🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 7 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 5

Halaqah 7 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 5Oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى·       Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah waspada dari ghuluw (berlebihan) terhadap para Rasul alaihimussalam, seperti menganggap beliau mengetahui yang ghaib atau mensifati beliau dengan sifat-sifat ketuhanan dan Allah ‘azza wa jalla melarang Ahlu kitab dari sikap ghuluw dengan firman-Nya: يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ“Wahai Ahlu kitab janganlah kalian berlebih-lebihan didalam agama kalian dan janganlah kalian berkata atas nama Allah kecuali kebenaran, sesungguhnya Isa Ibn Maryam adalah Rasulullah dan kalimatnya yang dia lemparkan kepada Maryam dan dia adalah Ruh dariNya maka berimanlah kalian kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kalian katakan Tuhan itu tiga… ”(An-Nisa’ : 171)Dan Rasulullah ﷺ telah melarang kita untuk mengikuti langkah-langkah mereka, beliau ﷺ bersabda:لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian memujiku dengan berlebihan, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan didalam memuji Ibn Maryam, sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan RasulNya” (Hadits Shahih Riwayat Al-Imam Al-Bukhari)§  Contoh Ghuluw : Orang-orang Nashrani adalah mengatakan ‘Isa anak Allah, orang Yahudi mengatakan ‘Uzair adalah anak Allah,Allah berfirman:وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ“Telah berkat orang-orang Yahudi bahwa ‘Uzair adalah anak Allah dan berkata orang-orang Nasrani bahwa Al-Masih adalah anak Allah, demikianlah ucapan-ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka menyamai ucapan orang-orang yang kafir sebelum mereka, Allah melaknat mereka, lalu bagaimana mereka berpaling” (At-Taubah : 30)·       Para Rasul alaihimussalam tidak memiliki sedikitpun sifat Rububiyah dan Uluhiyah yaitu sifat-sifat ketuhanan mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali setelah diberi tahu oleh Allah ‘azza wa jalla.Allah berfirman:عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦۤ أَحَدًا (٢٦) إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدً۬ا (٢٧“Dia lah Allah yang mengetahui perkara yang ghaib maka tidaklah Dia menampakkan perkara yang ghaib kepada siapa pun, kecuali orang yang Allah ridhai dari kalangan para Rasul” (Al-Jin : 26 – 27)·       Dan Para Rasul juga tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kecuali dengan kehendak Allah.Allah berfirman:قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ“Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku sendiri manfaat dan mudharat kecuali apabila Allah menghendaki dan seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tentunya aku tidak akan ditimpa kejelekan, tidaklah aku kecuali sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raf : 188)

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 32 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (01)🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahBeliau rahimahullāh mengatakan ودليل شهادة أن محمداً رسول الله قوله تعالى: لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحيم(QS. At-Taubah: 128)Dan dalīl tentang wajibnya bersaksi bahwa Muhamad adalah Rasūlullāh adalah firman Allāh Ta’āla di dalam surat At-Tawbah 128.“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasūl (seorang utusan) yang berasal dari kalian”Beliau rahimahullāh menyebutkan disini tentang dalīl wajibnya masing-masing bersaksi bahwasanya Muhammad ibnu Abdillāh ibnu Abdil Muthālib Al-Hasyimi beliau adalah seorang Rasūlullāh (seorang utusan Allāh).⇒ Sebuah kewajiban meyakini bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh, dan kita harus bersaksi.Apa dalīlnya bahwa beliau adalah Rasūlullāh, orang yang telah diutus Allāh, dipilih oleh Allāh dari sekian banyak manusia untuk menjadi seorang utusan Allāh, diberi amanat risalah oleh Allāh, kemudian disuruh menyampaikan risalah ini kepada manusia?Amanah yang Allāh berikan dipundak beliau merupakan risalah, yang didalamnya ada perintah dan larangan Allah, ada ahbar, ada tata cara beribadah yang harus disampaikan kepada hamba-hamba Allāh.Diberikan beban ini kepada beliau dan beliau diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia.يَـٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ…..“Wahai Rasūl, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…”(QS. Al-Maidāh:67)⇒ Kita harus meyakini bahwa beliau adalah Rasūlullāh yang Allāh pilih untuk menjadi wasithah (perantara) antara Allāh dengan kita.Allāh tidak memerintahkan dan melarang kita secara langsung dan tidak mengabarkan berita-berita kepada kita secara langsung, TAPI Allāh menyampaikan itu semua melalui seorang perantara yaitu beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.⇒ Kewajiban kita adalah meyakini bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allāh.Beliau rahimahullāh mendatangkan dalīl tentang kewajiban bahwa Muhammad adalah Rasūlullāh.Dalīlnya adalah firman Allāh di dalam surat At-Tawbah 128 :لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasūl dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”.Sungguh (ini adalah lil ta’kid) untuk menunjukkan penguatan penekanan لَقَدْ جَاءكُمْ –Huruf ل sendiri sudah menunjukkan penekanan di tambah قَدْ – Ini juga menunjukkan penguatan dan juga penekanan.Kabar dari Allāh bahwasanya ditengah-tengah manusia ada orang yang dipilih sebagai utusan dan dia telah datang ditengah-tengah manusia, beliau adalah Muhammad ibnu Abdillāh.Telah datang kepada kalian, di sini Allāh sedang mensifati Nabi-Nya (shallallahu ‘alayhi wa sallam).Sifat yang pertama bahwasanya dia adalah seorang rasūl berarti Allāh sendiri telah bersaksi bahwasanya Muhammad ibnu Abdillah adalah utusan Allāh.Dari kalangan kalian atau dari diri kalian, maksudnya adalah dari kalangan manusia Allāh tidak jadikan utusan bagi manusia dari kalangan malāikat TAPI Allāh jadikan utusan bagi manusia dari kalangan manusia sendiri.مِنْ أَنفُسِكُمْMaksud مِّنْ أَنفُسِكُمْ adalah من البَشَر – dari kalangan manusia.√ Kalau disebut di dalam Al-Qur’an رسول منكم – maka yang dimaksud dengan منكم adalah من العرب.√ Kalau مِّنْ أَنفُسِكُمْ maka yang dimaksud adalah dari kalangan manusia.Demikian pula لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ – berarti dari kalangan manusia (QS. At-Tawbah:128)Dalam surat Al-Jumu’ah: 2.هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّـۧنَ رَسُولًۭا مِّنْهُمْKembali kepada ٱلْأُمِّيِّـۧنَ adalah العرب.Jadi kalau رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ – maksudnya adalah رسول من بشر – tapi kalau tanpa انفس tapi langsung منكم atau منهم maka yang di maksud adalah الأمين.Disini لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ yaitu dari kalangan بشر – maka Allāh menjadikan rasūl-rasūl ini dikalangan manusia.قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِن نَّحْنُ إِلَّا بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْBerkata para rasūl kepada umat-umatnya إِن نَّحْنُ إِلَّا بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ – Tidaklah kami ini kecuali بشر seperti kalian. (QS. Ibrāhīm : 11)رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْRasūl dari kalangan manusia, ini adalah persaksian dari Allāh Azza wa Jalla bahwasanya Muhammad ibnu Abdillāh adalah seorang Rasūlullāh فَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًۢا – meskipunsebagian manusia (orang-orang kāfir Quraisy) mereka tidak percaya bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh.Tetapi kalau Allāh sudah bersaksi bahwasanya dia (Muhammad) adalah Rasūlullāh maka itu sudah cukup!هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًۭا“Dialah yang mengutus Rasūl-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allāh sebagai saksi”(QS. Fath:28)Allāh yang mengutus beliau (shallallahu ‘alayhi wa sallam) sudah menyatakan bahwa beliau adalah Rasūlullāh. Maka ini sudah cukup.ولله المثل الاعلى“Bagi Allāh itu permisalan yang lebih tinggi”Allāh sendiri yang mengutus beliau, sudah menyatakan bahwa dia (Muhammad) adalah Rasūlullāh. Dan Allāh mengatakan وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًۭا (cukuplah Allāh sebagai saksi) meskipun manusia mendustakan.لَّـٰكِنِ ٱللَّهُ يَشْهَدُ بِمَآ أَنزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنزَلَهُۥ بِعِلْمِهِۦ ۖ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا“Tetapi Allāh, Dia telah bersaksi dengan apa yang telah diturunkan-Nya (Al-Qur’an) kepada-mu (Muhammad). Dia menurunkan dengan ilmu-Nya. Para malāikat pun menyaksikan. Dan cukuplah Allāh yang menjadi saksi.” (QS. An-Nissa’ :166)⇒ Maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bersyahadat bahwasanya beliau adalah seorang Rasūlullāh.Jadi ayat ini jelas menunjukkan tentang kewajiban bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasūlullāh.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 56

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 56Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Keempat (Tafsiran Ibnu Abbas dari QS. Ali 'Imran: 106)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab membawakan dalil keempat yang bersumber dari penjelasan sahabat, yaitu atsar Abdullah bin Abbas radhiyallāhu 'anhuma saat menafsirkan QS. Ali 'Imran ayat 106:​(يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ)“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.”​Hakikat Hari Kiamat: Apa yang terjadi pada wajah manusia di akhirat (putih bersinar atau hitam legam) merupakan cerminan, hasil panen, dan balasan (jaza') dari apa yang mereka amalkan selama di dunia.​Mulai bab ini dan seterusnya, penulis akan menekankan konsekuensi syahadat Anna Muhammadan Rasulullah, khususnya kewajiban mengikuti sunnah dan meninggalkan bid'ah. Penulis menegaskan bahwa bid'ah sangat bertentangan dengan esensi Islam, karena Islam menuntut kepasrahan total tidak hanya dalam masalah iktikad (akidah) tetapi juga dalam masalah amaliah.​Atsar Penjelas dan Sumber Validitas Dalil​Tafsiran Abdullah bin Abbas radhiyallāhu 'anhuma:​تَبْيَضُّ وُجُوهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوهُ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالضَّلَالَةِ“Akan putih wajah-wajah Ahlussunnah wal Jamaah, dan akan hitam wajah-wajah ahli bidah dan kesesatan.”​Sumber Periwayatan:​Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsirnya dengan sanad dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhuma.​Disebutkan pula oleh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit (Al-Khathib Al-Baghdadi).​Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya secara ringkas tanpa menyebutkan sanad lengkapnya. (Terdapat variasi redaksi lain yang menyebutkan Ahlussunnah wal I'tilaf [persatuan] dan Ahlul Bida' wal Ikhtilaf/Furqah [perpecahan]).​Poin Penting Sejarah Istilah:Penggunaan nama "Ahlussunnah wal Jamaah" (serta lawannya: Ahlul Bida' wad Dholalah) bukanlah istilah baru (muta'akhirin), melainkan sudah digunakan langsung oleh sahabat Nabi, yaitu Ibnu Abbas yang bergelar Turjumanul Qur'an.Ayat Penyerta dan Dalil Pendukung ​Ayat Penyerta dan Dalil Pendukung Lain​Dalam teks halaqah, disebutkan pula penguat dari riwayat sahabat lain, yaitu atsar Abu Umamah yang mengaitkan kelanjutan ayat tersebut:​“فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ...”“Adapun orang-orang yang hitam kemerahan mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman?’...”​Abu Umamah radhiyallāhu 'anhu mengatakan: “Mereka adalah Khawarij.”Kesimpulan dan Sisi Pendalilan (Wajhul Dilalah)​Alasan Wajah Ahlussunnah Memutih: Karena mereka masuk Islam secara keseluruhan (kaffah), tidak setengah-setengah, dan memiliki sifat pasrah secara total terhadap tata cara ibadah sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah (prinsip sami'na wa atha'na).​Alasan Wajah Ahlul Bidah Menghitam: Karena mereka tidak kaffah dalam berislam. Mereka memiliki sifat membangkang dan ingin membuat hal-hal baru yang tidak memiliki dalil sahih. Perbuatan bidah mencerminkan ketidaksempurnaan Islam pada diri seseorang.​Sisi Pendalilan (Syahid): Adanya ancaman berupa dihitamkannya wajah di hari kiamat bagi pelaku bid'ah menunjukkan hukum haramnya memisah-misahkan agama (tidak kaffah), sekaligus menjadi dalil yang kuat tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan (kaffah) baik secara akidah maupun amaliah.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 6

Halaqah-06 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 4👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻDiantara cara beriman kepada para rasul adalah meyakini bahwa mereka ma’sum yaitu terjaga dari dosa besar seperti: zina, mencuri, menipu, sihir, membuat berhala, dan lain lain.Ini adalah kesepakatan umat, adapun orang Yahudi dan Nashrani maka mereka menganggap para Nabi dan Rasul melakukan Dosa besar, seperti keyakinan bahwa Nabi Harun dialah yang membuat berhala dan keyakinan bahwa Nabi Ibrahim mengorbankan Istrinya (Sarah) kepada Firaun dan seperti keyakinan bahwa Nabi Luth عَلَيهِ السَّلَامُ mabuk dan lain lain.Adapun dosa kecil maka menurut sebagian besar ulama terkadang seorang nabi melakukan dosa kecil namun tidak sampai berhubungan dengan wahyu dan dengan cepat sekali mereka bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.Nabi Adam alaihi salam beliau dilarang untuk memakan buah tertentu didalam surga, akan tetapi beliau melanggarnya kemudian beliau mengatakanرَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Wahai Rabb kami, kami telah mendholimi diri kami sendiri dan seandainya Engkau tidak mengampuni dosa kami dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi” (Al-A’raf : 23)Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُ meminta kepada Allah supaya menyelamatkan anaknya yang kafir, maka Allah ajja wajalla menegur beliau dan menasihati beliau kemudian beliau langsung meminta kepada Allah seraya berkataقَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Beliau berkata wahai Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari meminta kepadaMu sesuatu yang tidak aku memiliki ilmu tentangnya dan seandainya Engkau tidak mengampuni aku dan menyayangi aku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi” ( Hud : 47)Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ pernah memukul orang kifti (orang Mesir) yang berakibat terbunuhnya orang tersebut ini adalah dosa kecil karena pukulan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ sebenarnya tidak mematikan dan beliau عَلَيهِ السَّلَامُ juga tidak bermaksud untuk membunuh, Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengiringi kesalahan ini dengan taubat kepada Allah.Allah berfirman:قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Beliau berkata wahai Rabbku sesungguhnya aku mendzhalimi diriku sendiri maka ampunilah aku, maka Allah pun mengampuni beliau sesungguhnya Allāh adalah Dzat Yang Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang” (Al-Qashas : 16)Nabi Yunus عَلَيهِ السَّلَامُ pernah marah meninggalkan kaumnya karena mereka tidak menerima dakwah beliau dan setelah ditelan ikan yang besar, Beliau pun segera meminta ampun kepada Allah. Allah berfirmanوَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Dan ingatlah kisah dzunnun yaitu Yunus ketika dia pergi dalam keadaan marah lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Maha Suci Engkau sungguh aku termasuk orang-orang yang dzhalim” (Al-Anbiya’ : 87)Nabi Muhammad ﷺ ketika sedang mendakwahi pembesar Quraisy datang kepada beliau Ibnu Ummi Maktum ingin bertanya tentang sesuatu, maka beliau bermuka masam dan berpaling, Allah pun menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ (١) أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ (٢) وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُ ۥ يَزَّكَّىٰٓ (٣)أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ (٤“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling karena seorang buta telah datang kepadanya. dan tahukah engkau (wahai Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya” (‘Abasa : 1-4)Setelah itu Rasulullah ﷺ pun memuliakannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Annas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la didalam Musnadnya.Buatlah flyer portrair ukuran story ig dengan desain watercolor aesthetic dengan sedikit ilustrasi tidak bernyawa sesuai topik

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 56

Pembahasan Dalil Keempat Tafsiran Ibnu Abbas Dari QS Aali Imran 106Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-56 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Beliau mendatangkan atsar dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma, menafsirkan tentang firman Allah :(يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ)(آل عمران: من الآية106)Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.قال ابن عباس – رضي الله عنهما –Berkata Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma,في قوله تعالى: يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌBerkata Abdullah bin Abbas semoga Allah meridhai keduanya, yaitu Abdullah dan Abbas, ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌPada hari di mana sebagian wajah itu akan terlihat, akan bersinar putih, dan pada waktu yang sama di hari tersebut, maka ada wajah-wajah yang hitam.Dan tentunya hari jaza’ tersebut ada sebabnya di dunia. Apa yang terjadi saat itu adalah cerminan, dan panen, atau hasil dari apa yang dilakukan oleh seseorang di dunia.يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌPada hari di mana wajah ada yang putih bersih dan ada di antara wajah-wajah tersebut yang hitam legam. Bisa dia menjadi dalil yang lain. Dalil di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan tentang wajibnya yang masuk ke dalam Islam secara keseluruhan.Dan nanti akan kita lihat seperti yang sudah kita sampaikan bahwasanya di dalam kitab ini, yaitu Fadhlul Islam, yang ingin beliau tekankan adalah tentang syahadat anna muhammadan Rasulullah. Lebih khusus lagi tentang kewajiban untuk mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah.Dan bahwasanya bid’ah ini bertentangan sekali dengan Islam. Keharusan kita adalah, bukan hanya di dalam masalah i’tiqod saja kita Islam, tapi juga di dalam masalah amaliyah, kita harus Islam juga. Dan di antara bentuknya adalah dengan mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah.Di sini akan mulai dan setelah bab ini akan kita lihat bagaimana beliau secara khusus membahas tentang masalah bid’ah.Dan bahwasanya bid’ah ini adalah bertentangan dengan Islam itu sendiri.Di sini beliau mendatangkan tafsirnya Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma.Beliau mengatakan :تبيض وجوه أهل السنة والائتلاف، وتسود وجوه أهل البدع والاختلاف.Akan putih wajah-wajah Ahlussunnah dan ahli al-i’tilaf.Apa yang dimaksud dengan i’tilaf? Al-ijtima’.يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌDisebutkan atsar dari Abu Umamah.فأما الذين اسودت وجوههم أكفرتم بعد إيمانكم”، قال: هم الخوارج.تبيض وجوه أهل السنة والائتلاف، وتسود وجوه أهل البدع والاختلاف.Di sini dinukil oleh Ibnu Katsir :وقوله تعالى : ( يوم تبيض وجوه وتسود وجوه ) يعني : يوم القيامة ، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة ، وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة ، قاله ابن عباس ، رضي الله عنهما .Tapi, tentunya dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau meringkas, tidak disebutkan sanadnya.Di sini disebutkan,ذكره أبو بكر أحمد بن علي بن ثابت الخطيب البغداديAda dalam tafsir Ibnu Abi Hatim dengan sanad beliau.عن سعيد بن جبير عن ابن عباس في قوله يوم تبيض وجوه وتسود وجوه قال تبيض وجوه أهل السنة والجماعةKemudianقول تعالى وتسود وجوه وبه عن ابن عباس وتسود وجوه قال تسود أهل البدع والضلالةBerarti bisa ditulis, dikeluarkan oleh Imam Abu Hatim di dalam tafsirnya.Dengan lafadz bukan Ahlussunnah Wal i’tilaf tapi Ahlussunnah Wal jamaah.تبيض وجوه أهل السنة والجماعةتسود أهل البدع والضلالةBerarti penamaan Ahlussunnah Wal jamaah, ini bukan penamaan yang muta’akhir, bahkan seorang sahabat, yaitu seperti Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, sudah menggunakan lafadz ini.Dan lawan dari Ahlussunnah Wal jamaah adalah ahlul bid’ah wa adh-dholalah. Ini tafsir dari turjumanul Qur’an, Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, yang kita tahu tentang keutamaan beliau dan ilmu beliau di dalam masalah tafsir Al-Qur’an.Beliau menafsirkan wajah-wajah yang memutih tadi adalah wajah-wajah siapa? Ahlussunnah Wal jamaah. Karena mereka masuk Islam secara keseluruhan, tidak setengah-setengah, seperempat-seperempat, tapi masuk Islam secara keseluruhan.Adapun Ahlul bida’, maka wajah mereka akan menjadi hitam, karena mereka tidak kaffah di dalam Islam mereka. Tapi mereka melakukan bid’ah. Mereka melakukan bid’ah-bid’ah. Dan ini seseorang melakukan bid’ah, ini menunjukkan ketidaksempurnaan Islam yang dia miliki.Sudah kita jelaskan berulangkali, bahwasanya termasuk konsekuensi dari keislaman seseorang adalah pasrah di dalam masalah tata cara ibadah. Tidak perlu dia membuat sesuatu yang baru, pokoknya ana manut dengan apa yang tersebut di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau ada dalilnya ana amalkan. Kalau tidak ada dalilnya maka saya tidak amalkan. Ini yang namanya pasrah.Adapun Ahlul bida’, masih ada Nau, membangkang, ingin menentang, ingin membuat sesuatu yang baru yang tidak ada di dalam dalil yang shahih. Karena sebab inilah, akhirnya mereka di akhirat akan menjadi gelap wajah mereka.Bagaimana segi pendalilannnya?Jelas di sini menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, karena di sini ada ancaman dengan hitamnya wajah bagi orang yang tidak Islam secara kaffah. Di antaranya adalah Ahlul bida’. Di antaranya adalah ancaman tentang hitamnya wajah di hari kiamat bagi Ahlul bida’ yang mereka adalah bagian dari orang-orang yang tidak Islam secara kaffah, menunjukkan tentang haramnya tidak Islam secara kaffah, dan menunjukkan tentang wajibnya masuknya ke dalam Islam secara kaffah. Karena di sini ada ancaman sampai hitam wajahnya, menunjukkan tentang haramnya perbuatan mereka, yaitu memisah-misahkan agama ini. Dan menunjukkan tentang wajibnya menerima Islam secara kaffah dan masuk ke dalam Islam secara kaffah, seluruhnya.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 56 | Status Orang yang Menyifati Allāh dengan Makna Sifat Makhluk

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر ،Barangsiapa yang mensifati Allāh dengan satu makna di antara makna-makna manusia,Yang dimaksud adalah mensifati Allāh dengan sifat-sifat manusia yaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk atau dengan manusia seperti mengatakan bahwasanya Kalamullah sama dengan kalamulbashar berarti Kalamullah adalah dengan makhluk atau secara umum mensifati Allāh dengan sifat-sifat makhluk menyerukan karena Allah dengan makhluk maka,فقد كفرSungguh dia telah keluar dari agama Islam.Tasbih ini adalah termasuk kekufuran karena ini merendahkan Allāh menyerupakan Allāh Dzat yang Maha sempurna dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan ini adalah merendahkan/penghinaan penghinaan terhadap Allāh dan menghinakan Allāh ini adalah sebuah kekufuran.Oleh karena itu guru dari Imam Bukhari rahimahullah beliau mengatakan,مَن شَبَّه اللهَ بخَلْقِه فقد كَفَرBarang siapa yang menyerupakan Allāh dengan makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam.Oleh karenanya dikatakan barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam karena dia menyerupakan Kalamullah dengan kalamumakhluk, kalamumakhluk itu makhluk, kalamullah itu dikatakan makhluk berarti dia menyerupakan kalau kalamullāh dengan kalamumakhluk maka barangsiapa yang mensifati Allāh dengan makna di antara makna manusia dengan sifat di antara sifat-sifat manusia maka semua dia telah keluar dari agama Islam sehingga ada sebagian yang mengatakan Al jahmiyyah itu kuffar, orang-orang jahmiyyah itu adalah orang-orang yang keluar dari agama Islamقال القرآن مخلوقBarangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka sungguh dia telah keluar dari agama lain,من أبصر هذا اعتبرMaka barangsiapa yang memahami ini mentadaburi apa yang ada dalam firman Allāhإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِorang yang mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia dia telah keluar dari agama Islam, diancam oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk berarti dia telah meniru ucapan orang tersebut, karena yangإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِMeyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk diucapkan oleh manusia dan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk juga sama dan yang shahih adalah bahwasanya Al-Qur’an adalah dalam Kalamu Al Khaliq walaisa bi makhluk, dia adalah sifat diantara sifat-sifat Allāh maka orang yang saya ingin orang yang abshoro/fahim memahami maka dia akan mengambil pelajaran oh berarti Al-Qur’an adalah kalamullāh bukan makhluk, Al muwasaq muwashakallah orang yang muwashaq adalah orang yang memberikan Taufiq oleh Allāh subhanahu wa taalaوعن مثل قول الكفار انزجرDan dia akan segera انزجر yaitu dia meninggalkan sesuatu yang semisal dengan ucapan orang-orang kafirالزجر عن مثله قول كفارApa ucapan orang² kafir mengatakan bahwasanyaإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِApa yang semisal itu, dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk itu yang semisal dengan ucapan orang-orang kafir, apa yang shahih dia mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullāh laisa bibmakhlukInilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim meninggalkan ucapanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِdan yang semisalnya yaitu yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk,وعلم أن الله بصفاته ليس كالبشرDan dia mengetahui bahwasanya Allāh ta’ala dengan sifat-sifatNyaليس كالبشرAllāh tidak sama dengan manusia,Dzat Allāh tidak sama dengan manusia, sifat Allāh tidak sama dengan sifat manusia termasuk di antaranya adalah Kalamullah , Kalamullah bukan makhluk adapun kalammanusia maka itu adalah makhlukوعلم أن الله بصفاته ليس كالبشرDan dia tahu bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifatnya bukanlah makhluk yang bukanlah seperti manusia.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 56

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 56 | Status Orang yang Menyifati Allāh dengan Makna Sifat MakhlukHalaqah 56 | Status Orang yang Menyifati Allāh dengan Makna Sifat MakhlukKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر ،Barangsiapa yang mensifati Allāh dengan satu makna di antara makna-makna manusia,Yang dimaksud adalah mensifati Allāh dengan sifat-sifat manusia yaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk atau dengan manusia seperti mengatakan bahwasanya Kalamullah sama dengan kalamulbashar berarti Kalamullah adalah dengan makhluk atau secara umum mensifati Allāh dengan sifat-sifat makhluk menyerukan karena Allah dengan makhluk maka,فقد كفرSungguh dia telah keluar dari agama Islam.Tasbih ini adalah termasuk kekufuran karena ini merendahkan Allāh menyerupakan Allāh Dzat yang Maha sempurna dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan ini adalah merendahkan/penghinaan penghinaan terhadap Allāh dan menghinakan Allāh ini adalah sebuah kekufuran.Oleh karena itu guru dari Imam Bukhari rahimahullah beliau mengatakan,مَن شَبَّه اللهَ بخَلْقِه فقد كَفَرBarang siapa yang menyerupakan Allāh dengan makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam.Oleh karenanya dikatakan barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam karena dia menyerupakan Kalamullah dengan kalamumakhluk, kalamumakhluk itu makhluk, kalamullah itu dikatakan makhluk berarti dia menyerupakan kalau kalamullāh dengan kalamumakhluk maka barangsiapa yang mensifati Allāh dengan makna di antara makna manusia dengan sifat di antara sifat-sifat manusia maka semua dia telah keluar dari agama Islam sehingga ada sebagian yang mengatakan Al jahmiyyah itu kuffar, orang-orang jahmiyyah itu adalah orang-orang yang keluar dari agama Islamقال القرآن مخلوقBarangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka sungguh dia telah keluar dari agama lain,من أبصر هذا اعتبرMaka barangsiapa yang memahami ini mentadaburi apa yang ada dalam firman Allāhإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِorang yang mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia dia telah keluar dari agama Islam, diancam oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk berarti dia telah meniru ucapan orang tersebut, karena yangإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِMeyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk diucapkan oleh manusia dan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk juga sama dan yang shahih adalah bahwasanya Al-Qur’an adalah dalam Kalamu Al Khaliq walaisa bi makhluk, dia adalah sifat diantara sifat-sifat Allāh maka orang yang saya ingin orang yang abshoro/fahim memahami maka dia akan mengambil pelajaran oh berarti Al-Qur’an adalah kalamullāh bukan makhluk, Al muwasaq muwashakallah orang yang muwashaq adalah orang yang memberikan Taufiq oleh Allāh subhanahu wa taalaوعن مثل قول الكفار انزجرDan dia akan segera انزجر yaitu dia meninggalkan sesuatu yang semisal dengan ucapan orang-orang kafirالزجر عن مثله قول كفارApa ucapan orang² kafir mengatakan bahwasanyaإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِApa yang semisal itu, dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk itu yang semisal dengan ucapan orang-orang kafir, apa yang shahih dia mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullāh laisa bibmakhlukInilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim meninggalkan ucapanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِdan yang semisalnya yaitu yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk,وعلم أن الله بصفاته ليس كالبشرDan dia mengetahui bahwasanya Allāh ta’ala dengan sifat-sifatNyaليس كالبشرAllāh tidak sama dengan manusia,Dzat Allāh tidak sama dengan manusia, sifat Allāh tidak sama dengan sifat manusia termasuk di antaranya adalah Kalamullah , Kalamullah bukan makhluk adapun kalammanusia maka itu adalah makhlukوعلم أن الله بصفاته ليس كالبشرDan dia tahu bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifatnya bukanlah makhluk yang bukanlah seperti manusia.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 31 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tafsir Syahadat Lāilāha IllallāhUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian beliau mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla, yang menjelaskan tentang makna kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.Beliau rahimahullāh mengatakan:وتفسيرها الذي يوضحهاDan tafsir (penjelasan) dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – yang menjelaskan tentang kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ adalah firman Allāh Ta’āla (QS. Az-Zukhruf 26-27)وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ ۞ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ ۞Dan ketika Ibrāhīm berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali yang telah menciptakan aku….”⇒ Ini adalah menafsirkan ayat dengan ayat.Karena kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – yang pertama dikandung di dalam firman Allāh QS. Āli-Imrān :18 شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ ternyata makna ini juga ditafsirkan (dijelaskan) oleh ayat yang lain.⇒ Berarti ini termasuk menafsirkan ayat dengan ayat.Ucapan beliau : إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ – disini ada nāfi’ sebagaimana Allāh menāfī’kan di ayat yang pertama nāfīyyan. Maka disini Ibrāhīm juga menāfī’kan جميع ما يعبد مِن دُونِ ٱللَّه.إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ“Aku berlepas diri, aku menāfī’kan, aku tidak percaya, aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah” (ini menāfī’kan sebagaimana Allāh juga menāfī’kan).إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي“Kecuali Dzat yang telah menciptakan aku”إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِيBerarti ini apa? Itsbat (menetapkan) sebagaimana Allāh menetapkan di dalam kalimat إلا هو إلا الله – maka Ibrāhīm juga menetapkan.Ibrāhīm mengatakan إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي – disebutkan فَطَرَنِي – ini syarat bahwasanya tauhīd Rububiyyah melazimkan tauhīd Uluhiyyah.Yang aku sembah, yang aku tidak berlepas diri adalah yang menciptakan aku, itulah yang berhak aku sembah. Berarti yang berhak untuk disembah adalah Dzat yang telah menciptakan.Sehingga beliau (rahimahullāh) kembali menyinggung tentang,لا شكر له في العبدته كما أنه لا شرك في الملكهMengingatkan tentang hubungan tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah, karena disinipun dalīl yang akan beliau sampaikan menyinggung kembali tentang hubungan antara tauhīd Uluhiyyah dengan tauhīd Rububiyyah.⇒ Ini adalah tafsir dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ yang diucapkan oleh Ibrāhīm (khalilullāh).Kemudian beliau rahimahullāh mengatakan (QS. Āli-Imrān :64) :قوله : قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِKatakan wahai Muhammad, bagaimana beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendakwahkan kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ini, kepada sebagian manusia yang mereka adalah Ahlul Kitāb.Inilah yang beliau dakwahkan:قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِKatakanlah wahai Ahlul Kitāb yaitu orang-orang Nashara Najran :قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْKemarilah kalian, mari kita bersepakat kepada sebuah kalimat yang sama antara kami (orang Islām) dan kalian (Ahlul Kitāb)Apa kalimat yang sama itu?أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَSupaya kita tidak menyembah KECUALI hanya menyembah Allāh saja (didalam pernyataan ini ada nāfi’ dan Itsbat) لَّا نَعْبُدَ adalah nāfīyyun dan إِلَّا اللَّهَ adalah Itsbat.√ Dakwahnya nabi Ibrāhīm mengandung nāfi’ dan juga Itsbat.√ Dakwah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam kalimat yang beliau sampaikan juga ada kalimat yang mengandung makna nāfi’ dan juga Itsbat.وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًاDan kita tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun. Ada yang mengartikan وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا – maksudnya adalah mengingatkan mereka supaya kita tidak menyekutukan Allāh dengan siapapun.Kalau di dalam kalimat لا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّه (umum) beliau ingin mengingatkan bahwasanya baik kami orang Islām maupun kalian Ahlul Kitāb jangan kita menyekutukan Allāh dengan siapapun.Kemudian beliau juga ingin mengajak mereka, karena kesyirikan orang-orang Ahlul Kitāb yang pertama adalah mereka menyekutukan Allāh dengan nabi Isa, maka beliau mengatakan وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا.Kemudian:وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِJangan sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan selain Allāh. Karena orang-orang Nashrani, mereka menjadikan pendeta mereka sebagai sesembahan selain Allāh.ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَـٰنَهُمْ أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ“Mereka menjadikan orang-orang ahli ibadah, orang-orang yang pintar, orang-orang yang ahli ilmu diantara mereka sebagai sesembahan selain Allāh” (QS. At-Tawbah:31)Pendeta mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allāh, kemudian mereka (para pengikutnya) ikut menghalalkan. Dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allāh, kemudian mereka (para pengikutnya) ikut mengharamkan.Itulah ibadah mereka yaitu mengikuti apa yang dikatakan oleh pendeta mereka dalam perkara halal dan juga haram, padahal itu bertentangan dengan hukum Allāh.Maka beliau rahimahullāh, didalam ucapan beliau :وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًاJangan sampai sesama kita (bukan nabi) pengikut mereka menjadikan pendeta mereka sesembahan selain Allāh.Kami tidak akan menjadikan ulama kami sebagai sesembahan selain Allāh kalian juga demikian jangan kalian menjadikan ulama sebagai أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ (sesembahan selain Allāh) Cukup Allāh saja!Maka diperinci yang demikian, dan intinya adalah pada kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – intinya disana ada nāfīyyun dan juga Itsbat.وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَApabila mereka tidak mau menerima (mereka berpaling) tidak mau menerima tawaran ini, maka katakanlah kalau mereka tetap ingin menyembah Isa, tetap menjadikan pendeta mereka sebagai Tuhan selain Allāh (maksudnya) adalah mengikuti halal dan juga haramnya mereka padahal itu bertentangan dengan syariat Allāh.فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَMaka katakanlah, ucapkanlah kepada mereka, saksikanlah oleh kalian kalau memang kalian tidak mau menerima kalimat ini bahwasanya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allāh.Kami sudah pasrah kepada Allāh tidak mau mengikuti ajaran nenek moyang kami atau ajaran kalian, yang disitu ada penyembahan kepada selain Allāh.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 55

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 55Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Ketiga QS Al-An'am 159 (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab melanjutkan pendalilan dari QS. Al-An’am ayat 159:Makna Lafadz Wa Kānū Syiya’ā​…وَكَانُوا شِيَعاً...“...dan mereka menjadi bergolongan...”​Sebab Perpecahan: Kelompok-kelompok atau aliran-aliran (shiya'an adalah jamak dari syi'ah yang berarti kelompok) muncul karena perbuatan farroqu diinahum (memisah-misahkan agama). Mereka hanya mengambil sebagian ajaran Islam dan membuang sebagian lainnya sesuai hawa nafsu.​Sebab Persatuan: Seandainya mereka seperti Ahlussunnah yang kaffah (totalitas) dalam berislam—mulai dari pakaian yang syar'i, cara makan, cara ibadah, manhaj, hingga cara berdakwah yang kembali kepada Islam—niscaya hal tersebut akan menyatukan mereka.Makna Lafadz Lasta Minhum Fī Syai’​...لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ…“...tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu (wahai Muhammad) kepada mereka.”​Pernyataan Tabrii' (Lepas Diri): Allah ﷻ menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sama sekali bukan bagian dari golongan orang-orang yang memecah belah agama.​Perbedaan Jalan: Jalan Nabi ﷺ adalah mengamalkan Islam secara kaffah di seluruh bidang kehidupan (tidak hanya akidah saja atau ibadah saja). Sementara jalan aliran-aliran sesat tersebut bertentangan secara total dengan jalan Nabi ﷺ karena ketidak-kaffah-an mereka.​Ayat Penyerta dan Sumber Dalil PendukungUntuk menguatkan bahwa menyelisihi jalan Nabi ﷺ adalah kebinasaan, pemateri membawakan dalil hadits Nabi ﷺ:​تَرَكْتُكُمْ عَلَى المَحجّةِ الْبَيْضَاءِ ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لا يَزِيغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ“Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang melenceng darinya kecuali dia akan binasa.”​Korelasi Dalil: Berpaling atau memisahkan diri dari jalan Islam yang terang dan utuh yang dibawa oleh Nabi ﷺ dipastikan akan membawa seseorang pada kebinasaan.Kesimpulan dan Korelasi PendalilanSisi Pendalilan (Wajhul Dilalah): Ayat ini menjadi dalil yang jelas tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan (kaffah).​Argumen Hukum: Allah ﷻ mencela perbuatan tafriiquddin (memecah belah agama) dan membebaskan Nabi-Nya dari golongan tersebut. Karena segala sesuatu yang bertentangan dengan jalan Nabi ﷺ adalah kesesatan dan perkara tercela, maka mengambil Islam secara parsial (sebagian-sebagian) hukumnya terlarang, dan masuk Islam secara utuh hukumnya adalah wajib mutlak.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 5

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Kitab Aqidah Wasithiyyah memiliki kedudukan yang tinggi di antara kitab-kitab yang lain, dia memiliki beberapa kelebihan dan juga keistimewaan. Diantara yang menjadi keutamaan kitab aqidah Wasithiyyah, pertama bahwasanya aqidah yang disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitab ini adalah aqidah yang berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi ﷺ dan juga ijma’ para salaf, ijma’ imam-imam para salaf. Diantara keutamaan kitab ini juga beliau sangat teliti didalam masalah penggunaan lafadz, jadi sebisa mungkin lafadz yang digunakan adalah lafadz yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits atau yang diucapkan oleh para salaf.Beliau berusaha untuk menjaga lafadz dan juga makna, beliau mengatakan, aku berusaha, berusaha di dalam menulis aqidah ini, yaitu Aqidah Wasithiyyah, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah baik lafadz maupun maknanya. Didalam ucapan beliau, beliau mengatakan, dan setiap lafadz yang aku sebutkan di dalam kitab ini maka aku berusaha untuk menulis ayat atau hadits atau ijma para salaf, artinya lafadz yang beliau sebutkan di dalam kitab ini berusaha semaksimal mungkin adalah lafadz-lafadz yang syar’i tidak keluar dari lafadz-lafadz yang syar’i.Ini menunjukkan tentang ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dan kehati-hatian beliau dalam menulis kitab ini, karena ini akan dibaca oleh banyak orang sehingga beliau berusaha untuk benar-benar baik lafadz maupun maknanya itu sesuai dengan Al-Qur’an dan juga hadits, tidak mendatangkan makna atau lafadz yang baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ahlul kalam mereka mendatangkan lafadz-lafadz yang baru, istilah-istilah yang baru yang tidak disebutkan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya dan mereka menginginkan untuk mentalbis yaitu mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebatilan, mempermainkan manusia dengan lafadz-lafadz tadi.Kemudian juga diantara kelebihan kitab ini selain dia adalah berdasarkan Al-Quran dan Hadits, dan nanti akan kita lihat bagaimana beliau rahimahullāh ketika berbicara tentang masalah nama dan juga sifat hanya menyebutkan ayat, tentang masalah Allāh ﷻ berbicara disebutkan oleh beliau ayat-ayat bahwasanya Allāh ﷻ berbicara, ketika beliau menyebutkan bahwasanya Allāh ﷻ beristiwa beliau sebutkan ayat tentang istiwa, demikian pula menyebutkan tentang hadits Nabi ﷺ. Ini adalah cara syaikhul Islam di dalam menulis kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah.Dan kemudian yang kedua adalah apa yang beliau tulis dalam Aqidah Wasithiyyah ini adalah hasil dan juga buah dari tatabbu dan juga istikra’, hasil penelitian beliau dan hasil membaca beliau terhadap ucapan-ucapan para salaf baik didalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ atau tentang hari akhir atau tentang iman dengan takdir atau tentang sikap kita terhadap para sahabat dan permasalahan-permasalahan akhirnya yang lain.Beliau mengatakan, tidaklah aku menulis dalam kitab ini kecuali aqidah para Salafus Sholih semuanya. Orang semisal beliau banyak membaca kitab-kitab para ulama yang isinya adalah nukilan-nukilan dari para ulama salaf tentang masalah aqidah, beliau baca dan beliau simpulkan dan kemudian beliau tuangkan di dalam kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah ini. Diantara keutamaan kitab ini bahwasanya beliau rahimahullāh berusaha dengan seluruh tenaga yang beliau miliki untuk mentaḥrir, untuk benar-benar teliti dalam menyebutkan masalah aqidah ini, beliau memberikan khulashoh, memberikan ringkasan.Diantara ketelitian beliau, beliau mengatakan, diantara kehati-hatian beliau, dan ini menunjukkan tentang tawadhu beliau, aku telah memberikan kesempatan kepada setiap orang yang menyelisihi aku dalam perkara-perkara ini, tiga tahun beliau memberikan kesempatan. Artinya beliau membuka pintu siapa yang ingin menunjukkan kesalahan dari kitab ini, selama tiga tahun beliau menunggu dan beliau mengatakan kalau memang ada yang menyelisihi, artinya ini bukan keyakinan para salaf, maka beliau siap untuk kembali artinya siap untuk menghilangkan sesuatu yang bertentangan dengan aqidah para salaf tadi kemudian kembali kepada jalan yang benar.Ini menunjukkan tentang tawadhu beliau dan bagaimana kehati-hatian beliau, beliau tidak ingin tersebar kitab tadi dalam keadaan salah, beliau bahkan menawarkan kepada para ulama khususnya bahkan yang menjadi orang-orang yang berseberangan dengan beliau, kalau muridnya saja atau orang yang sepaham dengan beliau mungkin biasa-biasa saja suruh meneliti mereka sudah percaya begitu saja, tapi kalau musuh, ini maka ketika mereka meneliti kitab musuhnya maka dia berusaha tapi ternyata selama 3 tahun diberikan kesempatan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak ada diantara mereka yang memberikan bantahan atau bisa menunjukkan mana aqidah beliau yang tidak sesuai dengan aqidah pada salaf.Ini menunjukkan tentang tentunya keyakinan beliau, tentang ilmu beliau yang dalam dan tawadhu beliau, beliau mengatakan yang demikian bukan karena sombong atau menentang atau hanya sekedar ingin berdebat, tidak, beliau ingin kebenaran, kalau memang ada yang tidak sesuai dengan pemahaman para salaf untuk apa kita mempertahankan sebuah kebathilan, maka beliau siap untuk ruju’, dan ketika ditunggu sedemikian lamanya tiga tahun, bukan satu bulan dua bulan, ternyata tidak ada. Ini menunjukkan bahwasanya kitab ini memiliki kelebihan, sudah dibaca oleh musuh-musuh beliau dan dibaca oleh orang yang sependapat dengan beliau dan ternyata para ulama menerima kitab ini dengan qabulan hasanah, yaitu menerima dengan baik.Kemudian diantara keutamaannya, kitab ini adalah kitab yang ringkas, subhanallāh, menyebutkan dalil, menyebutkan ringkasan aqidah ahlussunnah wal jama’ah, meskipun dia ringkas ternyata isi dari kitab Al-Aqidah Wasithiya ini sebagian besar permasalahan-permasalahan aqidah yang merupakan ushul, pondasi aqidah ahlussunnah wal jamaah, disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab ini. Jadi dia adalah kitab aqidah yang ringkas dan dia lengkap meskipun tidak semua tapi sebagian besar permasalahan aqidah yang membedakan antara ahlussunnah dengan ahlul bid’ah disebutkan oleh beliau rahimahullāh, tentunya ini adalah sebuah kelebihan, kita cari kitab-kitab yang seperti ini.Kemudian juga ditambah oleh beliau di akhir kitabnya tentang pentingnya seorang ahlussunnah, dan ini adalah ciri ahlussunnah wal jama’ah firqatun najiyah, bahwasanya mereka ya’muruna bil ma’ruf, mereka menyuruh kepada yang baik, melarang dari yang mungkar, mereka ini berakhlak yang baik. Beliau sebutkan tentang masalah akhlak karena tidak cukup seseorang menjadi ahlussunnah wal jama’ah hanya memperhatikan masalah aqidah, bahkan kalau aqidah yang dia pelajari ini benar dan dia adalah orang yang mengamalkan aqidah tadi, ini akan memunculkan, akan mewariskan rasa takut kepada Allāh ﷻ yang akan terlihat pada baiknya akhlak dia kepada orang lain.Inilah beberapa keutamaan kitab Al Aqidah Al Wasithiya sehingga tidak heran kalau Adz-Dzahabi rahimahullāh ketika beliau berkomentar tentang kitab Al Aqidah Al Wasithiya beliau mengatakan, telah sepakat baik musuh maupun kawan maupun lawan bahwasanya ini adalah aqidah salafi yang jayyid yaitu aqidah para salaf yang bagus. Dan Ibnu Rajab Rahimahullāh beliau mengatakan (ini juga muridnya syaikhul Islam), telah sepakat semuanya bahwasanya aqidah wasithiyyah ini adalah aqidah yang sunniyyah yang salafiyyah, yang sesuai dengan sunnah dan adalah aqidah para salaf kita.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 55 | Status Orang yang Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Ucapan Manusia

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih tentang keyakinan ahlussunnah di dalam masalah Alquran,Beliau mengatakan rahimahullāh,فَمَنْ سَمِعَهُ فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَBarangsiapa yang mendengarnya yaitu mendengar Al-Qur’an dibacakan oleh orang lain, atau dia membacanya,فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِKemudian dia meyakini bahwasanya ini adalah ucapan manusia/ini adalah makhluk,فَقَدْ كَفَرَMaka sungguh dia telah kufur,Orang yang mengatakan bahwasanya atau mendengar Al-Qur’an dan meyakini bahwasanya itu adalah ucapan manusia, apa hukumnya?Sungguh dia telah kufur mengatakan ini adalah ucapan Nabi Muhammad atau ini ucapan Jibril bukan ucapan Allāh maka dia telah kufur, barangsiapa yang mendengar Al-Qur’an kemudian meyakini itu adalah ucapan manusia maka dia telah keluar dari agama Islam.Demikian pula orang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, dia mungkin tidak mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia, Mua’tazilah tidak mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia tapi dia mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan, sama hukumnya, dia telah keluar dari agama Islam dan ini ada ucapan² yang shorih dari para salaf yang mengatakan barangsiapa yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam, ini takfir secara mutlak barangsiapa yang mengatakan demikian maka dia telah keluar dari agama Islam adapun takfir secara muayyan maka ini babnya lain harus ada sempurnanya syarat dan juga hilangnya penghalang.Al Imam Ahmad bin Hambal meskipun beliau mungkin dipaksa di penjara untuk mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk tapi beliau tidak mengkafirkan tidak serta merta mengkafirkan para penguasa atau orang lain yang saat itu mereka diliputi oleh subhat orang² Mua’tazilah, karena beliau tau bahwasanya belum tentu orang yang mengucapkan ucapan demikian kemudian dia memahami, mungkin dia dalam keadaan bodoh, mungkin terpaksa/takutفمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفرIni menunjukkan bahayanya ucapanوَقَدْ ذَمَّهُ اللهُ تعالى وَعَابَهُ وَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَ حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ:وَعَابَهُوَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala telah mencela orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamubasyar hu disini kembali kepadaفمن سمعهKembali kepada orang yang mendengar kemudian mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamu albasyar, Allāh mencelanya,وَعَابَهُKemudian Allāh mencelanya, hampir sama maknanya,وَأَوْعَدَهُBahkan Allāh subhanahu wa ta’ala mengancamnya dengan azab bukan Allāh cela saja tapi tapi Allāh ancam dengan azab, dan ancaman menunjukan bahwasanya ucapan itu ucapan yang dibenci oleh Allāh atau ucapan yang keliru fatal kekeliruannya dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamu Al Basyar,حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ: سَأُصْلِيهِ سَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakan Aku akan memasukkan dia ke dalam jahanam.Ini disebutkan oleh Allāh dalam Surat Al Mudatsir Kisah dari Al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi termasuk Orang Quraisy ketika dia mendengar Al-Qur’an (dia orang yang faham) Al Walid mengatakan bahwasanya ini bukan syair (dia sudah banyak mendengar syair) dan ini bukan sihir juga / ini bukan mantra dari para dukun, apa yang dia sebutkan adalah pujian terhadap apa yang dibawakan oleh Nabi ﷺ, dia justru malah memuji apa yang dibaca oleh Nabi ﷺ maka dicela oleh kaumnya, sampai akhirnya dia dengan lisannya mengatakanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ[QS Al Mudatsir 25]Sebelumnya Allah mengatakan,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨)Sesungguhnya dia memikirkan,فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩)Maka terlaknat dia,Bagaimana dia memikirkan/setelah dicela oleh kaumnya sendiri,ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠)ثُمَّ نَظَرَ (٢١)ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢)ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣)فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤)إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥)Sampai akhirnya dia mengatakan bahwasanya ini adalah sihir & ini adalah ucapan manusia, ini adalah ucapan Muhammad, padahal hatinya berbeda dengan apa yang dia ucapkanوَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ …[QS An Naml 14]Apa kata Allāh ﷻ setelahnya, ketika menyebutkan tentang ucapan Walidاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕTidaklah ini adalah ucapan manusia,Allāh mengatakan,سَأُصۡلِيهِ سَقَرَAku akan memasukan dia (Walid) kedalam Saqor/kedalam Nerakaوَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا سَقَرُؕلَا تُبۡقِىۡ وَ لَا تَذَرُ‌ۚTahukah kamu apa itu Saqor?Ini adalah sesuatu azab yang tidak akan menyisakan dan tidak akan meninggalkan, akan dihabisi/dihancurkan oleh Naar.Berarti disini ada ancaman bagi orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia. Ancaman menunjukkan bahwasanya ucapan itu adalah ucapan yang batil itu bukan Qoulubasyar, keyakinan bahwasanya itu ucapan Muhammad adalah ucapan yang batil orang yang mengatakannya berhak mendapatkan azab tersebutعلمنا فلما أوعد الله سقر لمن قال {إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشرKetika Allāh subhanahu wa ta’ala mengancam orang yang mengatakan ucapan tadi yaitu mengatakanاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕDiancam dengan Saqor maka kita mengetahuiBahwasanya Al-Qur’an ini ucapan yang menciptakan manusia.Kalau itu bukan ucapan manusia berarti itu adalah ucapan yang menciptakan manusia yaitu Allāh Kalamullah,ولا يشبه قول البشرDan bahwasanya berarti Kalamullah ini tidak serupa dengan ucapan manusia,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُOrang yang memahami bahasa Arab tahu ini bukan ucapan manusia, meraka sudah tahu ribuan syair, syair dari berbagai Qobilah mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an mereka mengetahui bahwa ini bukan ucapan manusia, Al-Qur’an dengan bahasa mereka dengan huruf² mereka tahu tapi mereka tahu ini bukan ucapan syair/ini bukan ucapan manusia, bahkan orang² yang belum mengenal bahasa Arab sekalipun (orang² kufur ketika mereka disuruh mendengarkan Al-Qur’an) mereka merasa ini bukan sembarang ucapan.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 5 Kitab KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI

Simpul yang ketiga di antara 20 simpul yang disebutkan di dalam kitab ini adalahجمع همة النفس عليهMengumpulkan keinginan jiwa.Jiwa kita ini punya banyak keinginan. Ingin itu, ingin ini, ingin mobil, ingin berkeluarga, ingin anak, dan seterusnya. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus mengagungkan ilmu.Diantara bentuk pengagungan ilmu kita harus kumpulkan keinginan-keinginan / himmah-himmah tadi, kita kumpulkan pada ilmu tadi. Ini bentuk bahwasanya kita benar-benar mengagungkan terhadap ilmu tadi, sampai keinginan-keinginan tadi kita kesampingkan, kita kumpulkan semuanya kepada ilmu.تُجمع الهِمَّة علىٰ المطلوب بتَفقُّد ثلاثة أمورٍDikumpulkan keinginan untuk mendapatkan ilmu tadi dengan kita memperhatikan tiga perkara:أوَّلِها: الحرص علىٰ ما ينفع، فمتىٰ وُفِّق العبد إلىٰ ما ينفعه حَرَص عليهBagaimana kita bisa mendatangkan keinginan yang besar tadi, bagaimana kita bisa mengumpulkan keinginan tadi untuk semuanya dikerahkan mendapatkan ilmu?Caranya adalah kita harus bersemangat untuk mendapatkan yang bermanfaat. Kita harus tahu bahwasanya ilmu itu adalah bermanfaat bagi kita di dunia dan juga di akhirat, kalau kita mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat maka kita akan bersemangat untuk mendapatkannya, sebagaimana dalam ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu.Maka seorang hamba yang diberikan Taufik untuk mengetahui apa yang bermanfaat baginya dia harus bersemangat untuk mendapatkannya. Kalau antum tahu bahwasanya ilmu ini adalah yang membawa kebaikan kita di dunia dan juga di akhirat maka kita harus semangat untuk mendapatkan ilmu tersebut.Ini yang pertama caranya adalah dengan mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat dan tidak ada yang lebih bermanfaat daripada ilmu agama. Kemudian yang ke dua,ثانيها: الاستعانة بالله ﷻ في تحصيلهKita harus meminta kepada Allāh ﷻ pertolongan untuk mendapatkannya, jangan hanya sekedar semangat untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat tapi kita harus memohon pertolongan kepada Allāh ﷻ.Tunjukkan bahwasanya antum benar-benar ingin mendapatkan ilmu dengan cara meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ, Ya Allāh ﷻ tolonglah saya untuk mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat. Ketika antum berdoa dan mengatakan Ya Allāh ﷻ mudahkanlah saya dalam menuntut ilmu itu menunjukkan bahwanya antum punya keinginan yang besar untuk mendapatkan ilmu.Tapi kalau antum jarang meminta kepada Allāh ﷻ jarang mengatakan,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًاAtau seandainya dia mengucapkan begitu saja tanpa dia memahami maknanya berarti mana hal yang menunjukkan bahwasanya antum menginginkan ilmu tersebut.Seorang penuntut ilmu harusnya sering dia Isti’anah dan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ dalam menuntut ilmu agama.ثالثِهاYang ke tiga,عدم العجز عن بلوغ البُغية منهJangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya, sebelum kita mendapatkan ilmu jangan kita lemah dan merasa tidak bisa mendapatkan ilmu tersebut.Seseorang harus memiliki husnudzon kepada Allāh ﷻ dan jangan dia merasa lemah, mungkin karena sakit kemudian dia lemah tidak mau menuntut ilmu padahal cuma sakit ringan saja atau dia kesulitan dalam masalah ekonomi kemudian dia mundur ke belakang, sudah ana mau berkebun saja atau karena jauh tempatnya kemudian dia beralasan karena jauh kemudian akhirnya dia mundur tidak jadi menuntut ilmu, ini namanya lemah, jangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya.وقد جُمِعت هٰذه الأمورُ الثَّلاثة في الحديث الَّذي رواه مسلم عن أبي هريرة أن الني صلى الله عليه وسلم قال: احرِص علىٰ ما ينفعك، واستعنْ بالله ، ولا تَعْجِزْDan telah dikumpulkan tiga perkara ini di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam mengatakan, Hendaklah engkau semangat di dalam perkara yang bermanfaat untukmu dan memohonlah pertolongan kepada Allāh ﷻ dan janganlah engkau lemah.Ini dikumpulkan dalam satu hadits, punya semangat terhadap perkara yang bermanfaat bagimu kemudian kita iringi dengan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ kemudian jangan kita lemah, lemah karena ekonomi lemah karena kejauhan lemah karena mungkin sakit dan seterusnya, kita harus punya semangat untuk sampai kepada ilmu tersebut.وقال ابن القيِّمBerkata Ibnul Qoyyim,إذا طلع نجم الهِمَّة في ظلام ليل البَطالة، ورَدِفه قمرُ العزيمة؛ أشرقت الأرض بنور ربِهّاApabila muncul bintang al-himmah (keinginan yang kuat), kalau sudah muncul keinginan yang kuat untuk mendapatkan ilmu di dalam kegelapan, kerusakan, dan juga kesibukan dengan suatu yang tidak bermanfaat, muncul tiba-tiba keinginan yang kuat, sebelumnya kita berada di dalam kegelapan kebodohan, kalau sudah muncul keinginan yang kuat ditambah lagi di sana ada ‘azimah, ada himmah dan juga ada ‘azimah, ada keinginan yang besar untuk mendapatkan sesuatu yang mulia tadi,أشرقت الأرض بنور ربِهّاMaka akan bercahaya bumi ini dengan cahaya Rabbnya, yaitu dengan ilmu.Maksud beliau di sini adalah kalau kita memang punya keinginan yang kuat maka kita akan mendapatkan InsyaAllāh apa yang kita inginkan.وإنَّ ممَّا يعلي الهِمَّة ويسمو بالنَّفس: ٱعتبارَ حال مَن سبق، وتعرُّفَ هِمم القوم الماضينKemudian beliau menyebutkan di sini bagaimana cara kita untuk mendapatkan semangat yang kuat, bagaimana supaya kita bisa mengumpulkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu sehingga tidak bercabang keinginan, caranya diantaranya adalah dengan kita mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum kita, kisah-kisah mereka, bagaimana mereka menuntut ilmu agama, kita mengetahui tentang himmah-himmah mereka orang-orang yang sudah berlalu.Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh,فأبو عبد الله أحمد ابن حنبلٍ كان – وهو في الصِّبا – ربَّما أراد الخروج قبل الفجر إلىٰ حِلَق الشيوخ، فتأخذ أُمُّه بثيابه وتقول – رحمة به: حتىٰ يُؤَذِّنَ النَّاس أو يُصبحواDahulu Imam Ahmad ibn Hanbal Abu Abdillah dan beliau saat itu masih kecil terkadang beliau ingin keluar dari rumahnya sebelum subuh, sebelum subuh itu sudah ingin keluar dari rumahnya, untuk menuju ke majelis-majelis Syaikh, mungkin saat itu masih kecil tapi sudah memiliki keinginan yang kuat ingin tahu ingin menghafal hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam.Maka ibu beliau memegang pakaian beliau dan mengatakan dengan kasih sayang, maksudnya adalah ingin karena perasaan beliau sebagai seorang ibu menyayangi anaknya, beliau mengatakan sampai adzan atau sudah masuk waktu pagi baru engkau keluar. Beliau tidak melarang anaknya untuk menuntut ilmu tapi kasihan sebelum subuh sudah pergi, beliau bilang sampai adzan kalau sudah adzan silakan pergi atau masuk waktu pagi silahkan mendatangi majelis-majelis ilmu tersebut.Itu Al Imamu Ahmad ibn Hanbal bagaimana beliau bisa sampai menjadi seorang imam besar, demikian semangat beliau datang majelis ilmu. Sebelum datang gurunya dia sudah semangat untuk mendatangi majelis tersebut. Jangan kita berlambat-lambat dalam menghadiri majelis ilmu.وقرأ الخطيب البغداديُّ صحيح البخاري كلَّه علىٰ إسماعيل الحِيريِّ في ثلاثة مجالسَAl-Khatib Al Baghdadi (ini menunjukkan bagaimana semangat mereka untuk mendapatkan ilmu) membaca Shahih Al-Bukhari semuanya kepada Ismail Al-Hiyriy dalam tiga majelis saja.ٱثنان منها في ليلتن من وقت صاة المغرب إلىٰ صاة الفجرTiga majelis, dua diantaranya ada di dua malam dari semenjak shalat magrib sampai shalat fajar, baca terus baca Shahih Al-Bukhari. Ini yang dinamakan dengan qira’ah yaitu membaca kitab tersebut kepada gurunya, mungkin jarang disyarah tapi membaca saja sekedar membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam meskipun tidak disyarah oleh gurunya itu sudah besar pengaruhnya terhadap keimanan seseorang. Kemudian di hari yang ke tigaواليوم الثَّالث من ضحوة النَّهار إلىٰ صاة المغربDari siang hari sampai shalat magrib.ومن المغرب إلىٰ طلوع الفجرDitambah lagi majelisnya dari maghrib sampai subuh.Jadi hari yang ke tiga lebih panjang lagi, dari dzuhur sampai maghrib dilanjutkan lagi dari maghrib sampai terbit fajar.Ini kalau sudah semangat dalam hati mereka membara maka tidak ada yang menghalangi mereka, mereka berusaha untuk mengkhatamkan membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam tadi dalam waktu yang sangat singkat yang mungkin tidak dibayangkan oleh sebagian dari kita.وكان أبو محمَّدٍ ابنُ التَّبَّانِ أوَّلَ ٱبتدائه يدرس اللَّيل كلَّهSeorang ulama yang bernama Abu Muhammad Ibnu Tabban di awal beliau belajar, beliau belajar agama di seluruh malam.فكانت أُمُّه ترحمهIbunya sayang kepada beliau.وتنهاه عن القراءة باللَّيلKemudian melarang dia untuk membaca di malam hari, karena zaman dahulu sangat terbatas sekali cahaya di malam hari, bisa merusak matanya.فكان يأخذ المصباح ويجعله تحت الجَفنةKarena beliau semangat untuk mendapatkan ilmu, tidak tenang dia untuk tidur begitu saja tanpa membaca, maka apa yang beliau lakukan supaya bisa membaca padahal Ibunya sudah melarang, beliau mengambil lampu kemudian beliau taruh itu di bawah al-jafnah (bejana yang besar) sehingga tidak kelihatan.ويتظاهر بالنَّومKemudian dia pura-pura tidur.فإذا رقدتKalau Ibunya sudah tidur,أخرج المصباح وأقبل علىٰ الدَّرسMaka beliau pun mengeluarkan lampu tadi kemudian beliau pun belajar.Sehingga ibunya tidak melihat dia dalam keadaan belajar. Ini tidak mungkin bisa terjadi kecuali bagi orang yang memiliki semangat yang kuat di dalam menuntut ilmu. Dia merasa tenang dan merasa lezat di malam tersebut ketika dia membaca dan ketika dia menghafal ilmu tersebut.فكن رجاً رِجْلُه على الثَّرىٰ ثابتةMaka hendaklah engkau menjadi seorang laki-laki yang kakinya berada di atas bumi dalam keadaan kokoh.وهامةُ همته فوق الثُّرياDan dia memiliki keinginan yang tinggi, yang lebih tinggi daripada tsurayya (nama bintang), menjadi orang yang kokoh di atas bumi dan keinginan dia lebih tinggi daripada bintang.سامقةdalam keadaan tinggi.ولا تكن شابَّ البدن أشيبَ الهِمَّةJangan engkau menjadi seorang yang badannya saja yang muda tetapi keinginannya adalah keinginan seorang yang sudah tua.Jangan engkau menjadi seseorang yang punya badan yang muda tetapi keinginannya sudah tua yaitu sudah lemah padahal dia memiliki badan yang kekar.فإنَّ هِمَّة الصَّادق لا تشيبKarena himmah dan juga keinginan yang tinggi dari orang yang jujur, orang yang jujur keinginannya tadi yang mengumpulkan keinginan-keinginan dia tadi, maka itu tidak akan menjadi tua.Jadi orang yang jujur dalam keinginannya meskipun rambutnya ini beruban dan kulitnya sudah mulai berubah tapi kalau dia adalah orang yang jujur maka itu tidak akan merubah himmahnya, sampai tua pun dia akan menuntut ilmu.كان أبو الوفاء ابن عَقيل – أحدُ أذكياءِ العالم من فقهاء الحنابلة – يُنشِد وهو في الثمانينDahulu Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil beliau adalah salah seorang di antara orang-orang yang cerdas di antara ahli fiqih mazhab Hanbali, beliau pernah membuat syair dan umur beliau adalah 80 tahun, kata beliau,ما شاب عزمي ولا حزمي ولاخُلُقيولا ولائي ولا ديني ولا كرميKeinginanku tidak menjadi tua, aku memang sudah tua umurku sudah 80 tahun tapi keingananku tidak menjadi tua.ولا حزميDan juga ketegasanku (keinginanku yang kuat tekadku yang kuat) tidak menjadi tua karena tubuhku yang sudah tua.ولاخُلُقيDan juga akhlakku tidak berubah.ولا ولائيDemikian pula loyalitasku, terhadap agama ini.ولا دينيDan juga agamaku, ibadahku.ولا كرميDemikian pula kemurahanku, infaqku tidak berubah karena beliau sudah tua.وإنمَّا ٱعتاض شعري غيرَ صِبغتهYang terjadi adalah rambutku saja itu berubah warnanya, yang sebelumnya hitam menjadi putih.والشَّيبُ في الشَّعر غيرُ الشَّيب في الهِممِDan menjadi putihnya rambut itu lain dengan menjadi tuanya tekad yang kuat.Artinya beliau di sini mengingatkan bahwasanya meskipun ana sudah tua rambutku sudah beruban dan kulitku sudah berubah tapi itu hanya dzahirnya saja. Adapun semangatku masih seperti dahulu. Ibadahku, agamaku, loyalitasku terhadap agama ini, akhlakku, tekadku yang kuat, itu masih seperti ketika dahulu aku masih muda.Ini menunjukkan kepada kita keharusan kita untuk mengumpulkan keinginan kita untuk ilmu ini supaya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu ini.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 55 Contoh Dosa Penyebab Seseorang Masuk Neraka Bagian 1

Halaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian Pertama”Dosa yang dilakukan oleh seorang muslim, apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengampuninya akan menjadi sebab seseorang terjatuh ke dalam neraka.⇒Di antara dosa tersebut adalah dosa bid’ah.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan di dalam neraka. ”(Hadīts Shahīh Riwayat Nasā’i)Bid’ah inilah yang sebenarnya telah memecah-belah umat Islām.Umat yang dahulunya bersatu, satu di atas Al-Qur’an dan Al-Hadīts dengan satu pemahaman, yaitu pemahaman para shahābat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam generasi terbaik umat Islām, menjadi berbagai aliran yang banyak.Golongan yang selamat adalah golongan yang tetap berpegang kepada Islām yang murni yang dipahami oleh para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى“Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Mereka berkata, “Siapakah golongan tersebut ya Rasūlullāh ?” Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku”.(Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam umati yaitu umatku, menunjukkan bahwasanya aliran-aliran tersebut tidaklah kafir dengan bid’ah yang mereka lakukan.Dan ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam semuanya masuk neraka, menunjukkan bahwasanya bid’ah yang mereka lakukan adalah dosa besar yang menyebabkan masuk neraka.Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh mengampuni tanpa diadzab dan kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengadzab di neraka sampai waktu yang Allāh kehendaki.Seorang muslim hendaknya menjauhi aliran-aliran sesat tersebut yang di antara ciri-cirinya:⑴ Tidak kembali kepada pemahaman para shahābat di dalam memahami Al Qurān dan Al-Hadīts.⑵ Tidak memiliki perhatian yang besar terhadap aqidah dan tauhīd⑶ Mendahulukan akal di atas dalīl⑷ Bersembunyi-sembunyi di dalam beragama⑸ Dan ada di antara mereka yang memiliki bai’at khusus kepada pemimpin aliran.Dantara cirinya:√ Mencela dan membicarakan kejelekan penguasa.√ Tidak berhati-hati di dalam berdalil dengan hadīts-hadīts Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.√ Mencukupkan diri dengan Al Qurān tanpa hadīts di dalam berdalīl.√ Dan di antara cirinya mereka mudah mengkāfirkan orang yang tidak sependapat dengan mereka.Hendaknya seorang muslim meninggalkan bid’ah meskipun dianggap baik atau hasanah oleh sebagian manusia.Meninggalkan aliran-aliran sesat tersebut dan jangan tertipu dengan pakaian atau banyaknya jumlah mereka. Karena kebenaran tidak diukur dengan perkara-perkara tersebut, tapi diukur dengan kesesuaiannya dengan Al Qurān dan Al-Hadīts.Menasehati para pengikut aliran sesuai dengan kemampuan supaya kembali kepada kebenaran dengan cara yang hikmah merupakan bentuk rasa cinta kita kepada saudara seislām.Dan upaya menyatukan umat di atas kebenaran serta menyelamatkan mereka dari ancaman neraka.Dan perlu diketahui bahwasanya meninggalkan aliran-aliran tersebut juga bukan berarti seseorang hidup jauh dari agama, menjauhi ilmu dan para ulamā.Kemudian mengikuti syahwat dan hawa nafsunya. Karena seorang muslim di dunia ini dituntut untuk menjauhi fitnah syubhat (kerancuan berpikir) dan menjauhi fitnah syahwat.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semua.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 05 | Penjelasan Pembatal Keislaman Pertama Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke lima dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Setelah kita mengetahui bahwa menyekutukan Allah di dalam ibadah membatalkan keislaman, maka wajib bagi kita mengetahui apa itu ibadah. Orang yang tidak mengetahui makna ibadah, dikhawatirkan dia akan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah.Ibadah adalah:اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَفعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ“Seluruh perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang dhohir maupun yang batin.”Kita mengetahui sesuatu ucapan atau perbuatan dicintai dan diridhoi oleh Allah dari kabar yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an atau kabar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya.Terkadang kita mengetahui sesuatu ucapan atau amalan dicintai oleh Allah ketika Allah mengabarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut, misalnya Allah berfirman,وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِینَ[Surat Ali Imran 146]“Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.”Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang bersabar, mencintai sifat sabar. Kalau sabar dicintai oleh Allah, berarti sabar adalah ibadah. Dan kalau ibadah, maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Dalam ayat yang lain Allah mengabarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (Al Baqarah 195). Mencintai orang-orang yang bertaubat dan membersihkan diri dari dosa (Al Baqarah 222). Dan terkadang kita mengetahui Allah mencintai sebuah amalan atau ucapan karena Allah memerintahkan dengan amalan tersebut. Dan setiap yang Allah perintahkan berarti dicintai Allah. Dan kalau amalan tersebut dicintai maka amalan tersebut adalah ibadah. Dan kalau amalan tersebut adalah ibadah, maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Contoh amalan yang diperintahkan adalah sholat dan zakat.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,وَأَقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ“Dan hendaklah kalian mendirikan sholat dan membayar zakat.” [Al Baqarah 43]Di sini Allah memerintahkan untuk mendirikan sholat dan membayar zakat. Berarti keduanya dicintai oleh Allah, karena Allah tidak memerintahkan kecuali sesuatu yang dicintai dan diridhoi. Berarti sholat dan zakat adalah ibadah, hanya untuk Allah dan tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Dan terkadang kita mengetahui Allah mencintai sebuah amalan ketika Allah memuji orang-orang yang mengamalkannya. Karena Allah tidak memuji kecuali orang-orang yang Dia cintai. Yang mereka mengamalkan apa yang dicintai oleh Allah. Misalnya Allah berkata memuji orang-orang yang menunaikan nadzarnya.(یُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَیَخَافُونَ یَوۡمࣰا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِیرࣰا)[Surat Al-Insan 7]Pujian Allah Subhānahu wa Ta’āla, mereka adalah orang-orang yang menyempurnakan nadzarnya dan takut dengan suatu hari yang kejelekannya menyelimuti.Pujian Allah Subhānahu wa Ta’āla menunjukkan bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang menyempurnakan nadzar dan perbuatan tersebut.Ibadah ada yang berupa ucapan dan ada yang berupa perbuatan. Berupa ucapan seperti mengucapkan tasbih, tahlil, tahmid, bersholawat atas Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, membaca Al Qur’an, berdo’a, dll.Berupa amalan seperti melakukan sholat, membayar zakat, berjihad, berhaji, dll.Ibadah ada yang dhohir dan ada yang batin. Ibadah yang dhohir artinya adalah ibadah yang bisa terlihat oleh orang lain, seperti sholat, jihad, dll.Ibadah yang batin adalah ibadah yang ada di dalam hati manusia, seperti tawakal kepada Allah, cinta kepada Allah, takut kepada Allah, kembali atau inabah kepada Allah, dll. Semua ini adalah ibadah. Dan semua ibadah harus diserahkan hanya kepada Allah. Tidak boleh sedikitpun diserahkan kepada selain Allah. Barangsiapa yang menyerahkan sebagian ibadah dari ibadah-ibadah tadi kepada selain Allah, maka dia telah menyekutukan Allah di dalam ibadah, dan ini merupakan pembatal keislaman yang paling besar.Kemudian Syeikh menyebutkan dalil bahwa kesyirikan adalah pembatal keislaman, yaitu firman Allah,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ ⁠[Surat An-Nisa’ 48 dan 116]“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki.”Allah tidak mengampuni dosa syirik padahal Allah adalah Al Ghofur (Yang Maha Pengampun). Dan ini menunjukkan tentang betapa besarnya dosa syirik.Dan yang dimaksud dosa syirik yang tidak diampuni di sini adalah ketika seseorang bertemu dengan Allah dalam keadaan membawa dosa syirik tersebut dan belum bertaubat di masa hidupnya. Dan maksud tidak diampuni adalah dia harus diadzab.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,مَن مَاتَ وهْوَ يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa yang mati dalam keadaan dia menyekutukan Allah, maka dia masuk ke dalam neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim]Seorang yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah, inilah orang yang masuk ke dalam neraka dan dialah yang tidak akan diampuni.Dalam hadits yang lain, Beliau mengatakan,مَن لَقِيَ اللهَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan dia menyekutukan Allah, maka dia masuk ke dalam neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim]Tapi kalau dia bertaubat dari perbuatan syirik tersebut di masa hidupnya, maka Allah Maha Pengampun dan Maha Pemberi Taubat. Sebesar apapun dosanya, baik berupa syirik, kekufuran, kenifakan, kalau dia bertaubat dengan taubat yang nasuha sebelum dia meninggal dunia, maka akan diampuni oleh Allah.Allah berfirman,(۞ قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ)[Surat Az-Zumar 53]“Katakanlah, Wahai hamba-hambaku yang telah berlebih-lebihan terhadap dirinya sendiri (melakukan kemaksiatan), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 30 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Lailah Illallah👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian beliau rahimahullāh menjelaskan tentang لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.ketika beliau membahas tentang syahādat beliau menjelaskan dengan panjang lebar.Kenapa demikian?Karena beliau rahimahullāh mengetahui bahwasanya syahādat adalah pokok di dalam agama Islām, karena ini berkenaan dengan masalah tauhīd.Didalam Islām ada syahādat dan di dalam Imān ada rukun Imān, rukun Imān yang pertama adalah beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Ketika membahas beriman kepada Allāh juga akan membahas tentang tauhīd, ketika membahas شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ الله – juga membahas tentang Tauhīd.√ Ma’rifatullāh berkaitan dengan Tauhīd.√ Ma’rifaru Dīnul Islām berkaitan juga dengan Tauhīd.√ Ma’rifatun Nabi juga akan dibahas tentang Tauhīd.Beliau rahimahullāh mengatakan makna لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ :ومعناها: لا معبود بحق إلا الله وحده (لا إله) نافياً ما يعبد من دون الل)Makna شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – Tidak Ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh. Ini adalah makna yang paling sempurna dan paling sesuai dengan kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ .⇒ Tidak Ada sesembahan yang berhak (yang benar) kecuali Allāh.Yang berhak (bi-haqqi) maksudnya adalah yang memang berhak untuk disembah, karena hak bisa diartikan yang benar atau yang berhak.Kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّه – terdiri dari dua bagian (dua rukun لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ).⑴ Rukun pertama pada kalimat لَا إلَهَ⑵ Rukun kedua pada kalimat إلَّا اللَّهُNafīyyan maksudnya adalah Allāh menafī’kan segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Itu ada di dalam kalimat لَا إلَهَ – Allāh menafī’kan segala sesuatu yang disembah selain Allāh (seluruhnya) kalau itu adalah دون الله – dan dia disembah maka dinafī’kan, baik itu seorang nabi atau malāikat (siapapun dia).Itu adalah rukun pertama yang dinamakan dengan rukun An-Nafī (harus mengingkari) mengingkari seluruh sesembahan selain Allāh.Rukun yang kedua إلَّا اللَّهُ :مثبتاً العبادة لله وحده لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكهAllāh menetapkan bahwasanya ibadah itu hanyalah untuk لله وحده saja.Makna لاَ إِلَـهَ إِلاَّ الله terdiri dari dua rukun yang pertama adalah Al-Nafyu dan Al-Itsbat keduanya harus ada, kalau keduanya tidak ada maka tidak benar maknanya.Seandainya hanya لاَ إِلَـهَ saja, maka ini pengingkaran adanya sesembahan, dia mengingkari wujud Allāh, dia tidak percaya adanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla (atheis).Tetapi jika menetapkan saja dengan mengatakan الله معبود atau الله اله – Allāh adalah sesembahan.Jika hanya itsbat saja, Allāh adalah اله maka ini tidak cukup , karena ini belum sempurna, agar sempurna kita harus menggabungkan antara Nafyu dan Itsbat, itulah keadilan (قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ).Bagaimana caranya agar sempurna?Maka kita katakan لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – Tidak ada sesembahan (kita ingkari semuanya) kemudian kita kecualikan إلَّا اللَّهُ (kecuali Allāh saja).Oleh karena itu makna yang benar adalah لا معبود بحق إلا الله وحده – itulah makna لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ karena intinya kita mengingkari seluruh sesembahan selain Allāh, yang itu adalah sesembahan yang bathil. Dan kita ingin menetapkan Allāh sebagai satu-satunya sesembahan.Sehingga sempurnanya adalah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – itulah makna apa yang diucapkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan yang beliau dakwahkan.Dan itu pula yang dipahami oleh orang-orang Arab ketika mereka mendengar dakwah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Yang mereka pahami dari beliau adalah لا معبود بحق إلا الله وحده – tidak ada makna yang lain.Karena sebagian ada yang mengatakan لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ maknanya adalah لا خالق إلا الله (Tidak ada yang mencipta selain Allāh).Makna لا خالق إلا الله – benar atau tidak?Makna ini benar, tetapi apakah dia makna dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ? TIDAK !إِنَّهُمْ كَانُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ“Sungguh, apabila dikatakan kepada mereka, Lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan selain Allāh) mereka menyombongkan diri.وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭDan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”(QS. Ash-Shāffāt : 35-36)Disana ada makna yang lain yang juga salah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – diartikan لا معبود موجود إلا الله (Tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allāh) ini bisa disalah-pahami oleh sebagian orang.Jika diartikan demikian (Tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allāh) maka seluruh sesembahan yang ada adalah Allāh. Dan ini adalah pemahaman yang jelas salah.Berarti orang yang menyembah matahari dia menyembah Allāh, orang yang menyembah bulan dia menyembah Allāh, لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ (Tidak ada sesembahan kecuali Allāh) Ini nanti jadi pemahaman Wihdatul Wujud.Orang menyembah apa saja itu tauhīd karena dia menyembah Allāh juga ini kembali kepada pemahaman Wihdatul Wujud (menyatunya wujud antara Allāh dengan makhluk) Jadi yang menyembah apapun dia adalah bertauhīd.Kemudian ucapan beliau :لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس لهشريك في ملكهKembali beliau mengingatkan tentang hubungan antara tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah karena intinya beliau ingin membahas tentang tauhīd Al-Uluhiyyah (berhak nya Allāh untuk diibadahi) maka sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla hanya Dia yang memiliki langit dan bumi maka Dia-lah yang berhak untuk diibadahi.لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكهHubungan antara tauhīd Uluhiyyah dan tauhīd Rububiyyah.و رب هو المعبدRabb itulah yang disembah, disini beliau rahimahullāh mengingatkan dan beliau ingin menjelaskan hubungan antara tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 55

Pembahasan Dalil Ketiga QS Al An’am 159 Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Beliau mendatangkan firman Allah Azza wa Jalla di dalam Surat Al An’am 159 :وَكَانُوا شِيَعاًDan mereka yaitu orang-orang yang memisah-misahkan apa yang ada di dalam agama mereka, akhirnya menjadikan mereka berkelompok-kelompok, beraliran-aliran. Sebabnya adalah karena mereka farroqu diinahum. Seandainya mereka seperti Ahlussunnah, kaffah dalam melaksanakan Islam, pakaiannya berusaha untuk syar’i, cara makannya juga demikian, cara ibadahnya, cara manhajnya, cara berdakwahnya, kembali kepada Islam, niscaya ini akan menjadi sebab mereka bersatu. Tapi karena masing-masing dari mereka mengambil sebagian yang ada dalam agama Islam, meninggalkan sebagian yang lain, akhirnya yang terjadi adalah perpecahan, menjadi berkelompok-kelompok, jadi beraliran-aliran.وَكَانُوا شِيَعاًDan mereka menjadi syiya’an.Syiya’an adalah jamak dari syi’ah, yang artinya adalah kelompok-kelompok.لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍEngkau wahai Muhammad, bukan termasuk golongan mereka sedikitpun.Menunjukkan bahwasanya jalannya Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam, tidak seperti jalan mereka. Kalau jalan mereka adalah memisah-misah apa yang ada dalam agama ini, adapun Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka beliau melaksanakan Islam secara kaffah, secara keseluruhan.Karena Islam bukan dalam masalah aqidah saja, Islam bukan dalam masalah ibadah saja, tapi Islam dalam seluruh bidang yang ada di dalam agama Islam. Itu Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam. Islam secara keseluruhan, Adapun mereka, yaitu aliran-aliran tadi, kelompok-kelompok tadi, maka mereka tidak kaffah di dalam melaksanakan agama Islam.Ayat ini jelas menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam. Di antara seginya adalah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala mentabrii’, yaitu membebaskan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dari orang-orang yang mereka memecah dan memisah-misahkan agama mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membebaskan Nabi dari mereka ini. Mengatakan bahwasanya Nabi adalah bukan termasuk golongan tadi. Dan segala sesuatu yang dia bertentangan dengan jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, tentunya ini adalah suatu yang tercela. Jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam adalah melaksanakan Islam secara kaffah, maka segala sesuatu yang bertentangan dengan zaman Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, ini adalah sesuatu yang tercela. Dan di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala membebaskan Nabi-Nya, menyatakan bahwa Nabi-Nya ini berlepas diri dari orang-orang yang memisah-misahkan agamanya. Berarti memisah-misahkan agama ini bukan jalan Nabi. Dan segala sesuatu yang bukan menjadi jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka ini adalah tentunya jalan yang sesat.Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengatakan :تَرَكْتُكُمْ عَلَى المَحجّةِ الْبَيْضَاءِ ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لا يَزِيغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌTidak memisahkan diri dari sesuatu yang jelas tadi kecuali dia adalah binasa.Bertentangan dengan jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka ini adalah kebinasaan. Menunjukkan tentang tercelanya tafriiquddin dan menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan.Ini adalah ayat yang ketiga, menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 55

Buatkan gambarilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 55 | Status Orang yang Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Ucapan ManusiaHalaqah 55 | Status Orang yang Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Ucapan ManusiaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih tentang keyakinan ahlussunnah di dalam masalah Alquran,Beliau mengatakan rahimahullāh,فَمَنْ سَمِعَهُ فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَBarangsiapa yang mendengarnya yaitu mendengar Al-Qur’an dibacakan oleh orang lain, atau dia membacanya,فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِKemudian dia meyakini bahwasanya ini adalah ucapan manusia/ini adalah makhluk,فَقَدْ كَفَرَMaka sungguh dia telah kufur,Orang yang mengatakan bahwasanya atau mendengar Al-Qur’an dan meyakini bahwasanya itu adalah ucapan manusia, apa hukumnya?Sungguh dia telah kufur mengatakan ini adalah ucapan Nabi Muhammad atau ini ucapan Jibril bukan ucapan Allāh maka dia telah kufur, barangsiapa yang mendengar Al-Qur’an kemudian meyakini itu adalah ucapan manusia maka dia telah keluar dari agama Islam.Demikian pula orang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, dia mungkin tidak mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia, Mua’tazilah tidak mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia tapi dia mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan, sama hukumnya, dia telah keluar dari agama Islam dan ini ada ucapan² yang shorih dari para salaf yang mengatakan barangsiapa yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam, ini takfir secara mutlak barangsiapa yang mengatakan demikian maka dia telah keluar dari agama Islam adapun takfir secara muayyan maka ini babnya lain harus ada sempurnanya syarat dan juga hilangnya penghalang.Al Imam Ahmad bin Hambal meskipun beliau mungkin dipaksa di penjara untuk mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk tapi beliau tidak mengkafirkan tidak serta merta mengkafirkan para penguasa atau orang lain yang saat itu mereka diliputi oleh subhat orang² Mua’tazilah, karena beliau tau bahwasanya belum tentu orang yang mengucapkan ucapan demikian kemudian dia memahami, mungkin dia dalam keadaan bodoh, mungkin terpaksa/takutفمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفرIni menunjukkan bahayanya ucapanوَقَدْ ذَمَّهُ اللهُ تعالى وَعَابَهُ وَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَ حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ:وَعَابَهُوَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala telah mencela orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamubasyar hu disini kembali kepadaفمن سمعهKembali kepada orang yang mendengar kemudian mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamu albasyar, Allāh mencelanya,وَعَابَهُKemudian Allāh mencelanya, hampir sama maknanya,وَأَوْعَدَهُBahkan Allāh subhanahu wa ta’ala mengancamnya dengan azab bukan Allāh cela saja tapi tapi Allāh ancam dengan azab, dan ancaman menunjukan bahwasanya ucapan itu ucapan yang dibenci oleh Allāh atau ucapan yang keliru fatal kekeliruannya dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamu Al Basyar,حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ: سَأُصْلِيهِ سَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakan Aku akan memasukkan dia ke dalam jahanam.Ini disebutkan oleh Allāh dalam Surat Al Mudatsir Kisah dari Al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi termasuk Orang Quraisy ketika dia mendengar Al-Qur’an (dia orang yang faham) Al Walid mengatakan bahwasanya ini bukan syair (dia sudah banyak mendengar syair) dan ini bukan sihir juga / ini bukan mantra dari para dukun, apa yang dia sebutkan adalah pujian terhadap apa yang dibawakan oleh Nabi ﷺ, dia justru malah memuji apa yang dibaca oleh Nabi ﷺ maka dicela oleh kaumnya, sampai akhirnya dia dengan lisannya mengatakanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ[QS Al Mudatsir 25]Sebelumnya Allah mengatakan,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨)Sesungguhnya dia memikirkan,فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩)Maka terlaknat dia,Bagaimana dia memikirkan/setelah dicela oleh kaumnya sendiri,ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠)ثُمَّ نَظَرَ (٢١)ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢)ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣)فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤)إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥)Sampai akhirnya dia mengatakan bahwasanya ini adalah sihir & ini adalah ucapan manusia, ini adalah ucapan Muhammad, padahal hatinya berbeda dengan apa yang dia ucapkanوَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ …[QS An Naml 14]Apa kata Allāh ﷻ setelahnya, ketika menyebutkan tentang ucapan Walidاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕTidaklah ini adalah ucapan manusia,Allāh mengatakan,سَأُصۡلِيهِ سَقَرَAku akan memasukan dia (Walid) kedalam Saqor/kedalam Nerakaوَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا سَقَرُؕلَا تُبۡقِىۡ وَ لَا تَذَرُ‌ۚTahukah kamu apa itu Saqor?Ini adalah sesuatu azab yang tidak akan menyisakan dan tidak akan meninggalkan, akan dihabisi/dihancurkan oleh Naar.Berarti disini ada ancaman bagi orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia. Ancaman menunjukkan bahwasanya ucapan itu adalah ucapan yang batil itu bukan Qoulubasyar, keyakinan bahwasanya itu ucapan Muhammad adalah ucapan yang batil orang yang mengatakannya berhak mendapatkan azab tersebutعلمنا فلما أوعد الله سقر لمن قال {إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشرKetika Allāh subhanahu wa ta’ala mengancam orang yang mengatakan ucapan tadi yaitu mengatakanاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕDiancam dengan Saqor maka kita mengetahuiBahwasanya Al-Qur’an ini ucapan yang menciptakan manusia.Kalau itu bukan ucapan manusia berarti itu adalah ucapan yang menciptakan manusia yaitu Allāh Kalamullah,ولا يشبه قول البشرDan bahwasanya berarti Kalamullah ini tidak serupa dengan ucapan manusia,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُOrang yang memahami bahasa Arab tahu ini bukan ucapan manusia, meraka sudah tahu ribuan syair, syair dari berbagai Qobilah mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an mereka mengetahui bahwa ini bukan ucapan manusia, Al-Qur’an dengan bahasa mereka dengan huruf² mereka tahu tapi mereka tahu ini bukan ucapan syair/ini bukan ucapan manusia, bahkan orang² yang belum mengenal bahasa Arab sekalipun (orang² kufur ketika mereka disuruh mendengarkan Al-Qur’an) mereka merasa ini bukan sembarang ucapan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 4

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Pujian para ulama kepada beliau rahimahullāh, di sana ada as-Subki Muhammad bin Abdul Barr asy-Syafi’i yang meninggal pada tahun 777 Hijriyah, beliau mengatakan tidak membenci Ibnu Taimiyyah kecuali orang yang bodoh atau orang yang mengikuti hawa nafsu, ini semuanya menunjukkan tentang bagaimana pujian para ulama terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ini menunjukkan tentang keutamaan beliau.Saya nukilkan juga di sini ucapan dari Ibnu Hajar al-Asqalani yang mengarang kitab Fathul Bari. Ibnu Hajar memuji Syaikhul Islam dan mengatakan bahwasanya laki-laki ini adalah orang yang paling kuat di dalam memerangi ahlul bid’ah dari kalangan orang-orang Rafidhah dan orang-orang Hululiyah dan Ittihadiyah (yaitu orang-orang yang mengaku Allāh ﷻ bersatu dengan makhluk-Nya atau Allāh ﷻ di mana-mana), dan karangan-karangan beliau didalam masalah ini adalah banyak syahirah dan dikenal dan fatwa-fatwa beliau tentang aliran-aliran tadi tidak bisa dibatasi, karena saking banyaknya yaitu dengan ilmu kita kita tidak bisa menentukan batasnya karena keterbatasan ilmu yang kita miliki.Didalam ucapan beliau yang lain Ibnu Hajar mengatakan seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak memiliki keutamaan kecuali keutamaan yang satu yaitu dia memiliki seorang murid yang bernama Ibnu Qayyim, yang memiliki karangan-karangan yang banyak yang telah mengambil manfaat dari karangan beliau orang yang setuju dengan beliau maupun orang yang memusuhi beliau, niscaya ini menunjukkan tentang keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Kemudian setelahnya beliau rahimahullāh, ini adalah sunnatullah bagi setiap orang yang berdakwah kepada apa yang didakwakan oleh para Nabi dan juga para rasul banyak menerima ujian dan juga cobaan, banyak musuh musuh beliau yang ada di zaman beliau yang berdusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, mereka adalah orang-orang Sufi, orang-orang ahlul kalam, ahlul bid’ah dan ini bukan hanya di zaman beliau saja bahkan sampai hari ini.Ini menunjukkan tentang bagaimana ujian yang beliau terima dan sebagian berdusta atas nama beliau, seperti misalnya dusta yang diucapkan oleh sebagian bahwasanya dia melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sedang menjelaskan tentang turunnya Allāh ﷻ ke langit dunia kemudian dia menceritakan, dan ini adalah dusta, mengatakan bahwasanya Ibnu Taimiyyah saat itu berada di atas mimbarnya kemudian dia turun dari atas mimbarnya pelan-pelan, yaitu satu tingkat kemudian tingkat berikutnya dan seterusnya kemudian mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ itu turun seperti turunku ini, maka ini adalah dusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan yang menceritakan tadi dia mengatakan bahwasanya dia melihat itu pada tahun 726 Hijriyah, artinya dua tahun sebelum beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah meninggal dunia.Dan kalau diteliti yang menunjukkan tentang kedustaannya, ternyata saat itu karena saat itu yang menceritakan ini dia melihatnya di bulan Ramadan tahun 726 Hijriyah, dan kalau kita melihat sejarah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari murid-murid beliau bahwasanya beliau pada tahun 726 Hijriyah di bulan Sya’ban ini beliau sudah dipenjara, tidak bebas lagi dalam berdakwah dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah ucapan yang dusta. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bukan seorang musyabbih (orang yang menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk atau menyerupakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk) dan insyaAllāh nanti akan kita melihat sendiri bagaimana beliau rahimahullāh berlepas diri dari tasybih, dari takyif, dari tamsil.Beliau rahimahullāh diuji oleh Allāh ﷻ dengan berbagai ujian dan diantara orang-orang yang banyak memusuhi beliau saat itu adalah qurra yaitu para qadhi dan juga para fuqoha karena mereka merasa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka di dalam fatwa mereka dan juga dapat pendapat-pendapat mereka, karena beliau bukan orang yang fanatik terhadap madzhab tertentu tetapi beliau ta’asubnya adalah kepada dalil. Demikian pula di antara musuh-musuh beliau adalah orang-orang Sufiyyah dan juga ahlul kalam sehingga dengan sebab ini beliau beberapa kali di penjara di antaranya adalah pada tahun 705 Hijriyah kemudian pernah beliau juga dikeluarkan kemudian masuk dan dikeluarkan lagi kemudian masuk kembali dan sebabnya adalah bermacam-macam terkadang sebabnya adalah dari tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah pernah beliau di penjara karena tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah atau terkadang mereka adalah dari para qurro tadi dari para qodhi tadi yang merasa bahwasanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka dalam masalah fatwa dan juga pendapat-pendapat.Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah beliau meninggal dunia pada malam Senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 Hijriyah dan yang menghadiri jenazah beliau saat itu adalah cukup banyak dan ini adalah seperti yang diucapkan oleh Al-Imam Ahmad bin HanbalKatakan kepada ahlul bid’ah bahwasanya yang akan menentukan antara kami dan juga kalian adalah ketika disaksikannya jenazah-jenazah itu, maksud beliau adalah diantara hal yang menunjukkan bahwa seseorang diatas haq adalah ketika manusia memiliki qobul, memiliki rasa cinta Allāh ﷻ menanamkan rasa cinta tadi kepada para hamba-Nya, ketika Allāh ﷻ mencintai seorang hamba maka Allāh ﷻ akan menjadikan di dalam hati para hamba-Nya yang lain ini rasa cinta terhadap hamba tadi, sehingga ketika dia meninggal dunia banyak orang yang berkeinginan untuk menghadiri jenazahnya, mendoakan beliau.Berbeda dengan ahlu bid’ah yang mereka adalah orang yang melakukan perkara-perkara yang menyimpang yang menjadikan murka Allāh ﷻ dan terkadang mereka melakukan itu diantaranya adalah untuk mencari pujian manusia atau pengikut yang banyak tapi justru yang mereka dapatkan adalah kebencian dari manusia, meskipun secara dhohir mungkin mereka mengikuti di belakang ahlul bid’ah tapi didalam hatinya tidak ada kecintaan sebagaimana mereka mencintai ulama ahlussunnah, sehingga ketika meninggal dunia para ahlul bid’ah tadi yang mungkin dalam kehidupan sehari-hari sebelumnya dia punya banyak pengikut tapi ketika meninggal dunia ternyata tidak menghadiri jenasahnya kecuali sangat sedikit, karena manusia benci dan ditancapkan didalam hati mereka oleh Allāh ﷻ perasaan tidak senang dengan ahlul bid’ah tadi.Maka itu adalah sejarah singkat, biografi singkat tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

HALAQAH 4 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 2

HALAQAH 4 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 2Oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara cara beriman dengan para Rasul:3.     Meyakini bahwa para rasul benar-benar terlepas dari sifat dusta, penyembunyian ilmu dan pengkhianatan.Dalil Al Qur’an :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ “Mereka berkata “celaka kita, siapakah yang telah membangkitkan kita dari tempat istirahat kita, inilah yang dijanjikan oleh Ar-Rahman dan benarlah para Rasul” (QS. Yasin : 52) Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ (٤٤)لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ (٤٥) ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ (٤٦) فَمَا مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ عَنۡهُ حَـٰجِزِينَ (٤٧) “Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, pasti kami pegang dia pada tangan kanannya kemudian kami potong pembuluh jantungnya maka tidak seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi Kami untuk menghukumnya” (QS. Al-Haqqah : 44-47) 4.     Keyakinan yang dalam bahwasanya mereka telah melaksanakan tugas mereka dengan sempurna dan sebaik-baiknya dan Allah tidak mewafatkan mereka kecuali setelah mereka menyampaikan secara sempurna risalah Allah kepada kaumnya.Dalil Al Qur’an : Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanرُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Rasul-Rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-Rasul itu diutus Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nisa : 165)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ “Dan tidaklah Kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya supaya dia menerangkan kepada mereka” (QS. Ibrahim : 4) @dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 4

Halaqah yang ke empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.الثانيSimpul yang ke dua diantara simpul-simpul yang dengannya Insya Allah kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, yaitu dengan,إخلاص النية فيهMengikhlaskan niat di dalam ilmu.فيه di sini kembali kepada ilmu. Mengikhlaskan niat untuk Allāh ﷻ. Ilmu ini adalah sesuatu yang mulia maka diantara bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu hendaklah niat kita di dalam mencari ilmu tersebut adalah karena Allāh ﷻ bukan karena makhluk. Karena kalau kita niatnya adalah karena dunia berarti kita menghinakan ilmu. Ilmu ini Mulia, kalau kita niatnya mencari ilmu tersebut untuk mencari sesuatu yang hina berarti kita menghinakan ilmu. Tapi kalau niat kita di dalam menuntut ilmu adalah ingin surganya Allāh ﷻ, ingin dimuliakan oleh Allāh ﷻ, ingin diberi ganjaran oleh Allāh ﷻ, berarti kita telah ikhlas di dalam menuntut ilmu tersebut. Ini termasuk pengangungan kita terhadap ilmu.إنَّ إخلاصَ الأعمال أساسُ قَبولها، وسُلَّمُ وصولهاSesungguhnya keikhlasan di dalam beramal itu adalah pondasi untuk diterima.Kalau tidak ikhlas maka amalannya tidak diterima oleh Allāh ﷻ. Beliau menyebutkan di sini keutamaan-keutamaan ikhlas, dan dia adalah tangga supaya sampai kepada diterimanya amal, jadi pondasinya ikhlas, tangganya juga keikhlasan. Dia harus ada dari awal maupun ketika berjalan. Amalan tersebut harus ada.قال تعالىٰAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ﴾ البينة: الآية 5Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allāh ﷻ, yaitu menyembah Allāh ﷻ dalam keadaan ikhlas, dalam keadaan mentauhidkan Allah.وفي الصَّحيحينDi dalam Shahih Bukhari dan juga Muslim,عن عمر رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الأعمال بالنِّيَّة ، ولكل ٱمرئٍ ما نوىٰBeliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, amalan itu adalah dengan niat dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan.Amalan itu harus dengan niat. Kalau niatnya adalah karena Allāh ﷻ maka dia mendapatkan pahala dan kalau niatnya bukan karena Allāh ﷻ maka dia tidak mendapatkan pahala.Dan bagi masing-masing apa yang dia niatkan. Kalau niatnya adalah menginginkan pahala dari Allāh subhanahu wa ta’ala maka dia akan mendapatkan pahala tersebut, tapi kalau yang dia niatkan adalah dunia maka baginya apa yang dia niatkan, dia tidak mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ tapi hanya mendapatkan dunia, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki. Ini menunjukkan tentang kedudukan niat di dalam Islam.وما سبَق مَن سبَق، ولا وصَل من وصَل من السَّلف الصَّالحين، إلَّ بالإخلاص لله ربِّ العالمينTidaklah mendahului orang-orang yang terdahulu dan tidaklah sampai orang-orang yang sampai dari kalangan para Salafush shālihin kecuali karena keikhlasan mereka untuk Allāh ﷻ.Ini beliau masih menyebutkan tentang pentingnya ikhlas. Ternyata orang-orang dahulu mereka sampai menjadi seorang ahli ibadah, sampai menjadi seorang ahli fiqh, ada yang ahlul hadits, ada yang mereka dikenal dengan aqidahnya, tidaklah mereka sampai kepada keutamaan- keutamaan tersebut kecuali karena ikhlas. Jadi jangan kita menyangka mereka sampai pada kedudukan-kedudukan tadi hanya sekedar dengan melakukan perjalanan, hanya sekedar menghafal. Tidaklah mereka sampai seperti itu kecuali karena diantaranya yang utama adalah karena mereka ikhlas di dalam beramal. Mereka ikhlas di dalam menuntut ilmu karena mereka menganggungkan ilmu, karena niat mereka adalah karena Allāh ﷻ sehingga mereka akhirnya menjadi seorang ahli fiqh, menjadi seorang ahlul hadits.قال أبو بكرٍ المرُّوذيُّ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :سمعت رجلاً يقول لأبي عبد الله يعني أحمدَ ابن حنبلٍ – وذكر له الصِّدق الإخلاص، فقال أبو عبد الله: بهٰذا ٱرتفع القومBerkata Abu Bakar Al-Marrudziy, Aku mendengar seseorang berkata kepada Imam Ahmad ibn Hanbal kemudian disebutkan kepada beliau tentang masalah kejujuran dan juga keikhlasan.Yang dimaksud dengan kejujuran di sini adalah kejujuran dalam keinginan. Orang yang keinginannya jujur maka dia akan kumpulkan keinginan tadi. Dia akan kumpulkan segenap keinginan dia itu. Namanya sidq, berarti dia jujur di dalam keinginannya.Al-ikhlas maksudnya adalah karena Allāh ﷻ, yaitu dia kumpulkan seluruh keinginan tadi untuk Allāh ﷻ.Berarti ada shidq, dia kumpulkan keinginan dia kemudian dia satukan semuanya untuk Allāh ﷻ dia ikhlaskan semuanya untuk Allāh ﷻ. Maka berkata Al Imam Ahmad ibn Hanbal,بهٰذا ٱرتفع القومDengan sebab ini maka orang-orang tersebut ditinggikan oleh Allāh ﷻ.Mengapa ditinggikan Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’I, Abdullah bin Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, Asy-Syafi’I, Al-Imamu Mālik?Kita harus tahu bahwasanya mereka bisa tinggi sedemikian tingginya itu karena Ash-Shidq wal Ikhlas, karena mereka dahulu mengumpulkan keinginan mereka, dikuatkan keinginan mereka, dan mereka satukan itu dan mereka tujukan itu semuanya adalah lillāhi Rabbil ‘alamin sehingga Allāh ﷻ pun mengangkat derajat mereka.وإنَّما ينال المرءُ العلم علىٰ قدر إخلاصهSesungguhnya seseorang mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar keikhlasan dia.Semakin dia ikhlas maka semakin dia mendapatkan ilmu dan semakin dia berkurang keikhlasannya maka akan semakin berkurang juga ilmu yang dia dapatkan. Sehingga seseorang harus berusaha dan ini adalah bentuk pengagungan dia terhadap ilmu supaya ketika dia mencari ilmu yang mulia ini yang berharga ini niatnya adalah untuk mendapatkan surga, mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ, bukan mendapatkan dunia.Kalau kita niatnya mendapatkan dunia maka berarti kita menghinakan ilmu dan kalau kita sudah menghinakan ilmu maka ilmu tidak akan mau tinggal bersama kita, tidak mau tinggal bersama orang yang menghinakan dia.Kita tidak bisa mempermainkan, ini sudah qaidah, ini sudah prinsip yang demikian, orang yang mengagungkan ilmu maka ilmu akan mengagungkannya. Kalau kita menghinakan ilmu dengan cara niat kita adalah untuk dunia, supaya dikenal, supaya populer, supaya mendapatkan harta dunia dengan ilmu tersebut, maka ketahuilah dia tidak akan mendapatkan ilmu selama-lamanya meskipun dia duduk di majelis selama puluhan tahun, kalau memang niatnya dia adalah untuk dunia karena dia telah menghinakan ilmu itu sendiri.والإخلاص في العلم يقوم علىٰ أربعة أُصولIkhlas di dalam ilmu itu dibangun di atas empat pondasi.بها تتحقَّق نيَّة العلم للمتعلِّم إذا قصدهاDengan empat perkara ini maka akan tercipta niat yang benar.Kalau kita bisa mengatur sehingga niat kita adalah beberapa perkara ini berarti kita sudah mewujudkan keikhlasan di dalam menuntut ilmu.Yang pertama adalah:الأوَّل: رفعُ الجهل عن نفسهNiat kita adalah ingin mengangkat kebodohan dari diri kita sendiri.بتعريفها ما عليها من العبوديَّت، وإيقافها علىٰ مقاصد الأمر والنهيKita ingin mengangkat kebodohan dari kita sendiri, ana tidak ingin bodoh, ana ingin punya ilmu. Kalau memang niat dia adalah demikian, ingin menyelamatkan dia dari jurang kebodohan maka dia telah ikhlas dalam menuntut yaitu dengan mengenalkan diri kita ini apa yang menjadi kewajiban dia berupa ibadah-ibadah.Karena dia diciptakan oleh Allāh ﷻ untuk beribadah maka dia kenalkan dirinya, dia sayangi dirinya, dia kenalkan dirinya dengan ibadah-ibadah tersebut dengan cara menuntut ilmu.Kemudian juga dia ingin menuntut ilmu dan juga ingin supaya jiwanya dan juga dirinya ini mengetahui tentang maksud-maksud dari perintah dan juga larangan, dia lebih ingin mendalami apa maksud dari perintah-perintah Allāh ﷻ dan juga larangan-larangan Allāh ﷻ, itu yang pertama.Kemudian yang ke dua di antara niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah:الثاني: رفع الجهل عن الخلق؛ بتعليمهم وإرشادهم لما فيه صاح دنياهم وآخرتهمAdalah dengan tujuannya ingin mengangkat kebodohan dari orang lain dengan cara mengajarkan mereka, memberikan petunjuk kepada mereka kepada sesuatu yang di situ ada maslahat bagi mereka baik di dunia mereka maupun di akhirat mereka.Kalau tujuan kita adalah ana ingin nanti setelah ana belajar ana ingin memberitahu dan mengajarkan kepada anak, ana ingin memberitahukan ilmu ini kepada orang tua ana, kepada tetangga ana, maka ini adalah termasuk ikhlas, itu bukan termasuk riya, itu termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.Yang ke tiga:الثَّالث: إحياء العلم، وحفظه من الضياعNiat kita adalah ingin menghidupkan ilmu.Yang sebelumnya mati di sebuah masyarakat, mereka tidak punya perhatian terhadap ilmu agama, kemudian kita ingin menghidupkan ilmu tersebut dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita, inginnya adalah menghidupkan ilmu supaya dia tidak hilang dan tidak luntur maka ini juga termasuk niat yang ikhlas.Yang ke empat:الرَّابع: العمل بالعلمNiat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah ingin mengamalkan ilmu.Kalau niatnya adalah ingin mengamalkan ilmu, ana duduk di majelis ini supaya ana pulang dalam keadaan ana bisa mengamalkan apa yang ana dengar, maka ini juga termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.ولقد كان السَّلف رحمهم ﺍﻟﻠﻪ يخافون فوات الإخلاص في طلبهم العلم، فيتورَّعون عن ٱدعائه، لا أنَّهم لا يحقِّقوه في قلوبهمDahulu para Salaf rahimahumullah mereka takut kalau sampai mereka tidak ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena kalau sampai tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka sudah capek-capek misalnya datang dari Baghdad menuju Yaman, kalau tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka tidak mendapatkan ilmu tersebut, dan mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya sudah ikhlas, bukan berarti mereka tidak ikhlas tapi mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya mukhlis.Biasanya orang yang ikhlas demikian orang yang ikhlas takut dia untuk mengatakan dirinya adalah orang yang ikhlas bukan berarti dia tidak ikhlas.Mereka para Salaf kita jelas mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan kita mengetahui dari keilmuan mereka dan bagaimana umat ini mencintai mereka dan mengenal keshalehan mereka, kita berharap semoga mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh Allāh ﷻ karunia yang besar yaitu dengan keikhlasan.Beliau memberikan contoh di sini ucapan dari Imam Ahmad ketika beliau ditanya,سئل الإمامُ أحمدُDitanya Al Imamu Ahmad,هل طلبت العلم لله؟Apakah engkau mencari ilmu dulunya adalah karena Allāh ﷻ?فقال: لله عزيزBeliau mengatakan untuk Allāh ﷻ ini adalah perkara yang berat, yaitu untuk ikhlas karena Allāh ﷻ ini bukan perkara yang mudah.ولكنَّه شيءٌ حُبِّبَ إليَّ فطلبتُهAkan tetapi ini adalah sesuatu yang aku senangi, yaitu mereka senang untuk menghafal, mereka senang untuk berpikir tentang ilmu.فطلبتُهMaka aku pun mencarinya.Bukan berarti ucapan Al Imamu Ahmad bin Hanbal di sini berarti beliau tidak ikhlas, tapi beliau dan juga para imam seperti beliau mereka wara’ sehingga mereka tidak berani untuk mentazkiyah diri mereka dan mengatakan kami adalah orang-orang yang ikhlas di dalam menuntut ilmu agama.ومن ضيَّع الإخلاص فاته علمٌ كثيرٌ ، وخيرٌ وفيرٌBarangsiapa yang menyia-nyiakan keikhlasan maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak dan kebaikan yang banyak.Barangsiapa yang menyia-nyiakan keikhlasan, dia tidak memperhatikan dirinya, tidak memperhatikan niatnya di dalam menuntut ilmu, dia biarkan begitu saja hadir ke majelis ilmu, mendatangi majelis ilmu, keluar dari majelis ilmu tapi dia tidak pernah memperhatikan apakah dia ikhlas atau tidak niatnya apa ini, maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak, dia tidak akan mendapatkan apa-apa.وينبغي لقاصد السَّامة أن يتفقَّد هٰذا الأصلMaka hendaklah orang-orang yang menginginkan keselamatan dia melihat pondasi ini hendaklah dia memperhatikan simpul ini, senantiasa memperhatikan bukan sekali dua kali tapi senantiasa dia memperhatikan dia tujuannya apa dalam menuntut ilmu agama ini karena Allāh ﷻ atau karena dunia.وهو الإخلاصYaitu keikhlasan.في أموره كلِّها، دقيقِها وجليلِها، سرِّها و عَلَنِهاDi dalam seluruh perkaranya baik perkara yang kecil maupun perkara yang besar baik yang tersembunyi maupun yang dilihat oleh orang lain, apakah dia memperhatikan tentang masalah keikhlasan ini atau dia termasuk orang yang cuek dengan apa yang ada di dalam hati, kalau dia ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia punya perhatian yang besar tentang masalah niat ini.ويَحمِلُ علىٰ هٰذا التَّفقُّدِ شدَّةُ معالجة النِّيَّةAkan membawa seseorang kepada perhatian yang besar yang secara terus-menerus terhadap masalah niat ini adalah susahnya mengobati niat.Kalau dia merasa susah dalam mengobati niat dia maka itu akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut, kalau dia merasa susah dalam menetapkan niat dia menjadikan niat dia itu ikhlas terus maka inilah yang akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut. Tapi kalau dia cuek dengan niatnya dan dia merasa ini adalah mudah sekali untuk mendatangkan niat yang ikhlas maka dia tidak akan memiliki perhatian yang besar terhadap niat tersebut.Beliau mendatangkan ucapan Sufyan Ats-Tsauri,قال سفيان الثوريُّ رحمه ﺍﻟﻠﻪ ما عالجتُ شيئًا أشدَّ عليَّ من نيِّتي، لأنَّها تتقلَّب عليَّLihat bagaimana para salaf, Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih susah bagiku daripada niatku.Berarti beliau memiliki syiddatu mu’alajah beliau merasa berat untuk mengobati niatnya untuk menetapkan niatnya.لأنَّها تتقلَّب عليَّKarena niatku tersebut senantiasa bolak-balik.Karena beliau merasa niatnya sering berganti-ganti maka akhirnya beliau sering memperhatikan, terus dikoreksi terus diawasi oleh beliau bagaimana supaya hati tersebut tetap karena Allāh subhanahu wa ta’ala.Bagaimana supaya menuntut ilmunya bagaimana supaya ketika beliau mengajar menyampaikan hadits itu dalam keadaan posisinya hati tersebut adalah karena Allāh ﷻ niatnya adalah karena Allāh ﷻDemikian para ulama ternyata mereka punya perhatian besar terhadap keikhlasan. Al Imam Ahmad ibn Hanbal tadi dikatakan ketika disebutkan tentang sidq wal ikhlas dengannya kaum tersebut diangkat oleh Allāh ﷻ, Sufyan Ats-Tsauriy beliau juga menyebutkan dan beliau adalah Amirul Mukminin dalam masalah hadits ternyata beliau juga sangat perhatian tentang masalah ikhlas, beliau perhatikan terus hatinya.بل قال سليمان الهاشميُّ ربَّما أُحدِّث بحديثٍ واحدٍ ولي نيَّةٌ، فإذا أتيتُ علىٰ بعضه تغيَّرت نيَّتي، فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍBahkan berkata Sulaiman Al-Hasyimi, kadang-kadang aku menyebutkan hadits satu saja dan aku punya niat, yaitu memiliki niat yang baik, tapi ketika aku mendatangi sebagian.تغيَّرت نيَّتيAku baru di awal aku mau menyampaikan hadits tadi lurus niatnya tapi ketika aku sudah memulai menyebutkan hadits tadi ternyata sudah berubah niatnya.Belum selesai hadistnya disebutkan tapi sudah berubah niatnya. Mungkin ketika beliau menyebutkan mungkin sanad yang tinggi kemudian masuklah setan di situ dan mengatakan sanadmu lebih tinggi daripada yang lain kemudian berubah niatnya. Ini perlu diawasi lagi, perlu dikembalikan lagi kepada niat yang benar, ketika dia mulai melenceng niatnya maka harus dikembalikan lagi melenceng lagi dikembalikan lagi itu namanya perhatian, ketika dia mulai goyah niatnya bukan karena Allāh ﷻ dikembalikan lagi harus karena Allāh ﷻ.فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍTernyata satu hadits saja itu butuh beberapa niat, artinya setiap kali dia berubah harus dikembalikan niatnya lagi padahal itu cuma satu hadits saja yang beliau sebutkan.Demikian para Ahlul Hadits, Ahlul Fiqh, para ulama mereka perhatian sekali tentang keikhlasan ini sehingga mereka pun ditinggikan oleh Allāh ﷻ derajatnya. Maka orang yang ingin mendapatkan ilmu agama dia harus memiliki perhatian terhadap niat yang ikhlas di dalam hatinya

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →