Pembahasan Kitab Talbis IblisMateri #1 “Berpegang Teguh kepada Sunnah” –Penulis: Ibnul Jauzi rahimahullahOleh Ustad Firanda Andirja hafidzahullahu(dicatat 1 Juni 2026, lewat komunitas BeeKind)Pengertian singkatTalbis iblis: tipuan iblis. Bagaimana iblis memperdaya manusia seakan-akan itu kebaikan, padahal keburukan.Metode iblis dalam menipu manusiaDibawakan kemaksiatan oleh iblis dalam bentuk ketaatan sehingga banyak yg terperdaya.Profil singkat penulisImam Ibnul Jauzi rahimahullah, hidup di abad ke 6 Hijriyah, dikenal sebagai ahli yang memberi nasihat. Di zaman tersebut majelis beliau dihadiri hingga 10.000 orang, terkadang 100.000 orang, masuk islam lewat beliau ada 20.000 orang.Penjelasan isi kitabKitab ini terdiri atas 13 bab. 4 bab pertama mukaddimah, 9 bab berikutnya adalah perincian dari contoh-contoh tablis iblisBab 1: Perintah untuk melazimi sunnahBab 2: Cercaan terhadap bid’ah dan ahlul bid’aBab 3: Peringatan tentang fitnah iblis dan tipuan-tipuannyaBab 4: Apa makna talbis dan al burudBab 5: Talbis iblis yang berkaitan dengan akidah dan agama-agamaBab 6 : Talbis iblis terhadap para ulama dalam berbagai macam bidang ilmuBab 7: Talbis iblis terhadap penguasaBab 8: Talbis iblis terhadap para ahli ibadah dalam berbagai model ibadah yang mereka lakukanBab 9: Talbis iblis terhadap orang yang zuhudBab 10: Talbis iblis terhadap orang-orang suhufiyahBab 11: Talbis iblis terhadap orang-orang yang istiqomah dengan perkara yang disangka karomahBab 12: Talbis iblis terhadap orang-orang awamBab 13: Talbis iblis terhadap semua manusia dengan memperpanjang angan-angan (hingga melupakan kematian)Permulaan kitabPenulis memuji Allah, bersyahadatain, bershalawat, – amma ba’du.Tujuan penulis menulis kitab iniSesungguhnya nikmat yang paling besar adalah akal. Dengan akal, manusia bisa mengenal Allah dan mengenal para Rasul. Namun akal secara independen, tidak dapat mengantarkan kepada seluruh maslahat manusia, karena terbatas. Itulah kenapa diutus para Rasul dan diturunkan kitab suci.Syariat yang dibawa para Rasul seperti matahari, akal seperti mata. Mata bisa melihat, tapi kalau tidak ada cahaya maka tidak bisa. Maka butuh cahaya yg cukup untuk bisa melihat dengan baik. – Ibnul JauziSyaitan mencampurkan penjelasan para nabi dengan syubhat. Obat yg dibawa nabi dicampur dengan racun, sehingga orang terpedaya.Cara iblis sangat banyak, hingga membuat banyak orang berpecah belah, misalnya dengan banyak aliran, dsb. Maka penulis (dengan ilmunya) ingin menunjukkan cara iblis agar manusia tidak terjebak dengan talbis iblis.Di hadits Bukhari dan Muslim, dari hadits Hudzaifah; “Orang-orang bertanya tentang kebaikan, aku bertanya tentang keburukan. Aku khawatir keburukan itu mendapatiku.” Orang-orang banyak lalai terhadap keburukan karena hanya fokus ingin tahu kebaikan. Padahal dengan mengenal keburukan secara terperinci agar terhindar darinya.Orang yang paling selamat adalah orang yang mengenal kebaikan dan keburukan secara terperinci, mengenal berbagai ketaatan dan berbagai dosa-dosa/kesesatan. Para sahabat adalah orang yang paling sempurna mengenal hal-hal ini karena mereka pernah menjalaninya dari zaman jahiliyah, karena di sana asal mulanya terjadinya syirik (kesesatan yang paling tinggi)Penulis dalam buku ini menempuh jalan untuk menjabarkan berbagai macam talbis syaitan sebagai upaya agar kita bisa mengenal kemudian menghindarinya.Muqaddimah – Bab 1 (Perintah untuk melazimi sunnah)Lazimi sunnah, jauhi bid’ah, memperkenalkan jerat syaitan adalah jalan keluar/solusi.Penulis menyampaikan hadits Umar. “Siapa yang ingin mencapai buh-buhah (posisi di tengah surga--posisi terbaik), maka hendaklah dia melazimi jamaah.”Melazimi jama’ah artinya jangan sendirian, karena syaitan mudah menggoyahkan jika sendiri. Melainkan ikutilah pemahaman para sahabat sesuai sunnah.Jalan kebenaran hanya satu. jangan mengikuti jalan yang lain.“Sesungguhnya akan datang pada umatku perbuatan kemungkaran seperti yg datang pada Bani Israil. Bahkan perkara jika di bani israil akan menzinai ibunya secara terang-terangan, maka akan terjadi pada umatku.”“Sesungguhnya bani israil terpecah menjadi 72 golongan, umatku menjadi 73 golongan. Golongan yang selamat adalah orang yg melazimi apa yg aku dan sahabatku berada di atasnya (jamaah)” (Hadits dari Amr bin Ash).Nabi menjelaskan, akan ada orang yang dikuasai hawa nafsu. Walau sudah diajak ke dalam sunnah, namun mereka tetap tidak akan mau. Karena syubhat mereka “terstruktur”. Jika orang tidak punya landasan agama yg baik, maka mudah terjebak.Orang yang sudah terjerumus ke dalam bid’ah atau hanya mengikuti hawa nafsunya saja, maka jika dinasihati ia akan sulit dan tidak menerima.Ibn Mas’ud berkata: “Mencukupkan diri dengan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dengan bid’ah.”Abul ‘aaliyah berkata (tabi’in yang menafsirkan Allah di atas (arrahman alal arsyis tawa): “Hendaklah kalian berpegang pada perkara pertama, yaitu para sahabat. Bagaimana mereka menjalani agama, tidak bercampur dengan pemikiran bid’ah.Al-auza’i (ulama salaf) berkata: “Sabarkan dirimu di atas sunnah, bisa saja engkau sendirian dan berhentilah di mana kaum terdahulu berhenti, ucapkan apa yg diucapkan mereka, dan diamlah dari apa yg mereka diam, tempuhlah jalan salafush sholeh dahulu. Apa yg lapang bagimu, lapang bagi mereka”. Bersabar di sini artinya Bersabar dicela, jika ada yang tidak boleh maka jangan lakukan. Tidak ada dalil maka jangan lakukan.Sufyan ats tsauri berkata: “Tidak ada perkataan yang kita terima kecuali harus ada amalnya/buktinya. Perkataan dan perbuatan pun tidak akan lurus jika tidak ada niatnya. Dan tidak akan lurus sebuah niat kecuali sesuai perkataan Rasulullah ﷺ .Jika mendengar ada orang di suatu daerah berada di atas sunnah, maka kirimkan salam untuk mereka. Karena ahlussunnah wal jamaah sudah sedikit. Ini pun dikatakan saat zaman para salaf, apalagi di zaman ini.Di antara nikmat Allah kepada seorang pemuda, yaitu jika dia mulai beribadah dia mendapat teman di atas sunnah. Jika baru pertama kali seseorang mendapat hidayah dan hidayahnya langsung dipertemukan dengan orang yang mengenal sunnah maka itu adalah suatu nikmat.Yusuf bi Atsbat berkata: “Ayahku qodariyah (mu’tazilah), paman-pamanku adalah rowafidhoh (syiah), dan Allah ﷻ selamatkan aku dengan Sufyan Ats Tsauri. Maksudnya adalah beliau mengenal sunnah sesuai pemahaman sahabat dari Sufyan Ats Tsauri.Seluruh jalan tertutup, kecuali yang mengikuti atsar dari Rasulullah, dan mengikuti sunnah nabi, dan melazimi toriqot Nabi ﷺMuqaddimah – Bab 2 (Cercaan terhadap bid’ah dan ahlul bid’ah)Penulis membawakan banyak hadits. Seperti; “Siapa yang membenci sunnahku maka bukan dari golonganku.”Sebagian ahlul bid’ah tidak menyukai sunnah. Mereka ingin membuat model baru karena sudah senang dengan bid’ah.Rasulullah ﷺ suatu hari memberikan wasiat kepada para sahabat. Wasiat itu sampai membuat mereka menangis. Sebagaimana sebuah wasiat yaitu seakan-akan orang yang menyampaikan akan berpisah dan betapa pentingnya apa yang dia sampaikan. Beliau ﷺ memberikan wasiat yang penting;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih).Rasulullah ﷺ akan mendahui kita ke telaga, namun ada orang-orang yg ke telaga beliau ﷺ namun mereka dicabut/diusir dari telaga. Mereka itu adalah orang yang mengada-adakan perkara baru setelah Rasulullah ﷺ wafat.Thowush (tabi’in) sedang duduk dan ada anaknya pula di situ. Kemudian datang seseorang dari mu’tazilah, datang dan ingin berkata sesuatu, maka tabi’in itu memasukkan tangannya ke kedua telinganya dan menyuruh anaknya juga. Beliau seperti itu hingga orang itu pergi. Beliau berkata, karena hati ini lemah dan akan mudah terkena syubhat.Ada orang masuk menemui Ibnu Sirin (tabi’in), ada orang yang datang dan berkata tentang takdir. Maka beliau langsung menolaknya dan menyuruh orang itu pergi.Jika agama ini dikembalikan kepada logika, maka akan banyak tercipta aliran-aliran. Padahal cukupkan diri dengan dalil dari Allah ﷻ dan sunnah Rasulullah ﷺ.Ada seorang pelakuyang bid’ah berkata kepada Ayyub Ash Sikhtiyani. “Apakah beliau ingin mendengar apa yg dikatakan orang itu, maka beliau berkata, “Aku tidak akan mendengar meskipun setengah kata.”Sufyan Ats Tsauri berkata: “Siapa yg mendengar dari ahlul bid’ah maka tidak ada manfaatnya.”Bid’ah lebih dicintai iblis daripada maksiat. Hal ini karena maksiat masih bisa diharapkan bertaubat darinya. Sedangkan orang yg melakukan bid’ah akan susah bertaubat, karena menganggap apa yang dia lakukan adalah benar. Kecuali diberi hidayah oleh Allah.Sulaiman At Taimi sakit dan diapun menangis dalam sakitnya. Ditanyakan kepadanya kenapa menangis, apakah takut dengan kematian. Namun beliau justru khawatir karena pernah memberi salam kepada seorang Qadariyah dan takut dihisab gara-gara itu. Dalam artian, para salaf terdahulu tidak menggampangkan bid’ah dan sangat berhati-hati.Siapa yang membantu dalam perkara bid’ah (pelaksanaannya, dsb), maka bisa dikatakan dia telah membantu musnahnya Islam yg sesungguhnya. Karena perkara bid’ah adalah perkara baru yang diada-adakan,Sunnah: secara bahasa adalah jalan. Para ahlul hadits mengikuti sunnah-sunnah nabi ﷺ dan para sahabat. Merekalah sebenar-benarnya ahlusunnah. Karena mereka berada di atas satu jalan yang belum ada bid’ah di dalamnya. Karena bid’ah muncul setelah wafatnya nabi dan para sahabat.Bid’ah: artinya perbuatan yang dulunya tidak ada, kemudian diada-adakan. Perkara bid’ah secara dominan bertentangan dengan syariat dan mengakibatkan adanya penambahan atau pengurangan dalam syariat.Notes penting:Perkara baru yang diada-adakan namun tidak berkaitan dgn syariat, tidak menambah ataupun mengurangi syariat, namun para ulama terdahulu membencinya. Hal ini karena mereka selalu menjauh dari perkara baru meskipun hal itu tujuannya untuk menjaga sunnah.Penulis memberikan contoh seperti dalam perkara mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf. Zaid bin Tsabit mengingkari hal ini, dia ragu atas apa yg dilakukan Umar dan Abu Bakar. Mengumpulkan mushaf ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Padahal ini hanyalah sarana saja, bukan suatu ritual. Abu Bakar pun tidak langsung melaksanakannya, karena masih bimbang.Kata penulis, para salafus sholeh berusaha menjauh-sejauhnya dari perkara bid’ah saking mencoba untuk terus menjaga apa yg Rasulullah ﷺ bawa walaupun apa yang dilakukan itu hanya sarana. Meski begitu mereka para salafush sholeh terasa berat terhadap hal itu. Penulis pun mencontohkan spesifik tentang perkara ini pada persitiwa mengumpulkan Al-Quran ke dalam satu mushaf yang pada saat itu masih berupa lembaran-lembaran. (Hal serupa tentang perkara baru ini seperti pondok pesantren sebagai sarana menuntut ilmu, karena dulu pada masa nabi ﷺ tidak ada pondok. Masjid yang dibangun kubah atau menara masjid yang tinggi semata untuk penanda adanya masjid di daerah itu).Namun sebuah perkara baru yang berkaitan dengan ritual, maka ini mereka mengingkari sepenuhnya. Seperti pada saat seseorang melihat (di zaman tabiin) ada orang-orang yg berzikir ramai-ramai, bertakbir, bertahlil, berjamaah dipimpin oleh satu orang. Hal itu dilaporkan kepada Ibnu Mas’ud, sesuatu yg tidak ada di zaman nabi ﷺ . Beliau berkata: “Demi Dzat yang tidak ada sesembahan selainnya, kalian telah mendatangkan bid’ah yang paling gelap. Apakah kalian mengungguli sahabat nabi ﷺ, atau melakukan bid’ah yg sesat?” Maksudnya kedua hal itu sudah jelas adalah kekeliruan.Lalu ada yg menyangkalnya, mereka berkata yang mereka lakukan adalah kebaikan. Berdizkir untuk mengingat Allah daripada diam dan tidak melakukan apa-apa. Ibnu Masud berkata, “Lazimilah jalan para sahabat, jangan ke kanan dan ke kiri.”Artinya ikutilah seperti apa yang dicontohkan Nabi ﷺ dan sesuai pemahaman para sahabat.Ibnul Jauzi meyebutkan berbagai macam firqah. Umat ini pun terpecah ke dalam 73 golongan, kecuali 1 golongan yaitu jalan sunnah, yaitu “Apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya.”Setiap firqah terpecah lagi ke dalam firqah-firqah lainnya. Kata beliau, firqah inti ada 6:KhawarijQodariyahJahmiyahMurji’ahRowafidhohAl jabariyahSetiap firqah terpecah lagi ke dalam 12 firqah. 12 x 6 = 72 golongan. Ini ijtihad dari Ibnul Jauzi.Ada di antara ulama yang tidak memperinci selain 6 inti ini. Adapula yg berusaha memperinci. Di antara metode itu adalah Ibnul Jauzi.