🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI11 jam lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,ثُمَّ صَارَ هَذَا الْأَصْلُ لَا يُعْرَفُ عِنْدَ أَكْثَرِ مَنْ يَدَّعِيْ الْعِلْمَ فَكَيْفَ الْعَمَلُ بِهKemudian berlalulah masa, sehingga perkara ini tidak diketahui oleh sebagian besar orang yang mengaku berilmu, apalagi beramal dengan perkara ini.Dengan berlalunya waktu dan umat Islam tertimpa dengan kejahilan, dengan syubhat, dengan syahwat, sehingga perkara ini, yaitu pentingnya taat kepada pemerintah dan penguasa tidak diketahui oleh sebagian besar orang yang mengaku memiliki ilmu.Maka bagaimana dengan beramal dengannya? Kalau mengetahui saja tidak, apalagi mengamalkan perkara ini.Dan ini yang terjadi di zaman beliau rahimahullah, demikian pula di zaman kita, banyak orang yang mengaku berilmu, memiliki kecerdasan akan tetapi di dalam masalah ketaatan kepada waliyul amr (ketaatan kepada pemerintah, kepada penguasa) ternyata mereka jauh dari tuntunan agama, bahkan menganggap bahwasanya memberontak kepada pemerintah, membicarakan kejelekan pemerintah disebut sebagai sebuah keberanian atau dipolesi dengan amar ma’ruf nahi munkar.Dianggap ini adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.Dan mereka menganggap bahwasanya orang yang mendengar dan taat kepada pemerintah dianggap sebagai seorang yang pengecut, dianggap sebagai seorang yang mencari muka di hadapan penguasa. Maka ini adalah semuanya karena seseorang tidak mengetahui tentang pentingnya mendengar dan taat kepada pemerintah.Dan bukan berarti mendengar dan taat kepada pemerintah kemudian kita tidak memberikan nasihat. Di dalam Islam, nasihat diperuntukan bagi rakyat biasa, demikian pula kepada pemerintah kaum muslimin.Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“Agama ini adalah nasihat. Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, untuk siapa?”للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْBeliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan,وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“Nasehat bagi pemerintah kaum muslimin demikian pula orang-orang yang awam diantara mereka.”(Hadits shahih riwayat Muslim nomor 55)Dan bahwasanya menasihati pemerintah harus memiliki adab yang baik.Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,مَن أرادَ أن يَنصَحَ لِذي سُلطانٍ فلا يُبْدِ لهُ عَلانيةً ولِيأخذُ بيدِهِ فإن قبلَ منهُ فذاكَ وإلَّا قد أدَّى ما عليهِ“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menasihati kepada pemerintah (penguasa) maka janganlah menampakkan nasihat tersebut.”Artinya jangan sampai menasihati seorang penguasa dan seorang pemerintah di depan khalayak ramai (di depan orang banyak).“Dan hendaklah mengambil tangannya (dan hendaklah berkhalwat dengannya).”Artinya bersendirian, tidak dilihat oleh rakyatnya, tidak didengar oleh rakyatnya, tetapi nasihat tersebut adalah nasihat secara pribadi antara dirinya dengan penguasa tersebut.Karena seorang penguasa dan pemerintah ini memiliki wibawa di depan rakyatnya, di depan bawahannya. Apabila seseorang menasehati pemerintah, menyebutkan kesalahannya diantara rakyatnya atau di depan rakyatnya tentunya ini akan menimbulkan perkara yang tidak baik. Wibawa seorang pemerintah menjadi turun, dan apabila turun maka rakyat akan enggan untuk mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut.Dan kalau mereka tidak mau mendengar, tidak mau mentaati, maka yang terjadi adalah kerusakan di sebuah daerah.“Apabila diterima nasihatnya, maka itulah yang kita inginkan. Kalau tidak diterima maka dia telah melakukan kewajibannya.”Artinya apabila diterima nasihat kita maka itulah yang kita inginkan, kebaikan bagi penguasa adalah kebaikan bagi rakyatnya.Tapi kalau tidak diterima oleh pemerintah tersebut (oleh penguasa tersebut) maka kita sudah melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang muslim, sebagai seorang rakyat, yaitu memberikan nasihat kepada pemerintah dan penguasa kita. Adapun dia tidak menerima nasihat kita, maka ini urusan dia dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ini adalah petunjuk Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam menasihati pemerintah, bukan menunjukkan kesalahan pemerintah dan mengobralnya di depan umum ketika khutbah-khutbah, ketika ceramah-ceramah, maka ini semua melanggar petunjuk Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 jam lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 88 | Celakalah Orang yang Membantah Allāh ﷻ dalam Masalah Takdir

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāhالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاMaka celaka binasa orang yang di dalam masalah takdir dia menjadi orang yang membantah Allāh.Celaka orang yang membantah Allāh dalam masalah takdir seperti yang sudah berlalu. Dia mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ mengatakan demikian? Kenapa Allāh mentakdirkan seperti ini? Kenapa Allāh ﷻ seperti ini?لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ“Allāh tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, merekalah yang akan ditanya.”Kalau dia masih bertanya seperti itu dan dia membantah Allāh ﷻ dengan mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian? Kenapa Allāh menyesatkan si fulan? Kenapa Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada si Fulan. Orang yang demikian celaka, binasa, karena Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.Kewajiban seorang hamba hanyalah meyakini bahwa Allāh ﷻ tidak melakukan semua ini kecuali dengan hikmah. Allāh ﷻ tidak mungkin bertindak zalim. Itu yang harus ada di dalam hati seseorang. Pasti dalam apa yang Allāh ﷻ lakukan, apapun itu, pasti ada hikmahnya. Allāh ﷻ tentunya tidak sama dengan makhluk. Allāh ﷻ melakukan segala sesuatu dengan hikmah. Di antara nama Allāh ﷻ adalah al-Ḥakīm.Seseorang mendapatkan hidayah karena memang dia berhak untuk mendapatkan hidayah. Seseorang sesat karena dia memang berhak untuk mendapatkan kesesatan tersebut. Mungkin kita yang belum memahami, tapi Allāh ﷻ tidak melakukan itu kecuali dengan hikmah. Tidak mungkin Allāh ﷻ berbuat zalim. Allāh ﷻ memberikan hidayah itu adalah karunia-Nya, dan Allāh ﷻ menyesatkan itu adalah keadilan dari Allāh ﷻ. Makaفَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاcelaka orang yang membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir.Berimanlah dengan takdir, pasrahlah dengan apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan. Dan pasrah di sini bukan berarti seseorang tidak mengambil sebab, tapi seseorang menyadari bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Orang yang mengambil sebab itu bukan berarti dia membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan.Membantah itu seperti orang yang mengatakan tadi, “Kenapa Allāh?” Itu membantah. Namun, kalau seseorang meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, dan dia menyadari bahwa Allāh ﷻ memerintahkan dia untuk mencari rezeki, memerintahkan dia untuk beramal shalih, kemudian dia beramal shalih, maka ini bukan berarti dia menentang takdir Allāh ﷻ. Sudah berlalu bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia ditakdirkan untuknya.وأَحْضَرَ لِلنَّظَرِ فِيِهِ قَلْبًا سَقِيمًاCelaka orang yang ketika memikirkan takdir, dia mendatangkan hati yang rusak, hati yang berpenyakit, hati yang berprasangka buruk kepada Allāh ﷻ, bahwasanya Allāh zalim, Allāh ﷻ tidak adil, dan seterusnya. Dia memahami takdir dengan hati yang rusak. Maka, celaka orang yang demikian, yaitu memikirkan dan beriman kepada takdir Allāh ﷻ, tetapi dengan hati yang rusak.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاOrang yang memikirkan tentang masalah takdir dengan hati yang rusak, kalau hatinya bersih, maka dia akan memikirkan takdir Allāh ﷻ sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ gariskan. Itulah hati yang bersih. Husnudzhan, beriman bahwa semuanya sudah ditentukan, dan dia menyadari bahwasanya kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kalau terjadi sesuatu maka tidak boleh kita menggerutu dan mengatakanقَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَIni hati yang bersih, tetapi kalau hati yang kotor tidak demikian. Di dalamnya penuh dengan su’udzon kepada Allāh.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاSungguh, orang yang membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan, dia telah mencari-cari dengan persangkaannya dalam membongkar perkara yang ghaib rahasia Allāh yang tersembunyi.Bagaimana seseorang bisa membongkar apa yang Allāh ﷻ rahasiakan? Makhluk yang lemah, bagaimana dia bisa membongkar rahasia yang Allāh ﷻ sembunyikan? Karena sebagaimana telah berlalu, takdir ini adalahسِرُّ اللَّهِ فِي خَلْقِهِini adalah rahasia Allāh ﷻ yang ada pada diri makhluk-makhluk-Nya. Tidak mungkin kita bisa membongkar apa yang sudah Allāh ﷻ rahasiakan. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ pada makhluk-makhluk-Nya. Yang kita bisa lakukan adalah berusaha mengambil sebab sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan.وَعَادَ بِمَا قَالَ فِيهِ أَفَّاكًا أَثِيْمًاOrang yang berusaha memahami takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, beriman dengan takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, pasti dia akan kembali sebagai pendusta, dan dia adalah orang yang berdosa.Kalau seseorang memahami takdir Allāh ﷻ bukan dengan cara yang dibenarkan, maka dia adalah pendusta. Apa yang dia ucapkan itu adalah dusta, tidak sesuai dengan kenyataan.Demikian pula dia akan berdosa dengan sebab apa yang dia lakukan, karena dia berusaha untuk membongkar rahasia Allāh ﷻ, rahasia Allāh ﷻ yang tidak mungkin dibongkar. Itu bukan ranahnya, tapi dia berusaha untuk membongkarnya, membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir-Nya.Maka ini adalah paragraf penutup dari apa yang beliau sampaikan tentang masalah takdir. Beliau tutup dengan perkataan, “Celaka bagi orang yang menjadi pembantah terhadap Allāh ﷻ dalam takdir-Nya, dia memikirkan tentang takdir Allāh ﷻ dengan hati yang rusak, dengan hati yang berpenyakit.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 jam lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman dengan Takdir Allah Halaqah 13

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dua Macam Iradah atau Keinginan Allah azza wajalla”.Diantara perkara yang penting dipahami oleh setiap muslim di dalam masalah beriman dengan takdir Allah bahwa Iradah atau keinginan Allah ada dua macam:1. Iradah Kauniyah QodariyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan kejadian-kejadian yang ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla, seperti:– Keinginan Allah menciptakan manusia dan hewan– Menciptakan orang yang taat dan orang yang berbuat maksiat– Menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain.Dalil Iradah Kauniyah Qadariyyah diantaranya adalah firman Allah azza wajalla,إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ[QS Ya-Sin 82]“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah’, maka jadilah dia.”Dan Allah berfirman,… إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ[QS Al-Hajj 14]“Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia inginkan.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ…[QS Al-An’am 125]“Barangsiapa yang Allah inginkan untuk diberi hidayah maka Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam dan barangsiapa yang Allah inginkan untuk disesatkan maka Allah akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seperti ketika dia berusaha naik ke atas.”Dan Masyiah Allah atau Kehendak Allah yang disebutkan di dalam halaqah yang ke-7 adalah nama lain dari Iradah Kauniah Qadariyyah.2. Iradah Syar’iyyah DiniyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan syari’at agama yang Allah turunkan.Allah Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia mengikuti syari’at-Nya dan agama-Nya, menginginkan mereka menjalankan perintah Allah, dan menginginkan mereka meninggalkan larangan Allah.Dalil Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya adalah firman Allah azza wa jalla,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا[QS Al-Ahzab 33]“Sesungguhnya Allah hanya menginginkan untuk menghilangkan kotoran dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian dari dosa dengan sebenar-benarnya.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ…[Surat An-Nisa’ 27]“Dan Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian.”Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ Beliau bersabda,يقول الله تعالى : لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ : لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ ” ، فَيَقُولُ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : ” أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا ، وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ ، أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا ، فَأَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تُشْرِكَ بِي ”“Allah Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada penduduk neraka yang paling ringan adzabnya di hari kiamat, ‘Seandainya engkau memiliki seluruh apa yang ada di bumi apakah engkau akan menebus dengannya?’Maka dia berkata, ‘Iya’.Maka Allah berkata, ‘Aku menginginkan darimu yang lebih ringan daripada ini, sedangkan engkau saat itu berada di dalam sulbi Adam, yaitu supaya engkau tidak menyekutukan Aku sedikitpun, maka engkau pun enggan, kecuali menyekutukan diri-Ku’ ” [HR Al Bukhari dan Muslim]

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI13 jam lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 13 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 01)

Mengenal Allah ﷻ (Ma’rifatullah)1. Tiga Landasan Utama yang Wajib DiketahuiApabila ditanya:“Apa tiga landasan utama yang wajib diketahui manusia?”Jawabannya:Mengenal Allah (Ma’rifatullah)Mengenal agama Islam (Ma’rifatud Din)Mengenal Nabi Muhammad ﷺ (Ma’rifatur Rasul)Ketiga landasan ini sangat penting karena:Allah adalah Rabb yang disembah.Islam adalah jalan beribadah kepada Allah.Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan yang mengajarkan cara beribadah yang benar.2. Landasan Pertama: Mengenal Allah ﷻPertanyaan Penting“Siapakah Rabbmu?”Jawaban:“Rabbku adalah Allah yang telah memeliharaku dan memelihara seluruh alam dengan berbagai nikmat-Nya. Dia adalah sesembahanku, dan aku tidak memiliki sesembahan selain-Nya.”3. Metode Belajar dalam IslamSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menggunakan metode tanya jawab.Metode ini juga digunakan Rasulullah ﷺ.Contohnya ketika Malaikat Jibril datang dalam rupa manusia lalu bertanya tentang:IslamImanIhsanHari KiamatTanda-tanda KiamatTujuannya:Menarik perhatian pelajar.Memudahkan pemahaman.Membantu mengingat ilmu.4. Makna RabbRabb adalah salah satu nama Allah yang mengandung banyak makna.Di antaranya:a. Al-Malik (المالك)Pemilik dan Penguasa segala sesuatu.b. Al-Mudabbir (المدبر)Pengatur seluruh alam semesta.c. Al-Mushlih (المصلح)Yang memperbaiki dan mengurus makhluk-Nya.5. Makna Tarbiyah AllahKata Rabbani berasal dari tarbiyah (pemeliharaan).Bentuk pemeliharaan Allah meliputi:MenciptakanMemberi rezekiMengatur kehidupanMemberi nikmatMenghidupkanMematikanMenjaga seluruh makhlukAllah tidak hanya memelihara manusia, tetapi seluruh alam semesta.6. Allah Satu-Satunya yang Berhak DisembahKalimat:“Dia adalah sesembahanku dan aku tidak memiliki sesembahan selain-Nya.”Mengandung makna:Tauhid RububiyahMeyakini bahwa Allah satu-satunya:PenciptaPemberi rezekiPengatur alamTauhid UluhiyahMengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah.Contohnya:Shalat hanya untuk Allah.Doa hanya kepada Allah.Tawakal hanya kepada Allah.Nadzar hanya untuk Allah.Penyembelihan hanya untuk Allah.Tidak boleh memberikan sedikit pun ibadah kepada selain Allah.7. Dalil dari Al-Qur’anSurat Al-Fatihah Ayat 2الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.”Ayat ini menunjukkan bahwa:Allah adalah Rabb seluruh makhluk.Semua nikmat berasal dari Allah.Semua pujian hanya pantas bagi Allah.8. Makna Alam (العالم)Segala sesuatu selain Allah disebut alam.Yang termasuk alam:Alam ManusiaSeluruh manusia dari Nabi Adam hingga manusia terakhir.Alam HewanSemua jenis hewan.Alam TumbuhanSemua tumbuh-tumbuhan.Alam MalaikatSeluruh malaikat.Alam JinSeluruh bangsa jin.Alam Langit dan BumiPlanet, bintang, gunung, lautan, dan lainnya.Semuanya adalah makhluk Allah.9. Siapa Kita?Syaikh mengatakan:“Segala sesuatu selain Allah adalah alam, dan aku termasuk salah satu dari alam tersebut.”Artinya:Kita adalah makhluk.Kita membutuhkan Allah.Kita tidak memiliki kekuasaan apa pun tanpa izin Allah.Allah adalah Rabb kita.Poin-Poin Penting untuk DihafalTiga Landasan UtamaMengenal Allah.Mengenal Islam.Mengenal Nabi Muhammad ﷺ.Siapa Rabbmu?Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh alam.Makna RabbPemilik.Pengatur.Pemelihara.Tauhid yang WajibTauhid Rububiyah.Tauhid Uluhiyah.DalilQS. Al-Fatihah: 2الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَMakna AlamSegala sesuatu selain Allah adalah makhluk.Kesimpulan UtamaAllah adalah Rabb seluruh alam yang menciptakan, memelihara, memberi rezeki, dan mengatur seluruh makhluk. Karena itu, seluruh bentuk ibadah wajib ditujukan hanya kepada Allah semata.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 jam lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat (Bagian 2)

HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat, Bagian 2:🌿 RANGKUMAN: AMALAN-AMALAN MALAIKATDi antara orang-orang yang didoakan secara khusus oleh para malaikat adalah:1. Orang yang berada di saf pertama ketika shalat berjamaahAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang-orang yang berada di saf-saf pertama.2. Orang yang menyambung saf dan menutup celah di antara safAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang yang menyambung saf. Orang yang menutup celah dalam saf akan diangkat derajatnya oleh Allah satu derajat.3. Orang yang berselawat kepada Nabi ﷺTidaklah seorang muslim berselawat kepada Nabi ﷺ, kecuali para malaikat juga berselawat untuknya selama ia terus berselawat kepada Nabi ﷺ. Karena itu, hendaknya kita memperbanyak selawat kepada beliau.4. Orang yang berinfak di jalan AllahSetiap pagi, dua malaikat turun. Salah satunya berdoa:"Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak."Sedangkan yang lain berdoa:"Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang menahan (infak yang disyariatkan)."Infak yang dimaksud mencakup infak dalam ketaatan yang wajib maupun sunnah, nafkah keluarga, menjamu tamu, dan yang semisalnya.5. Orang yang sahurAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang-orang yang sahur.✨ Pelajaran penting:Mari memperbanyak amalan yang mendatangkan doa dan selawat dari para malaikat: menjaga saf, menyempurnakan saf, memperbanyak selawat kepada Nabi ﷺ, gemar berinfak, dan melaksanakan sahur.Sumber: HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Malaikat, Halaqah 13.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI14 jam lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 13: Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ

Halaqah 13:Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Diantara perkara yang penting dipahami oleh setiap muslim di dalam masalah beriman dengan takdir Allah bahwa Iradah atau keinginan Allah ada dua macam:1. Iradah Kauniyah QodariyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan kejadian-kejadian yang ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla, seperti:• Keinginan Allah menciptakan manusia dan hewan• Menciptakan orang yang taat dan orang yang berbuat maksiat• Menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain.Dalil Iradah Kauniyah Qadariyyah diantaranya adalah firman Allah azza wajalla:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah’, maka jadilah dia.” (QS. Ya-Sin: 82)Dan Allah berfirman:… إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ“Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia inginkan.”(QS. Al-Hajj: 14)Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ…“Barangsiapa yang Allah inginkan untuk diberi hidayah maka Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam dan barangsiapa yang Allah inginkan untuk disesatkan maka Allah akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seperti ketika dia berusaha naik ke atas.” (QS. Al-An’am: 125)Dan Masyiah Allah atau Kehendak Allah yang disebutkan di dalam halaqah yang ke-7 adalah nama lain dari Iradah Kauniah Qadariyyah.2. Iradah Syar’iyyah DiniyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan syari’at agama yang Allah turunkan.Allah Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia mengikuti syari’at-Nya dan agama-Nya, menginginkan mereka menjalankan perintah Allah, dan menginginkan mereka meninggalkan larangan Allah.Dalil Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya adalah firman Allah azza wa jalla,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“Sesungguhnya Allah hanya menginginkan untuk menghilangkan kotoran dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian dari dosa dengan sebenar-benarnya.”(QS. Al-Ahzab: 33)Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ…“Dan Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian.”(QS. An-Nisa’: 27)Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ Beliau bersabda,يقول الله تعالى : لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ : لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ ” ، فَيَقُولُ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : ” أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا ، وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ ، أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا ، فَأَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تُشْرِكَ بِي ”“Allah Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada penduduk neraka yang paling ringan adzabnya di hari kiamat, ‘Seandainya engkau memiliki seluruh apa yang ada di bumi apakah engkau akan menebus dengannya?’Maka dia berkata, ‘Iya’.Maka Allah berkata, ‘Aku menginginkan darimu yang lebih ringan daripada ini, sedangkan engkau saat itu berada di dalam sulbi Adam, yaitu supaya engkau tidak menyekutukan Aku sedikitpun, maka engkau pun enggan, kecuali menyekutukan diri-Ku’ ” (HR. Al Bukhari dan Muslim)@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI21 jam lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 88

Halaqah 88 | Celakalah Orang yang Membantah Allāh ﷻ dalam Masalah TakdirKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاMaka celaka binasa orang yang di dalam masalah takdir dia menjadi orang yang membantah Allāh.Celaka orang yang membantah Allāh dalam masalah takdir seperti yang sudah berlalu. Dia mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ mengatakan demikian? Kenapa Allāh mentakdirkan seperti ini? Kenapa Allāh ﷻ seperti ini?لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ“Allāh tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, merekalah yang akan ditanya.”Kalau dia masih bertanya seperti itu dan dia membantah Allāh ﷻ dengan mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian? Kenapa Allāh menyesatkan si fulan? Kenapa Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada si Fulan. Orang yang demikian celaka, binasa, karena Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.Kewajiban seorang hamba hanyalah meyakini bahwa Allāh ﷻ tidak melakukan semua ini kecuali dengan hikmah. Allāh ﷻ tidak mungkin bertindak zalim. Itu yang harus ada di dalam hati seseorang. Pasti dalam apa yang Allāh ﷻ lakukan, apapun itu, pasti ada hikmahnya. Allāh ﷻ tentunya tidak sama dengan makhluk. Allāh ﷻ melakukan segala sesuatu dengan hikmah. Di antara nama Allāh ﷻ adalah al-Ḥakīm.Seseorang mendapatkan hidayah karena memang dia berhak untuk mendapatkan hidayah. Seseorang sesat karena dia memang berhak untuk mendapatkan kesesatan tersebut. Mungkin kita yang belum memahami, tapi Allāh ﷻ tidak melakukan itu kecuali dengan hikmah. Tidak mungkin Allāh ﷻ berbuat zalim. Allāh ﷻ memberikan hidayah itu adalah karunia-Nya, dan Allāh ﷻ menyesatkan itu adalah keadilan dari Allāh ﷻ. Makaفَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاcelaka orang yang membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir.Berimanlah dengan takdir, pasrahlah dengan apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan. Dan pasrah di sini bukan berarti seseorang tidak mengambil sebab, tapi seseorang menyadari bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Orang yang mengambil sebab itu bukan berarti dia membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan.Membantah itu seperti orang yang mengatakan tadi, “Kenapa Allāh?” Itu membantah. Namun, kalau seseorang meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, dan dia menyadari bahwa Allāh ﷻ memerintahkan dia untuk mencari rezeki, memerintahkan dia untuk beramal shalih, kemudian dia beramal shalih, maka ini bukan berarti dia menentang takdir Allāh ﷻ. Sudah berlalu bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia ditakdirkan untuknya.وأَحْضَرَ لِلنَّظَرِ فِيِهِ قَلْبًا سَقِيمًاCelaka orang yang ketika memikirkan takdir, dia mendatangkan hati yang rusak, hati yang berpenyakit, hati yang berprasangka buruk kepada Allāh ﷻ, bahwasanya Allāh zalim, Allāh ﷻ tidak adil, dan seterusnya. Dia memahami takdir dengan hati yang rusak. Maka, celaka orang yang demikian, yaitu memikirkan dan beriman kepada takdir Allāh ﷻ, tetapi dengan hati yang rusak.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاOrang yang memikirkan tentang masalah takdir dengan hati yang rusak, kalau hatinya bersih, maka dia akan memikirkan takdir Allāh ﷻ sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ gariskan. Itulah hati yang bersih. Husnudzhan, beriman bahwa semuanya sudah ditentukan, dan dia menyadari bahwasanya kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kalau terjadi sesuatu maka tidak boleh kita menggerutu dan mengatakanقَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَIni hati yang bersih, tetapi kalau hati yang kotor tidak demikian. Di dalamnya penuh dengan su’udzon kepada Allāh.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاSungguh, orang yang membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan, dia telah mencari-cari dengan persangkaannya dalam membongkar perkara yang ghaib rahasia Allāh yang tersembunyi.Bagaimana seseorang bisa membongkar apa yang Allāh ﷻ rahasiakan? Makhluk yang lemah, bagaimana dia bisa membongkar rahasia yang Allāh ﷻ sembunyikan? Karena sebagaimana telah berlalu, takdir ini adalahسِرُّ اللَّهِ فِي خَلْقِهِini adalah rahasia Allāh ﷻ yang ada pada diri makhluk-makhluk-Nya. Tidak mungkin kita bisa membongkar apa yang sudah Allāh ﷻ rahasiakan. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ pada makhluk-makhluk-Nya. Yang kita bisa lakukan adalah berusaha mengambil sebab sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan.وَعَادَ بِمَا قَالَ فِيهِ أَفَّاكًا أَثِيْمًاOrang yang berusaha memahami takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, beriman dengan takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, pasti dia akan kembali sebagai pendusta, dan dia adalah orang yang berdosa.Kalau seseorang memahami takdir Allāh ﷻ bukan dengan cara yang dibenarkan, maka dia adalah pendusta. Apa yang dia ucapkan itu adalah dusta, tidak sesuai dengan kenyataan.Demikian pula dia akan berdosa dengan sebab apa yang dia lakukan, karena dia berusaha untuk membongkar rahasia Allāh ﷻ, rahasia Allāh ﷻ yang tidak mungkin dibongkar. Itu bukan ranahnya, tapi dia berusaha untuk membongkarnya, membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir-Nya.Maka ini adalah paragraf penutup dari apa yang beliau sampaikan tentang masalah takdir. Beliau tutup dengan perkataan, “Celaka bagi orang yang menjadi pembantah terhadap Allāh ﷻ dalam takdir-Nya, dia memikirkan tentang takdir Allāh ﷻ dengan hati yang rusak, dengan hati yang berpenyakit.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Beriman kepada amalan-amalan malaikat

Ringkasan MateriBeriman kepada amalan-amalan malaikat merupakan bagian dari iman kepada malaikat. Amalan malaikat yang kita ketahui mencakup:Ibadah kepada Allah.Tugas yang berkaitan dengan alam semesta.Tugas yang berkaitan dengan manusia.Di antara bentuk ibadah malaikat:1. Bertasbih kepada AllahMalaikat senantiasa bertasbih, memuji dan menyucikan Allah. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa merasa jemu.Tasbih berarti menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan yang tidak pantas bagi-Nya serta menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah.Di antara ucapan yang paling baik adalah:“Subhanallahi wa bihamdih”2. Mendoakan orang-orang berimanSecara umum, para malaikat mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang beriman. Allah menyebutkan bahwa malaikat mendoakan kaum mukminin agar Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya serta memberikan rahmat kepada mereka.Malaikat juga secara khusus mendoakan orang-orang yang melakukan amal saleh tertentu, di antaranya orang yang mengajarkan kebaikan atau ilmu agama kepada manusia. Bahkan Allah, para malaikat, dan makhluk di langit serta bumi mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan.Malaikat juga mendoakan orang yang menunggu didirikannya shalat dan orang yang berada di tempat shalat setelah menunaikan shalat.Mereka berkata:“Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.”Doa tersebut terus diberikan selama seseorang berada di tempat shalat, belum berhadas, dan belum pergi dari tempat tersebut.✨ Pelajaran pentingMalaikat adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Mereka senantiasa taat dan beribadah kepada Allah. Di antara amalan mereka adalah terus bertasbih serta mendoakan orang-orang beriman dan orang-orang yang melakukan amal saleh.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 12

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Aliran Sesat yang Menyimpang di Dalam Masalah Takdir”.Diantara aliran sesat yang menyimpang di dalam masalah takdir adalah aliran Al Majusiyah, yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Majusi.Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan syari’at, akan tetapi mendustakan takdir Allah.Ada diantara mereka yang mengingkari ilmu Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya.Dan ada diantara mereka yang mengingkari keumuman Masyiah Allah dan penciptaan-Nya. Mereka berkata,“Allah yang mencipta manusia dan manusialah yang menciptakan amalannya sendiri.”Dan mereka berkata,“Bahwa amalan manusia adalah dengan kehendak manusia semata dan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Allah.”Sehingga mereka dinamakan dengan Al-Majusiyah karena orang-orang Majusi meyakini bahwa pencipta ada dua:⑴ Pencipta kebaikan⑵ Pencipta keburukanDan diantara aliran yang sesat di dalam masalah takdir adalah aliran Al Musyrikiyah yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Mereka mengakui takdir Allah tetapi mengingkari syari’at Allah dan tidak mengikutinya.Dinamakan Al Musyrikiyah karena orang-orang Musyrikin mengakui takdir Allah dan tidak mau mengikuti syari’at Allah yang intinya adalah Tauhid.Allah berfirman tentang mereka,سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ…[Surat Al-An’am 148]“Akan berkata (orang-orang Musyrikin) seandainya Allah menghendaki niscaya kita tidak akan berbuat syirik, demikian pula bapak-bapak kami, dan tentunya kami tidak akan mengharamkan sesuatu.”Demikianlah ucapan orang-orang Musyrikin ketika mereka diajak oleh Rasulullah ﷺ untuk bertauhid, mereka menolak tauhid dan beralasan bahwa kesyirikan mereka adalah dengan takdir Allah.Maka setiap orang yang berdalil dengan takdir dalam membolehkan kemaksiatan, pada hakikatnya dia telah mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Adapun Ahlus Sunnah maka seperti yang sudah berlalu, mereka beriman dengan takdir dan beriman dengan syari’at.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 87

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 87 | Pengakuan Terhadap Takdir Merupakan Bentuk Pengesaan Allāh ﷻ dan Rububiyyah-NyaHalaqah 87 | Pengakuan Terhadap Takdir Merupakan Bentuk Pengesaan Allāh ﷻ dan Rububiyyah-NyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-87 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِDan beriman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah bentuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan juga Rubūbiyyah-Nya.Ini termasuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan pengakuan kita terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Kenapa demikian? Karena meyakini bahwasanya Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, ini adalah termasuk bagian dari keimanan kita terhadap Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ).Allāh ﷻ berkuasa untuk mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, Allāh ﷻ berkuasa untuk menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, dan Allāh ﷻ berkuasa untuk menjadikan segala sesuatu di permukaan bumi ini terjadi dengan Masīyyatullāh (kehendak Allāh ﷻ). Allāh ﷻ berkuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang Dia inginkan.Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ itu sama dengan beriman dengan Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ). Makanya sebagian salaf mengatakan, “Al-Qadru Qudratullāh” (Al-Qadr itu adalah kekuasaan Allāh ﷻ). Sehingga barangsiapa yang mengingkari Qadar, mengingkari takdir, maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan orang yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ keluar dari agama Islam.Al-Qadr adalah Qudratullāh. Takdir adalah kekuasaan Allāh ﷻ. Barangsiapa yang mengingkari takdir Allāh ﷻ maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ maka dia telah keluar dari agama Islam. Sehingga beliau mengatakanوَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِberiman dengan takdir ini adalah pengakuan seorang hamba tentang keesaan Allāh ﷻ, pengakuan seorang hamba terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Karena di antara makna Rubūbiyyah adalah al-qudrah, yaitu Allāh ﷻ Maha Memiliki sifat al-qudrah, menguasai segala sesuatu. Itu di antara makna-makna Rubūbiyyah.كَمَا قَالَ تَعَالَىٰSebagaimana Firman Allāh:وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [الفرقان: 2]“Allāh Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Allāh mentakdirkan segala sesuatu dengan sebenar-benarnya.”Ini ada keimanan terhadap takdir Allāh ﷻ dan keimanan bahwasanya segala sesuatu diciptakan oleh Allāh ﷻ dengan takdir.وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا} [الأحزاب: 38]Dan Allāh ﷻ berfirman: “Dan urusan Allāh ﷻ itu adalah takdir yang sudah ditakdirkan.”Semuanya adalah dengan takdir Allāh ﷻ. Ini menunjukkan bahwasanya apa yang terjadi di permukaan bumi ini, itu bukan terjadi secara begitu saja, bukan terjadi tanpa aturan, bukan terjadi tanpa direncanakan, bukan terjadi tanpa diketahui oleh Allāh ﷻ. Itu semua sudah diketahui. Apa yang terjadi di permukaan bumi, apa saja, sekecil apapun itu, sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ semuanya, dan akan terjadi sebagaimana yang Allāh ﷻ tulis.Dan ini bukan berarti bahwasanya seseorang kemudian dia tidak mengambil sebab. Ini sudah kita tekankan berkali-kali. Sebagaimana kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ, maka kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan. Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ dan kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Dua-duanya kita imani. Allāh ﷻ mentakdirkan rezeki dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan kita untuk memberi nafkah, untuk mencari rezeki, untuk bekerja.فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ Apabila sudah selesai shalat Jum’at, maka hendaklah kalian menyebar dipermukaan bumi; dan carilah karunia Allāh ﷻ, bekerjalah, berdaganglahوَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَDan banyak-banyaklah mengingat Allāh ﷻ semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dan Nabi ﷺ bersabda,لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ، فَيَحْمِلُهَا عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَسْتَغْنِيَ بِثَمَنِهَا، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُSungguh salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar (di kebun atau di hutan), kemudian dia bawa satu ikat dari kayu bakar tadi ke pasar, kemudian dia jual, dia mendapatkan uang, itu lebih baik daripada dia meminta-minta kepada manusia baik diberi ataupun tidak diberi.Apa yang kita pahami dari ucapan Nabi ﷺ ini? adalah dorongan kita untuk bekerja. Jangan kita meminta-minta kepada manusia, meskipun meminta itu mungkin dikasih, dan mungkin dikasihnya lebih banyak daripada kita mencari kayu bakar, kemudian kita jual. Tapi yang lebih dicintai oleh Allāh ﷻ adalah kita usaha sendiri, kita bekerja sendiri meskipun hanya sedikit yang kita dapatkan.Para anbiya, mereka bekerja. Para nabi mereka bekerja, padahal siapa yang lebih kuat keimanannya terhadap takdir, kita atau mereka? Tentunya mereka. Tapi lihat, ada di antara mereka yang jadi tukang kayu, ada di antara mereka yang jadi penggembala. Nabi Mūsā ‘alayhis-salām, berapa tahun beliau menggembalakan untuk Shahibul  Madyan? Padahal mereka adalah orang-orang yang sangat beriman dengan takdir Allāh ﷻ. Karena mereka tahu bahwasanya kita ini diperintahkan untuk melakukan dua perkara: beriman dengan takdir dan juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Semua ini sudah ditulis tentang penduduk Surga dan juga penduduk Neraka. Kita iman yang demikian. Dan di dalam syariat kita diperintahkan untuk shalat, kita diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan, kita diperintahkan untuk beriman, kita diperintahkan untuk menuntut ilmu. Kita lakukan apa yang Allāh ﷻ perintahkan. Kita beriman bahwasanya penyakit dan kesembuhan ini sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dan tidak mungkin dirubah, tapi di satu sisi kita disuruh untuk beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk berobat.يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، …، وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ“Wahai hamba-hamba Allāh, berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allāh.”Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’ān bahwa madu ini adalah obat. Al-Qur’ān di dalamnya ada obat. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa habbatus-sauda adalah obat. Tujuannya apa? Supaya kita berobat, supaya kita mengambil sebab. Masalah hasilnya, maka yang menentukan adalah Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk mengambil sebab, dan kita yakin semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ tidak sembuh, ya bagaimanapun kita mencari dokter yang hebat, kita mencari obat yang manjur dan seterusnya, tidak akan sembuh. Tapi kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kita diperintahkan untuk berdoa, kita diperintahkan untuk bersabar, dan seterusnya.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 12: Aliran Sesat Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Takdir

Halaqah 12:Aliran Sesat Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Takdir🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى▪️Aliran Al MajusiyahDiantara aliran sesat yang menyimpang di dalam masalah takdir adalah aliran Al Majusiyah, yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Majusi.Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan syari’at, akan tetapi mendustakan takdir Allah.Ada diantara mereka yang mengingkari ilmu Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya.Dan ada diantara mereka yang mengingkari keumuman Masyiah Allah dan penciptaan-Nya. Mereka berkata,“Allah yang mencipta manusia dan manusialah yang menciptakan amalannya sendiri.”Dan mereka berkata,“Bahwa amalan manusia adalah dengan kehendak manusia semata dan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Allah.”Sehingga mereka dinamakan dengan Al-Majusiyah karena orang-orang Majusi meyakini bahwa pencipta ada dua:⑴ Pencipta kebaikan⑵ Pencipta keburukan▪️Aliran Al MusyrikiyahDan diantara aliran yang sesat di dalam masalah takdir adalah aliran Al Musyrikiyah yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Mereka mengakui takdir Allah tetapi mengingkari syari’at Allah dan tidak mengikutinya.Dinamakan Al Musyrikiyah karena orang-orang Musyrikin mengakui takdir Allah dan tidak mau mengikuti syari’at Allah yang intinya adalah Tauhid.Allah berfirman tentang mereka:سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ…“Akan berkata (orang-orang Musyrikin) seandainya Allah menghendaki niscaya kita tidak akan berbuat syirik, demikian pula bapak-bapak kami, dan tentunya kami tidak akan mengharamkan sesuatu.”(QS. Al-An’am: 148)Demikianlah ucapan orang-orang Musyrikin ketika mereka diajak oleh Rasulullah ﷺ untuk bertauhid, mereka menolak tauhid dan beralasan bahwa kesyirikan mereka adalah dengan takdir Allah.Maka setiap orang yang berdalil dengan takdir dalam membolehkan kemaksiatan, pada hakikatnya dia telah mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Adapun Ahlus Sunnah maka seperti yang sudah berlalu, mereka beriman dengan takdir dan beriman dengan syari’at.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 12 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 12)

Tema: Perintah terbesar dari Allah adalah Tauhid1. Tauhid adalah Perintah Allah yang Paling BesarSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله berkata:وأعظم ما أمر الله به التوحيد وهو إفراد الله بالعبادة“Perintah terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.”Maknanya:Semua perintah syariat sangat penting, seperti shalat, zakat, puasa, sedekah, dan berbakti kepada orang tua.Namun, tauhid adalah perintah yang paling agung dan paling utama dibanding seluruh perintah lainnya.2. Amalan Paling Utama adalah Iman kepada Allah dan Rasul-NyaKetika Rasulullah ﷺ ditanya tentang amalan yang paling utama, beliau menjawab:“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”Ini menunjukkan bahwa:Dasar seluruh amal adalah tauhid dan iman.Amal sebanyak apa pun tidak akan diterima tanpa tauhid.3. Perintah Pertama dalam Al-Qur’an adalah TauhidAllah berfirman:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 21)Pelajaran penting:Ini adalah perintah pertama kepada seluruh manusia dalam Al-Qur’an.Allah tidak memulai dengan perintah shalat atau puasa, tetapi dengan perintah beribadah kepada-Nya.Yang berhak disembah hanyalah Allah karena Dialah yang menciptakan manusia dan seluruh makhluk.Catatan hafalan:Yang menciptakan → yang berhak disembah.Yang tidak menciptakan → tidak berhak disembah.4. Hak Pertama yang Wajib Ditunaikan adalah Hak AllahAllah berfirman:وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa’: 36)Dalam ayat ini Allah menyebutkan berbagai hak:Hak Allah.Hak kedua orang tua.Hak kerabat.Hak anak yatim.Hak orang miskin.Hak tetangga dekat.Hak tetangga jauh.Hak teman sejawat.Hak ibnu sabil.Hak budak/hamba sahaya.Menariknya:Sebelum menyebut hak-hak manusia, Allah mendahulukan hak-Nya, yaitu tauhid dan larangan syirik.5. Wasiat Pertama Allah dalam Al-Qur’an adalah TauhidAllah berfirman:وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ“Rabbmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)Pelajarannya:Sebelum memerintahkan berbakti kepada orang tua, Allah mendahulukan tauhid.Ini menunjukkan bahwa hak Allah lebih besar daripada hak siapa pun.Mengapa Tauhid Menjadi Perintah Terbesar?1. Tujuan Penciptaan ManusiaAllah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya.2. Dakwah Seluruh NabiSemua nabi mengajak umatnya kepada:“Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”3. Amal Tidak Diterima Tanpa TauhidOrang yang rajin beramal tetapi melakukan syirik, amalnya tidak diterima.4. Tauhid Adalah Hak AllahHak terbesar Allah atas hamba-hamba-Nya adalah:Beribadah hanya kepada-Nya.Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Ringkasan Super Singkat (Untuk Hafalan)Definisi Tauhidإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam ibadah.”4 Poin PentingTauhid adalah perintah terbesar Allah.Tauhid adalah amalan paling utama.Perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah tauhid (QS. Al-Baqarah: 21).Hak pertama yang wajib ditunaikan adalah hak Allah, yaitu bertauhid dan menjauhi syirik.Kata Kunci Halaqah 12Tauhid → Perintah Terbesar → Hak Allah yang Pertama → Dasar Seluruh AmalKesimpulanHalaqah ini menegaskan bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar seorang hamba. Semua ibadah, amal saleh, dan ketaatan harus dibangun di atas tauhid. Karena itu, seorang muslim harus mempelajari tauhid, mengamalkannya, serta menjauhi segala bentuk syirik agar amalnya diterima oleh Allah.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 87 | Pengakuan Terhadap Takdir Merupakan Bentuk Pengesaan Allāh ﷻ dan Rububiyyah-Nya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-87 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِDan beriman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah bentuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan juga Rubūbiyyah-Nya.Ini termasuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan pengakuan kita terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Kenapa demikian? Karena meyakini bahwasanya Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, ini adalah termasuk bagian dari keimanan kita terhadap Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ).Allāh ﷻ berkuasa untuk mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, Allāh ﷻ berkuasa untuk menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, dan Allāh ﷻ berkuasa untuk menjadikan segala sesuatu di permukaan bumi ini terjadi dengan Masīyyatullāh (kehendak Allāh ﷻ). Allāh ﷻ berkuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang Dia inginkan.Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ itu sama dengan beriman dengan Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ). Makanya sebagian salaf mengatakan, “Al-Qadru Qudratullāh” (Al-Qadr itu adalah kekuasaan Allāh ﷻ). Sehingga barangsiapa yang mengingkari Qadar, mengingkari takdir, maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan orang yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ keluar dari agama Islam.Al-Qadr adalah Qudratullāh. Takdir adalah kekuasaan Allāh ﷻ. Barangsiapa yang mengingkari takdir Allāh ﷻ maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ maka dia telah keluar dari agama Islam. Sehingga beliau mengatakanوَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِberiman dengan takdir ini adalah pengakuan seorang hamba tentang keesaan Allāh ﷻ, pengakuan seorang hamba terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Karena di antara makna Rubūbiyyah adalah al-qudrah, yaitu Allāh ﷻ Maha Memiliki sifat al-qudrah, menguasai segala sesuatu. Itu di antara makna-makna Rubūbiyyah.كَمَا قَالَ تَعَالَىٰSebagaimana Firman Allāh:وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [الفرقان: 2]“Allāh Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Allāh mentakdirkan segala sesuatu dengan sebenar-benarnya.”Ini ada keimanan terhadap takdir Allāh ﷻ dan keimanan bahwasanya segala sesuatu diciptakan oleh Allāh ﷻ dengan takdir.وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا} [الأحزاب: 38]Dan Allāh ﷻ berfirman: “Dan urusan Allāh ﷻ itu adalah takdir yang sudah ditakdirkan.”Semuanya adalah dengan takdir Allāh ﷻ. Ini menunjukkan bahwasanya apa yang terjadi di permukaan bumi ini, itu bukan terjadi secara begitu saja, bukan terjadi tanpa aturan, bukan terjadi tanpa direncanakan, bukan terjadi tanpa diketahui oleh Allāh ﷻ. Itu semua sudah diketahui. Apa yang terjadi di permukaan bumi, apa saja, sekecil apapun itu, sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ semuanya, dan akan terjadi sebagaimana yang Allāh ﷻ tulis.Dan ini bukan berarti bahwasanya seseorang kemudian dia tidak mengambil sebab. Ini sudah kita tekankan berkali-kali. Sebagaimana kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ, maka kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan. Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ dan kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Dua-duanya kita imani. Allāh ﷻ mentakdirkan rezeki dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan kita untuk memberi nafkah, untuk mencari rezeki, untuk bekerja.فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ Apabila sudah selesai shalat Jum’at, maka hendaklah kalian menyebar dipermukaan bumi; dan carilah karunia Allāh ﷻ, bekerjalah, berdaganglahوَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَDan banyak-banyaklah mengingat Allāh ﷻ semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dan Nabi ﷺ bersabda,لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ، فَيَحْمِلُهَا عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَسْتَغْنِيَ بِثَمَنِهَا، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُSungguh salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar (di kebun atau di hutan), kemudian dia bawa satu ikat dari kayu bakar tadi ke pasar, kemudian dia jual, dia mendapatkan uang, itu lebih baik daripada dia meminta-minta kepada manusia baik diberi ataupun tidak diberi.Apa yang kita pahami dari ucapan Nabi ﷺ ini? adalah dorongan kita untuk bekerja. Jangan kita meminta-minta kepada manusia, meskipun meminta itu mungkin dikasih, dan mungkin dikasihnya lebih banyak daripada kita mencari kayu bakar, kemudian kita jual. Tapi yang lebih dicintai oleh Allāh ﷻ adalah kita usaha sendiri, kita bekerja sendiri meskipun hanya sedikit yang kita dapatkan.Para anbiya, mereka bekerja. Para nabi mereka bekerja, padahal siapa yang lebih kuat keimanannya terhadap takdir, kita atau mereka? Tentunya mereka. Tapi lihat, ada di antara mereka yang jadi tukang kayu, ada di antara mereka yang jadi penggembala. Nabi Mūsā ‘alayhis-salām, berapa tahun beliau menggembalakan untuk Shahibul  Madyan? Padahal mereka adalah orang-orang yang sangat beriman dengan takdir Allāh ﷻ. Karena mereka tahu bahwasanya kita ini diperintahkan untuk melakukan dua perkara: beriman dengan takdir dan juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Semua ini sudah ditulis tentang penduduk Surga dan juga penduduk Neraka. Kita iman yang demikian. Dan di dalam syariat kita diperintahkan untuk shalat, kita diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan, kita diperintahkan untuk beriman, kita diperintahkan untuk menuntut ilmu. Kita lakukan apa yang Allāh ﷻ perintahkan. Kita beriman bahwasanya penyakit dan kesembuhan ini sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dan tidak mungkin dirubah, tapi di satu sisi kita disuruh untuk beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk berobat.يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، …، وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ“Wahai hamba-hamba Allāh, berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allāh.”Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’ān bahwa madu ini adalah obat. Al-Qur’ān di dalamnya ada obat. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa habbatus-sauda adalah obat. Tujuannya apa? Supaya kita berobat, supaya kita mengambil sebab. Masalah hasilnya, maka yang menentukan adalah Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk mengambil sebab, dan kita yakin semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ tidak sembuh, ya bagaimanapun kita mencari dokter yang hebat, kita mencari obat yang manjur dan seterusnya, tidak akan sembuh. Tapi kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kita diperintahkan untuk berdoa, kita diperintahkan untuk bersabar, dan seterusnya.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Para ulama menjelaskan apabila memang terjadi kekufuran yang sangat jelas dari seorang penguasa (dari seorang pemerintah), maka di sana ada syarat-syarat yang lain yang harus dipenuhi dan ini disebutkan oleh para ulama, (yaitu) (1) apabila tidak terjadi di sana kerusakan yang lebih besar.Apabila di sana justru terjadi kerusakan yang lebih besar, apabila seseorang memberontak karena pemerintahnya melakukan kekufuran, melakukan kekafiran yang jelas, apabila di sana justru terjadi kerusakan yang lebih besar, maka diharamkan seseorang untuk memberontak. Ini disebutkan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya.Dan (2) kaum muslimin memiliki ganti yang lebih baik.Kalau misalnya bisa memberontak tetapi tidak memiliki ganti yang lebih baik, maka tidak diperbolehkan untuk melakukan pemberontakan.Dan juga syarat-syarat yang lain.Para ulama telah ketat di dalam masalah ini. Dan perkara seperti ini dikembalikan kepada para pembesar ulama, bukan hanya kepada seorang da’i, seorang ustadz, tetapi dikembalikan kepada ulama-ulama besar yang mereka mengetahui maslahat dan juga mudharat, mana yang baik dan mana yang buruk bagi kaum muslimin.Dalil yang lain yang menunjukkan tentang wajibnya mendengar dan taat kepada pemerintah, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Bahwanya kita diperintahkan untuk mendengar dan taat kecuali apabila dia diperintahkan untuk kemaksiatan.فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ“Apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat maka tidak ada mendengar dan tidak ada ketaatan.” (HR Muslim 3423/1839)اسْمَعُوا وَأَطِيعُواMendengarlah kalian dan taatlah kalian,Namun apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat, فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ maka tidak ada mendengar dan tidak ada ketaatan.Artinya di dalam perintah tersebut, penguasa dan juga pemerintah memiliki peraturan-peraturan. Di antara peraturan tersebut ada yang sesuai dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya dan ada di antara peraturan tersebut yang tidak sesuai.Yang sesuai dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya maka kita diwajibkan untuk mendengar dan juga taat.Disebutkan oleh para ulama, contohnya (misalnya) peraturan lalu lintas.Kita diharuskan memiliki SIM, kita diharuskan untuk mengikuti rambu-rambu lalu lintas, dilarang parkir di sebuah tempat, apabila lampu berwarna merah maka harus berhenti, maka ini adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah untuk kemaslahatan bersama.Pada asalnya ini adalah kewajiban kita sebagai rakyat untuk mendengar dan taat kepada penguasa tersebut di dalam peraturan-peraturan ini, karena peraturan-peraturan ini tidak bertentangan dengan syari’at Allah dan juga Rasul-Nya.Namun ketika membuat peraturan yang di situ ada kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh seseorang untuk mendengar dan taat di dalam peraturan tersebut dan dia masih diwajibkan untuk mendengar dan taat pada peraturan-peraturan yang lain yang sesuai dengan Al Qur’an dan juga hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian Beliau mengatakan وَقَدَرًا, demikian pula dari segi takdir, Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan baik dengan syari’at maupun dengan takdir.Maksudnya dengan takdir adalah dengan apa yang kita lihat di sekitar kita. Kita bisa bedakan antara sebuah negara yang rakyatnya di situ mendengar dan taat kepada penguasanya, dengan sebuah negara yang rakyatnya tidak mendengar dan juga tidak taat kepada pemerintahnya.Beda antara dua negara ini, negara yang rakyatnya melakukan ketaatan dan mendengar apa yang diperintahkan oleh pemerintah, maka kita dapatkan keamanan di dalam negara tersebut, ketenangan, nyaman rakyatnya di dalam melakukan berbagai kegiatan, baik kegiatan agama maupun kegiatan dunia, dengan leluasa mereka beribadah, melakukan haji setiap tahun, melakukan shalat lima waktu secara berjama’ah, mendirikan shalat hari raya, juga syari’at syari’at yang lain.Dan dengan leluasa mereka melakukan kegiatan dunia, berdagang, bepergian, karena rakyatnya mendengar dan taat kepada pemerintahnya.Lain dengan sebuah negara yang di situ rakyatnya tidak mendengar dan tidak taat kepada pemerintah. Keamanan tidak stabil, rakyatnya di dalam berbagai kegiatan mereka merasa tidak aman, baik ketika beribadah maupun dalam melakukan kegiatan-kegiatan dunia, banyak di antara mereka yang tidak bisa melaksanakan haji, takut untuk shalat berjama’ah, wanita yang muslimah takut untuk menggunakan jilbab dan juga perkara-perkara yang lain.Beda antara sebuah negara yang rakyatnya taat kepada penguasa dengan sebuah negara yang rakyatnya tidak taat kepada penguasa.Oleh karena itu beliau mengatakan: شَرْعًا وَقَدَرًا Baik secara syari’at maupun takdir, taat kepada pemerintah adalah sesuatu yang sangat penting bagi seorang muslim.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sebelas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke sebelas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,فَبَيَّنَ الله له هَذا بَيانًا شائِعًا كافِيًا بِوُجُوهٍ مِنْ أَنْواعِ الْبَيَانِ شَرْعًا وَقَدَرًاAllah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan perkara ini dengan penjelasan yang cukup, dengan berbagai uslub (cara) baik secara syar’iat maupun dengan takdir.Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa dengan penjelasan yang sangat jelas di dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits-hadits yang shahih, baik dengan tinjauan syari’at maupun dari segi takdir.Di dalam Al Qur’an diantaranya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul, dan ulil amri diantara kalian.”(QS. An-Nisa: 59)Dan yang dimaksud dengan ulil amri di sini adalah para ulama dan para pemerintah (para penguasa).Allah mengatakan kepada orang-orang yang beriman,“Wahai orang-orang yang beriman (yang merasa bahhwasanya dia beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat, beriman kepada kitab-kitab, beriman kepada para Rasul, beriman kepada hari akhir, beriman kepada takdir) hendaklah kalian taat kepada Allah dan taat lah kalian kepada Rasul dan orang yang memerintah diantara kalian.”Ulil amri sebagaimana disebutkan oleh para mufassirin adalah para ulama dan juga para umara. Kita diperintah untuk mentaati mereka dan ini menunjukkan tentang wajibnya mentaati pemerintah dan juga penguasa, karena Allah mengatakan, أَطِيعُوا۟ (hendaklah kalian mentaati).Namun ketaatan kepada seorang penguasa dan pemerintah bukanlah ketaatan yang mutlak, berbeda dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Oleh karena itu ketika menyebutkan Allah dan juga Rasul-Nya, didahului dengan kalimat أَطِيعُوا۟.يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَKarena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan yang mutlak.Adapun ketika menyebutkan ulil amri, maka Allah mengatakan وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ (dan pemerintah diantara kalian) karena ketaatan kepada pemerintah dan penguasa bukanlah ketaatan yang mutlak, akan tetapi ketaatan yang berada di dalam ketaatan. Ketaatan di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Apabila seorang pemerintah dan penguasa, memerintah dengan perkara yang sesuai dengan syari’at, sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya, maka perintah tersebut harus ditaati.Namun apabila dia memerintah dengan kemaksiatan dengan sebuah dosa dengan sebuah perkara yang bertentangan dengan syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla maka perintah tersebut tidak boleh ditaati.Adapun di dalam hadits, maka diantara dalil yang menunjukkan pentingnya dan wajibnya kita mendengar dan taat kepada pemerintah adalah ketika Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwasiat kepada para sahabat.1. Wasiat dengan ketakwaan2. Wasiat mendengar dan taat kepada penguasa meskipun yang berkuasa adalah seorang budak dari Habasyah.Dan diantara dalilnya dari sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah ucapan Ubadah Ibnu Shamit ketika beliau mengatakan,بَايَعَنَا رسول الله صلى الله عليه وسلم عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وعَسرِنَا، وَيُسْرِنَا، وَعلى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا“Kami dahulu membai’at Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk mendengar dan taat baik ketika kami dalam keadaan semangat maupun dalam keadaan malas, baik dalam kesusahan maupun dalam kemudahan.”Mendengar dan taat meskipun harus diambil sebagian dari hak kami, baik hak harta maupun yang lain.Meskipun diambil sebagian hak kita, baik harta maupun yang lain, maka tidak boleh ini menjadikan kita keluar dari ketaatan kepada pemerintah.Kemudian beliau mengatakan,وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ“Dan kami telah membai’at Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk tidak memberontak, untuk tidak mengambil kekuasaan dari yang memiliki.”Ini adalah isi dari bai’at para sahabat radhiyallāhu ‘anhum kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, diantaranya adalah supaya kita tidak mengambil kekuasaan dari pemiliknya.Yaitu memberontak kepada pemerintah, memberontak kepada penguasa yang sah, maka ini diharamkan di dalam agama kita.Kemudian Beliau mengatakan,وقال إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ‏“Kecuali apabila engkau melihat kekufuran yang jelas, kekafiran yang jelas, dari pemerintah tersebut dan engkau memiliki dalil (memiliki burhan) yang sangat jelas yang tidak ada kesamaran di dalamnya (maka dalam keadaan seperti itu boleh seseorang memberontak).”Yaitu apabila melihat kekufuran, dan di sini Beliau mengatakan كُفْرًا بَوَاحًا (kekufuran yang jelas) artinya, bukan hanya sekedar keragu-raguan atau kekufuran yang samar, kekufuran yang jelas maksudnya adalah kekufuran yang semua umat Islam bersepakat atas kekufuran tersebut.Dan di sana ada dalil yang jelas di dalam Al Qur’an maupun hadits yang mengatakan bahwasanya ini adalah sebuah kekufuran dan bukan hanya sekedar keraguan, bukan hanya sekedar kemaksiatan. Engkau memiliki dalil dari Allah Subhānahu wa Ta’āla atas masalah tersebut.Dan para ulama menyebutkan ini adalah perkecualian, dan ini menunjukkan kepada kita hanya sekedar melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang penguasa, maka ini tidak menjadikan dan tidak membolehkan seseorang untuk keluar dan memberontak kepada pemerintah, karena Beliau mengatakan كُفْرًا بَوَاحًا, sebuah kekafiran yang sangat jelas.Adapun hanya melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh pemerintah, maka ini tidak boleh menjadikan seseorang keluar dan memberontak kepada pemerintah tersebut.Yang dinamakan dengan korupsi, maka ini adalah sebuah kemaksiatan dan bukan kekufuran. Tidak boleh menjadikan seseorang memberontak dan keluar kepada pemerintah.Berbuat dholim adalah kemaksiatan. Kemaksiatan tersebut akan ditanyakan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada penguasa di hari kiamat, kemaksiatan dia adalah untuk dia sendiri dan kewajiban kita adalah mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut, selama perintah tersebut sesuai dengan syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ucapan Beliau,إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًاMenunjukkan kepada kita bahwasanya kemaksiatan tidak menjadikan seseorang keluar dari ketaatan kepada pemerintah kita.Dan di sini Beliau memberikan syarat-syarat yang ketat sebuah kekafiran dan kekafiran tersebut adalah kekafiran yang sangat jelas dan memiliki dalil yang sangat kuat.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 86 | Ilmu Allāh ﷻ Telah Mendahului Segala Sesuatu yang Akan Terjadi pada Makhluk-Nya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-86 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَعَلَىٰ العَبْدِDan wajib bagi seorang hamba, setelah itu semuanyaأَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِي كُلِّ كَائِنٍ مِنْ خَلْقِهِkewajiban seorang hamba adalah meyakini bahwasanya Allāh ﷻ telah mendahului ilmu-Nya di dalam segala sesuatu yang terjadi di antara apa yang Allāh ciptakan.Berkaitan dengan ‘ilmullāh, berarti ini martabah yang pertama, hendaklah dia mengetahui bahasanya ilmu Allāh itu mendahului segala sesuatu yang terjadi di dunia. Tidak mungkin terjadi sesuatu kemudian baru di situ dibarengi dengan ilmu Allāh, atau terjadi sesuatu setelahnya baru Allāh ﷻ mengetahui. Ini keyakinan yang bathil.Yang benar, bahwasanya sebelum terjadi segala sesuatu Allāh ﷻ telah mengetahui sesuatu tersebut. Tidak mungkin Allāh ﷻ dalam keadaan tidak tahu apa yang akan terjadi, berdasarkan Firman Allāh ﷻإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(QS. Al-Baqarah: 282)Sesungguhnya Allāh ﷻ Dialah yang mengetahui segala sesuatu, segala sesuatu mencakup yang belum terjadi, maupun yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.فَقَدَّرَ ذَلِكَ بِمَشِيئَتِهِ تَقْدِيرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًاMaka Allāh ﷻ mentakdirkan itu semuanya dengan kehendak Allāh ﷻ, dengan takdir yang kokoh, mubraman ini maknanya hampir sama dengan kokoh, dan ini menunjukkan martabah yang ketiga yaitu bahwasanya segala sesuatu terjadi dengan masyīʾatullāh.Jadi Allāh ﷻ mengetahui, Allāh ﷻ menulis, dan Allāh ﷻ menjadikan sesuatu tadi dengan kehendak-Nya, dan itu semuanya ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, yang muhkam, yang mubram, dengan sedetail-detailnya dan terjadi di waktu sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis.Tidak ada yang meleset meskipun hanya setitik pun. Ini namanya takdiran muhkanan mubraman, dia adalah takdir yang kokoh yang tidak meleset sedikitpun. Semuanya persis dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, seperti yang Allāh ﷻ ketahui, seperti yang Allāh ﷻ tulis dan terjadi dengan masyīʾatullāh.إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ(QS. Yā-Sīn: 82)Semuanya dengan masyīʾatullāh, Sesungguhnya urusan Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu maka tinggal mengatakan ‘كُنْ’ terjadilah apa yang diinginkan oleh Allāh ﷻ.لَيْسَ فِيهِ نَاقِضٌTidak ada di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan sebelumnya, nāqidun yang membatalkan, tidak ada yang bisa membatalkan.وَلَا مُعَقِّبٌtidak ada yang bisa menentang, tidak ada yang bisa membatalkan, tidak ada yang bisa menentangnyaوَلَا مُزِيلٌtidak ada yang bisa menghilangkannya,وَلَا مُغَيِّرٌtidak ada yang bisa merubahnyaوَلَامُحَوِّلٌtidak ada yang bisa memindahnyaوَلَا زَائِدٌ وَلَا نَاقِصٌtidak ada yang bisa menambahnya dan tidak ada yang bisa menguranginya.Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, tidak ada yang bisa merubahnyaمِنْ خَلْقِهِ فِي سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِtidak ada yang bisa melakukan itu semuanya—membatalkan, menghilangkan, merubah, memindahkan, menambah, mengurangi—di antara hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa melakukannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, sampai malaikat sekalipun tidak ada yang bisa merubahnya. Sampai Nabi yang diutus tidak ada yang bisa merubahnya. Itu semuanya sudah ditetapkan oleh Allāh ﷻ. La tabdīl, tidak ada perubahan di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ tulis.وَذَلِكَ مِنْ عَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِDan yang demikian adalah termasuk aqdil (ikatan) iman dan ini adalah termasuk pondasi mengenal, ini adalah termasuk pondasi keimanan, yaitu tentang masalah beriman dengan takdir. Ini termasuk aqidah iman, ini termasuk pondasi, harus ada di dalam diri kita keimanan dengan takdir dengan cara yang sudah kita sebutkan: beriman dengan ilmu Allāh, beriman dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, beriman dengan masyīʾatullāh.Karena ini semua adalah termasuk pondasi keimanan, makanya beriman dengan takdir adalah termasuk arkanul iman, yang dimaksud dengan arkan adalah bagian yang paling penting dari sesuatu. Di antara sekian puluh cabang keimanan, maka iman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah termasuk cabang yang paling tinggi karena dia masuk arkanul iman. Makanya disifati di sini denganعَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِini adalah termasuk pondasi-pondasi dalam mengenal, yaitu dalam beriman.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 11 – Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 11)

1. Tujuan penciptaan manusiaAllah ﷻ berfirman:وَمَا خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعْبُدُوِن“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Ayat ini menjelaskan hikmah dan tujuan utama penciptaan jin dan manusia, yaitu:Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah ﷻ.Jadi, tujuan hidup manusia bukan sekadar mencari kesenangan dunia, harta, kedudukan, atau memenuhi keinginan pribadi, tetapi tujuan yang paling utama adalah beribadah kepada Allah.2. Apa makna “beribadah kepada-Ku”?Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan:ومعنى يَعْبُدُونَ يُوَحِّدُونَMakna “beribadah kepada-Ku” adalah “mentauhidkan Aku.”Artinya, ibadah kepada Allah harus dilakukan dengan mengesakan Allah dalam seluruh ibadah.Bukan hanya beribadah kepada Allah, tetapi juga harus tidak memberikan ibadah kepada selain Allah.3. Ibadah harus disertai tauhidSeseorang tidak disebut sebagai orang yang benar-benar mentauhidkan Allah apabila ia:Beribadah kepada Allah dalam sebagian keadaan.Tetapi memberikan sebagian bentuk ibadah kepada selain Allah.Contohnya, seseorang berdoa kepada Allah, tetapi dalam keadaan tertentu juga berdoa atau meminta pertolongan dalam perkara ibadah kepada selain Allah.Maka masalahnya bukan sekadar “apakah dia pernah menyembah Allah?”Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:“Apakah dia mengesakan Allah dalam ibadahnya?”4. Contoh kaum musyrikin QuraisyKaum musyrikin Quraisy sebenarnya mengakui keberadaan Allah dan melakukan sebagian ibadah kepada Allah.Di antara buktinya:Ada orang yang bernama Abdullah, yang berarti “hamba Allah”.Mereka melaksanakan ibadah haji.Dalam keadaan tertentu mereka berdoa kepada Allah.Namun mereka tetap disebut musyrikin, karena mereka tidak mengesakan Allah dalam ibadah.Mereka memberikan sebagian ibadah kepada selain Allah.Jadi, kesalahan mereka bukan semata-mata karena mereka tidak mengenal Allah, tetapi karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah.5. Mereka meminta perlindungan kepada selain AllahDi antara bentuk kesyirikan yang dilakukan sebagian kaum musyrikin adalah ketika mereka mengalami keadaan tertentu, mereka meminta perlindungan kepada selain Allah.Misalnya:Ketika mengalami musibah, mereka meminta perlindungan kepada jin.Ketika melewati suatu lembah, mereka meminta perlindungan kepada penguasa atau jin yang dianggap menguasai lembah tersebut.Hal ini menunjukkan bahwa sebagian bentuk ibadah mereka diberikan kepada selain Allah.6. Ketika berada dalam keadaan gentingAllah ﷻ menggambarkan keadaan kaum musyrikin ketika berada di tengah laut:فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah.”(QS. Al-‘Ankabūt: 65)Dalam keadaan sangat genting, mereka berdoa hanya kepada Allah.Tetapi setelah Allah menyelamatkan mereka, mereka kembali melakukan kesyirikan.Ini menunjukkan bahwa seseorang bisa saja mengakui Allah dan berdoa kepada Allah, tetapi tetap menjadi musyrik apabila ia tidak mengesakan Allah dalam seluruh ibadahnya.7. Janji mereka ketika tertimpa bahayaAllah juga menyebutkan ucapan mereka:لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَـٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّـٰكِرِينَ“Sungguh, jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pasti kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur.”(QS. Yūnus: 22)Ketika berada dalam bahaya, mereka memohon kepada Allah.Namun setelah diselamatkan:فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّAllah menyelamatkan mereka ke daratan, tetapi mereka kembali mempersekutukan Allah.8. Mengapa kaum musyrikin disebut tidak menyembah Allah?Dalam Surah Al-Kāfirūn Allah ﷻ berfirman:لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ“Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah.”Kemudian:وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ“Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah.”(QS. Al-Kāfirūn: 1–3)Padahal kaum musyrikin Quraisy juga menyembah Allah dalam beberapa keadaan.Lalu mengapa Allah mengatakan bahwa mereka tidak menyembah apa yang Nabi ﷺ sembah?Karena ibadah yang benar harus disertai tauhid.Mereka memang melakukan sebagian ibadah kepada Allah, tetapi karena mereka juga memberikan ibadah kepada selain Allah, maka mereka tidak dianggap sebagai orang yang mentauhidkan Allah dalam ibadah.Inti PelajaranTujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah.Dan makna beribadah kepada Allah bukan hanya sekadar melakukan ibadah kepada-Nya, tetapi:Beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Dengan kata lain:Ibadah → harus tauhid.Tauhid → mengesakan Allah dalam ibadah.Syirik → memberikan sebagian ibadah kepada selain Allah.Kalimat kunci untuk diingat“Makna يَعْبُدُونَ adalah يُوَحِّدُونَ — menyembah Allah berarti mentauhidkan Allah.”Jadi, pelajaran utama halaqah ini adalah pentingnya tauhid dalam ibadah, karena seseorang belum dianggap benar-benar beribadah kepada Allah apabila ia tidak mengesakan Allah dalam ibadahnya.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah: Beriman Kepada Malaikat Beriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Malaikat (Bagian Kedua)

Silsilah Ilmiyyah: Beriman Kepada MalaikatBeriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Malaikat (Bagian Kedua)🌿 2. MALUMalu adalah sifat yang mulia. Sifat ini mendorong seseorang untuk: • Meninggalkan perkara yang buruk.• Memiliki dan menjaga akhlak yang mulia.• Malu juga termasuk cabang keimanan.Rasulullah ﷺ bersabda tentang Utsman bin Affan رضي الله عنه:“Apakah aku tidak malu dari seorang laki-laki yang malaikat malu kepadanya?”(HR. Muslim)✨ Pelajaran:Malu merupakan sifat yang indah di antara sifat-sifat malaikat. Hadits tersebut juga menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Utsman bin Affan رضي الله عنه di sisi para malaikat.🌿 3. TIDAK SOMBONG UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAHMalaikat memiliki sifat: • Merendahkan diri kepada Allah.• Tidak sombong dalam beribadah kepada-Nya.• Taat dan tunduk kepada Allah.Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 172 bahwa Isa Al-Masih tidak enggan menjadi hamba Allah, demikian pula malaikat-malaikat yang didekatkan. Barangsiapa yang enggan beribadah kepada Allah dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semuanya.🌸 INTI PELAJARAN✅ Malu adalah akhlak yang mulia dan termasuk cabang keimanan.✅ Malaikat memiliki sifat malu.✅ Utsman bin Affan رضي الله عنه memiliki keutamaan dan kemuliaan di sisi para malaikat.✅ Seorang mukmin hendaknya merendahkan diri kepada Allah dan tidak sombong dalam beribadah.✅ Kesombongan dan enggan beribadah kepada Allah adalah perkara yang tercela.Sumber:Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Malaikat – Beriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Malaikat (Bagian Kedua).

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 hari lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 86

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 86 | Ilmu Allāh ﷻ Telah Mendahului Segala Sesuatu yang Akan Terjadi pada Makhluk-NyaHalaqah 86 | Ilmu Allāh ﷻ Telah Mendahului Segala Sesuatu yang Akan Terjadi pada Makhluk-NyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-86 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَعَلَىٰ العَبْدِDan wajib bagi seorang hamba, setelah itu semuanyaأَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِي كُلِّ كَائِنٍ مِنْ خَلْقِهِkewajiban seorang hamba adalah meyakini bahwasanya Allāh ﷻ telah mendahului ilmu-Nya di dalam segala sesuatu yang terjadi di antara apa yang Allāh ciptakan.Berkaitan dengan ‘ilmullāh, berarti ini martabah yang pertama, hendaklah dia mengetahui bahasanya ilmu Allāh itu mendahului segala sesuatu yang terjadi di dunia. Tidak mungkin terjadi sesuatu kemudian baru di situ dibarengi dengan ilmu Allāh, atau terjadi sesuatu setelahnya baru Allāh ﷻ mengetahui. Ini keyakinan yang bathil.Yang benar, bahwasanya sebelum terjadi segala sesuatu Allāh ﷻ telah mengetahui sesuatu tersebut. Tidak mungkin Allāh ﷻ dalam keadaan tidak tahu apa yang akan terjadi, berdasarkan Firman Allāh ﷻإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(QS. Al-Baqarah: 282)Sesungguhnya Allāh ﷻ Dialah yang mengetahui segala sesuatu, segala sesuatu mencakup yang belum terjadi, maupun yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.فَقَدَّرَ ذَلِكَ بِمَشِيئَتِهِ تَقْدِيرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًاMaka Allāh ﷻ mentakdirkan itu semuanya dengan kehendak Allāh ﷻ, dengan takdir yang kokoh, mubraman ini maknanya hampir sama dengan kokoh, dan ini menunjukkan martabah yang ketiga yaitu bahwasanya segala sesuatu terjadi dengan masyīʾatullāh.Jadi Allāh ﷻ mengetahui, Allāh ﷻ menulis, dan Allāh ﷻ menjadikan sesuatu tadi dengan kehendak-Nya, dan itu semuanya ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, yang muhkam, yang mubram, dengan sedetail-detailnya dan terjadi di waktu sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis.Tidak ada yang meleset meskipun hanya setitik pun. Ini namanya takdiran muhkanan mubraman, dia adalah takdir yang kokoh yang tidak meleset sedikitpun. Semuanya persis dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, seperti yang Allāh ﷻ ketahui, seperti yang Allāh ﷻ tulis dan terjadi dengan masyīʾatullāh.إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ(QS. Yā-Sīn: 82)Semuanya dengan masyīʾatullāh, Sesungguhnya urusan Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu maka tinggal mengatakan ‘كُنْ’ terjadilah apa yang diinginkan oleh Allāh ﷻ.لَيْسَ فِيهِ نَاقِضٌTidak ada di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan sebelumnya, nāqidun yang membatalkan, tidak ada yang bisa membatalkan.وَلَا مُعَقِّبٌtidak ada yang bisa menentang, tidak ada yang bisa membatalkan, tidak ada yang bisa menentangnyaوَلَا مُزِيلٌtidak ada yang bisa menghilangkannya,وَلَا مُغَيِّرٌtidak ada yang bisa merubahnyaوَلَامُحَوِّلٌtidak ada yang bisa memindahnyaوَلَا زَائِدٌ وَلَا نَاقِصٌtidak ada yang bisa menambahnya dan tidak ada yang bisa menguranginya.Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, tidak ada yang bisa merubahnyaمِنْ خَلْقِهِ فِي سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِtidak ada yang bisa melakukan itu semuanya—membatalkan, menghilangkan, merubah, memindahkan, menambah, mengurangi—di antara hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa melakukannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, sampai malaikat sekalipun tidak ada yang bisa merubahnya. Sampai Nabi yang diutus tidak ada yang bisa merubahnya. Itu semuanya sudah ditetapkan oleh Allāh ﷻ. La tabdīl, tidak ada perubahan di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ tulis.وَذَلِكَ مِنْ عَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِDan yang demikian adalah termasuk aqdil (ikatan) iman dan ini adalah termasuk pondasi mengenal, ini adalah termasuk pondasi keimanan, yaitu tentang masalah beriman dengan takdir. Ini termasuk aqidah iman, ini termasuk pondasi, harus ada di dalam diri kita keimanan dengan takdir dengan cara yang sudah kita sebutkan: beriman dengan ilmu Allāh, beriman dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, beriman dengan masyīʾatullāh.Karena ini semua adalah termasuk pondasi keimanan, makanya beriman dengan takdir adalah termasuk arkanul iman, yang dimaksud dengan arkan adalah bagian yang paling penting dari sesuatu. Di antara sekian puluh cabang keimanan, maka iman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah termasuk cabang yang paling tinggi karena dia masuk arkanul iman. Makanya disifati di sini denganعَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِini adalah termasuk pondasi-pondasi dalam mengenal, yaitu dalam beriman.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Iman kepada Takdir Allah Halaqah 10

Halaqah yang ke sepuluh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beriman dengan Takdir Allah dan Mengambil Sebab Bagian 2”.Banyak dan sedikitnya keturunan sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla tetapi bukan berarti seorang muslim menunggu tanpa usaha untuk mendapatkan keturunan. Bahkan dia diperintahkan untuk menikah sebagai sebab dan upaya mendapatkan keturunan.Rasulullah ﷺ bersabda,▪️تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ بكم الأممَ..“Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur karena sesungguhnya aku membanggakan banyaknya kalian di depan umat yang lain.” [HR Abu Daud dan An Nasai dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]Sakit dan kesembuhan dari penyakit sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla namun kita diperintahkan untuk menjauhi sebab terkena penyakit dan diperintahkan pula untuk berobat apabila seseorang ditimpa sakit.Rasulullah ﷺ bersabda,▪️ إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ حيثُ خلق الداءَ خلق الدواءَ فتداووا“Sesungguhnya Allah azza wajalla ketika menciptakan penyakit Dia juga menciptakan obatnya, maka berobatlah kalian.” [HR Ahmad dari Annas bin Malik radhiyallahu anhu dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]Dan Beliau ﷺ bersabda tentang sikap seorang muslim terhadap tho’un yaitu wabah penyakit yang merata yang terjadi di sebuah daerah,إذا سمعتُم بِه بأرضٍ فلا تقدُموا علَيهِ وإذا وقعَ بأرضٍ وأنتُم بِها فلا تخرُجوا فرارًا منهُ َ“Apabila kalian mendengar tho’un di sebuah daerah, maka janganlah kalian datang ke sana dan apabila terjadi di sebuah daerah sedangkan kalian berada di sana maka jangan kalian keluar dari daerah tersebut karena lari darinya.” [HR Al Bukhari dan Muslim]Kematian dan juga musibah, sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla dan kita diperintahkan untuk mengambil sebab keselamatan.Dahulu Rasulullah ﷺ bersama keimanan beliau yang dalam tentang masalah takdir.Beliau berperang memakai baju perang, menggunakan senjata, mengatur siasat perang, mengatur pasukan, dll.Dan ini semua menunjukkan bahwa selain kita diperintah beriman dengan takdir Allah, kita juga diperintah untuk mengambil sebab yang diperbolehkan.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →