🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 104 | Ahlus Sunah Berharap Orang-Orang Baik Dari Kaum Mukminin Diampuni Dosanya dan Dimasukkan Ke Dalam Surga

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَنَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ المُؤْمِنِينَdi antara keyakinan kami, Ahlussunnah wal Jama’ah, bahwasanya kami berharap untuk orang-orang yang muhsin, yaitu orang-orang yang berbuat baik. Dan berbuat baik di sini bukan hanya maksudnya berbuat baik kepada orang lain, tapi baik di dalam amalannya — dia beramal, dia beriman. Itu berarti muhsin.Nah, kita Ahlussunnah wal Jama’ah berharap untuk mereka-mereka ini. Bahwasanya orang-orang yang demikian, orang yang beriman, beramal shalih, menuntut ilmu, menjaga kewajibannya, meninggalkan perkara yang diharamkan, di antara orang-orang yang beriman, kita berharap semoga mereka ini adalah termasuk penduduk Surga. Kita berharap semoga mereka ini adalah penduduk Surga karena Allāh ﷻ telah memberikan taufiq kepada mereka untuk berislam dan juga beramal shalih. Kita berharap semoga mereka ini adalah termasuk penduduk Surga.Tidak boleh kita memastikan. Makanya di sini beliau menggunakan narjū — kita berharap. Yang tidak boleh adalah najzim — memastikan seseorang ini termasuk penduduk Surga.Melihat seseorang, dia rajin shalat ke masjid, kemudian mengatakan, “Fulan min ahlil-jannah.” Ini berarti jazm. Ini tidak boleh. Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, dalam aqidah kita, tidak boleh mengatakan demikian.Kenapa? Karena kita tidak tahu dengan apa dia akan menutup amalannya. Sekarang kita lihat dia istiqomah secara zhāhir, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi, apa yang sudah ditulis dalam Lauh Mahfūdz, apa yang ada dalam hati beliau kita tidak tahu.Sehingga, sebagaimana dalam hadits:وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى لَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَاSungguh, salah seorang dari kalian mengamalkan amalan penduduk Surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan Surga kecuali satu jengkal saja. Kemudian sudah ditulis dalam Lauh Mahfūdz, akhirnya dia mengamalkan amalan penduduk Neraka, dan akhirnya dia masuk ke dalam Neraka.Kita tidak tahu apa yang menjadi akhir dari amalan seseorang. Ada orang yang dulunya dia da’i, bahkan membantah orang-orang liberal, membantah orang-orang atheis, ternyata Subḥānallāh, dia sendiri yang keluar dari agama Islam. Itu terjadi.Makanya, apa yang diucapkan oleh Imam Abū Ja’far At-Tahāwī, shahih.نَرْجُو — narjū — kita berharap saja semoga Allāh ﷻ memasukkan dia ke dalam Surga dan menjadikannya termasuk penduduk Surga.Adapun memastikan, “Fulan min ahlil-jannah,” maka ini harus ada dalilnya. Kalau memang ada dalilnya, Fulan termasuk penduduk Surga, ya tidak masalah. Memang kita harus memastikan, sebagaimana dipastikan oleh Nabi ﷺ.Seperti ketika beliau mengatakan:أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِAbu Bakr di Surga, Umar di Surga, Utsman di Surga, Ali di Surga.Dan sepuluh orang yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ masuk ke dalam Surga, maka kita memastikan mereka masuk ke dalam Surga, sebagaimana Nabi ﷺ memastikan.Bahkan, yang meragukan itu yang berbahaya. Atau mengatakan yang sebaliknya, “Abu Bakr di Neraka,” padahal Nabi ﷺ mengabarkan beliau di dalam Surga. Ini bahaya.Nabi ﷺ mengabarkan bahwasanya Al-Hasan dan Al-Husain:سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِKeduanya adalah pemuka para pemuda yang ada di dalam Surga.Nabi ﷺ mengatakan tentang Ukkasyah:أَنْتَ مِنْهُمْEngkau termasuk mereka.Itu termasuk orang yang masuk ke dalam Surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Nah, yang seperti ini kita pastikan mereka adalah termasuk penduduk Surga.Adapun yang lain, yang tidak ada kabarnya, maka kita berharap untuk orang-orang yang berbuat baik di antara mereka.وَلَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ — dan kita tidak merasa aman atas mereka.Ya, kita berharap semoga mereka masuk ke dalam Surga, tapi tidak boleh kita merasa aman atas mereka. Yaitu, kalau sudah beriman berarti pasti nanti istiqomah sampai mati misalnya, ini merasa aman.Kita tidak merasa aman, karena yang namanya hati ini berada di antara dua jari di antara jari-jari Allāh ﷻ.Allāh ﷻ gerakkan kapan saja Allāh ﷻ kehendaki.Maka, kita tidak boleh merasa aman. Kita berharap semoga mereka masuk ke dalam Surga Allāh ﷻ dan kita jangan merasa aman, “Pasti dia akan demikian sampai dia mati.” Ini tidak boleh. Kita harus waspada, banyak berdoa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal Qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbana, lā tuzigh qulubanā ba’da idh hadaytanā wahab lanā min ladunka rahmatan, innaka anta Al-Wahhāb.Kita tidak boleh merasa aman. Kita bersyukur mereka mendapatkan hidayah, tapi kita tidak boleh merasa aman mereka akan demikian keadaannya.Makanya adanya tawāṣī — kita saling berwasiat satu dengan yang lain, saling bekerja sama, saling bergandengan untuk tetap istiqomah di atas tauhid, di atas sunnah.Karena terkadang seseorang tidak sadar kecuali ketika dinasihati oleh orang lain, bagaimanapun tingkatan keimanannya, tingkatan amal shalihnya, tapi harus ada di sana saudara yang mengingatkan.وَلَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ وَلاَ نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِDan tidak boleh kita mempersaksikan untuk mereka dengan Surga.Maksudnya adalah memastikan. Seperti yang tadi kita sebutkan, tidak boleh kita memastikan dia adalah termasuk penduduk Surga.Jadi, kita berharap, kita berdoa, kita berhusnuzan kepada Allāh ﷻ. Semoga Allāh ﷻ memasukkan Fulan ini ke dalam Surga-Nya karena dia orang baik, dia menjaga shalat. Kemudian, kita tidak boleh merasa aman. Ya, kita memohonkan ampun untuk beliau.وَلَا نَشْهَدُ عَلَيْهِمْ بِالْجَنَّةِKita tidak boleh bersaksi, memastikan bahwasanya dia adalah penduduk Surga. Sebatas kita berharap saja.

💬 0 komentar📅 22 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke tiga “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke tiga “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.Beliau mengatakan, “Aku berdo’a kepada Allah Yang Maha Pemurah, Rabb yang Memiliki, yang Menguasai ‘Arsy yang besar, supaya Allah Subhānahu wa Ta’āla menjagamu di dunia dan juga di akhirat.”Setelah beliau mengucapkan Basmalah, beliau mendo’akan untuk kita (setiap yang membaca kitab beliau), dengan beberapa do’a, diantaranya adalahأَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Supaya Allah Subhānahu wa Ta’āla menjagamu, menolongmu di dunia maupun di akhirat.”Dan ini adalah adab yang sangat baik. Seorang yang mengajari orang lain mendo’akan dengan do’a – do’a yang baik.Dan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam di dalam Al Qur’an diperintahkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk mendo’akan orang lain, mendo’akan para sahabat radhiyallahu’ anhum sebagaimana firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,وَصَلِّ عَلَیۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنࣱ لَّهُمۡۗ[Q.S. At Taubah: 103]“Dan hendaklah Engkau (Wahai Muhammad) mendo’akan mereka. Karena sesungguhnya do’a yang Engkau panjatkan (yang Engkau tujukan, yang Engkau berikan) kepada mereka, ini adalah memberikan ketenangan kepada mereka.”Do’anya Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, do’a yang berupa kebaikan untuk para sahabat Beliau menjadikan ketenangan di dalam hati para sahabat Radhiyallahu’ anhum.Oleh karena itu di sini, beliau rahimahullah mendo’akan kepada setiap yang mendengar, dan mendo’akan kepada setiap yang membaca kitab beliau ini supaya Allah Subhānahu wa Ta’āla menolong, menjaga, di dunia maupun di akhirat.Dan ini adalah do’a yang agung. Seseorang dijaga di dunia, baik agamanya maupun dunianya, dijaga dari musibah, dijaga dari kecelakaan, demikian pula di dalam agamanya dijaga dari kesesatan, dari kerancuan-kerancuan, dijaga dari keraguan-keraguan, dan dijaga di akhirat semenjak seseorang meninggal dunia, dijaga dari adzab kubur, dijaga dari kegagalan dalam menjawab pertanyaan malaikat, dijaga ketika dibangkitkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla, ketika manusia dalam keadaan takut menghadapi dan melihat kejadian-kejadian besar pada hari kiamat, dijaga oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla dari ketakutan tersebut.Dan seterusnya, dijaga ketika melewati Ash Shirath, dijaga dari neraka. Maka ini adalah do’a yang sangat agung: beliau mengatakan,أَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

💬 0 komentar📅 21 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 Oktober 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 3: Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu

Halaqah 3:Simpul 1 – Membersihkan Wadah Ilmu📚 Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm✒️ Karya: Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi حفظه لله تعالى🎙Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىالمعقد الأولSimpul yang pertama kata beliauتطهير وعاء العلمDi antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama adalah kita harus membersihkan tempat dari ilmu tersebut, karena dia punya tempat, termasuk penghormatan kita dan pengagungan kita terhadap ilmu tadi maka kita harus membersihkan terlebih dahulu tempat tersebut.Kita kalau mau kedatangan tamu yang kita hormati maka kita berusaha untuk membersihkan rumah, halaman kita bersihkan ruang tamu kita bersihkan bahkan sampai kamar mandi pun kita bersihkan karena di dalam diri kita ada penghormatan terhadap orang tersebut. Kalau memang kita ingin menunjukkan penganggungan kita terhadap ilmu dan ilmu itu letaknya atau rumahnya tempatnya adalah di dalam hati kita sehingga otomatis kita harus membersihkan hati tersebut. Beliau mengatakan:وهو القلبdan tempat dari ilmu adalah hatiوبحسَب طهارة القلب يدخله العلم، وإذا ٱزدادت طهارته ٱزدادت قابليَّته للعلمmaka sesuai dengan kebersihan hati seseorang ilmu itu akan masuk, apabila dia bertambah bersih maka akan bertambah dia menerima ilmu tersebut, tambah bersih dan semakin bersih hati tersebut maka ilmu akan semakin betah tinggal di hati tersebut dan sebaliknya kalau hati seseorang itu kotor maka ilmu semakin tidak betah dengan hati tersebut dan ingin segera dia keluar dari hati tersebut.فمن أراد حيازة العلم فليُزينِّ باطنه، ويُطهِّرْ قلبه من نجاسةMaka barang siapa yang ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia menghiasi batinnya, jangan dia sibuk untuk menghiasi dzahirnya saja karena ilmu itu tempatnya berada di dalam, hendaklah dia menyibukkan diri untuk menghiasi dan awalnya adalah dengan membersihkan hati tersebut, kemudian dihiasi dan diperindah dan hendaklah dia membersihkan qalbunya dari najis-najis yang ada di dalam hati tersebut.فالعلم جوهرٌ لطيفٌ ، لا يَصلُح إلَّ للقلب النَّظيفMaka ilmu ini adalah sesuatu yang sangat lembut barang berharga yang sangat lembut tidaklah dia pantas kecuali untuk hati yang bersih.Jangan sampai sesuatu yang berharga tadi yang sangat bernilai tadi ditaruh di tempat yang kotor karena ketika dia ditaruh di tempat yang kotor maka dia tidak akan lama-lama tinggal di tempat tersebut dia tidak akan betah di situ, dia adalah sesuatu yang mulia dan butuh tempat yang mulia yang bersih, kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus bersiap-siap untuk membersihkan hati kita ini dari seluruh kotoran. Kemudian beliau menyebutkan bagaimana dan apa jenis-jenis dari kotoran tersebut yang harus kita singkirkan dan harus kita bersihkan dari hati kita.وطهارة القلب ترجع إلىٰ أصلين عظيمينDan kebersihan hati itu kembali kepada dua pokok yang besar, jadi dari sekian banyak kotoran hati itu bisa diringkas menjadi duaأحدهما: طهارته من نجاسة الشُّبهاتYang pertama adalah bersihnya hati tersebut dari kotoran-kotoran syubhat, kalau ada syubhat maka segera kita tinggalkan, segera kita singkirkan syubhat tersebut dari hati kita karena itu adalah kotoran yang ilmu tidak akan cocok dengan syubhat tadiوالآخرdan yang keduaطهارته من نجاسة الشهواتadalah bersihnya hati tersebut dari najisnya syahwat, yaitu syahwat yang diharamkan bukan syahwat yang dihalalkan seperti dosa-dosa besar berzina baik zina mata atau zina telinga atau zina kemaluan maka itu adalah syahwat yang muharramah, atau mendengarkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ﷻ, itu semua adalah najis yang mengotori hati seseorang dan ilmu tidak akan senang tinggal di sebuah tempat yang kotor baik kotor dengan syubhat maupun kotor dengan syahwat. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus bersihkan hati kita dari kotoran-kotoran syubhat dan dari kotoran syahwat.Kemudian beliau mengatakanوإذا كنت تستحي من نظر مخلوقٍ مثلِك إلىٰ وسخ ثوبك، فاستحِ من نظر الله إلىٰ قلبك، وفيه إحنٌ وبايا، وذنوبٌ وخطاياKemudian beliau membuat permisalan yang semoga ini bisa mempermudah pemahaman kita, apabila engkau malu dengan pandangan makhluk sepertimu terhadap kotoran yang ada di badan, kalau kita berjalan misal di jalan kemudian kita memiliki baju yang kotor maka kita malu orang lain melihat kita memakai baju yang kotor, maka kata beliau hendaklah engkau malu dari pandangan Allah ﷻ terhadap hatimu yang di dalamnya ada kotoran-kotoran dan juga musibah-musibah (dosa-dosa) dan juga kesalahan-kesalahan.Kalau kita dipandang oleh makhluk seperti kita saja yang melihat pada pakaian kita yang kotor kita malu lalu bagaimana dengan  pandangan Allah subhanahu wa taala Al-Khaliq, di mana Allah subhanahu wa taala melihat pada hati kita apakah di situ ada kotoran atau tidak, tentunya kita malu seandainya Allah subhanahu wa taala melihat hati kita dalam keadaan banyak dosa banyak kotoran banyak syubhat banyak syahwat, kalau itu masih banyak di dalam hati kita maka akan sulit kita mendapatkan ilmu agama, belajar mental lagi membaca keluar lagi lupa lagi antum menghafal lupa lagi sebabnya karena kita belum membersihkan hati tersebut.Sehingga ini menunjukkan bahwasanya penuntut ilmu harus memperhatikan hatinya, dia harus senantiasa muraqabah dan mengawasi hatinya jangan sampai dibiarkan hatinya berlarut-larut dalam keadaan kotor dengan syubhat dengan syahwat. Dengan syubhat karena mungkin ada di antara penuntut ilmu yang dia mendengarkan atau membaca buku-buku yang tidak dibenarkan, buku-buku ahlul bid’ah atau dia sengaja mendengarkan ceramah ceramah ahlul bid’ah, sengaja untuk memasukkan syubhat di dalam hatinya dan ini adalah waswas dari setan mengatakan engkau kuat engkau Insyaallah bisa mengetahui dan bisa membedakan mana yang haq mana yang batil, dan ini adalah waswas dari setan yang ingin mengajak kita untuk mengotori hati kita dengan syubhat-syubhat tadi.ففي صحيح مسلمٍ عن أبي هريرة رضي الله عنهDan di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuأنَّ النَّبِيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم قالBahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabdaإن الله لا ينظر إلىٰ صوركم وأموالكم، ولٰكن ينظر إلىٰ قلوبكم وأعمالكمIni dalil bahwasanya Allah ﷻ melihat hati kita, Sesungguhnya Allah ﷻ tidak melihat pada bentuk kalian dan harta-harta kalian, Allah ﷻ tidak melihat yang ini tampan berarti dia diangkat derajatnya, yang ini kaya berarti dia lebih tinggi derajatnya, Allah ﷻ tidak melihat yang demikian, tapi yang Allah ﷻ lihat adalah hati-hati kalian. Kalau dia orang kaya tapi hatinya kotor maka derajatnya lebih rendah daripada orang miskin yang hatinya bersih (bertaqwa).وأعمالكمdan Allah ﷻ juga melihat amalan, kalian bukan hanya hati saja yang dilihat oleh Allah ﷻ tapi amalan dzahirnya apakah sesuai dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak, dilihat hatinya keikhlasannya dan juga dilihat amalannya apakah sesuai dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak. Karena Allah subhanahu wa ta’ala melihat hati kita dan juga amalan kita maka hendaklah kita berusaha untuk senantiasa dan senantiasa membersihkan hati kita.من طهَّر قلبه فيه العلم حَلَّBarang siapa yang membersihkan hatinya maka ilmu akan menempati hati tersebutومن لم يرفع منه نجاسته وَدَعَه العلمُ وارتحلdan barang siapa yang malas dia tidak mau mengangkat najis yang ada di dalam hatinya, tapi dia terus mengikuti hawa nafsunya dia terus memasukkan syubhat di dalam dalam hatinya berarti kalau memang demikian keadaannya ya sudahوَدَعَه العلمُ وارتحلmaka ilmu akan mengucapkan selamat tinggal untuknya, kalau memang tidak butuh ilmu ya sudah dia akan mencari hati-hati yang lebih bagus hati-hati yang lebih mau menerima ilmu tersebut yang hati-hati tersebut adalah hati-hati yang bersihوارتحلdan dia akan segera meninggalkan, dia tidak akan lama-lama tinggal di hati tersebut.Dari sini kita mengetahui tentang keutamaan para ulama baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, ketika kita mendengar tentang keilmuan mereka yang dalam kita mengetahui bagaimana keadaan hati mereka yang bersih karena ilmu yang kita dengar dari lisan-lisan mereka yang mulia dan juga apa yang mereka tulis dalam kitab, ini menunjukkan tentang apa yang ada di dalam hati mereka.وارتحلDan akhirnya ilmu tersebut akan pergi meninggalkan orang tersebut.قال سهل بن عبد الله رحمه اللهBerkata Sahl Ibnu Abdillah rahimahullahحرامٌ علىٰ قلبٍ أن يدخله النُّور، وفيه شيءٌ ممَّا يكره الله عزَّ وجلَّHaram bagi sebuah hati untuk dimasuki Nur (cahaya dari Allah ﷻ) sementara di dalam hati tersebut ada sesuatu yang dibenci oleh Allah ﷻ, haram bagi sebuah hati yaitu tidak mungkin sebuah hati dimasuki cahaya ilmu kalau di dalam hati tersebut ada sesuatu yang dibenci oleh Allah Azza wajalla, sesuai dengan kadar kebersihan hati tersebut maka akan semakin banyak ilmu yang masuk ke dalamnya dan semakin kotor maka akan semakin menjauh ilmu itu darinya.Itu yang pertama kalau kita memang ingin mengagungkan ilmu maka cara mengagungkannya adalah dengan membersihkan tempat dari ilmu tersebut, ini coba kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentunya awalnya kita bersihkan dulu dengan beristighfar bertaubat kepada Allah ﷻ, kalau memang kita ingin mendapatkan ilmu maka kita bertaubat dan beristighfar kepada Allah ﷻ.Kemudian kita bertekad kuat untuk melaksanakan apa yang Allah ﷻ perintahkan dan jangan sampai kita melakukan apa yang dilarang oleh Allah ﷻ dan juga Rasul-Nya karena itulah yang akan mengotori hati kita, kalau memang kita sudah bertaqwa sesuai dengan kemampuan kita kemudian terjerumus ke dalam dosa maka segera kita bersihkan hati tersebut dengan beristighfar dan juga bertaubat dan juga dengan amal shalih sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi wasallamاتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحهاHendaklah engkau bertakwa kepada Allah ﷻ di mana pun kau berada dan hendaklah engkau ikuti sebuah kejelekan itu dengan kebaikan, dan di antara kebaikan tersebut adalah istighfar dan juga bertaubat kepada Allah ﷻ dan amal shalih, karena amal shalih ini juga bisa menghapuskan sebagian dari dosa.

💬 0 komentar📅 21 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 103 | Dosa Memberikan Mudharat Kepada Keimanan Seorang Mukmin

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَلَا نَقُولُ لَا يَضُرُّ مَعَ الإِيمَانِ ذَنْبٌ لِمَنْ عَمِلَهُKita memang tidak mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar, tetapi kita katakan dia termudharati, berkurang keimanannya dengan sebab dosa besar tadi, bukan berarti tidak keluar dari agama Islam kemudian dosa itu tidak ada pengaruhnya pada dirinya. Tetap ada pengaruhnya.Itu adalah prinsip Ahlussunnah: Al-Īmānu Yazīdu wa Yanquṣu, iman itu bertambah dan juga berkurang (dengan kemaksiatan), sebagaimana dia bertambah maka dia juga bisa berkurangإِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allāh, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karena ayat-ayat itu), dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.”(QS. Al-Anfāl: 2)Sebagaimana iman bisa bertambah, dia juga bisa berkurang dengan sebab dosa. Makanya kita katakan, orang yang melakukan dosa besar memang tidak keluar dari agama Islam (ini kita katakan untuk menentang Khawārij), tetapi keimanannya berkurang. Ini berbeda dengan orang-orang Murji’ah yang mengatakan tidak termudharati, kalau kita mengatakan termudharati dengan sebab dosa tersebut. Sehingga Syaikh mengatakanوَلَا نَقُوْلُ لَا يَضُرُّ مَعَ ٱلْإِيمَانِ ذَنْبٌ لِمَنْ عَمِلَهُDan kami Ahlussunnah tidak mengatakan bahwa dosa tidak memudharati bersama iman (kalau sudah ada iman dosa tidak memudharati) bagi orang yang mengamalkan dosa tersebut.”Kami tidak meyakini demikian, karena keyakinan ini adalah keyakinan Murji’ah. Orang-orang Murji’ah mengatakan bahwasanya dosa, kalau sudah ada keimanan, maka dosa itu tidak akan memudharati. Orang-orang Murji’ah satu dalam keyakinan, yaitu bahwasanya amalan ini bukan termasuk iman. Ini keyakinan semua Murji’ah, cuma mereka berbeda-beda apa hakikat dari iman.Al-Qarramiyah, mereka mengatakan iman itu yang diucapkan oleh lisan. Kalau dia sudah mengucapkan “Laa ilaha illallāh,” ya sudah, itulah iman. Dia mau mengerjakan apa saja, tidak masalah. Itu Al-Qarramiyah. Ada yang mengatakan bahwasanya iman itu ya ma’rifat, seperti orang-orang Jahmiyah.Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah, maka mereka meyakini bahwasanya iman itu yang diucapkan dengan lisan, dilakukan oleh perbuatan, dan diyakini dalam hati. Sehingga terkadang dia mengucapkan ucapan yang memudharati imannya — bohong misalnya, atau ghibah misalnya — atau melakukan perbuatan yang mengganggu keimanannya, mencuri, memukul tanpa hak, atau keyakinan yang mengganggu keimanannya, hasad, su’udzon, dan seterusnya.Sehingga Ahlussunnah mereka mengatakan dosa-dosa tersebut, baik yang dilakukan oleh lisan atau hati atau perbuatan, itu akan memudharati. Nah, ini berbeda dengan Murji’ah.Maka beliau mengatakan وَلَا نَقُوْلُ, kita tidak mengatakan ucapan Murji’ah yang mengatakan bahwasanya dosa ini tidak akan memudharati bersama keimanan. Adapun kita maka meyakini itu akan memudharati sesuai dengan kadar dosa yang dilakukan, semakin besar dosanya maka semakin besar mudharatnya.

💬 0 komentar📅 21 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 Oktober 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

SIPKKTI Halaqah 2

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Masuklah sekarang beliau pada Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm tentunya dimulai dari muqaddimah yang ada di dalam Kitab Ta’dzhimul ‘Ilm, beliau mengatakanبِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِJadi kitab Ta’dzhimul ‘Ilm juga dimulai dengan basmalahالحمد لله، وأشهد ألَّ إله إلَّ الله، وأشهد أنَّ محمَّدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، وعلىٰ آله وصحبه عدد من تعلَّم وعلَّمSetelah membaca basmalah sebagaimana tadi beliau memuji Allah subhanahu wa taala dan bersyahadat dengan dua kalimat Syahadat dan mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallamأمَّا بعدُadapun setelahnyaفإنَّ حظَّ العبد من العلم موقوفٌ علىٰ حظِّ قلبه من تعظيمه وإجلالهIni muqaddimah yang bagus yang hendaklah kita memahaminya, sesungguhnya kata beliau bagian seorang hamba terhadap ilmu (besar kecilnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki, banyak sedikitnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki) itu tergantung pada pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiriفمن ٱمتأ قلبه بتعظيم العلم وإجلالهMaka barang siapa yang penuh hatinya ini dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin berisi hatinya dengan pengagungan terhadap ilmu semakin mengagungkan ilmu,صلُح أن يكون محاًّ لهmaka hati tersebut pantas untuk menjadi tempat bagi ilmu itu sendiriوبقدر نقصان هيبة العلم في القلب؛ ينقص حظُّ العبد منهdan sesuai dengan semakin berkurang pengagungan seseorang terhadap ilmu maka akan semakin berkurang juga ilmu yang bermanfaat yang ada pada orang tersebutحتىَّٰ يكونَ من القلوب قلبٌ ليس فيه شيءٌ من العلمsehingga di sana ada hati-hati manusia yang tidak ada di dalamnya sedikit pun ilmu, karena pengagungan dia terhadap ilmu di dalam hatinya itu kosong, karena tidak ada pengagungan maka tidak ada sama sekali ilmu di dalam hatinya.Ini bisa kita rasakan pada diri kita sendiri dan kita bisa melihat orang yang ada di sekitar kita, semakin dia mengagungkan ilmu maka ilmu semakin betah untuk tinggal di dalam hatinya, tapi semakin berkurang pengagungan dia terhadap ilmu maka akan semakin berkurang juga ilmu yang ada pada dirinyaفمن عظَّم العلم لاحت أنواره عليه، ووفَدَت رُسل فنونه إليهMaka barangsiapa yang mengagungkan ilmu (ilmu yang bermanfaat) maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu tersebut pada dirinya.Barang siapa yang mengagungkan ilmu maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu pada diri orang tersebut, al jaza min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amalannya), dan kemudian akan berdatanganlah cabang-cabang dari ilmu tersebut kepadanya ketika dia mengagungkan ilmu tersebut di dalam hatinya. Maka akan dengan senang hati cabang-cabang dari ilmu itu mendatangi orang tersebut, bukan hanya pokok-pokok dari ilmu tapi juga cabang-cabangnya akan mendatangi orang tersebut karena dia mengagungkan ilmu.ولم يكن لهمَّته غايةٌ إلا تلقِّيه، ولا لنفسه لذَّةٌ إلاَّ الفكرُ فيهKalau orang sudah mengagungkan ilmu maka tidak ada keinginan yang puncak bagi dirinya kecuali ingin mendapatkan ilmu tersebut, keinginan dia yang paling besar adalah mendapatkan ilmu tersebut sebagaimana para ulama mereka mendapatkan ilmu tersebut. Dan tidak ada di dalam dirinya kelezatan kecuali ketika dia memikirkan ilmu tersebut, kelezatan dia bukan pada tontonan bukan apa yang dia dengar tapi kelezatan dia adalah ketika dia memikirkan ilmu tersebut, dia merasakan kenikmatan tersebut tidak dirasakan oleh orang lain.وكأنَّ أبا محمَّدٍ الدَّارميَّ الحافظ رَحِمَهُ الله لَمَحَ هٰذا المعنىٰ فَخَتَمَ كتاب العلم من سننه المسمَّاة ب”المسند الجامع” ببابٍ في إعظام العلمSepertinya (kata Syaikh) Abu Muhammad Ad-Darimi Al-Hafidz beliau mengisyaratkan pada makna ini, yaitu makna bahwasanya orang yang mengagungkan ilmu maka dia akan mendapatkan ilmu kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.Di dalam kitab beliau Al-Musnad atau dikenal dengan Sunan Ad-Darimi maka beliau menutup kitabnya dengan sebuah bab yang isinya adalah tentang pengagungan ilmu dan ini beliau taruh di akhir, sepertinya beliau ingin menunjukkan bahwasanya tidak mungkin mendapatkan ilmu kecuali orang yang mengagungkan ilmu, kemudian beliau mengatakanوأعونُ شيءٍ علىٰ الوصول إلىٰ إعظام العلم وإجلاله: معرفةُ معاقد تعظيمهDan perkara yang paling membantu kita, setelah kita mengetahui bahwasanya ternyata rumus untuk mendapatkan ilmu kita harus punya pengagungan terhadap ilmu, itu sudah menjadi rumus, kalau kita punya pengagungan kita akan mendapatkan ilmu kalau kita tidak mengagungkan ilmu maka jangan berharap kita bisa mendapatkan ilmu tersebut.Kata Syaikh untuk mendapatkan di dalam hati kita pengagungan yang besar terhadap ilmu maka hal yang sangat membantu supaya kita sampai kepada sikap mengagungkan terhadap ilmu itu adalah kita harus mengenal simpul-simpul dari pengagungan terhadap ilmu, karena dari mengenal itulah baru kita bisa mengamalkan, kalau kita tidak mengenal bagaimana kita bisa mengamalkan.وهي الأصول الجامعة، المحقِّقَةُ لِعَظَمَة العلم في القلبYang dimaksud dengan simpul tadi itu adalah pokok-pokok yang menyeluruh, prinsip-prinsip dasar yang menyeluruh yang akan mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, Syaikh ingin menyebutkan untuk kita supaya kita tahu kemudian kita bisa mengamalkan dan kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu tersebut di dalam diri kitaفمن أخذ بها كان معظِّمًا للعلم مجِلًّ لهMaka barangsiapa yang mengambil simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu tadi, dia ambil dia pahami dan dia praktekkan maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmuومن ضيَّعها فلنفسه أضاعTapi barangsiapa yang menyia-nyiakan simpul-simpul tadi, mungkin dia belajar tapi dia tidak mengamalkan simpul-simpul tadi, dia dengarkan dan dia tinggalkan berarti dia telah menyia-nyiakan simpul-simpul tadi dia tidak mengamalkan dia tidak mempraktikkan dalam kehidupan dia sehari-hari atau dalam kehidupan dia dalam menuntut ilmu, maka orang tersebut pada hakikatnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri.Karena ketika dia menyia-nyiakan simpul-simpul tadi akhirnya dia tidak mengagungkan ilmu, kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka akhirnya dia tidak mendapatkan ilmu, dan orang yang tidak mendapatkan ilmu dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, meridhoi dirinya dalam keadaan bodoh, ridha kalau dirinya dalam keadaan tidak tahu tentang agama Allah ﷻ maka dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, karena rata-rata musibah itu sebabnya adalah karena kebodohan sebaliknya dengan ilmu seseorang berarti dia dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻمَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِBarangsiapa yang Allah ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan dia paham tentang agamanya.Kalau kita membiarkan diri kita dalam keadaan bodoh berarti kita telah menyia-nyiakan diri kita sendiri, kita dalam keadaan bodoh karena kita tidak mau mengagungkan ilmu sehingga ilmu pun tidak mau betah di dalam diri kita, kita pun dalam keadaan bodoh, makanya kita belajar mempelajari simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu supaya kita mendapatkan ilmuولِهَواه أطاعDan dia telah mengikuti hawa nafsunya.Simpul-simpul yang akan beliau sebutkan itu kebanyakan atau semuanya bertentangan dengan hawa nafsu, jadi kalau kita menyia-nyiakan simpul-simpul tadi berarti kita sebenarnya mengikuti hawa nafsu kita, karena apa yang beliau sebutkan berupa prinsip dan juga simpul dalam mengagungkan ilmu itu rata-rata bertentangan dengan hawa nafsuفلا يلومنَّ – إن فتَر عنه – إلَّ نفسهMaka janganlah dia mencela kalau sampai dia terputus dari ilmu kecuali dirinya, kalau terjadi musibah atau dia tidak mendapatkan ilmu, karena dia tidak mengikuti simpul-simpul tadi tidak mempraktekkan simpul-simpul tadi.Seandainya dia suatu saat putus dari ilmu dan tidak istiqomah di atas ilmu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri, nasihat sudah datang dari para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam sampainya mereka kepada ilmu.Kemudian beliau mendatangkan permisalanيداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَDua tanganmu itulah yang mengikat dan mulutmu yang meniup.Ini adalah sebuah permisalan ketika ada seseorang yang dia ingin menyeberang sungai kemudian dia ingin menggunakan kirbah, sebuah tempat yang digunakan untuk menaruh air, zaman dulu terbuat dari kulit yang dihilangkan isinya yaitu dihilangkan airnya kemudian ditiup dan diikat sehingga isinya adalah udara berfungsi seperti ban kalau di zaman kita.Ditiup kemudian diikat dengan tangannya kemudian dia pun menyeberangi sungai tersebut tapi dia mengikatnya tidak benar, mengikatnya tidak sungguh-sungguh. Akhirnya ketika dia menyeberang dia pun terseret tidak bisa mengambil faedah dari kirbah tadi, kemudian dikatakanيداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَkedua tanganmu yang mengikat dan mulutmu sendiri yang meniup, bukan tanganku yang mengikat dan bukan mulutku yang meniup tapi antum sendiri yang melakukan. Sehingga ini adalah permisalan bagi orang yang dia terkena bencana/musibah karena perbuatan dia sendiriومن لا يُكْرِمُ العلمَ لا يُكرِمُه العلمُDan barang siapa yang tidak menghormati ilmu tidak memuliakan ilmu maka ilmu pun tidak akan memuliakan dia, balasan itu sesuai dengan amal, kalau kita mengagungkan ilmu maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat derajat kitaيَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚAllah ﷻ akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu, karena mereka mengagungkan ilmu sehingga Allah ﷻ pun mengangkat derajat merekaإنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَSesungguhnya Allah ﷻ mengangkat dengan Kitab ini (Al-Quran) beberapa kaum dan merendahkan kaum yang lain.Sehingga kembali kepada diri kita masing-masing kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang kita mengetahui tentang keutamaannya dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam surgaمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِkalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang disitu kita termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ dan diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka kita harus menempuh dan mempraktekkan prinsip-prinsip yang merupakan bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama ini.

💬 0 komentar📅 20 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 102 | Ahlus Sunnah Tidak Mengkafirkan Ahlu Kiblat Dikarenakan Melakukan Dosa Besar Selama Pelaku Dosa Besar Tidak Menganggapnya Halal Bag 02

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-102 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Apa dalil bahwasanya orang yang melakukan dosa besar ini tidak keluar dari agama Islam? Di antaranya adalah Firman Allāh ﷻ ketika menyebutkan tentang qishāṣ bagi orang yang membunuh tanpa hak:فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ(QS. Al-Baqarah: 178)‘Barangsiapa yang dimaafkan dari saudaranya..’ kalau seseorang membunuh orang lain, sebenarnya dia harus dibunuh, tapi ada ahli warisnya yang memaafkan, ‘maka hendaklah yang membunuh tadi mengikuti dengan kebaikan.’ Allāh ﷻ masih menamakan ini sebagai dua saudaraفَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِBarangsiapa yang dimaafkan dari saudaranya, berarti meskipun membunuh masih dinamakan saudara, yaitu saudara seislam, menunjukkan bahwasanya pelaku dosa besar ini tidak keluar dari agama Islam.Dan di antara dalilnya adalah adanya syafaat di hari kiamat. Orang yang melakukan dosa besar, ada di antara mereka yang setelah dia disiksa di dalam neraka, ada syafaat seorang malaikat, atau seorang nabi, atau seorang yang beriman, sehingga dia pun keluar dari neraka dan masuk ke dalam Surga-Nya Allāh ﷻ. Bukankah ini menunjukkan bahwasanya mereka tidak keluar dari agama Islam? Seandainya mereka ini keluar dari agama Islam, tentunya sama dengan orang-orang munafik, orang-orang musyrikin yang mereka kekal selamanya di dalam neraka.Ini di antara dalil ahlussunnah yang menunjukkan bahwa orang yang melakukan dosa besar di antara orang-orang Islam maka tidak keluar dari agama Islam, tapi dia berkurang keimanannya. Jelas, berkurang keimanan. Di sana ada kelompok yang mengatakan pelaku dosa besar ini keluar dari agama Islam. Ini adalah kelompok Khawārij dan juga Mu’tazilah. Kalau melakukan dosa besar, maka dia sudah keluar dari agama Islam.Orang-orang Khawārij mengatakan itu sebagai orang yang kafir. Orang-orang Mu’tazilah mengatakan keluar dari agama Islam, dan dia berada di satu kedudukan di antara dua kedudukan. Dua kedudukan yang dimaksud adalah Islam dan juga kekufuran. Statusnya adalah antara Islam dan kekufuran. Fi manzila bainah al-mandzilata’in, dia berada di satu kedudukan di antara dua kedudukan. Ini keyakinan orang-orang Khawārij. Di antara pokok akidah mereka adalah mengkafirkan pelaku dosa besar.Dan di sana ada kelompok yang berkebalikan dari orang-orang Khawārij, mengatakan bahwasanya pelaku dosa besar ini sempurna keimanannya, tidak terpengaruh dengan dosa yang dilakukan, meskipun dia melakukan dosa besar sebanyak apa pun maka dosa tadi tidak mempengaruhi keimanannya karena mereka menganggap bahwasanya ada yang mengatakan iman itu hanya lisan saja. Kalau antum sudah ikrar Asyhadu alla ilaha illallah, asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh, antum sudah sempurna keimanannya. Kemudian setelah itu seseorang mau melakukan dosa apa saja tidak berpengaruh.Ada yang mengatakan iman itu hanya ma’rifah saja, kita mengenal Allāh ﷻ, itulah yang dinamakan dengan iman. Adapun apa yang dilakukan oleh amalan, maka ini bukan termasuk iman, sehingga anggota badan dia melakukan apa saja tidak masalah. Yang penting dalam hatinya seseorang mengenal Allāh ﷻ, percaya kepada Allāh ﷻ.Ini dua kelompok yang sangat ekstrem. Satunya, dia mengeluarkan seseorang yang melakukan dosa besar dari agama Islam. Satunya, mengatakan imannya sempurna.Adapun ahlussunnah, maka berada di pertengahan. Mereka mengatakan dia tidak keluar dari agama Islam, tapi berkurang keimanannya. Beliau mengatakan,وَلَا نُكَفِّرُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِذَنْبٍ مَا لَمْ يَسْتَحِلَّهُSelama dia tidak menghalalkannya. Artinya, kalau dia sudah menghalalkan sesuatu yang diharamkan, maka dia keluar dari agama Islam.Contoh, misalnya orang yang melakukan riba. Ini sebenarnya dia tidak keluar dari agama Islam, tapi ketika dia mengatakan riba itu adalah halal, berarti di sini sudah menghalalkan. Ini keluar dari agama Islam. Kalau seseorang hanya melakukan riba, dan dia menyadari ini adalah haram, mengatakan bagaimana lagi, ana sedang butuh dan seterusnya, dia tidak menghalalkan yang diharamkan oleh Allāh ﷻ, dia menyadari itu adalah haram, inilah yang tidak keluar dari agama Islam.Adapun yang mengatakan dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allāh ﷻ, maka inilah yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Yang berhak untuk menghalalkan, yang berhak untuk mengharamkan hanya Allāh ﷻ semata.Adapun seseorang mengetahui itu adalah perkara yang diharamkan secara dhahir dalam agama Islam — zina haram, riba haram — kemudian dia memiliki akidah yang lain, keyakinan yang lain, bahwasanya itu adalah perkara yang dihalalkan oleh Allāh ﷻ, mengetahui itu diharamkan, kemudian dia sendiri menghalalkan, maka ini keluar dari agama Islam yang demikian.Apakah ucapan beliau ini lurus? Mā lam yastahillahu, selama dia tidak menghalalkan, ṣaḥīḥ. Selama dia tidak menghalalkan perkara tersebut, maka dia masih dianggap sebagai seorang Muslim. Tapi kalau sudah menghalalkan, maka inilah yang menjadikan hukumnya berbeda.Ini disampaikan oleh para ulama bahwa orang yang menghalalkan perkara-perkara yang diharamkan secara dhahir di dalam agama Islam seperti orang yang membolehkan berzina, atau membolehkan khamr, atau menghalalkan riba, maka inilah yang menjadi sebab keluarnya seseorang dari agama Islam.

💬 0 komentar📅 20 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke dua “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke dua “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,بسم الله الرحمن الرحيمMengawali kitab beliau dengan Basmalah. Mengikuti apa yang Allah lakukan di dalam Al Qur’an, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memulai kitabnya yaitu Al Qur’anul Karim dengan Basmalah.Demikian pula Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika Beliau mengirim risalah ke sebagian para penguasa yang ada di zaman Beliau, Beliau memulai risalahnya (suratnya), yang isinya adalah dakwah kepada Islam (kepada Tauhid) dengan Basmalah. Diantaranya ketika Beliau mengirim surat kepada Hierocl (Heraclius-pen), Beliau memulai suratnya dengan Basmalah ((بسم الله الرحمن الرحيمDan di sini, Syaikh Muhammad At Tamimi memulai risalah beliau (memulai kitab beliau) dengan Basmalah.Dan Basmalah, بِ di sini adalah ب isti’anah, yaitu ب yang fungsinya adalah untuk meminta pertolongan. Orang yang mengatakan Bismillahirrahmanirrahim, maka maknanya, Aku memohon pertolongan kepada Allah, Ar Rahman Ar Rahim.Orang yang mengucapkan Basmalah, maka pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla..Ism artinya adalah nama.Ismillah artinya adalah nama Allah.Dan sebuah kalimat yang mufrod apabila disandarkan, maka ini maknanya adalah umum.Sehingga makna Bismillah adalah seluruh nama Allah. Jadi bukan hanya satu nama, akan tetapi mencakup seluruh nama Allah.Bismillah, Dengan nama Allah, maksudnya adalah dengan nama-nama Allah Subhānahu wa Ta’āla. Karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memiliki Al Asmaul Husna.لَهُ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ[Surat Al-Hasyr: 24]وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ[Surat Al-A’raf: 180]“Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla memiliki nama-nama yang Husna, maka hendaklah kalian berdo’a dengannya.”Orang yang mengatakan Bismillah, berarti telah beristi’anah, memohon pertolongan dengan seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.Allah adalah lafdzul jalalah. Diambil dari kata الألوهة yang artinya adalah المألوه yaitu المعبود yaitu yang disembah.Dan lafdzul jalalah adalah nama Allah yang paling agung. Disandarkan nama-nama yang lain kepada nama ini.Seseorang mengatakan Ar Rahman, adalah diantara nama Allah. Ar Rahim adalah diantara nama Allah. Al ‘Aziz adalah diantara nama Allah.Nama-nama yang lain kembalinya kepada lafdzul jalalah ini, yang artinya adalah المعبود المألوه, (yaitu) yang disembah.Ar Rahman adalah salah satu diantara nama-nama Allah yang berasal dari Ar Rahmah yang artinya adalah Yang Maha Penyayang.Ar Rahim juga demikian, berasal dari Ar Rahmah yang artinya adalah Yang Maha Penyayang.Dan perbedaan antara Ar Rahman dan Ar Rahim disebutkan oleh para ulama, diantaranya adalah bahwasanya Ar Rahman ini adalah Allah Maha Penyayang, dan kasih sayang di sini mencakup seluruh makhluk, baik yang mukmin maupun yang kafir, baik yang taat kepada Allah maupun yang berbuat maksiat kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla. Semuanya mendapat rahmat dari Allah.Orang kafir, meskipun dia adalah orang yang kafir, mendapatkan rezeki dari Allah Subhānahu wa Ta’āla. Mendapatkan makanan, mendapatkan minuman, diberikan kesempatan hidup. Dan ini adalah bagian dari rahmat Allah Subhānahu wa Ta’āla.Adapun Ar Rahim, maka rahmat di sini adalah rahmat untuk orang-orang yang beriman. Tidak diberikan kepada orang-orang kafir.Dan diantara Rahmat yang Allah berikan untuk orang-orang yang beriman adalah iman itu sendiri, hidayah kepada agama Islam. Dibuka hatinya untuk beriman dan percaya kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada malaikat malaikat, kepada kitab-kitab, kepada takdir. Dan ini ada bagian dari rahmat Allah Subhānahu wa Ta’āla yang Allah khususkan untuk orang-orang yang beriman.وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِینَ رَحِیمࣰا[Surat Al-Ahzab 43]“Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah zat yang Maha Penyayang kepada orang yang beriman

💬 0 komentar📅 20 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang pertama “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang pertama “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهKita akan bersama-sama mempelajari tentang sebuah kitab yang ringkas, akan tetapi telah memberikan manfaat yang banyak kepada kaum muslimin yang dikarang oleh seorang ulama yang lahir pada tahun 1115 H, yaitu kurang lebih 300 tahun yang lalu dan beliau meninggal dunia pada tahun 1206 H.Beliau adalah Al Imam Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi. Dan kitab yang akan kita pelajari adalah Al Qawa’idul Arba’ yang artinya adalah kaidah-kaidah yang empat (empat kaidah).Kitab ini adalah kitab yang ringkas. Telah banyak diantara ulama dan para penuntut ilmu yang telah mengambil pelajaran dan mengambil manfaat dari kitab yang mulia ini.Syaikh Muhammad At Tamimi, seorang ulama jazirah Arab, dan beliau lahir pada tahun 1115 H dan telah mulai menuntut ilmu semenjak beliau kecil. Dan beliau mengambil ilmu dari bapak beliau sendiri, demikian pula dari ulama-ulama besar di zamannya, diantaranya adalah Syaikh Muhammad Hayah As Sindi, dan juga yang lain.Dan telah melakukan banyak perjalanan dalam rangka menuntut ilmu agama, pergi ke daerah-daerah yang ada di Hijaz ini, ke kota Madinah, ke kota Mekkah, dan mengambil ilmu dari banyak ulama. Demikian pula pergi ke Basroh. Dan hampir-hampir beliau pergi ke Syam, akan tetapi karena suatu halangan, beliau tidak bisa ke sana.Di zaman beliau, banyak kerusakan-kerusakan di dalam agama. Di daerah beliau sendiri dan juga daerah-daerah tetangga tersebar yang dinamakan dengan kesyirikan, penyembahan terhadap selain Allah Azza wa Jalla. Diantaranya, ada diantara mereka yang mengagung-agungkan kuburan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Bahkan ada diantara mereka yang mengagung-agungkan pohon yang besar, meminta kepadanya, meminta manfaat dari pohon tersebut.Oleh karena itu, beliau rahimahullah selama hidupnya menghabiskan waktunya untuk berdakwah, dan mengajak orang-orang yang ada di sekitar beliau, baik orang yang awam, anak kecil, orang yang sudah besar, bahkan para petinggi kerajaan, tidak lepas dari dakwah beliau.Dan diantara usaha beliau adalah mengarang beberapa karangan (kitab), diantaranya adalah kitab yang akan kita pelajari. Dan beliau rahimahullah memiliki banyak karangan yang sangat bermanfaat, diantaranya adalah:• Kitabut Tauhid• Kasyfu Syubhat• Al Ushulu Ats Tsalasah• Fadhlul Islam• Ushulul ImanDan juga kitab-kitab yang lain.Dan kaum muslimin telah banyak mengambil manfaat dari beliau.Dan beliau meninggal dunia pada tahun 1206 H. Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla menerima amal ibadah beliau, ketaatan beliau, dan memberikan manfaat kepada kaum muslimin dari apa yang sudah beliau sampaikan.Kitab ini (Qawa’idul Arba) berisi tentang empat kaidah supaya seseorang bisa memahami apa itu Tauhid.Mungkin ada diantara kita atau banyak diantara kita, sudah mendengar dan pernah mendengar apa itu Tauhid dan apa itu Asy Syirk. Dan di dalam kitab ini beliau berusaha untuk memberikan pemahaman kepada kita tentang Tauhid dan juga Syirik, dengan kalimat-kalimat yang ringkas, dan beliau meringkasnya menjadi empat kaidah

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI Halaqah 101 - Perkataan Abu Aliyyah (Bagian 01)

Halaqah 101Perkataan Abu Aliyyah (Bagian 01) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'āla​وَقَالَ أَبُو العَالِيَةِ: «تَعَلَّمُوا الإِسْلَامَ، فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ؛ فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ، وَلَا تُحَرِّفُوا الصِّرَاطَ يَمِينًا وَشِمَالًا، وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ، وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ»Diriwayatkan oleh Abdur Rozzaq (Al-Mushannaf), Ibnu Baththah (Al-Ibanah Al-Kubra), dan Abu Nu'aim (Hilyatul Auliya').​Pembahasan riwayat perkataan Abul 'Aliyah rahimahullah mengenai kewajiban mempelajari Islam, berpegang teguh pada jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim) dan sunnah Nabi ﷺ, serta peringatan (tahdzir) keras terhadap penyimpangan dan hawa nafsu (bid'ah).​Penjelasan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah agar memperhatikan (ta'ammul) dan merenungkan keagungan ucapan Abul 'Aliyah tersebut.Perkataan Abul 'Aliyah dan Penjelasannya:​تَعَلَّمُوا الإِسْلَامَ: Perintah untuk mempelajari Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ (aqidah, akhlak, dan ibadah).​فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ: Jika sudah memahaminya, jangan membencinya, menjauh, futur, tidak istiqamah, atau melenceng. Pelajari dan amalkan.​وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ، فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ: Wajib (ilzam) menempuh jalan yang lurus, yaitu Islam itu sendiri.​وَلَا تُحَرِّفُوا الصِّرَاطَ يَمِينًا وَشِمَالًا: Dilarang menyimpang/membelok (tanharif) dari jalan yang lurus baik ke kanan maupun ke kiri. Apabila keluar dari jalan yang lurus, tempat kembalinya adalah siksaan jahanam, meskipun aliran tersebut dihiasi nama indah atau kemewahan.​وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ: Wajib memegang sunnah Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa Ash-Shirathal Mustaqim, Islam, dan Sunnah Nabi ﷺ memiliki makna yang sama.​وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ: Peringatan untuk berhati-hati dari hawa nafsu. Hawa nafsu bertentangan dengan Islam/Sunnah, dan bid'ah termasuk bagian dari hawa nafsu (mengikuti nafsu, bukan wahyu).Pelajaran dari Ajakan Syaikh (Mu'allif):Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengajak pembaca merenungkan: تَأَمَّلْ كَلَامَ أَبِي العَالِيَةِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا، مَا أَجَلَّهُ (Perhatikanlah ucapan Abul 'Aliyah ini, betapa agungnya).​Penulis menganjurkan agar kita tidak sekadar melewati ucapan para salaf begitu saja (mururan kiraman), karena ucapan mereka sedikit namun padat ilmu.​Kata هَذِهِ (ini) menunjukkan pada zaman Abul 'Aliyah sudah banyak bermunculan hawa nafsu.​Mengikuti hawa nafsu/bid'ah secara bertahap akan membuat seseorang membenci sunnah dan akhirnya membenci/menjauhi Islam itu sendiri (الَّتِي مَنِ اتَّبَعَهَا؛ فَقَدْ رَغِبَ عَنِ الإِسْلَامِ).Kesimpulan ​Hakikat jalan yang lurus (Ash-Shirathal Mustaqim) adalah Islam dan Sunnah Nabi ﷺ; ketiganya saling berkaitan dan bernilai sama.​Kewajiban untuk istiqamah mempelajari serta mengamalkan Islam, serta mewaspadai segala bentuk bid'ah dan hawa nafsu karena dapat menjauhkan seseorang dari kebenaran hingga mengeluarkannya dari Islam.

💬 0 komentar📅 19 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 100

Halaqah 100Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah bin Al-Yaman (Bagian 06) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaFitnah Akhir Zaman & Keberadaan DajjalKeberadaan Dajjal:Dajjal sudah ada saat ini, sebagaimana kisah Tamim Ad-Dari dalam hadits shahih HR. Muslim.  ​Fitnah Terbesar:Dajjal keluar di akhir zaman saat manusia mengalami kekeringan dan kelaparan hebat. Ia mengaku sebagai Rabb (Tuhan) dan diberi kemampuan oleh Allah untuk menurunkan hujan serta menumbuhkan tanaman.  ​Sifat & Tanda Dajjal:Membawa sungai dan api.  ​Tertulis kata kafara / kafir di dahinya yang bisa dibaca oleh setiap orang beriman. Sikap Orang Kafir vs Orang Beriman Hadapi Dajjal​Orang Kafir: Mudah tertipu dan mengikutinya karena kufur, lapar, dan tidak mengenal Allah (ma'rifatullah).  ​Orang Beriman:Selamat karena memiliki ilmu. Mereka tahu kaidah utama: Allah tidak dapat dilihat di dunia sampai manusia meninggal dunia.Pilihan Saat Fitnah Dajjal & Konsekuensinya​Memilih Api Dajjal:Mendapatkan pahala dan diampuni dosa-dosanya.  ​Memilih Sungai Dajjal:Mendapat dosa, gugur pahalanya, dan terancam keluar dari Islam (murtad). (Sesuai QS. Al-Baqarah: 217).Tanda Dekatnya Hari KiamatKiamat Segera Terjadi:Keluarnya Dajjal merupakan salah satu dari 10 tanda besar Kiamat (asyratus sa'ah al-qubro). Setelah fitnah Dajjal, Kiamat akan segera terjadi.Catatan Perawi Hadis (Ziyadah/Tambahan)Tambahan lafaz mengenai keluarnya Dajjal dan membawa sungai/api ini diriwayatkan oleh HR. Abu Daud (dihasankan oleh Syaikh Al-Albani), bukan HR. Muslim.Catatan:Pentingnya mempelajari ilmu agama dan akidah (ma'rifatullah) sejak dini agar memiliki benteng keimanan dan tidak mudah tertipu oleh fitnah akhir zaman. 

💬 0 komentar📅 25 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah

Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 3”.16. Berbaik sangka kepada Allah. Ketika melihat dirinya diberi hidayah kepada Tauhid, Sunnah, dan ketaatan, maka dia berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah menghendaki pada dirinya kebaikan dan ingin memudahkan dia masuk ke dalam Surga-Nya.17. Menimbulkan rasa takut di dalam diri seorang hamba dari suul khotimah, sehingga dia tidak tertipu dengan amal sholehnya, karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir amalannya.18. Menimbulkan sifat tidak suka merendahkan orang lain dan menghinakan orang lain yang terjerumus ke dalam kemaksiatan, karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir dari amalan orang tersebut.19. Memerdekakan akal dan diri dari khurafat dan tathoyyur dan dia meyakini bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdir Allah. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah dan tidak ada yg menolak kejelekan kecuali Allah.20. Menjadikan seseorang rendah hati dan tidak sombong ketika diberikan rezeki oleh Allah baik berupa harta, kedudukan, maupun ilmu, dll. Karena ini semua datang dari Allah dan dengan takdir Allah. Dan kalau Allah menghendaki, Allah akan mengambilnya dari kita sewaktu-waktu.21. Membawa ketenangan di dalam hati dan ketentraman jiwa karena ketika tertimpa musibah dia merasa itu yg terbaik dan pasti ada hikmahnya dan dia mengetahui bahwa orang yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya, sehingga dia tidak cemas dan gelisah, dan tidak berangan-angan dan berandai-andai.Akhirnya semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita termasuk orang yang beriman dengan takdir Allah yang baik maupun yang buruk.Dan semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan karunia kepada kita semua sehingga kita bisa merasakan buah-buah yang baik dari beriman dengan takdir. Dan sesungguhnya Allah mengabulkan do’a.

💬 0 komentar📅 25 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 25: Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 3

Halaqah 25:Buah Beriman Dengan Takdir Bagian 3🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى ​16. Berbaik Sangka kepada Allah (Husnuzhan)Ketika melihat dirinya diberikan hidayah berupa Tauhid, Sunnah, dan ketaatan, seorang hamba hendaknya berbaik sangka bahwa Allah menghendaki kebaikan untuknya dan ingin memudahkannya menuju Surga.​17. Menimbulkan Rasa Takut akan Su’ul KhatimahMemunculkan rasa takut akan akhir kehidupan yang buruk, sehingga ia tidak tertipu atau sombong dengan amal shalihnya. Sebab, ia tidak mengetahui apa yang telah Allah takdirkan di akhir hayatnya.​18. Tidak Merendahkan Orang LainMencegah sifat menghinakan atau merendahkan orang lain yang sedang terjerumus dalam kemaksiatan, karena ia tidak tahu bagaimana Allah akan menakdirkan akhir dari amalan orang tersebut.​19. Memerdekakan Diri dari Khurafat dan TathayyurBebas dari kepercayaan pada takhayul atau anggapan sial (tathayyur). Seorang hamba yakin segala sesuatu terjadi atas takdir Allah:• ​Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah.• ​Tidak ada yang dapat menolak kejelekan kecuali Allah.​20. Menumbuhkan Sifat Tawadhu’ (Rendah Hati)Mencegah kesombongan saat menerima limpahan rezeki berupa harta, kedudukan, maupun ilmu. Semua itu adalah karunia dan takdir Allah, yang bisa saja diambil kembali sewaktu-waktu jika Dia menghendaki.​21. Melahirkan Ketenangan Jiwa & Ketentraman HatiSaat tertimpa musibah, hati tetap tenang karena meyakini bahwa takdir tersebut adalah yang terbaik dan menyimpan hikmah. Ia paham bahwa keridhaan hamba akan mendatangkan keridhaan Allah, sehingga terhindar dari rasa cemas, gelisah, maupun pengandaian yang sia-sia.​🌱 Doa & Penutup​Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk, serta menganugerahkan kita kemampuan untuk memetik buah-buah manis dari keimanan tersebut. Sesungguhnya Allah Maha Mengabulkan doa.📌 @dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 25 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah tentang “Buah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh”.

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah tentang “Buah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh”.Diantara buah beriman dan manfaat beriman dengan malaikat-malaikat Allāh di dunia dan di akhirat:⑴ Beriman kepada malaikat adalah bagian dari mewujudkan keimanan yang tersebut keutamaan-keutamaannya di dalam Al-Qurān dan Hadīts.Diantaranya adalah:• Mendapatkan hidayah di dunia.• Mendapatkan keamanan di akhirat.• Masuk ke dalam surga.• Dan lain-lain⑵ Semakin mengagungkan Allāh.Karena seseorang ketika mendengar tentang sangat besarnya seorang malaikat, dia menyadari bahwa Allāh yang menciptakan malaikat tersebut, lebih besar.Dan seseorang apabila dia mendengar bahwa Allāh memiliki hamba-hamba yang sangat banyak, pasukan-pasukan, yang tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allāh maka dia menyadari bahwa Allāh; Dialah Raja Yang Haq, Yang Berkuasa, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, Yang Mengatur seluruh perkara.Maka keyakinan ini membawa dia untuk hanya menyembah kepada Allāh dan meninggalkan penyembahan kepada selain Allāh.⑶ Menjadikan seseorang tawādhu’ dan jauh dari sifat sombong di dalam ibadahnya.Karena dia mengetahui bahwa di sana ada para malaikat yang jauh lebih banyak ibadahnya kepada Allāh dan mereka tidak memaksiati Allāh.⑷ Mengetahui rahasia-rahasia alam yang sangat teratur dan kejadian-kejadian yang ada di dalamnya.Dan bahwasanya di sana ada malaikat-malaikat yang Allāh tugaskan dengan amalan-amalan yang berkaitan dengan alam semesta dan manusia.⑸ Mencintai amal shalih.Karena di sana ada malaikat yang menulis amal kebaikan dan di sana ada malaikat-malaikat yang mendo’akan dengan kebaikan bagi orang yang melakukan beberapa jenis amal shalih.⑹ Membenci kemaksiatan dan menjauhinya.Karena di sana ada malaikat-malaikat yang mencatat ucapan dan perbuatannya dan di sana ada malaikat-malaikat yang mendo’akan dengan kejelekan dan laknat bagi orang yang melakukan beberapa jenis kemaksiatan.⑺ Meniru dan meneladani malaikat di dalam beribadah, keta’atan dan rasa takut mereka kepada Allāh.⑻ Bersyukur kepada Allāh atas kenikmatan yang besar ini.Dimana Allāh menugaskan kepada malaikat untuk melakukan beberapa amalan yang berkaitan dengan alam semesta dan manusia.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُDengan demikian kita sudah menyelesaikan Silsilah ‘Ilmiyyah yang ke-6 tentang “Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh”.Semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.Dan sampai bertemu kembali in syā Allāh pada Silsilah ‘Ilmiyyah yang ke-7 yaitu tentang “Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh”.

💬 0 komentar📅 25 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan (membawakan sebuah atau beberapa ayat dari Al Qur’an) yang menunjukkan tentang akibat orang yang berpaling dari Al Qur’an dan juga Sunnah.Yaitu firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ۞ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا فَهِيَ إِلَى ٱلۡأَذۡقَانِ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ۞ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا فَأَغۡشَيۡنَٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ۞وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ۞ إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ فَبَشِّرۡهُ بِمَغۡفِرَةٖ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ۞Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,“Dan sungguh, telah tetap atas mereka ketetapan Allah Subhānahu wa Ta’āla atas sebagian besar mereka, bahwasanya mereka tidak beriman.Kami telah menjadikan pada leher-leher mereka belenggu-belenggu. Maka belenggu-belenggu tersebut sampai dagu mereka sehingga mereka mengangkat kepalanya ke atas.Dan kami telah menjadikan dari depan mereka penutup dan dari belakang mereka penutup, maka kami menutupi mereka sehingga mereka tidak bisa melihat.Kemudian Allah mengatakan yang artinya:“Dan sama saja apakah engkau memberikan peringatan kepada mereka atau tidak memberikan peringatan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya engkau wahai Muhammad, memberikan peringatan kepada orang yang mengikuti Adz Dzikr (mengikuti Al Qur’an), dan dia takut kepada Allah dalam keadaan ghaib, maka berikanlah kabar gembira kepadanya dengan ampunan dan pahala yang melimpah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla.”Ayat-ayat yang disebutkan oleh pengarang di sini adalah surat Yasin ayat ke-7 sampai 11.Menunjukkan tentang bagaimana orang yang berpaling dari Adz Dzikr (Al Qur’an) yang Allah turunkan. Dan bahwasanya mereka ditutupi dari arah depannya, dari arah belakangnya, sehingga mereka tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar.Kemudian Allah mengabarkan bahwasanya sama saja atasmu wahai Muhammad, apabila seseorang sudah ditutupi dari hidayah Allah, sama saja apakah engkau memberikan peringatan kepada mereka, atau tidak memberikan peringatan niscaya mereka tidak akan beriman.Dan Allah mengabarkan bahwasanya Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam hanya memberikan peringatan dan akan bermanfaat peringatan Beliau bagi orang yang mau mengikuti Adz Dzikr (mengikuti Al Qur’an), dan takut kepada Ar Rahman, yaitu Allah Subhānahu wa Ta’āla dalam keadaan ghaib, yaitu dia takut kepada Allah padahal dia tidak pernah melihat Allah, akan tetapi dia takut kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.فَبَشِّرۡهُ بِمَغۡفِرَةٖ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ“(Maka orang yang mau mengikuti Al Qur’an, (mengikuti Adz Dzikr) dan takut kepada Allah padahal Allah adalah ghaib), maka kabarkanlah dia dengan ampunan dan pahala yang besar (dari Allah Subhānahu wa Ta’āla).”Itulah perkara yang ke enam yang ingin disampaikan oleh pengarang di sini. Semoga bisa bermanfaat.Kemudian beliau menutup kitab beliau dengan mengatakan,آخِرُهُ ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ“Terakhir kita mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil’alamīn.”Kemudian beliau mengatakan,وَصلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ، وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْليمًا كَثيرًا إِلى يَوْمِ الدِّينِ“Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla senantiasa memberikan shalawat kepada sayyid kita, Muhammad (pemuka kita, Muhammad) dan kepada keluarganya, dan para sahabatnya, dan semoga Allah memberikan salam dengan salam yang banyak kepada Beliau sampai hari kiamat.”Alhamdulillah.Dengan demikian kita bisa menyelesaikan kitab yang ringkas dan bermanfaat ini yang berisi tentang 6 enam perkara yang pokok yang hendaknya dipahami dan diamalkan oleh seorang muslim.

💬 0 komentar📅 25 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 99

Halaqah 99Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah bin Al-Yaman (Bagian 05) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaPokok Pembahasan​Pembahasan lanjutan hadits Hudzaifah ibnul Yaman tentang petunjuk Nabi ﷺ ketika kondisi kaum muslimin kacau balau, yaitu tidak adanya jamaah kaum muslimin dan tidak adanya imam yang ditaati.​Penjelasan fiqih Hudzaifah ibnul Yaman serta petunjuk Nabi ﷺ untuk mengisolasi diri (i'tizal) dari seluruh firqah/aliran sesat hingga ajal menjemput.Poin Penting & PenjelasanFiqih Pertanyaan Hudzaifah:Hudzaifah menanyakan kondisi terburuk yang belum terjadi, yaitu jika tidak ada jamaah kaum muslimin dan tidak ada imam (pemimpin terbunuh, keadaan hancur-hancuran, manusia seperti hewan ternak tanpa penggembala, dan masing-masing membuat jamaah serta saling berperang).​Berdasarkan hal ini, sebagian ulama berpendapat boleh bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi apabila mendatangkan manfaat. Namun, jika tidak bermanfaat, hal tersebut tidak sepantasnya ditanyakan kepada ulama.​Menjaga pertanyaan (tidak bertanya hal yang belum terjadi atau tidak bermanfaat) merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu (sebagaimana dibahas dalam Khulashah Ta'dzimil 'Ilmi).Petunjuk Nabi ﷺ Ketika Tidak Ada Jamaah dan Imam:​Nabi ﷺ memerintahkan: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا(Tinggalkan seluruh firqah/aliran tersebut)​Perintah ini sekaligus membantah anggapan/ucapan orang yang bingung yang menyatakan bahwa semua aliran adalah benar atau sama saja mengikuti aliran mana pun karena dianggap sama-sama menyampaikan ke surga.​Aliran-aliran/firqah tersebut adalah aliran sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus; jika diikuti, akan menjerumuskan ke dalam jahanam.Perumpamaan Menggigit Akar Pohon:Ucapan Nabi ﷺ: وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ (Meskipun engkau harus menggigit akar pohon)​Ini adalah ibarat/sekadar permisalan tentang kuatnya usaha dan keteguhan seseorang untuk terlepas dari arus fitnah dan aliran-aliran sesat, meskipun harus mengalami kesusahan atau kelaparan demi memegang agamanya.Anjuran Istiqomah:Ucapan Nabi: ﷺ: حَتَّى يُدْرِكَكَ المَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِك (Sampai datang kepadamu kematian dan engkau dalam keadaan demikian).​Menunjukkan perintah untuk terus istiqomah diatas Islam dan tidak mengikuti aliran-aliran yang mengajak kepada selain sunnah dan petunjuk Nabi ﷺ hingga meninggal dunia.Dalil yang Disampaikan (Al-Qur'an & Hadist)Hadits Hudzaifah ibnul Yaman (HR. Bukhari dan Muslim)​قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ المَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ​Konteks Penjelasan: Hudzaifah bertanya bagaimana jika saat itu tidak ada jamaah kaum muslimin dan tidak ada imam. Nabi ﷺ memberi petunjuk untuk meninggalkan seluruh firqah/aliran sesat yang ada, meskipun harus bertahan dengan gigih (diibaratkan menggigit akar pohon) hingga maut menjemput dalam keadaan istiqomah diatas agama.KesimpulanKewajiban untuk menjauhi dan meninggalkan seluruh firqah/aliran yang menyimpang dan tidak bergabung dengan salah satu darinya ketika tidak ada imam dan jamaah kaum muslimin.​Perintah untuk selalu istiqomah berpegang teguh pada Islam dan Sunnah Nabi ﷺ serta bersabar menghadapi cobaan/fitnah hingga akhir hayat.

💬 0 komentar📅 24 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 24

Halaqah yang ke dua puluh empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Buah Beriman dengan Takdir Allah Bagian 2”.9. Membuahkan semangat yang tinggi di dalam melakukan kebaikan yang berkaitan dengan agama seperti ibadah, menuntut ilmu, berdakwah, dll.Orang yang beriman dengan Takdir Allah tidak takut celaan orang yang mencela ketika berdakwah, tidak terlalu hancur hatinya ketika melihat orang yang tidak menerima dakwahnya, dan dia tidak pamer atau bangga diri ketika melihat orang yang mendapatkan hidayah dengan sebab dirinya karena semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla.10. Membuahkan semangat yang tinggi di dalam berbuat kebaikan yang berkaitan dengan dunia seperti bekerja yang halal, melakukan aktivitas yang diperbolehkan dan bermanfaat, dll. Dan dia tidak mudah menyesal dan berputus asa ketika menghadapi musibah yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.11. Membuahkan ridha terhadap hukum-hukum Allah baik yang berupa hukum-hukum syariat, maupun hukum-hukum Kauniyah.12. Membuahkan kebahagiaan dan menghilangkan kesedihan karena dia mengetahui dan yakin bahwa Allah memilih yang terbaik baginya di dalam urusan dunia, agama, dan akhir dari perkaranya.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ[QS Al-Baqarah 216]“Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu dan dia adalah baik bagi kalian. Dan mungkin saja kalian mencintai sesuatu dan dia adalah jelek bagi kalian. Dan Allah, Dia-lah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”13. Membuahkan keistiqomahan di atas jalan yang lurus baik dalam keadaan mendapatkan nikmat atau tertimpa musibah, karena dia akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan akan bersabar ketika dia terkena musibah.14. Tidak putus asa dari pertolongan Allah bagaimanapun besarnya fitnah dan banyaknya ujian, karena dia yakin bahwa akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Dan ini adalah ketentuan Allah yang sudah Allah tentukan.Allah berfirman,هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا[QS Al-Fath 28]“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk menampakkan agama tersebut di atas seluruh agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.”Dan Allah mengatakan,إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ[QS Ghafir 51]“Sesungguhnya Kami akan menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan ketika bangkit para saksi.”15. Menjadikan di dalam diri seorang hamba Qonaah atau merasa cukup dengan pemberian Allah azza wajalla, tidak rakus terhadap dunia dan tidak meminta-minta kepada orang lain. Karena dia meyakini bahwa rezeki sudah tertulis dan tidak mungkin orang lain bisa menyampaikan kepadanya sebuah rezeki kecuali apa yang sudah Allah tulis sebelumnya.

💬 0 komentar📅 24 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 99 | Ahlus Sunnah Tidak Berbicara Tentang Allāh ﷻ Tanpa Dalil dan Tidak Pula Berdebat Dalam Agama

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَلَا نَخُوضُ فِي اللهِdan kita, yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah, tidak melakukan al-khaudh, kurang lebih maknanya berbicara tanpa dalil, tentang diri Allāh ﷻ.Adapun kalau dengan dalil seseorang berbicara tentang diri Allāh dan juga nama serta sifat-sifat-Nya berdasarkan dalil, maka ini tidak dinamakan demikian. Tetapi orang yang berbicara tentang Allāh tanpa dalil, hanya dengan akalnya, kemudian ketika datang nama dan juga sifat Allāh, dia mentakwilnya, lalu memalingkan dari dzāhirnya, serta mendatangkan makna-makna yang tidak diinginkan oleh Allāh ﷻ, maka inilah yang bukan merupakan jalan kita, Ahlussunnah wal Jama’ah.وَلَا نَخُوضُ فِي اللهِ، وَلَا نُمَارِي فِي الدِّينِDan kita tidak berdebat dalam agama.Ini bukan cara kita, bukan cara Ahlussunnah wal Jama’ah. Jalan hidup kita, jalan agama kita adalah, jika itu sudah tetap dari Allāh dan juga Rasul-Nya ﷺ, maka kita سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا, kita beriman, kita amalkan, kita istiqāmah sampai kita meninggal dunia. Kita berdakwah mengajak manusia untuk beriman kepada Allāh dan juga Rasul-Nya ﷺ. Jika seseorang beriman dengan apa yang kita sampaikan, Alhamdulillāh, itu adalah kebaikan untuk dirinya sendiri.وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا(QS. Al-Jatsiyah: 15)Barangsiapa yang beramal shalih, itu adalah untuk dirinya, dan barangsiapa yang berbuat jelek, itu adalah atas dirinya sendiri, yang rugi adalah dirinya sendiri.Dan bukan jalan Ahlussunnah menjadikan perdebatan ini sebagai jalan utama di dalam dakwah. Allāh ﷻ membolehkan kita untuk berdebatوَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ(Al-‘Ankabut ayat 46)ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ(An-Naḥl ayat 125)Itu adalah cara untuk berdebat, tapi cara dakwah dengan cara berdebat ini ada tempatnya, memang itu disyariatkan, satu cara dalam berdakwah tetapi ada syarat-syarat yang harus kita perhatikan supaya perdebatan tersebut menjadi perdebatan yang menghasilkan dan membuahkan, bukan memudharati.Di antaranya, orang yang mau berdebat haruslah orang yang memiliki ilmu. Jangan setengah-setengah ilmunya atau bahkan dangkal ilmunya.Yang kedua, harus cepat dalam mendatangkan dalil, karena perdebatan membutuhkan kecepatan. Ini bukan waktu yang memungkinkan mereka untuk bersantai mencari jawaban. Perdebatan membutuhkan kecepatan dalam memberikan jawaban, dan tidak semua orang yang berilmu diberi kemampuan demikian. Kita mengakui keilmuan seseorang, tapi kita juga menyadari bahwasanya beliau bukan orang yang cepat untuk bisa membantah. Beliau mungkin bisa membantah sehari dua hari, bisa mencari dan memikirkan bantahannya, bisa, tapi yang namanya perdebatan ini membutuhkan kecepatan.Kemudian juga di antara syaratnya adalah seseorang bisa menjaga emosinya, karena namanya berdebat, apalagi dengan ahlul bid’ah, mereka menghalalkan apa saja, bagaimana supaya konsentrasi lawan ini pecah dengan diejek, dengan direndahkan, dan seterusnya. Kalau kita tidak bisa menjaga emosi kita, maka kita akan kalah sebelum kita berdebat. Kita sudah marah duluan sebelum kita mendatangkan dalil, dan ini tidak ada manfaatnya. Karena dia tidak berakal lagi kalau orang sudah marah, tidak berakal lagi, dia tidak bisa mendatangkan dalil pada tempatnya, apa saja diomongkan kalau orang sudah marah. Tentunya di sini tidak ada maslahat yang diharapkan kalau sudah terjadi yang demikian.Kemudian di antara syarat orang yang diajak berdebat atau orang yang menjadi lawan bicara ini adalah orang yang memang menginginkan kebenaran, menginginkan kebaikan. Dan kalau kita melihat para ulama dahulu, jarang sekali mereka berdebat. Tidaklah mereka berdebat kecuali dalam keadaan yang sangat-sangat mepet. Bukan cara para ulama kita, mereka banyak berdebat.Yang sering berdebat itu justru adalah orang-orang ahlul kalam, Mu’tazilah. Debat dengan Asyā’irah itu biasa. Sering mereka mengadakan majelis-majelis perdebatan, itu memang majelis-majelis orang-orang yang ragu tentang akidahnya. Adapun kita, Ahlussunnah, apa yang kita ragukan di dalam akidah kita? Kita bukan orang yang, kalau berdebat dengan orang lain, kemudian mereka kelihatan lebih menampakkan dalilnya, kemudian kita mengikuti mereka. Tidak demikian.Kita adalah orang yang yakin terhadap akidah kita. Seandainya mereka tampak lebih kuat dalilnya, itu bukan karena kita salah dalam beraqidah, kita saja yang lemah dalam keilmuan. Para ulama mereka tahu itu adalah syubhat yang sangat lemah, itu adalah syubhat yang batil. Mereka bisa menyampaikan dan menjelaskan bahwa syubhat itu adalah syubhat yang batil, bukan karena itu adalah dalil yang kuat, tidak, itu karena lemahnya kita dalam keilmuan. Tapi kita harus yakin bahwasanya apa yang kita yakini sekarang itu adalah tidak ada keraguan di dalamnya.Karena itu hati-hati dalam mendengar ucapan-ucapan dan juga muhāḍarah ahlul bid’ah. Jangan sekali-kali kita mengatakan, “Aku sudah belajar akidah, sudah mulāzamah, sudah kuat, tidak akan terpengaruh,” dan seterusnya. Kita lemah, hati kita lemah. Dan namanya syubhat ini meskipun dia batil, tapi dia menyambar-nyambar, menyambar hati manusia. Kita sibukkan diri kita dengan yang haq, Al-Qur’an dan sunnah, dengan pemahaman salaf.Seandainya kita gunakan umur kita untuk itu, tidak akan habis, bahkan umur kita kurang untuk mempelajari al-haq. Kenapa kita menyibukkan diri untuk mendengar muhāḍarah-muhāḍarah ahlul bid’ah, kecuali kalau memang kita adalah orang yang diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ ilmu yang kuat dan ingin mendakwahi, menerangkan tentang kebatilan mereka, maka ini perkaranya lain. Sehingga para ulama kita ada di antara mereka yang membantah Jahmiyah, ada yang melakukan bantahan terhadap Asyā’irah, melakukan bantahan terhadap orang-orang Nasrani, dan mereka melihat buku-buku mereka, karena memang mereka terpenuhi syarat untuk itu, dan ada orangnya untuk melakukan bantahan tersebut. Namun ini tidak untuk semua orang.Sehingga kita kembali kepada ucapan beliau,وَلَا نُمَارِي فِي الدِّينِkita tidak berdebat di dalam agama.Rumus kita dalam beragama adalah Al-Iman wal-Istislām,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍۢ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allāh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (QS. Al-Aḥzāb, 33:36)

💬 0 komentar📅 24 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke dua puluh empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke dua puluh empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian mereka mengatakan,وَمَنْ طَلَبَ الْـهُدَى مِنْهُما؛ فَهُوَ: إِمَّا زِنْدِيقٌ، وَإِمَّا مَجْنونٌ -لأَجْلِ صُعوبَةِ فَهْمِهِما“Dan barangsiapa yang berusaha untuk mencari petunjuk dari Al Qur’an dan juga hadits, maka kata mereka dia adalah seorang yang zindiq (pendusta) atau dia adalah seorang yang gila (karena susahnya).”Kenapa demikian?Mereka mengatakan karena susahnya memahami Al Qur’an dan juga hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ini adalah ucapan sebagian manusia yang ingin memalingkan kaum muslimin dari Al Qur’an dan juga Sunnah.Kemudian beliau (muallif) mengatakan,فَسُبْحانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ! كَمْ بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ -شَرْعًا وَقَدَرًا، خَلْقًا وَأَمْرًا- في رَدِّ هَذِهِ الشُّبْهَةِ الـمَلْعُونَةِ مِنْ وُجوهٍ شَتَّى بَلَغَتْ إِلى حَدِّ الضَّرُورِيَّاتِ الْعَامَّةِ، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ“Maka Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Betapa banyak dan betapa sering Allah Subhānahu wa Ta’āla menjelaskan baik secara syari’at di dalam Al Qur’an maupun hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, atau secara takdir, khalqan dan amran (maknanya hampir sama), betapa banyak Allah menjelaskan dan membantah kerancuan yang mal’unah, yang terlaknat ini, dengan berbagai cara dengan berbagai ushlub dengan berbagai metode sehingga metode-metode tersebut sampai pada batas yang dhoruri, akan tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahui.”Jadi muallif (pengarang) di sini ingin menjelaskan kepada kita bahwasanya Allah telah menjelaskan di dalam Al Qur’an hal yang membantah kerancuan tadi.Mereka mengatakan bahwasanya Al Qur’an dan Sunnah tidak dipahami kecuali oleh seorang yang mujtahid mutlaq, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak menerangkan demikian.Allah berfirman di dalam Al Qur’an,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍۢ“Dan sungguh Kami telah mudahkan Al Qur’an untuk dzikir (untuk mengingat Allah Subhānahu wa Ta’āla), apakah ada orang yang mau mengingat?”(QS. Al Qamar: 17, 22, 32, 40)Allah mengatakan di sini, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا (dan sungguh kami telah mudahkan), Allah telah turunkan Al Qur’an dan Allah telah mudahkan kalimat-kalimatnya, makna-maknanya, supaya kita bisa berdzikir dengan Al Qur’an tersebut (mengingat Allah dengan Al Qur’an tersebut).Berbeda dengan ucapan mereka yang mengatakan bahwasanya sangat sulit dan susah untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah.Allah mengatakan وَلَقَدْ يَسَّرْنَا dan mereka mengatakan susah untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah.Demikian pula Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ“Apakah mereka tidak mentadaburi Al Qur’an ataukah di dalam hati-hati ada kunci-kuncinya?”(QS. Muhammad: 24)Ini adalah anjuran dan dorongan dari Allah Subhānahu wa Ta’āla, supaya kita mau mentadaburi apa yang datang dari Allah berupa Al Qur’an.Dan seseorang tidak mungkin bisa mentadaburi kecuali apabila dia memahami apa yang ada di dalam Al Qur’an tersebut.Seandainya Al Qur’an tidak bisa dipahami kecuali oleh seseorang yang mujtahid yang mutlaq, niscaya Allah tidak akan mendorong kita untuk mentadaburi Al Qur’an. Tapi ternyata Allah menyuruh kita, mendorong kita, mengajak kita, untuk mentadaburi Al Qur’an.Menunjukkan bahwasanya Al Qur’an bisa dipahami oleh seorang yang awam, seorang tholabul ilmi (penuntut ilmu), demikian pula oleh para ulama.Di dalam ayat yang lain Allah mengatakan,كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ“Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu (Wahai Muhammad), yang penuh dengan barokah (yang pertama) adalah supaya manusia mau mentadaburi ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang memiliki akal mau berdzikir dengan Al Qur’an tersebut (mengingat Allah dengan Al Qur’an tersebut).”(QS. Shad: 29)Allah turunkan Al Qur’an kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya kita mau mentadaburi, bukan hanya sekedar dibaca tetapi tidak dipahami maknanya.Membaca Al Qur’an adalah amal shalih dan seseorang mendapat pahala dari membaca Al Qur’an sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Satu huruf yang kita baca, kita mendapatkan 10 kebaikan.Namun tidak cukup dengan hanya membaca dengan baik, dengan tahsin dengan tajwid, kemudian seseorang meninggalkan memahami Al Qur’an. Karena justru tujuan utama diturunkannya Al Qur’an adalah supaya kita memahami Al Qur’an tersebut kemudian setelah itu kita amalkan Al Qur’an tersebut.Perintah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla supaya kita mentadaburi Al Qur’an, menunjukkan bahwasanya Al Qur’an adalah kitabullah yang bisa dipahami oleh semua kaum muslimin, baik yang awam, yang menuntut ilmu, maupun seorang ulama.Tentunya dalam hal ini pemahaman antara seorang ulama dengan seorang penuntut ilmu, dengan seorang yang awam, ini berbeda-beda.Satu ayat dibaca oleh seorang ulama dan dibaca oleh seorang penuntut ilmu, dibaca oleh seorang yang awam, tentunya pemahaman masing-masing berbeda-beda sesuai dengan apa yang Allah berikan kepada mereka.Allah Subhānahu wa Ta’āla telah memudahkan Al Qur’an untuk dipahami dan Allah memerintahkan untuk mentadaburinya.Demikian pula firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّۭا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Kami telah menurunkan Al Qur’an dengan berbahasa Arab yang jelas, supaya kalian memahami apa yang ada di dalamnya.”(QS. Yusuf: 2)Ta’qilun (تَعْقِلُونَ) artinya supaya kita mengakali, memahami, mentadaburi.Inilah yang disampaikan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla bahwasanya Al Qur’an mudah untuk dipahami.Berbeda dengan yang diucapkan oleh sebagian manusia yang mereka mengatakan bahwasanya Al Qur’an dan Sunnah hanya dimengerti dan dipahami oleh seorang yang mujtahid mutlaq, yang memiliki sifat-sifat tertentu sebagaimana dikatakan oleh Syaikh di sini, yang mungkin tidak dimiliki oleh seseorang seperti Abu Bakar dan juga Umar radhiyallāhu ‘anhuma.Seorang tabi’in yang bernama Abu Abdirrahman As Sullami beliau mengatakan,حَدَّثَنَا الَّذِينَ يُقْرِئُونَنَا مِن أَصحَابِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَعَبدِ اللهِ ابنِ مَسْعُودٍ وَعُثْمَانُ بْنُ عفان وَغَيْرُهُمَا : أَنَّهُمْ إذَا تَعَلَّمُوا مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزُوهَا حَتَّى يَتَعَلَّمُوا مَا فِيهَا مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ“Telah mengabarkan kepada kami orang-orang yang mengajarkan kepada kami Al Qur’an dari kalangan sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti Abdullah bin Mas’ud, Ustman bin Affan, dan selain keduanya, bahwasanya mereka dahulu apabila mempelajari 10 ayat dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka mereka tidak akan berpindah dari 10 ayat tersebut, sampai mempelajari apa yang ada di dalam 10 ayat tersebut baik ilmunya maupun amalnya.”Artinya mereka berusaha untuk memahami 10 ayat yang mereka dapat dari Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan berusaha untuk mengamalkan 10 ayat tersebut.Tidak berpindah kepada ayat yang lain kecuali setelah mereka memahami dan kecuali setelah mereka mengamalkan 10 ayat tersebut.Oleh karena itu apabila ada diantara sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menghapal sebuah surat, maka ketahuilah bahwasanya dia memahami ayat tersebut, memahami surat tersebut dan juga mengamalkan apa yang ada di dalamnya.Apabila ada seorang sahabat Nabi yang menghapal surat Al Baqarah atau menghapal surat Ali Imran, maka berarti dia telah memahami isinya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya.Oleh karena itu orang yang menghapal surat Al Baqarah dan Ali Imran diantara kalangan sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, itu menjadi orang yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi para sahabat radhiyallāhu ‘anhum.Karena mereka menghapal, bukan hanya menghapal. Mereka menghapal Al Qur’an, memahami isinya, dan juga mengamalkan apa yang ada di dalamnya.

💬 0 komentar📅 24 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 24: Buah Beriman dengan Takdir Allah (Bagian 2)

Halaqah 24: Buah Beriman dengan Takdir Allah (Bagian 2)🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. حفظه الله تعالى​Buah Beriman dengan Takdir Allah (Bagian 2)​9. Membuahkan Semangat Tinggi dalam Kebaikan AgamaMembuat seseorang bersemangat dalam melakukan amal kebaikan yang berkaitan dengan agama seperti ibadah, menuntut ilmu, dan berdakwah. Orang yang beriman dengan takdir Allah:​Tidak takut celaan orang ketika berdakwah.​Tidak terpuruk/hancur hatinya saat dakwahnya belum diterima.​Tidak pamer atau ujub ketika ada orang yang mendapat hidayah sebab dirinya, karena meyakini semua adalah takdir Allah ﷻ.​10. Membuahkan Semangat Tinggi dalam Kebaikan DuniaMendorong semangat berbuat kebaikan yang berkaitan dengan urusan dunia, seperti bekerja halal dan aktivitas bermanfaat lainnya. Ia tidak mudah menyesal atau berputus asa saat menghadapi cobaan/kemalangan dalam pekerjaannya.​11. Membuahkan Ridha terhadap Hukum AllahMenumbuhkan rasa ridha dan lapang dada terhadap seluruh hukum Allah ﷻ, baik hukum syariat maupun hukum kauniyah.​12. Membuahkan Kebahagiaan & Menghilangkan KesedihanMenghadirkan ketenangan jiwa karena yakin Allah ﷻ selalu memilihkan yang terbaik baginya dalam urusan dunia, agama, dan akhir perkaranya.​Allah ﷻ berfirman:​وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ"Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan mungkin saja kalian menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."(QS. Al-Baqarah: 216)​13. Membuahkan KeistiqamahanMenjaga hamba tetap istiqamah di atas jalan yang lurus dalam kondisi apa pun:​Bersyukur saat mendapat nikmat.​Bersabar saat tertimpa musibah.​14. Tidak Putus Asa dari Pertolongan AllahTidak akan berputus asa sebesar apa pun fitnah dan ujian yang dihadapi, karena yakin akhir yang baik (husnul khatimah) milik orang-orang yang bertakwa.​Allah ﷻ berfirman:​هُوَ الَّذِي أ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi."(QS. Al-Fath: 28)​Serta firman-Nya:​إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ"Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari timbulnya para saksi."(QS. Ghafir: 51)​15. Menumbuhkan Sifat Qana'ahMenjadikan hamba merasa cukup (qana'ah) dengan pemberian Allah ﷻ, tidak rakus terhadap dunia, dan tidak meminta-minta kepada manusia. Ia yakin rezeki sudah tertulis dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat menyampaikan rezeki kepadanya kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ.​@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 24 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 24 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 12) Dalīl Menyembelih (الذبح)

Adz-Dzabh (Menyembelih) sebagai Ibadah:🌿 Tema: Mengenal Allah Subhānahu wa Ta‘ālāDalil bahwa menyembelih adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah📖 Dalil dari Al-Qur’anSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullāh membawakan firman Allah:قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”(QS. Al-An‘ām: 162–163)Pada ayat ini, kata وَنُسُكِي (nusukī) bermakna sembelihanku.Ayat ini mengandung ikrar seorang muslim bahwa seluruh amal ibadahnya, baik shalat, doa, sembelihan, kehidupan maupun kematiannya, semuanya dipersembahkan hanya untuk Allah semata tanpa sekutu.🔹 Menyembelih Termasuk IbadahKarena menyembelih merupakan ibadah, maka:Tidak boleh ditujukan kepada selain Allah.Tidak boleh dilakukan dengan niat mengagungkan makhluk.Tidak boleh dilakukan untuk mencari keberkahan, perlindungan, manfaat, atau menolak mudarat dari selain Allah.⚠️ Bentuk Penyimpangan dalam MenyembelihDi antara bentuk kesyirikan yang disebutkan adalah:Menyembelih untuk jin.Menyembelih untuk penunggu tempat.Menyembelih untuk makhluk yang disebut dengan berbagai nama seperti Nyi Fulan, Kyai Fulan, bahurekso, dan sejenisnya yang hakikatnya adalah jin.Menyembelih dengan tujuan mengagungkan makhluk dan merendahkan diri di hadapannya.Perbuatan tersebut termasuk syirik, karena ibadah telah dipalingkan kepada selain Allah.🚨 Hukumnya: Syirik BesarMenyembelih untuk selain Allah bukan termasuk syirik kecil, tetapi:Syirik Akbar (syirik besar).Mengeluarkan pelakunya dari Islam.Membatalkan seluruh amal kebaikannya.Jika meninggal tanpa bertaubat, tidak akan diampuni oleh Allah.Dalilnya:إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya.”(QS. An-Nisā’: 48)📝 Pelajaran PentingSeorang muslim wajib berhati-hati dalam urusan penyembelihan dan tidak boleh mengikuti perintah siapa pun yang mengarah kepada penyembelihan untuk selain Allah, karena perkara ini termasuk masalah tauhid yang sangat agung.📖 Dalil dari SunnahRasulullah ﷺ bersabda:لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”(HR. Muslim no. 1978)🔹 Makna Laknat AllahLaknat Allah berarti:Dijauhkan dari rahmat Allah.Dijauhkan dari kasih sayang Allah.Kehilangan pertolongan dan taufik dari Allah.Hal ini menunjukkan bahwa dosa menyembelih untuk selain Allah adalah dosa yang sangat besar.📖 Dalil PendukungAllah berfirman:وَمَن يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا“Barang siapa yang dilaknat Allah, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong pun baginya.”(QS. An-Nisā’: 52)Orang yang dijauhkan dari rahmat Allah tidak akan mendapatkan penolong yang dapat menyelamatkannya.🌱 Kesimpulan HalaqahMenyembelih adalah ibadah yang agung.Ibadah penyembelihan hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.Dalilnya terdapat dalam QS. Al-An‘ām 162–163 dan hadits riwayat Muslim.Menyembelih untuk selain Allah termasuk syirik besar.Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan membatalkan amal.Orang yang meninggal dalam keadaan syirik besar tanpa taubat tidak akan diampuni Allah.Pelaku penyembelihan untuk selain Allah mendapatkan laknat Allah.Laknat berarti dijauhkan dari rahmat dan pertolongan Allah.Tidak boleh menyembelih untuk jin, penunggu tempat, kuburan, atau makhluk apa pun dengan tujuan pengagungan, mencari manfaat, atau menolak mudarat.Seorang muslim wajib menjaga kemurnian tauhid dan mengikhlaskan seluruh ibadahnya, termasuk penyembelihan, hanya untuk Allah Rabbul ‘Ālamīn.

💬 0 komentar📅 24 Sep 2026Baca selengkapnya →