🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI23 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 98

Halaqah 98Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah bin Al-Yaman (Bagian 04) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaDalil Utama ​Potongan Hadits Riwayat Al-Bukhari & Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallāhu 'anhu.​«قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: "تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ"...»"Aku bertanya: 'Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemui zaman tersebut?' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Hendaklah engkau melazimi (tetap berpegang pada) jamaah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka..'"Poin Garis Besar Pemahaman & Kandungan MateriPentingnya Pertanyaan Hudzaifah radhiyallāhu 'anhu​Pertanyaan Hudzaifah ("Apa yang engkau perintahkan kepadaku?") menunjukkan pemahaman (fiqih) yang sangat dalam. Setelah mengenali sifat fitnah dan ciri-ciri para perusaknya, hal paling krusial adalah mengetahui solusi dan jalan keluar yang diperintahkan oleh syariat.​Islam adalah agama sempurna yang tidak meninggalkan suatu masalah/fitnah melainkan telah memberikan petunjuk jalan keluar terbaik melalui wahyu Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya.Solusi Utama Menghadapi Dai Pintu JahannamMenjauhi Ajakan Memisahkan Diri: Para dai penyesat (seperti kelompok Khawarij yang sering menipu dengan tampilan ibadah, jenggot, dan hafalan Al-Qur'an) selalu mengajak untuk memisahkan diri dari kaum muslimin dan memberontak.​Perintah Syariat (Talzamu Jamā'atal-Muslimīna wa Imāmahum):​Wajib melazimi jamaah kaum muslimin dan pemerintah/penguasa mereka yang sah.​Tetap mendengar dan taat (as-sam'u wa ath-thā'ah) kepada penguasa dalam perkara-perkara kebaikan (ma'ruf), serta tidak boleh keluar atau memberontak.Tiga Syarat Imam/Penguasa Syar'i (Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)Dimaksud dengan Imam dalam hadits ini adalah Al-Imām Al-A'zham (penguasa/pemimpin kaum muslimin yang sah di suatu negeri). Sebuah kepemimpinan dianggap sebagai imam yang syar'i apabila memenuhi tiga syarat utama:Keberadaannya Nyata (Maujūd):Pemimpin tersebut benar-benar ada dan hidup di permukaan bumi.​Bantahan: Menggugurkan klaim kelompok Syi'ah Rafidhah yang menganggap Imam Mahdi di dalam gua/sirdab sebagai pemimpin mereka, padahal wujudnya tidak ada.Dikenal Luas oleh Rakyatnya (Ma'rūf):Pemimpin tersebut diketahui secara umum oleh seluruh rakyat di negeri itu (baik pria, wanita, dewasa, maupun anak-anak).​Bantahan: Menggugurkan kepemimpinan kelompok/jamaah-jamaah tersembunyi (sri) yang membaiat pemimpin sendiri secara rahasia dan hanya diketahui oleh segelintir orang.Memiliki Kekuasaan/Kemampuan Real (Mempunyai Qudrah):Pemimpin tersebut memiliki kekuatan dan wewenang nyata untuk menjalankan roda pemerintahan, membuat kebijakan, memberhentikan pejabat, dan menegakkan hukum di negerinya.​Bantahan: Jika ucapan/keputusannya tidak didengar dan tidak memiliki kekuasaan riil di wilayah tersebut, maka ia bukan imam syar'i yang dimaksud dalam hadits.Kesimpulan Halaqah 98 memberikan petunjuk konkrit dalam menghadapi fitnah penyesatan zaman: tatkala para penyeru kesesatan mengajak kepada perpecahan dan pemberontakan, kewajiban seorang muslim adalah melazimi jamaah kaum muslimin serta mendengar dan taat kepada penguasa yang sah (imam syar'i) dalam kebaikan. Ketentuan imam syar'i bukanlah pemimpin kelompok/jamaah rahasia, melainkan penguasa nyata, dikenal masyarakat luas, dan memegang kekuasaan riil di negeri tersebut.

💬 0 komentar📅 23 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 23

Halaqah yang ke dua puluh tiga dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 1”.Diantara buah beriman dengan Takdir Allah azza wajalla:1. Beriman dengan Takdir adalah sebab seseorang merasakan lezatnya imanBerkata Ubadah Ibnu Shomit kepada putranya,يابني انك لن تجد طعم حقيقة الإيمان , حتى تعلم ان ما اصابك لم يكن ليخطئك وما اخطئك لم يكن ليصيبك“Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan lezatnya hakikat keimanan sampai engkau meyakini bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu.” [diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah]2. Membuahkan keberanian, keyakinan, tawakal, dan bergantung hanya kepada Allah, karena dia meyakini bahwa tidak akan menimpa dia kecuali apa yang sudah Allah tulis.Allah berfirman,قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ[QS At-Taubah 51]“Katakanlah tidak akan menimpa kami kecuali apa yang sudah Allah tentukan untuk kami, Dia-lah penolong kami dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman bertawakal.”3. Membuahkan akhlak yang mulia, seperti kedermawan karena apabila seseorang mengetahui bahwa kekayaan dan kemiskinan dengan Takdir Allah, dia tidak akan takut berinfak fii sabilillah.4. Membuahkan rasa syukur ketika mendapatkan nikmat, menyandarkan kenikmatan tersebut kepada Allah, karena Dia-lah yang mentakdirkan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ…[QS An-Nahl 53]“Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian maka itu adalah dari Allah.”5. Membuahkan petunjuk dan kesabaran ketika mendapatkan musibah.Allah berfirman,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ[QS Al-Hadid 22]“Musibah apa saja yang menimpa baik di bumi maupun pada diri-diri kalian kecuali sudah ditulis di dalam sebuah kitab sebelum Kami menjadikannya. Sesungguhnya yang demikian adalah sangat mudah bagi Allah.”6. Semakin kuat keimanan seseorang dengan Takdir Allah, maka akan semakin kuat tauhid-nya, karena iman dengan Takdir adalah bagian dari iman dengan Rububiyah Allah, yang konsekuensinya adalah tauhid Uluhiyyah.7. Membuahkan keikhlasan dan terjauh dari riya, karena orang yang beriman dengan Takdir mengetahui bahwa Allah telah menentukan segalanya dan menyadari bahwa mencari pahala dari manusia tidak akan memberikan manfaat.8. Menghilangkan rasa dengki antar sesama muslim karena dia menyadari bahwa rezeki sudah diatur dan dibagi oleh Allah dengan hikmah yang dalam. Lalu untuk apa seseorang dengki dan iri.

💬 0 komentar📅 23 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 98 | Ahlus Sunnah Menyebut Ahlu Kiblat Sebagai Muslimin dan Mukminin Bag 2

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Para ulama, mereka memiliki catatan dalam ucapan beliau,وَنُسَمِّي أَهْلَ قِبْلَتِنَا مُسْلِمِينَ مُؤْمِنِينَ، مَا دَامُوا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ مُعْتَرِفِينَ، وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِينَkarena seakan-akan ucapan beliau membatasi yang namanya keimanan itu selama kita masih mengakui, karena beliau mengatakan disiniمَا دَامُوا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ مُعْتَرِفِينَ، وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِينَselama masih mengakui, selama masih membenarkan berarti dia Muslim, dia kufur kalau sudah mendustakan, kalau dia sudah tidak mengakui. Jadi seakan-akan iman itu hanya tasdīq saja, seakan-akan iman itu hanya i’tiraf saja, yaitu pengakuan. Selama dia masih mengakui, selama dia masih membenarkan maka dia adalah Muslim, dan ini sebagaimana kita tahu ini adalah aqidahnya murji’ah.Menurut mereka, iman itu adalah tasdīq saja. Selama antum punya tasdīq, maka antum beriman. Tentunya ini adalah mazhab yang batil, karena iman itu bukan hanya tasdīq saja. Iman adalah tasdīqun bil-janān, wal-qawl bil-lisān, wal-‘amal bil-arkān. Harus diucapkan dan juga harus diamalkan, itu adalah bagian dari keimanan. Mengucapkan adalah bagian dari keimanan, mengamalkan adalah bagian dari keimanan.Nabi ﷺ mengatakan:اَلْاِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً اَعْلَاهَا قَوْلُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ الْاَذٰى عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْاِيمَانِ“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, yang paling tinggi adalah ucapan ‘lā ilāha illallāh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah bagian dari keimanan.”(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu)Yang paling tinggi adalah ucapan “lā ilāha illallāh”, berarti ucapan ini adalah bagian dari iman, bukan hanya tasdīq saja. Menyingkirkan gangguan dari jalan juga termasuk keimanan, dan itu adalah amalan anggota badan. Ucapan dan amalan anggota badan termasuk cabang keimanan, bukan hanya tasdīq saja.Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan, berarti rasa malu ada dalam hati. Hadits ini menunjukkan bahwasanya iman itu adalah apa yang ada di dalam hati, apa yang diucapkan oleh lisan, dan apa yang dilakukan oleh anggota badan.Sebagaimana cabang keimanan ada yang berupa ucapan, ada yang berupa perbuatan, ada yang berupa aqidah, maka cabang kekufuran juga sama. Ada kekufuran yang dilakukan oleh lisan, ada kekufuran yang dilakukan oleh anggota badan, ada kekufuran yang dilakukan oleh apa yang ada dalam hati seseorang.Seseorang yang mengatakan dengan lisannya dia berdoa kepada selain Allāh berarti dia dengan lisannya akhirnya keluar dari agama Islam karena dia berdoa kepada selain Allāh. Allāh ﷻ mengatakan tentang orang-orang munafiqinوَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْberarti ada ucapan yang bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Sehingga membatasi kekufuran hanya dengan kalau dia tidak tasdīq (mengakui) maka dia keluar dari agama Islam ini tentu tidak benar.Terkadang seseorang dia mungkin tasdīq dalam hatinya, dia membenarkan dalam hatinya, tetapi dia mengucapkan ucapan yang kufur, maka dia keluar dari agama Islam meskipun dalam hatinya dia membenarkan.إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَة لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا يهْوِي بِهَا فِي النَّارِ جَهَنَّمSesungguhnya seseorang dia mengucapkan sebuah ucapan, awalnya tidak menganggap ucapan tadi, tapi ternyata dia masuk ke dalam Neraka dengan sebab ucapan tadi. Berarti, terkadang hatinya mungkin membenarkan tapi ucapannya menyimpang, dan dengan sebab ucapannya tadi, dia masuk ke dalam Neraka. Sehingga membatasi kekufuran hanya dengan kalau dia tidak tasdīq (mengakui) ini tentunya adalah pendapat yang bathil.Demikian pula terkadang kekufuran dilakukan dengan perbuatan, sebagaimana terkadang dengan lisan, terkadang dengan perbuatan, seperti orang yang sujud kepada selain Allāh, atau yang menyembelih untuk selain Allāh. Bukankah ini perbuatan yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam? Meskipun dalam hatinya dia membenarkan, membenarkan Nabi Muhammad ﷺ, tapi jika dia bersujud kepada selain Allāh maka dia keluar dari agama Islam.Sehingga perlu diperhatikan ucapan beliau iniمَا دَامُوا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ مُعْتَرِفِينَ، وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِينَPembatasan kekufuran dengan hanya tidak tasdīq atau tidak i’tiraf ini tidak benar. Terkadang seseorang keluar dari agama Islam dengan ucapannya, terkadang seseorang keluar dari agama Islam dengan perbuatannya.

💬 0 komentar📅 23 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 September 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

HSI09-23: Buah Beriman dengan Takdir Allah (1)

Halaqah 23 — Buah Beriman dengan Takdir Allah (1)Di antara buah beriman kepada takdir Allah:1. Merasakan lezatnya imanSeseorang tidak akan merasakan hakikat keimanan sampai meyakini bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الإِيمَانِ، حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ“Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan lezatnya hakikat iman sampai engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)2. Melahirkan keberanian, keyakinan, tawakal, dan ketergantungan kepada AllahKarena yakin bahwa tidak akan menimpa seseorang kecuali apa yang telah Allah tuliskan.قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا ۖ هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman bertawakal.”(QS. At-Taubah: 51)3. Melahirkan akhlak yang muliaDi antaranya kedermawanan.Ketika seseorang mengetahui bahwa kekayaan dan kemiskinan adalah takdir Allah, ia tidak takut untuk berinfak di jalan Allah.4. Melahirkan rasa syukur ketika mendapatkan nikmatMenyandarkan nikmat kepada Allah karena Dialah yang mentakdirkannya.وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ“Dan nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.”(QS. An-Nahl: 53)5. Mendapat petunjuk dan kesabaran ketika tertimpa musibahمَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Tidak ada musibah yang menimpa di bumi maupun pada diri kalian, kecuali telah tertulis dalam sebuah kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”(QS. Al-Hadid: 22)6. Menguatkan tauhidSemakin kuat iman seseorang kepada takdir Allah, semakin kuat pula tauhidnya.Iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada Rububiyah Allah, yang konsekuensinya adalah tauhid Uluhiyah.7. Melahirkan keikhlasan dan menjauhkan dari riyaOrang yang beriman kepada takdir mengetahui bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu.Ia menyadari bahwa mencari pahala dari manusia tidak akan memberikan manfaat.8. Menghilangkan rasa dengkiKarena menyadari bahwa rezeki telah diatur dan dibagi oleh Allah dengan hikmah yang mendalam.Maka tidak ada alasan untuk dengki dan iri terhadap orang lain.

💬 0 komentar📅 23 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 23 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 11) Istighosah

Dalil Al-Istighātsah (Memohon Pertolongan)Pengertian Al-Istighātsah (الإستغاثة)Al-Istighātsah adalah memohon pertolongan kepada Allah agar dibebaskan atau diselamatkan dari kesusahan, musibah, atau bahaya yang sudah terjadi dan sedang menimpa seseorang.Istighātsah termasuk salah satu bentuk ibadah yang wajib ditujukan hanya kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.Perbedaan Istighātsah dan Isti’ādzah1. Isti’ādzah (الإستعاذة)Memohon perlindungan kepada Allah dari suatu keburukan yang belum terjadi.Contoh:Memohon perlindungan dari godaan setan.Memohon perlindungan dari fitnah dunia.Memohon perlindungan dari bencana yang belum menimpa.Intinya: mencegah kejelekan sebelum terjadi.2. Istighātsah (الإستغاثة)Memohon pertolongan kepada Allah agar musibah yang sudah terjadi segera diangkat dan dihilangkan.Contoh:Memohon pertolongan saat tertimpa musibah.Memohon pertolongan ketika menghadapi bahaya.Memohon pertolongan saat berada dalam kesulitan besar.Intinya: meminta pertolongan ketika musibah sudah terjadi.Dalil IstighātsahAllah Ta’ālā berfirman:إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ”(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia memperkenankan bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’”(QS. Al-Anfāl: 9)Latar Belakang Turunnya AyatAyat ini berkaitan dengan Perang Badar.Kondisi Kaum MusliminJumlah kaum muslimin sekitar 300 orang.Jumlah pasukan Quraisy sekitar 1000 orang.Kaum muslimin jauh lebih sedikit dan lemah secara persiapan.Melihat keadaan tersebut, Rasulullah ﷺ dan para sahabat memohon pertolongan kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.Allah mengabulkan doa mereka dengan mengirim bantuan malaikat sebagai bentuk pertolongan-Nya.Pelajaran penting:Saat menghadapi kesulitan besar, seorang mukmin kembali kepada Allah.Pertolongan hakiki berasal dari Allah, bukan dari makhluk.Hukum IstighātsahIstighātsah kepada Allah✅ Wajib dan termasuk ibadah.Seorang muslim harus memohon pertolongan dalam kesulitan kepada Allah semata.Istighātsah kepada selain Allah dalam perkara gaib❌ Tidak diperbolehkan.Contoh yang disebutkan dalam halaqah:Memohon pertolongan kepada orang yang sudah meninggal.Memohon pertolongan kepada syuhada.Memohon pertolongan kepada “rijālullāh” atau wali yang telah wafat.Karena istighātsah adalah ibadah dan ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah.Istighātsah kepada Makhluk yang DiperbolehkanMeminta bantuan kepada manusia diperbolehkan apabila memenuhi empat syarat:1. Orang yang diminta masih hidupBukan orang yang telah meninggal.2. Hadir atau dapat mendengar permintaan kitaMisalnya:Berada di depan kita.Mendengar melalui telepon atau alat komunikasi.3. Tidak bertawakal kepada orang tersebutHati tetap bergantung kepada Allah.Manusia hanyalah sebab, sedangkan yang menentukan hasil adalah Allah.4. Dalam perkara yang mampu dilakukan manusiaPermintaan tersebut berada dalam kemampuan manusia secara normal.Contoh:Meminta dokter mengobati penyakit.Meminta polisi menangkap penjahat.Meminta teman membantu mengangkat barang.Contoh Istighātsah yang DiperbolehkanSeseorang sedang dirampok atau dibegal.Lalu ia melihat polisi atau petugas keamanan dan meminta pertolongan.Hal ini diperbolehkan karena:✔ Polisi masih hidup.✔ Polisi hadir atau dapat mendengar permintaan.✔ Polisi mampu membantu sesuai kemampuannya.✔ Orang tersebut tetap bertawakal kepada Allah, bukan kepada polisi.Polisi hanyalah sebab yang Allah jadikan untuk memberikan pertolongan.Pelajaran dan Faedah PentingAqidahIstighātsah adalah ibadah.Ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah.Pertolongan sejati berasal dari Allah.TauhidTidak boleh menggantungkan hati kepada makhluk.Tidak boleh meminta pertolongan dalam perkara gaib kepada selain Allah.TawakalMengambil sebab adalah syariat.Bersandar kepada sebab adalah kesalahan.Bersandar kepada Allah sambil mengambil sebab adalah tauhid yang benar.Kisah Perang BadarRasulullah ﷺ sendiri memberi teladan untuk banyak berdoa dan beristighātsah kepada Allah.Kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah atau kekuatan, tetapi oleh pertolongan Allah.Inti HalaqahIstighātsah adalah memohon pertolongan untuk menghilangkan musibah yang sudah terjadi. Ia merupakan ibadah yang wajib ditujukan hanya kepada Allah. Adapun meminta bantuan kepada manusia diperbolehkan jika orang tersebut masih hidup, dapat mendengar permintaan, mampu menolong, dan hati tetap bertawakal kepada Allah semata

💬 0 komentar📅 23 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 September 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

HSI09-22: Aliran Menyimpang dalam Hidayatut Taufiq & Penyesatan

Halaqah 22 — Aliran Menyimpang dalam Hidayatut Taufiq & PenyesatanAda 2 aliran yang menyimpang dalam masalah hidayah taufiq dan penyesatan:1. Al-QadariyyahMeyakini bahwa Allah bukanlah yang memberikan hidayah taufiq dan bukanlah yang menyesatkan.Mereka menafsirkan Allah memberikan hidayah hanya sebagai Allah menamakan seseorang sebagai orang yang mendapat hidayah.وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Qashash: 56)Mereka juga menafsirkan Allah menyesatkan hanya sebagai Allah menamakan seseorang sebagai orang yang sesat.كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Muddatstsir: 31)Ini bertentangan dengan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah-lah yang memberikan hidayah taufiq dan Allah-lah yang menyesatkan.Allah juga menjadikan hidayah yang diberikan kepada seorang hamba sebagai karunia dan anugerah:بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ“Akan tetapi Allah memberikan anugerah kepada kalian dengan memberikan hidayah kepada keimanan.”(QS. Al-Hujurat: 17)2. Al-JabriyyahMeyakini bahwa Allah memaksa manusia.Manusia tidak diberi kehendak dan kemampuan.Manusia juga dihalangi dari sebab-sebab mendapatkan petunjuk.Ini bertentangan dengan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa seorang hamba:diberi kehendak,diberi kemampuan,diberi kesempatan memilih,dan ditunjukkan kepadanya jalan yang lurus.Intinya:Al-Qadariyyah menolak bahwa Allah memberikan hidayah taufiq dan menyesatkan, sedangkan Al-Jabriyyah menganggap manusia tidak memiliki kehendak dan kemampuan. Keduanya menyimpang dari dalil-dalil yang telah dijelaskan sebelumnya.

💬 0 komentar📅 22 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 22: Aliran Menyimpang Dalam Masalah Hidayatut Taufiq & Penyesatan

Halaqah 22:Aliran Menyimpang Dalam Masalah Hidayatut Taufiq & Penyesatan🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىTelah menyimpang di dalam masalah ini dua aliran: Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah.🌱 Al Qodariyyah• Mereka meyakini bahwa Allah bukanlah yang memberikan hidayah taufiq dan Allah bukanlah yang menyesatkan.• Mereka mengatakan bahwa makna Allah memberikan hidayah yang datang di dalam dalil seperti dalam firman Allah,… وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ…“Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki.”(QS. Al-Qashash: 56)Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang mendapatkan hidayah.• Mereka mengatakan bahwa maksud Allah menyesatkan seperti yang datang di dalam firman Allah azza wajalla,… ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ… ۚ“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Muddatstsir: 31)Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang sesat.Dan ini tentunya bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa Allah, Dia-lah yang memberikan hidayah taufiq dan Dialah yang menyesatkan.Demikian pula Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjadikan hidayah yang Allah berikan kepada seorang hamba sebagai sebuah karunia dan anugerah, sebagaimana firman Allah,… ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ..“Akan tetapi Allah memberikan anugerah kepada kalian dengan memberikan hidayah kepada keimanan.”(QS. Al-Hujurat: 17)Seandainya maksud Allah memberikan hidayah adalah hanya penamaan pelakunya dengan orang yang mendapatkan hidayah maka ini tidak dinamakan dengan karunia dan anugerah karena seandainya ini adalah karunia atau anugerah, maka kita sebagai makhluk juga memberikan karunia dan anugerah sebab kita pun sebagai makhluk juga menamakan orang tersebut sebagai orang yang mendapatkan hidayah.🌱Al Jabriyyah • Mereka meyakini bahwa Allah memaksa mereka, tidak memberikan mereka kehendak, tidak memberikan mereka kemampuan, menghalangi mereka dari sebab-sebab mendapatkan petunjuk.Dan ini juga bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa seorang hamba diberi kehendak dan kemampuan, diberi kesempatan memilih dan ditunjukkan kepadanya jalan yang lurus.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 22 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 22

Halaqah yang ke dua puluh dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang ”Aliran yang Menyimpang di Dalam Masalah Hidayatut Taufiq dan Penyesatan“.Telah menyimpang di dalam masalah ini dua aliran: Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah.Adapun Al Qodariyyah, maka mereka meyakini bahwa Allah bukanlah yang memberikan hidayah taufiq dan Allah bukanlah yang menyesatkan.Dan mereka mengatakan bahwa makna Allah memberikan hidayah yang datang di dalam dalil seperti dalam firman Allah,… وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ…[QS Al-Qashash 56]“Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki.”Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang mendapatkan hidayah.Dan mereka mengatakan bahwa maksud Allah menyesatkan seperti yang datang di dalam firman Allah azza wajalla,… ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ… ۚ[QS Al-Muddatstsir 31]“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.”Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang sesat.Dan ini tentunya bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa Allah, Dia-lah yang memberikan hidayah taufiq dan Dialah yang menyesatkan.Demikian pula Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjadikan hidayah yang Allah berikan kepada seorang hamba sebagai sebuah karunia dan anugerah, sebagaimana firman Allah,… ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ..[QS Al-Hujurat 17]“Akan tetapi Allah memberikan anugerah kepada kalian dengan memberikan hidayah kepada keimanan.”Seandainya maksud Allah memberikan hidayah adalah hanya penamaan pelakunya dengan orang yang mendapatkan hidayah maka ini tidak dinamakan dengan karunia dan anugerah karena seandainya ini adalah karunia atau anugerah, maka kita sebagai makhluk juga memberikan karunia dan anugerah sebab kita pun sebagai makhluk juga menamakan orang tersebut sebagai orang yang mendapatkan hidayah.Adapun Al Jabriyyah maka mereka meyakini bahwa Allah memaksa mereka, tidak memberikan mereka kehendak, tidak memberikan mereka kemampuan, menghalangi mereka dari sebab-sebab mendapatkan petunjuk.Dan ini juga bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa seorang hamba diberi kehendak dan kemampuan, diberi kesempatan memilih dan ditunjukkan kepadanya jalan yang lurus.

💬 0 komentar📅 22 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 97

Halaqah 97Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah bin Al-Yaman (Bagian 03) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaDalil Utama Potongan Hadits Riwayat Al-Bukhari & Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallāhu 'anhu:​«قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: "نَعَمْ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا"، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! صِفْهُمْ لَنَا؟ فَقَالَ: "هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا"...»"Aku bertanya: 'Apakah setelah kebaikan (yang ada kotorannya) itu akan datang kejelekan lagi?' Beliau menjawab: 'Ya, yaitu para dai yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam. Barang siapa yang menyambut ajakan mereka, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam Jahannam.' Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, sifatkanlah mereka kepada kami!' Beliau bersabda: 'Mereka berasal dari kulit (golongan) kita dan berbicara dengan lisan (bahasa) kita.'"Poin Garis Besar Pemahaman & Kandungan MateriKejelekan Fase Berikutnya (Fitnah Amyāt)​Sifat Fitnah:Kebaikan yang bercampur kotoran (dakhan) akan disusul oleh kejelekan yang lebih dahsyat, yaitu fitnah yang buta (fitnatun amyāt). Fitnah ini membuat manusia yang tidak berilmu menjadi bingung dan tidak tahu arah mana yang benar.​Fenomena Perusak:Kebingungan tersebut dipicu oleh munculnya tokoh-tokoh yang dipanggil dai, namun hakikatnya mengarahkan manusia menuju Jahannam.Hakikat Dai Pintu Jahannam (Du'ātun 'alā Abwābi Jahannam)Perumpamaan Pintu Jahannam:​Di sana ada dai-dai yang berdiri di pintu surga mengarahkan manusia kepada amalan ketaatan.​Sebaliknya, ada dai-dai yang berdiri di atas pintu-pintu Jahannam mengajak manusia pada kesesatan.​Ancaman Menjawab Ajakan (Man Ajābahum Qadzafūhu Fīhā):Barangsiapa yang berpaling dari jalan yang lurus lalu mengikuti, merespons, atau menyambut syubhat para dai tersebut, maka ia akan langsung dilemparkan oleh para dai itu ke dalam neraka Jahannam.Sifat Fisik dan Lahiriah Para Dai Pemimpin KesesatanKetika Hudzaifah meminta Rasulullah ﷺ mendeskripsikan mereka agar dapat diwaspadai, beliau memberikan dua ciri utama:​Berasal dari Kulit/Golongan Kita (Min Jildatinā): Jildah berarti bungkus atau tampilan luar (mats-har). Secara lahiriah mereka bersumber dari kaum muslimin sendiri (bukan dari luar Islam), berpakaian seperti ulama, memiliki gelar, hingga hafalan Al-Qur'an dan sanad.​Berbicara dengan Lisan Kita (Yatakallamūna bi-Alsinatinā):​Makna Pertama: Mereka fasih berbicara dalam bahasa Arab.​Makna Kedua: Mereka berbicara menggunakan lisan syariat (lisanusy-syar'), yaitu rajin mengutip ayat, hadits, atau istilah-istilah agama, padahal hakikat ajakannya menyimpang dari Sunnah.Peran Ilmu Syar'i dan Sikap Ulama Terhadap FitnahIlmu sebagai Cahaya (Nur): Menuntut ilmu dan membentengi diri dengan Al-Qur'an serta Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan aimmah Ahlussunnah wal Jamaah adalah senjata utama agar tidak silau oleh penampilan dan kefasihan lahiriah para penyeru kesesatan.​Keunggulan Pandangan Ulama vs Orang Bodoh:​Ulama: Mampu melihat dan meraba bahaya fitnah sebelum fitnah itu terjadi (berdasarkan pemahaman syariat yang mendalam), seperti bahaya dan kerusakan besar akibat pemberontakan terhadap penguasa.​Orang Bodoh (Jahil): Baru menyadari dan menyesali fitnah setelah fitnah itu terjadi dan memakan korban.Kesimpulan Halaqah 97 menekankan kewajiban umat Islam untuk tetap istiqomah di atas Islam dan tidak mudah terpedaya oleh penampilan luar (mats-har), kefasihan, atau gelar para penyeru agama. Umat Islam diwajibkan untuk meneliti hakikat dari apa yang didakwahkan—apakah mengajak kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para sahabat, ataukah mengajak kepada fitnah, kebidahan, dan jalan menuju Jahannam.

💬 0 komentar📅 22 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 97 | Ahlus Sunnah Menyebut Ahlu Kiblat Sebagai Muslimin dan Mukminin

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَنُسَمِّي أَهْلَ قِبْلَتِنَا(dengan mengkashrah ت) Dan kami menamakan orang-orang yang satu kiblat dengan kami, أَهْلَ قِبْلَتِنَا yaitu أَصْحَاب قِبْلَتِنَا yaitu sama kiblatnya dengan kita, sama-sama menghadap ke Baitullah setelah Allāh ﷻ sebelumnya menjadikan kiblat yang pertama adalah Baitul Maqdis. Kemudian setelah itu Allāh ﷻ menjadikan atau mengubah kiblat ke Baitullah.قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةًۭ تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ(QS. Al-Baqarah, 2:144)Dahulu Nabi ﷺ ketika berada di Makkah, menghadap kiblatnya ke Baitul Maqdis. Kemudian beliau menjadikan Baitullah itu antara beliau dengan Baitul Maqdis, sehingga beliau bisa menghadap ke Baitullah sekaligus ke Baitul Maqdis.Kemudian ketika berhijrah ke kota Madinah, tidak bisa lagi beliau lakukan yang demikian. Beliau hanya bisa menghadap ke arah Baitul Maqdis saja karena Baitul Maqdis berada di sebelah utara Madinah, sedangkan Baitullah berada di sebelah selatan. Akhirnya Beliau ﷺ sering melihat kearah Baitullah, berharap seandainya kiblat ini berpindah ke Baitullah. Kemudian Allāh ﷻ berfirman:فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةًۭ تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِMaka sekarang arahkan wajahmu ke arah Masjidil HaramKaum Muslimin di dalam shalatnya diharuskan untuk menghadap ke arah kiblat, ini adalah termasuk شُرُوطُ الصَّلَاةِ, kalau sampai seseorang dalam shalatnya tidak menghadap ke arah kiblat, maka tidak sah shalatnya, harus menghadap ke arah kiblat karena ini termasuk syarat sah shalat. Sehingga أَهْلَ قِبْلَتِنَا maksudnya orang-orang yang sama kiblatnya dengan kita, kita namakan merekaمُسْلِمِينَ مُؤْمِنِينَkita namakan mereka sebagai muslimin, karena Allāh ﷻ mengatakanهُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَـٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِۚ(QS. Al-Ḥajj, 22:78)Dialah yang telah menamakan kalian sebagai Muslimin.Dari dulu Allāh ﷻ menamakan orang-orang yang mentauhidkan Allāh ﷻ dan menyembah Allāh ﷻ saja adalah muslimin, dan di dalam Al-Qur’ān juga demikian, kita dinamakan sebagai Muslimin. Umatnya Nabi Mūsa, Nabi Nūḥ, Nabi ‘Īsā yang mengikuti Nabi Sulaimān, mereka semuanya adalah Muslimin dari dulu sampai sekarang, maka kita menamakan mereka sebagai Muslimin.Secara umum setiap orang yang beriman dan mengikuti dakwah para rasul adalah Muslimin. Nah, sekarang yang mengikuti Rasul yang terakhir dinamakan juga Muslimin. Semua orang yang sekarang menemui risalah Nabi Muhammad ﷺ dan mendengar tentang kedatangan beliau, diharuskan untuk masuk ke dalam agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Kita menamakan mereka sebagai Muslimin.Mukminin, karena Allāh ﷻ juga banyak di dalam Al-Qur’ān menamakan mereka sebagai “الَّذِينَ آمَنُوا” (orang-orang yang beriman). Mereka memiliki aslul īmān, Mukminin, karena mereka memiliki ashlul īmān, mereka memiliki pondasi keimanan. Kita semuanya sama, kita beriman kepada Allāh ﷻ, beriman kepada malaikat, kepada kitab, kepada rasul, kepada hari akhir, dan beriman kepada takdir. Maka kita adalah Mukminūn, bukan berarti kita sempurna keimanannya, tetapi kita sama-sama memiliki pondasi keimanan. Itu maksudnya, karena orang-orang yang beriman ini bertingkat-tingkat. Ada di antara mereka yang sempurna keimanan dan ada di antara mereka yang kurang keimanan. Maka mereka dinamakan Mukminūn maksudnya adalah karena mereka sama-sama memiliki pondasi keimanan, beriman dengan rukun iman yang enam.وَنُسَمِّي أَهْلَ قِبْلَتِنَا مُسْلِمِينَ مُؤْمِنِينَKita menamakan mereka adalah Muslimin, mereka adalah orang-orang yang beriman. Allāh ﷻ berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ(QS. Al-Ḥujurāt: 10)Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara. Yaitu saudara diatas keimanan. Dan Nabi ﷺ bersabda:المسلم أخو المسلمSeorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain.Jadi, terkadang disebut sebagai Muslimin dan terkadang disebut sebagai Mukminūn. Mukminūn di sini dilihat dari pondasi keimanan mereka, sama-sama mereka beriman dengan pondasi keimanan. Jangan kita mendatangkan nama-nama yang baru. Kita namakan mereka sebagaimana Allāh ﷻ memberikan nama, dan kita anggap mereka adalah Muslimūn, dan ini adalah asalnya,مَا دَامُوا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ مُعْتَرِفِينَ، وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِينَselama mereka mengakui apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ, yaitu mengakui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ? Al-Qur’an dan juga haditsعَلَى إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُAku diberikan Al-Qur’an dan yang semisalnya, yaitu hadits.Allāh ﷻ berfirman:وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ (“mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah”). Al-Ḥikmah di sini adalah hadits.Selama mereka masih mengakui apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ, maka kita katakan mereka adalah Muslimin, Mukminin, berarti mereka Muslim, berarti mereka adalah orang yang beriman karena mereka mengakui apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Kalau mereka tidak mengakui, misalnya mengingkari Al-Qur’an, maka mereka tidak lagi dinamakan sebagai Muslim, karena Muslim itu menyerahkan diri. Mukmin itu jika dia beriman; jika dia mengingkari, ya bukan Muslim, bukan Mukmin.Atau jika seseorang mengingkari hadits Nabi ﷺ, meskipun hanya mengingkari satu huruf dalam Al-Qur’an bisa mengeluarkan seseorang dari agama islam, satu huruf yang semua ulama sepakat bahwa itu adalah bagian dari Al-Qur’an. Barangsiapa yang mengingkari hadits Nabi ﷺ yang dia tahu adalah hadits sahih tanpa ada keraguan di dalamnya, dan dia mengingkari itu bukan ucapan Nabi ﷺ, maka ini bisa membawa seseorang pada kekufuran.مَا دَامُوا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ مُعْتَرِفِينَSelama mereka masih mengakui; jika mereka sudah mengingkari, maka keluar dari agama Islam.وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِينَDan mereka masih membenarkan apa yang dikabarkan oleh Nabi dan diucapkan oleh Nabi ﷺ, dhamir pada وَلَهُ disini kembali kepada Nabi ﷺبِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَdengan setiap apa yang beliau ucapkan dan beliau kabarkan, mereka membenarkan. Meskipun akalnya belum sampai ke sana, ia tetap membenarkan.Nabi ﷺ mengabarkan tentang sifat-sifat Allāh ﷻ, kita benarkan; Nabi ﷺ mengabarkan tentang kejadian-kejadian di hari kiamat, kita benarkan; Nabi ﷺ mengabarkan tentang kejadian-kejadian yang telah berlalu, kita benarkan. Tidak boleh sama sekali mendustakan walaupun hanya satu kabar saja dari Nabi ﷺ; jika memang kita sudah mengakui beliau adalah seorang rasul, maka kita harus membenarkan setiap kabar yang beliau sampaikan.Karena pada hakikatnya, kabar yang beliau bawa berasal dari Allāh ﷻ. Membenarkan beliau adalah membenarkan Allāh ﷻ, dan mendustakan beliau adalah mendustakan Allāh ﷻ.مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَBarangsiapa yang mentaati Rasul, maka sungguh dia telah mentaati Allāh.Beliau hanya sebagai utusan yang menyampaikan kepada kita kabar; jika kita membenarkan beliau, sama dengan membenarkan Allāh ﷻ. Mendustakan beliau sama dengan mendustakan Allāh ﷻ. Maka, mendustakan beliau dalam kabar-kabarnya adalah kekufuran. Tidak mengakui apa yang beliau bawa berupa Al-Qur’an dan hadits ini juga merupakan kekufuran. Kita tidak lagi menamakan orang tersebut sebagai Muslimin, tidak pula sebagai Mukminin.Inilah maksud ucapan beliauوَنُسَمِّي أَهْلَ قِبْلَتِنَا مُسْلِمِينَ مُؤْمِنِينَ، مَا دَامُوا بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ مُعْتَرِفِينَ، وَلَهُ بِكُلِّ مَا قَالَهُ وَأَخْبَرَ مُصَدِّقِينَ

💬 0 komentar📅 22 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 21 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 09)

🌿 Pengertian Isti’anahIsti’anah (الاستعانة) berarti memohon pertolongan atau bantuan.Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa isti’anah termasuk ibadah yang harus ditujukan hanya kepada Allah.Dalil Al-Qur’anإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”(QS. Al-Fatihah: 5)Dalil Hadisإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ“Apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.”(HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma)🌿 Mengapa Isti’anah Disebut Setelah Ibadah?Dalam ayat:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُAllah menyebutkan isti’anah setelah ibadah karena:Tidak ada seorang pun yang mampu beribadah dengan benar tanpa pertolongan Allah.Keimanan, shalat, sedekah, puasa, haji, dan seluruh amal saleh hanya dapat terlaksana dengan taufik dari Allah.Hidayah dan kemampuan beramal adalah karunia Allah semata.Karena itu seorang mukmin harus selalu merasa membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap amalnya.🌿 Bahaya Bersandar pada Diri SendiriKesalahan yang tercela adalah ketika seseorang merasa mampu beribadah karena:ilmunya,kekuatannya,hartanya,atau kemampuannya sendiri.Padahal semua kemampuan tersebut berasal dari Allah.Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ“Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”Ini menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah ﷺ pun sangat bergantung kepada pertolongan Allah.🌿 Memohon Pertolongan dalam Urusan Agama dan DuniaIsti’anah tidak hanya dilakukan dalam ibadah, tetapi juga dalam seluruh urusan kehidupan yang bermanfaat.Rasulullah ﷺ bersabda:اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersemangatlah terhadap hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”(HR. Muslim)Seorang muslim diperintahkan:Berusaha dengan sungguh-sungguh.Mengambil sebab yang dibolehkan.Memohon pertolongan kepada Allah.Tidak menyerah dan tidak putus asa.🌿 Isti’anah yang Termasuk IbadahIsti’anah yang merupakan ibadah adalah permintaan pertolongan yang disertai:rasa tunduk dan merendahkan diri,rasa cinta,ketergantungan penuh,keyakinan bahwa yang memberi manfaat dan mudarat adalah Allah.Isti’anah seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.Jika diberikan kepada selain Allah, maka termasuk syirik.🌿 Meminta Pertolongan kepada Orang yang Sudah MeninggalMemohon pertolongan kepada orang yang telah meninggal, baik orang saleh maupun selainnya, adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan.Karena orang yang telah meninggal tidak lagi mampu mendengar dan menolong manusia dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah.🌿 Kapan Meminta Tolong kepada Makhluk Dibolehkan?Meminta bantuan kepada manusia diperbolehkan apabila memenuhi tiga syarat:1. Orang tersebut masih hidupBukan kepada orang yang telah meninggal.2. Mampu mendengar dan menolongMisalnya:berada di hadapan kita,atau dapat mendengar melalui sarana komunikasi seperti telepon.3. Tidak bertawakal kepadanyaHarus meyakini bahwa:manusia hanyalah sebab,sedangkan yang memberi manfaat dan pertolongan hakiki adalah Allah.Jika ketiga syarat ini terpenuhi, maka meminta bantuan kepada manusia hukumnya boleh.🌿 Pelajaran Penting✅ Isti’anah adalah ibadah.✅ Hanya Allah yang berhak menjadi tempat bergantung dan meminta pertolongan secara mutlak.✅ Tidak ada keberhasilan dalam ibadah kecuali dengan taufik Allah.✅ Seorang mukmin harus menggabungkan usaha dan tawakal.✅ Bersandar kepada diri sendiri adalah sikap yang tercela.✅ Meminta bantuan kepada manusia diperbolehkan selama mereka hidup, mampu membantu, dan tidak dijadikan tempat tawakal.✅ Memohon pertolongan kepada orang yang telah meninggal termasuk perbuatan yang terlarang.🌿 Inti HalaqahSeorang muslim sejati adalah orang yang selalu berusaha mengambil sebab yang benar, namun hatinya tetap bergantung hanya kepada Allah. Ia beribadah kepada Allah, memohon pertolongan kepada Allah, dan meyakini bahwa seluruh keberhasilan dalam agama maupun dunia hanyalah karena taufik dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

💬 0 komentar📅 22 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 September 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

HSI09-21: Hidayah Taufiq dan Kesesatan Menurut Ahlus Sunnah

Halaqah 21: Hidayah Taufiq dan Kesesatan Menurut Ahlus Sunnah(Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.)1. Dua Jenis Hidayaha. Hidayatul Irsyad — bimbingan & arahan menuju jalan yang benarDimiliki oleh para Nabi dan da'i yang mengikuti merekaDalil: وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ — "Dan sesungguhnya engkau sungguh-sungguh memberikan hidayah kepada jalan yang lurus." (QS Asy-Syura: 52)b. Hidayatut Taufiq — pembukaan hati & pelapangan dada untuk menerima serta mengamalkan kebenaranHanya dimiliki Allah, tidak dimiliki Nabi maupun da'iDalil: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ — "Sesungguhnya engkau tidak memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah-lah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS Al-Qashash: 56)2. Hidayah dan Kesesatan Berada di Tangan Allahكَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ — "Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki." (QS Al-Muddatstsir: 31)مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ — "Barangsiapa yang Allah sesatkan, tidak akan ada yang memberi hidayah." (QS Al-A'raf: 186)وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ — "Barangsiapa yang Allah beri hidayah, tidak ada yang bisa menyesatkannya." (QS Az-Zumar: 37)Hadits: مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ (HR. Muslim) — makna sejalan dengan ayat di atas.3. Kesesatan Adalah Keadilan Allah, Bukan KedzalimanAllah menyesatkan seseorang dengan keadilan-Nya, karena Allah telah menegakkan hujjah (bukti/alasan) atas hamba-Nya, berupa:Akal untuk berpikir dan memilihRasul yang diutus untuk menjelaskanKitab yang diturunkanJalan yang lurus yang diperlihatkan kepadanya4. Pengecualian — Siapa yang Tidak Dicatat AmalannyaHadits: رُفِعَ القلمُ عن ثلاث... — "Diangkat pena (tidak dicatat dosa) dari tiga golongan:" (HR. An-Nasa'i & Ibnu Majah, dari Aisyah radhiyallahu 'anha)Orang tidur, sampai ia bangunAnak kecil, sampai ia balighOrang gila, sampai ia berakal/sadar5. Yang Belum Sampai Risalah Tidak Diadzabوَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا — "Dan Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang Rasul." (QS Al-Isra': 15)6. Kesesatan Terjadi Setelah Petunjuk Sampai namun Ditolakوَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ — "Tidaklah Allah menyesatkan suatu kaum setelah memberi petunjuk kepada mereka, sampai Allah menjelaskan apa yang harus mereka jauhi." (QS At-Taubah: 115)→ Kesesatan terjadi setelah petunjuk sampai kepada mereka namun mereka menolak dan memilih durhaka — ini keadilan, bukan kedzaliman.

💬 0 komentar📅 21 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 21

Halaqah yang ke dua puluh satu dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Hidayah Taufiq dan Kesesatan Menurut Ahlus Sunnah”.Hidayah terbagi menjadi dua:1. Hidayatul Irsyad, yaitu bimbingan dan arahan menuju jalan yang benar.Hidayah jenis ini dimiliki oleh para Nabi dan orang-orang yang mengikuti para Nabi dari kalangan para da’i, karena mereka membimbing dan mengarahkan manusia kepada jalan Allah.Allah berfirman,… ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ[QS Asy-Syura 52]“Dan sesungguhnya engkau sungguh-sungguh memberikan hidayah kepada jalan yang lurus.”Maksudnya adalah membimbing dan mengarahkan menuju jalan yang lurus.2. Hidayatut Taufiq, yaitu pembukaan hati dan pelapangan dada untuk menerima kebenaran dan mengamalkannya.Hidayah Taufiq ini hanya dimiliki oleh Allah, tidak dimiliki oleh Nabi dan da’i.Allah berfirman,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ[QS Al-Qashash 56]“Sesungguhnya engkau tidak memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai akan tetapi Allah-lah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia lebih mengetahui siapa orang yang mendapatkan petunjuk.”Hidayah Taufiq Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki dan kesesatan juga Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki.Allah berfirman,… ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ…[QS Al-Muddatstsir 31]“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki.”Barangsiapa yang Allah berikan hidayah taufiq, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang bisa memberikan hidayah.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ…[QS Al-A’raf 186]“Barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak akan ada yang memberikan hidayah.”Dan Allah berfirman,وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ…[QS Az-Zumar 37]“Dan barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak ada yang bisa menyesatkan dirinya.”Dan Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ“Barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak ada yang menyesatkan dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang memberikan hidayah.” [HR Muslim]Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya dan anugerah-Nya dan Allah lebih mengetahui siapa diantara hamba-Nya yang berhak untuk mendapatkan petunjuk.Dan Allah menyesatkan siapa yang Allah kehendaki dengan keadilan-Nya dan Allah lebih tahu siapa yang berhak untuk disesatkan.Kesesatan tersebut adalah keadilan Allah, bukan kedzoliman-Nya, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menegakkan hujjah atas hamba-Nya, memberikan kesempatan baginya untuk mengikuti petunjuk Allah, diberikan akal untuk berfikir dan memilih, diutus kepadanya seorang Rasul yang menjelaskan, diturunkan kepadanya kitab, dan diperlihatkan kepadanya jalan yang lurus.Apabila dia adalah orang yang hilang akalnya, atau anak yang belum baligh, atau orang yang tidur, maka tidak ditulis amalannya.Rasulullah ﷺ bersabda,رُفِعَ القلمُ عن ثلاث، عَنِ النَّائمِ حتَّى يستَيقِظ ،و عنِ الصغير حتَّى يَكْبرََ ، وعنِ المجنونِ حتَّى يعقل أو يفيق“Diangkat pena dari tiga golongan: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia baligh, dan dari orang yang gila sampai dia berakal atau sadar.” [Hadits Shahih riwayat An Nasai dan Ibnu Majah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]Orang yang belum sampai kepadanya risalah seorang Rasul, maka tidak akan diadzab.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا[QS Al-Isra’ 15]“Dan Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang Rasul.”Apabila sudah sampai kepada mereka petunjuk dan mereka tidak menerima serta tidak mengamalkan dan lebih memilih durhaka dan maksiat kepada Allah, maka Allah akan menyesatkan mereka dan ini adalah keadilan bukan kedzoliman.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ[QS At-Taubah 115]“Dan tidaklah Allah menyesatkan sebuah kaum setelah memberikan petunjuk kepada mereka sampai Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka taqwai. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwasanya Allah menyesatkan mereka setelah mereka tidak menerima petunjuk Allah yang sampai kepada mereka.

💬 0 komentar📅 21 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 96 | Ahlus Sunnah Beriman kepada Kitab-Kitab yang Diturunkan Bersama Para Rasul

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-96 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَنُؤْمِنُ بِالمَلَائِكَةِ وَالنَّبِيِّينَ، وَالكُتُبِ المُنْزَلَةِ عَلَىٰ المُرْسَلِينَDan kita beriman dengan para malaikat, para nabi, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada para mursalin.Dan kita beriman dengan kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi tersebut. Al-Imān bil-kutub (beriman dengan kitab-kitab Allāh ﷻ), bahwasanya Allāh ﷻ, selain mengutus para rasul, juga menurunkan kepada mereka kitab-kitab,لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ(QS. Al-Ḥadīd: 25)Sungguh Kami telah mengutus para rasul dengan mu’jizat, dan Kami turunkan bersama mereka kitab-kitab.Ada diantara kitab-kitab tersebut yang kita ketahui namanya seperti Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa ‘alaihis-salām, Injil yang diturunkan kepada nabi ‘Isa ‘alaihis-salām, Zabur yang diturunkan kepada Dawud, Shuhuf Ibrahim yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām, dan Al-Qur’ān yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Maka, kita mengimani nama-nama kitab-kitab tersebut. Sedangkan sisanya, yang kita tidak mengetahui namanya, kita beriman secara global, yang jelas Allāh ﷻ menurunkan kitab-kitab kepada para mursalin, kepada para nabi, yang isinya adalah petunjuk bagi manusia.Kalau kitab-kitab sebelum Al-Qur’ān, maka itu untuk kaum tertentu saja, sebagaimana rasul yang membawanya yang diturunkan kepadanya kitab tersebut adalah untuk kaumnya saja. Sehingga itu adalah petunjuk bagi kaum tersebut, belum tentu sesuai untuk kaum yang lain. Adapun Al-Qur’ān, Allāh ﷻ banyak memberikan kelebihan terhadap Al-Qur’ān karena ia adalah kitab terakhir yang Allāh ﷻ turunkan, karena tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ. Sehingga apa yang ada dalam Al-Qur’ān sesuai untuk setiap tempat dan setiap zaman, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya.Namun semuanya isinya adalah petunjuk bagi manusia. Dan Al-Qur’an, Allāh ﷻ berikan banyak kelebihan diantaranya adalah Allāh ﷻ menjaganyaإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ(QS. Al-Ḥijr, 15:9)Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Kami-lah yang akan menjaga Al-Qur’anDan dia adalah mukjizat yang abadi. Mukjizat-mukjizat yang lain sudah berlalu, adapun Al-Qur’ān, maka ini adalah mukjizat yang masih bisa kita lihat sekarang. Setiap kali seseorang membacanya, setiap kali ia mendalami, maka ia akan semakin banyak mengetahui keistimewaan dan keluarbiasaannya. Ini adalah mukjizat yang masih bisa kita lihat.Maka, kita beriman dengan kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul tersebut, adapun untuk kitab-kitab sebelumnya, kita beriman bahwa di dalamnya ada petunjuk bagi umat tertentu. Jadi beriman dengan kitab-kitab sebelumnya bukan berarti kita mengamalkan kitab-kitab sebelumnya. Beriman, yaitu meyakini bahwa kitab tersebut adalah petunjuk untuk umat yang diutus kepadanya.Adapun Al-Qur’an, karena kita sebagai umat Nabi ﷺ, kewajiban kita adalah mengamalkannya secara terperinci, bukan hanya secara global saja. Tapi, kita diperintahkan untuk mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur’anإِنَّ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ (QS. Al-Isrā’, 17:9)Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada yang paling lurusوَالكُتُبِ المُنْزَلَةِ عَلَىٰ المُرْسَلِينَKitab-kitab yang diturunkan kepada para mursalin. Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an diturunkan secara langsung kepada nabi. Adapun Al-Qur’an, diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ secara berangsur-angsur, tidak secara langsung. Ini di antara keutamaan Al-Qur’an, selain dia diperuntukkan untuk seluruh manusia, dia juga diantara kelebihannya diturunkan oleh Allāh ﷻ secara berangsur-angsur, sesuai dengan kejadian.Dan semuanya adalah Kalamullāh, semua kitab-kitab tersebut adalah Kalamullāh, dan Malaikat Jibrīl ‘alaihissalām yang menjadi perantara, yang membawa wahyu tersebut kepada seorang nabi.وَنَشْهَدُ أَنَّهُمْ كَانُوا عَلَىٰ الحَقِّ المُبِينِDan kami bersaksi bahwasanya mereka ini, yaitu para nabi dan juga para mursalin, mereka berada di atas kebenaran.Jadi, semua para nabi dari awal sampai akhir berada di atas kebenaran, semuanya berada di atas agama yang satu yaitu agama Islam yang dikatakan oleh Allāh ﷻإِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلاَمُAgama yang benar di sisi Allāh adalah Al-Islam.Dan itulah agama para nabi, agama para rasul, yang juga dikatakan oleh Allāh ﷻوَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الخَاسِرِينَDan barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.Kita semuanya bersaksi bahwasanya para nabi dan rasul semuanya berada di atas kebenaran. Ini tidak berarti kita mengikuti syariatnya Hud, mengikuti syariat Shalih, tidak, karena masing-masing dari mereka diperuntukkan untuk kaumnya.وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةًDan dahulu masing-masing dari nabi itu diutas kepada kaumnya secara khususوَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةًDan aku diutus untuk seluruh manusia.Kita datang setelah Nabi Muhammad ﷺ, diperintahkan bagi manusia yang datang setelah beliau mendengar tentang kedatangan beliau untuk beriman dengan beliau ﷺ. Jadi, kita mengikuti syariatnya Nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, dan kita meyakini secara global bahwa apa yang dibawa oleh para nabi itu adalah benar adanya, dan mereka semuanya berada di atas kebenaran.

💬 0 komentar📅 21 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke dua puluh satu dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke dua puluh satu dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan dan ini dinamakan dengan haditsul wali. Di dalam hadits qudsi Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku niscaya Aku akan mengumumkan peperangan kepadanya.”(Hadits riwayat Bukhari nomor 6021/6502)Allah Subhānahu wa Ta’āla akan menolong walinya dan barangsiapa yang memusuhi wali diantara wali-wali Allah, maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan mengumumkan peperangan kepadanya.Kemudian Allah menyebutkan tentang sifat-sifat wali.وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ“Dan tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya.”Diantara sifat wali Allah adalah melakukan kewajiban-kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan shalat lima waktu, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, dan juga mengerjakan kewajiban-kewajiban yang lain.Dan kewajiban ini adalah sesuatu yang sangat dan paling dicintai oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.Adapun seorang yang dianggap wali kemudian dia tidak melakukan shalat lima waktu, ketika Ramadhan dia tidak berpuasa, maka ini bukan seorang wali.Kemudian Allah mengatakan,وَلا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Dan senantiasa hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan perkara-perkara yang sunnah sehingga Aku mencintai dia.”Diantara sifat-sifat wali Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah mereka bertaqarrub kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan sesuatu yang sunnah; shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا“Maka apabila Aku mencintai orang tersebut, (kata Allah Subhānahu wa Ta’āla) maka,• Aku akan menjadi pendengarannya yang dia akan mendengar dengannya.• Aku akan menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya.• Aku akan menjadi tangannya yang dia akan memukul dengannya.• Aku akan menjadi kakinya yang dia berjalan dengan kaki tersebut.Maksudnya sebagaimana disebutkan oleh para ulama, dia akan diberikan taufiq untuk meninggalkan kemaksiatan.• Tidak mendengar kecuali yang diridhoi oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.• Tidak melihat kecuali yang diridhoi oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.• Tidak memukul kecuali pada yang hak, pada tempatnya.• Tidak berjalan ke sebuah tempat kecuali tempat yang diridhoi oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.Apabila Allah mencintai seseorang, maka dia akan diberikan taufiq untuk meninggalkan kemaksiatan.Dan ini adalah sifat diantara sifat-sifat wali Allah Subhānahu wa Ta’āla, orang yang dicintai oleh Allah meninggalkan kemaksiatan.Oleh karena itu bagaimana kita mengatakan bahwasanya orang yang minum minuman keras, berzina, melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, akan tetapi dia memakai pakaian seorang ulama, kemudian kita katakan bahwasanya dia adalah seorang wali diantara wali-wali Allah.Seorang wali adalah orang yang meninggalkan kemaksiatan.وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Apabila dia meminta kepada-Ku (kata Allah), niscaya Aku akan memberikan dan apabila dia memohon perlindungan niscaya Aku akan melindungi orang tersebut.”

💬 0 komentar📅 21 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 96

Halaqah 96Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah bin Al-Yaman (Bagian 02) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaDalil dan Syair yang DibahasPotongan Hadits Utama (HR. Al-Bukhari & Muslim)​«...فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: "نَعَمْ"، قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: "نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ"، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: "قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ"...»Ziyadah (Tambahan Riwayat) Abu Dawud / Imam Muslim​«​عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ ... وَلَكِنْ لِتَوَقِّيهِوَمَنْ لاَ يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ ... يَقَعْ فِيهِ"Aku mengenal kejelekan bukan untuk melakukannya, melainkan untuk menjaga diri darinya. Barangsiapa yang tidak mengenal kejelekan di antara manusia, niscaya ia akan terjerumus ke dalamnya."Poin Garis Besar Pemahaman & Kandungan MateriHikmah Mempelajari Kejelekan (Tawaqqi)Perumpamaan Lubang di Jalan:Orang yang berjalan tanpa tahu adanya lubang berbahaya di jalan beresiko besar untuk terperosok. Sebaliknya, orang yang sudah tahu letak bahayanya akan berhati-hati dan selamat.​Tujuan Murni:Mempelajari kejelekan (seperti penyimpangan dan bid'ah) bukan untuk diamalkan, melainkan sebagai proteksi diri (tawaqqi) agar tidak terjerumus ke dalamnya tanpa disadari.Hakikat Masa Jahiliyah dan Nikmat Al-IslamKondisi Jahiliyah (Jāhiliyyatin wa Syarr):Kebodohan total yang mencakup kesyirikan, kedustaan atas nama Allah, pengubahan syariat, serta maraknya maksiat (riba, judi, khamr, dan zina).​Datangnya Kebaikan (Fajā'anā Allāhu bi-hādzāl khair):Diutusnya Nabi ﷺ membawa Al-Islam yang mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya, ketenangan, dan ketentraman hidup.Periodisasi Fitnah dan Munculnya Dakhan​Masa Kebaikan Murni:Zaman Rasulullah ﷺ, Abu Bakr As-Siddiq, dan Umar bin Al-Khattab radhiyallāhu 'anhum (belum terkontaminasi bid'ah).​Awal Mula Kejelekan (Syarr):Terjadinya fitnah besar yang diawali dengan terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallāhu 'anhu.​Kebaikan Berasap (Khairun wa fīhi dakhan):Kebaikan/keislaman yang datang setelah fitnah, tetapi sudah tidak murni lagi karena terkontaminasi oleh hal-hal baru dalam agama (bid'ah).Penjelasan Sifat Kelompok Pengotor Kebaikan (Dakhan)​Makna Yahdūna bi-ghairi hadyī:​Secara Riwayat: Diriwayatkan dengan lafadz yahdūna (memberi petunjuk/berdakwah) dan yahtadūna (mengambil petunjuk/beramal).​Aktivitas Beragama: Ketika beramal tidak mencocoki sunnah Nabi ﷺ, dan ketika berdakwah/mengajari orang lain justru mengarahkan kepada kebidahan.​Makna Ta'rifu minhum wa tunkir:​Ta'rif (Dikenali): Ada amalan mereka yang ma'ruf/sesuai syariat (seperti shalat, puasa Ramadhan, atau haji).​Tunkir (Diingkari): Ada amalan mereka yang mungkar karena menyelisihi contoh Rasulullah ﷺ.Kesimpulan ​Kebid'ahan disifati oleh Nabi ﷺ sebagai dakhan (kotoran) yang mencemari kesucian Al-Islam dan merupakan perkara mungkar. Seseorang yang sudah memeluk Islam hendaknya tidak lagi mencari-cari pola jahiliyah. Umat Islam dituntut untuk senantiasa kritis dan waspada dengan mempelajari kejelekan agar keislaman dan amalan mereka tetap murni di atas Sunnah Nabi ﷺ.

💬 0 komentar📅 21 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 September 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

HSI09-20: Amalan Hamba Ikhtiariyyah Menurut Ahlus Sunnah

(Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Takdir Allah — Ustadz Abdullah Roy, MA)1. Pembagian Amalan HambaAmalan hamba terbagi menjadi dua:Idlthirariyyah (اضطرارية) — amalan yang tidak bisa dipilih hamba, contoh: gerakan menggigil.Ikhtiariyyah (اختيارية) — amalan yang bisa dipilih hamba, contoh: amalan ketaatan dan kemaksiatan.2. Keyakinan Ahlus Sunnah tentang Amalan IkhtiariyyahAhlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakan amalan hamba, bukan hamba sendiri yang menciptakannya — berbeda dengan keyakinan Qadariyyah yang menganggap hamba sendiri pencipta amalannya.Dalil:وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ"Dan Allah, Dia-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan." (QS Ash-Shaffat: 96)إِنَّ اللَّهَ خَالِقُ كُلِّ صَانِعٍ وَصَنْعَتِهِ"Sesungguhnya Allah Yang Menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan." (HR. Al-Hakim, dalam Al-Mustadrak, hadits shahih)3. Hamba Tetap Pelaku AmalannyaMeski Allah pencipta amalan, Ahlus Sunnah tetap meyakini hamba adalah pelaku (fā'il) dari apa yang mereka amalkan:Allah menciptakan keimanan dan kekafiran — hambalah yang beriman dan yang kafir.Allah menciptakan ketaatan dan kemaksiatan — hambalah yang taat dan yang bermaksiat.Allah menciptakan shalat dan puasa — hambalah yang melakukan shalat dan puasa, bukan Allah yang menjadi pelakunya — berbeda dengan keyakinan Al-Jabriyyah.Dalil pendukung:فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ"Maka tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa penyejuk mata sebagai balasan atas apa yang mereka amalkan." (QS As-Sajdah: 17)→ Ayat ini menunjukkan amal hamba adalah sebab mereka mendapat kenikmatan surga, membuktikan pelakunya adalah hamba, bukan Allah.4. Dua Bekal yang Allah Berikan kepada HambaQudrah (kemampuan)لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا"Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sesuai kemampuannya." (QS Al-Baqarah: 286)Iradah (keinginan/kehendak) — Allah yang menciptakan iradah pada diri hamba, dan iradah hamba tunduk di bawah iradah Allah.لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ"Bagi siapa di antara kalian yang ingin istiqomah, dan tidaklah kalian menghendaki kecuali dengan kehendak Allah Rabb semesta alam." (QS At-Takwir: 28-29)5. Bantahan terhadap Al-JabriyyahDalil-dalil di atas membatalkan paham Al-Jabriyyah yang meyakini hamba dipaksa melakukan ketaatan/kemaksiatan tanpa pilihan, tanpa qudrah, dan tanpa iradah — seolah keadaan mereka seperti pohon yang tertiup angin, mengikuti arah angin tanpa kehendak sendiri.6. Kesimpulan — Posisi Ahlus Sunnah (Tawassuth/Moderat)Ahlus Sunnah berada di tengah dua paham yang menyimpang:Qadariyyah — hamba pencipta amalannya sendiri (menafikan takdir Allah)Jabriyyah — hamba dipaksa tanpa pilihan, qudrah, dan iradah (menafikan usaha hamba)Ahlus Sunnah meyakini: Allah pencipta amalan hamba, namun hamba tetaplah pelaku sejati atas amalan tersebut, dengan qudrah dan iradah yang Allah anugerahkan — dan iradah hamba tunduk di bawah iradah Allah.

💬 0 komentar📅 18 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 95 | Ahlus Sunnah Beriman kepada Para Nabi dan Rasul

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَنُؤْمِنُ بِالمَلَائِكَةِ وَالنَّبِيِّينَ، وَالكُتُبِ المُنْزَلَةِ عَلَىٰ المُرْسَلِينَDan kita beriman dengan para malaikat, para nabi, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada para Mursalin.Beriman dengan para nabi yaitu meyakini bahwasanya Allāh ﷻ telah memilih di antara manusia ini para nabi dan juga para Mursalin, para rasul yang diutus kepada manusia menjadi perantara antara Allāh ﷻ dengan manusia. Allāh ﷻ tidak mewahyukan kepada masing-masing manusia, tapi Allāh ﷻ menjadikan di sana utusan, perantara. Allāh ﷻ mewahyukan kepadanya kemudian dia menyampaikan kepada manusia yang mereka mendakwahkan kepada Tauhid. Dan nabi dan rasul yang terakhir yang Allāh ﷻ utus adalah nabi kita Muhammad ﷺ yang Allāh ﷻ telah memberikan karunia kepada kita menjadi salah satu di antara umat beliau ﷺ. Kita beriman dengan para nabi dan juga para rasul.أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِDan diantara cara beriman dengan para Rasul ‘alaihim as-salām adalah meyakini bahwasanya mereka adalah manusia pilihanٱللَّهُ يَصْطَفِى مِنَ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ رُسُلًۭا وَمِنَ ٱلنَّاسِ(QS. Al-Ḥajj: 75)Allāh ﷻ memilih mereka, mereka adalah manusia yang paling afdhal di sisi Allāh ﷻ, paling sempurna di sisi Allāh ﷻ dari sisi nasabnya, dan mereka adalah orang-orang yang dikenal kebaikannya oleh kaumnya, sebagaimana Allāh ﷻ sebutkan di dalam beberapa ayat.قَدْ كُنتَ فِينَا مَرْجُوًّۭا قَبْلَ هَـٰذَآ(QS. Hūd, 11:62)Dikatakan oleh sebagian umat kepada Rasul-Nya, “Kamu sebenarnya awalnya kami berharap engkau adalah menjadi harapan kami, tapi kenapa kemudian engkau mendakwahi kami kepada Tauhid,” dan seterusnya.Para rasul ‘alaihim as-salām adalah orang-orang pilihan. Nabi ﷺ, sebagaimana kita tahu, juga orang pilihan; pilihan di antara yang dipilih oleh Allāh ﷻ.إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَAllāh ﷻ memilih Qinanah dari anak-anak Ismail, danوَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَdan Allāh ﷻ memilih Quraisy dari Qinanah,وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍdan Allāh ﷻ memilih Bani Hasyim diantara orang-orang Quraisyوَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍdan Allāh ﷻ memilihku diantara Bani Hasyim.Qinanah inilah yang terbaik dari anak-anaknya Ismail, Quraisy ini yang paling terbaik dari yang terbaik di antara anak-anak Qinanah, Bani Hasyim adalah yang terbaik di antara orang-orang Quraisy, dan Nabi ﷺ adalah yang paling baik di antara Bani Hasyim, mereka adalah orang-orang pilihan.Kemudian mereka adalah ma’shum dari dosa besar. Adapun dosa kecil mungkin terjadi dilakukan oleh sebagian mereka, tapi sangat cepat mereka bertaubat kepada Allāh ﷻ. Di antara keyakinan kita, bahwasanya para nabi dan juga para rasul, mereka diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk berdakwah kepada Tauhid; dakwah mereka satu.وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ(QS. An-Nahl: 36)وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ(QS. Al-Anbiyā’, 21:25)“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku, maka sembahlah Aku.”وَٱذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُۥ بِٱلْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِۦ وَمِنْ خَلْفِهِۦٓ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّا ٱللَّهَ(QS. Al-Ahqāf, 46:21)Dakwah mereka satu, yaitu dakwah kepada Tauhid. Di antara cara beriman kepada para nabi ‘alaihim as-salām adalah tidak boleh kita berlebih-lebihan terhadap para nabi. Kita meyakini tentang keutamaan mereka, tapi tidak boleh kita berlebihan kepada mereka sehingga mengangkat mereka kepada derajat Uluhiyah.“يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ”(QS. An-Nisā’: 171)Wahai Ahlul Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian, karena mereka di antaranya menjadikan Nabi Isa ‘alaihis-salām sebagai anak Allāh ﷻ, menjadikan Uzair sebagai anak Allāh ﷻ. Dan larangan kepada Ahlul Kitab ini adalah pelajaran bagi kita semuanya, karena kita dilarang untuk mengikuti mereka, dilarang untuk mengikuti jalan Ahlul Kitab dan tasyabbuh dengan mereka. Sehingga Nabi ﷺ mengatakanلَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُJanganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani mereka berlebih-lebihan dalam memuji Nabi Isa ‘alaihis-salām. Sesungguhnya aku adalah hamba Allāh, maka katakanlah, “hamba Allāh dan juga Rasul-Nya.”Jika ingin memuji nabi, gunakan dua pujian ini yang paling bagus, yaitu mengatakan beliau adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya, karena kedudukan sebagai seorang hamba Allāh adalah kedudukan yang tinggi. Semakin seseorang merendahkan dirinya di hadapan Allāh ﷻ, Allāh ﷻ semakin mengangkat derajatnya. Betapa banyak dalam Al-Qur’ān Allāh ﷻ menyebutkan panggilan dan penyebutan para nabi sebagai ‘ibādanā.وَإِنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ (QS. Al-Muddathir: 20)سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ (QS. Al-Isra: 1)Al-Ubudiyah ini adalah kedudukan yang tinggi di hadapan Allāh ﷻ.Demikian pula kerasulan, tidak semua hamba Allāh diangkat sebagai Rasul. Rasul adalah termasuk hamba Allāh ﷻ, namun memiliki pangkat yang lebih, sebagai seorang hamba dan sekaligus sebagai yang menyampaikan risalah Allāh ﷻ. Beliau adalah seorang hamba Allāh ﷻ dan sekaligus da’i. Makanya kedudukan dua perkara ini sebagai seorang hamba Allāh sebagai seorang da’i ini tentunya yang kita inginkan.Sebisa mungkin seseorang dalam dirinya mewujudkan sifat-sifat ubūdiyyah kepada Allāh ﷻ, baik di dalam ibadahnya kepada Allāh ﷻ, di satu sisi, dia juga seorang da’i yang mengajak orang lain untuk menyembah Allāh ﷻ, sehingga dia memperbaiki dirinya sendiri dan juga berusaha memperbaiki orang lain. Dia mengumpulkan antara ibadah dan dakwah.Demikianlah para nabi dan rasul yang mengumpulkan antara dakwah dan ibadah. Mereka adalah hamba Allāh ﷻ yang luar biasa ubūdiyyahnya di hadapan Allāh ﷻ dan juga seorang rasul yang luar biasa dalam mengajak manusia untuk beribadah kepada Allāh ﷻ. Ini di antara cara untuk beriman kepada para nabi.Demikian pula, di antaranya adalah meyakini bahwa jumlah mereka sangat banyak. Dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa jumlah para nabi itu ada 124.000 orang, dan yang menjadi rasul di antara mereka ada 300 orang lebih. Ini menunjukkan bahwa Rasul lebih khusus daripada nabi.Ada di antara mereka yang kita ketahui namanya, maka kita beriman dengan nama-nama tersebut: ‘Isa, Ismā’īl, Ibrāhīm, Mūsā, Hārūn, Yaḥyā. Maka, kita beriman dengan nama-nama para nabi yang Allāh ﷻ sebutkan. Dan di dalam Al-Qur’ān ada 18 nama nabi yang disebutkan kepada kita, sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, maka kita beriman secara global, maksudnya Allāh ﷻ memiliki nabi-nabi lain selain mereka yang kita tidak mengetahui namanya.

💬 0 komentar📅 18 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 20

Halaqah yang ke dua puluh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Amalan Hamba Ikhtiariyyah Menurut Ahlus Sunnah”.Amalan Hamba terbagi menjadi dua:1. Amalan Hamba Idlthiroriyyah (اضطرارية) yaitu amalan hamba yang seorang hamba tidak bisa memilih, seperti gerakan orang yang menggigil.2. Amalan hamba Ikhtiariyyah (اختيارية) yaitu amalan hamba yang seseorang bisa memilih. Seperti amalan-amalan ketaatan dan amalan-amalan kemaksiatan.Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa Allah yang menciptakan amalan mereka, bukan mereka sendiri yang menciptakan amalan tersebut sebagaimana keyakinan orang-orang Qodariyyah.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ[QS Ash-Shaffat 96]“Dan Allah, Dia-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”Dan Rasulullah ﷺ bersabda,إن الله خالق كل صانع وصنعته“Sesungguhnya Allah Yang Menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan.” [Hadits Shahih diiriwayatkan oleh Al Hakim, di dalam Al Mustadrok]Dan Ahlus Sunnah meyakini bahwa para hamba, merekalah pelaku dari apa yang mereka amalkan.Allah yang menciptakan keimanan dan kekafiran, dan seorang hamba dialah yang beriman dan dialah yang kafir.Allah menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan hamba dialah yang taat dan dialah yang bermaksiat.Allah menciptakan shalat dan puasa, dan hamba-lah yang melakukan shalat dan dialah yang melakukan puasa, bukan Allah Subhānahu wa Ta’āla yang menjadi pelaku itu semua, sebagaimana diyakini oleh orang-orang Al Jabriyyah.Allah berfirman,فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ[QS As-Sajdah 17“Maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa hal-hal yang menyejukan mata mereka sebagai balasan atas apa yang mereka amalkan.”Di dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa amal yang dilakukan para hamba adalah sebab mereka mendapatkan kenikmatan di surga, menunjukkan bahwa pelaku amalan tersebut adalah hamba dan bukan Allah.Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan para hamba qudrah atau kemampuan sebagaimana firman Allah,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ..[QS Al-Baqarah 286]“Allah tidak membebani sebuah jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.”Dan Allah juga memberikan mereka iradah atau keinginan. Allah-lah yang menciptakan iradah pada diri mereka dan iradah mereka di bawah iradah Allah Subhānahu wa Ta’āla.Allah berfirman,لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَوَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ[QS At-Takwir 28-29]“Bagi siapa diantara kalian yang ingin istiqomah dan tidaklah kalian menghendaki istiqomah kecuali dengan kehendak Allah Rabb semesta alam.”Ini semua menunjukkan tentang batilnya ucapan Al Jabriyyah bahwa hamba dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan, tidak ada pilihan bagi mereka, mereka tidak memiliki qudrah dan iradah, keadaan mereka seperti gerakan pohon yang tertiup angin mengikuti ke mana arah angin tersebut.

💬 0 komentar📅 18 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 20: Amalan Hamba / Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah

Halaqah 20 :Amalan Hamba / Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAmalan Hamba terbagi menjadi dua:Amalan Hamba Idlthiroriyyah (اضطرارية) yaitu amalan hamba yang seorang hamba tidak bisa memilih, seperti gerakan orang yang menggigil.Amalan hamba Ikhtiariyyah (اختيارية) yaitu amalan hamba yang seseorang bisa memilih. Seperti amalan-amalan ketaatan dan amalan-amalan kemaksiatan.Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa Allah yang menciptakan amalan mereka, bukan mereka sendiri yang menciptakan amalan tersebut sebagaimana keyakinan orang-orang Qodariyyah.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ“Dan Allah, Dia-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”(QS. Ash-Shaffat: 96)Dan Rasulullah ﷺ bersabda,إن الله خالق كل صانع وصنعته“Sesungguhnya Allah Yang Menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan.” (Hadits Shahih diiriwayatkan oleh Al Hakim, di dalam Al Mustadrok)Dan Ahlus Sunnah meyakini bahwa para hamba, merekalah pelaku dari apa yang mereka amalkan.▪︎ Allah yang menciptakan keimanan dan kekafiran, dan seorang hamba dialah yang beriman dan dialah yang kafir.▪︎ Allah menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan hamba dialah yang taat dan dialah yang bermaksiat.▪︎ Allah menciptakan shalat dan puasa, dan hamba-lah yang melakukan shalat dan dialah yang melakukan puasa, bukan Allah Subhānahu wa Ta’āla yang menjadi pelaku itu semua, sebagaimana diyakini oleh orang-orang Al Jabriyyah.Allah berfirman,فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa hal-hal yang menyejukan mata mereka sebagai balasan atas apa yang mereka amalkan.”(QS. As-Sajdah: 17)Di dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa amal yang dilakukan para hamba adalah sebab mereka mendapatkan kenikmatan di surga, menunjukkan bahwa pelaku amalan tersebut adalah hamba dan bukan Allah.Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan para hamba qudrah atau kemampuan sebagaimana firman Allah,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ..“Allah tidak membebani sebuah jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.”(QS. Al-Baqarah: 286)Dan Allah juga memberikan mereka iradah atau keinginan. Allah-lah yang menciptakan iradah pada diri mereka dan iradah mereka di bawah iradah Allah Subhānahu wa Ta’ālāla.Allah berfirman,لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَوَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Bagi siapa diantara kalian yang ingin istiqomah dan tidaklah kalian menghendaki istiqomah kecuali dengan kehendak Allah Rabb semesta alam.”(QS. At-Takwir: 28-29)Ini semua menunjukkan tentang batilnya ucapan Al Jabriyyah bahwa hamba dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan, tidak ada pilihan bagi mereka, mereka tidak memiliki qudrah dan iradah, keadaan mereka seperti gerakan pohon yang tertiup angin mengikuti ke mana arah angin tersebut.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 18 Sep 2026Baca selengkapnya →