🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر“Bab bahwasanya atau apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir”Yang dimaksud dengan bid’ah, sebagaimana diucapkan oleh Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullāh di dalam kitāb beliau Al-I’tisam, beliau menyebutkan yang dimaksud dengan bid’ah adalah:طريقة في الدين مخترعة ، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالىعبارة عن : طريقة في الدين مخترعة ، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالىBid’ah adalah sebuah jalan di dalam agama, sebuah cara.Ucapan beliau “di dalam agama”, keluar darinya jalan di dalam urusan dunia. Masalah dunia, masalah listrik, masalah mikrofon, internet dan lain-lain, ini bukan pembahasan kita.Tharīqah Fīd Dīn (طريقة في الدين) sebuah jalan di dalam agama (di dalam ibadah).Mukhtara’ah (مخترعة) dan dia adalah sesuatu yang baru (tidak pernah diajarkan oleh agama Islām yang murni). Tidak ada dalīlnya di dalam Al-Qur’ān, tidak ada dalīlnya di dalam As-Sunnah.Tudhahiyas Syar’iyyah (تضاهي الشرعية) dan dia menyerupai sesuatu yang masyru’ (sesuatu yang disyari’atkan), sehingga orang yang jahil karena dia adalah Tudhahiy (تضاهي), karena dia menyerupai sesuatu yang disyari’atkan, menyangka bahwasanya itu bagian dari agama.Di dalam agama kita ada disyari’atkan seseorang untuk memperbanyak dzikir, kemudian ada orang yang membuat tata cara beribadah, yang secara dhahir seakan-akan dia adalah sesuatu yang disyari’atkan.“Antum membaca (لا إله إلا اللّٰه) misalnya 1000 kali”Hampir mirip dengan syari’at.Darimana?Dari lafadznya, kemudian di situ juga disebutkan ketentuan jumlahnya. Karena terkadang di dalam hadīts, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan jumlah.Membaca tasbih 33 kali (setelah shalat) tahmid 33 kali dan takbir 33 kali (disebutkan di situ jumlahnya).Ada sebagian orang mendatangkan lafadznya, kemudian mendatangkan jumlahnya, tapi dia ganti bilangannya, diganti waktunya.Kalau tadi setelah shalat, dia tambah,“Coba antum membaca (لا إله إلا اللّٰه) 1000 kali setelah pertengahan malam”Orang jahil mendengar seperti ini dia menyangka ini adalah bagian dari syari’at, karena mirip lafadznya dan di situ disebutkan tentang jumlahnya.Tudhahiyas Syar’iyyah (تضاهي الشرعية) dia serupa dengan syari’at atau mirip dengan syari’at, tetapi tidak memiliki dalīl yang shahīh di dalam agama ini.…يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالى“Dimaksudkan menempuh jalan ini (yaitu menempuh tharīqah ini, menempuh cara ini) tujuannya adalah untuk Al-Mubalaghah (المبالغة) berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allāh, ingin lebih dan ingin ghuluw di dalam beribadah kepada Allāh,”Jadi tujuan dibuatnya jalan ini, atau jalan yang baru ini, adalah ingin tambah di dalam beribadah kepada Allāh.Itu adalah pengertian bid’ah secara syari’at.Adapun secara bahasa, jelas bahwasanya bid’ah ini adalah sesuatu yang baru.Segala sesuatu yang baru dinamakan dengan bid’ah.Maka listrik bid’ah menurut bahasa, internet bid’ah menurut bahasa.Adapun secara syari’at, maka hanya berkaitan dengan agama, berkaitan dengan ibadah, ditempuh jalan tadi dengan tujuan untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Itu adalah pengertian bid’ah secara syari’at.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 62

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 62 | Larangan Memahami Dalil tentang Rukyatullah dengan Takwil Menggunakan Akal dan Mereka-reka dengan Hawa NafsuHalaqah 62 | Larangan Memahami Dalil tentang Rukyatullah dengan Takwil Menggunakan Akal dan Mereka-reka dengan Hawa NafsuKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,لاَ نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوِلِينَ بِآرَائِنَاKita tidak masuk ke dalamnya dalam keadaan kita mentakwil dengan ro’yu²/ akal-akal kita.Seseorang sudah memiliki keyakinan terlebih dahulu, kemudian ketika membaca firman Allāh,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍۢ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌKemudian mengatakan, oh melihat disini maksudnya melihat dengan mata hati,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْKalian akan melihat Rabb kalian,Ini adalah melihat dengan mata hati bukan dengan mata, ini mentakwil dengan akalnya, padahal dalam bahasa Arab yang namanya nadhor setelah Illa itu berarti melihat dengan mata, kalau melihat dengan mata hati itu annadhorofi, ini mengikuti hawa nafsu dalam hadits tadi Nabi mengatakan dalam sebuah riwayat,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيانًاTakiif bahwasanya melihat disini melihat dengan ain bukan dengan qolbu, Ahlu Sunnah bukan demikian sikapnya,لاَ نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوِلِينَ بِآرَائِنَاMentakwil, mentafsir dengan pendapat² kita, kita kembali kepada apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga RasulNyaوَلَا مُتَوَهِّمِينَ بِأَهْوَائِنَاdan tidak boleh kita menyangka² dengan hawa nafsunya, artinya sudah ada hawa, sudah ada hawa nafsu yang sudah meyakini bahwasanya kita tidak akan melihat Allāh di hari kiamat, kemudian ketika dalil Al-Qur’an maupun hadits akhirnya dia berbicara dengan hawa nafsu ya hadits ini adalah hadits yang dhoif atau ayatnya maksudnya adalah demikian dan demikian, padahal tidak ada di sana dalil dia berbicara dengan kebodohan dia, mendhoifkan apa yang ada dalam shahih Muslim apa yang ada dalam sahih Bukhari karena mengikuti hawa nafsu, atau kalau dia punya ilmu sedikit pernah belajarnya dia menamakan itu sebagai ta’wil, mutaawina atau mutaawina bi ahwaina, kita tidak mengikuti hawa nafsu dan kita tidak mau takwil dengan pendapat-pendapat kita ini bukan sikap seorang ahli Sunnah wal jamaah, Ahlussunnah wal jamaah mereka berserah diri, beriman dengan Allāh dan juga RasulNya dan apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh dan juga RasulNyaفَإِنَّهُ مَا سَلِمَ فِي دِينِهِ إِلَّا مَنْ سَلَّمَ لِلَّهِ ﷻ،وَلِرَسُولِهِ ﷺKarena sesungguhnya tidak akan selamat di dalam agama ini, kecuali orang yang menyerahkan diri untuk Allāh dan juga untuk Rasul-nya, perhatikan ucapan beliau sesungguhnya tidak akan selamat agama seseorang kecuali apabila dia memiliki Taslim memiliki penyerahan diri untuk Allāh dan juga untuk Rasul-nya, beriman membenarkan Allāh dan juga RasulNya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh dan juga RasulNya baru akan selamat, seseorang hanya mengimani Al-Qur’an dan juga hadits tetapi maknanya dia takwil sendiri dia pahami sendiri maka ini tidak selamat, ini agamanya terkena musibah selama dia masih belum menyerahkan maknanya makna yang benar sesuai dengan kehendak Allāh dan juga RasulNya, dia masih mencari-cari mentakwil, mencari-cari maknanya & tidak ada di dalam dirinya taslim atau kurang taslimnya menyerahkan dirinya kepada Allāh maka ini adalah kekurangan dan juga musibah di dalam diri seseorang Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[QS An Nisa 65]Maka Demi Rabb mu dan mereka tidak akan beriman, mereka mereka tidak dinamakan orang yang beriman sampai mereka menjadikan kamu wahai Muhammad sebagai hakim.Mereka mengingkari rukyatullah kita jadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Hakim, beliau memberikan keputusan apa yang beliau katakan, kita berselisih atau kita mengatakan tidak melihat Allāh, kami mengatakan kita akan melihat Allāh sekarang kita kembalikan apa kata Nabi ﷺحَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْSampai mereka menjadikan engkau wahai Muhammad sebagai hakim didalam perselisihan,ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًاKemudian mereka tidak menemukan didalam diri mereka حَرَجًاmerasa berat, kalau masih ada beratnya ketika mendengar ucapan Nabi,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْوتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه حتى يموتَ،Berarti bada maut mereka akan melihat, kemudian mereka tidak menemukan di dalam diri mereka rasa berat dengan apa yang diputuskan oleh Nabi yang digambarkan oleh Nabi ﷺ,ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًاDan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan,ini baru selamat tapi kalau masih ada rasa berat sebelumnya dia meyakini kita tidak akan melihat, kemudian mendengar hadits Nabi berat untuk meninggalkan keyakinannya dan kembali kepada apa dikabarkan oleh Nabi ﷺ maka tentunya adalah menunjukkan agamanya belum selamat , tentunya ini bukan hanya dalam masalah rukyatullāh , dalam permasalahan² yang lain secara umum kita harus memiliki Taslim ,وَرَدَّ عِلْمَ مَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ إِلَى عَالِمِهِ،Dan dia mengembalikan ilmu tentang sesuatu yang samar atasnya kepada yang mengetahui,Dia mengembalikan sesuatu yang samar atasnya kepada yang mengetahui, Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih mengetahuiوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌكَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al Mutafifin15]Allāh Yang lebih tahu tentang apa yang terjadi dihari kiamat, kenapa kita ragu² untuk mengatakan kita akan melihat Allāhdi hari kiamat, Allah lebih tahu tentang apa yang terjadi dihari kiamat dan Rasulullah ﷺ lebih tahu tentang apa yang terjadi disana daripada kita karena telah diwahyukan kepadanya, beliau telah mengabarkan kita akan melihat Allāh sebagaimana kita melihat bulan, maka selamat diri kita kalau kita kembalikan apa yang kita samar yang kita tidak tahu kepada yang mengetahui kita kembalikan kepada Allāh dan juga RasulNya selesai, jangan kita terus ngotot dengan hawa nafsu kita ini adalah jalan keselamatan di dalam agama seseorang.

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 62 Al-Qantharah dan Qishash Antara Orang-Orang Beriman

Berikut ringkasan yang sudah diringkas agar mudah di-copy paste:Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 62Al-Qantharah dan Qishash Antara Orang-Orang BerimanPengertian Al-QantharahSecara bahasa: jembatan.Secara syariat: jembatan setelah shirath yang berada di antara neraka dan surga.Di tempat ini orang-orang beriman yang telah selamat dari neraka ditahan sebelum masuk surga.Mereka diqishash atas kezaliman yang pernah terjadi di antara sesama mereka sebagai bentuk keadilan Allah.Hadis Nabi ﷺOrang-orang beriman yang selamat dari neraka akan ditahan di Al-Qantharah.Di sana mereka disucikan melalui qishash hingga bersih.Setelah itu mereka diizinkan masuk surga.Setiap penghuni surga akan lebih mengenal rumahnya di surga daripada rumahnya di dunia. (HR. Bukhari)Pembersihan Hati di Al-QantharahYang dibersihkan adalah ghill (penyakit hati), seperti:Hasad.Dendam.Kebencian kepada sesama orang beriman.Semakin bersih hati seseorang ketika di dunia:Semakin singkat qishashnya.Semakin cepat masuk surga.Sebaliknya:Semakin banyak ghill, hasad, dendam, dan kebencian.Semakin lama qishashnya.Semakin lama pula masuk surga.Perbedaan QishashQishash di Al-QantharahHanya terjadi di antara orang-orang beriman.Tujuannya membersihkan hati sebelum masuk surga.Qishash di Padang MahsyarBerlaku bagi seluruh makhluk, baik mukmin maupun kafir.Mencakup kezaliman terhadap harta, fisik, dan kehormatan.Dalil Al-Qur'an"Dan Kami akan hilangkan segala ghill dari dalam dada-dada mereka."(QS. Al-Hijr: 47)Pelajaran PentingAl-Qantharah adalah tempat penyucian terakhir bagi orang-orang beriman sebelum masuk surga.Bersihkan hati dari hasad, dendam, dan kebencian sejak di dunia.Mudah memaafkan orang lain akan mempercepat penyucian di akhirat.Surga hanya dimasuki oleh orang-orang yang telah benar-benar bersih lahir dan batin.

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 12

Halaqah-12 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 10👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADi antara cara beriman kepada para rasul ‘alayhimussalam adalah keyakinan bahwa Allah telah menguatkan mereka dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagai pembenaran terhadap kenabian mereka. tanda-tanda kekuasaan ini telah tersebar dikalangan kaum muslimin dengan nama Mukjizat.Al Mu’jizat adalah jamak dari Al Mu’jizah, yang secara bahasa artinya adalah yang melemahkan orang lain sehingga tidak bisa mendatangkan yang semisalnyaLafadz ini tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Al Hadits, yang sering digunakan adalah Al Ayat dan Al Bayyinat.Al Ayat artinya adalah tanda-tanda kekuasaan, Al Bayyinat artinya adalah bukti-bukti yang jelas.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ…“Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa Al Kitab (At Taurat) dan Kami susulkan setelahnya para Rasul dan Kami berikan kepada Isa Ibn Maryam Al Bayyinat” (Al-Baqarah : 87)Berkata Ibn Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat iniولهذا أعطاه الله من البينات، وهي المعجزاتOleh karena itu Allah memberikan kepada beliau (Nabi ‘Isa) Al Bayyinat dan maksudnya adalah Al Mu’jizatDan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman… وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ…”Dan seorang Rasul tidaklah mendatangkan sebuah ayat kecuali dengan izin Allah” ( Ar-Ra’d : 38)Rasulullah ﷺ bersabdaمَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْياً أَوْحَى الله إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِTidaklah ada seorang Nabi kecuali diberi tanda-tanda kekuasaan yang beriman dengannya manusia dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku maka aku berharap bahwa aku yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat (HR Al-Bukhari dan Muslim)pengertian ayat atau mu’jizah adalah sesuatu diluar kebiasaan, diringi dengan tantangan dan pengakuan sebagai nabi tidak bisa ada yang melawannya, Allah sajalah yang menciptakannya sebagai pembenaran dan penguatan bagi para nabinyayang dimaksud dengan sesuatu mencakup ucapan dan perbuatan dan di luar kebiasaan maksudnya diluar sesuatu yang menjadi kebiasaan kebiasaan manusia diringin dengan tantangan dan pengakuan sebagaia nabi kalimat ini yang membedakan antara ayat dengan karomah, tidak ada yang bisa melawannya kalimat ini yang memedakan antara ayat dengan sihir dan amalan setan, Allah sajalaj yang menciptakannya artinya ini bukan terjadi karena kehendak Nabi akan tetapi karena kehendak Allah ‘Azza wa jalla dan Dialah yang menciptakannyaAllah berfirmanDan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman… وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ…”Dan tidaklah seorang Rasul mendatangkan sebuah ayat kecuali dengan izin Allah” ( Ar-Ra’d : 38)

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 62 | Larangan Memahami Dalil tentang Rukyatullah dengan Takwil Menggunakan Akal dan Mereka-reka dengan Hawa Nafsu

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,لاَ نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوِلِينَ بِآرَائِنَاKita tidak masuk ke dalamnya dalam keadaan kita mentakwil dengan ro’yu²/ akal-akal kita.Seseorang sudah memiliki keyakinan terlebih dahulu, kemudian ketika membaca firman Allāh,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍۢ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌKemudian mengatakan, oh melihat disini maksudnya melihat dengan mata hati,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْKalian akan melihat Rabb kalian,Ini adalah melihat dengan mata hati bukan dengan mata, ini mentakwil dengan akalnya, padahal dalam bahasa Arab yang namanya nadhor setelah Illa itu berarti melihat dengan mata, kalau melihat dengan mata hati itu annadhorofi, ini mengikuti hawa nafsu dalam hadits tadi Nabi mengatakan dalam sebuah riwayat,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيانًاTakiif bahwasanya melihat disini melihat dengan ain bukan dengan qolbu, Ahlu Sunnah bukan demikian sikapnya,لاَ نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوِلِينَ بِآرَائِنَاMentakwil, mentafsir dengan pendapat² kita, kita kembali kepada apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga RasulNyaوَلَا مُتَوَهِّمِينَ بِأَهْوَائِنَاdan tidak boleh kita menyangka² dengan hawa nafsunya, artinya sudah ada hawa, sudah ada hawa nafsu yang sudah meyakini bahwasanya kita tidak akan melihat Allāh di hari kiamat, kemudian ketika dalil Al-Qur’an maupun hadits akhirnya dia berbicara dengan hawa nafsu ya hadits ini adalah hadits yang dhoif atau ayatnya maksudnya adalah demikian dan demikian, padahal tidak ada di sana dalil dia berbicara dengan kebodohan dia, mendhoifkan apa yang ada dalam shahih Muslim apa yang ada dalam sahih Bukhari karena mengikuti hawa nafsu, atau kalau dia punya ilmu sedikit pernah belajarnya dia menamakan itu sebagai ta’wil, mutaawina atau mutaawina bi ahwaina, kita tidak mengikuti hawa nafsu dan kita tidak mau takwil dengan pendapat-pendapat kita ini bukan sikap seorang ahli Sunnah wal jamaah, Ahlussunnah wal jamaah mereka berserah diri, beriman dengan Allāh dan juga RasulNya dan apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh dan juga RasulNyaفَإِنَّهُ مَا سَلِمَ فِي دِينِهِ إِلَّا مَنْ سَلَّمَ لِلَّهِ ﷻ،وَلِرَسُولِهِ ﷺKarena sesungguhnya tidak akan selamat di dalam agama ini, kecuali orang yang menyerahkan diri untuk Allāh dan juga untuk Rasul-nya, perhatikan ucapan beliau sesungguhnya tidak akan selamat agama seseorang kecuali apabila dia memiliki Taslim memiliki penyerahan diri untuk Allāh dan juga untuk Rasul-nya, beriman membenarkan Allāh dan juga RasulNya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh dan juga RasulNya baru akan selamat, seseorang hanya mengimani Al-Qur’an dan juga hadits tetapi maknanya dia takwil sendiri dia pahami sendiri maka ini tidak selamat, ini agamanya terkena musibah selama dia masih belum menyerahkan maknanya makna yang benar sesuai dengan kehendak Allāh dan juga RasulNya, dia masih mencari-cari mentakwil, mencari-cari maknanya & tidak ada di dalam dirinya taslim atau kurang taslimnya menyerahkan dirinya kepada Allāh maka ini adalah kekurangan dan juga musibah di dalam diri seseorang Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[QS An Nisa 65]Maka Demi Rabb mu dan mereka tidak akan beriman, mereka mereka tidak dinamakan orang yang beriman sampai mereka menjadikan kamu wahai Muhammad sebagai hakim.Mereka mengingkari rukyatullah kita jadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Hakim, beliau memberikan keputusan apa yang beliau katakan, kita berselisih atau kita mengatakan tidak melihat Allāh, kami mengatakan kita akan melihat Allāh sekarang kita kembalikan apa kata Nabi ﷺحَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْSampai mereka menjadikan engkau wahai Muhammad sebagai hakim didalam perselisihan,ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًاKemudian mereka tidak menemukan didalam diri mereka حَرَجًاmerasa berat, kalau masih ada beratnya ketika mendengar ucapan Nabi,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْوتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه حتى يموتَ،Berarti bada maut mereka akan melihat, kemudian mereka tidak menemukan di dalam diri mereka rasa berat dengan apa yang diputuskan oleh Nabi yang digambarkan oleh Nabi ﷺ,ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًاDan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan,ini baru selamat tapi kalau masih ada rasa berat sebelumnya dia meyakini kita tidak akan melihat, kemudian mendengar hadits Nabi berat untuk meninggalkan keyakinannya dan kembali kepada apa dikabarkan oleh Nabi ﷺ maka tentunya adalah menunjukkan agamanya belum selamat , tentunya ini bukan hanya dalam masalah rukyatullāh , dalam permasalahan² yang lain secara umum kita harus memiliki Taslim ,وَرَدَّ عِلْمَ مَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ إِلَى عَالِمِهِ،Dan dia mengembalikan ilmu tentang sesuatu yang samar atasnya kepada yang mengetahui,Dia mengembalikan sesuatu yang samar atasnya kepada yang mengetahui, Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih mengetahuiوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌكَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al Mutafifin15]Allāh Yang lebih tahu tentang apa yang terjadi dihari kiamat, kenapa kita ragu² untuk mengatakan kita akan melihat Allāhdi hari kiamat, Allah lebih tahu tentang apa yang terjadi dihari kiamat dan Rasulullah ﷺ lebih tahu tentang apa yang terjadi disana daripada kita karena telah diwahyukan kepadanya, beliau telah mengabarkan kita akan melihat Allāh sebagaimana kita melihat bulan, maka selamat diri kita kalau kita kembalikan apa yang kita samar yang kita tidak tahu kepada yang mengetahui kita kembalikan kepada Allāh dan juga RasulNya selesai, jangan kita terus ngotot dengan hawa nafsu kita ini adalah jalan keselamatan di dalam agama seseorang.

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 62

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 62Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPenjelasan Umum Bab(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Hakikat Islam, Islam artinya pasrah dan tunduk kepada Allah. Kepasrahan tersebut tidak hanya dalam hal Tauhid (tidak menyembah selain Allah), tetapi juga harus dalam hal tata cara beribadah. Konsekuensi seseorang yang benar-benar berislam harus mengikuti tata cara ibadah yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, bukan membuat cara sendiri.Bid’ah Mengurangi Kesempurnaan IslamOrang yang melakukan bid’ah dinilai belum sempurna keislamannya karena belum pasrah sepenuhnya dan masih mengikuti hawa nafsu. ​Pelaku bid’ah secara tidak langsung menganggap cara ibadah buatannya lebih baik daripada cara yang dibawa oleh Rasulullah. Prinsip Ahlus Sunnah wal Jamā’ah, Tidak hanya memperjuangkan Tauhid, tetapi juga memastikan agar setiap amalan sesuai dengan sunnah Nabi dan bersih dari bid’ah.Dua Tujuan Utama Syaikh Menulis Bab IniAda dua alasan utama mengapa pembahasan tentang bid'ah dimasukkan ke dalam kitab Fadhlul Islam:Menjelaskan bahwa bid’ah bukan bagian dari Islam.Orang yang berbuat bid'ah berarti memiliki kekurangan dalam keislamannya. Kesempurnaan Islam dicapai dengan meninggalkan bid'ah dan berpegang teguh pada sunnah.​Menunjukkan bahayanya bid'ah.Bid’ah merupakan dosa yang sangat dahsyat. Dosanya lebih besar dan lebih berbahaya daripada dosa-dosa besar (Al-Kabair). Hal ini terjadi karena pelaku bid'ah merasa sedang berbuat baik, sehingga sulit untuk bertaubat, berbeda dengan pelaku dosa besar yang sadar akan kemaksiatannya.Kesimpulan Sempurnanya Islam seseorang diukur dari kepasrahannya dalam mengikuti Tauhid sekaligus tata cara ibadah yang diajarkan Rasulullah. Bid’ah bertentangan dengan esensi Islam karena pelakunya tidak pasrah pada syariat, melainkan mengikuti hawa nafsu. Kedudukan dosa bid’ah lebih tinggi dan lebih berbahaya daripada dosa besar (Al-Kabair). Akibat dari tidak berislam secara kaffah (menyeluruh) adalah terjerumus ke dalam bahaya dosa bid'ah ini.

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 62 | SESUATU YG BERKAITAN DENGAN BID'AH ADALAH DOSA BESAR YANG PALING DAHSYAT Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-62 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر“Bab apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir”Di dalam bab ini beliau ingin menjelaskan kepada kita (masih temanya) tentang masalah Islām.Kitāb ini berbicara tentang keutamaan Islām, kewajiban Islām, Intisab kepada Islām, kewajiban untuk kaffah di dalam Islām.Beliau ingin menjelaskan di sini, satu di antara bentuk keislāman kita, adalah pasrah kepada Allāh di dalam masalah tata cara beribadah (ini juga bagian dari Islām).Orang yang sudah tunduk kepada Allāh dengan bertauhīd, maka di antara ketundukkan dia adalah tunduk di dalam masalah tata cara beribadah. Bukan hanya sekedar tunduk kepada Allāh dalam hal tauhīd saja, sehingga dia tidak menyembah kepada selain Allāh bersama Allāh, tapi dia juga menyerahkan diri di dalam masalah tata caranya.“Ya Allāh, ana pasrah, semua ibadah ana serahkan kepada diri-Mu dan tata caranya juga ana serahkan kepada diri-Mu, ana ikut dan ana taat”.Pasrah kepada Allāh termasuk di antaranya adalah dalam tata cara beribadah.Dan beliau ingin menunjukkan bahwasanya orang yang tidak demikian, berarti masih ada kekurangan di dalam keIslāmannya, berarti dia belum sempurna keIslāmannya, belum benar-benar pasrah kepada Allāh, masih mengikuti hawa nafsunya, menganggap bahwasanya apa yang dia lakukan itu lebih baik daripada yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ini adalah termasuk ketidak sempurnaan Islām seseorang. Dan Ahlus Sunnah wal Jamā’ah sebagaimana sudah kita sampaikan, mereka adalah orang-orang yang memiliki bagian yang besar di dalam masalah Islām ini.Bukan hanya sekedar tauhīd yang mereka perjuangkan (yang mereka amalkan), tetapi mereka juga berusaha bagaimana amalan yang mereka lakukan ini bukan amalan yang bid’ah, tapi dia adalah amalan yang sunnah (sesuai dengan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).Dan di dalam bab ini, ada makna bukan hanya sekedar penjelasan dan isyarat bahwasanya bid’ah ini bukan termasuk Islām.Jadi, kenapa di sini beliau berbicara tentang bid’ah?Ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini bukan termasuk Islām, dan orang yang melakukan bid’ah berarti dia memiliki kekurangan di dalam keIslāmannya.Dan kesempurnaan Islām seseorang adalah ketika dia meninggalkan bid’ah-bid’ah dan berpegang teguh dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Seandainya antum ditanya, “apa hubungan antara bab ini dengan keIslāman?”Jadi, kesempurnaan Islām seseorang di antaranya adalah pasrah, menyerahkan diri di dalam tata cara beribadah.Dan orang yang melakukan bid’ah, ini bertentangan dengan pasrah tadi, karena dia masih melakukan bid’ah, melakukan ibadah bukan dengan tata cara Islām yang dibawa oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tapi dengan cara yang lain.Dan di sini beliau ingin memasukkan makna yang lebih daripada itu, bahwasanya bid’ah ini, ternyata dia lebih dahsyat, lebih keras, lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.Berarti :⑴ Yang pertama, tujuannya ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini bukan dari Islām dan bahwasanya orang yang melakukan bid’ah adalah orang yang kurang keIslāman-nya.⑵ Kemudian, juga ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini ternyata berbahaya, bahkan dia lebih berbahaya daripada dosa-dosa besar.Akibat seseorang tidak Islām secara kaffah dan masih mengikuti hawa nafsunya, kemudian melakukan bid’ah di dalam agama, maka dia terjerumus ke dalam sebuah dosa, yang dia lebih besar daripada dosa-dosa besar.Ini adalah hubungan antara bab ini dengan Islām itu sendiri.Thayyib.i

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 11

Halaqah-11 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 9Diantara cara beriman kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah wajib beriman kepada para Rasul secara terperinci maupun secara global.Iman yang terperinci maksudnya adalah beriman dengan nama-nama, kabar-kabar, kisah-kisah para Nabi yang datang didalam Al-Quran dan Sunnah yang shahihah.Adapun iman secara global maka yang dimaksud adalah beriman bahwa Allah memiliki Nabi-nabi dan Rasul-rasul selain yang disebut namanya didalam Al-Quran dan Al-Hadits.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelummu diantara mereka ada yang Kami kisahkan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami kisahkan kepadamu” (Ghafir : 78]Barangsiapa yang mendustakan dan mengingkari kenabian salah seorang dari para Nabi yang telah disepakati kenabiannya maka pada hakikatnya dia telah mengingkari seluruh Nabi yang demikian karena inti ajaran para Nabi ‘alayhimussalam adalah sama dan mendustakan sebagian mereka sama dengan mendustakan yang lain. Oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 105)Mereka dianggap mendustakan para Rasul padahal tidak diutus kepada mereka kecuali Nabi Nuh, yang demikian karena mendustakan seorang Nabi sama dengan mendustakan semuanya.Dan Allah berfirmanكَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ“Kaum ‘Ad mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 123)Dan Allah berfirmanكَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Tsamud mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 141)Dan Allah berfirmanكَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Luth telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 160)Dan tidak datang kepada kaum Nabi Nuh (‘Ad Tsamud) dan kaum Nabi Luth kecuali seorang Rasul saja namun ketika mereka kafir terhadap Rasul tersebut maka pada hakikatnya mereka telah kafir kepada semua Rasul.Orang yahudi yang mengaku beriman kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ dan orang-orang Nashrani yang mengaku beriman dengan Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ kalau mereka kafir terhadap Nabi Muhammad ﷺ, telah mengetahui kedatangan beliau mereka akan masuk kedalam Neraka.Rasulullah ﷺ bersabda:وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِDemi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya tidaklah mendengar seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani kemudian dia meninggal dunia dan tidak beriman dengan apa yang aku bawa kecuali dia masuk ke dalam NerakaAdapun kalau kenabian pasti diperselisihkan seperti Khadir maka ada orang yang mengatakan beliau adalah Nabi dan ada yg mengatakan bahwa beliau adalah wali dan bukan Nabi dalam keadaan demikian maka orang yang yang mengatakan beliau adalah wali (bukan Nabi) tidak dikafirkan.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 61

Memahami Hadits Tentang Rukyatullah Sesuai Dengan Yang Dipahami RasulullāhKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهSetelah beliau menyebut ayat maka beliau mengatakan,وكل ما جاء في ذلك من الحديث الصحيح عن الرسول صلى الله عليه وسلم فهو كما قال،Dan setiap yang datang didalam permasalahan ini yaitu didalam masalah rukyatullah,من الحديث الصحيح عن الرسول اللهﷺ فهو كما قالBerupa hadits yang shahih dari Nabi ﷺ maka itu seperti apa yang beliau ﷺ katakan,Disana ada hadits² dari Nabi ﷺ yang menunjukkan tentang benarnya rukyatullah ﷻ , seperti misalnya hadist Jarir radhiyallahu taala anhu beliau menyebutkanكُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبي اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَKami dalam keadaan duduk bersama Nabi ﷺإِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِTiba² beliau melihat kepada bulan dimalam bulan purnama,Kemudian beliau mengatakanقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القمر، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِSesungguhnya kalian (orang² yang beriman secara umum) akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini,Apa yang dimaksud sebagaimana melihat bulan ini?maksudnya adalah,، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِKalian tidak akan saling mendhalimi ketika melihat Allāh subhanahu wa ta’ala tidak saling mendhalimi, yaitu tidak saling menyikut/ tidak saling memukul satu dengan yang lain sebagaimana ketika kalian melihat bulan.Kita ketika melihat bulan maka masing-masing berada di tempatnya yang tidak ada orang yang saling berperang karena sama-sama ingin melihat bulan seperti itulah kalian akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dihari kiamat yaitu tidak akan saling mendhalimi satu dengan yang lain, masing-masing melihat Allāh ditempatnya,عَلى الأرائِكِ يَنْظُرُونَ﴾ ﴿تَعْرِفُ في وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِDalam riwayat lain/atau dibacaلَا تٓضَامونَ فِي رُؤْيَتِهِKalian tidak saling berdesak-desakan di dalam melihat Allāh berarti < كَمَا > disini persamaan di sini adalah sama-sama tidak berdesak-desakan, sama-sama tidak saling mendholimi satu dengan yang lain,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْkalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.Jadi yang ditashbih disini yang disamakan disini bukan yang dilihat bukan berarti menyamakan Allāh dengan bulan, tidak tapi yang disamakan disini adalah kaifiyati rukyat ,bagaimana melihat yaitu sama-sama tidak saling berdesak-desakan sama-sama tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.Dalam riwayat yang lain,إنَّكم سترَوْن ربَّكم عَيانًاKalian akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dalam keadaan < عَيانًا> yaitu dengan ain/mata kalian semakin menjelaskan makna ucapan beliau.Dalam hadits Abu Hurairah,Ada sebagian orang bertanya kepada Nabi ﷺيا رَسولَ اللَّهِ عن رَبَّنَا يَومَ القِيَامَةِ؟Wahai Rasulullah apakah Kami akan melihat Allāh Rabb kami di hari kiamat,ini adalah ucapan orang-orang yang rindu dan cinta kepada Allāhapakah kami akan melihat Allah di hari kiamat, maka Nabi ﷺ mengatakanهل تُضارّون في رؤية القمر ليلة البدر؟Apakah kalian saling memudharoti ketika melihat bulan di malam bulan purnama,قالوا: لا يا رَسولَ اللَّهِMereka mengatakan tidak wahai Rasulullahقال: هل تُضارّون في الشمس ليس دونها سحاب؟Apakah kalian saling memudharoti dalamMelihat matahari yang tidak ada di sana awan?قالوا : لا يا رَسولَ اللَّهِMereka mengatakan tidak wahai Rasulullahفإنكم ترونه كذلكSesungguhnya kalian akan melihat Allāh demikian.Yaitu tidak saling memudharoti satu dengan yang lain.Berarti yang bisa kita ambil kita akan melihat Allāh dan kita tidak akan berdesak-desakan di dalam melihat Allāh bagaimanapun banyaknya orang-orang yang beriman bagaimanapun banyaknya ahlul Jannah mereka akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dan tidak akan mendesak-desakan satu dengan yang lain. Ketika Nabi ﷺ mengingatkan tentang Dajjal, Dajjal mengaku sebagai Rabbul alamin maka Nabi ﷺ mengajarkan kepada umat Islam diantara hal yang membedakan antara Dajjal yang mengaku sebagai Rabbul alamin dengan Allāhu Rabbul alamin, apa yang membedakan?kita tidak akan melihat Allāh kecuali setelah kita meninggal, yaitu di dalam surga, adapun kita dalam keadaan masih hidup kemudian ada orang yang mengaku sebagai rabbul alamin maka ini jelas Dajjal, ini adalah kadzab/pendusta,Beliau ﷺ mengatakan,وتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه ﷻ حتى يموتَ،Ketahuilah oleh kalian bahwasanya seseorang diantara kalian tidak akan melihat Allāh ﷻ sampai dia meninggal dunia.Kalau kita masih dalam keadaan hidup di dunia kemudian ada yang mengaku dia adalah Rabbul’alamin maka itu jelas dusta, maka ini pentingnya kita belajar agama supaya kita selamat dari fitnah, lihat Nabi ﷺ ketika mengabarkan tentang akan adanya Dajjal bagaimana beliau mengajarkan kepada kita supaya kita selamat dari Dajjal, karena fitnahnya besar ketika Dajjal keluar itu manusia dalam keadaan musibah yang besar mereka dalam keadaan paceklik yang panjang enggak ada hujan, bagaimana manusia hidup tanpa adanya air, bagaimana mereka menanam kalau enggak ada hujan berarti enggak ada tanaman kalau nggak ada tanaman bagaimana mereka makan, ekonomi dalam keadaan sangat terperosok, keluar Dajjal dalam keadaan manusia membutuhkan dan sangat membutuhkan ditambah lagi Allāh subhanahu wa ta’ala menjadikan Dajjal tersebut ketika dia mengatakan,Wahai bumi keluarkan apa yang ada pada dirimu, maka keluarlah tanaman wahai langit turunkan hujan maka turun hujan,Manusia yang dalam keadaan mereka kelaparan dalam keadaan mereka kehausan melihat yang demikian tentunya sangat terpukau ketika Dajjal mengatakan aku adalah Rabbul alamin, banyak diantara mereka yang beriman dengan Dajjal terutama orang yang tidak belajar agama orang yang tidak mengenal Allāh adapun orang-orang yang beriman maka mereka terbekali dengan ilmu, oh dulu Nabi ﷺ sudah berpesan bagaimanapun dia dalam keadaan kekurangan tapi dia tahu Nabi ﷺ sudah mengatakan bahwasanya kita enggak mungkin melihat Allāh didunia ini kita akan melihat Allah kelak Surga, berarti ini bukan Allāh ini Dajjal, dengan sebab ilmu maka dia selamat karena dia mau belajar apa yang terjadi di dunia ini dan apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini Allāh subhanahu wa taala sudah bekali kita, di dalam Al-Qur’an semuanya, memang itu adalah petunjuk bagi manusia ,هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ …Maka orang yang mengarungi kehidupan dunia ini dan dia berpegang apa yang ada di dalam Al-Qur’an dia akan dengan selamat dengan mudah dia akan mengarungi kehidupan.Itu adalah dalil-dalil dari sunnah Nabi ﷺ yang menunjukkan tentang kebenaran rukyatullah, maka sebagaimana yang beliau sebutkan setiap hadist² yang berbicara tentang masalah rukyatullāh dan itu adalah hadits yang shahih dari Rasulullah ﷺ, harus hadits yang shahih adapun hadits yang maudhu kita tidak memerlukan yang demikian, kalau itu adalah hadits yang shahih maka yang demikian adalah seperti yang diucapkan oleh Nabi maksudnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nabi kita pahami dengan bahasa Arab yang dengannya Nabi ﷺ berbicara kita pahami Dengan pemahaman para shahabat dengan pemahaman mereka telah direkomendasi oleh Nabi ﷺ,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْSebaik-baik manusia adalah yang hidup di zaman ku yaitu para sahabat,Berarti yang diinginkan oleh Nabi itulah disampaikan oleh para sahabat radhiyallahu taala sebagaimana kita memahami ayat sesuai dengan kehendak Allāh demikian pula kita memahami hadits sesuai dengan kehendak Nabi ﷺ untuk Rasulullahأمانة بالرسول الله وبما جاء عن الرسول الله على مرضى رسول اللهAku beriman dengan Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah ﷺ,Jangan kita memahami Dengan pemahaman lain,فهوا كما قالMaka itu seperti yang beliau sampaikan,ومعناه على ما أراد،Dan maknanya sesuai apa yang beliau kehendaki,Kami beriman, kami tidak mendatangkan dari kehendak kami sendiri,Oleh karenanya berhati² didalam memaknai sebuah ayat/hadits bukan hanya sekedar seseorang mendapatkan ayat/hadits tapi sudah sesuaikah pemahaman kita dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga RasulNya, kita kembali kepada bahasa Arab ( belajar bahasa Arab) kita kembali kepada pemahaman para salaf, kita menelaah ucapan para ulama Ahlu Sunnah wal jama’ah para mufasirin dari kalangan Ahlu Sunnah jama’ah, Ahlu hadits dari kalangan Ahlu Sunnah wal jama’ah,kita berusaha dalam memahami makna dari ayat dan juga hadits Nabi ﷺ.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 61 | Memahami Hadits Tentang Rukyatullah Sesuai Dengan Yang Dipahami Rasulullāh

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهSetelah beliau menyebut ayat maka beliau mengatakan,وكل ما جاء في ذلك من الحديث الصحيح عن الرسول صلى الله عليه وسلم فهو كما قال،Dan setiap yang datang didalam permasalahan ini yaitu didalam masalah rukyatullah,من الحديث الصحيح عن الرسول اللهﷺ فهو كما قالBerupa hadits yang shahih dari Nabi ﷺ maka itu seperti apa yang beliau ﷺ katakan,Disana ada hadits² dari Nabi ﷺ yang menunjukkan tentang benarnya rukyatullah ﷻ , seperti misalnya hadist Jarir radhiyallahu taala anhu beliau menyebutkanكُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبي اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَKami dalam keadaan duduk bersama Nabi ﷺإِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِTiba² beliau melihat kepada bulan dimalam bulan purnama,Kemudian beliau mengatakanقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القمر، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِSesungguhnya kalian (orang² yang beriman secara umum) akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini,Apa yang dimaksud sebagaimana melihat bulan ini?maksudnya adalah,، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِKalian tidak akan saling mendhalimi ketika melihat Allāh subhanahu wa ta’ala tidak saling mendhalimi, yaitu tidak saling menyikut/ tidak saling memukul satu dengan yang lain sebagaimana ketika kalian melihat bulan.Kita ketika melihat bulan maka masing-masing berada di tempatnya yang tidak ada orang yang saling berperang karena sama-sama ingin melihat bulan seperti itulah kalian akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dihari kiamat yaitu tidak akan saling mendhalimi satu dengan yang lain, masing-masing melihat Allāh ditempatnya,عَلى الأرائِكِ يَنْظُرُونَ﴾ ﴿تَعْرِفُ في وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِDalam riwayat lain/atau dibacaلَا تٓضَامونَ فِي رُؤْيَتِهِKalian tidak saling berdesak-desakan di dalam melihat Allāh berarti < كَمَا > disini persamaan di sini adalah sama-sama tidak berdesak-desakan, sama-sama tidak saling mendholimi satu dengan yang lain,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْkalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.Jadi yang ditashbih disini yang disamakan disini bukan yang dilihat bukan berarti menyamakan Allāh dengan bulan, tidak tapi yang disamakan disini adalah kaifiyati rukyat ,bagaimana melihat yaitu sama-sama tidak saling berdesak-desakan sama-sama tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.Dalam riwayat yang lain,إنَّكم سترَوْن ربَّكم عَيانًاKalian akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dalam keadaan < عَيانًا> yaitu dengan ain/mata kalian semakin menjelaskan makna ucapan beliau.Dalam hadits Abu Hurairah,Ada sebagian orang bertanya kepada Nabi ﷺيا رَسولَ اللَّهِ عن رَبَّنَا يَومَ القِيَامَةِ؟Wahai Rasulullah apakah Kami akan melihat Allāh Rabb kami di hari kiamat,ini adalah ucapan orang-orang yang rindu dan cinta kepada Allāhapakah kami akan melihat Allah di hari kiamat, maka Nabi ﷺ mengatakanهل تُضارّون في رؤية القمر ليلة البدر؟Apakah kalian saling memudharoti ketika melihat bulan di malam bulan purnama,قالوا: لا يا رَسولَ اللَّهِMereka mengatakan tidak wahai Rasulullahقال: هل تُضارّون في الشمس ليس دونها سحاب؟Apakah kalian saling memudharoti dalamMelihat matahari yang tidak ada di sana awan?قالوا : لا يا رَسولَ اللَّهِMereka mengatakan tidak wahai Rasulullahفإنكم ترونه كذلكSesungguhnya kalian akan melihat Allāh demikian.Yaitu tidak saling memudharoti satu dengan yang lain.Berarti yang bisa kita ambil kita akan melihat Allāh dan kita tidak akan berdesak-desakan di dalam melihat Allāh bagaimanapun banyaknya orang-orang yang beriman bagaimanapun banyaknya ahlul Jannah mereka akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dan tidak akan mendesak-desakan satu dengan yang lain. Ketika Nabi ﷺ mengingatkan tentang Dajjal, Dajjal mengaku sebagai Rabbul alamin maka Nabi ﷺ mengajarkan kepada umat Islam diantara hal yang membedakan antara Dajjal yang mengaku sebagai Rabbul alamin dengan Allāhu Rabbul alamin, apa yang membedakan?kita tidak akan melihat Allāh kecuali setelah kita meninggal, yaitu di dalam surga, adapun kita dalam keadaan masih hidup kemudian ada orang yang mengaku sebagai rabbul alamin maka ini jelas Dajjal, ini adalah kadzab/pendusta,Beliau ﷺ mengatakan,وتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه ﷻ حتى يموتَ،Ketahuilah oleh kalian bahwasanya seseorang diantara kalian tidak akan melihat Allāh ﷻ sampai dia meninggal dunia.Kalau kita masih dalam keadaan hidup di dunia kemudian ada yang mengaku dia adalah Rabbul’alamin maka itu jelas dusta, maka ini pentingnya kita belajar agama supaya kita selamat dari fitnah, lihat Nabi ﷺ ketika mengabarkan tentang akan adanya Dajjal bagaimana beliau mengajarkan kepada kita supaya kita selamat dari Dajjal, karena fitnahnya besar ketika Dajjal keluar itu manusia dalam keadaan musibah yang besar mereka dalam keadaan paceklik yang panjang enggak ada hujan, bagaimana manusia hidup tanpa adanya air, bagaimana mereka menanam kalau enggak ada hujan berarti enggak ada tanaman kalau nggak ada tanaman bagaimana mereka makan, ekonomi dalam keadaan sangat terperosok, keluar Dajjal dalam keadaan manusia membutuhkan dan sangat membutuhkan ditambah lagi Allāh subhanahu wa ta’ala menjadikan Dajjal tersebut ketika dia mengatakan,Wahai bumi keluarkan apa yang ada pada dirimu, maka keluarlah tanaman wahai langit turunkan hujan maka turun hujan,Manusia yang dalam keadaan mereka kelaparan dalam keadaan mereka kehausan melihat yang demikian tentunya sangat terpukau ketika Dajjal mengatakan aku adalah Rabbul alamin, banyak diantara mereka yang beriman dengan Dajjal terutama orang yang tidak belajar agama orang yang tidak mengenal Allāh adapun orang-orang yang beriman maka mereka terbekali dengan ilmu, oh dulu Nabi ﷺ sudah berpesan bagaimanapun dia dalam keadaan kekurangan tapi dia tahu Nabi ﷺ sudah mengatakan bahwasanya kita enggak mungkin melihat Allāh didunia ini kita akan melihat Allah kelak Surga, berarti ini bukan Allāh ini Dajjal, dengan sebab ilmu maka dia selamat karena dia mau belajar apa yang terjadi di dunia ini dan apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini Allāh subhanahu wa taala sudah bekali kita, di dalam Al-Qur’an semuanya, memang itu adalah petunjuk bagi manusia ,هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ …Maka orang yang mengarungi kehidupan dunia ini dan dia berpegang apa yang ada di dalam Al-Qur’an dia akan dengan selamat dengan mudah dia akan mengarungi kehidupan.Itu adalah dalil-dalil dari sunnah Nabi ﷺ yang menunjukkan tentang kebenaran rukyatullah, maka sebagaimana yang beliau sebutkan setiap hadist² yang berbicara tentang masalah rukyatullāh dan itu adalah hadits yang shahih dari Rasulullah ﷺ, harus hadits yang shahih adapun hadits yang maudhu kita tidak memerlukan yang demikian, kalau itu adalah hadits yang shahih maka yang demikian adalah seperti yang diucapkan oleh Nabi maksudnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nabi kita pahami dengan bahasa Arab yang dengannya Nabi ﷺ berbicara kita pahami Dengan pemahaman para shahabat dengan pemahaman mereka telah direkomendasi oleh Nabi ﷺ,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْSebaik-baik manusia adalah yang hidup di zaman ku yaitu para sahabat,Berarti yang diinginkan oleh Nabi itulah disampaikan oleh para sahabat radhiyallahu taala sebagaimana kita memahami ayat sesuai dengan kehendak Allāh demikian pula kita memahami hadits sesuai dengan kehendak Nabi ﷺ untuk Rasulullahأمانة بالرسول الله وبما جاء عن الرسول الله على مرضى رسول اللهAku beriman dengan Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah ﷺ,Jangan kita memahami Dengan pemahaman lain,فهوا كما قالMaka itu seperti yang beliau sampaikan,ومعناه على ما أراد،Dan maknanya sesuai apa yang beliau kehendaki,Kami beriman, kami tidak mendatangkan dari kehendak kami sendiri,Oleh karenanya berhati² didalam memaknai sebuah ayat/hadits bukan hanya sekedar seseorang mendapatkan ayat/hadits tapi sudah sesuaikah pemahaman kita dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga RasulNya, kita kembali kepada bahasa Arab ( belajar bahasa Arab) kita kembali kepada pemahaman para salaf, kita menelaah ucapan para ulama Ahlu Sunnah wal jama’ah para mufasirin dari kalangan Ahlu Sunnah jama’ah, Ahlu hadits dari kalangan Ahlu Sunnah wal jama’ah,kita berusaha dalam memahami makna dari ayat dan juga hadits Nabi ﷺ.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 11 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 9)

Halaqah 11 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 9)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah wajib beriman kepada para Rasul secara terperinci maupun secara global. Iman yang terperinci maksudnya adalah beriman dengan nama-nama, kabar-kabar, kisah-kisah para Nabi yang datang didalam Al-Quran dan Sunnah yang shahihah. Adapun iman secara global maka yang dimaksud adalah beriman bahwa Allah memiliki Nabi-nabi dan Rasul-rasul selain yang disebut namanya didalam Al-Quran dan Al-Hadits.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelummu diantara mereka ada yang Kami kisahkan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami kisahkan kepadamu” (Ghafir : 78)Barangsiapa yang mendustakan dan mengingkari kenabian salah seorang dari para Nabi yang telah disepakati kenabiannya maka pada hakikatnya dia telah mengingkari seluruh Nabi yang demikian karena inti ajaran para Nabi ‘alayhimussalam adalah sama dan mendustakan sebagian mereka sama dengan mendustakan yang lain. Oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 105)Mereka dianggap mendustakan para Rasul padahal tidak diutus kepada mereka kecuali Nabi Nuh, yang demikian karena mendustakan seorang Nabi sama dengan mendustakan semuanya.Dan Allah berfirman:كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ“Kaum ‘Ad mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 123)Dan Allah berfirman:كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Tsamud mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 141)Dan Allah berfirman:كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Luth telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 160)Dan tidak datang kepada kaum Nabi Nuh (‘Ad Tsamud) dan kaum Nabi Luth kecuali seorang Rasul saja namun ketika mereka kafir terhadap Rasul tersebut maka pada hakikatnya mereka telah kafir kepada semua Rasul. Orang yahudi yang mengaku beriman kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ dan orang-orang Nashrani yang mengaku beriman dengan Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ kalau mereka kafir terhadap Nabi Muhammad ﷺ, telah mengetahui kedatangan beliau mereka akan masuk kedalam. Neraka.Rasulullah ﷺ bersabda:وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya tidaklah mendengar seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani kemudian dia meninggal dunia dan tidak beriman dengan apa yang aku bawa kecuali dia masuk ke dalam Neraka” (HR. Muslim)Adapun kalau kenabian pasti diperselisihkan seperti Khadir maka ada orang yang mengatakan beliau adalah Nabi dan ada yang mengatakan bahwa beliau adalah wali dan bukan Nabi dalam keadaan demikian maka orang yang mengatakan beliau adalah wali (bukan Nabi) tidak dikafirkan.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 11 KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI

Halaqah yang ke sebelas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثامنSimpul yang ke delapan adalahلزوم التأني في طلبه، وترك العجلةSimpul yang ke delapan adalah hendaklah kita terus-menerus pelan-pelan di dalam menuntut ilmu. لزوم berarti melazimi, التأني artinya adalah pelan-pelan di dalam menuntut, artinya sedikit demi sedikit, ini termasuk pengagungan kita terhadap ilmu.Jadi jangan dikira mengagungkan ilmu kemudian Antum mempelajari ilmu dalam satu waktu dalam jumlah yang banyak, ingin misalnya dalam satu hari selesai menghafal kitabut Tauhid atau dalam satu hari ingin menghafal Tsalatsatul ushul, ini tergesa-gesa.Harusnya termasuk penghormatan dia terhadap ilmu kalau memang dia ingin mendapatkan dan ingin bertemu dengan ilmu tadi ingin meraih ilmu tadi maka dia harus mencarinya dengan sedikit demi sedikit, itu justru menunjukkan pengagungan kita terhadap ilmu, karena dengan sedikit demi sedikit kita akan sampai kepada ilmu tapi kalau kita menimba ilmu secara langsung dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang sebentar maka ini sebenarnya adalah menghinakan ilmu karena dia tidak akan mendapatkan ilmu.وترك العجلةDan meninggalkan tergesa-gesa.Tergesa-gesa ini adalah dari setan dia tahu bahwasanya orang yang tergesa-gesa di dalam menuntut ilmu maka dia tidak akan mendapatkan, semuanya ingin dia baca dalam waktu satu hari, dia ingin segera menguasai ilmu Fiqh dalam dua hari, ini tergesa-gesa.إنَّ تحصيل العلم لا يكون جملةً واحدةً؛Menuntut ilmu itu bukan dengan satu waktu, satu waktu dengan jumlah yang banyak bukan dengan cara itu menuntut ilmu.إذ القلب يضعف عن ذلكKarena hati kita ini adalah lemah dan tidak mampu untuk melakukan yang demikian.Hati sebagaimana kita tahu ini adalah tempat ilmu tersebut dan kalau kita langsung memasukkan ilmu ke dalam hati yang lemah ini dalam satu waktu maka dia tidak akan mampu, dia adalah lemah untuk melakukan yang demikian kalau dia lemah maka akan dia segera letakkan ilmu tadi dan tidak bisa dia bawa.و إنَّ للعلم فيه ثِقَاً كثِقَل الحَجَر في يد حاملهMaka sesungguhnya ilmu itu adalah memiliki berat sebagaimana beratnya sebuah batu di tangan orang yang membawanya.Orang yang membawa batu besar berat dia, kalau dia tidak mampu maka akan segera dia lemparkan batu tadi tidak akan lama-lama dia pegang karena dia tidak bisa atau tidak mampu untuk membawa batu tadi.Sebagaimana batu itu memiliki berat demikian pula ilmu itu adalah memiliki berat sehingga kalau hati kita tidak mampu untuk membawa ilmu tadi, karena dalam satu waktu kita masukkan ilmu tadi ke dalam hati kita maka dia akan segera meletakkan dan tidak mampu untuk membawanya.Ini yang menjadikan banyak orang yang awalnya dia semangat untuk menuntut ilmu akhirnya dia putus akhirnya dia futur karena dia tergesa-gesa melihat orang lain ternyata dia bisa bicara ternyata dia memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu kemudian dia menganggap bahwasanya ilmu itu bisa didapatkan dalam waktu 1 hari dalam waktu 2 hari, dia tergesa-gesa.Padahal dia bisa mendapatkan ilmu tadi selama puluhan tahun dia belajar, dari 1 jam tiap hari 2 jam setiap hari dan dia selama bertahun-tahun mendengarkan selama bertahun-tahun mengikuti akhirnya dia mendapatkan ilmu tadi, sebagian orang tergesa-gesa sehingga justru ini menjadi sebab dia tidak istiqomah di atas ilmu.قال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakan,إِنَّ سَنلْقِي عَلَيْكَ قَوْلً ثَقِيْلً﴾ المزمل: 5Sesungguhnya Kami akan melemparkan kepadamu ucapan yang berat, maksudnya adalah Al-Qur’an, akan mewahyukan kepadamu ucapan yang berat.أي القرآنyaitu Al-Qur’an, Allāh ﷻ mensifati Kalam-Nya ini adalah ucapan yang berat.وإذا كان هٰذا وصف القرآن الميسرKalau ini adalah sifat dari Al-Qur’an yang sudah dimudahkan oleh Allāh ﷻكما قال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakan,وَلَقَدْ يَسَّرْنَ ٱلْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ﴾ القمر: 17Dan sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan sebagai peringatan, berarti Allāh ﷻ mensifati Al-Qur’an dengan sesuatu yang sudah dimudahkan oleh Allāh ﷻ. Dia mudah tapi disifati oleh Allāh ﷻ dia adalah ucapan yang berat.فما الظنُّ بغيره من العلوم؟Kalau Qur’an saja yang disifati sesuatu yang dimudahkan oleh Allāh ﷻ, dikatakan oleh Allāh ﷻ itu adalah ucapan yang berat lalu bagaimana dengan ilmu-ilmu yang lain.وقد وقع تنزيل القرآن رعايةً لهٰذا الأمر مُنَجَّمًا مفرَّقًاDan turunnya Al-Qur’an adalah dengan berangsur-angsur, مُنَجَّمًا bukan dalam satu waktu tapi dalam beberapa lama beberapa waktu, مفرَّقًا dan terpisah-pisah, turun satu ayat turun dua ayat turun satu Surah dan seterusnya, tidak diturunkan oleh Allāh Azza Wajalla dalam satu waktu.رعايةً لهٰذا الأمرUntuk menjaga perkara ini, yaitu karena yang namanya ilmu itu didapatkan dengan pelan-pelan bukan didapatkan secara langsung dalam satu waktu, Allāh ﷻ ingin mengajarkan kepada kita bahwasanya ilmu itu didapatkan dengan sedikit demi sedikit.باعتبار الحوادث والنَّوازلTurun ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an sesuai dengan kejadian dan juga peristiwa.قال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakan,وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةًDan orang-orang kafir mengatakan seandainya diturunkan Al-Qur’an kepadanya (kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam) dalam satu kali saja, itu ucapan orang-orang kafir, ini menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam waktu yang berbeda-beda secara bertahap.كَذَلِكَ لِنثبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَDemikianlah supaya kami menguatkan dengan cara seperti itu hatimu, karena Al-Qur’an ini adalah sesuatu yang berat tapi ketika diturunkan satu ayat dipahami oleh Nabi ﷺ diamalkan, dua ayat dipahami oleh Nabi ﷺ dan diamalkan maka akan menegakkan hatinya.Demikian pula kalau ilmu kita pelajari sedikit demi sedikit maka kita InsyaAllāh akan istiqamah di dalam menuntutnya, kalau kita tergesa-gesa dan mengikuti hawa nafsu dan mengikuti syaithan maka tidak lama seseorang akan terputus dari menuntut ilmu agama.وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيْلاً﴾ الفرقان: 32Dan Kami mentartil Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya.وهٰذه الآية حجَّةٌ في لزوم التَّأنِّي في طلب العلمMaka ayat ini adalah dalil tentang keharusan untuk pelan-pelan di dalam menuntut ilmu, yaitu ayat yang berisi tentang turunnya Al-Qur’an secara bertahap.والتَّدرُّج فيهDan keharusan untuk bertingkat-tingkat di dalam menuntut ilmu, artinya sedikit demi sedikit dimulai dari yang paling penting, dari yang paling penting pun kita mempelajari sedikit demi sedikit.Tadi yang kita sampaikan ilmu tauhid itu adalah ilmu yang paling penting, dalam mempelajari ilmu tauhid juga kita mempelajarinya sedikit demi sedikit, sehari 1 jam sehari 2 jam kalau dikumpulkan kita akan selesai satu Kitab.وترك العَجَلةDan meninggalkan tergesa-gesa.كما ذكره الخطيب البغداديُّ في الفقيه والمتفقه، والرَّاغب الأسفهانيُّ في مقدِّمة جامع التفسرSeperti disebutkan oleh Khatib Al-Baghdadiy di dalam kitab beliau Al-Faqih wal Mutafaqqih dan juga disebutkan oleh Ar-Raghib Al-Asfahaniy dalam Muqaddimah Jami’ At-Tafsir, menyebutkan bahwasanya ayat ini merupakan dalil keharusan kita untuk pelan-pelan di dalam menuntut ilmu agama.ومن شعر ابن النَّحَّاس الحلبيِّ قولُهُDi antara sya’ir Ibn Nahas Al-Halabiy rahimahullah adalah ucapan beliau.اليومَ شيءٌ وغدًا مثلُهُمن نُخَب العلم الَّتي تُلْتَقطْHari ini adalah sesuatu, maksudnya hari ini kita mempelajari sesuatu yang sedikit saja, satu permasalahan.وغدًا مثلُهُDan besok kita mempelajari satu permasalahan lagi.من نُخَب العلم الَّتي تُلْتَقطْيُحصِّل المرء بها حكمةًDari pilihan-pilihan ilmu tadi yang diambil sedikit demi sedikit, hari ini dia ambil satu besok ambil satu, maka seseorang akan mendapatkan hikmah maka dia akan mendapatkan ilmu.Para ulama mereka mendapatkan ilmu karena mereka sedikit demi sedikit mereka menuntut ilmu tadi, satu ayat dipelajari besok satu lagi besok satu lagi sehingga muncullah seperti Ibnu Taimiyah Ibnul Qayyim An-Nawawi Ibnu Hajar, mereka dulu belajarnya sedikit demi sedikit bukan langsung menjadi seorang ulama atau sehari dua hari mereka menghafal tapi dari sedikit demi sedikit dan mereka bersabar akhirnya mereka menjadi seorang yang berilmu.وإنَّما السَّبيل ٱجتماع النُّقَطْSesungguhnya yang namanya banjir, banjir hakikatnya adalah berkumpulnya titik-titik air, banjir air yang banyak itu adalah kumpulan dari titik-titik air, dia dikumpulkan atau mereka berkumpul akhirnya menjadi sebuah banjir, demikian pula ilmu yang dimiliki oleh para ulama mereka dapatkan sedikit demi sedikit dengan cara yang tadi sudah kita sebutkan.Jadi kita harus punya pokoknya dulu,kita mempelajari Matan dulu dan ini kita jadikan sebagai pokoknya pondasinya Matan dari ilmu tersebut, kemudian kita mempelajari lagi kemudian kita tempelkan lagi dan kita tempelkan sampai akhirnya terbentuk sebuah bangunan ilmu yang kokoh. Jadi masing-masing cabang ilmu tadi kita harus memiliki pondasinya memiliki Matan yang kita jadikan rujukan yang kita hafal dan kita pelajari maknanya.ومقتضىٰ لزومِ التَّأنِّي والتَّدرُّجِ: البداءةُ بالمتون القصار المصنَّفةِ في فنون العلمDiantara konsekuensi dari keharusan pelan-pelan dan juga bertahap adalah kita memulai dengan matan-matan yang pendek yang ditulis di dalam cabang-cabang ilmu tadi, kita memulai dengan mempelajari matan-matan tadi.حفظًاDengan cara menghafalnya.واستشراحًاDan kita berusaha untuk mencari syarahnya, penjelasan dari dari Matan tadi, karena terkadang dia ucapannya sedikit dia memiliki makna yang dalam tapi kalau kita tidak belajar dari seorang guru kita tidak memahami.والميلُ عن مطالعة المطوَّلات الَّتي لم يرتفعِ الطَّالب بعد إليهاDan hendaklah seseorang berpaling dari membaca buku-buku yang panjang buku-buku yang berjilid-jilid yang belum sampai seseorang kepada tingkatannya.Antum baru di awal maka termasuk pengagungan terhadap ilmu Antum mulai dari matan-matan yang pendek jangan Antum langsung belajar misalnya langsung buka Fathul Bari, memang di situ ada ilmunya tapi Antum belum sampai ke sana, banyak nanti habis waktunya Antum mempelajari mungkin 10 halaman Antum tidak paham semuanya habis waktunya, tapi kalau antum mempelajari dari yang ringkas Antum langsung paham dan bisa Antum amalkan dan nanti InsyaAllāh antum paham bisa membaca Fathul Bari.ومن تعرَّض للنَّظر في المطوَّلات فقد يجني علىٰ دينهBarangsiapa yang memaksakan dirinya membaca buku-buku yang berjilid-jilid maka dia telah merusak agamanya, dia merusak ilmunya, merusak agamanya.وتجاوزُ الاعتدال في العلم ربَّما أدَّىٰ إلىٰ تضييعهDan melanggar keseimbangan di dalam ilmu, harusnya Antum mempelajari yang ringkas-ringkas dulu tapi Antum memaksakan diri Antum untuk mempelajari buku-buku yang berjilid-jilid yang Antum belum sampai ke sana sebenarnya maka ini akan membawa kepada penyia-nyiaan terhadap ilmu tadi, karena Antum banyak perkara yang Antum tidak paham dan mungkin Antum salah paham sehingga justru malah sesat di dalam pemikiran kita karena kita tidak mendasari dengan mempelajari matan-matan yang singkat yang ringkas yang ditulis dalam cabang ilmu tadi.ومن بدائع الحِكَم قول عبد الكريم الرِّفاعيِّ – أحد شيوخ العلم بدمشقَ الشَّام في القرن الماضي -: طعام الكبار سمُّ الصِّغارDan di antara hikmah-hikmah yang luar biasa adalah ucapan Abdul Karim Ar-Rifa’i salah seorang ulama yang ada di Damaskus Syam di abad yang lalu, beliau mengatakan,طعام الكبار سمُّ الصِّغارMakanan bagi orang yang sudah besar itu menjadi racun bagi anak yang masih kecil.Yang kita makan enak tapi kalau kita berikan kepada anak yang masih umur 1 bulan 2 bulan maka ini bisa meninggal dia karena dia belum waktunya untuk memakan makanan tadi, dia minum susu dari ibunya itu yang cocok dengan dia tapi kalau kita paksa dia memakan makanan kita meskipun menurut kita adalah enak maka ini akan menjadikan dia termudharati.Tentunya ini adalah permisalan yang sangat bagus sekali, ini permisalan bagi orang yang mempelajari ilmu membaca buku-buku yang berjilid-jilid yang panjang sementara dia belum mempelajari yang ringkas dari cabang ilmu tersebut, maka ini bukan pengagungan terhadap ilmu tapi justru ini adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.Orang yang ingin mengagungkan ilmu maka dia menempuh caranya, menempuh cara untuk mendapatkan ilmu tadi yaitu dengan cara bertahap, pelan-pelan

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Yang Ketiga”

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Yang Ketiga”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberikan syafa’at bagi dua dan tiga orang.Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ الرَّجُلَ لَيَشْفَعُ لِلرَّجُلَيْنِ وَالثَّلَاثَةِ“Sesungguhnya seseorang sungguh akan memberikan syafa’at bagi dua orang dan tiga orang”(Hadīts Shahīh Riwayat Al-Bazzar)⇒Para syuhada akan Allāh berikan kesempatan untuk memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:يَشْفَعُ الشَّهِيدُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ“Orang yang mati syahīd akan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.”(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd)Sebuah kebahagiaan yang luar biasa, seseorang memberi syafa’at untuk orang tua, anak-anak, istri dan saudara-saudaranya di saat mereka sangat membutuhkan.Ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberi syafa’at untuk orang banyak.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Akan masuk surga lebih dari jumlah Bani Taamim dengan sebab syafa’at satu orang dari umatku,Dikatakan kepada beliau,“Yā Rasūlullāh, apakah orang itu adalah selain dirimu?”Beliau menjawab:“Iya, dia adalah orang lain selain diriku.”(Hadīts Riwayat At-Tirmidzi)⇒Bani Taamim adalah kabilah yang terkenal besar di zaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallamSemakin besar imān seseorang, maka akan semakin besar harapan untuk bisa memberi syafa’at kepada orang lain.Orang yang banyak melaknat orang lain di dunia tidak bisa memberikan syafa’at di hari kiamat.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ الّلَعَانِيْنَ لَا يَكُوْنُوْنَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ“Orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak akan memberi syafa’at di hari kiamat.”(Hadīts Riwayat Muslim)Anak-anak orang yang berimān yang meninggal sebelum dewasa akan memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Anak-anak kecil dari orang-orang yang berimān akan menjadi daanish surga”⇒Arti daanish adalah jentik-jentik nyamuk yang senantiasa ada di kolam.Maksud beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya anak-anak kecil tersebut pasti akan masuk surga dan tidak akan pernah meninggalkannya.Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:“Salah seorang di antara mereka menemui ayahnya atau kedua orang tuanya kemudian memegang pakaian atau memegang tangannya seperti aku mengambil ujung pakaianmu ini, Maka dia tidak akan melepaskan pegangannya sampai Allāh memasukkan dia dan kedua orangtuanya ke dalam surga.”(Hadīts Riwayat Muslim)Ini adalah kabar gembira bagi setiap orang tua yang bersabar ketika diuji oleh Allāh dengan meninggalnya anak yang belum dewasa.Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at pada hari kiamat untuk seorang hamba” Puasa berkata,Wahai Rabb-ku aku telah menahannya dari makan dan syahwatnya di siang hari. Maka terimalah syafa’atku untuknya.Al Qurān berkata:Wahai Rabb-ku sesungguhnya aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, Maka terimalah syafa’atku untuknya.Maka diterimalah syafa’at keduanya.”(Hadīts Shahīh Riwayat Ahmad di dalam Musnad beliau).Ini adalah dorongan bagi seseorang untuk berpuasa karena Allāh dan menjaga adab-adabnya. Dan dorongan untuk membaca Al Qurān karena Allāh dan menunaikan hak-haknya. Demikianlah mereka akan memberikan syafa’at setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagai bentuk pemuliaan Allāh kepada mereka.Orang-orang yang bertauhīd sajalah yang akan mendapatkan syafa’at.Adapun orang-orang musyrik, orang-orang kāfir dan orang-orang munāfiq, maka mereka tidak akan mendapatkan syafa’at.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ“Maka tidak akan bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberikan syafa’at.”(QS Al-Mudatsir : 48)Orang-orang yang berdo’a kepada nabi atau malāikat atau Orang-orang yang shālih dengan alasan ingin mendapatkan syafa’at mereka, justru tidak mendapatkan syafa’at, karena mereka telah membatalkan imān mereka dengan menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam beribadah.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 61

Pembahasan Dalil Keenam dan KetujuhUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Beliau menyebutkan hadits yang merupakan dalil atas kewajiban masuk kedalam Islām secara kaafah,وهو في حديث معاوية (عند) أحمد وأبي داودDan dia adalah didalam hadits Muawiyyah, ada didalam Musnad Imam Ahmad & Abu Daudوفيه:Didalamnya ada tambahan,أنه سيخرج من أمتي قوم تتجارى بهم الأهواءAkan keluar diantara umatku,Didalamnya mereka ini masih umat Islām yang iftiroq, apa sifatnya?قوم تتجارى بهم الأهواءTernyata masih mengalir – تتجارى – hawa nafsu, sehingga dengan hawa nafsu tadi akhirnya mereka melaksanakan Islām dengan memisah² tadi, yang sesuai dengan hawa nafsunya diambil, dia tinggalkan Islām, adapun yang sesuai dengan hawa nafsunya dia amalkan, yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan, inilah memisah² agama.Adapun Ahlu sunnah tidak, mereka tidak mengikuti hawa nafsunya, justru hawa nafsunya mereka ditundukan kepada Islām yang mereka pasrahkan semuanya kepada Allāh & mereka tidak mengikuti hawa nafsunya,كما يتجارى الكَلَب بصاحبه،Sebagaimana penyakit Rabies itu menjalar kepada orangnya,Kalau sudah masuk kedalam jasad seseorang maka penyakit tadi maka itu akan segera menjalar kepada dirinyaفلا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخلهMaka tidak akan tersisa dari jasadnya baik berupa urat ataupun sendi²nya yang ada didalam dirinya kecuali disitu ada virusnya.Sehingga dia mudah mengikuti hawa nafsunya, yang sesuai dengan hawa nafsunya dia laksanakan, yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan.Ini menunjukan faedah tentang kenapa sebab mereka memisah²kan agama tadi karena disini ada perang hawa nafsu & hawa nafsu bertentangan dengan Islām, Islām menyerahkan diri adapun hawa nafsu berarti masih mengikuti hawa nafsunya bukan lagi Islām menyerahkan diri kepada Allāhوتقدم قوله: ومبتغ في الإسلام سنة جاهلية.Sudah berlalu didalam bab ketika beliau menyebutkanDiantaranya adalah orang yang mencari didalam Islām sunnah jahiliyyah, sudah kita sebutkan maknanya, sudah masuk Islām sudah diberi hidayah kepada Islām kepada cahaya ini kepada sesuatu yang terang benderang ini tetapi dia masih mencari sunnah jahiliyyah masih mengikuti hawa nafsunya.Berarti disini dia – مبتغ إلإسلام – orang Islām ada sebagian yang dia amalkan sebagai seorang Muslim, tetapi ternyata masih mubtaghin, masih mencari² sunnah jahiliyyah berarti tidak sempurna / tidak kaafah didalam Islāmnya – مبتغ إلإسلام – berarti dia seorang Muslim tapi dia masih mencari sunnah jahiliyyah, sunnah yang bertentangan dengan Islām, sudah kita sebutkan bahwa makna Jahiliyyah adalah sesuatu yang bertentangan dengan Islām, berarti ada sebagian Islām yang diamalkan ada sebagian yang tidak dia amalkan, berarti disini memisah² agamanya.Beliau datangkan kembali dalil ini karena dia juga mengusyaratkan bab ini yaitu wajibnya masuk Islām secara keseluruhan.Bagaimana cara berdalil dengan hadits ini, jangan sampai memisah² agama sudah diberikan hidayah kepada Islām tapi mencari selain Islām & selain Islām dinamakan Jahiliyyah.Maka ketika Nabi ﷺ mengabarkan ini adalah bentuk sesuatu yang dimurkai oleh Allāh menunjukan bahwasana memisah²kan agama adalah sesuatu yang dibenci oleh Allāh, menunjukan tentang wajibnya masuk Islām secara kaafah.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 60

Halaqah 60 | Memahami Ayat tentang Rukyatullah sesuai dengan yang Allāh KehendakiKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهDan tafsirnya penjelasannya adalah sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan apa yang Allāh ketahui.Maksudnya adalah kita memahami ayat berdasarkan kehendak Allāh, jangan kita memahami hanya dengan akal kita sendiri, sudah kita sampaikan bahwasanya didalam bahasa Arab dan Al-Qur’an ini turun dengan bahasa Arabبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍMaka kita memahami Al-Qur’anul Karim ini dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh, apa makna dari an النظر إلى, an nadhor ila maksudnya adalah melihat dengan mata dengan pandangan kita bukan melihat dengan hati karena melihat dengan hati itu bukan – النظر إلى – tapi – النظر فيه – jangan kita memahami dengan akal kita/hawa nafsu kita, kita memahami dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh di dalam Al-Qur’an kemudian kita juga melihat tafsir Nabi ﷺ ketika beliau membaca firman Allāhلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌsiapa yang paling mengetahui tentang makna dari firman Allāh daripada Nabi ﷺ, apakah kemudian kita menafsirkan dengan akal kita sendiri/hawa nafsu kitaوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهKita mentafsir sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki.Dinukil dari Al imam Syafi’i rahimahullāh bahwasanya beliau mengatakan,آمنت بالله، وبما جاء عن الله، وعلى مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء به رسول الله، وعلى مراد رسول اللهAl Imam Asy Syafi’i mengatakan demikian, Aku beriman dengan Allāh dan apa yang datang dari Allāh sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan aku beriman dengan Rasulullāh ﷺ dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullāh ﷺ.Di antara sebab kesesatan aliran yang sesat adalah sebab utamanya adalah karena mereka memahami Dengan pemahaman bukan dari yang dipahami oleh Allāh dan juga RasulNya bukan dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga rasul RasulNya, benar berdalil dengan ayat berdalil dengan hadits tapi bukan dengan apa yang Allāh inginkan dia bawa makna ayat dan juga hadits tersebut sesuai dengan keinginannya sesuai dengan hawa nafsunya dibawa kesana dan orang yang demikian keadaannya maka pasti di sana akan ada kontradiksi di sana ada pertentangan antara apa yang sedang dia bawakan dengan dalil-dalil yang lain, dan itu adalah sesuatu yang pasti karena dia beragama sesuai dengan hawa nafsu dan ini adalah keadaan ahlul tidaklah mereka berdalil dengan sebuah dalil kecuali ada di sana yang membatalkan dalil tersebut mereka mengambil dalil yang sesuai dengan hawa nafsunya dan meninggalkan dalil yang lain.Ini yang ingin beliau tekankan di sini menafsirkan itu semuanya sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki bukan sesuai dengan kehendak kita atau sesuai dengan kehendak guru kita tapi yang Allāh kehendaki.وعلمهdan apa yang Allāh ketahui.Yaitu berdasarkan kaidah bahasa Arab, berdasarkan kaidah-kaidah tafsir berdasarkan atsar pada salaf yang mereka adalah orang-orang yang telah dipuji oleh Allāh subhanahu wa ta’ala tafsir para shahabat, para sahabat sudah dipuji oleh Allāh tentang agama mereka tentang pemahaman mereka tentang amal saleh mereka maka kita kembali kepada pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 60

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 60Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mendatangkan ucapan dari diri beliau sendiri. Hal ini termasuk kejadian yang jarang, karena biasanya di dalam kitab ini beliau hanya mendatangkan ayat Al-Qur'an, Hadis, atau atsar-atsar saja.وليتأمل المؤمن الذي يرجو لقاء الله كلام الصادق الصدوق في هذا المقام،Artinya:"Maka hendaklah orang yang beriman, yang mengharapkan pertemuan dengan Allāh, memperhatikan/merenungkan ucapan Ash-Shadiqul Masduq (Rasulullah ﷺ) di dalam kedudukan/maqam ini."Orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah maksudnya adalah mereka yang ingin bertemu Allah dalam keadaan baik, diridhoi, dan akhirnya masuk surga. Mereka memiliki dorongan kuat untuk merenung karena tidak ingin masuk ke dalam ancaman neraka bagi 72 golongan.Makna dan Ketetapan IstilahAsh-Shadiqul Masduq berarti yang jujur (benar dalam ucapannya) dan dijujuri (dibenarkan oleh pihak lain/tidak dibohongi). Istilah ini paling tepat digunakan ketika seorang rawi/ulama ingin menyebutkan hadis yang berisi Al-Ikhbar bil ghoib (kabar tentang perkara ghaib/masa depan). Hubungan Komunikasi Wahyu (Jibril dan Nabi ﷺ): Ketika Malaikat Jibril (yang jujur dan ruhul amin) menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad, Jibril bertindak sebagai Shadiq (yang jujur), sedangkan Rasulullah menjadi Masduq (yang dijujuri).  ​Ketika Nabi Muhammad mengabarkan wahyu ghaib tersebut kepada para sahabat, maka Nabi bertindak sebagai Shadiq, sedangkan para sahabat menjadi Masduq.  Maka dari itu, Nabi ﷺ adalah seorang yang sekaligus Shadiq dan Masduq. Penggunaan kalimat ini oleh Syaikh sangat tepat karena hadist yang dibahas mengabarkan perkara ghaib berupa perpecahan umat.Kewajiban Mengikuti Islam yang MurniFokus penekanan syaikh pada perkataan Nabi ﷺ kepada sahabatnya:ما أنا عليه اليوم وأصحابيArtinya:"Apa yang aku berada di atasnya hari ini dan juga para sahabatku."Kalimat di atas diartikan sebagai "Islam". Islam itulah jalan yang dijalani Nabi ﷺ dan para sahabat, di mana mereka memegang teguh Islam yang murni secara kaffah (keseluruhan). Ucapan ini merupakan isyarat tentang kewajiban berislam secara totalitas, bukan dengan memisah-misahkan agama.Syaikh mengungkapkan tentang nilai nasihat ini: "Aduhai, sungguh ini merupakan nasihat/peringatan yang sangat besar, seandainya nasihat ini menemui kehidupan di dalam hati-hati.". Dampak bagi Hati yang Hidup: Jika nasihat besar dari Nabi ﷺ  ini jatuh ke dalam hati yang masih hidup—yaitu hati yang memiliki semangat untuk selamat di akhirat dan ingin bertemu Allah dalam kondisi baik—maka hati tersebut akan langsung tergerak dan terpengaruh.   ​Orang yang hatinya hidup akan menyadari kewajiban mengikuti Islam murni yang dibawa Nabi ﷺ dan para sahabat sebelum munculnya berbagai aliran seumpama Khawarij, Qadariyah, Jabariyah, dan aliran lainnya yang baru datang belakangan.   Hasilnya, ia akan meninggalkan seluruh aliran baru tersebut, lalu memilih masuk dan berpegang teguh pada Islam secara keseluruhan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.Catatan Tambahan Terkait Riwayat Hadits Abu HurairahSyaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan:{رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ. وَرَوَاهُ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَصَحَّحَهُ}Artinya:"Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan dirawayatkan juga dari hadis Abu Hurairah dan beliau (At-Tirmidzi) menshahihkannya."Perbedaan Redaksi: Di dalam Sunan At-Tirmidzi, terdapat pula jalur hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu. Namun, di dalam jalur hadis Abu Hurairah tersebut tidak terdapat tambahan lafadz:{مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي}Kesimpulan Berdasarkan penjelasan Halaqah 60 Kitab Fadhlul Islam, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberikan komentar personal yang mendalam agar orang beriman merenungkan ucapan Rasulullah  {ﷺ} selaku Ash-Shadiqul Masduq—gelar yang sangat tepat digunakan untuk menguatkan kabar ghaib mengenai perpecahan umat. Nasihat mengenai keteguhan di atas jalan Nabi dan para sahabat {مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي} merupakan peringatan agung yang akan merasuk ke dalam hati yang hidup, mendorong pemiliknya untuk meninggalkan seluruh sekte baru seperti Khawarij, Qadariyah, dan Jabariyah demi memeluk Islam murni secara kaffah. Di akhir materi, ditegaskan pula status jalur hadis Abu Hurairah dalam riwayat At-Tirmidzi yang dinilai shahih, namun jalur tersebut tidak memuat klausul lafadz {مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي} sebagaimana jalur utama yang dibahas sebelumnya.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 10

Halaqah yang Ke-10 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian yang Ke Delapan”👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para adalah keyakinan yang mendalam bahwasanya Allah telah memberikan beberapa keistimewaan bagi para Nabi dan Rasul.Di antaranya① WahyuAllah berfirman:إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ…“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepada mu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelah dia” (An-Nisa’ : 163)Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi dan keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya. Rasulullah ﷺ bersabda:لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌkami tidak diwarisi apa yang kami tinggal adalah shadaqah (HR Al Bukhori dan Muslim)Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi. Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺ meninggal dan datang kepada Abu Bakar As Siddiq untuk mengambil warisannya maka Abu Bakar mengatakan kepada Fatimah dengan hadits ini.Di antara kelebihan dan keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat dia meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:سنن الترمذي (١٠١٨): ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيهTidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabdaإن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياءSesungguhnya Allah ajja wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak memakan jasad-jasad para Nabi (HR. Abu Dawud, An-Nasaii dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau ma’sum dan telah berlalu pembahasan tentang hal ini pada Halaqah yang keenam.Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi tidak tidur hatinya.Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkataوالنبي صلى الله عليه وسلم نائمة عيناه ولاينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولاتنام قلوبهمDan Nabi ﷺ tidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya dan demikianlah para Nabi tidur mata mata mereka dan hati-hati mereka tidak tidur (HR. Al-Bukhari)Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup didalam kuburan mereka dalam keadaan shalat. Rasulullah ﷺ bersabdaالانبياء احياء فى قبورهم يصلونPara Nabi mereka dalam keadaan hidup didalam kuburan-kuburan mereka dalam keadaan mereka melakukan shalat

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 10 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 8)

Halaqah 10 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 8)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para adalah keyakinan yang mendalam bahwasanya Allah telah memberikan beberapa keistimewaan bagi para Nabi dan Rasul. Diantaranya, yaitu:​1. WahyuAllah berfirman:إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ…“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepada mu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelah dia” (An-Nisa’ : 163)Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi dan keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya. Rasulullah ﷺ bersabda:لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ"Kami tidak diwarisi apa yang kami tinggal adalah shadaqah" (HR Al Bukhori dan Muslim)Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi. Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺ meninggal dan datang kepada Abu Bakar As Siddiq untuk mengambil warisannya maka Abu Bakar mengatakan kepada Fatimah dengan hadits ini.Di antara kelebihan dan keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat dia meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:سنن الترمذي (١٠١٨): ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيه"Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut". (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:إن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياءSesungguhnya Allah ajja wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak memakan jasad-jasad para Nabi (HR. Abu Dawud, An-Nasaii dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau ma’sum.Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi tidak tidur hatinya.Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:والنبي صلى الله عليه وسلم نائمة عيناه ولاينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولاتنام قلوبهم"Dan Nabi ﷺ tidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya dan demikianlah para Nabi tidur mata mata mereka dan hati-hati mereka tidak tidur" (HR. Al-Bukhari)Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup didalam kuburan mereka dalam keadaan shalat.Rasulullah ﷺ bersabda:الانبياء احياء فى قبورهم يصلون"Para Nabi mereka dalam keadaan hidup didalam kuburan-kuburan mereka dalam keadaan mereka melakukan shalat"

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitabal-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 35 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (bag 02)Kemudian diantara makna dan konsekuensi bahwa kita menyaksikan dan bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh.وتصديقه فيما أخبر2. Membawa أخبر (berita-berita)Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewahyukan kepada beliau bahwasanya dulu pernah terjadi demikian dan demikian.Misalnya:√ Mengabarkan kisah nabi Ādam√ Mengabarkan kisah nabi MūsāKemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memintanya untuk menyampaikan kabar-kabar tersebut kepada manusia.Kemudian beliau menyampaikan bahwasanya Allāh telah mewahyukan demikian dan demikian.√ Kalau kita membenarkan beliau di dalam kabar tadi, maka pada hakikatnya kita telah membenarkan Allāh√ Kalau kita mendustakan beliau di dalam kabar tadi, maka pada hakikatnya kita telah mendustakan Allāh.Karena beliau hanya sekedar menyampaikan, apa yang beliau terima dari Allāh itulah yang beliau sampaikan kepada kita. Tidak beliau tambah atau beliau kurang.Oleh karena itu hati-hati orang yang ketika mendengar kabar dari beliau kemudian mengukur kabar tersebut dengan akal.Jika kabar tersebut masuk akal, mereka terima jika kabar tersebut TIDAK masuk akal, maka mereka tolak.Rasūlullāh tidak berbicara dari hawa nafsunya, sebagaimana firman Allāh :وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’ān) menurut kemauan hawa nafsunya” (QS. An-Najm :3)Maka benarkanlah ucapan beliau, berita yang beliau sampaikan, kabar yang beliau sampaikan, baik itu masuk di dalam akal kita atau tidak.Jika dhāhirnya bertentangan dengan akal maka ketahuilah bahwasanya yang salah bukan apa yang beliau sampaikan TAPI yang salah adalah akal kita.Akal kita adalah makhluk yang lemah dan masing-masing dari kita mengetahui tentang kelemahan dan kekurangan akal kita. Banyak disana perkara-perkara yang dekat dengan kita tetapi kita tidak bisa memahaminya.Menunjukkan bahwa akal manusia adalah akal yang lemah (makhluk yang lemah/dhaif) bagaimana dia mendahulukan akal tersebut diatas dalīl. Sementara dalīl berasal dari Allāh dan akal kita adalah akal yang lemah.Seandainya disana ada pertentangan antara al-Aqlu wa Naqlu, maka kita dahulukan Naql diatas akal kita. Dan yakin bahwasanya kekurangan ada pada diri kita.Dan dalīl yang shahīh baik dari Al-Qur’ān dan Sunnah tidak mungkin bertentangan dengan akal yang sehat.3. Menjauhi apa yang dilarang oleh beliau dan diperingatkan oleh beliau.Diantara yang beliau bawa adalah berupa larangan. Allah mewahyukan kepada beliau sebuah larangan kemudian larangan tersebut beliau sampaikan kepada manusia.Kalau kita meninggalkan larangan yang keluar dari lisan beliau yang mulia, maka pada hakikatnya kita telah menjauhi larangan Allāh.Dan jika kita melanggarnya maka kita telah melanggar larangan Allāh.Larangan terbagi menjadi 2 :⑴ Larangan yang sifatnya Haram⑵ Larangan yang sifatnya MakhruhHaram jelas, jika dilakukan dia berdosa kalau tidak dilakukan karena mengharap pahala dari Allāh maka seseorang akan mendapatkan pahala.Makruh, kalau dilakukan tidak sampai berdosa kalau ditinggalkan karena mengharap pahala dari Allāh mendapatkan pahala.Contoh :Haram ; Berzina, Minum Khamr, Riba, Melihat sesuatu yang diharamkan, Musik, Lagu, Isbal dan Dosa besar yang lain.Makruh :√ Mengakhirkan shalāt.فَوَيْلٌۭ لِّلْمُصَلِّينَ“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalāt” (QS. Al-Maun : 4)⇒ Ada yang menafsirkan يأخير الصلاة عن وقتها√ Orang yang tidur antara waktu Maghrib dengan Isya.√ Berbicara yang tidak bermanfaat setelah Isya kecuali menyambut tamu, muraja’ah, mudzakarah atau musyawarah untuk kepentingan umat maka ini tidak masalah).√ Makan bawang merah dan bawang putih dalam keadaan mentah termasuk diantaranya jengkol misalnya karena ‘ilahnya sama menjadikan bau.Dan harus kita yakini bahwasanya di dalam larangan pasti ada hikmahnya. Allāh tidak melarang sesuatu kecuali disana ada hikmahnya.Kita harus yakin di dalam larangan pasti ada mudharat, diketahui atau tidak pasti disana ada mudharatnya.Sebagian ulama, mengumpamakan sikap seorang muslim ketika menghadapi perintah dan larangan yang datang dari Allāh dan juga Rasūl-nya seperti sikap seseorang ketika akan dicukur oleh tukang cukur.Bagaimana sikapnya?Ketika dia masuk ke dalam ruangan, lalu diperintahkan untuk duduk lalu dia pun akan duduk.Sekali lagi :وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ“Dan bagi Allah adalah permisalan yang lebih tinggi” (QS. An-Nahl : 60)4. Yakin bahwasanya Rasūlullāh membawa sesuatu dan diantara sesuatu tadi adalah tata cara ibadah.Allāh mengatakan :وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Allāh berfirman :يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu…” (QS. Al Baqarah : 21)Bagaimana cara ibadahnya ?Allāh mengutus seorang Rasūl.Sampaikan kepada manusia aku telah memerintahkan mereka untuk beribadah dan tata cara ibadahnya adalah seperti ini.Seseorang yang mengakui Nabi Muhammad sebagai seorang Rasūlullāh, konsekuensinya tata cara ibadahnya harus sesuai dengan apa yang beliau ajarkan.Kalau tidak sesuai dengan tuntunan Rasūlullāh jangan harap ibadah kita diterima oleh Allāh Azza wa Jalla. Karena Allāh tidak menerima kecuali ibadah yang sudah diajarkan lewat Nabi -Nya (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).Selain dari itu Allāh tidak akan menerima walaupun ibadah itu dihiasi atau dianggap baik oleh manusia.مَنْ عَمِلَ عَمَلاً ليسَ عليه أمرُنا هذا فهو رَدٌّ“Barangsiapa yang mengajak sebuah amalan yang tidak ada perintahnya dari Kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)Kalau tidak diajarkan oleh Nabi baik berupa ‘aqidah atau ibadah maka ibadah tersebut tidak akan diterima oleh Allāh.Apa faedah dan hikmah kita mengakui beliau sebagai Rasūlullāh tapi ketika kita beribadah kita menggunakan cara lain yang tidak beliau ajarkan ?Kalau kita yakin beliau adalah Rasūl, maka kita ikuti cara ibadah yang beliau ajarkan, jangan kita mencari cara lain.وأن لا يعبد الله إلا بما شرع“Dan tidak disembah Allāh kecuali dengan apa yang dia syari’atkan”⇒ Kata شرع – failnya dhomirun mustatirun taqdiru هو kembali kepada الله⇒ Tidak disembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan oleh Allāh.⇒ Allāh, Dia-lah يشرع yang menyariatkan.Ini yang dikuatkan oleh sebagian ulamā bahwasanya شرع disini bukan kembali kepada Rasūlullāh tapi kembali kepada Allāh.Dia-lah أشارع – adalah Allāh.√ Allāh-lah yang menghalalkan.√ Allāh-lah yang mengharamkan.√ Allāh-lah yang menentukan tata cara ibadah.Maka Allāh, Dia-lah yang شارع – Jadi kalau dikata الشارع – maksudnya adalah Allāh.Adapun Rasūlullāh maka beliau hanyalah مبلغون رسولون Beliau hanya sekedar menyampaikan apa yang disampaikan oleh Allāh.⇒ Jangan kita meng-itlaq-kan شارع kepada Rasūlullāh.Dan yang disyari’atkan oleh Allāh itulah yang disampaikan oleh Rasūlullāh. Kalau kita mengakui beliau adalah seorang Rasūlullāh maka kita harus mengikuti cara ibadah beliau.Karena cara ibadah beliau itulah yang disyari’atkan oleh Allāh Azza wa Jalla.Ini menunjukkan tentang jeleknya bid’ah dan bid’ah sangat bertentangan dengan syahadat persaksian seseorang bahwasanya Muhamad adalah Rasūlullāh.Sehingga orang yang masih senang dengan bid’ah, bangga bid’ah dan menganggap bahwa bid’ah adalah hasanah hendaklah dia memuraja’ah kembali tentang makna syahadah Muhammad Rasūlullāh karena syahadat disini bukan kalimat yang sekedar dimutlaqkan dan diucapkan yang tidak memiliki makna.Syahadat adalah kalimat yang besar yang memiliki makna, memiliki konsekuensi.Ini adalah penjelasan beliau dari شهادة أن محمداً رسول الله.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 60 | Memahami Ayat tentang Rukyatullah sesuai dengan yang Allāh Kehendaki

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهDan tafsirnya penjelasannya adalah sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan apa yang Allāh ketahui.Maksudnya adalah kita memahami ayat berdasarkan kehendak Allāh, jangan kita memahami hanya dengan akal kita sendiri, sudah kita sampaikan bahwasanya didalam bahasa Arab dan Al-Qur’an ini turun dengan bahasa Arabبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍMaka kita memahami Al-Qur’anul Karim ini dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh, apa makna dari an النظر إلى, an nadhor ila maksudnya adalah melihat dengan mata dengan pandangan kita bukan melihat dengan hati karena melihat dengan hati itu bukan – النظر إلى – tapi – النظر فيه – jangan kita memahami dengan akal kita/hawa nafsu kita, kita memahami dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh di dalam Al-Qur’an kemudian kita juga melihat tafsir Nabi ﷺ ketika beliau membaca firman Allāhلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌsiapa yang paling mengetahui tentang makna dari firman Allāh daripada Nabi ﷺ, apakah kemudian kita menafsirkan dengan akal kita sendiri/hawa nafsu kitaوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهKita mentafsir sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki.Dinukil dari Al imam Syafi’i rahimahullāh bahwasanya beliau mengatakan,آمنت بالله، وبما جاء عن الله، وعلى مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء به رسول الله، وعلى مراد رسول اللهAl Imam Asy Syafi’i mengatakan demikian, Aku beriman dengan Allāh dan apa yang datang dari Allāh sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan aku beriman dengan Rasulullāh ﷺ dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullāh ﷺ.Di antara sebab kesesatan aliran yang sesat adalah sebab utamanya adalah karena mereka memahami Dengan pemahaman bukan dari yang dipahami oleh Allāh dan juga RasulNya bukan dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga rasul RasulNya, benar berdalil dengan ayat berdalil dengan hadits tapi bukan dengan apa yang Allāh inginkan dia bawa makna ayat dan juga hadits tersebut sesuai dengan keinginannya sesuai dengan hawa nafsunya dibawa kesana dan orang yang demikian keadaannya maka pasti di sana akan ada kontradiksi di sana ada pertentangan antara apa yang sedang dia bawakan dengan dalil-dalil yang lain, dan itu adalah sesuatu yang pasti karena dia beragama sesuai dengan hawa nafsu dan ini adalah keadaan ahlul tidaklah mereka berdalil dengan sebuah dalil kecuali ada di sana yang membatalkan dalil tersebut mereka mengambil dalil yang sesuai dengan hawa nafsunya dan meninggalkan dalil yang lain.Ini yang ingin beliau tekankan di sini menafsirkan itu semuanya sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki bukan sesuai dengan kehendak kita atau sesuai dengan kehendak guru kita tapi yang Allāh kehendaki.وعلمهdan apa yang Allāh ketahui.Yaitu berdasarkan kaidah bahasa Arab, berdasarkan kaidah-kaidah tafsir berdasarkan atsar pada salaf yang mereka adalah orang-orang yang telah dipuji oleh Allāh subhanahu wa ta’ala tafsir para shahabat, para sahabat sudah dipuji oleh Allāh tentang agama mereka tentang pemahaman mereka tentang amal saleh mereka maka kita kembali kepada pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →