🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 109 | Ahlus Sunnah Beriman Dengan Seluruh Isi Al-Qur’an Bag 2

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-109 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Ahlussunnah beriman dengan seluruh apa yang ada di dalam Al-Qur’ān dan beriman dengan seluruh apa yang shahih dari Nabi ﷺ. Ada sebagian orang mengakui sunnah Nabi ﷺ, akan tetapi dia membedakan mana yang mutawātir, mana yang āḥād. Kalau yang mutawātir itu yang diterima, tapi kalau āḥād yang tidak sampai derajat mutawātir, maka tidak diterima di dalam masalah aqidah.Padahal, kalau diteliti menggunakan ilmu muṣṭhalaḥ, diketahui bahwasanya hadits tersebut adalah hadits yang shahih dengan syarat-syaratnya, tapi ditolak oleh orang tersebut karena dikatakan ini bukan mutawātir. Jadi, masalah aqidah harus mutawātir, sehingga banyak hadits-hadits yang mereka tolak padahal itu adalah shahih dari Nabi ﷺ.Ini bukan cara Ahlussunnah, tapi ini adalah cara Ahlul Bid’ah. Kalau Ahlussunnah, prinsipnya adalah bahwa hadits yang shahih maka harus kita yakini kebenarannya. Allāh ﷻ berfirman:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا“Apa yang diberikan oleh Rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan apa yang beliau larang, maka tinggalkanlah.”(QS. Al-Ḥashr: 7)Tidak dibedakan mana yang mutawātir, mana yang āḥād. Kalau kita lihat, di sana ada hadits-hadits Nabi ﷺ yang menunjukkan wajibnya kita mengambil khabar āḥād, meskipun hanya dari satu orang, kalau memang itu adalah terpercaya dan shahih, kita harus menerimanya.Contohnya ketika terjadi pemindahan kiblat dari Masjidil Aqṣā atau Baitul Maqdis ke Baitullāh, Nabi ﷺ mengirim utusan karena turun ayat ketika beliau berada di Masjid Nabawi. Setelah itu, beliau mengutus utusan ke beberapa daerah di luar Madinah. Ada yang dikirim ke Quba, ada yang dikirim ke Bani Salimah (yang sekarang dikenal dengan Masjid Qiblatain). Utusan itu hanya satu orang. Padahal, ini berkaitan dengan masalah pemindahan kiblat, tentang masalah shalat dan kiblah ini adalah syarat sahnya shalat.Diutus utusan ke Quba dan pada saat itu dia baru sampai di desa atau masjid Quba pada saat shalat Subuh hari berikutnya, mendapatkan manusia masih shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis. Akhirnya, laki-laki ini pun mengabarkan bahwa kiblat sudah dipindah ke Masjidil Haram.Bagaimana amalan para sahabat? Apakah mereka berkata, “Ini yang mengabarkan mutawātir atau āḥād?” Tidak. Satu orang saja yang mengabarkan, mereka langsung mengubah arah kiblat mereka. Makmum langsung membalikkan badannya 180 derajat, sedangkan imam memotong shaf sehingga sampai ke bagian depan makmum di arah kiblat. Kalau di Madinah berarti ke arah selatan. Mereka tidak bertanya-tanya dulu, apakah ini yang mengabarkan dua atau tiga orang, atau hanya satu orang. Satu orang saja, karena itu adalah seorang sahabat Nabi ﷺ, maka mereka membenarkan.Dan ini banyak. Contoh lain, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Abdullah bin Umar melihat hilal. Saat itu, manusia berusaha melihat hilal (yatara’auna), ternyata Abdullah bin Umar melihat hilal tersebut. Kemudian beliau pun mengabarkan kepada Nabi ﷺ bahwa beliau melihat hilal dan Nabi ﷺ memerintahkan manusia untuk berpuasa dengan sebab kabar dari seorang sahabat yang mengabarkan bahwa dia melihat hilal, yaitu hilal masuknya bulan Ramadhan.Ini juga menjadi dalil bahwa khabar āḥād adalah khabar yang diterima. Contoh lain adalah ketika Abdullah bin Umar melihat Nabi ﷺ bersama Usāmah bin Zaid, Bilāl bin Rabāḥ, dan Utsmān bin Ṭalḥah saat dibukanya kota Makkah pada tahun 8 Hijriah. Nabi ﷺ bersama tiga orang tersebut masuk ke dalam Baitullāh. Setelah masuk, pintu Ka’bah ditutup, dan Nabi ﷺ melakukan shalat di antara dua tiang yang ada di dalam Ka’bah.Setelah itu, pintu Ka’bah dibuka kembali, dan para sahabat ternyata di luar sudah menunggu. Mereka berlomba untuk masuk ke dalam Ka’bah, dan yang pertama kali masuk setelah Nabi ﷺ keluar adalah Abdullah bin Umar. Karena saat itu beliau masih muda dan kuat, beliau berpapasan dengan Bilāl dan bertanya, “Apakah Nabi ﷺ melakukan shalat di dalam Ka’bah?” Bilāl menjawab, “Iya, beliau shalat di antara dua tiang ini.”Abdullah bin Umar, sebagaimana kita ketahui, adalah seorang yang sangat semangat untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Maka inilah yang menjadikan beliau bertanya kepada Bilāl.Abdullah bin Umar hanya mencukupkan diri dengan kabar yang dikabarkan oleh Bilāl. Para ulama menjelaskan bahwa ini juga menjadi dalil tentang diterimanya khabar āḥād. Dan ini hanya sedikit di antara dalil-dalil yang menunjukkan diterimanya khabar āḥād. Dalil-dalil lainnya masih banyak.Ibnu Qayyim raḥimahullāh di dalam kitab Mukhtaṣar aṣ-Ṣawā’iq al-Mursalah menyebutkan banyak dalil tentang diterimanya khabar āḥād

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sembilan “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke sembilan “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau rahimahullah mengatakan,الْقَاعِدَةُ الأُولَى:أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمْ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -مُقِرُّونَ أَنَّ اللهَ هُوَ الْخَالِقُ، الرَازِقُ، المُحيِ المُميتُ، الْمُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الأُمُورKaidah yang pertama adalah engkau mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, mereka menyatakan, meyakini, mengakui, bahwasanya Allah, Dia-lah Al Khaliq (Yang Maha Pencipta), Ar Raziq (Yang Maha Memberikan Rezeki), Al Muhyi Al Mumit (Yang Menghidupkan dan Mematikan), dan bahwasanya Allah Subhānahu wa Ta’āla, Dia-lah yang mengatur seluruh perkara ini.Ini adalah kaidah yang pertama, yang ingin beliau sampaikan kepada kita semua.Hendaknya kita mengetahui sebagai sesama muslim, bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat (yaitu orang-orang musyrikin di zaman Beliau, diantaranya adalah orang-orang Quraisy kaum Beliau sendiri) mereka mengakui, meyakini bahwa Allah, Dia-lah yang menciptakan.Dan bahwasanya Allah Subhānahu wa Ta’āla, Dia-lah Yang Memberi Rezeki. Mereka meyakini Yang Menghidupkan dan juga Mematikan adalah Allah Subhānahu wa Ta’āla. Mereka juga meyakini bahwa yang mengatur seluruh perkara ini, mengatur alam semesta ini, tidak ada selain Allah Subhānahu wa Ta’āla.Kemudian beliau mengatakan,وَلم يُدْخِلُهُمْ ذَلِكَ فِي الإِسْلامِAkan tetapi keyakinan dan akidah orang-orang musyrikin Quraisy (yang meyakini hal tersebut di atas), tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam.Seandainya keyakinan ini memasukkan mereka ke dalam agama Islam, seperti yang diinginkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, tentunya tidak akan diperangi oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabat.Dan ini pengetahuan yang tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita. Mereka mendengar dari gurunya, juga dari orang tuanya, bahwasanya orang-orang Quraisy, mereka adalah orang-orang yang menyembah berhala, menyembah ini itu, seakan-akan mereka tidak mengenal siapa Allah Subhānahu wa Ta’āla.Oleh karena itu di sini beliau ingin memberikan nasihat (pengetahuan) kepada kita yang mungkin tidak kita ketahui.Ketahuilah bahwasanya orang-orang musyrikin, ternyata mereka juga mengakui bahwasanya Allah yang Menciptakan, Memberikan Rezeki, dan Mengatur Alam Semesta. Namun yang demikian tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Berarti harus ada sesuatu yang memasukkan mereka ke dalam Islam tersebut seperti yang diinginkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam

💬 0 komentar📅 29 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI - Halaqah 108 Dalil Keempat (Riwayat Sa'ad bin Abi Waqqash & Tirmidzi)

Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Keempat (Riwayat Sa'ad bin Abi Waqqash & Tirmidzi) (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMakna thuba yauma'idzin (keberuntungan/kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat), serta sifat al-ghuraba' yang aktif memperbaiki sunnah yang telah dirusak oleh manusia (yushlihuna ma afsadan nas min sunnati).Dalil yang Disampaikan (Al-Qur'an & Hadist)Hadis Riwayat Ahmad dari Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu:​إِنَّ الْإِيمَانَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى يَوْمَئِذٍ لِلْغُرَبَاءِ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ​Konteks Penjelasan: Menunjukkan janji thuba di dunia (kehidupan yang baik) dan di akhirat bagi orang-orang asing yang istiqamah saat manusia berada dalam kerusakan.Surat An-Nahl Ayat 97:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚTerjemahan: "Barang siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka zeker akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik..."​Konteks Penjelasan: Dasar dalil bahwa orang yang berpegang teguh pada Islam akan dianugerahi kehidupan yang baik (hayatan thayyibah / thuba di dunia).Hadis Riwayat At-Tirmidzi (Katsir bin Abdullah dari Ayah dari Kakeknya):فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِيKonteks Penjelasan: Menjelaskan sifat al-ghuraba' yang berdakwah dan memperbaiki sunnah Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam yang dirusak/ditinggalkan manusia.Riwayat Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu:إِنَّ الْإِيمَانَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى يَوْمَئِذٍ لِلْغُرَبَاءِ إِذَا فَسَدَ النَّاسُTa'liq sanad: Disebutkan redaksi عَنِ ابْنٍ لِسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ (dari seorang anak Sa'ad bin Abi Waqqash tanpa menyebut nama). Menurut Syuaib Al-Arnauth, isnad hadits ini jayyid, dan kemusykilan tidak disebutkannya nama anak tersebut tidak memudaratkan karena seluruh anak Sa'ad bin Abi Waqqash yang meriwayatkan darinya adalah para tabi'in yang tsiqah. Dalam riwayat Ibnu Mandah, disebutkan namanya yaitu 'Amir bin Sa'ad (perawi Bukhari dan Muslim).Faedah Ziyadah فَطُوبَى يَوْمَئِذٍ:Menunjukkan bahwa al-ghuraba' tidak hanya mendapatkan thuba (surga/pahala) di akhirat kelak, tetapi juga mendapatkan thuba di dunia, yaitu kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) karena berpegang teguh pada syariat Islam yang penuh maslahat, ketenangan, dan kebahagiaan hidup.​Orang awam mungkin memandang hidup seorang sunni/salafi itu ribet atau menyusahkan, padahal Allah Subḥānahu wataʿālā memberikan ketenangan dan kehidupan terbaik bagi yang mengamalkan Islam secara kaffah.Riwayat At-Tirmidzi (Sifat Al-Ghuraba'):Dari jalur Katsir bin Abdullah (dari ayah dari kakeknya), Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam bersabda tentang kembalinya Islam secara asing dan ditutup dengan: فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي​Meskipun Imam At-Tirmidzi menghukumi hasan shahih, Syaikh Al-Albani mendhaifkan sanad hadis ini (dhaif jiddan). Namun, maknanya dikuatkan oleh riwayat-riwayat lain.​Sifat Tambahan Al-Ghuraba': Mereka bukan hanya sholeh untuk diri mereka sendiri (ibadah pribadi), melainkan juga aktif berdakwah dan memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia, yaitu menghidupkan kembali sunnah-sunnah Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam yang telah dicemari atau diganti dengan bid'ah.​Inilah karakter Ahlus Sunnah wal Jama'ah / Salafiyyun yang tidak tinggal diam, melainkan berusaha menyampaikan hidayah kepada orang-orang terdekat (keluarga, teman, lingkungan sekitar) di tengah zaman kerusakan agama.Kesimpulan Istiqamah di atas Islam murni mendatangkan kebahagiaan ganda: thuba berupa ketenangan jiwa dan kehidupan yang baik di dunia, serta balasan surga di akhirat.​Ciri khas al-ghuraba' sejati bukan sekadar menyelamatkan diri sendiri dari penyimpangan, tetapi juga peduli untuk mendakwahkan dan menghidupkan Sunnah Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam serta meluruskan bid'ah di tengah masyarakat yang rusak agamanya.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI28 Oktober 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

SIPKKTI Halaqah 8

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Masuk kita pada simpul yang keenam di antara 20 simpul yang disebutkan oleh Syaikh di dalam kitab ini yang dengan 20 simpul ini 20 prinsip ini maka InsyaAllah kita akan bisa mengagungkan ilmu agama, yang kalau kita bisa mengagungkan ilmu maka ini adalah sebab untuk mendapatkan ilmu itu sendiri, barang siapa yang mengagungkan ilmu maka dia akan dimuliakan oleh ilmu, barang siapa yang menghormati ilmu maka ilmu akan mengangkat dia, namun barang siapa yang tidak menghormati ilmu tidak mengagungkan ilmu maka ilmu pun tidak akan mengangkat dia.Beliau mengatakan hafidzahullahu ta’alaالمعقد السادسSimpul yang ke enam diantara simpul-simpul yang dengannya kita mewujudkan pengagungan terhadap ilmuرعاية فنونه في الأخذ ، وتقديم الأهم فالمهمHendaklah kita menjaga seluruh cabang-cabang ilmu di dalam mencarinya, karena ilmu ini bercabang-cabang ada ilmu aqidah ada fiqih ada ushul fiqh ada nahwu ada sharf ada tafsir maka kita di antara bentuk ta’dzhim kita terhadap ilmu adalah kita menjaga cabang-cabang tersebut, yaitu kita berusaha untuk mengambil dan mempelajari masing-masing dari cabang-cabang ilmu tadi.Ini termasuk penganggungan kita terhadap ilmu bukan hanya sekedar mempelajari satu cabang ilmu saja, belajar Nahwu saja atau mempelajari Tafsir saja tidak mempelajari fiqih tidak mempelajari hadits ini bukan termasuk pengagungan terhadap ilmu kalau kita hanya mempelajari satu cabang saja, bentuk pengagungan kita terhadap ilmu adalah kita memelihara dan menjaga cabang-cabang ilmu tersebut. Kemudianوتقديم الأهم فالمهمdan kita mendahulukan yang paling penting di antara ilmu-ilmu tersebut kemudian setelah itu yang di bawahnya, yang paling penting kemudian yang setelahnya dan setelahnya. Ini juga termasuk bentuk penganggungan kita terhadap ilmu kita mendahulukan yang paling penting di antara ilmu-ilmu tersebut, semuanya penting dan semuanya adalah ilmu agama cuma pengagungan kita terhadap ilmu di antara wujudnya adalah dengan mendahulukan yang paling penting di antara ilmu-ilmu tersebut.Kalau kita mendahulukan yang biasa saja atau yang tidak lebih penting kemudian mengakhirkan yang paling penting maka ini bukan termasuk pengagungan terhadap ilmu, kita mengakhirkan sesuatu yang paling penting di antara ilmu tersebut.قال ابن الجوزيِّBerkata Ibnul Jauziy rahimahullahفي صيد خاطرهdi dalam kitab beliau Shaidul Khathirجمع العلوم ممدوحmengumpulkan ilmu-ilmu itu adalah sesuatu yang terpuji.Mengumpulkan ilmu artinya bukan hanya mempelajari satu ilmu saja tapi mempelajari berbagai cabang ilmu agama, Antum belajar Al-Qur’an belajar hadits belajar tajwid belajar fiqh belajar ushul fiqh itu adalah sesuatu yang terpuji itu bukan sesuatu yang tercela dan itu adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama, karena ilmu-ilmu tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain saling melengkapi satu dengan yang lain.Kemudian beliau mendatangkan sebuah bait syairمن كلِّ فنٍّ خُذْ ولا تجهل بهِHendaklah engkau mengambil dari setiap cabang ilmu (belajar dari setiap cabang ilmu) dan janganlah engkau jahil terhadap cabang ilmu tersebut, maksudnya jangan sampai sama sekali tidak pernah mempelajari cabang ilmu tadiفالحرُّ مطَّلِعٌ علىٰ الأسرارِmaka orang yang bebas (orang yang merdeka) itu adalah orang yang berusaha untuk mengetahui rahasia-rahasia.Harusnya kita punya rasa penasaran, Ana ingin tahu ilmu ushul fiqh itu bagaimana Ana ingin tahu tentang fiqh itu bagaimana, karena kita orang merdeka kita bukan orang yang dipenjara sehingga tidak boleh Antum mempelajari ini mempelajari itu, kita ini orang yang merdeka.Buku tersebar dan asatidzah yang mengajar juga banyak dan Antum punya waktu antum adalah orang yang merdeka orang yang punya kebebasan untuk membaca kitab-kitab tersebut, maka ini dorongan untuk kita jangan hanya mencukupkan diri dengan satu cabang ilmu tapi kita juga mempelajari cabang-cabang ilmu yang lain, tapi dengan syarat tadi kita mendahulukan yang paling penting kemudian setelahnya dan setelahnya karena ilmu agama ini luas dan cabang ilmu banyak.ويقول شيخ شيوخنا محمَّدٌ ابن مانعٍ في إرشاد الطُّلَّبBerkata guru dari guru-guru kami Muhammad Ibnu Māni’ rahimahullāh di dalam Kitab beliau Irsyaduth Thullabولا ينبغي للفاضل أن يرك علمًا من العلوم النَّافعة، الَّتي تُعين علىٰ فهم الكتاب والسُّنَّةMaka tidak sepantasnya seorang yang memiliki keutamaan tidak pantas bagi dia meninggalkan sebuah cabang ilmu di antara ilmu-ilmu yang yang bermanfaat yang membantu dia untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah, karena kalau itu adalah ilmu yang bermanfaat yang membantu kita untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah maka seharusnya kita semangat untuk mempelajarinya karena inti dari ilmu sebagaimana telah berlalu adalah Quran dan juga hadits itu yang menjadi tujuan utama kita, Ana ingin paham Al-Qur’an dan juga hadits yang dua-duanya adalah wahyu dari Allāh ﷻ maka seluruh ilmu yang yang membantu kita untuk memahami Al-Quran dan hadits harusnya kita semangat untuk mempelajarinya,إذا كان يعلم من نفسه قوَّةً علىٰ تعلُّمهapabila dia mengetahui di dalam dirinya kekuatan untuk mempelajarinya.Kalau memang dia punya qudrah (kemampuan) untuk mempelajari ilmu tersebut dan ilmu tersebut membantu kita untuk memahami Al-Qur’an dan hadits maka hendaklah kita jangan sampai meninggalkan ilmu tadi, ini masing-masing harus jujur kepada dirinya sendiri dia punya kemampuan atau tidak, jangan sampai belum apa-apa dia mengatakan Ana tidak mampu mempelajari ilmu Nahwu dan sharf, dia belum berusaha dia belum mengeluarkan seluruh apa yang dia miliki.ولا يَسوغ له أن يعيب العلمَ الَّذي يجهله ويزُريَ بعالمهDan tidak boleh dia mencela ilmu yang dia tidak tahu dan mengejek orang yang mengetahuinya.Karena ada sebagian orang dia misalnya mempelajari ilmu aqidah saja dan dia tidak mempelajari ilmu fiqh kemudian dia mencela ilmu fiqh mengatakan bahwasanya ilmu ini tidak ada manfaatnya ini tidak mendekatkan diri kepada Allāh ﷻ ini menyibukkan kita dengan ucapan fulan dan juga fulan, tidak boleh dia mengatakan demikian tidak boleh dia mencela ilmu yang dia tidak tahu yang dia belum mempelajarinya.Kemudian dia mengejek seorang yang ‘alim terhadap ilmu tersebut, merendahkan dia si fulan itu jahil tentang masalah aqidah si fulan demikian dan demikian dia mengejek orang yang memiliki ilmu yang tidak diketahui olehnya, karena mencela ilmu dan juga menjelekkan orang yang mengilmui ilmu tadiفإنَّ هٰذا نقصٌ ورذيلةٌini adalah sebuah kekurangan dan sebuah kehinaan, ketika dia mengetahui sebuah ilmu kemudian dia mencela ilmu yang lain, orang yang tahu ilmu Hadits kemudian dia mencela ilmu fiqh dan juga mencela orang-orang yang menyibukkan diri dengan fiqh atau sebaliknya dia ahli dalam masalah fiqh kemudian menjelekkan ilmu Hadits dan menjelekkan orang-orang yang menyibukkan diri dengan ilmu Hadits, itu bukan mengangkat derajat dia tapi justru ini menunjukkan tentang kekurangan dia dan kehinaan dia.Kalau dia memang sampai ilmunya maka dia tidak akan mencela ilmu yang lain, kalau memang ilmu haditsnya itu benar maka maka dia tidak akan mencela ilmu fiqh, kalau ilmu aqidahnya itu benar maka dia tidak akan mencela ilmu Hadits, ketika dia mencela ilmu yang lain menunjukkan ada kekurangan pada dirinya dan ini adalah kehinaan bagi seseorang.فالعاقل ينبغي له أن يتكلم بعلم أو يسكت بحلمٍMaka orang yang berakal hendaklah dia berbicara dengan ilmu, karena orang yang mencela ilmu yang lain ini menunjukkan dia berbicara tanpa ilmu, kalau seandainya dia berilmu misalnya dia tidak akan mencela ilmu yang lainأو يسكت بحلمٍdan orang yang berakal kalau dia diam maka diam dengan hilm, yaitu diam dan memang diamnya dia adalah karena kesabaran bukan karena marah, diamnya dia adalah karena dia memiliki al-hilm yaitu santun dan sabarوإلَّ دخل تحت قول القائلkalau tidak demikian maka dia berarti masuk dalam ucapan seseorang (ini permisalan yang bagus bagi orang yang mencela ilmu yang tidak dia ketahui)أتاني أنَّ سهلً ذمَّ جهلًعلومًا ليس يعرفهنَّ سهلُTelah sampai kepadaku bahwasanya Sahlan (nama orang) telah mencela ilmu yang tidak dia ketahui, menjelek-jelekkkan ilmu tersebutذمَّ جهلًجهلً di sini adalah maf’ul li ajlih, dia mencela karena kebodohannya, kebodohan dia terhadap ilmu tersebut dia mencela beberapa ilmu yang tidak dia ketahuiعلومًا لو قرأها ما قلاهاولٰكنَّ الرِّضا بالجهل سهلُIlmu-ilmu seandainya dia membacanya seandainya dia mempelajarinya, maksudnya adalah membacanya di depan para gurunya di hadapan para masyaikh, seandainya dia mempelajari ilmu-ilmu tersebut dengan benarما قلاهاniscaya dia tidak akan membenci ilmu-ilmu tadi, tapi karena dia belum belajar sehingga dia menjelek-jelekkan ilmu tadiولٰكنَّ الرِّضا بالجهل سهلُakan tetapi keridhaan terhadap kebodohan itu adalah sesuatu yang mudah, ridha terhadap kebodohan ini adalah sesuatu yang mudah, yang sulit adalah mengangkat kejahilan dari diri seseorang.Memerangi kebodohan itu bukan perkara yang mudah, kalau menyerahkan dirinya terhadap kebodohan dia maka itu suatu yang mudah tapi memerangi kebodohan mempelajari ilmu agama maka ini bukan sesuatu yang mudah, maka gampang saja dia mencela karena dia belum mengetahui ilmunya dan ridha dengan kebodohan adalah sesuatu yang mudahانتهىٰ كالامهselesai ucapan beliau.Jadi yang ingin beliau sampaikan di sini hendaklah kita mempelajari seluruh cabang-cabang ilmu ini dan kita mendahulukan yang lebih penting dari yang penting, kemudian jangan sampai ketika seorang sedang mempelajari sebuah ilmu kemudian dia mencela ilmu yang lain juga merendahkan orang yang memiliki ilmu tersebut.

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI28 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke delapan “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke delapan “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذَا خَالَطَ الْعِبَادَةِ أَفْسَدَهَا، وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ، وَصَاَر صَاحِبُهُ، مِنَ الْخَالِدِينَ فِي النَّارِ. عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَKalau engkau sudah tahu bahwasanya syirik apabila bercampur dengan ibadah maka akan merusak ibadah tersebut dan akan membatalkan amalan dan menjadikan pemiliknya termasuk orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka engkau tahu sekarang bahwasanya perkara yang paling wajib engkau lakukan adalah mengetahui apa itu syirik.Kalau kita sudah tau bahaya syirik dan demikian bahayanya sampai membatalkan amalan. Orang yang melakukan amalan sebesar apapun, apabila dia melakukan kesyirikan yang besar (Asy Syirkul Akbar), maka ini bisa membatalkan amalan dia dari awal sampai akhir.Seandainya seseorang beribadah semenjak dia baligh, sholatnya, puasanya, bersodaqoh, bersilaturahim, kemudian ketika dia berumur 50 tahun melakukan syirik besar, maka amalan yang sudah dia kumpulkan sedikit demi sedikit meskipun sebesar gunung, seluas lautan maka akan dihapuskan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadi debu yang beterbangan, tidak dianggap oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.Sebagaimana firman Allah,لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ[Surat Az-Zumar 65]“Seandainya engkau berbuat syirik, niscaya akan batal seluruh amalanmu.”وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ[Surat Az-Zumar 65]“Dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang merugi.”Bagaimana selama puluhan tahun, dengan capek (lelah) yang sangat kemudian dibatalkan amalan tersebut dengan sebuah syirik besar.Dan ini adalah sebuah bahaya. Bahaya yang besar bagi seorang muslim di dalam agamanya.Kemudian beliau mengatakan,وَصَاَر صَاحِبُهُ، مِنَ الْخَالِدِينَ فِي النَّارِ.Dan orang yang berbuat syirik bahayanya adalah apabila dia meninggal dunia maka dia termasuk orang yang kekal di dalam neraka.Sekejap di dalam neraka adalah musibah. Bagaimana seseorang kekal di dalam neraka dan tidak keluar dari neraka tersebut.Syirik ini adalah perkara yang sangat bahaya.Oleh karena itu beliau mengatakan, “Sekarang engkau tahu bahwasanya perkara yang paling penting yang hendaklah engkau pelajari adalah tentang mengetahui apa itu kesyirikan.لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِSemoga Allah Subhānahu wa Ta’āla melepaskan dirimu dari jaringan ini, yaitu kesyirikan kepada Allah.وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ.Dan untuk mengetahui apa itu kesyirikan, maka caranya adalah dengan mengetahui empat kaidah yang disebutkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam Al Qur’an

💬 0 komentar📅 28 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke tujuh “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke tujuh “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّ الْعِبَادَةَ لا تُسَمَّى عِبَادَةً إِلا مَعَ التَّوْحِيدِ،Apabila engkau wahai pembaca, wahai pendengar, mengetahui bahwasanya Allah menciptakan dirimu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwasanya ibadah tidak dinamakan ibadah kecuali dengan tauhid.Seseorang tidak dinamakan beribadah kepada Allah kecuali apabila dia mentauhidkan Allah (mengesakan Allah) di dalam ibadah tersebut.Apabila seseorang mengaku beribadah kepada Allah, tetapi dia tidak mengesakan Allah di dalam ibadah tersebut (selain dia beribadah kepada Allah juga menyerahkan ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla) maka ini tidak dinamakan dengan ibadah.Oleh karena itu beliau mengatakan, ibadah dinamakan ibadah, apabila kita bertauhid, hanya mengesakan Allah di dalam beribadah.Kemudian beliau mengatakan,كَمَا أَنَّ الصَّلاةَ لا تُسَمَّى صَلاةً إِلا مَعَ الطَّهَارَةِ،Sebagaimana sholat, tidak dinamakan sholat kecuali apabila ada thoharoh (bersuci).Apabila seseorang misalnya, melakukan sholat (rukuk, sujud, berdiri), tetapi dia tidak melakukan thoharoh, apakah ini dinamakan sholat?Secara dhohir, orang menyangka bahwasanya dia sholat. Tetapi karena tidak melakukan thoharoh (bersuci), melakukan sholat tersebut dalam keadaan tidak suci, maka ini tidak dinamakan dengan sholat.لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ -إذَا أَحْدَثَ- حَتَّى يَتَوَضَّأَAllah Subhānahu wa Ta’āla tidak menerima sholat salah seorang diantara kalian apabila dia berhadats, sampai dia berwudhu.Berthoharoh adalah termasuk syarat sah-nya sholat. Orang yang sholat tanpa berthoharoh maka tidak dinamakan melakukan sholat.Ini adalah perumpamaan yang beliau bawakan untuk kita supaya kita mudah memahami ucapan beliau.Demikian pula ibadah. Apabila seseorang tidak bertauhid di dalam ibadah tersebut, maka ini tidak dinamakan dengan ibadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla. Sebagaimana sholat, apabila tidak berthoharoh (bersuci) maka tidak dinamakan dengan sholat.Kemudian beliau mengatakan,فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبَادَةِ فَسَدَتْ،Maka apabila kesyirikan masuk di dalam sebuah ibadah, maka ibadah tersebut akan menjadi rusak.كَالْحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَاَرِة،Sebagaimana hadats (kecil maupun besar) apabila masuk di dalam thoharoh (maka akan merusak thoharoh tersebut).Orang yang dalam keadaan suci, apabila ada hadats, baik yang kecil maupun besar, maka kesucian dia menjadi rusak.Syirik apabila masuk di dalam ibadah seseorang, ibadah tersebut akan menjadi rusak (gugur).كَمَا قَالَ تَعَالَى:Sebagaimana firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,(مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِینَ أَن یَعۡمُرُوا۟ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ شَـٰهِدِینَ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ وَفِی ٱلنَّارِ هُمۡ خَـٰلِدُونَ)[Surat At-Taubah 17]“Tidaklah orang-orang musyrikin, mereka memakmurkan masjid-masjid Allah, dalam keadaan mereka bersaksi bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kafir. Merekalah orang-orang yang gugur dan terhapus amalan-amalan mereka, dan mereka akan kekal di dalam neraka.”Orang-orang musyrikin Quraisy, yang ada di zaman Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, mereka mengaku bahwa mereka memakmurkan Masjidil Haram, memakmurkan Ka’bah, menghormati orang-orang yang datang ke sana, memberikan minum kepada jamaah haji yang datang ke sana. Ini adalah pengakuan orang-orang musyrikin.Allah mengatakan, “Tidaklah orang-orang musyrikin, mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kufur.”Allah mengatakan bahwasanya amalan-amalan yang mereka lakukan adalah amalan-amalan yang batal (terhapus).أُو۟لَـٰۤىِٕكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ وَفِی ٱلنَّارِ هُمۡ خَـٰلِدُونَMereka adalah orang-orang yang batal amalan-amalannya dan mereka kekal di dalam neraka.Kenapa batal, padahal mereka melakukan amalan yang besar? Memberikan penghormatan kepada orang-orang yang datang untuk beribadah ke sana. Karena ibadah haji ini sudah ada semenjak zaman dahulu bahkan sebelum datangnya Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Ibadah haji ini adalah termasuk peninggalan dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang merupakan nenek moyang dari orang-orang Quraisy itu sendiri, meskipun sudah diubah caranya oleh orang-orang Quraisy.Jadi mereka mengaku memakmurkan masjid-masjid Allah, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang kufur, sehingga Allah batalkan amalan-amalan mereka.Menunjukkan bahwasanya kesyirikan, kekufuran, ini bisa membatalkan amalan sebagaimana hadats bisa membatalkan thoharoh seseorang.

💬 0 komentar📅 27 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI - Halaqah 107 Dalil Ketiga (Riwayat Ibnu Mas'ud & Sifat Al-Ghuraba')

Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Ketiga (Riwayat Ibnu Mas'ud & Sifat Al-Ghuraba') (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaPertanyaan Para Sahabat Para sahabat memiliki semangat yang tinggi terhadap kebaikan dan keselamatan akhirat (thuba / surga). Ketika mendengar kabar tentang al-ghuraba', mereka langsung bertanya: وَمَنْ الغُرَبَاءُ (Siapakah orang-orang yang asing itu, ya Rasulullah?).​Semangat ini serupa dengan pertanyaan mereka saat Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam mengabarkan tentang perpecahan umat dan golongan yang masuk neraka kecuali satu (iftiraqul ummah).Sifat Pertama Al-Ghuraba' (An-Nuza'u minal Qabail):Jawaban Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam : النُّـزَّاعُ مِنَ القَبَائِلِ (Mereka adalah orang-orang yang datang/berasal dari berbagai kabilah).​Maksudnya, orang-orang yang berpegang teguh pada Islam di akhir zaman tidak dibatasi oleh suku, bangsa, atau kabilah tertentu (tidak hanya dari keturunan tertentu, orang Arab saja, atau bangsa tertentu).​Yang menyatukan mereka adalah Islam yang murni. Keasingan mereka murni disebabkan oleh ajaran Islam yang mereka pegang, bukan karena latar belakang kesukuan mereka.​Hadis riwayat Abdullah bin Mas'ud ini dinilai memiliki isnad yang sahih.Sifat Kedua Al-Ghuraba' (Yushlihuna Idha Fasadan Nas):Di dalam riwayat lain (di antaranya dari Abdurrahman bin Sannah, Abu Darda, Abu Umamah, Anas bin Malik, Watsilah bin Atsqa' dan lainnya), disebutkan sifat: الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ (Orang-orang yang sholeh/memperbaiki diri ketika manusia berada dalam kerusakan).​Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang tetap teguh dalam kebaikan dan kesalehan ketika mayoritas manusia mengalami kerusakan (terutama kerusakan secara agama).​Sifat yushlihuna ini tidak mungkin terwujud kecuali dengan menuntut ilmu agama yang benar lalu mengamalkannya.Dalil yang Disampaikan Hadis Riwayat Ahmad dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:​إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، قِيلَ: وَمَنْ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: «النُّـزَّاعُ مِنَ القَبَائِلِ»​Konteks Penjelasan: Menjelaskan bahwa al-ghuraba' adalah orang-orang yang berkumpul dari berbagai kabilah yang dipersatukan oleh Islam, dan keasingan mereka timbul karena keteguhan mereka pada agama.​Riwayat Sifat Al-Ghuraba' (Abdurrahman bin Sannah & Sahabat lainnya):​بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا ثُمَّ يَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ الْغُرَبَاءِ؟ قَالَ: «الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ»​Konteks Penjelasan: Menjelaskan karakteristik al-ghuraba' sebagai orang-orang yang tetap sholeh/baik di tengah kerusakan agama yang melanda kebanyakan manusia.Kesimpulan Keasingan al-ghuraba' tidak memandang status sosial, suku, atau bangsa; ikatan mereka adalah akidah dan Islam yang murni.​Menjadi orang yang sholeh (yushlihuna) di tengah zaman kerusakan (ifasadin nas) menuntut seseorang untuk senantiasa belajar ilmu agama dan mengamalkannya dengan istiqamah.

💬 0 komentar📅 27 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Oktober 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 7: "Simpul 05 – Menempuh Jalan yang Menyampaikan kepada Ilmu"

Halaqah 7:"Simpul 05 – Menempuh Jalan yang Menyampaikan kepada Ilmu"📚 Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm✒️ Karya: Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi حفظه لله تعالى🎙Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىالمعقد الخامسSimpul yang kelima adalahسلوك الجادة الموصلة إليهyaitu kita menempuh jalan yang menyampaikan kepada ilmu, kalau kita memang mengagungkan ilmu maka kita tempuh jalannya karena ilmu ini dia sudah memiliki jalan sendiri, kalau kita menempuh jalan ilmu tadi untuk mendapatkan ilmu maka berarti kita mengagungkan dan memuliakan ilmu, tapi kalau kita memilih jalan sendiri untuk mendapatkan ilmu maka kita tidak sampai dan berarti kita tidak mengagungkan ilmu itu sendiri.لكلِّ مطلوبٍ طريقٌ يُوصل إليه،Segala suatu yang dicari itu ada jalannya yang menyampaikan kepada ilmuفمن سلك جادَّةَ مطلوبه أوقَفَتْهُ عليهmaka barang siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan sesuatu tadi maka dia akan mendapatkan sesuatu tadiومن عَدَلَ عنها لم يظفر بمطلوبهbarangsiapa yang menyimpang dari jalan tadi maka dia tidak akan mendapatkan apa yang dicariوإنَّ للعلم طريقًاdan sesungguhnya ilmu juga demikian, dia punya cara punya jalanمن أخطأها ضلَّ ولم يَنَلِ المقصودbarang siapa yang salah dan tidak menempuh jalan tadi maka dia akan sesat dan dia tidak akan mendapatkan maksudnyaوربما أصاب فائدةً قليلةً مع تعبٍ كثيرٍdan mungkin saja dia mendapatkan faedah, karena dia bermajelis ilmu dia mendapatkan faedah, tapi sedikit yang dia dapatkan berbeda dengan orang yang menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu maka dia akan mendapatkan faedah yang banyakمع تعبٍ كثيرٍdisertai dengan capek yang luar biasa.Karena dia tidak menempuh jalannya akhirnya dia sedikit sekali mendapatkan ilmu tadi dan dia capek, capek karena dia salah jalan.Dia orang yang tersesat ingin ke surabaya misalnya maka mungkin dia tidak sampai ke surabaya atau dia sampai ke surabaya tapi setelah dia capek, setelah dia mutar ke sana kemari baru dia sampai ke surabaya. Ini semua karena dia tidak mengikuti rambu-rambu tidak mengikuti jalan, kalau dia menempuh jalan dalam menuntut ilmu seperti yang ditempuh oleh para ulama maka insyaAllāh dia akan sampai kepada ilmu tersebut.وقد ذكر هٰذا الطَّريق بلفظٍ جامعٍ مانعٍ محمَّدُ مرتضىٰ بن محمَّدٍ الزَّبيديُّ – صاحب تاج العروسDan telah menyebutkan jalan ini dengan lafadz yang menyeluruh dan dia lafadz yang menyingkirkan yang bukan masuk di dalamnya yaitu Muhammad Murtadha Ibnu Muhammad Azzabidiy yang mengarang Tājul ‘Arūsفي منظومةٍ له تُسمَّىٰ الفية السند يقول فيهاdi dalam sebuah mandzumah yang dinamakan dengan Alfiatu Assanad, beliau mengatakanفما حوىٰ الغايةَ في ألفِ سَنَهْشخصٌ فخذ من كلِّ فنٍّ أحسنهْtidak akan mencapai puncak di dalam 1000 tahun seseorang, maksudnya adalah seseorang yang tidak menempuh jalan ilmu meskipun dia belajar 1000 tahun kalau dia tidak menggunakan tidak menempuh jalan ilmu maka dia tidak akan sampai puncaknyaفخذmaka beliau memberikan nasihat, maka ambillahمن كلِّ فنٍّ أحسنهْmaka ambillah dari setiap cabang ilmu itu yang paling baik, maksudnya yang paling baik disiniبحفظ متنٍ جامعٍ للرَّاجحِdengan cara Antum menghafal, harus ada menghafalnyaمتنٍ جامعٍ للرَّاجحِyang Antum hafal adalah matan yang menyeluruh atau matan yang isinya adalah perkara-perkara yang rajih menurut orang-orang yang ahli di dalam bidang tersebut, karena ilmu ini sudah berlalu bertahun-tahun dan para ulama yang menekuni bidang tadi mereka sudah mengetahui mana yang lebih kuat di antara permasalahan-permasalahan.Di sana ada Matan yaitu kitab yang ringkas isinya adalah ringkasan dari ilmu-ilmu tadi, dijadikan dalam satu kitab yang ringkas dengan kata-kata yang mudah atau dengan kata-kata yang ringkas dan isinya adalah perkara-perkara yang lebih kuat di antara permasalahan-permasalahan tadi. Kalau memang di sana ada khilaf ada permasalahan yang diperselisihkan maka yang disebutkan dalam kitab tadi tidak semuanya tapi cukup dengan yang dikuatkan, ini namanya Matan.Berarti disini jangan sampai kita menghafal Matan yang masih disebutkan disitu khilaf, carilah Matan yang memang dia menyeluruh diringkas ilmu tadi dalam Matan tersebut dan itu hanya mengumpulkan pendapat-pendapat yang kuat saja.تأخذُه علىٰ مفيدٍ ناصحٍBukan hanya menghafal Matan itu saja tapi engkau membawanya / mempelajarinya kepada orang yang bisa memberikan faedah, orang yang memahami.Berarti Antum harus mempelajari Matan tadi kepada orang yang memahami Matan tadi yang bisa memberikan Antum faedah, dan dia adalah orang yang memang ingin kebaikan untuk Antum, ingin Antum paham ingin Antum itu beramal ingin Antum berhasil dalam menuntut ilmu berarti harus mencari seorang guru yang dia adalah مفيدٍ ناصحٍ dan akan diterangkan oleh beliau di sini apa yang dimaksud.فطريق العلم وجادَّتُه مبنيَّةٌ علىٰ أمرينMaka cara atau jalan menuntut ilmu adalah dibangun di atas dua perkaraمن أخذ بهما كان معظِّما للعلم؛ لأنَّه يطلبه من حيث يُمكن الوصول إليهbarang siapa yang menempuh dua cara tadi atau dua perkara tadi maka berarti dia mengagungkan ilmu, karena dia mencari ilmu dengan caranya / cara yang memungkinkan dia sampai kepada ilmu tadi.Berarti kalau kita mencari ilmu tapi bukan dengan caranya itu berarti kita dianggap menghinakan ilmu, mau mencari ilmu bukan dengan cara tadi dianggap kita ini menghinakan ilmu, jadi menuntut ilmu harus dengan caranya dan ini adalah menunjukkan kita itu senang dan kita itu ingin mencapai ilmu tersebut.فأمَّا الأمر الأوّلMaka yang pertamaفحفظ متنٍ جامعٍ للرَّاجحyang pertama adalah kita menghafal Matan yang mencakup atau isinya adalah perkara-perkara yang rajih (kuat)فا بدَّ من حفظٍmaka harus menghafalومن ظنَّ أنَّه يَنال العلم با حفظٍ فإنَّه يطلب مُحالًbarang siapa yang menyangka bahwasanya dia bisa mendapatkan ilmu tanpa menghafal berarti dia sedang mencari sesuatu yang mustahil.Para ulama menghafal dan yang dihafal Matan, jadi Matan itu adalah perkara yang ringkas, kalau antum belajar ingin belajar aqidah menghafal matan-matan aqidah Antum ingin belajar fiqih yang menghafal matan-matan ringkas tentang masalah fiqih yang ada dalam setiap mazhab.والمحفوظ المعوَّل عليه هو المتن الجامع للراجح؛ أي المعتمد عند أهل الفنِّDan yang dihafal adalah Matan yang mengumpulkan perkara-perkara yang rajih maksudnya adalah yang dijadikan pegangan / tumpuan menurut ulama-ulama yang ada di cabang ilmu tersebut.Jadi mereka semuanya sepakat dan mereka banyak mensyarah kitab tadi atau Matan tadi ini menunjukkan bahwasanya kitab ini adalah menjadi pegangan bagi ulama-ulama yang ada di di dalam cabang ilmu tadi, misalnya kalau ushul fiqh di sana ada al-waraqat kalau masalah aqidah di sana ada aqidah washithiah atau lum’atul i’tiqad ini banyak disyarah oleh para ulama karena ini adalah suatu yang mu’tamad / dijadikan pegangan oleh mereka, ini kita harus semangat untuk menghafalnya.وأمَّا الأمر الثَّانيAdapun yang keduaفأخذه علىٰ مفيدٍ ناصحٍadalah kita mempelajari Matan tadi kepada seorang yang bisa memberikan faedah dan dia adalah orang yang menginginkan kebaikan untuk kitaفتفزع إلىٰ شيخٍ تتفهَّمُ عنه معانيَه، يتَّصف بهذين الوصفينmaka hendaklah engkau mendatangi seorang guru yang maksud antum mempelajari ilmu tersebut di hadapan beliau adalah ingin memahami maknanya yang dia memiliki dua sifat ini yaituو أوَّلهماsifat yang pertama adalahالإفادةdia bisa memberikan faedah ke Antumوهي الأهليَّة في العلم، فيكونُ ممَّن عُرف بطلب العلم وتلقِّيه حتىٰ أدرك، فصارت له مَلَكةٌ قويَّةٌ فيهDia adalah orang yang ahli di dalam ilmu tersebut maka beliau adalah termasuk yang dikenal dengan menuntut ilmu, jadi orangnya memang dikenal sebagai penuntut ilmu, dan dikenal dia menerima ilmu tersebut dari guru-gurunyaحتىٰ أدركsampai dia memahami sehingga dia memiliki مَلَكةٌ قويَّةٌ kemampuan yang kuat di dalam ilmu tersebut, ini kita harus mencari siapa di antara mereka yang memiliki sifat ini.والأصل في هٰذا ما أخرجه أبو داود في ‘سننه’ بإسنادٍ قويٍّ عن ابن عبَّاسٍ أنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: تسمعون، ويُسمع منكم، ويُسمع ممَّن يَسمع منكمDalilnya adalah apa yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud di dalam sunannya dengan sanad yang kuat dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan; Kalian mendengar dan didengar dari kalian, kalian mendengar yaitu para sahabat kalian mendengar dari sayaويُسمع منكمdan orang yang setelah kalian mendengar dari kalianويُسمع ممَّن يَسمع منكمkemudian orang yang datang setelah kalian diambil ilmunya oleh yang setelahnya, berarti di sini guru ke muridnya kemudian murid ke muridnya lagi murid ke muridnya lagi, ini adalah dalil bahwasanya kita harus mengambil ilmu dari guru (talaqqi) bukan membaca sendiri.والعرة بعموم الخطاب، لا بخصوص المخاطبDan pelajarannya di sini adalah dengan umumnya ucapan Nabi ﷺ tadi bukan khususnya orang yang diajak bicara oleh Nabi ﷺ, karena saat itu Beliau ﷺ ketika mengatakan تسمعون yang diajak bicara adalah para sahabat tapi yang yang menjadi pelajaran kita yang kita ambil pelajaran di sini adalah keumuman ucapan Beliau ﷺ.Jadi تسمعون bukan hanya para sahabat saja tapi maksudnya adalah umat ini semuanya bukan hanya sahabat saja tapi ini adalah cara umat ini semuanya dalam menuntut ilmu yaitu dengan dari seorang guru.فا يزال من معالم العلم في هٰذه الأمَّة أن يأخذه الخالف عن السَّالفMaka di dalam umat ini senantiasa ketika mereka termasuk menara-menara ilmu cara mereka mendapatkan ilmu adalah yang setelahnya mengambil ilmu dari yang sebelumnya, seorang murid mengambil ilmu dari gurunya dari dulu demikian.أما الوصف الثَّاني فهو النَّصيحةAdapun yang kedua maka guru tersebut dia memiliki nashihahوتجمع معنيين ٱثنينyang dimaksud dengan nashihah seorang guru yang bernasihat adalah yang memiliki dua sifatأحدهماyang pertama seorang guru yang nashih (yang menginginkan kebaikan bagi kita)صلاحية الشَّيخ للاقتداء بهSyaikh (guru) tersebut pantas untuk ditiruوالاهتداء بهديهdia pantas untuk ditiru petunjuknyaودَلِّه وسَمْتهdan juga tingkah lakunya (gerak-geriknya) bisa dijadikan contoh bagi yang lain, itu yang pertama.والآخرadapun yang kedua, sifat yang kedua yang ini merupakan sifat seorang guru yang nashihمعرفته بطرائق التَّعليمbeliau punya pengalaman bagaimana cara mengajar, punya pengalaman tentang cara-cara di dalam mengajarبحيث يُحسِن تعليمَ المتعلِّمyaitu mampu mengajari orang yang sedang belajar, mengerti keadaan oh ini kalau demikian maka diajari demikian, beliau sudah punya pengalaman untuk mengajar orang yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa orang yang sebelumnya tidak paham menjadi paham.Karena ada sebagian mungkin secara keilmuan dia bagus diakui tapi belum tentu beliau bisa mengajarkan kepada orang lain, tentunya kita belajar ingin mendapatkan faedah untuk apa kita duduk lama-lama di situ tapi kita tidak paham, beliau sebenarnya berilmu tapi kita tidak paham bagaimana dan apa yang beliau maksud. Tentunya kita ingin mencari seorang guru yang nashih diantaranya adalah yang memiliki kemampuan untuk mentransfer menyampaikan ilmu tadi kepada orang lain.ويعرف ما يَصلُح له وما يضرُّهGuru tersebut mengetahui apa yang baik bagi muridnya dan apa yang memudharati muridnya, dia tahu ini jangan dibaca dulu ini kalau antum ingin memahami lebih dalam ini yang Antum lakukanوَفق التَّربيَّة العلميَّة الَّتي ذكرها الشَّاطبيُّ في – الموافقاتsesuai dengan tarbiyyah ilmiyyah yang disebutkan oleh Asy-Syatibiy di dalam Al-Muwafaqat.

💬 0 komentar📅 27 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 107 | Ahlus Sunnah Tidak Mengkafirkan Seorang Muslim Kecuali Jika Dia Mengingkari Apa yang Dia Imani

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-107 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan:وَلَا نُخْرِجُ الْعَبْدَ مِنَ الْإِيمَانِ إِلَّا بِجُحُودِ مَا أَدْخَلَهُ فِيهِDan kami (Ahlussunnah wal Jama’ah) tidak mengeluarkan seseorang dari iman, yaitu tidak mengkafirkan mereka, kecuali dengan mengingkari apa yang memasukkan dia ke dalam iman. Apa yang memasukkan seseorang ke dalam iman? Ya, syahadat.Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh.Kalau misalnya ada orang yang mengingkari dua kalimat syahadat, mengatakan bahwasanya ada sesembahan selain Allāh, atau mengatakan bahwasanya Nabi Muhammad bukan seorang nabi, misalnya, barulah dia keluar dari agama Islam. Itu makna ucapan beliau.Dan ucapan ini tentunya ada catatan. Di sini seakan-akan membatasi sesuatu yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam hanya jika dia mengingkari dua kalimat syahadat. Selain itu, berarti tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam? Misalnya, dia mengingkari shalat, mengingkari zakat, atau mengingkari salah satu ibadah yang jelas, ini tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islam? Ini tentunya tidak benar.Yang pertama, karena orang yang mengingkari shalat, kewajiban shalat, maka dia keluar dari agama Islam. Orang yang mengingkari kewajiban haji, ini juga mengeluarkan seseorang dari agama Islam, bukan hanya yang mengingkari dua kalimat syahadat.Demikian pula ada orang yang keluar dari agama Islam (keimanan) bukan karena dia mengingkari. Dia mengakui, tapi dia misalnya mengejek. Mengakui tentang Nabi Muhammad ﷺ, tapi dia ucapannya mengejek Nabi Muhammad ﷺ. Dia tidak mengingkari bahwa beliau adalah seorang nabi, tapi orang tadi mengejek Nabi Muhammad ﷺ. Maka, ini keluar dari agama Islam.Sehingga, ucapan:وَلَا نُخْرِجُ الْعَبْدَ مِنَ الْإِيمَانِ إِلَّا بِجُحُودِ مَا أَدْخَلَهُ فِيهِini ada catatan.Catatan yang pertama, mengingkari yang lain, bukan hanya dua kalimat syahadat. Mengingkari shalat, mengingkari puasa, dan mengingkari zakat juga bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam.Kemudian yang kedua, bukan hanya mengingkari saja, di sana ada amalan-amalan. Ada di situ pengakuan,  pengakuan tentang Nabi Muhammad ﷺ, pengakuan tentang Allāh sebagai Rabbul ‘Ālamīn, dan Allāh tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia. Tapi, dia melakukan salah satu di antara pembatal keislaman, seperti misalnya dia melakukan sihir, menyembelih untuk selain Allāh, atau melakukan istihzā’ (pelecehan) terhadap Allāh dan Rasul-Nya. Maka, ini mengeluarkan seseorang dari agama Islam meskipun di sana ada i‘tirāf, ada pengakuan.Jadi, di sini kita menemukan bahwasanya yang pertama, kita tidak mengkafirkan seseorang dari Ahlul Qiblah yang mereka melakukan dosa besar. Betul, selama dia tidak menghalalkannya, kita setuju dan tidak ada masalah. Selama dia tidak menghalalkan, dia tidak keluar dari agama Islam.Termasuk di antaranya, mengeluarkan dari agama Islam adalah jika sampai mengingkari dua kalimat syahadat. Itu betul. Tapi, membatasi pengingkaran hanya pada dua kalimat syahadat, ini yang ada pembicaraan. Karena mengingkari yang lain juga, yang itu sudah jelas kewajibannya dalam agama kita, ini juga membatalkan keislaman.Kemudian, juga ternyata yang membatalkan keislaman bukan hanya mengingkari. Seandainya dia mengakui, tapi dia melakukan satu di antara pembatal keislaman, dia bisa keluar dari agama Islam.وَالإِيمَانُ: هُوَ الإِقْرَارُ بِاللِّسَانِ، وَالتَّصْدِيقُ بِالجَنَانِDan iman itu adalah dengan mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati.Ini juga ada catatan. Karena iman, sebagaimana telah berlalu, itu diucapkan dengan lisan, dibenarkan dengan hati, dan harus ada amalan dalam perbuatan seseorang. Harus ada amalannya.Iman terdiri dari tiga hal:Diucapkan dengan lisan.Dibenarkan dengan hati.Diamalkan oleh anggota badan.Bukan hanya iqrār dengan lisan dan juga membenarkan dengan hati saja. Kemudian amalan tidak dimasukkan ke dalam iman. Amal ini adalah termasuk iman. Makanya, Allāh ﷻ berfirman:وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ“Dan tidaklah Allāh menyia-nyiakan keimanan kalian.” (QS. Al-Baqarah: 143)Keimanan di sini adalah shalat, karena ini berbicara tentang perubahan kiblat. Bagaimana dengan shalat orang yang dahulu menghadap ke arah kiblat yang pertama? Apakah shalatnya sia-sia karena sekarang kiblat sudah pindah ke Ka‘bah? Allāh ﷻ mengatakan:وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ“Allāh tidak akan menyia-nyiakan keimanan kalian.”Yaitu, shalat kalian.Allāh ﷻ juga berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allāh, hati mereka bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah keimanan mereka, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal.” “(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat…” (QS. Al-Anfāl: 2-3)Siapa orang-orang yang beriman? Kalau disebutkan ayat-ayat Allāh, maka bertambah keimanannya.Kemudian, di antara sifat mereka adalah mereka mendirikan shalat. Dan mendirikan shalat termasuk amalan.Ketika Allāh ﷻ menyebutkan:قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’minūn: 1)Disebutkanٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ  ٢Mereka berinfaq, mereka khusu’ dalam shalatnya, mereka menjaga shalat lima waktunya, mereka menjaga kemaluannya, bukankah itu semuanya adalah amal perbuatan? Berarti amal perbuatan itu harus dimasukkan ke dalam imanKalau hanya dikatakan iman adalah iqrār dengan lisan dan membenarkan dengan hati saja tanpa amal, ini tidak cukup. Harus kita masukkan amal ke dalam keimanan. Karena yang mengeluarkan amal dari iman, ini adalah pemahaman Murji’ah. Mereka mengeluarkan amal dari iman.

💬 0 komentar📅 27 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HSI - Halaqah 106 Dalil Kedua

Halaqah 106Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Kedua (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaPerjalanan sejarah Islam yang bermula dalam keadaan asing, mencapai kejayaan dan tersebar luas, lalu akan kembali menjadi asing di akhir zaman, serta janji keutamaan (thuba) bagi orang-orang yang tetap memegang teguh Islam yang murni.​بَدَأَ الإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ(Hadits Riwayat Muslim)Menerangkan dua hal utama dalam judul bab sekaligus, yaitu akan terjadinya keasingan Islam (ghurbatul islam) dan kabar gembira berupa keutamaan (thuba/surga) bagi orang-orang yang asing demi berpegang pada Islam (fadhlul ghuraba').Awal Mula Keasingan IslamIslam dimulai ketika Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam diutus seorang diri di tengah masyarakat jahiliyah yang melakukan kesyirikan, penyimpangan akhlak, serta ibadah yang rusak.​Ajaran Islam dianggap aneh dan asing oleh kaum jahiliyah, terutama seruan tauhid (mengesakan Allah Subḥānahu wataʿālā) dan keimanan akan hari akhir (kebangkitan setelah kematian).​Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam berdakwah dengan gigih dan sabar atas taufik Allah Subḥānahu wataʿālā, hingga satu per satu orang masuk Islam, menyebar ke Madinah melalui peristiwa hijrah, perjanjian Hudaibiyah, hingga penaklukan Mekkah (Fathu Makkah). Islam pun tersebar luas dan tidak lagi asing.Islam Akan Kembali AsingIslam akan kembali menjadi asing sebagaimana awal kemunculannya. Tauhid dan Sunnah yang murni yang dahulu masyhur, akan kembali dianggap asing bahkan di tengah-tengah umat Islam sendiri.Orang yang berpegang teguh pada tauhid dan menghidupkan Sunnah Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam yang murni dari bid'ah akan dicap dengan berbagai julukan negatif (seperti radikal, tidak bermasyarakat, tidak sosial, atau kaku) oleh sesama orang Islam.Keutamaan Orang-Orang yang AsingSecara bahasa merupakan isim tafdhil (bentuk mu'annats dari athyab), yang berarti "yang paling baik".​Ulama menafsirkannya sebagai surga atau nama pohon di surga (yang mana tidak diperoleh kecuali oleh orang yang masuk surga).​Merupakan dorongan (hats) serta janji yang sangat besar dari Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam bahwa kesabaran menanggung pahitnya keasingan demi memegang teguh Islam murni akan dibalas dengan surga.Gambar Kenikmatan Surga​مَالَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍMenggambarkan betapa besarnya kenikmatan surga (thuba) yang disiapkan bagi orang-orang yang terasing (al-ghuraba').Surga adalah Darun Na'im (negeri penuh kenikmatan) yang tidak ada kesusahan di dalamnya.Di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusiaKesimpulan Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu secara eksplisit membuktikan kebenaran judul bab mengenai akan kembalinya keasingan Islam serta janji keutamaan bagi orang-orang terasing.​Ujian keasingan di dunia (dianggap aneh, kaku, atau dicap buruk karena memegang Sunnah) sifatnya hanya sementara, dan balasan bagi mereka yang istiqamah adalah surga yang tak terbayangkan kenikmatannya.

💬 0 komentar📅 26 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 106 | Merasa Aman Dari Makar Allāh ﷻ Dan Berputus Asa Dari Ampunan-Nya Bisa Mengeluarkan Seseorang Dari Islam

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-106 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَالأَمْنُ وَالإِيَاسُ يَنْقُلَانِ عَنْ مِلَّةِ الإِسْلَامِDan merasa aman dan putus asa ini bisa mengeluarkan seseorang dari agama IslamYang dimaksud dengan al-amn (merasa aman) di sini adalah merasa aman dari makar Allāh ﷻ. Kalau seseorang tidak ada rasa takut sama sekali terhadap Allāh ﷻ, sama sekali tidak ada rasa takut, merasa aman dari makar Allāh ﷻ, merasa aman dari adzab Allāh ﷻ, tidak ada rasa takutnya kepada Allāh ﷻ, maka inilah yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam.Ini maksud ucapan beliau: wal-amnu wal-iyaasu yankulāni ‘an al-millah. Kalau sama sekali tidak ada rasa takut kepada Allāh ﷻ:أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ.“Apakah mereka merasa aman terhadap makar Allāh? Maka tidak merasa aman dari makar Allāh kecuali orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’rāf: 99)Tapi kalau seseorang masih ada rasa takut terhadap adzab Allāh ﷻ, tetapi dia masih melakukan dosa dan seterusnya, tapi ada rasa takut, maka ini tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Yang mengeluarkan adalah merasa aman dari adzab Allāh ﷻ dan tidak ada rasa takut sama sekali kepada Allāh ﷻ.Wal-iyaasu (putus asa) demikian pula, putus asa dari rahmat Allāh ﷻ. Artinya, putus asa di sini adalah sama sekali tidak ada harapan kepada Allāh ﷻ. Maka inilah yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam:وَلَا تَيْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَيْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ“Dan tidaklah putus asa dari rahmat Allāh kecuali orang-orang yang kafir.” (QS. Yūsuf: 87)Yaitu, yang sama sekali tidak punya harapan di dalam hatinya. Tapi kalau seseorang berkurang keimanannya, kemudian ada harapan di dalam hatinya cuma tipis, maka ini tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islam.Seharusnya seorang Muslim menggabungkan antara dua ibadah ini, yaitu mengharap kepada Allāh ﷻ dan juga takut kepada Allāh ﷻ. Mengharap kepada Allāh ﷻ tapi jangan sampai merasa aman dari makar Allāh ﷻ, dan takut kepada Allāh ﷻ tapi jangan sampai membawa kita kepada putus asa dari rahmat Allāh ﷻ. Jadi yang benar adalah di antara keduanya.Makanya setelahnya beliau mengatakanوَسَبِيلُ الحَقِّ بَيْنَهُمَا لِأَهْلِ القِبْلَةِjalan yang benar adalah di antara keduanya, bagi rang-orang yang termasuk ahlul-qiblah — yaitu orang-orang Islam — mereka menggabungkan antara rasa takut dengan rasa harap. Jadi rasa takut mereka tidak berlebihan hingga membawa mereka kepada putus asa terhadap rahmat Allāh ﷻ, dan pengharapan mereka kepada Allāh ﷻ tidak sampai menjadikan mereka merasa aman dari makar Allāh ﷻ. Inilah jalan ahlussunnah wal-jama’ah.Orang yang beribadah kepada Allāh ﷻ dengan rasa takut saja, ini adalah orang-orang Khawārij. Mereka itu menyembah Allāh ﷻ hanya dengan ibadah khauf (rasa takut) saja, tanpa ada rasa harap.Adapun orang-orang Murji’ah, mereka beribadah kepada Allāh ﷻ hanya dengan harapan saja, tidak ada di sana rasa takut, atau ada rasa takut tapi sangat-sangat sedikit. Demikian pula orang-orang Khawārij, takut saja, ada harapan tetapi sangat-sangat sedikit.Sedangkan orang-orang Ṣūfi, mereka menyembah Allāh ﷻ dengan mahabbah (rasa cinta) saja, bukan karena mengharap Surga atau meminta dihindarkan dari Neraka. Tentunya ini adalah kesesatan sehingga sebagian ulama mengatakan:مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِالْخَوْفِ فَقَطْ فَهُوَ حَرُورِيٌّ، وَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِالرَّجَاءِ فَقَطْ فَهُوَ مُرْجِئٌ، وَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِالْمَحَبَّةِ فَقَطْ فَهُوَ صُوفِيٌّ أَوْ زِنْدِيقٌ، وَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَالْٱلْمَحَبَّة فَهُوَ سُنِّيٌّ“Barangsiapa menyembah Allāh dengan rasa takut saja, maka dia Haruriyyah (Khawārij). Barangsiapa menyembah Allāh dengan harapan saja, maka dia Murji’ah. Barangsiapa menyembah Allāh dengan cinta saja, maka dia Ṣūfiyyah (Zindiq). Dan barangsiapa menyembah Allāh dengan rasa takut, harapan, dan cinta, maka dia Sunni.”Beribadalah kepada Allāh ﷻ dengan harapan, dengan rasa takut, yaitu antum beribadah karena mengharap pahala dari Allāh ﷻ. Antum beribadah di waktu yang sama karena takut terhadap adzab Allāh ﷻ. Antum beribadah kepada Allāh ﷻ dengan maksud untuk menunjukkan kecintaan kita kepada Allāh ﷻ. Maka inilah seorang Sunni.

💬 0 komentar📅 26 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Oktober 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 6 : "Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah"

Halaqah 6 :"Simpul 04 – Mengumpulkan Himmah untuk Ilmu yang Berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah"📚 Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm✒️ Karya: Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi حفظه لله تعالى🎙Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىالمعقد الرابعSimpul yang ke empat diantara dua puluh simpul yang beliau sebutkan di dalam kitab ini adalahصرف الهمة فيه إلى علم القرآن والسنةKalau tadi kita sudah mengetahui bahwasanya pengagungan terhadap ilmu adalah dengan mengumpulkan berbagai keinginan untuk ilmu tadi maka sekarang kita harus mengumpulkan keinginan tadi untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.Ini adalah termasuk pengagungan kita terhadap ilmu karena ilmu sumbernya adalah Al-Qur’an dan hadits, kalau kita ingin mengagungkan ilmu maka kita harus memiliki perhatian yang besar untuk mengenal Al-Qur’an dan juga hadits Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.Karena mungkin sebagian orang ketika dia baru hijrah dan mengenal agama ini ingin belajar kemudian akhirnya dia kesana kemari mencari ilmu tapi sayangnya perhatian dia terhadap Al-Qur’an dan hadits ini kurang, menganggap bahwasanya kalau saya belajar tafsir atau Ana belajar hadits kapan saya dapat ilmu, Ana ingin belajar fiqih Ana ingin belajar Ushul fiqih Ana ingin belajar musthalah hadits.Seakan-akan kalau mempelajari ayat-ayat Allāh ﷻ belajar tafsir mempelajari Syarah dari hadits-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi Wasallam ini Ana tidak akan mendapatkan ilmu Ana akan menghabiskan waktu. Justru inilah sumber dari ilmu, maka kita harus kerahkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu Al-Quran dan juga sunnah.إنَّ كلَّ علمٍ نافعٍ مردُّه إلىٰ كلام الله وكلام رسوله صلى الله عليه وسلمKetahuilah bahwasanya setiap ilmu yang bermanfaat itu sebenarnya kembalinya kepada ucapan Allāh ﷻ dan juga ucapan Rasul-Nya, seluruh ilmu yang bermanfaat itu kembalinya kepada ucapan Allāh ﷻ dan juga ucapan Rasul-Nya, kepada Al-Quran dan juga kepada sunnah.وباقي العلوم: إمَّا خادمٌ لهما؛ فيُؤخذ منه ما تتحقَّق به الخِدمة، أو أجنبيٌّ عنهما؛ فلا يضُرُّ الجهل بهAdapun yang selainnya (selain Al-Qur’an dan Sunnah) terkadang dia fungsinya adalah untuk melayani supaya kita bisa memahami dengan baik Al-Quran dan Sunnah, maka itu tidak apa-apa dipelajari karena dia akan membawa kita untuk bisa memahami Al-Quran dan Sunnah,فيُؤخذ منه ما تتحقَّق به الخِدمةmaka kita ambil ilmu tadi sehingga kita bisa mewujudkan pemahaman kita terhadap Al-Quran dan juga Sunnah.Berarti mempelajari ilmu nahwu sharaf bagus karena dengannya kita bisa memahami Al-Qur’an dan Sunnah, kita mempelajari misalnya ushulu tafsir (kaidah-kaidah dalam tafsir) maka itu bagus karena dengannya kita bisa memahami Al-Qur’an, kita mempelajari misalnya Syarah hadits-hadits Arbain Nawawi bagus kita akan mempelajari dan memahami Sunnah Nabi Shalallāhu Alaihi Wasallamأو أجنبيٌّ عنهما؛ فلا يضُرُّ الجهل بatau ilmu tersebut adalah tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan Hadits maka tidak memudharati kita kalau kita tidak tahu tentang ilmu tersebut, jangan merasa rugi kalau memang ilmu tadi tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan hadits, tapi merasalah rugi kalau ilmu tadi berkaitan dengan Al-Quran dan juga hadits.وما أحسنَ قولَ عياضٍ اليَحصُبيِّ في كتابه الإلماعSungguh baik ucapan ‘Iyadh Al-Yahshubiy dalam kitab beliau Al-Ilma’العلم في أصلين لا يعْدُوهماإلَّ المُضِلُّ عنِ الطَّريق اللَّحبِعلمُ الكتاب وعلمُ الاثارِالَّتيقد أُسندت عن تابعٍ عن صاحبِBeliau mengatakan ilmu itu ada dalam dua pokok, tidak melewatinya kecuali orang yang sesat dari jalan yang jelas, yang pertama di dalamعلمُ الكتاب وعلمُ الاثارِilmu yang ada di dalam Al-Quran dan juga ilmu yang ada di dalam sunnah, Al-Quran dan juga hadits. Ilmu Hadits yaitu hadits-hadits yang disandarkan dari seorang tabi’in dari seorang sahabat yaitu hadits-hadits yang sahih maksudnya, berarti ilmu ini menurut para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam ilmu, mereka mengatakan bahwasanya ilmu itu pondasinya pada Al-Quran dan hadits sehingga harusnya kita memiliki perhatian yang besar terhadap Qur’an dan hadits ini.وقد كان هٰذا هو علم السَّلف – عليهم رحمة اللهInilah dulu ilmu Salaf, dulu para Salaf itu kalau di majelis yang dibacakan ya hadits Nabi Shalallāhu Alaihi Wasallam saja, haddatsana fulan qola haddatsana fulan sebutkan hadits, kemudian menyebutkan yang satunya lagi hadits dan seterusnya, majelis-majelis mereka majelis-majelis hadits.ثمَّ كَثُر الكلام بعدهم فيما لا ينفعKemudian setelah itu banyak kalam (ucapan) di dalam perkara yang tidak bermanfaatفالعلم في السَّلف أكثر، والكلام فيمن بعدهم أكثرIlmu di masa para salaf itu lebih banyak tapi ucapan mereka sedikit, jadi karena majelis-majelis mereka ilmu saja hadits-hadits saja yang disebutkan oleh mereka makanya ilmu mereka lebih banyak, adapun ucapan maka yang setelah mereka ini yang lebih banyak, ilmunya ada cuma ucapan mereka lebih banyak daripada ilmunya.قال حمَّاد بن زيدBerkata Hammad ibn Zaidقلت لأيوبَ السَّختيانيِّ: العلم اليوم أكثر أو فيما تقدم؟Hammad ibn Zaid mengatakan; Aku berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyaniy, ilmu di hari ini lebih banyak atau dahulu? Karena di zaman beliau mungkin beliau melihat mulai banyak orang yang bicaraفقال: الكلام اليوم أكثرUcapan yaitu selain ilmu di hari ini lebih banyak, beda dengan zaman duluوالعلم فيما تقدم أكثرAdapun ilmu maka yang zaman dahulu itu lebih banyak.Jadi yang banyak sekarang adalah ucapan manusia bukan ilmu, adapun zaman dahulu maka yang lebih banyak adalah qālallāh wa qāla rasul itu yang ada pada majelis-majelis ilmu zaman dahulu.Maka simpul yang keempat ini di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu kita harus kembali mau untuk mempelajari Al-Qur’an dan juga hadits, mempelajari Al-Qur’an kembali kepada Tafsir Al-Qur’an dan di sana ada kadar dari Al-Qur’an yang bagusnya dipelajari oleh seorang penuntut ilmu.Kalau tidak salah Syaikh Shaleh Al-Ushaimi pernah menyebutkan seseorang kalau ingin mempelajari Al-Qur’an atau Tafsir Al-Qur’an maka dia minimal mempelajari Tafsir Al-Baqarah, mempelajari sampai Tafsir Al-Baqarah dengan qisar al-mufashshal juz-juz yang terakhir kalau tidak salah dari surah Qof sampai akhir.Ini kalau kita mempelajarinya mempelajari Tafsirnya InsyaAllāh kita bisa memahami Al-Qur’an ini secara global apa yang ada di dalamnya kalau kita mempelajari Al-Fatihah Al-Baqarah kemudian beberapa juz yang terakhir dari Al-Qur’an, kita memahaminya maka InsyaAllāh ayat-ayat yang lain kita akan mudah juga untuk untuk memahaminya.

💬 0 komentar📅 26 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke enam “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah

Halaqah yang ke enam “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,أَنَّ الْحَنِيفِيَّةَ مِلَّةُ إِبْرَاهِيمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ، وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ،Ketahuilah, wahai pembaca, wahai pendengar, bahwasanya Al Hanifiyyah, agamanya Nabi Ibrahim adalah engkau menyembah Allah semata, mengikhlaskan untuk-Nya agama ini.Beliau ingin memberikan pengertian kepada kita tentang makna Al Hanifiyyah, yaitu agamanya Nabi Ibrahim.Kenapa demikian? Karena di dalam Al Qur’an, Allah Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang millah-nya Nabi Ibrahim.Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla telah mewajibkan semua manusia, baik orang Yahudi, orang Nasrani, kaum Muslimin, untuk mengikuti millah-nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (mengikuti agamanya Nabi Ibrahim), karena millah maknanya adalah agama.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ)[Surat An-Nahl 123]“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Wahai Muhammad), supaya engkau mengikuti millah-nya Nabi Ibrahim yang hanif.”Allah Subhānahu wa Ta’āla telah mewahyukan kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, diantaranya wahyu-Nya adalah supaya Beliau mengikuti millah-nya Nabi Ibrahim.Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan,(وَقَالُوا۟ كُونُوا۟ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ تَهۡتَدُوا۟ۗ[Surat Al-Baqarah 135]Orang-orang Yahudi mendakwahi orang lain supaya ikut masuk di dalam agamanya.“Hendaklah kalian menjadi orang Yahudi atau menjadi orang Nasrani, niscaya kalian mendapatkan petunjuk.”Kemudian Allah mengatakan,(قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡراهِـۧمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ)[Surat Al-Baqarah 135]“Katakanlah (Wahai Muhammad) justru (bahkan) kami mengikuti millah-nya Nabi Ibrahim yang hanif.”Menunjukkan kepada kita bahwasanya kita diperintahkan untuk mengikuti millah-nya Nabi Ibrahim, yang dinamakan dengan Al Hanifiyyah, yang berasal dari Al Hanif yang artinya adalah Mustaqim, yang artinya adalah lurus.Artinya, agama Al Hanifiyyah adalah agama yang lurus hanya kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla, berpaling kepada selain Allah Subhānahu wa Ta’ālaBeliau mengatakan,أَنْ تَعْبُدَ اللهَ، وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ،Yang dimaksud dengan millah-nya Ibrahim, yang kita diperintahkan untuk mengikuti millah ini, adalah engkau beribadah kepada Allah, وَحْدَهُ hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla, مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ mengikhlaskan agama ini hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak ada yang lain.Jadi kita diperintahkan untuk mengikuti millah-nya Nabi Ibrahim, artinya menjadi orang yang hanya mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla. Tidak menyerahkan setitik pun (sedikit pun) dari ibadah-ibadah yang diridhoi oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada selain Allah Subhānahu wa Ta’āla, siapa pun dia, baik itu orang yang agung, orang yang rendah, seorang Nabi, seorang malaikat, seorang wali, selain Allah adalah makhluk.Dan ibadah adalah hak istimewa hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla.Kemudian beliau mengatakan,وبذلك أمر الله جميع الناس وخلقهم لهاDan dengan hal ini pula, Allah Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan manusia.Dengan ibadah ini (mengesakan Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam ibadah ini), Allah Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan manusia.Sebagaimana firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)[Surat Al-Baqarah 21]“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”Ini adalah perintah pertama di dalam Al Qur’an yang disebutkan di dalam surat Al Baqarah.Perintah pertama di dalam Al Qur’an yang Allah sebutkan adalah perintah untuk bertauhid.Menyembah Allah semata, menyerahkan ibadah hanya kepada Allah semata.یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُWahai manusia, hendaklah kalian menyembah kepada Rabb kalian. Siapa Rabb kalian? Yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian. Dialah Rabb yang berhak untuk disembah.Kemudian beliau mengatakan,وخلقهم لهاDan Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menciptakan mereka untuk ibadah ini.Manusia dan juga jin diciptakan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan maksud. Bukan diciptakan begitu saja, tanpa ada maksud (hikmah).Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menyebutkan di dalam Al Qur’an tentang hikmahnya.كَمَا قَالَ تَعَالَى:Sebagaimana firman Allah Subhānahu wa Ta’āla.(وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ)[Surat Adh-Dhariyat 56]“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan juga manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.”Ini adalah hikmah diciptakannya jin dan manusia, tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla

💬 0 komentar📅 26 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Oktober 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 5: Simpul 03 – Mengumpulkan Seluruh Keinginan Jiwa untuk Ilmu

Halaqah 5:Simpul 03 – Mengumpulkan Seluruh Keinginan Jiwa untuk Ilmu📚 Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm✒️ Karya: Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi حفظه لله تعالى🎙Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىالمعقد الثالثSimpul yang ketiga di antara 20 simpul yang disebutkan di dalam kitab ini adalahجمع همة النفس عليهMengumpulkan keinginan jiwa, jiwa kita ini punya banyak keinginan ingin itu ingin ini ingin mobil ingin berkeluarga ingin anak dan seterusnya, kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus mengagungkan ilmu di antara bentuk pengagungan ilmu kita harus kumpulkan keinginan-keinginan / himmah-himmah tadi kita kumpulkan pada ilmu tadi, ini bentuk bahwasanya kita benar-benar mengagungkan terhadap ilmu tadi sampai keinginan-keinginan tadi kita kesampingkan kita kumpulkan semuanya kepada ilmu.تُجمع الهِمَّة علىٰ المطلوب بتَفقُّد ثلاثة أموأمورDikumpulkan keinginan untuk mendapatkan ilmu tadi dengan kita memperhatikan tiga perkaraأوَّلِها: الحرص علىٰ ما ينفع، فمتىٰ وُفِّق العبد إلىٰ ما ينفعه حَرَص عليهBagaimana kita bisa mendatangkan keinginan yang besar tadi bagaimana kita bisa mengumpulkan keinginan tadi untuk semuanya dikerahkan mendapatkan ilmu, caranya adalah kita harus bersemangat untuk mendapatkan yang bermanfaat, kita harus tahu bahwasanya ilmu itu adalah bermanfaat bagi kita di dunia dan juga di akhirat, kalau kita mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat maka kita akan bersemangat untuk mendapatkannya, sebagaimana dalam ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu.Maka seorang hamba yang diberikan Taufik untuk mengetahui apa yang bermanfaat baginya dia harus bersemangat untuk mendapatkannya. Kalau antum tahu bahwasanya ilmu ini adalah yang membawa kebaikan kita di dunia dan juga di akhirat maka kita harus semangat untuk mendapatkan ilmu tersebut.Ini yang pertama caranya adalah dengan mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat dan tidak ada yang lebih bermanfaat daripada ilmu agama. Kemudian yang keduaثانيها: الاستعانة بالله ﷻ في تحصيلهKita harus meminta kepada Allāh ﷻ pertolongan untuk mendapatkannya, jangan hanya sekedar semangat untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat tapi kita harus memohon pertolongan kepada Allāh ﷻ.Tunjukkan bahwasanya antum benar-benar ingin mendapatkan ilmu dengan cara meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ, Ya Allāh ﷻ tolonglah saya untuk mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat. Ketika antum berdoa dan mengatakan Ya Allāh ﷻ mudahkanlah saya dalam menuntut ilmu itu menunjukkan bahwanya antum punya keinginan yang besar untuk mendapatkan ilmu, tapi kalau antum jarang meminta kepada Allāh ﷻ jarang mengatakanاللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًاatau seandainya dia mengucapkan begitu saja tanpa dia memahami maknanya berarti mana hal yang menunjukkan bahwasanya antum menginginkan ilmu tersebut.Seorang penuntut ilmu harusnya sering dia Isti’anah dan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ dalam menuntut ilmu agama.ثالثِهاYang ketigaعدم العجز عن بلوغ البُغية منهJangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya, sebelum kita mendapatkan ilmu jangan kita lemah dan merasa tidak bisa mendapatkan ilmu tersebut.Seseorang harus memiliki husnudzon kepada Allāh ﷻ dan jangan dia merasa lemah, mungkin karena sakit kemudian dia lemah tidak mau menuntut ilmu padahal cuma sakit ringan saja atau dia kesulitan dalam masalah ekonomi kemudian dia mundur ke belakang, sudah ana mau berkebun saja atau karena jauh tempatnya kemudian dia beralasan karena jauh kemudian akhirnya dia mundur tidak jadi menuntut ilmu, ini namanya lemah, jangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya.وقد جُمِعت هٰذه الأمورُ الثَّلاثة في الحديث الَّذي رواه مسلم عن أبي هريرة أن الني صلى الله عليه وسلم قال: احرِص علىٰ ما ينفعك، واستعنْ بالله ، ولا تَعْجِزْDan telah dikumpulkan tiga perkara ini di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam mengatakan hendaklah engkau semangat di dalam perkara yang bermanfaat untukmu dan memohonlah pertolongan kepada Allāh ﷻ dan janganlah engkau lemah.Ini dikumpulkan dalam satu hadits, punya semangat terhadap perkara yang bermanfaat bagimu kemudian kita iringi dengan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ kemudian jangan kita lemah, lemah karena ekonomi lemah karena kejauhan lemah karena mungkin sakit dan seterusnya, kita harus punya semangat untuk sampai kepada ilmu tersebut.وقال ابن القيِّمBerkata Ibnul Qoyyimإِذَا طَلَعَ نَجْمُ الهِمَّةِ فِي ظُلُمَاتِ لَيْلِ البَطَالَةِ، وَرَدِفَهُ قَمَرُ العَزِيمَةِ، أَشْرَقَتِ الأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَاApabila muncul bintang al-himmah (keinginan yang kuat), kalau sudah muncul keinginan yang kuat untuk mendapatkan ilmu di dalam kegelapan kerusakan dan juga kesibukan dengan suatu yang tidak bermanfaat, muncul tiba-tiba keinginan yang kuat, sebelumnya kita berada di dalam kegelapan kebodohan, kalau sudah muncul keinginan yang kuat ditambah lagi di sana ada ‘azimah, ada himmah dan juga ada ‘azimah, ada keinginan yang besar untuk mendapatkan sesuatu yang mulia tadiأشرقت الأرض بنور ربِهّاmaka akan bercahaya bumi ini dengan cahaya Rabbnya, yaitu dengan ilmu.Maksud beliau di sini adalah kalau kita memang punya keinginan yang kuat maka kita akan mendapatkan InsyaAllāh apa yang kita inginkan.وإنَّ ممَّا يعلي الهِمَّة ويسمو بالنَّفس: ٱعتبارَ حال مَن سبق، وتعرُّفَ هِمم القوم الماضينKemudian beliau menyebutkan disini bagaimana cara kita untuk mendapatkan semangat yang kuat, bagaimana supaya kita bisa mengumpulkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu sehingga tidak bercabang keinginan, caranya di antaranya adalah dengan kita mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum kita, kisah-kisah mereka bagaimana mereka menuntut ilmu agama kita mengetahui tentang himmah-himmah mereka orang-orang yang sudah berlalu.Kemudian beliau menyebutkan beberapa contohفأبو عبد الله أحمد ابن حنبلٍ كان – وهو في الصِّبا – ربَّما أراد الخروج قبل الفجر إلىٰ حِلَق الشيوخ، فتأخذ أُمُّه بثيابه وتقول – رحمة به: حتىٰ يُؤَذِّنَ النَّاس أو يُصبحواDahulu Imam Ahmad ibn Hanbal Abu Abdillah dan beliau saat itu masih kecil terkadang beliau ingin keluar dari rumahnya sebelum subuh, sebelum subuh itu sudah ingin keluar dari rumahnya, untuk menuju ke majelis-majelis Syaikh, mungkin saat itu masih kecil tapi sudah memiliki keinginan yang kuat ingin tahu ingin menghafal hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam.Maka ibu beliau memegang pakaian beliau dan mengatakan dengan kasih sayang, maksudnya adalah ingin karena perasaan beliau sebagai seorang ibu menyayangi anaknya, beliau mengatakan sampai adzan atau sudah masuk waktu pagi baru engkau keluar, beliau tidak melarang anaknya untuk menuntut ilmu tapi kasihan sebelum subuh sudah pergi, beliau bilang sampai adzan kalau sudah adzan silakan pergi atau masuk waktu pagi silahkan mendatangi majelis-majelis ilmu tersebut.Itu Al Imamu Ahmad ibn Hanbal bagaimana beliau bisa sampai menjadi seorang imam besar, demikian semangat beliau datang majelis ilmu sebelum datang gurunya dia sudah semangat untuk mendatangi majelis tersebut. Jangan kita berlambat-lambat dalam menghadiri majelis ilmu.وقرأ الخطيب البغداديُّ صحيح البخاري كلَّه علىٰ إسماعيل الحِيريِّ في ثلاثة مجالسَAl-Khatib Al Baghdadi (ini menunjukkan bagaimana semangat mereka untuk mendapatkan ilmu) membaca Shahih Al-Bukhari semuanya kepada Ismail Al-Hiyriy dalam tiga majelis sajaٱثنان منها في ليلتن من وقت صاة المغرب إلىٰ صاة الفجرTiga majelis dua diantaranya ada di dua malam dari semenjak shalat magrib sampai shalat fajar, baca terus baca Shahih Al-Bukhari ini yang dinamakan dengan qira’ah yaitu membaca kitab tersebut kepada gurunya, mungkin jarang disyarah tapi membaca saja sekedar membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam meskipun tidak disyarah oleh gurunya itu sudah besar pengaruhnya terhadap keimanan seseorang. Kemudian di hari yang ketigaواليوم الثَّالث من ضحوة النَّهار إلىٰ صاة المغربdari siang hari sampai shalat magribومن المغرب إلىٰ طلوع الفجرditambah lagi majelisnya dari maghrib sampai subuh.Jadi hari yang ketiga lebih panjang lagi, dari dzuhur sampai maghrib dilanjutkan lagi dari maghrib sampai terbit fajar. Ini kalau sudah semangat dalam hati mereka membara maka tidak ada yang menghalangi mereka, mereka berusaha untuk mengkhatamkan membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam tadi dalam waktu yang sangat singkat yang mungkin tidak dibayangkan oleh sebagian dari kita.وكان أبو محمَّدٍ ابنُ التَّبَّانِ أوَّلَ ٱبتدائه يدرس اللَّيل كلَّهSeorang ulama yang bernama Abu Muhammad Ibnu Tabban di awal beliau belajar, beliau belajar agama di seluruh malamفكانت أُمُّه ترحمهIbunya sayang kepada beliauوتنهاه عن القراءة باللَّيلkemudian melarang dia untuk membaca di malam hari, karena zaman dahulu sangat terbatas sekali cahaya di malam hari, bisa merusak matanyaفكان يأخذ المصباح ويجعله تحت الجَفنةkarena beliau semangat untuk mendapatkan ilmu tidak tenang dia untuk tidur begitu saja tanpa membaca, maka apa yang beliau lakukan supaya bisa membaca padahal Ibunya sudah melarang, beliau mengambil lampu kemudian beliau taruh itu di bawah al-jafnah (bejana yang besar) sehingga tidak kelihatanويتظاهر بالنَّومkemudian dia pura-pura tidurفإذا رقدتkalau Ibunya sudah tidurأخرج المصباح وأقبل علىٰ الدَّرسmaka beliau pun mengeluarkan lampu tadi kemudian beliau pun belajar sehingga ibunya tidak melihat dia dalam keadaan belajar, ini tidak mungkin bisa terjadi kecuali bagi orang yang memiliki semangat yang kuat di dalam menuntut ilmu, dia merasa tenang dan merasa lezat di malam tersebut ketika dia membaca dan ketika dia menghafal ilmu tersebut.فكن رجاً رِجْلُه على الثَّرىٰ ثابتةMaka hendaklah engkau menjadi seorang laki-laki yang kakinya berada di atas bumi dalam keadaan kokohوهامةُ همته فوق الثُّرياdan dia memiliki keinginan yang tinggi yang lebih tinggi daripada tsurayya (nama bintang), menjadi orang yang kokoh di atas bumi dan keinginan dia lebih tinggi daripada bintangسامقةdalam keadaan tinggiولا تكن شابَّ البدن أشيبَ الهِمَّةJangan engkau menjadi seorang yang badannya saja yang mudah tetapi keinginannya adalah keinginan seorang yang sudah tua, jangan engkau menjadi seseorang yang punya badan yang muda tetapi keinginannya sudah tua yaitu sudah lemah padahal dia memiliki badan yang kekarفإنَّ هِمَّة الصَّادق لا تشيبkarena himmah dan juga keinginan yang tinggi dari orang yang jujur, orang yang jujur keinginannya tadi yang mengumpulkan keinginan-keinginan dia tadi, maka itu tidak akan menjadi tua.Jadi orang yang jujur dalam keinginannya meskipun rambutnya ini beruban dan kulitnya sudah mulai berubah tapi kalau dia adalah orang yang jujur maka itu tidak akan merubah himmahnya, sampai tua pun dia akan menuntut ilmu.كان أبو الوفاء ابن عَقيل – أحدُ أذكياءِ العالم من فقهاء الحنابلة – يُنشِد وهو في الثمانينDahulu Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil beliau adalah salah seorang di antara orang-orang yang cerdas di antara ahli fiqih mazhab Hanbali, beliau pernah membuat syair dan umur beliau adalah 80 tahun, kata beliauما شاب عزمي ولا حزمي ولاخُلُقيولا ولائي ولا ديني ولا كرميKeinginanku tidak menjadi tua, aku memang sudah tua umurku sudah 80 tahun tapi keingananku tidak menjadi tuaولا حزميdan juga ketegasanku (keinginanku yang kuat tekadku yang kuat) tidak menjadi tua karena tubuhku yang sudah tuaولاخُلُقيdan juga akhlakku tidak berubahولا ولائيdemikian pula loyalitasku, terhadap agama iniولا دينيdan juga agamaku, ibadahkuولا كرميdemikian pula kemurahanku, infaqku tidak berubah karena beliau sudah tuaوإنمَّا ٱعتاض شعري غيرَ صِبغتهYang terjadi adalah rambutku saja itu berubah warnanya, yang sebelumnya hitam menjadi putihوالشَّيبُ في الشَّعر غيرُ الشَّيب في الهِممِdan menjadi putihnya rambut itu lain dengan menjadi tuanya tekad yang kuat.Artinya beliau di sini mengingatkan bahwasanya meskipun ana sudah tua rambutku sudah beruban dan kulitku sudah berubah tapi itu hanya dzahirnya saja, adapun semangatku masih seperti dahulu ibadahku agamaku loyalitasku terhadap agama ini akhlakku tekadku yang kuat itu masih seperti ketika dahulu aku masih muda.Ini menunjukkan kepada kita keharusan kita untuk mengumpulkan keinginan kita untuk ilmu ini supaya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu ini.

💬 0 komentar📅 23 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke lima “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke lima “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,وَإِذَا أذنَبَ اسْتَغْفَرَ“Dan apabila dia berdosa, maka dia beristighfar.”Beristighfar kepada Allah, memohon ampun kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla atas dosa yang telah dilakukan.Dan makna istighfar mengandung dua perkara:1. Memohon kepada Allah supaya ditutupi dosa tersebut. Karena اسْتَغْفَرَ berasal darikata غَفَرَyang artinya adalah menutupi.Ketika seseorang mengatakan ‘astagfirullah’, berarti dia telah memohon kepada Allah, supaya Allah Subhānahu wa Ta’āla menutupi dosanya. Ditutupi kemaksiatan yang dia lakukan dari mata manusia, sehingga tidak diketahui, sehingga tidak terbongkar kemaksiatan tersebut.Seorang yang mengatakan ‘astagfirullah’ maka dia telah memohon kepada Allah supaya dosanya ditutupi oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.2. Memohon supaya dosanya dihapus, sehingga dosa yang sudah ditulis oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla tersebut dihapus dari catatan amalnya sehingga kelak di hari kiamat tidak akan diadzab oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan sebab dosanya.فَإِنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثُ عُنْوَانُ السَّعَادَةِKarena sesungguhnya tiga perkara ini adalah alamat atau ciri-ciri dari kebahagiaan.Orang yang bahagia adalah orang yang apabila diberi bersyukur, dan apabila mendapatkan musibah dia bersabar, dan apabila dia berdosa, dia beristighfar kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Kemudian beliau mengatakan,اعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِKetahuilah, semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan petunjuk kepadamu kepada ketaatan.Beliau rahimahullah kembali mendo’akan kepada kita supaya Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan petunjuk kepada kita kepada ketaatan, yaitu mengilmui kebenaran dan mengamalkan kebenaran tersebut.

💬 0 komentar📅 23 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 105 - Dalil Pertama

Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang AsingDalil Pertama (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaPembahasan Dalil Pertama pada judul bab Bab Apa-Apa yang Datang Berupa Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang Asing (Bab Ma Ja'a fi Ghurbatil Islam wa Fadhlil Ghuraba'). ​Penjelasan Surat Hud ayat 116 mengenai keberadaan kelompok orang shaleh dan mushlih (yang memperbaiki orang lain) dari umat-umat terdahulu yang jumlahnya sedikit (qalil), serta keutamaan mereka yang diselamatkan oleh Allah ﷻ dari azab. ​فَلَوْلَا كَانَ مِنَ القُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الفَسَادِ فِي الأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْArtinya (Al-Muyassar): “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kalian orang-orang yang memiliki kebaikan yang melarang dari kerusakan di bumi, kecuali sedikit dari orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.”(QS. Hud:116)Menerangkan bahwa dari umat-umat terdahulu yang mengikuti ajaran Islam para nabi sebelum Nabi Ṣallallāhu ‘Alayhi Wa-sallam, orang-orang yang mencegah dari kerusakan itu jumlahnya sedikit (ghuraba'), dan merekalah orang-orang yang diselamatkan oleh Allah Subḥānahu wataʿālā.Kondisi Umat Terdahulu pada Surat Hud Ayat 116Berdasarkan Tafsir Al-Muyassar, ayat ini menjelaskan bahwa pada abad-abad/generasi terdahulu, ada sebagian orang-orang baik (ahlu khair wa shalah) yang melarang kekufuran dan kerusakan di bumi (yanhauna 'anil fasadi fil ardhi).Namun, jumlah orang-orang shaleh yang juga mushlih (melakukan amar ma'ruf nahi mungkar, melarang kesyirikan, kemaksiatan, dan kebid'ahan) tersebut jumlahnya sangat sedikit (illa qalilan).Sisi Pendalilan (Syahid) AyatPotongan ayat إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ menunjukkan dua hal:​Keasingan (Ghurbah): Orang yang berpegang teguh pada ajaran Islam murni yang dibawa oleh para nabi/rasul terdahulu dan melarang dari kerusakan jumlahnya sedikit (qalil).Keutamaan (Fadhlul Ghuraba'): Keutamaan orang-orang yang sedikit dan asing tersebut adalah mereka diselamatkan (anjaina) oleh Allah ﷻ dari azab-Nya.Dorongan (Hast) Bagi Umat IslamAyat ini memberikan dorongan agar kita berpegang teguh pada ajaran Islam di tengah-tengah manusia yang mulai tidak komitmen/konsekuen dengan Islam. Jika ingin selamat dari azab Allah ﷻ sebagaimana ghuraba' pada umat terdahulu, kita harus menjadi bagian dari orang-orang yang berpegang teguh pada Islam dan terus melakukan amar ma'ruf nahi mungkar.Kesimpulan Jumlah orang yang tetap istiqamah berpegang pada Islam murni serta ber-amar ma'ruf nahi mungkar di tengah kerusakan zaman senantiasa sedikit (ghuraba').​Kunci keselamatan dari azab Allah ﷻ di dunia dan akhirat adalah dengan menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang sedikit dan asing tersebut (al-ghuraba').

💬 0 komentar📅 23 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Oktober 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 105 | Aqidah Ahlus Sunah Tentang Orang-Orang Yang Berbuat Dosa Dari Kaum Mukminin

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-105 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَنَسْتَغْفِرُ لِمُسِيئِهِمْBagaimana dengan orang yang berbuat jelek di antara mereka, yaitu berbuat dosa? Apa yang kita lakukan? Apa yang menjadi sikap Ahlussunnah wal Jama’ah?نَسْتَغْفِرْ لَهُمْ — kita memohonkan ampun untuk orang yang berbuat jelek di antara kita, yang belum istiqomah, karena Allāh ﷻ mengatakanوَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ(QS. Muhammad (47): 19)Hendaklah engkau memohonkan ampun untuk dosamu dan juga untuk orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun wanita.Selama mereka adalah saudara kita, maka kita doakan dengan kebaikan, dengan istighfar:اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِAtau berdoa:رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.mendoakan untuk orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun wanita. Ini Ahlussunnah wal jama’ah demikian mereka bersikap, memohonkan ampun untuk saudara-saudaranya meskipun terkadang saudara-saudara mereka tidak menyadari yang demikian dan membenci Ahlussunnah wal jama’ah karena misalnya dinasehati.Adapun Ahlussunnah, maka memohonkan ampun, “Yā Allāh, ampuni mereka. Yā Allāh, kembalikan mereka kepada-Mu. Berikan mereka hidayah.”وَنَخَافُ عَلَيْهِمْDan Ahlussunnah wal Jama’ah merasa takut atas mereka. Kita khawatir mereka ditimpa musibah di dunia dan juga azab di akhirat. Kita khawatir.Sehingga kita pun mendakwahi mereka, menyadarkan mereka, mengingatkan mereka tentang kesyirikan, mengingatkan mereka tentang bid’ah. Karena kita khawatir atas mereka, mereka saudara kita, karena adzab di akhirat itu adalah adzab yang pedih. Dan mungkin seseorang tertimpa azab di dunia karena sebab dosa yang dilakukan.Sehingga bukan hanya memohonkan ampun saja, tapi ada usaha dari kita untuk mendakwahi mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa kita ini khawatir atas mereka.وَلَا نُقَنِّطُهُمْDan kami Ahlussunnah wal Jama’ah tidak menjadikan mereka putus asa.Senantiasa kita berikan harapan. Kami khawatir mereka terkena musibah, tetapi kita pun juga memberikan harapan. Kalau mereka bertaubat kepada Allāh sekarang, maka Allāh ﷻ akan mengampuni dosa semuanya. Kalau dia bertaubat dari semua dosa dengan taubat yang nasūhā, maka Allāh ﷻ akan mengampuni dosa mereka semuanya.Maka, Ahlussunnah menggabungkan antara baiknya lisan mereka, yaitu mereka mengucapkan istighfar untuk orang-orang yang jelek di antara mereka, orang-orang yang berbuat dosa di antara mereka. Kemudian juga mereka memiliki rasa kekhawatiran, memiliki kasih sayang kepada mereka, sehingga khawatir kalau mereka terkena azab di dunia maupun di akhirat.Di sisi yang lain, mereka tidak menjadikan orang-orang yang melakukan dosa tadi berputus asa dari rahmat Allāh. Senantiasa kita berikan harapan. Jangan putus asa.Rahmat Allāh itu luas. Di antara nama Allāh adalah Ar-Raḥmān. Di antara nama Allāh adalah Ar-Raḥīm.Jangankan dosa-dosa besar, seandainya seseorang melakukan dosa syirik kemudian dia bertaubat, Allāh ﷻ akan mengampuni dosanya. Apalagi dosa-dosa yang lebih rendah daripada itu.Maka, kita sebagai Ahlussunnah tidak boleh menjadikan orang lain putus asa. Kita berikan mereka harapan. Allāh masih memberikan waktu, masih memberikan umur panjang. Allāh mempertemukan dia dengan kita. Semoga ini adalah kehendak baik dari Allāh ﷻ supaya dia mendengar nasihat kita.Allāh ﷻ berfirman:إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَSesungguhnya tidak merasa putus asa dari jalan keluar yang Allāh berikan kecuali orang-orang yang kafir.(QS. Yūsuf: 87)Orang-orang kafir, merekalah yang mudah putus asa karena mereka tidak bergantung kepada Allāh, tidak menyembah kepada Allāh.Adapun orang Islam, maka dia mengetahui tentang kekuasaan Allāh, sehingga dia tidak putus asa dari rahmat Allāh dan jalan keluar yang Allāh berikan.Allāh ﷻ juga berfirman:وَمَا يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَDan tidaklah putus asa dari rahmat Rabb-nya kecuali orang-orang yang sesat.(QS. Al-Ḥijr: 56)Adapun orang yang beriman, yang tiap hari dia membaca Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm, mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka dia tidak akan berputus asa dari rahmat Allāh ﷻ.Dalam firman-Nya yang lain, Allāh ﷻ berfirman:قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًاWahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni semua dosa.(QS. Az-Zumar: 53)Inilah yang diajarkan dalam agama kita. Orang yang berbuat baik, kita berharap dan kita berhusnuzan, semoga Allāh ﷻ menjadikan mereka penduduk Surga.Dan tidak boleh kita merasa aman atas mereka, sehingga terus kita berikan mereka nasihat, kita ingatkan mereka. Dan tidak boleh kita bersaksi bahwa mereka adalah penduduk Surga. Maksudnya di sini adalah secara personal, secara individu. Misalnya, “Si Fulan termasuk penduduk Surga.” Ini tidak boleh.Tetapi kalau secara umum, tidak masalah mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa, mereka akan masuk ke dalam Surga.”Allāh ﷻ berfirman:أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَSurga disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.(QS. Āli ʿImrān: 133)Tidak masalah, juga mengatakan:وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢOrang yang beriman dan beramal shalih akan Kami masukkan ke dalam Surga.(QS. An-Nisā’: 122)tidak masalah.

💬 0 komentar📅 23 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Oktober 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 104 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang Asing

Halaqah 104Bab 12 - Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang Asing(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'āla"Bab Apa-Apa yang Datang Berupa Keasingan Islam dan Keutamaan Orang-Orang yang Asing" (Bab Ma Ja'a fi Ghurbatil Islam wa Fadhlil Ghuraba'). ​Penjelasan makna keasingan Islam, keutamaan orang-orang yang terasing karena Islam (Al-Ghuraba'), serta hubungan (korelasi) bab ini dengan bab-bab sebelumnya.Seseorang menjadi asing karena ia berpegang teguh pada Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ di tengah-tengah manusia yang amalan agamanya telah bercampur dengan berbagai bentuk bid'ah dan hawa nafsu.Hubungan (Korelasi) dengan Bab Sebelumnya:​Pada bab-bab sebelumnya dijelaskan dalil-dalil yang memerintahkan untuk terus istiqamah di atas Islam yang murni dan menjauhi bid'ah.​Bab ini dibawakan sebagai dorongan/motivasi (mendorong kita) agar tetap istiqamah. Sebab, berpegang teguh pada Islam yang murni di tengah mayoritas orang yang tidak istiqamah akan menimbulkan keasingan.​Penulis membawa bab ini untuk menegaskan bahwa meskipun berada dalam kondisi asing dan penuh tantangan, Allah ﷻ memberikan keutamaan yang besar bagi orang-orang yang terasing demi berpegang pada Islam yang murni.Kesimpulan / Faedah Penting​Istiqamah berpegang teguh pada Islam yang murni di tengah maraknya bid'ah dan hawa nafsu akan menyebabkan seseorang menjadi asing (ghuraba').​Keasingan karena menjalankan Islam bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan atau membuat patah semangat, sebab Allah ﷻ telah menyiapkan keutamaan dan pahala khusus bagi orang-orang yang tetap istiqamah dalam keasingan tersebut.

💬 0 komentar📅 22 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Oktober 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke empat “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Halaqah yang ke empat “Penjelasan Kitab Al Qawa’idul Arba'” karangan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ“Dan semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau (wahai pembaca, wahai pendengar) menjadi orang yang berbarokah di manapun engkau berada.”Dan ini juga do’a yang sangat agung. Beliau mendo’akan untuk kita supaya kita menjadi orang yang berbarokah.Artinya berbarokah adalah banyak kebaikan, bisa memberikan manfaat.Memiliki banyak kebaikan dan kebaikan tersebut langgeng dan terus menerus bersama kita.Dan orang yang berbarokah maka ini adalah orang yang banyak kebaikannya.Memberikan kebaikan tersebut kepada diri sendiri maupun orang lain.Ketika dia memiliki ilmu dan dia adalah orang yang berbarokah, bermanfaat ilmu yang dia miliki baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.Ketika Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan keluasan berupa rezeki, bermanfaat rezeki tersebut untuk dirinya dan juga untuk orang lain yang ada di sekitarnya.Apabila dia seorang penguasa (pejabat), bermanfaat kekuasaannya (jabatannya) untuk dirinya dan juga untuk orang lain yang ada di sekitarnya.Dia memiliki kebaikan yang banyak dan kebaikan tersebut adalah kebaikan yang langgeng.Beliau mengatakan,وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ“Dan semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau berbarokah, di manapun engkau berada.”Baik di dalam rumah, ketika keluar rumah. Baik ketika bersama keluarga maupun bersama orang lain. Baik bersama bawahannya maupun dengan teman-temannya. Menjadikan seseorang menjadi orang yang berbarokah. Tidak ada orang yang duduk (dekat) dengannya kecuali dia mengambil faidah dari dirinya.Kemudian beliau mengatakan,وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ،“Dan semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau termasuk orang yang apabila diberi maka dia bersyukur,”وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ،“dan apabila diberikan ujian menjadi orang yang bersabar,”وَإِذَا أذنَبَ اسْتَغْفَرَ“dan apabila dia berdosa maka dia beristighfar.”. فَإِنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثُ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ.“Karena sesungguhnya tiga perkara ini adalah termasuk tanda-tanda kebahagiaan.”Ini adalah do’a yang lain, yang beliau panjatkan kepada Allah untuk kita. Beliau berdo’a supaya kita termasuk orang yang apabila diberi, bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla, diberikan kenikmatan, diberikan karunia, sekecil apapun kenikmatan tersebut.Beliau berdo’a kepada Allah supaya kita termasuk orang yang bersyukur apabila diberikan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.Dan beliau berdo’a supaya apabila kita terkena musibah, maka kita termasuk orang yang bersabar.Dan apabila kita berdosa atau melakukan maksiat kepada Allah, melakukan dosa, maka kita termasuk orang-orang yang beristighfar kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Beliau menyebutkan tiga perkara. Dan tidak terlepas keadaan kita dari salah satu diantara tiga perkara ini.Seorang manusia di dalam kehidupannya terkadang mendapatkan kenikmatan. Maka kewajiban dia saat itu adalah bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla. Seorang yang tidak bersyukur, maka cepat atau lambat Allah akan mengambil kenikmatan tersebut. Tapi orang yang bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla, maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan menambah kenikmatan di atas kenikmatan.لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ[Surat Ibrahim 7]Apabila engkau bersyukur, mengakui bahwasanya kenikmatan ini dari Allah, bersyukur dengan lisannya, menggunakan kenikmatan ini di dalam perkara yang diridhoi oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla, maka Allah menjanjikan akan menambah kenikmatan tersebut. Ditambah kenikmatan di atas kenikmatan.Dan apabila engkau kufur kepada Allah, mendapatkan kenikmatan akan tetapi mengingkari bahwasanya itu dari Allah Subhānahu wa Ta’āla, menganggap bahwasanya kenikmatan itu berasal dari dirinya, dari ilmu yang dia miliki, dari usaha yang dia kerjakan, lupa bahwasanya Allah Subhānahu wa Ta’āla yang telah memberikan kenikmatan tersebut dan memudahkan dia untuk mendapatkan kenikmatan tersebut.Apabila engkau kufur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla, maka ketahuilah bahwasanya adzab Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah adzab yang sangat pedih. Ini adalah akibat dari orang yang kufur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Seseorang ketika diberikan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kenikmatan, maka kewajiban dia adalah bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla. Dan apabila mendapatkan musibah, maka hendaklah dia bersabar kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Seseorang tidak lepas di dalam kehidupannya, terkadang mendapatkan kenikmatan, dan terkadang dia mendapatkan musibah. Maka kewajiban dia ketika mendapatkan musibah adalah bersabar. Beriman bahwasanya ini semua adalah takdir dari Allah Subhānahu wa Ta’āla. Sudah ditulis oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla, bahkan sudah sejak lama, 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi. Langit dan bumi telah diciptakan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla dalam waktu yang sudah cukup lama. Dan ditulisnya takdir sebelum diciptakan langit dan bumi 50.000 tahun.Telah ditulis oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kenikmatan yang akan diterima oleh seseorang, umurnya, rezekinya, termasuk diantaranya adalah musibah. Dan tidak mungkin apa yang sudah ditulis oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla luput dari seseorang. Oleh karena itu seseorang ketika ditimpa musibah, baik di dalam dirinya, hartanya, keluarganya, ataupun yang lain, maka hendaklah dia ingat dan beriman bahwasanya ini semua sudah ditulis oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla dan harus terjadi.Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, beriman dengan takdir, dan mengetahui bahwasanya ini adalah termasuk takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla, ketika terjadi musibah, maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan hidayah. Memberikan hidayah kepada hatinya, memberikan ketenangan di dalam menghadapi musibah tersebut, bagaimanapun besar musibah tersebut.وَمَن یُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ یَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ[Surat At-Taghabun 11]Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan hidayah (petunjuk) kepada hatinya.

💬 0 komentar📅 22 Okt 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Oktober 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

SIPKKTI Halaqah 4

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثانيSimpul yang kedua di antara simpul-simpul yang dengannya insyaAllah kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, yaitu denganإخلاص النية فيهmengikhlaskan niat di dalam ilmu, فيه di sini kembali kepada ilmu, mengikhlaskan niat untuk Allāh ﷻ, ilmu ini adalah sesuatu yang mulia maka di antara bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu hendaklah niat kita di dalam mencari ilmu tersebut adalah karena Allāh ﷻ bukan karena makhluk, karena kalau kita niatnya adalah karena dunia berarti kita menghinakan ilmu, ilmu ini Mulia, kalau kita niatnya mencari ilmu tersebut untuk mencari sesuatu yang hina berarti kita menghinakan ilmu, tapi kalau niat kita di dalam menuntut ilmu adalah ingin surganya Allāh ﷻ ingin dimuliakan oleh Allāh ﷻ ingin diberi ganjaran oleh Allāh ﷻ berarti kita telah ikhlas di dalam menuntut ilmu tersebut, ini termasuk pengangungan kita terhadap ilmu.إنَّ إخلاصَ الأعمال أساسُ قَبولها، وسُلَّمُ وصولهاSesungguhnya keikhlasan di dalam beramal itu adalah pondasi untuk diterima, kalau tidak ikhlas maka amalannya tidak diterima oleh Allāh ﷻ, beliau menyebutkan di sini keutamaan-keutamaan ikhlas, dan dia adalah tangga supaya sampai kepada diterimanya amal, jadi pondasinya ikhlas tangganya juga keikhlasan dia harus ada dari awal maupun ketika berjalan amalan tersebut harus adaقال تعالىٰAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakanوَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ﴾ البينة: الآية 5Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allāh ﷻ, yaitu menyembah Allāh ﷻ dalam keadaan ikhlas dalam keadaan mentauhidkan Allah.وفي الصَّحيحينDi dalam Shahih Bukhari dan juga Muslimعن عمر رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الأعمال بالنِّيَّة ، ولكل ٱمرئٍ ما نوىٰBeliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan amalan itu adalah dengan niat dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Amalan itu harus dengan niat kalau niatnya adalah karena Allāh ﷻ maka dia mendapatkan pahala dan kalau niatnya bukan karena Allāh ﷻ maka dia tidak mendapatkan pahala dan bagi masing-masing apa yang dia niatkan kalau niatnya adalah menginginkan pahala dari Allāh subhanahu wa ta’ala maka dia akan mendapatkan pahala tersebut, tapi kalau yang dia niatkan adalah dunia maka baginya apa yang dia niatkan, dia tidak mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ tapi hanya mendapatkan dunia kalau Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki. Ini menunjukkan tentang kedudukan niat di dalam islamوما سبَق مَن سبَق، ولا وصَل من وصَل من السَّلف الصَّالحين، إلَّ بالإخلاص لله ربِّ العالمينTidaklah mendahului orang-orang yang terdahulu dan tidaklah sampai orang-orang yang sampai dari kalangan para Salafush shālihin kecuali karena keikhlasan mereka untuk Allāh ﷻ.Ini beliau masih menyebutkan tentang pentingnya ikhlas, ternyata orang-orang dahulu mereka sampai menjadi seorang ahli ibadah sampai menjadi seorang ahli fiqh ada yang ahlul hadits ada yang mereka dikenal dengan aqidahnya, tidaklah mereka sampai kepada keutamaan- keutamaan tersebut kecuali karena ikhlas, jadi jangan kita menyangka mereka sampai pada kedudukan-kedudukan tadi hanya sekedar dengan melakukan perjalanan hanya sekedar menghafal, tidaklah mereka sampai seperti itu kecuali karena di antaranya yang utama adalah karena mereka ikhlas di dalam beramal, mereka ikhlas di dalam menuntut ilmu karena mereka menganggungkan ilmu, karena niat mereka adalah karena Allāh ﷻ sehingga mereka akhirnya menjadi seorang ahli fiqh menjadi seorang ahlul hadits.قال أبو بكرٍ المرُّوذيُّ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :سمعت رجلاً يقول لأبي عبد الله يعني أحمدَ ابن حنبلٍ – وذكر له الصِّدق الإخلاص، فقال أبو عبد الله: بهٰذا ٱرتفع القومBerkata Abu Bakar Al-Marrudziy aku mendengar seseorang berkata kepada Imam Ahmad ibn Hanbal kemudian disebutkan kepada beliau tentang masalah kejujuran dan juga keikhlasan, yang dimaksud dengan kejujuran di sini adalah kejujuran dalam keinginan, orang yang keinginannya jujur maka dia akan kumpulkan keinginan tadi, dia akan kumpulkan segenap keinginan dia itu namanya sidq berarti dia jujur di dalam keinginannya. Al-ikhlas maksudnya adalah karena Allāh ﷻ, yaitu dia kumpulkan seluruh keinginan tadi untuk Allāh ﷻ, berarti ada shidq dia kumpulkan keinginan dia kemudian dia satukan semuanya untuk Allāh ﷻ dia ikhlaskan semuanya untuk Allāh ﷻ. Maka berkata Al Imam Ahmad ibn Hanbalبهٰذا ٱرتفع القومdengan sebab ini maka orang-orang tersebut ditinggikan oleh Allāh ﷻ. Mengapa ditinggikan Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’I, Abdullah bin Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, Asy-Syafi’I, Al-Imamu Malik, kita harus tahu bahwasanya mereka bisa tinggi sedemikian tingginya itu karena Ash-Shidq wal Ikhlas karena mereka dahulu mengumpulkan keinginan mereka, dikuatkan keinginan mereka dan mereka satukan itu dan mereka tujukan itu semuanya adalah lillāhi Rabbil ‘alamin sehingga Allāh ﷻ pun mengangkat derajat mereka.وإنَّما ينال المرءُ العلم علىٰ قدر إخلاصهSesungguhnya seseorang mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar keikhlasan dia, semakin dia ikhlas maka semakin dia mendapatkan ilmu dan semakin dia berkurang keikhlasannya maka akan semakin berkurang juga ilmu yang dia dapatkan. Sehingga seseorang harus berusaha dan ini adalah bentuk pengagungan dia terhadap ilmu supaya ketika dia mencari ilmu yang mulia ini yang berharga ini niatnya adalah untuk mendapatkan surga mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ bukan mendapatkan dunia.Kalau kita niatnya mendapatkan dunia maka berarti kita menghinakan ilmu dan kalau kita sudah menghinakan ilmu maka ilmu tidak akan mau tinggal bersama kita tidak mau tinggal bersama orang yang menghinakan dia, kita tidak bisa mempermainkan, ini sudah qaidah ini sudah prinsip yang demikian, orang yang mengagungkan ilmu maka ilmu akan mengagungkannya kalau kita menghinakan ilmu dengan cara niat kita adalah untuk dunia supaya dikenal supaya populer supaya mendapatkan harta dunia dengan ilmu tersebut maka ketahuilah dia tidak akan mendapatkan ilmu selama-lamanya meskipun dia duduk di majelis selama puluhan tahun, kalau memang niatnya dia adalah untuk dunia karena dia telah menghinakan ilmu itu sendiri.والإخلاص في العلم يقوم علىٰ أربعة أُصولIkhlas di dalam ilmu itu dibangun di atas empat pondasiبها تتحقَّق نيَّة العلم للمتعلِّم إذا قصدهاdengan empat perkara ini maka akan tercipta niat yang benar, kalau kita bisa mengatur sehingga niat kita adalah beberapa perkara ini berarti kita sudah mewujudkan keikhlasan di dalam menuntut ilmu.Yang pertama adalahالأوَّل: رفعُ الجهل عن نفسهNiat kita adalah ingin mengangkat kebodohan dari diri kita sendiriبتعريفها ما عليها من العبوديَّت، وإيقافها علىٰ مقاصد الأمر والنهيKita ingin mengangkat kebodohan dari kita sendiri, ana tidak ingin bodoh ana ingin punya ilmu kalau memang niat dia adalah demikian ingin menyelamatkan dia dari jurang kebodohan maka dia telah ikhlas dalam menuntut yaitu dengan mengenalkan diri kita ini apa yang menjadi kewajiban dia berupa ibadah-ibadah, karena dia diciptakan oleh Allāh ﷻ untuk beribadah maka dia kenalkan dirinya dia sayangi dirinya dia kenalkan dirinya dengan ibadah-ibadah tersebut dengan cara menuntut ilmu. Kemudian juga dia ingin menuntut ilmu dan juga ingin supaya jiwanya dan juga dirinya ini mengetahui tentang maksud-maksud dari perintah dan juga larangan, dia lebih ingin mendalami apa maksud dari perintah-perintah Allāh ﷻ dan juga larangan-larangan Allāh ﷻ, itu yang pertama.Kemudian yang kedua di antara niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalahالثاني: رفع الجهل عن الخلق؛ بتعليمهم وإرشادهم لما فيه صاح دنياهم وآخرتهمadalah dengan tujuannya ingin mengangkat kebodohan dari orang lain dengan cara mengajarkan mereka memberikan petunjuk kepada mereka kepada sesuatu yang di situ ada maslahat bagi mereka baik di dunia mereka maupun di akhirat mereka.Kalau tujuan kita adalah ana ingin nanti setelah ana belajar ana ingin memberitahu dan mengajarkan kepada anak, ana ingin memberitahukan ilmu ini kepada orang tua ana kepada tetangga ana maka ini adalah termasuk ikhlas, itu bukan termasuk riya itu termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.Yang ketigaالثَّالث: إحياء العلم، وحفظه من الضياعNiat kita adalah ingin menghidupkan ilmu, yang sebelumnya mati di sebuah masyarakat mereka tidak punya perhatian terhadap ilmu agama kemudian kita ingin menghidupkan ilmu tersebut dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita, inginnya adalah menghidupkan ilmu supaya dia tidak hilang dan tidak luntur maka ini juga termasuk niat yang ikhlas.Yang keempatالرَّابع: العمل بالعلمNiat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah ingin mengamalkan ilmu, kalau niatnya adalah ingin mengamalkan ilmu ana duduk di majelis ini supaya ana pulang dalam keadaan ana bisa mengamalkan apa yang ana dengar maka ini juga termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.ولقد كان السَّلف رحمهم ﺍﻟﻠﻪ يخافون فوات الإخلاص في طلبهم العلم، فيتورَّعون عن ٱدعائه، لا أنَّهم لا يحقِّقوه في قلوبهمDahulu para Salaf rahimahumullah mereka takut kalau sampai mereka tidak ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena kalau sampai tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka sudah capek-capek misalnya datang dari Baghdad menuju Yaman kalau tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka tidak mendapatkan ilmu tersebut, dan mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya sudah ikhlas, bukan berarti mereka tidak ikhlas tapi mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya mukhlis. Biasanya orang yang ikhlas demikian orang yang ikhlas takut dia untuk mengatakan dirinya adalah orang yang ikhlas bukan berarti dia tidak ikhlas.Mereka para Salaf kita jelas mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan kita mengetahui dari keilmuan mereka dan bagaimana umat ini mencintai mereka dan mengenal keshalehan mereka, kita berharap semoga mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh Allāh ﷻ karunia yang besar yaitu dengan keikhlasan.Beliau memberikan contoh disini ucapan dari Imam Ahmad ketika beliau ditanyaسئل الإمامُ أحمدُditanya Al Imamu Ahmadهل طلبت العلم لله؟apakah engkau mencari ilmu dulunya adalah karena Allāh ﷻفقال: لله عزيزbeliau mengatakan untuk Allāh ﷻ ini adalah perkara yang berat, yaitu untuk ikhlas karena Allāh ﷻ ini bukan perkara yang mudahولكنَّه شيءٌ حُبِّبَ إليَّ فطلبتُهakan tetapi ini adalah sesuatu yang aku senangi, yaitu mereka senang untuk menghafal mereka senang untuk berpikir tentang ilmuفطلبتُهmaka aku pun mencarinya.Bukan berarti ucapan Al Imamu Ahmad bin Hanbal di sini berarti beliau tidak ikhlas tapi mereka beliau dan juga para imam seperti beliau mereka wara’ sehingga mereka tidak berani untuk mentazkiyah diri mereka dan mengatakan kami adalah orang-orang yang ikhlas di dalam menuntut ilmu agama.ومن ضيَّع الإخلاص فاته علمٌ كثيرٌ ، وخيرٌ وفيرٌBarang siapa yang menyia-nyiakan keikhlasan maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak dan kebaikan yang banyak.Barang siapa yang menyia-nyiakan keikhlasan, dia tidak memperhatikan dirinya tidak memperhatikan niatnya di dalam menuntut ilmu dia biarkan begitu saja hadir ke majelis ilmu mendatangi majelis ilmu keluar dari majelis ilmu tapi dia tidak pernah memperhatikan apakah dia ikhlas atau tidak niatnya apa ini, maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak, dia tidak akan mendapatkan apa-apa.وينبغي لقاصد السَّامة أن يتفقَّد هٰذا الأصلMaka hendaklah orang-orang yang menginginkan keselamatan dia melihat pondasi ini hendaklah dia memperhatikan simpul ini, senantiasa memperhatikan bukan sekali dua kali tapi senantiasa dia memperhatikan dia tujuannya apa dalam menuntut ilmu agama ini karena Allāh ﷻ atau karena duniaوهو الإخلاصyaitu keikhlasanفي أموره كلِّها، دقيقِها وجليلِها، سرِّها و عَلَنِهاdi dalam seluruh perkaranya baik perkara yang kecil maupun perkara yang besar baik yang tersembunyi maupun yang dilihat oleh orang lain, apakah dia memperhatikan tentang masalah keikhlasan ini atau dia termasuk orang yang cuek dengan apa yang ada di dalam hati, kalau dia ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia punya perhatian yang besar tentang masalah niat ini.ويَحمِلُ علىٰ هٰذا التَّفقُّدِ شدَّةُ معالجة النِّيَّةAkan membawa seseorang kepada perhatian yang besar yang secara terus-menerus terhadap masalah niat ini adalah susahnya mengobati niat, kalau dia merasa susah dalam mengobati niat dia maka itu akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut, kalau dia merasa susah dalam menetapkan niat dia menjadikan niat dia itu ikhlas terus maka inilah yang akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut. Tapi kalau dia cuek dengan niatnya dan dia merasa ini adalah mudah sekali untuk mendatangkan niat yang ikhlas maka dia tidak akan memiliki perhatian yang besar terhadap niat tersebut.Beliau mendatangkan ucapan Sufyan Ats-Tsauriyقال سفيان الثوريُّ رحمه ﺍﻟﻠﻪ ما عالجتُ شيئًا أشدَّ عليَّ من نيِّتي، لأنَّها تتقلَّب عليَّLihat bagaimana para salaf, Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih susah bagiku daripada niatku, berarti beliau memiliki syiddatu mu’alajah beliau merasa berat untuk mengobati niatnya untuk menetapkan niatnyaلأنَّها تتقلَّب عليَّkarena niatku tersebut senantiasa bolak-balik, karena beliau merasa niatnya sering berganti-ganti maka akhirnya beliau sering memperhatikan, terus dikoreksi terus diawasi oleh beliau bagaimana supaya hati tersebut tetap karena Allāh subhanahu wa ta’ala.Bagaimana supaya menuntut ilmunya bagaimana supaya ketika beliau mengajar menyampaikan hadits itu dalam keadaan posisinya hati tersebut adalah karena Allāh ﷻ niatnya adalah karena Allāh ﷻDemikian para ulama ternyata mereka punya perhatian besar terhadap keikhlasan. Al Imam Ahmad ibn Hanbal tadi dikatakan ketika disebutkan tentang sidq wal ikhlas dengannya kaum tersebut diangkat oleh Allāh ﷻ, Sufyan Ats-Tsauriy beliau juga menyebutkan dan beliau adalah Amirul Mukminin dalam masalah hadits ternyata beliau juga sangat perhatian tentang masalah ikhlas, beliau perhatikan terus hatinya.بل قال سليمان الهاشميُّ ربَّما أُحدِّث بحديثٍ واحدٍ ولي نيَّةٌ، فإذا أتيتُ علىٰ بعضه تغيَّرت نيَّتي، فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍBahkan berkata Sulaiman Al-Hasyimi kadang-kadang aku menyebutkan hadits satu saja dan aku punya niat, yaitu memiliki niat yang baik, tapi ketika aku mendatangi sebagianتغيَّرت نيَّتيaku baru di awal aku mau menyampaikan hadits tadi lurus niatnya tapi ketika aku sudah memulai menyebutkan hadits tadi ternyata sudah berubah niatnya, belum selesai hadistnya disebutkan tapi sudah berubah niatnya, mungkin ketika beliau menyebutkan mungkin sanad yang tinggi kemudian masuklah setan disitu dan mengatakan sanadmu lebih tinggi daripada yang lain kemudian berubah niatnya, ini perlu diawasi lagi perlu dikembalikan lagi kepada niat yang benar, ketika dia mulai melenceng niatnya maka harus dikembalikan lagi melenceng lagi dikembalikan lagi itu namanya perhatian, ketika dia mulai goyah niatnya bukan karena Allāh ﷻ dikembalikan lagi harus karena Allāh ﷻ.فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍTernyata satu hadits saja itu butuh beberapa niat, artinya setiap kali dia berubah harus dikembalikan niatnya lagi padahal itu cuma satu hadits saja yang beliau sebutkan.Demikian para Ahlul Hadits, Ahlul Fiqh, para ulama mereka perhatian sekali tentang keikhlasan ini sehingga mereka pun ditinggikan oleh Allāh ﷻ derajatnya. Maka orang yang ingin mendapatkan ilmu agama dia harus memiliki perhatian terhadap niat yang ikhlas di dalam hatinya.

💬 0 komentar📅 22 Okt 2026Baca selengkapnya →