Di sana ada Masjidil ‘Aqsha, salah satu masjid yang kita dianjurkan untuk ke sana dalam rangka ibadah.Masjidil ‘Aqsha adalah tempat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ber-isrā dan dari sanalah Beliau di-mi’rajkan ke langit.Allāh telah menugaskan sebagian malaikat untuk membentangkan sebagian sayapnya di sana.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,طُوبَى لِلشَّامِ . فَقُلْنَا : لِأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا“Keberuntungan bagi negeri Syām.”Maka para shahābat radhiyallāhu ‘anhum berkata, “Mengapa yang demikian, wahai Rasūlullāh?”Maka Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Karena malaikat Ar-Rahmān membentangkan sayap mereka atas negeri Syām.”(Hadīts shahīh diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Abwaabul Manaaqib bab ke 74)Demikianlah sebagian tugas yang berkaitan dengan alam semesta.Allāh-lah yang memerintahkan malaikat, mengizinkan mereka dan menghendaki, sedangkan malaikat yang melaksanakan dan mengatur langsung dengan perintah, izin dan kehendak Allāh.Apa yang mereka lakukan tidak keluar dari perintah Allāh.Allāh berfirman,لَّا يَعْصُونَ اللَّهَمَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Mereka tidak memaksiati Allāh di dalam apa yang Allāh perintahkan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrīm 6)

💬 0 komentar📅 18 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 94

Halaqah 94Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Kedelapan dan Kesembilan (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaDalil Kedelapan: Hadits Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā (HR. Al-Bukhari & Muslim)فَأَقُولُ كَمَا قَالَ العَبْدُ الصَّالِحُ: ﴿وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡ...﴾، وَإِنَّ أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِي يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ، فَأَقُولُ: أَصْحَابِي أَصْحَابِي! فَيَقُولُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ..."Maka aku akan berucap sebagaimana yang diucapkan oleh hamba yang saleh (Nabi Isa 'alaihissalam): 'Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka...' Dan sesungguhnya ada beberapa orang dari sahabatku diseret ke arah kiri (neraka Jahannam). Maka aku berkata: 'Sahabatku! Sahabatku!' Lalu dikatakan: 'Sesungguhnya mereka senantiasa murtad ke belakang sejak engkau berpisah dari mereka.' Maka aku mengucapkan sebagaimana ucapan hamba yang saleh..."Ayat Al-Qur'an terkait Perkataan Nabi Isa 'Alaihissalam (QS. Al-Ma'idah: 116–117)وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ"Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu."Dalil Kesembilan: Hadits Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu (HR. Al-Bukhari & Muslim)«مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟» ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: ﴿فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا"Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan melainkan di atas fitrah (Islam). Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana hewan ternak melahirkan anaknya dalam keadaan utuh/sempurna, apakah kalian merasakan ada yang telinganya terpotong (cacat)?" Kemudian Abu Hurairah membaca QS. Ar-Rum: 30.”Poin Garis Besar Pemahaman & Kandungan MateriPenjelasan Dalil Kedelapan (Hadits Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā)Persamaan Ucapan Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa 'Alaihissalam:​Nabi Isa 'alaihissalam bersaksi atas umatnya hanya sewaktu beliau masih hidup di dunia. Setelah diangkat ke langit, beliau tidak tahu-menahu bahwa ada kaum yang menyembah beliau dan ibunya.​Rasulullah ﷺ pun demikian; beliau bersaksi atas umatnya selama masih hidup. Setelah wafat, beliau tidak mengetahui timbulnya penyimpangan (keadaan ihdats), seperti kemurtadan atau pembuatan amalan bidah.​Bantahan terhadap Keyakinan Batil: Hadits ini mematahkan anggapan bahwa para nabi/orang saleh yang telah wafat dapat mengetahui perbuatan orang hidup.​Korelasi Bid'ah dan Kemurtadan:​Rasulullah ﷺ berlepas diri (bara') dari orang-orang yang murtad dan merubah agama sepeninggal beliau.​Perbuatan bid'ah yang dikerjakan terus-menerus dihiasi oleh setan, hingga akhirnya menyeret seseorang untuk merasa tidak butuh lagi pada Islam/Sunnah dan berujung pada keluar dari agama Islam.Penjelasan Dalil Kesembilan (Hadits Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu)​Makna Al-Fitrah:​Yang dimaksud dengan fitrah adalah Al-Islam (ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah ﷻ).​Penyebutan "dijadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi" setelahnya menjadi bukti bahwa fitrah dasar manusia adalah Islam, sedangkan agama-agama lain merupakan penyimpangan dari fitrah.​Peran Pengaruh Luar (Orang Tua dan Setan):​Setiap anak terlahir murni di atas Islam. Penyimpangan terjadi akibat pengaruh luar, baik dari pola didik orang tua maupun bisikan setan.​Penyimpangan dari fitrah bisa berupa keluar dari Islam secara total (kekafiran/kemurtadan) atau berupa pelanggaran terhadap hakikat penyerahan diri (kebid’ahan dan dosa besar).​Penggunaan Permisalan Hewan Ternak (Jām'ā' vs Jad'ā'):​Rasulullah ﷺ memberi perumpamaan induk hewan yang melahirkan anak dalam keadaan utuh/sempurna (jam'ā'). Cacat atau telinga terpotong (jad'ā') baru terjadi setelah manusia memotongnya.​Perumpamaan ini menegaskan bolehnya menggunakan metode tamtsil (pemberian contoh) dalam dakwah untuk memudahkan pemahaman, selama perumpamaan tersebut tidak bertentangan dengan syariat.Kesimpulan Kedua dalil ini menegaskan pentingnya istiqamah di atas kemurnian Islam dan fitrah dasar manusia:​Dalil Kedelapan menunjukkan bahaya ihdats (membuat hal baru dalam agama) dan murtad yang menyebabkan terputusnya hubungan hamba dengan Rasulullah ﷺ di akhirat..​Dalil Kesembilan menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah asli manusia sejak lahir. Kebidahan, kesyirikan, dan kekafiran merupakan penyakit yang merusak fitrah tersebut, sehingga setiap hamba wajib menjaga dan istiqamah di atas fitrah Islam hingga akhir hayat.

💬 0 komentar📅 17 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 September 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

HSI09-19: Makna Ucapan Rasulullah ﷺ "Kejelekan Tidak Kepada-Mu"

1. Dalil UtamaHadits riwayat Imam Muslim:وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ"Dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu."2. Pokok AkidahAllah Subhānahu wa Ta'āla menciptakan segala sesuatu — yang bermanfaat maupun yang memudaratkan, yang baik maupun yang buruk. Hadits di atas tidak menunjukkan bahwa kejelekan tidak diciptakan oleh Allah. Artinya, hadits ini perlu dipahami maknanya, bukan dipahami secara zahir yang seolah menafikan takdir Allah atas keburukan.3. Empat Makna وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ yang Dijelaskan UlamaMakna 1 — Adab kepada AllahIni bukan soal penciptaan, melainkan soal etika berbicara. Kita tidak boleh mengucapkan kalimat seperti "Wahai Yang Menciptakan kejelekan" atau "Wahai Pencipta Babi", meskipun secara akidah kita yakin Allah-lah yang menciptakan semua itu. Penyandaran kejelekan secara langsung dan eksplisit kepada Allah dianggap tidak pantas, karena Allah disifati dengan nama-nama dan sifat yang mulia.Makna 2 — Tidak ada kejelekan yang murni burukAllah tidak menciptakan kejelekan secara murni tanpa maksud. Setiap kejelekan yang Allah ciptakan pasti mengandung hikmah. Dilihat dari sisi hikmah inilah, kejelekan yang menimpa manusia sebenarnya baik di sisi Allah — sehingga tidak layak disandarkan sebagai "kejelekan" kepada-Nya.Contoh: rezeki. Ada yang diluaskan, ada yang disempitkan — keduanya dengan hikmah. Di antara hikmah disempitkannya rezeki seseorang: agar ia tidak berlebihan di dunia, agar banyak berdoa dan mendekat kepada Allah. Di antara hikmah lainnya: agar terjadi saling membutuhkan antara yang kaya dan yang miskin.Makna 3 — Larangan bertaqarrub dengan kejelekanSebagian ulama memaknai hadits ini sebagai larangan menjadikan kejelekan/maksiat sebagai sarana mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Meyakini Allah pencipta segala sesuatu (soal akidah) berbeda dengan menjadikan keburukan sebagai jalan ibadah — yang jelas tidak dibenarkan.Makna 4 — Kejelekan tidak "sampai" kepada AllahSebagian ulama lain memaknai bahwa yang "sampai" kepada Allah (dalam arti diterima, dipersembahkan, atau disandarkan) hanyalah kebaikan, sedangkan kejelekan tidak.4. Tiga Pola Penyandaran Kejelekan dalam DalilAl-Qur'an tidak pernah menyandarkan kejelekan secara khusus dan langsung kepada Allah, melainkan dengan tiga cara:Penyandaran umum — Allah disebut pencipta segala sesuatu secara menyeluruh, tanpa dikhususkan pada kejelekan:اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ — "Allah Yang Menciptakan Segala Sesuatu." (QS Az-Zumar: 62)Disandarkan ke penyebabnya — kejelekan dikaitkan dengan makhluk/ciptaan yang menjadi sumbernya, bukan langsung ke Allah:مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ — "Dari kejelekan apa yang Dia ciptakan." (QS Al-Falaq: 2)Kalimat pasif tanpa pelaku — untuk kejelekan dipakai bentuk pasif (tanpa menyebut pelaku), sedangkan untuk kebaikan dipakai bentuk aktif dengan pelaku disebut jelas ("Rabb mereka"):وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا"Dan sesungguhnya kami (bangsa jin) tidak mengetahui apakah kejelekan yang diinginkan terhadap penduduk bumi ataukah Rabb mereka menginginkan bagi penduduk bumi kebaikan." (QS Al-Jinn: 10)5. KesimpulanKetiga pola bahasa di atas, ditambah empat makna ulama sebelumnya, sama-sama menunjukkan satu prinsip: Allah tetap pencipta segala sesuatu termasuk kejelekan (soal akidah/takdir), namun dalam penyebutan dan penyandarannya, Al-Qur'an dan hadits menjaga adab — tidak menyandarkan keburukan secara langsung, eksplisit, dan khusus kepada Allah.

💬 0 komentar📅 17 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 19 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 07)

Dalil TawakalAllah ﷻ berfirman:“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal jika kalian benar-benar orang yang beriman.”(QS. Al-Māidah: 23)Dan:“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”(QS. Ath-Thalāq: 3)Apa itu Tawakal?Tawakal adalah menyandarkan hati, berharap manfaat, dan meminta perlindungan hanya kepada Allah ﷻ, sehingga tawakal termasuk ibadah yang wajib ditujukan kepada Allah semata.Karena Allah memerintahkan tawakal, maka tawakal adalah amalan yang dicintai Allah dan termasuk ibadah.Tawakal Harus kepada Allah, Bukan kepada SebabManusia, obat, pekerjaan, usaha, relasi, dan berbagai sarana lainnya hanyalah sebab yang Allah ciptakan.Seorang muslim:Wajib mengambil sebab yang halal.Tidak boleh menggantungkan hati kepada sebab tersebut.Hanya menggantungkan hati kepada Allah.Sebab bisa berhasil dan bisa tidak berhasil, karena yang menentukan hasil akhirnya adalah Allah ﷻ.Hubungan Tawakal dan IkhtiarTawakal bukan berarti meninggalkan usaha.Sebaliknya, mengambil sebab bukan berarti tidak bertawakal.Seorang muslim menggabungkan dua hal:Mengambil sebab (ikhtiar).Bertawakal kepada Allah.Rasulullah ﷺ bersabda:“Ikatlah untamu, lalu bertawakallah kepada Allah.”Artinya, seorang muslim tetap berusaha, namun hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada usahanya.Contoh dalam KehidupanMencari rezeki dengan bekerja secara halal.Berobat ketika sakit.Belajar ketika ingin mendapatkan ilmu.Semua itu adalah sebab yang diperintahkan syariat. Namun hasilnya tetap berada di tangan Allah.Tawakal yang Benar Seperti BurungRasulullah ﷺ bersabda:“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”Pelajaran penting:Burung tidak diam di sarangnya.Burung keluar mencari rezeki.Burung berusaha dan Allah yang memberikan hasilnya.Inilah hakikat tawakal yang benar: usaha maksimal, hati bersandar total kepada Allah.Keutamaan TawakalAllah menjanjikan:“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”Orang yang bertawakal kepada Allah akan:Mendapat kecukupan dari Allah.Lebih tenang menghadapi kehidupan.Tidak mudah takut dan gelisah.Merasa cukup dengan penjagaan Allah.Bahaya Bertawakal kepada Selain AllahOrang yang menggantungkan hati kepada:Makhluk,Jabatan,Harta,Orang saleh yang telah meninggal,Jin atau selain Allah,tidak akan mendapatkan kecukupan yang hakiki dan akan hidup dalam kegelisahan karena bergantung kepada sesuatu yang lemah.Intinya...✅ Tawakal adalah ibadah dan harus ditujukan hanya kepada Allah.✅ Tawakal tidak berarti meninggalkan usaha.✅ Seorang muslim wajib mengambil sebab yang halal.✅ Hati tidak boleh bergantung kepada sebab, tetapi kepada Allah.✅ Tawakal yang benar adalah seperti burung: berusaha lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.✅ Allah menjanjikan kecukupan bagi orang yang bertawakal kepada-Nya semata.

💬 0 komentar📅 17 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sembilan belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke sembilan belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,وَآيَةٌ فِيْ سورة المائدة وَهِيَ قَوْلُهُ تَعالَى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِيْ اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُDan satu ayat di dalam surat Al Maidah, yaitu firman Allah Subhānahu wa Ta’āla yang artinya:“Wahai orang-orang yang beriman barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan mendatangkan sebuah kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka juga mencintai Allah.”Dan ayat selanjutnya,أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍۢ“Yang mereka merendahkan diri mereka di hadapan orang-orang yang beriman, yang mereka memiliki izzah (memiliki wibawa) di atas orang-orang yang kafir, mereka berjihad di jalan Allah dan mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela.”Ini ada di dalam surat Al Maidah (ayat 54).Dan disebutkan di dalam ayat yang mulia ini beberapa sifat yang dimiliki oleh wali-wali Allah:1. Mereka dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai Allah Subhānahu wa Ta’āla.Kenapa dicintai oleh Allah?Karena mereka mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Mengikuti Beliau dengan sebaik-baiknya, baik dalam aqidahnya, dalam ibadahnya, dalam akhlaknya, dan mereka juga mencintai Allah Subhānahu wa Ta’āla, lebih dari cintanya kepada hartanya, kepada jabatannya, daripada keluarganya, mencintai Allah lebih dari segala-galanya.2. Mereka merendahkan dirinya terhadap orang-orang yang beriman, mencintai orang-orang yang beriman, yang mereka adalah saudaranya.إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara.”المسلم أخو المسلم“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain.”Mereka merendahkan dirinya di hadapan orang-orang beriman, tidak menyombongkan dirinya.Inilah diantara sifat wali-wali Allah Subhānahu wa Ta’āla.Adapun bersama orang-orang kafir maka mereka memiliki izzah (memiliki wibawa), membenci orang-orang kafir tersebut.3. Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah Subhānahu wa Ta’āla dalam rangka meninggikan kalimat Allah.4. Dan mereka tidak takut celaan orang-orang yang mencela.Ketika mereka beramar ma’ruf nahi munkar, menegakkan agama Allah, tentunya di sana ada orang yang tidak senang. Namun seorang wali Allah Subhānahu wa Ta’āla mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela tersebut.Inilah diantara sifat-sifat wali-wali Allah Subhānahu wa Ta’āla.Kemudian yang ke tiga,وَآيَةٌ فِيْ يُوْنُسَ وَهي قولُهُ تعالى{أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ . الذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ}Dan satu ayat di dalam surat Yunus (ayat 62-63), yaitu firman Allah Subhānahu wa Ta’āla yang artinya:“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah,mereka tidak takut dan mereka tidak bersedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.”Jelas di dalam ayat ini, Allah menyebutkan kepada kita tentang sifat wali-wali Allah Subhānahu wa Ta’āla.Sesungguhnya wali-wali Allah, mereka tidak takut, yaitu tentang apa yang akan mereka hadapi di masa yang akan datang ketika hari kiamat.Karena Allah Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan keamanan kepada mereka, memberikan rasa tenang, memberikan rasa aman, di masa ketika manusia yang lain dalam keadaan takut.ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kedholiman (yaitu dengan kesyirikan), maka merekalah yang akan mendapatkan keamanan.” (QS. Al An’am: 82)Karena di dunianya mereka menunaikan hak-hak Allah Subhānahu wa Ta’āla.وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ“Dan mereka tidak akan bersedih (dengan apa yang sudah mereka tinggalkan dari dunia dan seisinya).”Dan mereka yakin bahwasanya apa yang akan mereka dapatkan di sisi Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.Siapa mereka?Allah mengatakan,Mereka wali-wali Allah. Mereka adalah orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.Apabila Allah Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan di dalam sebuah ayat dua kalimat ini (yaitu iman dan taqwa), maka iman dan taqwa ini memiliki makna yang berbeda.• Iman adalah menjalankan perintah.• Taqwa adalah menjauhi larangan.Menjalankan perintah, dan perintah Allah Subhānahu wa Ta’āla sangat banyak. Dan perintah yang paling besar adalah perintah untuk bertauhid (meng-Esa-kan Allah Subhānahu wa Ta’āla) yang dengan sebab inilah diutus para Rasul, diturunkan kitab-kitab, bahkan tidak diciptakan jin dan juga manusia kecuali untuk menunaikan, mewujudkan, mentauhidkan Allah Subhānahu wa Ta’āla.وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan juga manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Dan perintah pertama yang ada di dalam Al Qur’an yang Allah sebutkan adalah perintah untuk bertauhid (meng-Esa-kan Allah Subhānahu wa Ta’āla) di dalam ibadah.يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia hendaklah kalian beribadah kepada Rabb kalian.” (QS. Al Baqarah: 21)Siapa Rabb kalian?ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dia adalah yang menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.”Ini adalah perintah pertama yang Allah sebutkan, adalah perintah untuk bertauhid.Sebelum menyebutkan perintah-perintah yang lain, seorang wali Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah orang yang bertauhid, meng-Esa-kan Allah, mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, bukan beribadah kepada dirinya dan tidak mengajak manusia untuk menyembah kepada selain Allah, memuja selain Allah, mengagungkan selain Allah. Inilah seorang wali Allah Subhānahu wa Ta’āla.Dan yang dimaksud dengan At-Taqwa adalah meninggalkan larangan. Dan larangan yang paling besar adalah larangan untuk melakukan kesyirikan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ“Sesungguhnya kesyirikan adalah kedholiman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)Ditanya Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam oleh seorang sahabat,أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ الله؟“Ya Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla?”Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,أَنْ تَجْعَلَ لِلهِ نِدًّا، وَهُوَ خَلَقَكَ“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Allah Subhānahu wa Ta’āla yang telah menciptakan dirimu.”Allah yang menciptakan kamu, kemudian engkau menyembah kepada selain Allah, menyerahkan ibadah kepada selain Allah Subhānahu wa Ta’āla atau sebagian ibadah kepada selain Allah.Seorang yang menjadi wali Allah adalah orang yang meninggalkan kesyirikan.

💬 0 komentar📅 17 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 94 | Ahlus Sunnah Beriman kepada Malaikat Bag 2 Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APemateri: Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Di antara cara beriman dengan para malaikat adalah beriman dengan sifat-sifat malaikat yang berkaitan dengan penciptaannya, dengan fisiknya. Di antara sifat-sifat fisik yang disebutkan kepada kita, sifat-sifat fisik malaikat di antaranya adalah bahwasanya malaikat ini diciptakan oleh Allāh ﷻ dari cahaya.خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍMalaikat diciptakan dari cahaya. Kita diciptakan dari tanah, jin diciptakan dari api, dan Allāh ﷻ menciptakan mereka dari cahaya.Dan di antara sifat fisik yang dikabarkan kepada kita bahwasanya malaikat ini adalah makhluk yang memiliki sayap.جَاعِلِ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُو۟لِىٓ أَجْنِحَةٍMereka ini memiliki sayap, dan berbeda-beda; ada yang memiliki dua sayap, ada yang memiliki tiga sayap, dan ada yang memiliki lebih daripada itu. Malaikat Jibril ʿalayhis-salām memiliki 600 sayap, dan disebutkan dalam hadits bahwasanya satu sayap yang dimiliki oleh malaikat Jibril ʿalayhis-salām itu menutupi antara timur dan barat. Itu baru satu sayap, dan beliau memiliki 600 sayap. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana besarnya Malaikat Jibril; itu baru sayapnya saja.Di antara sifat fisik malaikat bahwasanya Allāh ﷻ terkadang memberikan mereka kemampuan untuk menjelma sebagai manusia, sebagaimana Jibril datang kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam bentuk laki-laki, dan Jibril juga datang kepada Maryam ʿalayhas-salām, datang beberapa malaikat kepada Ibrahim,هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَٰهِيمَ ٱلْمُكْرَمِينَ – إِذْ دَخَلُوا۟ عَلَيْهِ فَقَالُوا۟ سَلَـٰمًۭا ۖ قَالَ سَلَـٰمٌۭ قَوْمٌۭ مُّنكَرُونَ(QS. Adh-Dzāriyāt: 24)mereka juga datang kepada Nabi Luth ʿalayhis-salām dalam bentuk manusia. Ini menunjukkan bahwasanya di antara sifat fisik mereka adalah, dengan izin Allāh ﷻ, mereka terkadang menjelma sebagai manusia.Di antara sifat fisik mereka, jumlah mereka ini sangat banyak, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwasanyaأَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّlangit ini berderit, suara deritan itu menunjukkan beratnya beban yang dia tanggung. Dan kata Nabi ﷺ, berhak dia untuk menderita, kenapa demikian? Karena tidak ada مَوْضِعُ شِبْرٍ, tidak ada satu jengkal di sana, di langit, kecuali di situ ada malaikat yang bersujud, yang rukuk. Padahal kita tahu bagaimana besarnya langit sebagaimana telah berlalu, langit yang pertama sedemikian besarnya. Ternyata setiap jengkal itu ada malaikat di sana. Kita tidak bisa bayangkan berapa jumlah malaikat yang ada di langit yang pertama, dan langit yang kedua lebih besar daripada langit yang pertama; tentunya lebih banyak lagi malaikat yang mereka semuanyaيَعْبُدُونَ اللَّهَ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَBetapa banyak malaikat-malaikat Allāh ﷻ. Dalam hadits yang lain, Nabi ﷺ mengabarkan bahwasanya di atas sana ada al-Baitul Maʿmūr di mana setiap hari masuk ke dalamnya 70.000 malaikat. Kalau mereka sudah keluar, maka tidak akan kembali lagi. Artinya, yang masuk lagi pada kesempatan berikutnya adalah malaikat-malaikat yang baru, malaikat-malaikat yang lain, bukan yang kemarin masuk. Ini menunjukkan jumlah mereka yang sangat banyak.Dalam hadits yang lain, Nabi ﷺ ketika mengabarkan tentang Jahannam yang akan diseret oleh malaikat dan akan ditampakkan kepada ahlul-mahsyar,يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍJahannam akan didatangkan dan dia memiliki 70.000 tali kekangمَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَاsetiap tali kekang, yang jumlahnya ada 70.000 tadi, ada 70.000 malaikat yang menyeretnya. Berarti 70.000 dikali 70.000 ada 4,9 milyar malaikat yang akan menyeret Jahannam. Jumlah mereka adalah sangat banyak.وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ(QS. Al-Muddathir: 31)Tidak mengetahui tentara-tentara Rabbmu kecuali Allāh ﷻ.Malaikat adalah makhluk yang kuat, satu malaikat bisa mengalahkan seluruh manusia, lalu bagaimana dengan malaikat yang jumlahnya milyaran triliunan? Oleh karena itu, seorang Muslim yang menyembah Allāh ﷻ, mengetahui bahwasanya dia bersama hamba-hamba Allāh ﷻ yang jumlahnya sangat banyak. Seandainya di sekitarnya banyak orang yang tidak taat kepada Allāh ﷻ, ketahuilah bahwa di atas sana hamba-hamba Allāh ﷻ yang banyak sekali, mereka mentaati Allāh ﷻلَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَMereka tidak mendurhakai Allāh ﷻ terhadap apa yang Dia perintahkan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.Di antara cara beriman dengan para malaikat adalah beriman dengan sifat-sifat khuluqiyah, sifat-sifat yang berkaitan dengan akhlak mereka. Di antaranya adalah mereka memiliki sifat al-birrكِرَامٍ بَرَرَةٍMereka memiliki sifat al-karam, memiliki sifat al-birr, dan mereka memiliki sifat malu.أَلَا أَسْتَحْيِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحْيِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ“Apakah aku tidak malu terhadap seorang laki-laki di mana malaikat malu kepadanya.” Di antara sifat malaikat adalah malu.Di antara cara beriman kepada malaikat adalah beriman dengan tugas-tugas dan juga amalan yang dibebankan kepada mereka. Ada di antara mereka yang ditugaskan oleh Allāh ﷻ untuk bertanya di dalam alam kubur, yaitu Munkar dan juga Nakir. Ada di antara mereka yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu dari Allāh ﷻ, ada yang ditugaskan untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, menjaga gunung, dan mencabut nyawa.Ada di antara mereka yang tugasnya berdoa setiap hari; turun dua orang malaikat setiap harinya dan mengatakan,اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَأَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا“Yā Allāh, berikanlah orang yang berinfak ganti, dan jadikanlah orang yang tidak mau berinfak rusak hartanya, hancur hartanya.”Dan tugas-tugas lain; ada yang ditugaskan untuk menjaga Surga, ada yang ditugaskan untuk menjaga Neraka. Maka kita beriman dengan tugas-tugas tersebut, dan tugas-tugas tersebut Allāh ﷻ yang membebankan kepada mereka. Bukan berarti Allāh ﷻ butuh dengan bantuan makhluk—tidak. Allāh ﷻ ingin menunjukkan kepada kita betapa banyaknya pasukan Allāh ﷻ, tentara Allāh ﷻ. Bukan berarti Allāh ﷻ butuh kepada para malaikat; Allāh ﷻ Dia-lah yangعَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMalaikatlah yang butuh kepada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang menciptakan mereka, menghidupkan mereka; malaikat yang butuh kepada Allāh ﷻ, adapun Allāh ﷻ maka Dialah As-Shamad, Dialah Al-Ghaniyy yang Maha Kaya.Di antara cara beriman dengan malaikat adalah meyakini nama-nama mereka, karena Allāh ﷻ menyebutkan di antara nama-nama malaikat yang jumlahnya sekian banyak. Ada di antara mereka yang Allāh ﷻ sebutkan namanya, seperti Jibril, Israfil, Mikail, Malik, Munkar dan juga Nakir, Harut dan Marut. Maka kita beriman dengan nama-nama malaikat tersebut, yang tidak kita ketahui namanya maka kita beriman secara global; kita beriman bahwasanya Allāh ﷻ memiliki malaikat meskipun kita tidak mengetahui namanya.

💬 0 komentar📅 17 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 19

Halaqah yang ke sembilan belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Makna Ucapan Rasulullah ﷺ “Kejelekan Tidak Kepada-Mu”.Allah Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat maupun yang memudhoroti, yang baik maupun yang buruk.Adapun sabda Nabi ﷺ di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,والشر ليس إليك”Dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.”Maka hadits ini tidak menunjukkan bahwa kejelekan tidak dicipta oleh Allah.Para ulama telah menjelaskan bahwa makna hadits ini:1. Ini adalah bentuk adab kita kepada Allah azza wajalla. Tidak boleh kita berkata “Wahai Yang Menciptakan kejelekan” atau mengatakan “Wahai Pencipta Babi” meskipun Allah Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah Yang Menciptakan itu semua.2. Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak menciptakan kejelekan, secara murni kejelekan. Kejelekan yang Allah ciptakan pasti ada hikmahnya. Dilihat dari sisi hikmah inilah kejelekan yang menimpa manusia tersebut adalah baik di pandangan Allah azza wajalla, maka tidak boleh disandarkan kejelekan kepada Allah azza wajalla.Misalnya Allah mentakdirkan rezeki.Ada diantara manusia yang diluaskan rezekinya dan ada yang disempitkan.Disempitkan dengan hikmah dan diluaskan dengan hikmah.Dan diantara hikmah disempitkan rezeki seseorang adalah supaya dia tidak berlebihan di dunia, supaya dia banyak berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah.Dan diantara hikmahnya adalah supaya terjadi saling membutuhkan antara orang yang kaya dan orang yang miskin.3. Ada di antara ulama yang mengatakan bahwa makna ucapan Nabi ﷺ “Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu” maksudnya tidak boleh bertaqarrub kepada Allah dengan kejelekan.4. Ada di antara ulama yang mengatakan bahwa maknanya kejelekan tidak akan sampai kepada Allah, tetapi kebaikan itulah yang akan sampai kepada Allah.Penyandaran kejelekan di dalam dalil tidak dilakukan secara khusus kepada Allah, tetapi terkadang dengan penyandaran umum, seperti firman Allah azza wajalla,اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ…[QS Az-Zumar 62]“Allah Yang Menciptakan Segala Sesuatu.”Dan terkadang disandarkan kejelekan tersebut kepada penyebabnya, sebagaimana firman Allah,مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ[QS Al-Falaq 2]“Dari kejelekan apa yang dia ciptakan.”Dan terkadang Allah Subhānahu wa Ta’āla menggunakan kalimat yang pasif, sebagaimana firman Allah,وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا[QS Al-Jinn 10]“Dan sesungguhnya kami (bangsa jin) tidak mengetahui apakah kejelekan yang diinginkan terhadap penduduk bumi ataukah Rabb mereka menginginkan bagi penduduk bumi kebaikan.”

💬 0 komentar📅 17 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 8

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 8”.Diantara amalan malaikat & tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta yang ke-4 adalah,⑷ MENJALANKAN AWAN & MENURUNKAN HUJANAllāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا“Maka demi malaikat-malaikat yang menggiring awan.” (Ash-Shāffāt 2)Dan diantara malaikat-malaikat tersebut adalah Ar-Ra’d, sebagaimana telah berlalu haditsnya.Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa suatu saat seorang laki-laki sedang di tanah yang lapang. Tiba-tiba dia mendengar suara dari arah mendung, “Airilah kebun Fulān”. Maka bergeraklah awan tersebut dan mencurahkan airnya disuatu bidang tanah.Yang kelima diantara amalan malaikat & tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta adalah,⑸ MENGURUS GUNUNGRasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,فنظرت فإذا فيها جبريل، فناداني فقال: إن الله قد سمع قول قومك لك وما ردوا عليك، وقد بعث إليك ملك الجبال لتأمره بما شئت فيهم فناداني ملك الجبال، فسلم عليَّ، ثم قال: يا محمد فقال ذلك فيما شئت؟ إن شئت أن أطبق عليهم الأخشبين“Maka aku melihat tiba-tiba Jibrīl memanggilku dan berkata, ‘Sesungguhnya Allāh telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bantahan mereka kepadamu. Dan sungguh Allāh telah mengutus malaikat gunung supaya kamu memerintahnya sesuai dengan kehendakmu’. Kemudian malaikat gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, seperti yang diucapkan Jibrīl, kalau kamu menghendaki maka aku akan menjatuhkan 2 gunung yang keras ini ke atas mereka’.” (HR Bukhāri III/1180, No. 3059 dan Muslim III/1420, no. 1795)⑹ MENIUP SANGKAKALARasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,كيف أنعم وقد التقم صاحب القرن القرن وحنى جبهته وأصغى سمعه ، ينتظر أن يؤمر أن ينفخ فينفخ“Bagaimana aku bisa merasa nikmat sedangkan peniup sangkakala telah menaruh sangkakala di mulutnya, mengerutkan dahi, memasang telinganya, menunggu sewaktu-waktu diperintahkan oleh Allāh untuk meniup maka dia akan meniup.” (Hadīts shahīh diriwayatkan oleh Tirmidzi IV/42, no. 2548)Dan telah berlalu sebagian sifat malaikat peniup sangkakala.

💬 0 komentar📅 17 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 19 : Makna Ucapan Rasulullãh ﷺ “Kejelekan Tidak Kepadamu"

Halaqah 19 :Makna Ucapan Rasulullãh ﷺ “Kejelekan Tidak Kepadamu"🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAllah Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat maupun yang memudhoroti, yang baik maupun yang buruk.Adapun sabda Nabi ﷺ di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,والشر ليس إليك”Dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.”Maka hadits ini tidak menunjukkan bahwa kejelekan tidak dicipta oleh Allah.Para ulama telah menjelaskan bahwa makna hadits ini:1. Ini adalah bentuk adab kita kepada Allah azza wajalla. Tidak boleh kita berkata “Wahai Yang Menciptakan kejelekan” atau mengatakan “Wahai Pencipta Babi” meskipun Allah Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah Yang Menciptakan itu semua.2. Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak menciptakan kejelekan, secara murni kejelekan. Kejelekan yang Allah ciptakan pasti ada hikmahnya. Dilihat dari sisi hikmah inilah kejelekan yang menimpa manusia tersebut adalah baik di pandangan Allah azza wajalla, maka tidak boleh disandarkan kejelekan kepada Allah azza wajalla.Misalnya Allah mentakdirkan rezeki.Ada diantara manusia yang diluaskan rezekinya dan ada yang disempitkan.Disempitkan dengan hikmah dan diluaskan dengan hikmah.Dan diantara hikmah disempitkan rezeki seseorang adalah supaya dia tidak berlebihan di dunia, supaya dia banyak berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah.Dan diantara hikmahnya adalah supaya terjadi saling membutuhkan antara orang yang kaya dan orang yang miskin.3. Ada di antara ulama yang mengatakan bahwa makna ucapan Nabi ﷺ “Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu” maksudnya tidak boleh bertaqarrub kepada Allah dengan kejelekan.4. Ada di antara ulama yang mengatakan bahwa maknanya kejelekan tidak akan sampai kepada Allah, tetapi kebaikan itulah yang akan sampai kepada Allah.Penyandaran kejelekan di dalam dalil tidak dilakukan secara khusus kepada Allah, tetapi terkadang dengan penyandaran umum, seperti firman Allah azza wajalla,اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ…“Allah Yang Menciptakan Segala Sesuatu.”(QS. Az-Zumar: 62)Dan terkadang disandarkan kejelekan tersebut kepada penyebabnya, sebagaimana firman Allah,مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ“Dari kejelekan apa yang dia ciptakan.”(QS. Al-Falaq: 2)Dan terkadang Allah Subhānahu wa Ta’āla menggunakan kalimat yang pasif, sebagaimana firman Allah,وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا“Dan sesungguhnya kami (bangsa jin) tidak mengetahui apakah kejelekan yang diinginkan terhadap penduduk bumi ataukah Rabb mereka menginginkan bagi penduduk bumi kebaikan.”(QS. Al-Jinn: 10)@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 17 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 September 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

HSI09-18 — Kapan Seseorang Boleh Beralasan dengan Takdir?

Takdir boleh dijadikan hujjah dalam menghadapi musibah, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan dosa dan maksiat.Allah ﷻ berfirman:مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”(QS. At-Taghabun: 11)Ketika tertimpa musibah, Nabi ﷺ mengajarkan agar tidak larut dalam penyesalan dengan mengatakan “seandainya aku melakukan ini, pasti akan begini”, tetapi mengucapkan:قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ“Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”(HR. Muslim)Adapun menjadikan takdir sebagai alasan untuk melakukan maksiat adalah tidak dibenarkan. Seseorang tidak boleh berkata, “Aku bermaksiat karena ini sudah menjadi takdir Allah.” Allah ﷻ menyebutkan ucapan kaum musyrikin:لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا“Seandainya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan mempersekutukan-Nya, demikian pula bapak-bapak kami.”(QS. Al-An‘am: 148)Ucapan tersebut tidak menjadi alasan yang membenarkan kesyirikan mereka.Adapun kisah Nabi Adam dan Musa ‘alaihimas salam, Nabi Adam memang berhujjah dengan takdir, tetapi bukan untuk membenarkan dosa yang telah beliau lakukan. Beliau berhujjah dengan takdir atas musibah keluarnya beliau dari surga. Karena itu, Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa Adam mengalahkan Musa dalam perdebatan tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)Kesimpulan: Takdir dijadikan hujjah untuk menerima musibah yang telah terjadi, sedangkan dalam dosa dan maksiat seseorang harus mengakui kesalahan, bertaubat, dan tidak berlindung di balik takdir.

💬 0 komentar📅 16 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 93 | Ahlus Sunnah Beriman kepada Malaikat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau berpindah kepada poin yang lain tentang di antara aqidah Ahlussunnah wal jama’ah. Kita lihat di sini bagaimana beliau melompat-lompat, berbeda dengan apa yang kita temukan dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyah. Oleh karena itu, ada sebagian ahlul ‘ilmi yang berusaha untuk mengurutkan, sehingga yang kiranya satu pembahasan dapat dikumpulkan.Beliau mengatakanوَنُؤْمِنُ بِالمَلَائِكَةِ وَالنَّبِيِّينَ، وَالكُتُبِ المُنْزَلَةِ عَلَىٰ المُرْسَلِينَDan kita beriman kepada para malaikat, para nabi, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada para mursalin.Di sini, beliau berbicara tentang rukun iman yang lain. Rukun iman yang pertama, yaitu Al-Iman Billāh, alhamdulillāh, sudah banyak beliau bicarakan dalam halaman-halaman terdahulu. Pembahasan tentang Tauhid dengan tiga macamnya, banyak fokus tentang masalah iman dengan nama-nama dan juga sifat-sifat Allāh ﷻ, dan iman dengan takdir juga demikian, telah beliau sampaikan secara panjang lebar dan diulang-ulang oleh beliau raḥimahullāh.Sekarang, beliau ingin membawa kita kepada rukun iman yang lain, yaitu Al-Imān bil-Malāʾikah wa al-Nabiyyīn wal-Kutub, dan ini semuanya termasuk rukun iman yang enam, yang tidak sah keimanan seseorang kecuali dengan beriman kepada seluruh rukun iman. Allāh ﷻ berfirman:لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ(QS. Al-Baqarah: 177)Akan tetapi yang namanya kebaikan itu adalah engkau beriman kepada Allāh ﷻ dan juga hari akhir, para malaikat, beriman dengan kitab-kitab, dan juga beriman dengan para nabiDan Allāh ﷻ berfirmanآمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ(QS. Al-Baqarah: 285)Disebutkan pada ayat yang pertama tadi lima rukun iman. Demikian pula dalam ayat yang kedua ini juga disebutkan 5 rukun iman: beriman kepada Allāh ﷻ, kepada malaikat, kepada kitab, kepada nabi, dan juga beriman kepada hari akhir.Ayat yang kedua karena Allāh ﷻ mengatakan di akhir ayatوَإِلَيْكَ الْمَصِيرُKepadamu Ya Allāh ﷻ tempat kembali, ini menunjukkan tentang beriman kepada hari akhir.Ayat-ayat yang berkaitan dengan takdir sebagaimana sudah berlalu banyak sekali,إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ“Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan takdir.”(QS. Al-Qamar: 49)وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا“Dan Allāh ﷻ menciptakan segala sesuatu, dan mentakdirkan.”(QS. Al-Furqan: 2)وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا“Dan urusan Allāh ﷻ adalah takdir yang sudah ditakdirkan.”(QS. Al-Ahzab: 38)Harus kita mengimani seluruh rukun iman. Dan Nabi ﷺ mengumpulkan seluruh rukun iman tadi dalam hadits Jibril ketika beliau ditanya tentang apa itu iman, mengatakan,أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ“Engkau beriman kepada Allāh ﷻ, kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, beriman kepada hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.”وَنُؤْمِنُ بِالمَلَائِكَةِDan kita, yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah, beriman dengan para malaikat.“Al-Malā’ikah” dalam terjemahannya adalah utusan, al-alukah artinya adalah risalah atau surat. Al-Malā’ikah artinya adalah para utusan, karena mereka adalah utusan Allāh ﷻ.Dan cara beriman dengan para malaikat Allāh ﷻ di antaranya adalah meyakini bahwasanya mereka ini adalah ada, bukan khayalan atau mitos. Mereka adalah wujud (ada), sebagaimana Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’ān tentang sebagian nama-nama mereka, menyebutkan tentang amalan-amalan mereka. Ada di antara mereka yang mencabut nyawa, ada yang membawa wahyu, ada yang mendatangi Nabi Ibrahim, ada yang mendatangi Maryam.Menunjukkan bahwasanya malaikat itu ada; dia bukan hanya sekadar sesuatu yang baik atau bisikan kebaikan sebagaimana diyakini oleh sebagian orang. Kita yakini bahwasanya malaikat itu adalah ada.

💬 0 komentar📅 16 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 93

Rabu, 16 September 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 93Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Ketujuh (Hadits Abu Hurairah – Bagian 02)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMatan Hadits UtamaLanjutan Hadits Telaga (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu)​«...فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الحَوْضِ، أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ البَعِيرُ الضَّالُّ، أُنَادِيهِمْ: أَلَا هَلُمَّ! فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا! سُحْقًا!»"Maka sesungguhnya mereka akan datang dalam keadaan wajah, tangan, dan kaki mereka putih bersinar karena bekas wudhu. Dan aku mendahului mereka di atas telaga. Ketahuilah, sungguh akan ada beberapa orang yang diusir dari telagaku sebagaimana diusirnya unta yang tersesat. Aku memanggil mereka: 'Kemarilah!' Lalu dikatakan: 'Sesungguhnya mereka telah mengganti (agama/sunnah) setelahmu.' Maka aku berkata: 'Suhqan! Suhqan! (Maka menjauhlah! Menjauhlah!)''Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari tentang Rombongan yang Diseret ke Neraka«بَيْنَا أَنَا قَائِمٌ إِذَا زُمْرَةٌ، حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَبَيْنِهِمْ، فَقَالَ: هَلُمَّ، فَقُلْتُ: أَيْنَ؟ قَالَ: إِلَى النَّارِ وَاللَّهِ، قُلْتُ: مَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ: إِنَّهُمُ ارْتَدُّوا بَعْدَكَ عَلَى أَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى... قَالَ: فَلاَ أُرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ إِلَّا مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ»"Ketika aku sedang berdiri (di atas telaga), tiba-tiba ada sekelompok orang (zumrah). Hingga ketika aku mengenali mereka (dan mereka mengenali aku), keluarlah seorang laki-laki (malaikat) dari antaraku dan antara mereka, lalu dia berkata: 'Ayo!' Aku bertanya: 'Ke mana?' Dia menjawab: 'Ke neraka, demi Allah!' Aku bertanya: 'Apa gerangan dosa mereka?' Dia menjawab: 'Sesungguhnya mereka murtad (berpaling ke belakang) sepeninggalmu.' ... Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Maka aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka (dari neraka) kecuali seperti hamalin-na'am (ternak yang tersia-sia/sangat sedikit).'"Poin Kandungan MateriPengusiran dari Telaga dan Makna Baddalū (Mengganti Agama/Sunnah)​Permisalan Unta Tersesat (Al-Ba'īr Adh-Dhāll): Sebagaimana penggembala mengusir unta asing yang mau masuk ke telaga miliknya, demikian pula golongan ini diusir dari telaga Rasulullah ﷺ.​Sebab Pengusiran (Baddalū Ba'daka): Mereka merubah dan mengganti ajaran syariat serta sunnah Nabi ﷺ setelah beliau wafat dengan cara membuat perkara baru (bid'ah).​Sikap Nabi ﷺ (Suhqan! Suhqan!): Ketika mengetahui mereka mengganti ajaran agama, Nabi ﷺ mendoakan kebinasaan/pengusiran bagi mereka dengan kata "Suhqan! Suhqan!" (Jauh-jauh dan menjauhlah!). Ini menunjukkan kehinaan dan celaan besar bagi pelaku bid'ah.Penjelasan Hadits Riwayat Al-Bukhari (Penyeretan ke Neraka)​Keberadaan Malaikat di Telaga: Saat Rasulullah ﷺ berdiri melayani umatnya dan mengenali satu rombongan (zumrah) dari bekas wudhunya, muncul malaikat yang memotong jalan dan mengajak rombongan tersebut menuju neraka.​Makna Murtad ke Belakang (Irtaddū 'alā adbārihim al-qahqarā): Mencakup orang yang benar-benar murtad secara total dari Islam dan juga orang-orang yang berpaling dari Sunnah menuju bidah.Makna Ungkapan Hamalin-Na'am (هَمَلِ النَّعَمِ)Pengertian:Hamal artinya tersia-siakan/terlepas, sedangkan an-na'am adalah hewan ternak (seperti unta). Ternak yang tersia-sia di alam bebas jumlahnya sangat sedikit dibanding ternak yang ada di gembalaan.​Maksud Sabda Nabi ﷺ:Tidak ada yang selamat di antara kelompok pelaku kebid'ahan/penyimpangan tersebut dari ancaman neraka kecuali sangat sedikit.Konsekuensi Hukum & Status Pelaku Bid'ah di Akhirat​Hukum Pelaku Bid'ah di Neraka:Pelaku bid'ah yang kebid'ahannya tidak sampai tingkat kafir (mukaffirah) tetap berada di bawah kehendak Allah (tahta masyī'atillāh). Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazabnya di neraka terlebih dahulu karena kebid’ahannya; dan jika Allah menghendaki, Allah akan mengampuninya.​Keharusan Istiqamah: Hadits ini merupakan peringatan keras (tahdzīr) agar tidak membuat hal baru dalam agama dan menjadi dorongan kuat untuk senantiasa istiqamah di atas Islam dan Sunnah yang murni.

💬 0 komentar📅 16 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 18

Halaqah yang ke delapan belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Kapan Seseorang Boleh Beralasan dengan Takdir”.Takdir dijadikan hujjah dan alasan di dalam musibah dan bencana dan tidak boleh dijadikan hujjah dan alasan di dalam dosa dan kemaksiatan.Ketika musibah seseorang mengatakan,“Ini adalah takdir Allah.”“Ini adalah dengan izin Allah.”Atau mengatakan, “Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.”Maka hal ini akan membawa ketenangan dan kebaikan pada dirinya.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)[QS At-Taghabun 11]“Tidaklah menimpa sebuah musibah kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan memberikan petunjuk kepada dirinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”Dan Nabi ﷺ bersabda,وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ”Dan apabila engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau mengatakan, seandainya aku melakukan demikian niscaya akan demikian dan demikian, akan tetapi ucapkanlah, ini adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan. Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ ini membuka amalan syaithan.” [HR Muslim]Namun ketika berbuat maksiat dan dinasihati maka tidak boleh seseorang berhujjah dengan takdir atas maksiat yang dia lakukan kemudian dia mengatakan, “Saya berbuat maksiat karena takdir Allah.” atau mengatakan “Kalau Allah menghendaki niscaya saya tidak berbuat maksiat.” dll.Orang-orang Musyrikin ketika dahulu didakwahi oleh para Nabi untuk bertauhid mereka menolak dan mereka berhujjah dengan takdir atas kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ[QS An-Nahl 35]“Dan berkata orang-orang Musyrikin, ‘Seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak menyembah selain Allah sedikit pun, kami dan bapak-bapak kami, dan niscaya kami tidak mengharamkan sedikit pun.’ Demikianlah orang-orang sebelum mereka melakukan. Maka tidak ada kewajiban atas rasul kecuali menyampaikan dengan jelas.”Adapun ucapan Nabi Adam ‘alaihissalam yang disebutkan di dalam hadits,▫️ احتجَّ آدمُ وموسى ، فقالَ لَهُ موسَى : أنتَ آدمُ الَّذي أخرجتكَ خطيئتُكَ منَ الجنَّةِ ؟ فقالَ لَهُ آدمُ : أنتَ موسى الَّذي اصطفاكَ اللَّهُ برسالتِه وبكلامِه ، ثمَّ ، تَلومُني على أمرٍ قُدِّرَ عليَّ قبلَ أن أُخلَقَ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فحجَّ آدمُ موسَى“Adam dan Musa saling berhujjah, maka berkata Musa ‘Engkau adalah Adam yang dosamu telah mengeluarkanmu dari surga.’ Berkata Adam, ‘Engkau adalah Musa yang Allah telah memilihmu sebagai seorang Rasul dan memilihmu sebagai manusia yang pernah diajak bicara oleh Allah kemudian engkau mencelaku atas sebuah perkara yang telah ditakdirkan untukku sebelum aku diciptakan.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Adam telah mengalahkan Musa dalam berhujjah.’ Beliau ﷺ mengucapkannya dua kali.” [HR Al Bukhari dan Muslim]Maka perlu diketahui bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam di dalam hadits ini tidak berhujjah dengan takdir atas dosa yang beliau lakukan akan tetapi beliau berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpa beliau dan keturunan beliau, yaitu musibah keluarnya beliau dari surga yang efeknya juga dirasakan oleh keturunan beliau ‘alaihissalam.

💬 0 komentar📅 16 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 18: Kapan seseorang boleh beralasan dengan Taqdir

Halaqah 18 : Kapan seseorang boleh beralasan dengan Taqdir🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىTakdir dijadikan hujjah dan alasan di dalam musibah dan bencana dan tidak boleh dijadikan hujjah dan alasan di dalam dosa dan kemaksiatan.Ketika musibah seseorang mengatakan,“Ini adalah takdir Allah.”“Ini adalah dengan izin Allah.”Atau mengatakan, “Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.”Maka hal ini akan membawa ketenangan dan kebaikan pada dirinya.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)“Tidaklah menimpa sebuah musibah kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan memberikan petunjuk kepada dirinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. At-Taghabun: 11)Dan Nabi ﷺ bersabda,وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ”Dan apabila engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau mengatakan, seandainya aku melakukan demikian niscaya akan demikian dan demikian, akan tetapi ucapkanlah, ini adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan. Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ ini membuka amalan syaithan.” (HR. Muslim)Namun ketika berbuat maksiat dan dinasihati maka tidak boleh seseorang berhujjah dengan takdir atas maksiat yang dia lakukan kemudian dia mengatakan,“Saya berbuat maksiat karena takdir Allah.” atau mengatakan “Kalau Allah menghendaki niscaya saya tidak berbuat maksiat.” dll.Orang-orang Musyrikin ketika dahulu didakwahi oleh para Nabi untuk bertauhid mereka menolak dan mereka berhujjah dengan takdir atas kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ“Dan berkata orang-orang Musyrikin, ‘Seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak menyembah selain Allah sedikit pun, kami dan bapak-bapak kami, dan niscaya kami tidak mengharamkan sedikit pun.’ Demikianlah orang-orang sebelum mereka melakukan. Maka tidak ada kewajiban atas rasul kecuali menyampaikan dengan jelas.”(QS. An-Nahl: 35)Adapun ucapan Nabi Adam ‘alaihissalam yang disebutkan di dalam hadits,▫️ احتجَّ آدمُ وموسى ، فقالَ لَهُ موسَى : أنتَ آدمُ الَّذي أخرجتكَ خطيئتُكَ منَ الجنَّةِ ؟ فقالَ لَهُ آدمُ : أنتَ موسى الَّذي اصطفاكَ اللَّهُ برسالتِه وبكلامِه ، ثمَّ ، تَلومُني على أمرٍ قُدِّرَ عليَّ قبلَ أن أُخلَقَ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فحجَّ آدمُ موسَى“Adam dan Musa saling berhujjah, maka berkata Musa ‘Engkau adalah Adam yang dosamu telah mengeluarkanmu dari surga.’ Berkata Adam, ‘Engkau adalah Musa yang Allah telah memilihmu sebagai seorang Rasul dan memilihmu sebagai manusia yang pernah diajak bicara oleh Allah kemudian engkau mencelaku atas sebuah perkara yang telah ditakdirkan untukku sebelum aku diciptakan.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Adam telah mengalahkan Musa dalam berhujjah.’ Beliau ﷺ mengucapkannya dua kali.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)Maka perlu diketahui bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam di dalam hadits ini tidak berhujjah dengan takdir atas dosa yang beliau lakukan akan tetapi beliau berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpa beliau dan keturunan beliau, yaitu musibah keluarnya beliau dari surga yang efeknya juga dirasakan oleh keturunan beliau ‘alaihissalam.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 16 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 18 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 06)

Mengenal Allah melalui ibadah doa, khauf (takut), dan raja’ (harap).🌱 1. Doa adalah IbadahDalilNabi ﷺ bersabda:الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa adalah ibadah.”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Kemudian beliau membaca firman Allah:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagimu.”(QS. Ghafir: 60)Pelajaran PentingDoa merupakan salah satu bentuk ibadah.Karena ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah, maka doa juga hanya boleh ditujukan kepada Allah.Allah memerintahkan manusia untuk berdoa kepada-Nya, dan setiap perkara yang diperintahkan serta dicintai Allah termasuk ibadah.Pada akhir ayat Allah berfirman:إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِيPadahal awal ayat berbicara tentang doa. Ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah.Bahaya Berdoa kepada Selain AllahBerdoa kepada selain Allah termasuk:Syirik akbar (syirik besar).Kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam.Kezaliman yang sangat besar.Contohnya:Meminta keselamatan kepada orang yang telah meninggal.Meminta rezeki kepada wali atau orang saleh yang sudah wafat.Memohon agar terhindar dari musibah kepada selain Allah.Dalil TambahanAllah berfirman:وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ“Janganlah engkau berdoa kepada selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat kepadamu.”(QS. Yunus: 106)Dan:وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“Jika Allah menimpakan mudarat kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.”(QS. Yunus: 107)KesimpulanSeorang muslim:Meminta rezeki hanya kepada Allah.Meminta kesehatan hanya kepada Allah.Meminta kesuksesan hanya kepada Allah.Meminta perlindungan dari musibah hanya kepada Allah.Karena hanya Allah yang mampu memberi manfaat dan menolak mudarat.🌱 2. Khauf (Takut) adalah IbadahDalilAllah berfirman:فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ“Janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali Imran: 175)Pelajaran PentingTakut kepada Allah adalah ibadah.Semakin seseorang takut kepada Allah dengan benar, semakin dicintai Allah.Takut yang terpuji adalah takut yang mendorong seseorang:Taat kepada Allah.Meninggalkan maksiat.Menjaga diri dari dosa.Takut yang TercelaYaitu rasa takut yang berlebihan hingga:Putus asa dari rahmat Allah.Merasa dosanya tidak mungkin diampuni.Hilang harapan terhadap pertolongan Allah.Allah berfirman:وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ“Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”(QS. Yusuf: 87)Seorang mukmin harus menggabungkan rasa takut dengan harapan kepada Allah.Khauf Thabi’i (Takut yang Bersifat Alami)Ini bukan ibadah dan tidak tercela.Contohnya:Takut kepada api.Takut tenggelam.Takut terhadap bahaya yang nyata.Takut karena merasa bersalah.Nabi Musa ‘alaihis salam pernah mengalami rasa takut seperti ini.Allah berfirman:أَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ“Maka jadilah Musa di kota itu dalam keadaan takut dan waspada.”(QS. Al-Qashash: 18)KesimpulanAda dua jenis takut:Khauf ibadah → hanya untuk Allah.Khauf thabi’i (alami) → bagian dari tabiat manusia dan tidak tercela.🌱 3. Raja’ (Harapan) adalah IbadahDalilAllah berfirman:فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya…”(QS. Al-Kahfi: 110)Pelajaran PentingMengharap rahmat Allah adalah ibadah.Mengharap ampunan Allah adalah ibadah.Mengharap surga Allah adalah ibadah.Semakin besar harapan seorang hamba kepada Allah, semakin dicintai Allah.Namun harapan yang benar harus disertai amal saleh.Karena Allah melanjutkan ayat tersebut:فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا“Maka hendaklah ia beramal saleh.”Dan:وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”KesimpulanHarapan yang benar adalah:Mengharap rahmat Allah.Mengharap ampunan Allah.Mengharap surga Allah.Disertai amal saleh dan tauhid.Bukan sekadar berharap tanpa berusaha.🌿 Inti HalaqahTiga amalan hati yang termasuk ibadah dan wajib ditujukan hanya kepada Allah:Doa → hanya kepada Allah.Khauf (takut) → takut yang melahirkan ketaatan hanya kepada Allah.Raja’ (harap) → berharap rahmat dan pahala hanya kepada Allah.Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan doa, rasa takut, dan harapan secara seimbang:Takut kepada azab-Nya sehingga menjauhi maksiat.Berharap rahmat-Nya sehingga tidak berputus asa.Berdoa hanya kepada-Nya karena hanya Dia yang mampu memberi manfaat dan menolak mudarat.Semakin sempurna tauhid seseorang, semakin kuat pula doanya, rasa takutnya kepada Allah, dan harapannya kepada Allah semata. 🌿

💬 0 komentar📅 16 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 7

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 7”.Diantara amalan malaikat yang kita diperintahkan untuk beriman dengannya adalah amalan mereka yang berkaitan dengan alam semesta.Allāh adalah Dzat yang tidak butuh kepada makhluq namun Allāh ingin menunjukkan kebesarannya kepada kita. Allāh telah menugaskan para malaikat untuk mengatur alam semesta dengan perintah Allāh, izin Allāh dan kehendak Allāh.Allāh berfirman,فَالْمُدَبِّرَات أَمْرًا“Maka demi malaikat yang mengatur perkara.” (An-Nāzi’āt 5)Diantara amalan malaikat dan tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta,⑴ MEMIKUL ‘ARSYMalaikat yang memikul ‘arsy di hari kiamat ada 8. Sedangkan di dunia maka tidak ada yang menerangkan jumlah mereka.Allāh berfirman,وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ“Dan para malaikat di pinggir-pinggir langit dan pada hari itu 8 malaikat memikul ‘arsy Rabbmu.” (Al-Hāqqah 17)Dan Allāh berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“Dan malaikat-malaikat yang memikul ‘arsy dan malaikat-malaikat yang di sekitar ‘arsy bertasbih dengan memuji Rabb mereka dan beriman dengan Allāh dan memohonkan ampun untuk orang-orang yang beriman.” (Ghāfir 7)Yang ke-2 diantara tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta adalah,⑵ MENJAGA SURGAAllāh berfirman,وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ“Dan digiring orang-orang yang bertaqwa ke dalam surga secara berkelompok-berkelompok sehingga ketika mereka mendatangi surga dan dibuka pintu-pintunya dan berkata para panjaganya, ‘Keselamatan atas kalian, kalian telah baik maka masuklah ke dalam surga selama-lamanya’.” (Az-Zumār 73)Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,آتي باب الجنة يوم القيامة فأستفتح فيقول الخازن : من أنت ؟ فاقول : محمد . فيقول : بك أمرت لا أفتح لأحد قبلك“Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat kemudian aku meminta dibukakan. Maka berkatalah penjaga surga, ‘Siapakah kamu?’ Kemudian Aku menjawab, ‘Muhammad.’ Kemudian dia berkata, ‘Denganmulah aku diperintah, aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelummu’.” (HR Muslim I/188 no. 197)Dan diantara tugas malaikat yang berkaitan dengan alam semesta adalah,⑶ MENJAGA NERAKAJumlah penjaga neraka ada 19 sebagaimana firman Allāh,عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ“Di dalam neraka ada 19 (yaitu malaikat penjaga).” (Al-Muddatstsir 30)◆ Para ulama berselisih tentang makna 19.√ Ada yang mengatakan 19 malaikat tersebut adalah para pembesar penjaga neraka dan bersama mereka malaikat-malaikat lain yang jumlahnya sangat banyak.√ Dan ada diantara ulama yang mengatakan bahwa mereka 19 malaikat saja. Dan ini yang difahami dari keterangan Ibnu Katsīr dan juga Syaikh ‘Abdurrahmān As-Sa’diy di dalam tafsirnya.Diantara mereka adalah malaikat Mālik. Dalam hadīts ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam isrā dan juga mi’rāj dikatakan kepada Beliau,وأما الرجل الكريه المرآة الذي عند النار يحشها ويسعى حولها فإنه مالك خازن جهنم“Dan adapun yang sangat buruk rupanya yang berada di neraka yang menghidupkan api dan berjalan di sekitarnya, maka dia adalah Mālik Penjaga Neraka.” (HR Bukhāri no.7047)Penyebutan jumlah penjaga neraka ini adalah ujian, kita harus beriman dengan jumlah 19 tersebut, harus yakin dan tidak boleh ragu-ragu.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَما جَعَلنا أَصحٰبَ النّارِ إِلّا مَلٰئِكَةً ۙ وَما جَعَلنا عِدَّتَهُم إِلّا فِتنَةً لِلَّذينَ كَفَروا لِيَستَيقِنَ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ وَيَزدادَ الَّذينَ ءامَنوا إيمٰنًا ۙ وَلا يَرتابَ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ وَالمُؤمِنونَ ۙ وَلِيَقولَ الَّذينَ فى قُلوبِهِم مَرَضٌ وَالكٰفِرونَ ماذا أَرادَ اللَّهُ بِهٰذا مَثَلًا كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشاءُ وَيَهدى مَن يَشاءُ وَما يَعلَمُ جُنودَ رَبِّكَ إِلّا هُوَ وَما هِىَ إِلّا ذِكرىٰ لِلبَشَرِ“Dan tidaklah Kami jadikan para penjaga nereka kecuali para malaikat-malaikat. Dan tidaklah Kami jadikan jumlah tersebut kecuali sebagai ujian bagi orang-orang yang kāfir. Dan supaya yakin orang-orang Ahlul kitab dan bertambah keimanan orang-orang yang beriman dan tidak ragu orang-orang Ahlul Kitab & orang-orang yang beriman dan supaya orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit. Dan orang-orang kāfir berkata, ‘Apa yang Allāh inginkan dari permisalan ini?’. Demikianlah Allāh menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki. Dan tidak mengetahui jumlah pasukan Rabbmu kecuali Dia. Dan tidaklah ini kecuali peringatan bagi manusia.” (Al-Muddatstsir 31)Merekalah yang kelak akan menyambut penduduk neraka dan mencela mereka.Allāh berfirman,وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ (٧١) قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَافَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ (٧٢)“Dan akan digiring orang-orang kāfir dalam Jahannam berkelompok-berkelompok sehingga apabila mereka mendatanginya dibukalah pintu-pintu Jahannam. Dan berkatalah para penjaga neraka kepada mereka, ‘Bukankah telah datang kepada kalian Rasul-rasul dari kalangan kalian yang membacakan atas kalian ayat-ayat Rabb kalian dan memperingatkan kalian dengan pertemuan hari kalian ini?’ Mereka menjawab, ‘Iya, akan tetapi telah tetap kalimat adzab bagi orang-orang yang kāfir’. Dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam pintu-pintu Jahannam dalam keadaan kekal di dalamnya.’ Maka Jahannam adalah sejelek-jelek tempat kembali bagi orang-orang yang sombong.” (Az-Zumār 71-72)Merekalah yang kelak akan mengadzab penduduk neraka, Allāh berfirman kepada mereka,خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (٣٠) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (٣١) ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ (٣٢)“Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta.” (Al-Hāqqah 30-32)Telah berlalu bahwa malaikat penjaga neraka adalah malaikat yang keras hati dan kuat badannya. Kelak, para penduduk neraka akan meminta kepada penjaga neraka supaya penjaga neraka memohon kepada Allāh meringankan adzab bagi mereka.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ (٤٩) قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (٥٠)“Dan berkata para penduduk neraka kepada para penjaga Jahannam, ‘Hendaklah kalian meminta kepada Rabb kalian supaya meringankan bagi kami satu hari dari adzab ini’. Para penjaga mengatakan, ‘Bukankah telah datang kepada kalian Rasul-rasul kalian dengan bukti-bukti yang nyata?’ Mereka mengatakan, ‘Iya.’ Maka berkata para penjaga, ‘Maka hendaklah kalian berdo’a sendiri.’ Dan tidaklah do’a orang-orang kāfir kecuali dalam kesia-kesia-siaan.” (Ghāfir 49-50)Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 16 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 92 | Ahlus Sunnah Meyakini Bahwa Allāh ﷻ Berbicara dengan Nabi Musa dengan Sebenar-benar Ucapan

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-92 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًاDan bahwasanya Allāh ﷻ berbicara kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalām taklīman (dengan sebenar-benarnya pembicaraan), sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’ān. Di antaranya adalah firman Allāh ﷻ:وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًاDan Allāh berbicara kepada Mūsā dengan pembicaraan yang sebenarnya.Kata taklīman di sini adalah maf’ūl muṭlaq yang diantara manfaatnya adalah untuk menguatkan, seperti ketika seseorang mengatakan,ضَرَبْتُهُ ضَرْبًاaku memukulnya dengan sebenar-benar pukulan, menunjukkan bahwa Allāh benar-benar berbicara kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalām. Ini bukanlah majas, seperti yang disangka oleh sebagian orang. Terlebih lagi, Allāh ﷻ berfirman:وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ“Dan Rabb-nya berbicara kepadanya.”هُ (hu) ini adalah dhamir yang kembali kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalāmوَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُdan Allāh berbicara kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalām.Ini adalah keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada Nabi Mūsā ʿalayhis-salām, dan Allāh ﷻ berbicara kepada manusia ini adalah sebuah iḥrām sebuah tashrīf (pemuliaan). Allāh ﷻ berfirman:تِلْكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُ(QS. Al-Baqarah: 253)Itu adalah para Rasul yang kami utamakan sebagian di atas sebagian yang lain, di antara mereka ada yang Allāh ﷻ ajak bicara.Menunjukkan ini adalah sebuah keutamaan. Allāh ﷻ utamakan sebagian Rasul di atas sebagian yang lain. Tidak semua Rasul diajak bicara oleh Allāh ﷻ, mereka adalah manusia yang terbaik, manusia pilihan.اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ(QS. Al-Ḥajj: 75)Allāh ﷻ pilih Rasul-Rasul tersebut di antara manusia, namun tidak semua mereka diajak bicara oleh Allāh ﷻ. Ada di antara mereka yang Allāh ﷻ utamakan, Allāh ﷻ muliakan, dengan Allāh ﷻ berbicara langsung kepada mereka. Di antara mereka adalah Nabi Mūsā ʿalayhis-salām.Sehingga, beliau adalah kalīmullāh, orang yang pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ. Kalīm ini maknanya adalah mukallam, yaitu yang pernah diajak bicara, bukan mukallim, bukan yang berbicara kepada Allāh ﷻ. Kalau yang berbicara kepada Allāh ﷻ banyak; kita masing-masing, ketika berdoa di dalam shalat kita, di luar shalat kita berdoa dan memuji, kita berbicara kepada Allāh ﷻ. Ketika kita mengatakanأستغفرك يا اللهاللهم اغفر ليرَبِّ اغفر ليسُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَاkita berbicara kepada Allāh ﷻ. Itu adalah sesuatu yang umum; semuanya juga berbicara kepada Allāh ﷻ. Tapi yang tidak umum, yang khusus adalah ketika Allāh ﷻ berbicara kepada seseorang. Inilah makna kalīmullāh, yaitu orang yang pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ.Nabi ﷺ juga pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ. Ketika di-miʿrajkan, maka Allāh ﷻ berbicara langsung kepada Nabi kita, Muhammad ﷺ. Berbicara langsung bukan berarti melihat Allāh ﷻ, sebagaimana telah berlalu, tapi disana ada hijab.مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ، أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِمَا يَشَاءُ بِإِذْنِهِAllāh ﷻ berbicara kepada Nabi Muhammad ﷺ tetapi di balik hijab. Nabi ﷺ tidak pernah melihat Allāh ﷻ di dunia.Di antara Nabi yang pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ adalah Nabi Ādam ʿalayhis-salām, sebagaimana dalam hadits, beliau ʿalayhis-salām adalah Nabiyun mukallamun, beliau adalah seorang Nabi yang pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ.Kenapa di sini juga disebutkan oleh al-Imām Abu Jaʿfar aṭ-Ṭaḥāwī? Karena orang-orang Jahmiyyah juga mengingkari sifatul kalām, sebagaimana mereka mengingkari sifat mahabbah mereka juga mengingkari sifat al-kalām. Allāh ﷻ tidak berbicara karena menurut mereka, jika kita mensifati Allāh ﷻ dengan kalām, berarti Allāh ﷻ memiliki bibir, lidah, dan seterusnya, berarti menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk. Sehingga mereka mengingkari sifat kalām bagi Allāh ﷻ.Mereka mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ menciptakan kalām, bukan Allāh ﷻ berbicara, tapi Allāh ﷻ menciptakan ucapannya; diciptakan di luar, di pohon atau di tempat lain. Yang jelas, Allāh ﷻ tidak memiliki sifat kalām, sehingga mereka pun mengingkari bahwa Allāh ﷻ berbicara kepada Nabi Mūsā ʿalayhis-salām. Seperti yang dikatakan oleh Khālid ibn ʿAbdillāh al-Qasrī sebelum beliau menyembelih Jaʿd ibn Dirham, bahwasanya di antara aqidah Jaʿd ibn Dirham adalah mengingkari Allāh ﷻ berbicara kepada Nabi Mūsā ʿalayhis-salām.إِيمَانًا وَتَصْدِيقًا وَتَسْلِيمًاKita mengatakan itu dengan lisan kita, dan kita dasari dengan keimanan, percaya, dan kepercayaan kita disertai dengan ketenangan, tanpa ada keraguan sedikit pun bahwa Allāh ﷻ menjadikan Ibrāhīm sebagai kekasih-Nya dan berbicara kepada Mūsā sesuai dengan keagungan-Nya.Kecintaan-Nya sesuai dengan keagungan-Nya, ucapan dan kalām-Nya sesuai dengan keagungan-Nya, dan kita membenarkan serta mengimani apa yang Allāh ﷻ sebutkan dalam Al-Qur’ān. Kita membenarkan apa yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam Al-Qur’ān. Bagaimana kita mendustakan firman Allāh ﷻ:وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا(QS. An-Nisā’: 164)وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا(QS. An-Nisā’: 125)Semuanya kita imani, dan kita berserah diri kepada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang mengabarkan, maka termasuk sikap taslīm kita adalah menyerahkan diri terhadap apa yang Allāh ﷻ kabarkan dan kita imani sebagaimana datangnya.فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(QS. An-Nisā’: 65)Tidak beriman mereka sampai menjadikan engkau sebagai hakim di dalam perselisihan mereka kemudian mereka tidak menemukan di dalam hati mereka rasa berat dan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benarnya penyerahan.وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ(QS. Al-Aḥzāb: 36)Jika Allāh ﷻ dan Rasūl-Nya sudah menentukan, tidak ada pilihan lain bagi kita. Inilah keadaan Ahlussunnah wal Jamāʿah.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 September 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

HSI09-17 — Peran Doa dalam Beriman kepada Takdir Allah

Takdir Allah telah ditetapkan dan tertulis, namun hal tersebut tidak berarti seorang muslim meninggalkan doa. Doa merupakan ibadah sekaligus sebab yang Allah perintahkan untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.Allah berfirman:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.’”(QS. Ghafir: 60)Allah juga berfirman:وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah: 186)Rasulullah ﷺ bersabda:الدعاء هو العبادة“Doa adalah ibadah.”(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Beliau ﷺ juga bersabda:وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ“Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa.”(HR. Ibnu Majah, hasan)Hadis tersebut bukan berarti doa dapat melawan takdir Allah yang telah ditetapkan. Doa justru termasuk bagian dari takdir Allah. Misalnya, seseorang ditakdirkan sakit, kemudian ia berdoa memohon kesembuhan, lalu Allah mengabulkan doanya dan menakdirkan kesembuhan baginya.Dengan demikian, doa dan iman kepada takdir tidaklah bertentangan. Seorang mukmin tetap berdoa dan mengambil sebab, karena doa itu sendiri merupakan sebab yang telah Allah tetapkan dalam takdir-Nya.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 92

Halaqah 92Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Ketujuh (Hadits Abu Hurairah – Bagian 01)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMatan Hadits Utama(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا» قَالُوا: أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ، يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَنْتُمْ أَصْحَابِي، وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ» فَقَالُوا: كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ، أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟» قَالُوا: بَلَى، قَالَ: «فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الوُضُوءِ..."Nabi ﷺ bersabda: 'Aku sangat berkeinginan seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita.' Para sahabat bertanya: 'Bukankah kami adalah saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita adalah orang-orang yang belum datang setelahku.' Para sahabat bertanya: 'Bagaimana engkau mengenali orang yang belum datang di antara umatmu?' Beliau bersabda: 'Bagaimana pendapat kalian jika seseorang memiliki kuda yang dahinya putih serta kaki dan tangannya putih di antara kuda-kuda yang sangat hitam polos? Tidakkah dia mengenali kudanya?' Mereka menjawab: 'Tentu, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya mereka akan datang dalam keadaan dahi, tangan, dan kaki mereka bersinar karena bekas wudhu..'"Poin Kandungan MateriPerbedaan Makna Ikhwan dan Ash-habDefinisi Ash-hab (Para Sahabat): Kedudukan yang lebih khusus daripada sekadar saudara se-Islam (ikhwan). Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan beriman dan meninggal di atas keimanan.​Definisi Ikhwan (Saudara): Dalam hadits ini, yang dimaksud adalah seluruh kaum muslimin yang belum datang/belum lahir pada masa hidup Nabi ﷺ hingga akhir zaman.​Kasih Sayang Nabi ﷺ: Hadits ini menunjukkan besarnya rasa cinta dan rahmat Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Beliau memiliki kerinduan di dalam hatinya untuk melihat kaum muslimin yang hidup setelah masa beliau.Cara Nabi ﷺ Mengenali Umatnya di Hari KiamatTanda Fisik Khas (Ghurran Muhajjalin): Umat Islam yang datang di hari kiamat memiliki tanda khusus berupa dahi, tangan, dan kaki yang bercahaya/putih akibat rutin membasuh anggota wudhu semasa hidup di dunia.​Permisalan (Matshal): Nabi ﷺ membuat kiasan berupa seekor kuda berciri putih pada dahi dan kaki-tangannya (ghurr muhajjalah) yang berada di tengah kawanan kuda hitam polos tanpa corak (duhm buhm). Seseorang pasti dengan mudah mengenali kudanya sendiri.Kaidah Penggunaan Perumpamaan (Tamtsil) dalam AgamaKesesuaian dengan Dalil: Membuat perumpamaan untuk menjelaskan ajaran agama diperbolehkan, dengan syarat wajib sesuai dan tidak bertentangan dengan dalil syariat.​Bahaya Perumpamaan Ahlul Bid'ah/Ahlul Ahwa:​Orang awam sering terpedaya oleh kiasan logika yang terkesan masuk akal padahal menyelisihi syariat.​Contoh Kiasan Batil: Mengumpamakan ragam aliran/kelompok bid'ah seperti bermacam-macam jalan tol yang sama-sama menuju satu tujuan (Jakarta).​Bantahan: Kiasan tersebut batil karena Al-Qur'an dan Sunnah menegaskan bahwa jalan menuju Allah hanya satu, bukan berbilang. Kaum muslimin harus bersikap kritis terhadap setiap perumpamaan dengan mencocokkannya pada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →