🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 79 | Asal Takdir Ialah Rahasia Allāh ﷻ Bagi Hamba-Hamba-Nya

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullah @komunitas.beekind #jejakilmuHSI السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ“Asal dari takdir, hakikat dari takdir itu adalah rahasia Allāh yang ada pada makhluk-Nya.Qadar, takdir, ini adalah rahasia Allāh, tidak diketahui oleh seorang Nabi seperti Nabi Muḥammad ﷺ atau Malaikat Jibrīl sekalipun. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi. Qadar, takdir ini adalah سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ ini adalah rahasia Allāh di dalam makhluk-makhluk-Nya. Nabi ﷺ tidak diberitahu apa yang akan terjadi, ini adalah termasuk ilmu ghaib yang dikatakan oleh Allāh ﷻ:قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ“Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allāh.” (QS. An-Naml: 65)Hanya Allāh yang mengetahui ilmu ghaib. Ini adalah rahasia Allāh.عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍDialah Allāh ﷻ yang mengetahui yang ghaib, maka Allāh ﷻ tidak memperlihatkan ilmu ghaib itu kepada seorang pun kecuali kepada orang yang Dia ridhai dari kalangan para Rasul …” (QS. Al-Jinn: 26-27).Sebagian Allāh ﷻ kabarkan kepada mereka apa yang terjadi dimasa yang akan datang, sebagian dikabarkan kepada Nabi ﷺ bahwasanya Abu Bakar di dalam Surga, ‘Umar di dalam Surga, ‘Utṡmān di dalam Surga, ‘Alī di dalam Surga, Abu Lahab di Neraka, Fir’aun di Neraka.Dari mana kita mengetahui ini? Allāh ﷻ yang mengabarkan sebagian rahasia tersebut sehingga kita mengetahui, namun asalnya itu adalah rahasia Allāh ﷻ dalam makhluk-Nya.وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ، لَمْ يَطَّلِعْ عَلَىٰ ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌTidak mengetahuiyang demikian, sampai seorang malaikat yang didekatkan kepada Allāh ﷻ atau seorang nabi yang diutus, tidak ada yang mengetahui rahasia tersebut, kecuali yang dikecualikan. Ada beberapa perkara yang memang Allāh ﷻ beritahukan, kejadian-kejadian yang akan terjadi dimasa yang akan datang, seperti tanda-tanda dekatnya hari kiamat dan apa yang terjadi di akhirat kelak, maka sebagian itu dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada utusan-Nya, kepada malaikat atau kepada seorang rasul yang diutus.Sehingga kalau seorang nabi yang diutus saja dan malaikat yang didekatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala mereka tidak mengetahui lalu bagaimana dengan kita yang tentunya derajatnya di bawah mereka. Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan dalam Al-Qur’an atau yang diajarkan oleh Nabi Shallallāhu ʿalaihi wa sallam dalam sunnah mengenai masalah takdir.Kita ikuti rambu-rambu yang Allāh ﷻ berikan dalam masalah takdir. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ telah memberikan kita petunjuk bagaimana cara kita mengarungi kehidupan ini bagaimana cara kita menghadapi dan cara kita untuk beriman dengan takdir Allah maka kita ikuti rambu-rambunya jangan kita keluar dari apa yang sudah Allah tunjukkan.Kemudian beliau mengingatkanوَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيعَةُ الخِذْلَانِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِkalau itu adalah rahasia Allah maka orang yang berusaha menyingkap rahasia Allah bagaimana keadaannya? Ini yang disampaikan pada paragraf selanjutnya ada di antara sebagian orang dia terlalu berlebihan dalam memikirkan takdir, berlebihan di dalam memikirkan apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah, tentang takdir Allahوَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَdan dia berlebihan di dalam memikirkannya, misalnya kalau ini sudah ditakdirkan oleh Allah berarti ini Allah berbuat dzalim, kenapa Allah mentakdirkan seseorang yang melakukan amal maksiat atau masuk ke dalam kekufuran kemudian Allah mengadzab dia di dalam neraka dan seterusnya. Dia pikirkan dan dia pikirkan sampai sebagian orang tidak mau beramal shalih, sebagian orang menuduh Allah dengan tuduhan-tuduhan yang keji maka inilah yang dikhawatirkanوَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيعَةُ الخِذْلَانِIni adalah menjadi sebab seseorang mendapatkan khidzlan yaitu ditinggalkan oleh Allah, Allah tidak akan lagi menolongnya, karena dia berusaha untuk menyingkap sesuatu yang dia tidak punya kekuatan disana, ini adalah rahasia Allah dan dia berusaha untuk mengutak-atik mendalami memikirkan sesuatu yang merupakan rahasia Allah, ingin sampai ke sana maka ini justru akan menjadi sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggalkan dia, Allah tidak memberikan hidayah kepada orang tersebut.وسُلَّمُ الحِرْمَانِdan dia adalah menjadi tangga sehingga dia menjadi orang yang mahrum, orang yang diharamkan dari hidayahوَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِDan ini adalah menjadi sebab akhirnya dia menyimpang, akhirnya dia berlebihan. Sebagian orang menyangka bahwasanya dengan dia memikirkan lebih dalam tentang takdir Allah kemudian akhirnya dia membuat permisalan-permisalan, menganggap ini adalah sebuah kebaikan yang akan menjadikan dia semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala tapi justru sebaliknya ini yang menjadikan dia jauh dari hidayah.Dia merasa bahwa dengan memiliki pemikiran-pemikiran tersebut, dia adalah orang yang Masya Allāh semangat dalam menuntut ilmu. Namun, dia berusaha untuk mengutak-atik dan mendalami sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukannya, karena itu sudah melebihi apa yang telah ditentukan oleh Allāh ﷻ. Dia menganggap bahwa semua itu menjadikannya mendapatkan keutamaan, padahal justru itu menjadiذَرِيعَةُ الخِذْلَانِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِitu adalah waswas dari syaithan, jadi hati-hati.Dan sebenarnya mudah dalam memahami takdir Allāh ﷻ. Kita beriman bahwa Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu dan menulis segalanya, semua yang terjadi adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan merupakan ciptaan-Nya. Di sisi lain, kita diperintahkan untuk beramal shalih, menjalankan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan hingga kita meninggal dunia. Allāh ﷻ tidak suka dengan kekufuran, tidak menyenangi kebid’ahan, dan membenci kemaksiatan, sehingga kita tinggalkan dan Allah mencintai amal shalih dan juga keimanan.Jika datang waswas dari syaitan bahwa Allāh ﷻ dzhalim , kita katakan:وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ(QS. Fuṣṣilat: 46)Allah tidak melakukan kebaikan sedikitpun, Allah Subhanahu wa ta’ala apa yang dia lakukan mungkin adalah karunia atau mungkin itu adalah sebuah keadilan, tidak ada kedzhaliman, Dan Allah lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan hidayah. Kalau disana ada orang yang disesatkan oleh Allah itu adalah kesalahan orang tersebut dan dia memang orang yang berhak untuk disesatkan oleh Allah dan Allah lebih tahu tentang keadaan dia daripada kita.Demikian yang ada dalam diri seorang muslim sampai dia bertemu dengan Allah, sederhana sebenarnya cuma sebagian orang yang dia menyusahkan dirinya sendiri yang akhirnya bukan kebaikan justru malah kesesatan dan semakin jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman Kepada Takdir Halaqah 4

Halaqah yang ke empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Cara Beriman dengan Takdir Allah Bagian 1.Cara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani Marotibul Qadar (tingkatkan-tingkatan takdir) yang jumlahnya ada empat:1. Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, yang ada dan yang tidak ada, yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengetahui yang ada di langit maupun yang ada di bumi, yang kelihatan maupun yg tidak kelihatan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ[QS Al-Baqarah 282]“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”Dan Allah berfirman,وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ[QS Al-An’am 59]“Dan di sisi-Nya kunci-kunci ilmu ghaib, tidak mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allah mengetahuinya dan tidak ada satu biji di kegelapan-kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah maupun kering kecuali semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Lauhul Mahfudz).”Allah mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi, bahkan Allah mengetahui apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana kejadiannya.Allah berfirman,… ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ[QS Al-An’am 28]“Dan seandainya mereka (yaitu orang-orang kafir) dikembalikan ke dunia niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang mereka sudah dilarang darinya dan sesungguhnya mereka adalah berdusta.”Yaitu seandainya orang-orang kafir yang diadzab di dalam neraka yang meminta supaya dikembalikan ke dunia untuk beriman dan beramal dikabulkan permintaan mereka untuk kembali ke dunia, niscaya mereka akan kafir kembali.Dan Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh makhluk sebelum Allah menciptakan mereka, mengetahui rezeki, ajal, dan amalan mereka, bergerak dan diamnya mereka, kesengsaraan dan kebahagiaan mereka, bahkan Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk ke dalam surga dan siapa yang akan masuk ke dalam neraka sebelum Allah menciptakan mereka. Bahkan sebelum mereka diciptakan, Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk surga dan siapa diantara mereka yang kelak akan masuk neraka.Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrikin beliau mengatakan,الله أعلم بـما كـانوا عامليـن“Allah lebih tau tentang apa yang akan mereka amalkan.” [HR Bukhari dan Muslim]Dan beliau ﷺ bersabda,ما منـكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنـار“Tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka.” [HR Bukhari dan Muslim]Kewajiban seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepada agama Islam ini dan Sunnah Rasulullah ﷺ kemudian istiqamah dalam beriman dan beramal shaleh sampai dia meninggal dunia.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 79

Kamis, 27 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 79Pembahasan Dalil Ketujuh, Hadits Shahih Riwayat Abu Hurairah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'āla​Sabda Rasulullah ﷺ (Lafaz Syahid):​وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا"Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."​Dalil Kategori Bid'ah sebagai Kesesatan (Sabda Nabi ﷺ):​وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ"Dan setiap bid'ah adalah sesat."​Ayat Penyerta (Tafsiran QS. Al-Fatihah: 7):​غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ"bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."​Al-Maghdhubi 'alaihim merujuk pada kaum Yahudi (berilmu tapi tidak beramal). Adh-Dhāllīn merujuk pada kaum Nasrani (semangat beramal tanpa dasar ilmu).​Poin-Poin Garis Besar Kandungan Pemikiran & Makna​Korelasi Makna Dhalaalah (Kesesatan) dan Bid'ah:​Nabi ﷺ menyifati bid'ah sebagai dhalaalah (kesesatan) karena pelaku bid'ah beramal tanpa landasan ilmu/dalil.​Karakter pelaku bid'ah serupa dengan kaum Nasrani (adh-dhāllīn): bersemangat tinggi dalam beribadah tetapi tidak didasari ilmu. Contohnya adalah tradisi rahbaniyyah (membujang demi mubalaghah ibadah) dan membangun tempat ibadah di atas kuburan orang saleh.​Bahaya Menyeru kepada Bid’ah:​Seseorang yang mengajak/menyeru kepada kebid’ahan akan menanggung dosa seluruh orang yang mengikutinya, meskipun ia sendiri mungkin tidak mempraktikkan amalan tersebut.​Semakin banyak pengikut yang terpengaruh, semakin besar kran dosa yang mengalir kepada si penyeru tanpa mengurangi dosa para pengikutnya.​Perbandingan Dosa Bid'ah dengan Dosa Besar (Kabairu Dzunub):​Status Pengakuan: Pelaku maksiat/dosa besar (seperti zina atau riba) tidak meyakini perbuatannya sebagai ibadah. Sebaliknya, pelaku bid'ah menganggap kebidahannya sebagai bentuk ibadah (qurbah) untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, bahkan kerap menganggap orang yang tidak beribadah sebagai orang malas/tidak berilmu.​Kadar Bobot Dosa: Walaupun ada dosa besar yang diiklankan secara terbuka (seperti ajaran maksiat, bioskop, zina, atau riba), dosa kebid’ahan dari 1 orang yang terkena dakwah bid'ah tetap jauh lebih besar bobot dosanya dibandingkan dosa maksiat dari 10 orang yang tergoda melakukan zina.​KesimpulanHalaqah 79 menegaskan bahwa kebid’ahan merupakan inti dari dhalaalah (kesesatan) karena berlandaskan semangat ibadah tanpa ilmu—sebagaimana sifat kaum Nasrani (adh-dhāllīn). Penulis kitab menekankan bahwa bid'ah memiliki bahaya dan bobot dosa yang jauh lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar (kabair). Penyeru bid'ah memikul dosa berantai dari seluruh pengikutnya, sebab bid'ah dihiasi sebagai bentuk ketaatan yang mudah diikuti masyarakat, padahal kadar kejelekan satu dosa bid'ah melampaui dosa-dosa kemaksiatan seperti zina dan riba.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 4: Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 1

Halaqah 4:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 1🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىCara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani Marotibul Qadar (tingkatkan-tingkatan takdir) yang jumlahnya ada empat:1. Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, yang ada dan yang tidak ada, yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengetahui yang ada di langit maupun yang ada di bumi, yang kelihatan maupun yg tidak kelihatan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:… ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”[QS. Al-Baqarah: 282]Dan Allah berfirman:وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ“Dan di sisi-Nya kunci-kunci ilmu ghaib, tidak mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allah mengetahuinya dan tidak ada satu biji di kegelapan-kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah maupun kering kecuali semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Lauhul Mahfudz).” [QS. Al-An’am: 59]Allah mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi, bahkan Allah mengetahui apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana kejadiannya.Allah berfirman:… ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ“Dan seandainya mereka (yaitu orang-orang kafir) dikembalikan ke dunia niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang mereka sudah dilarang darinya dan sesungguhnya mereka adalah berdusta.”[QS. Al-An’am: 28]Yaitu seandainya orang-orang kafir yang diadzab di dalam neraka yang meminta supaya dikembalikan ke dunia untuk beriman dan beramal dikabulkan permintaan mereka untuk kembali ke dunia, niscaya mereka akan kafir kembali.Dan Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh makhluk sebelum Allah menciptakan mereka, mengetahui rezeki, ajal, dan amalan mereka, bergerak dan diamnya mereka, kesengsaraan dan kebahagiaan mereka, bahkan Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk ke dalam surga dan siapa yang akan masuk ke dalam neraka sebelum Allah menciptakan mereka. Bahkan sebelum mereka diciptakan, Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk surga dan siapa diantara mereka yang kelak akan masuk neraka.Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrikin beliau mengatakan,الله أعلم بـما كـانوا عامليـن“Allah lebih tau tentang apa yang akan mereka amalkan.” [HR Bukhari dan Muslim]Dan beliau ﷺ bersabda,ما منـكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنـار“Tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka.” [HR Bukhari dan Muslim]Kewajiban seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepada agama Islam ini dan Sunnah Rasulullah ﷺ kemudian istiqamah dalam beriman dan beramal shaleh sampai dia meninggal dunia.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 54 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Kerasulan Nabi Muhammad ﷺ👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahBeliau mengatakanوأرسل بالمدثرdan beliau menjadi seorang Rosul, أرسل maksudnya adalah resmi menjadi seorang Rasul dengan المدثر yaitu turunnya ayat yang pertama sampai ayat yang ketujuh dari surat Al Mudatsir. Dengannya beliau resmi menjadi seorang Rasul setelah sebelumnya ketika turun ٱقۡرَأۡ beliau menjadi seorang Nabi, yaitu orang yang diwahyukan orang yang dikabarkan.Adapun Rosul, baru beliau resmi menjadi seorang Rosul ketika diturunkan surat Al-Muddatsir aya 1 sampai ayat yang ke-7. Dinamakan Rosul karena ia diutus kepada kaum yang menyelisihi. Kepada kaum yang menyelisihi Rosul tersebut di dalam masalah tauhid. Sorang Rasul diutus kepada kaum yang menyelisihi didalam tauhid, sehingga Nabi Adam ‘Alaihissalam Nabi karena beliau diutus kepada kaum yang mereka Muwahhidin. Adapun Nuh ‘Alaihissalam maka ketika beliau diutus kepada orang-orang yang menyelisihi di dalam masalah tauhid sehingga beliau adalah Rasul. Nabi yang pertama adalah Nabi Adam, Rasul yang pertama adalah Nuh ‘Alaihissalam karena beliau diutus kepada kaum yang menyelisihi di dalam masalah tauhid. Kaumnya itulah yang pertama kali menyimpang dari Tauhid, terjerumus dalam kesyirikan. Ini adalah pendapat yang lebih dekat tentang perbedaan antara Nabi dan juga Rasul.Adapun yang mengatakan dan ini banyak di kalangan para ulama Ahlussunnah bahwasanya Nabi diwahyukan tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan, adapun Rasul maka dia diwahyukan dan diperintahkan untuk menyampaikan wallahu ta’ala a’lam Namun bahwasanya baik Nabi maupun Rosul ini dua duanya diutus dan diperintahkan untuk berdakwah. Dalil yang menunjukkan bahwasanya Nabi juga diutus dan diperintahkan untuk berdakwah yaitu firman Allah Azza wa Jallaوَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٖ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَٰنُ فِيٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلۡقِي ٱلشَّيۡطَٰنُ ثُمَّ يُحۡكِمُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٥٢ الحج:52Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula Nabi.Menunjukkan bahwasanya baik Rosul maupun Nabi dua duanya adalah diutus oleh Allah diutus kepada manusia.وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٖ وَلَا نَبِيٍّKeduanya diutus oleh Allah kepada manusja. berarti kedua-duanya Mursal kedua-duanya diutus dan yang namanya utusan tentunya dia akan menyampaikan bukan hanya sekedar datang kemudian kembali. Ketika dia menyampaikan itulah, dakwah kedua-duanya diperintahkan untuk tabligh untuk menyampaikan.Menunjukkan bahwasanya pertama ayat ini menunjukkan perbedaan antara Rasul dan Nabi, kemudian menunjukkan bahwasanya Rosul dan Nabi kedua-duanya diperintahkan untuk menyampaikan.Didalam sebuah hadits beliau ﷺ pernah dinampakkan ketika Mi’raj umat-umat dan juga para NabinyaDinampakkan kepadaku ummat beserta Nabinya yaitu ketika Mi’raj, aku melihat seorang Nabi dan bersamanya beberapa orang dan mereka ini adalah umatnya. Dan aku melihat seorang Nabi bersamanya seorang laki-laki dan dua orang. Jadi ada seorang Nabi yang hanya memiliki satu pengikut dan ada seorang Nabi yang memiliki dua pengikut. Dan ada seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.Beliau mengatakan Annabiya dan ternyata disana ada pengikutnya meskipun hanya satu atau dua atau beberapa orang, ini menunjukkan bahwasanya Nabi tersebut mereka berdakwah mereka menyampaikan. Buktinya ada pengikutnya meskipun satu atau dua tapi yang jelas mereka menyampaikan, maka ini juga dalil bahwasanya para Nabi mereka juga diperintahkan untuk tabligh menyampaikan wahyu.Diantara yang menguatkan bahwasanya Nabi diutus untuk kaum yang sama di dalam masalah tauhid, ketika Allah ﷻ menyebutkan tentang Bani Israil atau Anbiya Bani Israilإِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ فِيهَا هُدٗى وَنُورٞۚ يَحۡكُمُ بِهَا ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ[Al Ma”idah:44]Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya.Mereka berhukum dengan Taurat, Taurat diturunkan kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, Anbiya’u Bani Israil mereka berhukum dengan taurat tersebut untuk orang-orang Yahudi. Dari sisi tauhid mereka sama dengan para Nabi tersebut akan tetapi mereka memiliki penyimpangan-penyimpangan yang lain. Kalau kita lihat di dalam Al-Mudatsir disitu mulai ada perintah untuk berdakwah kepada kaum yang menyelisihi didalam masalah tauhidيَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١ قُمۡ فَأَنذِرۡTegaklah, ingatkanlah mereka dari kesyirikan, dakwahkanlah kepada Tauhid. di dalamnya ada dakwah kepada tauhid di dalamnya ada mendakwahi orang-orang yang menyelisihi Nabi tersebut didalam masalah tauhid. dan juga didalamوَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣ وَثِيَابَكَ فطَهِّرۡ ٤semuanya adalah dakwah kepada Tauhid, karena diutus kepada kaum yang menyelisihi di dalam masalah Tauhid maka resmilah beliau menjadi seorang Rasul.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 28 - Kebangkitan

Halaqah 28- KebangkitanHalaqah yang ke-28 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Kebangkitan ”Yang dimaksud dengan kebangkitan adalah dikembalikannya arwah kepada jasad, sehingga manusia kembali hidup. Akan digoncangkan Bumi dengan segoncang-goncangnya dan terbuka kuburan manusia. Kemudian keluarlah semua manusia dari kuburnya dalam keadaan hidup. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanإِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا (١) وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا (٢) وَقَالَ ٱلۡإِنسَـٰنُ مَا لَهَا“Apabila Bumi digoncang dengan segoncang-goncangnya. Dan Bumi mengeluarkan beban-bebannya. Dan berkatalah manusia, “Mengapa Bumi menjadi begini?” (Az-Zalzalah : 1-3)Dan orang yang pertama kali terbuka kuburannya adalah Rasulullah ﷺ (HR. Bukhari dan Muslim).Manusia akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan dia ketika meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda,يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِAkan dibangkitkan setiap hamba sesuai keadaan dia ketika meninggal dunia (HR. Muslim)Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwasanya orang yang meninggal dalam keadaan ihram, haji atau umroh, maka akan dibangkitkan dalam keadaan membaca talbiyah (HR. Bukhari dan juga Muslim).Orang yang memakan riba akan bangkit seperti bangkitnya orang-orang yang kesurupan yaitu dalam keadaan sempoyongan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ‌ۚ“Orang-orang yang memakan riba, tidak bangkit dari kuburnya, kecuali seperti bangkitnya orang-orang yang kerasukan setan.” (Al-Baqarah : 275)Inilah hari kebangkitan yang diingkari oleh orang-orang kafir dan dilalaikan oleh kebanyakan manusia. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanزَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْ‌ۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبۡعَثُنَّ“Orang-orang kafir menyangka bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Bahkan demi Rabb-ku, kalian akan dibangkitkan”. (At-Taghabun : 7)Hari yang sangat sulit dan sangat berat. Pada hari itu, manusia akan menyesal. Orang kafir akan menyesal karena tidak beriman. Dan orang beriman menyesal karena tidak maksimal di dalam beramal di Dunia. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan kita dan orang-orang yang kita cintai, kemudahan dalam menghadapi hari yang sangat besar ini.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 3: Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām

Halaqah 3:Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىIman dengan takdir Allah memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islam.Diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukannya:1. Beriman dengan takdir termasuk diantara enam Rukun Iman yang harus diimani dan pokok aqidah yang harus diyakini yang tidak sah iman seorang hamba tanpanya.2. Beriman yang benar dengan takdir Allah yang mencakup: beriman dengan Ilmu Allah, penulisan-Nya, kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya termasuk bagian dari Mentauhidkan Allah di dalam Rububiyah dan sifat-sifat-Nya, karena Al Qadha (memutuskan) dan Al Qadar (menentukan) adalah termasuk pekerjaan Allah dan pekerjaan Allah adalah termasuk sifat-sifat-Nya. Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir maka bukan seseorang yang meng-Esa-kan Allah di dalam Rububiyah-Nya dan ini membawa pengaruh buruk pada Tauhid Uluhiyahnya.Adapun orang yang beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar maka akan terjaga Tauhid Rububiyah-Nya dan Uluhiyahnya.Berkata Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma,” الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ ، فَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَآمَنَ بِالْقَدَرِ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِي لا انْفِصَامَ لَهَا ، وَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَكَذَّبَ بِالْقَدَرِ نَقْضَ التَّوْحِيدَ ” .“Takdir adalah aturan Tauhid, barangsiapa mengesakan Allah dan beriman dengan takdir maka inilah tali yang kuat yang tidak akan terlepas. Dan barangsiapa mentauhidkan Allah dan mendustakan takdir maka dia telah melepaskan tauhidnya.” [Atsar ini dikeluarkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 143]Yang dimaksud dengan takdir adalah aturan Tauhid yaitu beriman dengan takdir menjadikan teratur dan lurus tauhid seseorang.3. Beriman dengan takdir Allah adalah beriman dengan Qudratullah (kemampuan Allah). Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir berarti dia tidak beriman dengan Qudratullah.Berkata Zaid Ibnu Aslam:القدر قدرة الله عز وجل ، فمن كذب بالقدر؛ فقد جحد قدرة الله عز وجل“Takdir adalah kemampuan Allah azza wajalla, barangsiapa yang mendustakan takdir maka dia telah mengingkari kemampuan Allah azza wajalla.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 144].4. Beriman dengan takdir berkaitan dengan hikmah Allah, Ilmu-Nya, Kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya.Maka barangsiapa yang mengingkari takdir berarti dia telah mengingkari Ilmu Allah, Kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya.5. Beriman yang benar dengan takdir Allah akan membuahkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Sebagaimana akan datang penyebutannya di halaqah-halaqah yang terakhir dari silsilah ini. Dan kebodohan tentang beriman dengan takdir ataupun kesalahpahaman menyebabkan berbagai penyimpangan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.6. Beriman dengan takdir adalah aqidah seluruh para Nabi dan para pengikut mereka.Allah berfirman tentang Nabi Nuh alaihissalam:قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ…“Nuh berkata sesungguhnya Allah-lah yang akan mendatangkan tanda kekuasaan-Nya apabila Dia menghendaki.”[QS. Hud: 33]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Ismail alaihissalam,… ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ“Ismail berkata, wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar apabila Allah menghendaki.”[QS. Ash-Shaffat :102]Dan Allah berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam,… قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ…“Musa berkata, wahai Rabb-ku seandainya Engkau menghendaki niscaya Engkau telah menghancurkan mereka dan diriku sebelum ini.”[QS.Al-A’raf :155]Tiga ayat di atas menunjukkan keimanan para Nabi alaihimussallam terhadap takdir Allah azza wajalla.7. Diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukan beriman dengan takdir di dalam agama Islam bahwa takdir berkaitan langsung dengan kehidupan manusia setiap harinya, seperti: sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, lemah, bahagia, sengsara, nikmat, adzab, hidayah, kesesatan dll.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 78 | Orang yang Berbahagia Ialah Orang yang Berbahagia dengan Takdir Allāh

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-78 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan raḥimahullāhu taʿālāمَنْ سَعِدَ بِقَضَاءِ اللهِ، والشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ اللهِDan orang yang bahagia adalah orang yang bahagia dengan takdir Allāh. Maksudnya bagaimana? Orang yang bahagia di dunia adalah orang yang memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ menjadi orang yang bahagia. Kebahagiaan dia adalah dengan takdir Allāh ﷻ yang telah ditentukan dan ditulis oleh Allāh ﷻ. Demikian pula sebaliknyaوالشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ اللهِDan orang yang celaka adalah orang yang celaka dengan takdir Allāh.Artinya, kecelakaan dan musibah yang menimpanya adalah dengan takdir Allāh. Kebahagiaan seseorang adalah dengan takdir Allāh, dan begitu pula kecelakaan atau kebinasaan seseorang juga dengan takdir Allāh.وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌBerarti seorang menjadi bahagia dengan takdir Allāh, dan seorang menjadi celaka juga dengan takdir Allāh. Kebahagiaan dan kecelakaan itu sudah ditulis oleh Allāh ﷻ.Ini semua adalah ajakan dari beliau untuk beriman kepada takdir, dan merupakan bagian dari aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jamāʿah. Bahkan, beriman kepada takdir adalah rukun iman yang keenam, dan termasuk pondasi aqidah.Oleh karena itu, seseorang harus bergantung kepada Allāh ﷻ dan bertawakkal kepada-Nya, karena kebahagiaan dengan takdir Allāh ﷻ, begitu pula kecelakaan dengan takdir Allāh ﷻ, berarti dia bergantung hanya kepada Allāh ﷻ saja. Tidak mungkin seseorang bisa bahagia kecuali dengan kemudahan dari Allāh ﷻ, dan kecelakaan yang terjadi pun dengan takdir-Nya. Maka, seseorang harus senantiasa meminta kepada Allāh ﷻ dan tidak bergantung kepada makhluk.Ini menunjukkan hubungan yang erat antara keimanan kepada takdir dengan Tauhid ulūhiyyah. Orang yang beriman kepada takdir Allāh ﷻ, maka dia akan bergantung dan bertawakkal hanya kepada Allāh ﷻ, bukan kepada makhluk. Karena beriman kepada takdir Allāh ﷻ adalah bagian dari keimanan kepada rubūbiyyah Allāh ﷻ. Beriman kepada takdir Allāh ﷻ, berarti kita beriman kepada Qudratullah (kekuasaan Allāh ﷻ). Orang yang mengingkari takdir Allāh ﷻ berarti dia mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah #3

Halaqah 53 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Umur dan Kenabian Nabi Muhammad ﷺ👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahDiantara yang ingin beliau kenalkan disini adalah tentang umur beliau, ini bukan termasuk kadar yang minimal tapi dia adalah tambahan yang tentunya apabila seseorang semakin banyak mengenal tentang beliau ﷺ. Bahwasanya seseorang apabila cinta kepada sesuatu dan kecintaan dia adalah kecintaan yang sebenarnya maka dia akan senang untuk mengenal sesuatu tersebut. وله من العمر ثلاث وستون سنةBeliau memiliki umur 63 tahun. Allah ﷻ memberikan umur kepada beliau 63 tahun.منها أربعون63 tahun tadi terbagi menjadi dua, 40 tahun adalahقبل النبوةmaksudnya 40 tahun semenjak beliau dilahirkan maka itu adalah sebelum beliau diangkat oleh Allah ﷻ menjadi seorang Nabi menjadi seorang Rosul. وثلاث وعشرون نبيا رسولاAdapun 23 tahun yang selanjutnya menunjukkan bahwasanya beliau diangkat dan pertama kali turun kepada beliau wahyu adalah ketika beliau berumur 40 tahun dan demikian para nabi dan juga para rasul dan umur tersebut yaitu umur 40 tahun, adalah umur yang istimewa bagi manusia. Disitulah seseorang matang di dalam berpikir, matang didalam akalnya, maka hikmah dari Allah ﷻ, para Nabi dan para Rosul semuanya atau sebagian besarnya diangkat menjadi Nabi dan juga Rosul itu adalah ketika mereka berumur 40 tahun termasuk diantaranya adalah Rosulullah ﷺ.نبئ بإقرأyaitu diangkat menjadi seorang Nabi dan resmi menjadi seorang Nabi, adalah dengan ٱقۡرَأۡ maksudnya adalah dengan diturunkannya :ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَSekedar turun kalimat yang pertama ٱقۡرَأۡ maka beliau sudah menjadi seorang Nabi, karena ini adalah kalimat yang pertama dan ini bagian dari wahyu, sekedar itu turun kepada beliau maka beliau resmi menjadi seorang Nabi. Karena seorang Nabi adalah orang yang diberikan Wahyu kepadanya. نبئ berasal dari kata Naba’ artinya adalah kabar.ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥QS. Al-Alaq : 1-5Ketika beliau ﷺ berada di atas Gua Hira yang saat itu dijadikan beliau senang untuk menyendiri beribadah kepada Allah ﷻ, memikirkan tentang khalqullah, beribadah dengan Al-Hanifiyyah agamanya Nabi Ibrahim bapak beliau, di atas gunung di dalam gua jauh dari hiruk pikuk orang-orang jahiliyah dengan kejahiliyahan mereka dengan kesyirikan mereka dengan kerusakan mereka.Maka beliau ﷺ saat itu dijadikan senang oleh Allah ﷻ untuk yatahannath. Beliau menyendiri dan beliau ﷺ saat itu sudah memiliki Khadijah, beliau terkadang beberapa hari di sana setelah diberikan bekal oleh Khadijah dan sesuai dengan bekal itulah beliau tinggal di atas gunung didalam gua tersebut sampai suatu malam datang dan turun kepada beliau malaikat Jibril ‘Alaihissalam kemudian mewahyukan kepada beliau wahyu yang pertama yang dengannya beliau resmi menjadi seorang Nabi.نبئ بإقرأadalah isyarat kepada Al-Alaq ayat 1 sampai ayat yang ke-5

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 3 Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke tiga dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau menyebutkan perkara yang pertama yang dipahami oleh orang-orang awam di kalangan kaum muslimin akan tetapi banyak orang-orang cerdas yang tidak memahami perkara ini.Beliau mengatakan,اَلْأَصْلُ الْأَوَّلُ : إِخْلَاصُ الدِّيْنِ لِلهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لهُ ، وَبَيَانُ ضِدِّهِ الذِيْ هُوَ الشِّرْكُ بِاللهِPerkara yang pertama adalah:Mengikhlaskan agama untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak ada sekutu baginya, dan menjelaskan lawan dari keikhlasan ini yaitu syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Diantara perkara yang sudah Allah jelaskan di dalam Al Qur’an dengan penjelasan yang gamblang (penjelasan sangat jelas) adalah masalah mengikhlaskan agama ini hanya untuk Allah dan bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah Subhānahu wa Ta’āla, juga menjelaskan tentang bahaya syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ini semua Allah sebutkan dengan jelas di dalam Al Qur’an.وَكَوْنُ أَكْثَرِ الْقُرْآنِ فِي بَيَانِ هَذَا الْأَصْلِ مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِDan bahwasanya sebagian besar ayat-ayat Al Qur’an adalah untuk menjelaskan tentang:1. Ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam ibadah.2. Menjelaskan tentang bahayanya kesyirikan di dalam beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى“Dalam bentuk-bentuk yang sangat berbeda, dengan cara yang berbeda.”Artinya Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam Al Qur’an menjelaskan tentang perkara ini dalam berbagai cara (penjelasan).بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِ“Dengan ucapan yang dipahami oleh bahkan orang yang paling bodoh diantara orang-orang awam.”Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan Al Qur’an ini sebenarnya semuanya adalah tauhid dari awal sampai akhir.Dan diantara buktinya, surat yang pertama, demikian pula surat yang terakhir isinya adalah tentang masalah tauhid.Al Fatihah penuh dengan makna tauhid.ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ۞ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۞ مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ ۞ إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُDi dalamnya ada:• Tauhid Asma’ wa Shifat• Tauhid rububiyah• Tauhid al uluhiyyahإِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ“Hanya kepada-Mu lah Ya Allah, kami menyembah dan hanya kepada-Mulah Ya Allah, kami memohon pertolongan.”Demikian pula surat An Naas,( قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ۝ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ۝ إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ)Ini semua adalah tauhid kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla (meminta perlindungan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla) Raja manusia, sesembahan manusia.Semua surat di dalam Al Qur’an isinya adalah tentang tauhid.Penjelasan tentang bagaimana keutamaan tauhid, bagaimana cara bertauhid, penjelasan tentang bahaya kesyirikan, apa bentuk kesyirikan, penjelasan tentang pahala bagi orang yang bertauhid dan adzab bagi orang yang berbuat syirik.Bahkan kisah-kisah yang ada di dalam Al Qur’an banyak diantaranya yang berkaitan dengan masalah tauhid.Bagaimana kisah nabi Nuh alayhissallam?Kisahnya adalah bagaimana beliau berdakwah dan mendakwahi umatnya kepada tauhid.Demikian pula kisah nabi Shalih, nabi Hud, nabi Syu’aib dan juga nabi-nabi yang lain.Kalau kita tadabburi ternyata Al Qur’an semuanya adalah masalah tauhid. Masalah (mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla) dan tentang bahaya kesyirikan.Namun ternyata banyak diantara manusia yang tidak memahami tentang perkara ini.Bahkan termasuk orang yang cerdas diantara mereka.Kenapa demikian?Diantara sebabnya adalah:1. Al I’rodh (seseorang berpaling dari agama Allah Subhānahu wa Ta’āla).Tidak mau mempelajari agama Allah, sibuk dengan yang lain (sibuk dengan dunianya, sibuk dengan hobinya).Dan dia berpaling tidak mau menekuni dan tidak mau mempelajari agama Allah Subhānahu wa Ta’āla.2. Al Kibr (sombong).Dia mengetahui kebenaran akan tetapi dia tidak mau mengamalkan dan menerima kebenaran tersebut.Sebagaimana dilakukan oleh iblis ketika diperintahkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla melakukan sujud penghormatan kepada nabi Adam alayhissallam akan tetapi enggan dan sombong, dan dia adalah termasuk orang-orang yang kafir.Al Qur’an diturunkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla tujuan utamanya adalah untuk diamalkan, ditadabburi, dipahami dan bukan hanya sekedar dibaca atau diperbaiki tajwidnya atau diambil berkahnya ketika membaca.Semua itu adalah termasuk kebaikan, akan tetapi bukan tujuan utama diturunkannya Al Qur’an.Tujuan utama diturunkannya Al Qur’an adalah untuk ditadabburi kemudian setelah itu diamalkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ(QS. Sad: 29)Sebuah Kitab (Al Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu yang berbarokah supaya mereka manusia mentadabburi ayat-ayat Allah Subhānahu wa Ta’āla, memikirkan, membaca, kemudian memahami maknanya dan memikirkan makna tersebut. Dan supaya orang-orang yang cerdas dan berakal mengingat Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan membaca ayat-ayat tersebut.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 78

Rabu, 26 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 78Pembahasan Dalil Ketujuh, Hadits Shahih Riwayat Abu Hurairah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMatan Ringkas Penulis Kitab & Sumber Periwayatan​وَلَهُ: مِثْلُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَلَفْظُهُ: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى» ثُمَّ قَالَ: «وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ...»"Dan di dalam Shahih Muslim juga terdapat hadits semisalnya dari riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dengan lafaz: 'Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk...', kemudian beliau bersabda: 'Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan...'"Dalil Utama & Sabda Rasulullah​Syahid Bagian Pertama (Kebaikan):​مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِك مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا"Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun."​Syahid Bagian Kedua (Kesesatan):​وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ"Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya."Garis Besar Kandungan Pemikiran & Makna​Batasan Penerimaan Pahala (Man Tabi'ahu):​Pahala mengajak (da'a) tidak dihitung dari jumlah seluruh orang yang didakwahi, melainkan dari jumlah orang yang mengikutinya/mendapat hidayah dari sebab dakwah tersebut.​Pahala pengikut tidak dikurangi sedikitpun oleh Allah ﷻ.​Perbedaan Hadits Jarir bin Abdillah (Man Sanna) dan Hadits Abu Hurairah (Man Da'a):​Hadits Jarir (Man Sanna): Mengajak melalui teladan perbuatan/tindakan langsung (qudwah), kemudian diamalkan oleh orang lain.​Hadits Abu Hurairah (Man Da'a): Mengajak melalui lisan/dakwah terbuka (berbicara/menyampaikan), menyeru orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu.​Rincian Perbedaan Lafaz Redaksi Pahala:​Pada hadits Man Sanna, terdapat lafaz falahu ajruha wa ajru man 'amila biha (ia mendapat pahala amalnya sendiri + pahala pengikutnya) karena ia mempraktikkan langsung amalan tersebut.​Pada hadits Man Da'a, tidak disebutkan falahu ajruha, melainkan lahu min al-ajri mithlu ujuri man tabi'ahu. Hal ini karena seorang da'i bisa saja mengajak kepada amalan yang belum/tidak bisa ia kerjakan karena ada sebab syar'i (contoh: seorang da menjelaskan/mengajak orang kaya untuk bersedekah, padahal sang da'i sendiri orang fakir). Ia tetap berhak menerima pahala orang yang mengikuti ajakannya.​KesimpulanHadits riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu melengkapi hadits sebelumnya dengan menegaskan bahwa ajakan dakwah melalui lisan (man da'a) memiliki kedudukan hukum dan ganjaran berantai yang sama dengan teladan perbuatan (man sanna). Seseorang yang menyeru kepada petunjuk akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mengikutinya—meskipun sang penyeru belum/tidak dapat mempraktikkan amalan tersebut karena alasan syar'i—tanpa mengikis pahala para pengikutnya. Sebaliknya, siapa pun yang menyeru kepada kesesatan akan memikul dosa berantai sebanyak dosa orang-orang yang mengikuti seruan sesatnya.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Ringkasan Halaqah 02 – Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalasah (Bagian 02)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memulai kitab Al-Ushulu Ats-Tsalasah dengan Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) sebagai bentuk mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.Poin-Poin Penting1. Mengapa memulai dengan Basmalah?Mengikuti Allah yang memulai Al-Qur’an dengan Basmalah.Mengikuti Rasulullah ﷺ yang memulai surat-surat dakwahnya dengan Basmalah.2. Makna huruf “Ba” (ب) dalam BismillahBermakna memohon pertolongan (isti’anah) kepada Allah.Setiap amal dilakukan dengan meminta bantuan dan keberkahan dari Allah.3. Makna “Ismullah” (Nama Allah)Mencakup seluruh nama Allah yang indah (Al-Asmaul Husna).Saat mengucapkan “Bismillah”, seorang hamba memohon pertolongan dengan seluruh nama Allah.4. Keutamaan Nama Allah (Lafzhul Jalalah)Nama “Allah” adalah nama yang paling agung.Seluruh nama Allah lainnya disandarkan kepada nama Allah, seperti:Ar-RahmanAr-RahimAl-MalikAl-QuddusAs-SalamAl-Aziz5. Makna Nama AllahBerasal dari kata Al-Ilah yang berarti sesembahan.Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah.Disembah oleh:Malaikat di langit.Orang-orang beriman di bumi.6. Perbedaan Ar-Rahman dan Ar-RahimAr-RahmanKasih sayang Allah yang umum untuk seluruh makhluk:Orang beriman maupun kafir.Berupa rezeki, kesehatan, makanan, keluarga, dan berbagai nikmat dunia.Ar-RahimKasih sayang Allah yang khusus untuk orang beriman:Hidayah.Iman.Taufik beramal saleh.Rahmat khusus di dunia dan akhirat.Dalil:“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Ahzab: 43)Hikmah dan Pelajaran🌿 Setiap aktivitas hendaknya diawali dengan Bismillah.🌿 Seorang muslim harus menyadari bahwa seluruh keberhasilan hanya terjadi dengan pertolongan Allah.🌿 Nama Allah adalah nama yang paling agung dan mencakup seluruh sifat kesempurnaan.🌿 Rahmat Allah sangat luas, meliputi seluruh makhluk-Nya.🌿 Orang beriman mendapatkan rahmat yang lebih istimewa berupa hidayah, iman, dan taufik untuk beramal saleh.Kalimat Inti“Bismillah” bukan sekadar ucapan pembuka, tetapi pengakuan bahwa seluruh amal hanya bisa terlaksana dengan pertolongan Allah, Rabb yang Maha Pengasih kepada seluruh makhluk dan Maha Penyayang khusus kepada orang-orang beriman. 🤍

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 77

Selasa, 25 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 77Pembahasan Dalil Keenam, Hadits Shahih Riwayat Jarir Bin Abdillah (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ"Dan barang siapa yang menempuh/mengamalkan di dalam Islam sunnah yang buruk (sayyi'ah), lalu diamalkan oleh orang setelahnya, maka ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun."(Catatan: Lafaz yang terdapat dalam Shahih Muslim adalah sunnah sayyi'ah, bukan sunnah jahiliyyah, walau secara makna mencakup hal yang sama).Dalil-Dalil Penyerta:Dalil Bahwa Bid'ah Bertentangan dengan Islam:​مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ"Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak."Dalil Kesesatan Bidah (Pendapat Sahabat/Atsar):​كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً"Setiap bid'ah adalah sesat, meskipun manusia melihatnya sebagai sesuatu yang baik (hasanah)."​Poin-Poin Garis Besar Kandungan​Hakikat Sunnah Sayyi'ah:Segala amalan yang bertentangan dengan ajaran Islam atau amalan jahiliyyah yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, di mana salah satu bentuk utamanya adalah perbuatan bid’ah.Ancaman Dosa Berantai:Pelopor bid'ah atau amalan buruk akan menanggung dosa pribadinya sekaligus menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat tanpa mengurangi dosa para pengikutnya sedikit pun.Alasan Bid'ah Lebih Bahaya daripada Dosa Besar (Kaba'ir):​Status Keadaan Pelaku: Pelaku dosa besar (seperti zina, khamar, merokok, atau riba) menyadari dan mengakui bahwa perbuatannya adalah kemaksiatan/kejelekan. Mereka umumnya malu, menyembunyikannya dari keluarga, dan tidak mendakwahkannya.​Jeratan Penyesatan Bid’ah:Perbuatan bid'ah dihiasi oleh setan sehingga pelakunya menganggapnya sebagai kebaikan, bentuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah), dan media ibadah.​Daya Sebar: Karena dianggap sebagai kebaikan, pelaku bid'ah tidak ragu untuk bangga, menyebarkan, dan mendakwahkannya kepada orang lain atau keluarganya. Akibatnya, bid'ah lebih cepat dicontoh dan diikuti oleh orang lain, yang menjadikan dosanya kian berlipat ganda bagi si pelopor.​KesimpulanHadits riwayat Jarir bin Abdillah radhiyallāhu 'anhu dalam Shahih Muslim menegaskan bahaya sunnah sayyi'ah (khususnya bidah). Bidah tergolong lebih berbahaya daripada dosa besar (kaba'ir) karena bid'ah terselubung dalam bentuk kebaikan yang dihiasi setan, sehingga pelakunya merasa sedang beribadah dan aktif menyebarkannya. Hal ini menyebabkan perbuatan bid'ah sangat mudah dicontoh orang lain, yang pada akhirnya memberikan beban dosa berantai dan berlipat ganda kepada orang yang pertama kali memeloporinya tanpa mengurangi dosa pengikutnya sedikit pun.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 77 | Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bagian 2

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-77 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan.Disebutkan dalam sebuah riwayat:فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِDia mengamalkan amalan penduduk Surga sesuai dengan apa yang terlihat oleh manusia.Dzhahirnya, dia melakukan amalan penduduk Surga. Bagaimana dengan batinnya? Batinnya, Allāh yang tahu. Jadi, dzhahirnya dia mungkin berpakaian Muslim, dzhahirnya dia pergi ke masjid, dzhahirnya dia berinfaq. Tapi Allāh mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang.Inilah yang menyebabkan dia tidak istiqāmah, mungkin ada riya’, mungkin ada kesombongan, dan Allāh ﷻ tidak bisa ditipu. Itulah yang menjadikan ketidakistiqāmahan, karena seseorang hanya memperhatikan amalan dzhahirnya saja, sementara di dalam hatinya menyimpan kebusukan, ketidakikhlasan. Ketika dia bersama orang lain, yang terlihat adalah kebaikan, amal shāliḥ, tapi ketika sendirian, dia melakukan kemaksiatan.فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia.Baik, tapi ketika sendirian, tanpa ada yang melihat, dia mengikuti hawa nafsunya. Ini yang menjadi sebab seseorang menyimpang. Sebelumnya berada di shaf terdepan dalam menuntut ilmu, tapi kemudian mulai menjauh, hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali. Bahkan sudah terdengar dia berada di barisan lain, bukan lagi di barisan Ahlussunnah, melainkan mengikuti Ahlul Bid’ah.Berarti ucapan beliauفِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia, ini menunjukkan pentingnya menjaga batin kita. Beramal shāliḥ, menuntut ilmu, shalat, tapi jangan hanya memperhatikan dzhahir saja. Kita juga harus memperhatikan batin dan keikhlasan, agar Allāh ﷻ menjaga kita. Jika seseorang menjaga amalan shāliḥ baik yang dzhahir maupun yang batin, maka insyā Allāh dia akan terus diberikan taufiq oleh Allāh ﷻ.Dengan syarat apa? Dengan syarat menjaga dzhahir dan batin. Dia berusaha sebagai seorang Salafi, mengikuti salaf baik dzhahiran maupun bāṭinan, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Maka orang yang demikian, insyā Allāh, akan dijaga oleh Allāh ﷻ.Barang siapa yang hidup di atas sesuatu, maka dia akan meninggal di atas sesuatu tersebut.مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِBarang siapa yang hidup di atas sesuatu, maksudnya adalah dzhahiran wa bāṭinan (dzhahir dan batin) dia hidup di atas Sunnah, di atas ketaatan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan memuliakannya dengan mematikannya di atas Sunnah dan Islām. Ini bagi orang dzahir dan batinnya baik, makanya kita berusaha untuk memperbaiki batin kita.وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِBarang siapa yang meninggal di atas sesuatu, maka dia akan dibangkitkan di atas sesuatu tersebut.Ini bukan hadith, tapi ini adalah sesuatu yang sering kita dengar.Dalam sebuah hadith, misalnya, orang yang meninggal dalam keadaan bertalbiyah, maka Allāh ﷻ akan membangkitkannya dalam keadaan bertalbiyah.Jadi, jika seseorang ingin dibangkitkan oleh Allāh ﷻ dalam keadaan baik, maka dia harus menjaga dzhahir dan batinnya. Jangan hanya memperhatikan dzhahir. Yang menyebabkan seseorang menyimpang adalah karena rusaknya batin.Jika seseorang menjaga dzhahir dan batinnya, insyā Allāh, Allāh ﷻ akan menjaganya, sebagaimana dia hidup di atas ketaatan, maka dia juga akan meninggal di atas ketaatan.وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…Salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk Neraka. Dia adalah seorang yang kafir, melakukan apa yang dia inginkan berupa perbuatan yang haramحَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌSehingga tidak ada antara dia dan Neraka kecuali satu jengkal saja, menunjukkan dekatnya dia dengan Neraka. Tinggal dia mati, maka dia akan masuk ke dalam Neraka karena dia berada di atas kekufuran.فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُNamun, telah ditulis oleh Allāh sebelumnya dalam Lauḥul Maḥfūẓ bahwa orang ini akan masuk ke dalam Surga, jika memang demikian, akan dimudahkan oleh Allāh.فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِAkhirnya dia pun mengamalkan amalan penduduk Surga. Entah bagaimana, dia masuk ke dalam agama Islām dan istiqāmah.فَيَدْخُلُهَاLalu dia pun masuk ke dalam Surga.Ada saja sebab kalau Allāh ﷻ menghendaki seseorang masuk ke dalam Surga, maka Allāh ﷻ akan menjadikan sebab-sebab sehingga dia pun masuk ke dalam agama Islām, istiqāmah, dan meninggal di atas agama Islām.Hal ini menunjukkan bahwa Al-A’māl bil-Khawātim—amalan itu sesuai dengan akhirnya. Karena itu, jangan sampai seseorang tertipu dengan keadaan dirinya saat ini. Dia tidak tahu apa yang akan menjadi akhir dari amalannya. Oleh karena itu, seseorang harus memperbanyak doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-Qulūb, ṯsabbit qalbī ʿalā dīnik!Ya Allāh, tetapkan hatiku di atas agama-Mu!Mengulang-ulang doa ini, khawatir kalau kemaksiatan yang kita lakukan bisa jadi akan membawa kita melakukan perkara yang lebih besar dari itu.Ini termasuk doa yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ. Hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan dan goyangkan sebagaimana yang Dia kehendaki. Sekarang kita mencintai Tauhid, kita senang kepada Sunnah Nabi ﷺ, kita mencintai ilmu. Alḥamdulillāh, Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada kita.Namun, ingatlah, hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Karena itu, seseorang harus senantiasa berdoa kepada Allāh ﷻ agar diberikan ketetapan hati. Allāh ﷻ berfirman:رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaitana wahab lana milladunka raḥmatan innaka Antal-Wahhāb.Ya Allāh , janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman Kepada Takdir Halaqah 2

Halaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dalil Wajibnya Beriman dengan Takdir Allah”.Beriman dengan takdir Allah yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani dan telah tetap kewajibannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma.Dari Al-Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ[QS Al-Qamar 49] “Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.”Dan Allah berfirman,… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا[QS Al-Furqan 2] “Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا[QS Al-Ahzab 38] “Dan perkara Allah adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan.”Adapun dari As-Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihissalam tentang iman,أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” [HR Muslim] Dan beliau ﷺ bersabda,كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ“Segala sesuatu dengan takdir sampai ketidak mampuan dan kecerdasan.” [HR Muslim]Adapun dari Ijma, maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan takdir Allah dan bahwasanya orang yang mengingkari takdir Allah maka dia telah keluar dari agama Islam.Berkata Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang-orang yang mengingkari takdir dan bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa takdir.فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ“Apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya maka Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan takdir.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya]Yang demikian karena Allah tidak menerima amalan orang yang kafir dan termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari takdir Allah azza wajalla.Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah,وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma Shahabat dan para Ahlul Halli wal Aqdi, (yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh-tokoh kaum muslimin) dari kalangan salaf dan kholaf yang menunjukkan atas penetapan takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla.” [Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I hal 155] Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah,و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى“Dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’āla.” [Fathul Baari jilid 11 hal 478]

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 77

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 77 | Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bagian 2Halaqah 77 | Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bagian 2Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-77 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan.Disebutkan dalam sebuah riwayat:فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِDia mengamalkan amalan penduduk Surga sesuai dengan apa yang terlihat oleh manusia.Dzhahirnya, dia melakukan amalan penduduk Surga. Bagaimana dengan batinnya? Batinnya, Allāh yang tahu. Jadi, dzhahirnya dia mungkin berpakaian Muslim, dzhahirnya dia pergi ke masjid, dzhahirnya dia berinfaq. Tapi Allāh mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang.Inilah yang menyebabkan dia tidak istiqāmah, mungkin ada riya’, mungkin ada kesombongan, dan Allāh ﷻ tidak bisa ditipu. Itulah yang menjadikan ketidakistiqāmahan, karena seseorang hanya memperhatikan amalan dzhahirnya saja, sementara di dalam hatinya menyimpan kebusukan, ketidakikhlasan. Ketika dia bersama orang lain, yang terlihat adalah kebaikan, amal shāliḥ, tapi ketika sendirian, dia melakukan kemaksiatan.فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia.Baik, tapi ketika sendirian, tanpa ada yang melihat, dia mengikuti hawa nafsunya. Ini yang menjadi sebab seseorang menyimpang. Sebelumnya berada di shaf terdepan dalam menuntut ilmu, tapi kemudian mulai menjauh, hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali. Bahkan sudah terdengar dia berada di barisan lain, bukan lagi di barisan Ahlussunnah, melainkan mengikuti Ahlul Bid’ah.Berarti ucapan beliauفِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia, ini menunjukkan pentingnya menjaga batin kita. Beramal shāliḥ, menuntut ilmu, shalat, tapi jangan hanya memperhatikan dzhahir saja. Kita juga harus memperhatikan batin dan keikhlasan, agar Allāh ﷻ menjaga kita. Jika seseorang menjaga amalan shāliḥ baik yang dzhahir maupun yang batin, maka insyā Allāh dia akan terus diberikan taufiq oleh Allāh ﷻ.Dengan syarat apa? Dengan syarat menjaga dzhahir dan batin. Dia berusaha sebagai seorang Salafi, mengikuti salaf baik dzhahiran maupun bāṭinan, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Maka orang yang demikian, insyā Allāh, akan dijaga oleh Allāh ﷻ.Barang siapa yang hidup di atas sesuatu, maka dia akan meninggal di atas sesuatu tersebut.مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِBarang siapa yang hidup di atas sesuatu, maksudnya adalah dzhahiran wa bāṭinan (dzhahir dan batin) dia hidup di atas Sunnah, di atas ketaatan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan memuliakannya dengan mematikannya di atas Sunnah dan Islām. Ini bagi orang dzahir dan batinnya baik, makanya kita berusaha untuk memperbaiki batin kita.وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِBarang siapa yang meninggal di atas sesuatu, maka dia akan dibangkitkan di atas sesuatu tersebut.Ini bukan hadith, tapi ini adalah sesuatu yang sering kita dengar.Dalam sebuah hadith, misalnya, orang yang meninggal dalam keadaan bertalbiyah, maka Allāh ﷻ akan membangkitkannya dalam keadaan bertalbiyah.Jadi, jika seseorang ingin dibangkitkan oleh Allāh ﷻ dalam keadaan baik, maka dia harus menjaga dzhahir dan batinnya. Jangan hanya memperhatikan dzhahir. Yang menyebabkan seseorang menyimpang adalah karena rusaknya batin.Jika seseorang menjaga dzhahir dan batinnya, insyā Allāh, Allāh ﷻ akan menjaganya, sebagaimana dia hidup di atas ketaatan, maka dia juga akan meninggal di atas ketaatan.وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…Salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk Neraka. Dia adalah seorang yang kafir, melakukan apa yang dia inginkan berupa perbuatan yang haramحَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌSehingga tidak ada antara dia dan Neraka kecuali satu jengkal saja, menunjukkan dekatnya dia dengan Neraka. Tinggal dia mati, maka dia akan masuk ke dalam Neraka karena dia berada di atas kekufuran.فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُNamun, telah ditulis oleh Allāh sebelumnya dalam Lauḥul Maḥfūẓ bahwa orang ini akan masuk ke dalam Surga, jika memang demikian, akan dimudahkan oleh Allāh.فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِAkhirnya dia pun mengamalkan amalan penduduk Surga. Entah bagaimana, dia masuk ke dalam agama Islām dan istiqāmah.فَيَدْخُلُهَاLalu dia pun masuk ke dalam Surga.Ada saja sebab kalau Allāh ﷻ menghendaki seseorang masuk ke dalam Surga, maka Allāh ﷻ akan menjadikan sebab-sebab sehingga dia pun masuk ke dalam agama Islām, istiqāmah, dan meninggal di atas agama Islām.Hal ini menunjukkan bahwa Al-A’māl bil-Khawātim—amalan itu sesuai dengan akhirnya. Karena itu, jangan sampai seseorang tertipu dengan keadaan dirinya saat ini. Dia tidak tahu apa yang akan menjadi akhir dari amalannya. Oleh karena itu, seseorang harus memperbanyak doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-Qulūb, ṯsabbit qalbī ʿalā dīnik!Ya Allāh, tetapkan hatiku di atas agama-Mu!Mengulang-ulang doa ini, khawatir kalau kemaksiatan yang kita lakukan bisa jadi akan membawa kita melakukan perkara yang lebih besar dari itu.Ini termasuk doa yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ. Hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan dan goyangkan sebagaimana yang Dia kehendaki. Sekarang kita mencintai Tauhid, kita senang kepada Sunnah Nabi ﷺ, kita mencintai ilmu. Alḥamdulillāh, Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada kita.Namun, ingatlah, hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Karena itu, seseorang harus senantiasa berdoa kepada Allāh ﷻ agar diberikan ketetapan hati. Allāh ﷻ berfirman:رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaitana wahab lana milladunka raḥmatan innaka Antal-Wahhāb.Ya Allāh , janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah #3

Halaqah 52 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Silsilah Nasab Nabi Muhammad ﷺBeliau mengatakanوهو محمد بن عبد الله بن عبد المطلب بن هاشمDia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyimوهاشم من قريشHasyim ini adalah dari Quraisy.Abdullah bapaknya Rosulullah ﷺ adalah orang yang sangat disayangi oleh Abdul Muthalib. Abdul Muthalib kalau tidak salah namanya Syaibah, dia dikenal dengan Abdul Muthalib. Al-Muthalib ini adalah saudaranya Hasyim. Karena saat itu dia berada di Madinah yang saat itu bernama dengan Yatsrib diantara keluarga ibunya. Karena Hasyim memiliki beberapa istri diantaranya ada yang di Makkah dan ada diantaranya yang berada di Madinah.Saat itu Hasyim meninggal di Madinah, akhirnya pamannya yaitu Mutholib mendengar bahwasanya Hasyim punya anak di Madinah. Akhirnya Al-Muthalib datang ke kota Madinah meminta kepada saudara saudara dari ibunya untuk membawa Syaibah.Setelah sebelumnya keluarganya berat untuk melepas Syaibah, dibawa lah oleh Al-Muthalib ke Makkah dan ketika sampai ke Makkah orang menyangka Syaibah ini adalah seorang budak, karena belum pernah melihat sebelumnya. Budaknya Al-Muthalib sehingga orang memanggilnya dengan Abdul Muthalib, ini adalah budaknya Al-Muthalib dan sampai besar pun dikenal dengan Abdul Muthalib. Abdul Muthalib ini juga seorang pemuka, kita tahu kisahnya bagaimana dia ketika datang Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah kemudian Abrahah mengambil 200 onta milik Abdul Muthalib. Kemudian datanglah Abdul Muthalib, dan Abrahah ketika melihat Abdul Muthalib datang akhirnya dia turun dari singgasananya duduk bersama dengan Abdul Mutholib. Kemudian bertanya apa yang kau inginkan, dia mengatakan aku ingin engkau mengembalikan 200 unta yang kau ambil. Kemudian Abrahah menyebutkan Ana menyangka bahwasanya Antum akan meminta Ana lebih dari ini. Ana datang ke sini untuk menghancurkan rumah tersebut yang merupakan agamamu dan juga agama nenek moyangmu. Ana kira Antum akan datang dan mengatakan Tolong jangan engkau hancurkan rumah ini, tapi justru engkau datang ke sini hanya mengatakan saya pengen unta. Sebelumnya saya sangat menghormati dirimu setelah mendengar ucapan ini kedudukan engkau menjadi jatuh di mataku. Seharusnya engkau sebagai seorang pemuka bertanggung jawab terhadap agama, orang-orang yang ada di bawahmu yang Antum minta seharusnya kepada saya adalah tolong jangan engkau hancurkan rumah ini. Itu yang saya sangka sebelumnya tapi ternyata Abdul Muthalib lebih cerdas dari apa yang disangka oleh Abrahah.Dia mengatakan aku ini adalah pemilik dari onta onta tadi, 200 onta tadi adalah aku pemiliknya maka aku meminta sesuai dengan hakku karena aku adalah pemiliknya dan aku yang bertanggung jawab terhadap onta onta tadi. Adapun rumah yang akan kau hancurkan ini bukan milikku itu punya Robb dan dialah yang akan menjaga rumah tadi. Jadi tanggung jawab saya adalah onta onta tadi adapun rumah yang akan kalian hancurkan, itu memiliki Robb yang akan menjaga rumah tadi dari serangan kalian.Keyakinan Abdul Muthalib bahwasanya rumah Allah akan dijaga. Akhirnya dikembalikan ontanya dan dia terus melaksanakan apa yang menjadi rencananya ternyata tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Satu gajah dia bawa dari Yaman untuk menghancurkan Baitullah tadi Ka’bah ternyata dia tidak mau bergerak menuju ke Ka’bah. Setiap kali dia disuruh untuk berdiri ke arah Ka’bah dia tidak mau tapi kalau menghadap ke arah keluar berkebalikan dengan Ka’bah dia segera berlari.Ini kejadian yang luar biasa menunjukkan tentang bagaimana kakek Nabi Muhammad ﷺ memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan orang-orang Quraisy di zamannya, demikian pula Hasyim bapaknya Abdul Muthalib ini juga termasuk orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dikenal oleh mereka. Hasyim inilah yang pertama kali mencanangkan programرِحۡلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيۡفِJikalau musim panas mereka datang ke Syam jikalau musim dingin mereka datang ke Yaman, karena kalau musim panas di Syam ini dalam keadaan dingin dan kalau musim dingin di Makkah maka di Yaman ini dalam keadaan tidak dingin, sambil mereka menghindari musim dingin yang keterlaluan di Makkah mereka Ke Yaman sambil berdagang disana.Demikian pula Abdullah bapaknya Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang sangat disayangi oleh Abdul Muthalib termasuk anak emasnya yang sangat disayangi, sehingga pernah Abdul Muthalib dia bernazar apabila sudah memiliki 10 anak laki-laki maka dia akan menyembelih salah satunya, kemudian pakai undian setiap kali diundi yang keluar adalah nama Abdullah padahal ini adalah anak yang sangat dia sayangi. Karena dia sangat sayang dengan Abdullah dan tidak ingin kehilangan dia, dia ganti dengan onta. Jadi diulang lagi sampai keluar yang lain atau selain Abdullah sesuai dengan jumlahnya tadi diulang lagi dan seterusnya sampai keluar yang dia inginkan berapa kalinya dilemparkan tadi dihitung. Jumlah yang keluar itu lah jumlah onta yang harus dia sembelih jadi dilempar lagi di lempar lagi yang penting bagaimana bukan Abdullah meskipun dia harus kehilangan mungkin ratusan onta demi menyelamatkan Abdullah.Jadi mereka adalah silsilah orang orang yang mulia, anaknya adalah Muhammad ﷺ, jadi nasab beliau adalah nasab yang mulia. Orang-orang yang terkemuka di kenal nasabnya oleh orang-orang Quraisy bukan orang yang bawahan atau orang yang tidak dikenal. Nasab beliau adalah nasab yang ma’ruf, nenek moyangnya adalah nenek moyang yang dikenal keutamaanya di antara orang-orang Quraisy. Dan Hasyim ini adalah termasuk Quraisy dan Quraisy adalah bangsa Arab yang paling mulia, sudah dikenal sejak zaman dahulu keutamaan orang-orang Quraisy di antara kabilah kabilah yang lainوقريش من العربdan Quraisy adalah termasuk bangsa Arabوالعرب من ذرية إسماعيل بن إبراهيم الخليلdan bangsa Arab adalah termasuk keturunan Ismail Bin Ibrahim Al Khalil.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah – Beriman Kepada Malaikat Tema: Beriman dengan Keberadaan Malaikat Allah

Silsilah Ilmiyyah – Beriman Kepada MalaikatTema: Beriman dengan Keberadaan Malaikat Allah🔹 1. Beriman kepada keberadaan malaikatBeriman kepada malaikat berarti meyakini bahwa mereka benar-benar ada.Pengetahuan tentang keberadaan malaikat termasuk ilmu yang wajib diketahui oleh seorang Muslim.Allah ﷻ menyebutkan tentang malaikat dalam Al-Qur’an, dan Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam hadits-hadits sahih tentang nama, sifat, amalan, serta pertemuan mereka dengan para nabi dan orang-orang saleh.Semua itu menunjukkan kebenaran keberadaan malaikat.Kaum Muslimin telah bersepakat tentang keberadaan malaikat. Bahkan umat-umat yang mendustakan para rasul pun mengakui adanya malaikat.🔹 2. Dalil tentang keberadaan malaikat 📖 QS. Al-Mu’minun: 24 Kaum kafir dari kaum Nabi Nuh mengakui adanya malaikat, namun mereka mengingkari kerasulan Nabi Nuh.➡️ Ini menunjukkan bahwa keberadaan malaikat merupakan perkara yang dikenal dan diakui.📖 QS. Al-Baqarah: 3“Mereka beriman kepada yang gaib.”➡️ Malaikat termasuk perkara gaib yang wajib diimani oleh orang yang bertakwa.🔹 3. Sikap seorang Muslim terhadap malaikat ❌ Tidak boleh mengingkari keberadaan malaikat.❌ Tidak boleh meragukannya hanya karena tidak pernah melihat atau mendengar mereka.❌ Tidak boleh menakwil keberadaan malaikat dengan penakwilan yang tidak berdasar, seperti menganggap malaikat hanya simbol kekuatan baik dan bukan makhluk yang nyata.⚠️ Barang siapa mengingkari keberadaan malaikat setelah datang kepadanya ilmu dan hujjah yang jelas, maka ia telah kufur.✨ Kesimpulan:Malaikat adalah makhluk Allah yang benar-benar ada. Keberadaan mereka merupakan perkara gaib yang wajib diimani. Seorang Muslim wajib meyakini keberadaan mereka berdasarkan Al-Qur’an dan hadits yang sahih.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 2: Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻ

Silsilah Ilmiyyah 9:Beriman Kepada Takdir AllahHalaqah 2:Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىBeriman dengan takdir Allah yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani dan telah tetap kewajibannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma.• Dari Al-Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.”[QS. Al-Qamar: 49] Dan Allah berfirman:… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا“Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan.”[QS. Al-Furqan:2]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا“Dan perkara Allah adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan.”[QS. Al-Ahzab:38]• Adapun dari As-Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihissalam tentang iman:أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” [HR Muslim] Dan beliau ﷺ bersabda:كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ“Segala sesuatu dengan takdir sampai ketidak mampuan dan kecerdasan.” [HR Muslim]• Adapun dari Ijma, maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan takdir Allah dan bahwasanya orang yang mengingkari takdir Allah maka dia telah keluar dari agama Islam.Berkata Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang-orang yang mengingkari takdir dan bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa takdir.فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ“Apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya maka Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan takdir.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya]Yang demikian karena Allah tidak menerima amalan orang yang kafir dan termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari takdir Allah azza wajalla.Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah,hوَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma Shahabat dan para Ahlul Halli wal Aqdi, (yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh-tokoh kaum muslimin) dari kalangan salaf dan kholaf yang menunjukkan atas penetapan takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla.” [Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I hal 155]Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah,و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى“Dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’āla.” [Fathul Baari jilid 11 hal 478]@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →