🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan Halaqah 65: Derajat-Derajat Al-Jannah (Surga)

📖 Ringkasan Halaqah 65: Derajat-Derajat Al-Jannah (Surga)🌿 1. Surga Memiliki Banyak DerajatDerajat penghuni surga berbeda-beda sesuai iman dan ketakwaan mereka.Allah berfirman dalam QS. Thaha: 75 bahwa orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh derajat yang tinggi.⭐ 2. Derajat Tertinggi Milik Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ memiliki kedudukan tertinggi di surga, yaitu Al-Wasilah.Setelah mendengar adzan, kita dianjurkan:Menjawab lafaz adzan.Bershalawat kepada Nabi ﷺ.Memohonkan Al-Wasilah untuk beliau.Orang yang memohonkan Al-Wasilah akan mendapatkan syafaat Nabi ﷺ.✨ 3. Ahlul Ghuraf (Penghuni Kedudukan Tertinggi)Penghuni surga yang derajatnya tinggi akan terlihat seperti bintang di ufuk langit oleh penghuni surga lainnya.Kedudukan ini bukan hanya untuk para nabi, tetapi juga bagi:Orang-orang yang beriman.Orang-orang yang membenarkan para rasul.🌟 4. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhumaAbu Bakar dan Umar termasuk penghuni surga yang memiliki derajat sangat tinggi.Mereka akan memperoleh kedudukan yang tampak tinggi bagi penghuni surga lainnya.⚔️ 5. Mujahidin Fi SabilillahAllah menyediakan 100 derajat surga bagi orang yang berjihad di jalan-Nya.Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi.Surga tertinggi adalah Al-Firdaus:Surga paling utama.Surga paling tinggi.Di atasnya terdapat Arsy Ar-Rahman.Dari sana mengalir sungai-sungai surga.💎 6. Amal yang Mengangkat Derajat di Surga❤️ Membantu Janda dan Orang MiskinPahalanya seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau berpuasa di siang hari dan shalat malam.Mendidik dan Menafkahi Anak PerempuanOrang yang menanggung kebutuhan dua anak perempuan hingga baligh mendapat kedudukan dekat dengan Rasulullah ﷺ pada hari kiamat.Menanggung Anak YatimRasulullah ﷺ bersabda:"Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti dua jari ini."Memiliki Akhlak yang BaikOrang yang paling dicintai dan paling dekat majelisnya dengan Rasulullah ﷺ pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.🤲 Istighfar Anak untuk Orang TuaDerajat orang tua di surga dapat ditinggikan karena istighfar anaknya.Ini menjadi motivasi agar orang tua mendidik anak dengan baik dan saleh.📝 Inti HalaqahSemakin kuat iman, takwa, dan amal saleh seseorang, semakin tinggi derajatnya di surga.Amal-amal yang sangat berpengaruh dalam meninggikan derajat: ✅ Memohon Al-Wasilah untuk Nabi ﷺ✅ Berjihad di jalan Allah✅ Membantu janda dan fakir miskin✅ Menafkahi anak perempuan✅ Menanggung anak yatim✅ Memiliki akhlak mulia✅ Mendidik anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 15 - Silsilah Beriman Pada Hari Akhir | Dajjal Bagian 01 dari 03

•Halaqah 15•[Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir]Dajjal Bagian 01 dari 03Dajjal yang secara bahasa artinya pendusta besar merupakan seorang manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam yang di akhir zaman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menjadikan dia fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Rasulullah ﷺ bersabda :مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالTidak ada fitnah antara penciptaan Adam sampai hari kiamat yang lebih besar dari pada fitnah Dajjal (HR. Muslim).Sebelum keluarnya Dajjal, Bumi dalam keadaan kemarau yang sangat panjang. Manusia sangat membutuhkan air dan juga makanan. Dajjal muncul dan mengaku sebagai tuhan rabbul ‘alamiin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan dia kemampuan untuk bergerak cepat, menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman. Dia membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka, sehingga orang-orang yang tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى seperti orang-orang musyrik, kafir dan munafiq, mereka pun mengikuti Dajjal. Di antaranya adalah tujuh puluh ribu orang Yahudi Asbahan (HR. Muslim)Dan Asbahan adalah nama sebuah daerah. Sampai ada seseorang yang awalnya menyangka dirinya beriman setelah melihat perkara yang luar biasa pada diri Dajjal, akhirnya dia mengkuti Dajjal tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)Setiap Nabi telah mengingatkan umatnya fitnah Dajjal ini. Rasulullah ﷺ bersabda :إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُSesungguhnya aku akan memperingatkan kalian tentang Dajjal. Dan tidaklah seorang Nabi kecuali dia telah memperingatkan kaumnya, dari Dajjal. Demikian pula Nuh ‘alaihissalam. (HR. Bukhari)Dajjal sekarang ada di sebuah pulau. Thammim Ad-Daari seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam saat masih beragama Nashrani, dia dan beberapa orang temannya pernah terdampar di pulau tersebut, mereka melihat Dajjal dalam keadaan terikat kuat. Bahkan sempat terjadi dialog antara mereka dengan Dajjal. Kemudian Thammim mengabarkan pertemuan dan dialog ini kepada Nabi ﷺ setelah masuk islam dan dibenarkan oleh Nabi ﷺ (Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim)

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 14 - Beriman Kepada Hari Akhir | Tanda-Tanda Dekatnya Hari Kiamat

-Halaqah 14-Tanda-Tanda Dekatnya Hari KiamatTanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah sepuluh tanda menjelang datangnya hari kiamat. Yang apabila sudah muncul sepuluh tanda tersebut, maka akan terjadilah hari kiamat. Tanda-tanda besar tersebut apabila muncul satu, maka akan segera diikuti oleh yang lain.Suatu saat Nabi Muhammad ﷺ melihat para sahabat sedang saling berbicara. Maka beliau bertanya :Apa yang sedang kalian bicarakan? Maka mereka menjawab “Kami sedang mengingat hari kiamat.” Kemudian beliau ﷺ berkata :إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍSesungguhnya tidak akan bangkit hari kiamat tersebut, sampai kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda-tanda, Kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan sepuluh tanda tersebut, yaitu:1. Asap2. Dajjal3. Daabbah (seekor hewan melata)4. Terbitnya matahari dari barat5. Turunnya Nabi Isa Ibnu Maryam6. Ya’juj dan Ma’juj7. Khosf di timur (terbenamnya sebagian tanah di timur)8. Khosf di barat9. Khosf di Jazirah Arab10. Api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke padang pengumpulan (HR. Imam Muslim).

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 14

Halaqah yang ke empat belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Masuk kita pada al-ma’qid yang ke-11, simpul yang ke-11 diantara 20 simpul yang dengannya Insya Allāh kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu. Dan kalau kita sudah mengagungkan ilmu, maka Insya Allāh itu adalah sebab kita mendapatkan ilmu itu sendiri.Beliau mengatakan,المعقد الحادي عشرSimpul yang ke-11 adalahصيانة العلم عما يشين مما يُخالف المروءة ويخرمهاMenjaga ilmu dari perkara-perkara yang menjadikan dia jelek.Termasuk pengagungan kita terhadap ilmu adalah kita harus menjaga ilmu, menjaga dia tetap mulia, menjaganya dari seluruh perkara yang menjadikan dia itu jelek, menjadikan dia nampak jelek di hadapan manusia.مما يُخالف المروءة ويخرمهاDari segala sesuatu yang menyelisihi muru’ah (kehormatan atau kewibawaan) atau memecahkan kewibawaan tersebut.Jadi harusnya ilmu yang kita cari maka hendaklah kita perindah dengan cara kita memperbaiki diri kita, yaitu dengan menjaga muru’ah seseorang. Sebagaimana ilmu itu indah, sebagaimana ilmu itu mulia, maka hendaklah kita sebagai pembawa ilmu tersebut harus menghiasi diri kita ini dengan muru’ah.Segala sesuatu yang menyelisihi muru’ah, menyelisihi kehormatan, menyelisihi kewibawaan, maka jangan kita lakukan, karena itu nanti akan memperjelek ilmu yang kita bawa. Kalau memang kita ingin mengagungkan ilmu, maka hendaklah kita menjaga ilmu dari segala sesuatu yang menjelekkannya.Beliau mengatakan,من لم يَصُنِ العلمَ لم يَصُنْهُ العلمُBarangsiapa yang tidak menjaga ilmu (dari segala sesuatu yang menjelekkannya), maka ilmu tidak akan menjaganya.Kalau kita tidak menjaga dia, menjaga kehormatan dia, menjaga kemuliaan dia dengan cara kita menjaga kemuliaan kita sebagai seorang yang membawa ilmu, maka ilmu tidak akan menjaga kita.كما قال الشَّافعيُّSebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i,ومن أخلَّ بالمروءة بالوقوع فيما يَشين فقد ٱستخفَّ بالعلمBarangsiapa yang merusak muru’ahnya sendiri, merusak kewibawaannya sendiri dengan menjerumuskan dirinya di dalam perkara yang menjadikan dia buruk, menjadikan dia jelek, maka sungguh dia telah menganggap remeh ilmu.Kalau kita bermudah-mudahan sebagai seorang penuntut ilmu kemudian kita menyamakan diri kita dengan orang-orang awam biasa atau orang-orang yang pengangguran atau orang-orang yang mereka memang tidak tahu malu, kita samakan diri kita dengan mereka ini, berarti kita sebenarnya telah meremehkan ilmu kita.Kita tidak menjaga diri kita, tidak menjaga adab, kita tidak menjaga muru’ah kita, berarti kita tidak menghormati ilmu yang kita maka,فلم يُعظِّمْه فوقع في البطَالةMaka berarti dia tidak mengagungkan ilmu dan terjatuhlah dia ke dalam kerusakan.فتُفضي به الحال إلى زوال ٱسم العلم عنهAkhirnya ketika kita tidak peduli dengan kehormatan kita dan muru’ah kita padahal kita orang yang menisbahkan dirinya pada ilmu, kita bangga sebagai seorang penuntut ilmu tapi kita tidak menjaga diri kita, kemudian kita terjerumus ke dalam perkara-perkara yang itu sebenarnya tidak pantas dilakukan oleh seorang penuntut ilmu karena biasanya yang melakukan adalah seorang yang pengangguran atau seorang preman atau orang yang nakal, akhirnya keadaan yang seperti ini akan menyebabkan hilangnya nama ilmu dari kita.Ketika kita sudah tidak mempedulikan lagi kewibawaan kita, muru’ah kita sebagai seorang penuntut ilmu, mungkin dari sisi pakaian, dari sisi pakaian tidak mencerminkan dia seorang penuntut ilmu, seorang penuntut ilmu maka mereka memiliki pakaian yang menunjukkan bahwasanya dia adalah seorang penuntut ilmu.Adapun memakai pakaian yang tidak mencerminkan dia sebagai seorang penuntut ilmu maka ini bisa menghilangkan nama ilmu darinya, sehingga orang sudah tidak lagi menyebut dia sebagai seorang santri, tidak menyebut dia sebagai seorang penuntut ilmu lagi, karena dilihat dari sisi gerak-geriknya, dari sisi akhlaknya, dari sisi pakaiannya, sama dengan yang lain tidak ada bedanya, ini akibat dari orang yang tidak menjaga ilmu.قال وهب بن منبِّهBerkata Wahab Ibn Munabbih rahimahullah,لا يكون البطَّال من الحكماءOrang yang rusak (yang dia sudah tidak memperhatikan dirinya) maka dia tidak mungkin menjadi seorang yang berilmu (orang yang memiliki hikmah).Kemudian beliau menjelaskan apa yang dimaksud dengan muru’ah.و جِماع المروءة – كما قاله ابن تيميَّة الجدُّ في المحرَّر، وتبعه حفيده في بعض فتاويه -: استعمال ما يُجمِّله ويَزِينه، و تجنُّبُ ما يُدنِّسه ويَشِينهYang dimaksud dengan muru’ah itu terkumpul dalam ucapan ini sebagaimana diucapkan oleh Ibnu Taimiyah kakeknya.Karena di sana ada Ibnu Taimiyah kakek, ada Ibnu Taimiyah cucu. Kalau Ibnu Taimiyah kakek, ini adalah kakeknya Ibnu Taimiyah guru dari Ibnul Qayyim. Kalau Syaikhul Islam gurunya Ibnul Qayyim maka ini adalah cucunya. kakek maupun cucu dikenal dengan Ibnu Taimiyah.Sebagaimana ini diucapkan oleh Ibnu Taimiyah Aljad (kakek) di dalam Kitab beliau Al-Muharrar dan diikuti oleh cucunya di dalam sebagian fatwa beliau, yang dimaksud dengan muru’ah adalah menggunakan apa yang memperindah dan menjadikan dia lebih bagus dan menjauhi apa yang bisa merusaknya dan menjadikan dia lebih jelek.Jadi sebagaimana ilmu itu adalah indah maka kita iringi dengan perbuatan kita yang indah. Perbuatan kita yang menjaga adab, perbuatan kita dan tingkah laku kita dan perilaku kita yang memperindah ilmu tadi, dan kita menjauhi segala hal yang mengotori ilmu tadi dan juga justru memperjelek dan memperburuk ilmu tadi.Ini yang dimaksud dengan al-muru’ah, segala sesuatu yang memperindah ilmu baik berupa pakaian misalnya atau berupa gerak-gerik dan akhlak maka hendaklah kita lakukan, dan segala sesuatu yang memperburuk dan memperjelek ilmu tadi maka hendaklah kita jauhi. Ini semua adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu.قيل لأبي محمَّدٍ سفيانَ بن عُيَيْنةَDikatakan kepada Abu Muhammad Sufyan Ibn ‘Uyainah, ditanyakan kepada beliau,قدِ ٱستنبطتَ من القرآن كلَّ شيءٍ، فأين المروءةُ فيه؟Engkau telah beristinbath dari Al-Qur’an segala sesuatu, artinya Sufyan Ibn ‘Uyainah segala sesuatu beliau bisa mendatangkan dalilnya dari Al-Qur’an, akhirnya beliau ditanya,فأين المروءةُ فيه؟Mana dalil yang menunjukkan tentang pentingnya menjaga muru’ah?فقالMaka Sufyan Ibn ‘Uyainah mengatakan,في قوله تعالىٰ: ﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ﴾ الأعراف: الآية 199Beliau mengatakan di dalam Firman Allāh ﷻ yang artinya ambillah al-‘afwa (maafkanlah) dan perintahkanlah dengan yang baik dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.Beliau mengatakan,ففيه المروءة، وحسن الأدب، ومكارم الأخاقMaka di dalam ayat ini ada muru’ah.Kita sebagai seorang penuntut ilmu, misalnya terjadi ada orang yang mendzhalimi kita, perindahlah ilmu yang Antum miliki dengan cara kita memaafkan orang tersebut. Ini muru’ah bagi seseorang dan itu memperindah ilmu yang ada pada diri kita ketika Antum memaafkan dia.Tapi coba ketika Antum didzhalimi oleh orang lain kemudian Antum marah-marah dan Antum banting apa yang ada disekitar Antum, tidak memaafkan orang tersebut, bukankah ini memperjelek ilmu yang Antum baw?Kalau memang kita ingin mendapatkan ilmu, kita agungkan ilmu, kita jaga dia dari perkara-perkara yang memperjeleknya, kita perindah dia dengan gerak-gerik kita yang indah juga, kita maafkan, maka ini termasuk bentuk muru’ah, menjaga kehormatan kita sebagai seorang penuntut ilmu.Demikian pula memerintahkan kepada kebaikan dan berpaling dari orang-orang yang jahil, ini semua adalah bentuk muru’ah dan ini adalah menunjukkan baiknya adab dan dia termasuk akhlak yang mulia.Ini dalil di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan tentang muru’ah. Memaafkan orang lain, mengajak kepada kebaikan kemudian berpaling dari orang-orang yang jahil.Ketika ada orang yang mencela Antum misal menjelek-jelekkan Antum, maka ingat Antum sedang membawa ilmu maka Antum harus menjaga ilmu tadi supaya jangan sampai diperjelek yaitu dengan cara kita membalas atau dengan cara kita berpaling dari orang-orang yang jahil, kita maafkan, dan kita berpaling dari orang-orang yang jahil.Kemudian beliau mengatakan,ومِن ألْزَمِ أدبِ النَّفس للطَّالب: تحلِّيه بالمروءةDan termasuk diantara adab terhadap diri sendiri yang seharusnya dipegang oleh seorang penuntut ilmu adalah menghiasi dirinya dengan muru’ah.Sebagaimana telah berlalu ada adab terhadap diri sendiri, ada adab terhadap teman, ada adab terhadap guru. Termasuk diantara adab terhadap diri sendiri bagi seorang penuntut ilmu adalah dia menghiasi dirinya dengan muru’ah, jangan dia samakan dia sebagai seorang penuntut ilmu dengan orang lain.وما يحمل عليهاDan apa yang membawa kepada muru’ahوتنكُّبُه خوارمها الَّتي تخلُّ بها؛Demikian pula dia berusaha untuk menjauhi segala hal yang bisa merusak muru’ah dia.Kemudian beliau memberikan contoh, diantara contoh yang bisa merusak kehormatan seorang penuntut ilmuكحلق لحيتهSeperti memotong jenggotnya.Artinya seorang penuntut ilmu adalah orang yang tentunya memiliki ilmu tidak seperti manusia yang lain. Diantara ilmu yang dia dapat adalah memanjangkan atau membiarkan jenggot. Ketika dia mencukur jenggotnya, maka ini merusak muru’ah dia. Harusnya dia menghiasi dirinya dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dari sisi pakaiannya, dari sisi jenggotnya, dzhahirnya seharusnya dihiasi dengan sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.أو كثرةٍ الالتفات في الطريقDiantara yang merusak kehormatan seseorang, kalau memotong jenggot ini adalah kemaksiatan dan seluruh kemaksiatan memperburuk seorang penuntut ilmu, demikian pula kata beliau terlalu banyak menoleh ketika di jalan maka ini juga bisa merusak kewibawaan seseorang.Kalau Antum melihat ada orang lain ketika dia berjalan melihat ke kanan, melihat ke kiri, ke atas, ke bawah, bagaimana pandangan Antum terhadap orang tersebut dengan orang lain yang dia berjalan dan terlihat bahwasanya dia konsentrasi terhadap satu tujuan, dia tidak banyak menoleh kecuali kalau memang diperlukan ketika akan menyeberang misalnya memang harus menoleh, tapi ketika dia tidak diperlukan dia sering menoleh dan melihat tidak menjaga pandangan maka ini akan merusak kehormatan seseorang.Harusnya dia menghiasi ilmu yang ada pada dirinya dengan adab yang baik. Jangan dia seperti pengangguran yang berjalan di jalan tidak tahu tujuannya, tidak tahu ke mana hanya ingin melihat aurat manusia. Seorang penuntut ilmu berjalan di jalan dan dia memiliki tujuan. Ana mau ke pasar, ana mau ke toko, ana ingin ke kuliah, itu tujuannya bukan melihat ke kanan dan ke kiri, ini termasuk kewibawaan yang hendaknya dijaga oleh seseorang penuntut ilmu.أو مدِّ الرِّجلين في مَجْمَعِ النَّاس من غير حاجةٍ ولا ضرورةٍ داعيةٍAtau menjulurkan kedua kakinya diperkumpulan manusia.Banyak orang sedang kumpul kemudian dia menjulurkan kedua kakinya, ini sesuatu yang merusak kewibawaan seseorang.Seharusnya dalam perkumpulan-perkumpulan seperti itu seorang penuntut ilmu menjaga adabnya. Adab dalam bermajelis, adab duduk bersama orang lain itu bagaimana, karena ketika dia menjulurkan kedua kakinya maka ini seperti menghinakan orang yang ada di depannya.من غير حاجةٍ ولا ضرورةٍ داعيةٍPadahal itu tidak ada keperluan dan bukan sesuatu yang darurat.Kalau memang dia capek, silakan dia menjulurkan kakinya. Kalau memang dia sakit, silahkan dia menjulurkan kakinya. Tapi kalau tidak ada keperluan dan dia bukan orang yang sakit maka termasuk adab yang indah adalah kita menjaga adab dalam duduk kita bersama orang lain, diantaranya adalah tidak menjulurkan kedua kaki.أو صحبةِ الأراذل والفسَّاق والمُجَّان والبطَّالينDiantara yang merusak muru’ah seseorang adalah bersahabat dengan orang-orang yang rendah, maksudnya adalah ahli maksiat, bukan maksudnya orang miskin orang fakir.Bersahabat dengan الأراذل yaitu orang-orang yang kerjanya adalah bermaksiat siang dan malam, والفسَّاق dan juga orang-orang fasik, والمُجَّان hampir sama maknanya والبطَّالين dan orang-orang yang rusak.Seorang penuntut ilmu hendaklah dia menjaga ilmunya dengan cara jangan dia berteman dengan orang-orang yang senang bermaksiat kepada Allāh ﷻ.أو مصارعةِ الأحداث والصِّغارAtau diantara yang merusak muru’ah adalah seseorang gulat dengan anak-anak kecil.Dia seorang penuntut ilmu, sudah dewasa kemudian dia gulat dengan anak-anak kecil maka ini diantara yang merusak muru’ah dan kehormatan seseorang.Ini hanya sekedar contoh dan kita kembali kepada kaidah yang pertama tadi, segala sesuatu yang memperindah ilmu maka hendaklah kita menjaganya dan segala sesuatu yang bisa memperjelek ilmu dan merusak nama baik ilmu maka hendaklah kita menjauhinya. Ini termasuk bentuk penganggungan kita terhadap ilmu

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 64 | Tidak Benar Keimanan tentang Rukyatullah bagi Sesiapa yang Membayangkan dengan Keraguan dan Mentakwil dengan Akal

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih pembicaranya tentang masalah Ar Rukyat, beliau mengatakan rahimahullāh,وَلَا يَصِحُّ الْإِيمَانُ بِالرُّؤْيَةِ لِأَهْلِ دَارِ السَّلَامِ لِمَنِ اعْتَبَرَهَا مِنْهُمْ بِوَهْمٍ، أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ، إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِ بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَBeliau mengatakan, dan tidak sah tidak shahih tidak benar keimanan dengan adanya Rukyat yaitu rukyatullah Yaumal Qiyamah bagi para penduduk surga.Darussalam ini adalah nama lain dari Surga, Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakanلَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَ رَبِّهِمْDar Assalam artinya adalah negeri keselamatan, surga adalah negeri keselamatan tidak ada di sana kesusahan sedikitpun enggak ada orang yang sakit tidak ada orang yang capek tidak ada orang yang mengeluarkan kotoran semuanya adalah kenikmatan semuanya adalah kebaikan tidak benar keimanan terhadap rukyah yaitu melihatnya penduduk surga kepada Allāh subhanahu wa ta’ala di hari kiamatلمن اعتبرها منهم بوهمSiapa yang tidak sah keimanannya bagi orang yang menganggap bahwasanya ruqyah ini adalah wahm/khayalan saja, Ahlu Sunnah mengatakan bahwasanya Rukyat ini adalah Haq dan tidak sah keimanan seseorang yang mengingkari rukyat dan mengatakan bahwasanya itu hanyalah khayalan saya persangkaan sajaأَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍAtau dia mentakwilnya, yang pertama dia menolak mentah-mentah itu yang kedua mengatakan ia melihat tapi dimaknai dan ditakwilkan demikian dan demikian, melihat tapi dengan mata hatinya, jadi ada yang mengikari benar-benar rukyatullah Yaumal Qiyamah dan ada diantara mereka yang mengingkari tapi dengan cara yang halus yaitu dengan cara mentakwilnya.Tidak benar keimanan yang seperti itu tidak benar, kalau memang kita adalah orang yang beriman maka seharusnya apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya ini kita harus menerima dan kita harus berserah diri itu yang harusnya ada di dalam diri seseorang muslim dan juga muslim۞وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ۞إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ۞ كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌإنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كما ترون هذا القمر لَيْلَةَ البَدْرِلا تُضَامُونَ في رُؤْيَتِهِMaka harus Istislam /benar-benar menyerahkan diri oleh orang-orangفَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًاAllāh subhanahu wa ta’ala nafikan keimanan dari seseorang sampai dia menjadikan Nabi ﷺ sebagai hakim yang memberikan keputusan kemudian dia tidak menemukan di dalam dirinya rasa berat terhadap apa yang sudah diputuskan oleh Nabi ﷺ dan dia berserah diri kepada Allāh dengan sebenar-benar penyerahan diri,إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِkenapa tidak dibenarkan yang demikian?Karena mentakwil rukyatullah dan bukan hanya mentakwil rukyatullah, mentakwil seluruh makna Allahualam disini adalah mentakwil seluruh sifat yang disandarkan kepada rububiyah Allāh , mentakwil rukyat atau dia mentakwil seluruh makna yang disandarkan kepada Allāh, mentakwil sifat yang disandarkan kepada Allāh,بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَIni adalah meninggalkan takwil dan berpegang teguh dengan menyerahkan diri dan di atasnya agama Al mursali, di atasnya agama seluruh para Rasul.Jadi cara memanai rukyat ini maksudnya,إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِkarena cara memaknai takwil atau menafsirkan cara memahami cara memahami ruqyat dan seluruh sifat yang disalurkan kepada Allāh itu bagaimana? caranya dengan cara meninggalkan takwil, maksudnya adalah takwil yang dipahami oleh orang-orang ahlul kalam, jadi perlu dibedakan di sini takwil yang pertamaإِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِdengan takwil yang ada pada ucapan beliauبِتَرْكِ التَّأْوِيلِTakwil di sini adalah takwil yang dipahami oleh ahlul kalam yaitu memalingkan sebuah kalimat dari maknanya yang shahih kepada makna yang lain, seperti Al istiwa ditakwil dengan istila, ini maksudnya jadi cara untuk memahami cara untuk memaknai melihat Allāh dan juga cara untuk memahami seluruh sifat yang disandarkan kepada Allāh adalah dengan cara meninggalkan takwil yang tercela yang menjadi kebiasaan orang-orang ahlu Kalam,وَلُزُوم التَّسْلِيمِCaranya adalah dengan melazimi, berpegang teguh dengan Al Taslim /penyerahan diri , takwil ini berarti belum menyerahkan masih mengutak-atik mencari-cari adapun berpegang teguh dengan menyerahkan diri itu menerima dengan seluruh dalil yang sampai kepada kita menerima dalil yang di dalamnya ada penyebutan sifat Allāh & meyakini bahwasanya sifat-sifat Allāh tidak sama dengan sifat-sifat makhluk.Ini adalah termasuk penyerahan diri jadi kalau kita perhatikan maka ahlussunnah wal jamaah mereka adalah orang-orang yang benar-benar menyerahkan diri kepada Allāh berbeda dengan ahlul kalamوَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَDan di atasnya lah agama seluruh para Rasul yang telah diutus oleh Allāh subhanahu wa Ta’Ala kepada manusia maka agama mereka adalah satu yaitu apa Al Islam, apa makna Islam? penyerahan diriإِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗSesungguhnya agama di sisi Allāh adalah Islamوَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ[QS Al Imran 85]Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka tidak diterima darinya dan diakhirat dia termasuk orang² yang merugi.Yaitu adalah agama para Rasul agama Islamالأنبياءُ إخوَةٌ لعَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌPara Nabi mereka adalah saudara ibu-ibu mereka berbeda tapi agama mereka satu yaitu Islam.Apa makna Islam Islam artinya adalah menyerahkan diri, jadi termasuk penyerahan diri kita termasuk konsekuensi dari keislaman kita adalah menerima seluruh apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya termasuk diantaranya adalah penyebutan sifat-sifat Allāh kemudian juga tentang rukyatullah Yaumal Qiyamahوَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ،Berarti di sini ada penguatan kembali tentang keharusan beriman dengan rukyatullāh.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 14 : Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 12)

Halaqah 14 :Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 12)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara contoh bahwa Allah menjadikan ayat-ayat seorang Nabi sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya adalah:4. Mukjizah Nabi Muhammad ﷺ yang berupa Al-QuranDizaman beliau, ﷺ bahasa Arab mencapai zaman ke-emasan, penyair penyair-penyair bertebaran, berlomba menyumbangkan kefasehannya dan kedalamannya didalam berbahasaMaka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan hikmahNya menjadikan ayat yang paling besar bagi Nabi Muhammad ﷺ adalah sebuah kitab yang diturunkan yang tidak mampu seseorang pun menandinginya,Seandainya berkumpul seluruh manusia dan Jin untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak mampu, jangankan 1 Al-Quran, 10 surat pun mereka tidak mampu dan jangan kan 10 surat, 1 surat pun mereka tidak akan mampuAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا“Katakanlah “seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkan yang semisalnya, meskipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain” (Al-Isra : 88)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Ataukah mereka berkata Muhammad telah mengada-ada? Katakanlah hendaklah kalian datangkan 10 surat yang dibuat–buat yang semisal dengan Al-Quran dan panggillah semampu kalian orang-orang selain Allah kalau kalian adalah orang-orang yang benar, kalau mereka tidak mampu memenuhi tantanganmu maka ketahuilah bahwa Al-Quran diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, apakah kalian menyerahkan diri ” ( Hud : 13-14)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ”Dan seandainya kalian ragu terhadap apa yang Kami turun kan kepada hamba Kami maka datang kanlah satu surat dan panggil lah oleh kalian saksi-saksi kalian selain Allah kalau kalian adalah orang-orang yang benar, seandainya kalian tidak bisa melakukannya dan kalian pasti tidak bisa melakukannya maka takutlah dengan Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang yang kafir ” (Al-Baqarah : 23-24)Mereka Orang-orang kafir meragukan Al-Quran dan mengatakan bahwasanya Al-Quran bukan dari Allah, tetapi dari Muhammad dan dialah yang membuatnya maka Allah menantang mereka, kalau memang itu buatan manusia, seharusnya mereka juga bisa membuatnya apalagi mereka adalah orang-orang Arab yang fasih dan ahli didalam bahasa Arab, namun ternyata tidak ada diantara mereka yang bisa membuat yang semisal dengan Al-Quran dan ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah Kalamullah dan bukan kalam Muhammad ﷺApalagi mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis dan beliau bukan tukang syairIni semua menunjukan bahwa Al-Quran adalah ayat (mu’jizah) yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan kebenaran apa yang beliau bawa dan seharusnya ini semua menjadikan mereka beriman dan mengikuti beliau ﷺ.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 14

Halaqah yang Ke-14 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimusssalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian yang Kedua belas.👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara contoh bahwa Allah menjadikan ayat-ayat seorang Nabi sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya adalah④. Mukjizah Nabi Muhammad ﷺ yang berupa Al-QuranDizaman beliau, ﷺ bahasa Arab mencapai zaman ke-emasan, penyair penyair-penyair bertebaran, berlomba menyumbangkan kefasehannya dan kedalamannya didalam berbahasaMaka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan hikmahNya menjadikan ayat yang paling besar bagi Nabi Muhammad ﷺ adalah sebuah kitab yang diturunkan yang tidak mampu seseorang pun menandinginya,Seandainya berkumpul seluruh manusia dan Jin untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak mampu, jangankan 1 Al-Quran, 10 surat pun mereka tidak mampu dan jangan kan 10 surat, 1 surat pun mereka tidak akan mampuAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا“Katakanlah “seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkan yang semisalnya, meskipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain” (Al-Isra : 88)Dan Allah berfirmanأَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Ataukah mereka berkata Muhammad telah mengada-ada? Katakanlah hendaklah kalian datangkan 10 surat yang dibuat–buat yang semisal dengan Al-Quran dan panggillah semampu kalian orang-orang selain Allah kalau kalian adalah orang-orang yang benar, kalau mereka tidak mampu memenuhi tantanganmu maka ketahuilah bahwa Al-Quran diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, apakah kalian menyerahkan diri ” ( Hud : 13-14)Dan Allah berfirmanوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ”Dan seandainya kalian ragu terhadap apa yang Kami turun kan kepada hamba Kami maka datang kanlah satu surat dan panggil lah oleh kalian saksi-saksi kalian selain Allah kalau kalian adalah orang-orang yang benar, seandainya kalian tidak bisa melakukannya dan kalian pasti tidak bisa melakukannya maka takutlah dengan Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang yang kafir ” (Al-Baqarah : 23-24)Mereka Orang-orang kafir meragukan Al-Quran dan mengatakan bahwasanya Al-Quran bukan dari Allah, tetapi dari Muhammad dan dialah yang membuatnya maka Allah menantang mereka, kalau memang itu buatan manusia, seharusnya mereka juga bisa membuatnya apalagi mereka adalah orang-orang Arab yang fasih dan ahli didalam bahasa Arab, namun ternyata tidak ada diantara mereka yang bisa membuat yang semisal dengan Al-Quran dan ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah Kalamullah dan bukan kalam Muhammad ﷺApalagi mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis dan beliau bukan tukang syairIni semua menunjukan bahwa Al-Quran adalah ayat (mu’jizah) yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan kebenaran apa yang beliau bawa dan seharusnya ini semua menjadikan mereka beriman dan mengikuti beliau ﷺ

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 14 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Lima

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke empat belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata,الخَامِسُ: مَنْ أَبْغَضَ شَيْئًا مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ وَلَوْ عَمِلَ بِهِ، كَفَرَ إِجمَاعًاوَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْYang ke lima:“Barangsiapa yang membenci sesuatu diantara yang dibawa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam meskipun dia mengamalkannya, maka dia telah kufur dengan ijma’. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya ‘Yang demikian karena mereka membenci apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah membatalkan amalan-amalan mereka.’”Ucapan beliau شَيْئًا artinya ‘sesuatu’, tidak harus membenci semuanya.مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ, diantara yang dibawa oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, yaitu baik berupa Al Qur’an maupun Al Hadits, dan apa yang ada di dalam keduanya berupa hukum-hukum maupun kabar-kabar.وَلَوْ عَمِلَ بِهِ, meskipun dia mengamalkannya. Menunjukkan bahwa seseorang meskipun dia mengamalkan, kalau dia membenci syari’at tersebut, maka akan menjadi sebab keluarnya dia dari Islam.Orang-orang munafik di zaman Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam terkadang mereka berjihad, sholat lima waktu berjamaah di masjid, berinfak, tetapi mereka membenci semuanya itu di dalam hati mereka. Secara umum mereka membenci syari’at Islam.Allah mengatakan,(وَمَا مَنَعَهُمۡ أَن تُقۡبَلَ مِنۡهُمۡ نَفَقَـٰتُهُمۡ إِلَّاۤ أَنَّهُمۡ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا یَأۡتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمۡ كُسَالَىٰ وَلَا یُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمۡ كَـٰرِهُونَ)[Surat At-Tawbah 54]“Dan tidaklah mencegah dari menerima shodaqoh-shodaqoh mereka (orang-orang munafik) kecuali karena mereka kufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka tidak melakukan sholat kecuali dalam keadaan malas dan mereka tidak berinfak/bershodaqoh kecuali dalam keadaan benci dengan shodaqoh tersebut.Seorang muslim harus ridho Allah sebagai Rabb-nya dan rela Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabinya dan ridho Islam sebagai agamanya.Seorang muslim mencintai seluruh apa yang datang dari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan tidak membencinya. Mengetahui bahwa petunjuk Beliau di dalamnya ada kebaikan untuk dirinya di dunia dan di akhirat. Dia berusaha memerangi segala bisikan syaithan yang menghalangi dia dari melakukan petunjuk tersebut.Dan dalil yang menunjukkan kekufuran orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah firman Allah,(وَٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ فَتَعۡسࣰا لَّهُمۡ وَأَضَلَّ أَعۡمَـٰلَهُمۡ ۝ ذَ ⁠لِكَ بِأَنَّهُمۡ كَرِهُوا۟ مَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَـٰلَهُمۡ)[Surat Muhammad 8 – 9]“Dan orang-orang kafir, maka kecelakaan bagi mereka dan Allah membatalkan amalan mereka. Yang demikian, karena mereka membenci apa yang Allah turunkan. Maka Allah pun menghapuskan seluruh amalan mereka.”Ketika Allah membicarakan tentang orang-orang kafir, Allah sebutkan diantara sebab kekufuran mereka adalah membenci apa yang Allah turunkan.Dan yang dimaksud dengan ‘apa yang diturunkan oleh Allah’ di sini adalah Al Qur’an. Dan ini mencakup semua yang terkandung di dalamnya. Termasuk tentang Tauhid, Kerasulan, Hari Kebangkitan, dan lainnya.Kekafiran mereka adalah penyebab batalnya amalan-amalan mereka. Yang dimaksud dengan ‘amalan yang batal’ di sini adalah amalan yang mereka harapkan manfaatnya di dunia, mereka mengharapkan amalan kebaikan tersebut mendapat keridhoan dari Allah dan keridhoan berhala-berhala mereka agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik, mendapatkan rezeki yang melimpah, keselamatan, kesehatan.Dan yang dimaksud dengan ‘batalnya’ adalah tidak terwujud apa yang mereka harapkan tersebut.Diantara hal yang harus dipahami:1. Kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang, bukan berarti dia benci dengan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Terkadang seseorang melakukan sebuah kemaksiatan, melakukan hal yang diharamkan Allah, akan tetapi di dalam hatinya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dia sebenarnya membenci kemaksiatan tersebut. Namun hawa nafsu dan bisikan syaithan menjadikan dia melakukan kemaksiatan tersebut.Allah berfirman,( لَاۤ أُقۡسِمُ بِیَوۡمِ ٱلۡقِیَـٰمَةِ ۝ وَلَاۤ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ)[Surat Al-Qiyamah 1 – 2]“Aku bersumpah dengan hari kiamat. Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu mencela (dirinya sendiri).Maksudnya adalah jiwa yang ketika dia melakukan kemaksiatan, dia mencela dirinya sendiri.Ketika kita sendiri merasakan di dalam jiwa kita kebencian dengan kemaksiatan meskipun terkadang kita melakukannya.Dalam sebuah hadits dari Umar bin Khatab radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, ada seorang laki-laki di zaman Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bernama Abdullah. Gelarnya Himar (حِمَار). Dahulu sering menghibur Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan Nabi dahulu mencambuk beliau dengan sebab minum minuman keras.Suatu saat laki-laki tersebut didatangkan dan diperintahkan untuk dicambuk karena minum minuman keras. Kemudian ada seseorang yang berkata, “Ya Allah, laknatlah dia. Betapa sering dia dibawa ke sini.” Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Janganlah kalian melaknat laki-laki ini. Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali dia adalah orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” [HR Bukhari dan Muslim].Ini menunjukkan bahwa kemaksiatan tidak menunjukkan kebencian kepada Allah dan Rasul-Nya.2. Kita harus membedakan antara الكُرهُ الإِعتِقَادِي, kebencian yang merupakan keyakinan. Dia membenci syari’at Allah baik syari’at tersebut berat atau tidak. Dan inilah yang merupakan kekufuran.Dan الكُرهُ الطَّبِيعِي kebencian yang merupakan tabiat manusia, seperti kebencian karena beratnya syari’at tersebut bagi dirinya, disertai keyakinan bahwa syari’at Allah itulah yang benar. Di dalamnya ada kebaikan dan harus diikuti, seperti berat bagi seseorang berperang karena harus menahan sakit ketika terluka, berpisah dengan keluarga, dll. Seperti beratnya seseorang ketika berwudhu di waktu yang dingin. Maka kebencian seperti ini adalah tabiat manusia, bukan merupakan kekufuran.Allah berfirman,(كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تُحِبُّوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ شَرࣱّ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ)[Surat Al-Baqarah 216]“Telah diwajibkan atas kalian berperang, sedangkan itu adalah sesuatu yang kalian benci. Dan mungkin kalian membenci sesuatu sedangkan itu lebih baik bagi kalian. Dan terkadang kalian mencintai sesuatu tapi itu jelek bagi kalian. Dan Allah, Dialah Yang Mengetahui dan kalian tidak mengetahui.”Dan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ“Maukah aku tunjukkan kepada kalian, apa yang dengannya Allah menghapus dosa kalian dan mengangkat derajat kalian? Mereka berkata, Iya wahai Rasulullah. Beliau berkata, ‘Menyempurnakan wudhu ketika dalam keadaan yang dibenci, memperbanyak langkah ke masjid, menunggu sholat setelah melakukan sholat, maka itulah Ar Ribath, menjaga yang sebenarnya.” [HR Muslim]Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 39 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tingkatan Iman Dan Cabang-Cabangnya (bag 01)Beliau rahimahullāh mengatakan :المرتبة الثانية: الإيمانTingkatan kedua diantara tiga tingkatan yang ada di dalam Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tentang الإيمان.⇒ Al-Iman (الإيمان) adalah tingkatan ke-2 yang tinggi daripada Islām.Iman sebagaimana Islām memiliki dua makna :⑴ Makna Umum⑵ Makna Khusus.Iman ( الإيمان)Makna umum adalah : Seluruh apa yang ada di dalam agama ini, baik yang dhahir maupun yang bathin, baik berupa ucapan, keyakinan atau amalan.Iman menurut Ahlus Sunnah adalah :الإيمان: اعتقاد بالجنان، وقول باللسان، وعمل بالأركان“Keyakinan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan oleh anggota badan.”Disini kita sedang berbicara makna Iman secara umum. Seperti ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallammengatakan :الإِيمَانُ: بضع وسبعون شعبة“Iman itu ada 70 cabang lebih”Beliau sedang berbicara tentang Iman secara umum yang mencakup seluruhnya, baik yang diucapkan oleh lisan, diyakini di dalam hati maupun yang di lakukan oleh anggota badan.Kemudian disana ada Iman dengan makna khusus yaitu :Iman ( الإيمان)Makna khusus adalah : Amalan-amalan yang bathin.Contoh nya : Hadīts JibrīlNanti akan disebutkan oleh pengarang di akhir pembahasan tentang masalah معرفة دين الإسلام بالإدلة.Ketika beliau menyebutkan tingkatan Islām yang jumlahnya ada tiga : Islām, Iman dan Ihsān.Kira-kira Iman yang dimaksud oleh beliau disini Iman dengan makna apa?Iman dengan makna khusus.Darimana kita tahu?Iman ketika digandeng dan disandingkan dengan Islām, maka ia memiliki makna yang khusus.√ Iman mewakili amalan-amalan yang bathin. √ Islām karena dia datang maka dia mewakili amalan-amalan yang dhāhir.Jadi ketika beliau menyebutkan Marātibu al- Islām (مراتب الإسلام) yang jumlahnya ada 3, maka beliau memaksudkan Iman dalam arti khusus.Kemudian beliau mengatakan :وهو بضع وسبعون شعبة“Dan Iman ini ada 70 cabang lebih”Iman secara umum ada 70 cabang lebih dan ini adalah lafadz yang ada di dalam dalīl. Di dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dan juga Muslim dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya Iman itu ada 70 cabang lebih.بضعBidh’un adalah jumlah antara 3 sampai 9.بضع وسبعونBidh’un wa sab’una, berarti bilangan antara 73 sampai 79.بضع و ستونBidh’un wa sittuna, berarti bilangan 63 sampai 69.Disana ada perbedaan di dalam riwayat, dalam dalam sebagian riwayat disebutkan بضع وسبعون شعبة (bidh’un wa sab’una syu’bah). Didalam riwayat lain بضع و ستون شعبة (bidh’un wa sittuna syu’bah).Dan ada sebagian riwayat syak atau keraguan dari rawi, apakah disana ada pertentangan ?Jawabannya, Tidak!Disebutkan oleh sebagian ulama bahwasanya penyebutan yang lebih kecil yaitu 60 bukan berarti dia menāfī’kan yang lebih besar.Ketika seseorang menyebutkan Iman itu ada 60 cabang bukan berarti dia menāfī’kan bahwasanya disana ada lebih dari 60, disana ternyata ada 70 karena maksudnya adalah 60 cabang ini adalah termasuk keimanan yang tidak menāfī’kan bahwasanya yang 10 itu bukan termasuk keimanan. Ini diucapkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullāh.فان العرب قد تذكر للشيء عددا و لاتريد نفي ماسواهTerkadang orang Arab menyebutkan sebuah bilangan dan dia tidak bermaksud untuk menāfī’kan yang selain itu. Dia hanya ingin mengitsbat atau menetapkan bahwasanya 60 ini termasuk bagian dari keimanan dan bukan berarti dia menāfī’kan yang selainnya.Para ulama ketika mereka mendengar hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang jumlah cabang Iman. Sebagaimana kita ketahui ilmu yang mereka miliki, pengalaman mentadabburi dan seterusnya tentunya memiliki dampak di dalam keyakinan mereka.Sehingga ketika mereka mendengar Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya Iman ini ada 70 cabang lebih,mereka tashdiq, mereka yakin dengan seyakin-yakinnya bahwasanya kenyataan (hakikatnya) adalah seperti yang dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya Iman adalah 70 cabang lebih.Mereka meyakinkan bahwasanya jumlahnya adalah seperti yang dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian mereka membaca Al-Qur’ān dari awal sampai akhir. Membaca Al-Qur’ān merupakan ibadah rutin bagi para ulama, selain mentadabburi Al-Qur’ān, niat mereka adalah mengumpulkan cabang-cabang keimanan yang disyaratkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Misalnya :Mereka memulai dari Al-Fātihah, mereka membaca dan mencari ayat demi ayat apa yang termasuk cabang-cabang keimanan. Selesai Al-Fātihah kemudian mereka melanjutkan ke Al-Baqarah dan seterusnya.Allāh mengatakan :ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ“Mereka yang beriman kepada yang ghaib”Ini termasuk cabang keimanan yaitu beriman dengan yang ghaib.وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَIni termasuk cabang keimanan yaitu mendirikan shalāt.وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَIni termasuk cabang keimanan yaitu berinfaq dan juga bershadaqah.(QS. Al-Baqarah:3)وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَTermasuk cabang keimanan adalah beriman dengan kitāb.Dan seterusnya,kemudian mereka menemukan tentang Jihād, Zakat, Birrul walidain, al- Ihsanillah Jarr, Al-Ihsanilladzil Qurba, Shaum, al Hajj dan seterusnya sampai An-Nas mereka hitung dan tulis berapa cabang keimanan yang mereka dapatkan.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 64

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 64 | Tidak Benar Keimanan tentang Rukyatullah bagi Sesiapa yang Membayangkan dengan Keraguan dan Mentakwil dengan AkalHalaqah 64 | Tidak Benar Keimanan tentang Rukyatullah bagi Sesiapa yang Membayangkan dengan Keraguan dan Mentakwil dengan AkalKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih pembicaranya tentang masalah Ar Rukyat, beliau mengatakan rahimahullāh,وَلَا يَصِحُّ الْإِيمَانُ بِالرُّؤْيَةِ لِأَهْلِ دَارِ السَّلَامِ لِمَنِ اعْتَبَرَهَا مِنْهُمْ بِوَهْمٍ، أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ، إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِ بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَBeliau mengatakan, dan tidak sah tidak shahih tidak benar keimanan dengan adanya Rukyat yaitu rukyatullah Yaumal Qiyamah bagi para penduduk surga.Darussalam ini adalah nama lain dari Surga, Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakanلَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَ رَبِّهِمْDar Assalam artinya adalah negeri keselamatan, surga adalah negeri keselamatan tidak ada di sana kesusahan sedikitpun enggak ada orang yang sakit tidak ada orang yang capek tidak ada orang yang mengeluarkan kotoran semuanya adalah kenikmatan semuanya adalah kebaikan tidak benar keimanan terhadap rukyah yaitu melihatnya penduduk surga kepada Allāh subhanahu wa ta’ala di hari kiamatلمن اعتبرها منهم بوهمSiapa yang tidak sah keimanannya bagi orang yang menganggap bahwasanya ruqyah ini adalah wahm/khayalan saja, Ahlu Sunnah mengatakan bahwasanya Rukyat ini adalah Haq dan tidak sah keimanan seseorang yang mengingkari rukyat dan mengatakan bahwasanya itu hanyalah khayalan saya persangkaan sajaأَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍAtau dia mentakwilnya, yang pertama dia menolak mentah-mentah itu yang kedua mengatakan ia melihat tapi dimaknai dan ditakwilkan demikian dan demikian, melihat tapi dengan mata hatinya, jadi ada yang mengikari benar-benar rukyatullah Yaumal Qiyamah dan ada diantara mereka yang mengingkari tapi dengan cara yang halus yaitu dengan cara mentakwilnya.Tidak benar keimanan yang seperti itu tidak benar, kalau memang kita adalah orang yang beriman maka seharusnya apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya ini kita harus menerima dan kita harus berserah diri itu yang harusnya ada di dalam diri seseorang muslim dan juga muslim۞وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ۞إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ۞ كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌإنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كما ترون هذا القمر لَيْلَةَ البَدْرِلا تُضَامُونَ في رُؤْيَتِهِMaka harus Istislam /benar-benar menyerahkan diri oleh orang-orangفَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًاAllāh subhanahu wa ta’ala nafikan keimanan dari seseorang sampai dia menjadikan Nabi ﷺ sebagai hakim yang memberikan keputusan kemudian dia tidak menemukan di dalam dirinya rasa berat terhadap apa yang sudah diputuskan oleh Nabi ﷺ dan dia berserah diri kepada Allāh dengan sebenar-benar penyerahan diri,إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِkenapa tidak dibenarkan yang demikian?Karena mentakwil rukyatullah dan bukan hanya mentakwil rukyatullah, mentakwil seluruh makna Allahualam disini adalah mentakwil seluruh sifat yang disandarkan kepada rububiyah Allāh , mentakwil rukyat atau dia mentakwil seluruh makna yang disandarkan kepada Allāh, mentakwil sifat yang disandarkan kepada Allāh,بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَIni adalah meninggalkan takwil dan berpegang teguh dengan menyerahkan diri dan di atasnya agama Al mursali, di atasnya agama seluruh para Rasul.Jadi cara memanai rukyat ini maksudnya,إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِkarena cara memaknai takwil atau menafsirkan cara memahami cara memahami ruqyat dan seluruh sifat yang disalurkan kepada Allāh itu bagaimana? caranya dengan cara meninggalkan takwil, maksudnya adalah takwil yang dipahami oleh orang-orang ahlul kalam, jadi perlu dibedakan di sini takwil yang pertamaإِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِdengan takwil yang ada pada ucapan beliauبِتَرْكِ التَّأْوِيلِTakwil di sini adalah takwil yang dipahami oleh ahlul kalam yaitu memalingkan sebuah kalimat dari maknanya yang shahih kepada makna yang lain, seperti Al istiwa ditakwil dengan istila, ini maksudnya jadi cara untuk memahami cara untuk memaknai melihat Allāh dan juga cara untuk memahami seluruh sifat yang disandarkan kepada Allāh adalah dengan cara meninggalkan takwil yang tercela yang menjadi kebiasaan orang-orang ahlu Kalam,وَلُزُوم التَّسْلِيمِCaranya adalah dengan melazimi, berpegang teguh dengan Al Taslim /penyerahan diri , takwil ini berarti belum menyerahkan masih mengutak-atik mencari-cari adapun berpegang teguh dengan menyerahkan diri itu menerima dengan seluruh dalil yang sampai kepada kita menerima dalil yang di dalamnya ada penyebutan sifat Allāh & meyakini bahwasanya sifat-sifat Allāh tidak sama dengan sifat-sifat makhluk.Ini adalah termasuk penyerahan diri jadi kalau kita perhatikan maka ahlussunnah wal jamaah mereka adalah orang-orang yang benar-benar menyerahkan diri kepada Allāh berbeda dengan ahlul kalamوَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَDan di atasnya lah agama seluruh para Rasul yang telah diutus oleh Allāh subhanahu wa Ta’Ala kepada manusia maka agama mereka adalah satu yaitu apa Al Islam, apa makna Islam? penyerahan diriإِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗSesungguhnya agama di sisi Allāh adalah Islamوَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ[QS Al Imran 85]Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka tidak diterima darinya dan diakhirat dia termasuk orang² yang merugi.Yaitu adalah agama para Rasul agama Islamالأنبياءُ إخوَةٌ لعَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌPara Nabi mereka adalah saudara ibu-ibu mereka berbeda tapi agama mereka satu yaitu Islam.Apa makna Islam Islam artinya adalah menyerahkan diri, jadi termasuk penyerahan diri kita termasuk konsekuensi dari keislaman kita adalah menerima seluruh apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya termasuk diantaranya adalah penyebutan sifat-sifat Allāh kemudian juga tentang rukyatullah Yaumal Qiyamahوَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ،Berarti di sini ada penguatan kembali tentang keharusan beriman dengan rukyatullāh.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 64 | Penjelasan Umum Bab Bag 03Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.قال رحم الله : باب ما جاء أن البدعة أشد من الكبائرBab bahwasanya atau apa-apa yang datang berupa penjelasan (berupa dalīl) yang menjelaskan bahwasanya bid’ah ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada al-kabāir.أشد من الكبائر“Dia lebih dahsyat, lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar”Al-Kabāir (الكبائر) jamak dari kabirah (كبيرة) dan yang di maksud adalah dosa-dosa besar. Terkadang maknanya adalah makna yang umum, masuk di dalamnya seluruh dosa-dosa besar, baik dosa-dosa yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islām maupun dosa-dosa yang sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.Terkadang makna كَبَائِر adalah sesuatu yang umum, seluruh dosa yang besar baik yang tidak mengeluarkan maupun yang mengeluarkan dari agama Islām.Thayyib, dari sisi ini, berarti syirik termasuk kabāir (makna kabāir secara umum). Bid’ah termasuk dosa besar.ذَكَرَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ الكَبَائِرَ، أوْ سُئِلَ عَنِ الكَبَائِرِNabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya tentang dosa besar, kemudian beliau menyebutkan:الشِّرْكُ باللَّهِ، وقَتْلُ النَّفْسِ، وعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ“Syirik kepada Allāh, membunuh jiwa dan juga durhaka kepada orang tua”Al-kabāir (الكَبَائِرِ) di sini makna yang umum, buktinya apa? Disebutkan di sini الشِّرْكُ باللَّهِ berarti di sini, disebutkan di dalam hadīts ini adalah الكَبَائِرِ dengan makna umum. Berarti masuk di dalamnya kesyirikan.Di sana ada makna الكَبَائِرِ yang lebih khusus yaitu dosa-dosa besar di bawah kesyirikan dan juga bid’ah.Seluruh dosa besar di bawah syirik dan bid’ah di namakan dengan الكَبَائِرِ.Jadi urutannya yang paling tinggi, adalah apa? Syirik kemudian yang kedua adalah bid’ah kemudian yang ketiga adalah al-kabāir.Yang paling besar dosanya adalah syirik kemudian urutan kedua adalah bid’ah kemudian yang ketiga adalah al-kabāir.Thayyib, al-kabāir yang ana gunakan di sini al-kabāir dengan makna khusus atau umum? khusus yaitu seluruh dosa besar di bawah syirik dan juga di bawah bid’ah. Itu di namakan dengan kabāir.Makanya jangan ada yang mengatakan,”Loh ustd, itu syirik kan termasuk dosa besar?”. Yang kita pakai sekarang ini adalah kabāir dengan makna yang khusus yaitu dosa-dosa besar di bawah syirik dan juga bid’ah.Adapun yang ada di dalam hadīts tadi maka itu adalah kabāir dengan makna yang umum masuk di dalamnya syirik dan juga bid’ah. Dan pengertian kabāir adalah seluruh dosa yang diancam yang pertama dengan laknat misalnya atau diancam dengan neraka.Disebutkan ancaman neraka secara khusus atau hukuman di dunia, contoh laknat misalnya meratap (ada ancaman laknat di situ), atau menyerupai lawan jenis. Seorang wanita berdandan dengan dandanan laki-laki atau seorang laki-laki berdandan dengan dandanan wanita.Ancaman dengan neraka seperti isbal.Hukuman di dunia seperti mencuri dipotong, kemudian membunuh tanpa hak, berzina, baik yang muhshan maupun tidak muhshan dua-duanya mendapatkan hukuman di dunia.Bagaimana para ulama bisa mengarang kitāb al-kabāir seperti Adz-Dzahabi, ada apa dengan kaidah ini? Tatabu’ , istiqra ayat dan juga hadīts yang isinya adalah tentang ancaman dari sebuah dosa. Kalau itu disebutkan di sana laknat atau hukuman dengan neraka, hukuman di dunia, maka ini termasuk dosa besar.Manakah yang lebih besar dosanya, bid’ah atau al-kabāir? Inilah yang ingin beliau sebutkan di sini, akibat dari seseorang tidak pasrah di dalam masalah tata-cara beribadah kemudian dia melakukan bid’ah di dalam agama, maka dia terjerumus ke dalam sebuah dosa yang besar bahkan dia lebih besar daripada dosa-dosa besar.Kita tahu bahwasanya dosa-dosa besar di dalamnya ada zina, di dalamnya ada membunuh, ternyata orang yang melakukan bid’ah lebih besar dosanya daripada orang yang berzina dan kita tahu, bagaimana hukuman zina dan bagaimana besar dosanya. Sampai orang yang muhshan kalau dia berzina maka dia di halalkan darahnya, dirajam sampai dia meninggal dunia dan orang yang belum pernah menikah dengan pernikahan yang syar’i maka dia dicambuk kemudian diasingkan selama 1 tahun.Thayyib, kalau berzinanya dua kali, mana yang lebih besar, dosa bid’ahnya atau zinanya? Tetap bid’ahnya. Kalau berzinanya tiga kali, tetap bid’ahnya. Seandainya dia berzina sepuluh kali maka tetap besar dosa bid’ahnya.Ini menunjukkan tentang bahayanya melakukan bid’ah, bahayanya tidak kaffah di dalam Islām, tidak pasrah di dalam masalah tata-cara ibadah, sampai dosa tersebut lebih besar daripada dosa kabāir dzunub, kalau kabāir dzunub sudah menghancurkan seseorang, mengurangi keimanannya dan bisa menghancurkan kehidupan seseorang lalu bagaimana dengan bid’ah yang dia dosanya lebih besar daripada dosa-dosa besar tadi.Tentunya ini adalah menunjukkan tentang betapa bahayanya bid’ah, betapa bahayanya orang yang tidak pasrah di dalam masalah tata-cara ibadah.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 63

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 63 | Pijakan Keislaman Seorang Muslim Tidak Akan Kokoh Kecuali dengan Taslim dan IstislamHalaqah 63 | Pijakan Keislaman Seorang Muslim Tidak Akan Kokoh Kecuali dengan Taslim dan IstislamKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,ولا تثبت قدم الإسلام إلا على ظهر التسليم والاستسلامDan seseorang tidak kuat tidak tetap kakinya di dalam Islam kecuali apabila dia berdiri di atas punggung penyerahan diri,Taslim wa Istislam maknanya sama maksudnya adalah seorang tidak kuat keislamannya sampai dia benar-benar menyerahkan diri termasuk diantaranya dengan masalah akidah didalam masalah rukyatullāh , didalam masalah Kalamullah, mari kita sama-sama menyerahkan diri kepada Allāh apa yang Allāh kabarkan yang kita imani apa yang dikabarkan oleh Rasulullāh ﷺ kita imani sebagaimana datangnya,فمن رام علم ما حُظر عنه علمه ولم يقنع بالتسليم فهمه؛ حجبه مرامه عن خالص التوحيد وصافي المعرفة وصحيح الإيمانMaka barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui apa yang dilarang untuk diketahui tentang masalah sifat-sifat Allāh subhanahu wa ta’ala, ini tidak mungkin kita mengetahui kecuali dengan wahyu, apabila seseorang ingin memahami sifat-sifat Allāh subhanahu wa ta’ala dengan akalnya maka ini adalah sesuatu yang dilarang yang demikian, kalau kita memang ingin mengenal Allāh tentang sifat-sifat Allāh maka kita harus mengenalnya dengan jalannya yaitu dengan Al-Qur’an dengan hadist dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu taala anhum adapun seseorang yang dengan sombongnya dia ingin mengenal dengan akalnya kalau sampai datang Al-Qur’an dan hadits berbeda dengan akalnya maka dia tolak dalil tersebut atau takwilولم يقنع بالتسليم فهمه؛Dan dia tidak Qonaah pemahamannya tidak merasa cukup pemahamannya dengan menyerahkan diri kepada dalil tapi dia lebih qana’ah dengan akalnya sesuai dengan akal baru qonaah tapi kalau tidak sesuai dengan akal ya ditolak yaitu ucapan Mua’tazilah, bagaimana kita bisa melihat Allāh padahal Allāh subhanahu wa ta’ala tidak memiliki arah kalau kita melihat berarti Allāh memiliki arah,حجبه مرامه عن خالص التوحيدKalau demikian keadaannya seseorang dalam beragama tidak menyerahkan diri kepada Allāh didalam pemahaman juga tidak menyerahkan diri, akalnya tidak Taslim maka apa yang dia dapatkan itu akan menghalanginya dari tauhid yang murni apa yang dia dapatkan yang terjadi setelah itu akan menghalangi dia dari tauhid yang murni, dia tidak akan mendapatkan tauhid yang terhalangi dengan sebelumnya mengikuti hawa nafsu dengan sebab dia mendahulukan akalnya adapun ahlussunnah ketika mereka benar-benar menyerahkan diri kepada Allāh memahami Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar maka mereka akan mendapatkan tauhidul qols mereka akan mendapatkan tauhid yang murni dalam masalah rububiyah dengan masalah uluhiyah dengan masalah nama dan juga sifat Allāh benar-benar akan lurus akan benar pemahaman mereka tapi kalau mereka mendahulukan akal maka mereka akan terhalangi memahami tauhid ini dengan tauhid yang benar, mereka akan terhalang dari kemurnian tauhid pasti di sana ada khalal pasti di sana ada kekurangan di dalam tauhidnya ya dengan masalah nama dan juga sifat Allāh dengan masalah rububiyah Allāh dalam masalah uluhiyah Allāh ,coba ketika mereka memahami tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan juga para Rasul intinya adalah tauhid rububiyah, seseorang dinamakan bertauhid kalau dia mengenal Allāh dengan hatinya akhirnya orang yang melakukan kesyirikan di dalam masalah tauhidul uluhiyah dimata mereka adalah sesuatu yang sangat tidak masalah mau bertawasul dengan orang yang meninggal mau bertawasul dengan Nabi Muhammad ﷺ tidak masalah yang penting dia tahu bahwasanya Allāh itu ada, yang penting yang meyakini bahwasanya Allāh itu yang mencipta, bagaimana dia bisa mendapatkan tauhid yang murni kalau dia masih mengagungkan akalnya di atas Al-Qur’an dan juga hadits,وصافي المعرفةDemikian pula akan menghalangi dia dari mengenal Allāh dengan pengenalan yang shafi/ pengenalan yang bersih kalau dia mengenal Allāh pasti di sana ada kotorannya ada kekurangannya sebabnya adalah karena dia tidak kembali kepada Dalil dan menyerahkan diri kepada dalil masih ada di sana hawa nafsu dan juga kesombongan, seandainya mereka mengenal Allāh hanya mengenal Allāh dengan pengenalan yang sangat kurang, mengenal Allah sebagai pencipta mengenal Allah sebagai pemberi rezeki tapi didalam masalah Al Uluhiyah mereka sangat kurangوصحيح الإيمان،Dan akan menghalangi mereka dari keimanan yang benar.فيتذبذب بين الكفر والإيمان،Akibatnya mereka berada di antara kekufuran dan juga keimanan di antara kekufuran, antara iman dan kufur ada sebagian yang mereka yang mereka shahih mereka imani mereka beriman dengan rububiyah mereka secara umum mentanzih menyucikan Allāh tapi mereka terjatuh juga di dalam kesalahan yaitu sampai mengingkari sifat Allāh ingin dia menyucikan Allāh tapi dia mengingkari istiwa dia mengingkari rukyatullah mengingkari bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullāh dan bahwasanya dia bukan makhluk tapi disisi yang lain ada keimanan keimanan dengan Rasulullah betul beriman bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala yang pencipta,فيتذبذب بين الكفر والإيمان،Antara keimanan dan juga kekufuran,Iman dari satu sisi dia iman dari sisi yang lain dia kufur,والتصديق والتكذيب،Antara membenarkan dan juga mendustakan sebagian yang dia benarkan tapi ada sebagian yang lain yang dia dustakan dia takwil dia ingkari,والإقرار والإنكارAda sesuatu yang dia benarkan/setujui ada sebagian yang lain dia ingkariموسوساً تائهاًDalam keadaan dia memberikan was² kepada yang lain, membisiki kepada yang lain.Berdakwah mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, berdebat untuk mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, ini adalah Ahlu Kalam yang memang mereka adalah kaum yang suka berdebat didalam agamanya, mereka taadzub tertipu dengan akal mereka,موسوساً تائهاًDalam keadaan dia juga bingung.Orang semakin belajar ilmu kalam semakin bingung sebagaimana ini diucapkan sendiri oleh tokoh mereka, mereka sudah mendatangi berbagai negeri/madrasah, semakin makin mendalami semakin mereka bingung didalam agamanya, sampa mereka berangan-angan seandainya mereka mati kelak seperti matinya orang² tua yang ada naisamud yg mereka berada diatas fitrah , ana seorang muslim apa yang Allāh katakan ana imani dan apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ ana imani dan jalankan sampai meninggal dunia selesai, kita beriman sesuai yang diinginkan oleh, kita beriman sesuai Rasulullah ﷺ, ini selesai tidak ada keraguan/kebingungan didalam hati mereka, mereka selalu berkeinginan demikian seandainya aku mati sebagaimana matinya orang-orang tua di Naisamud (mereka diatas fitrah) karena sudah didalam ilmu Kalam susah untuk keluar darinya terlalu banyak subhat yang masuk didalamnya bahkan mau tidur pun terbawa, ketika dalam shalat terbawa subhat nya, dalam keadaan apapun terbawa subhat nya, sulit untuk menghilangkan sesuatu yang selalu bertahun² mereka pelajari. Alhamdulillah yang telah menyelamatkan diri demikian tidak sampai kita terbawa/tergiur untuk mempelajari ilmu Kalam ini, untuk mengenal Allāh kita tidak butuh dengan ilmu kalamشاكًا جائظDalam keadaan dia ragu-raguItu keadaan ahlul kalam secara umum mereka didalam keraguan agamanya sehingga keraguan tadi nampak dari keinginan mereka untuk berdebat, adapun Ahlu Sunnah maka mereka berada diatas keyakinan tidak membutuhkan perdebatan orang² yang kebingungan tersebut , kita berada diatas keyakinan didalam agama kalau mereka ingin berdebat silahkan berdebat dengan orang-orang yang ragu adapun Ahlu Sunnah bukan orang² yang ragu,Mereka dalam keadaan menyimpangلا مؤمنًا مصدقًاMereka adalah orang yang ragu² bukan orang yang beriman dan membenarkan.Didatangkan ayat dan hadits berbeda dengan Ahlu Sunnah mereka membenarkan beriman, adapun mereka maka senantiasa ada keraguan didalam hati mereka.ولا جاحداً مكذباًDan mereka bukan orang yang menolak ataupun mendustakan. Artinya murni bukan seorang yang beriman dan bukan murni orang yang kafir, ini adalah keadaan ahlu bid’ah ada sebagian dari mereka imani/benarkan dan ada sebagian yang mereka ingkari dan takwil tapi tidak sampai kepada kekufuran.Ini adalah sifat-sifat yang beliau sebutkan sifati orang² yang bingung didalam agamanya.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 13 KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد العاشرSimpul yang ke 10, prinsip yang ke-10 yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu adalahملازمة آداب العلمYaitu kita melazimi adab-adab dalam ilmu.Kita harus memperhatikan ketika kita ingin mendapatkan ilmu, maka kita harus dapatkan ilmu tadi dengan menjaga adab-adabnya.Adab di sini, adab bersama diri Antum sendiri. Sebagai seorang penuntut ilmu harus memiliki sifat ini dan sifat itu, kemudian juga adab terhadap guru Antum ini harus diperhatikan, adab terhadap teman Antum satu angkatan atau satu halaqah dengan Antum, ini juga harus diperhatikan.Kalau kita memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu maka ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu itu sendiri.Tapi kalau kita katanya ingin menuntut ilmu tapi tidak memperhatikan adab-adabnya, memperlakukan gurunya sebagaimana dia memperlakukan temannya, dia bergaul dengan teman-temannya yang satu halaqah satu guru seperti ketika dia bergaul dengan seorang bawahannya, tidak ada penghormatan terhadap teman, tidak ada penghormatan terhadap guru, maka orang yang demikian tidak akan mendapatkan ilmu agama.Orang yang demikian berarti dia tidak mengagungkan ilmu. Ketika dia tidak menggunakan adab-adab dalam menuntut ilmu, maka berarti dia tidak mengagungkan ilmu. Dan orang yang demikian maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.قال ابن القيم في كتابه مدارج السَّالكينBerkata Ibnul Qayyim di dalam kitab beliau Madarijus Salikin,أدبُ المرء عنوان سعادته وفلاحهAdab seseorang itu adalah ciri dari kebahagiaan dia dan kesuksesan dia.Ciri orang bahagia itu ketika kita lihat dia beradab. Dan orang yang beradab maka dia akan sukses. Orang yang menjaga adabnya dalam menuntut ilmu maka dia akan sukses di dalam menuntut ilmu. Ini bukan ucapan orang biasa, ini ucapan Ibnul Qayyim murid dari Syaikhul Islam.Orang yang beradab maka itu menunjukkan kebahagiaan dia dan menunjukkan tentang kesuksesan dia itu akan membawa kepada kesuksesan dia.وقِلَّةُ أدبه عنوان شقاوته و بَوَارهDan tidak beradabnya seseorang atau sedikitnya adab seseorang itu adalah ciri kecelakaan dia dan kebinasaan dia.Orang yang sedikit adabnya itu menunjukkan tentang kecelakaan, apalagi orang yang tidak punya adab.فما ٱستُجْلِبَ خير الدُّنيا والآخرة بمثل الأدبMaka tidak didapatkan kebaikan dunia dan akhirat seperti adab.Maksudnya adalah kebaikan dunia dan akhirat itu didapatkan dengan adab.Orang yang beradab ketika di dunia, dia sopan, dia rajin, biasanya ini lebih disenangi oleh orang. Kita memberikan kepadanya itu tidak ragu-ragu. Orangnya dikenal baik, orangnya dikenal beradab, orangnya dikenal menghormati sama kita, kasih dan berikan kepada orang tersebut dan kita tidak akan ragu-ragu memberikan kepada orang tersebut, ini kebaikan dunia.Kebaikan akhirat, termasuk diantara ilmu agama, kalau seorang murid dia beradab kepada gurunya, sopan kepada gurunya, menjaga adab-adab sebagai seorang murid, maka dengan mudahnya guru tadi akan memberi apa yang dia miliki.ولا ٱستُجْلِبَ حرمانهما بمثل قِلَّة الأدبDan tidak diharamkan dari kebaikan dunia dan akhirat dengan sebab seperti kurangnya adab.Yaitu dengan sebab kekurangan adab seseorang, akhirnya dia diharamkan dari kebaikan dunia dan juga kebaikan akhirat. Karena dia tidak sopan, karena dia tidak menjaga adab, sehingga kebaikan dunia tidak dia dapatkan dan dalam masalah akhirat juga tidak dia dapatkan.والمرء لا يسمو بغير الأدبِوإن يكن ذا حَسَبٍ و نسبٍSeseorang itu tidak akan tinggi derajatnya tanpa adab (dia bisa tinggi derajatnya kalau dengan adab) meskipun dia adalah orang yang punya kedudukan dan dia punya nasab.Dia punya kedudukan tapi kalau dia tidak punya adab, rendah di hadapan manusia. Orang kaya tapi dia ucapannya tidak sopan, dia pejabat tapi dia tidak sopan, tidak menghormati orang lain, maka dia menjadi rendah derajatnya di hadapan manusia.Meskipun dia punya nasab yang bagus, itu keluarga bapak Fulan bin Fulan tapi dia seperti itu, rendah di hadapan orang lain karena dia tidak memiliki adab.Tapi sebaliknya seorang anak orang yang miskin, orang yang tidak punya kedudukan, tapi dia dikenal sopan di hadapan manusia, tindak-tanduknya, ucapannya terhadap yang lebih tua, terhadap gurunya, maka dia memiliki derajat yang tinggi, anak ini sopan, anak ini beradab.وإنَّما يصلُح للعلم من تأدَّب بآدابه في نفسه ودرسه، ومع شيخه وقريبهSesungguhnya pantas untuk mendapatkan ilmu orang yang beradab dengan adab-adab ilmu baik adab dia terhadap dirinya sendiri, dia menjaga muruah dia, menjaga kehormatan dia sebagai seorang penuntut ilmu, jangan dia samakan dia dengan orang lain. Dia sebagai seorang penuntut ilmu yang dia bawa adalah ilmu, yang dia pelajari adalah ilmu, harusnya berbeda antara sikap dia dengan orang lain, harus nampak pengaruh dari ilmu tersebut pada dirinya.Demikian pula adab dia ketika dars, ketika di dalam halaqah ilmu, dia harus nampakkan adab-adab ilmu, konsentrasi terhadap ilmu, menghadap kepada gurunya, mencatat, tidak menyibukkan diri dengan yang lain.ومع شيخهDan juga adab ketika bersama gurunya,وقريبهDan adab dia bersama teman-temannya.Yang berhak mendapatkan ilmu, yang bisa mendapatkan ilmu, adalah orang-orang yang mereka menjaga adab-adab tersebut.قال يوسف بن الحسينBerkata Yusuf Ibnul Husain,بالأدب تفهم العمDengan adab kamu bisa memahami ilmu.Ini ucapan yang agung. Dengan adab, Antum bisa memahami ilmu. Kalau kita tidak beradab, maka kita tidak bisa memahami ilmu. Berarti harusnya belajar adab dulu, baru kita bisa mendapatkan ilmu. Mempelajari adab-adab sebagai seorang penuntut ilmu barulah kita bisa mendapatkan ilmu sebagaimana nanti ada ucapan para Salaf yang menunjukkan tentang pentingnya mempelajari adab.لأنَّ المتأدِّب يرُىٰ أهاً للعلم فَيُبذلُ لهKarena orang yang beradab, berarti dia dilihat orang yang pantas untuk mendapatkan ilmu tadi, maka diberikan kepadanya.Ada seorang murid misalnya datang kepada gurunya, dia mengatakan, Syaikhuna semoga Allāh ﷻ menjagamu, semoga Allāh ﷻ memberikan kebaikan kepadamu, tadi ada yang Ana permasalahan, ada satu yang Ana kurang paham tentang masalah ini. Dia beradab dalam bertanya, maka dengan senang hati guru tadi akan memberikan apa yang dia miliki.Tapi ketika datang yang ke dua, dia mengatakan, Syaikh atau Ustadz, tadi Antum bilang dalam majelis demikian, demikian, itu kan bertentangan dengan Firman Allāh ﷻ, itu bertentangan dengan hadits, kan Imam Nawawi mengatakan demikian tapi Ustadz Fulan kemarin mengatakan demikian Ustadz, ini tidak beradab.Kalau terlihat murid tadi tidak beradab, maka guru tadi dia tidak akan mau menjawab dan akan tidak rela untuk memberikan ilmunya kepada murid tadi. Yang seperti ini tidak berhak untuk mendapatkan ilmu.Yang pertama karena dia beradab maka dia mendapatkan ilmu tapi yang kedua sama-sama bertanya tapi tanpa adab maka dia pun tidak akan mendapatkan ilmu, dia mau belajar sama siapa saja kalau demikian caranya maka dia tidak akan diberikan.وقليل الأدب يُعزُّ العلمُ أن يُضيَّعَ عندهOrang yang beradab maka dia akan pantas untuk mendapatkan ilmu tadi, maka diberikan. Tapi orang yang tidak beradab, sayang diberikan kepada orang tadi karena dia tidak punya adab. Seandainya itu diberikan kepadanya, maka ini akan disia-siakan oleh orang tersebut.Makanya,بالأدب تفهم العمDengan adab engkau bisa memahami ilmu.ومن هنا كان السَّلف – رحمهم الله – يعتنون بتعلُّم الأدب، كما يعتنوون بتعلُّم العلمDari sinilah para Salaf dahulu mereka memperhatikan tentang masalah mempelajari adab sebagaimana mereka memperhatikan dalam masalah mempelajari ilmu.Jadi sebagaimana mereka punya perhatian besar mempelajari ilmu, demikian pula mereka punya perhatian besar dalam masalah mempelajari adab. Belajar adab dulu baru mempelajari ilmu.قال ابن سيرينَ كانوا يتعلَّمون الهدى كما يتعلَّمون العلمDahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka dahulu mempelajari ilmu.Jadi kadang dalam majelis ilmu dia melihat dulu bagaimana adab guru tersebut, bagaimana adab murid-murid yang ada di sekitarnya kepada gurunya, kalau baca kitab itu seperti itu awalnya demikian dan demikian, kalau mau bertanya kepada guru caranya seperti itu, kalau mau meminta izin kepada guru caranya seperti itu, dia belajar dulu, mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.بل إنَّ طائفةً منهم يُقدِّمون تعلُّمه علىٰ تعلُّم العلمBahkan sebagian mereka mendahulukan untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu.Karena seperti tadi kalau kita tidak belajar adab dulu langsung kita menuntut ilmu, bertanya tidak beradab, mengoreksi kesalahan guru tidak beradab, ketika dia murajaah dengan teman-temannya juga tidak beradab, akhirnya hancur, rusak semuanya. Tapi kalau dia mempelajari adab terlebih dahulu maka dia bisa mendapatkan ilmu InsyaAllāh.قال مالك بن أنسٍ لفتًى من قريشٍBerkata Malik ibn Anas kepada seorang pemuda dari Quraisy,يا ابن أخي، تعلَّمِ الأدب قبل أن تتعلَّمَ العلمWahai anak saudaraku, hendaklah engkau mempelajari adab sebelum engkau mempelajari ilmu.و كانوا يُظهِرون حاجتهم إليهDan mereka dahulu (para Salaf) menampakkan kebutuhan mereka dan keperluan mereka terhadap adab.Mereka menampakkan bahwasanya mereka sangat membutuhkan dan sangat memerlukan adab ini.قال مَخْلَد بنُ الحسين لابنِ المبارك يومًاPada suatu hari Makhlad Ibn Husein berkata kepada Ibnul Mubarak,نحن إلىٰ كثيرٍ من الأدب أحوج منَّا إلىٰ كثيرٍ من العلمPadahal ini sama-sama ulama Ibnul Mubarak dengan Makhlad Ibnu Husein, mereka menampakkan kebutuhan mereka terhadap ilmu.“Kita ini lebih butuh untuk mempelajari adab dari pada mempelajari banyak ilmu.”Kita ini masih perlu banyak belajar tentang masalah adab. Padahal ini para ulama, mereka mengatakan demikian, karena dengan adab ini maka mereka bisa mendapatkan ilmu. Kalau tidak punya adab maka tidak mendapatkan ilmu.و كانوا يُوصون به، و يُرشدون إليهBahkan mereka dahulu mewasiatkan untuk mempelajari adab dan menunjukkan orang lain supaya mempelajari adab.قال مالكٌBerkata Malik,كانت أُمِّي تعَمِّمُني، وتقول لي: ٱذهبْ إلىٰ ربعيةَ – تعني ابنَ أبي عبد الرَّحمن فقيهَ أهلِ المدينة في زمنه – فتعلَّم من أدبه قبل علمهImam Malik mengatakan dahulu ibunya mendandani beliau memakaikan imamah (sorban) pada beliau, dipakaikan Sorban supaya menghadiri majelis ilmu. Berarti dia masih kecil tapi sudah mulai belajar.Ketika ibunya sambil memakaikan sorban maka ibunya berkata kepada Imam Malik, pergi kamu ke majelisnya Rabi’ah. Ini menunjukkan bagaimana seorang ibu karena anaknya mau berjuang, mau menuntut ilmu agama, demikian dia menghormati dan menyayangi anaknya, didandani rapi dan disuruh untuk pergi ke majelisnya Rabi’ah.Rabi’ah ini adalah Ibnu Abdirrahman, seorang ahli fiqih di kota Madinah di zamannya, gurunya Imam Malik. Kemudian kata ibunya tadi, belajarlah darinya adab sebelum ilmunya.Kamu pergi ke sana, sebelum belajar ilmunya, pelajari dulu tentang adab-adab beliau, bagaimana beliau mengajar, bagaimana beliau bermuamalah dengan murid-muridnya, bagaimana beliau duduk bersama yang lain, bagaimana tawadhu’nya beliau, dan seterusnya, sebelum kamu mencari ilmunya pelajari dulu adab beliau. Ini menunjukkan bagaimana dahulu ibunda para ulama mereka menekankan tentang masalah adab ini kepada anak-anaknya sebelum ilmu.فإنما حُرِم كثيرٌ من طلبة العصر العلمَ بتضييع الأدبSesungguhnya banyak diantara penuntut ilmu di zaman sekarang mereka tidak mendapatkan ilmu karena mereka menyia-nyiakan adab, menyia-nyiakan adab dalam bermajelis, menyia-nyiakan adab bersama gurunya, bersama dirinya.أشرفَ اللَّيث بن سعدٍ علىٰ أصحاب الحديثAl-Laits Ibn Sa’ad rahimahullāh beliau datang kepada orang-orang yang mereka adalah penuntut ilmu Hadits (murid-muridnya), orang-orang yang mereka datang dari tempat yang jauh untuk mencari ilmu hadits. Al-Laits Ibn Sa’ad termasuk ulama hadits, ketika beliau datang melihat merekaفرأىٰ منهم شيئًا كأنَّه كرههKetika melihat mereka, beliau melihat ada sesuatu yang beliau benci, ada sikap dan adab yang beliau benci, tidak beradab ketika ada seorang gurunya.فقال: ما هٰذا؟Beliau mengatakan, Apa ini?أنتم إلىٰ يسيرٍ من الأدب، أحوج إلى كثيرٍ من العلمKalian ini lebih butuh kepada sedikit adab daripada banyak ilmu.Artinya sebelum kalian mempelajari ilmu dari para ulama hadits, hendaklah kalian ini belajar sedikit tentang adab, bagaimana adab ketika bertemu guru, bagaimana adab misalnya ketemu beliau di jalan apa yang harus dilakukan, ketika beliau datang apa yang harus dilakukan, apakah ketika bermajelis termasuk adab seseorang meninggalkan majelis sebelum gurunya, ini disampaikan oleh para ulama ada adabnya. Jangan sampai gurunya masih ada di situ kita bubar duluan, meninggalkan gurunya dalam keadaan sendiri, harusnya biarkan beliau pergi dulu baru setelah itu kita meninggalkan majelis.Syaikh Ushaimi pernah beliau marah-marah di majelis karena beliau belum pergi dari majelisnya sudah ada yang bubar duluan, sudah meninggalkan majelis. Akhirnya beliau berbicara panjang lebar menyampaikan tentang harusnya apa yang dilakukan, adab apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang penuntut ilmu.Makanya di sini Al-Laits Ibn Sa’ad beliau mengatakan, Apa ini? Kalian, kepada sedikit adab itu, lebih kalian butuhkan daripada banyak ilmu. Sedikit adab maka kalian akan mendapatkan ilmu, tapi kalau kalian tidak punya adab maka tidak akan mendapatkan ilmu.فماذا يقول اللَّيث لو رأىٰ حال كثيرٍ من طاَّب العلم في هٰذا العصر؟Lalu bagaimana seandainya Al-Laits Ibn Sa’ad Al-Misriy beliau melihat keadaan kebanyakan para penuntut ilmu di masa kita sekarang ini.Mungkin saat itu yang beliau lihat adalah sesuatu yang ringan, tidak beradab tapi masih ringan, dan sekarang lebih parah lagi. Terkadang dalam majelis ilmu dia tersenyum sendirian, ternyata di depannya ada HP, di depannya ada komputer, sementara gurunya sedang mengajar dia senyum, dan yang lebih parah lagi ada yang tertawa terbahak-bahak. Ini pemandangan yang sangat tidak mengenakkan dan tidak beradab. Atau dia sibuk bicara dengan orang lain di dalam bermajelis ilmu, ini juga suatu yang tidak beradab. Lalu bagaimana seandainya Al-Laits Ibn Sa’ad melihat keadaan yang seperti itu.Semoga Allāh subhanahu wa ta’ala membimbing kita semuanya kepada jalan yang lurus.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 13

Halaqah yang Ke-13 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Beriman Kepada Para Rasul Bagian yang Kesebelas.👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara hikmah Allah menjadikan ayat-ayat seorang Nabi / mukjizat mereka adalah sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya dan lebih dahsyat supaya lebih menunjukkan kebenaran kenabian Nabi tersebut.Diantara contohnya① Kaum Nabi Sholeh (kaum Tsamud)Yang terkenal sebagai kaum yang kuat dan biasa memahat gunung untuk dijadikan rumah.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ…“Dan ingatlah oleh kalian di waktu Allah menjadikan kalian pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat kepada kalian di bumi, kalian mendirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kalian memahat gunung-gunung nya untuk dijadikan rumah”. (Al-A’raf : 74)Ketika Nabi Sholeh alaihi wa sallam mendakwahi mereka, mereka meminta kepada beliau supaya mendatangkan ayat (tanda kebenaran beliau), akhirnya mereka meminta supaya keluar dari batu keras yang sudah mereka tentukan, unta merah yang sedang hamil 10 bulan. Setelah Nabi Shaleh mengambil peran dari mereka supaya beriman kalau permintaan dikabulkan, beliau pun berdoa kepada Allah, maka bergetarlah batu besar tersebut dan keluar dari nya unta dengan sifat yang mereka inginkan. Tentunya hal ini lebih dahsyat dari pada hanya memahat gunung untuk dijadikan rumah.② SihirDi zaman Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ sangat banyak dan tersebar dan mereka adalah kaum yang sangat mengagungkan sihir dan tukang sihir dan diantara sihir mereka adalah menipu mata manusia seperti menyihir manusia sehingga mereka melihat tali dan tongkat seakan-akan dia adalah ular. Oleh karena itu diantara ayat yang Allah berikan kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ adalah berubahnya tongkat menjadi ular secara hakikat dan bukan hanya tipuan mata dan tangan yang bersinar setelah dimasukkan ke dalam saku secara hakikat dan bukan hanya tipuan mata.Allah berfirmanفَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌوَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ“Lalu Musa melemparkan tongkatnya tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya dan dia mengeluarkan tangannya dan tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya bagi orang-orang yang melihatnya” (Al-A’raf 107-108)Maka para tukang sihir akhirnya mengetahui bahwa Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ memang diutus oleh Allāh dan merekapun masuk Islam dan sangat kuat keIslaman nya.③ Ilmu kedokteranDi zaman Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ sangat populer, oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menguatkan Nabi ‘Isa dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan penyakit dan penyembuhannya yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang dokter atau ahli apapun dia Allah berikan beliau عَلَيهِ السَّلَامُ kemampuan menyembuhkan orang yang buta dari lahir, menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta bahkan menghidupkan orang yang sudah mati.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :… وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ…“Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin Ku kemudian engkau meniup nya lalu menjadi seekor burung yang sebenarnya dengan seizin Ku &dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin Ku dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati dari kubur menjadi hidup dengan seijin Ku ” (Al-Ma’idah : 110)

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 63 | Pijakan Keislaman Seorang Muslim Tidak Akan Kokoh Kecuali dengan Taslim dan Istislam

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,ولا تثبت قدم الإسلام إلا على ظهر التسليم والاستسلامDan seseorang tidak kuat tidak tetap kakinya di dalam Islam kecuali apabila dia berdiri di atas punggung penyerahan diri,Taslim wa Istislam maknanya sama maksudnya adalah seorang tidak kuat keislamannya sampai dia benar-benar menyerahkan diri termasuk diantaranya dengan masalah akidah didalam masalah rukyatullāh , didalam masalah Kalamullah, mari kita sama-sama menyerahkan diri kepada Allāh apa yang Allāh kabarkan yang kita imani apa yang dikabarkan oleh Rasulullāh ﷺ kita imani sebagaimana datangnya,فمن رام علم ما حُظر عنه علمه ولم يقنع بالتسليم فهمه؛ حجبه مرامه عن خالص التوحيد وصافي المعرفة وصحيح الإيمانMaka barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui apa yang dilarang untuk diketahui tentang masalah sifat-sifat Allāh subhanahu wa ta’ala, ini tidak mungkin kita mengetahui kecuali dengan wahyu, apabila seseorang ingin memahami sifat-sifat Allāh subhanahu wa ta’ala dengan akalnya maka ini adalah sesuatu yang dilarang yang demikian, kalau kita memang ingin mengenal Allāh tentang sifat-sifat Allāh maka kita harus mengenalnya dengan jalannya yaitu dengan Al-Qur’an dengan hadist dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu taala anhum adapun seseorang yang dengan sombongnya dia ingin mengenal dengan akalnya kalau sampai datang Al-Qur’an dan hadits berbeda dengan akalnya maka dia tolak dalil tersebut atau takwilولم يقنع بالتسليم فهمه؛Dan dia tidak Qonaah pemahamannya tidak merasa cukup pemahamannya dengan menyerahkan diri kepada dalil tapi dia lebih qana’ah dengan akalnya sesuai dengan akal baru qonaah tapi kalau tidak sesuai dengan akal ya ditolak yaitu ucapan Mua’tazilah, bagaimana kita bisa melihat Allāh padahal Allāh subhanahu wa ta’ala tidak memiliki arah kalau kita melihat berarti Allāh memiliki arah,حجبه مرامه عن خالص التوحيدKalau demikian keadaannya seseorang dalam beragama tidak menyerahkan diri kepada Allāh didalam pemahaman juga tidak menyerahkan diri, akalnya tidak Taslim maka apa yang dia dapatkan itu akan menghalanginya dari tauhid yang murni apa yang dia dapatkan yang terjadi setelah itu akan menghalangi dia dari tauhid yang murni, dia tidak akan mendapatkan tauhid yang terhalangi dengan sebelumnya mengikuti hawa nafsu dengan sebab dia mendahulukan akalnya adapun ahlussunnah ketika mereka benar-benar menyerahkan diri kepada Allāh memahami Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar maka mereka akan mendapatkan tauhidul qols mereka akan mendapatkan tauhid yang murni dalam masalah rububiyah dengan masalah uluhiyah dengan masalah nama dan juga sifat Allāh benar-benar akan lurus akan benar pemahaman mereka tapi kalau mereka mendahulukan akal maka mereka akan terhalangi memahami tauhid ini dengan tauhid yang benar, mereka akan terhalang dari kemurnian tauhid pasti di sana ada khalal pasti di sana ada kekurangan di dalam tauhidnya ya dengan masalah nama dan juga sifat Allāh dengan masalah rububiyah Allāh dalam masalah uluhiyah Allāh ,coba ketika mereka memahami tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan juga para Rasul intinya adalah tauhid rububiyah, seseorang dinamakan bertauhid kalau dia mengenal Allāh dengan hatinya akhirnya orang yang melakukan kesyirikan di dalam masalah tauhidul uluhiyah dimata mereka adalah sesuatu yang sangat tidak masalah mau bertawasul dengan orang yang meninggal mau bertawasul dengan Nabi Muhammad ﷺ tidak masalah yang penting dia tahu bahwasanya Allāh itu ada, yang penting yang meyakini bahwasanya Allāh itu yang mencipta, bagaimana dia bisa mendapatkan tauhid yang murni kalau dia masih mengagungkan akalnya di atas Al-Qur’an dan juga hadits,وصافي المعرفةDemikian pula akan menghalangi dia dari mengenal Allāh dengan pengenalan yang shafi/ pengenalan yang bersih kalau dia mengenal Allāh pasti di sana ada kotorannya ada kekurangannya sebabnya adalah karena dia tidak kembali kepada Dalil dan menyerahkan diri kepada dalil masih ada di sana hawa nafsu dan juga kesombongan, seandainya mereka mengenal Allāh hanya mengenal Allāh dengan pengenalan yang sangat kurang, mengenal Allah sebagai pencipta mengenal Allah sebagai pemberi rezeki tapi didalam masalah Al Uluhiyah mereka sangat kurangوصحيح الإيمان،Dan akan menghalangi mereka dari keimanan yang benar.فيتذبذب بين الكفر والإيمان،Akibatnya mereka berada di antara kekufuran dan juga keimanan di antara kekufuran, antara iman dan kufur ada sebagian yang mereka yang mereka shahih mereka imani mereka beriman dengan rububiyah mereka secara umum mentanzih menyucikan Allāh tapi mereka terjatuh juga di dalam kesalahan yaitu sampai mengingkari sifat Allāh ingin dia menyucikan Allāh tapi dia mengingkari istiwa dia mengingkari rukyatullah mengingkari bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullāh dan bahwasanya dia bukan makhluk tapi disisi yang lain ada keimanan keimanan dengan Rasulullah betul beriman bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala yang pencipta,فيتذبذب بين الكفر والإيمان،Antara keimanan dan juga kekufuran,Iman dari satu sisi dia iman dari sisi yang lain dia kufur,والتصديق والتكذيب،Antara membenarkan dan juga mendustakan sebagian yang dia benarkan tapi ada sebagian yang lain yang dia dustakan dia takwil dia ingkari,والإقرار والإنكارAda sesuatu yang dia benarkan/setujui ada sebagian yang lain dia ingkariموسوساً تائهاًDalam keadaan dia memberikan was² kepada yang lain, membisiki kepada yang lain.Berdakwah mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, berdebat untuk mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, ini adalah Ahlu Kalam yang memang mereka adalah kaum yang suka berdebat didalam agamanya, mereka taadzub tertipu dengan akal mereka,موسوساً تائهاًDalam keadaan dia juga bingung.Orang semakin belajar ilmu kalam semakin bingung sebagaimana ini diucapkan sendiri oleh tokoh mereka, mereka sudah mendatangi berbagai negeri/madrasah, semakin makin mendalami semakin mereka bingung didalam agamanya, sampa mereka berangan-angan seandainya mereka mati kelak seperti matinya orang² tua yang ada naisamud yg mereka berada diatas fitrah , ana seorang muslim apa yang Allāh katakan ana imani dan apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ ana imani dan jalankan sampai meninggal dunia selesai, kita beriman sesuai yang diinginkan oleh, kita beriman sesuai Rasulullah ﷺ, ini selesai tidak ada keraguan/kebingungan didalam hati mereka, mereka selalu berkeinginan demikian seandainya aku mati sebagaimana matinya orang-orang tua di Naisamud (mereka diatas fitrah) karena sudah didalam ilmu Kalam susah untuk keluar darinya terlalu banyak subhat yang masuk didalamnya bahkan mau tidur pun terbawa, ketika dalam shalat terbawa subhat nya, dalam keadaan apapun terbawa subhat nya, sulit untuk menghilangkan sesuatu yang selalu bertahun² mereka pelajari. Alhamdulillah yang telah menyelamatkan diri demikian tidak sampai kita terbawa/tergiur untuk mempelajari ilmu Kalam ini, untuk mengenal Allāh kita tidak butuh dengan ilmu kalamشاكًا جائظDalam keadaan dia ragu-raguItu keadaan ahlul kalam secara umum mereka didalam keraguan agamanya sehingga keraguan tadi nampak dari keinginan mereka untuk berdebat, adapun Ahlu Sunnah maka mereka berada diatas keyakinan tidak membutuhkan perdebatan orang² yang kebingungan tersebut , kita berada diatas keyakinan didalam agama kalau mereka ingin berdebat silahkan berdebat dengan orang-orang yang ragu adapun Ahlu Sunnah bukan orang² yang ragu,Mereka dalam keadaan menyimpangلا مؤمنًا مصدقًاMereka adalah orang yang ragu² bukan orang yang beriman dan membenarkan.Didatangkan ayat dan hadits berbeda dengan Ahlu Sunnah mereka membenarkan beriman, adapun mereka maka senantiasa ada keraguan didalam hati mereka.ولا جاحداً مكذباًDan mereka bukan orang yang menolak ataupun mendustakan. Artinya murni bukan seorang yang beriman dan bukan murni orang yang kafir, ini adalah keadaan ahlu bid’ah ada sebagian dari mereka imani/benarkan dan ada sebagian yang mereka ingkari dan takwil tapi tidak sampai kepada kekufuran.Ini adalah sifat-sifat yang beliau sebutkan sifati orang² yang bingung didalam agamanya.موسوساً تائهاً شاكاً لا مؤمناً مصدقاً، ولا جاحداً مكذباً..

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 13 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 11)

Halaqah 13 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 11)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara hikmah Allah menjadikan ayat-ayat seorang Nabi atau mukjizat mereka adalah sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya dan lebih dahsyat supaya lebih menunjukkan kebenaran kenabian Nabi tersebut.Diantara contohnya :1.     Kaum Nabi Sholeh (Kaum Tsamud)Yang terkenal sebagai kaum yang kuat dan biasa memahat gunung untuk dijadikan rumah.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ…“Dan ingatlah oleh kalian di waktu Allah menjadikan kalian pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat kepada kalian di bumi, kalian mendirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kalian memahat gunung-gunung nya untuk dijadikan rumah”. (Al-A’raf : 74)Ketika Nabi Sholeh عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ mendakwahi mereka, mereka meminta kepada beliau supaya mendatangkan ayat (tanda kebenaran beliau), akhirnya mereka meminta supaya keluar dari batu keras yang sudah mereka tentukan, unta merah yang sedang hamil 10 bulan. Setelah Nabi Shaleh عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ mengambil peran dari mereka supaya beriman kalau permintaan dikabulkan, beliau pun berdoa kepada Allah, maka bergetarlah batu besar tersebut dan keluar dari nya unta dengan sifat yang mereka inginkan. Tentunya hal ini lebih dahsyat dari pada hanya memahat gunung untuk dijadikan rumah.2.     SihirDi zaman Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ sangat banyak dan tersebar dan mereka adalah kaum yang sangat mengagungkan sihir dan tukang sihir dan diantara sihir mereka adalah menipu mata manusia seperti menyihir manusia sehingga mereka melihat tali dan tongkat seakan-akan dia adalah ular. Oleh karena itu diantara ayat yang Allah berikan kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ adalah berubahnya tongkat menjadi ular secara hakikat dan bukan hanya tipuan mata dan tangan yang bersinar setelah dimasukkan ke dalam saku secara hakikat dan bukan hanya tipuan mata.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:فَاَلۡقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِىَ ثُعۡبَانٌ مُّبِيۡنٌ​ ​ ۖ ​ۚ وَّنَزَعَ يَدَهٗ فَاِذَا هِىَ بَيۡضَآءُ لِلنّٰظِرِيۡن“Lalu Musa melemparkan tongkatnya tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya dan dia mengeluarkan tangannya dan tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya bagi orang-orang yang melihatnya” (Al-A’raf 107-108)Maka para tukang sihir akhirnya mengetahui bahwa Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ memang diutus oleh Allah dan merekapun masuk Islam dan sangat kuat keIslamannya.3.     Ilmu kedokteranDi zaman Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ sangat populer, oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menguatkan Nabi ‘Isa dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan penyakit dan penyembuhannya yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang dokter atau ahli apapun dia Allah berikan beliau عَلَيهِ السَّلَامُ kemampuan menyembuhkan orang yang buta dari lahir, menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta bahkan menghidupkan orang yang sudah mati.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :… وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ…“Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin Ku kemudian engkau meniup nya lalu menjadi seekor burung yang sebenarnya dengan seizin Ku &dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin Ku dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati dari kubur menjadi hidup dengan seijin Ku ” (Al-Ma’idah : 110)

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan Halaqah 63 – Masuknya Orang-Orang Beriman ke Dalam Surga (Bagian 1)

Ringkasan Halaqah 63 – Masuknya Orang-Orang Beriman ke Dalam Surga (Bagian 1)1. Orang-orang beriman digiring menuju surgaSetelah dibersihkan hatinya, orang-orang beriman digiring menuju surga dengan penuh kemuliaan dan penghormatan.Mereka masuk surga dalam keadaan dimuliakan oleh Allah.2. Syafaat Nabi ﷺ untuk membuka pintu surgaAllah memuliakan Nabi Muhammad ﷺ di hadapan seluruh orang beriman.Nabi ﷺ diberi syafaat khusus untuk memohon agar pintu surga dibukakan.Beliau adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga.Penjaga surga tidak akan membuka pintu bagi siapa pun sebelum Nabi Muhammad ﷺ.3. Pintu surga dibuka dan disambut malaikatOrang-orang bertakwa masuk surga secara berombongan.Para malaikat menyambut mereka dengan ucapan salam.Mereka dipersilakan masuk dan tinggal di surga untuk selama-lamanya.Penduduk surga memuji Allah karena telah menepati janji-Nya.Dalil: QS. Az-Zumar: 73–74.4. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah yang pertama masuk surgaUmat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat terakhir di dunia, tetapi menjadi yang pertama masuk surga.Rombongan pertama memiliki wajah yang bercahaya seperti bulan purnama.Hadis: HR. Bukhari dan Muslim.5. Rombongan pertama yang masuk surgaSebanyak 70.000 atau 700.000 orang (sesuai riwayat) masuk surga bersama-sama.Mereka bergandengan tangan dan masuk dalam satu shaf secara serentak.Wajah mereka bercahaya seperti bulan purnama.Di antara mereka ada yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.Hal ini juga menunjukkan bahwa pintu surga sangat besar.6. Keutamaan orang-orang fakir muhajirinOrang-orang fakir muhajirin akan masuk surga 40 tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya muhajirin.Hadis: HR. Muslim.Inti PelajaranOrang beriman dimuliakan ketika memasuki surga.Nabi Muhammad ﷺ memiliki syafaat khusus untuk membuka pintu surga.Umat Nabi Muhammad ﷺ menjadi umat pertama yang masuk surga.Rombongan pertama memiliki keutamaan yang sangat besar.Orang-orang fakir muhajirin memperoleh keutamaan masuk surga lebih dahulu dibanding orang-orang kaya muhajirin.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 13 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Empat

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke tiga belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah,الرَبِيع:من اعتقد أنَّ غيرَ هَدْيِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أكمَلُ مِن هَدْيِه، أو أنَّ حُكْمَ غيرِه أحسَنُ مِن حُكْمِه، كالذين يُفَضِّلون حُكْمَ الطَّواغيتِ على حُكْمِه؛ فهو كافِرٌPembatal keislaman yang ke empat:“Barangsiapa yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi lebih sempurna daripada petunjuk Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, atau meyakini bahwa selain hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang mengutamakan hukum thaghut di atas hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah kafir.”Di dalam pembatal keislaman yang ke empat ini, Syeikh menyebutkan dua poin utama:1. Barangsiapa yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna daripada petunjuk Beliau.Petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu dari Allah, baik berupa Al Qur’an atau berupa Hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Allah mengatakan,(وَمَا یَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰۤ ۝ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡیࣱ یُوحَىٰ)[Surat An-Najm 3 – 4]“Apa yang Beliau ucapkan kecuali itu adalah wahyu dari Allah yang diwahyukan kepada Beliau.”Di dalam hadits Beliau mengatakan,أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah, bahwasanya aku diberikan Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam).” [HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albani rahimahullah]Kalau demikian, kita harus meyakini bahwa apa yang datang dari Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam pasti lebih sempurna daripada petunjuk selain Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dalam sebuah hadits, Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam [HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albani]Allah Subhānahu wa Ta’āla, dialah العَلِيمُ الحَكِيمُالعَلِيمُ artinya Yang Maha Mengetahui. Mengetahui apa yang menjadi maslahat bagi manusia dan mudhorot atas mereka.Dan Allah adalah الحَكِيمُ artinya Yang Maha Bijaksana di dalam hukum-hukum-Nya. Baik hukum-hukum yang berkaitan dengan syari’at-Nya maupun hukum-hukum kauniyah yang Allah takdirkan di alam semesta. Dialah yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.Allah berfirman,وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ[Surat Al-Baqarah 232]“Dan Allah, Dialah Yang Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”Allah yang lebih mengetahui apa yang maslahat bagi kita dan apa yang mudhorot bagi kita.Allah mengatakan,(أَلَا یَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِیفُ ٱلۡخَبِیرُ)[Surat Al-Mulk 14]“Bukankah Yang Menciptakan, Dialah Yang Mengetahui? Dan Dialah Yang Maha Lembut dan Mengetahui.”Syari’at Allah adalah syari’at yang bijaksana. Syari’at Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah khusus untuk umatnya. Adapun syari’at Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam maka untuk seluruh manusia, sesuai untuk semua tempat dan zaman. Kewajiban seorang muslim adalah meyakini bahwa petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya lebih sempurna daripada petunjuk dari selain Allah dan Rasul-Nya.Di dalam Al-Qur’an, ketika Allah menyebutkan tentang ayat warisan, Allah berfirman,یُوصِیكُمُ ٱللَّهُ فِیۤ أَوۡلَـٰدِكُمۡۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَیَیۡنِۚ[Surat An-Nisa’ 11]“Allah mewasiatkan kepada kalian dalam perkara anak-anak kalian, laki-laki mendapat dua bagian wanita.”Allah menyebutkan di dalam ayat ini tentang beberapa hal yang berkaitan dengan hukum waris, seperti bagian anak laki-laki, bagian anak wanita, bagian seorang ibu apabila ada anaknya, dll. Ini semua adalah ketentuan dari Allah Azza wa Jalla.Kemudian Allah mengatakan,ءَابَاۤؤُكُمۡ وَأَبۡنَاۤؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَیُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعࣰاۚ فَرِیضَةࣰ مِّنَ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیمًا حَكِیمࣰا[Surat An-Nisa’ 11]“Bapak-bapak kalian dan anak-anak kalian, kalian tidak tahu siapa diantara mereka yang lebih manfaatnya daripada kalian, sebagai kewajiban dari Allah. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”Kewajiban kita membagi harta warisan sesuai dengan ketentuan Allah, bukan dengan adat istiadat manusia.2. Kemudian Syeikh mengatakan,أو أنَّ حُكْمَ غيرِه أحسَنُ مِن حُكْمِه“Atau dia meyakini bahwa hukum atau keputusan selain Beliau lebih baik daripada hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.”Poin yang ke dua ini adalah termasuk pembatal keislaman yang ke empat, yaitu meyakini bahwa hukum selain Beliau lebih baik daripada hukum Beliau.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah. Tugas Beliau menyampaikan hukum Allah. Hukum yang datang dari Beliau adalah hukum Allah.Allah berkata,(إِنَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَیۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَاۤ أَرَىٰكَ ٱللَّهُۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَاۤىِٕنِینَ خَصِیمࣰا)[Surat An-Nisa’ 105]“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Al Qur’an dengan haq, supaya engkau menghukumi diantara manusia dengan apa yang Allah perlihatkan kepadamu. Dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat.”Dan hukum Allah adalah sebaik-baik hukum. Allah berfirman,(أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَـٰهِلِیَّةِ یَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمࣰا لِّقَوۡمࣲ یُوقِنُونَ)[Surat Al-Ma’idah 50]“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.”Yang berhak memberikan hukum-hukum tersebut untuk kita hanyalah Allah.إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ[Surat Yusuf 40]“Tidaklah hukum kecuali untuk Allah.”Berhukum dengan hukum Allah adalah kewajiban. Allah berfirman,(فَلَا وَرَبِّكَ لَا یُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ یُحَكِّمُوكَ فِیمَا شَجَرَ بَیۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا یَجِدُوا۟ فِیۤ أَنفُسِهِمۡ حَرَجࣰا مِّمَّا قَضَیۡتَ وَیُسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمࣰا)[Surat An-Nisa’ 65]“Tidak, Demi Rabb-mu. Mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau sebagai hakim di dalam apa yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapatkan di dalam hati mereka rasa berat, dan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan.”Allah bersumpah dengan dirinya sendiri bahwa mereka tidak beriman sampai berhukum dengan hukum Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dan di dalam batinnya dia ridho dan tidak merasa berat.Ini menunjukkan bahwa berhukum dengan hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ridho dengannya adalah sebuah kewajiban.Apabila ada seseorang yang meyakini bahwa keputusan atau hukum selain Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada keputusan atau hukum Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka keyakinan tersebut telah membatalkan keislamannya.Orang munafik dahulu tidak mau berhukum kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencari hukum selain Beliau dalam memutuskan perselisihan mereka. Berhukum dengan selain hukum Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah diantara sifat orang-orang munafik.Di dalam sebuah ayat Allah mengatakan,(أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِینَ یَزۡعُمُونَ أَنَّهُمۡ ءَامَنُوا۟ بِمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡكَ وَمَاۤ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ یُرِیدُونَ أَن یَتَحَاكَمُوۤا۟ إِلَى ٱلطَّـٰغُوتِ وَقَدۡ أُمِرُوۤا۟ أَن یَكۡفُرُوا۟ بِهِۦۖ وَیُرِیدُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ أَن یُضِلَّهُمۡ ضَلَـٰلَۢا بَعِیدࣰا)[Surat An-Nisa’ 60]“Tidaklah engkau Muhammad memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, tetapi mereka masih menginginkan berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.”Kemudian beliau mengatakan,كالذين يُفَضِّلون حُكْمَ الطَّواغيتِ على حُكْمِه“Seperti orang yang mengutamakan hukum thaghut lebih baik daripada hukum Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.”Hukum thaghut adalah hukum-hukum yang dibuat oleh manusia. Kalau diyakini itu sama dengan hukum Allah atau lebih baik daripada hukum Allah, maka pelakunya keluar dari agama Islam. Tapi kalau dia berhukum dengan hukum tersebut karena sebab dunia, seperti harta dan jabatan, namun di dalam hatinya meyakini hukum Allah lebih baik, maka dia fasik, tidak keluar dari agama Islam.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HALAQAH 63

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 63Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPenjelasan Umum Bab (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.​Penulis Kitab: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:​قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائرArtinya:​“Bab bahwasanya atau apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir (dosa-dosa besar).”Definisi Bid'ah Secara Syariat. Definisi ini diambil dari ucapan Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullāh di dalam kitab beliau Al-I’tisham:​عبارة عن : طريقة في الدين مخترعة ، تضاه الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالىArtinya:​“Bid’ah adalah sebuah jalan di dalam agama, sebuah cara yang baru (dibuat-buat), yang menyerupai syariat, yang dimaksudkan dengan menempuh jalan tersebut adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.”​​Jalan di dalam agama (طريقة في الدين - Tharīqah Fīd Dīn) maksudnya adalah menunjukkan bahwa bid'ah hanya berkaitan dengan urusan agama/ibadah. Urusan dunia (seperti listrik, mikrofon, internet, dll.) tidak termasuk dalam pembahasan ini (bukan bid'ah syar'i).​Sesuai hal yang baru/dibuat-buat (مخترعة - Mukhtara’ah), yaitu sesuatu yang baru dan tidak pernah diajarkan oleh agama Islam yang murni (tidak memiliki dalil di dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah). Menyerupai Syariat (تضاهي الشرعية - Tudhahiyas Syar’iyyah), yaitu tampilannya mirip dengan syariat sehingga orang awam/jahil menyangkanya sebagai bagian dari agama.​Contoh: Syariat menganjurkan dzikir berbilang (seperti tasbih 33x setelah shalat). Lalu, ada orang membuat aturan baru dengan mengganti jumlah atau waktunya tanpa dalil (misalnya: membaca Laa ilaha illallah 1000x di pertengahan malam). Lafadznya benar, tapi tata cara aturan jumlah dan waktunya mirip syariat padahal tidak ada dalil shahihnya. ​Tujuan Berlebih-lebihan dalam Ibadah (يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالى), tujuan dibuatnya jalan baru ini adalah untuk Al-Mubalaghah (berlebih-lebihan/ingin mendapat nilai lebih/ghuluw) dalam beribadah kepada Allah.​Perbedaan Bid'ah Secara Bahasa vs Syariat​Secara Bahasa: Segala sesuatu hal yang baru (termasuk teknologi seperti listrik dan internet).​Secara Syariat: Khusus berkaitan dengan urusan agama dan ibadah yang baru, yang dilakukan dengan tujuan untuk mendekatkan diri (ta'abbud) kepada Allah.KesimpulanBid'ah yang dicela dalam agama (syariat) hanyalah hal-hal baru yang berkaitan dengan urusan agama dan ibadah saja, sedangkan inovasi urusan duniawi (teknologi/fasilitas) tidak termasuk bid'ah syar'i.Bahaya bid'ah terletak pada sifatnya yang menyerupai syariat (Tudhahiyas Syar'iyyah), sehingga dapat mengelabui orang awam yang menyangka amalan baru tersebut sebagai bagian resmi dari tuntunan agama.Hakikat bid'ah didorong oleh motivasi ingin berlebih-lebihan (Al-Mubalaghah) dalam ibadah, namun dengan cara yang keliru karena tidak berlandaskan dalil shahih dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر“Bab bahwasanya atau apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir”Yang dimaksud dengan bid’ah, sebagaimana diucapkan oleh Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullāh di dalam kitāb beliau Al-I’tisam, beliau menyebutkan yang dimaksud dengan bid’ah adalah:طريقة في الدين مخترعة ، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالىعبارة عن : طريقة في الدين مخترعة ، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالىBid’ah adalah sebuah jalan di dalam agama, sebuah cara.Ucapan beliau “di dalam agama”, keluar darinya jalan di dalam urusan dunia. Masalah dunia, masalah listrik, masalah mikrofon, internet dan lain-lain, ini bukan pembahasan kita.Tharīqah Fīd Dīn (طريقة في الدين) sebuah jalan di dalam agama (di dalam ibadah).Mukhtara’ah (مخترعة) dan dia adalah sesuatu yang baru (tidak pernah diajarkan oleh agama Islām yang murni). Tidak ada dalīlnya di dalam Al-Qur’ān, tidak ada dalīlnya di dalam As-Sunnah.Tudhahiyas Syar’iyyah (تضاهي الشرعية) dan dia menyerupai sesuatu yang masyru’ (sesuatu yang disyari’atkan), sehingga orang yang jahil karena dia adalah Tudhahiy (تضاهي), karena dia menyerupai sesuatu yang disyari’atkan, menyangka bahwasanya itu bagian dari agama.Di dalam agama kita ada disyari’atkan seseorang untuk memperbanyak dzikir, kemudian ada orang yang membuat tata cara beribadah, yang secara dhahir seakan-akan dia adalah sesuatu yang disyari’atkan.“Antum membaca (لا إله إلا اللّٰه) misalnya 1000 kali”Hampir mirip dengan syari’at.Darimana?Dari lafadznya, kemudian di situ juga disebutkan ketentuan jumlahnya. Karena terkadang di dalam hadīts, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan jumlah.Membaca tasbih 33 kali (setelah shalat) tahmid 33 kali dan takbir 33 kali (disebutkan di situ jumlahnya).Ada sebagian orang mendatangkan lafadznya, kemudian mendatangkan jumlahnya, tapi dia ganti bilangannya, diganti waktunya.Kalau tadi setelah shalat, dia tambah,“Coba antum membaca (لا إله إلا اللّٰه) 1000 kali setelah pertengahan malam”Orang jahil mendengar seperti ini dia menyangka ini adalah bagian dari syari’at, karena mirip lafadznya dan di situ disebutkan tentang jumlahnya.Tudhahiyas Syar’iyyah (تضاهي الشرعية) dia serupa dengan syari’at atau mirip dengan syari’at, tetapi tidak memiliki dalīl yang shahīh di dalam agama ini.…يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالى“Dimaksudkan menempuh jalan ini (yaitu menempuh tharīqah ini, menempuh cara ini) tujuannya adalah untuk Al-Mubalaghah (المبالغة) berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allāh, ingin lebih dan ingin ghuluw di dalam beribadah kepada Allāh,”Jadi tujuan dibuatnya jalan ini, atau jalan yang baru ini, adalah ingin tambah di dalam beribadah kepada Allāh.Itu adalah pengertian bid’ah secara syari’at.Adapun secara bahasa, jelas bahwasanya bid’ah ini adalah sesuatu yang baru.Segala sesuatu yang baru dinamakan dengan bid’ah.Maka listrik bid’ah menurut bahasa, internet bid’ah menurut bahasa.Adapun secara syari’at, maka hanya berkaitan dengan agama, berkaitan dengan ibadah, ditempuh jalan tadi dengan tujuan untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Itu adalah pengertian bid’ah secara syari’at.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →