Ringkasan pertemuan ke 9
Talbis Iblis terhadap Pelaku Amar Makruf Nahi Mungkar dan Ahli ZuhudPemateri: Ustadz Firanda Andirja حفظه اللهPendahuluanDi antara ibadah yang paling agung dalam Islam adalah amar makruf nahi mungkar. Dengan ibadah inilah Allah memuji umat Islam sebagai umat terbaik:"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."Sebaliknya, Bani Israil dilaknat melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa `alaihimassalam karena mereka tidak saling mencegah kemungkaran.Namun, amar makruf nahi mungkar bukanlah perkara yang dilakukan secara sembarangan. Ia memiliki fikih dan aturan yang luas sehingga seseorang harus memahami kapan mengingkari kemungkaran diperintahkan dan kapan tidak. Kaidah dalam Mengingkari KemungkaranKetika seseorang hendak mencegah kemungkaran, ada beberapa kemungkinan:1. Kemungkaran hilang sepenuhnya Wajib diingkari.2. Kemungkaran berkurang Tetap wajib diingkari.3. Kemungkaran justru semakin besarTidak boleh diingkari dengan cara tersebut, karena berarti menimbulkan kerusakan yang lebih besar.4. Kemungkaran berganti dengan kemungkaran lain yang sejenis Membutuhkan ijtihad dan pertimbangan para ulama.Hal ini menunjukkan bahwa nahi mungkar memerlukan ilmu dan hikmah.Tipuan Iblis terhadap Orang Alim yang BerdakwahMenurut Imam Ibnu al-Jauzi رحمه الله, pelaku amar makruf nahi mungkar terbagi menjadi dua:1. Orang berilmu.2. Orang bodoh.1. Riya dan UjubSetan menggoda orang berilmu dengan:* Ingin dipuji manusia.* Menampilkan diri agar dianggap pemberani.* Bangga terhadap keberhasilan dakwahnya.* Merasa dirinya lebih baik dari orang lain.Padahal amal yang benar harus ikhlas karena Allah semata.2. Marah karena Membela DiriTerkadang seseorang awalnya mengingkari karena Allah, namun ketika dihina atau dicela, ia berubah menjadi marah demi membela dirinya sendiri.Akhirnya perselisihan yang terjadi bukan lagi karena agama, tetapi demi mempertahankan harga diri. Kisah Abu SulaimanAbu Sulaiman pernah berniat menasihati khalifah setelah khutbah Jumat. Namun ia mengurungkan niatnya karena khawatir dirinya hanya ingin terlihat hebat di hadapan manusia.Beliau takut apabila terbunuh dalam keadaan niatnya tidak ikhlas.Hal ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga keikhlasan mereka.Orang Bodoh yang Bernahi MungkarMenurut Ibnu al-Jauzi, kerusakan yang ditimbulkan orang bodoh dalam nahi mungkar terkadang lebih besar daripada perbaikannya.Di antaranya:Mengingkari perkara yang sebenarnya bolehKarena tidak memahami ilmu, ia bisa:* Mengharamkan perkara yang disepakati kebolehannya.* Mengingkari masalah khilafiyah yang kuat.Padahal tidak semua perbedaan pendapat boleh dijadikan bahan permusuhan.Tidak Memahami Perbedaan PendapatContoh masalah khilafiyah yang kuat:* Qunut Subuh.* Sebagian persoalan fikih yang diperselisihkan para ulama.Dalam masalah seperti ini, seseorang boleh menjelaskan pendapat yang dianggap lebih kuat, tetapi tidak boleh mencela dan merendahkan orang lain. Melakukan TajassusSebagian orang mencari-cari kesalahan orang lain:* Memata-matai.* Memanjat rumah orang.* Membongkar pintu rumah.* Memasang pengawasan demi mencari maksiat tersembunyi.Padahal Islam melarang tajassus.Main Hakim SendiriDi antara kesalahan yang sering terjadi:* Memukul pelaku maksiat.* Menganiaya pencuri hingga mati.* Menghina dengan kata-kata yang melampaui batas.Semua ini bertentangan dengan syariat.Membongkar AibIslam menganjurkan menutupi aib kaum muslimin.Tidak setiap maksiat harus diumbar kepada masyarakat. Bahkan terkadang orang yang kita cela bisa jadi telah bertobat dan lebih baik daripada kita. Sikap Imam Ahmad رحمه اللهImam Ahmad berpendapat:* Jika alat musik atau khamar telah disembunyikan dan tidak tampak, maka tidak boleh melakukan tajassus.* Jika hanya terdengar suara seruling tetapi tidak diketahui dari mana asalnya, maka tidak perlu dicari-cari.Beliau mengatakan: "Itu bukan urusanmu."Menasihati Penguasa dengan Lemah LembutOrang yang paling layak dinasihati dengan kelembutan adalah para penguasa.Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun: "Maka berbicaralah kepada Fir'aun dengan kata-kata yang lemah lembut."Padahal Fir'aun adalah manusia yang paling durhaka.Karena itu para salaf sangat menjaga adab ketika menasihati para pemimpin.Tujuannya adalah perbaikan, bukan pelampiasan emosi.Tipuan Setan: Tidak Mau Menegur karena Merasa Banyak DosaSebagian orang berkata: "Saya sendiri masih banyak dosa, bagaimana mungkin saya menasihati orang lain?"Ini adalah tipu daya setan.Seseorang memiliki dua kewajiban:1. Meninggalkan maksiat.2. Mengingkari kemungkaran.Jika ia meninggalkan keduanya, berarti ia mendapatkan dua dosa.Walaupun nasihatnya mungkin kurang berpengaruh, ia tetap wajib menyampaikan kebenaran. Tipuan Iblis terhadap Ahli Zuhud dan Ahli IbadahSebagian orang memahami celaan terhadap dunia secara keliru.Mereka mengira bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh dengan:* Meninggalkan dunia seluruhnya.* Menyendiri di gunung.* Tidak menghadiri salat Jumat dan jamaah.* Meninggalkan ilmu.Padahal dunia pada zatnya tidak tercela.Yang tercela adalah:* Memperolehnya dengan cara haram.* Menggunakannya untuk maksiat.* Berlebih-lebihan dalam memanfaatkannya. Dunia Merupakan Sarana Menuju AkhiratDengan dunia seseorang dapat:* Menuntut ilmu.* Beribadah.* Menafkahi keluarga.* Membangun masjid.* Bersedekah.Karena itu dunia bukan musuh, tetapi sarana yang dapat digunakan untuk mendekat kepada Allah. Zuhud Bukan Meninggalkan Semua KenikmatanSebagian orang mengira zuhud berarti:* Tidak makan makanan yang enak.* Tidak makan buah.* Tidak minum air dingin.* Memakai pakaian yang kasar.* Menyiksa tubuh.Padahal Rasulullah ﷺ:* Menyukai daging kambing.* Memakan ayam.* Menyukai makanan manis.* Menyukai air yang dingin dan segar.Ini menunjukkan bahwa menikmati perkara halal tidak bertentangan dengan zuhud. Hakikat ZuhudIbnu Rajab رحمه الله menjelaskan: Wara'Meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan akhirat.Konsekuensinya:* Meninggalkan yang haram.* Meninggalkan yang syubhat. ZuhudMeninggalkan perkara yang tidak bermanfaat bagi akhirat.Karena itu seorang mukmin hendaknya selalu bertanya: "Apakah perkara ini bermanfaat bagi akhiratku?"Jika tidak ada manfaatnya, maka meninggalkannya termasuk bentuk zuhud. Tubuh adalah Kendaraan Menuju AkhiratIbnu al-Jauzi mengibaratkan tubuh sebagai kendaraan.Karena itu tubuh tidak boleh:* Disiksa.* Dipaksa berlebihan.* Dibiarkan rusak.Seorang hamba hendaknya mengambil perkara yang bermanfaat bagi tubuhnya dan meninggalkan sikap berlebih-lebihan.Kritikan terhadap Sikap RahbaniyyahSebagian orang:* Sibuk dengan dunia dan hawa nafsu.Sebagian lainnya:* Tenggelam dalam ibadah sampai melalaikan hak keluarga, orang tua, dan masyarakat.Padahal Islam berada di tengah-tengah.Ibadah harus berjalan sesuai dengan syariat dan akal yang sehat, bukan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula sikap rahbaniyyah yang berlebihan.Pelajaran Penting* Amar makruf nahi mungkar membutuhkan ilmu dan hikmah.* Keikhlasan adalah perkara yang sangat penting dalam dakwah.* Tidak semua perbedaan pendapat boleh dijadikan bahan permusuhan.* Tajassus dan membuka aib kaum muslimin dilarang.* Menasihati penguasa dilakukan dengan kelembutan.* Banyak dosa bukan alasan meninggalkan dakwah.* Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia seluruhnya.* Dunia adalah sarana menuju akhirat.* Menikmati perkara halal yang tidak berlebihan tidak bertentangan dengan sifat zuhud.* Islam adalah agama pertengahan, jauh dari sikap berlebih-lebihan maupun sikap mengikuti hawa nafsu.**والله تعالى أعلم بالصواب**
















