🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 04 | Penjelasan Pembatal Keislaman Pertama Bagian 1ku

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke empat dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau mengatakan,اعْلَمْ أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نَوَاقِضِ الإِسْلَامِ عَشَرَة:ًالأَوَّلُ: الشِّرْكُ فِي عِبَادَةِ اللهِ تعالى، قَالَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء﴾ وَمِنْهُ الذَّبْحُ لِغَيْرِ اللهِ، كَمَنْ يَذْبَحُ لِلْجِنِّ أَوْ لِلْقَبْرِ.Beliau mengatakan,“Ketahuilah, sesungguhnya termasuk Nawaqidul Islam atau pembatal-pembatal keislaman yang paling besar adalah 10 perkara.1. Menyekutukan di dalam beribadah kepada Allah.Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain, yang di bawahnya, bagi siapa yang dikehendaki.” Dan diantaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti orang yang menyembelih untuk jin atau untuk kuburan.Ucapan beliau اعْلَمْ yang artinya adalah ‘pelajarilah’, kalimat ini digunakan oleh orang Arab untuk memberitahu sesuatu yang penting.Beliau mengatakan,أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نَوَاقِضِ الإِسْلَامِ عَشَرَة“Sesungguhnya diantara pembatal-pembatal keislaman yang paling besar adalah 10 perkara.”Ucapan beliau مِنْ أَعْظَمِ atau diantara yang paling besar, menunjukkan bahwa di sana sebenarnya banyak pembatal-pembatal keislaman, akan tetapi yang paling besar dan yang sering terjadi adalah 10 pembatal keislaman yang akan beliau sebutkan.1. Syirik di dalam beribadah kepada AllahBeliau menjadikan syirik sebagai pembatal keislaman yang pertama karena syirik adalah dosa yang paling besar. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik kepada Allah.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan dosa-dosa besar yang paling besar?”Mereka berkata, Iya wahai Rasulullah.Maka Beliau menyebutkan yang pertama adalah الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ (menyekutukan Allah). [HR. Bukhari dan Muslim]Di dalam hadits yang lain, beliau ditanya oleh sebagian sahabat,أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ؟“Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”Beliau mengatakan,أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia-lah yang telah menciptakan dirimu.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim].Orang yang beriman dengan Rububiyyah Allah, beriman bahwasanya Allah yang telah menciptakan dia dan orang-orang sebelumnya, menciptakan langit dan bumi, menciptakan seluruh alam semesta, seharusnya hanya menyerahkan ibadahnya kepada Allah Azza wa Jalla.Allah berfirman,(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)[Surat Al-Baqarah 21]“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.”Dan Allah berfirman,⁠ذلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَۖ خَـٰلِقُ كُلِّ شَیۡءࣲ فَٱعۡبُدُوهُۚ[Surat Al-An’am 102]“Itulah Rabb kalian, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu, maka hendaklah kalian hanya menyembah-Nya.”Di dalam Al-Qur’an, ketika Allah menyebutkan perkara-perkara yang diharamkan, yang pertama kali Allah sebutkan ada syirik.Allah berfirman,قُلۡ تَعَالَوۡا۟ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَیۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ[Surat Al-An’am 151]“Katakanlah (Wahai Muhammad), kemarilah kalian, aku bacakan kepada kalian perkara-perkara yang diharamkan oleh Rabb kalian, yaitu supaya kalian tidak menyekutukan Allah sedikit pun.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla ketika menyebutkan tentang 10 hak di dalam surat An Nisa, hak yang pertama yang disebutkan adalah hak Allah sebelum hak yang lain.Allah berfirman,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ وَبِٱلۡوا⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰا وَبِذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡیَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِینِ وَٱلۡجَارِ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِیلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۗ[Surat An-Nisa’ 36]“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kalian miliki.”Oleh karena itu, Syeikh menjadikan pembatal keislaman yang pertama adalah syirik di dalam beribadah kepada Allah.Syirik membatalkan keislaman karena syirik bertentangan dengan persaksian seorang muslim bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.Persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah konsekuensinya tidak boleh dia serahkan ibadah sekecil apapun kepada selain Allah, baik jin, pohon, batu, Nabi, malaikat, dll.Kalau seseorang menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah, berarti dia telah membatalkan keislamannya.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 54

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 54Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Ketiga QS Al-An'am 159Memecah Belah Agama (Tafriquddin)Tafriquddin yang dimaksud memecah belah atau memisah-misahkan agama (farroqu diinahum) pada QS. Al-An'am: 159 adalah sikap tidak berpegang kepada Islam secara utuh (kullihi).  Sikap Aliran Sesat: Aliran-aliran sesat (seperti Khawarij, Murji'ah, dan Mu'tazilah) tidak sepenuhnya meninggalkan Islam; mereka mengamalkan sebagian syariat atau ayat, tetapi meninggalkan dan mengingkari sebagian yang lain demi mengikuti hawa nafsu.  ​Contoh Kasus:​Seseorang yang rajin shalat, tetapi metode dakwahnya menyimpang dari jalan para nabi (manhajul anbiya).  ​Seseorang yang bersemangat berdakwah, tetapi lalai dan kurang perhatian terhadap dakwah tauhid.  Ancaman bagi yang Memisah-misahkan AgamaBeriman Sebagian dan Kufur Sebagian Kitab (QS. Al-Baqarah: 85)Bentuk Pelanggaran: Mengambil dan mengamalkan sebagian isi Al-Qur'an dan As-Sunnah yang disukai, lalu mencampakkan sebagian lainnya.  ​Hukuman Dunya & Akhirat: Allah mengancam pelaku sikap ini dengan kehinaan (khizyun) dalam kehidupan dunia serta akan dikembalikan kepada azab yang sangat berat pada hari kiamat.Beriman Sebagian dan Kufur Sebagian Rasul (QS. An-Nisa: 150-151)​Bentuk Pelanggaran: Memisahkan keimanan kepada Allah dan para rasul-Nya, seperti beriman kepada Nabi Musa atau Nabi Isa tetapi mendustakan kenabian Nabi Muhammad ﷺ.  Mencari "Jalan Tengah" Palsu: Sebagian golongan merasa cara memilah-milah ajaran ini (misal: hanya fokus pada keutamaan amal/politik saja) sebagai jalan paling bijaksana.  ​Status Hukum: Allah menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya (al-kafiruna haqqo) yang diancam dengan siksaan yang menghinakan, karena bentuk tafriq ini telah mengeluarkan mereka dari koridor Islam.  Sisi Pendalilan (Syahid) & Sikap Ahlussunnah​Kewajiban Mutlak: Inti atau syahid dari ayat farroqu diinahum (QS. Al-An'am: 159) adalah larangan keras memilah-milah ajaran agama dan kewajiban untuk tunduk pada Islam di seluruh bidang kehidupan.  ​Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah: Berbeda dari kelompok menyimpang, Ahlussunnah memandang Islam sebagai satu kesatuan utuh. Mereka menerapkan Islam secara menyeluruh tanpa diskriminasi, baik dalam aspek akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlak. 

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 4

Halaqah-04 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 2Diantara cara beriman dengan para Rasul3. Meyakini bahwa para rasul benar-benar terlepas dari sifat dusta, penyembunyian ilmu dan pengkhianatanAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ“Mereka berkata “celaka kita, siapakah yang telah membangkitkan kita dari tempat istirahat kita, inilah yang dijanjikan oleh Ar-Rahman dan benarlah para Rasul” (Yasin : 52)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ (٤٤)لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ (٤٥) ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ (٤٦) فَمَا مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ عَنۡهُ حَـٰجِزِينَ (٤٧)“Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, pasti kami pegang dia pada tangan kanannya kemudian kami potong pembuluh jantungnya maka tidak seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi Kami untuk menghukumnya” (Al-Haqqah : 44-47)4. Keyakinan yang dalam bahwasanya mereka telah melaksanakan tugas mereka dengan sempurna dan sebaik-baiknya dan Allah tidak mewafatkan mereka kecuali setelah mereka menyampaikan secara sempurna risalah Allah kepada kaumnyaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanرُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا“Rasul-Rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-Rasul itu diutus Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (An-Nisa : 165)Dan Allah berfirmanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya supaya dia menerangkan kepada mereka” (Ibrahim : 4)

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 54 Ash-Shirat

Halaqah yang ke- 54 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang”As Shirath”Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya As Shirath(Jembatan yang dipasang di atas neraka jahanam untuk lewat orang-orang yang berimān menuju surga)Setelah berpisah dengan orang-orang munāfiq, maka tinggallah orang-orang yang berimān dengan berbagai tingkatan keimānan mereka.⇒Mulai dari para Nabi ‘alayhimussalām sampai para pelaku dosa besar.Mereka semua akan menuju surga dengan melewati sebuah jembatan yang berada di atas neraka.Allāh Subhānahu wa Ta’āla ta’ala berfirman:وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا“Dan tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan melewati Neraka,yang demikian adalah ketentuan Allāh yang sudah ditetapkan,ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا“Kemudian kami akan selamatkan orang-orang yang bertaqwa dan kami akan biarkan orang-orang yang zhālim masuk kedalam Neraka dalam keadaan berlutut.”(QS Maryam: 71-72)Di dalam hadīts Abū Said Al Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa jembatan tersebut sangat menggelincirkan.⇒Di atasnya ada besi-besi pengait dan duri yang keras yang bentuknya seperti duri Sa’dan.Berkata Abū Said Al Khudri, shahābat yang meriwayatkannya, di sini di dalam riwayat Muslim.“Telah sampai kepadaku bahwasanya jembatan ini lebih lembut dari pada rambut dan lebih tajam dari pada pedang.”Di dalam hadīts ini disebutkan bahwasanya:√ Ada orang yang berimān yang melewati jembatan tersebut dengan sangat cepat seperti kedipan mata,√ Ada yang seperti kilat,√ Ada yang secepat angin,√ Ada yang secepat burung,√ Ada yang secepat larinya kuda,√ Ada yang secepat larinya unta,√ Ada yang sangat lambat sehingga dia lewat jembatan tersebut dalam keadaan menyeret dirinya, dialah orang yang terakhir melewati jembatan.”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga menyebutkan di dalam hadīts ini bahwasanya manusia akan terbagi menjadi 3 (tiga)⑴ Orang yang benar-benar selamat melewati neraka yaitu tanpa terkena sambaran.⑵ Orang yang selamat melewati neraka akan tetapi terkoyak tubuhnya.⑶ Orang yang tersambar dan akhirnya terjatuh ke dalam neraka.Di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Maka aku dan umatku lah yang pertama kali akan melewati dan tidak berbicara saat itu kecuali para Rasūl.”Do’a mereka saat itu, “Yā Allāh , selamatkan, selamatkan.”Di atas jembatan tersebut ada besi besi pengait seperti duri Sa’dan, mereka menjawab, tahukah kalian duri Sa’dan? Mereka menjawab “Iya….. Yā Rasūlullāh,Beliau berkata:“Besi pengait tersebut seperti duri Sa’dan. Namun tidak mengetahui besarnya kecuali Allāh, Dia akan menyambar manusia sesuai dengan amalan mereka, yaitu dosanya.”⇒Ada diantara mereka yang binasa karena amalannya dan ada diantara mereka yang terkoyak dari belakang kemudian selamat.⇒Di antara yang selamat adalah 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisāb , Wajah-wajah mereka seperti bulan di malam bulan purnama.⇒Menyusul setelah mereka rombongan yang wajah mereka seperti bintang yang paling terang.(Hadīts riwayat Muslim)Dari Jābir ibnu Abdillāh al Anshari Radhiyallāhu ‘anhummā:“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan.”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan, maka keduanya berdiri di samping kanan dan kiri jembatan. ”(Hadīts Riwayat Muslim)Ini menunjukkan bahwasanya melaksanakan amanah dan menyambung silaturrahim atau hubungan kekerabatan perkaranya besar di dalam agama Islām, keduanya akan menuntut orang-orang yang tidak memenuhi hak keduanya.Sebagian orang yang berimān akan jatuh ke dalam neraka karena sebab ucapan yang dia ucapkan di dunia.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat marah Allāh dan hamba tersebut tidak menganggap penting kalimat itu, dia jatuh dengan sebab ucapan tadi ke dalam jahanam.”(Hadīts Riwayat Bukhāri)Sebuah batu yang dilempar ke dalam neraka akan sampai ke dasar neraka 70 tahun kemudian.Sebagaimana di dalam hadits riwayat Muslim.Sebuah peristiwa yang pasti akan kita alami dan sangat mendebarkan, berjalan di atas jembatan yang sangat kecil, sangat panjang di bawahnya ada neraka yang sangat dalam dan berisi azab yang sangat pedih dan di samping kanan dan kiri ada besi-besi pengait yang siap mengenai orang yang berhak.Ketegaran kita di atas jembatan saat itu sesuai dengan ketegaran kita di dunia di dalam berpegang teguh dengan agama Islām.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla merahmati kita dan menyelamatkan kita semua. ĀmīnItulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 54 | Sekte yang Berkeyakinan bahwa Al-Qur’an Adalah Makhluk

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهAdakah disana aliran yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, jahmiyyah, Mua’tazilah.Mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk. Allāh menciptakan Al-Qur’an diluar Allāh menciptakan ucapannya disandarkan kepada Allāh karena majas, ini adalah keyakinan Mua’tazilah dan terjadi di zaman Al Imam Ahmad dan terjadi sebelumnya tapi di zaman Imam Ahmad fitnahnya lebih besar karena ulama² Mua’tazilah mereka berhasil menguasai dan memberikan pengaruh kepada penguasa sampai akhirnya oleh penguasa saat itu seluruhnya diharuskan untuk mengucapkan ucapan Mua’tazilah yang diantaranya adalah mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, sampai di sekolah sekecil apapun harus yang diajarkan adalah Al-Qur’an adalah makhluk.Para ulama dipaksakan untuk memfatwakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, kalau tidak maka akan disiksa, siksanya cukup besar/berat , ada di antara ulama ahlussunnah yang mereka terpaksa mengucapkan (ini termasuk keterpaksaan) sementara di dalam hatinya mereka mengingkariإِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِKecuali orang yang dipaksa dan hatinya dalam keadaan dia tenang dengan keimanan.Ada diantara mereka yang melakukan tauriyah (mengucapkan sesuatu dipahami oleh orang yang didepannya bahwasanya dia meyakini Al-Qur’an adalah makhluk, padahal dia memaksudkan yang lain) seperti ucapan sebagian mereka Al-Qur’an , Al Injil, at Taurat, kita bersaksi bahwasanya mereka adalah makhluk, dia menunjukkan lima jarinya, artinya yg dia maksud lima jarinya adalah makhluk bukan maksudnya Al-Qur’an, taurat, Injil adalah makhluk tidak ini namanya tauriyah dan dia bukan bohong dia benar namun dipahami oleh orang lain ucapan yang lain, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Sidik radhiyallahu Anhu ketika beliau berhijrah bersama nabi Muhammad ﷺ dan dijalan dia ditanya siapa yang bersama mu? Maka Abu Bakar berkataوهذا دليلIni adalah petunjuk jalanku,Dipahami oleh beliau bahwasanya ini adalah yang menunjukkan jalan beliau yaitu jalan didalam perjalanan tapi maksud Abu Bakar dia adalah yang menunjukkan jalan kepada Allāh, menunjukkan صراط مستقيم،وإن كل تحد إلى صراط مستقيمDan sesungguhnya engkau wahai Muhammad sungguh menunjukkan jalan yang lurus,Dan ada ulama Ahlu Sunnah yang mereka memilih bersabar apapun resikonya diantaranya adalah Al Imam Ahmad bin Hambal, beliau memilih untuk bersabar meskipun disiksa dipenjara, kalau memang dipaksa untuk berdebat maka beliau terpaksa meladeni ini adalah istihad beliau seandainya seseorang dalam keadaan terpaksa dia mengucapkan ucapan maka dia ma’dhur mendapatkan udzur dia tidak berdosa tapi yg lebih afdhol adalah seseorang tetap berada di atas kebenaran , itu adalah derajat yang tinggi makanya diakui oleh ulama ulama yang lain bagaimana ketinggian derajat Al Imam Ahmad bin Hambal sementara yang lain mungkin memilih tauriyah atau terpaksa mengucapkan tapi beliau Rahimahullāh tetap mengucapkan ucapan tersebut dengan lantang di hadapan orang-orang Mua’tazilah dan ini diakui oleh para ulama² yang lain semasa itu dan yang datang derajatnya lain, lebih tinggi daripada yang lain sampai akhirnya Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan jalan keluar tiga khalifah yang secara berurutan mereka memegang kekuasaan sampai akhirnya datang khalifah yang ketiga dan dia mendapatkan hidayah kepada Sunnah tersebar Sunnahوَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا[QS at Thalaq 2]Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala akan memberikan jalan keluarليس بمخلوقBukan makhluk,Bantahan kepada Mua’tazilah yang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, kalau itu makhluk sebagaimana makhluk² yang lainnya tidak ada kelebihannya seorang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk cenderung dia pemulian dan penghormatan terhadap Al-Qur’an dan sangat kurang karena dia adalah makhluk seperti makhluk yang lain.ليس بمخلوق ككلام البرية،Sebagaimana ucapan manusia,Jadi Ahlussunnah meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk, artinya makhluk apa yang dimaksud makhluk adalah meyakini Al-Qur’an itu sama dengan ucapan manusia, karena yang ada adalah Al Kholiq dengan makhluk, Ahlu Sunnah mengatakan ini adalah Kalamullah kholaq adapun Mua’tazilah mengatakan itu adalah Kalamul makhluk berarti sama kedudukannya dengan Kalamul bariyyah (ucapan manusia) /ucapan makhluk.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 54

Halaqah 54 | Sekte yang Berkeyakinan bahwa Al-Qur’an Adalah MakhlukKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهAdakah disana aliran yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, jahmiyyah, Mua’tazilah.Mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk. Allāh menciptakan Al-Qur’an diluar Allāh menciptakan ucapannya disandarkan kepada Allāh karena majas, ini adalah keyakinan Mua’tazilah dan terjadi di zaman Al Imam Ahmad dan terjadi sebelumnya tapi di zaman Imam Ahmad fitnahnya lebih besar karena ulama² Mua’tazilah mereka berhasil menguasai dan memberikan pengaruh kepada penguasa sampai akhirnya oleh penguasa saat itu seluruhnya diharuskan untuk mengucapkan ucapan Mua’tazilah yang diantaranya adalah mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, sampai di sekolah sekecil apapun harus yang diajarkan adalah Al-Qur’an adalah makhluk.Para ulama dipaksakan untuk memfatwakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, kalau tidak maka akan disiksa, siksanya cukup besar/berat , ada di antara ulama ahlussunnah yang mereka terpaksa mengucapkan (ini termasuk keterpaksaan) sementara di dalam hatinya mereka mengingkariإِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِKecuali orang yang dipaksa dan hatinya dalam keadaan dia tenang dengan keimanan.Ada diantara mereka yang melakukan tauriyah (mengucapkan sesuatu dipahami oleh orang yang didepannya bahwasanya dia meyakini Al-Qur’an adalah makhluk, padahal dia memaksudkan yang lain) seperti ucapan sebagian mereka Al-Qur’an , Al Injil, at Taurat, kita bersaksi bahwasanya mereka adalah makhluk, dia menunjukkan lima jarinya, artinya yg dia maksud lima jarinya adalah makhluk bukan maksudnya Al-Qur’an, taurat, Injil adalah makhluk tidak ini namanya tauriyah dan dia bukan bohong dia benar namun dipahami oleh orang lain ucapan yang lain, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Sidik radhiyallahu Anhu ketika beliau berhijrah bersama nabi Muhammad ﷺ dan dijalan dia ditanya siapa yang bersama mu? Maka Abu Bakar berkataوهذا دليلIni adalah petunjuk jalanku,Dipahami oleh beliau bahwasanya ini adalah yang menunjukkan jalan beliau yaitu jalan didalam perjalanan tapi maksud Abu Bakar dia adalah yang menunjukkan jalan kepada Allāh, menunjukkan صراط مستقيم،وإن كل تحد إلى صراط مستقيمDan sesungguhnya engkau wahai Muhammad sungguh menunjukkan jalan yang lurus,Dan ada ulama Ahlu Sunnah yang mereka memilih bersabar apapun resikonya diantaranya adalah Al Imam Ahmad bin Hambal, beliau memilih untuk bersabar meskipun disiksa dipenjara, kalau memang dipaksa untuk berdebat maka beliau terpaksa meladeni ini adalah istihad beliau seandainya seseorang dalam keadaan terpaksa dia mengucapkan ucapan maka dia ma’dhur mendapatkan udzur dia tidak berdosa tapi yg lebih afdhol adalah seseorang tetap berada di atas kebenaran , itu adalah derajat yang tinggi makanya diakui oleh ulama ulama yang lain bagaimana ketinggian derajat Al Imam Ahmad bin Hambal sementara yang lain mungkin memilih tauriyah atau terpaksa mengucapkan tapi beliau Rahimahullāh tetap mengucapkan ucapan tersebut dengan lantang di hadapan orang-orang Mua’tazilah dan ini diakui oleh para ulama² yang lain semasa itu dan yang datang derajatnya lain, lebih tinggi daripada yang lain sampai akhirnya Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan jalan keluar tiga khalifah yang secara berurutan mereka memegang kekuasaan sampai akhirnya datang khalifah yang ketiga dan dia mendapatkan hidayah kepada Sunnah tersebar Sunnahوَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا[QS at Thalaq 2]Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala akan memberikan jalan keluarليس بمخلوقBukan makhluk,Bantahan kepada Mua’tazilah yang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, kalau itu makhluk sebagaimana makhluk² yang lainnya tidak ada kelebihannya seorang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk cenderung dia pemulian dan penghormatan terhadap Al-Qur’an dan sangat kurang karena dia adalah makhluk seperti makhluk yang lain.ليس بمخلوق ككلام البرية،Sebagaimana ucapan manusia,Jadi Ahlussunnah meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk, artinya makhluk apa yang dimaksud makhluk adalah meyakini Al-Qur’an itu sama dengan ucapan manusia, karena yang ada adalah Al Kholiq dengan makhluk, Ahlu Sunnah mengatakan ini adalah Kalamullah kholaq adapun Mua’tazilah mengatakan itu adalah Kalamul makhluk berarti sama kedudukannya dengan Kalamul bariyyah (ucapan manusia) /ucapan makhluk

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah :pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah

Halaqah 29 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Syahadat Lāilāha Illallāh🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian setelah beliau (rahimahullāh) menyebutkan rukun Islām yang jumlahnya 5 yang dikumpulkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam satu dalīl yaitu dari hadīts Abdullāh ibnu Umar.Kemudian beliau memberi dalīl dari masing-masing rukun Islām tadi, karena kita berbicara tentang rukun Islām yang merupakan perkara yang paling penting didalam Islām.Kalau seorang muslim di dalam keislāman dia banyak perkara, maka minimal dia mendalami lima perkara ini, sehingga disini beliau rahimahullāh lebih mendalami rukun Islām yang lima.Masing-masing dari rukun Islām beliau sebutkan dalīlnya (bukan hanya dalīl dari Abdullāh ibnu Umar yang menjamak dan mengumpulkan lima rukun ini) tetapi beliau rahimahullāh sebutkan dalīl dari masing rukun Islām untuk menunjukkan penekanan.Beliau rahimahullāh mengatakan :ودليل الشهادة قوله تعالى: شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُDalīl tentang syahādah maksudnya adalah شهادة أن لا إله إلا الله – Al disini maksudnya Lil- ahdiyyah yaitu menunjukkan perjanjian karena disebutkan sebelumnya di dalam hadīts شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – itulah kalimat syahādat pertama yang disebutkan di dalam hadīts.Maka ketika beliau mengatakan ودليل الشهادة – maksudnya adalah syahādati أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.Dalīl tentang syahādat adalah firman Allāh Azza wa Jalla :شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.“Allāh menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malāikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana.” (QS. Āli-Imrān :18)Ini adalah rukun Islām yang pertama yaitu seorang muslim harus bersyahādah “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah KECUALI Allāh”Ucapan bersaksi di dalam bahasa Arab mengandung beberapa makna:⑴ Orang yang bersaksi dia mengetahui (orang yang memiliki ilmu) Jadi orang yang bersaksi tentunya mengandung ilmu berarti dia harus علم harus mengetahui.⑵ Didalamnya ada makna sumpah, orang yang bersaksi “Aku bersaksi”, berarti dia bersumpah dan ini adalah penekanan.⑶ Orang yang bersaksi berarti ada makna إخبر (ikhbar) mengabarkan kepada orang lain. Jika hanya diam saja berarti dia tidak bersaksi.Jadi bersaksi dalam bahasa Arab dia harus إخبر (ikhbar) dia harus عالم و حالف (‘ālima wa hālafa) berarti dia اعلم غيره (a’lama ghairahu) berarti dia أكبر غيره (akbaru ghairahu), berarti disitu ada makna إخبر (ikhbar) yaitu harus mengabarkan kepada yang lain.Demikian pula didalam شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ kita bersaksi berarti kita harus paham, mengetahui menyadari, mengetahui alasannya kenapa kita mengatakan أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – sebagaimana orang yang bersaksi dia mengabarkan, menceritakan karena dia mengetahui.Ketika kita mengatakan, “Saya bersaksi Tidak Ada Sesembahan Yang Berhak Disembah Kecuali Allāh”, maka kita harus punya hujjah harus mempunyai ilmu dan disitu ada sumpah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – (Tidak Ada Sesembahan Yang Berhak Disembah Kecuali Allāh).Darimana dalīl tentang persaksian ini?Beliau rahimahullāh mendatangkan firman Allāh di dalam surat Āli-Imrān ayat 18.Didalam ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan bahwasanya Allāh bersaksi.Apa isi persaksian dari Allāh ?Dan Dia-lah (Allāh) yang memiliki langit dan bumi, mengetahui apa yang ada yang di langit dan di bumi dengan luasnya alam semesta, besarnya alam semesta dari ujung ke ujung Allāh Maha Mengetahuinya.Dan Allāh bersaksi dalam ayat ini bahwasanya, ”Diseluruh alam semesta ini tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Dia-saja”. Maka ini adalah persaksian yang berasal dari Dzat yang paling tahu.Saksi semakin dia berilmu maka semakin berkualitas kesaksiannya. Jadi semakin tinggi keilmuannya maka semakin berkualitas kesaksiannya. Dan siapa yang lebih mengetahui tentang apa yang ada di langit dan di bumi kecuali Allāh.قُلْ ءَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ ٱللَّهُ …“Apakah kalian lebih tahu atau Allāh Subhānahu wa Ta’āla…” (QS. Al-Baqarah:140)Dan ternyata Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan persaksian, “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia”.Didalam surat lain Allāh berfirman:قُلْ أَىُّ شَىْءٍ أَكْبَرُ شَهَـٰدَةًۭ قُلِ ٱللَّهُ ۖ شَهِيدٌۢ بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ“Apakah sesuatu yang paling besar persaksiannya. Katakanlah bahwasanya Dia-lah Allāh yang menjadi saksi antara diriku dengan kalian…..” (QS. Al-An’ām : 19)Jika Allāh saja bersaksi maka kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah bersaksi juga bersyahādah dan mengatakan أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُIni adalah dalīl yang jelas menunjukkan tentang kewajiban bersaksi ,”Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”.Ditambah lagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan وَالْمَلاَئِكَةُ – dan para malāikat, seluruh malāikat yang mereka adalah makhluk Allāh yang tidak pernah berbuat maksiat tidak pernah berdusta. Mereka adalah makhluk-makhluk Allāh yang shālih yang beribadah kepada Allāh, mereka tidak pernah bosan untuk beribadah kepada Allāh ternyata semuanya bersaksi,”Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”Allāh bersaksi digandengkan dengan malāikat-malāikat bersaksi, digandengkan dengan semua ulamā juga bersaksi. Maka tidak ada udzur bagi kita untuk tidak bersaksi bahwasanya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ – “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”.Pas sekali beliau rahimahullāh mendatangkan dalīl ayat ini yaitu kewajiban untuk bersyahādah disamping dalīl hadīts dari Abdullāh ibnu Umar, dimana di dalam hadīts tersebut dikumpulkan lima rukun Islām. Menunjukkan bahwa rukun Islām yang lima hukumnya adalah wajib.Beliau rahimahullāh tekankan disini dengan mendatangkan dalīl yang lain.قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ“Tegak dengan keadilan”لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُKemudian ditekankan oleh Allāh dan dikuatkan dengan mengatakan لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ – Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia (Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 3

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Adapun pujian para ulama kepada beliau rahimahullāh, maka ini telah banyak pujian kepada beliau baik dari orang yang merupakan teman-teman beliau atau murid-murid beliau bahkan juga termasuk pujian dari musuh-musuh beliau, maka ini sesuatu yang luar biasa tentunya seseorang dipuji oleh musuhnya sendiri, mereka melihat tentang bagaimana sidq (kejujuran) Syaikhul Islam dalam menyampaikan hujjah, bukan orang yang curang dalam bermunadzaroh dan mereka mengetahui tentang akhlak beliau, tidak menjadikan permusuhan yang terjadi antara beliau dengan ulama yang lain kemudian beliau menjadi orang yang dzholim ini diakui oleh para ulama.Saya sebutkan di sini di antara ucapan para ulama tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ibnu Sayyidinnas ulama yang mengarang kitāb ‘Uyunul Atsar beliau mengatakanAku mendapatkan beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) ini adalah orang yang mendapatkan bagian yang banyak dari ilmu. Ketika beliau memperhatikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka beliau hampir-hampir menguasai hadits-hadits dan juga atsar-atsar para salaf dengan hafalan beliau, hampir-hampir beliau itu menguasai hadits-hadits Nabi ﷺ dan juga atsar – atsar para salaf bukan hanya dengan maknanya sajaKalau beliau berbicara di dalam masalah tafsir maka beliau adalah orang yang membawa benderanya, membawa benderanya maksudnya adalah orang yang jago di dalam masalah ilmu tafsir, kalau bicara tentang ayat, bicara tentang surat, berbicara tentang tafsir Al-Quran seakan-akan tidak ada yang lebih halim tentang tafsir dan perkara-perkara yang detail dan faidah-faidah yang bisa diambil dari sebuah ayat dari beliau rahimahullāh, maka beliau adalah orang yang membawa benderaKalau beliau berfatwa tentang masalah fiqih maka beliau sampai kepada tujuan, sampai kepada puncaknya, artinya ketika berbicara tentang hukum, bicara tentang fiqih ternyata beliau juga orang yang luas ilmunya tentang masalah madzahib al-arba’a juga madzhab yang lain dan apa dalil mereka, apa alasan mereka dan mana yang rojih, kenapa yang rojih adalah demikian, ternyata beliau adalah seorang yang faqihDan kalau sedang bermudzakarah tentang masalah hadits maka ternyata beliau adalah orang yang punya ilmunya dan belia punya riwayatnyaAtau ketika beliau memberikan ceramah, memberikan pengetahuan tentang masalah aliran-aliran, tentang agama-agama, tidak dilihat orang yang lebih luas pengetahuannya tentang aliran dan juga agama tadi daripada beliau rahimahullāh. Jadi kalau berbicara tentang aliran, tahu siapa yang mendirikan, apa isinya, apa syubhat mereka, apa alasan mereka sehingga sebagian atau banyak diantara aliran-aliran tadi ataupun pembesar-pembesar aliran tadi yang mengakui bahwasanya Syaikhul Islam itu lebih tahu tentang alirannya dari pada mereka sendiri dan ini menunjukkan tentang luasnya ilmu beliau, dan beliau tahu bagaimana kok bisa sampai mereka kepada kesesatan-kesesatan tadiDan tidak ada yang lebih tinggi daripada beliau dalam masalah pemahaman tentang aliran-aliran tadiBeliau muncul didalam setiap ilmu, di atas orang-orang yang sebaya dengan beliau, artinya nampak dan terlihat ilmunya daripada yang lain, maka orang yang melihatnya tidak pernah melihat yang semisal dengan beliau, dan mata beliau, yaitu Syaikhul Islam, tidak melihat orang yang semisal dengan dirinya sendiri. Ibarat seperti ini menunjukkan tentang pujian dan menunjukkan tentang bagaimana kelebihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang Allāh ﷻ berikan kepada beliau rahimahullāh.Adz-Dzahabi rahimahullāh, murid beliau, mengatakan beliau Syaikhul Islam yaitu guru Adz-Dzahabi beliau mengatakan bahwasanya orang yang semisal sepertiku ini tidak pantas untuk mensifati beliau, artinya beliau lebih tinggi daripada sifat yang aku berikan kepada beliau, seandainya, kurang lebih demikian makna ucapan Adz-Dzahabi, seandainya saya mensifatkan sesuatu tentang Syaikhul Islam ketahuilah bahwasanya kenyataannya lebih daripada ituMaka seandainya aku ini disuruh untuk bersumpah antara rukun dengan maqam, maksudnya adalah rukun Hajar Aswad dengan maqam Ibrahim, seandainya aku disuruh untuk bersumpah niscaya aku akan bersumpah aku tidak melihat orang yang semisal dengan beliau, dan tentunya sumpah atas nama Allāh ﷻ ini adalah sumpah yang harus jujur, seandainya aku disuruh untuk bersumpah dengan nama Allāh ﷻ antara rukun Hajar Aswad dengan makam Ibrahim niscaya aku akan mengatakan aku tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Adz-Dzahabi, shahibus siyr, memiliki kitab Siyar A’lamin Nubala’ yang dikenal tentang keahliannya dalam masalah hadits dalam masalah tarikh dalam masalah geografi dan ilmu-ilmu yang lain mengatakan ucapan ini, saya tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam dan demi Allāh ﷻ beliau tidak pernah melihat orang yang semisal dengan beliau di dalam masalah ilmu. Maka ini juga termasuk keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Kemudian saya sebutkan disini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki beliau adalah bapak dari Tajuddin shabibut thabaqat al-syafi’iyah al-kubra, beliau mengatakanTelah besar keutamaan beliau dan juga luasnya ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dalam ilmu syar’i maupun dari bukti-bukti yang berkaitan dengan akal, jadi beliau dalam berdalil selain berdalil dengan dalil-dalil yang syar’i dari Al-Quran dan as-sunnah dengan dalil-dalil yang kuat dan istidlal yang kuat maka beliau juga banyak menyampaikan dalil dari akalDan bagaimana cerdasnya beliau dan kesungguhan beliau, dan bagaimana sampainya beliau di dalam setiap perkara-perkara tadi sampai pada derajat yang tidak bisa disifatkan. Ini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 53

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 53Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS. An-Nisa: 60 (Bagian 2)Hubungan Tingkat Keislaman dengan Kepasrahan​Korelasi Positif: Semakin tinggi tingkat keislaman seorang muslim, maka akan semakin besar pula tingkat kepasrahan dan keridhaannya terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya.  Mengalahkan Hawa Nafsu: Seorang muslim yang sejati siap meninggalkan hawa nafsu pribadi, opini pribadi, serta keinginan orang tua atau orang yang dicintainya demi mendahulukan keputusan syariat.  ​Keyakinan Mutlak: Harus ada keyakinan kuat bahwa apa yang diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya pasti mengandung hikmah dan maslahat terbaik, meskipun secara lahiriah tampak merugikan.Tingkatan Syarat Kelayakan Iman (QS. An-Nisa: 65)​Allah Subhanahu wa Ta'ala menafikan (menolak) keimanan seseorang sampai ia memenuhi tiga tahapan sikap terhadap Nabi Muhammad ﷺ saat terjadi perselisihan:  Tahakam (حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ): Menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai hakim utama dalam menyelesaikan segala perkara yang diperselisihkan. Lapang Dada (ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا): Sama sekali tidak ada rasa berat hati, ganjalan, atau keberatan di dalam dada terhadap keputusan yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.​Pasrah Total (وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا): Menerima dan menyerahkan diri sepenuhnya dengan sebenar-benar penyerahan. Larangan Memiliki Pilihan Lain (QS. Al-Ahzab: 36)​Satu-satunya Pilihan: Bagi mukmin laki-laki maupun perempuan, tidak boleh ada alternatif atau pilihan lain di luar apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.  ​Konsekuensi Membangkang: Barangsiapa yang mendurhakai hukum Allah dan Rasul-Nya dengan mencari pilihan lain, maka ia telah jatuh ke dalam kesesatan yang nyata.Kesimpulan Hubungan Tahakum dengan Konsekuensi Islam​Ciri Kesempurnaan Islam: Bertahakum (berhukum) kepada Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh perkara adalah bagian mutlak dari konsekuensi berislam.  ​Tahakum kepada Thaghut: Merupakan bentuk pembangkangan terhadap konsekuensi Islam karena menunjukkan orang tersebut masih menyimpan keimanan kepada thaghut.​Tipu Daya Setan: Praktik berhukum kepada thaghut merupakan perintah, keinginan, dan bentuk penyesatan dari setan yang sangat bertentangan dengan esensi Islam itu sendiri. 

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 53 Perpisahan Orang-orang Beriman dan Orang Munafik

Halaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān dengan tentang ” Perpisahan Orang-orang Berimān Dan Orang Munāfiq”Setelah bangkit dari sujud, maka orang-orang yang berimān akan mengikuti Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan akan dibentangkan As-Sirath (jembatan di atas neraka) Sebagaimana di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.Keadaan saat itu gelap gulita, Seorang Yahūdi pernah bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:“Di manakah manusia di hari di mana bumi dan langit diganti?”Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:“Di tempat yang gelap sebelum jembatan. ”(Hadīts Riwayat Muslim)⇒Kemudian orang-orang yang berimān akan diberikan cahaya.Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalam Al-Mu’jamul Kabir, dari ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Maka Allāh memberikan kepada mereka cahaya sesuai dengan amalan mereka.”√ Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung yang besar yang berjalan di depannya.√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.√ Dan ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya.√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.Sehingga ada orang yang diberi cahaya di jempol kakinya, kadang menyala dan kadang padam. Apabila menyala, maka dia melangkahkan kakinya dan berjalan.Dan apabila padam, dia berdiri.⇒Ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengamalkan ilmu bagi seorang muslim.Semakin banyak cahaya ilmu yang dia amalkan di dunia, maka akan semakin banyak cahaya yang akan dia dapatkan di hari kiamat.Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, disebutkan bahwasanya orang-orang munāfiq juga akan diberikan cahaya dan akan mengikuti Allāh .⇒Namun cahaya mereka padam sebelum sampai jembatan.Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan didalam Qs. Al-Hadīd : 12-15 yang artinya:“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang yang berimān, laki-laki dan wanita, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. Yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kalian akan kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”Pada hari ketika orang-orang munāfiq, laki-laki dan wanita, berkata kepada orang-orang yang berimān, “Tunggulah kami, supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya dari kalian.” Dikatakan kepada orang-orang munāfiq, “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk kalian.” Lalu dibuatlah di antara orang-orang yang berimān dengan orang-orang munāfiq sebuah dinding yang memiliki pintu.Di sebelah dalamnya, yaitu di sisi orang-orang yang berimān ada rahmat. Dan di sebelah luarnya, yaitu sisi orang-orang munāfiq ada siksa.Orang-orang munāfiq memanggil orang-orang yang beriman dan berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian di dunia?” (Maksudnya bersama-sama dengan orang-orang yang berimān secara zhahir).Orang-orang berimān menjawab: “Benar ” Akan tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, yaitu dengan kenifāqan kalian.Dan kalian dahulu menunggu-nunggu kehancuran kami. Dan kalian ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong. Sehingga datanglah ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan penipu yaitu syaithān, telah memperdaya kalian tentang Allāh .Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian maupun dari orang-orang kāfir.Tempat kalian adalah neraka, itulah tempat berlindung kalian, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.Demikianlah orang-orang munāfiq kembali tertipu. Mereka mendapat cahaya di awal dan menyangka bahwasanya mereka akan selamat bersama dengan orang-orang yang berimān.Namun ternyata persangkaan mereka salah. Orang-orang yang berimān ketika melihat cahaya orang-orang munāfiq padam mereka berdo’a kepada Allāh.رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu.”( QS At-Tahrim : 8)Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan juga Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwasanya orang yang berjalan ke masjid di dalam kegelapan malam, yaitu untuk melakukan shalāt berjama’ah, maka dia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.Di antara usaha seorang muslim untuk menghilangkan kenifāqan adalah dengan menjaga shalāt lima waktu secara berjama’ah.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Barang siapa yang shalāt karena Allāh selama 40 hari secara berjama’ah mendapatkan takbiratul ula (takbiratul ihram), maka dia akan terlepas dari dua perkara. Terlepas dari neraka dan terlepas dari kenifāqan. (Hadīts hasan riwayat Tirmidzi).

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

HALAQAH 3 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 1

HALAQAH 3 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 1Oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ACara Beriman kepada para rasul Allah mengandung beberapa perkara:1.     Meyakini Kerasulan adalah Pilihan AllahKenabian dan kerasulan adalah pilihan mutlak dari Allah Allah memberikannya kepada siapa yang memang berhak dan yang paling afdhal dan sempurna.Dalil Al-Qur'an:·       QS. Al-An’am:124Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanاللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ“Allah lebih tau dimana Allah meletakkan risalahNya” (Al-An’am : 124)·       QS. Al-Hajj: 75Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ”Allah memilih Rasul-rasul dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat ” (Al-Hajj : 75)2.     Meyakini Kesempurnaan Para RasulPara rasul adalah makhluk yang paling sempurna dalam hal ilmu, amal, keyakinan (i'tiqad), akhlak, maupun fisik mereka.·       Dalil Karakter Mulia Para Rasul:o   Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُ :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا“Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra’: 3)o   Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang penyantun lembut hati dan suka kembali (kembali kepada Allah)” ( QS. Hud : 75)o   Nabi Ishaq عَلَيهِ السَّلَامُ :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ“Mereka berkata “Janganlah engkau (wahai Ibrahim) takut sesungguhnya kami memberikan kabar gembira kepada dirimu dengan seorang anak yang ‘alim” (QS. Al-Hijr : 53)o   Nabi Yahya عَلَيهِ السَّلَامُ:Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :يَـٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡڪِتَـٰبَ بِقُوَّةٍ۬‌ۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيًّ۬ا (١٢) وَحَنَانً۬ا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةً۬‌ۖ وَكَانَ تَقِيًّ۬ا (١٣) وَبَرَّۢا بِوَٲلِدَيۡهِ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّ۬ا (١٤“Wahai Yahya ambillah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak kanak dan kami jadikan rasa kasih sayang kepada sesama dari kami dan bersih dari dosa dan dia pun orang yang bertakwa dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya dan dia bukan orang yang sombong dan bukan pula orang yang durhaka” (QS. Maryam : 12-14)o   Nabi Muhammad صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ“Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada diatas akhlak yang agung” (QS. Al-Qalam : 4).Kesimpulan :·       Jabatan nabi dan rasul murni merupakan ketetapan dan pilihan langsung dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى·       Para rasul adalah makhluk yang telah dibersihkan dan disempurnakan oleh Allah dalam segala aspek mulai dari ilmu, amal, keyakinan (i'tiqad), akhlak, hingga fisik mereka untuk mengemban amanah wahyu.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 3

Halaqah-03 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 1Cara Beriman kepada para rasul Allah mengandung beberapa perkara1. Keyakinan yang dalam bahwa kenabian dan kerasulan adalah pilihan dari Allah, Allah memberikannya kepada siapa yang memang berhak dan yang paling afdhal dan sempurnaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanاللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ“Allah lebih tau dimana Allah meletakkan risalahNya” (Al-An’am : 124)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ”Allah memilih Rasul-rasul dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat ” (Al-Hajj : 75)2. Keyakinan yang dalam bahwa mereka (Para Rasul Allah) adalah makhluk Allah yang paling sempurna baik ilmu, amalan, i’tiqad maupun penciptaan atau fisik merekaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُإِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا”Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur” ( Al-Isra’ : 3)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanإِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ”Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang penyantun lembut hati dan suka kembali (kembali kepada Allah)” ( Hud : 75)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ“Mereka berkata “Janganlah engkau (wahai Ibrahim) takut sesungguhnya kami memberikan kabar gembira kepada dirimu dengan seorang anak yang ‘alim” (Al-Hijr : 53)Yang dimaksud dengan anak tersebut adalah Nabi Ishaq عَلَيهِ السَّلَامُ dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanيَـٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡڪِتَـٰبَ بِقُوَّةٍ۬‌ۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيًّ۬ا (١٢) وَحَنَانً۬ا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةً۬‌ۖ وَكَانَ تَقِيًّ۬ا (١٣) وَبَرَّۢا بِوَٲلِدَيۡهِ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّ۬ا (١٤“Wahai Yahya ambillah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak kanak dan kami jadikan rasa kasih sayang kepada sesama dari kami dan bersih dari dosa dan dia pun orang yang bertakwa dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya dan dia bukan orang yang sombong dan bukan pula orang yang durhaka” (Maryam : 12-14]Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ”Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada diatas akhlak yang agung” (Al-Qalam : 4)Dan juga ayat-ayat yang lain yang menunjukkan tentang kesempurnaan para nabi dan para rasul Allah di dalam ilmu, amalan i’tiqad dan juga fisik mereka,

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 53 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Bukan Makhluk

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة، ليس بمخلوقDan mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk.Ini poin yang lain, poin pertama meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah, setelah kita sebutkan dalil²nya dari Al-Qur’an dari as-sunah itu adalah hakiki Kalamullah bukan majas, maka diantara keyakinan Ahlussunnah bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk tapi itu adalah sifat diantara sifat-sifat Allāh karena Al-Qur’an adalah Kalamullah dan Kalamullah itu adalah sifat Allāh & sifat Allāh bukan makhluk, Allāh dengan DzatNya , Nama dan juga sifatNya bukan makhluk.Diantara dalil yang menunjukkan bahwasanya Kalamullah ini adalah bukan makhluk, firman Allāh ﷻ ,..أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ[QS Al A’raf 54]Ketahuilah bahwasanya bagi Allāhالْخَلْقُ وَالْأَمْرُBagi Allāh penciptaan & perintah.Dan perintah Allāh subhanahu wa ta’ala adalah diucapkan oleh Allāh ﷻ, baik Al Amru Syar’i maupun Al Amru kauni,إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.Seandainya ucapan Allāh diantaranya adalah berupa perintah, Seandainya ucapan Allah ini adalah makhluk tentunya nggak dibedakan disini dengan Al waw, kalau dia termasuk makhluk cukupۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُHanya milik Allāh Al Kholq.masuk didalamnya ucapan² Allāh tapi karena ucapan Allāh ini bukan makhluk, sehingga di sana ada و, و athof yang asalnya adalah beda antara sebelum dan sesudah و .اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗKetahuilah bagi Allāh subhanahu wa ta’ala penciptaan dan juga perintah.Seandainya perintah, dan perintah dalam berupa ucapan Allāh ini adalah termasuk dalam makhluk tentunya tidak disebutkan setelahnya, menunjukkan bahwa Al-Qur’an ini adalah Kalamullāh subhanahu wa ta’ala dan Kalamullāh bukan makhlukAdapun dalam hadits maka Nabi ﷺ, mengatakan (ini adalah petunjuk bagi orang yang bersinggah disebuah tempat).مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَBarangsiapa yang singgah disebuah tempat kemudian mengatakan,أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَAku berindung dengan kalimat-kalimat Allāh yang sempurna yaitu dengan ucapan Allāh yang sempurna kalimat maksudnya adalah kalam dari kejelekan apa yang Allāh subhanahu wa ta’ala ciptakan, maka tidak akan dimudharoti dengan sesuatu apapun sampai dia meninggalkan tempat tersebut.Di sini beliau ﷺ diantara petunjuk beliau adalah kita berlindung dengan Kalamullāh berlindungi dengan kalimat-kalimat Allāh, boleh tidak kita boleh dengan makhluk ?tidak boleh .قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِkita berlindung dengan kepada Allāhu rabbal alamin, tidak boleh kita berlindung dengan makhluk, berlindung yaitu kita meminta untuk dilindungi bagaimana kita meminta perlindungan kepada makhluk yang lemah, yang Allāh subhanahu wa ta’ala menguasai tidak boleh dan haram hukumnya meminta perlindungan kepada makhluk, didalam sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh, menunjukkan bahwasanya kalamullāh disini/ kalimatullah disini adalah bukan makhluk itu adalah sifat Allāh, boleh beristiadzah dengan makhluk , menunjukkan bahwasanya kalimatullah/kalamullah disini bukan makhluk, sebab tidak boleh dan haram hukumnya bahkan bisa sampai kepada kesyirikan orang yang beristiadzah kepada makhluk, dan Al-Qur’an adalah Kalamullah sebagaimana yg sudah berlalu,حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِMenunjukkan Kalamullah itu bukan makhluk.Dan Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا[QS Al Kahfi 109]Seandainya Lautan itu menjadi tinta untuk kalimat-kalimat/ucapan² Allāh,Lautan ini adalah jumlah yang sangat banyak, tinta sebesar 1 tandon air seandainya untuk menulis berapa yang didapat apalagi ini adalah seluruh lautan yang ada di dunia ini menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allāh,لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّNiscaya lautan itu akan habis untuk menulis sebelum menulis seluruh kalimat-kalimat Allāh,وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًاMeskipun Kami mendatangkan tinta yang sebanyak itupula, datangkan lautan lagi dan itu sebagai tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allāh subhanahu wa ta’ala tidak akan ada habisnya, sebagaimana Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang kekal abadi Dialah Al Hayyu Al Akhir maka tidak ada habisnya kalimat-kalimat Allah, apakah makhluk juga demikian? Yang ada diatasnya maka dia akan sirna /binasa, itu sifat makhluk.Adapun Allāh subhanahu wa ta’ala dan juga sifat Allāh maka itu adalah tidak akan sirna,وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ۝Menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an itu adalah laysa Bi makhluk .

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 53

Halaqah 53 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Bukan MakhlukKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة، ليس بمخلوقDan mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk.Ini poin yang lain, poin pertama meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah, setelah kita sebutkan dalil²nya dari Al-Qur’an dari as-sunah itu adalah hakiki Kalamullah bukan majas, maka diantara keyakinan Ahlussunnah bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk tapi itu adalah sifat diantara sifat-sifat Allāh karena Al-Qur’an adalah Kalamullah dan Kalamullah itu adalah sifat Allāh & sifat Allāh bukan makhluk, Allāh dengan DzatNya , Nama dan juga sifatNya bukan makhluk.Diantara dalil yang menunjukkan bahwasanya Kalamullah ini adalah bukan makhluk, firman Allāh ﷻ ,..أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ[QS Al A’raf 54]Ketahuilah bahwasanya bagi Allāhالْخَلْقُ وَالْأَمْرُBagi Allāh penciptaan & perintah.Dan perintah Allāh subhanahu wa ta’ala adalah diucapkan oleh Allāh ﷻ, baik Al Amru Syar’i maupun Al Amru kauni,إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.Seandainya ucapan Allāh diantaranya adalah berupa perintah, Seandainya ucapan Allah ini adalah makhluk tentunya nggak dibedakan disini dengan Al waw, kalau dia termasuk makhluk cukupۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُHanya milik Allāh Al Kholq.masuk didalamnya ucapan² Allāh tapi karena ucapan Allāh ini bukan makhluk, sehingga di sana ada و, و athof yang asalnya adalah beda antara sebelum dan sesudah و .اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗKetahuilah bagi Allāh subhanahu wa ta’ala penciptaan dan juga perintah.Seandainya perintah, dan perintah dalam berupa ucapan Allāh ini adalah termasuk dalam makhluk tentunya tidak disebutkan setelahnya, menunjukkan bahwa Al-Qur’an ini adalah Kalamullāh subhanahu wa ta’ala dan Kalamullāh bukan makhlukAdapun dalam hadits maka Nabi ﷺ, mengatakan (ini adalah petunjuk bagi orang yang bersinggah disebuah tempat).مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَBarangsiapa yang singgah disebuah tempat kemudian mengatakan,أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَAku berindung dengan kalimat-kalimat Allāh yang sempurna yaitu dengan ucapan Allāh yang sempurna kalimat maksudnya adalah kalam dari kejelekan apa yang Allāh subhanahu wa ta’ala ciptakan, maka tidak akan dimudharoti dengan sesuatu apapun sampai dia meninggalkan tempat tersebut.Di sini beliau ﷺ diantara petunjuk beliau adalah kita berlindung dengan Kalamullāh berlindungi dengan kalimat-kalimat Allāh, boleh tidak kita boleh dengan makhluk ?tidak boleh .قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِkita berlindung dengan kepada Allāhu rabbal alamin, tidak boleh kita berlindung dengan makhluk, berlindung yaitu kita meminta untuk dilindungi bagaimana kita meminta perlindungan kepada makhluk yang lemah, yang Allāh subhanahu wa ta’ala menguasai tidak boleh dan haram hukumnya meminta perlindungan kepada makhluk, didalam sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh, menunjukkan bahwasanya kalamullāh disini/ kalimatullah disini adalah bukan makhluk itu adalah sifat Allāh, boleh beristiadzah dengan makhluk , menunjukkan bahwasanya kalimatullah/kalamullah disini bukan makhluk, sebab tidak boleh dan haram hukumnya bahkan bisa sampai kepada kesyirikan orang yang beristiadzah kepada makhluk, dan Al-Qur’an adalah Kalamullah sebagaimana yg sudah berlalu,حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِMenunjukkan Kalamullah itu bukan makhluk.Dan Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا[QS Al Kahfi 109]Seandainya Lautan itu menjadi tinta untuk kalimat-kalimat/ucapan² Allāh,Lautan ini adalah jumlah yang sangat banyak, tinta sebesar 1 tandon air seandainya untuk menulis berapa yang didapat apalagi ini adalah seluruh lautan yang ada di dunia ini menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allāh,لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّNiscaya lautan itu akan habis untuk menulis sebelum menulis seluruh kalimat-kalimat Allāh,وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًاMeskipun Kami mendatangkan tinta yang sebanyak itupula, datangkan lautan lagi dan itu sebagai tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allāh subhanahu wa ta’ala tidak akan ada habisnya, sebagaimana Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang kekal abadi Dialah Al Hayyu Al Akhir maka tidak ada habisnya kalimat-kalimat Allah, apakah makhluk juga demikian? Yang ada diatasnya maka dia akan sirna /binasa, itu sifat makhluk.Adapun Allāh subhanahu wa ta’ala dan juga sifat Allāh maka itu adalah tidak akan sirna,وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ۝Menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an itu adalah laysa Bi makhluk .Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
D
Dwi Susanti

📍 Kabupaten Purbalingga

Halaqah 128 | Beriman Kepada Hari Akhir dengan Pembahasan 3 Macam Syafaat di Hari Kiamat~Syafaat Pertama

Halaqah yang ke-128 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Beliau mengatakanوَلَه صلى الله عليه وسلم فِي الْقِيَامَةِ ثَلاثُ شَفَاعَاتٍBeliau ﷺ (dhamirnya disini kembali kepada Rasulullāh ﷺ karena sebelumnya disebutkan nama Beliau  وَأَوَّلُ مَن يَسْتَفْتِحُ بَابَ الْجَنَّةِ مُحَمَّدٌ) di hari kiamat ada tiga (jenis) syafa’at.Dan syafa’at dari kata شَفْع yang artinya adalah genap, karena orang yang memberikan syafa’at itu menjadikan yang sebelumnya seseorang ganjil dan dia memiliki permintaan ketika kita memberikan syafa’at jadi ada dua sekarang yaitu menjadi genap, yang sebelumnya dia sendiri saja yang meminta karena ada yang memberikan syafa’at menjadi genap. Dan secara istilah yang dimaksud dengan syafa’at adalah thalabu al-khairi lil ghairihi (meminta kebaikan untuk orang lain), dan pembahasan tentang syafa’at sudah berlalu.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 03 - Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidul Islam Bagian 3

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke tiga dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Diantara kaidah yang disebutkan oleh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di dalam masalah pembatal keislaman adalah:• Terkadang seseorang mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan amalan yang kufur akan tetapi tidak dihukumi sebagai orang yang kafir, karena di sana ada syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika seseorang dihukumi sebagai orang yang kafir. Diantaranya:1. BalighApabila dia belum baligh, anak kecil misalnya, dia mengatakan Aku adalah Tuhan. Ucapan dia ini adalah ucapan yang kufur dan tidak diragukan dia adalah ucapan yang kufur. Tapi karena yang mengucapkan adalah seorang anak kecil yang belum baligh, maka tidak dihukumi anak kecil tersebut sebagai orang yang keluar dari agama Islam.Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,رفع القلم عن ثلاثة : عن صبي حتى يبلغ، وعن نائم حتى يستيقظ ، وعن مجنون حتى يفيق“Diangkat pena dari tiga golongan: dari anak kecil sampai dia baligh, dan dari orang yang tidur sampai dia bangun, dan dari orang yang gila sampai dia sadar.” [HR. At Tirmidzi]2. BerakalApabila ada seorang muslim yang tidak berakal mengucapkan ucapan yang kufur, maka tidak dianggap kafir, karena dia mengucapkan ucapan tersebut dalam keadaan dia tidak berakal.Orang yang mabuk misalnya, dia mengucapkan ucapan yang kufur, maka tidak dianggap sebagai orang yang kafir.3. Diantara syaratnya seseorang mengucapkan atau melakukan kekufuran, dalam keadaan dia memiliki kehendak sendiri dan bukan sedang dipaksa oleh orang lain.Terkadang seseorang dipaksa untuk mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan perbuatan yang kufur, padahal hatinya mengingkari. Dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dia yakin seyakin-yakinnya dengan Islam, tetapi apabila dia tidak mengucapkan kalimat kufur tersebut, dia akan dibunuh atau diancam akan disiksa. Kondisinya dipaksa untuk mengucapkan kalimat kufur. Kalau itu terjadi, maka hal ini tidak mengeluarkan dia dari Islam.Ucapan dia adalah ucapan yang kufur, akan tetapi tidak dihukumi sebagai orang yang kafir atau musyrik.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(مَن كَفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ إِیمَـٰنِهِۦۤ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَىِٕنُّۢ بِٱلۡإِیمَـٰنِ وَلَـٰكِن مَّن شَرَحَ بِٱلۡكُفۡرِ صَدۡرࣰا فَعَلَیۡهِمۡ غَضَبࣱ مِّنَ ٱللَّهِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِیمࣱ)[Surat An-Nahl 106]“Barangsiapa yang kufur kepada Allah setelah keimanan dia, kecuali orang yang dipaksa, sedangkan hatinya dalam keadaan tenang dengan keimanan. Akan tetapi orang yang lapang dengan kekufuran, maka merekalah orang-orang yang mendapatkan kemarahan dari Allah dan merekalah orang-orang yang mendapatkan adzab yang besar.”Ayat ini turun ketika Ammar bin Yasir radhiyallahu Ta’ala ‘anhu dipaksa oleh orang-orang musyrikin untuk mengucapkan kalimat kufur, disuruh untuk mencela Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan saat itu beliau dalam keadaan disiksa, sehingga beliau pun terpaksa mengucapkan kalimat kufur padahal di dalam hati, beliau tenang dengan keimanan.Rasulullah shallallāhu’ alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ“Sesungguhnya Allah telah memaafkan untukku dari ummatku, kesalahan, lupa, dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” [HR. Ibnu Majah]Dari sini kita mengetahui kehati-hatian ahlussunnah di dalam masalah Nawaqidul Islam dan di dalam masalah pengkafiran. Apalagi di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن قَال لِأَخِيْهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, Wahai orang yang kafir, maka sungguh kekafiran ini kembali kepada salah satu diantara keduanya.” [HR. Bukhari dan Muslim]Menghukumi bahwasanya si fulan adalah kafir,si fulan adalah musyrik, ini dilakukan oleh para ulama yang ilmunya sudah mendalam, yang terpenuhi pada dirinya syarat-syarat sebagai seorang mujtahid (mufti) yang berfatwa di dalam hukum-hukum agama.Masuk kita pada pembahasan kitab ini.Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Beliau memulai kitab ini dengan Basmalah, meniru Allah di dalam Al-Qur’an, karena ayat yang pertama di dalam mushaf adalah Basmalah. Dan yang ke dua meneladani Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam karena ketika Beliau menulis surat-surat dakwah kepada Islam, Beliau Shallallāhu ‘alaihi wa sallam memulai surat-surat tersebut dengan Basmalah. Dan inilah yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam ketika mengirim surat kepada Bilqis. Beliau memulai dengan Basmalah.Allah berfirman menceritakan ucapan Ratu Bilqis,(إِنَّهُۥ مِن سُلَیۡمَـٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ)[Surat An-Naml 30]“(berkata Ratu Bilqis), Ini adalah dari Sulaiman dan isinya Bismillahirrahmanirrahim.”Yaitu surat Nabi Sulaiman diawali dengan Basmalah.Memulai dengan Basmalah maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Allah. Karena ب di dalam ucapan بسم الله adalah ب Al Isti’anah, yaitu huruf ب yang maknanya memohon pertolongan.بسم الله Dengan menyebut nama Allah, maksudnya adalah Aku memohon pertolongan kepada Allah dengan menyebut nama-Nya.Ismullah, yaitu nama Allah di sini mencakup seluruh nama Allah. Karena di dalam Bahasa Arab, apabila sebuah kata yang mufrod (tunggal) disandarkan, maka maknanya adalah umum.Ismu (nama) adalah tunggal. Disandarkan kepada lafdzul jalalah yaitu Allah, sehingga maknanya semua nama Allah. Ini seperti kata نعمة الله di dalam firman Allah,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ[Surat Al-Ahzab 9]“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atas kalian.”Nikmat di sini adalah mufrod (tunggal), tapi maksudnya adalah sebutlah atau ingatlah nikmat-nikmat Allah atas kalian.Demikian pula dengan kalimat Basmalah. Dengan menyebut nama Allah, maksudnya adalah nama-nama Allah. Dan nama-nama Allah yang paling baik maksudnya adalah nama-nama Allah yang paling baik yang Allah sebutkan di dalam firman-Nya,وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ[Surat Al-A’raf 180]“Dan Allah, Dia-lah yang memiliki Asmaul Husna, maka hendaklah kalian berdo’a dengannya.”Allah adalah lafdzul jalalah dan Dia adalah nama Allah yang paling besar. Nama-nama Allah yang lain disandarkan pada lafdzul jalalah.Seseorang mengatakan Ar Rahman adalah diantara nama-nama Allah, Ar Rahim adalah diantara nama-nama Allah, Al ‘Aziz adalah diantara nama-nama Allah. Namun tidak bisa dia mengatakan bahwa Allah adalah diantara nama-nama Ar Rahman.Dan lafdzul jalalah berasal dari kata Al Ilaah, artinya adalah Al Ma’bud (yang disembah). Sehingga makna Allah adalah sesembahan yang berhak disembah.Ar Rahman adalah nama Allah yang maknanya Maha Penyayang. Nama ini mengandung sifat Rahmah (kasih sayang). Dan nama-nama Allah adalah nama-nama yang memiliki makna, sehingga dinamakan dengan Asmaul Husna karena dia mengandung makna yang paling baik. Berbeda dengan nama makhluk. Terkadang seseorang memiliki nama yang baik, namun dia memiliki perangai yang buruk. Namanya Sholeh tetapi dia bukan orang yang sholeh. Namanya Abdullah, tetapi dia menyekutukan Allah.Ar Rahim artinya juga Maha Penyayang. Nama ini mengandung sifat Ar Rahmah.Perbedaan antara Ar Rahman dan Ar Rahim bahwa Ar Rahman mengandung sifat kasih sayang Allah yang mencakup seluruh makhluk, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Orang yang kafir di dunia juga mendapatkan sebagian dari rahmat Allah, seperti nikmat hidup, nikmat waktu, nikmat sehat, nikmat rezeki, dll.Ar Rahim mengandung sifat kasih sayang Allah yang Allah khususkan bagi orang-orang yang beriman, seperti hidayah kepada Islam, kenikmatan di dalam alam kubur, kenikmatan di dalam surga, dll.Allah berfirman,وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِینَ رَحِیمࣰا[Surat Al-Ahzab 43]“Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla sangat sayang kepada orang-orang yang beriman.”Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 53

Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS An Nisa 60 Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Semakin tinggi keislaman seseorang, semakin pasrah dengan keputusan Allah dan rasul-Nya. Bahkan seandainya keputusan tersebut berbeda dan bertentangan dengan hawa nafsunya, dia siap untuk meninggalkan hawa nafsunya tadi dan menggunakan keputusan Allah dan rasul-Nya. Bahkan seandainya keputusan tersebut bertentangan dengan keinginan dari orang tuanya, keinginan dari orang yang dia cintai. Dia yakin bahwasanya apa yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya itu lebih baik, bagi dirinya dan orang lain.Ini semakin kuat dan semakin besar kepasrahan seorang muslim.Oleh karena itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan tentang kewajiban untuk bertahakum dan merasa ridho dengan keputusan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.Sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala menafikan keimanan dari seseorang sampai dia berhukum dan menjadikan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagai hakim.{فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [النساء : 65]Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.فَلَا وَرَبِّكَTidak demi Rabbmu.Apa yang tidak?لَا يُؤْمِنُونَMereka tidak akan beriman.Tidak dinamakan beriman.حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْSampai menjadikan dirimu sebagai hakim di dalam perselisihan yang terjadi di antara mereka.Makanya seorang muslim, ketika dia terjadi perselisihan, baik dengan temannya, dengan keluarganya, dengan siapa saja, yang pertama kali dalam hatinya muncul keputusan Allah dan rasul-Nya. Karena itulah yang paling baik bagi saya. Saya siap, baik keputusan tersebut sesuai dengan pendapat saya sementara ini, atau sesuai dengan pendapat teman saya.Kalau memang itu adalah keputusan dari Allah dan rasul-Nya. Bukan justru mencari-cari bagaimana pendapat tadi sesuai dengan dicarikan dalilnya supaya kelihatan ilmiah dan seterusnya. Tidak.Buka hanya menjadikan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, sekadar sebagai hakim saja, tidak cukup berhenti sampai di situ, tapi ada perkara yang lain harus dia lakukan. Bagaimana seandainya Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam sudah mengeluarkan sebuah hukum. Bagaimana seandainya dia sudah menemukan hadits yang memberikan keputusan, menunjukkan yang benar terhadap apa ya dia perselisihkan.حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًاKemudian mereka tidak menemukan di dalam diri mereka haroj, berat hati terhadap keputusan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.Kalau masih ada haroj, masih ada berat hati di dalam hatinya berarti masih لَا يُؤْمِنُونَ. Kapan menjadi sempurna? Ketika di dalam hatinya dia menemukan kelapangan atas keputusan dari Allah dan juga rasul-Nya.ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَTerhadap apa yang Engkau putuskan wahai Muhammad.وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًاDan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan.Ini adalah sikap seorang muslim.Dan dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan :{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا} [الأحزاب : 36]Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًاTidak boleh bagi seorang yang beriman baik laki-laki maupun wanita apabila Allah dan rasul-Nya sudah memutuskan sesuatu untuk dia.أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًاMaka tidak boleh dia memiliki pilihan yang lain.Pilihan yang satu bagi orang yang beriman baik laki-laki maupun wanita adalah apa yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya itu saja. Dan dia yakin seyakin-yakinnya disitulah kebaikan bagi dirinya, maslahat bagi dirinya. Meskipun secara dhohir mungkin di depannya dia melihat sepertinya merugikan dia, menghancurkan kehidupannya, dan seterusnya.Tapi orang yang beriman yakin bahwasanya dibalik keputusan Allah dan rasul-Nya tersebut ada hikmah, ada maslahat.Oleh karena itu, ayat ini jelas di antara kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika dia bertahakum kepada Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya di dalam seluruh perkara yang dia hadapi. Ini adalah termasuk konsekuensi dari keislaman dia. Dan barangsiapa yang bertahakum kepada thaghut, maka ini adalah meninggalkan satu di antara konsekuensi Islam, karena dia berarti masih beriman dengan thaghut tersebut. Padahal dalam Islam, kalau sudah menyerahkan diri kepada Allah, maka dia harus meninggalkan thaghut tersebut, maka barangsiapa yang bertahakum kepada thaghut, menunjukkan bahwasanya dia masih meninggalkan sebagian dari konsekuensi Islam. Dan ini adalah tercela dan di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menisbahkan tahakum kepada thaghut ini sebagai bentuk penyesatan dari syaiton. Dan ini menunjukkan bahwasanya tahakum kepada thaghut, ini adalah perintah dari syaiton. Dan inilah yang diinginkan oleh syaiton. Dan ini adalah bentuk dari kesesatan dan itu semua menunjukkan bahwasanya ini adalah bertentangan dengan Islam itu sendiri.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah

Halaqah 28 : Tingkatan Dalam⁸ Agama Islam Dan Dalil Rukun IslamHalaqah yang ke-28 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Kemudian beliau mengatakan :وهو ثلاث مراتب: الإسلام، والإيمان، والإحسان، وكل مرتبة لها أركانDan Dīnul Islām yang khusus yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan.⑴ Islām (الإسلام)⑵ Imān (الإيمان)⑶ Ihsān (الإحسان)√ ISLĀM adalah amalan-amalan dhāhir.√ IMĀN amalan-amalan bathin.√ IHSĀN adalah puncak dari Imān dan Islām.Orang yang pertama kali masuk kedalam agama Islām kemudian dia bersyahadat, secara dhāhir dia melakukan amalan-amalan Islām, tapi jika keimanannya belum sampai kedalam hatinya hanya sekedar الإستسلم بعمل الظاهر (keimanan tersebut belum sampai kedalam relung hatinya) maka tingkatannya masih Islām.قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَاOrang-orang Arab (Badui) mereka mengatakan آمَنَّا padahal mereka baru masuk Islām. Tingkat kwalitas keislāmannya masih dasar, tapi mereka mengatakan آمَنَّا (Kami beriman).قُلْ لَمْ تُؤْمِنُواKalian belum beriman (maksudnya) adalah keimanan itu belum benar-benar masuk kedalam hati kalian, tapi dhāhir kalian sudah إستسل (sudah bersyahadat, shalāt).وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَاAkan tetapi ucapkanlah yang lebih tepat adalah أَسْلَمْنَا (Kami menyerahkan diri)وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْDan belum masuk keimanan ini kedalam hati-hati kalian (maksudnya) adalah keimanan yang sempurna. Adapun iman yang merupakan dasar dan juga pondasi seperti beriman kepada Allāh, beriman kepada rasūl, beriman kepada hari akhir telah mereka miliki.Misalnya :√ Meyakini bahwasanya Allāh yang memiliki rububiyyah, Dia-lah Allāh yang menciptakan.√ Meyakini bahwasanya Allāh-lah, satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.√ Meyakini bahwasanya Allāh ada.√ Meyakini bahwasanya Allāh memiliki nama dan juga sifat.Rukun Imān yang enam yang menjadi pondasi seorang muslim ada di dalam hati mereka, hanya saya kadarnya baru kadar minimal.Kadar yang lebih dari kadar minimal belum mereka miliki karena belum masuk kedalam hati mereka.وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْKalau kadar minimal sudah membaik, kemudian sedikit demi sedikit ada tambahan di dalam diri mereka, barulah mereka naik tingkatannya menjadi seorang mukmin.Berarti setiap mukmin adalah muslim karena dia telah melewati tingkatan Islām. Karena amalan dhāhir terus dia jaga dan keimanan terus dia pupuk sehingga bertambah keiman di dalam hatinya.Tapi tidak semua muslim menyerahkan diri dengan dhāhirnya,Seseorang dinamakan orang yang beriman karena dalam hatinya dia memiliki (sekedar)kadar minimal keimanan dan belum masuk kadar iman yang menjadi kadar tambahan.كل مؤمن مسلم وليس كل مسلم مؤمناًKalau dia terus istiqāmah di dalam melakukan amalan dhāhir, melakukan amalan yang bathin, terus belajar dan belajar. Kemudian mengenal tentang muraqabatullāh (mengenal lebih dalam tentang Allāh) sehingga amalan-amalan dhāhir dan bathin tadi dikerjakan dengan baik karena dia merasa diawasi oleh Allāh.Semakin baik tawakalnya, semakin baik mahabbahnya semakin baik raja dan khaufnya sehingga mencapai puncak kebaikan, maka dia akan berpindah kepada tingkatan yang terakhir (tingkatan yang paling tinggi) yaitu Ihsān.كل محسن مؤمن و ليس كل مؤمن محسناMenunjukkan bahwasanya setiap orang yang muhsin pasti dia muslim dan pasti dia mukmin TAPI tidak setiap orang yang muslim muhsin, tidak setiap orang yang beriman muhsin.Kemudian beliau mengatakan:وكل مرتبة لها أركان“Dan masing-masing dari tingkatan ini memiliki rukun-rukun”Yang dimaksud dengan rukun adalah الجزء الأقوى من شئ (bagian yang paling kuat dari sesuatu).Misalnya :Rukun Islām ada 5, jadi bagian yang paling kuat dari rukun Islām ini jumlahnya ada 5.Rukun Imān ada 6, jadi bagian yang paling kuat dari rukun Imān ini jumlahnya ada 6Rukun Ihsān ada 1 (satu)Jadi masing-masing dari tingkatan ini memiliki أركان dan dia adalah juz yang paling kuat. Kalau sampai أركان ini tidak ada, maka batal keislāman, keimānannya atau Ihsānnya karena أركان ini harus ada didalam setiap martabat tadi.Kemudian beliau mengatakan:فأركان الإسلام خمسة:Arkānul Islām (rukun Islām) jumlahnya ada lima sebagaimana sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari hadīts Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhu.Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ“Islām dibangun di atas lima perkara,Ucapan beliau dibangun diatas lima perkara menunjukkan bahwasanya perkara ini adalah perkara yang paling penting di dalam Islām.Sehingga Islām yang didalamnya banyak perkara, bisa tegak bisa terbangun menjadi sebuah bangunan di atas lima perkara ini.Lima perkara ini adalah perkara yang paling penting di dalam agama Islām tanpa-nya maka seseorang bisa batal keislāmannya.Islām dibangun di atas lima perkara; Syahadat ‘Lā ilāha illallāh dan (syahadat) Muhammad adalah hamba Allāh dan Rasūl-nya, menegakkan shalāt, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhān”.(Hadīts riwayat Al-Bukhāri dan Muslim dan dibawakan oleh Imam An-Nawawi didalam Al-arbain An-Nawawiyah hadīts ke-3)Kemudian beliau mengatakan:ودليل قوله تعالى : { إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَـٰمُ} وقوله تعالى : {وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ}Sesungguhnya agama disisi Allāh maksudnya adalah agama yang benar disisi Allāh.Kalau disisi manusia, orang Nashrani (misalnya) mengatakan agama mereka yang benar. Orang Yahūdi mengatakan agama mereka yang benar .وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ لَيْسَتِ ٱلنَّصَـٰرَىٰ عَلَىٰ شَىْءٍۢ وَقَالَتِ ٱلنَّصَـٰرَىٰ لَيْسَتِ ٱلْيَهُودُ عَلَىٰ شَىْءٍۢDan orang-orang Yahūdi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahūdi tidak mempunyai sesuatu pegangan”.(QS. Al-Baqarah: 113)Allah berfirman :كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَMasing-masing dari mereka ( kelompok orang-orang musyrikin) mereka bangga dengan sesembahannya dan menyalahkan orang yang menyembah selain sesembahannya. (QS. Ar-Rum 32)Tetapi kalau disisi Allāh maka yang benar adalah agama Islām.Jika ingin diterjemahkan : “Sesungguhnya agama yang benar” JANGAN menerjemahkan “Sesungguhnya agama yang paling benar ” Karena kalau “Yang paling benar” berarti agama yang lain juga benar, TAPI Islām yang paling benar.Sehingga terjemah yang shahīh mengatakan yang benar, agama yang benar disisi Allāh adalah ISLĀM adapun selainnya maka agama itu salah. Benar bukan disisi Allāh tapi benar disisi pengikut atau penganutnya.Kalau disisi Allāh رب السماوات والأرض yang semuanya akan kembali kepada Allāh. Orang yang beriman kepada Allāh dan hari akhir maka harusnya dia mencari agama yang benar disisi Allāh bukan benar disisi manusia.Kemudian beliau mengatakan:وقوله تعالى : {وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ}“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islām maka tidak akan diterima dari-nya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Āli-Imrān:85)Orang yang memang takut kepada Allāh dan dia percaya kepada hari akhir maka harusnya dia mencari agama agama Islām.Barangsiapa yang mencari selain agama Islām maka Allāh tidak akan menerima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.Datang di hari kiamat setelah dia capek didunia setelah dia menyangka itulah yang diterima itulah yang membawa keselamatan bagi dia, di akhirat ternyata dia datang di hari kiamat dalam keadaan amalan yang dia lakukan dia dunia tidak diterima disisi Allāh.Jadi dari dua dalīl ini, beliau ingin menegaskan makna Islām secara umum adalah agama para nabi dan rasūl, agaman yang benar disisi Allāh dan agama yang diterima disisi Allāh Azza wa Jalla.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 2 : PERBEDAN ANTARA NABI DAN RASUL

Halaqah 2 :PERBEDAN ANTARA NABI DAN RASULOleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.AØ  Dalil-Dalil Perbedaan antara Nabi & Rasul :Allah berfirman :وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan syaitan pun memasukkan godaan-godaan kedalam keinginannya tersebut” (QS. Al-Hajj : 52)Ayat diatas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.Ø  Pendapat LemahAda Ulama mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan.Pendapat yang lemah karena dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan wahyu.Sebagaimana dalam firman Allah:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-godaannya kedalam keinginannya tersebut” (QS. Al-Hajj : 52)Allah Mengatakan:“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi”ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk menyampaikan.Demikian pula didalam hadits Rasulullah ﷺ bersabdaعُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ“Ditampakan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan seorang Nabi dan tidak seorang pun yang bersama beliau” (HR. Al Bukhâri dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah.Ø  Perbedaan Utama (Pendapat yang Kuat)Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah & Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, perbedaan mendasar keduanya terletak pada syariat dan kondisi kaum yang dihadapi:1.     NabiOrang yang Allah berikan wahyu diperintahkan untuk menyampaikan syariat sebelumnya dan diutus kepada kaum yang sudah mengetahui syariat tersebutDalilnya : Allah berfirman :…إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا…“…Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat tersebut bagi orang-orang Yahudi…” (QS. Al-Ma’idah : 44)Para Nabi Bani Israil menyampaikan syariat menggunakan kitab Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa AS.2.     RasulOrang yang Allah beri Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru dan diutus kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah.Ø  Kesimpulan: Nabi menguatkan syariat yang sudah ada untuk kaum yang sudah beriman, sedangkan Rasul membawa syariat baru untuk kaum yang menentang.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 2

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah Beriman Kepada Para RasulPerbedaan Antara Nabi Dan RasulDalil-dalil menunjukkan adanya perbedaan antara Nabi dan Rasul. Allah berfirmanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan syaitan pun memasukkan godaan-godaan kedalam keinginannya tersebut” (Al-Hajj : 52)Ayat diatas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.Ada ulama yang mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan namun ini adalah pendapat yang lemah karena ternyata dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan wahyu sebagaimana dalam Firman Allahوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-godaannya kedalam keinginannya tersebut” (Al-Hajj : 52)Allah Mengatakan“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi”ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk menyampaikan.Demikian pula didalam hadits Rasulullah ﷺ bersabdaعُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ“Ditampakan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan seorang Nabi dan tidak seorang pun yang bersama beliau” (HR Al Bukhâri dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah.Dari sekian banyak pendapat tentang perbedaan antara Nabi dengan Rasul pendapat yang lebih dekat insyaa Allah adalah pendapat yang mengatakanBahwa Nabi adalah Orang yang Allah berikan wahyu diperintahkan untuk menyampaikan syariat sebelumnya dan diutus kepada kaum yang sudah mengetahui syariat tersebut.Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad Al Amin As-Sinqity semoga Allah merahmati keduanya. Diantara dalilnya adalah firman Allah…إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا…“…Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat tersebut bagi orang-orang Yahudi…” (Al-Ma’idah : 44)Di dalam ayat ini Nabi-nabi Bani Israil mereka menyampaikan syariat Nabi Musa yang ada didalam Taurat, adapunPengertian Rasul secara syariat mereka adalah orang yang Allah beri Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru dan diutus kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →