🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 60 | Memahami Ayat tentang Rukyatullah sesuai dengan yang Allāh Kehendaki

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهDan tafsirnya penjelasannya adalah sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan apa yang Allāh ketahui.Maksudnya adalah kita memahami ayat berdasarkan kehendak Allāh, jangan kita memahami hanya dengan akal kita sendiri, sudah kita sampaikan bahwasanya didalam bahasa Arab dan Al-Qur’an ini turun dengan bahasa Arabبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍMaka kita memahami Al-Qur’anul Karim ini dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh, apa makna dari an النظر إلى, an nadhor ila maksudnya adalah melihat dengan mata dengan pandangan kita bukan melihat dengan hati karena melihat dengan hati itu bukan – النظر إلى – tapi – النظر فيه – jangan kita memahami dengan akal kita/hawa nafsu kita, kita memahami dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh di dalam Al-Qur’an kemudian kita juga melihat tafsir Nabi ﷺ ketika beliau membaca firman Allāhلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌsiapa yang paling mengetahui tentang makna dari firman Allāh daripada Nabi ﷺ, apakah kemudian kita menafsirkan dengan akal kita sendiri/hawa nafsu kitaوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهKita mentafsir sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki.Dinukil dari Al imam Syafi’i rahimahullāh bahwasanya beliau mengatakan,آمنت بالله، وبما جاء عن الله، وعلى مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء به رسول الله، وعلى مراد رسول اللهAl Imam Asy Syafi’i mengatakan demikian, Aku beriman dengan Allāh dan apa yang datang dari Allāh sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan aku beriman dengan Rasulullāh ﷺ dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullāh ﷺ.Di antara sebab kesesatan aliran yang sesat adalah sebab utamanya adalah karena mereka memahami Dengan pemahaman bukan dari yang dipahami oleh Allāh dan juga RasulNya bukan dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga rasul RasulNya, benar berdalil dengan ayat berdalil dengan hadits tapi bukan dengan apa yang Allāh inginkan dia bawa makna ayat dan juga hadits tersebut sesuai dengan keinginannya sesuai dengan hawa nafsunya dibawa kesana dan orang yang demikian keadaannya maka pasti di sana akan ada kontradiksi di sana ada pertentangan antara apa yang sedang dia bawakan dengan dalil-dalil yang lain, dan itu adalah sesuatu yang pasti karena dia beragama sesuai dengan hawa nafsu dan ini adalah keadaan ahlul tidaklah mereka berdalil dengan sebuah dalil kecuali ada di sana yang membatalkan dalil tersebut mereka mengambil dalil yang sesuai dengan hawa nafsunya dan meninggalkan dalil yang lain.Ini yang ingin beliau tekankan di sini menafsirkan itu semuanya sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki bukan sesuai dengan kehendak kita atau sesuai dengan kehendak guru kita tapi yang Allāh kehendaki.وعلمهdan apa yang Allāh ketahui.Yaitu berdasarkan kaidah bahasa Arab, berdasarkan kaidah-kaidah tafsir berdasarkan atsar pada salaf yang mereka adalah orang-orang yang telah dipuji oleh Allāh subhanahu wa ta’ala tafsir para shahabat, para sahabat sudah dipuji oleh Allāh tentang agama mereka tentang pemahaman mereka tentang amal saleh mereka maka kita kembali kepada pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 59

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 59Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu (Bagian 03)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Perpecahan Umatوَسَتْفَتِرقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةًArtinya:“Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.”.Makna Istilah Kata Firqoh dalam konteks ini memiliki arti yang sama dengan millah, jalan, atau aliran.Komparasi SejarahPerpecahan yang akan menimpa umat Islam ini dikondisikan sebagaimana orang-orang Bani Israil yang sebelumnya juga telah berpecah-belah.Bukti Kenabian Kabar tentang perpecahan ini menjadi bukti nyata kenabian Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam karena beliau mengabarkan sesuatu yang belum terjadi di masanya.Hakikat Ilmu Ghaib Mutlak:Sesuatu yang ghaib (khususnya ghaib mutlak yang terjadi di masa depan) pada hakikatnya hanya diketahui oleh Allah ﷻ (Aalimul ghoib). Dalilnya:عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًاArtinya:"(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu."(QS. Al-Jinn: 26)Pengecualian Utusan: Allah tidak menampakkan ilmu ghaib tersebut kepada siapapun, kecuali kepada sebagian makhluk-Nya yang diridhai, yaitu para rasul. Itu pun hanya diperlihatkan sebagian saja, bukan seluruhnya. Bahkan Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam sendiri menafikan (menolak) adanya ilmu ghaib pada dirinya sendiri.Konsekuensi Ancaman dan Status Hukum Golongan yang Menyimpangكُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةًArtinya:"Semuanya (73 golongan tersebut), semuanya masuk neraka kecuali satu.".Alasan mendasar mengapa mereka diancam masuk neraka adalah karena mereka melakukan iftiraq (berpecah-belah) yang dipicu oleh tindakan memisah-misahkan agamanya.Batasan Makna Ancaman NerakaIdentitas ObjekKalimat "Hadzihil umah" (umat ini) merujuk kepada Umat Ijabah, yaitu orang-orang yang telah menerima dakwah/masuk Islam, bukan umat dakwah secara umum.Bukan KekalMaksud masuk neraka bagi 72 golongan ini bukan masuk ke dalamnya selama-lamanya (bukan kholidina fiiha) seperti nasib orang-orang kafir.Di Bawah Kehendak Allah (Tahta Masyiatillah)Status mereka berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, mereka akan diazab terlebih dahulu karena dosa memisah-misahkan agama. Jika Allah menghendaki, Allah bisa langsung mengampuni mereka sehingga selamat dari azab perpecahan tersebut.Akhir yang SelamatBagi mereka yang tidak diampuni dan harus diazab di dalam neraka, hukumannya hanya bersifat sementara, dan kelak pada akhirnya mereka akan tetap dimasukkan ke dalam surga.Dalil Al-An'am Ayat 159 dan Kewajiban Berislam secara KaffahSatu Golongan yang Selamat (Illa Wahidah), golongan yang dikecualikan dari neraka adalah Ahlussunnah, yaitu orang-orang yang bersikap kaffah (totalitas) di dalam keislamannya. Dalil larangan memecah belah agama, QS. Al-An'am: 159):{إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَArtinya:“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”.Ayat ini mempertegas bahwa memisah-misahkan agama dilarang keras karena memiliki ancaman nyata. Hal ini berbanding lurus dengan wajibnya tidak memisah-misahkan agama. Seseorang wajib masuk ke dalam Islam secara keseluruhan (tidak tebang pilih) dalam seluruh lini, yang meliputi: Akidah, Akhlak, Ibadah, Dakwah, hingga urusan Imamah. Semuanya harus menggunakan Islam yang murni dibawa oleh Nabi ﷺ.Karakteristik, Manhaj, dan Etika Sahabat dalam Bertanyaقَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيArtinya:“Para sahabat berkata: 'Ya Rasulullah, siapakah golongan yang satu ini (yang Illa Wahidah tadi)?' Nabi menjawab: 'Yang dimaksud dengan kelompok tadi adalah kelompok yang berpegangan dengan apa yang aku berada di atasnya hari ini dan para sahabatku.'"Pertanyaan ini diajukan secara kolektif (qooluu—mereka berkata), bukan cuma oleh satu orang, menunjukkan urgensi masalah tersebut.   ​Pertanyaan langsung diajukan tanpa diundur karena masing-masing sahabat sangat menginginkan keselamatan agar masuk ke golongan yang satu dan takut terancam neraka.  Tujuan mereka bertanya murni untuk mengamalkan petunjuk tersebut demi keselamatan diri, bukan sekadar untuk menambah wawasan, ilmu, atau pengetahuan kosmetik semata.Tafsir Kata Alyaum (Hari Ini)Merujuk secara spesifik pada kondisi Islam pada hari ketika Nabi mengucapkan kalimat tersebut.   ​Segala bentuk bid'ah (perkara baru dalam agama) yang terjadi setelah hari tersebut, secara otomatis dikeluarkan dan tidak termasuk ke dalam cakupan kalimat "Masa ana alaihil yaum".Kedudukan Para Sahabat (Wa Ash-habii)Apa yang dijalani oleh para sahabat adalah representasi dari Islam kaffah yang dibawa Nabi dalam segala bidang kehidupan. Sejarah mencatat tidak ada satu pun sahabat Nabi yang membuat bid'ah dalam agama; munculnya bid'ah baru terjadi pada masa setelah generasi mereka.Hakikat Identitas Golongan yang SelamatNabi ﷺ tidak menyebutkan identitas golongan ini dalam bentuk nama aliran, nama sekte, ataupun nama organisasi tertentu. Beliau justru menyebutkan sifat, manhaj, dan cara beragama. Barangsiapa yang memiliki sifat Islam kaffah ini dalam seluruh sendi kehidupannya, maka dialah Ahlussunnah Wal Jamaah. Berkat ke-kaffahan inilah, kelak di hari kiamat wajah-wajah mereka menjadi bersih dan bersinar.Hakikat Identitas Golongan yang SelamatBerpegang teguh pada Islamnya para sahabat secara utuh adalah satu-satunya sebab yang menyelamatkan seseorang dari iftiroq (perpecahan) dan menjaga mereka agar tetap bersatu di atas jalannya Nabi dan para sahabat.Takhrij dan Status Validitas Riwayat HadistHadits perpecahan umat dengan redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi. Syaikh Al-Albani menghukumi hadist (dengan redaksi utama ini) berstatus Hasan. Walaupun di dalam kitab beliau yang lain, beliau pernah menghukumnya dhoif (lemah). Di dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shoghir Wa Ziyadatuhu, terdapat lafadz spesifik yang berada di antara dua tanda kurung (qousain) yang berbunyi:حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَLafadz khusus di dalam kurung inilah yang secara tegas didhoifkan oleh Syaikh Al-Albani. Di luar lafadz dalam kurung yang lemah tersebut, sisa lafadz hadis lainnya tetap dihukumi sebagai lafadz yang Hasan.Kesimpulan Berdasarkan pemaparan Halaqah 59 Kitab Fadhlul Islam oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A, dapat disimpulkan bahwa perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan merupakan bukti kenabian yang nyata, di mana 72 golongan di antaranya diancam masuk neraka secara tidak kekal akibat dosa iftiroq atau memisah-misahkan urusan agama. Keselamatan dari ancaman tersebut hanya diberikan kepada satu golongan yang selamat (Al-Firqotun Najiyah), yaitu Ahlussunnah Wal Jamaah, yang didefinisikan oleh Nabi \text{shallallâhu 'alaihi wasallam} melalui sifat, manhaj, dan cara beragama yang bersandar penuh pada Islam yang murni (kaffah) di atas jalannya Rasulullah dan para sahabat (mā ana 'alaihi al-yaum wa ash-hābī) tanpa tercampur bid'ah. Secara validitas riwayat, hadis riwayat At-Tirmidzi ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani, kecuali untuk redaksi tambahan spesifik di dalam kurung mengenai perbuatan keji terang-terangan yang dihukumi dhoif.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 9

.Halaqah yang Ke-9 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Ketujuh”👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعاDiantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah bersepakat dalam berdakwah kepada Tauhid dan mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah Thagut” (An-Nahl : 36)yang dimaksud dengan Thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, didalam ayat yang lain Allah mengatakanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaKu” (Al-Anbiya : 25)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakanوَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah” (Al-Ahqaf : 21)Tiga ayat diatas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti dakwah mereka satu yaitu “Tauhid”Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menceritakan didalam Al-Quran beberapa kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 59)Dan Allah menceritakan tentang Nabi Hud عَلَيهِ السَّلَامُ Allah mengatakanوَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud عَلَيهِ السَّلَامُ, dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa” (Al-A’raf : 65)Dan Allah mengatakanوَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 73)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang Nabi Syu’aib عَلَيهِ السَّلَامُوَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia… ” (Al-A’raf 85)Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada Tauhid, dia merupakan inti dari ajaran mereka.Adapun hukum hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka kadang-kadang terjadi perbedaan. Allah berfirman…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara” (Al-Ma’idah : 48)Rasulullah ﷺ bersabda:وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌوَPara Nabi adalah saudara sebapak ibu-ibu mereka berbeda tetapi Agama mereka satu (HR Al-Bukhari dan Muslim)Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara saudara dari satu bapak berlainan ibu maksudnya sama-sama berdakwah kepada Tauhid meskipun dengan cara ibadah yang berbeda.Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahفالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتهاmaka yang dimaksud dengannya adalah pokok pokok dari Tauhid dan pokok ketaatan kepada Allah تَعَالَى meskipun berbeda caranya

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 59

Halaqah 59 | Dalil lain Bahwa Orang-Orang Beriman Akan Melihat Allāh di AkhiratKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDisana ada beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang aqidah Ahlussunnah bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh sebagaimana dalam sebuah ayat yang ada dalam surat Yunus۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ ..[QS Yunus 26]Bagi orang-orang yang beriman (orang² yang ahsan) yaitu orang² yang Ihsan di dunia, Ihsan itu merasa dilihat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia beriman akhirnya dia bertakwa beramal shalehلِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟Bagi mereka ini Al Husna,apa yang dimaksud dengan Al Husna? Al Jannah /Surga, ini adalah muannats dari al-ahsan yang artinya adalah yang paling baik dan Al Jannah ini adalah negeri yang paling baik, negeri yang paling indah negeri yang paling nikmat , maka orang-orang yang Ihsan di dunia merasa diawasi oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia berbuat baik beramal shaleh beriman maka dia akan mendapatkan Surga وَزِيَادَةٌ dan dia akan mendapatkan tambahan, Surga dan juga tambahan, nah apa yang dimaksud dengan وَزِيَادَةٌ apa yang dimaksud dengan tambahan tafsirkan oleh Nabi ﷺ dan beliau ﷺ adalah tentunya yang paling mengetahui tentang makna yang ada di dalam Al-Qur’an di dalam sebuah hadis Nabi ﷺ mengatakan,إذا دخل أهل الجنة الجنةApabila penduduk Surga masuk ke dalam Surga,يقول الله -تبارك وتعالى-: تريدون شيئا أزيدكم؟Maka Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan?Ahlul Jannah disini berarti semuanya baik umatnya Nabi ﷺ maupun umat² Nabi sebelumnya, apakah kalian menginginkan suatu tambahan lagi? tambahan nikmat lagi padahal mereka sudah merasakan berbagai kenikmatan,فيقولون:Mereka mengatakan,ألم تبُيِّضْ وُجُوهنا؟ ألم تُدْخِلْنَا الجنة وتُنَجِّنَا من النار؟Bukankah engkau Ya Allāh telah menjadikan wajah² kami berseri Engkau telah memasukkan kami kedalam Surga yang dengannya kami merasakan berbagai kenikmatan bukan hanya itu bukankah Engkau telah menyelamatkan kami dari Neraka , maksudnya adalah sudah merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari Neraka dan bisa merasakan kenikmatan seperti iniKami merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari azab terakhir Alhamdulillahفيكشف الحِجَاب، فما أُعْطُوا شيئا أحَبَّ إليهم من النظر إلى ربهمMaka Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, sehingga mereka pun melihat Allāh, disebutkan oleh Nabi ﷺ maka penduduk Surga tidak diberikan sebuah kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Allāh azza wa jalla ketika mereka melihat Allāh maka kenikmatan yang sebelumnya mereka rasakan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka rasakan ketika melihat Allāh Rabbul’alamin.Ini menunjukkan betapa nikmatnya melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alamKemudian beliau mengatakanوَزِيَادَةٌMaka melihat wajah Allāh inilah yang dimaksud dengan ziyadah/tambahan didalam ayat tadi.ثم هذه الأيةkemudian Nabi ﷺ membaca Ayat iniلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌBagi orang-orang yang berbuat baik maka dia akan mendapatkan Surga dan juga tambahan. hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, berarti di sini Nabi ﷺ menafsirkan ayat dan menafsirkan ayat terkadang dengan ayat yang lain, terkadang menafsirkan ayat dengan hadis ini adalah termasuk tingkatan yang tinggi dalam masalah tafsir ketika menafsirkan ayat dengan ayat yang lain dengan hadist Nabi ﷺلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌDalam sebuah ayat yaitu dalam Surat Qof Allāh mengatakan,اۨدۡخُلُوۡهَا بِسَلٰمٍ‌ؕ ذٰلِكَ يَوۡمُ الۡخُلُوۡدِلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌMasuklah kalian ke dalam Surga dalam keadaan selamat hari tersebut adalah hari kekekalan tidak ada kebinasaan setelah itu. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki apa yang antum kehendaki akan diberikan oleh Allāh di dunia antum banyak keinginan-keinginan antum yang tidak tercapai itu di dunia, tapi nanti kalau sudah masuk ke Surganya Allāh subhanahu wa ta’alaلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَاBagi mereka apa yang mereka kehendaki,Kita mau apa saja diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’alaوَلَدَيْنَا مَزِيْدٌDan di sisi Kami ada tambahan.Tambahan di sini yang dimaksud adalah melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala.Dalam Ayat yang lain didalam surat Al mutafifin Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al-Muthaffifin:15]Sekali² tidak sesungguhnya mereka (orang² kafir) yang mereka mendustakan sesungguhnya mereka dari Rabb mereka di hari tersebut mereka akan dihalangi, mahjun dihalangi yaitu mereka tidak akan melihat Allāh.Al imam Syafi’i rahimahullah & beliau adalah seorang muhadits seorang faqih seorang mufassir beliau memahami dari ayat ini beliau mengatakan bahwasanya ketika ketika Allāh subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwasanya orang-orang kafir dihalangi dari Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan bahwasanya orang-orang yang beriman sebaliknya itu mereka akan dibiarkan dan diberikan karunia oleh Allāh untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala, orang² yang kufar ditutup sehingga mereka tidak bisa melihat wajah Allāh, melihat wajah Allah adalah sebuah kenikmatan adapun orang-orang yang beriman maka oleh Allāh subhanahu wa ta’ala diberikan karunia untuk melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala ini disebutkan oleh Al imam Syafi’i, bisa dilihat didalam tafsir Ibnu Katsir nukilan dari Ibnu Katsir terhadap ucapan Al Imam Asy Syafi’i rahimahullāh

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 34 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (bag 01)Kemudian setelah mendatangkan dalīl, beliau rahimahullāh menyebutkan tentang makna شهادة أن محمداً رسول اللهBeliau rahimahullāh mengatakan:ومعنى شهادة أن محمدا رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما عنه نهى وزجر، وأن لا يعبد الله إلا بما شرعKarena kedudukan syahadah di dalam agama Islām berkaitan langsung dengan judul kitāb ini yaitu tentang معرفة نبيكم عليه الصلاة والسلامMaka beliau perjelas disini, beliau terangkan disini tentang makna شهادة أن محمداً رسول الله.Orang yang sudah bersaksi bahwasanya beliau adalah “Seorang Rasūl” dan masing-masing kita adalah orang yang telah bersaksi, yang menyatakan bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh.Maka ini memiliki makna dan ada konsekuensinya, syahadat ini adalah kalimat yang mengandung konsekuensi sebagaimana telah berlalu penjelasannya.Syahadat adalah kalimat yang mengandung sumpah, jika kita sudah bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh orang yang telah diutus Allāh kepada kita, maka kita harus yakin bahwa beliau membawa sesuatu atau misi.Beliau diutus oleh Allāh kepada kita pasti beliau membawa sesuatu dari Allāh. Sebagai mana telah kita contohkan kemarin bahwa seorang utusan presiden diutus kepada kita pasti utusan tersebut membawa sesuatu atau pesan⇒ Maka apa yang dibawa oleh utusan Allāh adalah amanat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Apa amanatnya?√ Terkadang berupa perintah√ Terkadang berupa berita√ Terkadang berupa larangan√ Terkadang berupa cara ibadah.Ini lah yang dibawa oleh Rasūlullāh.Allāh telah membebankan kepada beliau untuk membawa amanat-amanat ini agar disampaikan kepada manusia.1. PERINTAHAllāh mewahyukan kepada beliau sebuah perintah untuk disampaikan kepada manusia, maka Rasūlullāh menyampaikan kepada manusia, memerintahkan kepada manusia demikian dan demikian.Ucapan beliau yang isinya adalah perintah-perintah bagi manusia asalnya adalah wahyu. Jibrīl yang membawa perintah tadi kepada Rasūlullāh.√ Orang yang mentaati perintah beliau (Rasūlullāh) pada hakikatnya dia telah mentaati perintah Allāh Azza wa Jalla.√ Orang yang mentaati perintah utusan pada hakikatnya dia telah mentaati perintah yang mengutusnya.Dan perintah Allāh ada dua macam :√ Perintah yang sifatnya Wajib.√ Perintah yang sifatnya Mustahab (Sunnah).⑴ Perintah yang wajibJika TIDAK dilaksanakan perintah tersebut maka kita berdosa dan jika kita melaksanakan perintah tersebut maka kita mendapatkan pahala.Contoh : Shalāt 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, Zakat bagi orang yang memiliki kewajiban, Berbakti kepada kedua orang tua, dan seterusnya.⑵ Perintah yang mustahabJika tidak dilaksanakan perintah tersebut maka seseorang tidak berdosa.Contoh : Puasa Sunnah, Shalāt Sunnah, Dzikir Sunnah.Seorang muslim harus yakin bahwasanya apa yang diperintahkan oleh Allāh pasti didalamnya ada maslahat. Ini kaidah dan prinsip yang harus kita pegang.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 9 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (Bagian 7)

Halaqah 9 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (Bagian 7)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah bersepakat dalam berdakwah kepada Tauhid dan mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah Thagut” (An-Nahl : 36)Yang dimaksud dengan Thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, didalam ayat yang lain Allah mengatakan:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaKu” (Al-Anbiya : 25)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakan:وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah” (Al-Ahqaf : 21)Tiga ayat diatas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti dakwah mereka satu yaitu “Tauhid”Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menceritakan didalam Al-Quran beberapa kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 59)Dan Allah menceritakan tentang Nabi Hud عَلَيهِ السَّلَامُ Allah mengatakan:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud عَلَيهِ السَّلَامُ, dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa” (Al-A’raf : 65)Dan Allah mengatakan:وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 73)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang Nabi Syu’aib عَلَيهِ السَّلَامُوَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia… ” (Al-A’raf 85)Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada Tauhid, dia merupakan inti dari ajaran mereka.Adapun hukum hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka kadang-kadang terjadi perbedaan.Allah berfirman:…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara” (Al-Ma’idah : 48)Rasulullah ﷺ bersabda:وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌوَ"Para Nabi adalah saudara sebapak ibu-ibu mereka berbeda tetapi Agama mereka satu" (HR Al-Bukhari dan Muslim)Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara-saudara dari satu bapak berlainan ibu maksudnya sama-sama berdakwah kepada Tauhid meskipun dengan cara ibadah yang berbeda.Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahفالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتها"Maka yang dimaksud dengannya adalah pokok pokok dari Tauhid dan pokok ketaatan kepada Allah تَعَالَى meskipun berbeda caranya".@komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 59

Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 03Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.وَسَتْفَتِرقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةًUmatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.Dan sungguh umat Islam ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan.Firqoh sama dengan millah, jalan, aliran. Sebagaimana orang-orang Bani Israil juga berpecah-belah, maka umat ini akan berpecah belah. Dan ini menunjukkan tentang kenabian Shallallâhu Alaihi Wasallam, mengabarkan sesuatu yang belum terjadi. Karena sesuatu yang ghoib, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dialah saja yang mengetahuinya. Aalimul ghoib. Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib, maksudnya adalah ghoib yang mutlak yang terjadi di masa yang akan datang. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menampakkan ilmu yang ghoib tadi kecuali kepada sebagian makhluk-Nya dan mereka adalah para rasul.{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا} [الجن : 26](Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.Allah tidak menampakkan ilmu yang ghoib tadi kepada siapapun kecuali orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridhoi di antara para rasul.Jadi di antara manusia, di antara makhluk yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang ilmu ghoib adalah para rasul saja. Itupun hanya sebagian saja, bukan semuanya. Sampai Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam menafikan dari dirinya ilmu ghoib ini. Lalu bagaimana dengan yang lain?كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةًSemuanya 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu.Kenapa mereka masuk ke dalam neraka?Sebabnya adalah karena mereka iftiroq, berpecah-belah. Kenapa mereka berpecah belah? Karena mereka memisah-misahkan agamanya. Ancamannya adalah masuk ke dalam neraka, dan maksud dari masuk ke dalam neraka ini bukan masuk ke dalam neraka selamanya sebagaimana orang-orang kafir, tidak. Karena beliau berbicara di sini tentang umatnya. Hadzihil umah, maksudnya adalah umat ijabah. Yaitu umat beliau Shallallâhu Alaihi Wasallam. Sehingga masuk kulliha finnnar bukan kholidina fiiha, bukan kekal di dalamnya. Tapi maksudnya di sini adalah tahta masyiatillah, mereka di bawah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kalau Allah menghendaki diazab dengan sebab mereka memisah-misahkan agamanya tadi. Dan kalau Allah menghendaki Allah ampuni yang demikian.Sehingga tidak diazab dengan sebab iftiroq, yaitu memisah-misahkan agama tadi. Dan kalau ada di antara mereka yang tidak diampuni karena memisah-misahkan agama tadi, kemudian diazab di dalam neraka, maka itu hanya sementara dan kelak dia akan masuk ke dalam surga.إِلاَّ وَاحِدَةًKecuali satu golongan saja.Siapa satu golongan tadi? Mereka adalah Ahlussunnah, yang mereka kaffah di dalam Islamnya. Maka merekalah yang selamat dari ancaman neraka tadi.Hadits ini menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Di sini disebutkan, di antara hal yang menjadikan sebab seseorang masuk ke dalam neraka adalah karena berpecah-belah. Mengapa? Karena mereka berkelompok-kelompok, beraliran-aliran, karena mereka memisah-misahkan agamanya.Sebagaimana dalam ayat :{إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ} [الأنعام : 159]Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.Ini menunjukkan bahwasanya memisah-misah agama dilarang. Karena ada ancaman dan menunjukkan tentang wajibnya tidak memisah-misahkan. Yaitu masuk Islam secara keseluruhan, sebagaimana Ahlussunnah Wal jamaah.Islam secara keseluruhan, tidak memisah-misahkan agama. Dalam masalah akidah, akhlak, ibadah, dakwah, imamah, semuanya kita menggunakan Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.Kemudian para sahabat mengatakan :قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيYa Rasulullah, siapakah golongan yang satu ini?Yaitu Illa Wahidah tadi Ya Rasulullah?Maka para sahabat yang mereka menginginkan keselamatan, bertanya kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dan tidak diundur. Karena ini pertanyaan yang penting, masing-masing dari mereka ingin masuk ke dalam yang wahidah tadi. Dan tidak ingin masuk di dalam yang terancam dengan neraka tadi.Sehingga qooluu, bukan hanya 1 orang, mereka bertanya man hiya ya Rasulullah?Siapa kelompok ini ya Rasulullah?Para sahabat bertanya untuk mengamalkan apa yang mereka tanyakan, bukan sekedar bertanya dan menambah ilmu, menambah pengetahuan, tidak. Tapi ingin mengamalkan. Semangat hatinya untuk bertanya, sehingga timbul dari mereka pertanyaan-pertanyaan yang memang bermanfaat.قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِيYang dimaksud dengan kelompok tadi adalah kelompok yang berpegangan dengan apa yang aku berada di atasnya hari ini.Alyaum yang diucapkan oleh Nabi yaitu hari tersebut, ketika Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengucapkan ucapan ini.Maksudnya adalah Islam yang beliau bawa saat itu. Adapun yang terjadi setelah hari tersebut, berupa bid’ah, maka ini bukan termasuk maka ana alaihil yaum.مَا أَنَا عَلَيْهِ اليومMaksudnya adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, baik dalam masalah akidah, ibadah, dan seterusnya. Itu masuk di dalam kalimat مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم.وَأَصْحَابِيDan apa-apa yang para sahabatku ada di atasnya hari ini.Apa yang dilakukan oleh para sahabat, termasuk ke dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam secara keseluruhan.Para sahabat tidak ada di antara mereka yang membuat bid’ah di dalam agama. Islam mereka dan Islam yang kaffah, di dalam seluruh bidang kehidupannya, mereka Islam secara kaffah. Bid’ah ini terjadi setelah mereka.Ini adalah golongan yang selamat tadi. Beliau menyebutkan di sini sifat, manhaj, cara, yang dilakukan oleh firqoh yang wahidah tadi. Beliau tidak menyebutkan tentang nama aliran, nama organisasi, atau yang lain, tapi beliau menyebutkan di sini tentang sifat dari golongan tersebut. Barangsiapa yang memiliki sifat ini yang intinya adalah Islam secara kaffah, Islam secara sempurna dalam seluruh kehidupan dia, maka dia adalah golongan yang satu ini, Ahlussunnah Wal jamaah. Makanya kita katakan bahwa Ahlussunnah Wal jamaah merekalah yang masuk Islam secara kaffah dalam seluruh bidang kehidupan. Dan inilah yang menjadikan kelak di hari kiamat wajah menjadi bersih, bersinar, karena mereka masuk Islam secara kaffah.Dari sini juga kita mengetahui dari ucapan beliau :مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِيMenunjukkan tentang wajibnya Islam secara keseluruhan, karena Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mensifati golongan yang wahidah tadi dengan مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِي. Dan ini adalah sebab selamatnya mereka dari iftiroq. Karena mereka berpegang dengan Islamnya para sahabat secara keseluruhan, akhirnya mereka menjadi selamat dari perpecahan. Dan mereka tetap bersatu bersama Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Syaikh Al Albani, beliau menghukumi hadits ini dengan hadits yang hasan.Di dalam kitab yang lain beliau menghukumi hadits ini dengan dhoif.Kemudian di dalam Al jami’ ash shoghir Wa ziyadatuhu disebutkan bahwasanya yang ada di dalam lafadz ini di antara dua qousain (tanda kurung) ini didhoifkan oleh Syaikh Al Albani.حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَIni didhoifkan oleh Syaikh Al Albani.Adapun lafadz yang lain, maka ini adalah lafadz yang hasan

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 59 | Dalil lain Bahwa Orang-Orang Beriman Akan Melihat Allāh di Akhirat

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDisana ada beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang aqidah Ahlussunnah bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh sebagaimana dalam sebuah ayat yang ada dalam surat Yunus۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ ..[QS Yunus 26]Bagi orang-orang yang beriman (orang² yang ahsan) yaitu orang² yang Ihsan di dunia, Ihsan itu merasa dilihat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia beriman akhirnya dia bertakwa beramal shalehلِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟Bagi mereka ini Al Husna,apa yang dimaksud dengan Al Husna? Al Jannah /Surga, ini adalah muannats dari al-ahsan yang artinya adalah yang paling baik dan Al Jannah ini adalah negeri yang paling baik, negeri yang paling indah negeri yang paling nikmat , maka orang-orang yang Ihsan di dunia merasa diawasi oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia berbuat baik beramal shaleh beriman maka dia akan mendapatkan Surga وَزِيَادَةٌ dan dia akan mendapatkan tambahan, Surga dan juga tambahan, nah apa yang dimaksud dengan وَزِيَادَةٌ apa yang dimaksud dengan tambahan tafsirkan oleh Nabi ﷺ dan beliau ﷺ adalah tentunya yang paling mengetahui tentang makna yang ada di dalam Al-Qur’an di dalam sebuah hadis Nabi ﷺ mengatakan,إذا دخل أهل الجنة الجنةApabila penduduk Surga masuk ke dalam Surga,يقول الله -تبارك وتعالى-: تريدون شيئا أزيدكم؟Maka Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan?Ahlul Jannah disini berarti semuanya baik umatnya Nabi ﷺ maupun umat² Nabi sebelumnya, apakah kalian menginginkan suatu tambahan lagi? tambahan nikmat lagi padahal mereka sudah merasakan berbagai kenikmatan,فيقولون:Mereka mengatakan,ألم تبُيِّضْ وُجُوهنا؟ ألم تُدْخِلْنَا الجنة وتُنَجِّنَا من النار؟Bukankah engkau Ya Allāh telah menjadikan wajah² kami berseri Engkau telah memasukkan kami kedalam Surga yang dengannya kami merasakan berbagai kenikmatan bukan hanya itu bukankah Engkau telah menyelamatkan kami dari Neraka , maksudnya adalah sudah merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari Neraka dan bisa merasakan kenikmatan seperti iniKami merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari azab terakhir Alhamdulillahفيكشف الحِجَاب، فما أُعْطُوا شيئا أحَبَّ إليهم من النظر إلى ربهمMaka Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, sehingga mereka pun melihat Allāh, disebutkan oleh Nabi ﷺ maka penduduk Surga tidak diberikan sebuah kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Allāh azza wa jalla ketika mereka melihat Allāh maka kenikmatan yang sebelumnya mereka rasakan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka rasakan ketika melihat Allāh Rabbul’alamin.Ini menunjukkan betapa nikmatnya melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alamKemudian beliau mengatakanوَزِيَادَةٌMaka melihat wajah Allāh inilah yang dimaksud dengan ziyadah/tambahan didalam ayat tadi.ثم هذه الأيةkemudian Nabi ﷺ membaca Ayat iniلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌBagi orang-orang yang berbuat baik maka dia akan mendapatkan Surga dan juga tambahan. hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, berarti di sini Nabi ﷺ menafsirkan ayat dan menafsirkan ayat terkadang dengan ayat yang lain, terkadang menafsirkan ayat dengan hadis ini adalah termasuk tingkatan yang tinggi dalam masalah tafsir ketika menafsirkan ayat dengan ayat yang lain dengan hadist Nabi ﷺلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌDalam sebuah ayat yaitu dalam Surat Qof Allāh mengatakan,اۨدۡخُلُوۡهَا بِسَلٰمٍ‌ؕ ذٰلِكَ يَوۡمُ الۡخُلُوۡدِلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌMasuklah kalian ke dalam Surga dalam keadaan selamat hari tersebut adalah hari kekekalan tidak ada kebinasaan setelah itu. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki apa yang antum kehendaki akan diberikan oleh Allāh di dunia antum banyak keinginan-keinginan antum yang tidak tercapai itu di dunia, tapi nanti kalau sudah masuk ke Surganya Allāh subhanahu wa ta’alaلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَاBagi mereka apa yang mereka kehendaki,Kita mau apa saja diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’alaوَلَدَيْنَا مَزِيْدٌDan di sisi Kami ada tambahan.Tambahan di sini yang dimaksud adalah melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala.Dalam Ayat yang lain didalam surat Al mutafifin Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al-Muthaffifin:15]Sekali² tidak sesungguhnya mereka (orang² kafir) yang mereka mendustakan sesungguhnya mereka dari Rabb mereka di hari tersebut mereka akan dihalangi, mahjun dihalangi yaitu mereka tidak akan melihat Allāh.Al imam Syafi’i rahimahullah & beliau adalah seorang muhadits seorang faqih seorang mufassir beliau memahami dari ayat ini beliau mengatakan bahwasanya ketika ketika Allāh subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwasanya orang-orang kafir dihalangi dari Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan bahwasanya orang-orang yang beriman sebaliknya itu mereka akan dibiarkan dan diberikan karunia oleh Allāh untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala, orang² yang kufar ditutup sehingga mereka tidak bisa melihat wajah Allāh, melihat wajah Allah adalah sebuah kenikmatan adapun orang-orang yang beriman maka oleh Allāh subhanahu wa ta’ala diberikan karunia untuk melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala ini disebutkan oleh Al imam Syafi’i, bisa dilihat didalam tafsir Ibnu Katsir nukilan dari Ibnu Katsir terhadap ucapan Al Imam Asy Syafi’i rahimahullāh.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Pertama”

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Pertama”Setelah sebagian orang-orang yang beriman selamat melewati neraka, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan izin kepada mereka, untuk memberikan syafaat kepada saudara-saudara mereka, orang-orang yang beriman yang terjatuh ke dalam neraka.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda didalam hadīts Abū Said Al-Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim,◆Ketika orang-orang yang beriman selamat dari neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidak ada yang lebih gigih di dalam memohon kepada Allāh , hak saudara-saudara mereka yang jatuh ke dalam neraka dari pada orang-orang yang beriman di hari kiamat.Mereka berkata, Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami dahulu mereka shalāt bersama kami, berpuasa bersama kami dan haji bersama kami.◆ Ini menunjukkan tentang keutamaan berteman dengan orang-orang shālih dan melakukan ibadah-ibadah tersebut bersama mereka.Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,Maka Allāh berkata, “Keluarkanlah oleh kalian orang-orang yang kalian kenal. Maka diharamkanlah wajah-wajah mereka atas neraka (Maksudnya orang-orang yang beriman yang melakukan dosa besar dan disiksa di dalam neraka akan dilindungi wajah-wajah mereka dari api neraka, sehingga bisa dikenal)Mereka pun mengeluarkan banyak orang. Ada di antaranya yang api neraka sudah membakar sampai pertengahan kedua betisnya. Dan ada yang sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan?Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dinar, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan”Maka Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat setengah dinar, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan.Maka Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dzarrah, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang.Dzarrah artinya adalah semut, itu yang dikenal oleh orang Arab. Mereka mengatakan semut kecil itu dengan dzarrah, jangan diartikan dengan biji sawi atau yang semisalnya, dzarrah menurut orang Arab adalah semut.Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,Mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan di dalam neraka seorangpun yang memiliki kebaikan”Allāh berkata,Para malāikat telah memberikan syafā’at, para nabi telah memberikan syafā’at dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafā’at . Dan tidak tersisa, kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.Kemudian Allāh menggenggam satu genggaman dari neraka, dan mengeluarkan kaum yang tidak pernah beramal sedikitpun.Keadaan mereka telah menjadi arang.Kemudian mereka dilempar ke dalam sungai yang berada di mulut-mulut surga (yang dinamakan dengan sungai kehidupan).Mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya benih di dalam lumpur sisa banjir (Maksudnya akan dengan cepat tumbuh, karena benih yang berada di dalam lumpur sisa banjir akan lebih cepat tumbuh disebabkan banyaknya faktor yang mendukung, seperti tanah yang lembut, air yang memadai dan adanya unsur-unsur yang bermanfaat. Sebagaimana hal ini diketahui oleh para ahli)Kemudian Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:Apakah kalian pernah melihat benih yang tumbuh, ketika dekat dengan batu atau pohon? bagian yang dekat dengan matahari akan berwarna kuning dan hijau. Dan yang lebih dekat dengan bayangan maka akan berwarna putih.Maksudnya ada yang mengatakan bahwasanya bagian badan yang terbakar yang lebih dekat dengan surga akan lebih cepat sempurna dari pada bagian badan yang lebih dekat dengan neraka.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Kemudian mereka akan keluar seperti mutiara. Dan di leher-leher mereka ada khawatim, yang dikenal oleh para penduduk surga.”Sebagian mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengankhawatim (beberapa barang yang terbuat dari emas yang dikalungkan di leher mereka)Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:Maka berkatalah para penduduk surga, “Mereka adalah orang-orang yang Allāh bebaskan”Allāh telah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa sebab amalan yang mereka amalkan dan tanpa sebab kebaikan yang mereka lakukan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 58

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 57Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu (Bagian 02)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي​Arti Hadits:​"Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan." Para sahabat bertanya: "Siapa mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Siapa saja yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini.".​Akar Penyimpangan Umat Islam Akibat Tasyabbuh​Apa yang diamalkan oleh ahlul bid'ah saat ini, hampir selalu memiliki asal-usul atau akar dari agama Bani Israil (Yahudi dan Nasrani). ​Berikut adalah detail manifestasi tasyabbuh (penyerupaan) yang dibahas dalam kajian:Dua Akar Karakter Buruk Ahli Kitab​Secara umum, penyimpangan beragama di dunia ini tidak lepas dari dua karakter buruk berikut:Karakter Yahudi (Berilmu tapi Tidak Beramal):Memiliki pengetahuan tentang kebenaran tetapi menyembunyikannya atau tidak mempraktikkannya. Di dalam umat Islam, ini diwakili oleh ulama-ulama yang buruk (ulama su').​Karakter Nasrani (Beramal tanpa Ilmu):Memiliki semangat, ambisi, dan perasaan yang tinggi dalam beribadah, tetapi tidak bersandar pada dalil yang shahih. Di dalam umat Islam, ini adalah karakter utama para pelaku bid'ah (ahlul bid'ah).Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah​Praktik Bani Israil:Nabi menyatakan (HR. Muslim) bahwa kaum terdahulu (Yahudi & Nasrani) memiliki kebiasaan membangun tempat ibadah (masjid) di atas kuburan para nabi dan orang shalih mereka akibat pengagungan yang berlebihan.​Tasyabbuh Umat Islam:Sebagian kaum muslimin meniru persis perbuatan ini dengan mengagungkan kuburan, membangun masjid di atasnya, atau sengaja beribadah di sana, padahal Nabi sudah memberikan larangan tegas: "Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.".Peringatan Hari Lahir Nabi (Maulid)​Praktik Nasrani: Menjadikan hari kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam sebagai hari raya keagamaan yang besar (dikenal sebagai Hari Natal).​Tasyabbuh Umat Islam:Mengadopsi konsep yang sama dengan membuat perayaan tahunan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.Komersialisasi Pengampunan Dosa & Ritual Musik​Praktik Nasrani Zaman Pertengahan: Ketika para pemuka agama Kristen memiliki kekuasaan, mereka memeras jemaatnya dengan menjual surat penebusan dosa (Suququl Ghufron atau Kaffarotu adz-Dzunub)—artinya, ampunan Tuhan bisa dibeli dengan uang. Selain itu, mereka beribadah dengan nyanyian/musik dan memasang gambar/patung Yesus di tempat ibadah.​Tasyabbuh Umat Islam:Praktik menjadikan musik/nyanyian sebagai bagian dari ritual ibadah, serta penggunaan foto/gambar tokoh agama secara berlebihan, merembes ke sebagian kelompok muslim. Ini bersumber dari jalur Thariqatun-Nashoro (semangat beramal tapi minus ilmu).Mengada-adakan Syariat Baru (Konsep Rahbaniyyah)​Sebab Turunnya Dalil (QS. Al-Hadid: 27):Allah menjelaskan bahwa kaum Nasrani menciptakan sendiri konsep Rahbaniyah (kerahiban/memutus diri dari dunia secara ekstrem). Allah tidak pernah mewajibkannya, tetapi mereka membuatnya sendiri dengan alasan "mencari ridha Allah". Pada akhirnya, mereka sendiri tidak mampu menjaganya.Tasyabbuh Umat Islam:Kaum ahlul bid'ah meniru perilaku ini dengan membuat-buat ritual ibadah baru atau metode beragama yang ekstrem dengan klaim niat baik untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal hal itu tidak disyariatkan.Tabarruk pada Pohon/Benda (Kasus Dzat Anwath)​Kisah Sahabat (HR. Tirmidzi): Saat menuju Perang Hunain, beberapa sahabat yang baru masuk Islam melihat orang musyrik memiliki pohon bidara tempat menggantungkan senjata agar sakti, yang disebut Dzat Anwath. Spontan mereka meminta kepada Nabi: "Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwath.".Respons Tegas Nabi:Nabi bertakbir "Allahu Akbar!" dan menyatakan bahwa ucapan itu persis seperti ucapan Bani Israil kepada Nabi Musa: "Buatkanlah untuk kami tuhan (berhala) sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan." Nabi menutupnya dengan peringatan: "Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian."​Tasyabbuh Umat Islam:Mencari berkah (ngalap berkah/tabarruk) secara serampangan pada benda mati, pohon, atau tempat-tempat tertentu yang tidak ada dalilnya dari syariat.Sihir, Dukun, dan Fitnah Wanita​Sihir & Dukun: Meniru tabiat orang Yahudi yang sangat menyukai hal-hal gaib yang menyimpang, perdukunan, dan praktik sihir.​Fitnah Wanita: Mengulang sejarah kehancuran Bani Israil. Rasulullah pernah mengingatkan bahwa fitnah (ujian) pertama yang menghancurkan Bani Israil adalah masalah wanita, dan kini banyak umat Islam yang jatuh pada lubang yang sama.Membuka Pintu Perayaan Khusus (Tauqifiyah)​Atsar Umar bin Khattab:Seorang Yahudi berkata kepada Umar bahwa ada satu ayat di Al-Qur'an (QS. Al-Maidah: 3 tentang kesempurnaan Islam) yang andai turun di kalangan Yahudi, pasti hari itu akan dijadikan hari raya ('Ied). Umar menjawab bahwa umat Islam telah mengetahui hari dan tempat turunnya (hari Jumat di padang Arafah), namun umat Islam tidak serta merta membuat hari raya baru dari akal sendiri.​Tasyabbuh Umat Islam:Menganggap bahwa jika ada momentum sejarah Islam yang besar (seperti Hijrah Nabi, Nuzulul Qur'an, atau Isra Mi'raj), maka otomatis boleh dibuatkan perayaan khusus. Padahal urusan hari raya bersifat tauqifiyah (harus saklek berdasarkan perintah Allah dan Rasul, bukan hasil kreasi manusia).Mengapa Terjadi Perpecahan (Tafarruq)Korelasi penting antara bab Tasyabbuh (penyerupaan) dengan Tafarruq (perpecahan umat):​Kaidah Mutlak: Perpecahan adalah sunnatullah yang pasti terjadi pada umat Islam karena mereka meniru perpecahan yang terjadi pada Bani Israil (Bani Israil pecah jadi 72, Islam pecah jadi 73).Akar Masalah Berdasarkan Al-Qur'an (QS. Al-An'am: 159): Allah berfirman bahwa orang-orang terdahulu menjadi terpecah belah dan berkelompok-kelompok (syiya'an) disebabkan karena mereka memecah-belah agama mereka (farroqū dīnahum).​Mengapa Agama Terpecah? Karena mereka tidak berislam secara kaffah (totalitas).​Mereka hanya mau tunduk pada syariat yang sesuai dengan hawa nafsu, selera, atau logika mereka saja.​Di satu sisi mereka berislam, di sisi lain mereka mengikuti hawa nafsu.Kesimpulan Seandainya Bani Israil dahulu, dan umat Islam saat ini, mau tunduk dan memasrahkan diri secara total (Kaffah) kepada seluruh syariat yang dibawa oleh nabi mereka tanpa pilih-pilih, niscaya perpecahan dan ancaman neraka ini tidak akan pernah terjadi.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 58 | Dalil Bahwa Orang-orang Beriman Akan Melihat Allāh di Akhirat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhكما نطق به كتاب ربناSebagaimana yang telah ada didalam Al-Qur’an (kitab Rabb kita),Sebagaimana telah diucapkan oleh kitab Rabb kita atau yang disebutkan dalam kitab Rabb kita yaitu Al-Qur’an, beliau menyebutkan di sini satu diantara dalil-dalil yang menunjukkan tentang bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh di Surgaوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ[QS Al Qiyamah 22-23]Wajah² dihari tersebut dalam keadaan berseri²/ dalam keadaan bergembira terlihat di dalam wajah mereka kegembiraan yang luar biasa, gembira dengan nikmat-nikmat yang mereka dapatkan ketika mereka masuk ke dalam Surga, selamatkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari Jahanam dimasukkan ke dalam Surga dan seluruhnya adalah kenikmatan dan di situ mereka selama-lamanya di dalam Surga, terlihat kegembiraan yang ada di dalam hati-hati mereka itu terpancar pada wajah-wajah mereka kegembiraan yang luar biasa, tentunya lebih dari kegembiraan penduduk dunia dengan dunianya kegembiraan orang-orang yang fasiq dengan kefasikannya itu adalah laasayy sesuatu yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan kegembiraan penduduk Surga saat itu dengan balasan yang Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepada mereka di dalam Surga,وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ٢٢Wajah-wajah di hari tersebut dalam keadaan berser²اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣Dalam keadaan mereka memandang kepada Rabb mereka,Kata نَاظِرَ dalam bahasa Arab ada beberapa penggunaan terkadang disebutkan نَاظِرَ tanpa ada setelahnya (Illa, atau fii) tapi langsung dengan objeknya kalau demikian penggunaannya maka maksudnya adalah menunggu, نَاظِرَ setelahnya langsung objek maka ini artinya adalah menunggu seperti misalnya firman Allāh subhanahu wa ta’ala ketika Allāh menyebutkan tentang ucapan orang-orang munafik laki² & wanita yang mereka meminta kepada orang-orang yang beriman untuk menunggu , Allāh mengatakan,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا…[QS Al Hadid 19]Hari dimana orang2 munafik baik laki-laki maupun wanita mereka berkata kepada orang² yang beriman انظُرُونَا /tunggu kalian yaitu ketika sebelum orang-orang yang beriman mereka menyeberangi Shirat dan sebelumnya berkumpul antara orang² yang beriman dengan orang² munafik kemudian Allāh subhanahu wa ta’ala berkehendak untuk memisahkan antara orang² yang beriman dengan orang² munafik diberikan orang² yang beriman cahaya sehingga dengannya mereka bisa berjalan tentunya sesuai dengan iman dan juga amal saleh mereka semakin besar iman dan juga amal saleh mereka maka akan semakin besar cahaya yang mereka akan dapatkan saat itu sehingga kalau semakin besar cahayanya semakin mudah dan semakin cepat dia berjalan ada orang yang beriman yang lebih kecil keimanannya lebih lemah keimanannya maka dia akan mendapatkan cahaya sesuai dengan kadar amal saleh, orang² yang munafikun maka Allah subhanahu wa ta’ala awalnya memberikan kepada mereka cahaya setelah mereka merasa bergembira merasa bisa menipu Allāh dan juga RasulNya ternyata Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki untuk memadamkan cahaya orang² munafikun, akhirnya mereka tidak memiliki cahaya mereka tertipu sebagaimana mereka dahulu menipu Allāh dan juga RasulNya sekarang mereka ditipu, dalam keadaan mereka tidak memiliki cahaya dan orang-orang yang beriman terus maju dengan cahaya yang mereka bahkan mereka mengatakan,انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَTunggu, kami ingin mendapatkan cahaya kalianقِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْDikatakan kepada mereka mundur kalian, karena mereka adalah orang² munafik menampakkan keislaman tapi mereka menyembunyikan kekufuran yang berhak untuk mendapatkan cahaya yang sebenarnya adalah orang² yang beriman luar dan dalamnya adapun orang yang hanya menampakkan dhahirnya Islam di dalamnya adalah kekufuran maka irji’u mundur kalianفَالْتَمِسُوا نُورًاCari kalian cahaya sendiriIni penggunaan انظُرُو tanpa ada di sana illa tanpa ada di sana fii maknanya adalah menunggu .Terkadang انظُرُو setelahnya adalah fii maka maknanya adalah memikirkan contoh misalnya firman Allāh ﷻ,أَوَلَمْ يَنظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ..Apakah mereka tidak melihat (فِي) didalam kerajaan langit dan juga bumi,Maksudnya adalah memikirkan tentang kebesaran kerajaan Allāh subhanahu wa ta’ala yang ada di atas maupun yang ada di bumi ini ketika seseorang memikirkan tentang kerajaan Allāh dan kebesaran Allāh maka dia akan merasakan ketenangan dan juga ketentraman di dalam hidupnya,Inilah kerajaan Rabbku yang kusembah segala sesuatu adalah milik Allāh, kenapa kita takut dengan makhluk, kenapa kita takut dengan kemiskinan, kenapa kita takut dengan masa depan? Allāh subhanahu wa ta’ala yang Maha kaya lihat kerajaanNya yang ada di langit maupun yang ada di bawah itu adalah semuanya milik Allāh dan engkau adalah hamba Allāh jadikan kita takut kepada Allāh subhanahu wa ta’ala menjadikan kita merasa rendah dan jauh dari ketakaburan, makhluk selain kita banyak yang mereka tunduk kepada Allāh .Berarti انظُرُو disini adalah memikirkan.Disana ada انظُرُو illa, kalau setelahnya adalah illa maka maknanya adalah melihat dengan mata, kalau tadi melihat dengan pikiran seperti misalnya firman Allāh subhanahu wa ta’ala,أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْApakah mereka tidak melihat kepada unta bagaimana unta diciptakan oleh Allāh,seseorang mengatakanانظُرُو إِلَىAku melihat kepada dinding maka maknanya dalam melihat dengan matanya ini penggunaan yang harus kita perhatikan dalam bahasa Arab namanya huruf jar ini ada pengaruhnya, pengaruh dalam istidlal, pengaruhnya ini memiliki makna dalam kehidupan kita sehari-hari juga kita hendaklah teliti dalam menggunakan ini dalam kita berbicara dengan orang lain Nahdhortu jidal (salah) tapi kalau Nahdhortu illal jidal (shahih ) Nahdhortu jidal berarti antum menunggu dinding , tapi kalau mengatakan Nahdhortu ilaljidal (kita melihat Dinding) kalau kita mengatakan Nahdhortu fil jidal (aku melihat didalam dinding/ maksudnya memikirkan).Sekarang yg ada didalam Ayat iniوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ٢٢اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣Wajah-wajah dari tersebut dalam keadaan berseri-seri kepada Rabb mereka, mereka memandang.Apa yang dipakai di sini, huruf ila berarti maknanya adalah memandang dengan mata-mata mereka makanya kita katakan hak melihat Allāh subhanahu wa taala itu adalah hak,إيانا بالابصر، dalam keadaan langsung dengan wajah² mereka dengan pandangan² mereka.Kemudian yang kedua di sini pemandang di sini نَّاضِرَةٌ disandarkan kepada Al wujuh karena sebelumnyaوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏Berarti نَّاضِرَةٌ disini wujuh dan wujuh (wajah²) ini tempat adanya mata kita mata kita ini berada di wajah ini juga semakin menguatkan bahwasanya yang dimaksud dengan melihat di sini adalah melihat dengan mata mereka, kita harus yakini bagaimana caranya wallahu taala alam , yang menjelaskan kita meyakini bahwasanya kita akan melihat Allāh dalam Surga, kita berdoa semoga Allāh subhanahu wa taala memudahkan kita untuk masuk ke dalam Surganya Allāh dan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala bersama orang² yang beriman yg lain, orang yang cinta kepada sesuatu maka kalau kecintaannya itu adalah benar dan sebelumnya dia belum pernah melihat dia akan rindu untuk benar-benar melihat sesuatu tersebut, ketika di dalam hati seseorang ada kecintaan misalnya terhadap Rasulullah ﷺ kecintaan yang sebenarnya yang luar biasa maka seorang umat dia akan berkeinginan rindu seandainya dia bisa melihat meskipun hanya sebentar orang yang dia cintai itu Rasulullah ﷺ dengan sebagian mereka mungkin di berikan keutamaan oleh Allāh subhanahu wa taala melihat Nabi ﷺ di dalam mimpinya jika Allāh subhanahu wa taala mengetahui tentang kebenaran seseorang kejujuran seseorang yang ingin melihat Nabi ﷺ, seseorang hamba yang setiap hari yang dia sujud kepada Allāh, setiap hari dia berdzikir kepada Allāh, setiap hari dia merasakan kenikmatan dari Allāh subhanahu wa ta’ala dan seluruh nikmat adalah dari Allāh dari awal sampai akhir, selama ini dia hanya mendengar apa yang Kalamullah didalam Al-Qur’an mendengar nama²Nya mendengar sifat²Nya, mendengar tentang keagunganNya kalau memang sampai & meningkat keimanannya semakin tinggi keimanannya maka dia akan rindu untuk bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala, rindu melihat Allāh senang dan cinta untuk bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala yang selama ini diagungkan yang selama ini dia rela bersabar untuk Allāh bersabar untuk menjaga shalat lima waktunya bersabar, ketika dia berdakwah ketika dia dicela orang dirintangi dia bersabar untuk Allāh maka dia ingin segera bertemu dengan Allāh banyak kerinduan yang membara di dalam hatinya untuk bertemu dengan Allāh barangsiapa yang demikian keadaannya maka Allāh juga senang bertemu dengan orang tersebut,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُBarangsiapa yang senang untuk bertemu dengan Allāh, maka Allāh subhanahu wa ta’ala senang bertemu dengan orang tersebut.Sebagian orang² yang beriman ketika mereka melihat fitnah yang besar didunia dan dia mengingat Allāh dia punya keinginan di dalam hatinya untuk segera bertemu dengan Allāh dan meninggalkan dunia yang dan seisinya kematian itu adalah gembiraan tersendiri bagi seorang al-muhib yang mencintai Allāh subhanahu wa ta’ala, karena dengannya dia akan bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala, orang yang mencintai sesuatu paling di sesuatu tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam kehidupannya Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan dia yang memberikan nikmat kepadanya telah memberikan dia hidayah maka harusnya ada di dalam diri kita masing-masing keinginan untuk bertemu dengan Allāh dan untuk melihat Allāh subhanahu wa ta’ala.Silahkan masing-masing melihat pada dirinya sudahkah perasaan tersebut ada ya sudahkah kita memiliki mahabbah kecintaan untuk bertemu dengan Allāh Nabi ﷺ mengatakan,Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allāh maka Allāh senang untuk bertemu dengannya,وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏٢٢اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣dan di sini didahulukanاِلٰى رَبِّهَاSebelum نَاظِرَةٌ dan asalnya adalahنَاظِرَةٌ اِلٰى رَبِّهَاketika dia dibalik dan dimajukan kedepan menunjukkan bahwasanya disini ada penekanan/ penguatan sungguh-sungguh mereka akan melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alaاِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌmereka akan melihat Rabb-nya

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 08 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Dua Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke delapan dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Diantara keyakinan orang-orang musyrikin Quraisy, bahwa dengan menyembah orang-orang shalih tersebut mereka bisa semakin dekat dengan Allah.Allah berfirman,(وَٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِیَاۤءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ إِنَّ ٱللَّهَ یَحۡكُمُ بَیۡنَهُمۡ فِی مَا هُمۡ فِیهِ یَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَهۡدِی مَنۡ هُوَ كَـٰذِبࣱ كَفَّارࣱ)[Surat Az-Zumar 3]“Dan orang-orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, mereka mengatakan, ‘Tidaklah kami menyembah mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah.’”Mereka mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang jauh dari Allah, banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, banyak lalai kepada Allah. Sedangkan orang-orang shalih tersebut, mereka adalah orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Sehingga kalau kami beribadah kepada orang-orang tersebut, mereka akan mendekatkan diri kami kepada Allah, sehingga kami pun memiliki kemuliaan di dunia.”Kemudian Allah membantah dan mengatakan,إِنَّ ٱللَّهَ یَحۡكُمُ بَیۡنَهُمۡ فِی مَا هُمۡ فِیهِ یَخۡتَلِفُونَ“Sesungguhnya Allah menghukumi diantara mereka di dalam apa yang mereka perselisihkan.”Yaitu antara Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang musyrikin tersebut, siapa yang benar diantara mereka, apakah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mengajak kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari kesyirikan ataukah yang benar adalah orang-orang musyrikin tersebut yang mereka berdo’a dan beribadah kepada orang-orang shalih tersebut dengan maksud supaya dekat dengan Allah.Allah mengatakan,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَهۡدِی مَنۡ هُوَ كَـٰذِبࣱ كَفَّارࣱ“Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang berdusta dan sangat kufur.”Allah mensifati ucapan mereka tadi dengan dua sifat:1. DustaMenunjukkan bahwa ucapan mereka مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ yang artinya “Tidaklah kami menyembah mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah” ini adalah ucapan yang tidak benar. Allah katakan, ini adalah kedustaan. Dan Allah lebih tahu tentang hakikatnya.2. Sangat kufurMenunjukkan bahwa cara seperti ini tidak dibenarkan secara syari’at.Diantara alasan mereka meminta do’a orang-orang shalih tersebut dan meminta syafa’at kepada mereka adalah bahwa orang-orang shalih tersebut dalam keadaan hidup. Dan apabila hidup maka dia mendengar. Dan apabila dia mendengar maka kita boleh meminta do’a kepada mereka, sebagaimana ketika orang-orang shalih tersebut hidup kita boleh meminta do’a dari mereka.Jawabannya:1. Kita meyakini bahwa mereka, di alam kubur mereka hidup dengan kehidupan alam barzakh, yang berbeda dengan alam kita di dunia. Para Nabi, para syuhada, hidup dengan kehidupan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada kehidupan kita.Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,الأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِي قُبُورِهِمْ يُصَلُّونَ“Para Nabi, mereka hidup di dalam kuburan mereka, dalam keadaan sholat.” [HR. Al Bazzaar, dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani Rahimahullah]Dan Allah berfirman,(وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِینَ قُتِلُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ أَمۡوا⁠تَۢاۚ بَلۡ أَحۡیَاۤءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ یُرۡزَقُونَ ۝ فَرِحِینَ بِمَاۤ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَیَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِینَ لَمۡ یَلۡحَقُوا۟ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ)[Surat Aali-Imran 169 – 170]“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan oleh Allah kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang, yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka dan mereka pun memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka, yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih.2. Hidupnya seseorang tidak berarti dia mendengar, karena ada orang yang hidup dan dia tidak mendengar.3. Seandainya dia mendengar di alam barzakh, maka belum tentu dia mendengar do’a orang yang ada di alam dunia ini.Allah berfirman,(إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا یَسۡمَعُوا۟ دُعَاۤءَكُمۡ وَلَوۡ سَمِعُوا۟ مَا ٱسۡتَجَابُوا۟ لَكُمۡۖ وَیَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ یَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ وَلَا یُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِیرࣲ)[Surat Fatir 14]“Kalau kalian berdo’a kepada mereka, mereka tidak mendengar do’a kalian. Dan seandainya mereka mendengar, mereka tidak mengabulkan do’a kalian. Dan di hari kiamat mereka mengingkari kesyirikan kalian dan tidak ada yang mengabarkan kepadamu seperti Allah Yang Maha Mengetahui.”4. Tidak semua suara di dunia ini bisa kita dengar, meskipun kita berada di alam yang sama. Lalu bagaimana dengan suara yang ada di alam yang lain?Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 8 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 6

Halaqah 8 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 6Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman dengan para Rasul ‘alaihimussalam adalah keyakinan bahwa Allah melebihkan sebagian Nabi dan Rasul diatas sebagian yang lain tanpa merendahkan dan melecehkan harga diri dan kedudukan yang lain.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ“Itu adalah para Rasul, Kami telah muliakan sebagian mereka diatas sebagian yang lain” (Al-Baqarah : 253)Dan Allah berfirman:وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ…“Dan sungguh Kami telah memuliakan sebagian Nabi diatas sebagian yang lain” (Al-Isra : 55)Adapun ayat yang berbunyi… لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ…“Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari Rasul-RasulNya” (Al-Baqarah : 285)Maka yang dimaksud dengan yang membeda-bedakan disini adalah beriman dengan sebagian Rasul dan mengingkari sebagian yang lain, seperti orang yang beriman dengan Nabi ‘Isa عَلَيهِ السَّلَامُ dan kufur dengan Nabi Muhammad ﷺ. Dan sebaik-baik Nabi adalah Ulul ‘Azmi (orang-orang yang memiliki kesabaran yang kuat)Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ…“Maka bersabarlah engkau sebagaimana Ulul ‘Azmi diantara para Rasul telah bersabar” (Al-Ahqaf : 35)Menurut sebagian ulama yang dimaksudkan dengan Ulul ‘Azmi adalah 5 Orang, mereka adalah:① Nabi Nuh② Nabi Ibrahim③ Nabi Musa④ Nabi Isa⑤ Nabi Muhammad ‘AlayhimussalamNama-nama mereka telah terkumpul didalam dua ayat dari surat Al-Ahzab dan surat Asy-Syura.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari para Nabi darimu, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Ibnu Maryam dan kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat” (Al-Ahzab : 7)Dan Allah mengatakan:شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ…“Allah telah mensyariatkan bagi kalian dari agama apa yang Allah wasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa” (Asy-Syura : 13)Ke-lima Nabi inilah dan juga Nabi Adam yang tersebut didalam hadits Tentang Asyafa’atul ‘Uzma yang kita sudah sebutkan didalam Silsilah Beriman dengan Hari Akhir.Dan sebaik-baik Ulul ‘Azmi adalah dua orang Nabi, yang keduanya adalah khalilullah (kekasih Allah) beliau berdua adalah Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan Nabi Muhammad ﷺDalilnya adalah firman Allahوَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya” (An-Nisa’ : 125)Rasulullah ﷺ bersabdaفَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا"Maka sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih" (HR Muslim)Dan sebaik-baik kekasih Allah adalah Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabdaأنا سيد ولد آدم يوم القيامة"Aku adalah pemuka anak-anak Adam pada hari Kiamat"(HR Muslim)

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 8

Halaqah yang Ke-8 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Ke Enam”👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman dengan para Rasul ‘alaihimussalam adalah keyakinan bahwa Allah melebihkan sebagian Nabi dan Rasul diatas sebagian yang lain tanpa merendahkan dan melecehkan harga diri dan kedudukan yang lain.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanتِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ“Itu adalah para Rasul, Kami telah muliakan sebagian mereka diatas sebagian yang lain” (Al-Baqarah : 253)Dan Allah berfirmanوَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ…“Dan sungguh Kami telah memuliakan sebagian Nabi diatas sebagian yang lain” (Al-Isra : 55)Adapun ayat yang berbunyi… لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ…“Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari Rasul-RasulNya” (Al-Baqarah : 285)Maka yang dimaksud dengan yang membeda-bedakan disini adalah beriman dengan sebagian Rasul dan mengingkari sebagian yang lain, seperti orang yang beriman dengan Nabi ‘Isa عَلَيهِ السَّلَامُ dan kufur dengan Nabi Muhammad ﷺ. Dan sebaik-baik Nabi adalah Ulul ‘Azmi (orang-orang yang memiliki kesabaran yang kuat)Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanفَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ…“Maka bersabarlah engkau sebagaimana Ulul ‘Azmi diantara para Rasul telah bersabar” (Al-Ahqaf : 35)Menurut sebagian ulama yang dimaksudkan dengan Ulul ‘Azmi adalah 5 Orang, mereka adalah:① Nabi Nuh② Nabi Ibrahim③ Nabi Musa④ Nabi Isa⑤ Nabi Muhammad ‘AlayhimussalamNama-nama mereka telah terkumpul didalam dua ayat dari surat Al-Ahzab dan surat Asy-Syura.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari para Nabi darimu, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Ibnu Maryam dan kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat” (Al-Ahzab : 7)Dan Allah mengatakanشَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ…“Allah telah mensyariatkan bagi kalian dari agama apa yang Allah wasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa ” (Asy-Syura : 13)Ke-lima Nabi inilah dan juga Nabi Adam yang tersebut didalam hadits Tentang Asyafa’atul ‘Uzma yang kita sudah sebutkan didalam Silsilah Beriman dengan Hari Akhir.Dan sebaik-baik Ulul ‘Azmi adalah dua orang Nabi, yang keduanya adalah khalilullah (kekasih Allah) beliau berdua adalah Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan Nabi Muhammad ﷺDalilnya adalah firman Allahوَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya” (An-Nisa’ : 125)Rasulullah ﷺ bersabdaفَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاMaka sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (HR Muslim)Dan sebaik-baik kekasih Allah adalah Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabdaأنا سيد ولد آدم يوم القيامةaku adalah pemuka anak-anak Adam pada hari Kiamat (HR Muslim)

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘IlmiyahBerimān Kepada hari Akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian yang keempat”

Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘IlmiyahBerimān Kepada hari Akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian yang keempat”Di antara dosa yang bisa menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam neraka adalah dosa wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:Diperlihatkan kepadaku bahwa sebagian besar penduduk neraka adalah wanita. Mereka telah ingkar.Dikatakan kepada beliau:Apakah mereka ingkar kepada Allāh ?Beliau bersabda: “Mereka ingkar kepada suami-suami mereka, Mengingkari kebaikan-kebaikan mereka, Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sekian lama, kemudian dia melihat darimu sesuatu yang tidak membuat dia senang, maka wanita tersebut akan berkata, “Aku tidak melihat kebaikan sedikitpun darimu”.(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)Seorang wanita yang shālihah hendaklah bersyukur kepada Allāh , kemudian bersyukur kepada suaminya, karena dengan sebabnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla√ Menjaga dia sebagai seorang istri.√ Menutupi kekurangannya.√ Menunaikan hajatnya dan lain-lain.Dan secara umum, bersyukur kepada orang lain yang pernah berbuat baik kepada kita diperintahkan dalam agama Islām.Apabila seseorang tidak bisa membalas maka hendaknya dia mendo’akan dengan kebaikan, baik di hadapan orang tersebut maupun tidak di hadapannya.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah. Kalau kalian tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka do’akanlah dengan kebaikan sampai kalian merasa bahwasanya kalian telah membalas kebaikannya”(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan An-Nasā’i)Dan di antara dosa yang membahayakan kehidupan seorang hamba di akhirat adalah tiga dosa yang tercantum didalam sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.◆ Tiga orang yang Allāh harāmkan masuk surga:⑴ Pecandu khamr (minuman keras)⑵ Anak yang durhaka⑶ Dayyuts (laki-laki yang membiarkan kejelekan di dalam keluarganya)(Hadīts Hasan Riwayat Imām Ahmad di dalam Musnadnya)Seorang kepala keluarga yang membiarkan kemaksiatan di dalam keluarganya dan memfasilitasi, dikhawatirkan terkena ancaman ini.Seorang kepala keluarga dituntut untuk tegas dan lembut dengan keluarganya.Rasa sayang bukan berarti harus memberi semua yang diminta, Dan mendidik mereka untuk taat tidak identik denga kekerasan, Istri dan anak adalah ujian dan titipan Allāh.Kewajiban kita adalah mengerahkan tenaga semaksimal mungkin untuk menjaga diri dan keluarga kita dari neraka, dan hidayah di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla⇒Dan di antara dosa yang membahayakan adalah durhaka terhadap kedua orang tua.Dan di antara bentuk durhaka adalah menyakiti orang tua dengan lisan, dengan sikap ataupun dengan tangan.Seorang muslim dan muslimah diperintah untuk berlemah-lembut kepada orang tua. Merendahkan diri di hadapan mereka, dan menaati perintah mereka selama tidak bertentangan dengan syariat.Dan di antara bentuk bakti yang paling berharga kepada orang tua kita adalah mengeluarkan mereka dari kegelapan, kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan menuju cahaya Tauhīd, Sunnah dan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālaDan di antara dosa yang membahayakan adalah dosa seorang pejabat yang menipu bawahan atau rakyatnya.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Tidaklah seorang hamba, Allāh berikan jabatan kemudian dia mati dalam keadaan menipu bawahan atau rakyatnya kecuali Allāh akan mengharamkan dia masuk ke dalam surga”(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)Di antara bentuk menipu kepada rakyat adalah tidak menasehati mereka demi keselamatan dunia dan akhirat mereka, tidak memenuhi hak-hak mereka, tidak berbuat adil di antara mereka dan lain-lain(diharamkan masuk surga di sini bahwasanya pelakunya tidak bisa masuk surga secara langsung, namun dia berhak untuk diadzab di dalam neraka terlebih dahulu apabila Allāh menghendaki)Ini adalah beberapa contoh dosa-dosa besar dan para ulama telah mengarang buku khusus tentang dosa-dosa besar, kita pelajari supaya kita bisa menjauhi.Keyakinan ahlusunnah bahwasanya pelaku dosa besar di bawah kehendak Allāh, Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengampuni, dan kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengadzabnya terlebih dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam surga.Dan adzab neraka bagi pelaku dosa besar, meski tidak selamanya namun bukan sesuatu yang ringan.Satu menit dibakar dengan api dunia adalah perkara yang berat. Maka bagaimana dibakar dalam waktu yang lama dengan api akhirat yang jauh lebih panas.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Api kalian adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari neraka jahanam”(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)Kesabaran di dalam menahan hawa nafsu di dunia, bagi seorang muslim jauh lebih ringan dan lebih mudah dari pada kesabaran di dalam menghadapi adzab neraka di akhirat.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla melindungi kita dan keluarga kita dari api neraka.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 58

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 58 | Dalil Bahwa Orang-orang Beriman Akan Melihat Allāh di AkhiratHalaqah 58 | Dalil Bahwa Orang-orang Beriman Akan Melihat Allāh di AkhiratKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhكما نطق به كتاب ربناSebagaimana yang telah ada didalam Al-Qur’an (kitab Rabb kita),Sebagaimana telah diucapkan oleh kitab Rabb kita atau yang disebutkan dalam kitab Rabb kita yaitu Al-Qur’an, beliau menyebutkan di sini satu diantara dalil-dalil yang menunjukkan tentang bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh di Surgaوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ[QS Al Qiyamah 22-23]Wajah² dihari tersebut dalam keadaan berseri²/ dalam keadaan bergembira terlihat di dalam wajah mereka kegembiraan yang luar biasa, gembira dengan nikmat-nikmat yang mereka dapatkan ketika mereka masuk ke dalam Surga, selamatkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari Jahanam dimasukkan ke dalam Surga dan seluruhnya adalah kenikmatan dan di situ mereka selama-lamanya di dalam Surga, terlihat kegembiraan yang ada di dalam hati-hati mereka itu terpancar pada wajah-wajah mereka kegembiraan yang luar biasa, tentunya lebih dari kegembiraan penduduk dunia dengan dunianya kegembiraan orang-orang yang fasiq dengan kefasikannya itu adalah laasayy sesuatu yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan kegembiraan penduduk Surga saat itu dengan balasan yang Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepada mereka di dalam Surga,وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ٢٢Wajah-wajah di hari tersebut dalam keadaan berser²اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣Dalam keadaan mereka memandang kepada Rabb mereka,Kata نَاظِرَ dalam bahasa Arab ada beberapa penggunaan terkadang disebutkan نَاظِرَ tanpa ada setelahnya (Illa, atau fii) tapi langsung dengan objeknya kalau demikian penggunaannya maka maksudnya adalah menunggu, نَاظِرَ setelahnya langsung objek maka ini artinya adalah menunggu seperti misalnya firman Allāh subhanahu wa ta’ala ketika Allāh menyebutkan tentang ucapan orang-orang munafik laki² & wanita yang mereka meminta kepada orang-orang yang beriman untuk menunggu , Allāh mengatakan,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا…[QS Al Hadid 19]Hari dimana orang2 munafik baik laki-laki maupun wanita mereka berkata kepada orang² yang beriman انظُرُونَا /tunggu kalian yaitu ketika sebelum orang-orang yang beriman mereka menyeberangi Shirat dan sebelumnya berkumpul antara orang² yang beriman dengan orang² munafik kemudian Allāh subhanahu wa ta’ala berkehendak untuk memisahkan antara orang² yang beriman dengan orang² munafik diberikan orang² yang beriman cahaya sehingga dengannya mereka bisa berjalan tentunya sesuai dengan iman dan juga amal saleh mereka semakin besar iman dan juga amal saleh mereka maka akan semakin besar cahaya yang mereka akan dapatkan saat itu sehingga kalau semakin besar cahayanya semakin mudah dan semakin cepat dia berjalan ada orang yang beriman yang lebih kecil keimanannya lebih lemah keimanannya maka dia akan mendapatkan cahaya sesuai dengan kadar amal saleh, orang² yang munafikun maka Allah subhanahu wa ta’ala awalnya memberikan kepada mereka cahaya setelah mereka merasa bergembira merasa bisa menipu Allāh dan juga RasulNya ternyata Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki untuk memadamkan cahaya orang² munafikun, akhirnya mereka tidak memiliki cahaya mereka tertipu sebagaimana mereka dahulu menipu Allāh dan juga RasulNya sekarang mereka ditipu, dalam keadaan mereka tidak memiliki cahaya dan orang-orang yang beriman terus maju dengan cahaya yang mereka bahkan mereka mengatakan,انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَTunggu, kami ingin mendapatkan cahaya kalianقِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْDikatakan kepada mereka mundur kalian, karena mereka adalah orang² munafik menampakkan keislaman tapi mereka menyembunyikan kekufuran yang berhak untuk mendapatkan cahaya yang sebenarnya adalah orang² yang beriman luar dan dalamnya adapun orang yang hanya menampakkan dhahirnya Islam di dalamnya adalah kekufuran maka irji’u mundur kalianفَالْتَمِسُوا نُورًاCari kalian cahaya sendiriIni penggunaan انظُرُو tanpa ada di sana illa tanpa ada di sana fii maknanya adalah menunggu .Terkadang انظُرُو setelahnya adalah fii maka maknanya adalah memikirkan contoh misalnya firman Allāh ﷻ,أَوَلَمْ يَنظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ..Apakah mereka tidak melihat (فِي) didalam kerajaan langit dan juga bumi,Maksudnya adalah memikirkan tentang kebesaran kerajaan Allāh subhanahu wa ta’ala yang ada di atas maupun yang ada di bumi ini ketika seseorang memikirkan tentang kerajaan Allāh dan kebesaran Allāh maka dia akan merasakan ketenangan dan juga ketentraman di dalam hidupnya,Inilah kerajaan Rabbku yang kusembah segala sesuatu adalah milik Allāh, kenapa kita takut dengan makhluk, kenapa kita takut dengan kemiskinan, kenapa kita takut dengan masa depan? Allāh subhanahu wa ta’ala yang Maha kaya lihat kerajaanNya yang ada di langit maupun yang ada di bawah itu adalah semuanya milik Allāh dan engkau adalah hamba Allāh jadikan kita takut kepada Allāh subhanahu wa ta’ala menjadikan kita merasa rendah dan jauh dari ketakaburan, makhluk selain kita banyak yang mereka tunduk kepada Allāh .Berarti انظُرُو disini adalah memikirkan.Disana ada انظُرُو illa, kalau setelahnya adalah illa maka maknanya adalah melihat dengan mata, kalau tadi melihat dengan pikiran seperti misalnya firman Allāh subhanahu wa ta’ala,أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْApakah mereka tidak melihat kepada unta bagaimana unta diciptakan oleh Allāh,seseorang mengatakanانظُرُو إِلَىAku melihat kepada dinding maka maknanya dalam melihat dengan matanya ini penggunaan yang harus kita perhatikan dalam bahasa Arab namanya huruf jar ini ada pengaruhnya, pengaruh dalam istidlal, pengaruhnya ini memiliki makna dalam kehidupan kita sehari-hari juga kita hendaklah teliti dalam menggunakan ini dalam kita berbicara dengan orang lain Nahdhortu jidal (salah) tapi kalau Nahdhortu illal jidal (shahih ) Nahdhortu jidal berarti antum menunggu dinding , tapi kalau mengatakan Nahdhortu ilaljidal (kita melihat Dinding) kalau kita mengatakan Nahdhortu fil jidal (aku melihat didalam dinding/ maksudnya memikirkan).Sekarang yg ada didalam Ayat iniوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ٢٢اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣Wajah-wajah dari tersebut dalam keadaan berseri-seri kepada Rabb mereka, mereka memandang.Apa yang dipakai di sini, huruf ila berarti maknanya adalah memandang dengan mata-mata mereka makanya kita katakan hak melihat Allāh subhanahu wa taala itu adalah hak,إيانا بالابصر، dalam keadaan langsung dengan wajah² mereka dengan pandangan² mereka.Kemudian yang kedua di sini pemandang di sini نَّاضِرَةٌ disandarkan kepada Al wujuh karena sebelumnyaوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏Berarti نَّاضِرَةٌ disini wujuh dan wujuh (wajah²) ini tempat adanya mata kita mata kita ini berada di wajah ini juga semakin menguatkan bahwasanya yang dimaksud dengan melihat di sini adalah melihat dengan mata mereka, kita harus yakini bagaimana caranya wallahu taala alam , yang menjelaskan kita meyakini bahwasanya kita akan melihat Allāh dalam Surga, kita berdoa semoga Allāh subhanahu wa taala memudahkan kita untuk masuk ke dalam Surganya Allāh dan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala bersama orang² yang beriman yg lain, orang yang cinta kepada sesuatu maka kalau kecintaannya itu adalah benar dan sebelumnya dia belum pernah melihat dia akan rindu untuk benar-benar melihat sesuatu tersebut, ketika di dalam hati seseorang ada kecintaan misalnya terhadap Rasulullah ﷺ kecintaan yang sebenarnya yang luar biasa maka seorang umat dia akan berkeinginan rindu seandainya dia bisa melihat meskipun hanya sebentar orang yang dia cintai itu Rasulullah ﷺ dengan sebagian mereka mungkin di berikan keutamaan oleh Allāh subhanahu wa taala melihat Nabi ﷺ di dalam mimpinya jika Allāh subhanahu wa taala mengetahui tentang kebenaran seseorang kejujuran seseorang yang ingin melihat Nabi ﷺ, seseorang hamba yang setiap hari yang dia sujud kepada Allāh, setiap hari dia berdzikir kepada Allāh, setiap hari dia merasakan kenikmatan dari Allāh subhanahu wa ta’ala dan seluruh nikmat adalah dari Allāh dari awal sampai akhir, selama ini dia hanya mendengar apa yang Kalamullah didalam Al-Qur’an mendengar nama²Nya mendengar sifat²Nya, mendengar tentang keagunganNya kalau memang sampai & meningkat keimanannya semakin tinggi keimanannya maka dia akan rindu untuk bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala, rindu melihat Allāh senang dan cinta untuk bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala yang selama ini diagungkan yang selama ini dia rela bersabar untuk Allāh bersabar untuk menjaga shalat lima waktunya bersabar, ketika dia berdakwah ketika dia dicela orang dirintangi dia bersabar untuk Allāh maka dia ingin segera bertemu dengan Allāh banyak kerinduan yang membara di dalam hatinya untuk bertemu dengan Allāh barangsiapa yang demikian keadaannya maka Allāh juga senang bertemu dengan orang tersebut,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُBarangsiapa yang senang untuk bertemu dengan Allāh, maka Allāh subhanahu wa ta’ala senang bertemu dengan orang tersebut.Sebagian orang² yang beriman ketika mereka melihat fitnah yang besar didunia dan dia mengingat Allāh dia punya keinginan di dalam hatinya untuk segera bertemu dengan Allāh dan meninggalkan dunia yang dan seisinya kematian itu adalah gembiraan tersendiri bagi seorang al-muhib yang mencintai Allāh subhanahu wa ta’ala, karena dengannya dia akan bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala, orang yang mencintai sesuatu paling di sesuatu tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam kehidupannya Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan dia yang memberikan nikmat kepadanya telah memberikan dia hidayah maka harusnya ada di dalam diri kita masing-masing keinginan untuk bertemu dengan Allāh dan untuk melihat Allāh subhanahu wa ta’ala.Silahkan masing-masing melihat pada dirinya sudahkah perasaan tersebut ada ya sudahkah kita memiliki mahabbah kecintaan untuk bertemu dengan Allāh Nabi ﷺ mengatakan,Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allāh maka Allāh senang untuk bertemu dengannya,وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏٢٢اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣dan di sini didahulukanاِلٰى رَبِّهَاSebelum نَاظِرَةٌ dan asalnya adalahنَاظِرَةٌ اِلٰى رَبِّهَاketika dia dibalik dan dimajukan kedepan menunjukkan bahwasanya disini ada penekanan/ penguatan sungguh-sungguh mereka akan melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alaاِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌmereka akan melihat Rabb-nya

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 58

Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Kalau kita teliti banyak sekali apa yang diamalkan oleh ahlul bid’ah dan lain-lain ternyata memang ada asalnya di dalam agama orang-orang Bani Israil. Contoh, misalnya menjadikan kuburan sebagai masjid. Ini ada asalnya di dalam apa yang dilakukan oleh Bani Israil.Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengatakan :ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد؛ فإنيي أنهاكم عن ذلك (رواه مسلم)Man Kana qoblakum di sini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.Kemudian ulama yang mereka tidak mengamalkan ilmunya, maka ini ada di dalam diri orang-orang Yahudi. Orang yang semangat beramal tapi tidak berdasarkan ilmu, sebagaimana ini adalah ahlul bid’ah, maka ini dilakukan oleh Nasrani. Tidak lepas dari dua ini,1. Mungkin dia berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya.2. Atau dia semangat beramal tapi dia tidak kembali kepada ilmu.Contoh yang lain maulud nabi, mereka juga menjadikan hari lahirnya Isa sebagai hari raya mereka, ada di dalam Bani Israil. Contoh yang lain, kalau kita melihat sejarah di abad pertengahan dan ketika orang-orang Kristen, mereka punya kedudukan, mereka memeras orang-orang yang ada di bawah dengan kaffarotu adz-dzunub, suququl ghufron, yakni ada surat-surat yang di situ ada permintaan untuk bertobat, ingin mendapatkan ampunan, maka harus membayar. Itu ada di dalam perilaku orang-orang Nasrani. Nyanyi-nyanyi dan menjadikan itu sebagai ibadah, menjadikan patung, menjadikan gambar, ini juga dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Mereka memiliki gambar Yesus atau patung Yesus, dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, secara umum tadi. Kembali kepada thiriqotun-nashoro, semangat dalam beramal, tapi kurang berilmu.{وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ} [الحديد : 27]Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.Dan mereka membuat rohbaniyyah yang mereka buat-buat sendiri.Membuat bid’ah dalam agama, itu seperti orang-orang Nasrani. Atau seperti yang ada dalam hadits Abu Waqid Al-Laitsy Radhiyallahu Anhu, ada di antara umat Islam yang mengatakan seperti yang diucapkan oleh Bani Israil kepada Musa.عن أبي واقد الليثي قال: “خرجنا مع رسول الله ﷺ إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط. فمررنا بسدرة، فقلنا: يا رسول الله، اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط، فقال رسول الله ﷺ: الله أكبر، إنها السنن. قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ [الأعراف:138]، لتركبن سنن من كان قبلكم” رواه الترمذي وصححهOrang-orang Yahudi, mereka menyukai sihir, menyukai dukun, demikian pula di dalam umat Islam ada yang demikian. Melakukan sihir, menyukai sihir, menyukai dukun.Fitnah Bani Israil yang pertama adalah perempuan, demikian pula banyak di antara umat Islam yang terfitnah dengan wanita, dan seterusnya.Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengarang sebuah kitab, Iqtidho ash-shirothil mustaqim mukholafatu ashabil jahim. Termasuk konsekuensi dari jalan yang lurus adalah kita harus menyelisihi jalan orang-orang yang mereka adalah ashabul jahim. Di situ disebutkan oleh beliau tentang di antara bentuk tasyabbuh umat Islam terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Termasuk di antaranya adalah membuat peringatan-peringatan yang tidak ada dasarnya. Dan orang-orang Yahudi sebagaimana dalam atsar, ketika mereka mengucapkan kepada Umar bin Khattab sebuah ayat.أنَّ رَجُلًا، مِنَ اليَهُودِ قالَ له: يا أمِيرَ المُؤْمِنِينَ، آيَةٌ في كِتَابِكُمْ تَقْرَؤُونَهَا، لو عَلَيْنَا مَعْشَرَ اليَهُودِ نَزَلَتْ، لَاتَّخَذْنَا ذلكَ اليومَ عِيدًا. قالَ: أيُّ آيَةٍ؟ قالَ: {اليومَ أكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وأَتْمَمْتُ علَيْكُم نِعْمَتي ورَضِيتُ لَكُمُ الإسْلَامَ دِينًا} [المائدة: 3] قالَ عُمَرُ: قدْ عَرَفْنَا ذلكَ اليَومَ، والمَكانَ الذي نَزَلَتْ فيه علَى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وهو قَائِمٌ بعَرَفَةَ يَومَ جُمُعَةٍ.Bermudah-mudahan membuat sebuah perayaan, padahal ini adalah tauqifiyah. Demikian pula ada sebagian kaum muslimin ada yang mentang-mentang ini adalah kejadian yang besar, hijrahnya Nabi, turunnya Al-Qur’an, isra dan mi’raj, mereka jadikan ini sebagai peringatan. Maka ini adalah termasuk bentuk tasyabbuh dengan orang-orang Yahudi dan juga Nasrani. Dan di sini juga beliau sebutkan tentang masalah pakaian juga demikian. Masalah hari raya.Termasuk di antaranya tawassul bis sholihin, ini dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Apa yang mereka yakini tentang Isa? Mereka bertawasul dengan Isa alaihimassalam. Nah, di sini beliau, apa hubungannya dengan ucapan beliau ini dengan ucapan setelahnya, tentang masalah tafarruqul ummah? Ini adalah contoh dari sebelumnya, akan menimpa umat ini apa yang menimpa Bani Israil. Termasuk di antaranya adalah tafarruq. Tafarruq umat ini akan terjadi sebagaimana ini terjadi pada Bani Israil. Itu sudah kaidah, apa yang menimpa Bani Israil akan menimpa kepada umat ini. Kalau Bani Israil ada perpecahan di antara mereka, maka di dalam umat ini juga akan ada perpecahan.ليأتينَّ على أمَّتي ما أتى على بني إسرائيل حَذوَ النَّعلِ بالنَّعلِ ، حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَ ، وإنَّ بَني إسرائيل تفرَّقت على ثِنتينِ وسبعينَ ملَّةً ، وتفترقُ أمَّتي على ثلاثٍ وسبعينَ ملَّةً ، كلُّهم في النَّارِ إلَّا ملَّةً واحِدةً ، قالوا : مَن هيَ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قالَ : ما أَنا علَيهِ وأَصحابيDan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah belah, mereka menjadi 72 golongan.Kenapa mereka berpecah belah?Ini sudah disebutkan dalam ayat.(إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ) (الأنعام: من الآية159)Kenapa mereka menjadi syiya’an?Karena mereka farroqu diinahum. Sebabnya adalah karena mereka memisah-misah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Musa, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Isa. Tidak sempurna di dalam keislamannya, tidak kaffah di dalam keislamannya.Yang ini benar-benar manut, taat, tapi dalam hal ini dia masih mengikuti hawa nafsunya. Dalam masalah ini dia Islam, namun dalam hal yang lain dia masih mengikuti hawa nafsunya, belum menyerahkan diri secara total kepada Allah. Sehingga terjadi perpecahan di antara mereka. Seandainya mereka semuanya, sama-sama Islam secara kaffah yang dibawa oleh Nabi mereka, niscaya tidak akan terjadi perpecahan di antara mereka.Sebagaimana hal ini menimpa orang-orang Bani Israil, maka dia akan menimpa umat ini.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 57

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 57Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً» قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي​Dari Abdullah bin 'Amr ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh akan datang kepada umatku apa yang telah datang kepada Bani Israil, serupa seperti sepasang sandal dengan sandal lainnya. Sampai seandainya ada di antara mereka orang yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, niscaya akan ada di antara umatku yang melakukan demikian..."Poin-poin Utama Makna HadistKepastian Terjadinya Penyerupaan (Tasyabbuh)Penggunaan kata Lam di awal dan Nun Taukid di akhir kalimat (Layatiyanna) memberikan penegasan yang sangat kuat bahwa peristiwa ini pasti akan menimpa umat Islam.Cakupan Istilah Bani IsrailYang dimaksud Bani Israil dalam hadits ini mencakup kedua kaum Ahli Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.Perumpamaan Sepasang Sandal (Hadzwal Na'li bin Na'li)Nabi menggambarkan kemiripan umat Islam yang meniru Bani Israil seperti sepasang sandal (kanan dan kiri) yang sama persis ukuran, warna, bentuk, dan keberadaannya. ​Hal ini menunjukkan betapa parah dan detailnya sebagian umat Islam dalam membebek atau meniru cara hidup mereka.Peniruan dalam Kemaksiatan EkstremUmat Islam tidak hanya meniru hal yang mubah atau baik, melainkan sampai ikut meniru dosa dan kemaksiatan yang sangat keji. Digambarkan dengan perumpamaan ekstrem: seandainya ada Bani Israil yang meniduri ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan tanpa rasa malu, maka akan ada pula dari umat Nabi Muhammad yang tega berbuat demikian.Tujuan Peringatan​Hadits ini ditujukan agar umat Islam memberikan perhatian besar, waspada, dan menjauhkan diri dari sikap mengekor (taklid dan tasyabbuh) terhadap kelakuan buruk Bani Israil.Perpecahan Umat (Tafriqah)Jumlah Perpecahan yang Lebih BanyakNabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) telah terpecah belah menjadi 72 golongan/milah. Umat Islam dikabarkan akan mengalami nasib yang sama, bahkan jumlah perpecahannya lebih banyak, yaitu menjadi 73 golongan. Ini menunjukkan bahwa bahaya perpecahan di dalam tubuh umat Islam jauh lebih kompleks.Ancaman Neraka bagi Mayoritas GolonganRasulullah menegaskan bahwa dari 73 golongan tersebut, "Kulluhum fin-naar" (semuanya masuk neraka). Ancaman ini menunjukkan betapa besarnya dosa keluar dari jalan Islam yang murni dan betapa berbahayanya membuat bid'ah atau sekte-sekte baru dalam agama.Golongan yang Selamat (Al-Firqatun Najiyah)Hanya Satu yang SelamatDi tengah 73 golongan tersebut, Nabi menegaskan hanya ada 1 golongan saja (illa millatan waahidah) yang selamat dari ancaman neraka dan masuk ke dalam surga.Kriteria Mutlak Golongan yang Selamat:Ketika para sahabat bertanya siapa golongan yang satu itu, Nabi menjawab: "Maa ana 'alaihi wa ash-haabi" (Siapa saja yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini). ​Definisi Masuk Islam Secara Kaffah (Menyeluruh): Poin inilah yang mengikat hadits ini dengan judul bab. Masuk Islam yang benar dan menyeluruh adalah dengan berislam seperti Islamnya Rasulullah dan para Sahabat (Generasi Awal/Salaf), baik dalam hal aqidah, ibadah, maupun manhaj.Kesimpulan Peringatan (Tahdzir): Hadits ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar tidak mengekor kelakuan Ahli Kitab, baik dalam hal moral (kemaksiatan) maupun dalam hal agama (perpecahan dan membuat aliran baru).​Solusi Tunggal: Solusi agar selamat dari perpecahan akhir zaman bukanlah membuat persatuan semu, melainkan kembali kepada Manhaj Sahabat. Berpegang teguh pada apa yang diamalkan oleh Nabi dan para sahabat adalah jalan mutlak untuk mendapatkan keutamaan Islam yang hakiki.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 57 | Orang² Beriman Akan Melihat Allāh di Akhirat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasuk kita dalam pembahasan yg baru yaitu tentang keyakinan Ahlussunnah wal jamaah didalam melihat Allāh dihari Kiamat.Beliau mengatakan rahimahullāh setelah berbicara tentang masalah Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, berpindah kepada poin yang lain di antara aqidah² Ahlu Sunnah wal jama’ah yang telah menyelisihi mereka sebagian ahlu bid’ah yaitu tentang masalah Ar Rukyat yang dimaksud adalah rukyatullah atau rukyatulmu’mininali rabbihim liyaumil qiyamah/ melihatnya orang-orang yang beriman kepada Rabb mereka dihari kiamat, bagaimana keyakinan Ahlussunnah wal jamaah yang berdasarkan Al-Qur’an dan juga Sunnah dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum, beliau mengatakan,والرُّؤْيةُ حقٌّ لأهلِ الجَنَّةِ، بِغَيْرِ إحَاطَةٍ ولا كَيْفيَّةٍ،Dan melihat maksudnya adalah melihatnya orang-orang yang beriman kepada Allāh subhanahu wa ta’ala adalah حقٌّ sesuatu yang benar itu akan terjadi bukan sesuatu yang batil bukan sesuatu yang meragukan itu adalah sebuah keyakinan kebenaran yang akan terjadi,لأهلِ الجَنَّةِ،untuk para penduduk surga dan tidak masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang beriman dan penduduk surga mereka adalah orang-orang yang beriman disini bukan hanya umatnya Rasulullah ﷺ tapi mereka adalah untuk seluruh penduduk surga termasuk penduduk surga yang mereka adalah umat-umat terdahulu, umat para Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ jadi melihat Allāh subhanahu wa ta’ala bukan hanya umatnya Rasulullah ﷺ tapi juga orang-orang yang beriman sebelum kita sebelum umat Nabi ﷺ maka mereka juga akan masuk dalam hal ini yaitu mereka akan melihat Allāh subhanahu wa ta’alaلأهلِ الجَنَّةِ،untuk penduduk surga.Dan diantara dalilnya adalah Firman Allāh subhanahu wa taalaوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌDan wajah² dihari tersebut dalam keadaan berseri kepada Rabb mereka, mereka memandang.Yang dimaksud disini adalah wajah para penduduk Surga, mereka dalam keadaan berseri-seri memandang kepada Allāh subhanahu wa ta’alaحقٌّ لأهلِ الجَنَّةِ،Ini adalah sebuah kebenaran untuk para penduduk Surga.Beliau mengatakan,بِغَيْرِ إحَاطَةٍ ولا كَيْفيَّةٍ،Tanpa إحَاطَةٍ memandang tanpa meliputi karena Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Yang maha besar, sementara kita adalah makhluk yang sangat lemah yang sangat kecil di hadapan Allāh, kita beriman bahwasanya kita akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala tapi bukan berarti kita meliputi, karena ini sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh makhlukوَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًاDan mereka tidak mungkin meliputi Allāh subhanahu wa ta’ala secara keilmuan secara ilmu dan Allāh mengatakanلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚPandangan² tidak mungkin men-idrak/ meliputi Allāh subhanahu wa ta’ala.Kita akan memandang kita akan melihat tapi tidak mungkin kita meliputi semuanya, kita terlalu kecil untuk yang demikian, terlalu lemah untuk melakukan yang demikiaلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُAllāh subhanahu wa ta’ala tidak mungkin di-idrak oleh pandangan², sehingga beliau mengatakanبغير إحاطةMelihat penduduk surga kepada Allāh subhanahu wa ta’ala tanpa meliputi semuanya, jadi Tidak semua orang yang memandang itu bisa meliputi semuanya, kita bisa memandang rumah dari depan kita memandang rumah tapi memandang bukan berarti kita bisa bisa melihat secara keseluruhan yang ada di belakang sana, bagaimana kita melihat yang ada disebelah kanan & kiri bagaimana kita bisa melihatnya.Jadi disana ada ruqyah dan di sana ada indroq, rukyat memandang dan disana ada indraq yaitu meliputi, didalam sebuah ayat ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang Musa dan juga kaumnya ketika dikejar oleh Firaun dan juga bala tentaranya kemudian mereka sudah sampai di Pantai ketika mereka melihat ke belakang ternyata mereka sudah melihat Fir’aun dan juga bala tentaranya,Allah mengatakanفَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَۚ‏[QS Asy syu’ara 61]Ketika dua kelompok ini sudah saling melihat satu dengan yang berarti ini bukan jarak yang jauh lagi sudah saling melihat satu dengan yang lainقَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَBerkata para pengikut Musa sesungguhnya kita sudah mau disusul.Mereka sudah akan sampai kepada kita. ini menunjukkan bahwasanya Ar Rukyat bukan berarti men-idrak, bisa melihat bukan berarti bisa disusun di sana ada ruqyah di sana ada idraq , sekedar hanya melihat belum tentu bisa meliputi sebagian ahlu bid’ah ada yang mengingkari rukyatullah ﷻ dengan mendatangkan firman Allāh subhanahu wa ta’alaلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُAllāh subhanahu wa ta’ala tidak di-idrak oleh pandangan².Mereka memahami tidak di idraq berarti tidak bisa dilihat ini istidlal yang khoto beda idraq dengan Rukyat , idraq artinya adalah meliputi /melihat secara keseluruhan, maka benar kita tidak akan mungkin meliputi dan melihat secara keseluruhan tapi kita bisa melihat bagaimana yang Allāh kabarkan sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ jadi yang dinafikan disini adalah idraq bukan rukyat dan yang mengingkari rukyatullah ﷻ diantaranya adalah Mua’tazilah Jahmiyyah, mereka mengingkari rukyatullah,بغير إحاطةTanpa adanya ihtho,Itu yg pertama berdasarkan firman Allāh tadi, kemudian,ولا كيفيةDan juga tanpa kaifiyah,Itu maksudnya tanpa kita mengetahui bagaimana kaifiyahnya sebagainya ucapan sebelumnya ketika pembahasan kalamullah, Kalamullah itu dimulai dari Allah tanpa kaifiyah maksudnya kita tidak mengetahui kaifiyah demikian pula melihat Allāh,kita harus meyakini itu adalah Haq sebagaimana dalam ayat dan haditsdan jangan kita mengatakan bagaimana, kemudian masukkan akal dalam masalah ini dan mengatakan kalau kita melihat oh berarti Allāh berada di arah Allāh memiliki arah sementara Allāh kan tidak di atas tidak dibawah dikiri, Allāh tidak memiliki arah, kalau kita mengatakan kita melihat Allāh berarti Allāh memiliki arah, oleh karena itu mereka berdasarkan dalil akal ini juga akhirnya mengingkari rukyatullah, karena kalau kita menetapkan rukyatullah berarti kita menetapkan arah bagi Allāh dan ini adalah menyerupakan Allah’ dengan makhluk.Darimana penafian ini karena di sini sudah mulai dia memberikan kaifiyah, kita akan melihat Allāh tentang kaifiyah Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Lebih tau karena Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu, Allāh mampu untuk menjadikan kita bisa melihat Allāh di Yaumal Qiyamah bagaimana datangnya maka kita yakini kita akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala meskipun kita belum mengetahui tentang kaifiyyahnya tapi kita yakin akan ada disana kaifiyahnya.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 7

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Kelima”.Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah waspada dari ghuluw (berlebihan) terhadap para Rasul alaihimussalam, seperti menganggap beliau mengetahui yang ghaib atau mensifati beliau dengan sifat-sifat ketuhanan dan Allah ‘azza wa jalla melarang Ahlu kitab dari sikap ghuluw dengan firman-Nyaيَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ“Wahai Ahlu kitab janganlah kalian berlebih-lebihan didalam agama kalian dan janganlah kalian berkata atas nama Allah kecuali kebenaran, sesungguhnya Isa Ibn Maryam adalah Rasulullah dan kalimatnya yang dia lemparkan kepada Maryam dan dia adalah Ruh dariNya maka berimanlah kalian kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kalian katakan Tuhan itu tiga… ”(An-Nisa’ : 171)Dan Rasulullah ﷺ telah melarang kita untuk mengikuti langkah-langkah mereka, beliau ﷺ bersabdaلاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُJanganlah kalian memujiku dengan berlebihan, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan didalam memuji Ibn Maryam, sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan RasulNya (Hadits Shahih Riwayat Al-Imam Al-Bukhari)Dan diantara bentuk ghuluw orang-orang Nashrani adalah mengatakan ‘Isa anak Allah, orang Yahudi mengatakan ‘Uzair adalah anak Allah, Allah berfirmanوَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ“Telah berkat orang-orang Yahudi bahwa ‘Uzair adalah anak Allah dan berkata orang-orang Nashrani bahwa Al-Masih adalah anak Allah, demikianlah ucapan-ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka menyamai ucapan orang-orang yang kafir sebelum mereka, Allah melaknat mereka, lalu bagaimana mereka berpaling” (At-Tawbah : 30)Padahal para Rasul alaihimussalam tidak memiliki sedikitpun sifat Rububiyah dan Uluhiyah yaitu sifat-sifat ketuhanan mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali setelah diberi tahu oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah berfirmanعَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦۤ أَحَدًا (٢٦) إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدً۬ا (٢٧“Dia lah Allah yang mengetahui perkara yang ghaib maka tidaklah Dia menampakkan perkara yang ghaib kepada siapa pun, kecuali orang yang Allah ridhai dari kalangan para Rasul” (Al-Jin : 26 – 27)Dan mereka juga tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kecuali dengan kehendak Allah. Allah berfirmanقُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ“Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku sendiri manfaat dan mudharat kecuali apabila Allah menghendaki dan seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tentunya aku tidak akan ditimpa kejelekan, tidaklah aku kecuali sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raf : 188)

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →